Minggu, 11 Oktober 2026
17:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Yazid bin Muawiyah

Yazid bin Muawiyah

Khalifah Umayyah Kedua (680–683)

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Yazid bin Abi Sufyan.
  • Yazid bin Muawiyah
  • يزيد بن معاوية
250px-Arab-Sasanian_coin_issued_by_Yazid_I_ibn_Mu%27awiya_in_the_year_of_the_Battle_of_Karbala.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dirham Arab-Sasaniyah Yazid I, dicetak di percetakan Basra, bertanggal 61 H (680/1 M), tahun terjadinya Pertempuran Karbala.Sisi depan menampilkan potret Shah Sasaniyah Khosrau II (m. 590–628) dan namanya dalam aksara Pahlavi.
Khalifah kedua Kekhalifahan Umayyah
BerkuasaApril 680[a] –11 November 683
PendahuluMuawiyah bin Abu Sufyan
PenerusMuawiyah bin Yazid
Lahirca 646 (25 H)[b]
Bilad asy-Syam
Meninggal11 November 683 (umur ca 37) (14 Rabiulawal 64 H)
Huwwarin, Suriah
AyahMuawiyah bin Abu Sufyan
IbuMaysun binti Bahdal
Pasangan
Keturunan
WangsaSufyani
DinastiUmayyah
AgamaIslam

Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan[c] (ca 646[b] –11 November 683), umumnya dikenal sebagai Yazid I, adalah khalifah kedua Kekhalifahan Umayyah, memerintah dari April 680 hingga kematiannya pada November 683. Penunjukan Yazid oleh ayahnya, Muawiyah bin Abu Sufyan (m. 661–680) sebagai penerus kekhalifahan menjadi peristiwa pertama penerapan sistem suksesi turun-temurun dalam sejarah pemerintahan Islam. Masa kekhalifahannya diwarnai dengan terbunuhnya cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali dan dimulainya krisis yang dikenal sebagai Fitnah Kedua.[5]

Selama kekhalifahan ayahnya, Yazid memimpin beberapa kampanye melawan Kekaisaran Bizantium, termasuk serangan terhadap ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Pencalonan Yazid sebagai putra mahkota pada tahun 676 M (56 H) oleh Muawiyah ditentang oleh beberapa tokoh Muslim terkemuka dari wilayah Hijaz, termasuk Husain dan Abdullah bin Zubair. Kedua orang itu menolak untuk mengakui Yazid setelah naik takhta dan mencari perlindungan di Makkah. Husain kemudian berangkat menuju Kufah di Irak untuk memimpin gerakan perlawanan terhadap Yazid. Namun, ia bersama sejumlah kecil pengikutnya terbunuh dalam Pertempuran Karbala oleh pasukan Yazid. Kematian Husain menimbulkan kebencian di Hijaz, di mana Ibnu Zubair menyerukan diadakannya majelis konsultatif untuk memilih khalifah baru. Penduduk Madinah, yang mendukung Ibnu Zubair, memiliki keluhan lain terhadap Umayyah. Setelah upaya diplomasi untuk memperoleh baiat dari Abdullah bin Zubair dan penduduk Hijaz tidak membuahkan hasil, Yazid mengirim pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pasukan tersebut mengalahkan penduduk Madinah dalam Pertempuran al-Harrah pada Agustus 683 dan kota itu dijarah. Setelah itu, Makkah dikepung selama beberapa minggu hingga pasukan mundur akibat kematian Yazid pada November 683. Kekhalifahan jatuh ke dalam perang saudara yang berlangsung hampir satu dekade, yang berakhir dengan berdirinya keluarga Marwani (khalifah Umayyah Marwan bin al-Hakam dan keturunannya).

Yazid melanjutkan model pemerintahan desentralisasi Muawiyah, mengandalkan gubernur provinsi dan tetua suku. Ia meninggalkan serangan ambisius Muawiyah terhadap Kekaisaran Bizantium dan memperkuat pertahanan militer Suriah. Tidak ada wilayah baru yang ditaklukkan selama pemerintahannya. Yazid dianggap sebagai penguasa yang tidak sah dan seorang tiran oleh banyak Muslim karena suksesi turun-temurunnya, kematian Husain, dan kampanye yang diperintahkannya ke Makkah dan Madinah. Sejarawan modern memiliki pandangan yang lebih lunak, dan menganggapnya sebagai penguasa yang cakap, meskipun kurang sukses dibandingkan ayahnya.

Kehidupan awal

Pemandangan gurun pasir
Gurun Suriah, tempat Yazid menghabiskan musim semi masa kecilnya, menjadi tempat tinggalnya bersama kerabat Bedawi dari pihak ibunya, yaitu suku Bani Kalb.

Yazid lahir di Suriah. Tahun kelahirannya tidak pasti, diperkirakan antara 642 dan 649.[b] Ayahnya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Suriah di bawah Khalifah Utsman (m. 644–656). Muawiyah dan Utsman termasuk dalam klan Umayyah yang kaya dari suku Quraisy, sebuah kelompok klan Makkah yang termasuk Nabi Muhammad dan semua khalifah sebelumnya. Ibu Yazid, Maysun, adalah putri Bahdal bin Unaif, seorang kepala suku Bedawi Bani Kalb yang kuat. Maysun diketahui menganut agama Kristen, sebagaimana sebagian besar anggota sukunya.[6][7] Yazid dibesarkan bersama kerabat Kalbiyah dari pihak ibunya,[6] menghabiskan musim semi di Gurun Suriah sebagaimana tradisi kala itu; dan selama sisa tahun itu ia dibesarkan di tengah-tengah para punggawa dan pejabat Yunani dan Suriah asli dari ayahnya,[8] yang menjadi khalifah pada tahun 661.[9] Dalam sejumlah sumber, Yazid digambarkan sebagai pria bertubuh besar, berambut lebat, berkulit gelap, dan memiliki bekas cacar di wajahnya.[10]

Pengepungan Konstantinopel

Selama kekhalifahan ayahnya, Yazid memimpin beberapa kampanye melawan Kekaisaran Bizantium, yang telah berusaha ditaklukkan oleh Kekhalifahan, termasuk serangan terhadap ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sumber-sumber memberikan beberapa tanggal untuk ini antara 49 H (669–70 M) dan 55 H (674–75 M). Sumber-sumber Muslim hanya memberikan sedikit informasi mengenai peran Yazid dalam kampanye tersebut. Minimnya keterangan ini diduga berkaitan dengan kontroversi yang menyelimuti kehidupannya pada masa berikutnya. Ia digambarkan dalam sumber-sumber ini sebagai orang yang tidak mau berpartisipasi dalam ekspedisi tersebut, yang membuat Muawiyah kecewa, yang kemudian memaksanya untuk patuh.[11] Namun, dua sumber non-Muslim abad kedelapan dari al-Andalus (Spanyol Islam), Kronik 741 dan Kronik 754, yang keduanya kemungkinan besar mengambil materi mereka dari karya Arab sebelumnya, melaporkan bahwa Yazid mengepung Konstantinopel dengan pasukan yang berjumlah 100.000 orang. Karena tidak mampu menaklukkan kota tersebut, pasukan itu merebut kota-kota di sekitarnya, memperoleh banyak harta rampasan, dan mundur setelah dua tahun.[12] Sahabat Muhammad, Abu Ayyub al-Anshari ikut terlibat dan meninggal dalam pertempuran lalu dikuburkan di pinggir benteng Konstantinopel. Yazid juga memimpin haji (ziarah tahunan umat Muslim ke Makkah) pada beberapa kesempatan.[13]

Naik takhta

Khalifah ketiga Utsman menimbulkan kemarahan para pemukim Muslim di tanah yang ditaklukkan sebagai akibat dari kebijakan kontroversialnya, yang oleh banyak orang dianggap nepotisme dan campur tangan dalam urusan provinsi. Pada tahun 656 ia dibunuh oleh pemberontak provinsi di Madinah, yang saat itu merupakan ibu kota Kekhalifahan, setelah itu Ali, sepupu dan menantu Muhammad, diakui sebagai khalifah oleh para pemberontak dan penduduk Madinah.[14] Dalam perang saudara Islam pertama (656–661), Muawiyah menentang Ali dari basis kekuatannya di Suriah, dan bertempur hingga mencapai kebuntuan dalam Pertempuran Shiffin pada tahun 657.[15] Pada Januari 661 Ali dibunuh oleh seorang Khawarij (sebuah faksi yang menentang Ali dan Muawiyah), setelah itu putranya Hasan diakui sebagai penggantinya.[16] Pada bulan Agustus, Muawiyah, yang telah diakui sebagai khalifah oleh para pendukungnya di Suriah, memimpin pasukannya menuju Kufah, ibu kota Hasan dan Ali di Irak, dan memperoleh kendali atas sisa Kekhalifahan dengan mengamankan perjanjian damai dengan Hasan. Syarat-syarat perjanjian tersebut menetapkan bahwa Muawiyah tidak akan menunjuk pengganti.[17][18] Meskipun perjanjian tersebut membawa perdamaian sementara, tidak ada kerangka suksesi yang ditetapkan.[19][20]

Muawiyah bertekad untuk mengangkat Yazid sebagai penggantinya. Gagasan yang diusulkan Mughirah bin Syu'bah[10] ini dianggap skandal oleh umat Islam, karena suksesi turun-temurun tidak memiliki preseden dalam sejarah Islam—khalifah-khalifah sebelumnya dipilih baik oleh dukungan rakyat di Madinah atau melalui konsultasi dengan para sahabat senior Muhammad—dan menurut prinsip-prinsip Islam, posisi penguasa bukanlah hak milik pribadi seorang penguasa untuk diberikan kepada keturunannya. Hal ini juga tidak dapat diterima menurut adat Arab, yang menurutnya kekuasaan tidak boleh diwariskan langsung dari ayah ke anak, melainkan dialihkan kepada tokoh yang dipandang layak di dalam lingkungan klan yang lebih luas.[20][21] Menurut orientalis Bernard Lewis, "satu-satunya preseden yang tersedia bagi Muawiyah dari sejarah Islam adalah pemilihan dan perang saudara. Yang pertama tidak dapat diterapkan; yang terakhir memiliki kekurangan yang jelas."[20] Muawiyah mengabaikan putra sulungnya Abdullah, dari istrinya yang berasal dari suku Quraisy, mungkin karena dukungan yang lebih kuat yang dimiliki Yazid di Suriah karena keturunannya dari suku Kalbiyah.[22] Bani Kalb mendominasi Suriah selatan dan memimpin konfederasi suku Qudha'ah yang lebih besar.[23] Suku Qudha'ah telah menetap di Suriah jauh sebelum Islam dan telah memperoleh pengalaman militer yang signifikan serta pemahaman tentang tatanan hierarki di bawah kekuasaan Bizantium, berbeda dengan suku-suku di Jazirah Arab dan Irak yang lebih bebas.[24] Di sisi lain, Suriah utara didominasi oleh konfederasi suku Qais, yang telah berimigrasi ke sana selama pemerintahan Muawiyah,[25][26] dan merasa tidak senang dengan posisi istimewa suku Kalb di istana Umayyah.[27] Dengan menunjuk Yazid untuk memimpin kampanye melawan Bizantium, Muawiyah mungkin berusaha untuk meningkatkan dukungan bagi Yazid dari suku-suku utara.[27] Kebijakan ini hanya berhasil sebagian karena suku Qais menentang penunjukan Yazid, setidaknya pada awalnya, karena ia adalah "putra seorang wanita Kalbi".[26] Di Hijaz (Arabia barat, tempat Madinah dan Makkah berada dan tempat tinggal kaum elit Muslim awal), Yazid mendapat dukungan dari kerabatnya dari Dinasti Umayyah, tetapi ada anggota bangsawan Hijaz lainnya yang persetujuannya penting. Dengan menunjuk Yazid untuk memimpin ritual haji di sana, Muawiyah mungkin berharap untuk mendapatkan dukungan bagi suksesi Yazid dan meningkatkan statusnya sebagai pemimpin Muslim.[26][27] Menurut Abu al-Faraj al-Isfahani (w. 967), Muawiyah juga menggunakan penyair untuk mempengaruhi opini publik agar mendukung suksesi Yazid.[28]

Menurut catatan Ibnu Atsir (w. 1233), Muawiyah memanggil syura (majelis musyawarah) yang terdiri dari orang-orang berpengaruh dari seluruh provinsi ke ibu kotanya, Damaskus, pada tahun 676 dan memperoleh dukungan mereka melalui sanjungan, suap, dan ancaman.[29][20] Kemudian ia memerintahkan kerabat sesama klan Umayyah, Marwan bin al-Hakam, gubernur Madinah, untuk memberitahukan keputusannya kepada penduduk Madinah. Marwan menghadapi perlawanan, terutama dari putra Ali dan cucu Muhammad, Husain, dan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan Abdurrahman bin Abu Bakar, semua putra dari sahabat-sahabat terkemuka Muhammad, yang, berdasarkan keturunan mereka, juga dapat mengklaim jabatan khalifah.[30][31] Muawiyah pergi ke Madinah dan mendesak keempat tokoh penentang itu agar bersedia tunduk, tetapi mereka bertolak ke Makkah. Muawiyah menyusul dan mengancam sebagian dari mereka dengan kematian, tetapi tidak berhasil. Meskipun demikian, dia berhasil meyakinkan penduduk Makkah bahwa keempatnya telah berbaiat, dan menerima baiat penduduk Makkah untuk Yazid. Dalam perjalanan kembali ke Damaskus, dia mengamankan baiat dari penduduk Madinah. Pengakuan umum atas pencalonan tersebut memaksa lawan-lawan Yazid untuk bungkam. Orientalis Julius Wellhausen meragukan kisah tersebut, berpendapat bahwa laporan penolakan pencalonan oleh tokoh-tokoh terkemuka Madinah adalah proyeksi balik dari peristiwa yang terjadi setelah kematian Muawiyah.[32] Pendapat serupa dipegang oleh sejarawan Andrew Marsham.[26] Menurut catatan ath-Thabari (w. 923), Muawiyah mengumumkan penunjukan tersebut pada tahun 676 dan hanya menerima delegasi dari kota garnisun Irak, Basra, yang berbaiat kepada Yazid di Damaskus pada tahun 679 atau 680.[33] Menurut al-Ya'qubi (w. 898), Muawiyah meminta baiat kepada Yazid pada kesempatan ibadah haji. Semua, kecuali empat tokoh Muslim terkemuka yang disebutkan di atas, mematuhinya. Tidak ada kekerasan yang digunakan terhadap mereka.[28] Bagaimanapun, Muawiyah mengatur pengakuan umum atas suksesi Yazid sebelum kematiannya.[27]

Masa pemerintahan

Muawiyah meninggal pada bulan April 680.[a] Menurut ath-Thabari, Yazid berada di kediamannya di Huwwarin (Homs), yang terletak di antara Damaskus dan Palmyra, pada saat kematian ayahnya.[34] Menurut syair-syair Yazid yang tersimpan dalam Kitab al-Aghani karya Abul Faraj al-Isfahani, sebuah kumpulan puisi Arab, Yazid sedang melakukan ekspedisi musim panas melawan Bizantium ketika ia menerima kabar tentang sakit menjelang wafatnya Muawiyah.[35] Berdasarkan hal ini dan fakta bahwa Yazid baru tiba di Damaskus setelah kematian Muawiyah, sejarawan Henri Lammens menolak laporan bahwa Yazid berada di Huwwarin.[36] Muawiyah mempercayakan pengawasan pemerintahan kepada rekan-rekan setianya, adh-Dhahhak bin Qais al-Fihri dan Muslim bin Uqbah al-Murri, hingga Yazid kembali. Ia meninggalkan wasiat untuk Yazid, yang berisi petunjuk mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan Kekhalifahan. Yazid dinasihati untuk mewaspadai Husain dan Ibnu Zubair, karena mereka dapat menantang kekuasaannya, dan diperintahkan untuk mengalahkan mereka jika mereka melakukannya. Yazid juga dinasihati untuk memperlakukan Husain dengan hati-hati dan tidak menumpahkan darahnya, karena ia adalah cucu Muhammad. Ibnu Zubair, di sisi lain, harus diperlakukan dengan keras, kecuali jika ia berdamai.[37]

Baiat

Lukisan hitam putih sebuah kota tua
Sebuah lukisan awal abad ke-19 tentang Damaskus, ibu kota Yazid.

Setelah naik ke tampuk kekhalifahan,[a] Yazid meminta dan menerima baiat dari para gubernur provinsi. Dia menulis surat kepada gubernur Madinah, sepupunya Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan, memberitahukannya tentang kematian Muawiyah dan menginstruksikannya untuk mendapatkan baiat dari Husain, Ibnu Zubair, dan Ibnu Umar.[38] Instruksi yang terdapat dalam surat tersebut adalah:

Tangkap Husain, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Zubair untuk berbaiat. Bertindaklah dengan sangat keras sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk melakukan apa pun sebelum berbaiat.[39]

Al-Walid meminta nasihat Marwan, yang menyarankan agar Ibnu Zubair dan Husain dipaksa untuk berbaiat karena mereka berbahaya, sementara Ibnu Umar dibiarkan saja karena ia tidak menimbulkan ancaman. Husain memenuhi panggilan Al-Walid dan menemui sang gubernur bersama Marwan dalam suatu pertemuan terbatas. Dalam pertemuan tersebut, ia diberitahu mengenai wafatnya Muawiyah serta pengangkatan Yazid sebagai khalifah. Ketika ditanya tentang baiatnya, Husain menjawab bahwa menyatakan baiat secara pribadi tidak akan cukup dan menyarankan agar baiat tersebut dilakukan di depan umum. Al-Walid setuju, tetapi Marwan bersikeras agar Husain ditahan sampai ia berbaiat. Husain memarahi Marwan dan pergi untuk bergabung dengan rombongan pengawal bersenjatanya, yang telah bersiaga di dekat lokasi untuk mengantisipasi jika pihak berwenang berupaya menangkapnya. Segera setelah kepergian Husain, Marwan menegur Al-Walid, yang kemudian membenarkan penolakannya untuk menyakiti Husain karena hubungan dekat Husain dengan Muhammad. Ibnu Zubair tidak memenuhi panggilan dan pergi ke Makkah. Al-Walid mengirim delapan puluh penunggang kuda untuk mengejarnya, tetapi ia berhasil melarikan diri. Husain pun segera pergi ke Makkah setelah itu, tanpa berbaiat kepada Yazid.[40] Karena tidak puas dengan kegagalan ini, Yazid menggantikan Al-Walid dengan kerabat jauhnya dari Dinasti Umayyah, Amr bin Sa'id bin al-Ash.[38] Tidak seperti Husain dan Ibnu Zubair, Ibnu Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar, dan Abdullah bin Abbas, yang sebelumnya juga mengecam penunjukan Yazid oleh Muawiyah,[d] memberikan baiat kepadanya.[19]

Pertempuran Karbala

Artikel utama: Pertempuran Karbala

Di Makkah, Husain menerima surat-surat dari penduduk Kufah yang pro-Alawiyyin,[e] yang mengundangnya untuk memimpin pemberontakan melawan Yazid. Husain kemudian mengirim sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk menilai situasi di kota tersebut. Ia juga mengirim surat ke Basra, tetapi utusannya diserahkan kepada gubernur Ubaidillah bin Ziyad dan dibunuh. Ibnu Aqil memberi tahu Husain tentang dukungan besar yang ia temukan di Kufah, dan memberi isyarat agar Husain memasuki kota tersebut. Setelah mendapat informasi dari beberapa kepala suku (asyraf) Kufah tentang kejadian tersebut, Yazid mengganti gubernur Kufah, Nu'man bin Basyir, yang tidak mau mengambil tindakan terhadap aktivitas pro-Alawiyyin, dengan Ibnu Ziyad, yang diperintahkannya untuk mengeksekusi atau memenjarakan Ibnu Aqil. Akibat penindasan dan manuver politik Ibnu Ziyad, pengikut Ibnu Aqil mulai berkurang dan ia terpaksa menyatakan pemberontakan sebelum waktunya. Pemberontakan tersebut ditumpas dan Ibnu Aqil dieksekusi.[45]

Didorong oleh surat Ibnu Aqil, Husain berangkat ke Kufah, mengabaikan peringatan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas mengingatkannya, tanpa hasil, tentang pengabaian yang dilakukan penduduk Kufah terhadap ayahnya, Ali, dan saudaranya, Hasan. Dalam perjalanan ke kota, ia menerima kabar kematian Ibnu Aqil.[45] Meskipun demikian, ia melanjutkan perjalanannya menuju Kufah. Pasukan Ibnu Ziyad yang berjumlah 4.000 orang menghalangi masuknya Husain ke kota dan memaksanya untuk berkemah di padang gurun Karbala. Ibnu Ziyad tidak mengizinkan Husain lewat tanpa menyerah, yang ditolak oleh Husain. Negosiasi selama seminggu gagal, dan dalam pertempuran yang pecah pada tanggal 10 Oktober 680, Husain dan 72 pengikut laki-lakinya gugur, sementara keluarganya ditawan.[45][46] Para tawanan dan kepala Husain yang terpenggal dikirim ke Yazid. Menurut catatan Abu Mikhnaf (w. 774) dan Ammar al-Duhni (w. 750–751), Yazid menyodok kepala Husain dengan tongkatnya,[47] meskipun riwayat lain menisbahkan tindakan ini kepada Ibnu Ziyad.[48][f] Yazid memperlakukan para tawanan dengan baik dan mengirim mereka kembali ke Madinah setelah beberapa hari.[47][45]

Pemberontakan Abdullah bin Zubair

Setelah kematian Husain, Yazid menghadapi peningkatan penentangan terhadap pemerintahannya dari Ibnu Zubair yang menyatakan dia telah digulingkan. Meskipun secara publik ia menyerukan syura untuk memilih khalifah baru,[44] secara rahasia Ibnu Zubair membiarkan para pendukungnya berbaiat kepadanya.[51] Pada awalnya, Yazid berusaha menenangkannya dengan mengirimkan hadiah dan delegasi dalam upaya mencapai kesepakatan.[51] Setelah Ibnu Zubair menolak untuk mengakuinya, Yazid mengirim pasukan yang dipimpin oleh saudara Ibnu Zubair yang berselisih dengannya, Amr, untuk menangkapnya. Pasukan tersebut dikalahkan dan Amr ditawan dan dieksekusi.[52] Selain pengaruh Ibnu Zubair yang semakin besar di Madinah, penduduk kota itu kecewa dengan pemerintahan Umayyah dan proyek-proyek pertanian Muawiyah, yang termasuk penyitaan tanah mereka untuk meningkatkan pendapatan pemerintah.[44] Yazid mengundang para tokoh terkemuka Madinah ke Damaskus dan berusaha memenangkan hati mereka dengan hadiah. Mereka tidak terbujuk, dan sekembalinya ke Madinah, mereka menceritakan gaya hidup mewah Yazid. Tuduhan-tuduhan tersebut termasuk Yazid minum anggur, berburu dengan anjing pemburu, dan kecintaannya pada musik. Penduduk Madinah, di bawah kepemimpinan Abdullah bin Hanzhalah, mencabut baiat mereka kepada Yazid dan mengusir gubernur kota, sepupu Yazid, Utsman bin Muhammad bin Abi Sufyan, bersama dengan seluruh Umayyah yang tinggal di kota itu. Yazid mengirimkan pasukan berjumlah 12.000 orang di bawah komando Muslim bin Uqbah untuk merebut kembali Hijaz. Setelah negosiasi gagal, penduduk Madinah dikalahkan dalam Pertempuran al-Harrah. Menurut catatan Abu Mikhnaf dan as-Samhudi (w. 1533), kota itu dijarah, sedangkan menurut catatan Awanah (w. 764) hanya para pemimpin pemberontakan yang dieksekusi.[53] Setelah memaksa para penentang tersebut untuk memperbarui baiat mereka, pasukan Yazid menuju Makkah untuk menaklukkan Ibnu Zubair.[54] Ibnu Uqbah meninggal dalam perjalanan ke Makkah dan komando beralih ke Hushain bin Numair as-Sakuni, yang mengepung Makkah pada bulan September 683. Pengepungan berlangsung selama beberapa minggu, di mana Ka'bah, tempat suci Muslim di tengah Masjidil Haram, terbakar.[g] Kematian mendadak Yazid pada bulan November 683 mengakhiri kampanye dan Ibnu Numair mundur ke Suriah bersama pasukannya.[58]

Urusan dalam negeri dan kampanye luar negeri

Gaya pemerintahan Yazid, secara umum, merupakan kelanjutan dari model yang dikembangkan oleh Muawiyah. Ia terus mengandalkan gubernur provinsi dan asyraf, seperti yang dilakukan Muawiyah, alih-alih kerabat. Ia mempertahankan beberapa pejabat Muawiyah, termasuk Ibnu Ziyad, yang merupakan gubernur Basra di bawah Muawiyah, dan Sarjun bin Mansur, seorang Kristen Suriah asli, yang pernah menjabat sebagai kepala administrasi fiskal di bawah Muawiyah.[59][57] Seperti Muawiyah, Yazid menerima delegasi tokoh suku (wufud) dari provinsi untuk mendapatkan dukungan mereka, yang juga melibatkan pemberian hadiah dan suap.[59] Struktur administrasi kekhalifahan dan militer tetap terdesentralisasi seperti pada masa Muawiyah. Provinsi-provinsi menahan sebagian besar pendapatan pajak mereka dan hanya menyetorkan sebagian kecil kepada Khalifah.[60] Unit-unit militer di tingkat provinsi direkrut dari kabilah-kabilah setempat, yang komandonya juga berada di bawah kendali para asyraf.[61]

Peta geofisika Levant (yaitu Timur Dekat atau Suriah Raya), dengan distrik administratif, ibu kota administratif, dan permukiman utama.
Di Suriah, Yazid mendirikan distrik perbatasan utara Qinnasrin.

Yazid menyetujui penurunan pajak bagi komunitas Kristen Najran atas permintaan mereka, tetapi menghapuskan pengecualian pajak khusus bagi komunitas etnoreligius Samaria, yang telah diberikan kepada mereka oleh para khalifah sebelumnya sebagai imbalan atas bantuan mereka kepada para penakluk Muslim. Ia memperbaiki sistem irigasi tanah subur Ghouta dekat Damaskus dengan menggali kanal yang kemudian dikenal sebagai Nahr Yazid.[57]

Menjelang akhir masa pemerintahannya, Muawiyah mencapai kesepakatan damai tiga puluh tahun dengan Bizantium, yang mewajibkan kekhalifahan untuk membayar upeti tahunan sebesar 3.000 koin emas, 50 kuda, dan 50 budak, serta menarik pasukan Muslim dari pangkalan-pangkalan terdepan yang mereka duduki di pulau Rodos dan pantai Anatolia.[62] Pada masa Yazid, pangkalan-pangkalan Muslim di sepanjang Laut Marmara ditinggalkan.[63] Berbeda dengan serangan-serangan berjangkauan jauh ke wilayah Kekaisaran Bizantium yang dilancarkan pada masa ayahnya, Yazid berfokus menstabilkan perbatasan dengan Bizantium.[63] Untuk meningkatkan pertahanan militer Suriah dan mencegah serangan Bizantium, Yazid membentuk distrik perbatasan Suriah utara, Qinnasrin, dari wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari Hims, dan menempatkan garnisun di sana.[64][63]

Yazid mengangkat kembali Uqbah bin Nafi, penakluk wilayah Ifriqiyah di Afrika Utara bagian tengah yang telah dicopot oleh Muawiyah, sebagai gubernur Ifriqiyah. Pada tahun 681, Uqbah melancarkan ekspedisi besar-besaran ke Afrika Utara bagian barat. Setelah mengalahkan Berber dan Bizantium, Uqbah mencapai pantai Atlantik dan merebut Tangier dan Volubilis. Ia tidak mampu membangun kendali permanen di wilayah-wilayah ini. Dalam perjalanan kembali ke Ifriqiyah, ia disergap dan dibunuh oleh pasukan Berber-Bizantium dalam Pertempuran Vescera, yang mengakibatkan lepasnya wilayah-wilayah taklukan tersebut.[65] Pada tahun 681 Yazid mengangkat saudara Ibnu Ziyad, Salm bin Ziyad, sebagai gubernur provinsi perbatasan timur laut Khurasan. Salm memimpin beberapa kampanye di Transoksiana (Asia Tengah) dan menyerbu Samarqand dan Khwarezmia, tetapi tanpa berhasil menancapkan pijakan permanen di satu pun dari wilayah-wilayah tersebut. Kematian Yazid pada tahun 683 dan kekacauan yang terjadi di timur mengakhiri kampanye tersebut.[66]

Kematian dan penerus

Diagram silsilah keluarga
Pohon silsilah keluarga Yazid, keluarga Sufyani, yang memerintah Kekhalifahan Umayyah dari tahun 661 hingga digantikan oleh keluarga Marwani pada tahun 684.

Yazid wafat pada tanggal 11 November 683 M atau bulan Rabiul Awal tahun 64 H,[10] di kota gurun Huwwarin, Suriah tengah, tempat tinggal favoritnya, pada usia antara 35 dan 43 tahun, dan dimakamkan di sana.[67] Para sejarawan awal seperti Abu Ma'shar al-Madani (w. 778) dan al-Waqidi (w. 823) tidak memberikan detail apa pun tentang kematiannya. Kurangnya informasi ini tampaknya telah memicu fabrikasi riwayat oleh para penulis yang berhaluan anti-Umayyah, yang merinci beberapa penyebab kematian, termasuk jatuh dari kuda, minum berlebihan, pleuritis, dan terbakar.[68] Menurut bait-bait syair seorang penyair sezaman, Ibnu Aradah, yang pada saat itu bermukim di Khurasan, Yazid wafat di peraduannya dengan cawan khamar di sisinya.[69][68]

Ibnu Zubair kemudian menyatakan dirinya sebagai khalifah dan Irak serta Mesir berada di bawah kekuasaannya. Di Suriah, putra Yazid, Muawiyah II, yang telah ia tunjuk sebagai penerus, menjadi khalifah. Kekuasaannya terbatas pada sebagian wilayah Suriah karena sebagian besar distrik Suriah (Hims, Qinnasrin, dan Palestina) dikuasai oleh sekutu Ibnu Zubair.[58] Muawiyah II meninggal beberapa bulan kemudian karena penyakit yang tidak diketahui. Beberapa sumber awal menyatakan bahwa ia turun takhta sebelum kematiannya.[69] Setelah kematiannya, suku Kalbiyah dari pihak ibu Yazid, yang berusaha mempertahankan hak istimewa mereka, berupaya mengangkat putra Yazid, Khalid, ke tampuk kekhalifahan, tetapi ia dianggap terlalu muda untuk memegang jabatan tersebut oleh non-Kalbiyah dalam koalisi pro-Umayyah.[70][71] Akibatnya, Marwan bin al-Hakam diakui sebagai khalifah dalam sebuah syura suku-suku pro-Umayyah pada bulan Juni 684.[72] Tak lama setelah itu, Marwan dan suku Kalb mengalahkan pasukan pro-Zubairi di Suriah yang dipimpin oleh adh-Dhahhak dalam Pertempuran Marj Rahith.[73] Meskipun syura pro-Umayyah menetapkan bahwa Khalid akan menggantikan Marwan, Marwan justru menunjuk putranya, Abdul Malik, sebagai penerusnya.[70][71] Dengan demikian, keluarga Sufyani, yang dinamai menurut nama ayah Muawiyah I, Abu Sufyan, digantikan oleh keluarga Marwani dari dinasti Umayyah.[74] Pada tahun 692, Abdul Malik telah mengalahkan Ibnu Zubair dan memulihkan kekuasaan Umayyah di seluruh kekhalifahan.[75]

Warisan

Pembunuhan cucu Muhammad, Husain, menyebabkan protes yang meluas di kalangan umat Islam dan citra Yazid sangat tercoreng.[76] Hal ini juga membantu mengkristalkan penentangan terhadap Yazid menjadi gerakan anti-Umayyah berdasarkan aspirasi Alawiyyin,[77] serta berkontribusi pada pembentukan identitas Syiah,[46] ketika faksi pendukung Alawiyyin bertransformasi menjadi sekte keagamaan yang memiliki ritual dan memori kolektif tersendiri. Setelah Perang Karbala, para imam Syiah dari garis keturunan Husain mengadopsi kebijakan sikap diam politik.[78]

Pandangan Muslim tradisional

Yazid dianggap sebagai tokoh jahat oleh banyak Muslim hingga saat ini,[13] tidak hanya oleh kaum Syiah, yang berpendapat bahwa kedudukan penguasa seharusnya dimiliki oleh ayah Husain, Ali, dan keturunannya, termasuk Husain, yang dibunuh Yazid untuk merampas haknya,[79] tetapi juga oleh banyak Sunni, yang menganggapnya sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai Islam.[80][81] Bagi kaum Syiah, Yazid adalah lambang kejahatan.[82][83] Ia dicerca setiap tahun dalam prosesi Asyura dan ta'zieh,[84][85] dan penguasa yang dianggap tirani dan penindas sering disamakan dengannya.[86][87] Sebelum Revolusi Iran, Shah Iran disebut sebagai "Yazid pada zamannya" oleh ulama Iran Ruhollah Khomeini,[88][82] demikian pula presiden Irak Saddam Hussein oleh kaum Syiah Irak selama Perang Iran–Irak karena larangannya terhadap ziarah ke tempat-tempat suci Islam Syiah.[89] Di kalangan Sunni, mazhab Hanafi memperbolehkan pelaknatan terhadap Yazid,[90] sedangkan mazhab Hambali dan sebagian besar ulama mazhab Syafi'i berpendapat bahwa tidak sepatutnya menjatuhkan vonis terhadap Yazid secara personal, melainkan para tiran secara umumlah yang boleh dilaknat.[91] Namun, ulama Hanbali Ibnu al-Jauzi (w. 1201) membolehkan pelaknatan tersebut.[91][h] Menurut al-Ghazali (w. 1111), mengutuk Yazid hukumnya terlarang, karena dia seorang Muslim dan perannya dalam pembunuhan Husain tidak terverifikasi.[92]

Yazid adalah orang pertama dalam sejarah kekhalifahan yang dinominasikan sebagai pewaris berdasarkan hubungan darah, dan ini menjadi tradisi setelahnya.[27] Dengan demikian, pengangkatannya dianggap oleh tradisi sejarah Muslim sebagai kemerosotan kekhalifahan menjadi kerajaan. Ia digambarkan sebagai seorang tiran yang bertanggung jawab atas tiga kejahatan besar selama kekhalifahannya: kematian Husain dan para pengikutnya di Karbala, yang dianggap sebagai pembantaian; akibat dari Pertempuran al-Harrah, di mana pasukan Yazid menjarah Madinah; dan pembakaran Ka'bah selama pengepungan Makkah, yang disalahkan pada komandan Yazid, Hushain bin Numair. Tradisi menekankan kebiasaannya minum, menari, berburu, dan memelihara hewan peliharaan seperti anjing dan monyet, yang menggambarkannya sebagai orang yang tidak saleh dan tidak layak memimpin masyarakat Muslim.[59] Kitab-kitab sejarah Muslim sezaman yang masih terlestarikan menggambarkan Yazid sebagai "orang berdosa dalam hal perut dan kemaluannya", "orang mabuk yang sombong", dan "termotivasi oleh penentangan terhadap Tuhan, kurangnya iman pada agama-Nya dan permusuhan terhadap Rasul-Nya".[93] Al-Baladzuri (w. 892) menggambarkannya sebagai "pemimpin kaum fasik" (amir al-fasiqin), berbeda dengan gelar pemimpin kaum beriman (amir al-mu'minin) yang biasanya diterapkan pada para khalifah.[94] Meskipun demikian, beberapa sejarawan berpendapat bahwa ada kecenderungan dalam sumber-sumber Muslim awal untuk membebaskan Yazid dari kesalahan atas kematian Husain, dan menyalahkan sepenuhnya Ibnu Ziyad.[45] Menurut sejarawan James Lindsay, sejarawan Suriah Ibnu Asakir (w. 1176) berusaha menekankan kualitas positif Yazid, sambil menerima tuduhan yang umumnya ditujukan kepadanya.[59][95] Ibnu Asakir menekankan bahwa Yazid adalah seorang perawi hadits (perkataan dan tradisi yang dinisbahkan kepada Muhammad), seorang pria yang berbudi luhur "karena hubungannya dengan zaman Nabi", dan layak menduduki posisi penguasa.[96]

Pandangan ilmiah modern

Kendati Yazid memiliki reputasi buruk di kalangan agamawan serta sejarawan Muslim arus utama—baik yang sezaman maupun setelahnya—para sejarawan orientalis umumnya memberikan penilaian yang lebih berimbang mengenai dirinya. Menurut Wellhausen, Yazid adalah penguasa yang lembut, yang hanya menggunakan kekerasan jika perlu, dan bukanlah tiran seperti yang digambarkan oleh tradisi agama. Ia lebih lanjut mencatat bahwa Yazid kurang tertarik pada urusan publik sebagai seorang pangeran, tetapi sebagai seorang khalifah "ia tampaknya telah memperbaiki dirinya, meskipun ia tidak meninggalkan kesukaan lamanya,—anggur, musik, perburuan dan olahraga lainnya".[97] Menurut sejarawan Hugh N. Kennedy, terlepas dari bencana Karbala dan al-Harrah, pemerintahan Yazid "tidak tanpa prestasi". Reputasinya mungkin akan membaik jika ia hidup lebih lama, tetapi kematiannya yang terlalu dini berperan dalam melekatnya stigma "guncangan di awal masa pemerintahannya".[63] Menurut pakar studi Islam G. R. Hawting, Yazid mencoba melanjutkan kebijakan diplomatik ayahnya tetapi, tidak seperti Muawiyah, ia tidak berhasil memenangkan hati oposisi dengan hadiah dan suap. Dalam kesimpulan Hawting, "citra Muʿāwiyah yang beroperasi lebih seperti seorang s̲h̲ayk̲h̲ suku daripada seorang despot Timur Tengah tradisional ... juga tampaknya berlaku untuk Yazid".[59] Menurut Lewis, Yazid adalah penguasa yang cakap "dengan banyak kemampuan ayahnya" tetapi terlalu banyak dikritik oleh sejarawan Arab kemudian.[77] Mengungkapkan sudut pandang yang mirip dengan Wellhausen, Lammens berkomentar, "sebagai seorang penyair dan menyukai musik, ia adalah seorang Maecenas para penyair dan seniman".[57]

Penggambaran Yazid dalam sumber-sumber Muslim bertolak dari permusuhan Dinasti Abbasiyah terhadap Bani Umayyah—yang mereka gulingkan pada tahun 750—mengingat kitab-kitab tarikh tersebut ditulis pada masa kekuasaan Abbasiyah.[93] Sebagian besar laporan dalam sumber-sumber Muslim tradisional berfokus pada pemberontakan terhadap Yazid,[59] dan biasanya kurang detail tentang kehidupan publiknya di Suriah dan aktivitasnya selain penumpasan pemberontakan. Lammens mengaitkan hal ini dengan kecenderungan para penulis sejarah era Abbasiyah yang berbasis di Irak untuk menggambarkan seorang khalifah yang di bawah pemerintahannya Husain terbunuh dan kota-kota suci Islam diserang hanya sebagai seorang pemabuk yang tidak saleh.[98] Sebaliknya, sebuah sumber Suriah yang terpelihara dalam Kronik 741 menggambarkan Khalifah sebagai "orang yang sangat menyenangkan dan dianggap sangat disukai oleh semua orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia tidak pernah, seperti kebiasaan manusia, mencari kemuliaan untuk dirinya sendiri karena kedudukan kerajaannya, tetapi hidup sebagai warga negara bersama dengan semua orang biasa."[93]

Yazidisme

Dalam agama Yazidi, yang dipraktikkan oleh komunitas etnoreligius Yazidi yang sebagian besar berbasis di Irak dan berbahasa Kurdi, Sultan Ezid adalah tokoh ilahi yang sangat dihormati.[99] Sebagian besar sejarawan modern berpendapat bahwa nama Ezid berasal dari nama Khalifah Yazid.[100] Dalam tradisi keagamaan Yazidi, tidak ada jejak hubungan antara Sultan Ezid dan khalifah Umayyah kedua.[101] Sebuah gerakan pro-Umayyah yang sangat bersimpati kepada Yazid ada di pegunungan Kurdi sebelum abad ke-12, ketika Syekh Adi bin Musafir, seorang mistikus yang dihormati oleh Yazidi hingga saat ini,[99][102] menetap di sana dan berhasil menghimpun pengikut dari kalangan simpatisan gerakan tersebut. Nama Yazidi tampaknya disematkan kepada kelompok tersebut karena garis keturunan Umayyah yang dimiliki sang syekh.[102]

Koin dan prasasti

Sisi depan dan belakang koin perak dengan tulisan Arab dan tanda lainnya.
Koin Kekhalifahan Umayyah pada masa Yazid. Lokasi pencetakan: Basra. Gubernur: Ubaidillah bin Ziyad. Tanggal: 60 H (679–680 M). Bagian depan: Potret bergaya Sasaniyah meniru Khosrau II; bismillah dan empat titik di pinggir. Bagian belakang: altar api dengan pita dan pengiring; bintang dan bulan sabit mengapit nyala api; tanggal di sebelah kiri, tempat percetakan di sebelah kanan.

Sebuah koin perak bergaya Sasaniyah yang bertuliskan tanggal pencetakan "Tahun I Yazid" telah dilaporkan. Sisi depan menunjukkan potret raja Sasaniyah Khosrau II (m. 590–628) dan namanya dalam aksara Pahlavi. Sisi belakang menampilkan motif lazim berupa altar api Zoroaster yang diapit oleh para penjaga altar. Namun, marginnya berisi tulisan bahwa koin tersebut dicetak pada tahun pertama pemerintahan Yazid.[103] Sebuah koin anonim dari percetakan Nishapur yang bertuliskan tanggal pencetakan 60, yang diasumsikan sebagai tahun Hijriyah, juga dianggap berasal dari tahun pertama pemerintahan Yazid.[104] Koin-koin lain dari masa pemerintahannya biasanya hanya memiliki nama gubernur provinsi tempat koin tersebut berasal.[104][105] Koin yang memuat nama khalifah tandingan Abdullah bin Zubair juga ditemukan di provinsi Fars dan Kirman, bertanggal antara 61 dan 63 (681–683 M), meskipun Ibnu Zubair tidak secara terbuka mengklaim kekhalifahan sampai setelah kematian Yazid.[106] Hal ini mungkin menunjukkan bahwa selain tantangan terhadap kekuasaannya di Arabia dan Irak, otoritas Yazid juga ditantang di Persia selatan sejak kira-kira waktu pengangkatannya. Koin-koin tersebut mungkin dicetak atas nama Ibnu Zubair guna memberikan legitimasi bagi kalangan yang menentang Bani Umayyah dengan mencatut figur Quraisy yang dipandang layak.[107][i]

Yazid diyakini disebutkan dalam sebuah grafiti Kristen Paleo-Arab pendek tanpa tanggal yang dikenal sebagai prasasti Yazid. Bunyinya "Semoga Tuhan mengingat Yazid sang raja".[109][110][111]

Istri dan keturunan

Yazid menikahi tiga wanita dan mempunyai beberapa selir. Nama dua istrinya diketahui: Ummu Khalid Fakhitah binti Abi Hasyim dan Ummu Kultsum, putri dari komandan dan negarawan veteran Abdullah bin Amir.[112][113] Fakhitah dan Ummu Kultsum sama-sama berasal dari Bani Abdu Syams, klan induk Umayyah.[114]

Yazid mempunyai tiga putra dari istri-istrinya. Putra sulungnya, Muawiyah II, berumur antara 17 dan 23 tahun pada saat Yazid meninggal. Nama ibu Muawiyah II tidak diketahui, tetapi ia berasal dari Bani Kalb. Kondisi kesehatannya yang buruk menghalanginya menjalankan tugas-tugas kekhalifahan dan ia jarang keluar dari kediamannya. Ia hanya hidup beberapa bulan lebih lama dari ayahnya dan meninggal tanpa meninggalkan keturunan.[113] Putra kedua Yazid, Khalid, lahir dari Fakhitah sekitar tahun 668. Marwan menikahi Fakhitah setelah menjadi khalifah guna menjalin persekutuan dengan keluarga Sufyani dan meredam klaim kekhalifahan dari Khalid, putra Fakhitah tersebut. Ia tetap diam tentang tersingkirnya ia dari suksesi, meskipun terdapat riwayat bercorak legenda yang menyebutkan bahwa ia memprotes Marwan, yang kemudian mencelanya." dan "Beberapa riwayat bernuansa legenda menyebutkan bahwa Khalid meminati alkimia dan telah memerintahkan penerjemahan karya-karya Yunani tentang alkimia, astronomi, dan kedokteran ke dalam bahasa Arab.[70] Putri Yazid, Atikah, adalah istri kesayangan Abdul Malik.[115] Mereka memiliki beberapa anak, termasuk bakal Khalifah Yazid II (m. 720–724).[116] Putra Yazid, Abdullah, dari Ummu Kultsum, adalah seorang pemanah dan penunggang kuda yang terkenal.[112] Yazid mempunyai beberapa putra lain dari perempuan budak.[117][j]

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Muawiyah wafat pada bulan Rajab tahun 60 H. Bulan Rajab tahun 60 H dimulai pada tanggal 7 April 680. Tanggal pasti kematiannya bervariasi tergantung sumbernya 7 April menurut Ibnu al-Kalbi (w. 819), 21 April menurut al-Waqidi (w. 823), dan 29 April menurut al-Mada'ini (w. 843).[1] Yazid naik takhta kekhalifahan beberapa hari setelah kematian Muawiyah; menurut Abu Mikhnaf (w. 774), kenaikan takhtanya terjadi pada tanggal 7 April, sedangkan Elia dari Nisibis menempatkannnya pada tanggal 21 April.[2]
  2. 1 2 3 Tahun kelahirannya tidak pasti. Usianya pada saat kematiannya dilaporkan antara 35 dan 43 tahun Hijriyah. Laporan paling awal tentang kelahirannya adalah 22 H, yang sesuai dengan 642–643, dan paling mendekati usia 43 tahun. Sejarawan Henri Lammens dan Michael Jan de Goeje sama-sama lebih condong pada tanggal ini. Laporan lain menyebutkan kelahirannya pada 25 H, yang sesuai dengan 645–646. Usia 35 tahun akan menempatkan tahun kelahirannya pada 29 H, yang sesuai dengan 649.[3][4]
  3. ↑ bahasa Arab: يزيد بن معاوية بن أبي سفيان, translit. Yazīd ibni Muʿāwiyah ibni ʾAbī Sufyān
  4. ↑ Laporan mengenai penolakan Abdullah bin Abbas terhadap pencalonan Yazid oleh Muawiyah diragukan oleh sejarawan modern yang menduga laporan tersebut merupakan upaya Abbasiyah untuk mengangkat status Ibnu Abbas, leluhur dinasti Abbasiyah, dan menyamakannya dengan para pemimpin perlawanan terkemuka lainnya.[41][42]
  5. ↑ Pro-Alawiyyin atau partisan Alawiyyin adalah pendukung politik Ali bin Abi Thalib, dan kemudian keturunannya.[43][44]
  6. ↑ Menurut Julius Wellhausen, atribusi kepada Yazid kemungkinan benar karena tongkat kekuasaan biasanya dipegang oleh raja.[49] Menurut Henri Lammens, perbuatan itu kemungkinan dilakukan oleh Ibnu Ziyad tetapi para penulis sejarah Irak, yang bersimpati kepada Husain, hanya ingin memindahkan adegan tersebut ke Damaskus.[50]
  7. ↑ Beberapa sumber Muslim kemudian menyatakan bahwa orang Suriah yang menyebabkan kebakaran tersebut. Namun, kemungkinan besar kebakaran tersebut disebabkan oleh para pembela secara tidak sengaja.[55][56][57]
  8. ↑ Ia menulis sebuah risalah tentang masalah ini yang berjudul Risalah fi jawaz al-la'n ala Yazid (Risalah tentang keabsahan melaknat Yazid), dan risalah lain yang membantah orang-orang yang melarang praktik tersebut: Ar-radd ali al-muta'sib al-'anid al-mani fi dhamm Yazid (Jawaban kepada fanatik keras kepala yang melarang mencela Yazid).[91]
  9. ↑ Keturunan Quraisy dianggap sebagai prasyarat untuk jabatan khalifah oleh mayoritas umat Islam pada masa awal sejarah Islam.[108]
  10. ↑ Nama-nama putra Yazid dari budak-budak perempuannya adalah Abdullah al-Asghar, Umar, Abu Bakar, Utbah, Harb, Abdurrahman, ar-Rabi, dan Muhammad[117]

Kutipan

  1. ↑ Morony 1987, hlm. 210.
  2. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 139.
  3. ↑ de Goeje 1911, hlm. 30.
  4. ↑ Lammens 1921, hlm. 477–478.
  5. ↑ Kennedy 2023, hlm. 1.
  6. 1 2 Goldschmidt & Al-Marashi 2019, hlm. 53.
  7. ↑ Sprengling 1939, hlm. 182, 193–194.
  8. ↑ Sprengling 1939, hlm. 194.
  9. ↑ Lewis 2002, hlm. 64.
  10. 1 2 3 Adz-Dzahabi 2017, hlm. 23–27.
  11. ↑ Jankowiak 2013, hlm. 290–291.
  12. ↑ Jankowiak 2013, hlm. 292–294.
  13. 1 2 Hawting 2002, hlm. 309–311.
  14. ↑ Donner 2010, hlm. 156–157.
  15. ↑ Donner 2010, hlm. 160–161.
  16. ↑ Donner 2010, hlm. 166–167.
  17. ↑ Morony 1987, hlm. 183.
  18. ↑ Madelung 1997, hlm. 322.
  19. 1 2 Donner 2010, hlm. 177.
  20. 1 2 3 4 Lewis 2002, hlm. 67.
  21. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 140.
  22. ↑ Hawting 2002, hlm. 309.
  23. ↑ Marsham 2009, hlm. 90.
  24. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 131–132.
  25. ↑ Crone 1980, hlm. 34.
  26. 1 2 3 4 Marsham 2009, hlm. 91.
  27. 1 2 3 4 5 Kennedy 2016, hlm. 39.
  28. 1 2 Lammens 1921, hlm. 104.
  29. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 141–142.
  30. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 145.
  31. ↑ Hawting 2000, hlm. 46.
  32. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 141–145.
  33. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 143–144.
  34. ↑ Morony 1987, hlm. 214.
  35. ↑ Kilpatrick 2003, hlm. 390 n. 54.
  36. ↑ Lammens 1921, hlm. 108.
  37. ↑ Lammens 1921, hlm. 5–6.
  38. 1 2 Wellhausen 1927, hlm. 145–146.
  39. ↑ Howard 1990, hlm. 2–3.
  40. ↑ Howard 1990, hlm. 3–7.
  41. ↑ Marsham 2009, hlm. 91–92.
  42. ↑ Sharon 1983, hlm. 82–83.
  43. ↑ Donner 2010, hlm. 178.
  44. 1 2 3 Kennedy 2004, hlm. 89.
  45. 1 2 3 4 5 Madelung 2004.
  46. 1 2 Daftary 1990, hlm. 50.
  47. 1 2 Wellhausen 1901, hlm. 67.
  48. ↑ Howard 1990, hlm. xiv, 81, 165.
  49. ↑ Wellhausen 1901, hlm. 67 n..
  50. ↑ Lammens 1921, hlm. 171.
  51. 1 2 Wellhausen 1927, hlm. 148–150.
  52. ↑ Donner 2010, hlm. 180.
  53. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 152–156.
  54. ↑ Donner 2010, hlm. 180–181.
  55. ↑ Hawting 2000, hlm. 48.
  56. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 165–166.
  57. 1 2 3 4 Lammens 1934, hlm. 1162.
  58. 1 2 Donner 2010, hlm. 181–182.
  59. 1 2 3 4 5 6 Hawting 2002, hlm. 310.
  60. ↑ Crone 1980, hlm. 30–33.
  61. ↑ Crone 1980, hlm. 31.
  62. ↑ Lilie 1976, hlm. 81–82.
  63. 1 2 3 4 Kennedy 2004, hlm. 90.
  64. ↑ Lammens 1921, hlm. 327.
  65. ↑ Kennedy 2007, hlm. 212–215.
  66. ↑ Kennedy 2007, hlm. 237–238.
  67. ↑ Lammens 1921, hlm. 478.
  68. 1 2 Lammens 1921, hlm. 475–476.
  69. 1 2 Wellhausen 1927, hlm. 169.
  70. 1 2 3 Ullmann 1978, hlm. 929.
  71. 1 2 Marsham 2009, hlm. 117–118.
  72. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 182.
  73. ↑ Kennedy 2004, hlm. 91.
  74. ↑ Hawting 2000, hlm. 47.
  75. ↑ Hawting 2000, hlm. 48–49.
  76. ↑ Donner 2010, hlm. 179.
  77. 1 2 Lewis 2002, hlm. 68.
  78. ↑ Halm 1997, hlm. 16.
  79. ↑ Fischer 2003, hlm. 19.
  80. ↑ Hyder 2006, hlm. 77.
  81. ↑ Hathaway 2003, hlm. 47.
  82. 1 2 Fischer 2003, hlm. 7.
  83. ↑ Aghaie 2004, hlm. xi, 9.
  84. ↑ Halm 1997, hlm. 56.
  85. ↑ Kennedy 2016, hlm. 40.
  86. ↑ Hyder 2006, hlm. 69, 91.
  87. ↑ Aghaie 2004, hlm. 73.
  88. ↑ Halm 1997, hlm. 140.
  89. ↑ Hyder 2006, hlm. 69.
  90. ↑ Kohlberg 2020, hlm. 74.
  91. 1 2 3 Lammens 1921, hlm. 487–488, 492.
  92. ↑ Lammens 1921, hlm. 490.
  93. 1 2 3 Hoyland 2015, hlm. 233.
  94. ↑ Lammens 1921, hlm. 321.
  95. ↑ Lindsay 1997, hlm. 253.
  96. ↑ Lindsay 1997, hlm. 254.
  97. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 168.
  98. ↑ Lammens 1921, hlm. 317–318.
  99. 1 2 Langer 2010, hlm. 394.
  100. ↑ Kreyenbroek 2002, hlm. 313.
  101. ↑ Asatrian & Arakelova 2016, hlm. 386.
  102. 1 2 Kreyenbroek 2002, hlm. 314.
  103. ↑ Mochiri 1982, hlm. 137–139.
  104. 1 2 Mochiri 1982, hlm. 139.
  105. ↑ Rotter 1982, hlm. 85.
  106. ↑ Rotter 1982, hlm. 85–86.
  107. ↑ Rotter 1982, hlm. 86.
  108. ↑ Demichelis 2015, hlm. 108.
  109. ↑ al-Shdaifat et al. 2017.
  110. ↑ Nehmé 2020.
  111. ↑ Al-Jallad 2021, hlm. 195–211.
  112. 1 2 Howard 1990, hlm. 226.
  113. 1 2 Bosworth 1993, hlm. 268.
  114. ↑ Robinson 2020, hlm. 143.
  115. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 222.
  116. ↑ Ahmed 2010, hlm. 118.
  117. 1 2 Howard 1990, hlm. 227.

Sumber

Yazid bin Muawiyah
Sufyani
Cabang kadet Bani Umayyah
Lahir: 647 Meninggal: 11 November 683
Jabatan Islam Sunni
Didahului oleh:
Muawiyah bin Abu Sufyan
Khalifah
680 –11 November 683
Diteruskan oleh:
Muawiyah bin Yazid
Tokoh-tokoh awal
Khalifah di Damaskus
Amir di Kordoba
Khalifah di Kordoba
Wilayah penting
Pro-Umayyah
Anti-Umayyah
Peristiwa penting
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan