Minggu, 08 November 2026
03:43 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Tafonomi

Tafonomi

Bagikan:
Bagian dari seri
Paleontologi
250px-Tyrannosaurus_Rex_Holotype.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Tafonomi adalah studi yang membahas perihal proses membusuk dan terfosilisasinya suatu organisme, atau bagaimana suatu organisme bisa terawetkan dalam catatan paleontologis. Istilah tafonomi (dari bahasa Yunani táphos, τάφος 'penguburan' dan nomos, νόμος 'hukum') diperkenalkan pada paleontologi pada 1940[1] oleh ilmuwan Ivan Efremov untuk mendeskripsikan sebuah studi mengenai transisi dari suatu sisa, potongan atau produk dari suatu organisme dari biosfer ke Litosfer.[2][3]

Istilah tafomorf digunakan untuk mendeskripsikan struktur fosil yang mewakili sisa-sisa gabungan dari berbagai kelompok takson yang tidak terawetkan dengan baik dan/atau rusak.

Deskripsi

Fenomena tafonomik tergolong menjadi dua fase: biostratinomi, yang merujuk kepada kejadian yang berlangsung di antara waktu kematian organisme dan waktu penguburannya; dan diagenesis, yaitu peristiwa yang terjadi setelah penguburan.[4] Sejak definisi Efremov, tafonomi sudah meulas sehingga mencakup proses fosilisasi material organik dan inorganik dengan pengaruh alam dan kultural. Sekarang, tafonomi secara luas didefinisikan sebagai studi mengenai apa yang terjadi ketika suatu objek ketika meniggalkan biosfer (dalam konteks lain, mati), memasuki litosfer (dalam konteks penguburan).[5]

Tafonomi merupakan konsep yang multidisipliner dan digunakan dengan konteks yang sedikit berbeda, tergantung dengan bidang studi. Bidang-bidang yang menggunakan konsep tafonomi antara lain adalah:

Ada lima tahapan utama pada tafonomi: disartikulasi, pembubaran (dispersal), akumulasi, fosilisasi dan perubahan mekanik.[6] Tahapan pertama, disartikulasi, terjadi saat suatu organisme membusuk, pada saat rangka dari organisme tersebut sudah tidak terikat oleh tendon dan daging. Pembubaran merujuk kepada terpihasanya potongan-potongan bangkai suatu organisme karena proses alamiah (i.e. banjir, hewan pemakan bangkai, dan lain sebagainya). Akumulasi terjadi saat adanya penumpukan material organik maupun inorganik pada suatu lokasi. Fosilisasi terjadi saat air tanah kaya mineral meresap pada suatu material organik dan mengisi ruang kosong di/disekitar bangkai untuk membentuk fosil. Terakhir, perubahan mekanik adalah suatu proses yang secara fisik mengubah sisa-sisa (i.e. freeze-thaw, kompaksi, perpindahan tempat atau penguburan).[7] Perlu ditambahkan bahwa "tahapan" ini tidak terjadi secara berurutan, tetapi terjadi secaa bersamaan. Sebagai contoh, perubahan kimiawi terjadi pada semua tahap karena adanya bakteri. "Perubahan-perubahan" tersebut dimulai saat suatu organisme mati: saat enzim penghancur dilepaskan, yang akan menghancurkan jaringan dan tulang.[8][9]

Bias tafonomi dalam catatan fosil

Bagian ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Tafonomi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Karena proses yang sangat selektif yang menyebabkan pengawetan, tidak semua organisme memiliki peluang yang sama untuk diawetkan. Faktor apa pun yang memengaruhi kemungkinan suatu organisme diawetkan sebagai fosil merupakan sumber bias yang potensial. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tujuan paling penting dari tafonomi adalah mengidentifikasi cakupan bias-bias tersebut agar dapat dikuantifikasi sehingga memungkinkan interpretasi yang tepat mengenai kelimpahan relatif organisme yang membentuk suatu biota fosil.[10] Beberapa sumber bias yang paling umum tercantum di bawah ini.

Atribut fisik organisme itu sendiri

Hal ini mungkin mewakili sumber bias terbesar dalam rekaman fosil. Yang terutama, organisme yang mengandung bagian-bagian keras memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk terwakili dalam rekaman fosil daripada organisme yang hanya terdiri dari jaringan lunak. Akibatnya, hewan bertulang atau bercangkang sangat dominan terwakili dalam rekaman fosil, dan banyak tumbuhan hanya terwakili oleh serbuk sari atau spora yang memiliki dinding keras. Organisme bertubuh lunak mungkin membentuk 30% hingga 100% dari biota, tetapi sebagian besar asambelase fosil tidak mengawetkan keanekaragaman tak kasat mata ini, yang dapat mengeksklusi kelompok-kelompok seperti jamur dan seluruh filum hewan dari rekaman fosil. Di sisi lain, banyak hewan yang berganti kulit terwakili secara berlebihan, karena satu hewan dapat meninggalkan banyak fosil akibat bagian tubuhnya yang ditanggalkan. Di antara tumbuhan, spesies yang penyerbukannya dibantu angin menghasilkan jauh lebih banyak serbuk sari daripada spesies yang penyerbukannya dibantu hewan, sehingga spesies pertama terwakili secara berlebihan dibandingkan dengan spesies kedua.[butuh rujukan]

Karakteristik habitat

Sebagian besar fosil terbentuk dalam kondisi ketika materi diendapkan di dasar perairan. Wilayah pesisir sering kali rentan terhadap tingkat erosi yang tinggi, dan sungai yang mengalir ke laut dapat membawa beban partikulat yang tinggi dari daratan. Sedimen-sedimen ini pada akhirnya akan mengendap, sehingga organisme yang hidup di lingkungan tersebut memiliki peluang yang jauh lebih tinggi untuk terawetkan sebagai fosil setelah mati dibandingkan dengan organisme yang hidup dalam kondisi tanpa pengendapan. Dalam lingkungan kontinental, fosilisasi mungkin terjadi di danau dan dasar sungai yang secara bertahap terisi oleh materi organik dan anorganik. Organisme di habitat seperti itu juga cenderung terwakili secara berlebihan dalam rekaman fosil daripada organisme yang hidup jauh dari lingkungan akuatik tersebut, tempat penguburan oleh sedimen kecil kemungkinannya untuk terjadi.[11]

Pencampuran fosil dari tempat yang berbeda

Suatu endapan sedimen mungkin mengalami pencampuran sisa-sisa yang tidak sezaman dalam satu unit sedimen tunggal melalui proses fisik atau biologis; misalnya, suatu endapan dapat terangkat dan terendapkan kembali di tempat lain, yang berarti bahwa endapan tersebut dapat mengandung sejumlah besar fosil dari tempat lain (endapan alokton, berbeda dengan endapan autokton yang biasa). Oleh karena itu, pertanyaan yang sering diajukan mengenai endapan fosil adalah sejauh mana endapan fosil merekam biota sejati yang awalnya hidup di sana? Banyak fosil yang jelas-jelas bersifat autokton, seperti fosil yang berakar seperti krinoid,[butuh klarifikasi] dan banyak fosil secara intrinsik jelas-jelas bersifat alokton, seperti keberadaan plankton fotoautotrof dalam endapan bentik yang pastinya tenggelam untuk bisa terendapkan. Dengan demikian, endapan fosil dapat menjadi bias terhadap spesies eksotis (yaitu spesies yang bukan endemik di wilayah tersebut) ketika sedimentologi didominasi oleh lonjakan yang dipicu gravitasi, seperti tanah longsor, atau dapat menjadi bias jika hanya ada sangat sedikit organisme endemik yang terawetkan. Hal ini merupakan masalah khusus dalam palinologi.[butuh rujukan]

Resolusi temporal

Karena tingkat pergantian populasi dari takson individual jauh lebih kecil daripada tingkat akumulasi sedimen bersih, sisa-sisa biologis dari populasi organisme berturut-turut yang tidak sezaman dapat tercampur dalam satu lapisan tunggal, yang dikenal sebagai penyama-rataan waktu (time-averaging). Karena sifat rekaman geologi yang lambat dan episodik, dua fosil yang tampaknya sezaman mungkin sebenarnya hidup terpisah berabad-abad, atau bahkan ribuan tahun. Selain itu, tingkat penyama-rataan waktu dalam suatu asambelase dapat bervariasi. Tingkat ini bervariasi tergantung pada banyak faktor, seperti jenis jaringan, habitat, frekuensi peristiwa penguburan dan peristiwa pembongkaran (exhumation), serta kedalaman bioturbasi di dalam kolom sedimen relatif terhadap tingkat akumulasi sedimen bersih. Seperti halnya bias dalam kesetiaan spasial, terdapat bias terhadap organisme yang dapat bertahan dari peristiwa pengerjaan ulang (reworking), seperti cangkang. Contoh endapan yang lebih ideal terkait dengan bias penyama-rataan waktu adalah endapan abu vulkanik, yang merekam seluruh biota yang terjebak di tempat yang salah pada waktu yang salah (seperti Lagerstätte Herefordshire dari periode Silur Formasi Coalbrookdale).

Celah dalam deret waktu

Rekaman geologi sangat diskontinu, dan pengendapan bersifat episodik pada semua skala. Pada skala terbesar, periode muka air laut tinggi (high-stand) dalam sedimentologi dapat berarti tidak ada pengendapan yang terjadi selama jutaan tahun dan, bahkan, erosi endapan dapat terjadi. Kesenjangan tersebut disebut ketidakselarasan. Sebaliknya, peristiwa katastrofik seperti tanah longsor dapat mewakili suatu periode waktu secara berlebihan. Pada skala yang lebih pendek, proses pengikisan seperti pembentukan riak dan gumuk serta lewatnya arus turbiditas dapat menyebabkan lapisan-lapisan tergerus. Oleh karena itu, rekaman fosil cenderung memihak pada periode pengendapan terbesar; periode waktu yang memiliki lebih sedikit pengendapan akibatnya kurang terwakili dalam rekaman fosil.[butuh rujukan]

Masalah terkait adalah perubahan lambat yang terjadi pada lingkungan pengendapan di suatu wilayah; suatu endapan dapat mengalami periode pengawetan yang buruk akibat, misalnya, kurangnya elemen biomineralisasi. Hal ini menyebabkan pemusnahan tafonomis atau diagenetis pada fosil, yang menghasilkan celah dan kondensasi rekaman.[butuh rujukan]

Konsistensi dalam pengawetan selama waktu geologi

Pergeseran besar dalam sifat intrinsik dan ekstrinsik organisme, termasuk morfologi dan perilaku terkait dengan organisme lain atau pergeseran dalam lingkungan global, dapat menyebabkan perubahan siklis jangka panjang atau sekuler dalam pengawetan (megabias).[butuh rujukan]

Bias manusia

Sebagian besar ketidaklengkapan rekaman fosil disebabkan oleh fakta bahwa hanya sebagian kecil batuan yang tersingkap di permukaan Bumi, dan bahkan tidak sebagian besar dari yang tersingkap itu telah dijelajahi. Rekaman fosil kita bergantung pada sejumlah kecil eksplorasi yang telah dilakukan terhadap hal tersebut. Sayangnya, ahli paleontologi sebagai manusia dapat sangat terbiasa dengan bias dalam metode pengumpulan mereka; bias yang harus diidentifikasi. Sumber bias potensial meliputi,

  • Pencitraan pencarian (search images): eksperimen lapangan telah menunjukkan bahwa ahli paleontologi yang meneliti, misalnya fosil kerang, lebih baik dalam mengumpulkan kerang daripada benda lain karena gambaran pencarian mereka telah terbentuk untuk memihak pada kerang.
  • Kemudahan relatif ekstraksi: fosil yang mudah diperoleh (seperti banyak fosil fosfat yang mudah diekstraksi secara massal melalui pelarutan dalam asam) sangat melimpah dalam rekaman fosil.
  • Bias taksonomi: fosil dengan morfologi yang mudah dikenali akan mudah dibedakan sebagai spesies yang terpisah, sehingga kelimpahannya akan menggembung.[butuh rujukan]

Referensi

  1. ↑ Lyman, R. Lee (2010-01-01). "What Taphonomy Is, What it Isn't, and Why Taphonomists Should Care about the Difference" (PDF). Journal of Taphonomy. 8 (1): 1–16. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-07-02. Diakses tanggal 2021-04-20.
  2. ↑ Efremov, I. A. (1940). "Taphonomy: a new branch of paleontology". Pan-American Geology. 74: 81–93. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-04-03.
  3. ↑ Martin, Ronald E. (1999) "1.1 The foundations of taphonomy" Taphonomy: A Process Approach Cambridge University Press, Cambridge, England, p. 1, ISBN0-521-59833-8
  4. ↑ Lyman, R. Lee (2010-01-01). "What Taphonomy Is, What it Isn't, and Why Taphonomists Should Care about the Difference" (PDF). Journal of Taphonomy. 8 (1): 1–16. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-07-02. Diakses tanggal 2021-04-20.
  5. ↑ Stahl, Peter W. (2014), "Vertebrate Taphonomy in Archaeological Research", dalam Smith, Claire (ed.), Encyclopedia of Global Archaeology (dalam bahasa Inggris), New York, NY: Springer New York, hlm. 7617–7623, doi:10.1007/978-1-4419-0465-2_2134, ISBN 978-1-4419-0426-3, diakses tanggal 2023-05-12
  6. ↑ "TAPHONOMY". personal.colby.edu. Diakses tanggal 2017-05-03.
  7. ↑ "Taphonomy & Preservation". paleo.cortland.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-05-17. Diakses tanggal 2017-05-03.
  8. ↑ Brugal J.P. Coordinateur (2017-07-01). TaphonomieS. GDR 3591, CNRS INEE. Paris: Archives contemporaines. ISBN 978-2813002419. OCLC 1012395802.
  9. ↑ Dauphin Y. (2014). in: Manuel de taphonomie. Denys C., Patou-Mathis M. coordinatrices. Arles: Errance. ISBN 9782877725774. OCLC 892625160.
  10. ↑ Kidwell, Susan M.; Brenchley, Patrick J (1996). "Evolution of the fossil record: thickness trends in marine skeletal accumulations and their implication". Evolutionary Paleobiology: In Honor of James W. Valentine. University of Chicago Press. hlm. 290–336. ISBN 978-0-226-38911-0.
  11. ↑ "How are dinosaur fossils formed?". www.nhm.ac.uk (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan