Senin, 02 November 2026
14:23 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Kepunahan massal

Kepunahan massal

Bagikan:
500px-Extinction_intensity.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Intensitas kepunahan yang tampak, yakni fraksi genus yang mengalami kepunahan pada waktu tertentu, sebagaimana yang direkonstruksi dari catatan fosil. (Grafik tidak melibatkan kepunahan Holosen)
Bagian dari seri
Paleontologi
250px-Tyrannosaurus_Rex_Holotype.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Kepunahan massal atau krisis biotik adalah peristiwa menurunnya keanekaragaman hayati di Bumi. Peristiwa kepunahan massal biasanya ditandai dengan perubahan besar dalam hal keanekaragaman dan kelimpahan organisme mutiseluler. Hal ini terjadi ketika laju kepunahan meningkat berbanding dengan laju spesiasi. Karena mayoritas keanekaragaman dan biomassa bumi ada pada organisme mikrob, tetapi sulit diukur, kepunahan massal hanyalah merujuk pada pemantauan yang mudah terpantau dan tidak memiliki efek terhadap keanekagaraman dan kelimpahan kehidupan keseluruhan bumi.

Lebih dari 97% spesies yang pernah hidup telah punah, tetapi kepunahan terjadi dengan laju yang berbeda-beda. Berdasarkan catatan fosil, laju latar kepunahan di Bumi adalah sekitar dua sampai lima famili avertebrata dan vertebrata laut setiap juta tahun. Fosil organisme laut sering digunakan untuk mengukur laju kepunahan karena catatannya yang lebih unggul dan mempunyai jangkauan stratigrafi yang lebih besar daripada organisme darat

Sejak bermulanya kehidupan di Bumi, telah terjadi beberapa kejadian kepunahan massal yang melebihi laju kepunahan latar. Peristiwa kepunahan yang terbaru, peristiwa kepunahan Kapur-Tersier, terjadi 65 juta tahun yang lalu Peristiwa ini menarik perhatian karena peristiwa ini menandakan kepunahan hampir semua spesies dinosaurus, yang pada periode tersebut merupakan hewan yang paling dominan. Pada 540 juta tahun terakhir, telah terdapat 5 peristiwa kepunahan besar yang memunahkan lebih dari 50% spesies.

Perkiraan jumlah kepunahan massal pada 540 juta tahun terakhir ini berkisar antara lima sampai dengan dua puluh. Perbedaan ini berakar dari perbedaan batasan-batasan yang digunakan untuk merujuk pada suatu kejadian kepunahan sebagai "besar" atau "utama" dan perbedaan pada data yang digunakan untuk mengukur keanekaragaman.

Diperkirakan Bumi telah mengalami 5 kali peristiwa Kepunahan Massal dan 1 peristiwa kepunahan sedang berlangsung :[1]

  1. Peristiwa Kepunahan Ordovisium-Silur, terjadi 450–440 juta tahun lalu
  2. Peristiwa Kepunahan Devonian Akhir, terjadi 375–360 juta tahun lalu
  3. Peristiwa Kepunahan Perm-Trias, terjadi 252 juta tahun lalu
  4. Peristiwa Kepunahan Trias-Jura, terjadi 201,3 juta tahun lalu
  5. Peristiwa Kepunahan Kapur–Tersier, 66 juta tahun lalu
  6. Peristiwa Kepunahan Holosen sedang berlangsung.

Referensi

  1. ↑ Alroy, J. (2008). Dynamics of origination and extinction in the marine fossil record. United States of America: Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. hlm. 105.


Ikon rintisan

Artikel bertopik biologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan