Senin, 28 September 2026
05:56 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Mikrofosil

Mikrofosil

250px-Cochleatina.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah mikrofosil dari Ediakara Akhir, Cochleatina canilovica.[1]
Bagian dari seri
Paleontologi
250px-Tyrannosaurus_Rex_Holotype.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Mikrofosil adalah jenis fosil yang umumnya memiliki ukuran di antara 0.001 mm dan 1 mm.[2] Karena ukurannya yang kecil, studi visual dari mikrofosil membutuhkan mikroskop cahaya atau mikroskop elektron. Berkebalikan dari mikrofosil, sebuah fosil yang dapat diteliti dengan mata telanjang atau alat pembesar sederhana seperti kaca pembesar disebut dengan makrofosil.

Mikrofosil merupakan sebuah fitur umum di catatan geologis, mulai dari eon Prakambrium hingga masa kini. Mereka merupakan salahsatu deposit paling umum pada lingkungan laut, tetapi mereka juga dapat ditemukan di deposit air payau, air tawar dan sedimen darat. Meski semua kerajaan kehidupan memiliki perwakilannya pada catatan mikrofosil, wujud yang paling umum ditemukan adalah cangkang protista (seperti test) atau kista mikroba dari Chrysophyta, Pyrrhophyta, Sarcodina, Acritarch dan Chitinozoa, bersama dengan serbuk sari dan spora dari tumbuhan berpembuluh.

Ringkasan

Mikrofosil merupakan sebuah istilah deskriptif yang digunakan untuk merujuk fosil hewan dan tumbuhan dengan ukuran yang lebih kecil daripada tingkat yang mana pada tingkat itu fosil dapat dianalisis menggunakan mata telanjang. Perbatasan antara ukuran fosil mikro dan makro yang paling umum digunakan adalah 1 mm. Mikrofosil dapat merupakan fosil lengkap (atau hampir lengkap) dari suaru organisme (seperti mikrofosil foraminifera dan kokolitofor), atau bagian komponen tubuh (seperti gigi kecil atau spora) dari hewan atau tumbuhan yang lebih besar. Mikrofosil memainkan peran yang teramat penting dalam meneliti iklim purba, dan juga umum digunakan oleh ahli biostratigrafi untuk menanggali suatu unit batuan.

Mikrofosil ditemukan pada sisa-sisa batuan dan sedimen yang pernah ditinggali sebuah organisme. Mikrofosil daratan mencakup serbuk sari dan spora, sementara mikrofosil laut yang ditemukan di sedimen laut adalah salahsatu sumber mikrofosil paling besar di Bumi. Dimanapun di lautan, organisme protista mengganda dengan cepat, dan kebanyakan dari mereka menumbuhkan cangkang kecil yang mudah terfosilisasi. Hal tersebut mencakup fosil cangkang dari foraminifera, dinoflagellata dan radiolaria. Paleontolog tertarik dengan mikrofosil ini karena mereka dapat digunakan untuk menentukan bagaimana iklim dan lingkungan berubah seiring waktu, dan membantu menemukan sumber minyak bumi dan gas alam.[3]

Beberapa mikrofosil terbentuk dari organisme kolonial seperti Bryozoa (terkhususnya pada Cheilostomata), yang dapat membentuk koloni yang besar, dan diklasifikasikan bedasarkan perbedaan kecil dari test mereka.

Pada 2017, mikroorganisme fosil ditemukan pada sebuah endapan ventilasi hidrotermal di Sabuk Batuhijau Nuvvuagittuq di Quebec, Kanada, yang berasal dari 4280 juta tahun lalu, menjadikannya catatan kehidupan paling tua di Bumi, menyarankan "sebuah kemunculan hampir instan kehidupan" (dalam skala waktu geologi), setelah pembentukan lautan sekitar 4410 juta tahun lalu, dan tak lama setelah pembentukan bumi 4540 juta tahun lalu.[4][5][6][7] Bagaimanapun, beberapa ilmuwan mengklaim bahwa kehidupan masih dapat terbentuk lebih awal lagi, pada 4500 juta tahun lalu[8][9]

Referensi

  1. ↑ Slater, Ben J.; Harvey, Thomas H. P.; Bekker, Andrey; Butterfield, Nicholas J. (2020). "Cochleatina: an enigmatic Ediacaran–Cambrian survivor among small carbonaceous fossils (SCFs)". Palaeontology (dalam bahasa Inggris). 63 (5): 733–752. Bibcode:2020Palgy..63..733S. doi:10.1111/pala.12484. ISSN 1475-4983.
  2. ↑ Drewes, Charlie. "Discovering Devonian Microfossils". Iowa State University. Diakses tanggal 4 Maret 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Campbell, Hamish (12 Jun 2006) "Fossils - Microfossils", Te Ara - the Encyclopedia of New Zealand". Accessed 11 May 2021.
  4. ↑ Dodd, Matthew S.; Papineau, Dominic; Grenne, Tor; slack, John F.; Rittner, Martin; Pirajno, Franco; O'Neil, Jonathan; Little, Crispin T. S. (2 Maret 2017). "Evidence for early life in Earth's oldest hydrothermal vent precipitates" (PDF). Nature. 543 (7643): 60–64. Bibcode:2017Natur.543...60D. doi:10.1038/nature21377. PMID 28252057.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Zimmer, Carl (1 Maret 2017). "Scientists Say Canadian Bacteria Fossils May Be Earth's Oldest". New York Times. Diakses tanggal 2 Maret 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Ghosh, Pallab (1 Maret 2017). "Earliest evidence of life on Earth 'found". BBC News. Diakses tanggal 2 Maret 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Dunham, Will (1 Maret 2017). "Canadian bacteria-like fossils called oldest evidence of life". Reuters. Diakses tanggal 1 Maret 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Staff (20 Agustus 2018). "A timescale for the origin and evolution of all of life on Earth". Phys.org. Diakses tanggal 20 Agustus 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Betts, Holly C.; Putick, Mark N.; Clark, James W.; Williams, Tom A.; Donoghue, Philip C.J.; Pisani, Davide (20 Agustus 2018). "Integrated genomic and fossil evidence illuminates life's early evolution and eukaryote origin". Nature. 2 (10): 1556–1562. doi:10.1038/s41559-018-0644-x. PMC 6152910. PMID 30127539.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan