| Bagian dari seri |
| Paleontologi |
|---|
|
Seputar fosil |
Makrofosil, juga dikenal sebagai megafosil, adalah sisa-sisa organisme organik dan aktivitasnya yang terawetkan serta berukuran cukup besar untuk dapat dilihat tanpa mikroskop.[1] Sebaliknya, mikrofosil memerlukan pembesaran yang signifikan agar dapat dievaluasi oleh pemburu fosil atau paleontolog profesional. Akibatnya, sebagian besar fosil yang diamati di lapangan dan sebagian besar spesimen merupakan makrofosil. Makrofosil hadir dalam berbagai variasi dan terbentuk melalui bermacam cara tergantung pada lingkungannya serta jenis sisa-sisa yang memfosil, termasuk sisa-sisa tumbuhan, jamur, dan hewan.
Latar belakang sejarah
Etimologi
Istilah makrofosil berasal dari tahun 1937 dan pertama kali digunakan oleh G. D. Hanna, seorang paleontolog dan ahli malakologi asal Amerika Serikat.[2][3]
Pemikiran ilmiah
Makrofosil telah menjadi subjek analisis sejak zaman kuno. Beberapa filsuf Yunani menggunakan kerang yang memfosil untuk berteori bahwa daratan dulunya tertutup oleh samudra.[4] Makrofosil bagian tubuh telah digunakan untuk merekonstruksi hewan yang telah punah dan memberikan dasar bagi garis keturunan evolusi. Georges Cuvier, seorang naturalis, ahli zoologi, dan bapak pendiri paleontologi, bersama para pemikir alam lainnya pada Zaman Penalaran menyajikan fosil sebagai bukti integral dalam perubahan pandangan filsafat alam saat itu melalui penerapan matematika baru serta cabang-cabang sains lain yang tengah berkembang.[5] Hal ini mendorong diterimanya paleontologi sebagai disiplin ilmiah yang sesungguhnya. Perkembangan ini juga sangat memengaruhi kemajuan geologi dan stratigrafi sebagai cabang ilmu baru. Kondisi ini mendorong pemikir ilmiah lainnya seperti Charles Darwin, seorang naturalis, biolog, dan geolog, untuk mulai menggunakan makrofosil sebagai bukti dalam disiplin ilmiah baru yang disebut biologi evolusioner.
Jenis-jenis
Makrofosil tumbuhan
Makrofosil tumbuhan mencakup serpihan daun, jarum, runjung, dan batang, serta dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan yang sebelumnya tumbuh di wilayah tersebut. Data makrofosil botani tersebut memberikan pelengkap berharga bagi data serbuk sari dan fauna yang dapat digunakan untuk merekonstruksi lingkungan darat prasejarah. Makrofosil alga (misalnya kelp cokelat, selada laut, dan stromatolit besar) semakin banyak digunakan untuk menganalisis ekosistem laut dan ekosistem perairan prasejarah. Studi mengenai fosil-fosil ini disebut paleobotani.[6] Makrofosil tumbuhan juga semakin sering digunakan bersama mikrofosil serbuk sari untuk merekonstruksi iklim masa lalu.[7]
Makrofosil vertebrata
Makrofosil vertebrata mencakup gigi, tengkorak, dan tulang. Makrofosil vertebrata digunakan untuk merekonstruksi hewan yang telah punah, menentukan perilakunya, dan memahami bagaimana mereka berevolusi. Fosil tubuh yang terawetkan dengan baik sangat berguna dalam membantu menyusun kembali struktur tubuh hewan yang telah punah.[8]
Makrofosil invertebrata
Makrofosil invertebrata mencakup sisa-sisa seperti cangkang, testa, zirah fauna, dan eksoskeleton. Tubuh invertebrata berukuran kecil dan bertubuh lunak jarang memfosil, sedangkan invertebrata berukuran besar dan bertubuh keras lebih umum memfosil. Studi mengenai fosil-fosil ini merupakan cabang paleontologi yang disebut paleontologi invertebrata.[8]
Makrofosil jamur
Makrofosil jamur mencakup badan jamur dan filamen miselium. Sebagian besar fosil jamur ditemukan di dalam ambar.[9] Fosil jamur masih kurang diteliti dibandingkan dengan fosil hewan dan tumbuhan. Makrofosil jamur tergolong lebih langka dan lebih sering ditemukan sebagai mikrofosil.[10] Studi mengenai fosil-fosil ini disebut paleomikologi.
Makrofosil jejak
Makrofosil jejak adalah bukti terfosilkan dari perilaku hewan. Bukti ini dapat mencakup jejak langkah, liang, dan kotoran (koprolit).[11] Fosil jejak merupakan jenis fosil utama yang digunakan oleh paleontolog untuk merekonstruksi perilaku hewan yang telah punah. Studi mengenai fosil-fosil ini disebut iknologi.[12]
Makrofosil kimia
Fosil kimia adalah sisa-sisa kimiawi organisme yang terfosilkan. Sebagai contoh, batu bara merupakan sisa-sisa kimiawi terfosilkan dari materi tumbuhan yang telah punah.[13]
Galeri gambar
- Fosil ikan periode Eosen Priscacara liops dari Formasi Green River, Utah.
- Bentuk kehidupan enigmatis dari periode Ediakara yang dikenal sebagai Palaeopascichnus dikategorikan sebagai Makrofosil.
Referensi
- ↑ "Macrofossil". Merriam Webster. Diakses tanggal 4 Maret 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Macrofossil Noun". Oxford English Dictionary. 2000. Diakses tanggal 2024-03-25.
- ↑ "Shellers from the Past and Present". Chonchology. Diakses tanggal 2024-03-24.
- ↑ Desmond, Adrian (1975). The Discovery of Marine Transgressions and the Explanation of Fossils in Antiquity. American Journal of Science, Volume 275. hlm. 692–697.
- ↑ Garwood, Russel J (2012). Life as a paleontologist: Paleontology for dummies, Part 2. Cornell University.
- ↑ "Paleoecology". Digital Atlas of Ancient Life (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-03-25.
- ↑ Birks, H H. "Macrofossil". Science Direct. Diakses tanggal 2024-03-25.
- 1 2 "Fossils in Arkansas". www.geology.arkansas.gov. Diakses tanggal 2024-03-25.
- ↑ "Paleomycology: Discovering the fungal contemporaries of dinosaurs :Cornell Mushroom Blog". Diakses tanggal 2024-03-25.
- ↑ "Fossil Record of the Fungi". ucmp.berkeley.edu. Diakses tanggal 2024-03-25.
- ↑ Blong, John C.; Whelton, Helen L.; van Asperen, Eline N.; Bull, Ian D.; Shillito, Lisa-Marie (2023). "Sequential biomolecular, macrofossil, and microfossil extraction from coprolites for reconstructing past behavior and environments". Frontiers in Ecology and Evolution. 11. doi:10.3389/fevo.2023.1131294. hdl:1983/72d1d3ea-68da-4bd4-9863-89914a24ec1f. ISSN 2296-701X.
- ↑ Seilacher, D. Bathymetry of trace fossils. Marine Geology.
- ↑ Harrison, T M. Hadean Earth. Cham Springer.
Artikel bertopik paleontologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |