Jumat, 23 Oktober 2026
21:32 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Makrofosil

Makrofosil

Bagikan:
Bagian dari seri
Paleontologi
250px-Tyrannosaurus_Rex_Holotype.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Makrofosil, juga dikenal sebagai megafosil, adalah sisa-sisa organisme organik dan aktivitasnya yang terawetkan serta berukuran cukup besar untuk dapat dilihat tanpa mikroskop.[1] Sebaliknya, mikrofosil memerlukan pembesaran yang signifikan agar dapat dievaluasi oleh pemburu fosil atau paleontolog profesional. Akibatnya, sebagian besar fosil yang diamati di lapangan dan sebagian besar spesimen merupakan makrofosil. Makrofosil hadir dalam berbagai variasi dan terbentuk melalui bermacam cara tergantung pada lingkungannya serta jenis sisa-sisa yang memfosil, termasuk sisa-sisa tumbuhan, jamur, dan hewan.

Latar belakang sejarah

Etimologi

Istilah makrofosil berasal dari tahun 1937 dan pertama kali digunakan oleh G. D. Hanna, seorang paleontolog dan ahli malakologi asal Amerika Serikat.[2][3]

Pemikiran ilmiah

Makrofosil telah menjadi subjek analisis sejak zaman kuno. Beberapa filsuf Yunani menggunakan kerang yang memfosil untuk berteori bahwa daratan dulunya tertutup oleh samudra.[4] Makrofosil bagian tubuh telah digunakan untuk merekonstruksi hewan yang telah punah dan memberikan dasar bagi garis keturunan evolusi. Georges Cuvier, seorang naturalis, ahli zoologi, dan bapak pendiri paleontologi, bersama para pemikir alam lainnya pada Zaman Penalaran menyajikan fosil sebagai bukti integral dalam perubahan pandangan filsafat alam saat itu melalui penerapan matematika baru serta cabang-cabang sains lain yang tengah berkembang.[5] Hal ini mendorong diterimanya paleontologi sebagai disiplin ilmiah yang sesungguhnya. Perkembangan ini juga sangat memengaruhi kemajuan geologi dan stratigrafi sebagai cabang ilmu baru. Kondisi ini mendorong pemikir ilmiah lainnya seperti Charles Darwin, seorang naturalis, biolog, dan geolog, untuk mulai menggunakan makrofosil sebagai bukti dalam disiplin ilmiah baru yang disebut biologi evolusioner.

Jenis-jenis

Makrofosil tumbuhan

Makrofosil tumbuhan mencakup serpihan daun, jarum, runjung, dan batang, serta dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan yang sebelumnya tumbuh di wilayah tersebut. Data makrofosil botani tersebut memberikan pelengkap berharga bagi data serbuk sari dan fauna yang dapat digunakan untuk merekonstruksi lingkungan darat prasejarah. Makrofosil alga (misalnya kelp cokelat, selada laut, dan stromatolit besar) semakin banyak digunakan untuk menganalisis ekosistem laut dan ekosistem perairan prasejarah. Studi mengenai fosil-fosil ini disebut paleobotani.[6] Makrofosil tumbuhan juga semakin sering digunakan bersama mikrofosil serbuk sari untuk merekonstruksi iklim masa lalu.[7]

Makrofosil vertebrata

Makrofosil vertebrata mencakup gigi, tengkorak, dan tulang. Makrofosil vertebrata digunakan untuk merekonstruksi hewan yang telah punah, menentukan perilakunya, dan memahami bagaimana mereka berevolusi. Fosil tubuh yang terawetkan dengan baik sangat berguna dalam membantu menyusun kembali struktur tubuh hewan yang telah punah.[8]

Makrofosil invertebrata

Makrofosil invertebrata mencakup sisa-sisa seperti cangkang, testa, zirah fauna, dan eksoskeleton. Tubuh invertebrata berukuran kecil dan bertubuh lunak jarang memfosil, sedangkan invertebrata berukuran besar dan bertubuh keras lebih umum memfosil. Studi mengenai fosil-fosil ini merupakan cabang paleontologi yang disebut paleontologi invertebrata.[8]

Makrofosil jamur

Makrofosil jamur mencakup badan jamur dan filamen miselium. Sebagian besar fosil jamur ditemukan di dalam ambar.[9] Fosil jamur masih kurang diteliti dibandingkan dengan fosil hewan dan tumbuhan. Makrofosil jamur tergolong lebih langka dan lebih sering ditemukan sebagai mikrofosil.[10] Studi mengenai fosil-fosil ini disebut paleomikologi.

Makrofosil jejak

Makrofosil jejak adalah bukti terfosilkan dari perilaku hewan. Bukti ini dapat mencakup jejak langkah, liang, dan kotoran (koprolit).[11] Fosil jejak merupakan jenis fosil utama yang digunakan oleh paleontolog untuk merekonstruksi perilaku hewan yang telah punah. Studi mengenai fosil-fosil ini disebut iknologi.[12]

Makrofosil kimia

Fosil kimia adalah sisa-sisa kimiawi organisme yang terfosilkan. Sebagai contoh, batu bara merupakan sisa-sisa kimiawi terfosilkan dari materi tumbuhan yang telah punah.[13]

Galeri gambar

Referensi

  1. ↑ "Macrofossil". Merriam Webster. Diakses tanggal 4 Maret 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Macrofossil Noun". Oxford English Dictionary. 2000. Diakses tanggal 2024-03-25.
  3. ↑ "Shellers from the Past and Present". Chonchology. Diakses tanggal 2024-03-24.
  4. ↑ Desmond, Adrian (1975). The Discovery of Marine Transgressions and the Explanation of Fossils in Antiquity. American Journal of Science, Volume 275. hlm. 692–697.
  5. ↑ Garwood, Russel J (2012). Life as a paleontologist: Paleontology for dummies, Part 2. Cornell University.
  6. ↑ "Paleoecology". Digital Atlas of Ancient Life (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-03-25.
  7. ↑ Birks, H H. "Macrofossil". Science Direct. Diakses tanggal 2024-03-25.
  8. 1 2 "Fossils in Arkansas". www.geology.arkansas.gov. Diakses tanggal 2024-03-25.
  9. ↑ "Paleomycology: Discovering the fungal contemporaries of dinosaurs :Cornell Mushroom Blog". Diakses tanggal 2024-03-25.
  10. ↑ "Fossil Record of the Fungi". ucmp.berkeley.edu. Diakses tanggal 2024-03-25.
  11. ↑ Blong, John C.; Whelton, Helen L.; van Asperen, Eline N.; Bull, Ian D.; Shillito, Lisa-Marie (2023). "Sequential biomolecular, macrofossil, and microfossil extraction from coprolites for reconstructing past behavior and environments". Frontiers in Ecology and Evolution. 11. doi:10.3389/fevo.2023.1131294. hdl:1983/72d1d3ea-68da-4bd4-9863-89914a24ec1f. ISSN 2296-701X.
  12. ↑ Seilacher, D. Bathymetry of trace fossils. Marine Geology.
  13. ↑ Harrison, T M. Hadean Earth. Cham Springer.
Ikon rintisan

Artikel bertopik paleontologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan