Senin, 26 Oktober 2026
04:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Perubahan iklim

Perubahan iklim

perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun kapan saja pada sejarah Bumi

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang kenaikan suhu global yang disebabkan manusia. Untuk tren iklim historis yang alami, lihat Variabilitas dan perubahan iklim.
"Pemanasan global" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Perubahan iklim (disambiguasi) dan Pemanasan global (disambiguasi).
Peta global menunjukkan kenaikan suhu laut sebesar 0,5 hingga 1 derajat Celsius; kenaikan suhu daratan sebesar 1 hingga 2 derajat Celsius; serta kenaikan suhu Arktik hingga 4 derajat Celsius.
Perubahan suhu udara permukaan selama 50 tahun terakhir.[1] Wilayah Arktik mengalami pemanasan paling tinggi, dan suhu di daratan secara umum meningkat lebih cepat daripada suhu permukaan laut.
Deret waktu pemanasan global dari tahun 1880 hingga 2020 dibandingkan dengan simulasi suhu yang hanya memperhitungkan faktor alami. Grafik pertama menunjukkan tren positif sejak sekitar tahun 1950, sedangkan grafik kedua relatif datar.
Suhu udara permukaan rata-rata Bumi telah meningkat sekitar 15 °C (27 °F) sejak Revolusi Industri. Faktor-faktor alami menyebabkan variabilitas, tetapi peningkatan suhu yang terus-menerus menunjukkan pengaruh aktivitas manusia yang kian berkembang.[2][3]

Perubahan iklim masa kini mencakup pemanasan global, yaitu peningkatan suhu rata-rata global yang terus berlanjut, serta dampak yang lebih luas terhadap sistem iklim Bumi. Dalam arti yang lebih luas, perubahan iklim juga mencakup perubahan jangka panjang sebelumnya pada iklim Bumi. Kenaikan suhu global pada era modern didorong oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam) sejak Revolusi Industri.[4][5] Penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, serta beberapa praktik pertanian dan industri melepaskan gas rumah kaca.[6] Gas-gas ini menyerap sebagian panas yang dipancarkan Bumi setelah terpapar sinar matahari, sehingga menghangatkan atmosfer bagian bawah. Atmosfer Bumi saat ini mengandung sekitar 50% lebih banyak karbon dioksida, yaitu gas utama pemicu pemanasan global, dibandingkan pada akhir era praindustri, mencapai tingkat yang belum pernah terjadi selama jutaan tahun.[7]

Perubahan iklim membawa dampak yang kian besar terhadap lingkungan. Gelombang panas dan kebakaran hutan menjadi semakin sering terjadi.[8] Pemanasan teramplifikasi di Arktik telah berkontribusi pada mencairnya permafrost, penyusutan gletser, dan penurunan es laut.[9] Suhu yang lebih tinggi juga menyebabkan badai yang lebih intens, kekeringan, serta cuaca ekstrem lainnya.[10] Perubahan lingkungan yang cepat di pegunungan, terumbu karang, dan Arktik memaksa banyak spesies untuk berpindah tempat atau mengalami kepunahan.[11] Bahkan jika upaya untuk meminimalkan pemanasan di masa depan berhasil, sebagian dampaknya akan terus berlanjut selama berabad-abad, seperti pemanasan samudera, pengasaman laut, dan Kenaikan permukaan laut.[12]

Perubahan iklim mengancam kehidupan manusia melalui peningkatan banjir, panas ekstrem, kelangkaan pangan dan air, penyebaran penyakit, serta kerugian ekonomi.[13] Migrasi manusia dan konflik juga dapat terjadi akibat perubahan ini.[14] Organisasi Kesehatan Dunia menyebut perubahan iklim sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global pada abad ke-21.[15] Masyarakat dan ekosistem akan menghadapi risiko yang lebih parah tanpa adanya tindakan untuk membatasi pemanasan.[16] Adaptasi terhadap perubahan iklim melalui berbagai upaya seperti pengendalian banjir atau pengembangan tanaman tahan kekeringan dapat mengurangi sebagian risiko perubahan iklim, meskipun beberapa batas adaptasi telah tercapai.[17] Komunitas yang lebih miskin hanya menyumbang sebagian kecil emisi global, tetapi memiliki kemampuan paling rendah untuk beradaptasi dan paling rentan terhadap perubahan iklim.[18][19]

Kebakaran Bobcat di Monrovia, CA, 10 September 2020
Koloni karang Acropora yang memutih
Dasar danau kering di California yang mengalami megakekeringan terburuk dalam 1.200 tahun.
Contoh beberapa dampak perubahan iklim: Kebakaran hutan yang diperparah oleh panas dan kekeringan, pemutihan karang yang semakin sering terjadi akibat gelombang panas laut, serta kekeringan yang memburuk sehingga mengancam pasokan air.

Banyak dampak perubahan iklim telah teramati dalam beberapa dekade pertama abad ke-21, dengan tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam rekor yaitu sebesar +160 °C (290 °F) sejak pemantauan rutin dimulai pada tahun 1850.[21][22] Pemanasan tambahan akan memperparah dampak-dampak ini dan dapat memicu titik kritis, seperti mencairnya seluruh lapisan es Greenland.[23] Di bawah Persetujuan Paris tahun 2015, negara-negara secara kolektif sepakat untuk menjaga pemanasan "jauh di bawah 2 °C". Namun, berdasarkan janji komitmen yang dibuat dalam persetujuan tersebut, pemanasan global diperkirakan masih akan mencapai sekitar 28 °C (50 °F) pada akhir abad ini.[24]

Dukungan terhadap aksi iklim meluas di seluruh dunia,[25][26] dan sebagian besar negara bertujuan untuk menghentikan emisi karbon dioksida.[27] Penghentian penggunaan bahan bakar fosil dapat dilakukan dengan menghentikan subsidinya, menghemat energi, serta beralih ke sumber energi yang tidak menghasilkan polusi karbon secara signifikan. Sumber energi tersebut meliputi tenaga angin, surya, air, dan nuklir.[28] Listrik ramah lingkungan dapat menggantikan bahan bakar fosil untuk menggerakkan transportasi, memanaskan bangunan, dan menjalankan proses industri.[29] Karbon juga dapat dihilangkan dari atmosfer, misalnya dengan meningkatkan tutupan hutan dan menerapkan metode pertanian yang menyimpan karbon di dalam tanah.[30][31][32]

Terminologi

Sebelum dekade 1980-an, belum jelas apakah efek pemanasan dari peningkatan gas rumah kaca lebih kuat daripada efek pendinginan dari partikel udara dalam polusi udara. Pada masa itu, para ilmuwan menggunakan istilah inadvertent climate modification (modifikasi iklim yang tidak disengaja) untuk merujuk pada dampak manusia terhadap iklim.[33] Pada dekade 1980-an, istilah pemanasan global dan perubahan iklim menjadi lebih umum serta sering digunakan secara bergantian.[34][35][36] Secara ilmiah, pemanasan global hanya merujuk pada peningkatan suhu rata-rata permukaan global, sedangkan perubahan iklim menggambarkan pemanasan global sekaligus dampaknya terhadap sistem iklim Bumi, seperti perubahan curah hujan.[33]

Istilah perubahan iklim juga dapat digunakan secara lebih luas untuk mencakup perubahan pada iklim yang telah terjadi sepanjang sejarah Bumi sebagai akibat dari proses alami.[37] Istilah perubahan iklim antropogenik terkadang digunakan untuk menggambarkan perubahan iklim yang dihasilkan dari aktivitas manusia.[38]

Istilah pemanasan global, yang telah digunakan sejak tahun 1975,[39] menjadi lebih populer setelah ilmuwan iklim NASA James Hansen menggunakannya dalam kesaksiannya di Senat AS pada tahun 1988.[40] Sejak dekade 2000-an, penggunaan istilah perubahan iklim semakin meningkat.[41] Berbagai ilmuwan, politisi, dan media dapat menggunakan istilah krisis iklim atau darurat iklim untuk membicarakan perubahan iklim, serta menggunakan istilah pemanasan Bumi (global heating) sebagai pengganti pemanasan global (global warming).[42][43]

Kenaikan suhu global

Informasi lebih lanjut: Suhu permukaan global

Suhu sebelum pemanasan global masa kini

500px-Common_Era_Temperature.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rekonstruksi suhu permukaan global selama 2.000 tahun terakhir menggunakan data proksi dari lingkaran pohon, karang, dan inti es ditunjukkan dengan warna biru.[44] Data hasil pengamatan langsung ditunjukkan dengan warna merah.[45]

Selama beberapa juta tahun terakhir, iklim berosilasi melalui zaman es. Salah satu periode yang lebih hangat adalah Antarglasial Terakhir, sekitar 125.000 tahun yang lalu, ketika suhu berada di antara 0,5 °C dan 1,5 °C lebih hangat dibandingkan sebelum munculnya pemanasan global.[46] Pada periode ini, permukaan laut berada 5 hingga 10 meter lebih tinggi daripada saat ini. Maksimum glasial terakhir pada 20.000 tahun yang lalu memiliki suhu sekitar 5–7 °C lebih dingin, dengan permukaan laut yang lebih rendah hingga 125 meter (410 ft) dibandingkan saat ini.[47]

Suhu mulai stabil pada periode antarglasial saat ini yang dimulai sejak 11.700 tahun yang lalu.[48] Periode ini juga menjadi awal berkembangnya pertanian.[49] Pola pemanasan dan pendinginan historis, seperti Periode Hangat Abad Pertengahan dan Zaman Es Kecil, tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah. Di sejumlah daerah terbatas, suhu mungkin pernah mencapai tingkat setinggi akhir abad ke-20.[50][51] Informasi iklim untuk periode tersebut diperoleh dari proksi iklim, seperti lingkaran pohon dan inti es.[52][53]

Pemanasan sejak Revolusi Industri

500px-1951-_Percent_of_record_temperatures_that_are_cold_or_warm_records.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dalam beberapa dekade terakhir, rekor suhu tinggi baru secara signifikan melampaui rekor suhu rendah baru di sebagian besar permukaan Bumi yang terus meluas.[54]
500px-1955-_Ocean_heat_content_-_NOAA.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Telah terjadi peningkatan kandungan panas samudera dalam beberapa dekade terakhir karena samudera menyerap lebih dari 90% panas akibat pemanasan global.[55]

Sekitar tahun 1850, catatan termometer mulai memberikan cakupan secara global.[56] Antara abad ke-18 dan tahun 1970, terjadi sedikit pemanasan bersih karena dampak pemanasan dari emisi gas rumah kaca diimbangi oleh pendinginan dari emisi sulfur dioksida. Sulfur dioksida menyebabkan hujan asam, tetapi juga menghasilkan aerosol sulfat di atmosfer yang memantulkan sinar matahari dan menyebabkan peredupan global. Setelah tahun 1970, akumulasi gas rumah kaca yang terus meningkat serta pengendalian polusi sulfur menyebabkan kenaikan suhu yang nyata.[57][58]

Animasi NASA yang menggambarkan perubahan suhu permukaan global sejak tahun 1880. Warna biru menunjukkan suhu yang lebih dingin dan warna merah menunjukkan suhu yang lebih hangat. Sebagai nilai acuan, digunakan suhu rata-rata dari tahun 1951 hingga 1980.

Perubahan iklim yang sedang berlangsung saat ini belum pernah terjadi sebelumnya selama beberapa ribu tahun.[59] Bermacam kumpulan data menunjukkan peningkatan suhu permukaan di seluruh dunia dengan laju sekitar 0,2 °C per dekade.[60] Dekade 2016–2025 memanas hingga rata-rata 1,26 °C [1,13–1,36 °C] dibandingkan dengan garis dasar praindustri (1850–1900).[61] Tidak setiap tahun lebih hangat daripada tahun sebelumnya: proses variabilitas iklim internal dapat membuat tahun tertentu 0,2 °C lebih hangat atau lebih dingin daripada rata-rata.[62] Dari tahun 1998 hingga 2013, fase negatif dari dua proses tersebut, yaitu Osilasi Dekadal Pasifik (PDO)[63] dan Osilasi Multidekadal Atlantik (AMO),[64] menyebabkan periode pemanasan yang melambat dalam jangka pendek yang disebut sebagai "hiatus pemanasan global".[65] Setelah "hiatus" tersebut, hal sebaliknya terjadi, dengan tahun 2024 yang jauh di atas rata-rata baru-baru ini pada tingkat lebih dari +1,5 °C.[66] Hal inilah yang menyebabkan perubahan suhu didefinisikan dalam bentuk rata-rata 20 tahun, yang mengurangi derau tahun-tahun panas dan dingin serta pola iklim dekadal, sekaligus mendeteksi sinyal jangka panjang.[67]: 5 [68]

Berbagai pengamatan lainnya memperkuat bukti pemanasan ini.[69][70] Atmosfer bagian atas mengalami pendinginan karena gas rumah kaca memerangkap panas di dekat permukaan Bumi, sehingga lebih sedikit panas yang dipancarkan ke luar angkasa.[71] Pemanasan mengurangi tutupan salju rata-rata dan memaksa penyusutan gletser. Pada saat yang sama, pemanasan juga menyebabkan penguapan yang lebih besar dari samudera, yang mengakibatkan meningkatnya kelembapan atmosfer, serta presipitasi yang lebih banyak dan lebih lebat.[72][73] Tumbuhan berbunga lebih awal pada musim semi, dan ribuan spesies hewan berpindah secara permanen ke wilayah yang lebih dingin.[74]

Perbedaan berdasarkan wilayah

Berbagai wilayah di dunia memanas dengan laju yang berbeda-beda. Pola ini tidak bergantung pada tempat gas rumah kaca dipancarkan, karena gas-gas tersebut bertahan cukup lama untuk menyebar ke seluruh planet. Sejak periode praindustri, suhu permukaan rata-rata di wilayah daratan telah meningkat hampir dua kali lebih cepat dibandingkan suhu permukaan rata-rata global.[75] Hal ini terjadi karena samudera kehilangan lebih banyak panas melalui penguapan dan samudera dapat menyimpan banyak panas.[76] Energi termal dalam sistem iklim global telah meningkat dengan hanya jeda singkat sejak setidaknya tahun 1970, dan lebih dari 90% dari energi tambahan ini disimpan di samudera.[77][78] Sisanya telah memanaskan atmosfer, mencairkan es, dan memanaskan benua.[79]

Belahan Bumi Utara dan Kutub Utara memanas jauh lebih cepat dibandingkan Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan. Belahan Bumi Utara tidak hanya memiliki jauh lebih banyak daratan, tetapi juga lebih banyak tutupan salju musiman dan es laut. Seiring permukaan ini berubah dari memantulkan banyak cahaya menjadi gelap setelah es mencair, permukaan tersebut mulai menyerap lebih banyak panas.[80] Endapan karbon hitam lokal pada salju dan es juga berkontribusi pada pemanasan Arktik.[81] Suhu permukaan Arktik meningkat antara tiga hingga empat kali lebih cepat dibandingkan wilayah dunia lainnya.[82][83] Mencairnya lapisan es di dekat kutub memperlemah bagian Atlantik maupun Antartika dari sirkulasi termohalin, yang pada gilirannya makin mengubah distribusi panas dan presipitasi di seluruh bola dunia.[84][85][86][87]

Suhu global di masa depan

500px-Projected_Change_in_Temperatures.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Proyeksi multimodel CMIP6 untuk perubahan suhu permukaan global pada tahun 2090 relatif terhadap rata-rata tahun 1850–1900. Trajektori pemanasan saat ini pada akhir abad berada kira-kira di tengah-tengah antara kedua kondisi ekstrem ini.[24][88][89]

Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan terdapat hampir 50% peluang bahwa suhu global rata-rata lima tahunan akan melampaui +1,5 °C antara tahun 2024 dan 2028.[90] IPCC memperkirakan rata-rata 20 tahun akan melampaui +1,5 °C pada awal dekade 2030-an.[91]

Laporan Penilaian Keenam IPCC (2021) mencakup proyeksi bahwa pada tahun 2100, pemanasan global sangat mungkin mencapai 1,0–1,8 °C di bawah skenario emisi gas rumah kaca yang sangat rendah, 2,1–3,5 °C di bawah skenario emisi menengah, atau 3,3–5,7 °C di bawah skenario emisi yang sangat tinggi.[92] Pemanasan ini akan terus berlanjut melampaui tahun 2100 pada skenario emisi menengah dan tinggi,[93][94] dengan proyeksi suhu permukaan global di masa depan pada tahun 2300 yang serupa dengan kondisi jutaan tahun yang lalu.[95]

Sisa anggaran karbon untuk tetap berada di bawah ambang kenaikan suhu tertentu ditentukan dengan memodelkan siklus karbon dan sensitivitas iklim terhadap gas rumah kaca.[96] Menurut UNEP, pemanasan global dapat dijaga di bawah 2,0 °C dengan peluang 50% jika emisi setelah tahun 2023 tidak melebihi 900 gigaton CO2. Anggaran karbon ini setara dengan sekitar 16 tahun emisi saat ini.[97]

Penyebab kenaikan suhu global masa kini

langid-500px-Physical_Drivers_of_climate_change.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Faktor pendorong fisik pemanasan global yang telah terjadi sejauh ini. Potensi pemanasan global di masa depan untuk pendorong berumur panjang seperti emisi karbon dioksida tidak ditampilkan. Garis halus pada setiap batang menunjukkan kemungkinan rentang galat.

Sistem iklim mengalami berbagai siklus secara alami yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun, berdekade-dekade, atau bahkan berabad-abad. Sebagai contoh, peristiwa El Niño menyebabkan lonjakan suhu permukaan dalam jangka pendek, sementara peristiwa La Niña menyebabkan pendinginan jangka pendek.[98] Frekuensi relatif dari kedua fenomena ini dapat memengaruhi tren suhu global dalam skala waktu dekadal.[99] Perubahan lainnya disebabkan oleh ketidakseimbangan energi akibat pemaksaan eksternal.[100] Contohnya meliputi perubahan konsentrasi gas rumah kaca, luminositas Matahari, letusan gunung berapi, dan variasi orbit Bumi mengelilingi Matahari.[101]

Untuk menentukan kontribusi manusia terhadap perubahan iklim, "sidik jari" unik dari setiap penyebab potensial dikembangkan dan dibandingkan dengan pola yang teramati serta variabilitas iklim internal yang diketahui.[102] Sebagai contoh, pemaksaan surya, yang sidik jarinya mencakup pemanasan seluruh lapisan atmosfer, dapat dikesampingkan karena hanya atmosfer bagian bawah yang mengalami pemanasan.[103] Aerosol atmosfer menghasilkan efek pendinginan yang lebih kecil. Faktor pendorong lainnya, seperti perubahan albedo, memiliki dampak yang kurang signifikan.[104]

Gas rumah kaca

langid-500px-Carbon_Dioxide_800kyr.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konsentrasi CO2 selama 800.000 tahun terakhir yang diukur dari inti es (biru/hijau) dan secara langsung (hitam)

Gas rumah kaca bersifat transparan terhadap sinar matahari, sehingga memungkinkan sinar tersebut menembus atmosfer untuk memanaskan permukaan Bumi. Bumi mempancarkannya kembali sebagai panas, dan gas rumah kaca menyerap sebagian dari panas tersebut. Penyerapan ini memperlambat laju terlepasnya panas ke luar angkasa, memerangkap panas di dekat permukaan Bumi, dan menghangatkannya seiring waktu.[105]

Meskipun uap air (≈50%) dan awan (≈25%) merupakan penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca, konsentrasinya terutama berubah sebagai fungsi dari suhu sehingga sebagian besar dianggap sebagai umpan balik yang mengubah sensitivitas iklim. Di sisi lain, konsentrasi gas-gas seperti CO2 (≈20%), ozon troposfer,[106] CFC, dan Dinitrogen oksida bertambah atau berkurang tanpa bergantung pada suhu, sehingga dianggap sebagai pemaksaan eksternal yang mengubah suhu global.[107]

Sebelum Revolusi Industri, jumlah gas rumah kaca yang terbentuk secara alami menyebabkan udara di dekat permukaan sekitar 33 °C lebih hangat daripada jika gas-gas tersebut tidak ada.[108][109] Aktivitas manusia sejak Revolusi Industri, utamanya ekstraksi dan pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam),[110] telah meningkatkan jumlah gas rumah kaca di atmosfer. Pada tahun 2022, konsentrasi CO2 dan metana masing-masing telah meningkat sekitar 50% dan 164% sejak tahun 1750.[111] Tingkat CO2 ini lebih tinggi daripada kapan pun selama 14 juta tahun terakhir, yaitu pada pertengahan era Kenozoikum.[112] Konsentrasi metana jauh lebih tinggi dibandingkan selama 800.000 tahun terakhir.[113]

500px-CO2_Emissions_by_Source.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Global Carbon Project menunjukkan bagaimana penambahan CO2 disebabkan oleh berbagai sumber yang meningkat satu demi satu.[114]

Emisi gas rumah kaca global akibat kegiatan manusia pada tahun 2019 setara dengan 59 miliar ton CO2. Dari emisi tersebut, 75% merupakan CO2, 18% metana, 4% dinitrogen oksida, dan 2% gas terfluorinasi.[115] Emisi CO2 terutama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil untuk menyediakan energi bagi transportasi, manufaktur, pemanas, dan listrik.[6] Emisi CO2 tambahan berasal dari deforestasi serta proses industri, yang mencakup CO2 yang dilepaskan oleh reaksi kimia dalam pembuatan semen, baja, aluminium, dan pupuk.[116][117][118][119] Emisi metana berasal dari hewan ternak, lahan basah, kotoran ternak, budi daya padi, tempat pembuangan akhir, air limbah, dan penambangan batu bara, serta ekstraksi minyak dan gas.[120][121] Emisi dinitrogen oksida sebagian besar berasal dari penguraian mikroba pada pupuk.[122][123]

Meskipun metana hanya bertahan di atmosfer rata-rata selama 12 tahun,[124] CO2 bertahan jauh lebih lama. Permukaan Bumi menyerap CO2 sebagai bagian dari siklus karbon. Meskipun tumbuhan di daratan dan di samudera menyerap sebagian besar kelebihan emisi CO2 setiap tahun, CO2 tersebut dikembalikan ke atmosfer ketika materi biologis dicerna, terbakar, atau membusuk.[125] Proses penyerapan karbon di permukaan daratan, seperti fiksasi karbon di dalam tanah dan fotosintesis, menyerap sekitar 29% dari emisi CO2 global tahunan.[126] Samudera telah menyerap 20 hingga 30% dari CO2 yang dipancarkan selama dua dekade terakhir.[127] CO2 hanya dapat terhapus dari atmosfer dalam jangka panjang jika tersimpan di kerak Bumi, yaitu suatu proses yang membutuhkan waktu hingga jutaan tahun untuk selesai.[125]

Perubahan permukaan daratan

500px-20210331_Global_tree_cover_loss_-_World_Resources_Institute.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Laju kehilangan tutupan pohon global telah meningkat sekitar dua kali lipat sejak tahun 2001, dengan kehilangan tahunan mendekati luas wilayah Italia.[128]

Sekitar 30% luas daratan Bumi sebagian besar tidak dapat digunakan oleh manusia (gletser, gurun, dll.), 26% berupa hutan, 10% berupa lahan semak, dan 34% berupa lahan pertanian.[129] Deforestasi merupakan kontributor perubahan penggunaan lahan utama terhadap pemanasan global,[130] karena pohon yang hancur melepaskan CO2 dan tidak digantikan oleh pohon baru, sehingga menghilangkan penyerap karbon tersebut.[131] Antara tahun 2001 dan 2018, sebanyak 27% deforestasi berasal dari pembersihan lahan secara permanen untuk memungkinkan ekspansi pertanian bagi tanaman pangan dan hewan ternak. Sebanyak 24% sisanya hilang akibat pembersihan sementara dalam sistem pertanian ladang berpindah. Sebanyak 26% disebabkan oleh pembalakan untuk kayu dan produk turunannya, sedangkan kebakaran hutan menyumbang 23% sisanya.[132] Beberapa hutan tidak dibabat sepenuhnya, tetapi telah mengalami degradasi akibat dampak-dampak tersebut. Pemulihan hutan-hutan ini juga mengembalikan potensinya sebagai penyerap karbon.[133]

Tutupan vegetasi lokal memengaruhi seberapa banyak sinar matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa (albedo) dan seberapa banyak panas yang hilang melalui penguapan. Sebagai contoh, perubahan dari hutan yang gelap menjadi padang rumput membuat permukaan menjadi lebih terang, sehingga memantulkan lebih banyak sinar matahari. Deforestasi juga dapat mengubah pelepasan senyawa kimia yang memengaruhi pembentukan awan serta dapat mengubah kekasaran permukaan Bumi dengan cara yang memengaruhi kecepatan angin.[134] Di wilayah tropis dan sedang, efek bersihnya adalah menghasilkan pemanasan yang signifikan, dan pemulihan hutan dapat membuat suhu lokal menjadi lebih sejuk.[133] Pada garis lintang yang lebih dekat ke kutub, terdapat efek pendinginan ketika hutan digantikan oleh dataran bersalju (yang lebih memantulkan cahaya).[134] Secara global, peningkatan albedo permukaan ini telah menjadi pengaruh langsung yang dominan terhadap suhu akibat perubahan penggunaan lahan. Dengan demikian, perubahan penggunaan lahan hingga saat ini diperkirakan memberikan efek pendinginan yang sedikit.[135]

Faktor-faktor lainnya

Aerosol dan awan

Polusi udara, dalam bentuk aerosol, memengaruhi iklim dalam skala besar.[136] Aerosol menyebarkan dan menyerap radiasi matahari. Dari tahun 1961 hingga 1990, pengurangan bertahap pada jumlah sinar matahari yang mencapai permukaan Bumi telah teramati. Fenomena ini secara populer dikenal sebagai peredupan global (global dimming),[137] dan utamanya disebabkan oleh aerosol sulfat yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dengan konsentrasi sulfur tinggi seperti batu bara dan minyak bunker.[58] Kontribusi yang lebih kecil berasal dari karbon hitam (dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa) serta dari debu.[138][139][140] Secara global, keberadaan aerosol telah menurun sejak tahun 1990 akibat pengendalian polusi, yang berarti bahwa aerosol tersebut tidak lagi menyamarkan pemanasan akibat gas rumah kaca sebanyak sebelumnya.[141][58]

Aerosol juga memiliki efek tidak langsung terhadap anggaran energi Bumi. Aerosol sulfat bertindak sebagai inti kondensasi awan dan menghasilkan awan yang memiliki tetesan awan yang lebih banyak dan lebih kecil. Awan-awan ini memantulkan radiasi matahari secara lebih efisien dibandingkan awan dengan tetesan yang lebih sedikit dan lebih besar.[142] Aerosol tersebut juga mengurangi pertumbuhan tetesan hujan, yang membuat awan menjadi lebih memantulkan sinar matahari yang datang.[143] Efek tidak langsung dari aerosol merupakan ketidakpastian terbesar dalam pemaksaan radiatif.[144]

Meskipun aerosol biasanya membatasi pemanasan global dengan memantulkan sinar matahari, karbon hitam dalam jelaga yang jatuh di atas salju atau es dapat berkontribusi pada pemanasan global. Kelebihan panas yang dihasilkan mempercepat pencairan lapisan es dan gletser, yang pada gilirannya berkontribusi secara signifikan terhadap kenaikan permukaan laut global.[145][146][147][81] Pembatasan endapan karbon hitam baru di Arktik dapat mengurangi pemanasan global sebesar 0,2 °C pada tahun 2050.[148] Efek dari penurunan kadar sulfur pada bahan bakar minyak kapal sejak tahun 2020[149] diperkirakan akan menyebabkan tambahan kenaikan suhu rata-rata global sebesar 0,05 °C pada tahun 2050.[150]

Aktivitas matahari dan gunung berapi

Informasi lebih lanjut: Aktivitas matahari dan iklim
500px-2017_Global_warming_attribution_-_based_on_NCA4_Fig_3.3_-_single-panel_version.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penilaian Iklim Nasional Keempat ("NCA4", USGCRP, 2017) menyertakan grafik yang mengilustrasikan bahwa baik aktivitas matahari maupun gunung berapi tidak dapat menjelaskan pemanasan yang teramati.[151][152]

Karena Matahari merupakan sumber energi utama Bumi, perubahan sinar matahari yang masuk secara langsung memengaruhi sistem iklim.[144] Iradiansi matahari telah diukur secara langsung oleh satelit,[153] dan pengukuran tidak langsung tersedia sejak awal dekade 1600-an.[144] Sejak tahun 1880, tidak ada tren kenaikan jumlah energi Matahari yang mencapai Bumi, berlawanan dengan pemanasan di atmosfer bagian bawah (troposfer).[154] Atmosfer bagian atas (stratosfer) juga akan memanas jika Matahari mengirimkan lebih banyak energi ke Bumi, tetapi sebaliknya, lapisan tersebut justru mengalami pendinginan.[103] Hal ini konsisten dengan fakta bahwa gas rumah kaca mencegah panas keluar dari atmosfer Bumi.[155]

Letusan gunung berapi yang dahsyat dapat melepaskan gas, debu, dan abu yang memblokir sebagian sinar matahari serta menurunkan suhu, atau dapat mengirimkan uap air ke atmosfer yang menambah gas rumah kaca dan meningkatkan suhu. Dampak terhadap suhu ini hanya bertahan selama beberapa tahun karena uap air dan material vulkanik memiliki ketahanan yang rendah di atmosfer.[156] Emisi CO2 vulkanik bertahan lebih lama, tetapi jumlahnya setara dengan kurang dari 1% dari emisi CO2 akibat aktivitas manusia saat ini.[157] Aktivitas gunung berapi tetap merupakan satu-satunya dampak alami (pemaksaan) terbesar terhadap suhu pada era industri. Namun, seperti halnya pemaksaan alami lainnya, aktivitas ini memberikan dampak yang diabaikan terhadap tren suhu global sejak Revolusi Industri.[156]

Umpan balik perubahan iklim

500px-NORTH_POLE_Ice_%2819626661335%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Es laut memantulkan 50% hingga 70% sinar matahari yang datang, sedangkan samudera yang berwarna lebih gelap hanya memantulkan 6%. Ketika wilayah es laut mencair dan membuka lebih banyak permukaan samudera, lebih banyak panas diserap oleh samudera, sehingga meningkatkan suhu yang mencairkan lebih banyak es lagi. Ini merupakan proses umpan balik positif.[158]

Respons sistem iklim terhadap pemaksaan awal dibentuk oleh umpan balik, yang memperkuat atau memperlemah perubahan tersebut. Umpan balik memperkuat diri atau positif meningkatkan respons tersebut,[159] sedangkan umpan balik menyeimbangkan atau negatif menguranginya.[160] Umpan balik utama yang memperkuat pemanasan adalah umpan balik uap air, umpan balik albedo es, dan umpan balik awan bersih.[161][162] Mekanisme penyeimbang utama adalah pendinginan radiatif, yaitu ketika permukaan Bumi melepaskan lebih banyak panas ke luar angkasa sebagai respons terhadap kenaikan suhu.[163] Selain umpan balik suhu, terdapat pula umpan balik dalam siklus karbon, seperti efek pemupukan dari CO2 terhadap pertumbuhan tanaman.[164] Umpan balik diperkirakan akan cenderung mengarah ke arah positif seiring berlanjutnya emisi gas rumah kaca, sehingga meningkatkan sensitivitas iklim.[165]

Proses umpan balik ini mengubah laju pemanasan global. Sebagai contoh, udara yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak kelembapan dalam bentuk uap air, yang itu sendiri merupakan gas rumah kaca yang kuat.[161] Udara yang lebih hangat juga dapat membuat awan menjadi lebih tinggi dan lebih tipis, sehingga lebih bersifat mengisolasi dan meningkatkan pemanasan iklim.[166] Pengurangan tutupan salju dan es laut di Arktik merupakan umpan balik utama lainnya, yang mengurangi daya pantul permukaan Bumi di wilayah tersebut serta mempercepat pemanasan Arktik.[167][168] Pemanasan tambahan ini juga berkontribusi pada mencairnya permafrost, yang melepaskan metana dan CO2 ke atmosfer.[169]

Sekitar separuh dari emisi CO2 akibat aktivitas manusia telah diserap oleh tumbuhan di daratan dan oleh samudera.[170] Proporsi ini tidak bersifat statis; jika emisi CO2 di masa depan berkurang, Bumi akan mampu menyerap hingga sekitar 70%. Jika emisi meningkat secara signifikan, Bumi masih akan menyerap lebih banyak karbon dibandingkan saat ini, tetapi proporsi keseluruhannya akan menurun hingga di bawah 40%.[171] Hal ini terjadi karena perubahan iklim meningkatkan frekuensi kekeringan dan gelombang panas yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan tanaman di daratan, serta tanah akan melepaskan lebih banyak karbon dari tanaman yang mati saat suhunya menjadi lebih hangat.[172][173] Laju penyerapan karbon atmosfer oleh samudera akan menurun seiring dengan meningkatnya keasaman laut serta terjadinya perubahan pada sirkulasi termohalin dan distribusi fitoplankton.[174][175][85] Ketidakpastian mengenai umpan balik, terutama tutupan awan,[176] merupakan alasan utama mengapa berbagai model iklim memproyeksikan besaran pemanasan yang berbeda-beda untuk tingkat emisi tertentu.[177]

Pemodelan

Informasi lebih lanjut: Model iklim dan Skenario perubahan iklim
500px-Greenhouse_Effect_%282017_NASA_data%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aliran energi antara luar angkasa, atmosfer, dan permukaan Bumi. Sebagian besar sinar matahari menembus atmosfer untuk memanaskan permukaan Bumi, kemudian gas rumah kaca menyerap sebagian besar panas yang dipancarkan kembali oleh Bumi. Penambahan gas rumah kaca meningkatkan efek isolasi ini, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan energi yang menghangatkan planet ini.

Model iklim merupakan representasi dari proses-proses fisik, kimia, dan biologis yang memengaruhi sistem iklim.[178] Model ini mencakup proses-proses alami seperti perubahan orbit Bumi, perubahan historis aktivitas Matahari, dan pemaksaan vulkanik.[179] Model iklim digunakan untuk memperkirakan tingkat pemanasan yang akan disebabkan oleh emisi di masa depan dengan memperhitungkan kekuatan umpan balik iklim.[180][181] Model ini juga memprediksi sirkulasi samudera, siklus tahunan pergantian musim, serta aliran karbon antara permukaan daratan dan atmosfer.[182]

Realisme fisik dari model diuji dengan memeriksa kemampuannya dalam mensimulasikan iklim saat ini atau iklim masa lalu.[183] Model-model sebelumnya sempat memperkirakan laju penyusutan Arktik secara terlalu rendah[184] dan meremehkan laju peningkatan presipitasi.[185] Kenaikan permukaan laut sejak tahun 1990 juga diperkirakan terlalu rendah pada model-model lama, tetapi model-model terbaru menunjukkan kesesuaian yang baik dengan hasil pengamatan.[186] Laporan Penilaian Iklim Nasional Amerika Serikat tahun 2017 mencatat bahwa "model iklim mungkin masih meremehkan atau melewatkan proses umpan balik yang relevan".[187] Selain itu, model iklim mungkin tidak mampu memprediksi pergeseran iklim regional jangka pendek secara memadai.[188]

Subhimpunan dari model iklim menambahkan faktor-faktor kemasyarakatan ke dalam model iklim fisik. Model-model ini mensimulasikan bagaimana populasi, pertumbuhan ekonomi, dan penggunaan energi memengaruhi dan berinteraksi dengan iklim fisik. Dengan informasi tersebut, model ini dapat menghasilkan skenario emisi gas rumah kaca di masa depan. Hasil ini kemudian digunakan sebagai masukan bagi model iklim fisik dan model siklus karbon untuk memprediksi bagaimana konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dapat berubah.[189][190] Bergantung pada skenario sosioekonomi dan skenario mitigasi, model-model tersebut menghasilkan konsentrasi CO2 atmosfer dengan rentang yang sangat luas antara 380 hingga 1.400 ppm.[191]

Dampak

330px-202505_Escalation_of_extreme_heat_-_247_countries_-_attribution_to_climate_change.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Di hampir semua negara dan wilayah di seluruh dunia, para ilmuwan di bidang atribusi peristiwa ekstrem telah menyimpulkan bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia telah meningkatkan jumlah hari terjadinya peristiwa panas ekstrem di atas norma jangka panjang.[192]

Dampak lingkungan

Dampak lingkungan dari perubahan iklim bersifat luas dan berjangkauan jauh, memengaruhi samudera, es, dan cuaca. Perubahan dapat terjadi secara bertahap atau cepat. Bukti-bukti atas dampak ini berasal dari studi perubahan iklim di masa lalu, pemodelan, dan pengamatan modern.[193] Sejak dekade 1950-an, kekeringan dan gelombang panas muncul secara bersamaan dengan frekuensi yang terus meningkat.[194] Peristiwa yang sangat basah atau sangat kering selama periode muson telah meningkat di India dan Asia Timur.[195] Presipitasi muson di Belahan Bumi Utara telah meningkat sejak tahun 1980.[196] Curah hujan dan intensitas badai dan topan kemungkinan meningkat,[197] dan jangkauan geografisnya kemungkinan meluas ke arah kutub sebagai respons terhadap pemanasan iklim.[198] Frekuensi siklon tropis tidak meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim.[199]

500px-Sea_level_history_and_projections.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rekonstruksi dan proyeksi permukaan laut historis hingga tahun 2100 yang diterbitkan pada tahun 2017 oleh U.S. Global Change Research Program[200]

Permukaan laut global meningkat sebagai konsekuensi dari pemuaian termal serta mencairnya gletser dan lapisan es. Kenaikan permukaan laut telah meningkat seiring waktu, mencapai 4,8 cm per dekade antara tahun 2014 dan 2023.[201] Sepanjang abad ke-21, IPCC memproyeksikan kenaikan permukaan laut sebesar 32–62 cm di bawah skenario emisi rendah, 44–76 cm di bawah skenario menengah, dan 65–101 cm di bawah skenario emisi yang sangat tinggi.[202] Proses Instabilitas lapisan es laut di Antartika dapat menambah nilai-nilai tersebut secara signifikan,[203] termasuk kemungkinan kenaikan permukaan laut setinggi 2 meter pada tahun 2100 di bawah skenario emisi tinggi.[204]

Perubahan iklim telah menyebabkan penyusutan dan penipisan es laut Arktik selama berdekade-dekade.[205] Meskipun musim panas tanpa es diperkirakan akan jarang terjadi pada tingkat pemanasan 1,5 °C, kondisi ini diproyeksikan terjadi sekali setiap tiga hingga sepuluh tahun pada tingkat pemanasan 2 °C.[206] Konsentrasi CO2 atmosfer yang lebih tinggi menyebabkan lebih banyak CO2 terlarut di samudera, yang membuatnya menjadi lebih asam.[207] Karena oksigen kurang larut dalam air yang lebih hangat,[208] konsentrasinya di samudera mengalami penurunan, dan zona mati kian meluas.[209]

Titik kritis dan dampak jangka panjang

500px-Tipping_points_2022_list.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Berbagai tingkat pemanasan global dapat menyebabkan bagian-bagian berbeda dari sistem iklim Bumi mencapai titik kritis yang memicu transisi ke kondisi yang berbeda.[210][211]

Tingkat pemanasan global yang lebih tinggi meningkatkan risiko terlampauinya 'titik kritis', yaitu ambang batas yang jika terlampaui membuat dampak-dampak besar tertentu tidak lagi dapat dihindari bahkan jika suhu kembali ke kondisi sebelumnya.[212][213] Sebagai contoh, lapisan es Greenland sudah mencair, tetapi jika pemanasan global mencapai tingkat antara 1,7 °C dan 2,3 °C, pencairannya akan terus berlanjut hingga seluruhnya lenyap. Jika pemanasan tersebut kemudian diturunkan kembali menjadi 1,5 °C atau kurang, lapisan es tersebut masih akan kehilangan jauh lebih banyak es dibandingkan jika pemanasan tidak pernah dibiarkan mencapai ambang batas tersebut sejak awal.[214] Meskipun lapisan es akan mencair selama ribuan tahun, titik kritis lainnya dapat terjadi lebih cepat dan memberi waktu yang lebih singkat bagi masyarakat untuk meresponsnya. Runtuhnya arus laut utama seperti sirkulasi pembalikan meridional Atlantik (AMOC), serta kerusakan permanen pada ekosistem penting seperti hutan hujan Amazon dan terumbu karang dapat terjadi dalam hitungan dekade.[211] Runtuhnya AMOC akan menjadi bencana iklim yang parah, yang mengakibatkan pendinginan di Belahan Bumi Utara.[215]

Dampak jangka panjang perubahan iklim terhadap samudera mencakup pencairan es yang lebih lanjut, pemanasan samudera, kenaikan permukaan laut, pengasaman laut, dan deoksigenasi laut.[216] Skala waktu dampak jangka panjang ini berkisar antara berabad-abad hingga beribu-ribu tahun karena panjangnya masa hidup CO2 di atmosfer.[217] Hasilnya adalah perkiraan total kenaikan permukaan laut sebesar 23 meter per derajat Celsius (42 ft/°F) setelah 2.000 tahun.[218] Penyerapan CO2 oleh samudera cukup lambat sehingga pengasaman laut juga akan berlanjut selama ratusan hingga ribuan tahun.[219] Samudera dalam (di bawah 2.000 meter (6.600 ft)) juga dipastikan akan kehilangan lebih dari 10% oksigen terlarutnya akibat pemanasan yang telah terjadi hingga saat ini.[220] Selain itu, lapisan es Antartika Barat tampaknya berada dalam kepastian pencairan yang praktis tidak dapat diubah, yang akan meningkatkan permukaan laut setidaknya sebesar 33 m (108 ft 3 in) selama kurang lebih 2.000 tahun.[211][221][222]

Alam dan satwa liar

Pemanasan yang terjadi baru-baru ini telah mendorong banyak spesies darat dan air tawar bergerak ke arah kutub dan ke ketinggian yang lebih tinggi.[223] Sebagai contoh, wilayah jelajah ratusan burung di Amerika Utara telah bergeser ke utara dengan laju rata-rata 1,5 km/tahun selama 55 tahun terakhir.[224] Tingkat CO2 atmosfer yang lebih tinggi dan musim tanam yang memanjang telah menghasilkan penghijauan global. Namun, gelombang panas dan kekeringan telah menurunkan produktivitas ekosistem di beberapa wilayah. Keseimbangan masa depan dari dampak-dampak yang saling bertolak belakang ini masih belum jelas.[225] Fenomena terkait yang didorong oleh perubahan iklim adalah Perambahan tumbuhan berkayu, yang memengaruhi hingga 500 juta hektar secara global.[226] Perubahan iklim telah berkontribusi pada perluasan zona iklim yang lebih kering, seperti perluasan gurun di wilayah subtropis.[227] Skala dan kecepatan pemanasan global membuat perubahan mendadak pada ekosistem semakin mungkin terjadi.[228] Secara keseluruhan, perubahan iklim diperkirakan akan mengakibatkan kepunahan banyak spesies.[229]

Samudera memanas lebih lambat daripada daratan, tetapi tumbuhan dan hewan di samudera telah bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin lebih cepat daripada spesies di darat.[230] Seperti halnya di daratan, gelombang panas di samudera terjadi lebih sering akibat perubahan iklim, yang membahayakan berbagai macam organisme seperti karang, rumput laut kelp, dan burung laut.[231] Pengasaman laut menyulitkan organisme berkalsifikasi laut seperti kerang, teritip, dan karang untuk menghasilkan cangkang dan rangka; serta gelombang panas telah menyebabkan pemutihan terumbu karang.[232] Ledakan alga berbahaya yang diperparah oleh perubahan iklim dan eutrofikasi menurunkan tingkat oksigen, mengganggu jaring-jaring makanan, dan menyebabkan kerugian besar bagi kehidupan laut.[233] Ekosistem pesisir mengalami tekanan yang sangat berat. Hampir separuh dari lahan basah global telah lenyap akibat perubahan iklim dan dampak manusia lainnya.[234] Tumbuhan mengalami peningkatan tekanan akibat kerusakan oleh serangga.[235]

Dampak perubahan iklim terhadap lingkungan

Manusia

500px-20211109_Frequency_of_extreme_weather_for_different_degrees_of_global_warming_-_bar_chart_IPCC_AR6_WG1_SPM.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cuaca ekstrem akan menjadi semakin umum seiring dengan memanasnya Bumi.[240]

Dampak perubahan iklim memengaruhi manusia di mana saja di seluruh dunia.[241] Dampak ini dapat teramati di semua benua dan wilayah samudera,[242] dengan wilayah kurang berkembang di garis lintang rendah menghadapi risiko terbesar.[243] Pemanasan yang terus berlanjut berpotensi menimbulkan "dampak yang parah, meluas, dan tidak dapat diubah" bagi manusia dan ekosistem.[244] Risiko-risiko tersebut tersebar secara tidak merata, tetapi secara umum lebih besar bagi masyarakat prasejahtera di negara berkembang maupun negara maju.[245]

Kesehatan dan pangan

Organisasi Kesehatan Dunia menyebut perubahan iklim sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global pada abad ke-21.[15] Para ilmuwan telah memperingatkan bahaya tak terbalikkan yang ditimbulkannya.[246] Peristiwa cuaca ekstrem memengaruhi kesehatan masyarakat, serta pangan dan ketahanan air.[247][248][249] Suhu ekstrem menyebabkan peningkatan penyakit dan kematian.[247][248] Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem.[248][249] Hal tersebut dapat memengaruhi penularan penyakit menular, seperti demam berdarah dan malaria.[246][247] Menurut Forum Ekonomi Dunia, 14,5 juta kematian tambahan diperkirakan terjadi akibat perubahan iklim pada tahun 2050.[250] Saat ini, 30% populasi global tinggal di wilayah yang suhu panas dan kelembapan ekstremnya telah dikaitkan dengan kematian berlebih.[251][252] Pada tahun 2100, 50% hingga 75% populasi global akan tinggal di wilayah-wilayah tersebut.[251][253]

Meskipun total hasil panen mengalami peningkatan dalam 50 tahun terakhir berkat perbaikan pertanian, perubahan iklim telah menurunkan laju pertumbuhan hasil panen.[249] Sektor perikanan telah terdampak secara negatif di berbagai wilayah.[249] Meskipun produktivitas pertanian terdampak positif di beberapa wilayah lintang tinggi, wilayah lintang menengah dan rendah telah terdampak secara negatif.[249] Perubahan iklim memengaruhi kesesuaian lahan untuk banyak tanaman budidaya, dengan area yang sesuai untuk tanaman tertentu biasanya bergeser ke lintang dan ketinggian yang lebih tinggi.[254] Menurut Forum Ekonomi Dunia, peningkatan kekeringan di wilayah-wilayah tertentu dapat menyebabkan 3,2 juta kematian akibat malnutrisi pada tahun 2050 serta tengkes pada anak-anak.[255] Dengan pemanasan 2 °C, populasi ternak global dapat menurun sebesar 7–10% pada tahun 2050, seiring dengan semakin berkurangnya pakan ternak yang tersedia.[256] Jika emisi terus meningkat di sepanjang sisa abad ini, lebih dari 9 juta kematian terkait iklim akan terjadi setiap tahunnya pada tahun 2100.[257]

Ekonomi, mata pencaharian, dan ketimpangan

Kerugian ekonomi akibat perubahan iklim dapat berdampak parah dan terdapat kemungkinan munculnya konsekuensi yang fatal.[258] Dampak yang parah diperkirakan terjadi di Asia Tenggara dan Afrika Sub-Sahara, tempat sebagian besar penduduk lokal bergantung pada sumber daya alam dan pertanian.[259][260] Stres panas dapat menghalangi pekerja luar ruangan untuk bekerja. Jika pemanasan mencapai 4 °C, kapasitas tenaga kerja di wilayah-wilayah tersebut dapat berkurang sebesar 30 hingga 50%.[261] Bank Dunia memperkirakan bahwa antara tahun 2016 dan 2030, perubahan iklim dapat mendorong lebih dari 120 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem tanpa adanya adaptasi.[262]

Ketimpangan yang didasarkan pada kekayaan dan status sosial semakin memburuk akibat perubahan iklim.[263] Kesulitan besar dalam memitigasi, beradaptasi dengan, dan pulih dari guncangan iklim dihadapi oleh kelompok masyarakat marjinal yang memiliki kendali lebih sedikit terhadap sumber daya.[264][259] Masyarakat adat, yang hidup subsisten dari tanah dan ekosistem mereka, akan menghadapi ancaman terhadap kesejahteraan dan gaya hidup mereka akibat perubahan iklim.[265] Hasil elisitasi pakar menyimpulkan bahwa peran perubahan iklim dalam konflik bersenjata tergolong kecil dibandingkan faktor-faktor seperti ketimpangan sosio-ekonomi dan kapasitas negara.[266]

Meskipun perempuan secara inheren tidak berisiko lebih tinggi terhadap perubahan iklim dan guncangan iklim, keterbatasan sumber daya bagi perempuan serta norma gender yang diskriminatif membatasi kapasitas adaptasi dan ketahanan mereka.[267] Sebagai contoh, beban kerja perempuan, termasuk jam kerja di bidang pertanian, cenderung berkurang lebih sedikit dibandingkan laki-laki selama terjadinya guncangan iklim seperti stres panas.[267]

Perubahan iklim mengancam ekonomi olahraga dengan mengganggu musim kompetisi, merusak infrastruktur, dan mengurangi keterlibatan penggemar, dengan risiko paling langsung terlihat pada sepak bola, olahraga musim dingin, serta acara luar ruangan.[268]

Migrasi iklim

Artikel utama: Migrasi iklim

Pulau-pulau berdataran rendah dan komunitas pesisir terancam oleh kenaikan permukaan laut, yang membuat banjir perkotaan lebih sering terjadi. Terkadang, daratan hilang secara permanen ke laut.[269] Hal ini dapat menyebabkan ketiadaan kewarganegaraan bagi masyarakat di negara-negara kepulauan, seperti Maladewa dan Tuvalu.[270] Di beberapa wilayah, kenaikan suhu dan kelembapan mungkin terlalu parah untuk dapat diadaptasi oleh manusia.[271] Dengan skenario perubahan iklim terburuk, berbagai model memproyeksikan bahwa kawasan yang dihuni oleh hampir sepertiga umat manusia dapat menjadi wilayah beriklim sangat panas dan tidak dapat dihuni seperti Gurun Sahara.[272]

Faktor-faktor ini dapat mendorong migrasi iklim atau migrasi lingkungan, baik di dalam maupun antarnegara.[273] Lebih banyak orang diperkirakan akan terpaksa mengungsi akibat kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan konflik akibat meningkatnya persaingan atas sumber daya alam. Perubahan iklim juga dapat meningkatkan kerentanan, yang mengarah pada populasi terperangkap (trapped populations) yang tidak mampu berpindah akibat keterbatasan sumber daya.[274]

Dampak perubahan iklim terhadap manusia

Pengurangan dan penangkapan kembali emisi

Informasi lebih lanjut: Mitigasi perubahan iklim
500px-Greenhouse_gas_emission_scenarios_01.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Skenario emisi gas rumah kaca global, berdasarkan kebijakan dan komitmen per November 2021

Perubahan iklim dapat dimitigasi dengan mengurangi laju pemancaran gas rumah kaca ke atmosfer, serta meningkatkan laju penyerapan karbon dioksida dari atmosfer.[280] Untuk membatasi pemanasan global di bawah 2 °C, emisi gas rumah kaca global perlu mencapai nol-bersih pada tahun 2070.[281] Hal ini membutuhkan perubahan sistemik yang berjangkauan luas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di sektor energi, lahan, perkotaan, transportasi, bangunan, dan industri.[282]

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa negara-negara perlu melipatgandakan komitmen mereka di bawah Persetujuan Paris tiga kali lipat dalam dekade berikutnya untuk membatasi pemanasan global hingga 2 °C.[283] Berdasarkan komitmen di bawah Persetujuan Paris hingga tahun 2024, terdapat peluang 66% bahwa pemanasan global dapat dijaga di bawah 2,8 °C pada akhir abad ini (rentang: 1,9–3,7 °C, bergantung pada implementasi tepat dan kemajuan teknologi). Ketika hanya memperhitungkan kebijakan saat ini, angka tersebut meningkat menjadi 3,1 °C.[284] Secara global, pembatasan pemanasan hingga 2 °C dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya ekonominya.[285]

Meskipun tidak ada jalur tunggal untuk membatasi pemanasan global hingga 2 °C,[286] sebagian besar skenario dan strategi memproyeksikan peningkatan besar dalam penggunaan energi terbarukan yang dikombinasikan dengan peningkatan langkah-langkah efisiensi energi untuk menghasilkan pengurangan gas rumah kaca yang diperlukan.[287] Untuk mengurangi tekanan pada ekosistem dan meningkatkan kemampuan penyerapan karbonnya, perubahan juga diperlukan di sektor pertanian dan kehutanan,[288] seperti mencegah deforestasi dan memulihkan ekosistem alami melalui penanaman kembali hutan (reforestasi).[289]

Pendekatan lain untuk memitigasi perubahan iklim memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Skenario yang membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C biasanya memproyeksikan penggunaan metode penyerapan karbon dioksida secara besar-besaran sepanjang abad ke-21.[290] Namun, terdapat kekhawatiran mengenai ketergantungan berlebihan pada teknologi ini serta dampak lingkungannya.[291]

Modifikasi radiasi matahari (SRM) merupakan usulan untuk mengurangi pemanasan global dengan memantulkan sebagian sinar matahari menjauhi Bumi kembali ke luar angkasa. Karena tidak mengurangi konsentrasi gas rumah kaca, SRM tidak akan mengatasi pengasaman laut[292] dan tidak dianggap sebagai tindakan mitigasi.[293] SRM sebaiknya hanya dipertimbangkan sebagai pelengkap mitigasi, bukan sebagai penggantinya,[294] mengingat adanya risiko seperti pemanasan cepat jika penerapannya terhenti secara mendadak dan tidak dilanjutkan kembali.[295] Pendekatan yang paling banyak diteliti adalah Injeksi aerosol stratosfer.[296] SRM dapat mengurangi pemanasan global dan sebagian dampaknya, meskipun tidak secara sempurna.[297] Metode ini menimbulkan risiko lingkungan, seperti perubahan pola curah hujan,[298] serta tantangan politik, seperti siapa yang akan memutuskan apakah metode tersebut akan digunakan.[296]

Energi bersih

500px-Global_Energy_Consumption.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Batu bara, minyak bumi, dan gas alam tetap menjadi sumber energi global utama bahkan ketika energi terbarukan mulai meningkat pesat.[299][300]
500px-Lisberg_Burg_Windr%C3%A4der_Solar_power_PC313027.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembangkit listrik tenaga angin dan surya, Jerman

Energi terbarukan merupakan kunci untuk membatasi perubahan iklim.[301] Selama berdekade-dekade, bahan bakar fosil telah menyumbang sekitar 80% dari penggunaan energi dunia.[302] Sisa pangsanya terbagi antara tenaga nuklir dan energi terbarukan (termasuk tenaga air, bioenergi, tenaga angin dan surya, serta energi panas bumi).[303] Penggunaan bahan bakar fosil diperkirakan akan mencapai puncaknya secara absolut sebelum tahun 2030 dan kemudian menurun, dengan penggunaan batu bara mengalami penurunan paling tajam.[304] Energi terbarukan mewakili 86% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik baru yang dipasang pada tahun 2023.[305] Bentuk energi bersih lainnya, seperti nuklir dan tenaga air, saat ini memiliki pangsa pasokan energi yang lebih besar. Namun, perkiraan pertumbuhan masa depannya tampak terbatas jika dibandingkan.[306]

Meskipun panel surya dan angin darat kini termasuk bentuk penambahan kapasitas pembangkit listrik baru yang paling murah di banyak lokasi,[307] kebijakan energi hijau tetap diperlukan untuk mencapai transisi yang cepat dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.[308] Untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, energi terbarukan akan menjadi bentuk pembangkitan listrik yang dominan, meningkat menjadi 85% atau lebih pada tahun 2050 dalam beberapa skenario. Investasi pada batu bara akan dihilangkan dan penggunaan batu bara hampir dihentikan secara bertahap pada tahun 2050.[309][310]

Listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan juga harus menjadi sumber energi utama untuk pemanas dan transportasi.[311] Sektor transportasi dapat beralih dari kendaraan mesin pembakaran dalam menuju kendaraan listrik, transportasi umum, dan mobilitas aktif (bersepeda dan berjalan kaki).[312][313] Untuk pelayaran dan penerbangan, bahan bakar rendah karbon akan mengurangi emisi.[312] Pemanasan dapat semakin didekarbonisasi dengan teknologi seperti pompa kalor.[314]

Terdapat berbagai hambatan bagi pertumbuhan pesat energi bersih secara berkelanjutan, termasuk energi terbarukan.[315] Angin dan surya menghasilkan energi secara intermiten dan dengan variabilitas musiman. Secara tradisional, bendungan hidro dengan waduk dan pembangkit listrik bahan bakar fosil digunakan ketika produksi energi variabel sedang rendah. Ke depannya, penyimpanan baterai dapat diperluas, permintaan dan pasokan energi dapat disesuaikan, serta transmisi jarak jauh dapat memperhalus variabilitas hasil energi terbarukan.[301] Bioenergi sering kali tidak netral karbon dan dapat berdampak negatif pada ketahanan pangan.[316] Pertumbuhan tenaga nuklir dibatasi oleh kontroversi di seputar Limbah radioaktif, proliferasi senjata nuklir, dan kecelakaan nuklir.[317][318] Pertumbuhan tenaga air dibatasi oleh kenyataan bahwa lokasi-lokasi terbaik sudah dikembangkan, dan proyek-proyek baru menghadapi kekhawatiran sosial dan lingkungan yang kian meningkat.[319]

Energi rendah karbon meningkatkan kesehatan manusia dengan meminimalkan perubahan iklim serta mengurangi kematian akibat polusi udara,[320] yang diperkirakan mencapai 7 juta jiwa per tahun pada tahun 2016.[321] Memenuhi target Persetujuan Paris yang membatasi pemanasan hingga kenaikan 2 °C dapat menyelamatkan sekitar satu juta jiwa per tahun pada tahun 2050, sementara membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C dapat menyelamatkan jutaan jiwa sekaligus meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi kemiskinan.[322] Peningkatan kualitas udara juga memiliki manfaat ekonomi yang mungkin lebih besar daripada biaya mitigasi.[323]

Konservasi energi

Pengurangan permintaan energi merupakan aspek utama lainnya dalam mengurangi emisi.[324] Jika energi yang dibutuhkan lebih sedikit, terdapat fleksibilitas yang lebih besar bagi pengembangan energi bersih. Hal ini juga memudahkan pengelolaan jaringan listrik, serta meminimalkan pembangunan infrastruktur yang padat karbon.[325] Peningkatan investasi efisiensi energi secara besar-besaran akan diperlukan untuk mencapai target iklim, dengan tingkat yang setara dengan investasi pada energi terbarukan.[326] Beberapa perubahan pola penggunaan energi, investasi efisiensi energi, dan pendanaan yang terkait dengan COVID-19 telah membuat prakiraan untuk dekade ini menjadi lebih sulit dan penuh ketidakpastian.[327]

Strategi untuk mengurangi permintaan energi bervariasi menurut sektor. Di sektor transportasi, penumpang dan angkutan barang dapat beralih ke moda transportasi yang lebih efisien, seperti bus dan kereta api, atau menggunakan kendaraan listrik.[328] Strategi industri untuk mengurangi permintaan energi mencakup peningkatan sistem pemanas dan motor listrik, merancang produk yang kurang padat energi, serta memperpanjang masa pakai produk.[329] Di sektor bangunan, fokus utamanya terletak pada desain bangunan baru yang lebih baik serta tingkat efisiensi energi yang lebih tinggi pada peremajaan bangunan (retrofitting).[330] Penggunaan teknologi seperti pompa kalor juga dapat meningkatkan efisiensi energi bangunan.[331]

Pertanian dan industri

500px-Greenhouse_Gas_Emissions_by_Economic_Sector.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dengan memperhitungkan emisi langsung dan tidak langsung, sektor industri merupakan sektor dengan pangsa emisi global tertinggi. Data IPCC per tahun 2019.

Sektor pertanian dan kehutanan menghadapi tantangan tiga lipat, yaitu membatasi emisi gas rumah kaca, mencegah alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian lebih lanjut, serta memenuhi peningkatan permintaan pangan dunia.[332] Serangkaian tindakan dapat mengurangi emisi berbasis pertanian dan kehutanan hingga dua pertiga dari tingkat emisi tahun 2010. Tindakan tersebut mencakup pengurangan pertumbuhan permintaan pangan dan produk pertanian lainnya, peningkatan produktivitas lahan, perlindungan dan pemulihan hutan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca dari produksi pertanian.[333]

Dari sisi permintaan, komponen kunci dalam mengurangi emisi adalah mengarahkan masyarakat menuju pola makan berbasis tumbuhan.[334] Menghilangkan produksi peternakan untuk daging dan produk susu akan menghapus sekitar tiga perempat dari seluruh emisi pertanian dan penggunaan lahan lainnya.[335] Peternakan juga menempati 37% dari wilayah daratan bebas es di Bumi dan mengonsumsi pakan dari 12% wilayah daratan yang digunakan untuk tanaman pangan, sehingga mendorong deforestasi dan degradasi lahan.[336]

Produksi baja dan semen menyumbang sekitar 13% dari emisi CO2 industri. Dalam industri-industri ini, bahan-bahan padat karbon seperti kokas dan kapur memainkan peran penting dalam produksi, sehingga pengurangan emisi CO2 memerlukan penelitian mengenai kimia alternatif.[337] Ketika produksi energi atau industri berat yang padat CO2 terus menghasilkan limbah CO2, teknologi terkadang dapat digunakan untuk menangkap dan menyimpan sebagian besar gas tersebut alih-alih melepaskannya ke atmosfer.[338] Teknologi ini, yang dikenal sebagai penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), dapat memainkan peran penting tetapi terbatas dalam mengurangi emisi.[338] Teknologi ini relatif mahal[339] dan baru diterapkan sejauh yang menyerap sekitar 0,1% emisi gas rumah kaca tahunan.[338]

Penyerapan karbon dioksida

500px-Carbon_Dioxide_Partitioning.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebagian besar emisi CO2 telah diserap oleh penyerap karbon, termasuk pertumbuhan tanaman, penyerapan tanah, dan penyerapan samudera (Anggaran Karbon Global 2020).

Penyerap karbon alami dapat ditingkatkan untuk menyerap jumlah CO2 yang jauh lebih besar melampaui tingkat alami.[340] Reforestasi dan aforestasi (penanaman hutan di tempat yang sebelumnya tidak ada hutan) termasuk di antara teknik sekuestrasi yang paling matang, meskipun aforestasi menimbulkan kekhawatiran terkait ketahanan pangan.[341] Petani dapat mendorong sekuestrasi karbon dalam tanah melalui praktik-praktik seperti penggunaan tanaman penutup musim dingin, mengurangi intensitas dan frekuensi pengolahan tanah, serta menggunakan kompos dan pupuk kandang sebagai pembenah tanah.[342] Restorasi hutan dan lanskap memberikan banyak manfaat bagi iklim, termasuk sekuestrasi dan pengurangan emisi gas rumah kaca.[133] Restorasi atau pembuatan kembali lahan basah pesisir, petak padang rumput, dan padang lamun meningkatkan penyerapan karbon ke dalam bahan organik.[343][344] Ketika karbon tersekuestrasi di dalam tanah dan bahan organik seperti pepohonan, terdapat risiko bahwa karbon tersebut akan terlepas kembali ke atmosfer di kemudian hari melalui alih fungsi lahan, kebakaran, atau perubahan lain pada ekosistem.[345]

Penggunaan bioenergi yang dipadukan dengan penangkapan dan penyimpanan karbon (BECCS) dapat menghasilkan emisi negatif bersih karena CO2 ditarik dari atmosfer.[346] Masih terdapat ketidakpastian yang tinggi mengenai apakah teknik penyerapan karbon dioksida akan mampu memainkan peran besar dalam membatasi pemanasan hingga 1,5 °C. Keputusan kebijakan yang mengandalkan penyerapan karbon dioksida meningkatkan risiko pemanasan global melonjak melampaui target internasional.[347]

Adaptasi

Adaptasi adalah "proses penyesuaian terhadap perubahan iklim saat ini atau yang diperkirakan terjadi beserta dampaknya".[348]: 5  Tanpa mitigasi tambahan, adaptasi tidak dapat menghindarkan dari risiko dampak yang "parah, meluas, dan tidak dapat diubah".[349] Perubahan iklim yang lebih parah membutuhkan adaptasi yang lebih transformatif, yang biayanya dapat menjadi sangat mahal.[350] Kapasitas dan potensi manusia untuk beradaptasi tersebar secara tidak merata di berbagai wilayah dan populasi, dan negara-negara berkembang secara umum memiliki kapasitas yang lebih rendah.[351] Dua dekade pertama abad ke-21 menyaksikan peningkatan kapasitas adaptif di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah seiring dengan membaiknya akses terhadap sanitasi dasar dan listrik, tetapi kemajuannya terbilang lambat. Banyak negara telah menerapkan kebijakan adaptasi. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan yang cukup besar antara pendanaan yang dibutuhkan dan yang tersedia.[352]

Adaptasi terhadap kenaikan permukaan laut terdiri dari menghindari wilayah-wilayah berisiko, belajar hidup dengan banjir yang semakin meningkat, dan membangun pengendalian banjir. Jika langkah-langkah tersebut gagal, kemunduran terencana (managed retreat) mungkin diperlukan.[353] Terdapat hambatan ekonomi dalam mengatasi dampak panas yang berbahaya. Menghindari pekerjaan berat atau memiliki pengondisi udara (AC) tidaklah memungkinkan bagi semua orang.[354] Di sektor pertanian, opsi-opsi adaptasi mencakup beralih ke pola makan yang lebih berkelanjutan, diversifikasi, pengendalian erosi, dan perbaikan genetik untuk meningkatkan toleransi terhadap perubahan iklim.[355] Asuransi memungkinkan pembagian risiko, tetapi sering kali sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.[356] Pendidikan, migrasi, dan sistem peringatan dini dapat mengurangi kerentanan iklim.[357] Menanam bakau atau mendorong vegetasi pesisir lainnya dapat meredam gelombang badai.[358][359]

Ekosistem beradaptasi terhadap perubahan iklim, sebuah proses yang dapat didukung oleh intervensi manusia. Dengan meningkatkan konektivitas antar-ekosistem, spesies dapat bermigrasi ke kondisi iklim yang lebih menguntungkan. Spesies juga dapat diintroduksikan ke wilayah yang memiliki iklim yang menguntungkan. Perlindungan dan restorasi kawasan alami dan semi-alami membantu membangun ketahanan, sehingga memudahkan ekosistem untuk beradaptasi. Banyak tindakan yang mendorong adaptasi pada ekosistem juga membantu manusia beradaptasi melalui Adaptasi berbasis ekosistem. Sebagai contoh, restorasi rezim kebakaran alami membuat kebakaran katastropik menjadi lebih kecil kemungkinannya terjadi dan mengurangi paparan pada manusia. Memberikan ruang yang lebih luas bagi sungai memungkinkan lebih banyak penampungan air dalam sistem alami, sehingga mengurangi risiko banjir. Hutan yang dipulihkan bertindak sebagai penyerap karbon, tetapi menanam pohon di wilayah yang tidak sesuai justru dapat memperburuk dampak iklim.[360]

Terdapat sinergi namun juga kompromi (trade-off) antara adaptasi dan mitigasi.[361] Contoh dari sinergi adalah peningkatan produktivitas pangan, yang memiliki manfaat besar bagi adaptasi maupun mitigasi.[362] Contoh kompromi adalah bahwa peningkatan penggunaan pengondisi udara memungkinkan masyarakat untuk mengatasi panas dengan lebih baik, tetapi meningkatkan permintaan energi. Contoh kompromi lainnya adalah bahwa pembangunan perkotaan yang lebih padat dapat mengurangi emisi dari transportasi dan konstruksi, tetapi dapat pula meningkatkan efek pulau panas perkotaan, sehingga memaparkan masyarakat pada risiko kesehatan terkait panas.[363]

Contoh metode adaptasi

Kebijakan dan politik

osm-intl,a,a,a,300x280.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Perubahan_iklim&revid=30087361&groups=_bd13c386add44212eb72d2b9d16268c77f25295f&parser=parsoid
Indeks Kinerja Perubahan Iklim mengurutkan negara-negara berdasarkan emisi gas rumah kaca (40% dari skor), energi terbarukan (20%), penggunaan energi (20%), dan kebijakan iklim (20%).
  Tinggi
  Sedang
  Rendah
  Sangat rendah

Negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim biasanya hanya bertanggung jawab atas sebagian kecil dari emisi global. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan dan kesetaraan.[364] Membatasi pemanasan global membuatnya jauh lebih mudah untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, seperti mengentaskan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan. Keterkaitan ini diakui dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 13, yaitu untuk "mengambil tindakan mendesak untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya".[365] Tujuan-tujuan terkait pangan, air bersih, dan perlindungan ekosistem memiliki sinergi dengan mitigasi iklim.[366]

Geopolitik perubahan iklim tergolong kompleks. Hal ini sering kali dibingkai sebagai masalah penunggang bebas (free-rider problem), yang mana semua negara mendapatkan manfaat dari mitigasi yang dilakukan oleh negara lain, tetapi masing-masing negara akan mengalami kerugian jika beralih ke ekonomi rendah karbon secara mandiri. Meskipun demikian, mitigasi terkadang juga memberikan manfaat lokal. Sebagai contoh, manfaat dari penghentian bertahap batu bara bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan lokal melebihi biayanya di hampir seluruh wilayah.[367] Selain itu, negara pengimpor bersih bahan bakar fosil diuntungkan secara ekonomi dari peralihan ke energi bersih, yang menyebabkan negara pengeskpor bersih menghadapi aset terbengkalai (stranded assets), yaitu bahan bakar fosil yang tidak dapat mereka jual.[368]

Opsi kebijakan

Informasi lebih lanjut: Kebijakan iklim

Berbagai macam kebijakan, regulasi, dan hukum sedang digunakan untuk mengurangi emisi. Hingga tahun 2019, penetapan harga karbon mencakup sekitar 20% dari emisi gas rumah kaca global.[369] Karbon dapat dihargai melalui pajak karbon dan sistem perdagangan emisi.[370] Subsidi bahan bakar fosil global secara langsung mencapai $319 miliar pada tahun 2017, dan mencapai $5,2 triliun ketika biaya tidak langsung seperti polusi udara turut diperhitungkan.[371] Menghentikan subsidi ini dapat menyebabkan pengurangan emisi karbon global sebesar 28% dan penurunan kematian akibat polusi udara sebesar 46%.[372] Uang yang dihemat dari subsidi fosil dapat dialihkan untuk mendukung transisi ke energi bersih.[373] Metode yang lebih langsung untuk mengurangi gas rumah kaca mencakup standar efisiensi kendaraan, standar bahan bakar terbarukan, dan regulasi polusi udara pada industri berat.[374] Beberapa negara mewajibkan perusahaan penyedia listrik untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam produksi listrik.[375] Sebuah Koalisi Terbuka Pasar Karbon Kepatuhan dengan tujuan menciptakan sistem pembatasan dan perdagangan (cap and trade) global dibentuk pada COP30 (2025). Menurut beberapa perhitungan, hal tersebut dapat meningkatkan pengurangan emisi hingga tujuh kali lipat dibandingkan kebijakan saat ini, menyalurkan $200 miliar per tahun untuk program energi bersih dan sosial, serta menutup kesenjangan antara trajektori emisi saat ini dan target Persetujuan Paris.[376][377][378]

Keadilan iklim

Kebijakan yang dirancang melalui kacamata keadilan iklim berupaya mengatasi isu-isu hak asasi manusia dan ketimpangan sosial. Menurut para pendukung keadilan iklim, biaya adaptasi iklim seharusnya ditanggung oleh pihak-pihak yang paling bertanggung jawab atas perubahan iklim, sementara penerima kompensasi seharusnya adalah mereka yang menanggung dampaknya. Salah satu cara penanganan secara praktis adalah meminta negara-negara kaya mendanai negara-negara yang lebih miskin untuk beradaptasi.[379]

Oxfam menemukan bahwa pada tahun 2023, 10% populasi terkaya bertanggung jawab atas 50% emisi global, sedangkan 50% populasi terbawah hanya menyumbang 8%.[380] Produksi emisi merupakan cara lain untuk melihat tanggung jawab: dengan pendekatan tersebut, 21 perusahaan bahan bakar fosil teratas akan berutang reparasi iklim kumulatif sebesar $5,4 triliun selama periode 2025–2050.[381] Untuk mencapai transisi berkeadilan, para pekerja di sektor bahan bakar fosil juga memerlukan pekerjaan alternatif, dan komunitas mereka membutuhkan investasi.[382]

Perjanjian iklim internasional

500px-Total_CO2_by_Region.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sejak tahun 2000, peningkatan emisi CO2 di Tiongkok dan kawasan dunia lainnya telah melampaui emisi Amerika Serikat dan Eropa.[383][384]
500px-Per_Capita_CO2_by_Region.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Per kapita, Amerika Serikat menghasilkan CO2 dengan laju yang jauh lebih cepat dibandingkan kawasan utama lainnya.[383][385]

Hampir seluruh negara di dunia merupakan pihak dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) tahun 1994.[386] Tujuan UNFCCC adalah mencegah interferensi berbahaya manusia terhadap sistem iklim.[387] Sebagaimana dinyatakan dalam konvensi tersebut, hal ini mengharuskan konsentrasi gas rumah kaca distabilkan di atmosfer pada tingkat yang memungkinkan ekosistem beradaptasi secara alami terhadap perubahan iklim, produksi pangan tidak terancam, dan pembangunan ekonomi dapat berlanjut.[388] UNFCCC sendiri tidak membatasi emisi, melainkan menyediakan kerangka kerja bagi protokol-protokol yang mengaturnya. Emisi global telah meningkat sejak UNFCCC ditandatangani.[389] Konferensi tahunannya menjadi panggung bagi negosiasi global.[390]

Protokol Kyoto tahun 1997 memperluas UNFCCC dan mencakup komitmen mengikat secara hukum bagi sebagian besar negara maju untuk membatasi emisi mereka.[391] Selama negosiasi, G77 (yang mewakili negara-negara berkembang) mendesak mandat yang mewajibkan negara-negara maju untuk "mengambil peran utama" dalam mengurangi emisi mereka,[392] karena negara-negara maju berkontribusi paling besar terhadap akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Emisi per kapita juga masih relatif rendah di negara-negara berkembang, dan negara-negara berkembang perlu memancarkan emisi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pembangunan mereka.[393]

Persetujuan Kopenhagen tahun 2009 secara luas dinilai mengecewakan karena targetnya yang rendah, dan ditolak oleh negara-negara miskin termasuk G77.[394] Pihak-pihak terkait bertujuan membatasi kenaikan suhu global di bawah 2 °C.[395] Persetujuan tersebut menetapkan target penyaluran $100 miliar per tahun kepada negara-negara berkembang untuk mitigasi dan adaptasi pada tahun 2020, serta mengusulkan pendirian Dana Iklim Hijau.[396] Hingga2020[update], hanya $83,3 miliar yang terealisasi. Target tersebut baru diperkirakan tercapai pada tahun 2023.[397]

Pada tahun 2015, seluruh negara PBB menegosiasikan Persetujuan Paris, yang bertujuan menjaga pemanasan global jauh di bawah 2,0 °C dan memuat aspirasi untuk menahan pemanasan di bawah 1,5 °C.[398] Persetujuan ini menggantikan Protokol Kyoto. Berbeda dengan Protokol Kyoto, tidak ada target emisi mengikat yang ditetapkan dalam Persetujuan Paris. Sebaliknya, serangkaian prosedur dibuat mengikat. Negara-negara harus secara berkala menetapkan target yang kian ambisius dan mengevaluasi kembali target tersebut setiap lima tahun.[399] Persetujuan Paris menegaskan kembali bahwa negara-negara berkembang harus didukung secara finansial.[400] HinggaAgustus 2026[update], 194 negara dan Uni Eropa telah meratifikasi atau mengaksesi persetujuan tersebut.[401]

Protokol Montreal tahun 1987, sebuah perjanjian internasional untuk menghentikan secara bertahap produksi gas-gas perusak ozon, telah memberikan manfaat bagi mitigasi perubahan iklim.[402] Beberapa gas perusak ozon seperti klorofluorokarbon (CFC) merupakan gas rumah kaca yang kuat, sehingga melarang produksi dan penggunaannya diduga telah mencegah kenaikan suhu sebesar 0,5 °C–1,0 °C,[403] sekaligus menghindari pemanasan tambahan dengan mencegah kerusakan vegetasi akibat radiasi ultraviolet.[404] Perjanjian ini diperkirakan lebih efektif dalam menekan emisi gas rumah kaca dibandingkan Protokol Kyoto yang khusus dirancang untuk tujuan tersebut.[405] Amandemen terbaru pada Protokol Montreal, yaitu Amandemen Kigali tahun 2016, berkomitmen untuk mengurangi emisi hidrofluorokarbon (HFC), yang digunakan sebagai pengganti gas-gas perusak ozon yang dilarang dan juga merupakan gas rumah kaca berdaya kuat.[406] Jika negara-negara mematuhi amandemen tersebut, pemanasan sebesar 0,3 °C–0,5 °C diperkirakan dapat dihindari.[407]

Respons nasional

500px-Global_annual_CO2_emissions_by_world_region_since_1750.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Emisi CO2 tahunan berdasarkan wilayah. Grafik ini mengukur emisi bahan bakar fosil dan industri. Perubahan penggunaan lahan tidak termasuk.[408]

Pada tahun 2019, parlemen Britania Raya menjadi pemerintah nasional pertama yang mendeklarasikan darurat iklim.[409] Negara-negara dan yurisdiksi lain segera menyusul.[410] Pada tahun yang sama, Parlemen Eropa mendeklarasikan "darurat iklim dan lingkungan".[411] Komisi Eropa mempresentasikan Kesepakatan Hijau Eropa (European Green Deal) dengan target menjadikan Uni Eropa netral karbon pada tahun 2050.[412] Pada tahun 2021, Komisi Eropa merilis paket legislasi "Fit for 55", yang memuat pedoman untuk industri otomotif, yaitu semua mobil baru di pasar Eropa harus berupa kendaraan bebas emisi mulai tahun 2035.[413]

Negara-negara besar di Asia telah membuat komitmen serupa: Korea Selatan dan Jepang telah berkomitmen untuk menjadi netral karbon pada tahun 2050, dan Tiongkok pada tahun 2060.[414] Meskipun India memiliki insentif yang kuat untuk energi terbarukan, negara tersebut juga merencanakan ekspansi penggunaan batu bara secara signifikan.[415] Vietnam termasuk salah satu dari sangat sedikit negara berkembang pesat yang bergantung pada batu bara yang berkomitmen untuk menghentikan secara bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara tanpa mitigasi emisi pada dekade 2040-an atau secepat mungkin setelahnya.[416]

Hingga tahun 2021, berdasarkan informasi dari 48 rencana iklim nasional yang mewakili 40% dari para pihak dalam Persetujuan Paris, perkiraan total emisi gas rumah kaca adalah 0,5% lebih rendah dibandingkan tingkat emisi tahun 2010. Angka ini masih sangat jauh dari target pengurangan 45% untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C atau target pengurangan 25% untuk membatasinya hingga 2 °C.[417][butuh pemutakhiran]

Masyarakat dan budaya

Penolakan dan disinformasi

500px-20200327_Climate_change_deniers_cherry_picking_time_periods.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Data telah dipetik secara selektif (cherry picking) dari rentang waktu singkat untuk secara keliru mengklaim bahwa suhu global tidak meningkat. Garis tren biru menunjukkan rentang singkat yang menyamarkan tren pemanasan jangka panjang (garis tren merah). Persegi panjang biru dengan titik-titik biru menunjukkan apa yang disebut sebagai penundaan pemanasan global (global warming hiatus).[418]

Debat publik mengenai perubahan iklim telah sangat dipengaruhi oleh penolakan perubahan iklim dan disinformasi, yang pertama kali muncul di Amerika Serikat dan sejak saat itu meluas ke negara-negara lain, khususnya Kanada dan Australia. Penolakan ini berawal dari perusahaan bahan bakar fosil, kelompok industri, lembaga pemikir konservatif, dan ilmuwan kontrarian.[419] Seperti halnya industri tembakau, strategi utama dari kelompok-kelompok ini adalah menciptakan keraguan terhadap data dan hasil ilmiah yang berkaitan dengan perubahan iklim.[420] Orang-orang yang memelihara keraguan tak berdasar mengenai perubahan iklim terkadang disebut sebagai "skeptis" perubahan iklim, meskipun istilah "kontrarian" atau "penolak" merupakan istilah yang lebih tepat.[421]

Terdapat berbagai varian penolakan iklim: sebagian menolak bahwa pemanasan terjadi sama sekali, sebagian mengakui adanya pemanasan namun mengatribusikannya pada pengaruh alami, dan sebagian lagi meminimalkan dampak negatif dari perubahan iklim.[422] Rekayasa ketidakpastian terhadap sains kemudian berkembang menjadi kontroversi buatan (manufactured controversy), yaitu menciptakan keyakinan bahwa terdapat ketidakpastian signifikan mengenai perubahan iklim di kalangan komunitas ilmiah untuk menunda perubahan kebijakan.[423] Strategi untuk mempromosikan gagasan-gagasan ini mencakup kritik terhadap lembaga-lembaga ilmiah,[424] serta mempertanyakan motif individu para ilmuwan.[422] Ruang gema (echo chamber) dari blog-blog dan media penolak iklim telah semakin memicu kesalahpahaman tentang perubahan iklim.[425]

Kesadaran dan opini publik

500px-20220629_Public_estimates_of_scientific_consensus_on_climate_change_-_horizontal_bar_chart.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masyarakat secara signifikan meremehkan tingkat konsensus ilmiah bahwa manusialah yang menyebabkan perubahan iklim (data 2022).[426] Studi dari tahun 2019 hingga 2021[427][5][428] menemukan bahwa konsensus ilmiah berkisar antara 98,7 hingga 100%.

Perubahan iklim mulai menjadi perhatian publik internasional pada akhir dekade 1980-an.[429] Akibat pemberitaan media pada awal dekade 1990-an, masyarakat sering kali menyamakan perubahan iklim dengan isu lingkungan lainnya seperti penipisan lapisan ozon.[430] Dalam budaya populer, film fiksi iklim The Day After Tomorrow (2004) dan film dokumenter Al Gore An Inconvenient Truth (2006) berfokus pada perubahan iklim.[429]

Terdapat perbedaan regional, gender, usia, dan politik yang signifikan baik dalam kekhawatiran maupun pemahaman publik terhadap perubahan iklim. Masyarakat berpendidikan lebih tinggi, serta di beberapa negara, perempuan dan kelompok muda, cenderung melihat perubahan iklim sebagai ancaman serius.[431] Buku-buku teks biologi perguruan tinggi dari dekade 2010-an menampilkan lebih sedikit materi tentang perubahan iklim dibandingkan dengan buku-buku dari dekade sebelumnya, dengan penekanan pada solusi yang semakin menurun.[432] Kesenjangan partisan juga terdapat di banyak negara,[433] dan negara-negara dengan emisi CO2 yang tinggi cenderung kurang khawatir.[434] Pandangan mengenai penyebab perubahan iklim sangat bervariasi antarnegara.[435] Liputan media yang terkait dengan aksi protes telah memengaruhi sentimen publik serta aspek perubahan iklim mana yang menjadi fokus perhatian.[436] Tingkat kecemasan yang lebih tinggi berkaitan dengan dukungan publik yang lebih kuat terhadap kebijakan penanganan perubahan iklim.[437] Kekhawatiran kian meningkat seiring waktu,[438] dan pada tahun 2021 mayoritas warga di 30 negara menyatakan tingkat kecemasan yang tinggi terhadap perubahan iklim, atau menganggapnya sebagai darurat global.[439] Sebuah survei tahun 2024 di 125 negara menemukan bahwa 89% populasi global menuntut tindakan politik yang lebih intensif, tetapi secara sistematis meremehkan kesediaan orang lain untuk bertindak.[25][26]

Gerakan iklim

Aksi protes iklim menuntut agar para pemimpin politik mengambil tindakan untuk mencegah perubahan iklim. Aksi ini dapat berupa demonstrasi publik, divestasi bahan bakar fosil, gugatan hukum, dan kegiatan lainnya.[440][441] Demonstrasi yang paling menonjol di antaranya mencakup Mogok Sekolah untuk Iklim. Dalam inisiatif ini, kaum muda di seluruh dunia telah melakukan protes sejak tahun 2018 dengan tidak masuk sekolah pada hari Jumat, yang terilhami oleh aktivis Swedia yang saat itu masih remaja, Greta Thunberg.[442] Aksi pembangkangan sipil massal oleh kelompok-kelompok seperti Extinction Rebellion berunjuk rasa dengan mengganggu lalu lintas jalan dan transportasi umum.[443]

Litigasi semakin banyak digunakan sebagai alat untuk memperkuat aksi iklim dari lembaga-lembaga publik dan perusahaan. Para aktivis juga mengajukan gugatan hukum yang menargetkan pemerintah dan menuntut agar mereka mengambil tindakan ambisius atau menegakkan hukum yang ada tentang perubahan iklim.[444] Gugatan terhadap perusahaan bahan bakar fosil umumnya menuntut kompensasi atas kerugian dan kerusakan.[445] Pada tahun 2025, Mahkamah Internasional PBB mengeluarkan pendapat konsultatifnya (advisory opinion), yang menyatakan secara eksplisit bahwa negara-negara harus bertindak untuk menghentikan perubahan iklim, dan jika mereka gagal memenuhi kewajiban tersebut, negara lain dapat menggugat mereka. Kewajiban ini mencakup penerapan komitmen mereka dalam perjanjian internasional tempat mereka menjadi pihak, seperti Persetujuan Iklim Paris 2015.[446][447][448]

Sejarah

Untuk bahasan lebih luas tentang topik ini, lihat Sejarah ilmu perubahan iklim.

Penemuan-penemuan awal

500px-18560823_Eunice_Newton_Foote_-_greenhouse_effect.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Eunice Newton Foote menunjukkan efek penangkapan panas oleh karbon dioksida pada tahun 1856, yang memprediksi dampaknya terhadap planet ini.[449] (Karbon dioksida saat itu disebut "gas asam karbonat".)

Para ilmuwan pada abad ke-19 seperti Alexander von Humboldt mulai memprediksi dampak perubahan iklim.[450][451][452][453] Pada dekade 1820-an, Joseph Fourier mengusulkan adanya efek rumah kaca untuk menjelaskan mengapa suhu Bumi lebih tinggi daripada yang dapat dijelaskan oleh energi Matahari saja. Atmosfer Bumi transparan terhadap sinar matahari, sehingga sinar matahari mencapai permukaan dan diubah menjadi panas. Namun, atmosfer tidak transparan terhadap panas yang dipancarkan dari permukaan, dan menangkap sebagian dari panas tersebut, yang pada gilirannya menghangatkan planet ini.[454] Pada tahun 1856, Eunice Newton Foote membuktikan bahwa efek pemanasan dari Matahari lebih besar pada udara yang mengandung uap air daripada udara kering, dan efek tersebut bahkan lebih besar pada karbon dioksida (CO2). Dalam tulisannya "Circumstances Affecting the Heat of the Sun's Rays", ia menyimpulkan bahwa "suatu atmosfer yang terdiri dari gas tersebut akan memberikan suhu yang tinggi bagi bumi kita".[455][456]

500px-19120814_Coal_Consumption_Affecting_Climate_-_Rodney_and_Otamatea_Times.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel tahun 1912 ini secara singkat menjelaskan efek rumah kaca, yaitu bagaimana pembakaran batu bara menghasilkan karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.[457]

Mulai tahun 1859,[458] John Tyndall membuktikan bahwa nitrogen dan oksigen, yang secara bersama-sama mencakup 99% dari udara kering, bersifat transparan terhadap radiasi panas. Namun, uap air dan gas-gas seperti metana dan karbon dioksida menyerap radiasi panas dan memancarkan kembali panas tersebut ke atmosfer. Tyndall mengusulkan bahwa perubahan konsentrasi gas-gas ini mungkin telah menyebabkan perubahan iklim di masa lalu, termasuk zaman es.[459]

Svante Arrhenius mencatat bahwa uap air di udara terus bervariasi, tetapi konsentrasi CO2 di udara dipengaruhi oleh proses geologi jangka panjang. Pemanasan akibat peningkatan kadar CO2 akan meningkatkan jumlah uap air, yang memperkuat pemanasan dalam ikatan umpan balik positif. Pada tahun 1896, ia memublikasikan model iklim pertama dari jenisnya, yang memproyeksikan bahwa penurunan separuh kadar CO2 dapat memicu penurunan suhu yang mengawali zaman es. Arrhenius menghitung bahwa kenaikan suhu yang diperkirakan dari penggandaan kadar CO2 adalah sekitar 5–6 °C.[460] Para ilmuwan lain pada awalnya bersikap skeptis dan percaya bahwa efek rumah kaca telah jenuh sehingga penambahan CO2 lebih lanjut tidak akan memberi perbedaan, serta menganggap iklim dapat mengatur dirinya sendiri.[461] Berawal pada tahun 1938, Guy Stewart Callendar memublikasikan bukti bahwa iklim sedang memanas dan kadar CO2 terus meningkat,[462] tetapi kalkulasinya menghadapi keberatan yang sama.[461]

Perkembangan konsensus ilmiah

500px-20211103_Academic_studies_of_scientific_consensus_-_global_warming%2C_climate_change_-_vertical_bar_chart_-_en.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konsensus ilmiah mengenai kausalitas: Studi-studi akademis tentang kesepakatan ilmiah mengenai pemanasan global akibat aktivitas manusia di kalangan pakar iklim (2010–2015) mencerminkan bahwa tingkat konsensus berkolerasi dengan keahlian dalam ilmu iklim.[463] Sebuah studi tahun 2019 menemukan konsensus ilmiah mencapai 100%,[427] dan studi tahun 2021 menyimpulkan bahwa konsensus telah melampaui 99%.[5] Studi lain pada tahun 2021 menemukan bahwa 98,7% pakar iklim mengindikasikan bahwa Bumi semakin hangat sebagian besar akibat aktivitas manusia.[428]

Pada dekade 1950-an, Gilbert Plass membuat model komputer terperinci yang mencakup lapisan-lapisan atmosfer berbeda dan spektrum inframerah. Model ini memprediksi bahwa peningkatan kadar CO2 akan menyebabkan pemanasan. Pada kurun waktu yang hampir bersamaan, Hans Suess menemukan bukti bahwa kadar CO2 telah meningkat, dan Roger Revelle menunjukkan bahwa samudera tidak akan menyerap peningkatan tersebut. Kedua ilmuwan tersebut selanjutnya membantu Charles David Keeling untuk memulai catatan peningkatan berkelanjutan, yaitu "Kurva Keeling",[461] yang menjadi bagian dari penyelidikan ilmiah berkelanjutan sepanjang dekade 1960-an mengenai kemungkinan faktor manusia sebagai penyebab pemanasan global.[464] Studi-studi seperti Laporan Charney tahun 1979 oleh National Research Council mendukung keakuratan model-model iklim yang memproyeksikan pemanasan signifikan.[465] Kausalitas manusia terhadap pemanasan global yang teramati serta bahaya dari pemanasan yang tidak dimitigasi dipresentasikan secara terbuka dalam kesaksian James Hansen pada tahun 1988 di hadapan komite Senat Amerika Serikat.[466][40] Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang dibentuk pada tahun 1988 untuk memberikan saran formal bagi pemerintah di seluruh dunia, memicu penelitian lintas disiplin.[467] Sebagai bagian dari laporan IPCC, para ilmuwan menilai diskusi ilmiah yang berlangsung dalam artikel-artikel jurnal berpelaah sejawat.[468]

Terdapat konsensus ilmiah yang hampir bulat bahwa iklim sedang memanas dan bahwa hal ini disebabkan oleh aktivitas manusia.[5] Tidak ada lembaga ilmiah berstandar nasional maupun internasional yang tidak setuju dengan pandangan ini.[469] Hingga tahun 2019, kesepakatan dalam literatur terbaru mencapai lebih dari 99%.[427][5] Laporan Penilaian IPCC 2021 menyatakan bahwa "tidak diragukan lagi" bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia.[5] Konsensus telah berkembang lebih lanjut bahwa tindakan harus diambil untuk melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim. Akademi-akademi sains nasional telah menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk memangkas emisi global.[470]

Perkembangan terbaru

Atribusi peristiwa ekstrem (EEA), yang juga dikenal sebagai ilmu atribusi, dikembangkan pada dekade-dekade awal abad ke-21.[471] EEA menggunakan model iklim untuk mengidentifikasi dan menguantifikasi peran perubahan iklim akibat aktivitas manusia terhadap frekuensi, intensitas, durasi, dan dampak dari peristiwa-peristiwa cuaca ekstrem secara spesifik.[472][473] Hasil studi atribusi memungkinkan para ilmuwan dan jurnalis untuk membuat pernyataan seperti, "peristiwa cuaca ini berpeluang setidaknya n kali lebih besar terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia" atau "gelombang panas ini menjadi m derajat lebih panas dibandingkan jika terjadi di dunia tanpa pemanasan global" atau "peristiwa ini secara praktis tidak mungkin terjadi tanpa adanya perubahan iklim".[474]

Daya komputasi yang lebih besar pada dekade 2000-an dan terobosan konseptual pada awal hingga pertengahan dekade 2010-an[475] memungkinkan ilmu atribusi untuk mendeteksi dampak perubahan iklim pada beberapa peristiwa dengan tingkat keyakinan yang tinggi.[471] Para ilmuwan menggunakan metode atribusi dan simulasi iklim yang telah melalui penelaahan sejawat, sehingga memungkinkan "studi atribusi cepat" dipublikasikan dalam rentang waktu "siklus berita" setelah terjadinya peristiwa cuaca.[475]

Referensi

  1. ↑ "GISS Surface Temperature Analysis (v4)". NASA. Diakses tanggal 12 Januari 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, SPM-7
  3. ↑ Sources for data and graphic: - Annual global mean surface temperature data from: "Global temperature / Get the data / Global mean temperature / NOAAGlobalTemp / Download as CSV". Met Office (UK). 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Natural driver graphic is at: "IPCC Sixth Assessment Report / Working Group 1: The Physical Science Basis / Figures: Summary for Policymakers / Figure SPM.1(b)". Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Click on "Datasets". - Natural driver dataset is downloadable by clicking on "gmst_changes_model_and_obs.csv" at: "Summary for Policymakers of the Working Group I Contribution to the IPCC Sixth Assessment Report - data for Figure SPM.1 (v20221116)". Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). 16 November 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Forster et al. 2026, hlm. 3889: "For the 2016–2025 decade average, observed warming relative to 1850–1900 was 1.26 [1.13 to 1.36] °C, of which 1.24 [1.0 to 1.5] °C was human-induced."
  5. 1 2 3 4 5 6 Lynas, Mark; Houlton, Benjamin Z.; Perry, Simon (19 Oktober 2021). "Greater than 99% consensus on human caused climate change in the peer-reviewed scientific literature". Environmental Research Letters. 16 (11): 114005. Bibcode:2021ERL....16k4005L. doi:10.1088/1748-9326/ac2966.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 Our World in Data, 18 September 2020
  7. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 67: "Concentrations of CO2, methane (CH4), and nitrous oxide (N2O) have increased to levels unprecedented in at least 800,000 years, and there is high confidence that current CO2 concentrations have not been experienced for at least 2 million years."
  8. ↑
    • IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 9: "Observed increases in areas burned by wildfires have been attributed to human-induced climate change in some regions (medium to high confidence)"
  9. ↑ IPCC SROCC 2019, hlm. 16: "Over the last decades, global warming has led to widespread shrinking of the cryosphere, with mass loss from ice sheets and glaciers (very high confidence), reductions in snow cover (high confidence) and Arctic sea ice extent and thickness (very high confidence), and increased permafrost temperature (very high confidence)."
  10. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch11 2021, hlm. 1517
  11. ↑ EPA (19 Januari 2017). "Climate Impacts on Ecosystems". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Januari 2018. Diakses tanggal 5 Februari 2019. Mountain and arctic ecosystems and species are particularly sensitive to climate change... As ocean temperatures warm and the acidity of the ocean increases, bleaching and coral die-offs are likely to become more frequent.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm. 64: "Sustained net zero anthropogenic emissions of CO2 and declining net anthropogenic non-CO2 radiative forcing over a multi-decade period would halt anthropogenic global warming over that period, although it would not halt sea level rise or many other aspects of climate system adjustment."
  13. ↑ "Consequences of climate change". climate.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). European Commission. Diakses tanggal 10 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑
  15. 1 2 WHO, Nov 2023
  16. ↑ IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 19
  17. ↑ - IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 21–26 - IPCC AR6 WG2 Ch16 2022, hlm. 2504 - IPCC AR6 SYR SPM 2023, hlm. 8–9: "Effectiveness15 of adaptation in reducing climate risks16 is documented for specific contexts, sectors and regions (high confidence) ... Soft limits to adaptation are currently being experienced by small-scale farmers and households along some low-lying coastal areas (medium confidence) resulting from financial, governance, institutional and policy constraints (high confidence). Some tropical, coastal, polar and mountain ecosystems have reached hard adaptation limits (high confidence). Adaptation does not prevent all losses and damages, even with effective adaptation and before reaching soft and hard limits (high confidence)."
  18. ↑ Tietjen, Bethany (2 November 2022). "Loss and damage: Who is responsible when climate change harms the world's poorest countries?". The Conversation. Diakses tanggal 30 Agustus 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ "Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability". IPCC. 27 Februari 2022. Diakses tanggal 30 Agustus 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. Ivanova, Irina (Juni 2, 2022). "California is rationing water amid its worst drought in 1,200 years". CBS News.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ "2024 – a second record-breaking year, following the exceptional 2023". Copernicus Programme. 10 Januari 2025. Diakses tanggal 10 Januari 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Carrington, Damian (10 Januari 2025). "Hottest year on record sent planet past 1.5C of heating for first time in 2024". The Guardian. Diakses tanggal 10 Januari 2025.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 71
  24. 1 2 United Nations Environment Programme 2024, hlm. XVIII: "The full implementation and continuation of the level of mitigation effort implied by unconditional or conditional NDC scenarios lower these projections to 2.8 °C (range: 1.9–3.7) and 2.6 °C (range: 1.9–3.6), respectively. All with at least a 66 per cent chance."
  25. 1 2 Carrington, Damian (22 April 2025). "'Spiral of silence': climate action is very popular, so why don't people realise it?". The Guardian. Diakses tanggal 22 April 2025.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. 1 2 Andre, Peter; Boneva, Teodora; Chopra, Felix; Falk, Armin (9 Februari 2024). "Globally representative evidence on the actual and perceived support for climate action". Nature Climate Change. 14 (3): 253–259. Bibcode:2024NatCC..14..253A. doi:10.1038/s41558-024-01925-3.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ United Nations Environment Programme 2024, hlm. XV: "As at 1 June 2024, 101 parties representing 107 countries and covering approximately 82 per cent of global GHG emissions had adopted net-zero pledges either in law (28 parties), in a policy document such as an NDC or a long-term strategy (56 parties), or in an announcement by a high-level government official (17 parties)."
  28. ↑ - IPCC AR5 WG3 Annex III 2014, hlm. 1335 - IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, hlm. 24–25 - IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm. 89
  29. ↑ IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm. 84: "Stringent emissions reductions at the level required for 2°C or 1.5°C are achieved through the increased electrification of buildings, transport, and industry, consequently all pathways entail increased electricity generation (high confidence)."
  30. ↑ - IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 18 - IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, hlm. 24–25 - IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm. 114
  31. ↑ Duarte, C.M.; Delgado-Huertas, A.; et al. (17 Januari 2025). "Carbon burial in sediments below seaweed farms matches that of Blue Carbon habitats". Nature Climate Change. 15 (2): 180–187. Bibcode:2025NatCC..15..180D. doi:10.1038/s41558-024-02238-1.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  32. ↑ Winfield, E.; Ostoja, S. (2020). "Climate-Smart Agriculture: Soil Health & Carbon Farming [Factsheet]". USDA California Climate Hub. Diakses tanggal 13 Agustus 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. 1 2 NASA, 5 December 2008.
  34. ↑ NASA, 7 July 2020
  35. ↑ Shaftel 2016: " 'Climate change' and 'global warming' are often used interchangeably but have distinct meanings. ... Global warming refers to the upward temperature trend across the entire Earth since the early 20th century ... Climate change refers to a broad range of global phenomena ...[which] include the increased temperature trends described by global warming."
  36. ↑ Associated Press, 22 September 2015: "The terms global warming and climate change can be used interchangeably. Climate change is more accurate scientifically to describe the various effects of greenhouse gases on the world because it includes extreme weather, storms and changes in rainfall patterns, ocean acidification and sea level".
  37. ↑ IPCC AR5 SYR Glossary 2014, hlm. 120: "Climate change refers to a change in the state of the climate that can be identified (e.g., by using statistical tests) by changes in the mean and/or the variability of its properties and that persists for an extended period, typically decades or longer. Climate change may be due to natural internal processes or external forcings such as modulations of the solar cycles, volcanic eruptions and persistent anthropogenic changes in the composition of the atmosphere or in land use."
  38. ↑ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), ed. (2023), "Annex VII: Glossary", Climate Change 2021 – The Physical Science Basis: Working Group I Contribution to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 2215–2256, doi:10.1017/9781009157896.022, ISBN 978-1-009-15788-9, diakses tanggal 2026-01-22
  39. ↑ Broecker, Wallace S. (8 Agustus 1975). "Climatic Change: Are We on the Brink of a Pronounced Global Warming?". Science. 189 (4201): 460–463. Bibcode:1975Sci...189..460B. doi:10.1126/science.189.4201.460. JSTOR 1740491. PMID 17781884.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  40. 1 2 Weart "The Public and Climate Change: The Summer of 1988", "News reporters gave only a little attention ...".
  41. ↑ Joo et al. 2015.
  42. ↑ Hodder & Martin 2009
  43. ↑ BBC Science Focus Magazine, 3 February 2020
  44. ↑ Neukom et al. 2019b.
  45. ↑ "Global Annual Mean Surface Air Temperature Change". NASA. Diakses tanggal 23 Februari 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  46. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm. 294, 296.
  47. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm. 366.
  48. ↑ Marcott, S. A.; Shakun, J. D.; Clark, P. U.; Mix, A. C. (2013). "A reconstruction of regional and global temperature for the past 11,300 years". Science. 339 (6124): 1198–1201. Bibcode:2013Sci...339.1198M. doi:10.1126/science.1228026. PMID 23471405.
  49. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm. 296.
  50. ↑ IPCC AR5 WG1 Ch5 2013, hlm. 386
  51. ↑ Neukom et al. 2019a
  52. ↑ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm. 57: "This report adopts the 51-year reference period, 1850–1900 inclusive, assessed as an approximation of pre-industrial levels in AR5 ... Temperatures rose by 0.0 °C–0.2 °C from 1720–1800 to 1850–1900"
  53. ↑ Hawkins et al. 2017, hlm. 1844
  54. ↑ "Mean Monthly Temperature Records Across the Globe / Timeseries of Global Land and Ocean Areas at Record Levels for September from 1951–2023". NCEI.NOAA.gov. National Centers for Environmental Information (NCEI) of the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). September 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Oktober 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (change "202309" in URL to see years other than 2023, and months other than 09=September)
  55. ↑ 700 meter teratas: Lindsey, Rebecca; Dahlman, Luann (6 September 2023). "Climate Change: Ocean Heat Content". climate.gov. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) ● 2000 meter teratas: "Ocean Warming / Latest Measurement: December 2022 / 345 (± 2) zettajoules since 1955". NASA.gov. National Aeronautics and Space Administration. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  56. ↑ IPCC AR5 WG1 Summary for Policymakers 2013, hlm. 4–5: "Global-scale observations from the instrumental era began in the mid-19th century for temperature and other variables ... the period 1880 to 2012 ... multiple independently produced datasets exist."
  57. ↑ "Global 'Sunscreen' Has Likely Thinned, Report NASA Scientists". NASA. 15 Maret 2007.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  58. 1 2 3 Quaas, Johannes; Jia, Hailing; Smith, Chris; Albright, Anna Lea; Aas, Wenche; Bellouin, Nicolas; Boucher, Olivier; Doutriaux-Boucher, Marie; Forster, Piers M.; Grosvenor, Daniel; Jenkins, Stuart; Klimont, Zbigniew; Loeb, Norman G.; Ma, Xiaoyan; Naik, Vaishali; Paulot, Fabien; Stier, Philip; Wild, Martin; Myhre, Gunnar; Schulz, Michael (21 September 2022). "Robust evidence for reversal of the trend in aerosol effective climate forcing". Atmospheric Chemistry and Physics. 22 (18): 12221–12239. Bibcode:2022ACP....2212221Q. doi:10.5194/acp-22-12221-2022. hdl:20.500.11850/572791.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  59. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 43
  60. ↑ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm. 81.
  61. ↑ Forster et al. 2026, hlm. 3889
  62. ↑ Samset, B. H.; Fuglestvedt, J. S.; Lund, M. T. (7 Juli 2020). "Delayed emergence of a global temperature response after emission mitigation". Nature Communications. 11 (1): 3261. Bibcode:2020NatCo..11.3261S. doi:10.1038/s41467-020-17001-1. hdl:11250/2771093. PMC 7341748. PMID 32636367. At the time of writing, that translated into 2035–2045, where the delay was mostly due to the impacts of the around 0.2 °C of natural, interannual variability of global mean surface air temperature{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  63. ↑ Seip, Knut L.; Grøn, ø.; Wang, H. (31 Agustus 2023). "Global lead-lag changes between climate variability series coincide with major phase shifts in the Pacific decadal oscillation". Theoretical and Applied Climatology (dalam bahasa Inggris). 154 (3–4): 1137–1149. Bibcode:2023ThApC.154.1137S. doi:10.1007/s00704-023-04617-8. hdl:11250/3088837.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  64. ↑ Yao, Shuai-Lei; Huang, Gang; Wu, Ren-Guang; Qu, Xia (Januari 2016). "The global warming hiatus—a natural product of interactions of a secular warming trend and a multi-decadal oscillation". Theoretical and Applied Climatology (dalam bahasa Inggris). 123 (1–2): 349–360. Bibcode:2016ThApC.123..349Y. doi:10.1007/s00704-014-1358-x.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  65. ↑ Xie, Shang-Ping; Kosaka, Yu (Juni 2017). "What Caused the Global Surface Warming Hiatus of 1998–2013?". Current Climate Change Reports (dalam bahasa Inggris). 3 (2): 128–140. Bibcode:2017CCCR....3..128X. doi:10.1007/s40641-017-0063-0.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  66. ↑ Tollefson, Jeff (10 Januari 2025). "Earth breaches 1.5 °C climate limit for the first time: what does it mean?". Nature. 637 (8047): 769–770. Bibcode:2025Natur.637..769T. doi:10.1038/d41586-025-00010-9. PMID 39794429.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  67. ↑ "Summary for Policymakers". Climate Change 2021 – the Physical Science Basis. 2023. hlm. 3–32. doi:10.1017/9781009157896.001. ISBN 978-1-009-15789-6.
  68. ↑ McGrath, Matt (17 Mei 2023). "Global warming set to break key 1.5C limit for first time". BBC News. Diakses tanggal 31 Januari 2024. The researchers stress that temperatures would have to stay at or above 1.5C for 20 years to be able to say the Paris agreement threshold had been passed.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  69. ↑ Kennedy et al. 2010, hlm. S26. Figure 2.5.
  70. ↑ Loeb et al. 2021.
  71. ↑ "Global Warming". NASA JPL. 3 Juni 2010. Diakses tanggal 11 September 2020. Satellite measurements show warming in the troposphere but cooling in the stratosphere. This vertical pattern is consistent with global warming due to increasing greenhouse gases but inconsistent with warming from natural causes.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  72. ↑ Kennedy et al. 2010, hlm. S26, S59–S60
  73. ↑ USGCRP Chapter 1 2017, hlm. 35
  74. ↑ IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 257–260
  75. ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 7
  76. ↑ Sutton, Dong & Gregory 2007.
  77. ↑ "Climate Change: Ocean Heat Content". Noaa Climate.gov. NOAA. 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Februari 2019. Diakses tanggal 20 Februari 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  78. ↑ IPCC AR5 WG1 Ch3 2013, hlm. 257: "Ocean warming dominates the global energy change inventory. Warming of the ocean accounts for about 93% of the increase in the Earth's energy inventory between 1971 and 2010 (high confidence), with warming of the upper (0 to 700 m) ocean accounting for about 64% of the total.
  79. ↑ von Schuckman, K.; Cheng, L.; Palmer, M. D.; Hansen, J.; et al. (7 September 2020). "Heat stored in the Earth system: where does the energy go?". Earth System Science Data. 12 (3): 2013–2041. Bibcode:2020ESSD...12.2013V. doi:10.5194/essd-12-2013-2020. hdl:20.500.11850/443809.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  80. ↑ NOAA, 10 July 2011.
  81. 1 2 United States Environmental Protection Agency 2016, hlm. 5: "Black carbon that is deposited on snow and ice darkens those surfaces and decreases their reflectivity (albedo). This is known as the snow/ice albedo effect. This effect results in the increased absorption of radiation that accelerates melting."
  82. ↑ "Arctic warming three times faster than the planet, report warns". Phys.org (dalam bahasa Inggris). 20 Mei 2021. Diakses tanggal 6 Oktober 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  83. ↑ Rantanen, Mika; Karpechko, Alexey Yu; Lipponen, Antti; Nordling, Kalle; Hyvärinen, Otto; Ruosteenoja, Kimmo; Vihma, Timo; Laaksonen, Ari (11 Agustus 2022). "The Arctic has warmed nearly four times faster than the globe since 1979". Communications Earth & Environment. 3 (1): 168. Bibcode:2022ComEE...3..168R. doi:10.1038/s43247-022-00498-3. hdl:11250/3115996.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  84. ↑ Liu, Wei; Fedorov, Alexey V.; Xie, Shang-Ping; Hu, Shineng (26 Juni 2020). "Climate impacts of a weakened Atlantic Meridional Overturning Circulation in a warming climate". Science Advances. 6 (26) eaaz4876. Bibcode:2020SciA....6.4876L. doi:10.1126/sciadv.aaz4876. PMC 7319730. PMID 32637596.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  85. 1 2 Pearce, Fred (18 April 2023). "New Research Sparks Concerns That Ocean Circulation Will Collapse" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Februari 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  86. ↑ Lee, Sang-Ki; Lumpkin, Rick; Gomez, Fabian; Yeager, Stephen; Lopez, Hosmay; Takglis, Filippos; Dong, Shenfu; Aguiar, Wilton; Kim, Dongmin; Baringer, Molly (13 Maret 2023). "Human-induced changes in the global meridional overturning circulation are emerging from the Southern Ocean". Communications Earth & Environment. 4 (1): 69. Bibcode:2023ComEE...4...69L. doi:10.1038/s43247-023-00727-3.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  87. ↑ "NOAA Scientists Detect a Reshaping of the Meridional Overturning Circulation in the Southern Ocean". NOAA. 29 Maret 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  88. ↑ Schuur, Edward A. G.; Abbott, Benjamin W.; Commane, Roisin; Ernakovich, Jessica; Euskirchen, Eugenie; Hugelius, Gustaf; Grosse, Guido; Jones, Miriam; Koven, Charlie; Leshyk, Victor; Lawrence, David; Loranty, Michael M.; Mauritz, Marguerite; Olefeldt, David; Natali, Susan; Rodenhizer, Heidi; Salmon, Verity; Schädel, Christina; Strauss, Jens; Treat, Claire; Turetsky, Merritt (2022). "Permafrost and Climate Change: Carbon Cycle Feedbacks From the Warming Arctic". Annual Review of Environment and Resources. 47: 343–371. Bibcode:2022ARER...47..343S. doi:10.1146/annurev-environ-012220-011847. Medium-range estimates of Arctic carbon emissions could result from moderate climate emission mitigation policies that keep global warming below 3 °C (e.g., RCP4.5). This global warming level most closely matches country emissions reduction pledges made for the Paris Climate Agreement...
  89. ↑ Phiddian, Ellen (5 April 2022). "Explainer: IPCC Scenarios". Cosmos. Diakses tanggal 30 September 2023. "The IPCC doesn't make projections about which of these scenarios is more likely, but other researchers and modellers can. The Australian Academy of Science, for instance, released a report last year stating that our current emissions trajectory had us headed for a 3 °C warmer world, roughly in line with the middle scenario. Climate Action Tracker predicts 2.5 to 2.9 °C of warming based on current policies and action, with pledges and government agreements taking this to 2.1 °C.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  90. ↑ WMO 2024b, hlm. 2.
  91. ↑ "Climate Change 2021 – The Physical Science Basis" (PDF). Intergovernmental Panel on Climate Change. 7 Agustus 2021. IPCC AR6 WGI. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 April 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  92. ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. SPM-17
  93. ↑ Meinshausen, Malte; Smith, S. J.; Calvin, K.; Daniel, J. S.; Kainuma, M. L. T.; Lamarque, J-F.; Matsumoto, K.; Montzka, S. A.; Raper, S. C. B.; Riahi, K.; Thomson, A.; Velders, G. J. M.; van Vuuren, D.P. P. (2011). "The RCP greenhouse gas concentrations and their extensions from 1765 to 2300". Climatic Change (dalam bahasa Inggris). 109 (1–2): 213–241. Bibcode:2011ClCh..109..213M. doi:10.1007/s10584-011-0156-z.
  94. ↑ Lyon, Christopher; Saupe, Erin E.; Smith, Christopher J.; Hill, Daniel J.; Beckerman, Andrew P.; Stringer, Lindsay C.; Marchant, Robert; McKay, James; Burke, Ariane; O'Higgins, Paul; Dunhill, Alexander M.; Allen, Bethany J.; Riel-Salvatore, Julien; Aze, Tracy (2021). "Climate change research and action must look beyond 2100". Global Change Biology (dalam bahasa Inggris). 28 (2): 349–361. doi:10.1111/gcb.15871. hdl:20.500.11850/521222. PMID 34558764.
  95. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 43–44
  96. ↑ Rogelj et al. 2019
  97. ↑ United Nations Environment Programme 2024, hlm. XI, XVII.
  98. ↑ Brown, Patrick T.; Li, Wenhong; Xie, Shang-Ping (27 Januari 2015). "Regions of significant influence on unforced global mean surface air temperature variability in climate models: Origin of global temperature variability". Journal of Geophysical Research: Atmospheres. 120 (2): 480–494. doi:10.1002/2014JD022576. hdl:10161/9564.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  99. ↑ Trenberth, Kevin E.; Fasullo, John T. (Desember 2013). "An apparent hiatus in global warming?". Earth's Future. 1 (1): 19–32. Bibcode:2013EaFut...1...19T. doi:10.1002/2013EF000165.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  100. ↑ National Research Council 2012, hlm. 9
  101. ↑ IPCC AR5 WG1 Ch10 2013, hlm. 916.
  102. ↑ Knutson 2017, hlm. 443; IPCC AR5 WG1 Ch10 2013, hlm. 875–876
  103. 1 2 USGCRP 2009, hlm. 20.
  104. ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. 7
  105. ↑ NASA. "The Causes of Climate Change". Climate Change: Vital Signs of the Planet. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Mei 2019. Diakses tanggal 8 Mei 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  106. ↑ Ozon bertindak sebagai gas rumah kaca di lapisan terendah atmosfer, yaitu troposfer (berbeda dengan lapisan ozon stratosfer). Wang, Shugart & Lerdau 2017
  107. ↑ Schmidt et al. 2010; USGCRP Climate Science Supplement 2014, hlm. 742
  108. ↑ IPCC AR4 WG1 Ch1 2007, FAQ1.1: "To emit 240 W m−2, a surface would have to have a temperature of around −19 °C. This is much colder than the conditions that actually exist at the Earth's surface (the global mean surface temperature is about 14 °C).
  109. ↑ ACS. "What Is the Greenhouse Effect?". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Mei 2019. Diakses tanggal 26 Mei 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  110. ↑ The Guardian, 19 February 2020.
  111. ↑ WMO 2024a, hlm. 2.
  112. ↑ The Cenozoic CO2 Proxy Integration Project (CenCOPIP) Consortium 2023.
  113. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. TS-35.
  114. ↑ References for Global Carbon Budget chart updated through 2024: - For carbon entries: "Home ›The Data Hub 2025 ›The Latest GCB Data (2025)". Global Carbon Budget. Click "Global Carbon Budget v2025" to download Excel xlsx file. Multiply these carbon entries by 3.664 to arrive at carbon dioxide figures. Contains land use data only since 1959; see OWID references for complete data: - For carbon dioxide entries for other industry, flaring, cement, gas, oil, and coal: Ritchie, Hannah; Rosado, Pablo; Roser, Max (23 Juni 2020). "CO₂ emissions by fuel". Our World in Data (OWID).{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Download data from chosen chart, "CO₂ emissions by fuel or industry type, World". - For carbon dioxide entries for land use: "Annual CO₂ emissions from land-use change". Our World in Data (OWID). Select "Line", choose "Download", select "Data", click "Download displayed data".
  115. ↑ IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, Figure SPM.1.
  116. ↑ Olivier & Peters 2019, hlm. 17
  117. ↑ Our World in Data, 18 September 2020; EPA 2020: "Greenhouse gas emissions from industry primarily come from burning fossil fuels for energy, as well as greenhouse gas emissions from certain chemical reactions necessary to produce goods from raw materials."
  118. ↑ "Redox, extraction of iron and transition metals". Hot air (oxygen) reacts with the coke (carbon) to produce carbon dioxide and heat energy to heat up the furnace. Removing impurities: The calcium carbonate in the limestone thermally decomposes to form calcium oxide. calcium carbonate → calcium oxide + carbon dioxide
  119. ↑ Kvande 2014: "Carbon dioxide gas is formed at the anode, as the carbon anode is consumed upon reaction of carbon with the oxygen ions from the alumina (Al2O3). Formation of carbon dioxide is unavoidable as long as carbon anodes are used, and it is of great concern because CO2 is a greenhouse gas."
  120. ↑ EPA 2020
  121. ↑ Global Methane Initiative 2020: "Estimated Global Anthropogenic Methane Emissions by Source, 2020: Enteric fermentation (27%), Manure Management (3%), Coal Mining (9%), Municipal Solid Waste (11%), Oil & Gas (24%), Wastewater (7%), Rice Cultivation (7%)."
  122. ↑ EPA 2019: "Agricultural activities, such as fertilizer use, are the primary source of N2O emissions."
  123. ↑ Davidson 2009: "2.0% of manure nitrogen and 2.5% of fertilizer nitrogen was converted to nitrous oxide between 1860 and 2005; these percentage contributions explain the entire pattern of increasing nitrous oxide concentrations over this period."
  124. ↑ "Understanding methane emissions". International Energy Agency.
  125. 1 2 Riebeek, Holli (16 Juni 2011). "The Carbon Cycle". Earth Observatory. NASA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Maret 2016. Diakses tanggal 5 April 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  126. ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 10
  127. ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 450.
  128. ↑ Weisse, Mikaela; Goldman, Elizabeth (April 2026). "Indicators of Forest Extent / Forest Loss /". World Resources Institute (WRI). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Chart in section titled "Annual rates of global tree cover loss have risen since 2000".
  129. ↑ Ritchie & Roser 2018
  130. ↑ The Sustainability Consortium, 13 September 2018; UN FAO 2016, hlm. 18.
  131. ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 18
  132. ↑ Curtis et al. 2018
  133. 1 2 3 Garrett, L.; Lévite, H.; Besacier, C.; Alekseeva, N.; Duchelle, M. (2022). The key role of forest and landscape restoration in climate action. Rome: FAO. doi:10.4060/cc2510en. ISBN 978-92-5-137044-5.
  134. 1 2 World Resources Institute, 8 December 2019
  135. ↑ IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 172: "The global biophysical cooling alone has been estimated by a larger range of climate models and is −0.10 ± 0.14 °C; it ranges from −0.57 °C to +0.06 °C ... This cooling is essentially dominated by increases in surface albedo: historical land cover changes have generally led to a dominant brightening of land."
  136. ↑ Haywood 2016, hlm. 456; McNeill 2017; Samset et al. 2018.
  137. ↑ IPCC AR5 WG1 Ch2 2013, hlm. 183.
  138. ↑ He et al. 2018; Storelvmo et al. 2016
  139. ↑ "Aerosol pollution has caused decades of global dimming". American Geophysical Union. 18 Februari 2021. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Maret 2023. Diakses tanggal 18 Desember 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  140. ↑ Monroe, Robert (20 Januari 2023). "Increased Atmospheric Dust has Masked Power of Greenhouse Gases to Warm Planet | Scripps Institution of Oceanography". scripps.ucsd.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  141. ↑ Wild et al. 2005; Storelvmo et al. 2016; Samset et al. 2018.
  142. ↑ Twomey 1977.
  143. ↑ Albrecht 1989.
  144. 1 2 3 USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 78.
  145. ↑ "A review of black carbon in snow and ice and its impact on the cryosphere". Earth-Science Reviews (dalam bahasa American English). 210. 2020-11-01. doi:10.1016/j.eartidak aktif 8 Agustus 2026. ISSN 0012-8252. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-02-16.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  146. ↑ Ramanathan & Carmichael 2008
  147. ↑ RIVM 2016.
  148. ↑ Sand et al. 2015
  149. ↑ "IMO 2020 – cutting sulphur oxide emissions". imo.org.
  150. ↑ Carbon Brief, 3 July 2023
  151. ↑ "Climate Science Special Report: Fourth National Climate Assessment, Volume I – Chapter 3: Detection and Attribution of Climate Change". science2017.globalchange.gov. U.S. Global Change Research Program (USGCRP): 1–470. 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 23 September 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Adapted directly from Fig. 3.3.
  152. ↑ Wuebbles, D. J.; Fahey, D. W.; Hibbard, K. A.; Deangelo, B.; Doherty, S.; Hayhoe, K.; Horton, R.; Kossin, J. P.; Taylor, P. C.; Waple, A. M.; Yohe, C. P. (23 November 2018). "Climate Science Special Report / Fourth National Climate Assessment (NCA4), Volume I /Executive Summary / Highlights of the Findings of the U.S. Global Change Research Program Climate Science Special Report". globalchange.gov. U.S. Global Change Research Program: 1–470. doi:10.7930/J0DJ5CTGtidak aktif 23 Mei 2026. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Juni 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  153. ↑ National Academies 2008, hlm. 6
  154. ↑ "Is the Sun causing global warming?". Climate Change: Vital Signs of the Planet. 18 September 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Mei 2019. Diakses tanggal 10 Mei 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  155. ↑ IPCC AR4 WG1 Ch9 2007, hlm. 702–703; Randel et al. 2009.
  156. 1 2 USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 79
  157. ↑ Fischer & Aiuppa 2020.
  158. ↑ "Thermodynamics: Albedo". NSIDC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2017. Diakses tanggal 10 Oktober 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  159. ↑ Milman, Oliver (10 September 2026). "Climate 'feedback loops' could worsen global warming by 30%, study finds" – via The Guardian.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  160. ↑ "The study of Earth as an integrated system". Vitals Signs of the Planet. Earth Science Communications Team at NASA's Jet Propulsion Laboratory / California Institute of Technology. 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  161. 1 2 USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 89–91.
  162. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 58: "The net effect of changes in clouds in response to global warming is to amplify human-induced warming, that is, the net cloud feedback is positive (high confidence)"
  163. ↑ USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 89–90.
  164. ↑ IPCC AR5 WG1 2013, hlm. 14
  165. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 93: "Feedback processes are expected to become more positive overall (more amplifying of global surface temperature changes) on multi-decadal time scales as the spatial pattern of surface warming evolves and global surface temperature increases."
  166. ↑ Williams, Ceppi & Katavouta 2020.
  167. ↑ NASA, 28 May 2013.
  168. ↑ Cohen et al. 2014.
  169. 1 2 Turetsky et al. 2019
  170. ↑ Climate.gov, 23 June 2022: "Carbon cycle experts estimate that natural "sinks"—processes that remove carbon from the atmosphere—on land and in the ocean absorbed the equivalent of about half of the carbon dioxide we emitted each year in the 2011–2020 decade."
  171. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. TS-122, Box TS.5, Figure 1
  172. ↑ Melillo et al. 2017: Our first-order estimate of a warming-induced loss of 190 Pg of soil carbon over the 21st century is equivalent to the past two decades of carbon emissions from fossil fuel burning.
  173. ↑ IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 133, 144.
  174. ↑ USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 93–95.
  175. ↑ Liu, Y.; Moore, J. K.; Primeau, F.; Wang, W. L. (22 Desember 2022). "Reduced CO2 uptake and growing nutrient sequestration from slowing overturning circulation". Nature Climate Change. 13: 83–90. doi:10.1038/s41558-022-01555-7. OSTI 2242376.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  176. ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 58, 59: "Clouds remain the largest contribution to overall uncertainty in climate feedbacks."
  177. ↑ Wolff et al. 2015: "the nature and magnitude of these feedbacks are the principal cause of uncertainty in the response of Earth's climate (over multi-decadal and longer periods) to a particular emissions scenario or greenhouse gas concentration pathway."
  178. ↑ IPCC AR5 SYR Glossary 2014, hlm. 120.
  179. ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "What are the different types of climate models?"
  180. ↑ Wolff et al. 2015
  181. ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "Who does climate modelling around the world?"
  182. ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "What is a climate model?"
  183. ↑ IPCC AR4 WG1 Ch8 2007, FAQ 8.1.
  184. ↑ Stroeve et al. 2007; National Geographic, 13 August 2019
  185. ↑ Liepert & Previdi 2009.
  186. ↑ Rahmstorf et al. 2007; Mitchum et al. 2018
  187. ↑ USGCRP Chapter 15 2017.
  188. ↑ Hébert, R.; Herzschuh, U.; Laepple, T. (31 Oktober 2022). "Millennial-scale climate variability over land overprinted by ocean temperature fluctuations". Nature Geoscience. 15 (1): 899–905. Bibcode:2022NatGe..15..899H. doi:10.1038/s41561-022-01056-4. PMC 7614181. PMID 36817575.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  189. ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "What are the inputs and outputs for a climate model?"
  190. ↑ Matthews et al. 2009
  191. ↑ Carbon Brief, 19 April 2018; Meinshausen 2019, hlm. 462.
  192. ↑ Giguere, Otto; Tanenenbaum, Vahlbert (30 Mei 2025). "Climate Change and the Escalation of Global Extreme Heat: Assessing and Addressing the Risks" (PDF). Climate Central, Red Cross Red Crescent Climate Centre, and World Weather Attribution. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 31 Mei 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Click on "Download the data", and in spreadsheet choose "Countries and territories" tab at bottom to view raw data
  193. ↑ Hansen et al. 2016; Smithsonian, 26 June 2016.
  194. ↑ USGCRP Chapter 15 2017, hlm. 415.
  195. ↑ Scientific American, 29 April 2014; Burke & Stott 2017.
  196. ↑ Liu, Fei; Wang, Bin; Ouyang, Yu; Wang, Hui; Qiao, Shaobo; Chen, Guosen; Dong, Wenjie (19 April 2022). "Intraseasonal variability of global land monsoon precipitation and its recent trend". npj Climate and Atmospheric Science (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 30. Bibcode:2022npCAS...5...30L. doi:10.1038/s41612-022-00253-7. ISSN 2397-3722.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  197. ↑ USGCRP Chapter 9 2017, hlm. 260.
  198. ↑ Studholme, Joshua; Fedorov, Alexey V.; Gulev, Sergey K.; Emanuel, Kerry; Hodges, Kevin (29 Desember 2021). "Poleward expansion of tropical cyclone latitudes in warming climates". Nature Geoscience. 15: 14–28. doi:10.1038/s41561-021-00859-1.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  199. ↑ "Hurricanes and Climate Change". Center for Climate and Energy Solutions. 10 Juli 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  200. ↑ NOAA 2017.
  201. ↑ WMO 2024a, hlm. 6.
  202. ↑ IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 1302
  203. ↑ DeConto & Pollard 2016
  204. ↑ Bamber et al. 2019.
  205. ↑ Zhang et al. 2008
  206. ↑ IPCC SROCC Summary for Policymakers 2019, hlm. 18
  207. ↑ Doney et al. 2009.
  208. ↑ Deutsch et al. 2011
  209. ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 510; "Climate Change and Harmful Algal Blooms". EPA. 5 September 2013. Diakses tanggal 11 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  210. ↑ "Tipping Elements – big risks in the Earth System". Potsdam Institute for Climate Impact Research. Diakses tanggal 31 Januari 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  211. 1 2 3 Armstrong McKay, David I.; Staal, Arie; Abrams, Jesse F.; Winkelmann, Ricarda; Sakschewski, Boris; Loriani, Sina; Fetzer, Ingo; Cornell, Sarah E.; Rockström, Johan; Lenton, Timothy M. (9 September 2022). "Exceeding 1.5 °C global warming could trigger multiple climate tipping points". Science. 377 (6611) eabn7950. doi:10.1126/science.abn7950. hdl:10871/131584. PMID 36074831.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  212. ↑ IPCC SR15 Ch3 2018, hlm. 283.
  213. ↑ Carbon Brief, 10 February 2020
  214. ↑ Bochow, Nils; Poltronieri, Anna; Robinson, Alexander; Montoya, Marisa; Rypdal, Martin; Boers, Niklas (18 Oktober 2023). "Overshooting the critical threshold for the Greenland ice sheet". Nature. 622 (7983): 528–536. Bibcode:2023Natur.622..528B. doi:10.1038/s41586-023-06503-9. PMC 10584691. PMID 37853149.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  215. ↑ Ditlevsen, Peter; Ditlevsen, Susanne (25 Juli 2023). "Warning of a forthcoming collapse of the Atlantic meridional overturning circulation". Nature Communications (dalam bahasa Inggris). 14 (1): 4254. arXiv:2304.09160. Bibcode:2023NatCo..14.4254D. doi:10.1038/s41467-023-39810-w. PMC 10368695. PMID 37491344.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  216. ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. 21
  217. ↑ IPCC AR5 WG1 Ch12 2013, hlm. 88–89, FAQ 12.3
  218. ↑ Smith et al. 2009; Levermann et al. 2013
  219. ↑ IPCC AR5 WG1 Ch12 2013, hlm. 1112.
  220. ↑ Oschlies, Andreas (16 April 2021). "A committed fourfold increase in ocean oxygen loss". Nature Communications. 12 (1) 2307. Bibcode:2021NatCo..12.2307O. doi:10.1038/s41467-021-22584-4. PMC 8052459. PMID 33863893.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  221. ↑ Lau, Sally C. Y.; Wilson, Nerida G.; Golledge, Nicholas R.; Naish, Tim R.; Watts, Phillip C.; Silva, Catarina N. S.; Cooke, Ira R.; Allcock, A. Louise; Mark, Felix C.; Linse, Katrin (21 Desember 2023). "Genomic evidence for West Antarctic Ice Sheet collapse during the Last Interglacial". Science. 382 (6677): 1384–1389. Bibcode:2023Sci...382.1384L. doi:10.1126/science.ade0664. PMID 38127761.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  222. ↑ Naughten, Kaitlin A.; Holland, Paul R.; De Rydt, Jan (23 Oktober 2023). "Unavoidable future increase in West Antarctic ice-shelf melting over the twenty-first century". Nature Climate Change. 13 (11): 1222–1228. Bibcode:2023NatCC..13.1222N. doi:10.1038/s41558-023-01818-x.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  223. ↑ IPCC SR15 Ch3 2018, hlm. 218.
  224. ↑ Martins, Paulo Mateus; Anderson, Marti J.; Sweatman, Winston L.; Punnett, Andrew J. (9 April 2024). "Significant shifts in latitudinal optima of North American birds". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (dalam bahasa Inggris). 121 (15) e2307525121. Bibcode:2024PNAS..12107525M. doi:10.1073/pnas.2307525121. ISSN 0027-8424. PMC 11009622. PMID 38557189.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  225. ↑ IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 133.
  226. ↑ Deng, Yuanhong; Li, Xiaoyan; Shi, Fangzhong; Hu, Xia (Desember 2021). "Woody plant encroachment enhanced global vegetation greening and ecosystem water-use efficiency". Global Ecology and Biogeography. 30 (12): 2337–2353. Bibcode:2021GloEB..30.2337D. doi:10.1111/geb.13386.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  227. ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 7; Zeng & Yoon 2009.
  228. ↑ Turner et al. 2020, hlm. 1.
  229. ↑ Urban 2015.
  230. ↑ Poloczanska et al. 2013; Lenoir et al. 2020
  231. ↑ Smale et al. 2019
  232. ↑ IPCC SROCC Summary for Policymakers 2019, hlm. 13.
  233. ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 510
  234. ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 451.
  235. ↑ Azevedo-Schmidt, Lauren; Meineke, Emily K.; Currano, Ellen D. (18 Oktober 2022). "Insect herbivory within modern forests is greater than fossil localities". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (dalam bahasa Inggris). 119 (42) e2202852119. Bibcode:2022PNAS..11902852A. doi:10.1073/pnas.2202852119. ISSN 0027-8424. PMC 9586316. PMID 36215482.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  236. ↑ "Coral Reef Risk Outlook". National Oceanic and Atmospheric Administration. 2 Januari 2012. Diakses tanggal 4 April 2020. At present, local human activities, coupled with past thermal stress, threaten an estimated 75 percent of the world's reefs. By 2030, estimates predict more than 90% of the world's reefs will be threatened by local human activities, warming, and acidification, with nearly 60% facing high, very high, or critical threat levels.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  237. ↑ Carbon Brief, 7 January 2020.
  238. ↑ IPCC AR5 WG2 Ch28 2014, hlm. 1596: "Within 50 to 70 years, loss of hunting habitats may lead to elimination of polar bears from seasonally ice-covered areas, where two-thirds of their world population currently live."
  239. ↑ "What a changing climate means for Rocky Mountain National Park". National Park Service. Diakses tanggal 9 April 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  240. ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. SPM-23, Fig. SPM.6
  241. ↑ Lenton, Timothy M.; Xu, Chi; Abrams, Jesse F.; Ghadiali, Ashish; Loriani, Sina; Sakschewski, Boris; Zimm, Caroline; Ebi, Kristie L.; Dunn, Robert R.; Svenning, Jens-Christian; Scheffer, Marten (2023). "Quantifying the human cost of global warming". Nature Sustainability. 6 (10): 1237–1247. Bibcode:2023NatSu...6.1237L. doi:10.1038/s41893-023-01132-6. hdl:10871/132650.
  242. ↑ IPCC AR5 WG2 Ch18 2014, hlm. 983, 1008
  243. ↑ IPCC AR5 WG2 Ch19 2014, hlm. 1077.
  244. ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 8, SPM 2
  245. ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 13, SPM 2.3
  246. 1 2 Romanello 2023
  247. 1 2 3 Ebi et al. 2018
  248. 1 2 3 Romanello 2022
  249. 1 2 3 4 5 IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 9
  250. ↑ World Economic Forum 2024, hlm. 4
  251. 1 2 Carbon Brief, 19 June 2017
  252. ↑ Mora et al. 2017
  253. ↑ IPCC AR6 WG2 Ch6 2022, hlm. 988
  254. ↑ The State of the World's Land and Water Resources for Food and Agriculture 2025 (dalam bahasa English). FAO. 2025. doi:10.4060/cd7488en. ISBN 978-92-5-140285-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) 20px-Definition_of_Free_Cultural_Works_logo_notext.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC BY 4.0License statement: Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan.
  255. ↑ World Economic Forum 2024, hlm. 24
  256. ↑ IPCC AR6 WG2 Ch5 2022, hlm. 748
  257. ↑ IPCC AR6 WG2 Technical Summary 2022, hlm. 63
  258. ↑ DeFries et al. 2019, hlm. 3; Krogstrup & Oman 2019, hlm. 10.
  259. 1 2 Women's leadership and gender equality in climate action and disaster risk reduction in Africa − A call for action. Accra: FAO & The African Risk Capacity (ARC) Group. 2021. doi:10.4060/cb7431en. ISBN 978-92-5-135234-2.
  260. ↑ IPCC AR5 WG2 Ch13 2014, hlm. 796–797
  261. ↑ IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 725
  262. ↑ Hallegatte et al. 2016, hlm. 12.
  263. ↑ IPCC AR5 WG2 Ch13 2014, hlm. 796.
  264. ↑ Grabe, Grose and Dutt, 2014; FAO, 2011; FAO, 2021a; Fisher and Carr, 2015; IPCC, 2014; Resurrección et al., 2019; UNDRR, 2019; Yeboah et al., 2019.
  265. ↑ "Climate Change | United Nations For Indigenous Peoples". United Nations Department of Economic and Social Affairs. Diakses tanggal 29 April 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  266. ↑ Mach et al. 2019.
  267. 1 2 The status of women in agrifood systems – Overview (PDF). Rome: FAO. 2023. doi:10.4060/cc5060en. 20px-Definition_of_Free_Cultural_Works_logo_notext.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC BY-SA 3.0License statement: Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan.
  268. ↑ "Climate shocks threaten $2.3 trillion global sports economy, study warns". CNA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  269. ↑ IPCC SROCC Ch4 2019, hlm. 328.
  270. ↑ UNHCR 2011, hlm. 3.
  271. ↑ Matthews 2018, hlm. 399.
  272. ↑ Balsari, Dresser & Leaning 2020
  273. ↑ Cattaneo et al. 2019; IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 15, 53
  274. ↑ Flavell 2014, hlm. 38; Kaczan & Orgill-Meyer 2020
  275. ↑ Serdeczny et al. 2016.
  276. ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 439, 464.
  277. ↑ National Oceanic and Atmospheric Administration. "What is nuisance flooding?". Diakses tanggal April 8, 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  278. ↑ Kabir et al. 2016.
  279. ↑ Vautard et al. 2020.
  280. ↑ IPCC AR5 SYR Glossary 2014, hlm. 125.
  281. ↑ IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 12
  282. ↑ IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 15
  283. ↑ United Nations Environment Programme 2019, hlm. XX
  284. ↑ United Nations Environment Programme 2024, hlm. 33, 34.
  285. ↑ IPCC AR6 WG3 Ch3 2022, hlm. 300: "The global benefits of pathways limiting warming to 2 °C (>67%) outweigh global mitigation costs over the 21st century, if aggregated economic impacts of climate change are at the moderate to high end of the assessed range, and a weight consistent with economic theory is given to economic impacts over the long term. This holds true even without accounting for benefits in other sustainable development dimensions or nonmarket damages from climate change (medium confidence)."
  286. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 109.
  287. ↑ Teske, ed. 2019, hlm. xxiii.
  288. ↑ World Resources Institute, 8 August 2019
  289. ↑ IPCC SR15 Ch3 2018, hlm. 266: "Where reforestation is the restoration of natural ecosystems, it benefits both carbon sequestration and conservation of biodiversity and ecosystem services."
  290. ↑ Bui et al. 2018, hlm. 1068; IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 17
  291. ↑ IPCC SR15 2018, hlm. 34; IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 17
  292. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch5 2021, hlm. 768
  293. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 619
  294. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 624
  295. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 629
  296. 1 2 IPCC AR6 WG3 Ch14 2022, hlm. 1494
  297. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 625
  298. ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 625–627
  299. ↑ Friedlingstein et al. 2019
  300. ↑ "GCB 2025". Global Carbon Budget. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) GCB links to downloadable data at "Figures from the Global Carbon Budget 2025 / 34: Global energy use by category". CICERO Center for International Climate Research. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  301. 1 2 United Nations Environment Programme 2019, hlm. 46; Vox, 20 September 2019; Sepulveda, Nestor A.; Jenkins, Jesse D.; De Sisternes, Fernando J.; Lester, Richard K. (2018). "The Role of Firm Low-Carbon Electricity Resources in Deep Decarbonization of Power Generation". Joule. 2 (11): 2403–2420. Bibcode:2018Joule...2.2403S. doi:10.1016/j.joule.2018.08.006.
  302. ↑ IEA World Energy Outlook 2023, hlm. 18
  303. ↑ REN21 2020, hlm. 32, Fig.1.
  304. ↑ IEA World Energy Outlook 2023, hlm. 18, 26
  305. ↑ "Record Growth in Renewables, but Progress Needs to be Equitable". IRENA. 27 Maret 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  306. ↑ IEA 2021, hlm. 57, Fig 2.5; Teske et al. 2019, hlm. 180, Table 8.1
  307. ↑ Our World in Data-Why did renewables become so cheap so fast?; IEA – Projected Costs of Generating Electricity 2020
  308. ↑ "IPCC Working Group III report: Mitigation of Climate Change". Intergovernmental Panel on Climate Change. 4 April 2022. Diakses tanggal 19 Januari 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  309. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 131, Figure 2.15
  310. ↑ Teske 2019, hlm. 409–410.
  311. ↑ United Nations Environment Programme 2019, hlm. XXIII, Table ES.3; Teske, ed. 2019, hlm. xxvii, Fig.5.
  312. 1 2 IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 142–144; United Nations Environment Programme 2019, Table ES.3 & p. 49
  313. ↑ "Transport emissions". Climate action. European Commission. 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2021. Diakses tanggal 2 Januari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  314. ↑ IPCC AR5 WG3 Ch9 2014, hlm. 697; NREL 2017, hlm. vi, 12
  315. ↑ Berrill et al. 2016.
  316. ↑ IPCC SR15 Ch4 2018, hlm. 324–325.
  317. ↑ Gill, Matthew; Livens, Francis; Peakman, Aiden. "Nuclear Fission". Dalam Letcher (2020), pp. 147–149.
  318. ↑ Horvath, Akos; Rachlew, Elisabeth (Januari 2016). "Nuclear power in the 21st century: Challenges and possibilities". Ambio. 45 (Suppl 1): S38–49. Bibcode:2016Ambio..45S..38H. doi:10.1007/s13280-015-0732-y. ISSN 1654-7209. PMC 4678124. PMID 26667059.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  319. ↑ "Hydropower". iea.org. International Energy Agency. Diakses tanggal 12 Oktober 2020. Hydropower generation is estimated to have increased by over 2% in 2019 owing to continued recovery from drought in Latin America as well as strong capacity expansion and good water availability in China (...) capacity expansion has been losing speed. This downward trend is expected to continue, due mainly to less large-project development in China and Brazil, where concerns over social and environmental impacts have restricted projects.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  320. ↑ Watts et al. 2019, hlm. 1854; WHO 2018, hlm. 27
  321. ↑ Watts et al. 2019, hlm. 1837; WHO 2016
  322. ↑ WHO 2018, hlm. 27; Vandyck et al. 2018; IPCC SR15 2018, hlm. 97: "Limiting warming to 1.5 °C can be achieved synergistically with poverty alleviation and improved energy security and can provide large public health benefits through improved air quality, preventing millions of premature deaths. However, specific mitigation measures, such as bioenergy, may result in trade-offs that require consideration."
  323. ↑ IPCC AR6 WG3 2022, hlm. 300
  324. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 97
  325. ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 29; IEA 2020b
  326. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 155, Fig. 2.27
  327. ↑ IEA 2020b
  328. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 142
  329. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 138–140
  330. ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 141–142
  331. ↑ IPCC AR5 WG3 Ch9 2014, hlm. 686–694.
  332. ↑ World Resources Institute, December 2019, hlm. 1
  333. ↑ World Resources Institute, December 2019, hlm. 1, 3
  334. ↑ IPCC SRCCL 2019, hlm. 22, B.6.2
  335. ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 487, 488, FIGURE 5.12 Humans on a vegan exclusive diet would save about 7.9 GtCO2 equivalent per year by 2050 IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 51 Agriculture, Forestry and Other Land Use used an average of 12 GtCO2 per year between 2007 and 2016 (23% of total anthropogenic emissions).
  336. ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 82, 162, FIGURE 1.1
  337. ↑ "Low and zero emissions in the steel and cement industries" (PDF). hlm. 11, 19–22.
  338. 1 2 3 Lebling, Katie; Gangotra, Ankita; Hausker, Karl; Byrum, Zachary (13 November 2023). "7 Things to Know About Carbon Capture, Utilization and Sequestration" (dalam bahasa Inggris). World Resources Institute.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)60px-CC_BY_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Text was copied from this source, which is available under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
  339. ↑ IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, hlm. 38
  340. ↑ World Resources Institute, 8 August 2019: IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 189–193.
  341. ↑ Kreidenweis et al. 2016
  342. ↑ National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine 2019, hlm. 95–102
  343. ↑ National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine 2019, hlm. 45–54
  344. ↑ Nelson, J. D. J.; Schoenau, J. J.; Malhi, S. S. (1 Oktober 2008). "Soil organic carbon changes and distribution in cultivated and restored grassland soils in Saskatchewan". Nutrient Cycling in Agroecosystems. 82 (2): 137–148. Bibcode:2008NCyAg..82..137N. doi:10.1007/s10705-008-9175-1.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  345. ↑ Ruseva et al. 2020
  346. ↑ IPCC AR5 SYR 2014, hlm. 125; Bednar, Obersteiner & Wagner 2019.
  347. ↑ IPCC SR15 2018, hlm. 34
  348. ↑ IPCC, 2022: Summary for Policymakers [H.-O. Pörtner, D. C. Roberts, E. S. Poloczanska, K. Mintenbeck, M. Tignor, A. Alegría, M. Craig, S. Langsdorf, S. Löschke, V. Möller, A. Okem (eds.)]. In: Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [H.-O. Pörtner, D. C. Roberts, M. Tignor, E. S. Poloczanska, K. Mintenbeck, A. Alegría, M. Craig, S. Langsdorf, S. Löschke, V. Möller, A. Okem, B. Rama (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge and New York, pp. 3–33, DOI:10.1017/9781009325844.001.
  349. ↑ IPCC AR5 SYR 2014, hlm. 17.
  350. ↑ IPCC SR15 Ch4 2018, hlm. 396–397.
  351. ↑ IPCC AR4 WG2 Ch19 2007, hlm. 796.
  352. ↑ UNEP 2018, hlm. xii–xiii.
  353. ↑ Stephens, Scott A.; Bell, Robert G.; Lawrence, Judy (2018). "Developing signals to trigger adaptation to sea-level rise". Environmental Research Letters. 13 (10). 104004. Bibcode:2018ERL....13j4004S. doi:10.1088/1748-9326/aadf96. ISSN 1748-9326.
  354. ↑ Matthews 2018, hlm. 402.
  355. ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 439.
  356. ↑ Surminski, Swenja; Bouwer, Laurens M.; Linnerooth-Bayer, Joanne (2016). "How insurance can support climate resilience". Nature Climate Change. 6 (4): 333–334. Bibcode:2016NatCC...6..333S. doi:10.1038/nclimate2979.
  357. ↑ IPCC SR15 Ch4 2018, hlm. 336–337.
  358. ↑ "Mangroves against the storm". Shorthand (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Januari 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  359. ↑ "How marsh grass could help protect us from climate change". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). 24 Oktober 2021. Diakses tanggal 20 Januari 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  360. ↑ Morecroft, Michael D.; Duffield, Simon; Harley, Mike; Pearce-Higgins, James W.; et al. (2019). "Measuring the success of climate change adaptation and mitigation in terrestrial ecosystems". Science. 366 (6471) eaaw9256. doi:10.1126/science.aaw9256. PMID 31831643.
  361. ↑ Berry, Pam M.; Brown, Sally; Chen, Minpeng; Kontogianni, Areti; et al. (2015). "Cross-sectoral interactions of adaptation and mitigation measures". Climate Change. 128 (3): 381–393. Bibcode:2015ClCh..128..381B. doi:10.1007/s10584-014-1214-0. hdl:10.1007/s10584-014-1214-0.
  362. ↑ IPCC AR5 SYR 2014, hlm. 54.
  363. ↑ Sharifi, Ayyoob (2020). "Trade-offs and conflicts between urban climate change mitigation and adaptation measures: A literature review". Journal of Cleaner Production. 276 122813. Bibcode:2020JCPro.27622813S. doi:10.1016/j.jclepro.2020.122813.
  364. ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 17, Section 3
  365. ↑ IPCC SR15 Ch5 2018, hlm. 447; United Nations (2017) Resolution adopted by the General Assembly on 6 July 2017, Work of the Statistical Commission pertaining to the 2030 Agenda for Sustainable Development (A/RES/71/313)
  366. ↑ IPCC SR15 Ch5 2018, hlm. 477.
  367. ↑ Rauner et al. 2020
  368. ↑ Mercure et al. 2018
  369. ↑ World Bank, June 2019, hlm. 12, Box 1
  370. ↑ Union of Concerned Scientists, 8 January 2017; Hagmann, Ho & Loewenstein 2019.
  371. ↑ Watts et al. 2019, hlm. 1866
  372. ↑ UN Human Development Report 2020, hlm. 10
  373. ↑ International Institute for Sustainable Development 2019, hlm. iv
  374. ↑ ICCT 2019, hlm. iv; Natural Resources Defense Council, 29 September 2017
  375. ↑ National Conference of State Legislators, 17 April 2020; European Parliament, February 2020
  376. ↑ "Building a Climate Coalition: Aligning Carbon Pricing, Trade, and Development". The Salata Institute (dalam bahasa Inggris). 16 September 2025. Diakses tanggal 7 Oktober 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  377. ↑ "Carbon Market Coalition Welcomes 18 Member Countries at COP30". COP30 Brasil Amazonia Belem 2025. Diakses tanggal 20 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  378. ↑ Coppenborge, Florentine (16 Januari 2026). "A coalition on compliance carbon markets to make climate clubs politically feasible". Nature Climate Change. 16 (3): 232–233. Bibcode:2026NatCC..16..232K. doi:10.1038/s41558-025-02541-5. Diakses tanggal 16 Januari 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  379. ↑ Carbon Brief, 16 October 2021
  380. ↑ Khalfan, Ashfaq; Nilsson Lewis, Astrid; Aguilar, Carlos; Persson, Jaqueline; Lawson, Max; Dabi, Nafkote; Jayoussi, Safa; Acharya, Sunil (2023). Climate Equality: A planet for the 99% (Laporan). doi:10.21201/2023.000001. hdl:10546/621551.
  381. ↑ Grasso, Marco; Heede, Richard (19 Mei 2023). "Time to pay the piper: Fossil fuel companies' reparations for climate damages". One Earth. 6 (5): 459–463. Bibcode:2023OEart...6..459G. doi:10.1016/j.oneear.2023.04.012. hdl:10281/416137.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  382. ↑ Carbon Brief, 4 Jan 2017.
  383. 1 2 Friedlingstein et al. 2019, Table 7.
  384. ↑ "GCB 2025". Global Carbon Budget. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) GCB links to downloadable data at "Figures from the Global Carbon Budget 2025 / 73: Global CO2 emissions by region". CICERO Center for International Climate Research. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  385. ↑ "GCB 2025". Global Carbon Budget. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) GCB links to downloadable data at "Figures from the Global Carbon Budget 2025 / 74: Global CO2 emissions per capita". CICERO Center for International Climate Research. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  386. ↑ UNFCCC, "What is the United Nations Framework Convention on Climate Change?"
  387. ↑ UNFCCC 1992, Article 2.
  388. ↑ IPCC AR4 WG3 Ch1 2007, hlm. 97.
  389. ↑ EPA 2019.
  390. ↑ UNFCCC, "What are United Nations Climate Change Conferences?"
  391. ↑ Kyoto Protocol 1997; Liverman 2009, hlm. 290.
  392. ↑ Dessai 2001, hlm. 4; Grubb 2003.
  393. ↑ Liverman 2009, hlm. 290.
  394. ↑ Müller 2010; The New York Times, 25 May 2015; UNFCCC: Copenhagen 2009; EUobserver, 20 December 2009.
  395. ↑ UNFCCC: Copenhagen 2009.
  396. ↑ Conference of the Parties to the Framework Convention on Climate Change. Copenhagen. 7–18 Desember 2009. FCCC/CP/2009/L.7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Oktober 2010. Diakses tanggal 24 Oktober 2010.{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  397. ↑ Bennett, Paige (2 Mei 2023). "High-Income Nations Are on Track Now to Meet $100 Billion Climate Pledges, but They're Late". Ecowatch. Diakses tanggal 10 Mei 2023.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  398. ↑ Paris Agreement 2015.
  399. ↑ Climate Focus 2015, hlm. 3; Carbon Brief, 8 October 2018.
  400. ↑ Climate Focus 2015, hlm. 5.
  401. ↑ "Status of Treaties, United Nations Framework Convention on Climate Change". United Nations Treaty Collection. Diakses tanggal 31 Maret 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link); Salon, 25 September 2019.
  402. ↑ Velders et al. 2007; Young et al. 2021
  403. ↑ WMO SAOD Executive Summary 2022, hlm. 20, 31
  404. ↑ WMO SAOD Executive Summary 2022, hlm. 20, 35; Young et al. 2021
  405. ↑ Goyal et al. 2019; Velders et al. 2007
  406. ↑ Carbon Brief, 21 November 2017
  407. ↑ WMO SAOD Executive Summary 2022, hlm. 15; Velders et al. 2022
  408. ↑ "Annual CO2 emissions by world region" (chart). ourworldindata.org. Our World in Data. Diakses tanggal 18 September 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  409. ↑ BBC, 1 May 2019; Vice, 2 May 2019.
  410. ↑ The Verge, 27 December 2019.
  411. ↑ The Guardian, 28 November 2019
  412. ↑ Politico, 11 December 2019.
  413. ↑ "European Green Deal: Commission proposes transformation of EU economy and society to meet climate ambitions". European Commission. 14 Juli 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  414. ↑ The Guardian, 28 October 2020
  415. ↑ "India". Climate Action Tracker. 15 September 2021. Diakses tanggal 3 Oktober 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  416. ↑ Do, Thang Nam; Burke, Paul J. (2023). "Phasing out coal power in a developing country context: Insights from Vietnam". Energy Policy. 176 (May 2023 113512) 113512. Bibcode:2023EnPol.17613512D. doi:10.1016/j.enpol.2023.113512. hdl:1885/286612.
  417. ↑ UN NDC Synthesis Report 2021, hlm. 4–5; UNFCCC Press Office (26 Februari 2021). "Greater Climate Ambition Urged as Initial NDC Synthesis Report Is Published". Diakses tanggal 21 April 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  418. ↑ Stover 2014.
  419. ↑ Dunlap & McCright 2011, hlm. 144, 155; Björnberg et al. 2017
  420. ↑ Oreskes & Conway 2010; Björnberg et al. 2017
  421. ↑ O'Neill & Boykoff 2010; Björnberg et al. 2017
  422. 1 2 Björnberg et al. 2017
  423. ↑ Dunlap & McCright 2015, hlm. 308.
  424. ↑ Dunlap & McCright 2011, hlm. 146.
  425. ↑ Harvey et al. 2018
  426. ↑ "Public perceptions on climate change" (PDF). PERITIA Trust EU – The Policy Institute of King's College London. Juni 2022. hlm. 4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 15 Juli 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  427. 1 2 3 Powell, James (20 November 2019). "Scientists Reach 100% Consensus on Anthropogenic Global Warming". Bulletin of Science, Technology & Society. 37 (4): 183–184. doi:10.1177/0270467619886266.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  428. 1 2 Myers, Krista F.; Doran, Peter T.; Cook, John; Kotcher, John E.; Myers, Teresa A. (20 Oktober 2021). "Consensus revisited: quantifying scientific agreement on climate change and climate expertise among Earth scientists 10 years later". Environmental Research Letters. 16 (10): 104030. Bibcode:2021ERL....16j4030M. doi:10.1088/1748-9326/ac2774.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  429. 1 2 Weart "The Public and Climate Change (since 1980)"
  430. ↑ Newell 2006, hlm. 80; Yale Climate Connections, 2 November 2010
  431. ↑ Pew 2015, hlm. 10.
  432. ↑ Preston, Caroline; Hechinger (1 Oktober 2023). "In Some Textbooks, Climate Change Content Is Few and Far Between". undark.org/.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  433. ↑ Pew 2020.
  434. ↑ Pew 2015, hlm. 15.
  435. ↑ Yale 2021, hlm. 7.
  436. ↑ Gulliver, Robyn (3 November 2021). "A Comparative Analysis of Australian Media Coverage of the 2019 Climate Protests". The Commons Social Change Library (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 5 Maret 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  437. ↑ Smith & Leiserowitz 2013, hlm. 943.
  438. ↑ Pew 2020; UNDP 2024, hlm. 22–26
  439. ↑ Yale 2021, hlm. 9; UNDP 2021, hlm. 15.
  440. ↑ Gunningham 2018.
  441. ↑ Hartley, Sophie (10 Oktober 2023). "Climate Activism: Start Here". The Commons Social Change Library (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 5 Maret 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  442. ↑ The Guardian, 19 March 2019; Boulianne, Lalancette & Ilkiw 2020.
  443. ↑ Deutsche Welle, 22 June 2019.
  444. ↑ Connolly, Kate (29 April 2021). "'Historic' German ruling says climate goals not tough enough". The Guardian. Diakses tanggal 1 Mei 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  445. ↑ Setzer & Byrnes 2019.
  446. ↑ "Obligations of States in respect of Climate Change" (PDF). ICJ-CIJ.org. 23 Juli 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  447. ↑ "Summary: Obligations of States in respect of Climate Change" (PDF). ICJ-CIJ.org. 23 Juli 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  448. ↑ "Press Release: Obligations of States in respect of Climate Change" (PDF). ICJ-CIJ.org. 23 Juli 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  449. ↑ Foote, Eunice (November 1856). "Circumstances affecting the Heat of the Sun's Rays". The American Journal of Science and Arts. 22: 382–383. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2020. Diakses tanggal 31 Januari 2016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  450. ↑ Nord, D. C. (2020). Nordic Perspectives on the Responsible Development of the Arctic: Pathways to Action. Springer Polar Sciences. Springer International Publishing. hlm. 51. ISBN 978-3-030-52324-4. Diakses tanggal 11 Maret 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  451. ↑ Van Der Gun, Jac (2021). "Groundwater resources sustainability". Global Groundwater. hlm. 331–345. doi:10.1016/B978-0-12-818172-0.00024-4. ISBN 978-0-12-818172-0.
  452. ↑ von Humboldt, A.; Wulf, A. (2018). Selected Writings of Alexander von Humboldt: Edited and Introduced by Andrea Wulf. Everyman's Library Classics Series. Knopf Doubleday Publishing Group. hlm. 10. ISBN 978-1-101-90807-5. Diakses tanggal 11 Maret 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  453. ↑ Erdkamp, Paul; Manning, Joseph G.; Verboven, Koenraad (2021). Climate Change and Ancient Societies in Europe and the Near East: Diversity in Collapse and Resilience. Palgrave Studies in Ancient Economies. Springer International Publishing. hlm. 6. ISBN 978-3-030-81103-7. Diakses tanggal 11 Maret 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  454. ↑ Archer & Pierrehumbert 2013, hlm. 10–14
  455. ↑ Foote, Eunice (November 1856). "Circumstances affecting the Heat of the Sun's Rays". The American Journal of Science and Arts. 22: 382–383. Diakses tanggal 31 Januari 2016 – via Google Books.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  456. ↑ Huddleston 2019
  457. ↑ "Coal Consumption Affecting Climate". Rodney and Otamatea Times, Waitemata and Kaipara Gazette. Warkworth, New Zealand. 14 Agustus 1912. hlm. 7.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Text was earlier published in Popular Mechanics, March 1912, p. 341.
  458. ↑ Tyndall 1861.
  459. ↑ Archer & Pierrehumbert 2013, hlm. 39–42; Fleming 2008, Tyndall
  460. ↑ Lapenis 1998.
  461. 1 2 3 Weart "The Carbon Dioxide Greenhouse Effect"; Fleming 2008, Arrhenius
  462. ↑ Callendar 1938; Fleming 2007.
  463. ↑ Cook, John; Oreskes, Naomi; Doran, Peter T.; Anderegg, William R. L.; et al. (2016). "Consensus on consensus: a synthesis of consensus estimates on human-caused global warming". Environmental Research Letters. 11 (4) 048002. Bibcode:2016ERL....11d8002C. doi:10.1088/1748-9326/11/4/048002. hdl:1983/34949783-dac1-4ce7-ad95-5dc0798930a6.
  464. ↑ Weart "Suspicions of a Human-Caused Greenhouse (1956–1969)"
  465. ↑ Charney, Jule; Arakawa, Akio; Baker, D. James; Bolin, Bert; Dickinson, Robert E; Goody, Richard M; Leith, Cecil; Stommel, Henry; Wunsch, Carl (1979). Carbon Dioxide and Climate: A Scientific Assessment. National Academies Press. doi:10.17226/12181. ISBN 978-0-309-11910-8. Diarsipkan dari asli tanggal 24 April 2024.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  466. ↑ Shabecoff, Philip (24 Juni 1988). "Global Warming Has Begun, Expert Tells Senate". New York Times. hlm. 1. Diakses tanggal 1 Agustus 2012. ...Dr. James E. Hansen of the National Aeronautics and Space Administration told a Congressional committee that it was 99 percent certain that the warming trend was not a natural variation but was caused by a buildup of carbon dioxide and other artificial gases in the atmosphere.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  467. ↑ Weart 2013, hlm. 3567.
  468. ↑ Royal Society 2005.
  469. ↑ National Academies 2008, hlm. 2; Oreskes 2007, hlm. 68; Gleick, 7 January 2017
  470. ↑ Joint statement of the G8+5 Academies (2009); Gleick, 7 January 2017.
  471. 1 2 Herring, Stephanie C.; Hoell, Andrew; Hoerling, Martin P.; Kossin, James P.; Schreck III, Carl J.; Stott, Peter A. (1 Desember 2016). "Bulletin of the American Meteorological Society / Introduction to Explaining Extreme Events of 2015 from a Climate Perspective". American Meteorological Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  472. ↑ Attribution of Extreme Weather Events in the Context of Climate Change. Washington, D.C.: The National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (NASEM). 2016. Bibcode:2016nap..book21852N. doi:10.17226/21852. ISBN 978-0-309-38094-2.
  473. ↑ McSweeney, Robert; Tandon, Ayesha (18 November 2024). "Mapped: How climate change affects extreme weather around the world". Climate Central. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Juni 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  474. ↑ Clarke, Ben; Otto, Friederike (2021). "Reporting extreme weather and climate change A guide for journalists" (PDF). World Weather Attribution. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Juni 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  475. 1 2 Sneed, Annie (2 Januari 2017). "Yes, Some Extreme Weather Can Be Blamed on Climate Change". Scientific American. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Januari 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Sumber

Laporan IPCC

Laporan Penilaian Keempat

Laporan Penilaian Kelima

Laporan Khusus tentang Pemanasan Global 1,5 °C

Laporan Khusus tentang Perubahan Iklim dan Lahan

Laporan Khusus tentang Samudra dan Kriosfer dalam Perubahan Iklim

Laporan Penilaian Keenam

Sumber berpenilaian sejawat lainnya

Books, reports and legal documents

Sumber nonteknis

Pranala luar

Scholia memiliki profil tentang Perubahan iklim (Q125928).
Ikhtisar
Ikhtisar
Sumber
Sejarah
Fisik
Flora dan fauna
Sosial dan ekonomi
Berdasarkan negara dan wilayah
Ekonomi dan keuangan
Energi
Memelihara dan meningkatkan
penyerap karbon
Lainnya
Masyarakat dan adaptasi
Masyarakat
Adaptasi
Komunikasi
Perjanjian internasional
Latar belakang dan teori
Pengukuran
Teori
Penelitian dan pemodelan
Umum
Penyebab
Dampak
Mitigasi
Atmosfer
Iklim
Benua
Budaya dan masyarakat
Lingkungan
Geodesi
Geofisika
Geologi
Samudra
Ilmu planet
Temukan informasi lain di
proyek saudari Wikimedia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan