Perubahan iklim masa kini mencakup pemanasan global, yaitu peningkatan suhu rata-rata global yang terus berlanjut, serta dampak yang lebih luas terhadap sistem iklim Bumi. Dalam arti yang lebih luas, perubahan iklim juga mencakup perubahan jangka panjang sebelumnya pada iklim Bumi. Kenaikan suhu global pada era modern didorong oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam) sejak Revolusi Industri.[4][5] Penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, serta beberapa praktik pertanian dan industri melepaskan gas rumah kaca.[6] Gas-gas ini menyerap sebagian panas yang dipancarkan Bumi setelah terpapar sinar matahari, sehingga menghangatkan atmosfer bagian bawah. Atmosfer Bumi saat ini mengandung sekitar 50% lebih banyak karbon dioksida, yaitu gas utama pemicu pemanasan global, dibandingkan pada akhir era praindustri, mencapai tingkat yang belum pernah terjadi selama jutaan tahun.[7]
Perubahan iklim membawa dampak yang kian besar terhadap lingkungan. Gelombang panas dan kebakaran hutan menjadi semakin sering terjadi.[8] Pemanasan teramplifikasi di Arktik telah berkontribusi pada mencairnya permafrost, penyusutan gletser, dan penurunan es laut.[9] Suhu yang lebih tinggi juga menyebabkan badai yang lebih intens, kekeringan, serta cuaca ekstrem lainnya.[10] Perubahan lingkungan yang cepat di pegunungan, terumbu karang, dan Arktik memaksa banyak spesies untuk berpindah tempat atau mengalami kepunahan.[11] Bahkan jika upaya untuk meminimalkan pemanasan di masa depan berhasil, sebagian dampaknya akan terus berlanjut selama berabad-abad, seperti pemanasan samudera, pengasaman laut, dan Kenaikan permukaan laut.[12]
Perubahan iklim mengancam kehidupan manusia melalui peningkatan banjir, panas ekstrem, kelangkaan pangan dan air, penyebaran penyakit, serta kerugian ekonomi.[13] Migrasi manusia dan konflik juga dapat terjadi akibat perubahan ini.[14] Organisasi Kesehatan Dunia menyebut perubahan iklim sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global pada abad ke-21.[15] Masyarakat dan ekosistem akan menghadapi risiko yang lebih parah tanpa adanya tindakan untuk membatasi pemanasan.[16] Adaptasi terhadap perubahan iklim melalui berbagai upaya seperti pengendalian banjir atau pengembangan tanaman tahan kekeringan dapat mengurangi sebagian risiko perubahan iklim, meskipun beberapa batas adaptasi telah tercapai.[17] Komunitas yang lebih miskin hanya menyumbang sebagian kecil emisi global, tetapi memiliki kemampuan paling rendah untuk beradaptasi dan paling rentan terhadap perubahan iklim.[18][19]
Banyak dampak perubahan iklim telah teramati dalam beberapa dekade pertama abad ke-21, dengan tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam rekor yaitu sebesar +160 °C (290 °F) sejak pemantauan rutin dimulai pada tahun 1850.[21][22] Pemanasan tambahan akan memperparah dampak-dampak ini dan dapat memicu titik kritis, seperti mencairnya seluruh lapisan es Greenland.[23] Di bawah Persetujuan Paris tahun 2015, negara-negara secara kolektif sepakat untuk menjaga pemanasan "jauh di bawah 2 °C". Namun, berdasarkan janji komitmen yang dibuat dalam persetujuan tersebut, pemanasan global diperkirakan masih akan mencapai sekitar 28 °C (50 °F) pada akhir abad ini.[24]
Dukungan terhadap aksi iklim meluas di seluruh dunia,[25][26] dan sebagian besar negara bertujuan untuk menghentikan emisi karbon dioksida.[27] Penghentian penggunaan bahan bakar fosil dapat dilakukan dengan menghentikan subsidinya, menghemat energi, serta beralih ke sumber energi yang tidak menghasilkan polusi karbon secara signifikan. Sumber energi tersebut meliputi tenaga angin, surya, air, dan nuklir.[28] Listrik ramah lingkungan dapat menggantikan bahan bakar fosil untuk menggerakkan transportasi, memanaskan bangunan, dan menjalankan proses industri.[29] Karbon juga dapat dihilangkan dari atmosfer, misalnya dengan meningkatkan tutupan hutan dan menerapkan metode pertanian yang menyimpan karbon di dalam tanah.[30][31][32]
Terminologi
Sebelum dekade 1980-an, belum jelas apakah efek pemanasan dari peningkatan gas rumah kaca lebih kuat daripada efek pendinginan dari partikel udara dalam polusi udara. Pada masa itu, para ilmuwan menggunakan istilah inadvertent climate modification (modifikasi iklim yang tidak disengaja) untuk merujuk pada dampak manusia terhadap iklim.[33] Pada dekade 1980-an, istilah pemanasan global dan perubahan iklim menjadi lebih umum serta sering digunakan secara bergantian.[34][35][36] Secara ilmiah, pemanasan global hanya merujuk pada peningkatan suhu rata-rata permukaan global, sedangkan perubahan iklim menggambarkan pemanasan global sekaligus dampaknya terhadap sistem iklim Bumi, seperti perubahan curah hujan.[33]
Istilah perubahan iklim juga dapat digunakan secara lebih luas untuk mencakup perubahan pada iklim yang telah terjadi sepanjang sejarah Bumi sebagai akibat dari proses alami.[37] Istilah perubahan iklim antropogenik terkadang digunakan untuk menggambarkan perubahan iklim yang dihasilkan dari aktivitas manusia.[38]
Istilah pemanasan global, yang telah digunakan sejak tahun 1975,[39] menjadi lebih populer setelah ilmuwan iklim NASA James Hansen menggunakannya dalam kesaksiannya di Senat AS pada tahun 1988.[40] Sejak dekade 2000-an, penggunaan istilah perubahan iklim semakin meningkat.[41] Berbagai ilmuwan, politisi, dan media dapat menggunakan istilah krisis iklim atau darurat iklim untuk membicarakan perubahan iklim, serta menggunakan istilah pemanasan Bumi (global heating) sebagai pengganti pemanasan global (global warming).[42][43]
Kenaikan suhu global
Suhu sebelum pemanasan global masa kini

Selama beberapa juta tahun terakhir, iklim berosilasi melalui zaman es. Salah satu periode yang lebih hangat adalah Antarglasial Terakhir, sekitar 125.000 tahun yang lalu, ketika suhu berada di antara 0,5 °C dan 1,5 °C lebih hangat dibandingkan sebelum munculnya pemanasan global.[46] Pada periode ini, permukaan laut berada 5 hingga 10 meter lebih tinggi daripada saat ini. Maksimum glasial terakhir pada 20.000 tahun yang lalu memiliki suhu sekitar 5–7 °C lebih dingin, dengan permukaan laut yang lebih rendah hingga 125 meter (410 ft) dibandingkan saat ini.[47]
Suhu mulai stabil pada periode antarglasial saat ini yang dimulai sejak 11.700 tahun yang lalu.[48] Periode ini juga menjadi awal berkembangnya pertanian.[49] Pola pemanasan dan pendinginan historis, seperti Periode Hangat Abad Pertengahan dan Zaman Es Kecil, tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah. Di sejumlah daerah terbatas, suhu mungkin pernah mencapai tingkat setinggi akhir abad ke-20.[50][51] Informasi iklim untuk periode tersebut diperoleh dari proksi iklim, seperti lingkaran pohon dan inti es.[52][53]
Pemanasan sejak Revolusi Industri


Sekitar tahun 1850, catatan termometer mulai memberikan cakupan secara global.[56] Antara abad ke-18 dan tahun 1970, terjadi sedikit pemanasan bersih karena dampak pemanasan dari emisi gas rumah kaca diimbangi oleh pendinginan dari emisi sulfur dioksida. Sulfur dioksida menyebabkan hujan asam, tetapi juga menghasilkan aerosol sulfat di atmosfer yang memantulkan sinar matahari dan menyebabkan peredupan global. Setelah tahun 1970, akumulasi gas rumah kaca yang terus meningkat serta pengendalian polusi sulfur menyebabkan kenaikan suhu yang nyata.[57][58]
Perubahan iklim yang sedang berlangsung saat ini belum pernah terjadi sebelumnya selama beberapa ribu tahun.[59] Bermacam kumpulan data menunjukkan peningkatan suhu permukaan di seluruh dunia dengan laju sekitar 0,2 °C per dekade.[60] Dekade 2016–2025 memanas hingga rata-rata 1,26 °C [1,13–1,36 °C] dibandingkan dengan garis dasar praindustri (1850–1900).[61] Tidak setiap tahun lebih hangat daripada tahun sebelumnya: proses variabilitas iklim internal dapat membuat tahun tertentu 0,2 °C lebih hangat atau lebih dingin daripada rata-rata.[62] Dari tahun 1998 hingga 2013, fase negatif dari dua proses tersebut, yaitu Osilasi Dekadal Pasifik (PDO)[63] dan Osilasi Multidekadal Atlantik (AMO),[64] menyebabkan periode pemanasan yang melambat dalam jangka pendek yang disebut sebagai "hiatus pemanasan global".[65] Setelah "hiatus" tersebut, hal sebaliknya terjadi, dengan tahun 2024 yang jauh di atas rata-rata baru-baru ini pada tingkat lebih dari +1,5 °C.[66] Hal inilah yang menyebabkan perubahan suhu didefinisikan dalam bentuk rata-rata 20 tahun, yang mengurangi derau tahun-tahun panas dan dingin serta pola iklim dekadal, sekaligus mendeteksi sinyal jangka panjang.[67]: 5 [68]
Berbagai pengamatan lainnya memperkuat bukti pemanasan ini.[69][70] Atmosfer bagian atas mengalami pendinginan karena gas rumah kaca memerangkap panas di dekat permukaan Bumi, sehingga lebih sedikit panas yang dipancarkan ke luar angkasa.[71] Pemanasan mengurangi tutupan salju rata-rata dan memaksa penyusutan gletser. Pada saat yang sama, pemanasan juga menyebabkan penguapan yang lebih besar dari samudera, yang mengakibatkan meningkatnya kelembapan atmosfer, serta presipitasi yang lebih banyak dan lebih lebat.[72][73] Tumbuhan berbunga lebih awal pada musim semi, dan ribuan spesies hewan berpindah secara permanen ke wilayah yang lebih dingin.[74]
Perbedaan berdasarkan wilayah
Berbagai wilayah di dunia memanas dengan laju yang berbeda-beda. Pola ini tidak bergantung pada tempat gas rumah kaca dipancarkan, karena gas-gas tersebut bertahan cukup lama untuk menyebar ke seluruh planet. Sejak periode praindustri, suhu permukaan rata-rata di wilayah daratan telah meningkat hampir dua kali lebih cepat dibandingkan suhu permukaan rata-rata global.[75] Hal ini terjadi karena samudera kehilangan lebih banyak panas melalui penguapan dan samudera dapat menyimpan banyak panas.[76] Energi termal dalam sistem iklim global telah meningkat dengan hanya jeda singkat sejak setidaknya tahun 1970, dan lebih dari 90% dari energi tambahan ini disimpan di samudera.[77][78] Sisanya telah memanaskan atmosfer, mencairkan es, dan memanaskan benua.[79]
Belahan Bumi Utara dan Kutub Utara memanas jauh lebih cepat dibandingkan Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan. Belahan Bumi Utara tidak hanya memiliki jauh lebih banyak daratan, tetapi juga lebih banyak tutupan salju musiman dan es laut. Seiring permukaan ini berubah dari memantulkan banyak cahaya menjadi gelap setelah es mencair, permukaan tersebut mulai menyerap lebih banyak panas.[80] Endapan karbon hitam lokal pada salju dan es juga berkontribusi pada pemanasan Arktik.[81] Suhu permukaan Arktik meningkat antara tiga hingga empat kali lebih cepat dibandingkan wilayah dunia lainnya.[82][83] Mencairnya lapisan es di dekat kutub memperlemah bagian Atlantik maupun Antartika dari sirkulasi termohalin, yang pada gilirannya makin mengubah distribusi panas dan presipitasi di seluruh bola dunia.[84][85][86][87]
Suhu global di masa depan

Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan terdapat hampir 50% peluang bahwa suhu global rata-rata lima tahunan akan melampaui +1,5 °C antara tahun 2024 dan 2028.[90] IPCC memperkirakan rata-rata 20 tahun akan melampaui +1,5 °C pada awal dekade 2030-an.[91]
Laporan Penilaian Keenam IPCC (2021) mencakup proyeksi bahwa pada tahun 2100, pemanasan global sangat mungkin mencapai 1,0–1,8 °C di bawah skenario emisi gas rumah kaca yang sangat rendah, 2,1–3,5 °C di bawah skenario emisi menengah, atau 3,3–5,7 °C di bawah skenario emisi yang sangat tinggi.[92] Pemanasan ini akan terus berlanjut melampaui tahun 2100 pada skenario emisi menengah dan tinggi,[93][94] dengan proyeksi suhu permukaan global di masa depan pada tahun 2300 yang serupa dengan kondisi jutaan tahun yang lalu.[95]
Sisa anggaran karbon untuk tetap berada di bawah ambang kenaikan suhu tertentu ditentukan dengan memodelkan siklus karbon dan sensitivitas iklim terhadap gas rumah kaca.[96] Menurut UNEP, pemanasan global dapat dijaga di bawah 2,0 °C dengan peluang 50% jika emisi setelah tahun 2023 tidak melebihi 900 gigaton CO2. Anggaran karbon ini setara dengan sekitar 16 tahun emisi saat ini.[97]
Penyebab kenaikan suhu global masa kini

Sistem iklim mengalami berbagai siklus secara alami yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun, berdekade-dekade, atau bahkan berabad-abad. Sebagai contoh, peristiwa El Niño menyebabkan lonjakan suhu permukaan dalam jangka pendek, sementara peristiwa La Niña menyebabkan pendinginan jangka pendek.[98] Frekuensi relatif dari kedua fenomena ini dapat memengaruhi tren suhu global dalam skala waktu dekadal.[99] Perubahan lainnya disebabkan oleh ketidakseimbangan energi akibat pemaksaan eksternal.[100] Contohnya meliputi perubahan konsentrasi gas rumah kaca, luminositas Matahari, letusan gunung berapi, dan variasi orbit Bumi mengelilingi Matahari.[101]
Untuk menentukan kontribusi manusia terhadap perubahan iklim, "sidik jari" unik dari setiap penyebab potensial dikembangkan dan dibandingkan dengan pola yang teramati serta variabilitas iklim internal yang diketahui.[102] Sebagai contoh, pemaksaan surya, yang sidik jarinya mencakup pemanasan seluruh lapisan atmosfer, dapat dikesampingkan karena hanya atmosfer bagian bawah yang mengalami pemanasan.[103] Aerosol atmosfer menghasilkan efek pendinginan yang lebih kecil. Faktor pendorong lainnya, seperti perubahan albedo, memiliki dampak yang kurang signifikan.[104]
Gas rumah kaca

Gas rumah kaca bersifat transparan terhadap sinar matahari, sehingga memungkinkan sinar tersebut menembus atmosfer untuk memanaskan permukaan Bumi. Bumi mempancarkannya kembali sebagai panas, dan gas rumah kaca menyerap sebagian dari panas tersebut. Penyerapan ini memperlambat laju terlepasnya panas ke luar angkasa, memerangkap panas di dekat permukaan Bumi, dan menghangatkannya seiring waktu.[105]
Meskipun uap air (≈50%) dan awan (≈25%) merupakan penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca, konsentrasinya terutama berubah sebagai fungsi dari suhu sehingga sebagian besar dianggap sebagai umpan balik yang mengubah sensitivitas iklim. Di sisi lain, konsentrasi gas-gas seperti CO2 (≈20%), ozon troposfer,[106] CFC, dan Dinitrogen oksida bertambah atau berkurang tanpa bergantung pada suhu, sehingga dianggap sebagai pemaksaan eksternal yang mengubah suhu global.[107]
Sebelum Revolusi Industri, jumlah gas rumah kaca yang terbentuk secara alami menyebabkan udara di dekat permukaan sekitar 33 °C lebih hangat daripada jika gas-gas tersebut tidak ada.[108][109] Aktivitas manusia sejak Revolusi Industri, utamanya ekstraksi dan pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam),[110] telah meningkatkan jumlah gas rumah kaca di atmosfer. Pada tahun 2022, konsentrasi CO2 dan metana masing-masing telah meningkat sekitar 50% dan 164% sejak tahun 1750.[111] Tingkat CO2 ini lebih tinggi daripada kapan pun selama 14 juta tahun terakhir, yaitu pada pertengahan era Kenozoikum.[112] Konsentrasi metana jauh lebih tinggi dibandingkan selama 800.000 tahun terakhir.[113]

Emisi gas rumah kaca global akibat kegiatan manusia pada tahun 2019 setara dengan 59 miliar ton CO2. Dari emisi tersebut, 75% merupakan CO2, 18% metana, 4% dinitrogen oksida, dan 2% gas terfluorinasi.[115] Emisi CO2 terutama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil untuk menyediakan energi bagi transportasi, manufaktur, pemanas, dan listrik.[6] Emisi CO2 tambahan berasal dari deforestasi serta proses industri, yang mencakup CO2 yang dilepaskan oleh reaksi kimia dalam pembuatan semen, baja, aluminium, dan pupuk.[116][117][118][119] Emisi metana berasal dari hewan ternak, lahan basah, kotoran ternak, budi daya padi, tempat pembuangan akhir, air limbah, dan penambangan batu bara, serta ekstraksi minyak dan gas.[120][121] Emisi dinitrogen oksida sebagian besar berasal dari penguraian mikroba pada pupuk.[122][123]
Meskipun metana hanya bertahan di atmosfer rata-rata selama 12 tahun,[124] CO2 bertahan jauh lebih lama. Permukaan Bumi menyerap CO2 sebagai bagian dari siklus karbon. Meskipun tumbuhan di daratan dan di samudera menyerap sebagian besar kelebihan emisi CO2 setiap tahun, CO2 tersebut dikembalikan ke atmosfer ketika materi biologis dicerna, terbakar, atau membusuk.[125] Proses penyerapan karbon di permukaan daratan, seperti fiksasi karbon di dalam tanah dan fotosintesis, menyerap sekitar 29% dari emisi CO2 global tahunan.[126] Samudera telah menyerap 20 hingga 30% dari CO2 yang dipancarkan selama dua dekade terakhir.[127] CO2 hanya dapat terhapus dari atmosfer dalam jangka panjang jika tersimpan di kerak Bumi, yaitu suatu proses yang membutuhkan waktu hingga jutaan tahun untuk selesai.[125]
Perubahan permukaan daratan

Sekitar 30% luas daratan Bumi sebagian besar tidak dapat digunakan oleh manusia (gletser, gurun, dll.), 26% berupa hutan, 10% berupa lahan semak, dan 34% berupa lahan pertanian.[129] Deforestasi merupakan kontributor perubahan penggunaan lahan utama terhadap pemanasan global,[130] karena pohon yang hancur melepaskan CO2 dan tidak digantikan oleh pohon baru, sehingga menghilangkan penyerap karbon tersebut.[131] Antara tahun 2001 dan 2018, sebanyak 27% deforestasi berasal dari pembersihan lahan secara permanen untuk memungkinkan ekspansi pertanian bagi tanaman pangan dan hewan ternak. Sebanyak 24% sisanya hilang akibat pembersihan sementara dalam sistem pertanian ladang berpindah. Sebanyak 26% disebabkan oleh pembalakan untuk kayu dan produk turunannya, sedangkan kebakaran hutan menyumbang 23% sisanya.[132] Beberapa hutan tidak dibabat sepenuhnya, tetapi telah mengalami degradasi akibat dampak-dampak tersebut. Pemulihan hutan-hutan ini juga mengembalikan potensinya sebagai penyerap karbon.[133]
Tutupan vegetasi lokal memengaruhi seberapa banyak sinar matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa (albedo) dan seberapa banyak panas yang hilang melalui penguapan. Sebagai contoh, perubahan dari hutan yang gelap menjadi padang rumput membuat permukaan menjadi lebih terang, sehingga memantulkan lebih banyak sinar matahari. Deforestasi juga dapat mengubah pelepasan senyawa kimia yang memengaruhi pembentukan awan serta dapat mengubah kekasaran permukaan Bumi dengan cara yang memengaruhi kecepatan angin.[134] Di wilayah tropis dan sedang, efek bersihnya adalah menghasilkan pemanasan yang signifikan, dan pemulihan hutan dapat membuat suhu lokal menjadi lebih sejuk.[133] Pada garis lintang yang lebih dekat ke kutub, terdapat efek pendinginan ketika hutan digantikan oleh dataran bersalju (yang lebih memantulkan cahaya).[134] Secara global, peningkatan albedo permukaan ini telah menjadi pengaruh langsung yang dominan terhadap suhu akibat perubahan penggunaan lahan. Dengan demikian, perubahan penggunaan lahan hingga saat ini diperkirakan memberikan efek pendinginan yang sedikit.[135]
Faktor-faktor lainnya
Aerosol dan awan
Polusi udara, dalam bentuk aerosol, memengaruhi iklim dalam skala besar.[136] Aerosol menyebarkan dan menyerap radiasi matahari. Dari tahun 1961 hingga 1990, pengurangan bertahap pada jumlah sinar matahari yang mencapai permukaan Bumi telah teramati. Fenomena ini secara populer dikenal sebagai peredupan global (global dimming),[137] dan utamanya disebabkan oleh aerosol sulfat yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dengan konsentrasi sulfur tinggi seperti batu bara dan minyak bunker.[58] Kontribusi yang lebih kecil berasal dari karbon hitam (dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa) serta dari debu.[138][139][140] Secara global, keberadaan aerosol telah menurun sejak tahun 1990 akibat pengendalian polusi, yang berarti bahwa aerosol tersebut tidak lagi menyamarkan pemanasan akibat gas rumah kaca sebanyak sebelumnya.[141][58]
Aerosol juga memiliki efek tidak langsung terhadap anggaran energi Bumi. Aerosol sulfat bertindak sebagai inti kondensasi awan dan menghasilkan awan yang memiliki tetesan awan yang lebih banyak dan lebih kecil. Awan-awan ini memantulkan radiasi matahari secara lebih efisien dibandingkan awan dengan tetesan yang lebih sedikit dan lebih besar.[142] Aerosol tersebut juga mengurangi pertumbuhan tetesan hujan, yang membuat awan menjadi lebih memantulkan sinar matahari yang datang.[143] Efek tidak langsung dari aerosol merupakan ketidakpastian terbesar dalam pemaksaan radiatif.[144]
Meskipun aerosol biasanya membatasi pemanasan global dengan memantulkan sinar matahari, karbon hitam dalam jelaga yang jatuh di atas salju atau es dapat berkontribusi pada pemanasan global. Kelebihan panas yang dihasilkan mempercepat pencairan lapisan es dan gletser, yang pada gilirannya berkontribusi secara signifikan terhadap kenaikan permukaan laut global.[145][146][147][81] Pembatasan endapan karbon hitam baru di Arktik dapat mengurangi pemanasan global sebesar 0,2 °C pada tahun 2050.[148] Efek dari penurunan kadar sulfur pada bahan bakar minyak kapal sejak tahun 2020[149] diperkirakan akan menyebabkan tambahan kenaikan suhu rata-rata global sebesar 0,05 °C pada tahun 2050.[150]
Aktivitas matahari dan gunung berapi

Karena Matahari merupakan sumber energi utama Bumi, perubahan sinar matahari yang masuk secara langsung memengaruhi sistem iklim.[144] Iradiansi matahari telah diukur secara langsung oleh satelit,[153] dan pengukuran tidak langsung tersedia sejak awal dekade 1600-an.[144] Sejak tahun 1880, tidak ada tren kenaikan jumlah energi Matahari yang mencapai Bumi, berlawanan dengan pemanasan di atmosfer bagian bawah (troposfer).[154] Atmosfer bagian atas (stratosfer) juga akan memanas jika Matahari mengirimkan lebih banyak energi ke Bumi, tetapi sebaliknya, lapisan tersebut justru mengalami pendinginan.[103] Hal ini konsisten dengan fakta bahwa gas rumah kaca mencegah panas keluar dari atmosfer Bumi.[155]
Letusan gunung berapi yang dahsyat dapat melepaskan gas, debu, dan abu yang memblokir sebagian sinar matahari serta menurunkan suhu, atau dapat mengirimkan uap air ke atmosfer yang menambah gas rumah kaca dan meningkatkan suhu. Dampak terhadap suhu ini hanya bertahan selama beberapa tahun karena uap air dan material vulkanik memiliki ketahanan yang rendah di atmosfer.[156] Emisi CO2 vulkanik bertahan lebih lama, tetapi jumlahnya setara dengan kurang dari 1% dari emisi CO2 akibat aktivitas manusia saat ini.[157] Aktivitas gunung berapi tetap merupakan satu-satunya dampak alami (pemaksaan) terbesar terhadap suhu pada era industri. Namun, seperti halnya pemaksaan alami lainnya, aktivitas ini memberikan dampak yang diabaikan terhadap tren suhu global sejak Revolusi Industri.[156]
Umpan balik perubahan iklim

Respons sistem iklim terhadap pemaksaan awal dibentuk oleh umpan balik, yang memperkuat atau memperlemah perubahan tersebut. Umpan balik memperkuat diri atau positif meningkatkan respons tersebut,[159] sedangkan umpan balik menyeimbangkan atau negatif menguranginya.[160] Umpan balik utama yang memperkuat pemanasan adalah umpan balik uap air, umpan balik albedo es, dan umpan balik awan bersih.[161][162] Mekanisme penyeimbang utama adalah pendinginan radiatif, yaitu ketika permukaan Bumi melepaskan lebih banyak panas ke luar angkasa sebagai respons terhadap kenaikan suhu.[163] Selain umpan balik suhu, terdapat pula umpan balik dalam siklus karbon, seperti efek pemupukan dari CO2 terhadap pertumbuhan tanaman.[164] Umpan balik diperkirakan akan cenderung mengarah ke arah positif seiring berlanjutnya emisi gas rumah kaca, sehingga meningkatkan sensitivitas iklim.[165]
Proses umpan balik ini mengubah laju pemanasan global. Sebagai contoh, udara yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak kelembapan dalam bentuk uap air, yang itu sendiri merupakan gas rumah kaca yang kuat.[161] Udara yang lebih hangat juga dapat membuat awan menjadi lebih tinggi dan lebih tipis, sehingga lebih bersifat mengisolasi dan meningkatkan pemanasan iklim.[166] Pengurangan tutupan salju dan es laut di Arktik merupakan umpan balik utama lainnya, yang mengurangi daya pantul permukaan Bumi di wilayah tersebut serta mempercepat pemanasan Arktik.[167][168] Pemanasan tambahan ini juga berkontribusi pada mencairnya permafrost, yang melepaskan metana dan CO2 ke atmosfer.[169]
Sekitar separuh dari emisi CO2 akibat aktivitas manusia telah diserap oleh tumbuhan di daratan dan oleh samudera.[170] Proporsi ini tidak bersifat statis; jika emisi CO2 di masa depan berkurang, Bumi akan mampu menyerap hingga sekitar 70%. Jika emisi meningkat secara signifikan, Bumi masih akan menyerap lebih banyak karbon dibandingkan saat ini, tetapi proporsi keseluruhannya akan menurun hingga di bawah 40%.[171] Hal ini terjadi karena perubahan iklim meningkatkan frekuensi kekeringan dan gelombang panas yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan tanaman di daratan, serta tanah akan melepaskan lebih banyak karbon dari tanaman yang mati saat suhunya menjadi lebih hangat.[172][173] Laju penyerapan karbon atmosfer oleh samudera akan menurun seiring dengan meningkatnya keasaman laut serta terjadinya perubahan pada sirkulasi termohalin dan distribusi fitoplankton.[174][175][85] Ketidakpastian mengenai umpan balik, terutama tutupan awan,[176] merupakan alasan utama mengapa berbagai model iklim memproyeksikan besaran pemanasan yang berbeda-beda untuk tingkat emisi tertentu.[177]
Pemodelan

Model iklim merupakan representasi dari proses-proses fisik, kimia, dan biologis yang memengaruhi sistem iklim.[178] Model ini mencakup proses-proses alami seperti perubahan orbit Bumi, perubahan historis aktivitas Matahari, dan pemaksaan vulkanik.[179] Model iklim digunakan untuk memperkirakan tingkat pemanasan yang akan disebabkan oleh emisi di masa depan dengan memperhitungkan kekuatan umpan balik iklim.[180][181] Model ini juga memprediksi sirkulasi samudera, siklus tahunan pergantian musim, serta aliran karbon antara permukaan daratan dan atmosfer.[182]
Realisme fisik dari model diuji dengan memeriksa kemampuannya dalam mensimulasikan iklim saat ini atau iklim masa lalu.[183] Model-model sebelumnya sempat memperkirakan laju penyusutan Arktik secara terlalu rendah[184] dan meremehkan laju peningkatan presipitasi.[185] Kenaikan permukaan laut sejak tahun 1990 juga diperkirakan terlalu rendah pada model-model lama, tetapi model-model terbaru menunjukkan kesesuaian yang baik dengan hasil pengamatan.[186] Laporan Penilaian Iklim Nasional Amerika Serikat tahun 2017 mencatat bahwa "model iklim mungkin masih meremehkan atau melewatkan proses umpan balik yang relevan".[187] Selain itu, model iklim mungkin tidak mampu memprediksi pergeseran iklim regional jangka pendek secara memadai.[188]
Subhimpunan dari model iklim menambahkan faktor-faktor kemasyarakatan ke dalam model iklim fisik. Model-model ini mensimulasikan bagaimana populasi, pertumbuhan ekonomi, dan penggunaan energi memengaruhi dan berinteraksi dengan iklim fisik. Dengan informasi tersebut, model ini dapat menghasilkan skenario emisi gas rumah kaca di masa depan. Hasil ini kemudian digunakan sebagai masukan bagi model iklim fisik dan model siklus karbon untuk memprediksi bagaimana konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dapat berubah.[189][190] Bergantung pada skenario sosioekonomi dan skenario mitigasi, model-model tersebut menghasilkan konsentrasi CO2 atmosfer dengan rentang yang sangat luas antara 380 hingga 1.400 ppm.[191]
Dampak

Dampak lingkungan
Dampak lingkungan dari perubahan iklim bersifat luas dan berjangkauan jauh, memengaruhi samudera, es, dan cuaca. Perubahan dapat terjadi secara bertahap atau cepat. Bukti-bukti atas dampak ini berasal dari studi perubahan iklim di masa lalu, pemodelan, dan pengamatan modern.[193] Sejak dekade 1950-an, kekeringan dan gelombang panas muncul secara bersamaan dengan frekuensi yang terus meningkat.[194] Peristiwa yang sangat basah atau sangat kering selama periode muson telah meningkat di India dan Asia Timur.[195] Presipitasi muson di Belahan Bumi Utara telah meningkat sejak tahun 1980.[196] Curah hujan dan intensitas badai dan topan kemungkinan meningkat,[197] dan jangkauan geografisnya kemungkinan meluas ke arah kutub sebagai respons terhadap pemanasan iklim.[198] Frekuensi siklon tropis tidak meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim.[199]

Permukaan laut global meningkat sebagai konsekuensi dari pemuaian termal serta mencairnya gletser dan lapisan es. Kenaikan permukaan laut telah meningkat seiring waktu, mencapai 4,8 cm per dekade antara tahun 2014 dan 2023.[201] Sepanjang abad ke-21, IPCC memproyeksikan kenaikan permukaan laut sebesar 32–62 cm di bawah skenario emisi rendah, 44–76 cm di bawah skenario menengah, dan 65–101 cm di bawah skenario emisi yang sangat tinggi.[202] Proses Instabilitas lapisan es laut di Antartika dapat menambah nilai-nilai tersebut secara signifikan,[203] termasuk kemungkinan kenaikan permukaan laut setinggi 2 meter pada tahun 2100 di bawah skenario emisi tinggi.[204]
Perubahan iklim telah menyebabkan penyusutan dan penipisan es laut Arktik selama berdekade-dekade.[205] Meskipun musim panas tanpa es diperkirakan akan jarang terjadi pada tingkat pemanasan 1,5 °C, kondisi ini diproyeksikan terjadi sekali setiap tiga hingga sepuluh tahun pada tingkat pemanasan 2 °C.[206] Konsentrasi CO2 atmosfer yang lebih tinggi menyebabkan lebih banyak CO2 terlarut di samudera, yang membuatnya menjadi lebih asam.[207] Karena oksigen kurang larut dalam air yang lebih hangat,[208] konsentrasinya di samudera mengalami penurunan, dan zona mati kian meluas.[209]
Titik kritis dan dampak jangka panjang

Tingkat pemanasan global yang lebih tinggi meningkatkan risiko terlampauinya 'titik kritis', yaitu ambang batas yang jika terlampaui membuat dampak-dampak besar tertentu tidak lagi dapat dihindari bahkan jika suhu kembali ke kondisi sebelumnya.[212][213] Sebagai contoh, lapisan es Greenland sudah mencair, tetapi jika pemanasan global mencapai tingkat antara 1,7 °C dan 2,3 °C, pencairannya akan terus berlanjut hingga seluruhnya lenyap. Jika pemanasan tersebut kemudian diturunkan kembali menjadi 1,5 °C atau kurang, lapisan es tersebut masih akan kehilangan jauh lebih banyak es dibandingkan jika pemanasan tidak pernah dibiarkan mencapai ambang batas tersebut sejak awal.[214] Meskipun lapisan es akan mencair selama ribuan tahun, titik kritis lainnya dapat terjadi lebih cepat dan memberi waktu yang lebih singkat bagi masyarakat untuk meresponsnya. Runtuhnya arus laut utama seperti sirkulasi pembalikan meridional Atlantik (AMOC), serta kerusakan permanen pada ekosistem penting seperti hutan hujan Amazon dan terumbu karang dapat terjadi dalam hitungan dekade.[211] Runtuhnya AMOC akan menjadi bencana iklim yang parah, yang mengakibatkan pendinginan di Belahan Bumi Utara.[215]
Dampak jangka panjang perubahan iklim terhadap samudera mencakup pencairan es yang lebih lanjut, pemanasan samudera, kenaikan permukaan laut, pengasaman laut, dan deoksigenasi laut.[216] Skala waktu dampak jangka panjang ini berkisar antara berabad-abad hingga beribu-ribu tahun karena panjangnya masa hidup CO2 di atmosfer.[217] Hasilnya adalah perkiraan total kenaikan permukaan laut sebesar 23 meter per derajat Celsius (42 ft/°F) setelah 2.000 tahun.[218] Penyerapan CO2 oleh samudera cukup lambat sehingga pengasaman laut juga akan berlanjut selama ratusan hingga ribuan tahun.[219] Samudera dalam (di bawah 2.000 meter (6.600 ft)) juga dipastikan akan kehilangan lebih dari 10% oksigen terlarutnya akibat pemanasan yang telah terjadi hingga saat ini.[220] Selain itu, lapisan es Antartika Barat tampaknya berada dalam kepastian pencairan yang praktis tidak dapat diubah, yang akan meningkatkan permukaan laut setidaknya sebesar 33 m (108 ft 3 in) selama kurang lebih 2.000 tahun.[211][221][222]
Alam dan satwa liar
Pemanasan yang terjadi baru-baru ini telah mendorong banyak spesies darat dan air tawar bergerak ke arah kutub dan ke ketinggian yang lebih tinggi.[223] Sebagai contoh, wilayah jelajah ratusan burung di Amerika Utara telah bergeser ke utara dengan laju rata-rata 1,5 km/tahun selama 55 tahun terakhir.[224] Tingkat CO2 atmosfer yang lebih tinggi dan musim tanam yang memanjang telah menghasilkan penghijauan global. Namun, gelombang panas dan kekeringan telah menurunkan produktivitas ekosistem di beberapa wilayah. Keseimbangan masa depan dari dampak-dampak yang saling bertolak belakang ini masih belum jelas.[225] Fenomena terkait yang didorong oleh perubahan iklim adalah Perambahan tumbuhan berkayu, yang memengaruhi hingga 500 juta hektar secara global.[226] Perubahan iklim telah berkontribusi pada perluasan zona iklim yang lebih kering, seperti perluasan gurun di wilayah subtropis.[227] Skala dan kecepatan pemanasan global membuat perubahan mendadak pada ekosistem semakin mungkin terjadi.[228] Secara keseluruhan, perubahan iklim diperkirakan akan mengakibatkan kepunahan banyak spesies.[229]
Samudera memanas lebih lambat daripada daratan, tetapi tumbuhan dan hewan di samudera telah bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin lebih cepat daripada spesies di darat.[230] Seperti halnya di daratan, gelombang panas di samudera terjadi lebih sering akibat perubahan iklim, yang membahayakan berbagai macam organisme seperti karang, rumput laut kelp, dan burung laut.[231] Pengasaman laut menyulitkan organisme berkalsifikasi laut seperti kerang, teritip, dan karang untuk menghasilkan cangkang dan rangka; serta gelombang panas telah menyebabkan pemutihan terumbu karang.[232] Ledakan alga berbahaya yang diperparah oleh perubahan iklim dan eutrofikasi menurunkan tingkat oksigen, mengganggu jaring-jaring makanan, dan menyebabkan kerugian besar bagi kehidupan laut.[233] Ekosistem pesisir mengalami tekanan yang sangat berat. Hampir separuh dari lahan basah global telah lenyap akibat perubahan iklim dan dampak manusia lainnya.[234] Tumbuhan mengalami peningkatan tekanan akibat kerusakan oleh serangga.[235]
|
Manusia

Dampak perubahan iklim memengaruhi manusia di mana saja di seluruh dunia.[241] Dampak ini dapat teramati di semua benua dan wilayah samudera,[242] dengan wilayah kurang berkembang di garis lintang rendah menghadapi risiko terbesar.[243] Pemanasan yang terus berlanjut berpotensi menimbulkan "dampak yang parah, meluas, dan tidak dapat diubah" bagi manusia dan ekosistem.[244] Risiko-risiko tersebut tersebar secara tidak merata, tetapi secara umum lebih besar bagi masyarakat prasejahtera di negara berkembang maupun negara maju.[245]
Kesehatan dan pangan
Organisasi Kesehatan Dunia menyebut perubahan iklim sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global pada abad ke-21.[15] Para ilmuwan telah memperingatkan bahaya tak terbalikkan yang ditimbulkannya.[246] Peristiwa cuaca ekstrem memengaruhi kesehatan masyarakat, serta pangan dan ketahanan air.[247][248][249] Suhu ekstrem menyebabkan peningkatan penyakit dan kematian.[247][248] Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem.[248][249] Hal tersebut dapat memengaruhi penularan penyakit menular, seperti demam berdarah dan malaria.[246][247] Menurut Forum Ekonomi Dunia, 14,5 juta kematian tambahan diperkirakan terjadi akibat perubahan iklim pada tahun 2050.[250] Saat ini, 30% populasi global tinggal di wilayah yang suhu panas dan kelembapan ekstremnya telah dikaitkan dengan kematian berlebih.[251][252] Pada tahun 2100, 50% hingga 75% populasi global akan tinggal di wilayah-wilayah tersebut.[251][253]
Meskipun total hasil panen mengalami peningkatan dalam 50 tahun terakhir berkat perbaikan pertanian, perubahan iklim telah menurunkan laju pertumbuhan hasil panen.[249] Sektor perikanan telah terdampak secara negatif di berbagai wilayah.[249] Meskipun produktivitas pertanian terdampak positif di beberapa wilayah lintang tinggi, wilayah lintang menengah dan rendah telah terdampak secara negatif.[249] Perubahan iklim memengaruhi kesesuaian lahan untuk banyak tanaman budidaya, dengan area yang sesuai untuk tanaman tertentu biasanya bergeser ke lintang dan ketinggian yang lebih tinggi.[254] Menurut Forum Ekonomi Dunia, peningkatan kekeringan di wilayah-wilayah tertentu dapat menyebabkan 3,2 juta kematian akibat malnutrisi pada tahun 2050 serta tengkes pada anak-anak.[255] Dengan pemanasan 2 °C, populasi ternak global dapat menurun sebesar 7–10% pada tahun 2050, seiring dengan semakin berkurangnya pakan ternak yang tersedia.[256] Jika emisi terus meningkat di sepanjang sisa abad ini, lebih dari 9 juta kematian terkait iklim akan terjadi setiap tahunnya pada tahun 2100.[257]
Ekonomi, mata pencaharian, dan ketimpangan
Kerugian ekonomi akibat perubahan iklim dapat berdampak parah dan terdapat kemungkinan munculnya konsekuensi yang fatal.[258] Dampak yang parah diperkirakan terjadi di Asia Tenggara dan Afrika Sub-Sahara, tempat sebagian besar penduduk lokal bergantung pada sumber daya alam dan pertanian.[259][260] Stres panas dapat menghalangi pekerja luar ruangan untuk bekerja. Jika pemanasan mencapai 4 °C, kapasitas tenaga kerja di wilayah-wilayah tersebut dapat berkurang sebesar 30 hingga 50%.[261] Bank Dunia memperkirakan bahwa antara tahun 2016 dan 2030, perubahan iklim dapat mendorong lebih dari 120 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem tanpa adanya adaptasi.[262]
Ketimpangan yang didasarkan pada kekayaan dan status sosial semakin memburuk akibat perubahan iklim.[263] Kesulitan besar dalam memitigasi, beradaptasi dengan, dan pulih dari guncangan iklim dihadapi oleh kelompok masyarakat marjinal yang memiliki kendali lebih sedikit terhadap sumber daya.[264][259] Masyarakat adat, yang hidup subsisten dari tanah dan ekosistem mereka, akan menghadapi ancaman terhadap kesejahteraan dan gaya hidup mereka akibat perubahan iklim.[265] Hasil elisitasi pakar menyimpulkan bahwa peran perubahan iklim dalam konflik bersenjata tergolong kecil dibandingkan faktor-faktor seperti ketimpangan sosio-ekonomi dan kapasitas negara.[266]
Meskipun perempuan secara inheren tidak berisiko lebih tinggi terhadap perubahan iklim dan guncangan iklim, keterbatasan sumber daya bagi perempuan serta norma gender yang diskriminatif membatasi kapasitas adaptasi dan ketahanan mereka.[267] Sebagai contoh, beban kerja perempuan, termasuk jam kerja di bidang pertanian, cenderung berkurang lebih sedikit dibandingkan laki-laki selama terjadinya guncangan iklim seperti stres panas.[267]
Perubahan iklim mengancam ekonomi olahraga dengan mengganggu musim kompetisi, merusak infrastruktur, dan mengurangi keterlibatan penggemar, dengan risiko paling langsung terlihat pada sepak bola, olahraga musim dingin, serta acara luar ruangan.[268]
Migrasi iklim
Pulau-pulau berdataran rendah dan komunitas pesisir terancam oleh kenaikan permukaan laut, yang membuat banjir perkotaan lebih sering terjadi. Terkadang, daratan hilang secara permanen ke laut.[269] Hal ini dapat menyebabkan ketiadaan kewarganegaraan bagi masyarakat di negara-negara kepulauan, seperti Maladewa dan Tuvalu.[270] Di beberapa wilayah, kenaikan suhu dan kelembapan mungkin terlalu parah untuk dapat diadaptasi oleh manusia.[271] Dengan skenario perubahan iklim terburuk, berbagai model memproyeksikan bahwa kawasan yang dihuni oleh hampir sepertiga umat manusia dapat menjadi wilayah beriklim sangat panas dan tidak dapat dihuni seperti Gurun Sahara.[272]
Faktor-faktor ini dapat mendorong migrasi iklim atau migrasi lingkungan, baik di dalam maupun antarnegara.[273] Lebih banyak orang diperkirakan akan terpaksa mengungsi akibat kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan konflik akibat meningkatnya persaingan atas sumber daya alam. Perubahan iklim juga dapat meningkatkan kerentanan, yang mengarah pada populasi terperangkap (trapped populations) yang tidak mampu berpindah akibat keterbatasan sumber daya.[274]
|
Pengurangan dan penangkapan kembali emisi

Perubahan iklim dapat dimitigasi dengan mengurangi laju pemancaran gas rumah kaca ke atmosfer, serta meningkatkan laju penyerapan karbon dioksida dari atmosfer.[280] Untuk membatasi pemanasan global di bawah 2 °C, emisi gas rumah kaca global perlu mencapai nol-bersih pada tahun 2070.[281] Hal ini membutuhkan perubahan sistemik yang berjangkauan luas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di sektor energi, lahan, perkotaan, transportasi, bangunan, dan industri.[282]
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa negara-negara perlu melipatgandakan komitmen mereka di bawah Persetujuan Paris tiga kali lipat dalam dekade berikutnya untuk membatasi pemanasan global hingga 2 °C.[283] Berdasarkan komitmen di bawah Persetujuan Paris hingga tahun 2024, terdapat peluang 66% bahwa pemanasan global dapat dijaga di bawah 2,8 °C pada akhir abad ini (rentang: 1,9–3,7 °C, bergantung pada implementasi tepat dan kemajuan teknologi). Ketika hanya memperhitungkan kebijakan saat ini, angka tersebut meningkat menjadi 3,1 °C.[284] Secara global, pembatasan pemanasan hingga 2 °C dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya ekonominya.[285]
Meskipun tidak ada jalur tunggal untuk membatasi pemanasan global hingga 2 °C,[286] sebagian besar skenario dan strategi memproyeksikan peningkatan besar dalam penggunaan energi terbarukan yang dikombinasikan dengan peningkatan langkah-langkah efisiensi energi untuk menghasilkan pengurangan gas rumah kaca yang diperlukan.[287] Untuk mengurangi tekanan pada ekosistem dan meningkatkan kemampuan penyerapan karbonnya, perubahan juga diperlukan di sektor pertanian dan kehutanan,[288] seperti mencegah deforestasi dan memulihkan ekosistem alami melalui penanaman kembali hutan (reforestasi).[289]
Pendekatan lain untuk memitigasi perubahan iklim memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Skenario yang membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C biasanya memproyeksikan penggunaan metode penyerapan karbon dioksida secara besar-besaran sepanjang abad ke-21.[290] Namun, terdapat kekhawatiran mengenai ketergantungan berlebihan pada teknologi ini serta dampak lingkungannya.[291]
Modifikasi radiasi matahari (SRM) merupakan usulan untuk mengurangi pemanasan global dengan memantulkan sebagian sinar matahari menjauhi Bumi kembali ke luar angkasa. Karena tidak mengurangi konsentrasi gas rumah kaca, SRM tidak akan mengatasi pengasaman laut[292] dan tidak dianggap sebagai tindakan mitigasi.[293] SRM sebaiknya hanya dipertimbangkan sebagai pelengkap mitigasi, bukan sebagai penggantinya,[294] mengingat adanya risiko seperti pemanasan cepat jika penerapannya terhenti secara mendadak dan tidak dilanjutkan kembali.[295] Pendekatan yang paling banyak diteliti adalah Injeksi aerosol stratosfer.[296] SRM dapat mengurangi pemanasan global dan sebagian dampaknya, meskipun tidak secara sempurna.[297] Metode ini menimbulkan risiko lingkungan, seperti perubahan pola curah hujan,[298] serta tantangan politik, seperti siapa yang akan memutuskan apakah metode tersebut akan digunakan.[296]
Energi bersih


Energi terbarukan merupakan kunci untuk membatasi perubahan iklim.[301] Selama berdekade-dekade, bahan bakar fosil telah menyumbang sekitar 80% dari penggunaan energi dunia.[302] Sisa pangsanya terbagi antara tenaga nuklir dan energi terbarukan (termasuk tenaga air, bioenergi, tenaga angin dan surya, serta energi panas bumi).[303] Penggunaan bahan bakar fosil diperkirakan akan mencapai puncaknya secara absolut sebelum tahun 2030 dan kemudian menurun, dengan penggunaan batu bara mengalami penurunan paling tajam.[304] Energi terbarukan mewakili 86% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik baru yang dipasang pada tahun 2023.[305] Bentuk energi bersih lainnya, seperti nuklir dan tenaga air, saat ini memiliki pangsa pasokan energi yang lebih besar. Namun, perkiraan pertumbuhan masa depannya tampak terbatas jika dibandingkan.[306]
Meskipun panel surya dan angin darat kini termasuk bentuk penambahan kapasitas pembangkit listrik baru yang paling murah di banyak lokasi,[307] kebijakan energi hijau tetap diperlukan untuk mencapai transisi yang cepat dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.[308] Untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, energi terbarukan akan menjadi bentuk pembangkitan listrik yang dominan, meningkat menjadi 85% atau lebih pada tahun 2050 dalam beberapa skenario. Investasi pada batu bara akan dihilangkan dan penggunaan batu bara hampir dihentikan secara bertahap pada tahun 2050.[309][310]
Listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan juga harus menjadi sumber energi utama untuk pemanas dan transportasi.[311] Sektor transportasi dapat beralih dari kendaraan mesin pembakaran dalam menuju kendaraan listrik, transportasi umum, dan mobilitas aktif (bersepeda dan berjalan kaki).[312][313] Untuk pelayaran dan penerbangan, bahan bakar rendah karbon akan mengurangi emisi.[312] Pemanasan dapat semakin didekarbonisasi dengan teknologi seperti pompa kalor.[314]
Terdapat berbagai hambatan bagi pertumbuhan pesat energi bersih secara berkelanjutan, termasuk energi terbarukan.[315] Angin dan surya menghasilkan energi secara intermiten dan dengan variabilitas musiman. Secara tradisional, bendungan hidro dengan waduk dan pembangkit listrik bahan bakar fosil digunakan ketika produksi energi variabel sedang rendah. Ke depannya, penyimpanan baterai dapat diperluas, permintaan dan pasokan energi dapat disesuaikan, serta transmisi jarak jauh dapat memperhalus variabilitas hasil energi terbarukan.[301] Bioenergi sering kali tidak netral karbon dan dapat berdampak negatif pada ketahanan pangan.[316] Pertumbuhan tenaga nuklir dibatasi oleh kontroversi di seputar Limbah radioaktif, proliferasi senjata nuklir, dan kecelakaan nuklir.[317][318] Pertumbuhan tenaga air dibatasi oleh kenyataan bahwa lokasi-lokasi terbaik sudah dikembangkan, dan proyek-proyek baru menghadapi kekhawatiran sosial dan lingkungan yang kian meningkat.[319]
Energi rendah karbon meningkatkan kesehatan manusia dengan meminimalkan perubahan iklim serta mengurangi kematian akibat polusi udara,[320] yang diperkirakan mencapai 7 juta jiwa per tahun pada tahun 2016.[321] Memenuhi target Persetujuan Paris yang membatasi pemanasan hingga kenaikan 2 °C dapat menyelamatkan sekitar satu juta jiwa per tahun pada tahun 2050, sementara membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C dapat menyelamatkan jutaan jiwa sekaligus meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi kemiskinan.[322] Peningkatan kualitas udara juga memiliki manfaat ekonomi yang mungkin lebih besar daripada biaya mitigasi.[323]
Konservasi energi
Pengurangan permintaan energi merupakan aspek utama lainnya dalam mengurangi emisi.[324] Jika energi yang dibutuhkan lebih sedikit, terdapat fleksibilitas yang lebih besar bagi pengembangan energi bersih. Hal ini juga memudahkan pengelolaan jaringan listrik, serta meminimalkan pembangunan infrastruktur yang padat karbon.[325] Peningkatan investasi efisiensi energi secara besar-besaran akan diperlukan untuk mencapai target iklim, dengan tingkat yang setara dengan investasi pada energi terbarukan.[326] Beberapa perubahan pola penggunaan energi, investasi efisiensi energi, dan pendanaan yang terkait dengan COVID-19 telah membuat prakiraan untuk dekade ini menjadi lebih sulit dan penuh ketidakpastian.[327]
Strategi untuk mengurangi permintaan energi bervariasi menurut sektor. Di sektor transportasi, penumpang dan angkutan barang dapat beralih ke moda transportasi yang lebih efisien, seperti bus dan kereta api, atau menggunakan kendaraan listrik.[328] Strategi industri untuk mengurangi permintaan energi mencakup peningkatan sistem pemanas dan motor listrik, merancang produk yang kurang padat energi, serta memperpanjang masa pakai produk.[329] Di sektor bangunan, fokus utamanya terletak pada desain bangunan baru yang lebih baik serta tingkat efisiensi energi yang lebih tinggi pada peremajaan bangunan (retrofitting).[330] Penggunaan teknologi seperti pompa kalor juga dapat meningkatkan efisiensi energi bangunan.[331]
Pertanian dan industri

Sektor pertanian dan kehutanan menghadapi tantangan tiga lipat, yaitu membatasi emisi gas rumah kaca, mencegah alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian lebih lanjut, serta memenuhi peningkatan permintaan pangan dunia.[332] Serangkaian tindakan dapat mengurangi emisi berbasis pertanian dan kehutanan hingga dua pertiga dari tingkat emisi tahun 2010. Tindakan tersebut mencakup pengurangan pertumbuhan permintaan pangan dan produk pertanian lainnya, peningkatan produktivitas lahan, perlindungan dan pemulihan hutan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca dari produksi pertanian.[333]
Dari sisi permintaan, komponen kunci dalam mengurangi emisi adalah mengarahkan masyarakat menuju pola makan berbasis tumbuhan.[334] Menghilangkan produksi peternakan untuk daging dan produk susu akan menghapus sekitar tiga perempat dari seluruh emisi pertanian dan penggunaan lahan lainnya.[335] Peternakan juga menempati 37% dari wilayah daratan bebas es di Bumi dan mengonsumsi pakan dari 12% wilayah daratan yang digunakan untuk tanaman pangan, sehingga mendorong deforestasi dan degradasi lahan.[336]
Produksi baja dan semen menyumbang sekitar 13% dari emisi CO2 industri. Dalam industri-industri ini, bahan-bahan padat karbon seperti kokas dan kapur memainkan peran penting dalam produksi, sehingga pengurangan emisi CO2 memerlukan penelitian mengenai kimia alternatif.[337] Ketika produksi energi atau industri berat yang padat CO2 terus menghasilkan limbah CO2, teknologi terkadang dapat digunakan untuk menangkap dan menyimpan sebagian besar gas tersebut alih-alih melepaskannya ke atmosfer.[338] Teknologi ini, yang dikenal sebagai penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), dapat memainkan peran penting tetapi terbatas dalam mengurangi emisi.[338] Teknologi ini relatif mahal[339] dan baru diterapkan sejauh yang menyerap sekitar 0,1% emisi gas rumah kaca tahunan.[338]
Penyerapan karbon dioksida

Penyerap karbon alami dapat ditingkatkan untuk menyerap jumlah CO2 yang jauh lebih besar melampaui tingkat alami.[340] Reforestasi dan aforestasi (penanaman hutan di tempat yang sebelumnya tidak ada hutan) termasuk di antara teknik sekuestrasi yang paling matang, meskipun aforestasi menimbulkan kekhawatiran terkait ketahanan pangan.[341] Petani dapat mendorong sekuestrasi karbon dalam tanah melalui praktik-praktik seperti penggunaan tanaman penutup musim dingin, mengurangi intensitas dan frekuensi pengolahan tanah, serta menggunakan kompos dan pupuk kandang sebagai pembenah tanah.[342] Restorasi hutan dan lanskap memberikan banyak manfaat bagi iklim, termasuk sekuestrasi dan pengurangan emisi gas rumah kaca.[133] Restorasi atau pembuatan kembali lahan basah pesisir, petak padang rumput, dan padang lamun meningkatkan penyerapan karbon ke dalam bahan organik.[343][344] Ketika karbon tersekuestrasi di dalam tanah dan bahan organik seperti pepohonan, terdapat risiko bahwa karbon tersebut akan terlepas kembali ke atmosfer di kemudian hari melalui alih fungsi lahan, kebakaran, atau perubahan lain pada ekosistem.[345]
Penggunaan bioenergi yang dipadukan dengan penangkapan dan penyimpanan karbon (BECCS) dapat menghasilkan emisi negatif bersih karena CO2 ditarik dari atmosfer.[346] Masih terdapat ketidakpastian yang tinggi mengenai apakah teknik penyerapan karbon dioksida akan mampu memainkan peran besar dalam membatasi pemanasan hingga 1,5 °C. Keputusan kebijakan yang mengandalkan penyerapan karbon dioksida meningkatkan risiko pemanasan global melonjak melampaui target internasional.[347]
Adaptasi
Adaptasi adalah "proses penyesuaian terhadap perubahan iklim saat ini atau yang diperkirakan terjadi beserta dampaknya".[348]: 5 Tanpa mitigasi tambahan, adaptasi tidak dapat menghindarkan dari risiko dampak yang "parah, meluas, dan tidak dapat diubah".[349] Perubahan iklim yang lebih parah membutuhkan adaptasi yang lebih transformatif, yang biayanya dapat menjadi sangat mahal.[350] Kapasitas dan potensi manusia untuk beradaptasi tersebar secara tidak merata di berbagai wilayah dan populasi, dan negara-negara berkembang secara umum memiliki kapasitas yang lebih rendah.[351] Dua dekade pertama abad ke-21 menyaksikan peningkatan kapasitas adaptif di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah seiring dengan membaiknya akses terhadap sanitasi dasar dan listrik, tetapi kemajuannya terbilang lambat. Banyak negara telah menerapkan kebijakan adaptasi. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan yang cukup besar antara pendanaan yang dibutuhkan dan yang tersedia.[352]
Adaptasi terhadap kenaikan permukaan laut terdiri dari menghindari wilayah-wilayah berisiko, belajar hidup dengan banjir yang semakin meningkat, dan membangun pengendalian banjir. Jika langkah-langkah tersebut gagal, kemunduran terencana (managed retreat) mungkin diperlukan.[353] Terdapat hambatan ekonomi dalam mengatasi dampak panas yang berbahaya. Menghindari pekerjaan berat atau memiliki pengondisi udara (AC) tidaklah memungkinkan bagi semua orang.[354] Di sektor pertanian, opsi-opsi adaptasi mencakup beralih ke pola makan yang lebih berkelanjutan, diversifikasi, pengendalian erosi, dan perbaikan genetik untuk meningkatkan toleransi terhadap perubahan iklim.[355] Asuransi memungkinkan pembagian risiko, tetapi sering kali sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.[356] Pendidikan, migrasi, dan sistem peringatan dini dapat mengurangi kerentanan iklim.[357] Menanam bakau atau mendorong vegetasi pesisir lainnya dapat meredam gelombang badai.[358][359]
Ekosistem beradaptasi terhadap perubahan iklim, sebuah proses yang dapat didukung oleh intervensi manusia. Dengan meningkatkan konektivitas antar-ekosistem, spesies dapat bermigrasi ke kondisi iklim yang lebih menguntungkan. Spesies juga dapat diintroduksikan ke wilayah yang memiliki iklim yang menguntungkan. Perlindungan dan restorasi kawasan alami dan semi-alami membantu membangun ketahanan, sehingga memudahkan ekosistem untuk beradaptasi. Banyak tindakan yang mendorong adaptasi pada ekosistem juga membantu manusia beradaptasi melalui Adaptasi berbasis ekosistem. Sebagai contoh, restorasi rezim kebakaran alami membuat kebakaran katastropik menjadi lebih kecil kemungkinannya terjadi dan mengurangi paparan pada manusia. Memberikan ruang yang lebih luas bagi sungai memungkinkan lebih banyak penampungan air dalam sistem alami, sehingga mengurangi risiko banjir. Hutan yang dipulihkan bertindak sebagai penyerap karbon, tetapi menanam pohon di wilayah yang tidak sesuai justru dapat memperburuk dampak iklim.[360]
Terdapat sinergi namun juga kompromi (trade-off) antara adaptasi dan mitigasi.[361] Contoh dari sinergi adalah peningkatan produktivitas pangan, yang memiliki manfaat besar bagi adaptasi maupun mitigasi.[362] Contoh kompromi adalah bahwa peningkatan penggunaan pengondisi udara memungkinkan masyarakat untuk mengatasi panas dengan lebih baik, tetapi meningkatkan permintaan energi. Contoh kompromi lainnya adalah bahwa pembangunan perkotaan yang lebih padat dapat mengurangi emisi dari transportasi dan konstruksi, tetapi dapat pula meningkatkan efek pulau panas perkotaan, sehingga memaparkan masyarakat pada risiko kesehatan terkait panas.[363]
|
Kebijakan dan politik

Negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim biasanya hanya bertanggung jawab atas sebagian kecil dari emisi global. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan dan kesetaraan.[364] Membatasi pemanasan global membuatnya jauh lebih mudah untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, seperti mengentaskan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan. Keterkaitan ini diakui dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 13, yaitu untuk "mengambil tindakan mendesak untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya".[365] Tujuan-tujuan terkait pangan, air bersih, dan perlindungan ekosistem memiliki sinergi dengan mitigasi iklim.[366]
Geopolitik perubahan iklim tergolong kompleks. Hal ini sering kali dibingkai sebagai masalah penunggang bebas (free-rider problem), yang mana semua negara mendapatkan manfaat dari mitigasi yang dilakukan oleh negara lain, tetapi masing-masing negara akan mengalami kerugian jika beralih ke ekonomi rendah karbon secara mandiri. Meskipun demikian, mitigasi terkadang juga memberikan manfaat lokal. Sebagai contoh, manfaat dari penghentian bertahap batu bara bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan lokal melebihi biayanya di hampir seluruh wilayah.[367] Selain itu, negara pengimpor bersih bahan bakar fosil diuntungkan secara ekonomi dari peralihan ke energi bersih, yang menyebabkan negara pengeskpor bersih menghadapi aset terbengkalai (stranded assets), yaitu bahan bakar fosil yang tidak dapat mereka jual.[368]
Opsi kebijakan
Berbagai macam kebijakan, regulasi, dan hukum sedang digunakan untuk mengurangi emisi. Hingga tahun 2019, penetapan harga karbon mencakup sekitar 20% dari emisi gas rumah kaca global.[369] Karbon dapat dihargai melalui pajak karbon dan sistem perdagangan emisi.[370] Subsidi bahan bakar fosil global secara langsung mencapai $319 miliar pada tahun 2017, dan mencapai $5,2 triliun ketika biaya tidak langsung seperti polusi udara turut diperhitungkan.[371] Menghentikan subsidi ini dapat menyebabkan pengurangan emisi karbon global sebesar 28% dan penurunan kematian akibat polusi udara sebesar 46%.[372] Uang yang dihemat dari subsidi fosil dapat dialihkan untuk mendukung transisi ke energi bersih.[373] Metode yang lebih langsung untuk mengurangi gas rumah kaca mencakup standar efisiensi kendaraan, standar bahan bakar terbarukan, dan regulasi polusi udara pada industri berat.[374] Beberapa negara mewajibkan perusahaan penyedia listrik untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam produksi listrik.[375] Sebuah Koalisi Terbuka Pasar Karbon Kepatuhan dengan tujuan menciptakan sistem pembatasan dan perdagangan (cap and trade) global dibentuk pada COP30 (2025). Menurut beberapa perhitungan, hal tersebut dapat meningkatkan pengurangan emisi hingga tujuh kali lipat dibandingkan kebijakan saat ini, menyalurkan $200 miliar per tahun untuk program energi bersih dan sosial, serta menutup kesenjangan antara trajektori emisi saat ini dan target Persetujuan Paris.[376][377][378]
Keadilan iklim
Kebijakan yang dirancang melalui kacamata keadilan iklim berupaya mengatasi isu-isu hak asasi manusia dan ketimpangan sosial. Menurut para pendukung keadilan iklim, biaya adaptasi iklim seharusnya ditanggung oleh pihak-pihak yang paling bertanggung jawab atas perubahan iklim, sementara penerima kompensasi seharusnya adalah mereka yang menanggung dampaknya. Salah satu cara penanganan secara praktis adalah meminta negara-negara kaya mendanai negara-negara yang lebih miskin untuk beradaptasi.[379]
Oxfam menemukan bahwa pada tahun 2023, 10% populasi terkaya bertanggung jawab atas 50% emisi global, sedangkan 50% populasi terbawah hanya menyumbang 8%.[380] Produksi emisi merupakan cara lain untuk melihat tanggung jawab: dengan pendekatan tersebut, 21 perusahaan bahan bakar fosil teratas akan berutang reparasi iklim kumulatif sebesar $5,4 triliun selama periode 2025–2050.[381] Untuk mencapai transisi berkeadilan, para pekerja di sektor bahan bakar fosil juga memerlukan pekerjaan alternatif, dan komunitas mereka membutuhkan investasi.[382]
Perjanjian iklim internasional


Hampir seluruh negara di dunia merupakan pihak dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) tahun 1994.[386] Tujuan UNFCCC adalah mencegah interferensi berbahaya manusia terhadap sistem iklim.[387] Sebagaimana dinyatakan dalam konvensi tersebut, hal ini mengharuskan konsentrasi gas rumah kaca distabilkan di atmosfer pada tingkat yang memungkinkan ekosistem beradaptasi secara alami terhadap perubahan iklim, produksi pangan tidak terancam, dan pembangunan ekonomi dapat berlanjut.[388] UNFCCC sendiri tidak membatasi emisi, melainkan menyediakan kerangka kerja bagi protokol-protokol yang mengaturnya. Emisi global telah meningkat sejak UNFCCC ditandatangani.[389] Konferensi tahunannya menjadi panggung bagi negosiasi global.[390]
Protokol Kyoto tahun 1997 memperluas UNFCCC dan mencakup komitmen mengikat secara hukum bagi sebagian besar negara maju untuk membatasi emisi mereka.[391] Selama negosiasi, G77 (yang mewakili negara-negara berkembang) mendesak mandat yang mewajibkan negara-negara maju untuk "mengambil peran utama" dalam mengurangi emisi mereka,[392] karena negara-negara maju berkontribusi paling besar terhadap akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Emisi per kapita juga masih relatif rendah di negara-negara berkembang, dan negara-negara berkembang perlu memancarkan emisi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pembangunan mereka.[393]
Persetujuan Kopenhagen tahun 2009 secara luas dinilai mengecewakan karena targetnya yang rendah, dan ditolak oleh negara-negara miskin termasuk G77.[394] Pihak-pihak terkait bertujuan membatasi kenaikan suhu global di bawah 2 °C.[395] Persetujuan tersebut menetapkan target penyaluran $100 miliar per tahun kepada negara-negara berkembang untuk mitigasi dan adaptasi pada tahun 2020, serta mengusulkan pendirian Dana Iklim Hijau.[396] Hingga2020[update], hanya $83,3 miliar yang terealisasi. Target tersebut baru diperkirakan tercapai pada tahun 2023.[397]
Pada tahun 2015, seluruh negara PBB menegosiasikan Persetujuan Paris, yang bertujuan menjaga pemanasan global jauh di bawah 2,0 °C dan memuat aspirasi untuk menahan pemanasan di bawah 1,5 °C.[398] Persetujuan ini menggantikan Protokol Kyoto. Berbeda dengan Protokol Kyoto, tidak ada target emisi mengikat yang ditetapkan dalam Persetujuan Paris. Sebaliknya, serangkaian prosedur dibuat mengikat. Negara-negara harus secara berkala menetapkan target yang kian ambisius dan mengevaluasi kembali target tersebut setiap lima tahun.[399] Persetujuan Paris menegaskan kembali bahwa negara-negara berkembang harus didukung secara finansial.[400] HinggaAgustus 2026[update], 194 negara dan Uni Eropa telah meratifikasi atau mengaksesi persetujuan tersebut.[401]
Protokol Montreal tahun 1987, sebuah perjanjian internasional untuk menghentikan secara bertahap produksi gas-gas perusak ozon, telah memberikan manfaat bagi mitigasi perubahan iklim.[402] Beberapa gas perusak ozon seperti klorofluorokarbon (CFC) merupakan gas rumah kaca yang kuat, sehingga melarang produksi dan penggunaannya diduga telah mencegah kenaikan suhu sebesar 0,5 °C–1,0 °C,[403] sekaligus menghindari pemanasan tambahan dengan mencegah kerusakan vegetasi akibat radiasi ultraviolet.[404] Perjanjian ini diperkirakan lebih efektif dalam menekan emisi gas rumah kaca dibandingkan Protokol Kyoto yang khusus dirancang untuk tujuan tersebut.[405] Amandemen terbaru pada Protokol Montreal, yaitu Amandemen Kigali tahun 2016, berkomitmen untuk mengurangi emisi hidrofluorokarbon (HFC), yang digunakan sebagai pengganti gas-gas perusak ozon yang dilarang dan juga merupakan gas rumah kaca berdaya kuat.[406] Jika negara-negara mematuhi amandemen tersebut, pemanasan sebesar 0,3 °C–0,5 °C diperkirakan dapat dihindari.[407]
Respons nasional

Pada tahun 2019, parlemen Britania Raya menjadi pemerintah nasional pertama yang mendeklarasikan darurat iklim.[409] Negara-negara dan yurisdiksi lain segera menyusul.[410] Pada tahun yang sama, Parlemen Eropa mendeklarasikan "darurat iklim dan lingkungan".[411] Komisi Eropa mempresentasikan Kesepakatan Hijau Eropa (European Green Deal) dengan target menjadikan Uni Eropa netral karbon pada tahun 2050.[412] Pada tahun 2021, Komisi Eropa merilis paket legislasi "Fit for 55", yang memuat pedoman untuk industri otomotif, yaitu semua mobil baru di pasar Eropa harus berupa kendaraan bebas emisi mulai tahun 2035.[413]
Negara-negara besar di Asia telah membuat komitmen serupa: Korea Selatan dan Jepang telah berkomitmen untuk menjadi netral karbon pada tahun 2050, dan Tiongkok pada tahun 2060.[414] Meskipun India memiliki insentif yang kuat untuk energi terbarukan, negara tersebut juga merencanakan ekspansi penggunaan batu bara secara signifikan.[415] Vietnam termasuk salah satu dari sangat sedikit negara berkembang pesat yang bergantung pada batu bara yang berkomitmen untuk menghentikan secara bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara tanpa mitigasi emisi pada dekade 2040-an atau secepat mungkin setelahnya.[416]
Hingga tahun 2021, berdasarkan informasi dari 48 rencana iklim nasional yang mewakili 40% dari para pihak dalam Persetujuan Paris, perkiraan total emisi gas rumah kaca adalah 0,5% lebih rendah dibandingkan tingkat emisi tahun 2010. Angka ini masih sangat jauh dari target pengurangan 45% untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C atau target pengurangan 25% untuk membatasinya hingga 2 °C.[417][butuh pemutakhiran]
Masyarakat dan budaya
Penolakan dan disinformasi

Debat publik mengenai perubahan iklim telah sangat dipengaruhi oleh penolakan perubahan iklim dan disinformasi, yang pertama kali muncul di Amerika Serikat dan sejak saat itu meluas ke negara-negara lain, khususnya Kanada dan Australia. Penolakan ini berawal dari perusahaan bahan bakar fosil, kelompok industri, lembaga pemikir konservatif, dan ilmuwan kontrarian.[419] Seperti halnya industri tembakau, strategi utama dari kelompok-kelompok ini adalah menciptakan keraguan terhadap data dan hasil ilmiah yang berkaitan dengan perubahan iklim.[420] Orang-orang yang memelihara keraguan tak berdasar mengenai perubahan iklim terkadang disebut sebagai "skeptis" perubahan iklim, meskipun istilah "kontrarian" atau "penolak" merupakan istilah yang lebih tepat.[421]
Terdapat berbagai varian penolakan iklim: sebagian menolak bahwa pemanasan terjadi sama sekali, sebagian mengakui adanya pemanasan namun mengatribusikannya pada pengaruh alami, dan sebagian lagi meminimalkan dampak negatif dari perubahan iklim.[422] Rekayasa ketidakpastian terhadap sains kemudian berkembang menjadi kontroversi buatan (manufactured controversy), yaitu menciptakan keyakinan bahwa terdapat ketidakpastian signifikan mengenai perubahan iklim di kalangan komunitas ilmiah untuk menunda perubahan kebijakan.[423] Strategi untuk mempromosikan gagasan-gagasan ini mencakup kritik terhadap lembaga-lembaga ilmiah,[424] serta mempertanyakan motif individu para ilmuwan.[422] Ruang gema (echo chamber) dari blog-blog dan media penolak iklim telah semakin memicu kesalahpahaman tentang perubahan iklim.[425]
Kesadaran dan opini publik

Perubahan iklim mulai menjadi perhatian publik internasional pada akhir dekade 1980-an.[429] Akibat pemberitaan media pada awal dekade 1990-an, masyarakat sering kali menyamakan perubahan iklim dengan isu lingkungan lainnya seperti penipisan lapisan ozon.[430] Dalam budaya populer, film fiksi iklim The Day After Tomorrow (2004) dan film dokumenter Al Gore An Inconvenient Truth (2006) berfokus pada perubahan iklim.[429]
Terdapat perbedaan regional, gender, usia, dan politik yang signifikan baik dalam kekhawatiran maupun pemahaman publik terhadap perubahan iklim. Masyarakat berpendidikan lebih tinggi, serta di beberapa negara, perempuan dan kelompok muda, cenderung melihat perubahan iklim sebagai ancaman serius.[431] Buku-buku teks biologi perguruan tinggi dari dekade 2010-an menampilkan lebih sedikit materi tentang perubahan iklim dibandingkan dengan buku-buku dari dekade sebelumnya, dengan penekanan pada solusi yang semakin menurun.[432] Kesenjangan partisan juga terdapat di banyak negara,[433] dan negara-negara dengan emisi CO2 yang tinggi cenderung kurang khawatir.[434] Pandangan mengenai penyebab perubahan iklim sangat bervariasi antarnegara.[435] Liputan media yang terkait dengan aksi protes telah memengaruhi sentimen publik serta aspek perubahan iklim mana yang menjadi fokus perhatian.[436] Tingkat kecemasan yang lebih tinggi berkaitan dengan dukungan publik yang lebih kuat terhadap kebijakan penanganan perubahan iklim.[437] Kekhawatiran kian meningkat seiring waktu,[438] dan pada tahun 2021 mayoritas warga di 30 negara menyatakan tingkat kecemasan yang tinggi terhadap perubahan iklim, atau menganggapnya sebagai darurat global.[439] Sebuah survei tahun 2024 di 125 negara menemukan bahwa 89% populasi global menuntut tindakan politik yang lebih intensif, tetapi secara sistematis meremehkan kesediaan orang lain untuk bertindak.[25][26]
Gerakan iklim
Aksi protes iklim menuntut agar para pemimpin politik mengambil tindakan untuk mencegah perubahan iklim. Aksi ini dapat berupa demonstrasi publik, divestasi bahan bakar fosil, gugatan hukum, dan kegiatan lainnya.[440][441] Demonstrasi yang paling menonjol di antaranya mencakup Mogok Sekolah untuk Iklim. Dalam inisiatif ini, kaum muda di seluruh dunia telah melakukan protes sejak tahun 2018 dengan tidak masuk sekolah pada hari Jumat, yang terilhami oleh aktivis Swedia yang saat itu masih remaja, Greta Thunberg.[442] Aksi pembangkangan sipil massal oleh kelompok-kelompok seperti Extinction Rebellion berunjuk rasa dengan mengganggu lalu lintas jalan dan transportasi umum.[443]
Litigasi semakin banyak digunakan sebagai alat untuk memperkuat aksi iklim dari lembaga-lembaga publik dan perusahaan. Para aktivis juga mengajukan gugatan hukum yang menargetkan pemerintah dan menuntut agar mereka mengambil tindakan ambisius atau menegakkan hukum yang ada tentang perubahan iklim.[444] Gugatan terhadap perusahaan bahan bakar fosil umumnya menuntut kompensasi atas kerugian dan kerusakan.[445] Pada tahun 2025, Mahkamah Internasional PBB mengeluarkan pendapat konsultatifnya (advisory opinion), yang menyatakan secara eksplisit bahwa negara-negara harus bertindak untuk menghentikan perubahan iklim, dan jika mereka gagal memenuhi kewajiban tersebut, negara lain dapat menggugat mereka. Kewajiban ini mencakup penerapan komitmen mereka dalam perjanjian internasional tempat mereka menjadi pihak, seperti Persetujuan Iklim Paris 2015.[446][447][448]
Sejarah
Penemuan-penemuan awal

Para ilmuwan pada abad ke-19 seperti Alexander von Humboldt mulai memprediksi dampak perubahan iklim.[450][451][452][453] Pada dekade 1820-an, Joseph Fourier mengusulkan adanya efek rumah kaca untuk menjelaskan mengapa suhu Bumi lebih tinggi daripada yang dapat dijelaskan oleh energi Matahari saja. Atmosfer Bumi transparan terhadap sinar matahari, sehingga sinar matahari mencapai permukaan dan diubah menjadi panas. Namun, atmosfer tidak transparan terhadap panas yang dipancarkan dari permukaan, dan menangkap sebagian dari panas tersebut, yang pada gilirannya menghangatkan planet ini.[454] Pada tahun 1856, Eunice Newton Foote membuktikan bahwa efek pemanasan dari Matahari lebih besar pada udara yang mengandung uap air daripada udara kering, dan efek tersebut bahkan lebih besar pada karbon dioksida (CO2). Dalam tulisannya "Circumstances Affecting the Heat of the Sun's Rays", ia menyimpulkan bahwa "suatu atmosfer yang terdiri dari gas tersebut akan memberikan suhu yang tinggi bagi bumi kita".[455][456]

Mulai tahun 1859,[458] John Tyndall membuktikan bahwa nitrogen dan oksigen, yang secara bersama-sama mencakup 99% dari udara kering, bersifat transparan terhadap radiasi panas. Namun, uap air dan gas-gas seperti metana dan karbon dioksida menyerap radiasi panas dan memancarkan kembali panas tersebut ke atmosfer. Tyndall mengusulkan bahwa perubahan konsentrasi gas-gas ini mungkin telah menyebabkan perubahan iklim di masa lalu, termasuk zaman es.[459]
Svante Arrhenius mencatat bahwa uap air di udara terus bervariasi, tetapi konsentrasi CO2 di udara dipengaruhi oleh proses geologi jangka panjang. Pemanasan akibat peningkatan kadar CO2 akan meningkatkan jumlah uap air, yang memperkuat pemanasan dalam ikatan umpan balik positif. Pada tahun 1896, ia memublikasikan model iklim pertama dari jenisnya, yang memproyeksikan bahwa penurunan separuh kadar CO2 dapat memicu penurunan suhu yang mengawali zaman es. Arrhenius menghitung bahwa kenaikan suhu yang diperkirakan dari penggandaan kadar CO2 adalah sekitar 5–6 °C.[460] Para ilmuwan lain pada awalnya bersikap skeptis dan percaya bahwa efek rumah kaca telah jenuh sehingga penambahan CO2 lebih lanjut tidak akan memberi perbedaan, serta menganggap iklim dapat mengatur dirinya sendiri.[461] Berawal pada tahun 1938, Guy Stewart Callendar memublikasikan bukti bahwa iklim sedang memanas dan kadar CO2 terus meningkat,[462] tetapi kalkulasinya menghadapi keberatan yang sama.[461]
Perkembangan konsensus ilmiah

Pada dekade 1950-an, Gilbert Plass membuat model komputer terperinci yang mencakup lapisan-lapisan atmosfer berbeda dan spektrum inframerah. Model ini memprediksi bahwa peningkatan kadar CO2 akan menyebabkan pemanasan. Pada kurun waktu yang hampir bersamaan, Hans Suess menemukan bukti bahwa kadar CO2 telah meningkat, dan Roger Revelle menunjukkan bahwa samudera tidak akan menyerap peningkatan tersebut. Kedua ilmuwan tersebut selanjutnya membantu Charles David Keeling untuk memulai catatan peningkatan berkelanjutan, yaitu "Kurva Keeling",[461] yang menjadi bagian dari penyelidikan ilmiah berkelanjutan sepanjang dekade 1960-an mengenai kemungkinan faktor manusia sebagai penyebab pemanasan global.[464] Studi-studi seperti Laporan Charney tahun 1979 oleh National Research Council mendukung keakuratan model-model iklim yang memproyeksikan pemanasan signifikan.[465] Kausalitas manusia terhadap pemanasan global yang teramati serta bahaya dari pemanasan yang tidak dimitigasi dipresentasikan secara terbuka dalam kesaksian James Hansen pada tahun 1988 di hadapan komite Senat Amerika Serikat.[466][40] Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang dibentuk pada tahun 1988 untuk memberikan saran formal bagi pemerintah di seluruh dunia, memicu penelitian lintas disiplin.[467] Sebagai bagian dari laporan IPCC, para ilmuwan menilai diskusi ilmiah yang berlangsung dalam artikel-artikel jurnal berpelaah sejawat.[468]
Terdapat konsensus ilmiah yang hampir bulat bahwa iklim sedang memanas dan bahwa hal ini disebabkan oleh aktivitas manusia.[5] Tidak ada lembaga ilmiah berstandar nasional maupun internasional yang tidak setuju dengan pandangan ini.[469] Hingga tahun 2019, kesepakatan dalam literatur terbaru mencapai lebih dari 99%.[427][5] Laporan Penilaian IPCC 2021 menyatakan bahwa "tidak diragukan lagi" bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia.[5] Konsensus telah berkembang lebih lanjut bahwa tindakan harus diambil untuk melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim. Akademi-akademi sains nasional telah menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk memangkas emisi global.[470]
Perkembangan terbaru
Atribusi peristiwa ekstrem (EEA), yang juga dikenal sebagai ilmu atribusi, dikembangkan pada dekade-dekade awal abad ke-21.[471] EEA menggunakan model iklim untuk mengidentifikasi dan menguantifikasi peran perubahan iklim akibat aktivitas manusia terhadap frekuensi, intensitas, durasi, dan dampak dari peristiwa-peristiwa cuaca ekstrem secara spesifik.[472][473] Hasil studi atribusi memungkinkan para ilmuwan dan jurnalis untuk membuat pernyataan seperti, "peristiwa cuaca ini berpeluang setidaknya n kali lebih besar terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia" atau "gelombang panas ini menjadi m derajat lebih panas dibandingkan jika terjadi di dunia tanpa pemanasan global" atau "peristiwa ini secara praktis tidak mungkin terjadi tanpa adanya perubahan iklim".[474]
Daya komputasi yang lebih besar pada dekade 2000-an dan terobosan konseptual pada awal hingga pertengahan dekade 2010-an[475] memungkinkan ilmu atribusi untuk mendeteksi dampak perubahan iklim pada beberapa peristiwa dengan tingkat keyakinan yang tinggi.[471] Para ilmuwan menggunakan metode atribusi dan simulasi iklim yang telah melalui penelaahan sejawat, sehingga memungkinkan "studi atribusi cepat" dipublikasikan dalam rentang waktu "siklus berita" setelah terjadinya peristiwa cuaca.[475]
Referensi
- ↑ "GISS Surface Temperature Analysis (v4)". NASA. Diakses tanggal 12 Januari 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, SPM-7
- ↑ Sources for data and graphic:
- Annual global mean surface temperature data from: "Global temperature / Get the data / Global mean temperature / NOAAGlobalTemp / Download as CSV". Met Office (UK). 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Natural driver graphic is at: "IPCC Sixth Assessment Report / Working Group 1: The Physical Science Basis / Figures: Summary for Policymakers / Figure SPM.1(b)". Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Click on "Datasets". - Natural driver dataset is downloadable by clicking on "gmst_changes_model_and_obs.csv" at: "Summary for Policymakers of the Working Group I Contribution to the IPCC Sixth Assessment Report - data for Figure SPM.1 (v20221116)". Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). 16 November 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Forster et al. 2026, hlm. 3889: "For the 2016–2025 decade average, observed warming relative to 1850–1900 was 1.26 [1.13 to 1.36] °C, of which 1.24 [1.0 to 1.5] °C was human-induced."
- 1 2 3 4 5 6 Lynas, Mark; Houlton, Benjamin Z.; Perry, Simon (19 Oktober 2021). "Greater than 99% consensus on human caused climate change in the peer-reviewed scientific literature". Environmental Research Letters. 16 (11): 114005. Bibcode:2021ERL....16k4005L. doi:10.1088/1748-9326/ac2966.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Our World in Data, 18 September 2020
- ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 67: "Concentrations of CO2, methane (CH4), and nitrous oxide (N2O) have increased to levels unprecedented in at least 800,000 years, and there is high confidence that current CO2 concentrations have not been experienced for at least 2 million years."
- ↑
- IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 9: "Observed increases in areas burned by wildfires have been attributed to human-induced climate change in some regions (medium to high confidence)"
- ↑ IPCC SROCC 2019, hlm. 16: "Over the last decades, global warming has led to widespread shrinking of the cryosphere, with mass loss from ice sheets and glaciers (very high confidence), reductions in snow cover (high confidence) and Arctic sea ice extent and thickness (very high confidence), and increased permafrost temperature (very high confidence)."
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch11 2021, hlm. 1517
- ↑ EPA (19 Januari 2017). "Climate Impacts on Ecosystems". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Januari 2018. Diakses tanggal 5 Februari 2019. Mountain and arctic ecosystems and species are particularly sensitive to climate change... As ocean temperatures warm and the acidity of the ocean increases, bleaching and coral die-offs are likely to become more frequent.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm. 64: "Sustained net zero anthropogenic emissions of CO2 and declining net anthropogenic non-CO2 radiative forcing over a multi-decade period would halt anthropogenic global warming over that period, although it would not halt sea level rise or many other aspects of climate system adjustment."
- ↑ "Consequences of climate change". climate.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). European Commission. Diakses tanggal 10 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑
- Cattaneo et al. 2019
- IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 15
- IPCC AR6 WG2 Technical Summary 2022, hlm. 53
- 1 2 WHO, Nov 2023
- ↑ IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 19
- ↑ - IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 21–26 - IPCC AR6 WG2 Ch16 2022, hlm. 2504 - IPCC AR6 SYR SPM 2023, hlm. 8–9: "Effectiveness15 of adaptation in reducing climate risks16 is documented for specific contexts, sectors and regions (high confidence) ... Soft limits to adaptation are currently being experienced by small-scale farmers and households along some low-lying coastal areas (medium confidence) resulting from financial, governance, institutional and policy constraints (high confidence). Some tropical, coastal, polar and mountain ecosystems have reached hard adaptation limits (high confidence). Adaptation does not prevent all losses and damages, even with effective adaptation and before reaching soft and hard limits (high confidence)."
- ↑ Tietjen, Bethany (2 November 2022). "Loss and damage: Who is responsible when climate change harms the world's poorest countries?". The Conversation. Diakses tanggal 30 Agustus 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability". IPCC. 27 Februari 2022. Diakses tanggal 30 Agustus 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Ivanova, Irina (Juni 2, 2022). "California is rationing water amid its worst drought in 1,200 years". CBS News.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "2024 – a second record-breaking year, following the exceptional 2023". Copernicus Programme. 10 Januari 2025. Diakses tanggal 10 Januari 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Carrington, Damian (10 Januari 2025). "Hottest year on record sent planet past 1.5C of heating for first time in 2024". The Guardian. Diakses tanggal 10 Januari 2025.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 71
- 1 2 United Nations Environment Programme 2024, hlm. XVIII: "The full implementation and continuation of the level of mitigation effort implied by unconditional or conditional NDC scenarios lower these projections to 2.8 °C (range: 1.9–3.7) and 2.6 °C (range: 1.9–3.6), respectively. All with at least a 66 per cent chance."
- 1 2 Carrington, Damian (22 April 2025). "'Spiral of silence': climate action is very popular, so why don't people realise it?". The Guardian. Diakses tanggal 22 April 2025.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Andre, Peter; Boneva, Teodora; Chopra, Felix; Falk, Armin (9 Februari 2024). "Globally representative evidence on the actual and perceived support for climate action". Nature Climate Change. 14 (3): 253–259. Bibcode:2024NatCC..14..253A. doi:10.1038/s41558-024-01925-3.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ United Nations Environment Programme 2024, hlm. XV: "As at 1 June 2024, 101 parties representing 107 countries and covering approximately 82 per cent of global GHG emissions had adopted net-zero pledges either in law (28 parties), in a policy document such as an NDC or a long-term strategy (56 parties), or in an announcement by a high-level government official (17 parties)."
- ↑ - IPCC AR5 WG3 Annex III 2014, hlm. 1335 - IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, hlm. 24–25 - IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm. 89
- ↑ IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm. 84: "Stringent emissions reductions at the level required for 2°C or 1.5°C are achieved through the increased electrification of buildings, transport, and industry, consequently all pathways entail increased electricity generation (high confidence)."
- ↑ - IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 18 - IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, hlm. 24–25 - IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm. 114
- ↑ Duarte, C.M.; Delgado-Huertas, A.; et al. (17 Januari 2025). "Carbon burial in sediments below seaweed farms matches that of Blue Carbon habitats". Nature Climate Change. 15 (2): 180–187. Bibcode:2025NatCC..15..180D. doi:10.1038/s41558-024-02238-1.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Winfield, E.; Ostoja, S. (2020). "Climate-Smart Agriculture: Soil Health & Carbon Farming [Factsheet]". USDA California Climate Hub. Diakses tanggal 13 Agustus 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 NASA, 5 December 2008.
- ↑ NASA, 7 July 2020
- ↑ Shaftel 2016: " 'Climate change' and 'global warming' are often used interchangeably but have distinct meanings. ... Global warming refers to the upward temperature trend across the entire Earth since the early 20th century ... Climate change refers to a broad range of global phenomena ...[which] include the increased temperature trends described by global warming."
- ↑ Associated Press, 22 September 2015: "The terms global warming and climate change can be used interchangeably. Climate change is more accurate scientifically to describe the various effects of greenhouse gases on the world because it includes extreme weather, storms and changes in rainfall patterns, ocean acidification and sea level".
- ↑ IPCC AR5 SYR Glossary 2014, hlm. 120: "Climate change refers to a change in the state of the climate that can be identified (e.g., by using statistical tests) by changes in the mean and/or the variability of its properties and that persists for an extended period, typically decades or longer. Climate change may be due to natural internal processes or external forcings such as modulations of the solar cycles, volcanic eruptions and persistent anthropogenic changes in the composition of the atmosphere or in land use."
- ↑ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), ed. (2023), "Annex VII: Glossary", Climate Change 2021 – The Physical Science Basis: Working Group I Contribution to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 2215–2256, doi:10.1017/9781009157896.022, ISBN 978-1-009-15788-9, diakses tanggal 2026-01-22
- ↑ Broecker, Wallace S. (8 Agustus 1975). "Climatic Change: Are We on the Brink of a Pronounced Global Warming?". Science. 189 (4201): 460–463. Bibcode:1975Sci...189..460B. doi:10.1126/science.189.4201.460. JSTOR 1740491. PMID 17781884.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Weart "The Public and Climate Change: The Summer of 1988", "News reporters gave only a little attention ...".
- ↑ Joo et al. 2015.
- ↑ Hodder & Martin 2009
- ↑ BBC Science Focus Magazine, 3 February 2020
- ↑ Neukom et al. 2019b.
- ↑ "Global Annual Mean Surface Air Temperature Change". NASA. Diakses tanggal 23 Februari 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm. 294, 296.
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm. 366.
- ↑ Marcott, S. A.; Shakun, J. D.; Clark, P. U.; Mix, A. C. (2013). "A reconstruction of regional and global temperature for the past 11,300 years". Science. 339 (6124): 1198–1201. Bibcode:2013Sci...339.1198M. doi:10.1126/science.1228026. PMID 23471405.
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm. 296.
- ↑ IPCC AR5 WG1 Ch5 2013, hlm. 386
- ↑ Neukom et al. 2019a
- ↑ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm. 57: "This report adopts the 51-year reference period, 1850–1900 inclusive, assessed as an approximation of pre-industrial levels in AR5 ... Temperatures rose by 0.0 °C–0.2 °C from 1720–1800 to 1850–1900"
- ↑ Hawkins et al. 2017, hlm. 1844
- ↑ "Mean Monthly Temperature Records Across the Globe / Timeseries of Global Land and Ocean Areas at Record Levels for September from 1951–2023". NCEI.NOAA.gov. National Centers for Environmental Information (NCEI) of the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). September 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Oktober 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (change "202309" in URL to see years other than 2023, and months other than 09=September) - ↑ 700 meter teratas: Lindsey, Rebecca; Dahlman, Luann (6 September 2023). "Climate Change: Ocean Heat Content". climate.gov. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) ● 2000 meter teratas: "Ocean Warming / Latest Measurement: December 2022 / 345 (± 2) zettajoules since 1955". NASA.gov. National Aeronautics and Space Administration. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR5 WG1 Summary for Policymakers 2013, hlm. 4–5: "Global-scale observations from the instrumental era began in the mid-19th century for temperature and other variables ... the period 1880 to 2012 ... multiple independently produced datasets exist."
- ↑ "Global 'Sunscreen' Has Likely Thinned, Report NASA Scientists". NASA. 15 Maret 2007.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Quaas, Johannes; Jia, Hailing; Smith, Chris; Albright, Anna Lea; Aas, Wenche; Bellouin, Nicolas; Boucher, Olivier; Doutriaux-Boucher, Marie; Forster, Piers M.; Grosvenor, Daniel; Jenkins, Stuart; Klimont, Zbigniew; Loeb, Norman G.; Ma, Xiaoyan; Naik, Vaishali; Paulot, Fabien; Stier, Philip; Wild, Martin; Myhre, Gunnar; Schulz, Michael (21 September 2022). "Robust evidence for reversal of the trend in aerosol effective climate forcing". Atmospheric Chemistry and Physics. 22 (18): 12221–12239. Bibcode:2022ACP....2212221Q. doi:10.5194/acp-22-12221-2022. hdl:20.500.11850/572791.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 43
- ↑ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm. 81.
- ↑ Forster et al. 2026, hlm. 3889
- ↑ Samset, B. H.; Fuglestvedt, J. S.; Lund, M. T. (7 Juli 2020). "Delayed emergence of a global temperature response after emission mitigation". Nature Communications. 11 (1): 3261. Bibcode:2020NatCo..11.3261S. doi:10.1038/s41467-020-17001-1. hdl:11250/2771093. PMC 7341748. PMID 32636367. At the time of writing, that translated into 2035–2045, where the delay was mostly due to the impacts of the around 0.2 °C of natural, interannual variability of global mean surface air temperature
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Seip, Knut L.; Grøn, ø.; Wang, H. (31 Agustus 2023). "Global lead-lag changes between climate variability series coincide with major phase shifts in the Pacific decadal oscillation". Theoretical and Applied Climatology (dalam bahasa Inggris). 154 (3–4): 1137–1149. Bibcode:2023ThApC.154.1137S. doi:10.1007/s00704-023-04617-8. hdl:11250/3088837.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Yao, Shuai-Lei; Huang, Gang; Wu, Ren-Guang; Qu, Xia (Januari 2016). "The global warming hiatus—a natural product of interactions of a secular warming trend and a multi-decadal oscillation". Theoretical and Applied Climatology (dalam bahasa Inggris). 123 (1–2): 349–360. Bibcode:2016ThApC.123..349Y. doi:10.1007/s00704-014-1358-x.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Xie, Shang-Ping; Kosaka, Yu (Juni 2017). "What Caused the Global Surface Warming Hiatus of 1998–2013?". Current Climate Change Reports (dalam bahasa Inggris). 3 (2): 128–140. Bibcode:2017CCCR....3..128X. doi:10.1007/s40641-017-0063-0.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tollefson, Jeff (10 Januari 2025). "Earth breaches 1.5 °C climate limit for the first time: what does it mean?". Nature. 637 (8047): 769–770. Bibcode:2025Natur.637..769T. doi:10.1038/d41586-025-00010-9. PMID 39794429.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Summary for Policymakers". Climate Change 2021 – the Physical Science Basis. 2023. hlm. 3–32. doi:10.1017/9781009157896.001. ISBN 978-1-009-15789-6.
- ↑ McGrath, Matt (17 Mei 2023). "Global warming set to break key 1.5C limit for first time". BBC News. Diakses tanggal 31 Januari 2024. The researchers stress that temperatures would have to stay at or above 1.5C for 20 years to be able to say the Paris agreement threshold had been passed.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kennedy et al. 2010, hlm. S26. Figure 2.5.
- ↑ Loeb et al. 2021.
- ↑ "Global Warming". NASA JPL. 3 Juni 2010. Diakses tanggal 11 September 2020. Satellite measurements show warming in the troposphere but cooling in the stratosphere. This vertical pattern is consistent with global warming due to increasing greenhouse gases but inconsistent with warming from natural causes.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kennedy et al. 2010, hlm. S26, S59–S60
- ↑ USGCRP Chapter 1 2017, hlm. 35
- ↑ IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 257–260
- ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 7
- ↑ Sutton, Dong & Gregory 2007.
- ↑ "Climate Change: Ocean Heat Content". Noaa Climate.gov. NOAA. 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Februari 2019. Diakses tanggal 20 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR5 WG1 Ch3 2013, hlm. 257: "Ocean warming dominates the global energy change inventory. Warming of the ocean accounts for about 93% of the increase in the Earth's energy inventory between 1971 and 2010 (high confidence), with warming of the upper (0 to 700 m) ocean accounting for about 64% of the total.
- ↑ von Schuckman, K.; Cheng, L.; Palmer, M. D.; Hansen, J.; et al. (7 September 2020). "Heat stored in the Earth system: where does the energy go?". Earth System Science Data. 12 (3): 2013–2041. Bibcode:2020ESSD...12.2013V. doi:10.5194/essd-12-2013-2020. hdl:20.500.11850/443809.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ NOAA, 10 July 2011.
- 1 2 United States Environmental Protection Agency 2016, hlm. 5: "Black carbon that is deposited on snow and ice darkens those surfaces and decreases their reflectivity (albedo). This is known as the snow/ice albedo effect. This effect results in the increased absorption of radiation that accelerates melting."
- ↑ "Arctic warming three times faster than the planet, report warns". Phys.org (dalam bahasa Inggris). 20 Mei 2021. Diakses tanggal 6 Oktober 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rantanen, Mika; Karpechko, Alexey Yu; Lipponen, Antti; Nordling, Kalle; Hyvärinen, Otto; Ruosteenoja, Kimmo; Vihma, Timo; Laaksonen, Ari (11 Agustus 2022). "The Arctic has warmed nearly four times faster than the globe since 1979". Communications Earth & Environment. 3 (1): 168. Bibcode:2022ComEE...3..168R. doi:10.1038/s43247-022-00498-3. hdl:11250/3115996.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Liu, Wei; Fedorov, Alexey V.; Xie, Shang-Ping; Hu, Shineng (26 Juni 2020). "Climate impacts of a weakened Atlantic Meridional Overturning Circulation in a warming climate". Science Advances. 6 (26) eaaz4876. Bibcode:2020SciA....6.4876L. doi:10.1126/sciadv.aaz4876. PMC 7319730. PMID 32637596.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Pearce, Fred (18 April 2023). "New Research Sparks Concerns That Ocean Circulation Will Collapse" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Februari 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lee, Sang-Ki; Lumpkin, Rick; Gomez, Fabian; Yeager, Stephen; Lopez, Hosmay; Takglis, Filippos; Dong, Shenfu; Aguiar, Wilton; Kim, Dongmin; Baringer, Molly (13 Maret 2023). "Human-induced changes in the global meridional overturning circulation are emerging from the Southern Ocean". Communications Earth & Environment. 4 (1): 69. Bibcode:2023ComEE...4...69L. doi:10.1038/s43247-023-00727-3.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "NOAA Scientists Detect a Reshaping of the Meridional Overturning Circulation in the Southern Ocean". NOAA. 29 Maret 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Schuur, Edward A. G.; Abbott, Benjamin W.; Commane, Roisin; Ernakovich, Jessica; Euskirchen, Eugenie; Hugelius, Gustaf; Grosse, Guido; Jones, Miriam; Koven, Charlie; Leshyk, Victor; Lawrence, David; Loranty, Michael M.; Mauritz, Marguerite; Olefeldt, David; Natali, Susan; Rodenhizer, Heidi; Salmon, Verity; Schädel, Christina; Strauss, Jens; Treat, Claire; Turetsky, Merritt (2022). "Permafrost and Climate Change: Carbon Cycle Feedbacks From the Warming Arctic". Annual Review of Environment and Resources. 47: 343–371. Bibcode:2022ARER...47..343S. doi:10.1146/annurev-environ-012220-011847. Medium-range estimates of Arctic carbon emissions could result from moderate climate emission mitigation policies that keep global warming below 3 °C (e.g., RCP4.5). This global warming level most closely matches country emissions reduction pledges made for the Paris Climate Agreement...
- ↑ Phiddian, Ellen (5 April 2022). "Explainer: IPCC Scenarios". Cosmos. Diakses tanggal 30 September 2023. "The IPCC doesn't make projections about which of these scenarios is more likely, but other researchers and modellers can. The Australian Academy of Science, for instance, released a report last year stating that our current emissions trajectory had us headed for a 3 °C warmer world, roughly in line with the middle scenario. Climate Action Tracker predicts 2.5 to 2.9 °C of warming based on current policies and action, with pledges and government agreements taking this to 2.1 °C.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ WMO 2024b, hlm. 2.
- ↑ "Climate Change 2021 – The Physical Science Basis" (PDF). Intergovernmental Panel on Climate Change. 7 Agustus 2021. IPCC AR6 WGI. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 April 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. SPM-17
- ↑ Meinshausen, Malte; Smith, S. J.; Calvin, K.; Daniel, J. S.; Kainuma, M. L. T.; Lamarque, J-F.; Matsumoto, K.; Montzka, S. A.; Raper, S. C. B.; Riahi, K.; Thomson, A.; Velders, G. J. M.; van Vuuren, D.P. P. (2011). "The RCP greenhouse gas concentrations and their extensions from 1765 to 2300". Climatic Change (dalam bahasa Inggris). 109 (1–2): 213–241. Bibcode:2011ClCh..109..213M. doi:10.1007/s10584-011-0156-z.
- ↑ Lyon, Christopher; Saupe, Erin E.; Smith, Christopher J.; Hill, Daniel J.; Beckerman, Andrew P.; Stringer, Lindsay C.; Marchant, Robert; McKay, James; Burke, Ariane; O'Higgins, Paul; Dunhill, Alexander M.; Allen, Bethany J.; Riel-Salvatore, Julien; Aze, Tracy (2021). "Climate change research and action must look beyond 2100". Global Change Biology (dalam bahasa Inggris). 28 (2): 349–361. doi:10.1111/gcb.15871. hdl:20.500.11850/521222. PMID 34558764.
- ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 43–44
- ↑ Rogelj et al. 2019
- ↑ United Nations Environment Programme 2024, hlm. XI, XVII.
- ↑ Brown, Patrick T.; Li, Wenhong; Xie, Shang-Ping (27 Januari 2015). "Regions of significant influence on unforced global mean surface air temperature variability in climate models: Origin of global temperature variability". Journal of Geophysical Research: Atmospheres. 120 (2): 480–494. doi:10.1002/2014JD022576. hdl:10161/9564.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Trenberth, Kevin E.; Fasullo, John T. (Desember 2013). "An apparent hiatus in global warming?". Earth's Future. 1 (1): 19–32. Bibcode:2013EaFut...1...19T. doi:10.1002/2013EF000165.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ National Research Council 2012, hlm. 9
- ↑ IPCC AR5 WG1 Ch10 2013, hlm. 916.
- ↑ Knutson 2017, hlm. 443; IPCC AR5 WG1 Ch10 2013, hlm. 875–876
- 1 2 USGCRP 2009, hlm. 20.
- ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. 7
- ↑ NASA. "The Causes of Climate Change". Climate Change: Vital Signs of the Planet. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Mei 2019. Diakses tanggal 8 Mei 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ozon bertindak sebagai gas rumah kaca di lapisan terendah atmosfer, yaitu troposfer (berbeda dengan lapisan ozon stratosfer). Wang, Shugart & Lerdau 2017
- ↑ Schmidt et al. 2010; USGCRP Climate Science Supplement 2014, hlm. 742
- ↑ IPCC AR4 WG1 Ch1 2007, FAQ1.1: "To emit 240 W m−2, a surface would have to have a temperature of around −19 °C. This is much colder than the conditions that actually exist at the Earth's surface (the global mean surface temperature is about 14 °C).
- ↑ ACS. "What Is the Greenhouse Effect?". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Mei 2019. Diakses tanggal 26 Mei 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ The Guardian, 19 February 2020.
- ↑ WMO 2024a, hlm. 2.
- ↑ The Cenozoic CO2 Proxy Integration Project (CenCOPIP) Consortium 2023.
- ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. TS-35.
- ↑ References for Global Carbon Budget chart updated through 2024:
- For carbon entries: "Home ›The Data Hub 2025 ›The Latest GCB Data (2025)". Global Carbon Budget. Click "Global Carbon Budget v2025" to download Excel xlsx file. Multiply these carbon entries by 3.664 to arrive at carbon dioxide figures. Contains land use data only since 1959; see OWID references for complete data:
- For carbon dioxide entries for other industry, flaring, cement, gas, oil, and coal: Ritchie, Hannah; Rosado, Pablo; Roser, Max (23 Juni 2020). "CO₂ emissions by fuel". Our World in Data (OWID).
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Download data from chosen chart, "CO₂ emissions by fuel or industry type, World". - For carbon dioxide entries for land use: "Annual CO₂ emissions from land-use change". Our World in Data (OWID). Select "Line", choose "Download", select "Data", click "Download displayed data". - ↑ IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, Figure SPM.1.
- ↑ Olivier & Peters 2019, hlm. 17
- ↑ Our World in Data, 18 September 2020; EPA 2020: "Greenhouse gas emissions from industry primarily come from burning fossil fuels for energy, as well as greenhouse gas emissions from certain chemical reactions necessary to produce goods from raw materials."
- ↑ "Redox, extraction of iron and transition metals". Hot air (oxygen) reacts with the coke (carbon) to produce carbon dioxide and heat energy to heat up the furnace. Removing impurities: The calcium carbonate in the limestone thermally decomposes to form calcium oxide. calcium carbonate → calcium oxide + carbon dioxide
- ↑ Kvande 2014: "Carbon dioxide gas is formed at the anode, as the carbon anode is consumed upon reaction of carbon with the oxygen ions from the alumina (Al2O3). Formation of carbon dioxide is unavoidable as long as carbon anodes are used, and it is of great concern because CO2 is a greenhouse gas."
- ↑ EPA 2020
- ↑ Global Methane Initiative 2020: "Estimated Global Anthropogenic Methane Emissions by Source, 2020: Enteric fermentation (27%), Manure Management (3%), Coal Mining (9%), Municipal Solid Waste (11%), Oil & Gas (24%), Wastewater (7%), Rice Cultivation (7%)."
- ↑ EPA 2019: "Agricultural activities, such as fertilizer use, are the primary source of N2O emissions."
- ↑ Davidson 2009: "2.0% of manure nitrogen and 2.5% of fertilizer nitrogen was converted to nitrous oxide between 1860 and 2005; these percentage contributions explain the entire pattern of increasing nitrous oxide concentrations over this period."
- ↑ "Understanding methane emissions". International Energy Agency.
- 1 2 Riebeek, Holli (16 Juni 2011). "The Carbon Cycle". Earth Observatory. NASA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Maret 2016. Diakses tanggal 5 April 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 10
- ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 450.
- ↑ Weisse, Mikaela; Goldman, Elizabeth (April 2026). "Indicators of Forest Extent / Forest Loss /". World Resources Institute (WRI). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Chart in section titled "Annual rates of global tree cover loss have risen since 2000". - ↑ Ritchie & Roser 2018
- ↑ The Sustainability Consortium, 13 September 2018; UN FAO 2016, hlm. 18.
- ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 18
- ↑ Curtis et al. 2018
- 1 2 3 Garrett, L.; Lévite, H.; Besacier, C.; Alekseeva, N.; Duchelle, M. (2022). The key role of forest and landscape restoration in climate action. Rome: FAO. doi:10.4060/cc2510en. ISBN 978-92-5-137044-5.
- 1 2 World Resources Institute, 8 December 2019
- ↑ IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 172: "The global biophysical cooling alone has been estimated by a larger range of climate models and is −0.10 ± 0.14 °C; it ranges from −0.57 °C to +0.06 °C ... This cooling is essentially dominated by increases in surface albedo: historical land cover changes have generally led to a dominant brightening of land."
- ↑ Haywood 2016, hlm. 456; McNeill 2017; Samset et al. 2018.
- ↑ IPCC AR5 WG1 Ch2 2013, hlm. 183.
- ↑ He et al. 2018; Storelvmo et al. 2016
- ↑ "Aerosol pollution has caused decades of global dimming". American Geophysical Union. 18 Februari 2021. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Maret 2023. Diakses tanggal 18 Desember 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Monroe, Robert (20 Januari 2023). "Increased Atmospheric Dust has Masked Power of Greenhouse Gases to Warm Planet | Scripps Institution of Oceanography". scripps.ucsd.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 November 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wild et al. 2005; Storelvmo et al. 2016; Samset et al. 2018.
- ↑ Twomey 1977.
- ↑ Albrecht 1989.
- 1 2 3 USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 78.
- ↑ "A review of black carbon in snow and ice and its impact on the cryosphere". Earth-Science Reviews (dalam bahasa American English). 210. 2020-11-01. doi:10.1016/j.eartidak aktif 8 Agustus 2026. ISSN 0012-8252. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-02-16.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ramanathan & Carmichael 2008
- ↑ RIVM 2016.
- ↑ Sand et al. 2015
- ↑ "IMO 2020 – cutting sulphur oxide emissions". imo.org.
- ↑ Carbon Brief, 3 July 2023
- ↑ "Climate Science Special Report: Fourth National Climate Assessment, Volume I – Chapter 3: Detection and Attribution of Climate Change". science2017.globalchange.gov. U.S. Global Change Research Program (USGCRP): 1–470. 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 23 September 2019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Adapted directly from Fig. 3.3. - ↑ Wuebbles, D. J.; Fahey, D. W.; Hibbard, K. A.; Deangelo, B.; Doherty, S.; Hayhoe, K.; Horton, R.; Kossin, J. P.; Taylor, P. C.; Waple, A. M.; Yohe, C. P. (23 November 2018). "Climate Science Special Report / Fourth National Climate Assessment (NCA4), Volume I /Executive Summary / Highlights of the Findings of the U.S. Global Change Research Program Climate Science Special Report". globalchange.gov. U.S. Global Change Research Program: 1–470. doi:10.7930/J0DJ5CTGtidak aktif 23 Mei 2026. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Juni 2019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ National Academies 2008, hlm. 6
- ↑ "Is the Sun causing global warming?". Climate Change: Vital Signs of the Planet. 18 September 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Mei 2019. Diakses tanggal 10 Mei 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR4 WG1 Ch9 2007, hlm. 702–703; Randel et al. 2009.
- 1 2 USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 79
- ↑ Fischer & Aiuppa 2020.
- ↑ "Thermodynamics: Albedo". NSIDC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2017. Diakses tanggal 10 Oktober 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Milman, Oliver (10 September 2026). "Climate 'feedback loops' could worsen global warming by 30%, study finds" – via The Guardian.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "The study of Earth as an integrated system". Vitals Signs of the Planet. Earth Science Communications Team at NASA's Jet Propulsion Laboratory / California Institute of Technology. 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 89–91.
- ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 58: "The net effect of changes in clouds in response to global warming is to amplify human-induced warming, that is, the net cloud feedback is positive (high confidence)"
- ↑ USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 89–90.
- ↑ IPCC AR5 WG1 2013, hlm. 14
- ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 93: "Feedback processes are expected to become more positive overall (more amplifying of global surface temperature changes) on multi-decadal time scales as the spatial pattern of surface warming evolves and global surface temperature increases."
- ↑ Williams, Ceppi & Katavouta 2020.
- ↑ NASA, 28 May 2013.
- ↑ Cohen et al. 2014.
- 1 2 Turetsky et al. 2019
- ↑ Climate.gov, 23 June 2022: "Carbon cycle experts estimate that natural "sinks"—processes that remove carbon from the atmosphere—on land and in the ocean absorbed the equivalent of about half of the carbon dioxide we emitted each year in the 2011–2020 decade."
- ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. TS-122, Box TS.5, Figure 1
- ↑ Melillo et al. 2017: Our first-order estimate of a warming-induced loss of 190 Pg of soil carbon over the 21st century is equivalent to the past two decades of carbon emissions from fossil fuel burning.
- ↑ IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 133, 144.
- ↑ USGCRP Chapter 2 2017, hlm. 93–95.
- ↑ Liu, Y.; Moore, J. K.; Primeau, F.; Wang, W. L. (22 Desember 2022). "Reduced CO2 uptake and growing nutrient sequestration from slowing overturning circulation". Nature Climate Change. 13: 83–90. doi:10.1038/s41558-022-01555-7. OSTI 2242376.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 58, 59: "Clouds remain the largest contribution to overall uncertainty in climate feedbacks."
- ↑ Wolff et al. 2015: "the nature and magnitude of these feedbacks are the principal cause of uncertainty in the response of Earth's climate (over multi-decadal and longer periods) to a particular emissions scenario or greenhouse gas concentration pathway."
- ↑ IPCC AR5 SYR Glossary 2014, hlm. 120.
- ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "What are the different types of climate models?"
- ↑ Wolff et al. 2015
- ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "Who does climate modelling around the world?"
- ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "What is a climate model?"
- ↑ IPCC AR4 WG1 Ch8 2007, FAQ 8.1.
- ↑ Stroeve et al. 2007; National Geographic, 13 August 2019
- ↑ Liepert & Previdi 2009.
- ↑ Rahmstorf et al. 2007; Mitchum et al. 2018
- ↑ USGCRP Chapter 15 2017.
- ↑ Hébert, R.; Herzschuh, U.; Laepple, T. (31 Oktober 2022). "Millennial-scale climate variability over land overprinted by ocean temperature fluctuations". Nature Geoscience. 15 (1): 899–905. Bibcode:2022NatGe..15..899H. doi:10.1038/s41561-022-01056-4. PMC 7614181. PMID 36817575.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Carbon Brief, 15 January 2018, "What are the inputs and outputs for a climate model?"
- ↑ Matthews et al. 2009
- ↑ Carbon Brief, 19 April 2018; Meinshausen 2019, hlm. 462.
- ↑ Giguere, Otto; Tanenenbaum, Vahlbert (30 Mei 2025). "Climate Change and the Escalation of Global Extreme Heat: Assessing and Addressing the Risks" (PDF). Climate Central, Red Cross Red Crescent Climate Centre, and World Weather Attribution. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 31 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Click on "Download the data", and in spreadsheet choose "Countries and territories" tab at bottom to view raw data - ↑ Hansen et al. 2016; Smithsonian, 26 June 2016.
- ↑ USGCRP Chapter 15 2017, hlm. 415.
- ↑ Scientific American, 29 April 2014; Burke & Stott 2017.
- ↑ Liu, Fei; Wang, Bin; Ouyang, Yu; Wang, Hui; Qiao, Shaobo; Chen, Guosen; Dong, Wenjie (19 April 2022). "Intraseasonal variability of global land monsoon precipitation and its recent trend". npj Climate and Atmospheric Science (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 30. Bibcode:2022npCAS...5...30L. doi:10.1038/s41612-022-00253-7. ISSN 2397-3722.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ USGCRP Chapter 9 2017, hlm. 260.
- ↑ Studholme, Joshua; Fedorov, Alexey V.; Gulev, Sergey K.; Emanuel, Kerry; Hodges, Kevin (29 Desember 2021). "Poleward expansion of tropical cyclone latitudes in warming climates". Nature Geoscience. 15: 14–28. doi:10.1038/s41561-021-00859-1.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Hurricanes and Climate Change". Center for Climate and Energy Solutions. 10 Juli 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ NOAA 2017.
- ↑ WMO 2024a, hlm. 6.
- ↑ IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 1302
- ↑ DeConto & Pollard 2016
- ↑ Bamber et al. 2019.
- ↑ Zhang et al. 2008
- ↑ IPCC SROCC Summary for Policymakers 2019, hlm. 18
- ↑ Doney et al. 2009.
- ↑ Deutsch et al. 2011
- ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 510; "Climate Change and Harmful Algal Blooms". EPA. 5 September 2013. Diakses tanggal 11 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Tipping Elements – big risks in the Earth System". Potsdam Institute for Climate Impact Research. Diakses tanggal 31 Januari 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Armstrong McKay, David I.; Staal, Arie; Abrams, Jesse F.; Winkelmann, Ricarda; Sakschewski, Boris; Loriani, Sina; Fetzer, Ingo; Cornell, Sarah E.; Rockström, Johan; Lenton, Timothy M. (9 September 2022). "Exceeding 1.5 °C global warming could trigger multiple climate tipping points". Science. 377 (6611) eabn7950. doi:10.1126/science.abn7950. hdl:10871/131584. PMID 36074831.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SR15 Ch3 2018, hlm. 283.
- ↑ Carbon Brief, 10 February 2020
- ↑ Bochow, Nils; Poltronieri, Anna; Robinson, Alexander; Montoya, Marisa; Rypdal, Martin; Boers, Niklas (18 Oktober 2023). "Overshooting the critical threshold for the Greenland ice sheet". Nature. 622 (7983): 528–536. Bibcode:2023Natur.622..528B. doi:10.1038/s41586-023-06503-9. PMC 10584691. PMID 37853149.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ditlevsen, Peter; Ditlevsen, Susanne (25 Juli 2023). "Warning of a forthcoming collapse of the Atlantic meridional overturning circulation". Nature Communications (dalam bahasa Inggris). 14 (1): 4254. arXiv:2304.09160. Bibcode:2023NatCo..14.4254D. doi:10.1038/s41467-023-39810-w. PMC 10368695. PMID 37491344.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. 21
- ↑ IPCC AR5 WG1 Ch12 2013, hlm. 88–89, FAQ 12.3
- ↑ Smith et al. 2009; Levermann et al. 2013
- ↑ IPCC AR5 WG1 Ch12 2013, hlm. 1112.
- ↑ Oschlies, Andreas (16 April 2021). "A committed fourfold increase in ocean oxygen loss". Nature Communications. 12 (1) 2307. Bibcode:2021NatCo..12.2307O. doi:10.1038/s41467-021-22584-4. PMC 8052459. PMID 33863893.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lau, Sally C. Y.; Wilson, Nerida G.; Golledge, Nicholas R.; Naish, Tim R.; Watts, Phillip C.; Silva, Catarina N. S.; Cooke, Ira R.; Allcock, A. Louise; Mark, Felix C.; Linse, Katrin (21 Desember 2023). "Genomic evidence for West Antarctic Ice Sheet collapse during the Last Interglacial". Science. 382 (6677): 1384–1389. Bibcode:2023Sci...382.1384L. doi:10.1126/science.ade0664. PMID 38127761.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Naughten, Kaitlin A.; Holland, Paul R.; De Rydt, Jan (23 Oktober 2023). "Unavoidable future increase in West Antarctic ice-shelf melting over the twenty-first century". Nature Climate Change. 13 (11): 1222–1228. Bibcode:2023NatCC..13.1222N. doi:10.1038/s41558-023-01818-x.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SR15 Ch3 2018, hlm. 218.
- ↑ Martins, Paulo Mateus; Anderson, Marti J.; Sweatman, Winston L.; Punnett, Andrew J. (9 April 2024). "Significant shifts in latitudinal optima of North American birds". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (dalam bahasa Inggris). 121 (15) e2307525121. Bibcode:2024PNAS..12107525M. doi:10.1073/pnas.2307525121. ISSN 0027-8424. PMC 11009622. PMID 38557189.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 133.
- ↑ Deng, Yuanhong; Li, Xiaoyan; Shi, Fangzhong; Hu, Xia (Desember 2021). "Woody plant encroachment enhanced global vegetation greening and ecosystem water-use efficiency". Global Ecology and Biogeography. 30 (12): 2337–2353. Bibcode:2021GloEB..30.2337D. doi:10.1111/geb.13386.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm. 7; Zeng & Yoon 2009.
- ↑ Turner et al. 2020, hlm. 1.
- ↑ Urban 2015.
- ↑ Poloczanska et al. 2013; Lenoir et al. 2020
- ↑ Smale et al. 2019
- ↑ IPCC SROCC Summary for Policymakers 2019, hlm. 13.
- ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 510
- ↑ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm. 451.
- ↑ Azevedo-Schmidt, Lauren; Meineke, Emily K.; Currano, Ellen D. (18 Oktober 2022). "Insect herbivory within modern forests is greater than fossil localities". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (dalam bahasa Inggris). 119 (42) e2202852119. Bibcode:2022PNAS..11902852A. doi:10.1073/pnas.2202852119. ISSN 0027-8424. PMC 9586316. PMID 36215482.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Coral Reef Risk Outlook". National Oceanic and Atmospheric Administration. 2 Januari 2012. Diakses tanggal 4 April 2020. At present, local human activities, coupled with past thermal stress, threaten an estimated 75 percent of the world's reefs. By 2030, estimates predict more than 90% of the world's reefs will be threatened by local human activities, warming, and acidification, with nearly 60% facing high, very high, or critical threat levels.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Carbon Brief, 7 January 2020.
- ↑ IPCC AR5 WG2 Ch28 2014, hlm. 1596: "Within 50 to 70 years, loss of hunting habitats may lead to elimination of polar bears from seasonally ice-covered areas, where two-thirds of their world population currently live."
- ↑ "What a changing climate means for Rocky Mountain National Park". National Park Service. Diakses tanggal 9 April 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm. SPM-23, Fig. SPM.6
- ↑ Lenton, Timothy M.; Xu, Chi; Abrams, Jesse F.; Ghadiali, Ashish; Loriani, Sina; Sakschewski, Boris; Zimm, Caroline; Ebi, Kristie L.; Dunn, Robert R.; Svenning, Jens-Christian; Scheffer, Marten (2023). "Quantifying the human cost of global warming". Nature Sustainability. 6 (10): 1237–1247. Bibcode:2023NatSu...6.1237L. doi:10.1038/s41893-023-01132-6. hdl:10871/132650.
- ↑ IPCC AR5 WG2 Ch18 2014, hlm. 983, 1008
- ↑ IPCC AR5 WG2 Ch19 2014, hlm. 1077.
- ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 8, SPM 2
- ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 13, SPM 2.3
- 1 2 Romanello 2023
- 1 2 3 Ebi et al. 2018
- 1 2 3 Romanello 2022
- 1 2 3 4 5 IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm. 9
- ↑ World Economic Forum 2024, hlm. 4
- 1 2 Carbon Brief, 19 June 2017
- ↑ Mora et al. 2017
- ↑ IPCC AR6 WG2 Ch6 2022, hlm. 988
- ↑ The State of the World's Land and Water Resources for Food and Agriculture 2025 (dalam bahasa English). FAO. 2025. doi:10.4060/cd7488en. ISBN 978-92-5-140285-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC BY 4.0License statement: Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan. - ↑ World Economic Forum 2024, hlm. 24
- ↑ IPCC AR6 WG2 Ch5 2022, hlm. 748
- ↑ IPCC AR6 WG2 Technical Summary 2022, hlm. 63
- ↑ DeFries et al. 2019, hlm. 3; Krogstrup & Oman 2019, hlm. 10.
- 1 2 Women's leadership and gender equality in climate action and disaster risk reduction in Africa − A call for action. Accra: FAO & The African Risk Capacity (ARC) Group. 2021. doi:10.4060/cb7431en. ISBN 978-92-5-135234-2.
- ↑ IPCC AR5 WG2 Ch13 2014, hlm. 796–797
- ↑ IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 725
- ↑ Hallegatte et al. 2016, hlm. 12.
- ↑ IPCC AR5 WG2 Ch13 2014, hlm. 796.
- ↑ Grabe, Grose and Dutt, 2014; FAO, 2011; FAO, 2021a; Fisher and Carr, 2015; IPCC, 2014; Resurrección et al., 2019; UNDRR, 2019; Yeboah et al., 2019.
- ↑ "Climate Change | United Nations For Indigenous Peoples". United Nations Department of Economic and Social Affairs. Diakses tanggal 29 April 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mach et al. 2019.
- 1 2 The status of women in agrifood systems – Overview (PDF). Rome: FAO. 2023. doi:10.4060/cc5060en.
Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC BY-SA 3.0License statement: Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan. - ↑ "Climate shocks threaten $2.3 trillion global sports economy, study warns". CNA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
- ↑ IPCC SROCC Ch4 2019, hlm. 328.
- ↑ UNHCR 2011, hlm. 3.
- ↑ Matthews 2018, hlm. 399.
- ↑ Balsari, Dresser & Leaning 2020
- ↑ Cattaneo et al. 2019; IPCC AR6 WG2 2022, hlm. 15, 53
- ↑ Flavell 2014, hlm. 38; Kaczan & Orgill-Meyer 2020
- ↑ Serdeczny et al. 2016.
- ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 439, 464.
- ↑ National Oceanic and Atmospheric Administration. "What is nuisance flooding?". Diakses tanggal April 8, 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kabir et al. 2016.
- ↑ Vautard et al. 2020.
- ↑ IPCC AR5 SYR Glossary 2014, hlm. 125.
- ↑ IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 12
- ↑ IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 15
- ↑ United Nations Environment Programme 2019, hlm. XX
- ↑ United Nations Environment Programme 2024, hlm. 33, 34.
- ↑ IPCC AR6 WG3 Ch3 2022, hlm. 300: "The global benefits of pathways limiting warming to 2 °C (>67%) outweigh global mitigation costs over the 21st century, if aggregated economic impacts of climate change are at the moderate to high end of the assessed range, and a weight consistent with economic theory is given to economic impacts over the long term. This holds true even without accounting for benefits in other sustainable development dimensions or nonmarket damages from climate change (medium confidence)."
- ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 109.
- ↑ Teske, ed. 2019, hlm. xxiii.
- ↑ World Resources Institute, 8 August 2019
- ↑ IPCC SR15 Ch3 2018, hlm. 266: "Where reforestation is the restoration of natural ecosystems, it benefits both carbon sequestration and conservation of biodiversity and ecosystem services."
- ↑ Bui et al. 2018, hlm. 1068; IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 17
- ↑ IPCC SR15 2018, hlm. 34; IPCC SR15 Summary for Policymakers 2018, hlm. 17
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch5 2021, hlm. 768
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 619
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 624
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 629
- 1 2 IPCC AR6 WG3 Ch14 2022, hlm. 1494
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 625
- ↑ IPCC AR6 WG1 Ch4 2021, hlm. 625–627
- ↑ Friedlingstein et al. 2019
- ↑ "GCB 2025". Global Carbon Budget. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) GCB links to downloadable data at "Figures from the Global Carbon Budget 2025 / 34: Global energy use by category". CICERO Center for International Climate Research. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 United Nations Environment Programme 2019, hlm. 46; Vox, 20 September 2019; Sepulveda, Nestor A.; Jenkins, Jesse D.; De Sisternes, Fernando J.; Lester, Richard K. (2018). "The Role of Firm Low-Carbon Electricity Resources in Deep Decarbonization of Power Generation". Joule. 2 (11): 2403–2420. Bibcode:2018Joule...2.2403S. doi:10.1016/j.joule.2018.08.006.
- ↑ IEA World Energy Outlook 2023, hlm. 18
- ↑ REN21 2020, hlm. 32, Fig.1.
- ↑ IEA World Energy Outlook 2023, hlm. 18, 26
- ↑ "Record Growth in Renewables, but Progress Needs to be Equitable". IRENA. 27 Maret 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IEA 2021, hlm. 57, Fig 2.5; Teske et al. 2019, hlm. 180, Table 8.1
- ↑ Our World in Data-Why did renewables become so cheap so fast?; IEA – Projected Costs of Generating Electricity 2020
- ↑ "IPCC Working Group III report: Mitigation of Climate Change". Intergovernmental Panel on Climate Change. 4 April 2022. Diakses tanggal 19 Januari 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 131, Figure 2.15
- ↑ Teske 2019, hlm. 409–410.
- ↑ United Nations Environment Programme 2019, hlm. XXIII, Table ES.3; Teske, ed. 2019, hlm. xxvii, Fig.5.
- 1 2 IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 142–144; United Nations Environment Programme 2019, Table ES.3 & p. 49
- ↑ "Transport emissions". Climate action. European Commission. 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2021. Diakses tanggal 2 Januari 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ IPCC AR5 WG3 Ch9 2014, hlm. 697; NREL 2017, hlm. vi, 12
- ↑ Berrill et al. 2016.
- ↑ IPCC SR15 Ch4 2018, hlm. 324–325.
- ↑ Gill, Matthew; Livens, Francis; Peakman, Aiden. "Nuclear Fission". Dalam Letcher (2020), pp. 147–149.
- ↑ Horvath, Akos; Rachlew, Elisabeth (Januari 2016). "Nuclear power in the 21st century: Challenges and possibilities". Ambio. 45 (Suppl 1): S38–49. Bibcode:2016Ambio..45S..38H. doi:10.1007/s13280-015-0732-y. ISSN 1654-7209. PMC 4678124. PMID 26667059.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Hydropower". iea.org. International Energy Agency. Diakses tanggal 12 Oktober 2020. Hydropower generation is estimated to have increased by over 2% in 2019 owing to continued recovery from drought in Latin America as well as strong capacity expansion and good water availability in China (...) capacity expansion has been losing speed. This downward trend is expected to continue, due mainly to less large-project development in China and Brazil, where concerns over social and environmental impacts have restricted projects.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Watts et al. 2019, hlm. 1854; WHO 2018, hlm. 27
- ↑ Watts et al. 2019, hlm. 1837; WHO 2016
- ↑ WHO 2018, hlm. 27; Vandyck et al. 2018; IPCC SR15 2018, hlm. 97: "Limiting warming to 1.5 °C can be achieved synergistically with poverty alleviation and improved energy security and can provide large public health benefits through improved air quality, preventing millions of premature deaths. However, specific mitigation measures, such as bioenergy, may result in trade-offs that require consideration."
- ↑ IPCC AR6 WG3 2022, hlm. 300
- ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 97
- ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 29; IEA 2020b
- ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 155, Fig. 2.27
- ↑ IEA 2020b
- ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 142
- ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 138–140
- ↑ IPCC SR15 Ch2 2018, hlm. 141–142
- ↑ IPCC AR5 WG3 Ch9 2014, hlm. 686–694.
- ↑ World Resources Institute, December 2019, hlm. 1
- ↑ World Resources Institute, December 2019, hlm. 1, 3
- ↑ IPCC SRCCL 2019, hlm. 22, B.6.2
- ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 487, 488, FIGURE 5.12 Humans on a vegan exclusive diet would save about 7.9 GtCO2 equivalent per year by 2050 IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm. 51 Agriculture, Forestry and Other Land Use used an average of 12 GtCO2 per year between 2007 and 2016 (23% of total anthropogenic emissions).
- ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 82, 162, FIGURE 1.1
- ↑ "Low and zero emissions in the steel and cement industries" (PDF). hlm. 11, 19–22.
- 1 2 3 Lebling, Katie; Gangotra, Ankita; Hausker, Karl; Byrum, Zachary (13 November 2023). "7 Things to Know About Carbon Capture, Utilization and Sequestration" (dalam bahasa Inggris). World Resources Institute.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Text was copied from this source, which is available under a Creative Commons Attribution 4.0 International License - ↑ IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, hlm. 38
- ↑ World Resources Institute, 8 August 2019: IPCC SRCCL Ch2 2019, hlm. 189–193.
- ↑ Kreidenweis et al. 2016
- ↑ National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine 2019, hlm. 95–102
- ↑ National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine 2019, hlm. 45–54
- ↑ Nelson, J. D. J.; Schoenau, J. J.; Malhi, S. S. (1 Oktober 2008). "Soil organic carbon changes and distribution in cultivated and restored grassland soils in Saskatchewan". Nutrient Cycling in Agroecosystems. 82 (2): 137–148. Bibcode:2008NCyAg..82..137N. doi:10.1007/s10705-008-9175-1.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ruseva et al. 2020
- ↑ IPCC AR5 SYR 2014, hlm. 125; Bednar, Obersteiner & Wagner 2019.
- ↑ IPCC SR15 2018, hlm. 34
- ↑ IPCC, 2022: Summary for Policymakers [H.-O. Pörtner, D. C. Roberts, E. S. Poloczanska, K. Mintenbeck, M. Tignor, A. Alegría, M. Craig, S. Langsdorf, S. Löschke, V. Möller, A. Okem (eds.)]. In: Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [H.-O. Pörtner, D. C. Roberts, M. Tignor, E. S. Poloczanska, K. Mintenbeck, A. Alegría, M. Craig, S. Langsdorf, S. Löschke, V. Möller, A. Okem, B. Rama (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge and New York, pp. 3–33, DOI:10.1017/9781009325844.001.
- ↑ IPCC AR5 SYR 2014, hlm. 17.
- ↑ IPCC SR15 Ch4 2018, hlm. 396–397.
- ↑ IPCC AR4 WG2 Ch19 2007, hlm. 796.
- ↑ UNEP 2018, hlm. xii–xiii.
- ↑ Stephens, Scott A.; Bell, Robert G.; Lawrence, Judy (2018). "Developing signals to trigger adaptation to sea-level rise". Environmental Research Letters. 13 (10). 104004. Bibcode:2018ERL....13j4004S. doi:10.1088/1748-9326/aadf96. ISSN 1748-9326.
- ↑ Matthews 2018, hlm. 402.
- ↑ IPCC SRCCL Ch5 2019, hlm. 439.
- ↑ Surminski, Swenja; Bouwer, Laurens M.; Linnerooth-Bayer, Joanne (2016). "How insurance can support climate resilience". Nature Climate Change. 6 (4): 333–334. Bibcode:2016NatCC...6..333S. doi:10.1038/nclimate2979.
- ↑ IPCC SR15 Ch4 2018, hlm. 336–337.
- ↑ "Mangroves against the storm". Shorthand (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Januari 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "How marsh grass could help protect us from climate change". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). 24 Oktober 2021. Diakses tanggal 20 Januari 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Morecroft, Michael D.; Duffield, Simon; Harley, Mike; Pearce-Higgins, James W.; et al. (2019). "Measuring the success of climate change adaptation and mitigation in terrestrial ecosystems". Science. 366 (6471) eaaw9256. doi:10.1126/science.aaw9256. PMID 31831643.
- ↑ Berry, Pam M.; Brown, Sally; Chen, Minpeng; Kontogianni, Areti; et al. (2015). "Cross-sectoral interactions of adaptation and mitigation measures". Climate Change. 128 (3): 381–393. Bibcode:2015ClCh..128..381B. doi:10.1007/s10584-014-1214-0. hdl:10.1007/s10584-014-1214-0.
- ↑ IPCC AR5 SYR 2014, hlm. 54.
- ↑ Sharifi, Ayyoob (2020). "Trade-offs and conflicts between urban climate change mitigation and adaptation measures: A literature review". Journal of Cleaner Production. 276 122813. Bibcode:2020JCPro.27622813S. doi:10.1016/j.jclepro.2020.122813.
- ↑ IPCC AR5 SYR Summary for Policymakers 2014, hlm. 17, Section 3
- ↑ IPCC SR15 Ch5 2018, hlm. 447; United Nations (2017) Resolution adopted by the General Assembly on 6 July 2017, Work of the Statistical Commission pertaining to the 2030 Agenda for Sustainable Development (A/RES/71/313)
- ↑ IPCC SR15 Ch5 2018, hlm. 477.
- ↑ Rauner et al. 2020
- ↑ Mercure et al. 2018
- ↑ World Bank, June 2019, hlm. 12, Box 1
- ↑ Union of Concerned Scientists, 8 January 2017; Hagmann, Ho & Loewenstein 2019.
- ↑ Watts et al. 2019, hlm. 1866
- ↑ UN Human Development Report 2020, hlm. 10
- ↑ International Institute for Sustainable Development 2019, hlm. iv
- ↑ ICCT 2019, hlm. iv; Natural Resources Defense Council, 29 September 2017
- ↑ National Conference of State Legislators, 17 April 2020; European Parliament, February 2020
- ↑ "Building a Climate Coalition: Aligning Carbon Pricing, Trade, and Development". The Salata Institute (dalam bahasa Inggris). 16 September 2025. Diakses tanggal 7 Oktober 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Carbon Market Coalition Welcomes 18 Member Countries at COP30". COP30 Brasil Amazonia Belem 2025. Diakses tanggal 20 November 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Coppenborge, Florentine (16 Januari 2026). "A coalition on compliance carbon markets to make climate clubs politically feasible". Nature Climate Change. 16 (3): 232–233. Bibcode:2026NatCC..16..232K. doi:10.1038/s41558-025-02541-5. Diakses tanggal 16 Januari 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Carbon Brief, 16 October 2021
- ↑ Khalfan, Ashfaq; Nilsson Lewis, Astrid; Aguilar, Carlos; Persson, Jaqueline; Lawson, Max; Dabi, Nafkote; Jayoussi, Safa; Acharya, Sunil (2023). Climate Equality: A planet for the 99% (Laporan). doi:10.21201/2023.000001. hdl:10546/621551.
- ↑ Grasso, Marco; Heede, Richard (19 Mei 2023). "Time to pay the piper: Fossil fuel companies' reparations for climate damages". One Earth. 6 (5): 459–463. Bibcode:2023OEart...6..459G. doi:10.1016/j.oneear.2023.04.012. hdl:10281/416137.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Carbon Brief, 4 Jan 2017.
- 1 2 Friedlingstein et al. 2019, Table 7.
- ↑ "GCB 2025". Global Carbon Budget. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) GCB links to downloadable data at "Figures from the Global Carbon Budget 2025 / 73: Global CO2 emissions by region". CICERO Center for International Climate Research. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "GCB 2025". Global Carbon Budget. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) GCB links to downloadable data at "Figures from the Global Carbon Budget 2025 / 74: Global CO2 emissions per capita". CICERO Center for International Climate Research. 2026. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Maret 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ UNFCCC, "What is the United Nations Framework Convention on Climate Change?"
- ↑ UNFCCC 1992, Article 2.
- ↑ IPCC AR4 WG3 Ch1 2007, hlm. 97.
- ↑ EPA 2019.
- ↑ UNFCCC, "What are United Nations Climate Change Conferences?"
- ↑ Kyoto Protocol 1997; Liverman 2009, hlm. 290.
- ↑ Dessai 2001, hlm. 4; Grubb 2003.
- ↑ Liverman 2009, hlm. 290.
- ↑ Müller 2010; The New York Times, 25 May 2015; UNFCCC: Copenhagen 2009; EUobserver, 20 December 2009.
- ↑ UNFCCC: Copenhagen 2009.
- ↑ Conference of the Parties to the Framework Convention on Climate Change. Copenhagen. 7–18 Desember 2009. FCCC/CP/2009/L.7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Oktober 2010. Diakses tanggal 24 Oktober 2010.
{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bennett, Paige (2 Mei 2023). "High-Income Nations Are on Track Now to Meet $100 Billion Climate Pledges, but They're Late". Ecowatch. Diakses tanggal 10 Mei 2023.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Paris Agreement 2015.
- ↑ Climate Focus 2015, hlm. 3; Carbon Brief, 8 October 2018.
- ↑ Climate Focus 2015, hlm. 5.
- ↑ "Status of Treaties, United Nations Framework Convention on Climate Change". United Nations Treaty Collection. Diakses tanggal 31 Maret 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link); Salon, 25 September 2019. - ↑ Velders et al. 2007; Young et al. 2021
- ↑ WMO SAOD Executive Summary 2022, hlm. 20, 31
- ↑ WMO SAOD Executive Summary 2022, hlm. 20, 35; Young et al. 2021
- ↑ Goyal et al. 2019; Velders et al. 2007
- ↑ Carbon Brief, 21 November 2017
- ↑ WMO SAOD Executive Summary 2022, hlm. 15; Velders et al. 2022
- ↑ "Annual CO2 emissions by world region" (chart). ourworldindata.org. Our World in Data. Diakses tanggal 18 September 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ BBC, 1 May 2019; Vice, 2 May 2019.
- ↑ The Verge, 27 December 2019.
- ↑ The Guardian, 28 November 2019
- ↑ Politico, 11 December 2019.
- ↑ "European Green Deal: Commission proposes transformation of EU economy and society to meet climate ambitions". European Commission. 14 Juli 2021.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ The Guardian, 28 October 2020
- ↑ "India". Climate Action Tracker. 15 September 2021. Diakses tanggal 3 Oktober 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Do, Thang Nam; Burke, Paul J. (2023). "Phasing out coal power in a developing country context: Insights from Vietnam". Energy Policy. 176 (May 2023 113512) 113512. Bibcode:2023EnPol.17613512D. doi:10.1016/j.enpol.2023.113512. hdl:1885/286612.
- ↑ UN NDC Synthesis Report 2021, hlm. 4–5; UNFCCC Press Office (26 Februari 2021). "Greater Climate Ambition Urged as Initial NDC Synthesis Report Is Published". Diakses tanggal 21 April 2021.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Stover 2014.
- ↑ Dunlap & McCright 2011, hlm. 144, 155; Björnberg et al. 2017
- ↑ Oreskes & Conway 2010; Björnberg et al. 2017
- ↑ O'Neill & Boykoff 2010; Björnberg et al. 2017
- 1 2 Björnberg et al. 2017
- ↑ Dunlap & McCright 2015, hlm. 308.
- ↑ Dunlap & McCright 2011, hlm. 146.
- ↑ Harvey et al. 2018
- ↑ "Public perceptions on climate change" (PDF). PERITIA Trust EU – The Policy Institute of King's College London. Juni 2022. hlm. 4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 15 Juli 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Powell, James (20 November 2019). "Scientists Reach 100% Consensus on Anthropogenic Global Warming". Bulletin of Science, Technology & Society. 37 (4): 183–184. doi:10.1177/0270467619886266.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Myers, Krista F.; Doran, Peter T.; Cook, John; Kotcher, John E.; Myers, Teresa A. (20 Oktober 2021). "Consensus revisited: quantifying scientific agreement on climate change and climate expertise among Earth scientists 10 years later". Environmental Research Letters. 16 (10): 104030. Bibcode:2021ERL....16j4030M. doi:10.1088/1748-9326/ac2774.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Weart "The Public and Climate Change (since 1980)"
- ↑ Newell 2006, hlm. 80; Yale Climate Connections, 2 November 2010
- ↑ Pew 2015, hlm. 10.
- ↑ Preston, Caroline; Hechinger (1 Oktober 2023). "In Some Textbooks, Climate Change Content Is Few and Far Between". undark.org/.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Pew 2020.
- ↑ Pew 2015, hlm. 15.
- ↑ Yale 2021, hlm. 7.
- ↑ Gulliver, Robyn (3 November 2021). "A Comparative Analysis of Australian Media Coverage of the 2019 Climate Protests". The Commons Social Change Library (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 5 Maret 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Smith & Leiserowitz 2013, hlm. 943.
- ↑ Pew 2020; UNDP 2024, hlm. 22–26
- ↑ Yale 2021, hlm. 9; UNDP 2021, hlm. 15.
- ↑ Gunningham 2018.
- ↑ Hartley, Sophie (10 Oktober 2023). "Climate Activism: Start Here". The Commons Social Change Library (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 5 Maret 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ The Guardian, 19 March 2019; Boulianne, Lalancette & Ilkiw 2020.
- ↑ Deutsche Welle, 22 June 2019.
- ↑ Connolly, Kate (29 April 2021). "'Historic' German ruling says climate goals not tough enough". The Guardian. Diakses tanggal 1 Mei 2021.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Setzer & Byrnes 2019.
- ↑ "Obligations of States in respect of Climate Change" (PDF). ICJ-CIJ.org. 23 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Summary: Obligations of States in respect of Climate Change" (PDF). ICJ-CIJ.org. 23 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Press Release: Obligations of States in respect of Climate Change" (PDF). ICJ-CIJ.org. 23 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Foote, Eunice (November 1856). "Circumstances affecting the Heat of the Sun's Rays". The American Journal of Science and Arts. 22: 382–383. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2020. Diakses tanggal 31 Januari 2016.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Nord, D. C. (2020). Nordic Perspectives on the Responsible Development of the Arctic: Pathways to Action. Springer Polar Sciences. Springer International Publishing. hlm. 51. ISBN 978-3-030-52324-4. Diakses tanggal 11 Maret 2023.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Van Der Gun, Jac (2021). "Groundwater resources sustainability". Global Groundwater. hlm. 331–345. doi:10.1016/B978-0-12-818172-0.00024-4. ISBN 978-0-12-818172-0.
- ↑ von Humboldt, A.; Wulf, A. (2018). Selected Writings of Alexander von Humboldt: Edited and Introduced by Andrea Wulf. Everyman's Library Classics Series. Knopf Doubleday Publishing Group. hlm. 10. ISBN 978-1-101-90807-5. Diakses tanggal 11 Maret 2023.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Erdkamp, Paul; Manning, Joseph G.; Verboven, Koenraad (2021). Climate Change and Ancient Societies in Europe and the Near East: Diversity in Collapse and Resilience. Palgrave Studies in Ancient Economies. Springer International Publishing. hlm. 6. ISBN 978-3-030-81103-7. Diakses tanggal 11 Maret 2023.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Archer & Pierrehumbert 2013, hlm. 10–14
- ↑ Foote, Eunice (November 1856). "Circumstances affecting the Heat of the Sun's Rays". The American Journal of Science and Arts. 22: 382–383. Diakses tanggal 31 Januari 2016 – via Google Books.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Huddleston 2019
- ↑ "Coal Consumption Affecting Climate". Rodney and Otamatea Times, Waitemata and Kaipara Gazette. Warkworth, New Zealand. 14 Agustus 1912. hlm. 7.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Text was earlier published in Popular Mechanics, March 1912, p. 341. - ↑ Tyndall 1861.
- ↑ Archer & Pierrehumbert 2013, hlm. 39–42; Fleming 2008, Tyndall
- ↑ Lapenis 1998.
- 1 2 3 Weart "The Carbon Dioxide Greenhouse Effect"; Fleming 2008, Arrhenius
- ↑ Callendar 1938; Fleming 2007.
- ↑ Cook, John; Oreskes, Naomi; Doran, Peter T.; Anderegg, William R. L.; et al. (2016). "Consensus on consensus: a synthesis of consensus estimates on human-caused global warming". Environmental Research Letters. 11 (4) 048002. Bibcode:2016ERL....11d8002C. doi:10.1088/1748-9326/11/4/048002. hdl:1983/34949783-dac1-4ce7-ad95-5dc0798930a6.
- ↑ Weart "Suspicions of a Human-Caused Greenhouse (1956–1969)"
- ↑ Charney, Jule; Arakawa, Akio; Baker, D. James; Bolin, Bert; Dickinson, Robert E; Goody, Richard M; Leith, Cecil; Stommel, Henry; Wunsch, Carl (1979). Carbon Dioxide and Climate: A Scientific Assessment. National Academies Press. doi:10.17226/12181. ISBN 978-0-309-11910-8. Diarsipkan dari asli tanggal 24 April 2024.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Shabecoff, Philip (24 Juni 1988). "Global Warming Has Begun, Expert Tells Senate". New York Times. hlm. 1. Diakses tanggal 1 Agustus 2012. ...Dr. James E. Hansen of the National Aeronautics and Space Administration told a Congressional committee that it was 99 percent certain that the warming trend was not a natural variation but was caused by a buildup of carbon dioxide and other artificial gases in the atmosphere.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Weart 2013, hlm. 3567.
- ↑ Royal Society 2005.
- ↑ National Academies 2008, hlm. 2; Oreskes 2007, hlm. 68; Gleick, 7 January 2017
- ↑ Joint statement of the G8+5 Academies (2009); Gleick, 7 January 2017.
- 1 2 Herring, Stephanie C.; Hoell, Andrew; Hoerling, Martin P.; Kossin, James P.; Schreck III, Carl J.; Stott, Peter A. (1 Desember 2016). "Bulletin of the American Meteorological Society / Introduction to Explaining Extreme Events of 2015 from a Climate Perspective". American Meteorological Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Attribution of Extreme Weather Events in the Context of Climate Change. Washington, D.C.: The National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (NASEM). 2016. Bibcode:2016nap..book21852N. doi:10.17226/21852. ISBN 978-0-309-38094-2.
- ↑ McSweeney, Robert; Tandon, Ayesha (18 November 2024). "Mapped: How climate change affects extreme weather around the world". Climate Central. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Juni 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Clarke, Ben; Otto, Friederike (2021). "Reporting extreme weather and climate change A guide for journalists" (PDF). World Weather Attribution. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Juni 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Sneed, Annie (2 Januari 2017). "Yes, Some Extreme Weather Can Be Blamed on Climate Change". Scientific American. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Januari 2017.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Sumber
Laporan IPCC
Laporan Penilaian Keempat
- IPCC (2007). Solomon, S.; Qin, D.; Manning, M.; Chen, Z.; et al. (ed.). Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-88009-1.
- Le Treut, H.; Somerville, R.; Cubasch, U.; Ding, Y.; et al. (2007). "Chapter 1: Historical Overview of Climate Change Science" (PDF). IPCC AR4 WG1 2007. hlm. 93–127.
- Randall, D. A.; Wood, R. A.; Bony, S.; Colman, R.; et al. (2007). "Chapter 8: Climate Models and their Evaluation" (PDF). IPCC AR4 WG1 2007. hlm. 589–662.
- Hegerl, G. C.; Zwiers, F. W.; Braconnot, P.; Gillett, N. P.; et al. (2007). "Chapter 9: Understanding and Attributing Climate Change" (PDF). IPCC AR4 WG1 2007. hlm. 663–745.
- IPCC (2007). Parry, M. L.; Canziani, O. F.; Palutikof, J. P.; van der Linden, P. J.; et al. (ed.). Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-88010-7.
- Schneider, S. H.; Semenov, S.; Patwardhan, A.; Burton, I.; et al. (2007). "Chapter 19: Assessing key vulnerabilities and the risk from climate change" (PDF). IPCC AR4 WG2 2007. hlm. 779–810.
- IPCC (2007). Metz, B.; Davidson, O. R.; Bosch, P. R.; Dave, R.; et al. (ed.). Climate Change 2007: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-88011-4.
- Rogner, H.-H.; Zhou, D.; Bradley, R.; Crabbé, P.; et al. (2007). "Chapter 1: Introduction" (PDF). IPCC AR4 WG3 2007. hlm. 95–116.
Laporan Penilaian Kelima
- IPCC (2013). Stocker, T. F.; Qin, D.; Plattner, G.-K.; Tignor, M.; et al. (ed.). Climate Change 2013: The Physical Science Basis (PDF). Contribution of Working Group I to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge, UK & New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-05799-9.. AR5 Climate Change 2013: The Physical Science Basis – IPCC
- IPCC (2013). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC AR5 WG1 2013.
- Hartmann, D. L.; Klein Tank, A. M. G.; Rusticucci, M.; Alexander, L. V.; et al. (2013). "Chapter 2: Observations: Atmosphere and Surface" (PDF). IPCC AR5 WG1 2013. hlm. 159–254.
- Rhein, M.; Rintoul, S. R.; Aoki, S.; Campos, E.; et al. (2013). "Chapter 3: Observations: Ocean" (PDF). IPCC AR5 WG1 2013. hlm. 255–315.
- Masson-Delmotte, V.; Schulz, M.; Abe-Ouchi, A.; Beer, J.; et al. (2013). "Chapter 5: Information from Paleoclimate Archives" (PDF). IPCC AR5 WG1 2013. hlm. 383–464.
- Bindoff, N. L.; Stott, P. A.; AchutaRao, K. M.; Allen, M. R.; et al. (2013). "Chapter 10: Detection and Attribution of Climate Change: from Global to Regional" (PDF). IPCC AR5 WG1 2013. hlm. 867–952.
- Collins, M.; Knutti, R.; Arblaster, J. M.; Dufresne, J.-L.; et al. (2013). "Chapter 12: Long-term Climate Change: Projections, Commitments and Irreversibility" (PDF). IPCC AR5 WG1 2013. hlm. 1029–1136.
- IPCC (2014). Field, C. B.; Barros, V. R.; Dokken, D. J.; Mach, K. J.; et al. (ed.). Climate Change 2014: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Part A: Global and Sectoral Aspects. Contribution of Working Group II to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-05807-1.. Chapters 1–20, SPM, and Technical Summary.
- Olsson, L.; Opondo, M.; Tschakert, P.; Agrawal, A.; et al. (2014). "Chapter 13: Livelihoods and Poverty" (PDF). IPCC AR5 WG2 A 2014. hlm. 793–832.
- Cramer, W.; Yohe, G. W.; Auffhammer, M.; Huggel, C.; et al. (2014). "Chapter 18: Detection and Attribution of Observed Impacts" (PDF). IPCC AR5 WG2 A 2014. hlm. 979–1037.
- Oppenheimer, M.; Campos, M.; Warren, R.; Birkmann, J.; et al. (2014). "Chapter 19: Emergent Risks and Key Vulnerabilities" (PDF). IPCC AR5 WG2 A 2014. hlm. 1039–1099.
- IPCC (2014). Barros, V. R.; Field, C. B.; Dokken, D. J.; Mach, K. J.; et al. (ed.). Climate Change 2014: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Part B: Regional Aspects (PDF). Contribution of Working Group II to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge, UK & New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-05816-3.. Chapters 21–30, Annexes, and Index.
- Larsen, J. N.; Anisimov, O. A.; Constable, A.; Hollowed, A. B.; et al. (2014). "Chapter 28: Polar Regions" (PDF). IPCC AR5 WG2 B 2014. hlm. 1567–1612.
- IPCC (2014). Edenhofer, O.; Pichs-Madruga, R.; Sokona, Y.; Farahani, E.; et al. (ed.). Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge, UK & New York, NY: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-05821-7.
- Lucon, O.; Ürge-Vorsatz, D.; Ahmed, A.; Akbari, H.; et al. (2014). "Chapter 9: Buildings" (PDF). IPCC AR5 WG3 2014.
- Edenhofer, O.; Pichs-Madruga, R.; Sokona, Y.; Farahani, E.; et al. (2014). "Annex III: Technology-specific Cost and Performance Parameters" (PDF). IPCC AR5 WG3 2014. Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA: Cambridge University Press.
- IPCC AR5 SYR (2014). The Core Writing Team; Pachauri, R. K.; Meyer, L. A. (ed.). Climate Change 2014: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva, Switzerland: IPCC.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)- IPCC (2014). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC AR5 SYR 2014.
- IPCC (2014). "Annex II: Glossary" (PDF). IPCC AR5 SYR 2014.
Laporan Khusus tentang Pemanasan Global 1,5 °C
- IPCC (2018). Masson-Delmotte, V.; Zhai, P.; Pörtner, H.-O.; Roberts, D.; et al. (ed.). Global Warming of 1.5 °C. An IPCC Special Report on the impacts of global warming of 1.5 °C above pre-industrial levels and related global greenhouse gas emission pathways, in the context of strengthening the global response to the threat of climate change, sustainable development, and efforts to eradicate poverty (PDF). Intergovernmental Panel on Climate Change. Global Warming of 1.5 °C –.
- IPCC (2018). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC SR15 2018. hlm. 3–24.
- Allen, M. R.; Dube, O. P.; Solecki, W.; Aragón-Durand, F.; et al. (2018). "Chapter 1: Framing and Context" (PDF). IPCC SR15 2018. hlm. 49–91.
- Rogelj, J.; Shindell, D.; Jiang, K.; Fifta, S.; et al. (2018). "Chapter 2: Mitigation Pathways Compatible with 1.5 °C in the Context of Sustainable Development" (PDF). IPCC SR15 2018. hlm. 93–174.
- Hoegh-Guldberg, O.; Jacob, D.; Taylor, M.; Bindi, M.; et al. (2018). "Chapter 3: Impacts of 1.5 °C Global Warming on Natural and Human Systems" (PDF). IPCC SR15 2018. hlm. 175–311.
- de Coninck, H.; Revi, A.; Babiker, M.; Bertoldi, P.; et al. (2018). "Chapter 4: Strengthening and Implementing the Global Response" (PDF). IPCC SR15 2018. hlm. 313–443.
- Roy, J.; Tschakert, P.; Waisman, H.; Abdul Halim, S.; et al. (2018). "Chapter 5: Sustainable Development, Poverty Eradication and Reducing Inequalities" (PDF). IPCC SR15 2018. hlm. 445–538.
Laporan Khusus tentang Perubahan Iklim dan Lahan
- IPCC (2019). Shukla, P. R.; Skea, J.; Calvo Buendia, E.; Masson-Delmotte, V.; et al. (ed.). IPCC Special Report on Climate Change, Desertification, Land Degradation, Sustainable Land Management, Food Security, and Greenhouse gas fluxes in Terrestrial Ecosystems (PDF). In press.
- IPCC (2019). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC SRCCL 2019. hlm. 3–34.
- Jia, G.; Shevliakova, E.; Artaxo, P. E.; De Noblet-Ducoudré, N.; et al. (2019). "Chapter 2: Land-Climate Interactions" (PDF). IPCC SRCCL 2019. hlm. 131–247.
- Mbow, C.; Rosenzweig, C.; Barioni, L. G.; Benton, T.; et al. (2019). "Chapter 5: Food Security" (PDF). IPCC SRCCL 2019. hlm. 437–550.
Laporan Khusus tentang Samudra dan Kriosfer dalam Perubahan Iklim
- IPCC (2019). Pörtner, H.-O.; Roberts, D. C.; Masson-Delmotte, V.; Zhai, P.; et al. (ed.). IPCC Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate (PDF). In press.
- IPCC (2019). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC SROCC 2019. hlm. 3–35.
- Oppenheimer, M.; Glavovic, B.; Hinkel, J.; van de Wal, R.; et al. (2019). "Chapter 4: Sea Level Rise and Implications for Low Lying Islands, Coasts and Communities" (PDF). IPCC SROCC 2019. hlm. 321–445.
- Bindoff, N. L.; Cheung, W. W. L.; Kairo, J. G.; Arístegui, J.; et al. (2019). "Chapter 5: Changing Ocean, Marine Ecosystems, and Dependent Communities" (PDF). IPCC SROCC 2019. hlm. 447–587.
Laporan Penilaian Keenam
- IPCC (2021). Masson-Delmotte, V.; Zhai, P.; Pirani, A.; Connors, S. L.; et al. (ed.). Climate Change 2021: The Physical Science Basis (PDF). Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge, United Kingdom and New York, NY, US: Cambridge University Press (In Press).
- IPCC (2021). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC AR6 WG1 2021.
- Arias, Paola A.; Bellouin, Nicolas; Coppola, Erika; Jones, Richard G.; et al. (2021). "Technical Summary" (PDF). IPCC AR6 WG1 2021.
- Gulev, Sergey K.; Thorne, Peter W.; Ahn, Jinho; Dentener, Frank J.; et al. (2021). "Chapter 2: Changing state of the climate system" (PDF). Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.
- Lee, June-Yi; Marotzke, Jochem; Bala, Govindasamy; Cao, Long; et al. (2021). "Chapter 4: Future Global Climate: Scenario-Based Projections and Near-Term Information". Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.
- Canadell, Josep G.; Monteiro, Pedro M.S.; Costa, Marcos H.; Cotrim da Cunha, Leticia; et al. (2021). "Chapter 5: Global Carbon and other Biogeochemical Cycles and Feedbacks". Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.
- Seneviratne, Sonia I.; Zhang, Xuebin; Adnan, M.; Badi, W.; et al. (2021). "Chapter 11: Weather and climate extreme events in a changing climate" (PDF). IPCC AR6 WG1 2021.
- IPCC (2022). Pörtner, H.-O.; Roberts, D.C.; Tignor, M.; Poloczanska, E.S.; Mintenbeck, K.; Alegría, A.; Craig, M.; Langsdorf, S.; Löschke, S.; Möller, V.; Okem, A.; Rama, B. (ed.). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. doi:10.1017/9781009325844. ISBN 978-1-009-32584-4.
- IPCC (2022). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC AR6 WG2 2022. hlm. 3–33. doi:10.1017/9781009325844.001. ISBN 978-1-009-32584-4.
- IPCC (2022). "Technical Summary" (PDF). IPCC AR6 WG2 2022. hlm. 37–118. doi:10.1017/9781009325844.002. ISBN 978-1-009-32584-4.
- Bezner Kerr, R.; Hasegawa, T.; Lasco, R.; Bhatt, I.; Deryng, D.; Farrell, A.; Gurney-Smith, H.; Ju, H.; Lluch-Cota, S.; Meza, F.; Nelson, G.; Neufeldt, H.; Thornton, P. (2022). "Food, Fibre and Other Ecosystem Products" (PDF). IPCC AR6 WG2 2022. hlm. 713–906. doi:10.1017/9781009325844.007. ISBN 978-1-009-32584-4.
- Dodman, D.; Hayward, B.; Pelling, M.; Castan Broto, V.; Chow, W.; Chu, E.; Dawson, R.; Khirfan, L.; McPhearson, T.; Prakash, A.; Zheng, Y.; Ziervogel, G. (2022). "Cities, Settlements and Key Infrastructure" (PDF). IPCC AR6 WG2 2022. hlm. 907–1040. doi:10.1017/9781009325844.008. ISBN 978-1-009-32584-4.
- O'Neill, B.; van Aalst, M.; Zaiton Ibrahim, Z.; Berrang Ford, L.; Bhadwal, S.; Buhaug, H.; Diaz, D.; Frieler, K.; Garschagen, M.; Magnan, A.; Midgley, G.; Mirzabaev, A.; Thomas, A.; Warren, R. (2022). "Key Risks across Sectors and Regions" (PDF). IPCC AR6 WG2 2022. hlm. 2411–2538. doi:10.1017/9781009325844.025. ISBN 978-1-009-32584-4.
- IPCC (2022). Shukla, P.R.; Skea, J.; et al. (ed.). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge, UK and New York, NY, USA: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781009157926. ISBN 978-1-009-15792-6.
- IPCC (2022). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC AR6 WG3 2022.
- Pathak, M.; Slade, R.; Shukla, P.R.; Skea, J.; Pichs-Madruga, R.; Ürge-Vorsatz, D. (2022). "Technical Summary" (PDF). IPCC AR6 WG3 2022. hlm. 51–148. doi:10.1017/9781009157926.002. ISBN 978-1-009-15792-6.
- Riahi, K.; Schaeffer, R.; Arango, J.; Calvin, K.; Guivarch, C.; Hasegawa, T.; Jiang, K.; Kriegler, E.; Matthews, R.; Peters, G.P.; Rao, A.; Robertson, S.; Sebbit, A.M.; Steinberger, J.; Tavoni, M.; van Vuuren, D.P. (2022). "Mitigation Pathways Compatible with Long-term Goals" (PDF). IPCC AR6 WG3 2022. hlm. 295–408. doi:10.1017/9781009157926.005. ISBN 978-1-009-15792-6.
- Patt, Anthony; Rajamani, Lavanya; Bhandari, Preety; Caparrós, Alejandro; et al. (2022). "Chapter 14: International Cooperation". Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.
- IPCC (2023). Core Writing Team; Lee, H.; Romero, J.; et al. (ed.). Climate Change 2023: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change (PDF). Geneva, Switzerland: IPCC. doi:10.59327/IPCC/AR6-9789291691647. hdl:1885/299630. ISBN 978-92-9169-164-7.
- IPCC (2023). "Summary for Policymakers" (PDF). IPCC AR6 SYR 2023.
Sumber berpenilaian sejawat lainnya
- Albrecht, Bruce A. (1989). "Aerosols, Cloud Microphysics, and Fractional Cloudiness". Science. 245 (4923): 1227–1239. Bibcode:1989Sci...245.1227A. doi:10.1126/science.245.4923.1227. PMID 17747885.
- Balsari, S.; Dresser, C.; Leaning, J. (2020). "Climate Change, Migration, and Civil Strife". Curr Environ Health Report. 7 (4): 404–414. Bibcode:2020CEHR....7..404B. doi:10.1007/s40572-020-00291-4. PMC 7550406. PMID 33048318.
- Bamber, Jonathan L.; Oppenheimer, Michael; Kopp, Robert E.; Aspinall, Willy P.; Cooke, Roger M. (2019). "Ice sheet contributions to future sea-level rise from structured expert judgment". Proceedings of the National Academy of Sciences. 116 (23): 11195–11200. Bibcode:2019PNAS..11611195B. doi:10.1073/pnas.1817205116. ISSN 0027-8424. PMC 6561295. PMID 31110015.
- Bednar, Johannes; Obersteiner, Michael; Wagner, Fabian (2019). "On the financial viability of negative emissions". Nature Communications. 10 (1): 1783. Bibcode:2019NatCo..10.1783B. doi:10.1038/s41467-019-09782-x. ISSN 2041-1723. PMC 6467865. PMID 30992434.
- Berrill, P.; Arvesen, A.; Scholz, Y.; Gils, H. C.; et al. (2016). "Environmental impacts of high penetration renewable energy scenarios for Europe". Environmental Research Letters. 11 (1) 014012. Bibcode:2016ERL....11a4012B. doi:10.1088/1748-9326/11/1/014012. hdl:11250/2465014.
- Björnberg, Karin Edvardsson; Karlsson, Mikael; Gilek, Michael; Hansson, Sven Ove (2017). "Climate and environmental science denial: A review of the scientific literature published in 1990–2015". Journal of Cleaner Production. 167: 229–241. Bibcode:2017JCPro.167..229B. doi:10.1016/j.jclepro.2017.08.066. ISSN 0959-6526.
- Boulianne, Shelley; Lalancette, Mireille; Ilkiw, David (2020). ""School Strike 4 Climate": Social Media and the International Youth Protest on Climate Change". Media and Communication. 8 (2): 208–218. doi:10.17645/mac.v8i2.2768. ISSN 2183-2439.
- Bui, M.; Adjiman, C.; Bardow, A.; Anthony, Edward J.; et al. (2018). "Carbon capture and storage (CCS): the way forward". Energy & Environmental Science. 11 (5): 1062–1176. Bibcode:2018EnEnS..11.1062B. doi:10.1039/c7ee02342a. hdl:10044/1/55714.
- Burke, Claire; Stott, Peter (2017). "Impact of Anthropogenic Climate Change on the East Asian Summer Monsoon". Journal of Climate. 30 (14): 5205–5220. arXiv:1704.00563. Bibcode:2017JCli...30.5205B. doi:10.1175/JCLI-D-16-0892.1. ISSN 0894-8755.
- Callendar, G. S. (1938). "The artificial production of carbon dioxide and its influence on temperature". Quarterly Journal of the Royal Meteorological Society. 64 (275): 223–240. Bibcode:1938QJRMS..64..223C. doi:10.1002/qj.49706427503.
- Cattaneo, Cristina; Beine, Michel; Fröhlich, Christiane J.; Kniveton, Dominic; et al. (2019). "Human Migration in the Era of Climate Change". Review of Environmental Economics and Policy. 13 (2): 189–206. doi:10.1093/reep/rez008. hdl:10.1093/reep/rez008.
- Cohen, Judah; Screen, James; Furtado, Jason C.; Barlow, Mathew; et al. (2014). "Recent Arctic amplification and extreme mid-latitude weather". Nature Geoscience. 7 (9): 627–637. Bibcode:2014NatGe...7..627C. doi:10.1038/ngeo2234. ISSN 1752-0908.
- Curtis, P.; Slay, C.; Harris, N.; Tyukavina, A.; et al. (2018). "Classifying drivers of global forest loss". Science. 361 (6407): 1108–1111. Bibcode:2018Sci...361.1108C. doi:10.1126/science.aau3445. PMID 30213911.
- Davidson, Eric (2009). "The contribution of manure and fertilizer nitrogen to atmospheric nitrous oxide since 1860". Nature Geoscience. 2: 659–662. doi:10.1016/j.chemer.2016.04.002.
- DeConto, Robert M.; Pollard, David (2016). "Contribution of Antarctica to past and future sea-level rise". Nature. 531 (7596): 591–597. Bibcode:2016Natur.531..591D. doi:10.1038/nature17145. ISSN 1476-4687. PMID 27029274.
- Deutsch, Curtis; Brix, Holger; Ito, Taka; Frenzel, Hartmut; et al. (2011). "Climate-Forced Variability of Ocean Hypoxia". Science. 333 (6040): 336–339. Bibcode:2011Sci...333..336D. doi:10.1126/science.1202422. PMID 21659566.
- Doney, Scott C.; Fabry, Victoria J.; Feely, Richard A.; Kleypas, Joan A. (2009). "Ocean Acidification: The Other CO2 Problem". Annual Review of Marine Science. 1 (1): 169–192. Bibcode:2009ARMS....1..169D. doi:10.1146/annurev.marine.010908.163834. PMID 21141034.
- Fahey, D. W.; Doherty, S. J.; Hibbard, K. A.; Romanou, A.; Taylor, P. C. (2017). "Chapter 2: Physical Drivers of Climate Change" (PDF). In USGCRP2017.
- Fischer, Tobias P.; Aiuppa, Alessandro (2020). "AGU Centennial Grand Challenge: Volcanoes and Deep Carbon Global CO2 Emissions From Subaerial Volcanism –Recent Progress and Future Challenges". Geochemistry, Geophysics, Geosystems. 21 (3) e08690. Bibcode:2020GGG....2108690F. doi:10.1029/2019GC008690. hdl:10447/498846. ISSN 1525-2027.
- Friedlingstein, Pierre; Jones, Matthew W.; O'Sullivan, Michael; Andrew, Robbie M.; et al. (2019). "Global Carbon Budget 2019". Earth System Science Data. 11 (4): 1783–1838. Bibcode:2019ESSD...11.1783F. doi:10.5194/essd-11-1783-2019. hdl:10871/39943. ISSN 1866-3508.
- Forster, Piers M.; Walsh, Tristram; Smith, Chris; Lamb, William F.; Lamboll, Robin; Cassou, Christophe; Hauser, Mathias; Hausfather, Zeke; Lee, June-Yi; Palmer, Matthew D.; von Schuckmann, Karina; Slangen, Aimée B. A.; Szopa, Sophie; Trewin, Blair; Yun, Jeongeun (2026-06-11). "Indicators of Global Climate Change 2025: annual update of key indicators of the state of the climate system and human influence". Earth System Science Data (dalam bahasa English). 18 (6): 3889–3933. Bibcode:2026ESSD...18.3889F. doi:10.5194/essd-18-3889-2026. ISSN 1866-3508.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - Goyal, Rishav; England, Matthew H.; Sen Gupta, Alex; Jucker, Martin (2019). "Reduction in surface climate change achieved by the 1987 Montreal Protocol". Environmental Research Letters. 14 (12): 124041. Bibcode:2019ERL....14l4041G. doi:10.1088/1748-9326/ab4874. hdl:1959.4/unsworks_66865. ISSN 1748-9326.
- Grubb, M. (2003). "The Economics of the Kyoto Protocol" (PDF). World Economics. 4 (3): 144–145. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 September 2012.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Gunningham, Neil (2018). "Mobilising Civil Society: Can the Climate Movement Achieve Transformational Social Change". Interface. 10 (1–2): 149–169. hdl:1885/164388.
- Hagmann, David; Ho, Emily H.; Loewenstein, George (2019). "Nudging out support for a carbon tax". Nature Climate Change. 9 (6): 484–489. Bibcode:2019NatCC...9..484H. doi:10.1038/s41558-019-0474-0.
- Hansen, James; Sato, Makiko; Hearty, Paul; Ruedy, Reto; et al. (2016). "Ice melt, sea level rise and superstorms: evidence from paleoclimate data, climate modeling, and modern observations that 2 °C global warming could be dangerous". Atmospheric Chemistry and Physics. 16 (6): 3761–3812. arXiv:1602.01393. Bibcode:2016ACP....16.3761H. doi:10.5194/acp-16-3761-2016.
- Harvey, Jeffrey A.; Van den Berg, Daphne; Ellers, Jacintha; Kampen, Remko; et al. (2018). "Internet Blogs, Polar Bears, and Climate-Change Denial by Proxy". BioScience. 68 (4): 281–287. doi:10.1093/biosci/bix133. ISSN 0006-3568. PMC 5894087. PMID 29662248.Templat:Erratum
- Hawkins, Ed; Ortega, Pablo; Suckling, Emma; Schurer, Andrew; et al. (2017). "Estimating Changes in Global Temperature since the Preindustrial Period". Bulletin of the American Meteorological Society. 98 (9): 1841–1856. Bibcode:2017BAMS...98.1841H. doi:10.1175/bams-d-16-0007.1. hdl:20.500.11820/f0ba8a1c-a259-4689-9fc3-77ec82fff5ab. ISSN 0003-0007.
- He, Yanyi; Wang, Kaicun; Zhou, Chunlüe; Wild, Martin (2018). "A Revisit of Global Dimming and Brightening Based on the Sunshine Duration". Geophysical Research Letters. 45 (9): 4281–4289. Bibcode:2018GeoRL..45.4281H. doi:10.1029/2018GL077424. hdl:20.500.11850/268470. ISSN 1944-8007.
- Hodder, Patrick; Martin, Brian (2009). "Climate Crisis? The Politics of Emergency Framing". Economic and Political Weekly. 44 (36): 53–60. ISSN 0012-9976. JSTOR 25663518.
- Joo, Gea-Jae; Kim, Ji Yoon; Do, Yuno; Lineman, Maurice (2015). "Talking about Climate Change and Global Warming". PLOS ONE. 10 (9) e0138996. Bibcode:2015PLoSO..1038996L. doi:10.1371/journal.pone.0138996. ISSN 1932-6203. PMC 4587979. PMID 26418127.
- Kabir, Russell; Khan, Hafiz T. A.; Ball, Emma; Caldwell, Khan (2016). "Climate Change Impact: The Experience of the Coastal Areas of Bangladesh Affected by Cyclones Sidr and Aila". Journal of Environmental and Public Health. 2016 9654753. doi:10.1155/2016/9654753. PMC 5102735. PMID 27867400.
- Kaczan, David J.; Orgill-Meyer, Jennifer (2020). "The impact of climate change on migration: a synthesis of recent empirical insights". Climatic Change. 158 (3): 281–300. Bibcode:2020ClCh..158..281K. doi:10.1007/s10584-019-02560-0.
- Kennedy, J. J.; Thorne, W. P.; Peterson, T. C.; Ruedy, R. A.; et al. (2010). Arndt, D. S.; Baringer, M. O.; Johnson, M. R. (ed.). "How do we know the world has warmed?". Special supplement: State of the Climate in 2009. Bulletin of the American Meteorological Society. 91 (7). S26-S27. doi:10.1175/BAMS-91-7-StateoftheClimate.
- Kopp, R. E.; Hayhoe, K.; Easterling, D. R.; Hall, T.; et al. (2017). "Chapter 15: Potential Surprises: Compound Extremes and Tipping Elements". In USGCRP 2017. hlm. 1–470. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Agustus 2018.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kossin, J. P.; Hall, T.; Knutson, T.; Kunkel, K. E.; Trapp, R. J.; Walizer, D. E.; Wehner, M. F. (2017). "Chapter 9: Extreme Storms". In USGCRP2017. hlm. 1–470.
- Knutson, T. (2017). "Appendix C: Detection and attribution methodologies overview.". In USGCRP2017. hlm. 1–470.
- Kreidenweis, Ulrich; Humpenöder, Florian; Stevanović, Miodrag; Bodirsky, Benjamin Leon; et al. (Juli 2016). "Afforestation to mitigate climate change: impacts on food prices under consideration of albedo effects". Environmental Research Letters. 11 (8) 085001. Bibcode:2016ERL....11h5001K. doi:10.1088/1748-9326/11/8/085001.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Kvande, H. (2014). "The Aluminum Smelting Process". Journal of Occupational and Environmental Medicine. 56 (5 Suppl): S2–S4. doi:10.1097/JOM.0000000000000154. PMC 4131936. PMID 24806722.
- Lapenis, Andrei G. (1998). "Arrhenius and the Intergovernmental Panel on Climate Change". Eos. 79 (23): 271. Bibcode:1998EOSTr..79..271L. doi:10.1029/98EO00206.
- Levermann, Anders; Clark, Peter U.; Marzeion, Ben; Milne, Glenn A.; et al. (2013). "The multimillennial sea-level commitment of global warming". Proceedings of the National Academy of Sciences. 110 (34): 13745–13750. Bibcode:2013PNAS..11013745L. doi:10.1073/pnas.1219414110. ISSN 0027-8424. PMC 3752235. PMID 23858443.
- Lenoir, Jonathan; Bertrand, Romain; Comte, Lise; Bourgeaud, Luana; et al. (2020). "Species better track climate warming in the oceans than on land". Nature Ecology & Evolution. 4 (8): 1044–1059. Bibcode:2020NatEE...4.1044L. doi:10.1038/s41559-020-1198-2. PMID 32451428.
- Liepert, Beate G.; Previdi, Michael (2009). "Do Models and Observations Disagree on the Rainfall Response to Global Warming?". Journal of Climate. 22 (11): 3156–3166. Bibcode:2009JCli...22.3156L. doi:10.1175/2008JCLI2472.1.
- Liverman, Diana M. (2009). "Conventions of climate change: constructions of danger and the dispossession of the atmosphere". Journal of Historical Geography. 35 (2): 279–296. doi:10.1016/j.jhg.2008.08.008.
- Loeb, Norman G.; Johnson, Gregory C.; Thorsen, Tyler J.; Lyman, John M.; Rose, Fred G.; Kato, Seiji (2021). "Satellite and Ocean Data Reveal Marked Increase in Earth's Heating Rate". Geophysical Research Letters. 48 (13). American Geophysical Union (AGU). e2021GL093047. Bibcode:2021GeoRL..4893047L. doi:10.1029/2021gl093047.
- Mach, Katharine J.; Kraan, Caroline M.; Adger, W. Neil; Buhaug, Halvard; et al. (2019). "Climate as a risk factor for armed conflict". Nature. 571 (7764): 193–197. Bibcode:2019Natur.571..193M. doi:10.1038/s41586-019-1300-6. hdl:10871/37969. PMID 31189956.
- Matthews, H. Damon; Gillett, Nathan P.; Stott, Peter A.; Zickfeld, Kirsten (2009). "The proportionality of global warming to cumulative carbon emissions". Nature. 459 (7248): 829–832. Bibcode:2009Natur.459..829M. doi:10.1038/nature08047. ISSN 1476-4687. PMID 19516338.
- Matthews, Tom (2018). "Humid heat and climate change". Progress in Physical Geography: Earth and Environment. 42 (3): 391–405. Bibcode:2018PrPG...42..391M. doi:10.1177/0309133318776490.
- McNeill, V. Faye (2017). "Atmospheric Aerosols: Clouds, Chemistry, and Climate". Annual Review of Chemical and Biomolecular Engineering. 8 (1): 427–444. doi:10.1146/annurev-chembioeng-060816-101538. ISSN 1947-5438. PMID 28415861.
- Melillo, J. M.; Frey, S. D.; DeAngelis, K. M.; Werner, W. J.; et al. (2017). "Long-term pattern and magnitude of soil carbon feedback to the climate system in a warming world". Science. 358 (6359): 101–105. Bibcode:2017Sci...358..101M. doi:10.1126/science.aan2874. hdl:1912/9383. PMID 28983050.
- Mercure, J.-F.; Pollitt, H.; Viñuales, J. E.; Edwards, N. R.; et al. (2018). "Macroeconomic impact of stranded fossil fuel assets". Nature Climate Change. 8 (7): 588–593. Bibcode:2018NatCC...8..588M. doi:10.1038/s41558-018-0182-1. hdl:10871/37807.
- Mitchum, G. T.; Masters, D.; Hamlington, B. D.; Fasullo, J. T.; et al. (2018). "Climate-change–driven accelerated sea-level rise detected in the altimeter era". Proceedings of the National Academy of Sciences. 115 (9): 2022–2025. Bibcode:2018PNAS..115.2022N. doi:10.1073/pnas.1717312115. PMC 5834701. PMID 29440401.
- Mora, Camilo; Dousset, Bénédicte; Caldwell, Iain R.; Powell, Farrah E.; Geronimo, Rollan C.; Bielecki, Coral R.; Counsell, Chelsie W. W.; Dietrich, Bonnie S.; Johnston, Emily T.; Louis, Leo V.; Lucas, Matthew P.; McKenzie, Marie M.; Shea, Alessandra G.; Tseng, Han; Giambelluca, Thomas W.; Leon, Lisa R.; Hawkins, Ed; Trauernicht, Clay (2017). "Global risk of deadly heat" (PDF). Nature Climate Change. 7 (7): 501–506. Bibcode:2017NatCC...7..501M. doi:10.1038/nclimate3322.
- National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2019). Negative Emissions Technologies and Reliable Sequestration: A Research Agenda (Laporan). Washington, D.C.: The National Academies Press. doi:10.17226/25259. ISBN 978-0-309-48455-8.
- National Research Council (2011). "Causes and Consequences of Climate Change". America's Climate Choices. Washington, D.C.: The National Academies Press. Bibcode:2011nap..book12781N. doi:10.17226/12781. ISBN 978-0-309-14585-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Juli 2015. Diakses tanggal 28 Januari 2019.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Neukom, Raphael; Steiger, Nathan; Gómez-Navarro, Juan José; Wang, Jianghao; et al. (2019a). "No evidence for globally coherent warm and cold periods over the preindustrial Common Era". Nature. 571 (7766): 550–554. Bibcode:2019Natur.571..550N. doi:10.1038/s41586-019-1401-2. PMID 31341300.
- Neukom, Raphael; Barboza, Luis A.; Erb, Michael P.; Shi, Feng; et al. (2019b). "Consistent multidecadal variability in global temperature reconstructions and simulations over the Common Era". Nature Geoscience. 12 (8): 643–649. Bibcode:2019NatGe..12..643P. doi:10.1038/s41561-019-0400-0. ISSN 1752-0908. PMC 6675609. PMID 31372180.
- O'Neill, Saffron J.; Boykoff, Max (2010). "Climate denier, skeptic, or contrarian?". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 107 (39): E151. Bibcode:2010PNAS..107E.151O. doi:10.1073/pnas.1010507107. ISSN 0027-8424. PMC 2947866. PMID 20807754.
- Poloczanska, Elvira S.; Brown, Christopher J.; Sydeman, William J.; Kiessling, Wolfgang; et al. (2013). "Global imprint of climate change on marine life" (PDF). Nature Climate Change. 3 (10): 919–925. Bibcode:2013NatCC...3..919P. doi:10.1038/nclimate1958. hdl:2160/34111. ISSN 1758-6798.
- Rahmstorf, Stefan; Cazenave, Anny; Church, John A.; Hansen, James E.; et al. (2007). "Recent Climate Observations Compared to Projections". Science. 316 (5825): 709. Bibcode:2007Sci...316..709R. doi:10.1126/science.1136843. PMID 17272686.
- Ramanathan, V.; Carmichael, G. (2008). "Global and Regional Climate Changes due to Black Carbon". Nature Geoscience. 1 (4): 221–227. Bibcode:2008NatGe...1..221R. doi:10.1038/ngeo156.
- Randel, William J.; Shine, Keith P.; Austin, John; Barnett, John; et al. (2009). "An update of observed stratospheric temperature trends". Journal of Geophysical Research. 114 (D2): D02107. Bibcode:2009JGRD..114.2107R. doi:10.1029/2008JD010421. Templat:HAL.
- Rauner, Sebastian; Bauer, Nico; Dirnaichner, Alois; Van Dingenen, Rita; Mutel, Chris; Luderer, Gunnar (2020). "Coal-exit health and environmental damage reductions outweigh economic impacts". Nature Climate Change. 10 (4): 308–312. Bibcode:2020NatCC..10..308R. doi:10.1038/s41558-020-0728-x.
- Rogelj, Joeri; Forster, Piers M.; Kriegler, Elmar; Smith, Christopher J.; et al. (2019). "Estimating and tracking the remaining carbon budget for stringent climate targets". Nature. 571 (7765): 335–342. Bibcode:2019Natur.571..335R. doi:10.1038/s41586-019-1368-z. hdl:10044/1/78011. ISSN 1476-4687. PMID 31316194.
- Romanello, M; et al. (2022). "The 2022 report of the Lancet Countdown on health and climate change: health at the mercy of fossil fuels". The Lancet. 400 (10363): 1619–1654. doi:10.1016/S0140-6736(22)01540-9. PMC 7616806. PMID 36306815.
- Romanello, M; et al. (2023). "The 2023 report of the Lancet Countdown on health and climate change: the imperative for a health-centred response in a world facing irreversible harms". The Lancet. 402 (10419): 2346–2394. doi:10.1016/S0140-6736(23)01859-7. PMC 7616810. PMID 37977174.
- Ruseva, Tatyana; Hedrick, Jamie; Marland, Gregg; Tovar, Henning; et al. (2020). "Rethinking standards of permanence for terrestrial and coastal carbon: implications for governance and sustainability". Current Opinion in Environmental Sustainability. 45: 69–77. Bibcode:2020COES...45...69R. doi:10.1016/j.cosust.2020.09.009.
- Samset, B. H.; Sand, M.; Smith, C. J.; Bauer, S. E.; et al. (2018). "Climate Impacts From a Removal of Anthropogenic Aerosol Emissions" (PDF). Geophysical Research Letters. 45 (2): 1020–1029. Bibcode:2018GeoRL..45.1020S. doi:10.1002/2017GL076079. ISSN 1944-8007. PMC 7427631. PMID 32801404.
- Sand, M.; Berntsen, T. K.; von Salzen, K.; Flanner, M. G.; et al. (2015). "Response of Arctic temperature to changes in emissions of short-lived climate forcers". Nature. 6 (3): 286–289. Bibcode:2016NatCC...6..286S. doi:10.1038/nclimate2880.
- Schmidt, Gavin A.; Ruedy, Reto A.; Miller, Ron L.; Lacis, Andy A. (2010). "Attribution of the present-day total greenhouse effect". Journal of Geophysical Research: Atmospheres. 115 (D20): D20106. Bibcode:2010JGRD..11520106S. doi:10.1029/2010JD014287. ISSN 2156-2202.
- Serdeczny, Olivia; Adams, Sophie; Baarsch, Florent; Coumou, Dim; et al. (2016). "Climate change impacts in Sub-Saharan Africa: from physical changes to their social repercussions" (PDF). Regional Environmental Change. 17 (6): 1585–1600. doi:10.1007/s10113-015-0910-2. hdl:1871.1/c8dfb143-d9e1-4eef-9bbe-67b3c338d07f. ISSN 1436-378X.
- Sutton, Rowan T.; Dong, Buwen; Gregory, Jonathan M. (2007). "Land/sea warming ratio in response to climate change: IPCC AR4 model results and comparison with observations". Geophysical Research Letters. 34 (2): L02701. Bibcode:2007GeoRL..34.2701S. doi:10.1029/2006GL028164.
- Smale, Dan A.; Wernberg, Thomas; Oliver, Eric C. J.; Thomsen, Mads; Harvey, Ben P. (2019). "Marine heatwaves threaten global biodiversity and the provision of ecosystem services". Nature Climate Change. 9 (4): 306–312. Bibcode:2019NatCC...9..306S. doi:10.1038/s41558-019-0412-1. ISSN 1758-6798.
- Smith, Joel B.; Schneider, Stephen H.; Oppenheimer, Michael; Yohe, Gary W.; et al. (2009). "Assessing dangerous climate change through an update of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 'reasons for concern'". Proceedings of the National Academy of Sciences. 106 (11): 4133–4137. Bibcode:2009PNAS..106.4133S. doi:10.1073/pnas.0812355106. PMC 2648893. PMID 19251662.
- Smith, N.; Leiserowitz, A. (2013). "The role of emotion in global warming policy support and opposition". Risk Analysis. 34 (5): 937–948. doi:10.1111/risa.12140. PMC 4298023. PMID 24219420.
- Stroeve, J.; Holland, Marika M.; Meier, Walt; Scambos, Ted; et al. (2007). "Arctic sea ice decline: Faster than forecast". Geophysical Research Letters. 34 (9): L09501. Bibcode:2007GeoRL..34.9501S. doi:10.1029/2007GL029703.
- Storelvmo, T.; Phillips, P. C. B.; Lohmann, U.; Leirvik, T.; Wild, M. (2016). "Disentangling greenhouse warming and aerosol cooling to reveal Earth's climate sensitivity" (PDF). Nature Geoscience. 9 (4): 286–289. Bibcode:2016NatGe...9..286S. doi:10.1038/ngeo2670. ISSN 1752-0908.
- The Cenozoic CO2 Proxy Integration Project (CenCOPIP) Consortium; Hönisch, Bärbel; Royer, Dana L.; Breecker, Daniel O.; Polissar, Pratigya J.; Bowen, Gabriel J.; Henehan, Michael J.; Cui, Ying; Steinthorsdottir, Margret; McElwain, Jennifer C.; Kohn, Matthew J.; Pearson, Ann; Phelps, Samuel R.; Uno, Kevin T.; Ridgwell, Andy (2023). "Toward a Cenozoic history of atmospheric CO2". Science. 382 (6675) eadi5177. Bibcode:2023Sci...382i5177T. doi:10.1126/science.adi5177. hdl:10023/30475. ISSN 0036-8075. PMID 38060645.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) - Turetsky, Merritt R.; Abbott, Benjamin W.; Jones, Miriam C.; Anthony, Katey Walter; et al. (2019). "Permafrost collapse is accelerating carbon release". Nature. 569 (7754): 32–34. Bibcode:2019Natur.569...32T. doi:10.1038/d41586-019-01313-4. PMID 31040419.
- Turner, Monica G.; Calder, W. John; Cumming, Graeme S.; Hughes, Terry P.; et al. (2020). "Climate change, ecosystems and abrupt change: science priorities". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 375 (1794). doi:10.1098/rstb.2019.0105. PMC 7017767. PMID 31983326.
- Twomey, S. (1977). "The Influence of Pollution on the Shortwave Albedo of Clouds". J. Atmos. Sci. 34 (7): 1149–1152. Bibcode:1977JAtS...34.1149T. doi:10.1175/1520-0469(1977)034<1149:TIOPOT>2.0.CO;2. ISSN 1520-0469.
- Tyndall, John (1861). "On the Absorption and Radiation of Heat by Gases and Vapours, and on the Physical Connection of Radiation, Absorption, and Conduction". Philosophical Magazine. 4. 22: 169–194, 273–285. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2016.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Urban, Mark C. (2015). "Accelerating extinction risk from climate change". Science. 348 (6234): 571–573. Bibcode:2015Sci...348..571U. doi:10.1126/science.aaa4984. ISSN 0036-8075. PMID 25931559.
- USGCRP (2009). Karl, T. R.; Melillo, J.; Peterson, T.; Hassol, S. J. (ed.). Global Climate Change Impacts in the United States. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-14407-0. Diarsipkan dari asli tanggal 6 April 2010. Diakses tanggal 19 Januari 2024.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - USGCRP (2017). Wuebbles, D. J.; Fahey, D. W.; Hibbard, K. A.; Dokken, D. J.; et al. (ed.). Climate Science Special Report: Fourth National Climate Assessment, Volume I. Washington, D.C.: U.S. Global Change Research Program. hlm. 1–470. doi:10.7930/J0J964J6tidak aktif 23 Mei 2026. Diarsipkan dari asli tanggal 3 November 2017.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Vandyck, T.; Keramidas, K.; Kitous, A.; Spadaro, J.; et al. (2018). "Air quality co-benefits for human health and agriculture counterbalance costs to meet Paris Agreement pledges". Nature Communications. 9 (4939): 4939. Bibcode:2018NatCo...9.4939V. doi:10.1038/s41467-018-06885-9. PMC 6250710. PMID 30467311.
- Velders, G. J. M.; Andersen, S. O.; et al. (2007). "The importance of the Montreal Protocol in protecting climate". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 104 (12): 4814–4819. Bibcode:2007PNAS..104.4814V. doi:10.1073/pnas.0610328104. PMC 1817831. PMID 17360370.
- Velders, G. J. M.; et al. (2022). "Projections of hydrofluorocarbon (HFC) emissions and the resulting global warming based on recent trends in observed abundances and current policies". Atmospheric Chemistry and Physics. 22 (9): 6087–6101. Bibcode:2022ACP....22.6087V. doi:10.5194/acp-22-6087-2022. hdl:1721.1/148197.
- Wuebbles, D. J.; Easterling, D. R.; Hayhoe, K.; Knutson, T.; et al. (2017). "Chapter 1: Our Globally Changing Climate" (PDF). In USGCRP2017.
- Walsh, John; Wuebbles, Donald; Hayhoe, Katherine; Kossin, Kossin; et al. (2014). "Appendix 3: Climate Science Supplement" (PDF). Climate Change Impacts in the United States: The Third National Climate Assessment. US National Climate Assessment.
- Wang, Bin; Shugart, Herman H.; Lerdau, Manuel T. (2017). "Sensitivity of global greenhouse gas budgets to tropospheric ozone pollution mediated by the biosphere". Environmental Research Letters. 12 (8): 084001. Bibcode:2017ERL....12h4001W. doi:10.1088/1748-9326/aa7885. ISSN 1748-9326.
- Watts, Nick; Amann, Markus; Arnell, Nigel; Ayeb-Karlsson, Sonja; et al. (2019). "The 2019 report of The Lancet Countdown on health and climate change: ensuring that the health of a child born today is not defined by a changing climate". The Lancet. 394 (10211): 1836–1878. Bibcode:2019Lanc..394.1836W. doi:10.1016/S0140-6736(19)32596-6. hdl:10871/40583. PMC 7616843. PMID 31733928.
- Weart, Spencer (2013). "Rise of interdisciplinary research on climate". Proceedings of the National Academy of Sciences. 110 (Supplement 1): 3657–3664. doi:10.1073/pnas.1107482109. PMC 3586608. PMID 22778431.
- Wild, M.; Gilgen, Hans; Roesch, Andreas; Ohmura, Atsumu; et al. (2005). "From Dimming to Brightening: Decadal Changes in Solar Radiation at Earth's Surface". Science. 308 (5723): 847–850. Bibcode:2005Sci...308..847W. doi:10.1126/science.1103215. PMID 15879214.
- Williams, Richard G; Ceppi, Paulo; Katavouta, Anna (2020). "Controls of the transient climate response to emissions by physical feedbacks, heat uptake and carbon cycling". Environmental Research Letters. 15 (9): 0940c1. Bibcode:2020ERL....15i40c1W. doi:10.1088/1748-9326/ab97c9. hdl:10044/1/80154.
- Wolff, Eric W.; Shepherd, John G.; Shuckburgh, Emily; Watson, Andrew J. (2015). "Feedbacks on climate in the Earth system: introduction". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 373 (2054) 20140428. Bibcode:2015RSPTA.37340428W. doi:10.1098/rsta.2014.0428. PMC 4608041. PMID 26438277.
- Young, Paul J.; Harper, Anna B.; Huntingford, Chris; et al. (2021). "The Montreal Protocol protects the terrestrial carbon sink". Nature. 596 (7872): 384–388. Bibcode:2021Natur.596..384Y. doi:10.1038/s41586-021-03737-3. PMID 34408332.
- Zeng, Ning; Yoon, Jinho (2009). "Expansion of the world's deserts due to vegetation-albedo feedback under global warming". Geophysical Research Letters. 36 (17): L17401. Bibcode:2009GeoRL..3617401Z. doi:10.1029/2009GL039699. ISSN 1944-8007.
- Zhang, Jinlun; Lindsay, Ron; Steele, Mike; Schweiger, Axel (2008). "What drove the dramatic arctic sea ice retreat during summer 2007?". Geophysical Research Letters. 35 (11): 1–5. Bibcode:2008GeoRL..3511505Z. doi:10.1029/2008gl034005.
Books, reports and legal documents
- Academia Brasileira de Ciéncias (Brazil); Royal Society of Canada; Chinese Academy of Sciences; Académie des Sciences (France); Deutsche Akademie der Naturforscher Leopoldina (Germany); Indian National Science Academy; Accademia Nazionale dei Lincei (Italy); Science Council of Japan, Academia Mexicana de Ciencias; Academia Mexicana de Ciencias (Mexico); Russian Academy of Sciences; Academy of Science of South Africa; Royal Society (United Kingdom); National Academy of Sciences (United States of America) (Mei 2009). "G8+5 Academies' joint statement: Climate change and the transformation of energy technologies for a low carbon future" (PDF). The National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 15 Februari 2010. Diakses tanggal 5 Mei 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Archer, David; Pierrehumbert, Raymond (2013). The Warming Papers: The Scientific Foundation for the Climate Change Forecast. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-68733-8.
- Bridle, Richard; Sharma, Shruti; Mostafa, Mostafa; Geddes, Anna (Juni 2019). Fossil Fuel to Clean Energy Subsidy Swaps (PDF) (Laporan).
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Climate Focus (Desember 2015). "The Paris Agreement: Summary. Climate Focus Client Brief on the Paris Agreement III" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 Oktober 2018. Diakses tanggal 12 April 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Conceição; et al. (2020). Human Development Report 2020 The Next Frontier: Human Development and the Anthropocene (PDF) (Laporan). United Nations Development Programme. Diakses tanggal 9 Januari 2021.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - DeFries, Ruth; Edenhofer, Ottmar; Halliday, Alex; Heal, Geoffrey; et al. (September 2019). The missing economic risks in assessments of climate change impacts (PDF) (Laporan). Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment, London School of Economics and Political Science.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dessler, Andrew E. and Edward A. Parson, eds. The science and politics of global climate change: A guide to the debate (Cambridge University Press, 2019).
- Dessai, Suraje (2001). "The climate regime from The Hague to Marrakech: Saving or sinking the Kyoto Protocol?" (PDF). Tyndall Centre Working Paper 12. Tyndall Centre. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 Juni 2012. Diakses tanggal 5 Mei 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dunlap, Riley E.; McCright, Aaron M. (2011). "Chapter 10: Organized climate change denial". Dalam Dryzek, John S.; Norgaard, Richard B.; Schlosberg, David (ed.). The Oxford Handbook of Climate Change and Society. Oxford University Press. hlm. 144–160. ISBN 978-0-19-956660-0.
- Dunlap, Riley E.; McCright, Aaron M. (2015). "Chapter 10: Challenging Climate Change: The Denial Countermovement". Dalam Dunlap, Riley E.; Brulle, Robert J. (ed.). Climate Change and Society: Sociological Perspectives. Oxford University Press. hlm. 300–332. ISBN 978-0-19-935611-9.
- Ebi, Kristie L.; Balbus, John; Luber, George; Bole, Aparna; Crimmins, Allison R.; Glass, Gregory E.; Saha, Shubhayu; Shimamoto, Mark M.; Trtanj, Juli M.; White-Newsome, Jalonne L. (2018). Chapter 14: Human Health. Impacts, Risks, and Adaptation in the United States: The Fourth National Climate Assessment, Volume II (Laporan). doi:10.7930/nca4.2018.ch14tidak aktif 8 Agustus 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Flavell, Alex (2014). IOM outlook on migration, environment and climate change (PDF) (Laporan). Geneva, Switzerland: International Organization for Migration (IOM). ISBN 978-92-9068-703-0. OCLC 913058074.
- Fleming, James Rodger (2007). The Callendar Effect: the life and work of Guy Stewart Callendar (1898–1964). Boston: American Meteorological Society. ISBN 978-1-878220-76-9.
- Flynn, C.; Yamasumi, E.; Fisher, S.; Snow, D.; et al. (Januari 2021). Peoples' Climate Vote (PDF) (Laporan). UNDP and University of Oxford. Diakses tanggal 5 Agustus 2021.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Flynn, C.; Jardon, S. T.; et al. (Juni 2024). Peoples' Climate Vote 2024 Results (PDF) (Laporan). UNDP and University of Oxford. Diakses tanggal 1 November 2024.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Global Methane Initiative (2020). Global Methane Emissions and Mitigation Opportunities (PDF) (Laporan). Global Methane Initiative.
- Hallegatte, Stephane; Bangalore, Mook; Bonzanigo, Laura; Fay, Marianne; et al. (2016). Shock Waves: Managing the Impacts of Climate Change on Poverty. Climate Change and Development (PDF). Washington, D.C.: World Bank. doi:10.1596/978-1-4648-0673-5. hdl:10986/22787. ISBN 978-1-4648-0674-2.
- Haywood, Jim (2016). "Atmospheric Aerosols and Their Role in Climate Change". Climate Change. hlm. 449–463. doi:10.1016/B978-0-444-63524-2.00027-0. ISBN 978-0-444-63524-2.
- IEA (Desember 2020). "COVID-19 and energy efficiency". Energy Efficiency 2020 (Laporan). Paris, France. Diakses tanggal 6 April 2021.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - IEA (Oktober 2021). Net Zero By 2050: A Roadmap for the Global Energy Sector (PDF) (Laporan). Paris, France. Diakses tanggal 4 April 2022.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - IEA (Oktober 2023). World Energy Outlook 2023 (PDF) (Laporan). Paris, France. Diakses tanggal 25 Oktober 2021.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Krogstrup, Signe; Oman, William (2019). "Macroeconomic and Financial Policies for Climate Change Mitigation". IMF Working Papers. 19 (185). doi:10.5089/9781513511955.001.
- Leiserowitz, A.; Carman, J.; Buttermore, N.; Wang, X.; et al. (2021). International Public Opinion on Climate Change (PDF) (Laporan). New Haven, CT: Yale Program on Climate Change Communication and Facebook Data for Good. Diakses tanggal 5 Agustus 2021.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Letcher, Trevor M., ed. (2020). Future Energy: Improved, Sustainable and Clean Options for our Planet (Edisi Third). Elsevier. ISBN 978-0-08-102886-5.
- Meinshausen, Malte (2019). "Implications of the Developed Scenarios for Climate Change". Achieving the Paris Climate Agreement Goals. hlm. 459–469. doi:10.1007/978-3-030-05843-2_12. ISBN 978-3-030-05842-5.
- Miller, J.; Du, L.; Kodjak, D. (2017). Impacts of World-Class Vehicle Efficiency and Emissions Regulations in Select G20 Countries (PDF) (Laporan). Washington, D.C.: The International Council on Clean Transportation.
- Müller, Benito (Februari 2010). Copenhagen 2009: Failure or final wake-up call for our leaders? EV 49 (PDF). Oxford Institute for Energy Studies. hlm. i. ISBN 978-1-907555-04-6. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 Juli 2017. Diakses tanggal 18 Mei 2010.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - National Academies (2008). Understanding and responding to climate change: Highlights of National Academies Reports, 2008 edition (PDF) (Laporan). National Academy of Sciences. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 11 Oktober 2017. Diakses tanggal 9 November 2010.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - National Research Council (2012). Climate Change: Evidence, Impacts, and Choices (Laporan). Washington, D.C.: National Academy of Sciences. Diakses tanggal 21 November 2023.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Newell, Peter (14 Desember 2006). Climate for Change: Non-State Actors and the Global Politics of the Greenhouse. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-02123-4. Diakses tanggal 30 Juli 2018.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - NOAA. "January 2017 analysis from NOAA: Global and Regional Sea Level Rise Scenarios for the United States" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 Desember 2017. Diakses tanggal 7 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Olivier, J. G. J.; Peters, J. A. H. W. (2019). Trends in global CO2 and total greenhouse gas emissions (PDF). The Hague: PBL Netherlands Environmental Assessment Agency.
- Oreskes, Naomi (2007). "The scientific consensus on climate change: How do we know we're not wrong?". Dalam DiMento, Joseph F. C.; Doughman, Pamela M. (ed.). Climate Change: What It Means for Us, Our Children, and Our Grandchildren. The MIT Press. ISBN 978-0-262-54193-0.
- Oreskes, Naomi; Conway, Erik (2010). Merchants of Doubt: How a Handful of Scientists Obscured the Truth on Issues from Tobacco Smoke to Global Warming (Edisi first). Bloomsbury Press. ISBN 978-1-59691-610-4.
- Pew Research Center (November 2015). Global Concern about Climate Change, Broad Support for Limiting Emissions (PDF) (Laporan). Diakses tanggal 5 Agustus 2021.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - REN21 (2020). Renewables 2020 Global Status Report (PDF). Paris: REN21 Secretariat. ISBN 978-3-948393-00-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) - Royal Society (13 April 2005). Economic Affairs – Written Evidence. The Economics of Climate Change, the Second Report of the 2005–2006 session, produced by the UK Parliament House of Lords Economics Affairs Select Committee. UK Parliament. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2011. Diakses tanggal 9 Juli 2011.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Setzer, Joana; Byrnes, Rebecca (Juli 2019). Global trends in climate change litigation: 2019 snapshot (PDF). London: the Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment and the Centre for Climate Change Economics and Policy.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Steinberg, D.; Bielen, D.; et al. (Juli 2017). Electrification & Decarbonization: Exploring U.S. Energy Use and Greenhouse Gas Emissions in Scenarios with Widespread Electrification and Power Sector Decarbonization (PDF) (Laporan). Golden, Colorado: National Renewable Energy Laboratory.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Teske, Sven, ed. (2019). Achieving the Paris Climate Agreement Goals. doi:10.1007/978-3-030-05843-2. ISBN 978-3-030-05842-5.
- Teske, Sven; Pregger, Thomas; Naegler, Tobias; Simon, Sonja; Pagenkopf, Johannes; Van Den Adel, Bent; Deniz, Özcan (2019). "Energy Scenario Results". Achieving the Paris Climate Agreement Goals. hlm. 175–401. doi:10.1007/978-3-030-05843-2_8. ISBN 978-3-030-05842-5.
- Teske, Sven (2019). "Trajectories for a Just Transition of the Fossil Fuel Industry". Achieving the Paris Climate Agreement Goals. hlm. 403–411. doi:10.1007/978-3-030-05843-2_9. ISBN 978-3-030-05842-5.
- UN FAO (2016). Global Forest Resources Assessment 2015. How are the world's forests changing? (PDF) (Laporan). Food and Agriculture Organization of the United Nations. ISBN 978-92-5-109283-5. Diakses tanggal 1 Desember 2019.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Emissions Gap Report 2019 (PDF). Nairobi: United Nations Environment Programme. 2019. ISBN 978-92-807-3766-0.
- Emissions Gap Report 2024. Nairobi: United Nations Environment Programme. 2024. ISBN 978-92-807-4185-8.
- UNEP (2018). The Adaptation Gap Report 2018. Nairobi, Kenya: United Nations Environment Programme (UNEP). ISBN 978-92-807-3728-8.
- UNFCCC (1992). United Nations Framework Convention on Climate Change (PDF).
- UNFCCC (1997). "Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change". United Nations.
- UNFCCC (30 Maret 2010). "Decision 2/CP.15: Copenhagen Accord". Report of the Conference of the Parties on its fifteenth session, held in Copenhagen from 7 to 19 December 2009. United Nations Framework Convention on Climate Change. FCCC/CP/2009/11/Add.1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2010. Diakses tanggal 17 Mei 2010.
{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - UNFCCC (2015). "Paris Agreement" (PDF). United Nations Framework Convention on Climate Change.
- UNFCCC (26 Februari 2021). Nationally determined contributions under the Paris Agreement Synthesis report by the secretariat (PDF) (Laporan). United Nations Framework Convention on Climate Change.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Park, Susin (Mei 2011). "Climate Change and the Risk of Statelessness: The Situation of Low-lying Island States" (PDF). United Nations High Commissioner for Refugees. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 Mei 2013. Diakses tanggal 13 April 2012.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - United States Environmental Protection Agency (2016). Methane and Black Carbon Impacts on the Arctic: Communicating the Science (PDF) (Laporan). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 8 September 2017. Diakses tanggal 27 Februari 2019.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Vautard, Robert; van Aalst, Maarten; Boucher, Olivier; Drouin, Agathe; Haustein, Karsten; Kreienkamp, Frank; van Oldenborgh, Geert Jan; Otto, Friederike E L; Ribes, Aurélien; Robin, Yoann; Schneider, Michel; Soubeyroux, Jean-Michel; Stott, Peter; Seneviratne, Sonia I; Vogel, Martha M; Wehner, Michael (7 September 2020). "Human contribution to the record-breaking June and July 2019 heatwaves in Western Europe". Environmental Research Letters. 15 (9): 094077. Bibcode:2020ERL....15i4077V. doi:10.1088/1748-9326/aba3d4.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Weart, Spencer (Oktober 2008). The Discovery of Global Warming (Edisi 2nd). Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-03189-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 November 2016. Diakses tanggal 16 Juni 2020.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Weart, Spencer (Februari 2019). The Discovery of Global Warming (Edisi online). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juni 2020. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Carbon Dioxide Greenhouse Effect". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Weart, Spencer (Januari 2020). "The Public and Climate Change". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Public and Climate Change: Suspicions of a Human-Caused Greenhouse (1956–1969)". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Public and Climate Change: Suspicions of a Human-Caused Greenhouse (1956–1969)". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Public and Climate Change (cont. – since 1980)". The Discovery of Global warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Public and Climate Change: The Summer of 1988". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Public and Climate Change: The Summer of 1988". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
- Weart, Spencer (Januari 2020). "The Carbon Dioxide Greenhouse Effect". The Discovery of Global Warming. American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2016. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
- State and Trends of Carbon Pricing 2019 (PDF) (Laporan). Washington, D.C.: World Bank. Juni 2019. doi:10.1596/978-1-4648-1435-8. hdl:10986/29687. ISBN 978-1-4648-1435-8.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - World Economic Forum (2024). Quantifying the Impact of Climate Change on Human Health (PDF) (Laporan).
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - World Health Organization (2016). Ambient air pollution: a global assessment of exposure and burden of disease (Laporan). Geneva, Switzerland. ISBN 978-92-4-151135-3.
- COP24 Special Report Health and Climate Change (PDF). Geneva: World Health Organization. 2018. ISBN 978-92-4-151497-2.
- World Meteorological Organization (2022). Scientific Assessment of Ozone Depletion (PDF) (Laporan). GAW Report No. 278. Geneva: World Meteorological Organization. ISBN 978-9914-733-99-0.
- World Meteorological Organization (2022). "Executive Summary" (PDF). WMO SAOD 2022.
- WMO Statement on the State of the Global Climate in 2023. WMO-No. 1347. Geneva: World Meteorological Organization. 2024. ISBN 978-92-63-11347-4.
- WMO Global Annual to Decadal Climate Update: 2024-2028 (Laporan). Geneva: World Meteorological Organization. 2024.
- Creating a Sustainable Food Future: A Menu of Solutions to Feed Nearly 10 Billion People by 2050 (PDF). Washington, D.C.: World Resources Institute. Desember 2019. ISBN 978-1-56973-953-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Sumber nonteknis
- Associated Press
- Colford, Paul (22 September 2015). "An addition to AP Stylebook entry on global warming". AP Style Blog. Diakses tanggal 6 November 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Colford, Paul (22 September 2015). "An addition to AP Stylebook entry on global warming". AP Style Blog. Diakses tanggal 6 November 2019.
- BBC
- "UK Parliament declares climate change emergency". BBC. 1 Mei 2019. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Rigby, Sara (3 Februari 2020). "Climate change: should we change the terminology?". BBC Science Focus Magazine. Diakses tanggal 24 Maret 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "UK Parliament declares climate change emergency". BBC. 1 Mei 2019. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
- Bulletin of the Atomic Scientists
- Stover, Dawn (23 September 2014). "The global warming 'hiatus'". Bulletin of the Atomic Scientists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Juli 2020.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Stover, Dawn (23 September 2014). "The global warming 'hiatus'". Bulletin of the Atomic Scientists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Juli 2020.
- Carbon Brief
- Yeo, Sophie (4 Januari 2017). "Clean energy: The challenge of achieving a 'just transition' for workers". Carbon Brief. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - McSweeney, Robert M. (19 Juni 2017). "Billions to face 'deadly threshold' of heat extremes by 2100, finds study". Carbon Brief.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Yeo, Sophie (21 November 2017). "Explainer: Why a UN climate deal on HFCs matters". Carbon Brief. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Mei 2024. Diakses tanggal 10 Januari 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - McSweeney, Robert M.; Hausfather, Zeke (15 Januari 2018). "Q&A: How do climate models work?". Carbon Brief. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Maret 2019. Diakses tanggal 2 Maret 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Hausfather, Zeke (19 April 2018). "Explainer: How 'Shared Socioeconomic Pathways' explore future climate change". Carbon Brief. Diakses tanggal 20 Juli 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Hausfather, Zeke (8 Oktober 2018). "Analysis: Why the IPCC 1.5C report expanded the carbon budget". Carbon Brief. Diakses tanggal 28 Juli 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Dunne, Daisy; Gabbatiss, Josh; McSweeney, Robert (7 Januari 2020). "Media reaction: Australia's bushfires and climate change". Carbon Brief. Diakses tanggal 11 Januari 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - McSweeney, Robert (10 Februari 2020). "Nine Tipping Points That Could Be Triggered by Climate Change". Carbon Brief. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Oktober 2024. Diakses tanggal 27 Mei 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Gabbatiss, Josh; Tandon, Ayesha (4 Oktober 2021). "In-depth Q&A: What is 'climate justice'?". Carbon Brief (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Oktober 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Hausfather, Zeke; Forster, Piers (3 Juli 2023). "Analysis: How low-sulphur shipping rules are affecting global warming". Carbon Brief. Diakses tanggal 2 November 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Yeo, Sophie (4 Januari 2017). "Clean energy: The challenge of achieving a 'just transition' for workers". Carbon Brief. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
- Climate.gov
- Lindsey, Rebecca (23 Juni 2022). "Climate Change: Atmospheric Carbon Dioxide". Climate.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Juni 2013. Diakses tanggal 7 Mei 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Lindsey, Rebecca (23 Juni 2022). "Climate Change: Atmospheric Carbon Dioxide". Climate.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Juni 2013. Diakses tanggal 7 Mei 2023.
- Deutsche Welle
- Ruiz, Irene Banos (22 Juni 2019). "Climate Action: Can We Change the Climate From the Grassroots Up?". Deutsche Welle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Juni 2019. Diakses tanggal 23 Juni 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ruiz, Irene Banos (22 Juni 2019). "Climate Action: Can We Change the Climate From the Grassroots Up?". Deutsche Welle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Juni 2019. Diakses tanggal 23 Juni 2019.
- EPA
- "Myths vs. Facts: Denial of Petitions for Reconsideration of the Endangerment and Cause or Contribute Findings for Greenhouse Gases under Section 202(a) of the Clean Air Act". U.S. Environmental Protection Agency. 10 September 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Mei 2021. Diakses tanggal 7 Agustus 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Global Greenhouse Gas Emissions Data". U.S. Environmental Protection Agency. 10 September 2024. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Februari 2020. Diakses tanggal 8 Agustus 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Overview of Greenhouse Gases". U.S. Environmental Protection Agency. 11 April 2024. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Oktober 2024. Diakses tanggal 15 September 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Myths vs. Facts: Denial of Petitions for Reconsideration of the Endangerment and Cause or Contribute Findings for Greenhouse Gases under Section 202(a) of the Clean Air Act". U.S. Environmental Protection Agency. 10 September 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Mei 2021. Diakses tanggal 7 Agustus 2017.
- EUobserver
- "Copenhagen failure 'disappointing', 'shameful'". EUobserver. 20 Desember 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 April 2019. Diakses tanggal 12 April 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Copenhagen failure 'disappointing', 'shameful'". EUobserver. 20 Desember 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 April 2019. Diakses tanggal 12 April 2019.
- European Parliament
- Ciucci, M. (Februari 2020). "Renewable Energy". European Parliament. Diakses tanggal 3 Juni 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ciucci, M. (Februari 2020). "Renewable Energy". European Parliament. Diakses tanggal 3 Juni 2020.
- The Guardian
- Carrington, Damian (19 Maret 2019). "School climate strikes: 1.4 million people took part, say campaigners". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Maret 2019. Diakses tanggal 12 April 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Rankin, Jennifer (28 November 2019). "'Our house is on fire': EU parliament declares climate emergency". The Guardian. Diakses tanggal 28 November 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Watts, Jonathan (19 Februari 2020). "Oil and gas firms 'have had far worse climate impact than thought'". The Guardian.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - McCurry, Justin (28 Oktober 2020). "South Korea vows to go carbon neutral by 2050 to fight climate emergency". The Guardian. Diakses tanggal 6 Desember 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Carrington, Damian (19 Maret 2019). "School climate strikes: 1.4 million people took part, say campaigners". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Maret 2019. Diakses tanggal 12 April 2019.
- International Energy Agency
- "Projected Costs of Generating Electricity 2020". IEA. 9 Desember 2020. Diakses tanggal 4 April 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Projected Costs of Generating Electricity 2020". IEA. 9 Desember 2020. Diakses tanggal 4 April 2022.
- NASA
- "Arctic amplification". NASA. 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Juli 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Conway, Erik M. (5 Desember 2008). "What's in a Name? Global Warming vs. Climate Change". NASA. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Agustus 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Shaftel, Holly (Januari 2016). "What's in a name? Weather, global warming and climate change". NASA Climate Change: Vital Signs of the Planet. Diarsipkan dari asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 12 Oktober 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Shaftel, Holly; Jackson, Randal; Callery, Susan; Bailey, Daniel, ed. (7 Juli 2020). "Overview: Weather, Global Warming and Climate Change". Climate Change: Vital Signs of the Planet. Diakses tanggal 14 Juli 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Arctic amplification". NASA. 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Juli 2018.
- National Conference of State Legislators
- "State Renewable Portfolio Standards and Goals". National Conference of State Legislators. 17 April 2020. Diakses tanggal 3 Juni 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "State Renewable Portfolio Standards and Goals". National Conference of State Legislators. 17 April 2020. Diakses tanggal 3 Juni 2020.
- National Geographic
- Welch, Craig (13 Agustus 2019). "Arctic permafrost is thawing fast. That affects us all". National Geographic. Diakses tanggal 25 Agustus 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Welch, Craig (13 Agustus 2019). "Arctic permafrost is thawing fast. That affects us all". National Geographic. Diakses tanggal 25 Agustus 2019.
- National Science Digital Library
- Fleming, James R. (17 Maret 2008). "Climate Change and Anthropogenic Greenhouse Warming: A Selection of Key Articles, 1824–1995, with Interpretive Essays". National Science Digital Library Project Archive PALE:ClassicArticles. Diakses tanggal 7 Oktober 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Fleming, James R. (17 Maret 2008). "Climate Change and Anthropogenic Greenhouse Warming: A Selection of Key Articles, 1824–1995, with Interpretive Essays". National Science Digital Library Project Archive PALE:ClassicArticles. Diakses tanggal 7 Oktober 2019.
- Natural Resources Defense Council
- "What Is the Clean Power Plan?". Natural Resources Defense Council. 29 September 2017. Diakses tanggal 3 Agustus 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "What Is the Clean Power Plan?". Natural Resources Defense Council. 29 September 2017. Diakses tanggal 3 Agustus 2020.
- The New York Times
- Rudd, Kevin (25 Mei 2015). "Paris Can't Be Another Copenhagen". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Februari 2018. Diakses tanggal 26 Mei 2015.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Rudd, Kevin (25 Mei 2015). "Paris Can't Be Another Copenhagen". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Februari 2018. Diakses tanggal 26 Mei 2015.
- NOAA
- NOAA (10 Juli 2011). "Polar Opposites: the Arctic and Antarctic". Diarsipkan dari asli tanggal 22 Februari 2019. Diakses tanggal 20 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Huddleston, Amara (17 Juli 2019). "Happy 200th birthday to Eunice Foote, hidden climate science pioneer". NOAA Climate.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Juli 2019. Diakses tanggal 8 Oktober 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- NOAA (10 Juli 2011). "Polar Opposites: the Arctic and Antarctic". Diarsipkan dari asli tanggal 22 Februari 2019. Diakses tanggal 20 Februari 2019.
- Our World in Data
- Ritchie, Hannah; Roser, Max (15 Januari 2018). "Land Use". Our World in Data. Diakses tanggal 1 Desember 2019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Ritchie, Hannah (18 September 2020). "Sector by sector: where do global greenhouse gas emissions come from?". Our World in Data. Diakses tanggal 28 Oktober 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Roser, Max (2022). "Why did renewables become so cheap so fast?". Our World in Data. Diakses tanggal 4 April 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ritchie, Hannah; Roser, Max (15 Januari 2018). "Land Use". Our World in Data. Diakses tanggal 1 Desember 2019.
- Pew Research Center
- Fagan, Moira; Huang, Christine (16 Oktober 2020). "Many globally are as concerned about climate change as about the spread of infectious diseases". Pew Research Center. Diakses tanggal 19 Agustus 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Fagan, Moira; Huang, Christine (16 Oktober 2020). "Many globally are as concerned about climate change as about the spread of infectious diseases". Pew Research Center. Diakses tanggal 19 Agustus 2021.
- Politico
- Tamma, Paola; Schaart, Eline; Gurzu, Anca (11 Desember 2019). "Europe's Green Deal plan unveiled". Politico. Diakses tanggal 29 Desember 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Tamma, Paola; Schaart, Eline; Gurzu, Anca (11 Desember 2019). "Europe's Green Deal plan unveiled". Politico. Diakses tanggal 29 Desember 2019.
- RIVM
- Documentary Sea Blind (Dutch Television) (dalam bahasa Belanda). RIVM: Netherlands National Institute for Public Health and the Environment. 11 Oktober 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Agustus 2018. Diakses tanggal 26 Februari 2019.
{{cite AV media}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Documentary Sea Blind (Dutch Television) (dalam bahasa Belanda). RIVM: Netherlands National Institute for Public Health and the Environment. 11 Oktober 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Agustus 2018. Diakses tanggal 26 Februari 2019.
- Salon
- Leopold, Evelyn (25 September 2019). "How leaders planned to avert climate catastrophe at the UN (while Trump hung out in the basement)". Salon. Diakses tanggal 20 November 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Leopold, Evelyn (25 September 2019). "How leaders planned to avert climate catastrophe at the UN (while Trump hung out in the basement)". Salon. Diakses tanggal 20 November 2019.
- ScienceBlogs
- Gleick, Peter (7 Januari 2017). "Statements on Climate Change from Major Scientific Academies, Societies, and Associations (January 2017 update)". ScienceBlogs. Diakses tanggal 2 April 2020.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Gleick, Peter (7 Januari 2017). "Statements on Climate Change from Major Scientific Academies, Societies, and Associations (January 2017 update)". ScienceBlogs. Diakses tanggal 2 April 2020.
- Scientific American
- Ogburn, Stephanie Paige (29 April 2014). "Indian Monsoons Are Becoming More Extreme". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Juni 2018.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ogburn, Stephanie Paige (29 April 2014). "Indian Monsoons Are Becoming More Extreme". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Juni 2018.
- Smithsonian
- Wing, Scott L. (29 Juni 2016). "Studying the Climate of the Past Is Essential for Preparing for Today's Rapidly Changing Climate". Smithsonian. Diakses tanggal 8 November 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Wing, Scott L. (29 Juni 2016). "Studying the Climate of the Past Is Essential for Preparing for Today's Rapidly Changing Climate". Smithsonian. Diakses tanggal 8 November 2019.
- The Sustainability Consortium
- "One-Fourth of Global Forest Loss Permanent: Deforestation Is Not Slowing Down". The Sustainability Consortium. 13 September 2018. Diakses tanggal 1 Desember 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "One-Fourth of Global Forest Loss Permanent: Deforestation Is Not Slowing Down". The Sustainability Consortium. 13 September 2018. Diakses tanggal 1 Desember 2019.
- UNFCCC
- "What are United Nations Climate Change Conferences?". UNFCCC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Mei 2019. Diakses tanggal 12 Mei 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "What is the United Nations Framework Convention on Climate Change?". UNFCCC.
- "What are United Nations Climate Change Conferences?". UNFCCC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Mei 2019. Diakses tanggal 12 Mei 2019.
- Union of Concerned Scientists
- "Carbon Pricing 101". Union of Concerned Scientists. 8 Januari 2017. Diakses tanggal 15 Mei 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Carbon Pricing 101". Union of Concerned Scientists. 8 Januari 2017. Diakses tanggal 15 Mei 2020.
- Vice
- Segalov, Michael (2 Mei 2019). "The UK Has Declared a Climate Emergency: What Now?". Vice. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Segalov, Michael (2 Mei 2019). "The UK Has Declared a Climate Emergency: What Now?". Vice. Diakses tanggal 30 Juni 2019.
- The Verge
- Calma, Justine (27 Desember 2019). "2019 was the year of 'climate emergency' declarations". The Verge. Diakses tanggal 28 Maret 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Calma, Justine (27 Desember 2019). "2019 was the year of 'climate emergency' declarations". The Verge. Diakses tanggal 28 Maret 2020.
- Vox
- Roberts, D. (20 September 2019). "Getting to 100% renewables requires cheap energy storage. But how cheap?". Vox. Diakses tanggal 28 Mei 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Roberts, D. (20 September 2019). "Getting to 100% renewables requires cheap energy storage. But how cheap?". Vox. Diakses tanggal 28 Mei 2020.
- World Health Organization
- "We must fight one of the world's biggest health threats: climate change". World Health Organization. 3 November 2023. Diakses tanggal 19 September 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "We must fight one of the world's biggest health threats: climate change". World Health Organization. 3 November 2023. Diakses tanggal 19 September 2024.
- World Resources Institute
- Levin, Kelly (8 Agustus 2019). "How Effective Is Land At Removing Carbon Pollution? The IPCC Weighs In". World Resources institute. Diakses tanggal 15 Mei 2020.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Seymour, Frances; Gibbs, David (8 Desember 2019). "Forests in the IPCC Special Report on Land Use: 7 Things to Know". World Resources Institute.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Levin, Kelly (8 Agustus 2019). "How Effective Is Land At Removing Carbon Pollution? The IPCC Weighs In". World Resources institute. Diakses tanggal 15 Mei 2020.
- Yale Climate Connections
- Peach, Sara (2 November 2010). "Yale Researcher Anthony Leiserowitz on Studying, Communicating with American Public". Yale Climate Connections. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2019. Diakses tanggal 30 Juli 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Peach, Sara (2 November 2010). "Yale Researcher Anthony Leiserowitz on Studying, Communicating with American Public". Yale Climate Connections. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2019. Diakses tanggal 30 Juli 2018.
Pranala luar
Perubahan iklim
- Intergovernmental Panel on Climate Change: IPCC (IPCC)
- UN: Climate Change (UN)
- Met Office: Climate Guide (Met Office)
- National Oceanic and Atmospheric Administration: Climate (NOAA)
- Royal Society. Climate change: Evidence and causes (Royal Society)
| Umum | |
|---|---|
| Penyebab |
|
| Dampak |
|
| Mitigasi |
|
| Temukan informasi lain di proyek saudari Wikimedia |
|
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |