Minggu, 20 September 2026
19:26 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Peredupan global

Peredupan global

berkurangnya jumlah sinar matahari yang mengenai permukaan bumi

Peredupan Global
Puluhan titik api di permukaan (titik merah) dan selubung asap tebal dan kabut (abu-abu) memenuhi langit di Tiongkok Timur. Asap, polusi dan partikel udara semuanya terkait dengan peredupan global. Foto yang diambil oleh MODIS kapal satelit laut NASA.

Peredupan global adalah pengurangan jumlah radiasi langsung secara global dan bertahap pada permukaan bumi yang diamati selama beberapa dekade setelah sebelumnya dilakukan pengukuran sistematis pada tahun 1950-an. Efeknya bervariasi berdasarkan lokasi, tetapi secara global diperkirakan penurunan 4% selama tiga dekade dari tahun 1960 hingga 1990. Namun, setelah berkurangnya anomali yang disebabkan oleh letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991, terjadi pembalikan yang sangat sedikit dari keseluruhan radiasi yang telah diamati.[1]

Penyebab

Peredupan global ini diduga disebabkan oleh meningkatnya partikel seperti aerosol sulfat di atmosfer akibat ulah manusia. Hal ini menyebabkan terganggunya siklus hidrologi dengan berkurangnya penguapan dan pada akhirnya mengurangi curah hujan di beberapa daerah. Peredupan global juga menimbulkan efek pendingin yang berdampak pada efek gas rumah kaca pada pemanasan global.

Secara sederhana, peredupan global berarti berkurangnya sinar matahari mencapai bumi karena polusi udara, yang menyebabkan memantulnya cahaya matahari kembali ke ruang angkasa.

Sebagian ilmuwan memperkirakan peredupan global terjadi mungkin karena meningkatnya kehadiran partikel aerosol di atmosfer yang disebabkan oleh ulah manusia.[2] Aerosol dan partikel lainnya menyerap energi matahari dan memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa. Polutan juga dapat menjadi inti terhadap tetesan awan hujan. Tetesan air di awan lalu menyatu di sekitar partikel.[3]

Akibat

Meningkatnya polusi udara menyebabkan timbul lebih banyak partikel dan hal ini menjadi pemicu timbulnya awan dengan jumlah tetesan kecil air yang banyak. Tetesan kecil yang banyak ini membuat awan menjadi lebih reflektif, sehingga lebih banyak sinar matahari yang masuk dipantulkan kembali ke angkasa dan tidak mencapai permukaan bumi. Efek ini juga mencerminkan hal yang sama, yaitu radiasi dari bawah, menjebak dalam atmosfer yang lebih rendah.[4] Awan mencegah kedua panas dari matahari dan panas yang terpancar dari bumi. Efeknya sangat kompleks dan bervariasi dari segi waktu, lokasi, dan ketinggian. Biasanya pada siang hari intersepsi ini lebih dominan dari sinar matahari dengan memberikan efek pendinginan; Namun, pada malam hari, terjadi radiasi panas ulang ke bumi sehingga memperlambat hilangnya panas bumi.

Lihat Juga

Referensi

  1. Hegerl, G. C.; Zwiers, F. W.; Braconnot, P. et al. (2007). "Chapter 9, Understanding and Attributing Climate Change – Section 9.2.2 Spatial and Temporal Patterns of the Response to Different Forcings and their Uncertainties" Diarsipkan 2018-10-05 di Wayback Machine.
  2. Keneth L. Denman and Guy Brasseur; et al. (2007). "Couplings between changes in Climate System and the Biogeochemistry, 7.5.3" (PDF). IPCC. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-03-15. Diakses tanggal 2008-04-09.{{cite web}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |author=
  3. "The Physical Basis for Seeding Clouds". Atmospherics Inc. 1996. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-04-08. Diakses tanggal 2008-04-03.
  4. Yun Qian, Daoyi Gong; et al. (2009). "The Sky Is Not Falling: Pollution in eastern China cuts light, useful rainfall". Pacific Northwest National Laboratory. Diakses tanggal 2009-08-16.{{cite web}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |author=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan