Senin, 21 September 2026
02:45 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Neotradisionalisme Islam

Neotradisionalisme Islam

Gerakan intelektualisme Islam Sunni

Bagian dari seri
Islam
120px-Allah3.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bagian dari seri tentang
Islam Sunni
330px-Ahlul_Sunnah.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
20px-Allah-green.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalIslam

Neotradisionalisme Islam adalah aliran Islam Sunni kontemporer yang mengutamakan kepatuhan terhadap empat mazhab Sunni, kepercayaan pada pemahaman akidah Asy'ari, Maturidi, dan Atsari, serta praktik sufisme (tasawuf),[1] yang dianggap oleh para pengikutnya mewakili tradisi Sunni klasik.[2]:225[1]:11–13

Keyakinan

Kelompok neotradisionalis percaya bahwa Islam pada dasarnya terdiri dari tiga konsep yang didefinisikan dalam Hadis Jibril: Islam, iman, dan ihsan. Hal ini diyakini sesuai dengan bidang fikih, akidah, dan tasawuf dalam tradisi intelektual Islam. Fikih yang diakui adalah mazhab Syafiʽi, Hanafi, Maliki, dan Hambali; akidah yang diakui adalah Asy'ari, Maturidi, dan Atsari; serta mengakui tarekat tasawuf. Oleh karena itu, pemahaman ortodoks tentang agama dianggap berada di tangan para ulama di bidang ini yang memiliki sanad keilmuan yang tidak terputus secara turun-temurun sampai kepada Nabi Islam, Muhammad.[3]:198–199 Kewibawaan seorang ulama dinilai dari apakah ia telah diberikan ijazah oleh gurunya, yang memuat sanad keilmuan mereka serta izin untuk mengajar berdasarkan ijazah tersebut.[1]:215 Penekanan besar gerakan ini juga didasarkan pada ajaran Al-Ghazali dengan Ihya-nya.

Kalangan neotradisionalis menentang pendirian bahwa orang tidak perlu taklid kepada satu mazhab fikih, dan mengklaim bahwa hal ini menyiratkan bahwa generasi Muslim Sunni sebelumnya belum berhasil memahami Islam, dan bahwa tidak mungkin mengambil keputusan yang benar tanpa bergantung pada ushul fikih, dan hal ini akan menyebabkan orang awam melakukan ijtihad, sehingga mengganggu kesatuan hukum Sunni dan memperkenalkan perkara baru dalam agama.[3]:202–203 Namun, berbeda dengan kelompok tradisionalis lainnya, kelompok neotradisionalis terbuka terhadap pembaruan fikih dan pembukaan keran ijtihad untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan-tantangan baru di dunia modern.[4] Neotradisionalisme tumpang tindih dengan modernisme dalam penekanan inti dan promosi “Maqashid asy-Syariah”, Fiqh al-Aqalliyat, dan lain-lain di kalangan umat Islam kontemporer yang menghadapi tantangan modernitas hari demi hari.[5]

Sejarah

Neotradisionalisme Barat

Neotradisionalisme Islam muncul di Barat pada tahun 1990-an setelah kembalinya beberapa ulama yang pernah belajar di lembaga pendidikan Islam 'tradisional' di dunia Arab, termasuk Hamza Yusuf, Abdal Hakim Murad, Nuh Keller, dan Umar Faruq Abd-Allah, yang dimaksudkan untuk menyebarkan pengetahuan 'tradisional' yang telah mereka pelajari kepada umat. Neo-tradisionalisme Islam Barat dicirikan oleh kemunduran spiritual yang terisolasi ketika para ulama neotradisionalis, yang dipandang sebagai penghubung hidup dengan tradisi Sunni yang 'asli', mengajar murid-murid mereka yang dikenal sebagai 'pencari ilmu suci'. Sarjana muda yang banyak dihubungkan dengan neotradisionalis misalnya Jonathan Brown, Hasan Spiker, dan Yahya Rhodus.[6] Kritik terhadap modernitas lazim terjadi dalam gerakan ini, yang dianggap bertanggung jawab atas kerusakan spiritual dan metafisis serta bangkitnya gerakan Islamisme reformis dan liberal.[7] Kaum neotradisionalis Barat telah mendirikan lembaga pendidikan keagamaan mereka sendiri, termasuk Zaytuna College, Cambridge Muslim College, madrasah daring SeekersGuidance,[1]:38 dan pusat pendidikan Islam Al-Maqasid.

Kebangkitan Dunia Arab

Setelah Kebangkitan Dunia Arab, para ulama neotradisionalis mengambil sikap kontra-revolusioner yang secara politis diam dan mengutip larangan perlawanan terhadap otoritas sah oleh sejumlah fakih Sunni pra-modern dan kekhawatiran bahwa pergolakan politik akan memperkuat kelompok Islamisme seperti Ikhwanul Muslimin.[2]:230–234 Aliansi mereka selanjutnya dengan pemerintah Uni Emirat Arab dan Mesir, dan sikap diam atau setuju atas perilaku mereka, menuai kritik, khususnya perilaku Ali Gomaa dan Hamza Yusuf setelah pembantaian Rabaa pada Agustus 2013.[2]:230–231,235

Namun, ulama neotradisionalis lainnya seperti Muhammad al-Yaqoubi secara terbuka menganjurkan penggulingan diktator seperti Bashar al-Assad.[8]

Kebangkitan Islam

Fauzi Abdul Hamid dari Institut Timur Tengah[9] menulis:

Bertentangan dengan gambaran stereotip kelompok tradisionalis, yang menganggap 'keran ijtihad sudah tertutup', kelompok neotradisionalis tidak menyangkal perlu meniadakan taklid ketika kondisi tidak memungkinkan, sehingga mengisyaratkan kematangan. Kaum neotradisionalis menerima kelemahan tradisionalisme yang menyebabkan kekurangaktifan dan stagnasi, dan mengakui bahwa kaum Sufi masa kini mengalami penyusutan persepsi di kalangan masyarakat Muslim karena mereka tidak cukup membumi untuk menjawab tantangan kekhawatiran umat."[10]

Neotradisionalis kontemporer

Gerakan Al-Ahbasy sering digolongkan sebagai neotradisionalis.[15]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 3 4 Newlon, Brendan (2017). American Muslim Networks and Neotraditionalism (Tesis) (dalam bahasa Inggris). UC Santa Barbara.
  2. 1 2 3 4 5 6 al-Azami, U. (2019-09-26). Neo-traditionalist Sufis and Arab politics: a preliminary mapping of the transnational networks of counter-revolutionary scholars after the Arab revolutions (dalam bahasa Inggris). C.Hurst & Co. Ltd. ISBN 978-1-78738-134-6.
  3. 1 2 3 Mathiesen, Kasper (2013). "Anglo-American 'Traditional Islam' and Its Discourse of Orthodoxy". Journal of Arabic and Islamic Studies (dalam bahasa Inggris). 13: 191–219. doi:10.5617/jais.4633. ISSN 0806-198X.
  4. "Neo-traditionalist Islam in Malaysia: Neither Salafi nor traditionalist". Asia Dialogue (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2019-05-08. Diakses tanggal 2022-07-13. Contrary in a way to the stereotypical picture of traditionalists, who cling to the 'closing of the gates of ijtihad (independent reasoning)', neo-traditionalists do not deny the need for and wisdom of dispensing with taqlid (blind imitation) when conditions beckon and are ripe for it. Neo-traditionalists accept the shortcomings of traditionalism that have led to passivity and stagnation, and admit that latter-day Sufis suffer from a perception deficit among the larger Muslim populace as not being down-to-earth enough to problematise the inner malaise of the ummah.
  5. Auda, Jasser (2007). "5: Contemporary Theories in Islamic Law". Maqasid al-SharÏah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. 669, Herndon, VA 20172, USA: The International Institute of Islamic Thought. hlm. 164. ISBN 978-1-56564-424-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  6. "Shaykh Yahya Rhodus". SeekersGuidance (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-04-24.
  7. Quisay, Walaa (2019). Neo-traditionalism in the West: navigating modernity, tradition, and politics (http://purl.org/dc/dcmitype/Text tesis) (dalam bahasa Inggris). University of Oxford.{{cite thesis}}: Tautan eksternal dalam |degree=
  8. al-Yaqoubi, Muhammad (2014-12-05). "Opinion | The fiends tearing Syria apart". Washington Post (dalam bahasa American English). ISSN 0190-8286. Diakses tanggal 2023-03-15.
  9. "Ahmad Fauzi Abdul Hamid". Middle East Institute (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-03-07.
  10. "Neo-traditionalist Islam in Malaysia: Neither Salafi nor traditionalist". Asia Dialogue (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2019-05-08. Diakses tanggal 2023-03-07.
  11. 1 2 3 4 5 6 7 Sedgwick, Mark (2020-02-28). The Modernity of Neo-Traditionalist Islam (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-42557-6.
  12. Razavian, Christopher Pooya (2018), Bano, Masooda (ed.), "The Neo-Traditionalism of Tim Winter", Modern Islamic Authority and Social Change, Volume 2: Evolving Debates in the West, Edinburgh University Press: 72–94, ISBN 978-1-4744-3328-0, diakses tanggal 2023-05-04{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  13. "Edinburgh University Press Books". edinburghuniversitypress.com. Diakses tanggal 2023-05-04.
  14. al‐Azami, Usaama (2019). "'Abdullāh bin Bayyah and the Arab Revolutions: Counter-revolutionary Neo-traditionalism's Ideological Struggle against Islamism". The Muslim World (dalam bahasa Inggris). 109 (3): 343–361. doi:10.1111/muwo.12297. ISSN 1478-1913.
  15. Pierret, Thomas (2010). "Al-Ahbash". Basic Reference. 28. Scotland, UK: Edinburgh Academics: 217–229. doi:10.1017/S0020743800063145. Diakses tanggal 27 April 2012.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan