Kamis, 24 September 2026
21:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Sirah

Sirah

artikel daftar Wikimedia

330px-Sirahtigagenerasi.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sirah Nabawiyah (paling kiri) di antara Sirah Shahabah dan Shahabiyah, dan Sirah Tabi'in
330px-993047_534664039947739_1254052795_n.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kitab "Sejarah Dunia", "Sirah Nabawiyah", dan "Sirah Khalifah Ar-Rasyidun"
330px-Sirahnabawi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Al-Mubarakfuri dalam terjemahan bahasa Indonesia

Sirah (teks Arab: السيرة) artinya adalah perincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang.

Pengertian Sirah

Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab menyatakan arti as-sirah menurut bahasa adalah kebiasaan, jalan, cara, dan tingkah laku.[1] Menurut istilah umum, artinya adalah perincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang.

Sirah nabawiyah

Sering kali sirah dimaksudkan sebagai "Sirah Nabawiyah", menurut istilah syar'i maksud dari as-sirah an-nabawiyah adalah Ilmu yang kompeten yang mengumpulkan apa yang diterima dari fakta-fakta sejarah kehidupan Nabi Muhammad secara komprehensif dari sifat-sifatnya, etika dan moral.[2]

Ruang lingkup

Sirah Nabawiyah berisi perincian kisah hidup Muhammad, yakni asal-muasal, suku dan nasab, dan keadaan masyarakatnya, sebelum dia dilahirkan. Kemudian berlanjut kepada kelahiran dia, masa kecil, remaja, dewasa, pernikahan, menjadi nabi, serta perjuangan-perjuangan dia dalam menegakkan Islam hingga akhir hayatnya.

Perbedaan sirah nabawiyah dengan sejarah

Sirah Nabawiyah dan sejarah memiliki arti yang serupa namun sejarah bersifat lebih umum dan sirah lebih khusus, dilihat dari sumber, perincian dan tujuannya, seperti:

  1. Sirah berasal dari kata saraha berarti perjalanan hidup sedangkan sejarah berasal dari kata syajarah (syajaratun) yang artinya pohon.
  2. Sirah Nabawiyah pembahasannya bertumpu kepada perjalanan dan kisah hidup Nabi Muhammad secara rinci. Pembahasan juga menekankan sifat pribadi, akhlak serta cara dia menjalani kehidupan sehari yang bisa diteladani. Sedangkan sejarah pembahasannya hanya mengenai peristiwa-peristiwa yang dianggap penting yang terjadi pada masa lampau. Lebih difokuskan kepada perkembangan peradaban ataupun perkembangan suatu zaman.
  3. Sirah Nabawiyah bersumber hanya dari ayat Al-Quran, hadits nabi, dan riwayat para sahabat dia. Sedangkan sejarah melalui sumber primer (bukti-bukti dan rujukan yang kukuh), sekunder (penyelidikan), dan lisan (saksi).
  4. Sirah mengkhususkan kepada seseorang individu sedangkan sejarah kepada peristiwa dan pelakunya.
  5. Kedudukan fakta Sirah Nabawiyah tidak bisa berubah karena kejadian telah tercatat di dalam al-Quran, hadits dan riwayat sahabat (tidak ada yang baru). Sedangkan sejarah bisa saja berubah dengan ditemukannya sumber ataupun bukti yang lebih awal (baru) atau jelas dari sumber sebelumnya (lebih tua).[3]
  6. Sirah Nabawiyah bertujuan sebagai pemberi teladan, contoh dan pendukung sejarah Islam.

Versi Sirah Nabawiyah

Artikel utama: Daftar Sirah Nabawiyah

Di antaraversi Sirah Nabawiyah yang diterima dan memiliki kedudukan adalah:

  1. Sirah Ibnu Hisyam, yakni sirah yang dianggap sebagai sirah tertua yang masih tersedia saat ini dari kalangan Sunni.
  2. Rahiqul Makhtum karya Al-Mubarakfurri, yakni sirah nabawiyah yang memiliki kriteria ketat dalam penyusunan dan hanya memasukan riwayat yang benar-benar shahih. Kitab ini mendapat peringkat pertama dalam kompetisi Penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami. Kitab ini menjadi populer dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
  3. Sirah Ibnu Ishaq, yakni sirah nabawiyah yang telah hilang buku aslinya, sedangkan yang beredar sekarang ini adalah hasil saduran para ulama dari Sirah Ibnu Hisyam.

Sirah Nabawiyah kemudian disusun oleh penulis kontemporer baik dari kalangan Muslim maupun orientalis, hanya saja sumber yang digunakan kadang kala dikritik, mulai dari keshahihan riwayatnya, pendapat pribadi, dan sumber yang bertentangan atau campur aduk.[4]

Referensi

  1. Lisanul Arab, Ibnu Mandzur. Situs web : sirah.or.id
  2. http://asiri.net/seerah/seerah.htm
  3. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-12-19. Diakses tanggal 2013-09-08.
  4. Yakni mencampur atau menggunakan salah satu sumber dari Sunni dan Syi'ah, padahal keduanya berbeda pendapat dalam hal tersebut. Misal ketika Sunni menolak kevalidan riwayat Syi'ah atau sebaliknya.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan