Rabu, 23 September 2026
06:10 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Kekaisaran Mughal

Kekaisaran Mughal

kekaisaran di Asia Selatan (1526–1857)

Kekaisaran Mughal
1526–1857
Mughal
Kekaisaran pada puncak wilayah kekuasaannya ca1700, di bawah pemerintahan Aurangzeb
StatusKekaisaran
Ibu kota
Bahasa resmiPersia
Agama Agama negara:
Islam[a]
Din-i-Ilahi (1582–1605)
Lainnya
Hinduisme (mayoritas), Sikhisme dan banyak lagi
DemonimMughal
PemerintahanMonarki
Kaisar 
 1526–1530 (pertama)
Babur
 1837–1857 (terakhir)
Bahadur Shah II
Wakil 
 1526–1540 (pertama)
Mir Khalifa
 1794–1818 (terakhir)
Daulat Rao Sindhia
Wazir Agung 
 1526–1540 (pertama)
Mir Khalifa
 1775–1797 (terakhir)
Asaf-ud-Daula
Era SejarahPeriode modern awal
21 April 1526
17 Mei 1540 – 22 Juni 1555
5 November 1556
21 April 1526 – 3 April 1752
1680–1707
1738–1740
21 September 1857
7 Oktober 1858
Luas
ca1600[2]3.200.000 km2 (1.200.000 sq mi)
1690[3][4][5]4.000.000 km2 (1.500.000 sq mi)
Populasi
 ca1600
150,000,000[2]
 ca1700
158,400,000[6][7]
Mata uangRupee, Taka, dam[8]
Didahului olehDigantikan oleh
kslKesultanan
Delhi
ksrKekaisaran
Sur
kslKesultanan
regional di India
Raj Britania Raya
Sekarang bagian dari

Kekaisaran Mughal adalah sebuah kekaisaran era modern awal di Asia Selatan. Pada puncak kejayaannya, kekaisaran ini membentang dari wilayah pinggiran Lembah Sungai Indus di barat, Afganistan utara di barat laut, dan Kashmir di utara, hingga dataran tinggi Assam dan Bangladesh saat ini di timur, serta dataran tinggi Dataran Tinggi Dekkan di India Selatan.[9][10]

Kekaisaran Mughal secara umum dianggap didirikan pada tahun 1526 oleh Babur—seorang penguasa dari wilayah yang kini menjadi Uzbekistan—yang dengan bantuan Kekaisaran Safawi dan Utsmaniyah di wilayah tetangga,[11] mengalahkan Sultan Delhi, Ibrahim Lodi, dalam Pertempuran Panipat Pertama dan bergerak menaklukkan dataran India Utara. Namun, struktur kekaisaran Mughal itu sendiri terkadang dianggap baru terbentuk pada tahun 1600, yakni pada masa pemerintahan cucu Babur, Akbar.[12] Struktur kekaisaran ini bertahan hingga tahun 1720, tak lama setelah wafatnya kaisar besar terakhir, Aurangzeb;[13][14] pada masa pemerintahannya pula kekaisaran ini mencapai wilayah kekuasaan terluasnya. Setelah wilayahnya menyusut hingga hanya mencakup kawasan di dalam dan sekitar Delhi Lama pada tahun 1760, kekaisaran ini secara resmi dibubarkan oleh pemerintahan Raj Britania Raya pasca-Pemberontakan India tahun 1857.

Nama

Silsiah Mughal masih berkaitan dengan Dinasti Timuriyah yang menyebut diri mereka Gurkani (گوركانى - menantu); Penggunaan "Mughal" dan "Moghul" berasal dari terjemahan "Mongol" dalam bahasa Arab dan Persia, dan ini menekankan asal-usul Dinasti Timuriyah dari Mongol.[15]

Nama lain untuk kekaisaran tersebut adalah Hindustan yang didokumentasikan dalam Ain-i-Akbari, dan digambarkan sebagai nama yang paling dekat dengan nama resmi.[16] Catatan administrasi Mughal juga menyebut kekaisaran sebagai "Tanah Hindustan" (bahasa Persia: بِلادِ هِندوستان, translit. Bilād-i-Hindustān), "Negeri Hindustan" (bahasa Persia: وِلايَتِ هِندوستان, translit. Wilāyat-i-Hindustān),[17] atau "Kesultanan Hindia" (Arab: سلطنة الهندية, Sultanate Al Hindiyyah) seperti yang terlihat pada gelar Aurangzeb.[18] Kaisar Mughal menyebut diri mereka sebagai "Badshah Hindustan".

Sejarah

330px-Joppen1907India1805a-21.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kerajaan Mysore, Negara Hyderabad, Nawab Arcot, Negara Awadh, Nawab Bengal, Nawab Sind, Nawab Bhopal, dan Nawab Bhawalpur yang setelah memisahkan diri tetapi tetap menjadi bawahan dari Mughal.

Kesultanan ini didirikan oleh Babur pemimpin Mongol dari cabang Dinasti Timuriyah pada tahun 1526, ketika dia mengalahkan Ibrahim Lodi, Sultan Delhi terakhir dalam Pertempuran Panipat I. Kekaisaran ini sebagian besar sempat ditaklukkan oleh Sher Shah pada masa Humayun, tetapi bisa direbut kembali. Di bawah Akbar yang Agung, Kekaisaran ini tumbuh pesat, dan terus berkembang sampai akhir pemerintahan Aurangzeb. Jahangir, anak Akbar, memerintah kekaisaran ini antara 1605-1627. Pada Oktober 1627 Shah Jahan, anak dari Jahangir mewariskan tahta dan kerajaan yang luas dan kaya di India. Pada abad tersebut, kekaisaran ini mungkin merupakan negara monarki terbesar di dunia. Kaisar Mughal Shah Jahan, memerintahkan pembangunan Taj Mahal antara 1630-1653 di Agra, India. Pada masa kejayaannya sebagai salah satu Negeri Mesiu Islam dan juga memiliki pengaruh yang kuat di wilayah Asia Selatan.[19]

Setelah kematian Aurangzeb pada tahun 1707, kekaisaran ini mulai mengalami kemunduran, meskipun tetap berkuasa selama 150 tahun berikutnya. Mughal harus menghadapi perlawanan dari kaum Sikh dan Maratha. Disusul usaha bangsa Eropa untuk menguasai wilayah pesisir Mughal. Pada 1739 dikalahkan oleh pasukan dari Persia dalam Invasi dipimpin oleh Nadir Shah. Pada 1756 pasukan Ahmad Shah merampok Delhi lagi. Negara Eropa telah mendirikan persaingan Kongsi dagang dan mulai kuat membentuk koloni, seperti EIC, Prancis, Belanda dan Portugal, hingga Kerajaan Britania akhirnya membubarkannya dan Mengakhiri Kekaisaran Mughal pada 1857 setelah pemberontakan sepoy di India.[20]

Pemerintahan

Ibu kota

Selama pendiriannya, Mughal memilki beberapa ibu kota pemerintahan yang berpindah-pindah. Seperti kota Agra, Delhi, Fatehpur Sikri dan Lahore. Kota-kota tertentu juga berfungsi sebagai ibu kota provinsi jangka pendek, seperti halnya dengan pergeseran Aurangzeb ke Aurangabad di Dekkan.[21]

Setelah Aurangzeb, ibu kota Mughal secara definitif menjadi kota bertembok Shahjahanabad (sekarang Old Delhi).[22]

Pembagian wilayah

Subah ( Urdu : صوبہ) adalah istilah untuk provinsi di Kekaisaran Mughal. Kata ini berasal dari bahasa Arab. Gubernur Subah dikenal sebagai subahdar (kadang-kadang juga disebut sebagai "Subah"),[23] yang kemudian menjadi subedar untuk merujuk kepada seorang perwira di Angkatan Darat. Subah didirikan oleh badshah (kaisar) Akbar selama reformasi administrasi 1572-1580; awalnya berjumlah 12, setelah penaklukannya menambah jumlah subah menjadi 15 sampai akhir masa pemerintahannya. Subah dibagi menjadi Sarkar, atau distrik. Sarkar kemudian dibagi lagi menjadi Parganas atau Mahals. Penggantinya, terutama Aurangzeb, memperluas jumlah subah lebih jauh melalui penaklukan mereka. Ketika kekaisaran mulai bubar pada awal abad ke-18, banyak subah secara efektif merdeka, atau ditaklukkan oleh Kemaharajaan Maratha atau Inggris.

Subah Asli

Dua belas subah asli dibuat sebagai hasil reformasi administrasi oleh Akbar:

# Subah Ibukota
1 Kabul Subah (Kashmir dimekarkan 1586) Kabul
2 Lahore Subah (1580-1758) Lahore
3 Multan Subah (1580-1756) Multan
4 Ajmer Subah (1580-1758) Ajmer
5 Gujarat Subah (1573–1756) Ahmedabad
6 Delhi Subah (1568-1857) Delhi
7 Agra Subah (1580–1761) Agra
8 Malwa Subah (1568–1737) Ujjain
9 Awadh Subah (1572–1722) Faizabad, kemudian Lucknow
10 Allahabad Subah (1572–1722) Allahabad
11 Bihar Subah (1576-1757) Patna
12 Bengal Subah (1576–1765) Tanda (1574–95)
Rajmahal (1595–1610, 1639–59)
Dhaka (1610–1639, 1660–1703)
Murshidabad (1703–57)

Pembentukan dan Pemekaran Subah

# Subah Ibukota Tahun dibentuk Kaisar
13 Berar Subah (1596–1724) Ellichpur 1596 Akbar
14 Khandesh Subah Burhanpur 1601
15 Ahmadnagar Subah(berganti nama Daulatabad pada 1636)

(kemudian berganti lagi Aurangabad)

Ahmadnagar (1601–1636)

DaulatabadAurangabad

1601

(selesai ditaklukan tahun 1636)

16 Orissa Subah (1575-1751) Cuttack Shah Jahan
17 Kashmir Subah (1586–1752) Srinagar
18 Thatta Subah Thatta
Qandahar Subah Qandahar 1638
(lepas 1648)
Telangana Subah Nanded 1636 (digabung dengan Bidar 1657)
Balkh Subah Balkh 1646
(lepas 1647)
Badakhshan Subah Qunduz 1646
(lepas 1647)
19 Bidar Subah Bidar 1656
20 Bijapur Subah (1684-1724) Bijapur 1684 Aurangzeb
21 Golkonda Subah (Haidarabad) (1687-1740) Hyderabad 1687
22 Sira Subah (1687-1766) Sira 1687
23 Arcot Subah (1692–1710) Gingee 1692

250px-Hindoostan%2C_divided_into_Soubahs_according_to_the_Ayin_Acbaree%2C%22_a_historical_map_of_Akbar%27s_India_from_Wilkinson%27s_Atlas%2C_1815_North_max_size.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-Hindoostan%2C_divided_into_Soubahs_according_to_the_Ayin_Acbaree%2C%22_a_historical_map_of_Akbar%27s_India_from_Wilkinson%27s_Atlas%2C_1815_South_max.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Militer

250px-Officer_of_the_Mughal_Army%2C_c.1585_%28colour_litho%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tentara Mughal dengan senapan matchlock

Kekaisaran Mughal di India adalah salah satu dari tiga Negeri mesiu Islam, bersama dengan Kesultanan Utsmaniyah dan Safawiyah Iran. Pada abad keenam belas, Akbar adalah penguasa pertama yang memulai dan menggunakan roket silinder logam yang dikenal sebagai bans, untuk melawan gajah perang. Pada 1657, Tentara Mughal menggunakan roket selama Pengepungan Bidar.

Pada abad ke-17, orang India memproduksi beragam jenis senjata api; senjata besar khususnya, terlihat di Tanjore, Dacca, Bijapur dan Murshidabad.[24]

Angkatan laut Mughal memelihara kapal perang, namun jumlah mereka relatif kecil. Armada juga terdiri dari kapal pengangkut. Tugas utama Angkatan Laut adalah mengendalikan pembajakan, tetapi kadang kala mereka juga digunakan dalam perang untuk jangkauan wilayah kecil di Samudra Hindia dan Teluk Benggala.[25]

Senjata Mughal

Senjata Mughal berkembang secara signifikan selama periode pemerintahan Babur, Akbar, Aurangzeb dan Tipu Sultan dari Mysore. Selama penaklukan berabad-abad, militer dari Mughal menggunakan berbagai senjata termasuk pedang, busur dan panah, juga kendaraan perang seperti kuda, unta, gajah, lalu beberapa meriam besar dan berat, senapan dan flintlock bedil hingga roket.

Selama era Mughal, pusat produksi peralatan militer yang paling penting adalah Delhi dan Lahore.[26]

Kebanyakan kavaleri bergantung pada senjata pendek (kotah-yaraq) untuk pertempuran jarak dekat. Mereka diklasifikasikan ke dalam lima kategori : pedang, perisai, gada, kapak perang, tombak dan belati. Sementara senjata yang digunakan untuk serangan jarak jauh adalah busur dan anak panah (Kaman & Tir), matchlock (Banduq atau Tufanq) dan pistol. Roket juga digunakan oleh pasukan artileri (Topkanah).

Ekonomi

Artikel utama: Proto-industrialisasi

Perekonomian India berkembang pesat dan makmur di bawah Kekaisaran Mughal.[27] Selama era ini, produk domestik bruto (PDB) India pada tahun 1600 diperkirakan mencapai 22% dari ekonomi dunia, terbesar kedua di dunia, setelah Dinasti Ming di Tiongkok tetapi lebih besar dari Eropa. Pada tahun 1700, PDB Mughal India telah meningkat menjadi 24% dari ekonomi dunia, dengan subah Bengal sebagai provinsi terkaya. Menjadi yang terbesar di dunia, lebih besar dari Dinasti Qing di Tiongkok maupun negara-negara Eropa Barat.[28]

Kekaisaran Mughal memproduksi sekitar 25% dari hasil industri dunia hingga abad ke-18. Pertumbuhan PDB India meningkat pesat di bawah Kekaisaran Mughal dibandingkan 1.500 tahun sebelum era Mughal. Perekonomian Mughal India telah digambarkan sebagai bentuk proto-industrialisasi, seperti di Eropa Barat abad ke-18 sebelum Revolusi Industri.[29]

Kaisar Mughal

Artikel utama: Daftar Kaisar Mughal

Para penguasa Mughal menggunakan gelar Padisyah atau Badisyah (dengan dialek Persia) yang setara dengan Kaisar atau Maharajadiraja, untuk membedakan status yang lebih tinggi dari sultan yang berkuasa di tanah India. Beberapa penguasa di era awal memilki nama anumerta yang berkaitan dengan ranah surgawi, yang sangat identik digunakan oleh bangsa asia timur.

Beberapa penguasa juga menegaskan gelar kaisar dalam titelnya, seperti Akbar, Jahangir, Shah Jahan, dan Aurangzeb. Mereka menggunakan titular Shahenshah-e-Sultanat Al-Hindiyyah wa Al-Mughaliyyah (شَاهَنْشَاهِ سُلْطَنَاتُ ٱلْهِنْدِيَّه وَٱلْمُغَالِيَّه) yang bermakna Kaisar dari Sultan India dan Mughal.[30]

PortraitNamaLahirPemerintahanWafatAyahIbu
Babur Zahiruddin Muhammad
(Babur)
14 Februari 1483
Andijan, Kekaisaran Timurid
20 April 1526 - 26 Desember 1530 26 Desember 1530
Agra, Kekaisaran Mughal
Umar Sheikh Mirza II Qutlugh Nigar Khanum
Humayun Nasiruddin Muhammad
(Humayun)
6 Maret 1508
Kabul
Periode Pertama
26 Desember 1530 - 17 Mei 1540

Periode Kedua
22 Februari 1555 - 27 Januari 1556
27 Januari 1556
Delhi, Kekaisaran Mughal
Babur Maham Begum
Akbar-i-Azam Jalaluddin Muhammad
(Akbar-i-Azam)
15 Oktober 1552
Amarkot, Rajputana
11 Februari 1556 - 27 Oktober 1605 27 Oktober 1605
Fatehpur Sikri, Kekaisaran Mughal
Humayun Hamida Banu Begum
Jahangir Nuruddin Muhammad Salim
(Jahangir)
31 Agustus 1569
Fatehpur Sikri, Kekaisaran Mughal
3 November 1605 - 28 Oktober 1628 28 Oktober 1628
Kashmir, Kekaisaran Mughal
Akbar Mariam-uz-Zamani
Shah Jahan Shahabuddin Muhammad Khurram
(Shah Jahan)
5 Januari 1592
Lahore, Kekaisaran Mughal
19 Januari 1628 - 14 Februari 1658 22 Januari 1666
Agra, Kekaisaran Mughal
Jahangir Jagat Gosaini
Alamgir Muhiuddin Muhammad
(Alamgir)
4 November 1618
Dahod, Kekaisaran Mughal
31 Juli 1658 - 3 Maret 1707 3 Maret 1707
Ahmednagar, Kekaisaran Mughal
Shah Jahan Mumtaz Mahal
Azam Shah Qutbuddin Muhammad Azam
(Azam Shah)
28 Juni 1653
Burhanpur, Kekaisaran Mughal
14 Maret 1707 – 20 Juni 1707 20 Juni 1707
Jajau, Kekaisaran Mughal
Alamgir I Dilras Banu Begum
Bahadur Shah Muhammad Mu'azzam
(Bahadur Shah Alam)
14 Oktober 1643
Burhanpur, Kekaisaran Mughal
19 Juni 1707 - 27 Februari 1712 27 Februari 1712
Lahore, Kekaisaran Mughal
Alamgir I Nawab Bai
Jahandar Shah Mu'izuddin Muhammad
(Jahandar Shah)
9 Mei 1661
Deccan, Kekaisaran Mughal
27 Februari 1712 - 11 Februari 1713 12 Februari 1712
Delhi, Kekaisaran Mughal
Bahadur Shah I Nizam Bai
Farrukhsiyar Farrukhsiyar 20 Agustus 1685
Aurangabad, Kekaisaran Mughal
11 Januari 1713 - 28 Februari 1719 19 April 1719
Delhi, Kekaisaran Mughal
Azim-us-Shah Sahiba Niswan
Rafi ud-Darajat Rafi ud-Darajat 1 Desember 1699 28 Februari 1719 - 6 Juni 1719 6 Juni 1719
Agra, Kekaisaran Mughal
Rafi ush-Shan Razyiat-un Nissa Begum
Rafi ud-Daulah Rafi ud-Daulah
(Shah Jahan II)
Juni 1696 6 Juni 1719 - 17 September 1719 18 September 1719 Rafi ush-Shan Nur-un Nissa Begum
Muhammad Shah Roshan Akhtar
(Muhammad Shah)
7 Agustus 1702
Ghazna, Kekaisaran Mughal
27 September 1719 - 26 April 1748 26 April 1748 Khujaista Akhtar
(Jahan Shah Mirza)
Fakhr-un Nissa Begum
Ahmad Shah Bahadur Ahmad Shah Bahadur 23 Desember 1725
Delhi, Kekaisaran Mughal
29 April 1748 - 2 Juni 1754 1 Januari 1775
Delhi, Kekaisaran Mughal
Muhammad Shah Udham Bai
(Qudsia Begum)
Bahadur Shah Azizuddin
(Alamgir II)
4 Juni 1699
Burhanpur, Kekaisaran Mughal
3 Juni 1754 - 29 November 1759 29 November 1759
Kotla Fateh Shah, Kekaisaran Mughal
Jahandar Shah Anup Bai
Shah Jahan III Muhi-ul-Millat
(Shah Jahan III)
1711 10 Desember 1759 - 10 Oktober 1760 1722 Muhi us-Sunnat Rushqimi Begum
Shah Alam II Ali Gauhar
(Shah Alam II)
25 Juni 1728
Shahjahanabad, Kekaisaran Mughal
10 Oktober 1760 - 31 Juli 1788 19 November 1806
Shahjahanabad, Kekaisaran Mughal
Alamgir II Zinat Mahal
Mahmud Shah Bahadur Bidar Bakht
(Jahan Shah IV)
1749
Benteng Merah, Kekaisaran Mughal
31 Juli 1788 - 11 Oktober 1788 19 November 1790
Shahjahanabad, Kekaisaran Mughal
Ahmad Shah Bahadur
Akbar II Mirza Akbar
(Akbar Shah II)
22 April 1760
Mukundpur, Kekaisaran Mughal
19 November 1806 - 28 September 1837 28 September 1837
Delhi, Kekaisaran Mughal
Shah Alam II Qudsia Begum
Bahadur Shah Zafar Abu Zafar Sirajuddin Muhammad
(Bahadur Shah II)
24 Oktober 1775
Shahjahanabad, Kekaisaran Mughal
28 September 1837 - 21 September 1857 7 November 1862
Rangoon, Burma
Akbar Shah II Lela Banu Begum

Warisan budaya

Artikel utama: Arsitektur Mughal

Kekaisaran Mughal adalah periode awal modern dalam sejarah Asia Selatan, dengan warisannya di India, Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan terlihat dalam kontribusi budaya seperti:

  • Benteng Merah di Delhi, India
    Benteng Merah di Delhi, India
  • Taj Mahal di Agra, India
    Taj Mahal di Agra, India
  • Benteng Lalbagh di Dhaka, Bangladesh
    Benteng Lalbagh di Dhaka, Bangladesh

Referensi

  1. Sinopoli 1994, hlm. 294.
  2. 1 2 Roy 2015, hlm. 134 "Around circa 1600, the Mughal Empire controlled 3.2 million square kilometres with a population of about 150 million."
  3. Turchin, Peter; Adams, Jonathan M.; Hall, Thomas D. (2006). "East–West Orientation of Historical Empires and Modern States". Journal of World-Systems Research. 12 (2): 219–229. doi:10.5195/JWSR.2006.369. ISSN 1076-156X.
  4. Rein Taagepera (September 1997). "Expansion and Contraction Patterns of Large Polities: Context for Russia". International Studies Quarterly. 41 (3): 475–504. doi:10.1111/0020-8833.00053. ISSN 0020-8833. JSTOR 2600793. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 November 2018. Diakses tanggal 6 Juli 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. Bang, Peter Fibiger; Bayly, C. A.; Scheidel, Walter (2020). The Oxford World History of Empire: Volume One: The Imperial Experience (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 92–94. ISBN 978-0-19-977311-4.
  6. József Böröcz (2009). The European Union and Global Social Change. Routledge. hlm. 21. ISBN 978-1-135-25580-0. Diakses tanggal 26 Juni 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Dyson, Tim (2018). A Population History of India: From the First Modern People to the Present Day. Oxford University Press. hlm. 70–71. ISBN 978-0-19-256430-6. We have seen that there is considerable uncertainty about the size of India's population c.1595. Serious assessments vary from 116 to 145 million (with an average of 125 million). However, the true figure even could even be outside of this range. Accordingly, while it seems likely that the population grew over the 17th century, it is unlikely that we will ever have a good idea of its size in 1707.
  8. Richards 1995, hlm. 73–74.
  9. Stein 2010, hlm. 159–. Quote: "The realm so defined and governed was a vast territory of some 750.000 mil persegi [1.900.000 km2], ranging from the frontier with Central Asia in northern Afghanistan to the northern uplands of the Deccan plateau, and from the Indus basin on the west to the Assamese highlands in the east."
  10. Richards, John F. (2012-03-28). The Mughal Empire (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-511-58406-0.
  11. Gilbert, Marc Jason (2017), South Asia in World History, Oxford University Press, hlm. 62, ISBN 978-0-19-066137-3, diakses tanggal 15 Juli 2019{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Quote: "Babur then adroitly gave the Ottomans his promise not to attack them in return for their military aid, which he received in the form of the newest of battlefield inventions, the matchlock gun and cast cannons, as well as instructors to train his men to use them."
  12. Stein 2010, hlm. 159–. Quote: "Another possible date for the beginning of the Mughal regime is 1600, when the institutions that defined the regime were set firmly in place and when the heartland of the empire was defined; both of these were the accomplishment of Babur's grandson Akbar."
  13. Stein 2010, hlm. 159–. Quote: "The imperial career of the Mughal house is conventionally reckoned to have ended in 1707 when the emperor Aurangzeb, a fifth-generation descendant of Babur, died. His fifty-year reign began in 1658 with the Mughal state seeming as strong as ever or even stronger. But in Aurangzeb's later years the state was brought to the brink of destruction, over which it toppled within a decade and a half after his death; by 1720 imperial Mughal rule was largely finished and an epoch of two imperial centuries had closed."
  14. Richards 1995, hlm. xv. Quote: "By the latter date (1720) the essential structure of the centralized state was disintegrated beyond repair."
  15. Dodgson, Marshall G.S. (2009). The Venture of Islam. Vol. 3. University of Chicago Press. hlm. 62. ISBN 978-0-226-34688-5.
  16. Vanina, Eugenia (2012). Medieval Indian Mindscapes: Space, Time, Society, Man. Primus Books. hlm. 47. ISBN 978-93-80607-19-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2023. Diakses tanggal 19 Oktober 2015.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. Nehemia Levtzion (1979). Conversion to Islam. Holmes & Meier. ISBN 978-0-8419-0343-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 April 2023. Diakses tanggal 19 Maret 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. "Name of the Monument/ site: Tomb of Aurangzeb" (PDF). asiaurangabad.in. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 September 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. Hodgson, Marshall G. S. (1974). The venture of Islam : conscience and history in a world civilization. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-34687-8. OCLC 55714996.
  20. Eraly, Abraham. (2007). The Mughal world : life in India's last golden age. New Delhi: Penguin Books. ISBN 978-0-14-310262-5. OCLC 182716767.
  21. Sinopoli, Carla M.; Morrison, Kathleen D. (2003). "Channabasappa Soodayya Patil 1951-2001". Asian Perspectives. 33 (2): 185–191. doi:10.1353/asi.2003.0050. ISSN 1535-8283.
  22. Historic cities of the Islamic world. Clifford Edmund Bosworth. Leiden: Brill. 2007. ISBN 978-90-474-2383-6. OCLC 308130674. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-09-24. Diakses tanggal 2022-03-16.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  23. Dudley, Paul; Thornton, John Wingate (1857). English definitions of Indian terms. Portland: Published for the Society.
  24. Shokoohy, Mehrdad (1997-07-XX). "Bidar: its history and monuments. By G. Yazdani. pp. xv, 240, 113 pl., 17 figs., 2 maps. Delhi, Motilal Banarsidass, 1995. First pub. 1947. Rs. 795". Journal of the Royal Asiatic Society. 7 (2): 304–305. doi:10.1017/s1356186300009032. ISSN 1356-1863.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  25. Deloche, Jean (1978-10-XX). "Book Reviews : ATUL CHANDRA ROY, A History of Mughal Navy and Naval Warfares, Cal cutta, The World Press Ltd, 1972, Pp. 164. B.K. APTE, History of the Maratha Navy and Merchantships, State Board for Literature and Culture, Bombay, 1973, Pp. 311, 40 figures, 17 plates". The Indian Economic & Social History Review. 15 (4): 530–533. doi:10.1177/001946467801500410. ISSN 0019-4646.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  26. Gallery, Manchester City Art (1983). A Century of Collecting, 1882-1982: A Guide to the Manchester City Art Galleries (dalam bahasa Inggris). Manchester City Art Gallery. ISBN 978-0-901673-20-6.
  27. An atlas and survey of South Asian history, 2015, ISBN 978-1-317-47680-1, OCLC 910069630, diakses tanggal 2022-03-16
  28. Maddison, Angus (2003). The world economy : historical statistics. Organisation for Economic Co-operation and Development. Development Centre. Paris, France: Development Centre of the Organisation for Economic Co-operation and Development. hlm. 256. ISBN 92-64-10412-7. OCLC 326529006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2022-03-16.
  29. The Ashgate companion to the history of textile workers, 1650-2000. Lex Heerma van Voss, Els Hiemstra-Kuperus, Elise van Nederveen Meerkerk. Farnham, Surrey: Ashgate. 2010. ISBN 978-0-7546-9591-2. OCLC 647885921. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-11-16. Diakses tanggal 2022-03-16.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  30. Limited, Alamy. "Imperial and royal titles of the Mughal emperors". www.alamy.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-31. Diakses tanggal 2022-03-22.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik

Pranala luar

Lihat pula

Kaisar
120px-Alam_of_the_Mughal_Empire.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

120px-Darbarscene.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

120px-Red_fort_new_delhi_with_indian_flag.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertempuran
dan konflik
Arsitektur
Musuh
Subah (Provinsi)
Topik lainnya
Negara penerus
Sejarah imperium-imperium dunia
Imperium kuno
Akkadia · Armenia (Urartu · Orontid · Kuno) · Mesir · Asiria · Babilonia · Aksum · Het · Persia (Media · Akhemeniyah · Partia · Sasaniyah) · Makedonia (Ptolemaik · Seleukia) · Kartago · Kush · India (Nanda · Maurya · Sunga · Satavahana · Kushan · Gupta · Harsha) · Tiongkok (Qin · Han · Jin) · Romawi (Romawi Barat · Romawi Timur) · Nirun
Imperium abad pertengahan
Ayyubiyyah · Bizantium · Hun · Turk (Turk · Timur · Barat) · Arab (Rasyidin · Umayyah · Abbasiyah · Fathimiyah · Kordoba) · Maroko (Idrisiyah · Murabithun · Muwahhidun · Mariniyah) · India (Pala · Chola · Delhi · Wijayanagara) · Persia (Thahiriyah · Samaniyah · Buwayhiyah · Saffariyah · Ziyariyah) · Ghaznawiyah · Benin · Seljuk · Oyo · Bornu · Khwarezmia · Timuriyah · Mongol (Yuan · Jochi · Chagatai · Kekhanan Il) · Kanem · Serbia · Songhai · Khmer · Bulgaria · Karoling · Romawi Suci · Anjou · Mali · Tiongkok (Sui · Tang · Song · Yuan) · Tibet · Uighur · Ghana · Aztek · Inka · Sriwijaya · Majapahit · Ethiopia (Zagwe · Salomo) · Aceh · Brunei · Vietnam (Dai Viet) · Tonga · Melaka · Demak · Mamluk Mesir · Venesia · Georgia
Imperium modern
Imperium Adidaya
  1. Cabang: Sunni
    Mazhab hukum: Hanafi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan