Minggu, 25 Oktober 2026
14:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Bangsa Mongol

kelompok etnik yang berasal dari Mongolia dan wilayah sekitarnya

Bagikan:

Bangsa Mongol hidup dalam kabilah-kabilah kecil. Kesamaan di antara suku-sukunya dilihat dari kesamaan bahasa, dialek dan nasab. Sedangkan perbedaan di antara suku-sukunya dilihat dari cara bertahan hidup. Bangsa Mongol pernah membentuk kekaisaran besar yaitu Kekaisaran Mongol pada abad ke-13 M. Bangsa Mongol sering disamakan atau dibedakan dengan bangsa Tatar oleh para sejarawan.

Pemukiman

Leluhur bangsa Mongol hidup dalam kabilah-kabilah yang disebut Amuk. Amuk terbentuk dari anggota yang berjumlah sedikit. Di dalam Amuk terdapat pembagian menjadi cabang kabilah atau kelompok beradasarkan hubungan sosial dari para anggotanya.[1]

Hubungan kesukuan

Persamaan kesukuan

Suku-suku bangsa Mongol biasanya membentuk persatuan antarsuku. Persatuan ini yang kemudian membentuk suku-suku besar. Pembentukannya dilakukan dengan asimilasi antara suku-suku yang masih memiliki hubungan nasab. Bentuk persatuan yang umum terwujud adalah federal. Selain itu, suku-suku bangsa Mongol juga membentuk persatuan dari kesamaan bahasa dan dialek.[1]

Perbedaan kesukuan

Perbedaan di antara suku-suku bangsa Mongol teramati dari keterampilan hidup mereka. Terdapat dua kelompok suku berdasarkan keterampilannya, yaitu suku penggembala dan suku pemburu. Suku penggembala menggembalakan ternak mereka di padang rumput dan sabana. Sedangkan suku pemburu melakukan perburuan di dalam hutan dan semak belukar.[1]

Masa Kekaisaran Mongol

Pada tahun 1206 M, bangsa Mongol di Asia Tengah membentuk Kekaisaran Mongol. Pendirinya adalah Jenghis Khan. Wilayah kekuasaanya meliputi sebagian besar daratan Eurasia. Bagian timurnya meliputi Tiongkok dan bagian baratnya meliputi wilayah kekhalifahan islam.[2]

Kemiripan dengan bangsa lain

Para pakar sejarah Arab berpendapat bahwa bangsa Mongol disamakan dengan bangsa Tatar. Kesamaan ini ditinjau berdasarkan peperangan-peperangan yang mereka lakukan. Pendapat ini didukung oleh pakar sejarah muslim Arab dan pakar sejarah Eropa Klasik.[3]

Sementara itu, para orientalis Eropa membedakan antara bangsa Tatar dan bangsa Mongol. Mereka mendasarkan pendapat mereka kepada tulisan-tulisan dari seorang sejarawan Persia bernama Rasyiduddin Al-Wazir. Tulisan ini yang utama adalah buku Jami' At-Tarikh (Sejarah Lengkap). Pendapat ini juga didukung oleh orientalis dengan karya tulis ilmiah berbahasa Mongol. Tulisan yang mendukungnya berjudul At-Tarikh As-Sirri li Al-Mongol (Sejarah Rahasia Mongol).[3]

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Zaghrut 2022, hlm. 110.
  2. ↑ Qoyum, A., dkk. (2021). Sakti, A., Hidayat, S. E., dan Samidi, S. (ed.). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. hlm. 16. ISBN 978-602-60042-8-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Zaghrut 2022, hlm. 112.

Daftar pustaka

  • Zaghrut, Fathi (April 2022). Artawijaya (ed.). Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam. Diterjemahkan oleh Irham, Masturi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-979-592-978-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan