| Jali | |
|---|---|
| Perbungaan | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Monocots |
| Klad: | Commelinids |
| Ordo: | Poales |
| Famili: | Poaceae |
| Subfamili: | Panicoideae |
| Genus: | Coix |
| Spesies: | C. lacryma-jobi |
| Nama binomial | |
| Coix lacryma-jobi | |
| Sinonim[1] | |
| |
Jali-jali /dʒoʊbz/ simakⓘ (Coix lacryma-jobi), dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Job's tears atau adlay atau adlay millet, adalah tumbuhan tropis tahunan berumpun tinggi penghasil biji-bijian dari famili Poaceae (suku rumput-rumputan). Tumbuhan ini berasal dari Asia Tenggara dan diperkenalkan ke Tiongkok Utara dan India sejak zaman purba, serta di tempat lain dibudidayakan di kebun sebagai tumbuhan semusim. Tumbuhan ini telah ternaturalisasi di Amerika Serikat bagian selatan dan wilayah tropis Dunia Baru. Di habitat asalnya, jali-jali ditanam di daerah dengan ketinggian yang lebih tinggi, tempat padi dan jagung tidak tumbuh dengan baik. Jali-jali juga umum dijual dengan nama barli mutiara Tiongkok (Chinese pearl barley), meskipun Barli sejati termasuk dalam genus yang sama sekali berbeda.
Terdapat dua varietas utama dari spesies ini, satu liar dan satu budi daya. Varietas liar, Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi, memiliki pseudokarpa bercangkang keras—struktur berbentuk bulat telur yang sangat keras dan berwarna putih mutiara, yang digunakan sebagai manik-manik untuk membuat untaian doa atau rosario, kalung, dan benda-benda lainnya. Varietas budi daya Coix lacryma-jobi var. ma-yuen dipanen sebagai tanaman serealia, bercangkang lunak, dan digunakan dalam pengobatan tradisional di beberapa wilayah Asia.
Tata nama
Jali-jali dalam bahasa Inggris dapat pula ditulis dengan berbagai ejaan (Job's-tears,[2][3] Jobs-tears[4]). Tanaman ini juga dikenal dengan nama-nama umum lain dalam bahasa Inggris, seperti adlay atau adlay millet.[5][6] Nama umum lain dalam bahasa Inggris meliputi coix seed,[5][7] gromwell grass,[5] dan tear grass.[5]
Bijinya dikenal dalam bahasa Hindi sebagai Vaijanti (वैजंती),[8] Baijanti (बैजंती) atau Vaijayanti (वैजयंती), dalam bahasa Tionghoa sebagai yìyǐ rén (薏苡仁),[9][7] dengan rén berarti "inti biji", dan juga dideskripsikan dalam bahasa Latin sebagai semen coicis atau semen coicis lachryma-jobi dalam literatur farmakope.[7][10]
Taksonomi
Spesies ini, yang berasal dari Asia Tenggara,[11] dinamai oleh Carl Linnaeus pada tahun 1753 dengan epitet berupa terjemahan Latin dari metafora tetes air mata Ayub. HinggaFebruari 2015[update], empat varietas diterima oleh World Checklist of Selected Plant Families:[12]
- Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi
- Tersebar luas di seluruh subbenua India hingga Semenanjung Malaysia dan Taiwan; ternaturalisasi di tempat lain. Involukrumnya berbentuk bulat telur, keras seperti tulang, dan mengilap. Varietas ini bercangkang keras dan digunakan sebagai manik-manik dalam kerajinan.
- Coix lacryma-jobi var. ma-yuen (Rom.Caill.) Stapf
- Tiongkok Selatan hingga Semenanjung Malaysia dan Filipina.
- Nama varietas ini berasal dari nama Jenderal Ma Yuen atau Ma Yuan (馬援) yang menurut legenda mengetahui kegunaan tumbuhan ini ketika ditempatkan di Cochinchina (atau Tonkin, di wilayah yang kini menjadi Vietnam), dan membawa pulang bijinya ke Tiongkok untuk dibudidayakan.[13][14][15] Involukrumnya berbentuk elips, beralur, dan lunak.
- Assam hingga Yunnan (Tiongkok) dan Indocina. Varietas ini yang terkecil di antara spesies India, dengan diameter biji hanya 4 mm. Varietas ini juga digunakan sebagai hiasan.
- Coix lacryma-jobi var. stenocarpa Oliv.
- Himalaya bagian timur hingga Indocina.
Jali-jali—bersama Coix dalam —dahulu ditempatkan dalam Maydeae, yang kini diketahui bersifat polifiletik.[Sch 1] Tumbuhan ini memiliki involukrum berbentuk silinder, lebih panjang daripada lebarnya. Jali-jali banyak digunakan sebagai manik-manik untuk perhiasan.[16]
Morfologi
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (December 2020) |
Jali-jali adalah rumput berumah satu (monoesius) yang berdaun lebar, tumbuh renggang, bercabang, dan kokoh. Tinggi tumbuhan ini dapat mencapai 1,20 m hingga 1,80 m. Seperti semua anggota genusnya, perbungaannya berkembang dari pelepah daun di ujung batang dan sebagian terdiri dari struktur keras, bulat atau bulat telur, berongga, dan menyerupai manik-manik. Biji jali-jali berbeda warna, dengan biji yang bercangkang lebih lunak berwarna cokelat muda dan bentuk bercangkang keras memiliki perikarp merah tua.[17]
"Cangkang" keras yang menutupi biji secara teknis adalah selubung buah atau involukrum (braktea yang mengeras),[18] dengan braktea tersebut juga disebut "capsule-spathe"[19] atau "sheathing bract" oleh beberapa karya botani terdahulu.[2]
Cangkang-cangkang ini menutupi pangkal bunga (perbungaan) yang berupa tandan/malai jantan dan betina; tandan jantan menjulang tegak dan terdiri atas spikelet bersisik yang saling menumpuk, dengan benang sari berwarna kuning yang mencuat di antaranya, serta satu atau dua putik seperti benang yang menjuntai dari pangkalnya.[20][21]
Protein
Jali-jali – seperti halnya Coix pada umumnya – menghasilkan ragam prolamin α-zein tersendiri. Prolamin ini telah mengalami divergensi evolusi yang luar biasa cepat dari rumput-rumputan yang berkerabat dekat, melalui perubahan jumlah salinan gen.[Sch 2]
Sejarah
Jali-jali berasal dari negara-negara Asia Tenggara, yakni India, Myanmar, Tiongkok, dan Malaysia.[22] Residu pada tembikar dari situs Neolitikum (akhir Budaya Yangshao) di Tiongkok utara-tengah[a] menunjukkan bahwa jali-jali, bersama Barli yang bukan tumbuhan asli setempat dan tumbuhan lainnya, digunakan untuk membuat bir sejak sekitar 3000 SM.[b][23]
Jali-jali telah diperkenalkan ke Jepang (dan kemungkinan dibudidayakan bersama padi) pada awal Zaman Jōmon, yang dikuatkan oleh temuan di Jepang bagian barat (Wilayah Chūgoku), misalnya dari studi fitolit di Timbunan Kerang Asanebana (朝寝鼻貝塚) (sekitar 4000 SM) di Prefektur Okayama.[25][26] Lebih jauh ke timur di Jepang, tumbuhan ini ditemukan di situs Toro, Prefektur Shizuoka, yang berasal dari Zaman Yayoi.[27]
Sisa-sisa jali-jali telah ditemukan di situs-situs arkeologi di India timur laut, yang berasal dari sekitar 1000 SM. Tumbuhan ini diperkenalkan ke wilayah subtropis di India dari sabuk Himalaya timur.[28] Sejumlah sarjana mendukung pandangan bahwa tumbuhan ini telah dibudidayakan di India pada periode 2000–1000 SM.[29][30] Varietas liarnya memiliki biji berlapis keras. Jali-jali merupakan salah satu tanaman yang paling awal didomestikasi. Domestikasi membuat kulit biji menjadi lebih lunak dan lebih mudah dimasak.
Di Tiongkok, budi daya jali-jali saat ini terutama terdapat di provinsi Fujian, Jiangsu, Hebei, dan Liaoning.[31] Budi daya jali-jali menyebar ke wilayah beriklim sedang di Tiongkok Utara dan Timur Laut.[butuh rujukan] Biji-bijian berkulit yang diekspor dari Tiongkok keliru dideklarasikan melalui bea cukai sebagai "Barli mutiara",[32] dan "barli mutiara Tiongkok" tetap menjadi nama umum alternatif sehingga bijinya dijual dengan label tersebut di supermarket Asia, meskipun C. lacryma-jobi tidak berkerabat dekat dengan Barli (Hordeum vulgare).[33][34]
Nama "Job's tears" dalam bahasa Inggris merupakan kalke dari bahasa Arab دموع أيوب (dumūʿ ʾAyyūb), nama yang digunakan oleh para pedagang Arab yang memperkenalkan tumbuhan ini ke Eropa pada Abad Pertengahan. Mereka menggunakan pseudokarpanya untuk misbaha (tasbih) dan mengaitkannya dengan kisah penderitaan Ayub (Ayyub) dalam Al-Qur'an, yang berasal dari penggambaran Ayub dalam Alkitab Ibrani, Kitab Ayub.[35][36]
Kegunaan
Kerajinan

Biji jali-jali yang keras dan putih sejak dahulu digunakan sebagai manik-manik untuk membuat kalung dan benda-benda lainnya. Bijinya secara alami berlubang sehingga tidak perlu ditusuk secara buatan.[19]
Untaian jali-jali digunakan sebagai tasbih Buddha di beberapa wilayah India, Myanmar, Laos, Taiwan, dan Korea menurut peneliti Jepang Yukino Ochiai yang mengkhususkan diri pada penggunaan etnobotani tumbuhan ini.[37] Jali-jali juga dibuat menjadi rosario di negara-negara seperti Filipina dan Bolivia.[37]
Asia Timur
Jepang
Di Jepang, biji yang tumbuh liar disebut juzudama (数珠玉) ‘manik-manik tasbih Buddha’), dan anak-anak membuat mainan darinya dengan merangkainya menjadi kalung.[38] Namun, juzu-dama merupakan perubahan dari zuzu-dama menurut ahli cerita rakyat Kunio Yanagita.[38] Sejenis tasbih Buddha yang disebut irataka no juzu, yang dibuat dengan tangan oleh pertapa yamabushi yang menjalani latihan shugendō, konon menggunakan jenis berbiji besar yang dikenal sebagai oni-juzudama (鬼数珠玉) ‘manik-manik tasbih oni (raksasa)’.[39][40] Meskipun jenis ini diterbitkan sebagai varietas tersendiri, yakni C. lacryma jobi var. maxima Makino,[39] kini jenis tersebut dianggap sinonim dengan C. lacryma jobi var. lacryma-jobi menurut basis data taksonomi (World Checklist of Selected Plant Families).[41]
Sarjana zaman Edo, Ono Ranzan, berpendapat bahwa jenis bercangkang lunak yang dapat dimakan, yang disebut shikoku-mugi, baru diperkenalkan ke Jepang pada era Kyōho (1716–1736), berbeda dengan jenis bercangkang keras yang dapat dimakan, yang disebut chōsen-mugi (harfiah ‘gandum Korea’), yang perlu dipukul agar cangkangnya retak dan bijinya terlepas.[42][c] Jenis ini pada masa lalu telah diterbitkan sebagai spesies tersendiri, yakni C. agrestis,[44] tetapi kini juga diakui sebagai sinonim dari C. lacryma jobi var. lacryma-jobi.[45][d] Dengan demikian, konsumsi tanaman ini di Jepang yang dibuktikan dalam literatur sebelum era Kyōho agaknya menggunakan jenis bercangkang keras ini dalam resepnya.[46][e]
Yanagita berpendapat bahwa penggunaan manik-manik tersebut mendahului masuknya agama Buddha ke Jepang (552/538 M).[f][38] Dan tumbuhan ini tidak hanya ditemukan di situs-situs yang berasal dari sekitar periode tersebut di Situs Kuroimine,[47] tetapi juga di situs-situs periode Jōmon yang berasal dari beberapa milenium SM.[25]
Hipotesis Jalur Samudra
Yanagita dalam hipotesis Jalur Samudra (Ocean Road)-nya berpendapat bahwa biji-bijian yang berkilau seperti mutiara itu dianggap menyerupai atau menggantikan kerang kauri, yang digunakan sebagai perhiasan dan alat tukar di seluruh Tiongkok Selatan dan Asia Tenggara pada zaman kuno, dan ia berpendapat bahwa kedua benda tersebut merupakan bagian dari transmisi budaya ke Jepang dari wilayah-wilayah ini.[48][g]
Para sarjana kemudian menelusuri keabsahan tesis tersebut. Yanagita telah menerbitkan ulang peta persebaran penggunaan kauri sebagai perhiasan di seluruh Asia (disusun oleh J. Wilfrid Jackson),[49] dan etnolog Jepang Keiji Iwata [ja] menyinggung perlunya peta persebaran jali-jali sebagai perhiasan, untuk dijadikan pembanding.[50][51]
Asia Tenggara Daratan
Thailand dan Myanmar
Suku Akha dan suku Karen yang tinggal di daerah pegunungan di sekitar perbatasan Thailand–Myanmar menanam beberapa varietas tumbuhan ini dan menggunakan manik-maniknya untuk menghias berbagai kerajinan tangan.[h][52] Di kalangan Akha, manik-manik hanya digunakan pada busana perempuan, dijahit pada penutup kepala, jaket, tas tangan, dan sebagainya; selain itu, digunakan berbagai bentuk manik-manik.[53][i] Di kalangan Karen, manik-manik hanya digunakan pada jaket perempuan yang telah menikah, dan hanya biji yang lonjong yang dipilih,[55] dan beberapa contoh telah ditunjukkan dari suku Karen di Provinsi Chiang Rai, Thailand.[53]
Untaian kalung jali-jali juga telah dikumpulkan dari Provinsi Chiang Rai, Thailand[56] dan diketahui bahwa suku Karen merangkai manik-manik tersebut menjadi kalung,[54] dengan kalung semacam itu juga digunakan di bekas Negara-negara Karenni (kini Negara Bagian Kayah di Burma), dengan tanaman ini dikenal dengan nama cheik (var. kyeik, kayeik, kyeit) dalam bahasa Burma.[57][55] Kalung jali-jali juga telah dikumpulkan dari Provinsi Yunnan, Tiongkok,[56] yang dihuni oleh penduduk Akha-Hani dan minoritas lainnya, tetapi suku Wa di Yunnan juga menggunakan biji tumbuhan ini (tɛ kao; harfiah ‘buah-Coix’) yang dijahit pada kain dan tas, dan sebagainya.[58]
Suku Wa dan minoritas lain seperti kelompok etnis Taungyo menggunakan manik-manik pada busana di Negara Bagian Shan, Myanmar.[59]
Asia Tenggara Kepulauan
Kalimantan
Berbagai suku asli Kalimantan seperti suku Kelabit di negara bagian Sarawak (dan Kalimantan Utara, Indonesia), suku Kadazandusun dan suku Murut di negara bagian Sabah semuanya menggunakan manik-manik tumbuhan ini sebagai perhiasan.[54] Dalam bahasa Kadazandusun, tumbuhan ini disebut dalai.[60] Suku Kayan di Kalimantan juga menggunakan jali-jali untuk menghias pakaian dan busana perang.[61]
Filipina
Jali-jali (Tagalog: tigbí) dikenal dengan banyak nama lokal di Filipina (misalnya Bikol: adlái di Kepulauan Visaya).[62][63] Manik-manik yang dirangkai terkadang digunakan sebagai rosario,[62][37] atau dibuat menjadi tirai manik-manik[62] (misalnya oleh suku Tboli di Mindanao[64]), atau dianyam menjadi keranjang dan wadah lainnya.[62]
Benua Amerika
Tumbuhan ini dikenal sebagai calandula dalam bahasa Spanyol, dan biji-bijinya yang keras dirangkai sebagai manik-manik atau menjadi rosario di beberapa wilayah Spanyol Baru, misalnya Puerto Riko.[65][66]
Baik di Eastern Band of Cherokee Indians maupun Cherokee Nation di Oklahoma, manik-manik jali-jali disebut "corn beads" atau "Cherokee corn beads" dan digunakan sebagai perhiasan pribadi.[butuh rujukan]
Pangan
Di seluruh Asia Timur, jali-jali tersedia dalam bentuk kering dan dimasak sebagai biji-bijian. Biji jali-jali banyak dimakan sebagai serealia.[67] Varietas budi daya bercangkang lunak dan dapat dengan mudah dimasak menjadi bubur, dan sebagainya.[68] Di kalangan suku Zomi di Asia Tenggara, festival miim (festival jali-jali) diselenggarakan setiap tahun untuk menghormati arwah orang yang telah meninggal.[69]
Beberapa jenis bercangkang lunak mudah dirontokkan, menghasilkan inti biji yang manis.[68] "Inti biji" atau ren (Hanzi:薏苡仁; Pinyin:yiyi ren; Wade–Giles:i i jen) yang telah dirontokkan (dan dipoles[70][71]) digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok[72] (lihat infra).[j]
Biji-bijian yang telah dirontokkan umumnya berbentuk bulat, dengan alur pada salah satu ujungnya, dan dipoles hingga berwarna putih.[73] Di Jepang, biji yang tidak dipoles juga dijual, dan dipasarkan sebagai yūki hatomugi (‘jali-jali organik’).[73]
Di Kamboja, tempat tumbuhan ini dikenal sebagai skuay (ស្គួយ), bijinya tidak banyak digunakan sebagai biji-bijian,[74] tetapi digunakan sebagai bagian dari obat herbal dan sebagai bahan makanan pencuci mulut. Di Thailand, jali-jali sering dikonsumsi dalam teh dan minuman lain, seperti susu kedelai.[butuh rujukan]
Jali-jali juga merupakan tanaman serealia minor dan pakan ternak di India Timur Laut.[75]
Biji jali-jali dapat digunakan dengan cara yang sama seperti beras. Biji ini dapat dimakan setelah dimasak atau bahkan mentah, karena rasanya sedikit manis. Selain itu, bijinya dapat digunakan untuk menghasilkan tepung. Biji jali-jali dapat diolah dengan mesin yang sama dengan beras. Untuk kulit yang lunak, cukup ditekan di atas ayakan. Keunggulan jali-jali dibandingkan beras adalah bijinya tidak perlu dipoles, seperti halnya pada beras. Melalui proses pemolesan itu, beras kehilangan vitaminnya. Hal ini menjadikan jali-jali sebagai pangan yang berharga bagi penduduk yang kekurangan gizi di daerah pedesaan.[17]
Minuman dan sup
Dalam masakan Korea, minuman kental yang disebut yulmu cha (율무차, secara harfiah "teh jali-jali") dibuat dari bubuk jali-jali.[73] Minuman serupa yang disebut yi ren jiang (薏仁漿) juga terdapat dalam masakan Tionghoa, dan dibuat dengan merebus biji jali-jali utuh yang telah disosoh dalam air, lalu memaniskan cairan encer yang keruh itu dengan gula. Bulir-bulirnya biasanya disaring dari cairan, tetapi dapat pula dikonsumsi secara terpisah atau bersama-sama.[butuh rujukan]
Di Jepang, biji yang disangrai diseduh menjadi hatomugi cha (ハトムギ茶), secara harfiah berarti "teh".[76] Minuman ini diminum demi khasiat pengobatannya dan bukan untuk dinikmati, karena rasanya kurang sesuai dengan selera konsumen pada umumnya. Namun, seduhan yang lebih enak diperoleh dengan menyangrai biji yang telah dikecambahkan, yang mengurangi bau khasnya yang kuat.[76][k]
Di Tiongkok selatan, jali-jali sering digunakan dalam tong sui (糖水), sejenis sup penutup yang manis. Salah satu variasinya disebut ching bo leung dalam bahasa Kanton (Hanzi:清補涼; Pinyin:qing bu liang), dan juga dikenal sebagai sâm bổ lượng dalam masakan Vietnam.[73][76] Ada pula hidangan ayam braise bernama yimidunji (Hanzi:薏米炖鸡=薏米燉鷄).[78]
Minuman beralkohol
Baik di Korea maupun Tiongkok, minuman keras suling juga dibuat dari bulir ini. Salah satu minuman keras Korea disebut okroju (옥로주; hanja: 玉露酒), yang dibuat dari beras dan jali-jali. Bulir ini juga diseduh menjadi bir di India timur laut dan wilayah Asia Tenggara lainnya.[29]
Pengobatan tradisional
Jali-jali digunakan bersama ramuan herbal lain dalam pengobatan tradisional Tiongkok[79] atau pengobatan rakyat.[80] Di Panama, Argentina, Brasil, Kolombia, dan Kuba, jali-jali digunakan dalam pengobatan tradisional berupa rebusan biji, daun, dan akarnya.[81]
Tanaman ini disebutkan dalam teks medis kuno Huangdi Neijing (abad ke-5–2 SM) yang dikaitkan dengan Huangdi (Kaisar Kuning) yang legendaris, tetapi tidak tercantum dalam rujukan materia medica tradisional standar, Bencao Gangmu (本草綱目) (abad ke-16).[10]
Persyaratan budi daya
Persyaratan tanah dan iklim
Tanaman ini umumnya ditanam di lahan yang cerah, subur, dan berdrainase baik dengan tanah lempung berpasir.[82] Adlay menyukai iklim yang sejuk, dingin, dan lembap. Tanaman ini tidak cocok dengan iklim yang panas dan pengap, daya tahannya terhadap dingin rendah, dan sangat tidak tahan kekeringan. Adlay bercangkang hitam cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 800 hingga 1.000 m; varietas adlay kerdil cocok ditanam di dataran rendah.[82]
Persyaratan persemaian dan penyemaian
Merendam benih dengan disinfektan berpengaruh positif terhadap laju perkecambahan.[83]
Penanaman dapat dilakukan ketika suhu tanah di atas 12 °C. Apabila tidak ada embun beku, penyemaian sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk memperpanjang jumlah hari yang dibutuhkan hingga munculnya tunas dan hingga antesis.[84] Penyemaian adlay dibagi menjadi penyemaian alur dan penyemaian lubang. Penyemaian alur adalah penaburan benih secara merata di parit dengan jarak sekitar 50 cm dan kedalaman 4–5 cm. Penyemaian lubang adalah penanaman benih di lubang sedalam 3–5 cm, dengan 3–4 benih per lubang.[85]
Pengelolaan budi daya
Jumlah bibit per lubang dikendalikan ketika bibit telah memiliki 3–4 daun sejati, dan sisakan 2–3 tanaman yang tumbuh baik pada setiap lubang.
Penggemburan tanah dilakukan sedikitnya 3 kali selama seluruh masa pertumbuhan tanaman. Penggemburan pertama dilakukan ketika bibit setinggi 5–10 cm dan harus dibersihkan dari gulma untuk mendorong pembentukan anakan. Penggemburan kedua dilakukan ketika bibit setinggi 15–20 cm. Penggemburan ketiga dilakukan ketika bibit setinggi 30 cm, dikombinasikan dengan pemupukan dan pembumbunan untuk mendorong pertumbuhan akar dan mencegah rebah.[85]
Produksi
Pertumbuhan dan perkembangan
Tanaman ini bersifat semusim, tetapi dapat menjadi tanaman tahunan apabila dibiarkan membentuk ratun. Adlay diperbanyak dengan biji pada awal musim hujan. Perkecambahan terjadi paling cepat 7 hari setelah penyemaian. Diperlukan waktu 5 hingga 5,5 bulan untuk berbunga dan masak. Tinggi rata-rata dapat mencapai lebih dari 90 cm pada saat panen.[86] Pemberian pupuk N dapat meningkatkan hasil adlay secara signifikan.[87]
Kekeringan merupakan cekaman utama bagi pertumbuhan dan perkembangan adlay. Kekurangan kelembapan akan menyebabkan perkecambahan terganggu dan pertumbuhan awal yang buruk. Selama tahap pertumbuhan dan pemasakan, kekurangan air akan mengurangi indeks luas daun dan menyebabkan kehampaan,[88] yang berdampak negatif pada fotosintesis dan produksi bahan kering.
Panen dan pascapanen
Ketika hampir 80% bulir adlay telah berwarna cokelat, malai dipanen dengan memotong batang dan menyisakan tiga ruas di atas permukaan tanah. Masa panen bervariasi menurut varietas dan lingkungan setempat.[89] Karena tinggi tanaman dan sebaran bulir yang tidak seragam, penggunaan mesin untuk memanen terbatas dan pemanenan dilakukan secara manual di banyak wilayah Asia Tenggara.[90] Selanjutnya, malai yang telah dipanen dirontokkan dengan tangan atau menggunakan perontok pedal. Perontokan manual biasanya digunakan ketika bulir yang dipanen memiliki kadar air yang lebih rendah dan mudah rontok. Bulir yang telah dirontokkan dijemur di bawah sinar matahari atau ditempatkan di fasilitas pengeringan yang memanfaatkan udara hangat bertekanan untuk menurunkan kadar air secara bertahap hingga 14%[91] yang sesuai untuk penyimpanan sebelum adlay masuk ke proses penggilingan. Adlay dapat dikonsumsi sebagai bulir dan tepung setelah digiling menggunakan penggilingan jagung dan beras. Rendemen penggilingan sekitar 60%[89] tergantung pada kultivarnya.
Hasil panen dipetik pada awal Oktober dan mudah dipengaruhi oleh cuaca. Apabila terdapat angin kering dan panas pada fase awal, serbuk sari kehilangan daya hidupnya sehingga tidak dapat menyerbuki. Hal ini menyebabkan biji hampa, yang berakibat pada penurunan hasil pada kultivar ringan dan tidak adanya hasil sama sekali pada kultivar berat.[92] Varietas berumur genjah disemai pada awal Maret, varietas berumur sedang disemai dari akhir Maret hingga awal April, dan varietas berumur dalam disemai dari akhir April hingga awal Mei. Penyemaian sebaiknya lebih awal daripada terlambat. Jika penyemaian terlalu terlambat, hasil akan terpengaruh dan bahkan biji tidak dapat masak setelah musim gugur.[17]
Nilai gizi
Biji jali-jali mengandung protein, serat pangan, seng, dan kalsium, di antara mikronutrien lainnya.[22][butuh sumber yang lebih baik]
| Nutrien | Persentase massa |
|---|---|
| Karbohidrat | 65% |
| Protein | 14% |
| Lemak | 5% |
| Serat kasar | 3% |
| Kalsium | 0,07% |
| Fosfor | 0,242% |
| Besi | 0,001% |
Jali-jali mengandung pati (58%).[93] Bijinya digunakan sebagai bahan untuk membuat sup, bubur, tepung, dan kue. Dua metode utama untuk mengisolasi pati meliputi perendaman dalam larutan alkali atau dengan natrium metabisulfit (Na2S2O5).[93]
Jali-jali sebagian besar mengandung asam lemak tak jenuh, termasuk asam oleat, asam linoleat, asam palmitat, dan asam stearat, yang dapat diekstraksi menggunakan proses pelarut, ekstraksi fluida superkritis, atau ekstraksi berbantuan ultrasonik.[93]
Hama
Jali-jali lebih jarang diserang belalang dibandingkan padi dan jagung.[17] Hama serangga meliputi:[94]
- penggerek batang Sesamia inferens dan Ostrinia furnacalis
- kupu-kupu padi Pelopidas mathias (pemakan daun)
- thrips Chaetanaphothrips orchidii
- kutu daun Rhopalosiphum maidis
- kutu putih berbulu Ceratovacuna lanigera
Tanaman ini rentan terhadap hawar daun.[95]
Galeri
- Malai jali-jali yang belum masak
- Tanaman C. lacryma-jobi dengan bunga dan buah di Nepal
- Bulir jali-jali
- Yulmu-cha (teh jali-jali) dari Korea
- Yulmu-bap (nasi jali-jali) dari Korea
- Ilustrasi Coix lacryma-jobi dari ensiklopedia Jepang Seikei Zusetsu (1804)
- Biji C. lacryma-jobi dalam kalung yang dibuat menurut tradisi Zulu
- Coix lacryma-jobi - MHNT
Catatan penjelasan
- ↑ di desa Mijaya (米家崖), Provinsi Shaanxi.
- ↑ Temuan tersebut berada pada lapisan tipe Banpo IV yang berasal dari 3400–2900 SM, yang oleh para ahli ditempatkan pada akhir periode Yangshao (periode Yangshao didefinisikan sebagai 5000–2900 SM).
- ↑ Ranzan sebenarnya menyebut jenis ini dengan nama tōmugi alias chōsen-mugi, tetapi hal ini membingungkan, karena penulis-penulis kemudian seperti Mizumasa Furukawa (1928–1977) menulis bahwa shikoku-mugi dan tōmugi adalah hal yang sama.[43]
- ↑ Peneliti Seiji Koyama mengidentifikasi chōsen-mugi (‘gandum Korea’) sebagai C. lacryma jobi var. koreana,[10] tetapi nama varietas tersebut tidak terdaftar pada WCSPF.[12]
- ↑ Koyama memberikan beberapa contoh, termasuk Nōgyō zensho [ja] (Genroku 10 atau 1697), yang menyatakan bahwa jali-jali (yokui) dapat dimakan sebagai bubur, atau sebagai campuran biji-bijian dalam nasi, atau sebagai bola-bola adonan (dango).[46] Resep camilan okoshi-gome [ja] dalam Ryōri monogatari [ja] (Kaei 20, 1643) tidak menggunakan beras, melainkan biji jali-jali (yokuinin) yang disangrai dan dipecah, dicampur dengan gula, lalu dicetak.[46]
- ↑ §3: "後に東北のイタコの数珠や、アイヌの頸飾くびかざりなどを見るようになって、ジュズとは呼びながらも我々の真似ていたのは、もっと古風な、また国風なものだったことに心づいたことである。 Later [as an adult] I saw the bead-necklaces of the itako shamanesses and the Ainu necklaces, and realized that what we were pretend-playing with [as children] were, even though we called them juzu [like Buddhist rosaries], much older and more native to the land."
- ↑ Ia mengemukakan bahwa nama biji tersebut (nama varian tsushi-dama atau tsushi-tama) berakar pada kata kuno tsushiya yang arti persisnya ia simpulkan sebagai 'kerang kauri'. Namun, hal ini hanyalah dugaan "founded on really the faintest clue 誠に幽な暗示の上に築かれている", dan ia mengakui bahwa tidak ada bukti penggunaan tsushiya atau kata-kata serupa dengan arti ‘kerang permata’ dalam teks-teks kuno mana pun.
- ↑ Suku Akha juga ditemukan di Provinsi Yunnan di Tiongkok, tetapi Ochiai (2010) hanya menyebut penggunaan di "sisi selatan Tiongkok" (hlm. 6), dan menampilkan foto kalung manik-manik dari Provinsi Yunnan pada peta (hlm. 4–5) tanpa mengidentifikasi kelompok etnisnya.
- ↑ Telah dicatat bahwa suku Akha juga menggunakan kulit kerang kauri sebagai perhiasan, meskipun mereka adalah masyarakat pegunungan. Kerang dari Bangkok diperoleh melalui perantara Tionghoa perantauan.[54]
- ↑ Meskipun pembedaan yang ketat ini mungkin tidak diikuti dalam literatur, misalnya, yi yi ren dapat digunakan sebagai istilah untuk buahnya secara keseluruhan dan bukan endosperma yang telah dipoles.[9]
- ↑ Tidak jelas apa yang dimaksud dengan minuman mirip kopi yang diseduh dari biji sangrai yang dibedakan dari "teh" yang dijelaskan oleh beberapa sumber tanpa menyebutkan nama khususnya.[77] Hatomugi kōhī ("kopi jali-jali") tampaknya merujuk pada kopi yang diseduh dengan teh hatomugi sebagai pengganti air panas biasa.
- ↑ p. 331, "Maize and Tripsacum were previously grouped with a number of other grasses that have monoecious flowering patterns — the most widely known being Job's tears (Coix lacryma-jobi) — into the Maydeae (74); however, molecular data revealed that this grouping was polyphyletic (61)."
- ↑ p. 335, "Clusters of locally duplicated genes can also expand and contract rapidly, as shown by investigation of the 22-kDa α zein gene families in maize, sorghum, and coix, which appear to have experienced independent copy-number amplifications since the divergence of these three species (107)."
Referensi
- ↑ The Plant List: A Working List of All Plant Species, diakses tanggal 6 Agustus 2017
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Hitchcock, A. S. (20 Maret 1920). "The Genera of Grasses of the United States with Special Reference to the Economic Species". Bulletin of the U.S. Department of Agriculture (772): 22, 287–288.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ BSBI List 2007 (xls). Botanical Society of Britain and Ireland. Diarsipkan dari asli (xls) tanggal 2015-06-26. Diakses tanggal 2014-10-17.
- ↑ Hitchcock, A. S. (Februari 1951) [May 1935]. Manual of the Grasses of the United States. Miscellaneous Publication, no. 200. Agnes Chase (rev.). Washington, D. C.: U.S. Department of Agriculture. hlm. 789–790.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Lim (2013), hlm. 243.
- ↑ "Jali". Germplasm Resources Information Network (GRIN) online database.
- 1 2 3 Hitchcock, A. S. (2003). Management of Cancer with Chinese Medicine. Agnes Chase (rev.). Donica Publishing. hlm. 364. ISBN 9781901149043.
- ↑ Patel, Bhavna & Patel, Gopi & Shah, Samir & Parmar, Shraddha. (2017). A Review: Coix lacryma jobi L.. Research Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry. 9. 248. 10.5958/0975-4385.2017.00046.2.
- 1 2 Coyle, Meaghan; Liu, Junfeng (2019). Evidence-based Clinical Chinese Medicine - Volume 16: Atopic Dermatitis. World Scientific. hlm. 332. ISBN 9789811206139.
- 1 2 3 Koyama (1996), hlm. 63.
- ↑ Taylor, G.D. (Musim gugur 1953). "Some crop distributions by tribes in upland Southeast Asia". Southwestern Journal of Anthropology. 9 (3). University of New Mexico: 296–308. doi:10.1086/soutjanth.9.3.3628701. JSTOR 3628701. S2CID 129989677.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Search for Coix lacryma-jobi". World Checklist of Selected Plant Families. Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 2015-02-01.
- ↑ Simoons (2014), hlm. 82.
- ↑ Watt (1904), hlm. 194.
- ↑ Namba, Tsuneo [in Jepang]; Fukuda (1980). Genshoku wakanyaku zukan 原色和漢薬図鑑 (dalam bahasa Jepang). Vol. 1. Hoikusha. hlm. 132. ISBN 978-4-586-30056-3.
- ↑ Jain, S. K.; Banerjee, Deb Kumar (Januari 1974). "Preliminary observations on the ethnobotany of the genusCoix". Economic Botany (dalam bahasa Inggris). 28 (1): 38–42. Bibcode:1974EcBot..28...38J. doi:10.1007/BF02861377. ISSN 0013-0001. S2CID 32324938.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Schaaffhausen, Reimar v. (1 Juli 1952). "Adlay or job's tears—A cereal of potentially greater economic importance" (PDF). Economic Botany (dalam bahasa Inggris). 6 (3): 216–227. Bibcode:1952EcBot...6..216S. doi:10.1007/BF02985062. S2CID 33268153.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Christopher, J.; Mini, L.S.; Omanakumari, N. (1995). "Cytological evidence for the hybrid origin of Coix taxon (2n = 32)". Caryologia. 48 (2): 181. doi:10.1080/00087114.1995.10797328.
- 1 2 Watt (1904), hlm. 191.
- ↑ Mudaliyar, C. Tadulinga; Rangachari, K. (2019). "16 Coix". A Handbook of Some South Indian Grasses. Good Press. hlm. 178–179.
- ↑ Ochiai (2010), hlm. 1.
- 1 2 Corke, H.; Huang, Y.; Li, J.S. (2016), "Coix: Overview", Encyclopedia of Food Grains, Elsevier, hlm. 184–189, doi:10.1016/b978-0-12-394437-5.00008-5, ISBN 9780123947864, diakses tanggal 2022-11-13
- ↑ Wang, Jiajing; Liu, Li; Ball, Terry; Yu, Linjie; Li, Yuanqing; Xing, Fulai (2016). "Revealing a 5,000-y-old beer recipe in China". Proceedings of the National Academy of Sciences. 113 (23): 6444–6448. Bibcode:2016PNAS..113.6444W. doi:10.1073/pnas.1601465113. PMC 4988576. PMID 27217567.
- ↑ "Bōsō ni okeru genshi kodai no nōkō--kaku jidai ni okeru shomondai 2" 房総における原始古代の農耕―各時代における諸問題2― [Farming in primeval antiquity in the Boso: Various issues for each period 2] (PDF), Research Bulletin of the Cultural Properties Center of Chiba Prefecture (dalam bahasa Jepang), 23, September 2002, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-12-29, diakses tanggal 2020-12-18
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Takahashi, Mamoru 高橋護 (1999). "Kōkogaku to puranto-opāru bunseki no riyō 考古学とプラント・オパール分析の利用 [Archaeology and the use of phytolith analysis]", Sudien ato / hatake ato wo meguru shizen kagaku--sono kenshō to saibai shokubutsu 水田跡・畑跡をめぐる自然科学―その検証と栽培植物- [Natural sciences concerning rice paddy sites/field sites: assessment and planted flora]. The 9th Congress of the Higashi nihono no suiden ato wo kangaeru kai.年[24]
- ↑ Takahashi, Mamoru (2003), "dai-2 setsu:Itaya III iseki ni okeru puranto opāu bunseki ni yoru saibai shokubutsu no kenshutsu kekka to sono kōsatsu" 第2節:板屋III遺跡におけるプラント・オパール分析による栽培植物の検出結果とその考察 [2: Itaya III site phytolith analysis and identification of cultivated flora, and observations theron] (PDF), dalam Shimane Board of Education Bureied Cultural Properties Center (ed.), Itaya III iseki 2 Jōmon jidai~kinsei no fukugō iseki no chōsa 板屋III遺跡 2 縄文時代~近世の複合遺跡の調査 (dalam bahasa Jepang), hlm. 227
- ↑ Gotō, Shuichi [in Jepang] (1962), Izu sanboku iseki: Yayoi jidai mokuseihin no kenkyū 伊豆山木遺跡 : 弥生時代木製品の研究 [Izu's mountainous and woody sites: study of wood products in the Yayoi Period] (dalam bahasa Jepang), Tsukiji Shokan, hlm. 94, doi:10.11501/3025934
- ↑ Arora, R. K. (Juli 1977). "Job's-tears (coix lacryma-jobi)—a minor food and fodder crop of northeastern India". Economic Botany. 31 (3): 358–366. Bibcode:1977EcBot..31..358A. doi:10.1007/bf02866887. ISSN 0013-0001. S2CID 34319145.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Nesbitt, Mark (2012) [2005]. "Grains". Dalam Prance, Ghillean; Nesbitt, Mark (ed.). The Cultural History of Plants. Routledge. hlm. 53, 343–344. ISBN 9781135958114.
- ↑ Simoons (2014), hlm. 81.
- ↑ Yu, Fei; Zhang, Jun; Li, Ya-zhuo; Zhao, Zhen-ying; Liu, Chang-xiao (April 2017). "Research and Application of Adlay in Medicinal Field". Chinese Herbal Medicines. 9 (2): 126–133. doi:10.1016/s1674-6384(17)60086-8. ISSN 1674-6384.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bretschneider (1895), hlm. 385.
- ↑ Chaudhary, Harinder K.; Kaila, Vineeta; Rather, Shoukat A.; Tayeng, Tisu (2013). "Ch. 6: Distant Hybridisation and Doubled-Haploidy Breeding". Dalam Pratap, Aditya; Kumar, Jitendra (ed.). Alien Gene Transfer in Crop Plants, Volume 1: Innovations, Methods and Risk Assessment. Springer Science & Business Media. hlm. 154. ISBN 9781461485858.
- ↑ Xu, Zhenghao; Zhou, Guoning (2017). Identification and Control of Common Weeds. Vol. 1. Springer. hlm. 353. ISBN 9789402409543.
- ↑ "The Story of Prophet Job". www.islamreligion.com.
- ↑ Wiart, C. (2006:668). Medicinal Plants Of The Asia-pacific: Drugs For The Future?. Singapore: World Scientific Publishing Company.
- 1 2 3 Ochiai (2010), hlm. 11.
- 1 2 3 Yanagita (1961b), [1953] §3.
- 1 2 Makino, T. (1906), "Observations on the Flora of Japan (cont.)", Botanical Magazine, 20: 11–10
- ↑ Yanagita (1961b), [1953] §5.
- ↑ "Coix lacryma-jobi var. maxima Makino, Bot. Mag. (Tokyo) 20: 10 (1906)". World Checklist of Selected Plant Families. Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 2020-12-22.
- ↑ Ranzan Ono sensei (1847). "Book 19, grains II, hie&awa I, 18 species (No. 16, yokui)" 巻之十九/穀之二稷粟一(十八種[の第16]). Jūtei honzō kōmoku keimō kan-48 [9] 重訂本草綱目啓蒙 48巻. [9] (dalam bahasa Jepang). Izumiya Zenbei. hlm. 6–7.
- ↑ Furukawa, Mizumasa (1963). Hatomugi no kōyō: gan to biyō to chōju ni kiku ハトムギの効用—ガンと美容と長寿にきく (dalam bahasa Jepang). Rokugatsusha. hlm. 30–45. apud Koyama (1996), hlm. 67.
- ↑ Matsumura, Jinzō [in Inggris] (1905). Index plantarum japonicarum: sive, Enumeratio plantarum omnium ex insulis Kurile. Yezo, Nippon, Sikoku, Kiusiu, Liukiu, et Formosa hucusque cognitarum systematice et alphabetice disposita adjectis synonymis selectis, nominibus japonicis, locis natalibus. Vol. 2. Josefina Ramos (tr.). apud Maruzen. hlm. 49–50.
- ↑ "Search for Coix agrestis". World Checklist of Selected Plant Families. Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 2020-12-23.
- 1 2 3 Koyama (1996), hlm. 67.
- ↑ Ochiai (2010), hlm. 14, citing Ishii & Umezawa (1994) ISBN978-4643940824.
- ↑ Yanagita (1961a) [1950] §2
- ↑ Yanagita (1961a) [1950] §3. Map taken from Jackson (1917) Shells as Evidence of the Migrations of Early Culture.
- ↑ Iwata (1991), hlm. 17–18.
- ↑ Cf. Ochiai (2010), hlm. 4–5, visual map of necklaces, and references to Yanagita elsewhere in the Newsletter.
- ↑ Ochiai (2002), hlm. 61; Ochiai (2010), hlm. 8–9
- 1 2 Ochiai (2010), hlm. 8–9.
- 1 2 3 Iwata (1991), hlm. 16.
- 1 2 Ochiai (2010), hlm. 6.
- 1 2 Ochiai (2010), hlm. 4–5
- ↑ Watt (1904), hlm. 192, 202, 212.
- ↑ Formoso, Bernard (Oktober–Desember 2001). "Coix spp. (Job's tears)" (PDF). L'Homme (dalam bahasa Prancis) (160, Droit, Coutume, Mémoire): 48, 51. JSTOR 25133422.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ochiai (2010), hlm. 6–7.
- ↑ "Dalai, the Pearls of the Borneo Jungle". 12 Januari 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Beccari, Odoardo (1904). Wanderings in the Great Forests of Borneo: Travels and Researches of a Naturalist in Sarawak. London: Archibald Constable. hlm. 281.
- 1 2 3 4 Brown, William Henry (1919). Wanderings in the Great Forests of Borneo: Travels and Researches of a Naturalist in Sarawak. Manila: Bureau of printing. hlm. 281.
- ↑ Guerrero, León María (1989). Notes on Philippine Medicinal Plants. Josefina Ramos (tr.). hlm. 191.
- ↑ Ochiai (2010), hlm. 10.
- ↑ Guzmán-Rivas, Pablo (1960). "Geographic Influences of the Galleon Trade on New Spain". Revista Geográfica. 27 (53): 19. JSTOR 41888470.
- ↑ Cook, O. F.; Collins, G. N. (1960). "Economic Plants of Porto Rico". Contributions from the United States National Herbarium. 8 (2): 122. JSTOR 23490917.
- ↑ Hill, A.F. (1952) [1937]. Economic Botany. McGraw-Hill. hlm. 332. ISBN 9780070287891.
{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - 1 2 Corke, Huang & Li (2015), hlm. 186.
- ↑ Neihsial; Tualchin (1993), History and Culture of the Zoumis, hlm. 195–196
- ↑ Kubo, Michinori; Fukuda, Shinzō; Katsuki, Tadahisa (1980). Yakusō nyūmon 薬草入門 (dalam bahasa Jepang). Hoikusha. hlm. 13. ISBN 4-586-50515-X.
- ↑ Koishi, Sugawa-Katayama & Tsujino (1980), hlm. 42–43.
- ↑ Bretschneider (1895), hlm. 383.
- 1 2 3 4 Lim (2013), hlm. 245.
- ↑ Tichit, Lucien (1981). L'agriculture au Cambodge (dalam bahasa Prancis). Paris: Agence de Coopération Culturelle et Technique. hlm. 129. ISBN 9789290280316.
- ↑ Arora, R.K. (1977). "Job's tears (Coix lacryma-jobi) - a minor food and fodder crop of northeastern India". Economic Botany. 31 (3): 358–366. Bibcode:1977EcBot..31..358A. doi:10.1007/bf02866887. S2CID 34319145.
- 1 2 3 Koishi, Sugawa-Katayama & Tsujino (1980), hlm. 43–44.
- ↑ Lim (2013), hlm. 245 dan Corke, Huang & Li (2015), hlm. 187
- ↑ Koishi, Sugawa-Katayama & Tsujino (1980), hlm. 44.
- ↑ Corke, Huang & Li (2015), hlm. 187.
- ↑ Duke, J.A. (1983). "Coix lacryma-jobi L., Poaceae: Job's-tears, Adlay, Millet (updated 8 July 1996)". Source: James A. Duke, Handbook of Energy Crops (unpublished) by Purdue University Center for New Crops & Plants Products.
- ↑ Morton, Julia Frances (1981). Atlas of Medicinal Plants of Middle America: Bahamas to Yucatan. Springfield, Ill.: Charles C. Thomas. hlm. 25–26. ISBN 9780398040369. LCCN 80-13503.
- 1 2 Li, Cuixia; Zhang, Xingchang (2015). "Cultivation technology of Adlay". Shanghai Agricultural Science and Technology: (2):95, 71.
- ↑ Chang, Seog-Won; Jeon, Dae-Hoon; Kim, Hee-Dong; Yi, Eun-Sup; Park, Ki-Jun (2000). "Effects of Seed Disinfectant and Soaking Time on Germination and Disease Occurrence of Adlay, Coix lacryma-jobi L. var. ma-yuen Stapf". Korean Journal of Medicinal Crop Science. 8 (3): 259–265. ISSN 1225-9306.
- ↑ Yi, Eun-Sub; Lee, Jun-Seok; Lee, Hyo-Sung (1997). "Effects of Sowing Times and Spacing on Growth and Yield of Coix lachryma-jobi L. var. ma-yuen STAPF". Korean Journal of Medicinal Crop Science. 5 (3): 225–231. ISSN 1225-9306.
- 1 2 Li, Tao (2014). "Exploration on the cultivation Technology of Adlay". Rural Science and Technology: (14):83–84.
- ↑ Gorne, Nello (2020-06-23). "Growth, yield and forage quality influence of intecropping and fertilization schemes on adlay (Coix lacryma-jobi L.) ratoon". International Journal of Agriculture Forestry and Life Sciences (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 124–130.
- ↑ Planas, J. Y.; Minoza, M. M. R. (2019). "Growth, yield and nutrient requirement of adlay (Coix lacryma-jobi L.) applied with different levels of nitrogen". Philippine Journal of Crop Science (Philippines) (dalam bahasa English).
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Luis Ramirez Ascheri, José (1987). ".: SophiA Biblioteca - Terminal Web :". acervus.unicamp.br. doi:10.47749/t/unicamp.1987.48605. Diakses tanggal 2022-12-03.
- 1 2 Mendoza, A. J. A., Sabellano Jr, F. M., Baco, L. T., Nabua, W. C., & Pantallano, E. S. (2015). "VARIETAL PERFORMANCE OF ADLAI (Coix lacryma-jobi L.)". NMSCST Research Journal, 3(1).
- ↑ Schaaffhausen, Reimar v. (1952). "Adlay or Job's Tears: A Cereal of Potentially Greater Economic Importance". Economic Botany. 6 (3): 216–227. Bibcode:1952EcBot...6..216S. doi:10.1007/BF02985062. ISSN 0013-0001. JSTOR 4252082. S2CID 33268153.
- ↑ Gorne, Nello; Aradilla, Agripina (2020-05-04). "Adlay (Coix Iacryma-jobi L.) and Napier grass (Pennisetum purpureum Schum.) intercropping and fertilization schemes as climate smart strategy for food and feed production". Annals of Tropical Research (dalam bahasa American English): 56–71. doi:10.32945/atr4215.2020. ISSN 0116-0710. S2CID 218918929.
- ↑ Arora, R. K. (1 Juli 1977). "Job's-tears (coix lacryma-jobi)—a minor food and fodder crop of northeastern India". Economic Botany (dalam bahasa Inggris). 31 (3): 358–366. Bibcode:1977EcBot..31..358A. doi:10.1007/BF02866887. ISSN 1874-9364. S2CID 34319145.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Igbokwe, Chidimma Juliet; Wei, Ming; Feng, Yuqin; Duan, Yuqing; Ma, Haile; Zhang, Haihui (2021-03-17). "Coix Seed: A Review of Its Physicochemical Composition, Bioactivity, Processing, Application, Functionality, and Safety Aspects". Food Reviews International. 38: 921–939. doi:10.1080/87559129.2021.1892129. ISSN 8755-9129. S2CID 233668492.
- ↑ Kalaisekar, A (2017). Insect pests of millets: systematics, bionomics, and management. London: Elsevier. ISBN 978-0-12-804243-4. OCLC 967265246.
- ↑ Wrigley, Colin W.; Corke, Harold; Seetharaman, Koushik; Faubion, Jonathan (17 Desember 2015). Encyclopedia of Food Grains - 2nd Edition. Elsevier Science. ISBN 978-0-12-394437-5.
{{cite book}}:|website=diabaikanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bibliografi
- Bretschneider, E. (1895). 228 i i jen 薏苡仁. Botanicon Sinicum (Part III). Shanghai: Kelly and Walsh. hlm. 382–385.
- Corke, H; Huang, Y; Li, JS (2015). "Coix: overview". Dalam Wrigley, Colin W (ed.). Encyclopedia of Food Grains (Edisi 2). Academic Press. hlm. 184–189. ISBN 9780123947864.
- Iwata, Keiji [in Jepang] (1991). Sōmokuchūgyo no jinruigaku 草木虫魚の人類学 [Anthropology of forbs, trees, bugs, fish] (dalam bahasa Jepang). Kodansha.
- Lim, Tong Kwee (2013). "Coix lacryma-jobi". Edible Medicinal And Non-Medicinal Plants: Volume 5. Springer Science & Business Media. hlm. 243–261. ISBN 9789400756533.
- Koishi, Hideo; Sugawa-Katayama, Yohko; Tsujino, Motoko (1980). "A Review of Studies of Hatomugi (Yokuinin), Coix lachryma-jobi L. var. ma-yuen(Roman.) Otto Stapf (botanist)|Stapf" はとむぎ(惹鼓仁ヨクイニン)考 (PDF). 大阪市立大学生活科学部紀要 (dalam bahasa Jepang). 2 (19): 37–46.
- Koyama, Seiji (1996), "Yokuinin no chiyūshohō" 薏苡仁の治疣処方 [Kampo Formulas Containing Coicis Semen that are Effective in the Treatment of Verrucae] (PDF), 日本東洋医学雑誌 (dalam bahasa Jepang), 47 (1): 63–69[pranala nonaktif permanen]
- Ochiai, Yukino (2002), "Domestication and cultivation of edible Job's tears (Coix lacryma-jobi subsp. ma-yuen) under the influence of vegeculture", dalam Yoshida, S; Mathews, P J (ed.), Vegeculture in Eastern Asia and Oceania, Suita City, Osaka: The Japan Center for Area Studies, National Museum of Ethnology, Senri Expo Park, hlm. 59–75, ISBN 9784901838009
- —— (Oktober 2010). "Living with Plants: Job's Tears Seed Beads Collection of the World" 植物のビーズ:「ジュズダマ」と暮らす (PDF). Newsletter of the Kagoshima University Museum (dalam bahasa Jepang).
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Simoons, Frederick J. (2014). Food in China: A Cultural and Historical Inquiry. CRC Press. hlm. 81–83. ISBN 9781482259322.
- Watt, George (1904). "Coix spp. (Job's tears)". Agricultural Ledger. 11 (13): 189–194.
- Yanagita, Kunio (1950). "Takaragai no koto 宝貝のこと". Bunka Okinawa 2 (7) (dalam bahasa Jepang)
- —— (1953). "Hito to zuzudama 人とズズダマ". Shizen to bunka (3) (dalam bahasa Jepang)
- —— (1961a). "Takaragai no koto" 寶貝のこと [About cowrie shells]. Kaijō no michi 海上の道 [Ocean Road] (dalam bahasa Jepang). Chikuma Shobo. hlm. 211–224.. teks polos @ aozora
- —— (1961b). "Hito to zuzudama" 人とズズダマ [Humans and job's tears]. Kaijō no michi 海上の道 [Ocean Road] (dalam bahasa Jepang). Chikuma Shobo. hlm. 225–248.. teks polos @ aozora
Pranala luar
| Coix lacryma-jobi |
|
|---|---|