Rabu, 23 September 2026
01:15 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Sorgum

Sorgum

genus tumbuh-tumbuhan

Sorgum
250px-Sorghum.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monocots
Klad: Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Subfamili: Panicoideae
Supertribus: Andropogonodae
Tribus: Andropogoneae
Subtribus: Saccharinae
Genus: Sorghum
Moench 1794, nama konservasi bukan Sorgum Adanson 1763
Spesies

Terdiri 30 spesies, lihat teks

Artikel takson sembarang

Sorgum[1] (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Di Indonesia tanaman ini banyak tumbuh di Kepulauan Nusa Tenggara, sehingga memiliki beberapa nama lokal, di antaranya jagung rote, wata belolong, dan watar hamu.[2] Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara.

330px-Malai_sorgum_varietas_Numbu.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Malai sorgum varietas Numbu

Biji sorgum berbentuk bulat, tetapi ada juga yang agak lonjong dengan warna bervariasi, mulai dari putih, kuning gading, cokelat muda, merah, sampai hitam.[2] Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan protein pun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%.

Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat Indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya kelenturan terigu karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mi dan roti menjadi lentur.

Seperti beras, biji sorgum dapat diolah menjadi nasi dengan cara memisahkan kulit arinya dan merebusnya dalam periuk sampai empuk.[2] Selain itu, sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena bebas gluten dan memiliki angka indeks glikemik yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen bebas gluten diet seperti di negara-negara maju.

Nama Lokal Sorgum di Indonesia

Sorgum dikenal di banyak masyarakat kepulauan di Indonesia. Misalnya sorgum di Sunda disebut gandrung, gandrum, jagung cetrik, degem, dan kumpay; di Jawa disebut cantel, jagung pari, dan jagomutri; di Madura disebut oncer; di Minangkabau disebut garai; di Batak disebut jaba bendil, dan jaba bengkok; di Melayu disebut battari, jawaras, dan jagung rote; di Makassar disebut batar, dan batara tojeng; di Bugis disebut bata; di Flores disebut wata belolong, wata solor, dan lolo; di Sumba disebut watar hamu, dan watar willi; di Lembata disebut watar holo; di Timor disebut batar ainaruk, penmina, dan penbuka; di Rote disebut jagung rote, pela hae, dan pela hik; dan di Savu disebut terae hawu. Ragam penamaan sorgum di berbagai bahasa daerah di Indonesia dapat menandakan telah lamanya eksistensi sorgum, selain kemungkinan asalnya yang tidak dari satu sumber.[3]

Produksi

Sorgum termasuk tanaman yang mudah dibudidayakan karena membutuhkan biaya perawatan yang termasuk murah dan bisa ditanam secara tumpang sari dengan padi gogo, kedelai, kacang tanah atau tembakau, ataupun ditanam dengan pertanaman tunggal. Dalam satu kali tanam, sorgum dapat dipanen lebih satu kali sehingga sorgum tergolong tanaman yang memiliki produktivitas yang tinggi. Daerah budidaya sorgum sangat luas, sorgum dapat hidup mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan iklim tropis-kering sampai iklim basah.[4][5]

Di Indonesia, daerah pengembangan sorgum cukup luas. Saat ini, daerah penghasil sorgum meliputi Jawa Tengah (Pati, Demak, Wonogiri, Grobogan), Yogyakarta (Gunung Kidul, Kulon Progo), Jawa Timur (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo), dan sebagian daerah di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.[6] Tanaman sorgum termasuk tanaman prioritas kedua untuk petani di Nusa Tenggara Timur setelah tanaman jagung, karena selain sorgum dapat ditanam pada lahan-lahan yang kurang menguntungkan, seperti memiliki curah hujan yang rendah, sistem pengairan yang terbatas, serta kondisi lahan yang tidak terlalu subur, tanaman sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.[7] Selain itu, sorgum juga dapat diolah menjadi beberapa produk makanan seperti beras, mi, makanan ringan dan tepung.[8]

TNI AU dan Kementerian Pertanian (Kementan) sepakat mengembangkan tanaman sorgum, sebagai komoditas bahan pangan yang akan dikembangakan kedua belah pihak. Kesepakatan tersebut tertuang dalam naskah kesepahaman bersama antara TNI AU dan Kementan, yang ditandantangani oleh KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi, di Lanud Sutan Sahrir, Padang, Selasa (29/11/2022). Untuk mendukung program Ketahanan Pangan, TNI AU telah menyiapkan lahan kurang produktif di Lapangan Udara Sutan Syahrir seluas 12 hektare untuk pengembangan tanaman sorgum. Diharapkan program ini dapat membantu ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya.[9]

Asal dan Penyebaran

Sorgum merupakan sumber pangan sangat kuno dan biji-bijian yang paling awal didomestikasi oleh umat manusia. Sorgum telah jadi sumber pangan sejak sebelum abad 1 M. Ada kemungkinan sorgum telah lama dikonsumsi manusia khususnya oleh pemburu-pengumpul awal di afrika (8000 SM), sebelum adanya upaya domestifikasi. Sorgum dipercaya memiliki pusat asal berbeda untuk berbagai jenis budi daya. Ras durra dan bicolor diturunkan dari sorgum liar aethiopicum, guinea berasal dari arundinaceum, dan kafir diturunkan dari verticilliflorum (Snowden, 1936). Pendapat lain mengusulkan durra berasal dari kafir. Temuan ini belum teruji eksperimen. Mann et al. (1983) menyebutkan sorgum bermula dari empat ras liar. Pertama, ras arundinaceum yang beradaptasi dengan hutan basah dan lembap di Afrika barat, ras virgatum yang hanya ditemukan di dataran banjir di sepanjang Lembah Nil, ras aethiopicum yang menjadi bagian vegetasi rerumputan di Kassala (Sudan) dan di sepanjang pinggiran Sahara, dan ras verticilliflorum yang tersebar limpah di sabana Afrika. Ras arundinaceum (rumput hutan) dan virgatum (rumput padang pasir) kemudian tidak dianggap cocok jadi nenek moyang sorgum budidaya, karena ada di luar batas daerah sorgum primer. Dua ras lainnya lebih dianggap sebagai moyang sorgum budidaya. Peneliti menduga bahwa domestikasi awal sorgum terjadi di timur laut Afrika (perbatasan Mesir-Sudan) pada 5000-8000 SM, dibuktikan adanya jejak budi daya sorgum di permukiman neolitik di Kadero, Sudan (5030-5280 SM). Setelah domestifikasi di Afrika timur, sorgum lalu dibawa ke sub-Sahara (mengikut migrasi kuno). Ini didukung kajian biologi molekuler yang menunjukkan bahwa Etiopia dan sekitarnya punya tingkat keragaman genetika sorgum tertinggi dunia (dipengaruhi variasi dalam habitat ekologisnya). Seiring penyebarannya, sorgum berkembang menjadi beragam jenis berkat seleksi alam dan adaptasi lingkungan. Misalnya, ras guinea dikembangkan untuk produksi biji-bijian di tempat lebih basah, sedangkan jenis durra cocok dikembangkan di kondisi lebih kering. Keluar dari Benua Afrika, sorgum lalu dibawa ke India, terbukti pada situs arkeologi di barat Rojdi (Saurashtra) pada 4500 SM. Eksistensi sorgum paling tua di India ada di Lembah Indus dan kaki bukit sekitarnya (2000-1700 SM), khususnya tipe bicolor (kecuali sorgum dari Kaothe, mungkin bertipe caudatum), lalu menyebar ke arah timur (Tiongkok). Dari jalur laut India-Tiongkok, sorgum sampai ke Indonesia. Di Tiongkok sendiri, ada dua jenis sorgum. Kedua jenis ini adalah sorgum tebu kuning (tinggi, malai agak jarang, bahan sirup) dan kaoliang (millet tinggi, toleran suhu dingin). Selanjutnya, sorgum menyebar melalui migrasi, perdagangan, dan kolonialisasi sampai akhirnya sorgum menjelma salah satu pangan utama dunia.[3]

Filogeni

Genus sorgum terkait dekat dengan jagung dalam klad PACMAD rerumputan, dan terkait jauh dengan serealiaklad BOP seperti gandum dan barli.[10]

(Bagian dari poaceae)
klad BOP

bambu

pooideae
rumputrumput lain

(feskiu, lolium)

triticeae

hordeum (barli)

gandum

rye (gandum hitam)

oryza (padi)

klad PACMAD

cenchrus (rumput air mancur, otek mutiara)

sorgum

zea (jagung)

Taksonomi

Genus sorgum termasuk keluarga rumput, Poaceae, dalam sub-keluarga Panicoideae, dalam suku Andropogoneae – sama seperti jagung (Zea mays), Andropogon gerardi, dan tebu (Saccharum spp.). Spesies-spesies yang tercatat diterima:[11]

Referensi

  1. "Sorgum". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  2. 1 2 3 Stephanie, Maria (2024). Ensiklopedia dari Bumi Nusantara ke Piring Kita. Yogyakarta: Guru Bumi.
  3. 1 2 Arif, Ahmad (2025). Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 11–16. ISBN 9786024813703.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. Biba, M. Arsyad (2015). "Prospek pengembangan sorgum untuk ketahanan pangan dan energi". Iptek Tanaman Pangan. 6 (2).
  5. P, Dwilaksono; u (2021-03-04). "Potensi Sorghum Sebagai Pangan Alternatif Pengganti Beras". Budidaya Tani. Diakses tanggal 2021-03-04.
  6. Sirappa, M.P. (2003). "Prospek Pengembangan Sorgum di Indonesia sebagai Komoditas Alternatif untuk Pangan, Pakan, dan Industri". Jurnal Litbang Pertanian. 22 (4): 133–140.
  7. Subagio, Herman dan Muh Aqil (2013). "Pengembangan Produksi Sorgum di Indonesia". Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian: 199–214.
  8. UKM, UPT Pelatihan Koperasi dan (2022-12-05). "Pelatihan Pembuatan Beras Analog dan Tepung dari Sorgum". UPT PELATIHAN DINAS KOPERASI DAN UKM PROVINSI JAWA TIMUR (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-01-30.
  9. "Tanda Tangani MOU Ketahanan Pangan, TNI AU-Kementan Sepakat Kembangkan Tanaman Sorgum". ZONAMILITER.COM. 30 November 2022. Diakses tanggal 25 Desember 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. Escobar, Juan S; Scornavacca, Céline; Cenci, Alberto; Guilhaumon, Claire; Santoni, Sylvain; et al. (2011). "Multigenic phylogeny and analysis of tree incongruences in Triticeae (Poaceae)". BMC Evolutionary Biology. 11 (1): 181. Bibcode:2011BMCEE..11..181E. doi:10.1186/1471-2148-11-181. PMC 3142523. PMID 21702931.
  11. "The Plant List: Sorghum". Royal Botanic Gardens, Kew dan Missouri Botanic Garden. 2013. Diakses tanggal 28-02-2017.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Sorghum.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan