Rabu, 23 September 2026
13:08 WIB
TERKINI
Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Kolom Sidang Mahkamah Konstitusi Uji Materi UU Kesehatan, Perlindungan Dokter Jadi Sorotan Politik Pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia Dipermasalahkan dalam PHPU Regional Kembalinya Bechi ke Ponpes Picu Kekhawatiran, Bapas Diminta Awasi Ketat Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Kolom Sidang Mahkamah Konstitusi Uji Materi UU Kesehatan, Perlindungan Dokter Jadi Sorotan Politik Pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia Dipermasalahkan dalam PHPU Regional Kembalinya Bechi ke Ponpes Picu Kekhawatiran, Bapas Diminta Awasi Ketat
Wayang beber

Wayang beber

500px-Wayang_Beber_Opened.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wayang beber menampilkan adegan pertempuran. Koleksi Istana Mangkunagaran.

Wayang beber adalah seni pertunjukan wayang yang penyajiannya diwujudkan dalam bentangan (Jawa: bèbèran, han.: ꦧꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀) lembaran kertas atau kain bergambar dengan stilisasi wayang (kulit) disertai narasi oleh seorang dalang. Pertunjukan wayang beber muncul dan berkembang di Jawa bagian Wengker (sekarang Ponorogo dan Pacitan) pada masa pra-Islam karena Ponorogo masa itu sudah dapat membuat Daluwang atau kertas Ponoragan, tetapi terus berlanjut hingga masa kerajaan-kerajaan Islam (seperti Kesultanan Mataram). Cerita yang ditampilkan diambil dari Mahabharata maupun Ramayana.[1] Setelah Islam menjadi agama utama di Jawa, cerita-cerita Panji [2]

Riwayat

250px-Wayang_Beber_Scroll.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gulungan wayang beber.

Catatan asing pertama mengenai pertunjukan ini dilaporkan oleh Ma Huan dan Fei Xin dalam kitab Ying-Yai-Sheng-Lan.[2] Kitab tersebut menceritakan kunjungan Cheng Ho ke Jawa pada sekitar tahun 1413–1415 (masa kerajaan Majapahit dipimpin oleh Wikramawardhana, anak Hayam Wuruk). Mereka menyaksikan orang-orang berkerumun mendengarkan seseorang bercerita mengenai gambar-gambar yang ditampilkan pada lembaran kertas yang sebagian tergulung. Pencerita memegang sebilah kayu yang dipakai untuk menunjuk gambar-gambar yang terdapat pada lembaran tersebut. Praktik semacam itu masih sama seperti pertunjukan wayang beber pada masa-masa kemudian. Namun demikian, menurut penuturan dari kalangan pujangga Jawa, wayang beber diawali dari masa Kerajaan Pajajaran.[2]

Budaya Pewayangan dijawa diketahui berawal saat era Kedatuan Sriwijaya ditengarai berasal dari ilustrasi naratif pada kain Paleppai. Gambar-gambar adegan pewayangan kemudian dilukiskan pada lembaran kain atau deluwang, setiap lembar berisi beberapa adegan (disebut (pe)jagong) sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara "dibeber", yaitu membuka gulungan sesuai adegan satu per satu. Dalang bercerita mengenai hal-hal terkait dengan adegan yang ditampilkan, termasuk dialog.

Konon oleh Walisanga, di antaranya adalah Sunan Kalijaga yang merupakan keturunan bangsawan Wengker, wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi wayang kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamen yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam tidak menganjurkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta menambahkan Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang.

Koleksi

lossy-page1-250px-KITLV_3956_-_Kassian_C%C3%A9phas_-_Wayang_beber_performance_of_the_desa_Gelaran_at_the_home_of_Dr._Wahidin_Soedirohoesoedo_at_Yogyakarta_-_Around_1902.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertunjukan wayang beber Gunungkidul (l.k. 1902) di rumah dokter Wahidin di Yogyakarta (Sumber: Tropenmuseum)

Ada dua koleksi wayang beber pusaka yang dikoleksi secara partikelir oleh keturunan dalang. Keduanya membawakan cerita Panji. Yang pertama adalah salah satu wayang beber tertua yang dipelihara di Dukuh Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo, Pacitan. Wayang ini dibuat di atas daluang yang besar buatan Ponorogo[1][3] dan dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat leluhur yang harus dipelihara. Cerita yang diangkat adalah "Jaka Kembang Kuning", terdiri dari enam gulungan dengan masing-masing gulungan berisi empat adegan (pejagong). Cerita ini menurut R.M. Sayid merupakan kiasan dari peristiwa terusirnya Sultan Mataram, Amangkurat I, dari Keraton Mataram di Plered karena Pemberontakan Trunajaya.[4]

Selain di Pacitan, koleksi kedua dipelihara di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul.[5] Cerita yang diangkat adalah Remeng Mangunjaya.[2]

Menurut Kitab Sastro Mirudo, wayang beber dibuat pada tahun 1283, dengan Condro Sengkolo Gunaning Bujonggo Nembah Ing Dewo (1283), Kemudian dilanjutkan oleh Putra Prabu Bhre Wijaya, Raden Sungging Prabangkara, dalam pembuatan wayang beber.[butuh rujukan]

Referensi

  1. 1 2 "Kisah Wayang Beber, Wayang Tertua di Indonesia". Indonesia.go.id. 8 April 2019. Diakses tanggal 26 Maret 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 Maharsi, Indiria (2013). "Wayang Beber yang Tidak Pernah Lagi Digeber". Adiluhung (2): 34–37.
  3. "Wayang Beber Donorojo". pacitanisti.wordpress.com. Diakses tanggal 26 Maret 2020.
  4. Maharsi, Indiria (2018). Wayang Beber. Yogyakarta: Dwi - Quantum.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Uji Agung Santosa/BBJ (Selasa, 27 Maret 2012). Ari, Catur (ed.). "Wayang Beber di Bentara Budaya Jakarta". Kontan.co.id. Kontan.co.id. Diakses tanggal 20 May 2012.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=

Pranala luar

Menurut
media
Kulit
Kayu
Orang
Bambu
Kain
Rumput
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Papieren_wajangpop_voorstellende_Arjuna_%28kinderspeelgoed%29_TMnr_809-46c.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail


250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pauzeteken_uit_het_wajangspel_van_karbouwenhuid_TMnr_21-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_voorstellende_Arjuna_Sasra_Bahu_TMnr_4283-59.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menurut
asal
Inovasi
Properti dan
kesenian
pendukung
Sumber
cerita
Organisasi
Museum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan