Sabtu, 24 Oktober 2026
03:00 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Ta latik

Ta latik

salah satu huruf aksara Bali

Bagikan:
Ta latik
250px-Bali_Ta_latik.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinTa
IASTṬa atau Ṭha
Fonem[ʈ], [ʈʰ]
UnicodeU+1B1D
Warga aksaramurdhanya
Gantungan

Ta latik adalah salah satu aksara wianjana (huruf konsonan) dalam sistem penulisan aksara Bali, yang melambangkan bunyi /ʈ/ dan /ʈʰ/. Jika dialihaksarakan menjadi huruf Latin, maka aksara ini ditulis "Ṭa" atau Ṭha.[1][2]

Bentuk

Dalam aksara-aksara yang menurunkan aksara Jawa dan Bali—Brahmi, Pallawa, Kawi—huruf Ta dalam warga murdania dibuat terpisah, yaitu bentuk alpaprana (Ṭa) dan mahaprana (Ṭha). Namun dalam aksara Jawa dan Bali, huruf Ṭa dan Ṭha berbagi bentuk, karena pengucapan Ṭha sudah jarang. Maka dari itu, Ta latik yang tergolong dalam warga murdania bisa dialihaksarakan sebagai "ṭa" atau "ṭha", karena tiadanya bentuk Ṭha seperti dalam aksara Brahmi atau Pallawa. Dalam aksara Bali, untuk membedakan Ṭa dan Ṭha, biasanya Ṭha diberi tedung sedangkan Ṭa tidak.[1] Bagaimanapun, Ta latik mahaprana tercantum berbeda dalam Unicode, dan diberi nama Ta murda mahaprana, pada blok U+1B1E.

Ṭa
(Ta latik biasa)
Ṭā atau Ṭha Ṭha
(Ta murda mahaprana)
120px-Bali_Ta_latik.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Bali_Ta_latik-tedung.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Bali_Ta_latik_mahaprana.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Fonem dan alihaksara

Aksara ini termasuk dalam kelompok warga aksara murdhanya (konsonan tarik-belakang/retrofleks),[2]. Seharusnya, Ṭa diucapkan /ʈa/ sedangkan Ṭha diucapkan /ʈʰa/. Namun dalam bahasa Bali modern, perbedaan antara /ʈa/ dan /ʈʰa/ tidak terdengar, sebab pengucapan dengan hembusan besar dan hembusan kecil disamakan saja.[3]

Sebagai Ṭa, maka ia diucapkan /ʈ/ pada kata: ṭaṁkāra (bahasa Sanskerta), ṭutuk (bahasa Jawa). Ṭha diucapkan dengan metode yang sama seperti Ṭa, tetapi perbedaannya terletak pada hembusan /h/ yang diucapkan.

Penggunaan

Ta latik sebagai lambang bunyi /ʈʰa/ biasanya dipakai saat menulis bahasa non-Bali (misalnya bahasa Sanskerta) ke dalam aksara Bali. Sebab dalam bahasa Sanskerta terdapat fonem /ʈʰ/ sedangkan dalam bahasa Bali tidak.

Ta latik ditulis apabila mengikuti bunyi konsonan tarik-belakang (retrofleks) (contohnya bunyi /ɳ/ dan /ʂ/). Contoh (dalam bahasa Sanskerta): kaṇṭha, niṣṭhha, duṣṭa dll.

Lihat pula

Catatan kaki

  1. 1 2 Surada, hal. 5.
  2. 1 2 Tinggen, hal. 23.
  3. ↑ Tinggen, hal. 7.

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan