| Bagian dari seri tentang |
| Peta dan Kartografi |
|---|
| Jenis peta |
| Desain |
| Peta terkenal |
| Lainnya |
Dalam kartografi, sebuah peta adalah representasi atau abstraksi dari realitas geografis. Peta digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk navigasi, penelitian ilmiah, tata kelola pemerintahan, dan peperangan. Salah satu penggunaan umumnya adalah perencanaan rute, yang memungkinkan pengguna menemukan jalan menuju tujuan mereka. Peta khusus, yang disebut peta navigasi, digunakan untuk navigasi laut (peta bahari) dan penerbangan (peta penerbangan). Para ilmuwan menggunakan peta untuk menyusun data spasial di bidang-bidang seperti geologi, meteorologi, seismologi, dan demografi. Pemerintah menggunakan peta untuk fungsi administratif seperti sensus, daerah pemilihan, pajak properti, pengerahan polisi, dan koordinasi tanggap bencana. Organisasi militer dan keamanan menggunakan peta untuk perencanaan misi, pengawasan, pengelolaan perbatasan, logistik, dan analisis intelijen.
Salah satu peta tertua yang masih terawat berasal dari Kekaisaran Akkadia (di Irak modern) yang diukir pada sebuah tablet tanah liat dan diperkirakan berasal dari tahun 2300 SM. Pada abad ke-5 SM, bangsa Yunani mulai menggambar peta dari dunia yang mereka kenal, mencakup Laut Tengah serta sebagian besar Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Peta merupakan alat penting pada Abad Penjelajahan, saat para pelaut menggunakannya untuk menjelajahi daratan baru. Penerapan kartografi berkembang pesat pada akhir abad ke-17 dengan dikembangkannya peta tematik, yang menggambarkan jenis data tertentu –seperti curah hujan atau kepadatan penduduk –alih-alih berfokus pada fitur geografis seperti sungai, gunung, dan kota. Perluasan jaringan jalan dan sistem angkutan massal yang pesat pada abad ke-20 menciptakan pasar untuk peta produksi massal yang ditujukan bagi masyarakat yang bepergian.
Perkembangan kartografi komputer dan sistem informasi geografis pada pertengahan abad ke-20 memungkinkan penyimpanan data geografis dalam jumlah besar, yang dapat ditampilkan dan dianalisis secara dinamis. Berbeda dengan peta kertas, peta interaktif memungkinkan pengguna untuk memperbesar, menggeser, dan memilih data mana yang ingin dilihat. Data geografis yang digunakan untuk pembuatan peta mencakup citra, peta kertas yang dipindai, pengukuran survei, fitur geografis, dan data medan.
Merancang sebuah peta adalah proses kompleks yang melibatkan pemilihan dan penyusunan elemen grafis untuk membuat peta yang informatif, berguna, dan tidak berantakan. Karena jumlah data geografis yang tersedia sering kali melebihi apa yang dapat ditampilkan secara efektif, perancang peta harus menerapkan sebuah proses generalisasi untuk memutuskan elemen mana yang akan ditampilkan dan mana yang akan diabaikan. Tingkat detail dipengaruhi oleh skala peta, yang dinyatakan sebagai rasio antara jarak pada peta dan jarak yang sesungguhnya di lapangan. Pemilihan proyeksi peta bersifat mendasar, karena setiap proyeksi pasti menimbulkan distorsi yang khas. Koordinat geografis dapat ditampilkan sebagai lintang dan bujur, atau dalam sistem Kartesius (kisi XY). Selain data geografis, peta dapat menyertakan elemen tambahan seperti legenda, batang skala, panah arah utara, atau peta inset.
Definisi dan etimologi
Kata "map" (peta) pertama kali muncul dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1527 M. Kata tersebut berasal dari kata bahasa Latin Akhir mappa ('serbet, kain') yang berakar dari bahasa Latin Klasik. Sebagai alternatif, kata ini mungkin bermula dari bahasa Prancis mappemonde atau bahasa Latin mappa mundi (keduanya berarti 'peta dunia').[1] Sementara itu, kata "peta" dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Sanskerta paṭa (पट) yang berarti 'gambar', 'kain', atau 'layar'.[2] Perkembangan etimologis ini memiliki kemiripan dengan akar kata mappa dalam bahasa Latin, mengingat pada masa lampau kain sering digunakan sebagai media untuk membuat dan menggambar peta.[3]
Makna "peta" bergantung pada konteksnya.[4][a] Di dalam ranah kartografi, definisi awal berfokus pada representasi Bumi yang dicetak di atas kertas, seperti dalam definisi tahun 1938 oleh Erwin Raisz (dalam buku besar pertama mengenai kartografi dalam bahasa Inggris)[b]: "sebuah gambar yang dikonvensionalkan dari pola Bumi seperti yang terlihat dari atas, yang ditambahkan huruf-huruf untuk identifikasi".[5] Kemunculan komputer dan eksplorasi antarplanet pada akhir abad ke-20 mendorong para kartografer untuk mengadopsi definisi yang mencakup media selain kertas dan penggambaran hal-hal selain Bumi, seperti dalam definisi singkat tahun 1976 oleh Arthur H. Robinson: "sebuah representasi grafis dari lingkungan (milieu)".[7] Definisi tahun 1987 oleh John Brian Harley dan David Woodward adalah "representasi grafis yang memfasilitasi pemahaman spasial akan benda, konsep, kondisi, proses, atau peristiwa di dunia manusia".[8] Definisi selanjutnya diperluas untuk mencakup peta sebagai model abstrak, seperti definisi tahun 1992 "sebuah representasi atau abstraksi dari realitas geografis: sebuah alat untuk menyajikan informasi geografis dengan cara yang visual, digital, atau taktil".[9][c]
Di luar ranah kartografi, "peta" digunakan sebagai analogi atau metafora dalam berbagai konteks yang luas.[10] Pada abad ke-19, New English Dictionary (pendahulu Oxford English Dictionary) memasukkan definisi "penjelasan terperinci tentang suatu keadaan".[11] Per tahun 2026, Oxford English Dictionary memuat definisi utamanya (sebuah representasi dari permukaan Bumi) dan juga mencakup "diagram atau kumpulan data yang menunjukkan distribusi spasial dari sesuatu atau posisi relatif dari komponen-komponennya" serta makna kiasan "sebuah konseptualisasi atau representasi mental dari struktur, bentang, atau tata letak atas suatu area pengalaman, bidang keilmuan, atau ideologi".[1] Artikel ini berfokus pada peta kartografis dan tidak mencakup penggunaan secara metaforis atau kiasan.
Penerapan


Peta mendukung berbagai macam fungsi. Penerapan umum peta dalam kehidupan sehari-hari meliputi navigasi dan perencanaan rute: peta berguna untuk menemukan tempat menarik terdekat seperti rumah sakit, pom bensin, hotel, restoran, dan taman.[12] Orang yang merencanakan liburan atau tamasya sering kali mengandalkan peta untuk mengidentifikasi tujuan, menggunakan peta jalan dan peta wisata.[13] Lalu lintas komersial dan rekreasi di udara dan air menggunakan peta (disebut "peta navigasi" dalam konteks ini): lalu lintas udara mengandalkan peta penerbangan, dan lalu lintas air menggunakan peta bahari.[14]
Pasukan militer dan keamanan menggunakan peta untuk perencanaan misi, pengawasan, pengelolaan perbatasan, dan analisis intelijen.[15] Para politisi menggunakan peta untuk mempromosikan agenda politik atau propaganda, baik di dalam suatu negara atau dalam perselisihan internasional.[16] Di ranah komersial, peta digunakan untuk periklanan dan tujuan persuasif lainnya.[17]
Penerapan terkait pemerintahan meliputi sensus, pemilihan umum, administrasi, dan pajak properti.[18] Pemerintah daerah atau regional menggunakan peta untuk perencanaan tata kota, seperti merancang jalan, transportasi umum, pembangunan perumahan, dan ruang terbuka hijau.[19] Perusahaan utilitas publik dan swasta menggunakan peta untuk memelihara sistem distribusi air, listrik, gas, telekomunikasi, dan saluran pembuangan.[20] Layanan darurat, pemadam kebakaran, dan kepolisian menggunakan peta untuk perencanaan evakuasi, pengerahan petugas pemadam kebakaran atau polisi, dan mengoordinasikan bantuan bencana.[21] Peta kadaster adalah alat penting untuk mengelola batas-batas properti riil, yang diperlukan untuk memantau kemajuan konstruksi dan membuat peraturan zonasi.[22] Pemerintah juga dapat menggunakan peta untuk menginformasikan keputusan kebijakan mengenai batas distrik pemilihan, analisis angkatan kerja, perencanaan layanan utilitas, perencanaan layanan sosial dan pendidikan, analisis kemiskinan, analisis pemasaran, risiko banjir, dan pertanian.[23]
Perlindungan lingkungan dan pengelolaannya memanfaatkan peta untuk memantau hutan, habitat satwa liar, perubahan iklim, banjir, kebakaran liar, dan polusi.[24] Rimbawan, peternak, dan petani dapat menggunakan peta untuk mengelola lahan, sumber daya, dan hutan.[25]

Para ilmuwan menggunakan peta untuk mengelola data spasial saat mempelajari subjek seperti geologi, cuaca, gempa bumi, dan persebaran populasi.[27] Peta membantu otoritas kesehatan masyarakat melacak wabah penyakit, dan para ilmuwan memetakan pola genetik dalam populasi.[28] Pendidik sering kali menggunakan peta sebagai alat saat mengajar geografi, sejarah, ilmu lingkungan, dan pemikiran spasial.[29]
Jurnalis sering menggunakan peta dalam liputan mereka untuk membantu audiens memahami konteks geografis dari cerita dan peristiwa.[30] Peta terkadang dianggap sebagai benda yang indah dan ditampilkan sebagai karya seni atau hiasan rumah, atau digabungkan sebagai elemen dari karya seni yang lebih besar.[31]
Peta digital mendukung navigasi otonom dan kesadaran spasial untuk pesawat tak berawak, kapal, mobil, dan robot. Perangkat ini dapat merujuk pada peta digital untuk menentukan posisi mereka (sebuah proses yang disebut "lokalisasi") dan untuk menentukan jalur ke tujuan mereka. Dalam beberapa penerapan, kendaraan tak berawak secara dinamis membuat peta digital dari sekelilingnya dengan menjelajahi lingkungan mereka; proses ini disebut lokalisasi dan pemetaan simultan (SLAM).[26]
Sejarah
Zaman Kuno hingga abad ke-14


Tidak diketahui kapan atau di mana manusia membuat peta pertama. Kenyataan bahwa peta muncul dalam catatan sejarah berbagai kebudayaan kuno menunjukkan bahwa peta telah dibuat sejak awal prasejarah manusia.[34] Salah satu peta tertua yang masih terlestarikan terukir pada lempeng tanah liat yang diperkirakan berasal dari tahun 2300 SM dan ditemukan di Nuzi, di wilayah Kekaisaran Akkadia (sekarang Irak).[35][h] Peta-peta Mesir pada papirus dari sekitar 1300 SM menunjukkan lokasi tambang emas.[37] Sebuah dokumen dari Tiongkok yang bertanggal 1020 SM menjelaskan penggunaan peta untuk keperluan perencanaan kota.[38] Peta-peta Tiongkok awal yang masih terlestarikan mencakup sebuah peta dari abad ke-4 SM yang diukir pada lembaran perunggu besar dan menunjukkan lokasi lima mausoleum,[39] serta sekumpulan peta yang digambar pada sutra dari abad ke-2 SM, yang menunjukkan tingkat kecanggihan lebih tinggi daripada peta-peta sezaman yang berasal dari Eropa.[40]
Sekitar tahun 490 SM, ahli geografi Yunani Hekataios membuat peta tentang dunia yang dikenalnya, yang mencakup Laut Mediterania serta sebagian besar wilayah Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah.[41][i] Salah satu peta awal yang paling berpengaruh adalah peta dunia yang dibuat sekitar tahun 150 M oleh ahli geografi dan ilmuwan Yunani-Romawi Ptolemaios.[32][g] Peta-peta yang dibuat oleh bangsa Romawi –berbeda dengan penekanan bangsa Yunani pada ilmu pengetahuan –digunakan untuk kepentingan politik dan administratif: pada tahun 44 SM Julius Caesar menugaskan pembuatan peta dunia yang dikenal pada saat itu, yang kemudian disusun oleh Agrippa.[44] Bangsa Romawi juga menghasilkan Tabula Peutingeriana, yang menggambarkan sebagian besar jalan utama di wilayah kekaisaran mereka. Seperti banyak peta transportasi modern, peta ini bersifat skematis dan tidak digambar berdasarkan skala.[45][j]
Salah satu kumpulan peta yang terkenal dari Dunia Islam adalah Nuzhat al-Mushtaq ("Kitab Perjalanan yang Menyenangkan ke Negeri-Negeri Jauh")[k] –sebuah atlas yang dibuat oleh ahli geografi Arab Muhammad al-Idrisi pada tahun 1154 atas permintaan raja Norman, Roger II.[33][l] Di Eropa abad pertengahan, sejumlah besar mappae mundi ("peta dunia") dibuat[48] dan –karena Kekristenan mendominasi masyarakat Eropa abad pertengahan –banyak di antaranya memuat tema-tema keagamaan.[49][m] Para sarjana menyebut sebagian mappae mundi sebagai peta T-O karena peta-peta tersebut menggambarkan Bumi dalam bentuk "O", yang memuat tiga benua (Eropa, Asia, dan Afrika) yang dipisahkan oleh perairan dalam bentuk "T".[51][n]
Abad ke-15 hingga ke-19

Peta memainkan peran penting dalam Zaman Penjelajahan.[53] Dalam pelayaran pertamanya pada tahun 1492, Kristoforus Kolumbus membawa peta dunia yang dibuat oleh Paolo dal Pozzo Toscanelli. Peta tersebut tidak mencantumkan Amerika dan sangat meremehkan jarak dari Eropa ke Asia ke arah barat.[54] Pada tahun yang sama, Martin Behaim membuat Erdapfel ("apel bumi") –salah satu globe paling awal.[55]
Pada abad ke-16, ketelitian peta[o] meningkat dengan berkembangnya triangulasi (yang mula-mula dijelaskan oleh Gemma Frisius pada tahun 1533). Metode ini menyempurnakan teknik survei terdahulu dengan menggunakan perangkat seperti meja planar dan teodolit untuk mengukur sudut antara titik-titik penanda secara lebih tepat.[56][p] Pada masa ini, para kartografer mengembangkan kajian tentang proyeksi peta; salah satunya adalah Gerardus Mercator, yang menciptakan proyeksi Mercator pada tahun 1569. Proyeksi ini sangat berguna bagi para navigator karena memungkinkan mereka menggambar garis lurus pada peta menuju tujuan dan mencapainya dengan mengikuti arah kompas yang ditunjukkan.[58] Ketika orang-orang Eropa berhubungan dengan masyarakat pribumi di Amerika Tengah dan Selatan serta Oseania, mereka mendapati bahwa peta telah digunakan untuk navigasi, administrasi, dan perdagangan.[59][q]
Penerapan kartografi meluas pada akhir abad ke-17 dengan ditemukannya peta tematik, yang berfokus pada penggambaran jenis data tertentu –seperti curah hujan atau kepadatan penduduk –sebagai pelengkap (atau pengganti) penggambaran kenampakan geografis utama seperti sungai, pegunungan, dan kota.[60][r] Pada akhir abad ke-18, ketelitian peta meningkat secara drastis berkat penyempurnaan jam yang mampu mempertahankan waktu secara akurat dalam jangka panjang serta tahan terhadap gerakan kapal yang keras dan perubahan suhu berbagai iklim. Kronometer ini memungkinkan penghitungan garis bujur secara akurat di titik mana pun di Bumi. Sebagai contoh, seorang pelaut dapat berlayar ke Pulau Paskah dan menggunakan kronometer (bersama peralatan lain, seperti sekstan) untuk menentukan garis lintang dan garis bujur pulau tersebut secara tepat. Para kartografer kemudian dapat menggunakan posisi-posisi tersebut untuk membuat peta yang akurat.[62]
Kepentingan militer mendorong berbagai inovasi dalam kartografi. Pada akhir abad ke-18, Napoleon membentuk korps insinyur geografi [fr] untuk menghasilkan peta topografis bagi keperluan militer.[63] Kebangkitan nasionalisme pada abad ke-19 diperkuat oleh peta,[64] sebagaimana dicatat oleh sejarawan Prancis Christian Jacob [fr], yang menulis bahwa peta yang berfokus pada negara-negara tertentu merupakan "perekat visual dari rasa identitas nasional".[65]
Abad ke-20 hingga sekarang

Selama Perang Dunia I (PD I), kamera dipasang pada pesawat terbang yang melintas di atas medan pertempuran dan mengambil foto yang kemudian dianalisis untuk keperluan pengintaian.[66] Sebagian foto digunakan untuk memperbarui peta parit dengan skala hingga 1:10.000.[63] Pada awal abad ke-20, peta banyak digunakan untuk tujuan propaganda –baik untuk mendukung klaim teritorial maupun membesar-besarkan ancaman dari pihak yang dianggap sebagai musuh.[67][t]
Perluasan pesat jaringan jalan dan sistem angkutan massal pada abad ke-20 menciptakan pasar bagi peta yang diproduksi secara massal dan ditujukan kepada masyarakat yang bepergian.[69] Peta jalan dan peta transportasi menjadi hal yang umum, termasuk peta London Underground tahun 1933, yang menggunakan desain skematis inovatif dan lebih berguna bagi penumpang daripada tata letak yang akurat secara geografis.[70] Setelah PD I, kartografer sipil menggunakan fotografi udara bersama dengan ilmu baru fotogrametri untuk menghasilkan peta dengan lebih cepat daripada yang memungkinkan melalui survei berbasis darat.[71] Pada pertengahan abad ke-20, kajian kartografi beralih ke landasan yang lebih ketat dan kuantitatif, dengan menekankan hakikat disiplin ini yang pada dasarnya bersifat matematis.[72][u] Kartografi mengalami revolusi pada paruh kedua abad ke-20, ketika komputer dan satelit memungkinkan berkembangnya bidang baru berupa kartografi komputer dan penginderaan jauh.[73] Sistem informasi geografis (SIG) memungkinkan sejumlah besar data geografis ditampilkan secara dinamis pada layar komputer, sehingga pengguna dapat memperbesar, menggeser tampilan, dan memilih data yang ingin ditampilkan secara interaktif.[74]
Desain
Desain peta adalah proses memilih dan menata citra serta simbol grafis untuk menyampaikan informasi geografis secara efektif.[75] Seorang kartografer harus membuat banyak pilihan ketika merancang peta, seperti data apa yang akan disertakan (atau dihilangkan), wilayah cakupan, legenda, orientasi (arah utara), skala, proyeksi, sistem koordinat, simbol, bentuk, warna, label, dan tipografi. Pilihan-pilihan tersebut bergantung pada tujuan peta dan khalayak yang dituju.[76]
Tata letak dan hierarki
Salah satu aspek penting dalam desain peta adalah tata letak, yang mencakup penataan data geografis dan unsur-unsur pelengkap (seperti judul, legenda, skala peta, dan inset).[77] Robinson mendefinisikan tata letak sebagai "proses untuk mencapai keseimbangan yang tepat. Dalam desain yang seimbang, tidak ada unsur yang terlalu terang atau terlalu gelap, terlalu panjang atau terlalu pendek, terlalu kecil atau terlalu besar, berada di tempat yang keliru, atau terlalu dekat dengan tepi."[78]
Kartografer Cynthia Brewer menyatakan bahwa desain peta harus secara visual membedakan unsur-unsur utama dari unsur-unsur yang kurang penting –suatu pertimbangan yang disebut hierarki visual.[79] Unsur yang memiliki prioritas tertinggi dalam hierarki visual adalah judul peta dan fitur-fitur yang berkaitan dengan tujuan utama peta. Unsur dengan prioritas menengah mencakup geografi latar belakang. Unsur dengan prioritas terendah adalah catatan dan informasi tambahan, yang sering ditemukan di bagian tepi peta.[80] Secara visual, unsur-unsur utama seharusnya tampak berada di latar depan, sedangkan unsur yang kurang penting berada di latar belakang –suatu hubungan figur-dasar.[81]
Grafik latar belakang suatu peta disebut peta dasar, dan fungsinya adalah memberikan konteks bagi unsur-unsur yang memiliki prioritas lebih tinggi. Peta dasar dapat mencakup bentang alam, topografi, jaringan transportasi, atau citra.[82]
Bentuk dan garis batas
Peta dapat dibuat dalam berbagai bentuk. Bentuk yang umum adalah persegi panjang, tetapi beberapa peta kutub berbentuk lingkaran.[83] Tepi konten geografis suatu peta dibatasi oleh garis batas; wilayah di luar garis batas tersebut disebut margin.[84] Beberapa peta mencakup sebuah kuadran, yaitu wilayah permukaan Bumi yang dibatasi oleh dua paralel (lingkaran dengan lintang konstan) dan dua meridian (garis dengan bujur konstan).[85] Garis batas (cakupan) suatu peta mungkin tidak menggunakan sistem koordinat yang sama dengan data peta; misalnya, peta topografi USGS menggunakan kuadran lintang/bujur untuk menentukan cakupan, tetapi menggunakan Universal Transverse Mercator (UTM) untuk proyeksi dan koordinat geografis peta.[86] Dalam beberapa peta, garis batas mungkin bukan persegi panjang sempurna atau mungkin tidak memiliki sudut 90 derajat.[87]
- Peta dengan cakupan nonpersegi panjang
- Sebuah proyeksi berjarak sama yang berpusat di Khartoum
- Peta belahan bumi daratan dengan perluasan
- Peta selatan-di-atas Atlantik Selatan tahun 1657 karya Jan Janssonius
Skala

Skala peta adalah nilai numerik yang menunjukkan hubungan antara pengukuran pada peta dan kenyataan yang digambarkannya.[89] Skala peta biasanya dinyatakan sebagai rasio, seperti 1:12.000, yang berarti bahwa setiap sentimeter (cm) pada peta mewakili 12.000 cm (atau 120 m) di permukaan bumi.[89] Skala dapat berguna dalam berbagai konteks. Sebagai contoh, seorang navigator dapat mengukur jarak antara dua titik pada peta, lalu membaginya dengan skala untuk memperoleh perkiraan jarak antara kedua titik tersebut di dunia nyata.[89][y]
Peta dapat diklasifikasikan sebagai "berskala kecil" (resolusi lebih rendah, mencakup wilayah yang luas) atau "berskala besar" (resolusi lebih tinggi, mencakup wilayah yang sempit).[91] Tidak ada batas resmi yang memisahkan skala besar dan skala kecil, meskipun 1:500.000 atau 1:1.000.000 terkadang digunakan sebagai batas pembeda.[91] Dalam beberapa konteks, istilah ketiga –"skala menengah" –dapat digunakan untuk peta dengan skala berkisar antara sekitar 1:250.000 hingga 1:1.000.000.[92]
Karena proyeksi peta menimbulkan distorsi ketika permukaan Bumi diproyeksikan ke bidang datar seperti kertas, skala sebuah peta selalu bervariasi di seluruh bagian peta.[93] Pada peta berskala besar yang mencakup wilayah sempit, variasi tersebut umumnya kecil dan skala sering kali dapat dianggap konstan di seluruh peta.[94] Sebaliknya, pada peta berskala kecil yang mencakup wilayah luas seperti benua atau seluruh Bumi, variasi skala dapat besar sehingga skala sebaiknya diperlakukan hanya sebagai nilai nominal.[94]
Konsep skala berkaitan erat dengan konsep resolusi, yaitu tingkat granularitas atau ketelitian yang digunakan untuk mengukur lokasi.[88][o] Beberapa kartografer mendefinisikan resolusi peta kertas sebagai jarak yang direpresentasikan oleh setengah milimeter pada peta. Sebagai contoh, peta berskala 1:10.000 memiliki resolusi 5 m; sedangkan peta berskala 1:1.000.000 memiliki resolusi 500 m.[88]
Skala peta pada awalnya digunakan dalam konteks peta kertas, yang rasio antara peta dan kenyataan memiliki definisi yang tidak ambigu. Namun, skala juga dapat diterapkan pada basis data peta digital.[95] Karena sebuah basis data tidak memiliki representasi kertas yang definitif, skalanya ditentukan berdasarkan resolusi nilai koordinat fitur dalam basis data tersebut.[96] Sebagai contoh, basis data yang memuat fitur dengan resolusi 5 m dapat dianggap memiliki skala 1:10.000.[88] Proses yang sama digunakan untuk menentukan skala citra raster Bumi: misalnya, citra yang setiap pikselnya mewakili 2 km akan setara dengan skala peta 1:4.000.000.[88]
Generalisasi

Generalisasi adalah proses mengurangi atau menyesuaikan kandungan informasi pada peta agar peta dapat menjalankan tujuan yang dimaksudkan secara lebih efektif.[98] Sifat proses ini bergantung pada jenis peta, skalanya, dan khalayak yang dituju.[98] Prosedur yang dilakukan dalam generalisasi meliputi seleksi, penyederhanaan, pembesaran, agregasi, penghalusan, penghilangan, dan simbolisasi.[98][z]
Proses generalisasi secara fungsional sama baik pada peta yang dirancang secara manual maupun pada peta digital interaktif. Namun, generalisasi pada peta interaktif sebagian dilakukan secara otomatis oleh perangkat lunak.[103][aa] Langkah pertama dalam generalisasi biasanya adalah seleksi, yaitu memilih jenis fitur yang akan dimasukkan ke dalam peta.[104] Bergantung pada tujuan peta, pembuat peta dapat, misalnya, menghilangkan jalan, bangunan, badan air, atau kota dengan jumlah penduduk di bawah 100.000 jiwa.[105]
Penyederhanaan adalah proses menyederhanakan fitur tertentu (seperti sungai, rumpun pepohonan, kelompok bangunan, dan sebagainya) dengan menghilangkan detail.[106] Sebagai contoh, satu rumpun yang terdiri atas delapan pohon yang berbeda dapat digantikan oleh satu simbol pohon; atau pagar yang didefinisikan oleh 20 segmen garis lurus dapat dikurangi menjadi lima segmen.[106][ab] Tingkat penyederhanaan bergantung pada jumlah fitur yang harus ditampilkan pada peta akhir dan seberapa rapat fitur-fitur tersebut harus ditempatkan.[108][ac]
Proses pembesaran melibatkan pembesaran aspek tertentu dari suatu objek agar hakikat objek tersebut di dunia nyata dapat tersampaikan dengan lebih baik.[109] Agregasi adalah pengelompokan beberapa objek yang berbeda menjadi satu. Contohnya adalah mengelompokkan beberapa objek titik menjadi satu; beberapa objek titik menjadi satu objek areal; atau beberapa objek areal menjadi satu objek.[110] Penghalusan suatu garis atau batas melibatkan penggantian garis tersebut dengan versi yang lebih halus yang tetap menangkap esensi garis, sekaligus menghilangkan kenampakan bergerigi dan detail berukuran kecil.[111][ad] Simbolisasi adalah proses memilih representasi grafis untuk mewakili setiap objek di dunia nyata. Pemilihan atribut grafis dari representasi tersebut –termasuk bentuk, warna, ukuran, dan pola –merupakan bagian penting dari proses simbolisasi.[113][ae]
Simbolisasi


Simbolisasi adalah proses memilih tanda-tanda grafis untuk merepresentasikan kenampakan geografis atau data di dunia nyata.[115] Tanda-tanda tersebut dapat berupa beragam bentuk, titik, ikon, grafik, dan indikator visual lainnya. Simbolisasi dapat menunjukkan besaran atau jenis dengan memvariasikan atribut grafis, seperti warna, bentuk, ukuran, dan pola.[115] Makna grafik tersebut sering dijelaskan dalam legenda peta pada peta, atau dalam dokumen yang diterbitkan secara terpisah.[115]
Simbolisasi sangat penting terutama dalam peta tematik, yang pada umumnya menggambarkan jenis atau besaran suatu data tertentu di seluruh wilayah peta. Teknik simbolisasi yang sesuai untuk peta tematik mencakup simbol proporsional,[116] garis dengan nilai konstan (untuk peta isoplet),[117] titik (untuk peta distribusi titik),[118] dan wilayah berwarna (untuk peta koroplet[119] dan peta dasimetrik[120]). Contoh peta yang menggambarkan teknik-teknik tersebut disajikan dalam bagian peta tematik di bawah.
Proses simbolisasi harus dibedakan dari simbol-simbol peta, yaitu ikon grafis, piktogram, atau bentuk yang dirancang untuk menyajikan kenampakan atau data secara ringkas. Simbol hanyalah salah satu kategori unsur grafis yang digunakan dalam simbolisasi.[121] Contoh simbol yang digunakan pada peta antara lain tenda (yang melambangkan lokasi perkemahan), pesawat terbang (bandara), dan huruf "P" (parkir).[122]
Proyeksi

Proyeksi adalah algoritme yang mengubah seluruh atau sebagian permukaan Bumi[ah] menjadi representasi dua dimensi.[124] Terdapat puluhan proyeksi yang dapat dipilih pembuat peta ketika membuat sebuah peta.[125] Semua proyeksi menghasilkan sejumlah distorsi dalam representasinya karena permukaan berbentuk bulat lonjong tidak mungkin dipaksakan menjadi bentuk datar tanpa mengalami robekan atau peregangan.[126]
Beberapa proyeksi mempertahankan karakteristik penting permukaan berbentuk bulat lonjong. Proyeksi setara luas mempertahankan ukuran relatif suatu wilayah.[127] Proyeksi konformal mempertahankan sudut antara garis-garis yang berpotongan dan memberikan kesan bahwa bentuk-bentuk tetap kira-kira sama.[128] Proyeksi berjarak sama mempertahankan jarak antara satu atau dua titik tertentu dan semua titik lainnya.[129] Beberapa proyeksi –yang disebut proyeksi kompromi –berupaya menyeimbangkan beberapa tujuan sekaligus tanpa mencapai salah satunya secara sempurna;[130] contoh yang terkenal adalah proyeksi Robinson.[131] Proyeksi yang umum digunakan untuk peta seluruh Bumi mencakup proyeksi Goode homolosin, Mercator, dan Robinson.[132] Untuk peta yang mencakup sebagian besar permukaan bola dunia (tetapi tidak seluruhnya), proyeksi yang umum digunakan mencakup Lambert azimut dan silinder Miller.[133]
- Beberapa proyeksi Bumi
Salah satu proyeksi yang kontroversial adalah Web Mercator –varian dari proyeksi Mercator standar –yang diadopsi oleh Google sekitar tahun 2005 untuk digunakan dalam peta global daringnya yang dapat diperbesar.[134] Proyeksi ini dikritik oleh European Petroleum Survey Group dan Badan Intelijen-Geospasial Nasional karena distorsinya yang besar pada lintang tinggi, serta ketidakakuratan koordinat ketika tampilan diperbesar.[134][ai]
Sistem koordinat

Ketika sebuah peta menampilkan koordinat tempat dan objek, pembuat peta harus memilih sistem koordinat, yang ditentukan melalui sebuah datum geodetik.[136] Datum geodetik terdiri atas dua bagian yang saling independen: datum vertikal untuk koordinat elevasi (ketinggian), dan datum horizontal untuk posisi horizontal (misalnya, jarak ke utara dan jarak ke timur).[137]
Datum vertikal merupakan permukaan imajiner yang digunakan sebagai acuan untuk mengukur elevasi suatu objek. Datum vertikal dikategorikan menjadi elipsoid atau geoid.[138] Elipsoid, seperti WGS84, adalah sferoid halus imajiner yang secara kasar mendekati permukaan laut rata-rata.[138] Geoid mendekati permukaan laut secara lebih tepat: geoid merupakan bentuk yang akan diambil permukaan lautan dunia jika hanya dipengaruhi oleh gravitasi dan rotasi Bumi, tanpa adanya angin atau pasang surut. Geoid bukanlah sferoid yang halus; geoid memiliki undulasi akibat variasi medan gravitasi Bumi.[138]
Datum horizontal mendefinisikan sistem koordinat untuk lokasi horizontal dan mengabaikan elevasi (ketinggian). Datum horizontal dikategorikan menjadi elipsoid atau terproyeksi.[139] Peta yang mencakup seluruh Bumi sering menggunakan datum horizontal elipsoid yang mengukur lokasi dalam derajat, sebagai lintang dan bujur. Terdapat beberapa datum horizontal elipsoid yang tersedia, termasuk World Geodetic System 84, Datum Eropa 1950, dan Datum Amerika Utara 83.[139]
Jenis datum horizontal lainnya adalah sistem koordinat terproyeksi, yang menggunakan nilai Kartesius XY. Datum ini menentukan lokasi XY dalam meter atau kaki (bukan derajat), sehingga dalam beberapa situasi lebih praktis digunakan daripada datum elipsoid.[140] Salah satu sistem koordinat terproyeksi yang terkenal adalah UTM[135] yang umum digunakan untuk keperluan militer karena merupakan sistem global yang mempertahankan sudut secara akurat dan mengukur lokasi XY dalam meter, yang mungkin lebih praktis daripada derajat.[141] [aj]
Sebagai contoh, lokasi situs arkeologi Augusta Raurica di Swiss dapat direpresentasikan dalam dua sistem koordinat sebagai berikut:
| Datum horizontal |
X atau garis bujur |
Y atau garis lintang |
Jenis datum |
Jenis koordinat |
Satuan | Proyeksi peta |
|---|---|---|---|---|---|---|
| WGS84 | 7.721402° | 47.533860° | Elipsoid | Bola | derajat | Tidak ada |
| UTM zona 32 Utara | 403,767 m | 5,265,285 m | Terproyeksi | Kartesius | meter | Transverse Mercator |
Banyak negara menetapkan datum horizontal yang disesuaikan dengan wilayah negara atau provinsinya.[144][ak] Datum tersebut disebut datum lokal dan biasanya berupa sistem koordinat terproyeksi.[145] Sebagai contoh, Britania menggunakan proyeksi Transverse Mercator untuk Kisi Nasional Ordnance Survey.[146] Sebuah negara dapat memiliki banyak sistem koordinat semacam itu, yang masing-masing disesuaikan untuk provinsi, negara bagian, atau wilayah tertentu. Sebagai contoh, Amerika Serikat menggunakan 125 sistem koordinat yang mencakup seluruh wilayah negara tersebut.[147]
Warna dan pola
Warna memainkan peran penting dalam desain peta: pengguna cenderung lebih menyukai peta yang berwarna-warni, dan penggunaan warna yang tepat dapat membuat peta lebih informatif.[148] Setiap warna dapat dicirikan oleh kombinasi tertentu dari tiga atribut yang saling independen: rona, kecerahan, dan saturasi.[149] Di antara atribut tersebut, rona umumnya digunakan untuk menunjukkan perbedaan penting dalam suatu peta.[150] Kecerahan juga dapat digunakan untuk membedakan fitur-fitur pada peta,[151] terutama untuk mewarnai secara bertahap wilayah-wilayah pada peta kuantitatif.[152]
Para kartografer belum menetapkan standar internasional untuk konvensi warna.[153] Konvensi warna tidak resmi yang digunakan pada beberapa peta adalah sebagai berikut:[154][al]
- Biru: perairan dan sungai
- Hijau: vegetasi atau wilayah berhutan
- Cokelat: garis kontur elevasi
- Cokelat muda atau kuning: gurun atau wilayah kering
- Merah: wilayah perkotaan; jalan utama
- Hitam: tulisan, bangunan, jalur kereta api, batas, garis kisi, jalan kecil atau menengah
- Ungu: grafik yang berkaitan dengan penerbangan (pada peta aeronautika)
Dalam peta, pola adalah motif desain yang berulang dan mengisi suatu wilayah serta menyampaikan informasi kepada pengguna.[155] Pola dapat terdiri atas garis, titik, piktograf, atau arsiran.[156] Sebagai contoh, pola dapat digunakan untuk membedakan bioma seperti rawa, gurun, atau hutan. Persatuan Geografis Internasional menerbitkan seperangkat pola untuk digunakan dalam menunjukkan jenis-jenis tanah, termasuk pola untuk lumpur, lempung, batu pasir, dan kerikil.[157] Warna dan pola dapat digunakan secara bersamaan dalam satu wilayah.[158]
Tipografi dan label

Banyak peta memuat label teks yang mengidentifikasi berbagai fitur. Desain dan tata letak teks merupakan faktor utama dalam kualitas grafis peta secara keseluruhan.[160] Peta sering menggunakan berbagai font dan jenis huruf untuk menyampaikan informasi kepada pengguna. Sebagai contoh, peta dapat menggunakan huruf miring, cetak tebal, atau berbagai ukuran huruf untuk membedakan kenampakan perairan dari kenampakan daratan, atau untuk menunjukkan ukuran suatu kota atau permukiman.[161] Penempatan label teks dengan cara yang informatif sekaligus menarik merupakan bagian penting dari proses desain.[162] Penempatan dapat dilakukan secara manual oleh kartografer atau secara otomatis menggunakan algoritme perangkat lunak.[163] Pedoman penempatan yang terkadang digunakan meliputi:[164][am]
- Teks sebaiknya diselaraskan secara horizontal, meskipun pada peta berukuran besar yang mencakup seluruh Bumi atau wilayah yang luas (peta berskala kecil), teks dapat diselaraskan mengikuti garis lintang.
- Teks pada umumnya sebaiknya ditempatkan dalam garis lurus, bukan melengkung. Pengecualian berlaku ketika teks diselaraskan mengikuti garis lintang pada peta berskala kecil.
- Jarak antarhuruf pada umumnya sebaiknya rapat.
- Ketika teks dan objek grafis (seperti garis) saling bertumpang tindih, teks harus diprioritaskan dan garis grafis harus diputus.
- Suatu nama harus seluruhnya berada di daratan atau di perairan, tetapi tidak boleh melintasi keduanya.
- Label fitur titik harus digeser dari titik fitur secara konsisten, misalnya ditempatkan di atas dan sedikit ke samping fitur tersebut.
Orientasi
Orientasi suatu peta adalah arah mata angin yang mengarah ke bagian atas peta.[165][an] Peta modern pada umumnya menggunakan orientasi utara di atas.[167][ao] Jika suatu peta menggunakan orientasi selain utara (seperti utara magnetis di atas), peta tersebut biasanya dilengkapi penunjuk grafis yang menunjukkan utara sejati.[169] Salah satu peta awal yang diketahui orientasinya adalah lempeng tanah liat dari Kekaisaran Akkadia dengan timur di bagian atas, yang berasal dari sekitar 2300 SM.[170] Orientasi peta-peta Mesir kuno tidak diketahui secara pasti, tetapi beberapa di antaranya mungkin berorientasi dengan selatan di bagian atas.[171] Di Eropa kuno dan abad pertengahan, orientasi bervariasi, dan banyak peta tidak mencantumkan penunjuk orientasi secara eksplisit.[172] Versi awal Tabula Peutingeriana dan Peta Ptolemaios kemungkinan berorientasi dengan utara di bagian atas.[172] Mappa mundi memiliki orientasi ke keempat arah mata angin utama.[173] Banyak peta T-O digambar dengan timur di bagian atas[174] tetapi beberapa menampilkan barat atau selatan di bagian atas.[175]
Contoh peta modern dengan orientasi yang tidak lazim adalah peta berorientasi pariwisata ini mengenai Blue Ridge Parkway, sebuah jalan sepanjang 755 km (469 mi) yang membentang secara diagonal dari barat daya ke timur laut. Bagian atas peta mengarah ke timur laut.[176]
Aksesibilitas
Kartografer dapat mempertimbangkan faktor aksesibilitas ketika merancang peta, terutama untuk mendukung pengguna yang mungkin mengalami gangguan penglihatan atau buta warna.[177] Sebagai contoh, untuk mengakomodasi buta warna merah-hijau, sebuah peta dapat mengikuti pedoman berikut:[178]
- Memanfaatkan variasi kecerahan untuk rona merah-oranye-kuning.
- Menghindari warna kuning-hijau karena pengguna buta warna dapat mengacaukannya dengan warna oranye.
- Ketika menggunakan palet warna untuk menampilkan nilai dalam peta tematik: hindari warna hijau dan batasi warna pada merah, oranye, kuning, dan biru.
Contoh palet warna tematik yang sesuai untuk buta warna merah-hijau adalah palet warna divergen berikut yang dikembangkan oleh Cynthia Brewer:[179]
Untuk pengguna peta dengan gangguan penglihatan, peta taktil dapat dibuat dengan permukaan timbul yang dapat diraba dengan jari oleh penyandang gangguan penglihatan.[180] Peta interaktif dapat menyampaikan informasi melalui umpan balik suara atau getaran ketika pengguna menggerakkan kursor melintasi peta digital.[181]
Elemen pelengkap


Peta sering memuat berbagai elemen atau marginalia yang melengkapi gambaran geografis utama.[183] Skala peta sering dicantumkan pada peta, baik dalam bentuk teks maupun sebagai batang skala grafis. Banyak peta, terutama jika orientasinya bukan utara di atas, menyertakan penunjuk orientasi yang menunjukkan arah utara.[184] Judul ditampilkan pada banyak peta, meskipun beberapa peta tidak memerlukannya dan karenanya tidak mencantumkannya.[185]
Legenda merupakan komponen penting dalam banyak peta karena menyediakan kunci yang diperlukan pengguna untuk memahami peta. Legenda menjelaskan simbol-simbol grafis dan dapat menerangkan asal, konteks, serta makna data tematik pada peta.[186] Beberapa peta memuat peta yang lebih kecil, yang disebut inset. Inset dapat memiliki berbagai fungsi, seperti menunjukkan lokasi peta utama dalam konteks global atau menampilkan peta dengan tingkat detail tinggi untuk lokasi-lokasi penting.[187]
Kartus adalah simbol hias –yang terkadang sangat rumit –yang terdapat pada beberapa peta dan memuat marginalia peta seperti judul atau nama pengarang.[188] Beberapa globe menampilkan analema –garis berbentuk angka delapan –yang menunjukkan lokasi-lokasi di Bumi tempat Matahari berada tepat di atas kepala sepanjang tahun.[189]
Peta pada zaman kuno terkadang menampilkan makhluk seperti ular laut, putri duyung, satyros, siren, manusia berkepala anjing, dan kentaur.[182] Naga terkadang juga dicantumkan, yang kemudian melahirkan ungkapan "di sini ada naga" untuk menandai wilayah yang sangat terpencil atau terra incognita.[190]
Jenis
Peta dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara. Bagian Aplikasi di atas menjelaskan klasifikasi berdasarkan tujuan, termasuk peta geologi, peta jalan, dan peta kadaster. Bagian Desain di atas memuat klasifikasi berdasarkan atribut desain, seperti peta dengan selatan di atas, peta berskala besar, dan peta proyeksi Mercator. Semua klasifikasi lainnya (yaitu yang tidak berkaitan dengan aplikasi atau desain) dibahas dalam bagian ini, termasuk peta tematik, peta topografi, peta interaktif, dan peta topologis.
Topografis
Peta topografi menggambarkan elevasi (ketinggian) permukaan tanah.[191] Ketinggian –yang sering dinyatakan sebagai elevasi di atas permukaan laut –dapat ditampilkan dengan berbagai cara, termasuk garis kontur topografi atau arsiran relief.[193] Banyak peta topografi merupakan peta referensi umum karena –selain elevasi –peta-peta tersebut dapat menampilkan berbagai fitur seperti bangunan, badan air, vegetasi, jalan, kota, dan jalur kereta api.[194] Beberapa badan pemetaan nasional menghasilkan peta topografi wilayah negaranya –termasuk Ordnance Survey Britania dan USGS Amerika Serikat.[195] Beberapa negara menghasilkan dua seri atau lebih peta topografi, masing-masing dengan skala yang berbeda. Misalnya, di Britania, peta topografi dibuat dalam empat skala: 1:1.250 (wilayah perkotaan), 1:2.500 (wilayah perdesaan), 1:10.000 (wilayah pegunungan dan lahan terbuka), serta 1:50.000 (seri dasar).[196]
Peta planimetris –berbeda dengan peta topografi –tidak mencakup informasi elevasi: peta tersebut hanya menyampaikan informasi mengenai lokasi horizontal.[191]
Tematik
Peta tematik berfokus pada penggambaran jenis informasi tertentu dan menempatkan geografi dasar sebagai latar belakang.[197] Contohnya mencakup peta yang menggambarkan data cuaca, kependudukan, dan geologi.[198] Sebaliknya, peta referensi umum menampilkan beragam informasi geografis dasar mengenai suatu wilayah, biasanya dengan berfokus pada kota, jalan raya, jalur kereta api, dan badan air.[198] Banyak peta memiliki karakteristik baik peta tematik maupun peta referensi umum, sehingga kedua jenis peta ini tidak saling eksklusif.[199]
Teknik simbolisasi yang umum digunakan dalam peta tematik meliputi:[200]
- Simbol proporsional –Peta dengan banyak simbol (seperti lingkaran) yang menggambarkan data yang direpresentasikan, dengan luas setiap simbol sebanding dengan nilai data tersebut.[116]
- Garis dengan nilai konstan (peta isoplet) –Garis (biasanya berbentuk loop tertutup) yang mengikuti nilai konstan dari data yang direpresentasikan. Disebut juga "peta isaritmik". Garis kontur elevasi merupakan contoh isoplet.[117]
- Titik (peta distribusi titik) –Data direpresentasikan sebagai titik-titik (biasanya semuanya berukuran sama), dengan setiap titik umumnya mewakili jumlah data yang tetap.[118]
- Wilayah berwarna (peta koroplet) –Peta tematik suatu wilayah yang terdiri atas banyak daerah (misalnya batas administratif), dengan setiap daerah diberi satu warna, sedangkan variasi warna (rona atau kecerahan) menunjukkan nilai data yang direpresentasikan. Peta koroplet sering menggunakan batas wilayah yang secara tegas mengikuti batas pengumpulan data politik atau administratif.[119]
- Wilayah berwarna (peta dasimetrik) –Peta dasimetrik serupa dengan peta koroplet sejauh keduanya merepresentasikan data sebagai wilayah dengan beragam warna.[120] Namun, batas wilayah pada peta dasimetrik didasarkan pada beberapa sumber data, sehingga wilayah yang dihasilkan dapat lebih akurat dan lebih informatif daripada wilayah yang hanya didasarkan pada satu kumpulan data. Selain itu, batas wilayah pada peta dasimetrik biasanya tidak secara tegas mengikuti batas pengumpulan data administratif.[120][av]
Kualitatif

Beberapa peta dapat diklasifikasikan sebagai kualitatif atau kuantitatif. Peta kualitatif (juga disebut peta korokromatik) menggambarkan data nominal, yaitu data yang dapat dikategorikan ke dalam dua atau lebih jenis, tetapi tidak memiliki dasar numerik yang kontinu. Contohnya adalah peta iklim yang membagi suatu wilayah menjadi 15 zona iklim atau peta yang membagi suatu wilayah berdasarkan 20 afiliasi keagamaan.[201] Beberapa otoritas membatasi pembedaan kuantitatif/kualitatif pada peta tematik, tetapi yang lain menerapkannya pada semua peta yang menampilkan data numerik atau statistik.[201]
Kuantitatif

Peta kuantitatif menampilkan besaran suatu data numerik tunggal, seperti tekanan udara, kepadatan penduduk, atau tingkat kemiskinan. Beberapa peta kuantitatif –khususnya peta koroplet –menampilkan data sebagai sekumpulan kelas atau kategori yang berbeda.[202][ax] Sebagai contoh, peta Afrika di samping membagi kepadatan biomassa hutan ke dalam enam kelas dengan batas pada:
- 50 ton
- 100 ton
- 150 ton
- 200 ton
- 250 ton
Pemilihan batas antarkelas secara cermat dapat membuat peta lebih berguna dan informatif.[204] Proses memilih batas antarkelas disebut "klasifikasi".[202] Tersedia berbagai algoritme klasifikasi, termasuk algoritme kuantil dan interval sama.[205][ay] Kartografer George F. Jenks menciptakan algoritme natural breaks, yang menganalisis histogram data dan memilih titik-titik terendah pada histogram sebagai batas antarkelas.[206] Orang dapat mengalami kesulitan dalam membedakan warna jika warna-warna tersebut terlalu mirip, sehingga sebaiknya digunakan paling banyak delapan kelas ketika kelas ditampilkan menggunakan gradien warna sederhana.[207]
Topologi
Peta topologis adalah peta yang menekankan kesederhanaan grafis dan hanya sedikit atau sama sekali tidak berupaya merepresentasikan jarak atau lokasi geografis secara akurat.[208][az] Istilah "topologis" berarti bahwa peta ini mempertahankan topologi dalam pengertian matematis: semua hubungan atau keterkaitan antarobjek tetap dipertahankan meskipun jarak dan posisi didistorsi.[210] Peta topologis terkadang disebut peta "skematis" karena sifat diagramatisnya: representasi grafisnya meningkatkan pemahaman dengan mengorbankan ketepatan geografis.[211][ba]
Salah satu peta skematis awal adalah Tabula Peutingeriana (prototipe abad ke-4[212]) –sebuah itinerarium visual yang membantu pelancong dengan menggambarkan jalan dan kota, tetapi mengabaikan ketepatan geografis.[213] Contoh modern yang terkenal adalah peta resmi London Underground.[214][bb]
Kartogram

Kartogram adalah peta tematik yang menggambarkan suatu nilai data dengan memperbesar atau memperkecil wilayah sehingga luas setiap wilayah sebanding dengan nilai data wilayah tersebut. Kartogram bersifat diagramatis atau skematis dan tidak berusaha menampilkan ukuran atau jarak geografis secara akurat. Kartogram merupakan salah satu jenis peta topologis karena biasanya mempertahankan hubungan posisi (yaitu topologi) antardaerah.[216]
Kartogram dapat bermanfaat ketika wilayah dengan luas geografis yang kecil memiliki nilai data sedang atau besar: pada peta konvensional, wilayah semacam itu mungkin hampir tidak terlihat, tetapi pada kartogram wilayah tersebut menjadi menonjol.[217] Menurut definisi, kepadatan data konstan di seluruh kartogram. Sebagai contoh, kartogram yang menunjukkan jumlah penduduk negara-negara akan memiliki kepadatan penduduk yang sama (jumlah orang per satuan luas pada peta) di semua negara.[218] Pembuatan kartogram yang mempertahankan hubungan posisi antardaerah dapat menjadi proses yang kompleks dan memerlukan algoritme canggih.[219]
Interaktif
Penemuan komputer pada paruh kedua abad ke-20 melahirkan jenis peta baru: peta interaktif yang menampilkan data geografis secara dinamis pada tampilan visual elektronik. Peta ini memungkinkan pengguna melihat dan menjelajahi data dengan berinteraksi langsung dengan peta. Peta interaktif memungkinkan pengguna memilih fitur yang ditampilkan, melihat detail objek individual, memperbesar dan memperkecil tampilan, serta menyesuaikan skala peta.[222] Manipulasi terhadap isi atau tampilan tersebut berbeda dengan interaksi terbatas yang tersedia pada peta kertas.[223] Peta interaktif juga dapat menampilkan Bumi sebagai globe tanpa menerapkan proyeksi peta apa pun.[224] Peta interaktif sering digunakan, terutama pada perangkat seluler, untuk menyediakan layanan berbasis lokasi, seperti memberikan petunjuk navigasi.[225]
Peta foto

Peta foto adalah citra yang telah direferensikan secara geografis dan dilengkapi grafik yang ditumpangkan di atasnya agar dapat digunakan sebagai peta. Citra tersebut dapat terdiri atas beberapa citra individual yang digabungkan menjadi sebuah ortomosaik. Grafik yang ditumpangkan dapat mencakup garis kisi, catatan deskriptif, atau marginalia lainnya.[226]
Ketika suatu citra telah diortorektifikasi untuk menghilangkan distorsi akibat relief medan, citra tersebut disebut ortofoto,[227] dan ketika dilengkapi grafik agar sesuai digunakan sebagai peta, citra tersebut disebut peta ortofoto.[228] Setelah citra diortorektifikasi, dua citra atau lebih dapat digabungkan menjadi ortomosaik yang lebih besar. Ortofoto (atau ortomosaik) dapat digunakan sebagai latar belakang (peta dasar) suatu peta.[229]
Ekstraterestrial

Peta planet, satelit alami, asteroid, dan inti komet telah dibuat oleh para astronom sejak penemuan teleskop.[230] Peta ekstraterestrial awal dibuat untuk objek yang relatif besar jika diamati melalui teleskop, seperti Merkurius, Mars, dan Bulan.[231] Peta Bulan memainkan peran penting dalam perlombaan antariksa pada 1960-an dan 1970-an, termasuk dalam program Apollo, yang mendaratkan manusia pertama di Bulan.[232] Beberapa objek ekstraterestrial –seperti Matahari dan planet gas seperti Jupiter –tidak memiliki permukaan padat. Meskipun demikian, objek-objek tersebut telah dipetakan untuk menggambarkan penampilannya pada waktu-waktu tertentu.[231] Beberapa asteroid dan inti komet memiliki bentuk yang sangat tidak beraturan sehingga proyeksi peta konvensional (yang dirancang untuk objek sferoid) tidak memadai. Pemetaan objek-objek tersebut memerlukan penciptaan proyeksi peta baru.[233]
Diklasifikasikan berdasarkan media
Peta dapat diklasifikasikan berdasarkan media yang digunakan untuk menyajikannya. Hingga abad ke-21, sebagian besar peta dicetak sebagai lembaran kertas individual.[234] Sebuah atlas adalah kumpulan peta yang dijilid menjadi sebuah buku.[235] Globe merupakan representasi tiga dimensi dari Bumi, Bulan, atau benda langit lainnya.[236] Peta juga dapat dibuat sebagai model relief timbul fisik tiga dimensi. Model tersebut menggambarkan topografi dan dapat dibuat dari vinil, gipsum, atau papier-mâché.[237] Dengan berkembangnya teknologi digital, peta semakin banyak tersedia dalam format elektronik. Peta digital disimpan sebagai data komputer dan biasanya ditampilkan pada perangkat tampilan visual elektronik seperti monitor komputer atau telepon pintar. Peta tersebut dapat menggambarkan Bumi dalam representasi dua dimensi atau sebagai globe tiga dimensi.[238]
- Globe Babson berdiameter 8,5 meter.[239]
- Peta relief timbul yang terbuat dari plastik[237]
Data kartografis
Untuk membuat peta baru, seorang kartografer harus memperoleh data geografis dan menyusunnya.[240] Data geografis yang digunakan untuk pembuatan peta meliputi:[241]
- Citra atau foto dari pesawat terbang atau satelit[bd]
- Citra yang telah dikoreksi
- Peta yang sudah ada
- Data survei
- Fitur geografis (bangunan, jalan, jalur kereta api, kenampakan perairan, dan sebagainya)
- Data medan (elevasi)
- Informasi lain-lain (catatan, metadata, akurasi, dan sebagainya)
Seorang kartografer dapat menemukan sebagian data yang diperlukan dalam basis data yang sudah ada. Sebagai alternatif, pembuat peta mungkin perlu memperoleh data baru dengan mengumpulkan citra, menemukan dan mendigitalkan peta kertas yang sudah ada, atau mengekstrak data fitur atau medan dari citra atau peta yang tersedia.[245]
Data kartografis dapat digunakan –selain untuk membuat peta baru –untuk memperbarui peta yang sudah ada. Sebagai contoh, citra satelit terbaru dapat ditumpangkan pada peta yang sudah ada dan seorang kartografer dapat menentukan secara visual apakah ada jalan atau bangunan yang perlu ditambahkan atau diubah.[246]
Basis data kartografis
Kartografer menyimpan data kartografis dalam basis data. Basis data yang dikhususkan untuk menyimpan data yang sesuai bagi pembuatan peta disebut basis data kartografis.[95] Jenis basis data lain yang memuat data kartografis adalah sistem informasi geografis (SIG): sistem komputer yang menyimpan dan menganalisis data geografis.[247][be] SIG dapat memuat beragam data untuk mendukung berbagai aplikasi, termasuk kartografi, properti, teknik, arsitektur, perencanaan kota, perlindungan lingkungan, transportasi, dan logistik.[250]
Georeferensi

Data kartografis harus diberi georeferensi sebelum dapat ditampilkan pada peta.[252] Data disebut memiliki georeferensi ketika tersedia informasi yang memungkinkan perhitungan lokasi geografis tempat-tempat yang direpresentasikan dalam data tersebut.[253][bf] Beberapa data dapat telah memiliki georeferensi sejak pertama kali dikumpulkan, seperti data survei, atau citra yang dikumpulkan oleh wahana yang dilengkapi navigasi satelit dan unit pengukuran inersia.[255][bg] Ketika sebuah peta menggabungkan data dari berbagai sumber, data tersebut mungkin tidak memiliki georeferensi dengan sistem koordinat, satuan, atau skala yang sama. Dalam keadaan demikian, pembuat peta harus mengonversi data ke dalam sistem referensi yang sama.[256]
Untuk menggunakan data yang belum memiliki georeferensi, tersedia beberapa teknik. Jika data memuat kenampakan atau objek yang dapat diidentifikasi, georeferensi dapat dilakukan dengan mencocokkan kenampakan tersebut dengan lokasi yang bersesuaian pada peta atau citra yang telah memiliki georeferensi.[251] Data dapat diberi georeferensi dengan mengirimkan tim survei untuk mendatangi lokasi di dunia nyata dan memperoleh lokasi geografis objek-objek yang direpresentasikan dalam data secara presisi.[257] Citra dan foto udara dapat diberi georeferensi melalui prosedur fotogrametri seperti rektifikasi citra.[258]
Citra dan penginderaan jauh


Salah satu sumber penting data kartografis adalah citra yang dikumpulkan melalui penginderaan jauh, termasuk citra satelit dan foto udara yang diambil dari kamera yang dipasang pada pesawat terbang atau drone.[259][bd] Penginderaan jauh mengumpulkan data dari berbagai sinyal: spektrum elektromagnetik (cahaya tampak, ultraviolet, inframerah, gelombang mikro); serta pantulan lidar, sonar, atau radar.[260] Beberapa citra memuat beberapa pita spektral. Citra multispektral atau hiperspektral ini dapat dimanfaatkan oleh algoritme untuk mengekstraksi informasi mengenai kondisi di permukaan Bumi yang tidak dapat diperoleh hanya dari satu pita spektral.[261] Penerapan penginderaan jauh jauh melampaui kartografi dan mencakup deteksi perubahan,[262] kehutanan,[263] pertanian,[264] usaha tani,[265] analisis vegetasi,[266] geologi dan ilmu kebumian,[267] serta hidrologi.[268]
Sebelum citra dapat digunakan untuk pembuatan peta, citra tersebut harus diberi georeferensi menggunakan prinsip-prinsip fotogrametri.[269] Salah satu cara untuk memberi georeferensi pada citra adalah dengan menemukan beberapa titik kecil yang dapat diidentifikasi dalam citra (seperti persimpangan jalan atau kenampakan kecil) yang diketahui lokasi geografisnya, baik melalui survei tradisional maupun pengukuran navigasi satelit, atau melalui peta atau ortofoto yang telah memiliki georeferensi.[270]
Dengan syarat citra telah diberi georeferensi dengan benar, citra tersebut dapat digunakan untuk mengekstrak nilai koordinat geografis yang presisi bagi objek apa pun yang dapat diidentifikasi di dalam citra.[271][bh] Sebagai contoh, seorang kartografer dapat mengekstrak lokasi medan dan data fitur (seperti sungai, jalan, dan bangunan) untuk disimpan dalam basis data.[272]
Citra yang dikoreksi
Banyak citra yang digunakan dalam kartografi menjalani tahap pemrosesan tambahan yang disebut ortorektifikasi, yang memerlukan data medan digital yang akurat dan mencakup wilayah tersebut.[273] Proses ortorektifikasi mendistorsikan citra secara geometris untuk menghilangkan distorsi yang berkaitan dengan medan dan pemendekan perspektif yang disebabkan oleh kemiringan kamera (seperti ditunjukkan pada diagram di samping). Ortofoto mendekati apa yang akan dilihat oleh pengamat imajiner jika ia berada tepat di atas objek dan memandang lurus ke bawah.[273] Posisi fitur-fitur dalam ortofoto benar secara geografis,[bi] dan ortofoto dapat digunakan sebagai peta dasar latar belakang dalam suatu peta, atau sebagai peta itu sendiri, yang disebut "ortofotomap".[275]
Jika citra memuat bangunan, ortorektifikasi dapat menghasilkan ortofoto yang membuat bangunan tampak miring atau condong.[274] Jika hal tersebut tidak dapat diterima untuk suatu peta, pembuat peta dapat menghasilkan "ortofoto sejati" yang mengoreksi bangunan dan struktur lainnya sehingga tampak seolah-olah pengamat memandang lurus ke bawah dari tepat di atasnya.[274] Untuk mengoreksi struktur, struktur tersebut harus dimodelkan baik di dalam basis data medan maupun secara terpisah dari medan sebagai model rangka kawat 3D.[274][bj]
Pencarian dan pengindeksan

Data kartografis secara kasar dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori: spasial, temporal, dan atribut (yang mencakup semua informasi lain mengenai fitur atau medan, termasuk metadata).[277] Bergantung pada sifat peta yang akan dibuat, seorang kartografer dapat membatasi pencarian data pada satu atau beberapa kategori tersebut. Sebagai contoh, pembuat peta dapat melakukan kueri terhadap basis data untuk mencari data jalur kereta api yang mencakup Sri Lanka pada tahun 1990, termasuk gauge rel setiap segmen jalur kereta api.[277]
Selama proses desain peta, kartografer harus menemukan data yang relevan dalam basis data. Basis data mendukung kebutuhan tersebut dengan indeks, yang menyediakan fungsi pengambilan, pencarian, dan pengurutan. Indeks untuk mencari dan mengurutkan data geografis (yaitu data spasial) memerlukan teknologi komputer khusus karena data spasial tidak dapat dibandingkan dengan cara yang sama seperti data numerik atau tekstual sederhana.[276]
Data raster dan vektor
Data kartografis yang memodelkan dunia nyata sering disimpan dalam format raster atau format vektor.[278] Citra umumnya disimpan dalam format raster. Fitur linear atau areal (seperti jalan, batas, atau garis luar bangunan) biasanya disimpan sebagai data vektor.[279] Data medan umumnya disimpan dalam format raster, meskipun juga dapat disimpan sebagai jaringan segitiga tidak beraturan.[280] Data medan, dengan sendirinya, dapat digunakan kartografer untuk memperoleh informasi geografis penting seperti garis kontur elevasi, daerah aliran sungai, garis pandang, punggung pemisah air, cakupan pandang, volume cekungan yang terisi, dan aliran air.[281]
Untuk melakukan jenis analisis tertentu, data diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.[282] Tersedia algoritme perangkat lunak yang secara otomatis mendeteksi garis, tepi, dan batas dalam citra serta menghasilkan data vektor yang secara kasar menggambarkan jalan, bangunan, dan objek linear atau areal lainnya.[283]
Hubungan spasial antara objek-objek yang berdekatan dapat disimpan secara eksplisit bersama data vektor objek tersebut dalam basis data. Data topologi geospasial ini dapat mengodekan apakah dua fitur saling tumpang tindih, salah satunya berada di dalam yang lain, keduanya berbagi garis batas, atau keduanya saling terhubung, serta hubungan hierarkis seperti segmen jalan mana yang membentuk suatu ruas jalan tertentu.[284][bk][bl]
Atribut dan metadata
Ketika menyimpan data geografis dalam basis data kartografis, atribut atau metadata dapat bermanfaat bagi pembuat peta. Atribut mencakup tahun ketika data geografis dikumpulkan, nomor identifikasi, datum geodetik, perkiraan kesalahan, asal atau sumber data, serta berbagai catatan lainnya. Atribut dapat digunakan, misalnya, untuk menyediakan anotasi pada peta atau catatan dalam legenda peta.[286]
Akurasi
Terminologi

Akurasi dan presisi memiliki makna yang berbeda dalam kartografi: akurasi merupakan perkiraan kesalahan antara lokasi sebenarnya suatu objek dan lokasi yang ditampilkan pada peta. Presisi[bm] adalah tingkat granularitas (atau resolusi) nilai lokasi pada peta, terlepas dari kedekatannya dengan lokasi sebenarnya. Beberapa kartografer menetapkan bahwa presisi sebuah peta adalah jarak di dunia nyata yang direpresentasikan oleh setengah milimeter (pada peta kertas) atau setengah piksel (pada citra raster).[287]
Istilah yang berkaitan adalah "ukuran yang dapat dideteksi", yaitu lebar fitur terkecil yang dapat dibedakan pada peta, yang umumnya dianggap dua kali presisi. Aturan Tobler menyatakan bahwa ukuran yang dapat dideteksi (dalam meter) dikalikan 1000 sama dengan skala peta.[287]
Perkiraan akurasi
Untuk beberapa aplikasi kartografis (misalnya penentuan sasaran militer), perkiraan akurasi spasial sangat penting.[288][o] Besarnya kesalahan kumulatif dapat meningkat setiap kali data geografis diproses, dimanipulasi, atau dikonversi (misalnya dari satu sistem koordinat ke sistem lainnya).[289] Salah satu sumber ketidakakuratan pada peta adalah berlalunya waktu: suatu peta mungkin akurat ketika dibuat, tetapi seiring berjalannya tahun, bangunan baru dapat didirikan, bangunan lama dibongkar, dan rute jalan diubah.[290]
Idealnya, akurasi data dan fitur pada peta disampaikan kepada pengguna, misalnya melalui legenda peta.[291] Tidak ada standar internasional yang menentukan seberapa akurat suatu peta harus dibuat. Beberapa negara mengatur peta yang diproduksi oleh lembaga pemerintah mereka sendiri untuk menjamin akurasi, konsistensi, dan kesesuaian.[292] Pada tahun 1947, pemerintah Amerika Serikat menetapkan standar bahwa kesalahan horizontal 95% titik sampel harus kurang dari 0,85 mm (diukur pada peta) untuk peta kertas berskala 1:20.000 atau lebih besar.[293] Pada tahun 1998, Amerika Serikat mengubah pedoman tersebut dengan menghapus nilai kesalahan maksimum dan sebagai gantinya menetapkan bahwa kartografer harus memperkirakan nilai kesalahan (dengan algoritme yang ditentukan) dan menyertakan perkiraan kesalahan tersebut bersama peta.[294][bn][bo]
Peta interaktif dapat memungkinkan pengguna memperbarui atau menambahkan data geografis bersama sebagai bentuk crowdsourcing.[296] Kartografer yang menggunakan data hasil crowdsourcing mungkin perlu menilai akurasinya untuk memastikan bahwa data tersebut memenuhi persyaratan kualitas.[297]
Publikasi dan distribusi
Tahap akhir dalam produksi peta meliputi publikasi dan distribusi. Untuk peta kertas, diperlukan fasilitas percetakan untuk menghasilkan salinannya.[298] Untuk peta digital, kartografer harus mempertimbangkan perangkat yang digunakan pengguna untuk melihat peta, khususnya ukuran layarnya, resolusi layar, dan jarak pandang. Faktor-faktor ini harus diperhatikan sejak tahap awal proses desain peta.[299] Beragam platform tersedia untuk menyebarluaskan peta digital, termasuk situs web, unduhan berkas, dan basis data peta daring.[300] Platform distribusi dapat menentukan apakah sejumlah besar data dapat dimasukkan ke dalam satu peta (yang mungkin dilakukan jika platform mendukung penyaringan data); atau apakah beberapa produk peta harus diterbitkan secara terpisah (satu untuk setiap jenis data).[301] Penerbit dapat memilih untuk menyimpan data peta pada servernya sendiri atau menggunakan server komersial.[302] Ketika peta didistribusikan sebagai berkas yang dapat diunduh, pemilihan format berkas menjadi penting karena setiap format memiliki karakteristik yang berbeda. Format raster mencakup TIFF, PNG, dan JPEG. Format vektor mencakup SVG, PDF, Shapefile, dan AI.[303][bp] Sebelum publikasi, kebijakan hak cipta dan lisensi harus ditetapkan dan didokumentasikan.[305] Penafian hukum (terkait kemungkinan kesalahan dalam data kartografis) mungkin diperlukan jika terdapat pertimbangan tanggung jawab hukum.[305] Publisitas, periklanan, dan kegiatan penjangkauan dapat memperluas jangkauan khalayak.[306]
Profesi dan regulasi
Para kartografer telah membentuk sejumlah asosiasi profesional yang mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan terkait peta melalui konferensi dan jurnal. Salah satu organisasi terkemuka adalah Asosiasi Kartografi Internasional, yang menerbitkan International Journal of Cartography dan The Cartographic Journal.[307] Organisasi lainnya mencakup Perhimpunan Internasional untuk Fotogrametri dan Penginderaan Jauh, Persatuan Geografis Internasional, National Geographic Society, dan Royal Geographical Society.[308] Asosiasi Kartografi Kanada menerbitkan jurnal Cartographica: The International Journal for Geographic Information and Geovisualization.[309]
Selain organisasi-organisasi tersebut, sebagian besar negara memiliki badan pemerintah yang bertanggung jawab memproduksi peta, seperti Geoscience Australia dan Otoritas Informasi Geospasial Jepang.[310] Standar produksi untuk peta navigasi dikoordinasikan oleh Organisasi Hidrografi Internasional (peta laut) dan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (peta aeronautika).[311]
Masyarakat dan budaya
Bias dan disinformasi


Semua peta merupakan representasi realitas yang bersifat selektif dan tidak dapat menggambarkannya dengan ketepatan sempurna. Oleh karena itu, setiap peta mengandung tingkat ketidakakuratan, distorsi, atau penghilangan tertentu.[314] Dalam beberapa kasus, ketidakakuratan ini sengaja diperkenalkan; dalam kasus lain, hal tersebut merupakan konsekuensi inheren dari kenyataan bahwa peta menyederhanakan dan menyimbolkan realitas.[315] Situasi ketika pembuat peta sengaja menyesatkan khalayak mencakup periklanan, perencanaan pembangunan, kampanye disinformasi militer, dan propaganda politik.[316] Contoh misinformasi yang sengaja dimasukkan ke dalam peta adalah jebakan hak cipta, yaitu objek atau tempat fiktif yang secara tidak mencolok disisipkan pembuat peta ke dalam peta untuk mendeteksi salinan yang tidak sah.[317] Para ahli geografi J.B. Harley dan Mark Monmonier berpendapat bahwa semua peta harus dipandang secara kritis karena mencerminkan pilihan editorial dan pilihan isi yang dibuat oleh penciptanya.[314]
Beberapa proyeksi peta dapat secara signifikan menyalahgambarkan ukuran relatif negara-negara, terutama pada peta dunia.[318] Pada 1970-an, sejarawan Arno Peters menyatakan bahwa penggunaan proyeksi Mercator secara luas merupakan "imperialisme kartografis", karena proyeksi tersebut menampilkan negara-negara Eropa secara relatif lebih besar dibandingkan negara-negara berkembang –terutama di Afrika –yang terletak lebih dekat dengan khatulistiwa. Peters mengajukan proyeksi Gall-Peters –sebuah proyeksi setara luas –sebagai alternatif yang lebih berkeadilan.[313][bq]
Sumber bias Eurocentris potensial lainnya adalah orientasi utara di atas yang digunakan oleh sebagian besar peta.[320] Politikus Guyana Shridath Ramphal menyerukan kepada para ahli geografi untuk memerangi semua bias yang tersirat dalam peta, terutama yang berkaitan dengan orientasi utara di atas dan implikasi bahwa negara-negara di belahan utara lebih unggul.[321] Tokoh Australia Stuart McArthur membuat peta dunia dengan selatan di atas pada tahun 1979 yang menempatkan Australia pada posisi yang menonjol. Peta tersebut diberi judul "McArthur's Universal Corrective Map of the World".[322]
Sengketa batas
Peta dapat berperan dalam sengketa batas antarnegara. Negara-negara dapat menggunakan peta selama perundingan sebagai alat untuk mendukung klaim mereka.[323] Persoalan mengenai lokasi garis batas yang ditampilkan pada peta daring, seperti Google Maps, telah mendorong negara-negara yang terlibat untuk menginstruksikan penyedia data agar menampilkan garis batas tertentu.[324] Google Maps menanggapi tuntutan tersebut dengan menyimpan dua versi batas yang disengketakan dan memilih versi yang akan ditampilkan berdasarkan lokasi pihak yang mengajukan permintaan.[324] Contoh sengketa batas yang telah mendorong negara-negara untuk menginstruksikan penyedia peta agar menampilkan garis batas tertentu antara lain: Rusia dan Ukraina,[325] India dan Tiongkok,[326] Pakistan dan India,[327] Turki dan wilayah budaya Kurdistan,[328] Kamboja dan Thailand,[324] serta sengketa batas maritim Vietnam dan Tiongkok di Laut Cina Selatan.[324]
Gerrymandering

Peta dapat digunakan untuk memengaruhi hasil pemilu dengan menetapkan batas daerah pemilihan sedemikian rupa sehingga menguntungkan hasil tertentu. Pada umumnya, kelompok politik yang berkuasa membuat peta daerah pemilihan yang dirancang untuk mempertahankan kekuasaannya dengan mengurangi keterwakilan kelompok lain. Proses ini disebut gerrymandering.[329] Gerrymandering merupakan contoh dari masalah unit areal yang dapat dimodifikasi yang lebih luas, yaitu keadaan ketika perubahan batas wilayah geografis dapat mengubah hasil statistik.[330] Pembuatan aplikasi perangkat lunak –bersamaan dengan basis data geografis yang menunjukkan bagaimana individu kemungkinan akan memilih –telah mengotomatiskan proses gerrymandering dan memungkinkan bahkan kelompok minoritas menetapkan garis batas yang memberi mereka keterwakilan mayoritas dalam badan legislatif.[331]
Peta fantasi

Beberapa peta menggambarkan wilayah atau dunia imajiner. Contohnya antara lain peta Pulau Harta Karun dalam novel tahun 1883 karya Robert Louis Stevenson, Negeri Oz dalam seri buku The Wizard of Oz (1900 hingga 1920) karya L. Frank Baum, dan Bumi Tengah dalam Penguasa Cincin (1937 hingga 1949) karya J. R. R. Tolkien.[332] Sebuah survei terhadap 200 buku pada tahun 2013 dalam genre fantasi menemukan bahwa 34% di antaranya memuat peta.[333]
Orientering
Orientering adalah kelompok olahraga yang para pesertanya menggunakan peta dan kompas untuk bernavigasi dari satu titik ke titik lainnya di medan yang tidak dikenal secepat mungkin. Dalam perlombaan orientering jalan kaki resmi, peserta diberikan peta orientering yang telah dipersiapkan secara khusus, biasanya berupa peta topografi, yang digunakan untuk menemukan titik kontrol.[334]
Referensi
Catatan kaki
- ↑ Kartografer John H. Andrews menghitung ada lebih dari 320 definisi "peta" pada tahun 1996.[5]
- ↑ Definisi Raisz ada di dalam bukunya General Cartography.[6]
- ↑ Definisi tahun 1989 adalah: "sebuah representasi holistik dan abstraksi intelektual dari realitas geografis, yang dimaksudkan untuk dikomunikasikan demi suatu atau beberapa tujuan, mengubah data geografis yang relevan menjadi produk akhir yang bersifat visual, digital, atau taktil".[9]
- ↑ Diterbitkan oleh Administrasi Penerbangan Federal AS. Data dari tahun 2026.
- ↑ Diterbitkan oleh Departemen Sejarah Akademi Militer Amerika Serikat.
- ↑ Gambar ini dari Fernando (2026), p. 67589.
- 1 2 Menurut klasis Oswald A. W. Dilke, "Pengaruh luar biasa Ptolemaios terhadap perkembangan kartografi Eropa, Arab, dan pada akhirnya kartografi dunia hampir tidak dapat disangkal. Melalui kedua karyanya, Syntaxis Mathematica ... dan Geographia ..., dapat dikatakan bahwa Ptolemaios mendominasi astronomi dan geografi –dan dengan demikian representasi kartografinya –selama lebih dari empat belas abad."[43]
- ↑ Peta juga ditemukan pada lempeng tanah liat Babilonia yang berasal dari rentang 2000 hingga 600 SM, termasuk sebuah peta yang mungkin dapat dianggap sebagai peta pertama yang menggambarkan dunia yang dikenal oleh suatu kebudayaan.[36]
- ↑ Ahli kartografi Yunani yang lebih awal adalah Anaximandros (ca 610–ca 546 SM), yang mungkin merupakan orang pertama yang membuat peta dunia dan juga membuat sebuah globe.[42]
- ↑ Tanggal pasti Tabula Peutingeriana tidak diketahui, tetapi peta ini mungkin dibuat sekitar tahun 350 M.[46]
- ↑ Judul lengkap dalam bahasa Arab adalah Nuzhat al-mushtāq fī ikhtirāq al-āfāq.[47]
- ↑ Muhammad al-Idrisi berasal dari Dinasti Al-Murabithun, yang wilayahnya kini merupakan Maroko. Harley & Woodward 1992, hlm. 156
- ↑ Salah satu bentuk penekanan keagamaan tersebut adalah penempatan Yerusalem di pusat banyak peta ini.[50]
- ↑ Meskipun bentuk melingkar peta T-O mungkin memberi kesan bahwa para pembuatnya menganggap Bumi berbentuk datar, banyak sarjana abad pertengahan –termasuk salah satu pendukung desain T-O, Isidorus dari Sevilla –mengetahui bahwa Bumi berbentuk bulat.[52]
- 1 2 3 4 5 Akurasi dan presisi memiliki makna yang berbeda dalam kartografi: akurasi merupakan perkiraan kesalahan antara lokasi yang ditampilkan pada peta dan lokasi sebenarnya. Presisi adalah granularitas nilai lokasi pada peta (tanpa memperhatikan nilai sebenarnya). Sebagai contoh, presisi dapat didefinisikan sebagai jarak di dunia nyata yang direpresentasikan oleh setengah milimeter pada peta kertas, atau setengah piksel pada citra raster. Istilah yang berkaitan adalah "ukuran yang dapat dideteksi", yaitu lebar objek terkecil yang dapat dibedakan pada peta, yang umumnya dianggap dua kali presisi. Aturan Tobler menyatakan bahwa ukuran yang dapat dideteksi (dalam meter) dikalikan 1000 sama dengan skala peta.[287]
- ↑ Kata bahasa Inggris "geometry" berasal dari kata Yunani geōmetria ("mengukur bumi"), dari geō ("bumi") + metron ("mengukur").[57]
- ↑ Masyarakat Kepulauan Marshall menggunakan peta batang Kepulauan Marshall untuk melakukan navigasi di lautan.[59]
- ↑ Peta cuaca tematik awal dibuat oleh Edmund Halley sekitar tahun 1686.[61]
- ↑ Data peta berasal dari tahun 2013 dan diterbitkan oleh Institut Geografis Nasional (Spanyol).
- ↑ Penggunaan peta untuk tujuan propaganda terkadang disebut "kartografi persuasif" atau "propaganda kartografis".[68]
- ↑ Para ahli geografi William Bunge dan William Warntz merupakan tokoh terkemuka dalam upaya menekankan hakikat matematis geografi dan kartografi.[72]
- ↑ Peta ini merupakan revisi tahun 1973 atas peta tahun 1956 yang diterbitkan oleh USGS.
- ↑ Skala peta ini bervariasi di seluruh bagian peta. Dalam arah utara–selatan, peta ini berukuran sekitar 4.000 piksel dan mencakup 8.000 km, sehingga memiliki resolusi 2 km per piksel, yang setara dengan skala peta sekitar 1:4.000.000,[88] meskipun nilai tersebut bergantung pada cara peta ditampilkan dan faktor-faktor lainnya. Semua nilai merupakan perkiraan.
- ↑ Diagram ini diterbitkan oleh Badan Pemetaan Pertahanan.
- ↑ Skala peta pada umumnya menunjukkan rasio jarak antara objek, bukan rasio luas objek. Beberapa peta mendefinisikan nilai "skala luas" untuk menghubungkan luas pada peta dengan luas di dunia nyata.[90]
- ↑ Proses generalisasi yang disebutkan oleh berbagai pakar kartografi (urutan tidak menunjukkan tingkat kepentingan):
- Robinson 1995 –Seleksi, klasifikasi, penyederhanaan, pembesaran, dan induksi.[99]
- Field 2018 –Seleksi, penggabungan, pembesaran, perpindahan, penyempurnaan, penyederhanaan, agregasi, tipifikasi, penghalusan, peningkatan, penggabungan menjadi satu, dan peleburan.[100]
- Monmonier 2018 –Penyederhanaan, penghalusan, agregasi, penggabungan, penyatuan menjadi satu, peleburan, penyempurnaan, pembesaran, dan perpindahan.[101]
- Slocum 2009 –Penyederhanaan, penghalusan, agregasi, penggabungan, penyatuan menjadi satu, peleburan, penyempurnaan, pembesaran, peningkatan, dan perpindahan.[102]
- ↑ Beberapa peta interaktif memungkinkan pengguna memilih atau menyaring data yang divisualisasikan, yang merupakan salah satu bentuk generalisasi.
- ↑ Salah satu algoritme yang melakukan penyederhanaan pada sebuah garis adalah algoritme Ramer–Douglas–Peucker.[107]
- ↑ Sebuah aturan praktis untuk penyederhanaan adalah:
n
c
=
n
s
∗
s
c
/
s
s
{\displaystyle nc={ns*{\sqrt {sc/ss}}}}
dengan nc adalah jumlah objek pada peta yang dihasilkan; ns adalah jumlah objek dalam data sumber (yang mencakup wilayah yang sama; sumber tersebut dapat berupa peta atau basis data); sc adalah skala peta yang dihasilkan; dan ss adalah skala data sumber.[108]
- ↑ Penghilangan merupakan proses yang serupa dengan penghalusan: penghilangan menyederhanakan garis atau batas dengan menghapus sejumlah titik sudut dari garis tersebut.[112]
- ↑ Dalam kartografi, "simbolisasi" –yang merupakan sebuah proses untuk membuat setiap jenis tanda grafis pada peta –tidak boleh disamakan dengan "simbol", yaitu ikon, piktogram, atau bentuk grafis yang dirancang untuk menyajikan data kualitatif dan kuantitatif secara ringkas.[114]
- ↑ Ini merupakan bagian dari peta yang lebih besar yang diterbitkan oleh Layanan Taman Nasional Amerika Serikat.
- ↑ Ikon-ikon ini diterbitkan oleh Layanan Taman Nasional Amerika Serikat.
- ↑ Atau permukaan benda apa pun yang dipetakan, seperti Bulan.
- ↑ Badan pemetaan pemerintah AS NGA tidak menyetujui penggunaan proyeksi Web Mercator, dengan menyatakan: "NGA tidak mendukung maupun merekomendasikan proyeksi peta Web Mercator berbasis bola (serta penamaan variannya seperti WGS 84 Web Mercator) untuk memperoleh, memvisualisasikan, mengeksploitasi, dan mempertukarkan data GEOINT apa pun untuk NSG."[134]
- 1 2 Varian UTM yang digunakan oleh NATO adalah Military Grid Reference System (MGRS), yang memperluas UTM hingga mencakup wilayah kutub.[142]
- ↑ Datum lokal biasanya ditetapkan oleh badan pemetaan nasional.
- ↑ Konvensi warna tidak resmi ini berlaku untuk peta referensi umum yang berfokus pada jalan, sungai, kota, dan kenampakan geografis dasar lainnya. Konvensi warna ini tidak berlaku untuk peta tematik yang menggunakan pengodean warna untuk menunjukkan nilai data numerik.
- ↑ Tidak ada pedoman resmi dan terstandardisasi mengenai penempatan label. Pedoman yang dicantumkan di sini merupakan contoh yang digunakan oleh berbagai kartografer.
- ↑ Kata "orientasi" berasal dari kepercayaan masyarakat primitif bahwa arah timur merupakan dasar pengaturan ruang.[166]
- ↑ Tidak semua peta memiliki orientasi yang terdefinisi dengan jelas. Sebagai contoh, banyak proyeksi konik dan proyeksi azimut polar memiliki garis meridian yang tidak sejajar, sehingga arah mata angin yang menunjukkan "atas" berbeda-beda di seluruh peta.[168]
- ↑ Peta ini diterbitkan oleh Geoscience Australia pada tahun 2007.
- ↑ Ini merupakan detail dari peta yang lebih besar. Interval antara garis kontur adalah 20 kaki (6,1 m). Warna yang digunakan pada gambar: cokelat untuk garis kontur, bangunan berupa persegi panjang hitam, hutan sebagai wilayah berwarna hijau, dan sungai berwarna biru. Peta diterbitkan oleh USGS.
- ↑ Luas lingkaran sebanding dengan PDB masing-masing negara.
- ↑ Peta ini menggambarkan tingkat kematian COVID-19 pada tahun 2021 di Provinsi Cuzco, Peru.
- ↑ Peta menunjukkan deklinasi magnetis (penyimpangan dari utara sejati) pada tahun 2000. Interval antargaris adalah 10 derajat. Peta diterbitkan oleh USGS berdasarkan data dari makalah ini.
- ↑ Peta kepadatan penduduk untuk dua kelompok etnis di AS: merah (Hispanik), biru (Kulit hitam). Setiap titik mewakili 1.000 orang. Data berasal dari sensus AS tahun 2010.
- ↑ Contoh proses pembuatan peta dasimetrik dari beberapa kumpulan data ditunjukkan dalam gambar ini.
- ↑ Ini merupakan detail dari peta yang diterbitkan oleh Our World in Data berdasarkan data tahun 2020 dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- ↑ Tidak semua peta kuantitatif membagi data ke dalam kelas: "peta koroplet tanpa kelas" menampilkan gradasi warna kontinu, dengan nilai warna sebanding dengan nilai data numerik.[203]
- ↑ Algoritme interval sama menempatkan batas kelas secara ketat dengan jarak yang sama, misalnya usia 0–10, 11–20, 21–30, dan seterusnya. Biasanya, jumlah sampel data dalam setiap kelas akan berbeda. Algoritme kuantil membentuk kelas yang masing-masing memiliki kira-kira jumlah sampel data yang sama; batas antarkelas biasanya tidak berjarak sama. Sebagai contoh, kelasnya dapat berupa usia 0–15, 16–22, dan 23–45, yang masing-masing berisi 2.000 orang.[205]
- ↑ Peta topologis tidak terbatas pada bidang kartografi; peta ini juga umum digunakan dalam robotika.[209]
- ↑ Istilah "peta topologis" dan "peta skematis" sama-sama digunakan dalam bidang kartografi, dengan makna yang kurang lebih sama. Istilah "skematis" merujuk pada peta dalam Robinson 1995 hlm. 534; Monmonier 2015 hlm. 252, 1622; dan dalam Kent & Vujakovic 2017 hlm. 450–460. Istilah "topologis" merujuk pada peta dalam Monmonier 2015 hlm. 790. Robinson 1995 tidak menggunakan istilah "peta topologis" (tetapi membahas sifat-sifat topologis data). Monmonier 2015 juga menggunakan istilah "semiteopologis" untuk menunjukkan bahwa terdapat upaya tertentu untuk mempertahankan ketepatan geografis.
- ↑ Peta London Underground karya Beck tahun 1933 oleh sebagian kalangan dianggap sebagai mahakarya desain modernis.[215]
- ↑ Data penduduk berasal dari tahun 2020. Sumber data adalah Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.
- 1 2 Dalam kartografi, kata "citra", "foto", dan "fotografi" dapat digunakan secara bergantian untuk merujuk pada citra apa pun dari Bumi, dalam pita spektral apa pun, yang diambil oleh kamera, pemindai, atau perangkat penginderaan apa pun, yang dipasang pada platform apa pun (pesawat terbang, drone, atau satelit).[242] Beberapa penggunaan lama kata "foto" atau "fotografi" terbatas pada citra berbasis film, dan istilah "foto udara" terkadang berarti citra yang diperoleh dari kamera yang dipasang pada pesawat terbang.[243] Sensor dapat dikategorikan sebagai pasif (citra dari radiasi EM seperti cahaya tampak, inframerah, ultraviolet, dan sebagainya) atau aktif (sensor memancarkan sinyal dan mengumpulkan pantulannya, seperti radar, sonar, dan lidar).[244] Kata "citra" terkadang hanya digunakan untuk data yang dikumpulkan dari sensor pasif, tetapi istilah "penginderaan jauh" atau "citra penginderaan jauh" dapat mencakup sensor pasif maupun aktif.[244]
- ↑ Robinson, pada tahun 1995, membedakan basis data kartografis dari basis data SIG dengan membatasi basis data kartografis pada data yang diperoleh melalui digitalisasi peta kertas dan data analog lainnya. Dalam pengertian tersebut, basis data SIG berisi lokasi geografis yang sebenarnya, sedangkan basis data kartografis berisi lokasi yang mungkin telah mengalami proses generalisasi. Dengan demikian, menurut Robinson, dalam basis data kartografis beberapa fitur dapat memiliki lokasi yang tidak akurat karena kartografer yang membuat peta asli memindahkan fitur-fitur tersebut dari lokasi sebenarnya (yang lebih akurat) untuk mencapai tujuan desain peta tertentu.[248] Data yang telah mengalami proses generalisasi paling baik ditampilkan pada skala antara 0,5 hingga 2,0 kali skala yang disarankan oleh resolusi data tersebut.[249]
- ↑ Istilah "georeferensi metrik" terkadang digunakan untuk data yang dikaitkan dengan posisi geografis, untuk membedakannya dari bentuk penentuan lokasi yang lebih longgar, seperti kode pos atau alamat jalan.[254]
- ↑ Istilah "georeferensi langsung" berarti bahwa georeferensi dilakukan ketika data tersebut pertama kali dikumpulkan.[255]
- ↑ Untuk menentukan lokasi tiga dimensi suatu fitur dalam citra, diperlukan dua citra yang saling bertumpang tindih (dari dua sudut pandang) . Jika hanya satu citra yang tersedia, posisi hanya dapat ditentukan berdasarkan dua derajat kebebasan.[271]
- ↑ Akurasi ortofoto bergantung pada akurasi data medan yang digunakan serta akurasi lokasi dan orientasi kamera.
- ↑ Beberapa basis data medan –yang disebut Model elevasi digital (DEM) atau model permukaan digital (DSM) –melewati di bawah bangunan, pada tingkat permukaan tanah. Basis data medan lainnya melewati di atas atap bangunan dan menganggap bangunan sebagai bagian dari medan. Model rangka kawat 3D bangunan atau struktur disebut "model bangunan digital" (DBM).[274]
- ↑ Hubungan topologis antara data dalam basis data kartografis tidak boleh disamakan dengan peta topologis.
- ↑ Data vektor yang disimpan tanpa hubungan topologis terkadang secara bernada merendahkan disebut "data spaghetti".[285]
- ↑ Presisi terkadang disebut resolusi.
- ↑ Spesifikasi Amerika Serikat tahun 1947 adalah National Map Accuracy Standard. Spesifikasi tahun 1998 adalah National Standard for Spatial Data Accuracy.[293]
- ↑ Ahli geografi Paul Longley mengemukakan sebuah aturan praktis bahwa kesalahan posisi horizontal kira-kira sama dengan presisi suatu peta.[295]
- ↑ Transparansi mungkin diperlukan untuk beberapa desain peta dan, jika demikian, pemilihan format yang mendukung transparansi menjadi penting.[304]
- ↑ Proyeksi yang disukai Peters, proyeksi Gall-Peters, tidak dianggap berguna oleh sebagian kartografer karena menggambarkan Afrika (dan wilayah lainnya) terlalu sempit. Kampanye Peters untuk beralih dari proyeksi Mercator sebagian berhasil, dan organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai menggunakan proyeksi alternatif.[319]
- ↑ Ini merupakan detail dari ilustrasi yang digambar oleh Robert Louis Stevenson untuk edisi tahun 1883 novelnya Pulau Harta Karun.
Kutipan
- 1 2 "Map", Oxford English Dictionary.
- ↑ Jones, Russell (2007). Loan-Words in Indonesian and Malay. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-90-6718-304-8.
- ↑ Gonda, Jan (1973). Sanskrit in Indonesia (Edisi 2nd). New Delhi: International Academy of Indian Culture.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 798-800,806-808, § "Map".
- 1 2 Monmonier 2015, hlm. 799, § "Definitions of Map".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 798,801, § "Definitions of Map".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 800. Definition quoted here.
- Robinson 1976, hlm. 16. Definition originally published here.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 799. Definition quoted here.
- Harley & Woodward 1987, hlm. xvi. Definition originally published here.
- 1 2 Monmonier 2015, hlm. 800.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 806-808.
- Harley & Woodward 1987, hlm. 1.
- Robinson 1976, hlm. 13.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 806-808.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 551-558, 659-662, 1739-1741, §§ "Global Positioning System", "Interactive Map", "Web-Based Wayfinding".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 35-40, 878-883, 1250-1253, 1339-1365, 1368-1371, 1620- 1639, 1704-1741, §§ "Airline Map", "Michelin", "Recreational Map", "Road Mapping", "Route Map", "Travel, Tourism, and Place Marketing", "Wayfinding and Travel Maps".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 22-30, 818-854, 1009-1019, §§ "Aeronautical Chart", "Marine Chart", "Marine Charting", "Navigation".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 239-245, 884-951, 951-977, 1696- 1700, 1770-1775, 1775-1779, §§ "Cold War", "Military Mapping by Major Powers", "Military Mapping of Geographic Areas", "Warfare and Cartography", "World War I", "World War II".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 251-255, 539-548, 1766-1770, §§ "Colonial and Imperial Cartography", "Geopolitics and Cartography", "World Revolution and Cartography".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 18-22, 1087- 1094, 1162-1165, §§ "Advertising, maps as", "Persuasive Cartography", "Political Cartoons, Maps as".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 16-18, 207-212, 349-355, 1484-1488, §§ "Administrative Cartography", "Census Mapping", "Electoral Map", "Tax Map".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 751-753, 1057-1062, 1649-1654, §§ "Land Use Map", "Planning, Urban and Regional", "Urban Mapping".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 424-425, § "Facilities Map".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 288-290, 389-392, §§ "Crime Map", "Emergency Planning".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 143-176, 183-189, 1194-1219, 1219-1227, §§ "Boundary Surveying ", "Cadastral Map", "Cadastral Surveying", "Property Mapping", "Property Mapping Practices".
- Brewer 2016, hlm. 30.
- ↑ "Handbook", United Nations, hlm. 2-3.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 393-397, § "Environmental Protection".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 433-437, § "Forestry and Cartography".
- 1 2
- Nahavandi 2025, §§ 5.1 "Map-based Navigation", C "Mobile Robot Platforms", C.1 "Ground Vehicles", C.2 "Unmanned Aerial Vehicles", C.3 "Underwater Vehicles", H. "SLAM". Broad overview of autonomous navigation for unmanned vehicles and robots.
- Cadena 2016, hlm. 1-2, 6,8, 11-12, 18. Robotics.
- Fernando 2026, hlm. 67583-67584, 67586, 67589-67590, 67603-67604. Robotics.
- Remolina 2002, hlm. 1-3, 12-13, 43. Topological maps used for autonomous navigation.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 227-232, 526- 529, 529-539, 872-877, 1023-1030, 1389-1394, §§ "Climate Map", "Geologic Map", "Geophysics and Cartography ", "Meteorology and Cartography", "Oceanography and Cartography", "Scientific Discovery and Cartography".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 403-407, 445-448, §§ "Epidemiological Map", "Genetics and Cartography".
- "Handbook", United Nations, hlm. 2-3.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 340-349, § "Education and Cartography".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 706-717, § "Journalistic Cartography".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 78-83, 309-310, §§ "Art and Cartography", "Decoration, Maps as".
- Robinson 1995, hlm. 528-529, 532-534. Perspective pictorial maps.
- 1 2
- Harley & Woodward 1987, hlm. 177-190, § "The Culmination of Greek Cartography in Ptolemy". Influence described on p. 177.
- Wilford 2000, hlm. 29-39.
- 1 2
- Harley & Woodward 1992, hlm. 156-170. Translation of title on p. 156.
- Riffenburgh 2015, hlm. 18-21.
- ↑
- Harley & Woodward 1987, hlm. 1.
- Wilford 2000, hlm. 6.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 8.
- Riffenburgh 2015, hlm. 8.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 8-11.
- Riffenburgh 2015, hlm. 8.
- ↑ Wilford 2000, hlm. 9.
- ↑ Wilford 2000, hlm. 7.
- ↑
- Harley & Woodward 1994, hlm. 37.
- Wilford 2000, hlm. 7.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 7-8.
- Harley & Woodward 1994, hlm. 40-46.
- Riffenburgh 2015, hlm. 16.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 11-12.
- Harley & Woodward 1987, hlm. 134-135, § "Foundations of Theoretical Cartography in Archaic and Classical Greece".
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 132-136, § "Foundations of Theoretical Cartography in Archaic and Classical Greece".
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 177, § "The Culmination of Greek Cartography in Ptolemy".
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 55-57.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 57-59.
- Harley & Woodward 1987, hlm. 238-242.
- Riffenburgh 2015, hlm. 16-17.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 238.
- ↑ Harley & Woodward 1992, hlm. 156.
- ↑
- Harley & Woodward 1987, hlm. 286-370. Overview of mappamundi on pp. 286–291, 299–304, 318–323.
- Wilford 2000, hlm. 54-56.
- Riffenburgh 2015, hlm. 22-31.
- ↑
- Harley & Woodward 1987, hlm. 286, 299, 315, 319, 326, 330-335, 340.
- Riffenburgh 2015, hlm. 22.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 341-342.
- ↑
- Harley & Woodward 1987, hlm. 295-298, 301-303, 330-334, 343-346.
- Riffenburgh 2015, hlm. 22.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 342.
- ↑
- Woodward 2007, hlm. 19-24.
- Wilford 2000, hlm. 67,87.
- Riffenburgh 2015, hlm. 46-47.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 77-78.
- Riffenburgh 2015, hlm. 38-39.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 70-72.
- Riffenburgh 2015, hlm. 38-39.
- ↑
- Edney & Pedley 2019, hlm. 675-676, 679, 682-685, 1522-1524, §§ "Instruments for Angle Measuring", "Triangulation Surveying". Plane table pp. 675–676. Theodolite pp. 682–685.
- Riffenburgh 2015, hlm. 70-71.
- ↑ "Geometry", Merriam Webster.
- ↑
- Woodward 2007, hlm. 365-381. Proyeksi Mercator dibahas pada hlm. 377–381.
- Crone 1978, hlm. 76-79.
- Wilford 2000, hlm. 87-93, 96-104.
- Riffenburgh 2015, hlm. 47,51-53.
- 1 2
- Wilford 2000, hlm. 6.
- Riffenburgh 2015, hlm. 17.
- ↑
- Edney & Pedley 2019, hlm. 1354-1365, §§ "Thematic Map", "Thematic Mapping". Climate (p. 1354). Geology (p. 1355).
- Wilford 2000, hlm. 411-417.
- Riffenburgh 2015, hlm. 134-135.
- ↑
- Edney & Pedley 2019, hlm. 1354-1355.
- Wilford 2000, hlm. 411-414.
- ↑
- Wilford 2000, hlm. 155-162.
- Riffenburgh 2015, hlm. 72-73.
- 1 2 Riffenburgh 2015, hlm. 138.
- ↑
- Edney & Pedley 2019, hlm. 1022-1027. § "Nationalism and Cartography".
- Wilford 2000, hlm. 47-51.
- Riffenburgh 2015, hlm. 64-69.
- ↑ Edney & Pedley 2019, hlm. 1023. This quote originated in Jacob's 2006 book The Sovereign Map: Theoretical Approaches in Cartography throughout History.
- ↑ Wilford 2000, hlm. 271-274.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 1087-1095. § "Persuasive Cartography".
- Riffenburgh 2015, hlm. 138-141.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1087-1091, § "Persuasive Cartography".
- ↑ Riffenburgh 2015, hlm. 142-147.
- ↑ Riffenburgh 2015, hlm. 143.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 1117-1118. § "Photogrammetric Mapping".
- Wilford 2000, hlm. 271-274.
- 1 2 Monmonier 2015, hlm. 867-869, § "Mathematics and Cartography".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 1273-1281, § "Remote Sensing".
- Wilford 2000, hlm. 279-283, 332-335, 388-394.
- Riffenburgh 2015, hlm. 148-151.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 488-491, 659-662. §§ "Geographic Information System", "Interactive Map".
- Wilford 2000, hlm. 416-423.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 316-319.
- Brewer 2016, hlm. 1-3.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Map Design".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 316-329. Overview pp. 316–318. Purpose, audience pp. 330–331.
- Brewer 2016, hlm. 1-5.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 1-18.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Layout".
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 311-317.
- Robinson 1995, hlm. 316-319, 324-328, 332-338.
- Anthamatten 2021, hlm. 62-84.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 334.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 1-6. Three layers of visual hierarchy.
- Robinson 1995, hlm. 324-328, 380-381, 398-400. Figure/ground and visual hierarchy.
- ↑ Brewer 2016, hlm. 1-3.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 2.
- Robinson 1995, hlm. 324-328, 380-381, 398-400.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 21-30, 35-37, 50-51, 78.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Basemap".
- ↑
- Snyder 1987, hlm. 145-147,155-156,164-166, 182-183, 194-195. Examples of circular maps, many of which are polar.
- Monmonier 2015, hlm. 63-70.
- ↑
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ "Border", "Line, neat", "Margin".
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Map Extent", "Map Marginalia", "Neatline".
- ↑ "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Quadrangle".
- ↑ "US Topo", USGS.
- ↑
- "GIS Dictionary", Esri, § "Neatline".
- 1 2 3 4 5
- Robinson 1995, hlm. 247-249, Table 14.1. Converting to map scale: "Resolution/Precision" 2,000x multiplier. "Detection/Accuracy" 1,000x multiplier.
- Field 2018, hlm. 404-405, Table "Imagery Resolution". Converting to map scale: "Raster Resolution (m)" 2,000x multiplier. "Detectable Size (m)" 1,000x multiplier.[o]
- Raposo 2010, § 1.3 "Scale and Resolution". Detectable size.
- See also Waldo_R._Tobler#Spatial_Resolution.
- 1 2 3
- Robinson 1995, hlm. 92-95.
- Brewer 2016, hlm. 37-41.
- Field 2018, hlm. 404-405.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 92-93.
- 1 2
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Small scale", "Large scale", "Medium scale". Partition around 1:500,000 to 1:1,000,000.
- Robinson 1995, hlm. 12. Partition around 1:50,000 to 1:500,000.
- ↑
- "GIS Dictionary", Esri, § "Medium Scale". 1:250,000 to 1:1,000,000.
- Robinson 1995, hlm. 427. Medium scale 1:75,000 to 1:1,000,000.
- ↑ Longley 2005, hlm. 76.
- 1 2
- Anthamatten 2021, hlm. 41-43.
- Robinson 1995, hlm. 61-63,92-93.
- 1 2 Robinson 1995, hlm. 249-253.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 249-252.
- ↑ Slocum 2009, hlm. 102.
- 1 2 3
- Robinson 1995, hlm. 450-471. Definition of classification pp. 450–452.
- Field 2018, hlm. 184-185.
- Slocum 2009, hlm. 97-104.
- Monmonier 2018, hlm. 371-375, § "Electronic Map Generalization".
- ↑ Robinson 1995, hlm. 450-471.
- ↑ Field 2018, hlm. 185.
- ↑ Monmonier 2018, hlm. 373, § "Electronic Map Generalization".
- ↑ Slocum 2009, hlm. 101-104.
- ↑ Monmonier 2018, hlm. 371-375, § "Electronic Map Generalization".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 450.
- Field 2018, hlm. 184.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 450.
- 1 2
- Robinson 1995, hlm. 453-454.
- Monmonier 2018, hlm. 373, § "Electronic Map Generalization".
- ↑ Chang 2019, hlm. 143.
- 1 2 Robinson 1995, hlm. 453-454,456.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 454-457.
- Monmonier 2018, hlm. 373, § "Electronic Map Generalization".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 461-462.
- Monmonier 2018, hlm. 373, § "Electronic Map Generalization".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 467-469.
- Field 2018, hlm. 436-437.
- Monmonier 2018, hlm. 373, § "Electronic Map Generalization".
- ↑ Robinson 1995, hlm. 463-467.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 457.
- Field 2018, hlm. 456-457.
- ↑ Field 2018, hlm. 456-459.
- 1 2 3 4
- Robinson 1995, hlm. 475-525. Overview pp. 475–478. Legend pp. 479-481. Points pp. 478–482. Lines pp. 483–488. Areas pp. 484–486.
- Slocum 2009, hlm. 76-95. Overview pp. 76–84.
- Brewer 2016, hlm. 179-204. Uses term "customizing symbols" instead of "symbolization". Points pp. 180–186. Lines and areas pp. 187–193.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Symbolization", "Visual Variable".
- 1 2
- Robinson 1995, hlm. 485-490, 495-497.
- Slocum 2009, hlm. 76, 85, 88-91, 302-317.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Circle, proportional".
- 1 2
- Robinson 1995, hlm. 506, 508, 511-515.
- Slocum 2009, hlm. 76, 79, 85, 89-91, 281-300.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ "Isopleth", "Contour", "Contour Line", "Mapping, Isoplethic".
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Contour Line", "Isoline", "Isopleth".
- 1 2
- Robinson 1995, hlm. 494, 497-502.
- Slocum 2009, hlm. 76,79, 90-91, 318-325.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Dot Map".
- "GIS Dictionary", Esri, § "Dot Density Map".
- 1 2
- Robinson 1995, hlm. 497,516-519.
- Slocum 2009, hlm. 69, 71, 76, 85-91, 251-274.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Map, Choroplethic".
- 1 2 3
- Robinson 1995, hlm. 494, 496, 515-519, 523-525, 536-537.
- Slocum 2009, hlm. 91, 271-280.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Map, Dasymetric".
- "GIS Dictionary", Esri, § "Dasymetric Mapping".
- ↑
- Field 2018, hlm. 456-459.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Symbol".
- ↑
- Field 2018, hlm. 456-459.
- "Map Symbols", National Park Service.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 63-68.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 60-62.
- Anthamatten 2021, hlm. 85,91-97.
- ↑
- Snyder 1987, hlm. v-vi, 377-383.
- Robinson 1995, hlm. 74-88.
- Brewer 2016, hlm. 16-20.
- Chang 2019, hlm. 31-33.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 60-68.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 78-79.
- Field 2018, hlm. 370-371.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 74-75.
- Field 2018, hlm. 370-371.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 66,82-87.
- Field 2018, hlm. 370-371.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 69-74.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 85-86. Phrase "compromise projection"
- Anthamatten 2021, hlm. 108.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1172-1174, § "World Map Projections".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1182-1184, § "Regional Map Projections".
- 1 2 3
- Stefanakis 2017. Identifies specific critics.
- Battersby 2014, hlm. 85-87, 93-99.
- "Web Mercator", National Geospatial-Intelligence Agency. Identifies specific flaws.
- 1 2
- Chang 2019, hlm. 6, 25. Defines "projected coordinate system".
- Monmonier 2015, hlm. 278-284, § "Coordinate Systems".
- ↑
- "GIS Dictionary", Esri, § "Geodetic Datum".
- Monmonier 2015, hlm. 278-279, § "Coordinate Systems".
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 187-200.
- Anthamatten 2021, hlm. 85-91.
- ↑
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Geodetic Datum", "Horizontal Geodetic Datum ", "Vertical Geodetic Datum".
- Chang 2019, hlm. 6, 25.
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 187-200.
- Anthamatten 2021, hlm. 85-91.
- "Vertical Datum Transformation", NOAA.
- 1 2 3
- "Vertical Datum Transformation", NOAA, §§ "Geoid", "Vertical Datum".
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ "Datum, Sea Level", "Geoid", "Geoid, Marine".
- "Vertical Datum Transformation", NOAA.
- 1 2
- "GIS Dictionary", Esri, § "Horizontal Geodetic Datum ".
- "Vertical Datum Transformation", NOAA.
- Chang 2019, hlm. 23-27.
- ↑
- Chang 2019, hlm. 6, 25. Defines "projected coordinate system".
- Monmonier 2015, hlm. 278-284, § "Coordinate Systems".
- Longley 2005, hlm. 117-120.
- Chang 2019, hlm. 33-37.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 279, 1188, §§ "Coordinate Systems", "Projections Used for Military Grids".
- Longley 2005, hlm. 120-121.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 281-283, § "Coordinate Systems".
- ↑ Gautschy 2023.
- ↑
- "GIS Dictionary", Esri, § "local datum".
- Chang 2019, hlm. 6-36.
- Monmonier 2015, hlm. 278-284, § "Coordinate Systems".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 279-281, § "Coordinate Systems".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1034, § "Ordnance Survey".
- ↑
- "GIS Dictionary", Esri, § "local datum".
- Chang 2019, hlm. 34-36.
- Monmonier 2015, hlm. 279-281, § "Coordinate Systems".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 381.
- Brewer 2016, hlm. 151-158.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 343-345.
- Brewer 2016, hlm. 130-137.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 381-383.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 382-383, 385-397.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 387-396.
- Brewer 2016, hlm. 152-159.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 382-383.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 383.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 321-323, 381, 383-385.
- Brewer 2016, hlm. 189-194.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 384.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 491.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 381.
- ↑ Reinhardt 1919, hlm. 19-20, Plate II.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 404.
- Brewer 2016, hlm. 104-108.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 90-93, 109-115.
- Robinson 1995, hlm. 406-411.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 416-421.
- Brewer 2016, hlm. 116-128.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 106-107, 118.
- Robinson 1995, hlm. 419-421.
- Monmonier 2018, hlm. 375-378, 505, §§ "Electronic Map Labeling", "Geographic Information Systems".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 416-418.
- Brewer 2016, hlm. 116-127.
- Monmonier 2015, hlm. 375-378, § "Electronic Map Labeling".
- ↑
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Orientation". Also defines other meanings of the word within cartography.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Orientation (1)".
- Robinson 1995, hlm. 337.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 336.
- ↑ Williams 2016.
- ↑ Hazel 1965.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 337.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 113-114, § "Babylonian Small-Scale Maps".
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 123.
- 1 2 Harley & Woodward 1987, hlm. 276.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 208, 227, 244, 276, 296, 316, 336-337,343-7,444, 475.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 337, 343, 345, 347, 353.
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 337,343-344, 354.
- ↑ "Blue Ridge Parkway Map", National Park Service.
- ↑
- Jenny 2007. Color blindness.
- Brewer 2016, hlm. 169-173. Color blindness.
- Ducasse 2022. Visual impairment.
- Cole 2021. Visual impairment.
- ↑
- Jenny 2007, hlm. 66.
- Brewer 2016, hlm. 169-173.
- ↑ Brewer 2016, hlm. 172.
- ↑ Ducasse 2022, § II.1 "Digital Interactive Maps (DIMs)".
- ↑
- Ducasse 2022, §§ II.1 "Digital Interactive Maps (DIMs)", III.1.1 "Map content", III.2.2 "Interactive maps and spatial cognition".
- Cole 2021, hlm. 837-838, 843.
- 1 2
- Harley & Woodward 1987, hlm. 307,316,330-334, § "Marvels and Legends".
- Van Duzer 2014, hlm. 8-11, 14-26, 38-39, 42, 45.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 53-63.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Map Marginalia", "Map Element".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 337.
- Brewer 2016, hlm. 64.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 335-336.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 336.
- Brewer 2016, hlm. 48-52.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 336-337.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Map Marginalia", "Overview Map", "Inset Map".
- ↑ Edney & Pedley 2019, hlm. 244-251, § "Cartouche".
- ↑ Robinson 1995, hlm. 54.
- ↑
- Harley & Woodward 1987, hlm. 52-53, 189, 194, 197-199, 253.
- Van Duzer 2014, hlm. 42-43, 53, 60, 103, 131 (note 152).
- 1 2 3
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ "Map, Topographic", "Map, Planimetric".
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Planimetric map", "Topographic Map".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 528-529, 532-534. Perspective pictorial maps.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Oblique-perspective Map".
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 22-26. Contour lines.
- Monmonier 2015, hlm. 1267-1271, § "Relief Shading".
- Robinson 1995, hlm. 544-547. Shaded relief.
- Slocum 2009, hlm. 371, 376-379. Shaded relief.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 13.
- ↑
- Kent 2009, hlm. 132.
- Robinson 1995, hlm. 13, 16.
- ↑ Kent 2009, hlm. 132.
- ↑
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Map, Thematic".
- "GIS Dictionary", Esri, § "Thematic Map".
- 1 2
- Robinson 1995, hlm. 13-14.
- Field 2018, hlm. 466-467.
- Slocum 2009, hlm. 2-12.
- Monmonier 2018, hlm. 1500-1501, § "Thematic Mapping".
- "Handbook", United Nations, hlm. 85-90.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 15.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 494-525. List of types on p. 494. Dots pp. 497–498. Contour/isarithmic lines pp. 505–510. Colored areas (choroplethc/dasymetric) pp. 515–523.
- Slocum 2009, hlm. 76-95. Overview pp. 76–84.
- 1 2
- Field 2018, hlm. 466. Categorizes thematic maps as quantitative or qualitative.
- Buckley 2013, hlm. 54-56. Any map that displays numerical or statistical data may be quantitative or qualitative.
- Kraak 2003, hlm. 116, 127-130, 139, 145. Defines chorochromatic map.
- 1 2
- Slocum 2009, hlm. 57-75. Choropleth in particular: pp. 57, 61.
- DiBiase 2026, §§ 3.17 "Data Classification", 3.18 "Two Classification Schemes"
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Equal-area classification", "Equal-interval classification", "Natural breaks classification", "Quantile classification", "Standard deviation classification", "Jenks' optimization".
- ↑ Robinson 1995, hlm. 525.
- ↑ DiBiase 2026, §§ 3.17 "Data Classification", 3.18 "Two Classification Schemes", 3.19 "Calculating Quantile Classes".
- 1 2
- Slocum 2009, hlm. 57-61, 64-65, 74. Defines various algorithms.
- DiBiase 2026, § 3.18 "Two Classification Schemes"
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Quantile intervals", "Equal-interval classification".
- ↑
- Slocum 2009, hlm. 57-61, 64-65, 74. Defines various algorithms.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Natural breaks classification".
- ↑ DiBiase 2026, § 3.19 "Calculating Quantile Classes".
- ↑
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 450-460, § "Schematic Maps And The Practice Of Regional Cartography".
- Monmonier 2015, hlm. 788-792, § "London Underground Map".
- ↑ Remolina 2002, hlm. 1-2.
- ↑
- Remolina 2002, hlm. 1.
- Robinson 1995, hlm. 96-97, 173-180, 306-307.
- ↑ Kent & Vujakovic 2017, hlm. 450-460, § "Schematic maps and the practice of regional cartography".
- ↑ Harley & Woodward 1987, hlm. 234.
- ↑
- Smith 2009, hlm. 98. Schematic map.
- Harley & Woodward 1987, hlm. 234, 238-242, 249, 254. Detailed description.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 788-792, § "London Underground Map".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 788, § "London Underground Map".
- ↑
- Slocum 2009, hlm. 355-360.
- Monmonier 2015, hlm. 193-197, § "Cartogram".
- Kraak 2003, hlm. 128,133. Example cartograms.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Cartogram".
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Cartogram".
- ↑ Slocum 2009, hlm. 355.
- ↑
- Slocum 2009, hlm. 355-356.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Cartogram".
- ↑ Slocum 2009, hlm. 355-358.
- ↑ Ahlers 2013.
- ↑ Kent & Vujakovic 2017, hlm. 276-283.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 659-662, 810, §§ "Interactive Map", "Electronic Map".
- Muehlenhaus 2013, hlm. 21-25.
- Wilford 2000, hlm. 416-423.
- Anthamatten 2021, hlm. 158-163.
- Robinson 1995, hlm. 197, 292-295, 310, 556-557.
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 251-258, 375-386.
- Field 2018, hlm. 242-243.
- Slocum 2009, hlm. 444-456.
- Chang 2019, hlm. 204-205, 210-213.
- ↑ Muehlenhaus 2013, hlm. 21.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 661-662, § "Interactive Map".
- Field 2018, hlm. 188.
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 377.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 661, 810, § "Interactive Map", "Electronic Map".
- ↑
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § Photomap.
- Monmonier 2015, hlm. 804-806, 1108-1112, 1134-1136, §§ "Images as Maps", "Photogrammetric Mapping".
- Robinson 1995, hlm. 31,218-220.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Photomap".
- ↑ "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § Orthophotograph.
- ↑
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § Orthophotomap.
- Robinson 1995, hlm. 218-220.
- "Handbook", United Nations, hlm. 57.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 218-220.
- Monmonier 2015, hlm. 1111-1112, 1141-1144, § "Photogrammetric Mapping".
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ Mosaic, orthophoto; Orthophoto; Orthophotomap; orthophotomosaic
- "GIS Dictionary", Esri, § "Basemap".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 792-796, § "Lunar and Planetary Mapping".
- 1 2 Monmonier 2015, hlm. 792, § "Lunar and Planetary Mapping".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 793-794, § "Lunar and Planetary Mapping".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 795-796, § "Lunar and Planetary Mapping".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1048–49, 1308–11, §§ "Paper", "Reproduction of Maps by Printing". Page 1311: Shift from paper to digital.
- 1 2
- Monmonier 2015, hlm. 89-116, § "Atlas".
- Field 2018, hlm. 28-29.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 258-268, § "Globe".
- Field 2018, hlm. 188-189.
- 1 2 Monmonier 2015, hlm. 1263-1266, § "Relief Model".
- 1 2
- Monmonier 2015, hlm. 356-388, 808-811, §§ "Electronic Cartography", "Map: Electronic Map".
- Chang 2019, hlm. 13.
- Muehlenhaus 2013, hlm. 10,130.
- Slocum 2009, hlm. 246-249.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 561-562, §§ "Electronic Cartography", "Map: Electronic Map".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 590-591. Gathering and preparing data typically requires more time than the map design process.
- "Handbook", United Nations, hlm. 48-62. Various methods to acquire data.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 356-388, 488-511, 808-811, §§ "Electronic Cartography", "Geographic Information System", "Map: Electronic Map".
- Robinson 1995, hlm. 116-125, 127-158, 171-174, 188-198, 218-221, 231-236, 261-266. Surveying and GPS, imagery and aerial photos, vector or feature data, existing maps, rectified imagery, digital terrain data, metadata.
- Anthamatten 2021, hlm. 188-200.
- "Handbook", United Nations, hlm. 48-62.
- ↑ "GIS Dictionary", Esri, §§ "Aerial photograph", "Imagery".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 132-137, §§ "Aerial Photography", "Electronic Imaging Devices". "Aerial photography" primarily used for film. "Aerial cameras" typically used in airplanes.
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ "Photograph", "Photograph, aerial". "Aerial photography" limited to images from "emulsion" or film.
- 1 2
- Campbell 2011, hlm. 5-6, 204, 243. "Remote sensing" includes both passive and active.
- Robinson 1995, hlm. 132, 144-148. Defines active and passive sensors.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Active Remote Sensor", "Lidar", "Passive Remote Sensor" "Radar", "Remote Sensing", "Sonar". Active sensing not considered imagery.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 366-370, 1292-1293, §§ "Electronic Cartography: Data Capture and Data Conversion", "Remote Sensing".
- Robinson 1995, hlm. 188-198. Scanning or digitizing paper maps.
- "Handbook", United Nations, hlm. 63-69. Scanning or digitizing paper maps.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1294-1298, § "Satellite Imagery and Map Revision".
- ↑
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 252-258.
- Robinson 1995, hlm. 292-310.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 249-250.
- ↑ Robinson 1995, hlm. 252.
- ↑ Maliene 2011, hlm. 4.
- 1 2
- Anthamatten 2021, hlm. 189.
- "Handbook", United Nations, hlm. 69-70.
- ↑
- Anthamatten 2021, hlm. 188-189.
- "Handbook", United Nations, hlm. 69-72.
- "What Does 'Georeferenced' Mean?", USGS.
- ↑
- Yao 2020, hlm. 111-112, 116.
- Anthamatten 2021, hlm. 188-189.
- "Multi-Lingual Glossary", ISO, §§ "Georeferenceable", "Georectified".
- "Handbook", United Nations, hlm. 69-72.
- "What Does 'Georeferenced' Mean?", USGS.
- ↑
- Yao 2020, hlm. 112. Term "metric georeferencing".
- Longley 2005, hlm. 111-114. Postal code georeferencing.
- 1 2
- Yao 2020, hlm. 116.
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 270-271.
- "Handbook", United Nations, hlm. 48. Data surveyed in the field.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Direct Georeferencing". IMU and GNSS.
- ↑ "Handbook", United Nations, hlm. 50, 69.
- ↑ "Handbook", United Nations, hlm. 50, 54.
- ↑
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 270-271.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Resection".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 368, 1273, 1282-1287, 1292, §§ "Electronic Cartography: Data Capture and Data Conversion", "Remote Sensing".
- Robinson 1995, hlm. 132-156, 236-238.
- "Handbook", United Nations, hlm. 55-62.
- ↑
- Campbell 2011, hlm. 6, 54-56, 115-116, 204-205, 243-244.
- Monmonier 2015, hlm. 1289-1301, § "Remote Sensing".
- Robinson 1995, hlm. 142-148.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 1285-1286, 1289, 1291, 1293, § "Remote Sensing".
- Robinson 1995, hlm. 142-143, 213-217.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 445-460.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 476-478, 500.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 479-482.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 489-490, 501.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 483-486, 502-505.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 517-543.
- ↑ Campbell 2011, hlm. 559-577.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 215-217.
- Campbell 2011, hlm. 90-94.
- Monmonier 2015, hlm. 1117-1118, 1288-1301, §§ "Photogrammetric mapping", "Data Handling and Information Extraction from Remotely Sensed Imagery", "Feature and Terrain Extraction".
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, §§ "Rectification", "Rectification, graphical", "Rectification, photogrammetric", "Point-matching method (of rectification)".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 209-210.
- Anthamatten 2021, hlm. 189.
- Monmonier 2015, hlm. 367, § "Electronic Cartography: Data Capture and Data Conversion".
- "Glossary of the Mapping Sciences", ASPRS, § "Point-Matching Method (Of Rectification)".
- 1 2
- Monmonier 2015, hlm. 1103, 1111, 1125-1127, 1136-1137, §§ "Aerial Photogrammetry and Cartography", "Instrumental Photogrammetry and Stereocompilation".
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 235-237.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 1117-1118, 1288-1301, §§ "Photogrammetric mapping", "Data Handling and Information Extraction from Remotely Sensed Imagery", "Feature and Terrain Extraction".
- "GIS Dictionary", Esri, § "Feature Extraction".
- 1 2 3
- Robinson 1995, hlm. 219-220.
- "GIS Dictionary", Esri, § "Orthophoto".
- Monmonier 2015, hlm. 1141-1145, § "Orthophotos and Orthophoto Mapping".
- 1 2 3 4 5
- Chen 2014, hlm. 67-71. Terrain digital surface models (DSM) only.
- Habib 2007, hlm. 25-33. Terrain digital surface models (DSM) only.
- Zhou 2020, hlm. 177-193. DSM and Digital Building Models (DBM).
- Zhou 2005, hlm. 2138-2141. DSM and Digital Building Models (DBM).
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 220. Orthophotomap.
- Monmonier 2015, hlm. 1141-1142, § "Photogrammetric Mapping". Orthophotomap.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Basemap", "Orthophoto".
- Brewer 2016, hlm. 21-30, 35-37, 50-51, 78. Basemaps in general.
- 1 2
- Monmonier 2015, hlm. 361-362, § "Electronic Cartography: Data Structures and the Storage and Retrieval of Spatial Data".
- Chang 2019, hlm. 217-220.
- Robinson 1995, hlm. 258-261. Quadtree and R-tree indexes.
- 1 2
- Monmonier 2015, hlm. 362, 488-490, §§ "Electronic Cartography: Data Structures and the Storage and Retrieval of Spatial Data", "Geographic Information Systems". Three categories.
- Robinson 1995, hlm. 178–180, 181-185, 261–266. Attributes and temporal.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 168-175.
- Longley 2005, hlm. 74-76.
- Chang 2019, hlm. 6-7.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 32-35.
- Robinson 1995, hlm. 171-174.
- Chang 2019, hlm. 46-49.
- ↑
- Chang 2019, hlm. 60-61, 77-79. Triangular irregular network (pp. 60-61); raster terrain (pp 77-79).
- Robinson 1995, hlm. 177-179. Triangular irregular network.
- Monmonier 2015, hlm. 56, 60, 291, 361, 501, § "Geographic Information Systems".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 500-502, "Geographic Information Systems".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 360-365, 369, §§ "Data Structures and the Storage and Retrieval of Spatial Data", "Electronic Cartography: Data Capture and Data Conversion".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 378-382, 1293-1294, §§ "Electronic Cartography: Computer-Aided Boundary Drawing", "Remote Sensing".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 171-174.
- Monmonier 2015, hlm. 382-386, § "Electronic Cartography: Intellectual Movements in Electronic Cartography".
- "Handbook", United Nations, hlm. 68-69.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 360, 382, § "Electronic Cartography".
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 178-180, 261-266.
- Chang 2019, hlm. 151-155. Attributes within Geographic information systems.
- 1 2 3
- Anthamatten 2021, hlm. 194.
- Robinson 1995, hlm. 247–249, Table 14.1. Precision examples. Detection size.
- Field 2018, hlm. 404–405, Table "Imagery Resolution". Precision examples. Detectable size.
- Raposo 2010, § 1.3 "Scale and Resolution". Detectable size.
- "GIS Dictionary", Esri, §§ "Positional Accuracy", "Precision, Data Architecture", "Resolution".
- ↑
- Longley 2005, hlm. 17-18, 116, 137-144. Includes military targeting.
- Monmonier 2015, hlm. 290-291, § "Cruise Missile". Military.
- Chang 2019, hlm. 133-139.
- ↑
- Roberts 2016, hlm. 186-188.
- Anthamatten 2021, hlm. 192-193.
- ↑ DiBiase 2026, § 6.4 "Accuracy Standards".
- ↑ Anthamatten 2021, hlm. 196-198.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 13-16, 1453-1459, 1642-1644, §§ "Accuracy in Mapping", "Standards for Cartographic Information", "Uncertainty and Reliability".
- 1 2
- Longley 2005, hlm. 142.
- "National Standard for Spatial Data Accuracy", United States, hlm. 3.21-3.23
- ↑ "National Standard for Spatial Data Accuracy", United States, hlm. 3.4-3.6.
- ↑ Longley 2005, hlm. 142-143.
- ↑ Kent & Vujakovic 2017, hlm. 254, 257, 378.
- ↑ Kent & Vujakovic 2017, hlm. 254-256.
- ↑
- Robinson 1995, hlm. 570-583, 586-587, 598-604. Overview pp. 570, 583.
- Field 2018, hlm. 362-363.
- "Handbook", United Nations, hlm. 74-78, 90-92.
- ↑ Brewer 2016, hlm. 68-72.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 79-80.
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 256.
- "Handbook", United Nations, hlm. 92-95.
- ↑ "Handbook", United Nations, hlm. 92-95.
- ↑
- "Handbook", United Nations, hlm. 96, 102-105.
- Brewer 2016, hlm. 79-80.
- ↑
- Brewer 2016, hlm. 73-79.
- Anthamatten 2021, hlm. 189. Shapefile.
- "Handbook", United Nations, hlm. 88-90.
- ↑ Brewer 2016, hlm. 78.
- 1 2
- Brewer 2016, hlm. 80-83. Copyright and licensing.
- "Handbook", United Nations, hlm. 96-102. Copyright and liability.
- Field 2018, hlm. 80-81. Copyright.
- Robinson 1995, hlm. 443-445. Copyright and liability.
- Longley 2005, hlm. 427-430. Copyright and liability.
- ↑
- "Handbook", United Nations, hlm. 99-102.
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 200-201, 667-673, §§ "Cartographic Journal, The", "International Cartographic Association".
- ↑
- Monmonier 2015, hlm. 670, 677-679, 996-1000, 1371-1373, §§ "International Geographical Union", "National Geographic Society", "National Geographical Society".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 200-202, 1406–1407, §§ "Cartographica", "Societies, Cartographic".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1606-1608, 1612-1614, §§ "Topographic Mapping in Japan", "Topographic Mapping in Australia".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 673-677, 682-685, §§ "International Civil Aviation Organization", "International Hydrographic Organization".
- ↑ "British and Chinese Empires", Cornell University Library.
- 1 2
- Monmonier 2018, hlm. 109-112.
- Monmonier 2004, hlm. 145-152, 158-159.
- Riffenburgh 2015, hlm. 157. Quotes Peter's "cartographic imperialism".
- Monmonier 2015, hlm. 251-255, 413-416, 1099-1100, 1179-1181, 1232-1237, §§ "Colonial and Imperial Cartography", "Eurocentric bias", "Peters Projection", "Cultural and Social Significance of Map Projections", "Race, Maps and the Social Construction of".
- 1 2
- Monmonier 2018, hlm. 1-4.
- Harley 1989.
- ↑ Monmonier 2018, hlm. 1-4.
- ↑
- Monmonier 2018, hlm. 72-73, 85-86, 101-102, 123-124.
- Monmonier 2015, hlm. 1087-1095, § "Persuasive cartography".
- Kent & Vujakovic 2017, hlm. 427-437, 439-448, Chapters "Maps, Power, And Politics", "Persuasive Map Design".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 284-285, § "Copyright Traps".
- ↑ Monmonier 2004, hlm. 145-155.
- ↑
- Monmonier 2018, hlm. 112.
- Monmonier 2004, hlm. 153-171.
- Riffenburgh 2015, hlm. 157.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 413-416, § "Eurocentric bias".
- ↑ Ramphal 1985, hlm. 196-198.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 415-416, § "Eurocentric bias".
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 136-143, § "Boundary Disputes".
- 1 2 3 4 Wagstaff 2012.
- ↑ Chappell 2014.
- ↑
- ↑ "Pakistan", APP.
- ↑ "Kurdistan", Shafaqna.
- 1 2 Monmonier 2001, hlm. x,1-12.
- ↑ Wildfang 2025, Figure 1.
- ↑ Monmonier 2001, hlm. 104-119.
- ↑
- Field 2018, hlm. 164-165. Treasure Island and Lord of the Rings.
- Monmonier 2015, hlm. 986-991, § "Narrative and Cartography". Wizard of Oz.
- ↑ Ekman 2013, hlm. 22-23.
- ↑ Monmonier 2015, hlm. 1043-1047, § "Orienteering Map".
Sumber
Buku
- Anthamatten, Peter (2021). How to Make Maps: An Introduction to Theory and Practice of Cartography. Taylor & Francis. ISBN 9781351656528.
- Brewer, Cynthia (2016). Designing Better Maps: A Guide for GIS Users (Edisi Second). Environmental Systems Research Institute. ISBN 9781589484375. Diakses tanggal 9 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Campbell, James B.; et al. (2011). Introduction to Remote Sensing (Edisi Fifth). Guilford Publications. ISBN 9781609181765. Diakses tanggal 21 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Chang, Kang-Tsung (2019). Introduction to Geographic Information Systems (Edisi Ninth). McGraw-Hill. ISBN 9781260092585. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Crone, Gerald R.; et al. (1978). Maps and Their Makers: An Introduction to the History of Cartography (Edisi Fifth). William Dawson & Sons. ISBN 9780712907569. Diakses tanggal 22 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Ducasse, Julie; et al. (2022) [2017]. "Accessible Interactive Maps for Visually Impaired Users". Mobility of Visually Impaired People. Springer International Publishing. hlm. 537–584. arXiv:2208.14685. doi:10.1007/978-3-319-54446-5_1. ISBN 9783319544441.
- Edney, Matthew; Pedley, Mary, ed. (2019). Cartography in the European Enlightenment. The History of Cartography. Vol. 4. University of Chicago Press. ISBN 9780226339221. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ekman, Stefan (2013). Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings. Wesleyan University Press. ISBN 9780819573230. Diakses tanggal 3 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Field, Kenneth (2018). Cartography: A Compendium of Design Thinking for Mapmakers. Environmental Systems Research Institute . ISBN 9781589484399. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Harley, John Brian; Woodward, David, ed. (1987). Cartography in Prehistoric, Ancient, and Medieval Europe and the Mediterranean. The History of Cartography. Vol. 1. University of Chicago Press. ISBN 0226316335. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Harley, John Brian; Woodward, David, ed. (1992). Cartography in the Traditional Islamic and South Asian Societies. The History of Cartography. Vol. 2 Book 1. University of Chicago Press. ISBN 0226316351. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Harley, John Brian; Woodward, David, ed. (1994). Cartography in the Traditional East and Southeast Asian Societies. The History of Cartography. Vol. 2 Book 2. University of Chicago Press. ISBN 0226316378. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Kent, Alexander; Vujakovic, Peter, ed. (2017). The Routledge Handbook of Mapping and Cartography. Taylor & Francis. ISBN 9781317568216.
- Kraak, Menno-Jan; et al. (2003). Cartography: Visualization of Geospatial Data (Edisi Second). Prentice Hall. ISBN 9780130888907. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Longley, Paul; et al. (2005). Geographic Information Systems and Science (Edisi Second). Wiley. ISBN 9780470870013. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Monmonier, Mark (2001). Bushmanders and Bullwinkles: How Politicians Manipulate Electronic Maps and Census Data to Win Elections. University of Chicago Press. ISBN 9780226534244. Diakses tanggal 3 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Monmonier, Mark (2004). Rhumb Lines and Map Wars: A Social History of the Mercator Projection. University of Chicago Press. ISBN 9780226534312. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Monmonier, Mark, ed. (2015). Cartography in the Twentieth Century. The History of Cartography. Vol. 6. University of Chicago Press. ISBN 9780226534695.
- Monmonier, Mark (2018). How to Lie with Maps (Edisi Third). University of Chicago Press. ISBN 9780226435923. Diakses tanggal 22 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Muehlenhaus, Ian (2013). Web Cartography: Map Design for Interactive and Mobile Devices. CRC Press. ISBN 9781439876237. Diakses tanggal 12 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Raisz, Erwin (1948). General Cartography (Edisi Second). McGraw-Hill. LCCN 48009621. Diakses tanggal 29 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Reinhardt, Charles W. (1919). Lettering for Draftsmen, Engineers and Students (Edisi 19th). Van Nostrand. Diakses tanggal 9 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Riffenburgh, Beau (2015). The History Of Cartography - Mapping The World. Carlton Publishing Group. ISBN 9781781773536. Diakses tanggal 22 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Roberts, S.A.; et al. (2016). Geographic Information Systems and Science: A Concise Handbook of Spatial Data Handling, Representation, and Computation. Oxford University Press. ISBN 9780199003631. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Robinson, Arthur; et al. (1995). Elements of Cartography (Edisi 6th). John Wiley & Sons. ISBN 9780471555797. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Robinson, Arthur; et al. (1976). The Nature of Maps. University of Chicago Press. ISBN 0226722813. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Slocum, Terry A.; et al. (2009). Thematic Cartography and Geographic Visualization (Edisi Third). Prentice Hall. ISBN 9780132298346. Diakses tanggal 22 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Smith, Adam T. (2009). "Regional Investigations in the Tsaghkahovit Plain". The Foundations of Research and Regional Survey in the Tsaghkahovit Plain, Armenia. Oriental Institute of the University of Chicago. hlm. 95–109. ISBN 9781885923622. Diakses tanggal 11 Agustus 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Snyder, John P. (1987). Map Projections: A Working Manual. USGS. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Thrower, Norman (1999). Maps and Civilization: Cartography in Culture and Society (Edisi 2nd). University of Chicago Press. ISBN 0226799735. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Van Duzer, Chet (2014). Sea Monsters on Medieval and Renaissance Maps. The British Library. ISBN 9780712357715. Diakses tanggal 10 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Wilford, John Noble (2000). The Mapmakers (Edisi Revised). Alfred A. Knopf. ISBN 9780375409295. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Woodward, David; Lewis, G. Malcolm, ed. (1998). Cartography in the Traditional African, American, Arctic, Australian, and Pacific Societies. The History of Cartography. Vol. 2 Book 3. University of Chicago Press. ISBN 0226907287. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Woodward, David, ed. (2007). Cartography in the European Renaissance: Part 1. The History of Cartography. Vol. 3 Part 1. University of Chicago Press. ISBN 9780226907338. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Woodward, David, ed. (2007a). Cartography in the European Renaissance: Part 2. The History of Cartography. Vol. 3 Part 2. University of Chicago Press. ISBN 9780226907345. Diakses tanggal 21 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Zhou, Guoqing (2020). Urban High-Resolution Remote Sensing: Algorithms and Modeling. CRC Press. ISBN 9781000287691. Diakses tanggal 21 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Journals, news, and websites
- Ahlers, Dirk (2013). "Assessment of the accuracy of GeoNames gazetteer data". Proceedings of the 7th Workshop on Geographic Information Retrieval. Association for Computing Machinery. hlm. 74–81. doi:10.1145/2533888.2533938. ISBN 9781450322416. Diakses tanggal 30 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Battersby, Sarah (2014). "Implications of Web Mercator and Its Use in Online Mapping". Cartographica. 49 (2). Canadian Cartographic Association: 85–101. Bibcode:2014CIJGI..49...85B. doi:10.3138/carto.49.2.2313. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Buckley, Aileen (2013). "Understanding Statistical Data for Mapping Purposes" (PDF). ArcUser (Winter). Esri: 54–59. ISSN 1534-5467. Diakses tanggal 3 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Cadena, C.; et al. (2016). "Past, Present, and Future of Simultaneous Localization And Mapping". IEEE Transactions on Robotics. 32 (6). Institute of Electrical and Electronics Engineers: 1309–1332. arXiv:1606.05830. doi:10.1109/TRO.2016.2624754. ISSN 1552-3098. Page numbers in citations refer to the copy of article in arXiv.
- Chappell, Bill (12 April 2014). "Google Maps Displays Crimean Border Differently in Russia, U.S." NPR.org. Diakses tanggal 6 September 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Chen, Y.; et al. (2014). "True Orthophoto Generation Using Multi-View Aerial Images". International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing. 40 (3). ISPRS: 67–71. ISSN 1682-1750. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Cole, Harrison; et al. (2021). "Tactile Cartography in the Digital Age: A Review and Research Agenda". Progress in Human Geography. 45 (4). Sage Publishing: 834–854. doi:10.1177/0309132521995877. ISSN 0309-1325. Diakses tanggal 7 Agustus 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- DiBiase, David; et al. (2026). The Nature of Geographic Information. The University of Pennsylvania. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Fernando, F.; et al. (2026). "A Systematic Review of Robot Topological Semantic Mapping and Localization for Spatial Understanding". IEEE Access. 14. Institute of Electrical and Electronics Engineers: 67583–67608. Bibcode:2026IEEEA..1467583F. doi:10.1109/ACCESS.2026.3683985.
- Gautschy, Rita (2023). "Universal Transverse Mercator Coordinate System" (PDF). The European Society for Astronomy in Culture. Diakses tanggal 20 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Guanqun, Wang (19 Mei 2010). "China Issues New Rules On Internet Map Publishing". Xinhua News Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Mei 2016. Diakses tanggal 27 Juli 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Habib, Ayman; et al. (2007). "New Methodologies for True Orthophoto Generation". Photogrammetric Engineering & Remote Sensing. 73 (1). ASPRS: 25–36. Bibcode:2007PgERS..73...25H. doi:10.14358/PERS.73.1.25. ISSN 0099-1112. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Harley, John Brian (1989). "Deconstructing the Map". Cartographica. 26 (2): 1–20. doi:10.3138/E635-7827-1757-9T53. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Page numbers not numbered in the linked version.
- Hazel, Joseph A. (1965). "Most 'Good' Maps Do Not Have a Directional Symbol". Journal of Geography. 64 (2). Taylor & Francis: 81–83. doi:10.1080/00221346508981970. ISSN 0022-1341. Diakses tanggal 14 Agustus 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Jenny, Bernhard; et al. (2007). "Color Design for the Color Vision Impaired". Cartographic Perspectives. 57 (58). North American Cartographic Information Society: 61–67. Bibcode:2007CartP..58...61J. doi:10.14714/CP58.270. Diakses tanggal 7 Agustus 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Kent, Alexander (1 Juli 2009). "Topographic Maps: Methodological Approaches for Analyzing Cartographic Style". Journal of Map & Geography Libraries. 5 (2): 131–156. doi:10.1080/15420350903001187. ISSN 1542-0353. Diakses tanggal 9 Juli 2009.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Maliene, Vida (2011). "Geographic Information System: Old Principles with New Capabilities". URBAN DESIGN International. 16 (1). Palgrave Macmillan: 1–6. doi:10.1057/udi.2010.25. ISSN 1468-4519. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Nahavandi, Saeid; et al. (2025). "A Comprehensive Review on Autonomous Navigation". ACM Computing Surveys. 57 (9) 234. Association for Computing Machinery. doi:10.1145/3727642. ISSN 0360-0300. Diakses tanggal 15 Agustus 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Ramphal, Shridath (1985). "A World Turned Upside Down". Geography. 70 (3). Geographical Association: 193–205. doi:10.1080/20436564.1985.12451953. ISSN 0016-7487. Diakses tanggal 9 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Raposo, Paulo (2010). "Piece by Piece: A Method of Cartographic Line Generalization Using Regular Hexagonal Tessellation" (PDF). ISPRS Technical Commission IV & AutoCarto Symposium. International Society for Photogrammetry and Remote Sensing. Diakses tanggal 14 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Remolina, Emilio; et al. (April 1, 2002). Towards A General Theory Of Topological Maps (PDF) (Laporan). The University of Texas at Austin. Diakses tanggal 8 Juli 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Stefanakis, Emmanue (2017). "Web Mercator and Raster Tile Maps: Two Cornerstones of Online Map Service Providers". Geomatica. 71 (2): 100–109. doi:10.5623/cig2017-203. ISSN 1195-1036. Diakses tanggal 30 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Wagstaff, Jeremy (23 Maret 2012). "Google Charts A Careful Course Through Asia's Maps". Reuters. Diakses tanggal 6 September 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Wildfang, Hinrich (2025). "The MAUP Effect: Spatial Scale and the Reliability of Segregation Indices". Survey Methods: Insights from the Field (Special issue: Advancing Comparative Research: Exploring Errors and Quality Indicators in Social Research) 20280. Swiss Centre of Expertise in the Social Sciences. doi:10.13094/SMIF-2025-00007. ISSN 2296-4754. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Williams, Caroline (2016-06-15). "Maps Have 'North' At The Top, But It Could've Been Different". BBC (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-04-20.
- Yao, Xiaobai A. (2020). "Georeferencing and Geocoding". Dalam Kobayashi, Audrey (ed.). International Encyclopedia of Human Geography (Edisi Second). Elsevier. hlm. 111–117. doi:10.1016/b978-0-08-102295-5.10548-7. ISBN 978-0-08-102296-2. Diakses tanggal 2022-01-04. First edition (2009) online in Internet Archive here.
- Zhou, Guoqing; et al. (2005). "A Comprehensive Study on Urban True Orthorectification". IEEE Transactions on Geoscience and Remote Sensing. 43 (9). Institute of Electrical and Electronics Engineers: 2138–2147. Bibcode:2005ITGRS..43.2138Z. doi:10.1109/TGRS.2005.848417. ISSN 0196-2892.
Unknown author
- "After Turkey Complains, Google Removes Offending 'Kurdistan' Map". Shafaqna. 28 Desember 2018. Diakses tanggal 25 Juni 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Blue Ridge Parkway Map". National Park Service. 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juli 2026. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Diagram to Illustrate Contrast Between British and Chinese Empires". Cornell University Library. 1916. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Juni 2026. Diakses tanggal 11 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Geometry". Merriam Webster Online Dictionary. Merriam Webster. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "GIS Dictionary". Esri. Diakses tanggal 3 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Glossary of the Mapping Sciences. American Society for Photogrammetry and Remote Sensing, American Society of Civil Engineers, American Congress on Surveying and Mapping. 1994. ISBN 1570830118. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Handbook on Geographic Information Systems and Digital Mapping (dalam bahasa Inggris). United Nations. 2000. ISBN 9789211614268.
- "Implementation Practice Web Mercator Map Projection" (PDF). National Geospatial-Intelligence Agency. 2014-05-16. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-10-09. Diakses tanggal 2014-08-06.
- "Map". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2026. Diakses tanggal 22 Juni 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Map Symbols". National Park Service. Diakses tanggal 8 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Multi-Lingual Glossary". ISO/TC 211. International Standards Organization. Diakses tanggal 21 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "National Standard for Spatial Data Accuracy". Federal Geographic Data Committee. United States. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Use of Pakistan's Unofficial Map a Crime Punishable by Jail Term, Fine". Associated Press of Pakistan. 31 Agustus 2023. Diakses tanggal 25 Juni 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "US Topo: Maps for America". United States Geological Survey. 13 Februari 2019. Diakses tanggal 17 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "Vertical Datum Transformation". National Oceanic and Atmospheric Administration. Diakses tanggal 18 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- "What Does 'Georeferenced' Mean?". USGS FAQ. United States Geological Survey. 27 Oktober 2015. Diakses tanggal 21 Juli 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Definisi dari Wiktionary
Media dari Commons
Kutipan dari Wikiquote
Panduan perjalanan dari Wikivoyage
Data dari Wikidata