Rabu, 30 September 2026
04:50 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Misinformasi

Misinformasi

informasi yang salah atau menyesatkan.

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Disinformasi.
250px-Vote_Leave_poster%2C_Omagh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah papan yang mengkampanyekan Vote Leave (pilih keluar) di Referendum keanggotaan Britania Raya di Uni Eropa 2016. Klaim yang dibuat oleh papan tersebut telah dianggap secara luas sebagai salah satu contoh misinformasi[1][2][3][4]

Misinformasi adalah informasi yang salah atau menyesatkan.[5][6] Misinformasi dapat hadir tanpa adanya niat jahat tertentu. Ini berbeda dengan disinformasi yang merupakan informasi menipu yang sengaja disebarkan.[7][8][9] Misinformasi dapat berisi informasi yang tidak akurat, tidak lengkap, menyesatkan, atau salah, serta kebenaran yang dipilih atau setengah-setengah. [10][11]Pada Januari 2024 World Economic Forum mengidentifikasi misinformasi dan disinformasi, disebarkan oleh baik kepentingan dalam maupun luar negeri, untuk "memperlebar kesenjangan sosial dan politik" sebagai risiko global paling serius dalam dua tahun ke depan.[12]

Banyak penelitian untuk mengoreksi misinformasi telah dipusatkan pada pemeriksaan fakta. [13] Namun ini dapat menjadi tantangan karena model defisit informasi tidak selalu berlaku dengan baik pada keyakinan terhadap misinformasi. [14][15] Banyak peneliti juga telah menyelidiki apa saja yang membuat rentan terhadap misinformasi. [15] Orang-orang mungkin lebih cenderung meyakini misinformasi karena mereka terkait secara emosional dengan apa yang mereka dengarkan atau baca. Media sosial telah membuat informasi tersedia untuk masyarakat kapan saja, dan menghubungkan banyak kelompok orang dengan informasi mereka pada satu waktu.[16] Kemajuan teknologi telah berdampak pada cara orang-orang menyampaikan informasi dan cara penyebaran misinformasi.[13] Misinformasi dapat memengaruhi keyakinan orang tentang komunitas, politik, ilmu kedokteran, dan lain-lain.[16][17] Istilah ini juga berpotensi digunakan untuk mengacaukan pendapat yang sah dan memutarbalikkan wacana politik.

Istilah misinformasi mulai dikenal lebih luas selama pertengahan 1990-an sampai awal 2020-an, ketika efeknya terhadap pengaruh ideologis publik mulai diselidiki. Namun, kampanye misinformasi telah ada selama ratusan tahun. [18][19]

Menurut negara

Indonesia

Dalam ranah komunikasi publik, fenomena misinformasi di Indonesia adalah isu krusial yang dipicu oleh perilaku aktor media digital yang mengeksploitasi kerentanan psikologis dan sosial masyarakat. [20]Praktik yang sering ditemukan mencakup pemotongan konten dan penyajian di luar konteks untuk memanipulasi makna pesan asli dan menyesatkan pemahaman publik. [21]Selain itu, pembuatan judul yang memancing emosi dirancang untuk menarik perhatian dan memicu respons emosional, alih-alih pemikiran logis. [22]Taktik lainnya adalah pemanfaatan isu-isu sensitif seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan, yang bertujuan menciptakan ketakutan, kebencian, dan perpecahan di masyarakat. Perilaku ini didukung oleh penggunaan akun-akun anonim dan tidak otentik yang secara masif menyebarkan konten, menciptakan kesan bahwa narasi palsu tersebut didukung oleh banyak orang. [23]Akhirnya, pendaurulangan informasi lama sering dilakukan untuk memberikan legitimasi palsu pada klaim yang tidak benar saat ini. Keseluruhan perilaku ini membentuk sebuah ekosistem yang merusak kepercayaan publik dan mempersulit kemampuan individu untuk membedakan fakta dari kebohongan.[24]

Referensi

  1. ↑ Henley, Jon (10 Juni 2016). "Why Vote Leave's £350m weekly EU cost claim is wrong". The Guardian. Diakses tanggal 14 Oktober 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "The UK's EU membership fee". Full Fact (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 Oktober 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Reality Check: Would Brexit mean extra £350m a week for NHS?". BBC News. 15 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Ackrill, Robert (27 April 2016). "Fact Check: how much does the UK actually pay to the EU?". The Conversation.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Merriam-Webster Dictionary (19 Agustus 2020). "Misinformation". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Februari 2019. Diakses tanggal 19 Agustus 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Fetzer, James H. (2004-05-01). "Information: Does it Have To Be True?". Minds and Machines. 14 (2): 223–229. doi:10.1023/B:MIND.0000021682.61365.56. ISSN 1572-8641. S2CID 31906034.
  7. ↑ Woolley, Samuel C.; Howard, Philip N. (2016). "Political Communication, Computational Propaganda, and Autonomous Agents". International Journal of Communication. 10: 4882–4890. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-10-22. Diakses tanggal 2019-10-22.
  8. ↑ Caramancion, Kevin Matthe (2020). "An Exploration of Disinformation as a Cybersecurity Threat". 2020 3rd International Conference on Information and Computer Technologies (ICICT). hlm. 440–444. doi:10.1109/icict50521.2020.00076. ISBN 978-1-7281-7283-5. S2CID 218651389.
  9. ↑ Fisher, Natascha A. Karlova, Karen E. (2013-03-15). "A social diffusion model of misinformation and disinformation for understanding human information behaviour". informationr.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-05-11. Diakses tanggal 2023-05-11.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  10. ↑
  11. ↑ Diaz Ruiz, Carlos (2023-10-30). "Disinformation on digital media platforms: A market-shaping approach". New Media & Society. doi:10.1177/14614448231207644. ISSN 1461-4448.
  12. ↑ The Global Risks Report 2024, World Economic Forum. ISBN978-2-940631-64-3
  13. 1 2 Lewandowsky, Stephan; Ecker, Ullrich K. H.; Seifert, Colleen M.; Schwarz, Norbert; Cook, John (2012). "Misinformation and Its Correction: Continued Influence and Successful Debiasing". Psychological Science in the Public Interest. 13 (3): 106–131. doi:10.1177/1529100612451018. JSTOR 23484653. PMID 26173286. S2CID 42633.
  14. ↑
  15. 1 2
  16. 1 2 Aral 2020. sfn error: tanpa target: CITEREFAral2020 (bantuan)
  17. ↑
  18. ↑ Bode, Leticia; Vraga, Emily (23 Juni 2015). "In Related News, That was Wrong: The Correction of Misinformation Through Related Stories Functionality in Social Media". Journal of Communication. 65 (4): 619–638. doi:10.1111/jcom.12166. S2CID 142769329. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-11-12. Diakses tanggal 2024-01-31.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Posetti, Julie; Matthews, Alice (Juni 23, 2018). "A Short Guide to the History of 'Fake News' and Disinformation: A New ICFJ Learning Module". International Center for Journalists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-02-25. Diakses tanggal 2024-01-31.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ "Kominfo ingatkan "Dominasi Hoaks" di media sosial".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  21. ↑ "Media Sosial Dan Realitas Gaya Hidup Masyarakat" (PDF).{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  22. ↑ "implementasi pendekatan emosional - Repository UIN Saizu" (PDF).{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  23. ↑ "Ini Cara Mengatasi Berita "Hoax" di Dunia Maya". Komdigi.
  24. ↑ "Ekonomi Politik Akuntansi" (PDF).{{cite journal}}: |first= tidak memiliki |last=; Kutipan journal memerlukan |journal=
Ikon rintisan

Artikel bertopik sosiologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan