Rabu, 07 Oktober 2026
10:35 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Kebakaran hutan dan lahan

Kebakaran hutan dan lahan

kebakaran yang menghanguskan kawasan hutan, semak, rerumputan, atau sejenisnya

Bagikan:
Keakuratan artikel ini diragukan dan artikel ini perlu diperiksa ulang dengan mencantumkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Harap pastikan akurasi artikel ini dengan sumber tepercaya. Lihat diskusi mengenai artikel ini di halaman diskusinya. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
500px-Out_of_Controls.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kebakaran hutan di Taman Nasional Sebangau (Kebakaran hutan berlangsung pada September hingga Oktober 2019)
500px-Batlefield.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dampak kebakaran hutan di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah tahun 2019

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla (bahasa Inggris:Wildfire) adalah suatu peristiwa terbakarnya hutan dan/atau lahan, baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbukan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik.[1] Sedangkan dalam definisi kamus Cambridge, kebakaran hutan, kebakaran liar, atau kebakaran pedesaan adalah api yang tidak terkendali di daerah memiliki vegetasi yang mudah terbakar.[2] Bergantung pada jenis vegetasi yang ada, api liar juga dapat diklasifikasikan lebih spesifik sebagai kebakaran semak (di Australia), kebakaran padang pasir, kebakaran hutan, kebakaran rumput, kebakaran bukit, kebakaran gambut, atau kebakaran vegetasi.[3] Banyak organisasi menganggap kebakaran liar sebagai api yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan,[4] sementara kebakaran hutan adalah istilah yang lebih luas.[4][5]

Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan manusia, dan pembakaran yang disengaja. Selain itu, perubahan iklim juga turut menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan. Selama tahun 2024, 370.000 hektar hutan di Eropa telah mengalami kebakaran.

Arang fosil menunjukkan bahwa kebakaran hutan dimulai segera setelah munculnya tanaman di daratan 420 juta tahun yang lalu.[6] Kebakaran hutan yang terjadi sepanjang sejarah kehidupan di darat mengundang dugaan bahwa api pasti telah mengakibatkan efek evolusi pada sebagian besar flora dan fauna ekosistem.[7] Bumi adalah planet yang secara intrinsik mudah terbakar karena vegetasinya yang kaya karbon, iklim kering musiman, oksigen atmosfer dan pemantikan oleh petir dan vulkanik yang meluas.[7]

Kebakaran hutan dapat dikarakterisasi dalam hal penyebab penyalaan, sifat fisiknya, bahan yang mudah terbakar, dan efek cuaca pada api.[8] Kebakaran hutan dapat menyebabkan kerusakan pada harta benda dan kehidupan manusia, meskipun kebakaran hutan yang terjadi secara alami mungkin memiliki efek menguntungkan pada vegetasi asli, hewan dan ekosistem yang telah berevolusi dengan api.[9][10]

Penyebab

250px-Borneo_fires_October_2006.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Citra Satelit kebakaran hutan di Kalimantan, 2006

Ada tiga penyebab alami utama penyulutan kebakaran hutan:[11][12]

Penyebab langsung yang paling umum dari manusia terhadap api adalah pembakaran yang disengaja, rokok yang dibuang, busur kabel listrik (seperti yang dideteksi oleh pemetaan busur), dan percikan dari peralatan.[13][14] Penyulutan kebakaran hutan liar melalui kontak dengan pecahan peluru senapan yang panas juga dimungkinkan dalam kondisi yang tepat.[15] Kebakaran hutan juga dapat dimulai di masyarakat yang mengalami perladangan berpindah, yaitu ketika tanah dibuka dan ditanami dengan cepat hingga tanah kehilangan kesuburannya dan dilakukannya pembersihan dengan cara menebang serta membakar lahan.[16] Daerah berhutan yang ditebangi oleh penebangan mendorong dominasi rumput yang mudah terbakar dan jalan-jalan pembalakan hutan yang ditumbuhi vegetasi dapat berperan sebagai koridor api. Kebakaran padang rumput tahunan di Vietnam selatan sebagian berasal dari penghancuran daerah berhutan oleh herbisida militer AS, bahan peledak, dan operasi pembersihan lahan secara mekanis dan pembakaran selama Perang Vietnam.[17]

250px-Defense.gov_News_Photo_971117-F-5801M-002.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah pesawat C-130 Hercules milik Garda Nasional Udara Wyoming menjatuhkan air dan bubur tahan api ke lokasi kebakaran hutan di Sumatra, Indonesia, pada 17 November 1997.

Penyebab paling umum dari kebakaran hutan bervariasi di seluruh dunia. Di Kanada dan Tiongkok bagian barat laut, kilat berperan sebagai sumber utama penyulutan. Di bagian lain dunia, keterlibatan manusia adalah kontributor utama. Di Afrika, Amerika Tengah, Fiji, Meksiko, Selandia Baru, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara, kebakaran hutan dapat dikaitkan dengan aktivitas manusia seperti pertanian, peternakan, dan pembakaran konversi lahan. Di Tiongkok dan di Cekungan Mediterania, kecerobohan manusia adalah penyebab utama kebakaran hutan.[18][19] Di Amerika Serikat dan Australia, sumber kebakaran hutan dapat ditelusuri baik untuk sambaran petir dan aktivitas manusia (seperti percikan api mesin, puntung rokok yang terbuang, atau pembakaran).[20][21] Kebakaran lapisan batubara membakar ribuan di seluruh dunia, seperti yang terjadi di Burning Mountain, New South Wales; Centralia, Pennsylvania, dan beberapa kebakaran batu bara di Tiongkok. Kebakaran jenis ini juga dapat membesar secara tiba-tiba dan menyulut bahan yang mudah terbakar di dekatnya.[22]

Ciri fisik

500px-Wildfire-ISS007_Mosaic2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kebakaran di Gunung San Bernardino, California (gambar diambil dari International Space Station)

Kebakaran hutan terjadi ketika semua elemen yang diperlukan dalam penyulutan api dikumpulkan di area yang rentan: sumber penyalaan dihadapkan dengan bahan yang mudah terbakar seperti vegetasi, yang mengalami panas yang cukup dan memiliki pasokan oksigen yang cukup dari udara sekitar. Kadar air yang tinggi biasanya mencegah penyulutan dan memperlambat perambatan, karena suhu yang lebih tinggi diperlukan untuk menguapkan air di dalam material dan memanaskan material mencapai titik api.[23][24] Hutan lebat biasanya memberikan lebih banyak bayangan, menghasilkan suhu lingkungan yang lebih rendah dan kelembaban yang lebih besar, dan karena hal-hal itulah hutan lebat tidak begitu rentan terhadap kebakaran hutan.[25] Bahan yang kurang padat seperti rumput dan daun lebih mudah terbakar karena mengandung lebih sedikit air daripada bahan yang lebih padat seperti cabang dan batang.[26] Tanaman terus menerus kehilangan air karena evapotranspirasi, tetapi kehilangan air ini biasanya diseimbangkan dengan air yang diserap dari tanah, kelembapan, atau hujan.[27] Ketika keseimbangan ini tidak dipertahankan, tanaman mengering dan karenanya lebih mudah terbakar, sering kali sebagai akibat dari kekeringan.[28]

Statistik

Jumlah luas hutan yang terbakar setiap tahunnya sekitar:

  • Prancis: 21.100 hektare (211 km², 52.140 ekar, 81 mil² ; 0,04% Prancis
  • Portugal:
    • 1991: 182.000 ha (1.820 km², 449.732 ekar, 703 mil²; 2% wilayah negara)
    • 2003: 424.900 ha (4.249 km², 1,05 juta ekar, 1.641 mil²; 4,6% wilayah negara; 20 meninggal)
    • 2004: 120.530 ha (1.205,3 km², 297.836 ekar, 465 mil²; 1,3% wilayah negara)
    • 2005: 286.400 ha (2.864 km², 707.668 ekar, 1.106 mil²; 3.1% wilayah negara; 17 meninggal)
  • Amerika Serikat: 1,74 juta hektare (17.400 km², 4,3 juta ekar, 6.718 mil²; 0,18% wilayah negara)
  • Indonesia - Sumber data: sebelum 1997 dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) dan Canadian International Development Agency (CIDA) - Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI). Data 1997/1998 dari Asian Development Bank (ADB) . Data 1999-2005 berasal dari Departemen Kehutanan Indonesia.
    • 1982 dan 1983: 3,6 juta hektare ( 36.000 km², 8,9 juta ekar, 13.900 mil²).
    • 1987: 49.323 hektare ( 492 km², 121.880 ekar, 190 mil²).
    • 1991: 118.881 hektare (1.189 km², 293.761 ekar, 459 mil²).
    • 1994: 161.798 hektare (1.618 km², 399.812 ekar, 625 mil²).
    • 1997 dan 1998: 9,8 juta hektare ( 97.550 km², 24,1 juta ekar, 37.664 mil²). Sumber data dari ADB.
    • 1999: 44.090 hektare (441 km², 108.989 ekar, 170 mil² ).
    • 2000: 8.255 hektare ( 83 km², 20.399 ekar, 32 mil²).
    • 2001: 14.351 hektare (144 km², 35.462 ekar, 55 mil²).
    • 2002: 36.691 hektare (367 km², 90.665 ekar, 142 mil²).
    • 2003: 3.745 hektare ( 37 km², 9.254 ekar, 14 mil²).
    • 2004: 13.991 hektare (140 km², 34.573 ekar, 54 mil²).
    • 2005: 13.328 hektare (133 km², 32.934 ekar, 51 mil²).

Dampak

250px-Foto_jembatan_kapuas_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto jembatan kapuas 1 saat kabut asap di Pontianak

Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran liar antara lain:

  1. Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer. Kebakaran hutan pada 1997 menimbulkan emisi / penyebaran sebanyak 2,6 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer (sumber majala Nature 2002). Sebagai perbandingan total emisi karbon dioksida di seluruh dunia pada tahun tersebut adalah 6 miliar ton.
  2. Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti.
  3. Menyebabkan banjir selama beberapa minggu di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau.
  4. Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil.
  5. Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau.
  6. Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi, hal ini dapat mengakibatkan perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku dan puluhan ribu pekerja menjadi penganggur/kehilangan pekerjaan.
  7. Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru-paru. Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan anak-anak. Polusi asap ini juga bisa menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.
  8. Asap yang ditimbulkan menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat antara lain pendidikan, agama dan ekonomi. Banyak sekolah yang terpaksa diliburkan pada saat kabut asap berada di tingkat yang berbahaya. Penduduk dihimbau tidak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. Hal ini mengganggu kegiatan keagamaan dan mengurangi kegiatan perdagangan/ekonomi. Gangguan asap juga terjadi pada sarana perhubungan/transportasi yaitu berkurangnya batas pandang. Banyak pelabuhan udara yang ditutup pada saat pagi hari di musim kemarau karena jarak pandang yang terbatas bisa berbahaya bagi penerbangan. Sering terjadi kecelakaan tabrakan antar perahu di sungai-sungai, karena terbatasnya jarak pandang.
  9. Musnahnya bangunan, mobil, sarana umum dan harta benda lainnya.

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Wildfire.

Referensi

  • Berita Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia https://periskop.id/tags/karhutla
  • Baumgardner, D., et al. 2003. Warming of the Arctic lower stratosphere by light absorbing particle. American Geophysical Union fall meeting. Dec. 8-12. San Francisco.
  • Fromm, M., et al. 2003. Stratospheric smoke down under: Injection from Australian fires/convection in January 2003. American Geophysical Union fall meeting. Dec. 8-12. San Francisco.
  • Makarim, N., et al. (BAPEDAL and CIDA-CEPI). 1998, Assessment of 1997 Land and Forest Fires in Indonesia: National Coordination. From "International Forest Fire News" #18, page 4-12, January 1998.
  • Wang, P.K. 2003. The physical mechanism of injecting biomass burning materials into the stratosphere during fire-induced thunderstorms. American Geophysical Union fall meeting. Dec. 8-12. San Francisco.
  1. ↑ Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.32/Menlhk/Setjen/Kum.1/3/2016
  2. ↑ Cambridge Advanced Learner's Dictionary (Edisi Third). Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-85804-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Agustus 2009.
  3. ↑ "Forest fire videos – See how fire started on Earth". BBC Earth. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Oktober 2015. Diakses tanggal 2016-02-13.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 "CIFFC Canadian Wildland Fire Management Glossary" (PDF). Canadian Interagency Forest Fire Centre. Diakses tanggal 16 Agustus 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "US Fish & Wildlife Service Fire Management". US F&W Fire Management. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-01. Diakses tanggal 16 Agustus 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Scott, Andrew C.; Glasspool, Ian J. (2006-07-18). "The diversification of Paleozoic fire systems and fluctuations in atmospheric oxygen concentration". Proceedings of the National Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 103 (29): 10861–10865. Bibcode:2006PNAS..10310861S. doi:10.1073/pnas.0604090103. ISSN 0027-8424. PMC 1544139. PMID 16832054.
  7. 1 2 Bowman, David M. J. S.; Balch, Jennifer K.; Artaxo, Paulo; Bond, William J.; Carlson, Jean M.; Cochrane, Mark A.; D’Antonio, Carla M.; DeFries, Ruth S.; Doyle, John C. (2009-04-24). "Fire in the Earth System". Science (dalam bahasa Inggris). 324 (5926): 481–484. Bibcode:2009Sci...324..481B. doi:10.1126/science.1163886. ISSN 0036-8075. PMID 19390038.
  8. ↑ Flannigan, M.D.; B.D. Amiro; K.A. Logan; B.J. Stocks & B.M. Wotton (2005). "Forest Fires and Climate Change in the 21st century" (PDF). Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change. 11 (4): 847–859. doi:10.1007/s11027-005-9020-7. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Maret 2009. Diakses tanggal 26 Juni 2009.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "The Ecological Importance of Mixed-Severity Fires – ScienceDirect". www.sciencedirect.com. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Januari 2017. Diakses tanggal 2016-08-22.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Hutto, Richard L. (2008-12-01). "The Ecological Importance of Severe Wildfires: Some Like It Hot". Ecological Applications (dalam bahasa Inggris). 18 (8): 1827–1834. doi:10.1890/08-0895.1. ISSN 1939-5582. PMID 19263880.
  11. ↑ "Wildfire Prevention Strategies" (PDF). National Wildfire Coordinating Group. Maret 1998. hlm. 17. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 9 Desember 2008. Diakses tanggal 3 Desember 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Scott, A (2000). "The Pre-Quaternary history of fire". Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology. 164 (1–4): 281–329. Bibcode:2000PPP...164..281S. doi:10.1016/S0031-0182(00)00192-9.
  13. ↑ Pyne, Stephen J.; Andrews, Patricia L.; Laven, Richard D. (1996). Introduction to wildland fire (Edisi 2nd). John Wiley and Sons. hlm. 65. ISBN 978-0-471-54913-0. Diakses tanggal 26 Januari 2010.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ "News 8 Investigation: SDG&E Could Be Liable For Power Line Wildfires". UCAN News. 5 November 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Agustus 2009. Diakses tanggal 20 Juli 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Finney, Mark A.; Maynard, Trevor B.; McAllister, Sara S.; Grob, Ian J. (2013). A Study of Ignition by Rifle Bullets. Fort Collins, CO: United States Forest Service. Diakses tanggal 15 Juni 2014.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ The Associated Press (16 November 2006). "Orangutans in losing battle with slash-and-burn Indonesian farmers". TheStar online. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Agustus 2009. Diakses tanggal 1 Desember 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Karki, 4.
  18. ↑ Liu, Zhihua; Yang, Jian; Chang, Yu; Weisberg, Peter J.; He, Hong S. (Juni 2012). "Spatial patterns and drivers of fire occurrence and its future trend under climate change in a boreal forest of Northeast China". Global Change Biology (dalam bahasa Inggris). 18 (6): 2041–2056. Bibcode:2012GCBio..18.2041L. doi:10.1111/j.1365-2486.2012.02649.x. ISSN 1354-1013.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ de Rigo, Daniele; Libertà, Giorgio; Houston Durrant, Tracy; Artés Vivancos, Tomàs; San-Miguel-Ayanz, Jesús (2017). Forest fire danger extremes in Europe under climate change: variability and uncertainty. Luxembourg: Publication Office of the European Union. hlm. 71. doi:10.2760/13180. ISBN 978-92-79-77046-3.
  20. ↑ Krock, Lexi (Juni 2002). "The World on Fire". NOVA online – Public Broadcasting System (PBS). Diarsipkan dari asli tanggal 27 Oktober 2009. Diakses tanggal 13 Juli 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ Balch, Jennifer K.; Bradley, Bethany A.; Abatzoglou, John T.; Nagy, R. Chelsea; Fusco, Emily J.; Mahood, Adam L. (2017). "Human-started wildfires expand the fire niche across the United States". Proceedings of the National Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 114 (11): 2946–2951. Bibcode:2017PNAS..114.2946B. doi:10.1073/pnas.1617394114. ISSN 1091-6490. PMC 5358354. PMID 28242690.
  22. ↑ Krajick, Kevin (Mei 2005). "Fire in the hole". Smithsonian Magazine. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-09-03. Diakses tanggal 30 Juli 2009.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ "National Wildfire Coordinating Group Fireline Handbook, Appendix B: Fire Behavior" (PDF). National Wildfire Coordinating Group. April 2006. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 17 Desember 2008. Diakses tanggal 11 Desember 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. ↑ "The Science of Wildland fire". National Interagency Fire Center. Diarsipkan dari asli tanggal 5 November 2008. Diakses tanggal 21 November 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ Graham, et al., 12.
  26. ↑ National Wildfire Coordinating Group Communicator's Guide For Wildland Fire Management, 3.
  27. ↑ "Ashes cover areas hit by Southern Calif. fires". NBC News. Associated Press. 15 November 2008. Diakses tanggal 4 Desember 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ "Influence of Forest Structure on Wildfire Behavior and the Severity of Its Effects" (PDF). US Forest Service. November 2003. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 17 Desember 2008. Diakses tanggal 19 November 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

(Indonesia) Kliping Kebakaran Lahan dan Hutan Diarsipkan 2007-09-27 di Wayback Machine.

Tipe hutan
Bedasarkan status
Bedasarkan fungsi
Bedasarkan iklim
Lain-lain
250px-12_year_old_restoration_plot_Doi_Suthep-Pui_National_Park_N._Thailand.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ekologi dan
manajemen
Lingkungan
Industri kayu
Pekerjaan
Kebijakan and
organisasi
Organisasi kehutanan
Kebijakan kehutanan
Lain-lain
Acara
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan