Jumat, 23 Oktober 2026
19:16 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Perahu payang

Perahu payang

Perahu nelayan dari Malaysia

Bagikan:
250px-YosriPerahuPayang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah Payang di Museum Negara, Malaysia.

Perahu payang atau hanya payang adalah perahu nelayan tradisional Melayu yang terbuka. Perahu jenis ini biasanya ditemukan di Terengganu, dan pada jumlah lebih sedikit, Kelantan, Pahang, dan pantai Johor. Beberapa perahu payang biasanya datang ke Singapura untuk beroperasi selama periode monsun timur laut di Laut Tiongkok Selatan.[1]

Etimologi

Nama perahu payang berasal dari payang (sejenis pukat) yang digunakan oleh nelayan setempat. Namanya bisa diterjemahkan sebagai "perahu yang menggunakan payang".[2]

Deskripsi

Perahu payang memiliki awak 15–20 orang saat memancing. Ia membawa jaring yang merupakan asal namanya, pukat payang. Panjang kapal payang berkisar antara 33–45 kaki (10–13,7 m) dengan lebar 6 hingga lebih dari 7 kaki (1,8–2,1 m).[1] Haluan dan buritan dibangun ke atas dengan luar biasa memberikan penampilan yang paling mencolok. Pada ujung ini, papan lunas dan papan bawah dibangun dari kayu chengai, papan atas biasanya kayu serayah. Deretan papan atas perahu-perahu Melayu, timbau, biasanya terbuat dari kayu ringan seperti serayah atau medang untuk mendukung kru dan jaring seandainya perahu itu dibanjiri. Jika dibangun dari hanya kayu chengai saja kapal yang akan tenggelam.[3] Ini memiliki 2 dudukan tiang layar, 1 di depan dan 1 di belakang.[1]

Ia membawa dua layar persegi panjang dengan dua tiang. Layarnya lebih tinggi dari lebarnya. Sang layar utama sengaja melengkung di atas untuk memberikan kekenyalan tertentu ketika bertemu angin. Ada sebuah gap dan sebuah bom di layar. Payang disediakan dengan sebuah jangkar, juga 13 atau 14 dayung panjang, 4 atau 5 pengayoh (dayung pendek), dan kemudi sepak (dayung besar yang digunakan untuk kemudi)[3] yang ditahan pada bagian lee (bagian yang menjauhi angin).[1] Mereka membawa perahu kecil yang disebut sampan payang, sekitar 6 kaki (1,8 m) panjangnya 2 kaki (61 cm) lebarnya. Di dekat haluan adalah patung yang diukir biasanya seperti kepala naga. Haluannya juga dihiasi oleh kalung yang terbuat dari pohon pinang yang disebut mayang pinang. Mereka juga membawa satu atau dua galah panjang (tiang tolakan) dibawa untuk digunakan di air dangkal, jaring pendaratan kecil dan sebuah kabel melingkar digantung dengan kulit kerang pada ujung tongkat. Lingkaran kabel ini digunakan untuk menakuti ikan ke jaring dengan menggoyangkannya ke bawah air saat mengeluarkan suara berderak. Ia membawa jaring besar, yang disebut pukat petarang, berukuran sekitar panjang 110 hingga 120 kaki (33,5 hingga 36,6 m) dengan lebar 18 kaki (5,5 m).[3]

Galeri

  • Dua perahu payang dengan tiang melengkung.
    Dua perahu payang dengan tiang melengkung.
  • Melakukan Roller-reefing layar perahu payang.
    Melakukan Roller-reefing layar perahu payang.
  • Pukat petarang, sejenis jaring yang digunakan dari perahu payang.
    Pukat petarang, sejenis jaring yang digunakan dari perahu payang.

Lihat juga

  • Perahu mayang, perahu nelayan dari Jawa
  • Kakap, perahu nelayan dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei
  • Birau
  • Buggoh

Referensi

  1. 1 2 3 4 Gibson-Hill, C. A. (Agustus 1950). "The Fishing Boats operated from Singapore Island". Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society. 23.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Pramono, Djoko (2005). Budaya Bahari. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 112–113. ISBN 9792213767.
  3. 1 2 3 Dalton, H. Goring (1926). "Some Malay Boats and their Uses". Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society. 4.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan