Kamis, 24 September 2026
09:57 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Mangkunegara IX

Mangkunegara IX

Adipati dari Mangkunagaran (1987-2021)

Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. Bantulah memperbaikinya berdasarkan panduan penulisan artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini mungkin terlalu panjang untuk dibaca dan dipahami secara nyaman. Silakan pertimbangkan untuk membagi konten di dalam artikel ini menjadi beberapa artikel lain jika layak.
Artikel ini membutuhkan penyuntingan lebih lanjut mengenai tata bahasa, gaya penulisan, hubungan antarparagraf, nada penulisan, atau ejaan. Anda dapat membantu untuk menyuntingnya.
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Mangkunagoro IX
ꦩꦁꦏꦸꦤꦒꦫ꧇꧙꧇
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya
250px-Mangkunegara_IX.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mangkunegara IX
Adipati Mangkunegaran ke-9
Berkuasa1987 – 13 Agustus 2021
Penobatan24 Januari 1988
PendahuluMangkunegara VIII
PenerusMangkunegara X
PresidenSoeharto
Bacharuddin Jusuf Habibie
Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
Joko Widodo
LahirGPH. Sujiwakusuma (1951-08-18)18 Agustus 1951
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
Meninggal13 Agustus 2021(2021-08-13) (umur 69)
Jakarta, Indonesia[1]
Pemakaman
Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah
AyahKGPAA. Mangkunegoro VIII
IbuRAy. Soenituti (GKP. Mangkunegara VIII)
Pasangan
(m. 1974;c. 1984)

Prisca Marina Haryogi Supardi (GKP Mangkunegara IX)
(m. 1990)
Keturunan
Nama lengkap
Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara Kaping Sanga
WangsaWangsa Mataram
AgamaIslam

Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX (18 Agustus 1951  13 Agustus 2021) adalah penguasa Pura Mangkunegaran yang kesembilan dan merupakan putra laki-laki kedua dari KGPAA. Mangkunegara VIII.

Pada masa remajanya ia bernama Gusti Pangeran Harya Sujiwakusuma dan awam menyebutnya sebagai "Gusti Jiwo". Ia adalah mantan menantu dari presiden pertama Republik Indonesia, karena menikah dengan Sukmawati Soekarnoputri; pernikahan ini berakhir dengan perceraian.

Penobatan GPH. Sujiwakusuma dalam sejarah Pura Mangkunegaran merupakan yang pertama kali di alam Republik Indonesia, setelah semua pendahulunya dinobatkan di bawah pemerintahan VOC maupun Hindia Belanda.

KGPAA. Mangkunegara IX meninggal pada tanggal 13 Agustus 2021 di Jakarta, lima hari sebelum ulang tahunnya yang ke-70.[2] dan dimakamkan di kompleks pemakaman Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah.

Biografi

Adipati yang kesembilan pada dinasti KGPAA. Mangkunegara I ini dilahirkan di Surakarta sebagai putra KGPAA. Mangkunegara VIII dan bersaudara dengan : GPH. Raditya Prabukusuma, BRAj. Retno Satuti Rahadiyan Yamin, BRAj. Retno Rosati Hudiono Kadarisman, BRM. Susaktyo, BRM. Herwasto, BRM. Kumiyakto, BRAj. Retno Astrini. GPH. Sujiwakusuma sendiri adalah putra KGPAA. Mangkunegara VIII yang kedua.

Putra Mahkota

GPH. Sujiwakusuma menjadi putra mahkota menggantikan GPH. Raditya Prabukusuma karena telah wafat mendahului karena kecelakaan di Ampel, Boyolali. Kemudian dilantik menjadi Adipati di Pura Mangkunegaran sebagai Adipati yang kesembilan.

Dilema Eksistensi

Eksistensi kerajaan di Nusantara seperti halnya Pura Mangkunegaran mengalami situasi yang dilematis, terutama posisi dan keberadaannya dalam lapangan kehidupan di sistem negara modern Republik Indonesia. Kerajaan yang semula memiliki kapasitas seperti halnya sebuah negara dengan kekuatan bersenjata dan wilayah, dalam masa kini sudah bukan lagi pada tempatnya.

Sebagai dinasti yang mempunyai andil dalam memberikan sokongan dan dukungan pada negara baru bernama Indonesia, Pura Mangkunegaran juga dikenal karena berdiri dari sang cikal bakal anti-Belanda secara turun-temurun, hingga akhirnya mendapat anugerah bahwa Belanda yang semenjak dulu dilawan akhirnya hengkang juga dan sebagai gantinya Pura Mangkunegaran juga memaklumatkan diri ikut dalam negara baru bernama Indonesia yang didirikan oleh orang Indonesia sendiri.

Romantika Padang Kurusetra

Padang Kurusetra adalah tempat bertemunya dua kekuatan bersaudara untuk saling beradu strategi dan taktik dalam menempuh penyelesaian yang kemudian ketika waktu sudah sampai pada saatnya mengumpulkan kembali tulang-tulang yang berpisah, dunia baru dalam kebersamaan mengiring langkah langkah para aktor menuju masa mendatang dalam harapan yang sama.

Pengenalan Padang Kurusetra ke dalam suatu paparan untuk mengilustrasikan adegan-adegan sekitar kejadian di Pura Mangkunegaran merupakan suatu wujud ideal bahwa dalam keberbedaan tetap senantiasa terpendam rasa rindu dan teringat persaudaraan. Tugas yang dijalankan para aktor tidak sekadar memenuhi ambisi pribadi semata karena seluruh aktor yang terlibat berbuat untuk kebaikan dan idealisasi warisan para leluhur.

Dalam dunia panggung pertunjukan wayang purwa kisah Mahabharata antara Pandawa dan Kurawa tidak bisa dinilai apalagi dihakimi secara hitam saja atau putih saja, karena keduanya berasal dari leluhur yang sama, sehingga hitam atau putih yang diacuankan tidak bisa dihindarkan ada pada keduanya.

Seluruh jalinan menjadi suatu romantika yang selalu menanamkan bentuk keindahan yang tidak terhapuskan. GPH. Sujiwakusuma yang naik takhta menjadi KGPAA. Mangkunegara IX tidak lepas juga dari romantika Padang Kurusetra.

Pura Mangkunegaran Surakarta pagi itu menampakan situasi gawat dan tegang, bahkan beberapa petugas keamanan berjaga-jaga di sekitar pura dan ketegangan itu baru berakhir ketika Sang Adipati tampil dan menyatakan bahwa dirinya tetap memimpin di Pura Mangkunegaran.

Adipati Ke IX

Pada tanggal 19 Januari 1988, KGPAA. Mangkunegara IX genap 22 tahun bertakhta (jumeneng) sebagai Adipati kesembilan di Pura Mangkunegaran.

Kebijakan dan Keberadaan Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

250px-Piagam_Penghargaan_dari_Kementerian_Pariwisata%2C_Pos%2C_dan_Telekomunikasi_kepada_Mangkunagara_IX.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Piagam Penghargaan dari Kementerian Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi kepada Mangkunagara IX

Lewat Surat Keputusan Presiden RI, 6 Februari 1991, Pura Mangkunegaran menerima kembali sebagian kekayaannya yang selama ini dikelola oleh pemerintah. Hotel Dana Solo yang bernilai, pabrik obat nyamuk di Tawangmangu, sebidang tanah di barat Solo, villa di Tawangmangu dikembalikan kepada Pura Mangkunegaran (Lihat: Tempo 12 Oktober 1991 )

Haru Biru Dalam Dinasti

Dinasti Mangkunegaran baik yang di dalam jajaran pura maupun di luar pura mencapai haru biru dalam menatap dan perbedaan pendapat untuk menampilkan yang terbaik bagi Pura Mangkunegaran. Dilantiknya GPH. Sujiwakusuma sebagai KGPAA. Mangkunegara IX menandai awal dari babak baru bahwa segala kemelut dan perbedaan pendapat telah selesai. GPH. Sujiwakusuma sah menjadi Adipati kesembilan pada dinasti Mangkunegaran.

Seni Tari Istana

Sebagai pusat kesenian dan kebudayaan, Pura Mangkunegaran adalah tempat yang cocok dan lahan yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini disebabkan Pura Mangkunegaran sebagai merupakan pusat anutan dan style yang kemudian memancar keluar sampai jauh menembus pelosok pelosok. Tidak heran bila KGPAA. Mangkunegara IX dalam soal kesenian tari juga sangat mahir dengan peran bambangan, yaitu seorang kesatriya lemah lembut dan halus yang dalam pertunjukan seni wayang selalu bertempur dengan raksasa yang kasar dan emosional (Tempo,26 Maret 2007). Peran bambangan ini tidak mudah diperankan berhubung untuk mencapai tingkat kehalusan yang optimal, selain karakter pemeran juga latihan yang terus-menerus untuk mencapai tingkat yang mendekati sempurna layak tampil.

Fondasi dan Benteng Budaya

Seni pertunjukan semacam seni tari adalah merupakan hasil karya budaya yang sampai sekarang tetap menjadi barang pusaka peninggalan para leluhur.Kebudayaan sebagai benteng dan fondasi identitas merupakan wacana sekaligus instrumen kekuatan untuk melakukan bargaining terhadap tekanan kepentingan dan gerusan politik dialam Republik.

Seni tari ciptaan pendiri dinasti yang selama ini jarang dipentaskan berhubung materinya memiliki ketersinggungan dengan pihak lain mulai degelar dan dapat dinikmati alur alur ceriteranya. Beksan Bedhaya Diradameta yang menggambarkan perjuangan KGPAA. Mangkunegara I mau tidak mau juga harus keluar kandang untuk dipertunjukkan.Tidak ada alasan singgung menyinggung yang jelas bahwa seni tari dalam kejujurannya adalah cermin dan suatu kisah yang diungkapkan dalam seni untuk dikomunikasikan.

Sebagai salah satu elemen pondasi dan benteng budaya bersama dengan elemen lain, seni ini secara bersama sama menjadi kekuatan identitas sekaligus kebanggaan. Terciptanya kebanggaan menandai bahwa jatidiri dalam identitas kekamian dan kekitaan menjadi bukan kebohongan lagi.

Pada zaman KGPAA. Mangkunegara IX atensi pada penggalian kebudayaan Indonesia mendapat perhatian dan Pura Mangkunegaran memprakarsai area istananya untuk area bermain anak dari berbagai provinsi. Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan budaya, memberikan kesempatan bagi penggalian budaya Indonesia dalam hal mainan anak tradisional itu (TEMPO; 31 Juli 1993).

Referensi

  1. "KGPAA Mangkunegara IX Meninggal di Jakarta, Humas: Sudah 2 Bulan Pindah". Tempo. 13 Agustus 2021
  2. Khairina, ed. (13 Agustus 2021). "KGPAA Mangkunegara IX Wafat Jumat Dini Hari". Kompas.com. Diakses tanggal 13 Agustus 2021.
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Mangkunegara VIII
Adipati Mangkunegaran
(1987—2021)
Diteruskan oleh:
Mangkunegara X
Keluarga
Orang tua
Istri
Generasi ke-2
Generasi ke-3
Generasi ke-4
120px-Presiden_Sukarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Almamater
Kekuasaan Soekarno
Budaya populer
Jabatan baru
Digantikan: Soeharto
Keluarga
Orang tua
Soekarno (ayah) dan Fatmawati (ibu)
Pasangan dan saudara
Taufiq Kiemas (suami kedua) • Surindro Supjarso (suami pertama) • Guntur Soekarnoputra (kakak) • Rachmawati Soekarnoputri (adik) • Nazarudin Kiemas (adik ipar) • Dicky Suprapto (adik ipar) • Sukmawati Soekarnoputri (adik) • Mangkunegara IX (adik ipar) • Guruh Soekarnoputra (adik) • Gusyenova Sabina Padmavati (adik ipar)
Generasi ke-2
Mohammad Rizki Pratama (anak) • Muhammad Prananda Prabowo (anak) • Puan Maharani (anak) • Puti Guntur Soekarno (keponakan) • Hendra Rahtomo (keponakan) • Didi Mahardhika (keponakan) • Paundrakarna (keponakan) • Giri Ramanda Kiemas (keponakan)
Generasi ke-3
Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari (cucu) • Praba Diwangkara (cucu)
120px-President_Megawati_Sukarnoputri_-_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Almamater
Masa pemerintahan
Didahului: Abdurrahman Wahid
Digantikan: Susilo Bambang Yudhoyono

Mangkunegara I
MN I
(1725–1795)

Mangkunegara II
MN II
(1796–1835)

Mangkunegara III
MN III
(1835–1853)

Mangkunegara IV
MN IV
(1853–1881)

Mangkunegara V
MN V
(1881–1896)

Mangkunegara VI
MN VI
(1896–1916)

Mangkunegara VII
MN VII
(1916–1944)

Mangkunegara VIII
MN VIII
(1944–1987)

Mangkunegara IX
MN IX
(1987–2021)

Mangkunegara X
MN X
(2022–kini)

Geografi
Lambang Kota SurakartaPeta Kota Surakarta
Politik
Sejarah
Lokasi terkenal
Transportasi
Demografi & Budaya
Pendidikan
Tempat ibadah
Olahraga
Media
Kuliner
1 Masuk ke dalam Daftar Benda Cagar Budaya yang Dilindungi Pemerintah Kota Surakarta, 2 Dicoret dari daftar karena usia pembangunan kurang dari 50 tahun
Portal Surakarta · Wikipedia:Buku/Surakarta
Kalingga
Mataram Kuno
Wangsa Syailendra
Wangsa Isyana
Kahuripan
Janggala
Kadiri
Singasari
Majapahit
Demak
Kalinyamat
Pajang
Mataram Islam
Surakarta
Yogyakarta
Mangkunagaran
Pakualaman
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan