Senin, 21 September 2026
00:59 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Hartini

Hartini

istri ke-4 Presiden Soekarno

Ini adalah sebuah nama Indonesia yang tidak menggunakan nama keluarga.
Hartini
250px-Hartini%2C_Het_nieuwsblad_voor_Sumatra_%281955-09-26%29%2C_p1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hartini pada tahun 1954
Ibu Negara Indonesia (tidak resmi)
Masa jabatan
7 Juli 1953 –12 Maret 1967
PendahuluFatmawati (menjabat sejak 18 Agustus 1945)
PenggantiSiti Hartinah
Informasi pribadi
Lahir20 September 1924
Pudak, Ponorogo, Hindia Belanda
Meninggal12 Maret 2002(2002-03-12) (umur 77)
Jakarta, Indonesia
Anak7 termasuk Taufan dan Bayu Soekarnoputra
Dikenal karena
Istri Soekarno

Siti Suhartini (20 September 1924  12 Maret 2002), lebih dikenal sebagai Hartini atau Hartini Sukarno, adalah istri keempat Presiden Indonesia Soekarno. Lahir dari keluarga pegawai kehutanan di Ponorogo, Hartini menikah pada usia muda dengan seorang pria bernama Suwondo dan dikaruniai lima orang anak. Ia bertemu Soekarno pada tahun 1952. Setelah saling bertukar surat cinta menggunakan nama samaran dan memperoleh izin dari Fatmawati, keduanya menikah pada 7 Juli 1953. Pernikahan ini memicu reaksi keras di masyarakat, termasuk penolakan dari berbagai organisasi perempuan peganjur monogami. Akibat penolakan tersebut, Hartini diminta menetap di Istana Bogor alih-alih Istana Merdeka, Jakarta, serta tidak diakui secara resmi sebagai ibu negara.

Pada akhir 1950-an, Hartini mulai menjalankan sejumlah peran protokoler layaknya seorang ibu negara meski tanpa gelar resmi, seperti mendampingi kunjungan ke luar negeri, menghadiri acara kenegaraan, dan menyampaikan pidato. Ia juga dikenal memiliki pengaruh terhadap Soekarno dan tetap setia mendampinginya kendati Soekarno kembali berpoligami. Setelah kejatuhan Soekarno dan beralihnya kekuasaan ke era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, Hartini sempat disudutkan karena tudingan kedekatannya dengan kalangan kiri. Ia terus mendampingi Soekarno hingga wafat pada tahun 1970, sehingga dikenang sebagai salah satu istrinya yang setia.

Kehidupan awal

Hartini lahir dengan nama Siti Suhartini[1] di Ponorogo, Jawa Timur, Hindia Belanda (kini Indonesia) pada 20 September 1924.[2] Sebagai anak kedua yang lahir dari seorang pegawai kehutanan bernama Murawi dan istrinya,[a][3] ia kerap berpindah-pindah tempat tinggal semasa kecil. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Malang, kemudian diangkat anak oleh seorang pria bernama Oesan dan dibawa ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, ia bersekolah di Nijverheidsschool—sekolah kejuruan kepandaian putri.[4] Hartini kelak mengenang bahwa orang tuanya sangat menekankan peran tradisional perempuan dalam budaya Jawa, nilai yang berusaha ia terapkan dalam kehidupan pernikahannya: "... seorang istri harus menjadi ibu, kawan, dan kekasih bagi suami."[2] Pada 20 Desember 1943,[5] Hartini menikah melalui perjodohan dengan seorang pegawai perusahaan minyak bernama Suwondo.[6] Pasangan ini kemudian menetap di Salatiga, Jawa Tengah, dan dikaruniai lima orang anak.[7]

Hartini dan Suwondo bercerai pada awal 1950-an, kendati kronologi perpisahannya menuai perdebatan. Beberapa penulis, seperti wartawan Rosihan Anwar, menyebut bahwa keduanya sudah berpisah saat Hartini pertama kali bertemu Presiden Soekarno.[8] Sebaliknya, sejumlah penulis lain, termasuk penulis biografi Peter Kasenda, sejarawan Australia John Legge, dan sejarawan Amerika Serikat Theodore Friend, mencatat bahwa Hartini masih berstatus istri Suwondo ketika Soekarno mulai mendekatinya.[9] Hartini membantah klaim tersebut[8] dan menulis dalam catatannya pada tahun 1970 bahwa ia telah resmi bercerai saat itu.[10] Pada tahun 1954, surat kabar Indonesia Raya memberitakan bahwa Hartini dan Suwondo bercerai pada April 1952,[11] sementara Suwondo dalam kesaksiannya di pengadilan pada akhir tahun yang sama menyatakan bahwa mereka baru mendaftarkan perceraian pada 12 April 1954, tetapi sepakat memberlakukannya surut per 12 April 1952.[5]

Bertemu Soekarno

Pada September 1952, Hartini bertemu dengan Soekarno saat menyajikan jamuan makan malam untuk presiden dan Wali Kota Salatiga. Saat itu, Soekarno tengah singgah dalam perjalanannya menuju Yogyakarta untuk meresmikan Masjid Syuhada Yogyakarta.[12] Keduanya saling terpikat,[7] kendati terpaut perbedaan usia 23 tahun.[8] Hartini merasa "terpesona" sejak pertemuan pertama, perasaan yang kian mendalam seiring ia mengenal sang presiden lebih dekat. Sementara itu, dalam surat pertamanya, Soekarno menulis bahwa ia "sangat terharu" saat pertama kali melihat Hartini;[10] menurut Friend, Soekarno terpikat oleh kecerdasan dan keanggunan Hartini.[13]

Soekarno mulai mengirimkan surat cinta kepada Hartini melalui perantara,[7] yang menurut Anwar adalah Jenderal Gatot Soebroto, sedangkan menurut Legge adalah Mayor Jenderal Soehardjo Hardjowardojo.[14] Soekarno menandatangani surat-surat tersebut dengan nama samaran Srihana dan memanggil Hartini dengan nama Srihani;[15] ia kelak menjelaskan kepada Hartini bahwa nama-nama itu diambil dari legenda Jawa mengenai sepasang kekasih yang tak terpisahkan.[10] Semasa menjalin hubungan, Hartini secara berkala bepergian lewat jalur darat dari Salatiga ke Semarang, lalu terbang ke Jakarta sebelum bertolak ke Istana Cipanas.[16] Keduanya juga sempat bertemu di Prambanan saat Soekarno meresmikan pementasan Sendratari Ramayana Prambanan.[7] Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mendesak Soekarno untuk menjaga stabilitas dan menghindari skandal dengan merahasiakan hubungan tersebut. Soekarno membantah dengan alasan bahwa ia sangat mencintai Hartini, sehingga membiarkannya sekadar menjadi wanita simpanan justru merupakan tindakan yang tidak bermoral.[17]

Foto hitam-putih seorang pria dan wanita sedang menari sambil berjongkok
Hartini dan Soekarno menari di Maluku, 1958

Pada 15 Januari 1953, Soekarno kemudian meminta izin kepada istrinya, Fatmawati, yang melahirkan putra bungsu mereka Guruh pada dua hari sebelumnya, untuk menikahi Hartini sebagai istri kedua. Kendati menentang poligami, Fatmawati memberi izin,[7][8] dan Soekarno pun melamar Hartini. Hartini sempat menolak karena khawatir dicap merebut suami orang. Ia akhirnya bersedia setelah Soekarno menyatakan tidak dapat hidup tanpanya dan berjanji akan menjadikannya "ratu yang tidak bermahkota".[2] Soekarno dan Hartini menikah pada 7 Juli 1953 di Cipanas.[b] Ini merupakan pernikahan keempat bagi Soekarno,[c][7] sekaligus pernikahan poligami pertamanya.[18]

Pernikahan

Pernikahan Soekarno dan Hartini memicu kecaman luas, baik karena waktu pelaksanaannya maupun di tengah gencarnya upaya meloloskan undang-undang perkawinan monogami yang baru.[19] Berbagai organisasi perempuan yang saat itu mengampanyekan gerakan anti-poligami di Indonesia, termasuk Kongres Wanita Indonesia (Kowani), mengecam pernikahan tersebut dan menganggapnya merendahkan kaum perempuan.[14] Sejumlah kelompok berunjuk rasa dan mendatangi istana kepresidenan,[20] aksi yang menurut penuturan Soekarno sempat membuatnya tertekan,[21] sementara anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dilaporkan melempari kediaman Hartini di Salatiga.[14] Surat kabar seperti Indonesia Raya dan Pedoman menerbitkan tajuk rencana yang menentang pernikahan ini,[14] bahkan beberapa di antaranya mendesak Soekarno untuk mengundurkan diri.[22] Surat kabar Pemandangan mempermasalahkan bahwa jika Hartini baru bercerai pada April 1954, ia belum menuntaskan masa iddah yang diwajibkan oleh hukum Islam saat melangsungkan pernikahannya.[d][23] Sementara itu, meskipun Fatmawati telah meninggalkan istana sejak Desember 1955 dan menuntut cerai,[24] ia tetap berstatus sebagai istri sah Soekarno dan mempertahankan posisinya sebagai Ibu Negara Indonesia.[e][25]

Menurut Friend dan Legge, hubungannya dengan Hartini memperteguh ketetapan hati politik Soekarno serta meningkatkan rasa percaya dirinya.[26] Meski demikian, Hartini dikucilkan dari pergaulan masyarakat kelas atas Jakarta sepanjang 1950-an dan sengaja disisihkan dari berbagai perhelatan politik penting, termasuk perayaan Hari Ibu serta Konferensi Asia–Afrika 1955 di Bandung.[27] Wakil Presiden Mohammad Hatta sangat marah atas keputusan Soekarno yang dianggap menelantarkan Fatmawati, hingga ia selalu beranjak meninggalkan ruangan setiap kali Hartini masuk.[f][28] Pada tahun 1954, Soekarno sempat berjanji bahwa Hartini tidak akan diperkenalkan ke hadapan publik,[29] dan setelah upaya memperkenalkannya menuai kontroversi pada tahun 1955, ia tidak pernah lagi dilibatkan dalam agenda kenegaraan resmi.[30] Keterlibatan Hartini umumnya dibatasi pada acara-acara yang berskala kecil dan privat. Dalam memoarnya pada tahun 1970, Hartini mengenang, "Dalam beberapa hal, menjadi istri kedua Presiden jauh lebih berat daripada menjadi wanita simpanannya."[31]

Hartini tidak diizinkan tinggal di Istana Merdeka, Jakarta.[27] Ia ditempatkan di Istana Bogor dan hanya bertemu Soekarno setiap akhir pekan.[2] Selama hari kerja, keduanya berkomunikasi lewat telepon dua kali sehari, sementara Soekarno tetap bermalam di Jakarta.[31] Hartini membawa anak-anak dari pernikahan pertamanya ke Bogor,[32] serta melahirkan dua putra dari pernikahannya dengan Soekarno, yakni Taufan (l. 1955) dan Bayu (l. 1958).[33]

Pengaruh di Bogor

Foto hitam-putih dua orang wanita tertawa; wanita di sebelah kanan mencoba mengenakan blangkon
Hartini (kiri) bersama Ibu Negara Yugoslavia Jovanka Broz (kanan), ca1959

Menjelang akhir 1950-an, kecakapan politik Hartini kian terasah, kendati statusnya sebagai istri kedua kerap memicu persoalan protokoler dalam acara kenegaraan.[g][34] Ia bertemu dengan sejumlah kepala negara, seperti Akihito dari Jepang, Ho Chi Minh dari Vietnam, Norodom Sihanouk dari Kamboja, dan Josip Broz Tito dari Yugoslavia.[35] Ia juga mewakili Indonesia dalam beberapa kunjungan luar negeri, termasuk ke Yugoslavia pada tahun 1960 serta Tiongkok dan Polandia pada tahun 1962,[36] guna mempererat hubungan dengan negara-negara Blok Timur.[37] Di dalam negeri, Hartini kerap berpidato dan menghadiri acara-acara resmi.[34] Kendati mulai mengambil alih peran yang lazimnya dijalankan ibu negara, ia tidak pernah menyandang gelar tersebut secara resmi;[15] ketika sebuah kongres perempuan pada tahun 1963 mempertimbangkan usulan pemberian gelar itu, Soekarno menyela tugas kepresidenannya untuk menghadiri kongres, membawa pulang Hartini, dan memerintahkannya kembali ke Bogor.[34]

Meskipun tetap tidak diperkenankan hadir di istana Jakarta—tempat Soekarno tinggal bersama empat anaknya dari Fatmawati—[h][38] Hartini membangun apa yang disebut Legge sebagai "istananya sendiri" di Bogor.[34] Sejumlah pejabat pemerintah—termasuk para tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti DN Aidit dan Njoto—berupaya mengambil hatinya,[20] sementara istri Jenderal Ahmad Yani dan Menteri Luar Negeri Subandrio dikabarkan menjaga hubungan baik dengannya demi kepentingan suami mereka.[34] Membina hubungan baik dengan Hartini dipandang sebagai jalan pintas untuk mendapatkan akses ke presiden.[39] Pengaruh ini juga disadari oleh diplomat asing; ketika Cindy Adams tengah menyiapkan penulisan biografi Soekarno, Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones menyarankannya untuk mewawancarai Hartini.[40] Adams kelak menggambarkan Hartini sebagai "istri nomor dua Soekarno, tetapi ... nomor satu dalam kekuasaan dan gengsi."[41]

Kendati memiliki pengaruh besar terhadap suaminya,[20] Hartini tidak memonopoli perhatian Soekarno, yang dikenal gemar memikat wanita.[42] Soekarno menolak menceraikan Fatmawati dengan alasan masih mencintainya.[i][20] Selain itu, meski sempat berjanji bahwa Hartini akan menjadi istri terakhirnya, Soekarno kelak menikahi Ratna Sari Dewi pada tahun 1961, Haryati pada tahun 1963, dan Yurike Sanger pada tahun 1964.[7] Soekarno menghabiskan akhir pekannya bersama Hartini dan hari kerja bersama istri-istrinya yang lain.[43] Soekarno berniat untuk menutupi pernikahan lainnya tersebut dari Hartini.[j][44] Ia juga kerap menjalin hubungan asmara lain,[45] yang akhirnya tidak lagi dipersoalkan oleh Hartini setelah diancam akan diceraikan.[46] Dalam sebuah wawancara pada tahun 1999, Hartini mengenang, "Dia sangat mencintai keindahan, dan juga keindahan dalam kecantikan wanita." Ia menuturkan bahwa ia membutuhkan waktu tiga tahun untuk dapat menerima Soekarno apa adanya, meski hal itu tetap menjadi beban batin baginya.[2]

Kejatuhan Soekarno

Pada September 1965, sebuah upaya kudeta dilancarkan oleh kelompok yang menamakan dirinya Gerakan 30 September (G30S), peristiwa yang kemudian dituduhkan kepada PKI. Rentetan demonstrasi mahasiswa merebak menuntut pembubaran partai tersebut, penurunan inflasi, serta berakhirnya kekuasaan Soekarno. Aksi unjuk rasa terjadi di depan sejumlah istana kepresidenan, dengan salah satu sasaran kecaman demonstran adalah kehidupan poligami Soekarno. Di kediaman Hartini di Bogor, para mahasiswa mencoreti dinding dengan tulisan seperti "sarang sipilis" dan "lonte agung istana".[47] Aksi vandalisme ini membuat Soekarno murka, hingga ia memanggil sepuluh perwakilan mahasiswa ke ruang kerjanya dan memarahi mereka.[8] Pada akhirnya Soekarno dilengserkan dan Soeharto mengambil alih kepresidenan setelah sebelumnya memperoleh wewenang pemulihan keamanan melalui Surat Perintah Sebelas Maret.[48]

Foto nisan marmer dan makam yang ditinggikan
Makam Hartini di TPU Karet Bivak

Pada 1 Juli 1968, Hartini keluar dari istana Bogor dan berpindah ke dekat Batu Tulis. Soekarno mulai menjadi tahanan rumah, dengan membagi waktunya antara rumah tersebut dan istri-istri lainnya di Jakarta.[44] Seiring berjalannya waktu, istri-istri Soekarno lainnya meninggalkannya, menyisakan Hartini sebagai satu-satunya istri yang tetap bertahan mendampingi sang mantan presiden.[49] Selama masa transisi, Hartini menghadapi tuduhan berafiliasi dengan organisasi-organisasi sayap kiri—seperti Gerwani yang kemudian dibubarkan—[15] serta dituding menyalurkan dana untuk PKI.[50] Berdasarkan pada laporan-laporan semacam itu, ia diinterogasi oleh rezim baru.[51] Pada Oktober 1968, Associated Press melaporkan bahwa Hartini telah ditangkap dan didakwa mendukung kegiatan politik berkelanjutan Soekarno;[52] laporan tersebut disangkal oleh Sutikno Lukitodisastro, sekretaris presidensial untuk Soeharto.[51] Kantor berita United Press International melaporkan bahwa beberapa istri Soekarno lainnya bahkan menyalahkan Hartini dan kedekatan politik kirinya atas kejatuhan sang presiden.[53]

Meskipun masih berrumah tangga dengan Soekarno, ia seringkali ditolak untuk mengunjunginya. Pada akhir 1969, ia mulai lebih sering menengok Soekarno, dengan kunjungan harian ke Wisma Yaso di Jakarta bermula pada pertengahan 1970.[44] Hartini kelak mengenang bahwa ia menghabiskan waktu empat bulan merawat Soekarno di pembaringannya—menjadi satu-satunya orang yang diizinkan merawatnya—ketika kondisi sang proklamator kian merosot ke dalam depresi di tengah masa tahanan rumah.[2] Setelah Soekarno wafat pada 21 Juni 1970, Hartini memohon kepada Soeharto agar jenazahnya dimakamkan di Bogor, tetapi permohonan tersebut ditolak dan Soekarno pada akhirnya dimakamkan di Blitar.[k][54] Putri Soekarno, Rachmawati, menulis dalam memoarnya bahwa kendati sempat membenci Hartini karena dianggap menjadi penyebab perpisahan Soekarno dan Fatmawati, kekesalan tersebut luruh menjadi rasa hormat melihat ketulusan Hartini yang setia merawat ayahnya hingga akhir hayat.[14]

Pada masa jandanya, Hartini menerima sepertiga uang pensiun yang diberikan kepada istri-istri Soekarno.[l][55] Hartini mendedikasikan waktunya untuk berbagai kegiatan sosial dan amal,[56] menghadiri acara-acara terkait keluarga Soekarno,[57] dan mewakili Soekarno saat diangkat menjadi "Pahlawan Proklamator" pada 1986.[58] Pada tahun 1999, ia tinggal di Jakarta Pusat, mengisi hari-harinya dengan aktivitas kemasyarakatan dan mengurus rumah tangga.[2] Pada masa tuanya, kondisi kesehatan jantung Hartini menurun sehingga ia harus menjalani perawatan medis secara berkala.[59] Hartini meninggal dunia di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC), Jakarta, pada 12 Maret 2002[7] setelah sempat mengalami koma selama tiga hari.[59] Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak,[7] setelah upacara pelepasan yang dipimpin oleh putri tirinya, Presiden Megawati Soekarnoputri.[8]

Catatan

  1. Laporan-laporan menyebutkan jumlah anak yang berbeda yang lahir dari pasangan tersebut. Surat kabar Perdamaian melaporkan pada 1954 bahwa pasangan tersebut memiliki tujuh anak.(De Vrije Pers 1954c, hlm. 1) Pada 1999, majalah Tempo melaporkan bahwa pasangan tersebut memiliki lima anak (Ichram & Kleden 1999, hlm. 32).
  2. Menurut laporan awal, pernikahan Hartini dan Sukarno dilangsungkan pada bulan Juni 1954. Ketika diwawancarai pada tahun 1954, Hartini menyatakan bahwa dia berkenalan dengan Sukarno ketika menghadiri suatu pernikahan di Bogor (De Vrije Pers 1954a, hlm. 1). Pada tahun 1970, Hartini menulis bahwa dia menikah dengan Sukarno pada tanggal 7 Juli 1954 (Hartini 1970a, hlm. 49); tanggal yang sama juga disebut oleh Pengadilan Agama Salatiga ketika menyelidiki perceraian Hartini dan Suwondo. Sementara itu, (Legge 1972, hlm. 277) menulis bahwa pernikahan Hartini dan Sukarno dilangsungkan pada tahun 1955. Sumber-sumber yang lebih mutakhir menggunakan tanggal 7 Juli 1953 (Encyclopedia of Jakarta; Matanasi 2018; Kakiailatu 2002, hlm. 104). Pada tahun 1976, majalah Tempo mengutip tulisan dari Sukarno yang mengatakan bahwa ulang tahun perkawinan dia dan Hartini yang keempat belas jatuh pada tanggal 7 Juli 1967 (Tempo 1976, hlm. 48).
  3. Sebelum Fatmawati, Soekarno pernah menikah dengan Siti Oetari (1921–1923) dan Inggit Garnasih (1923–1943) (Chairulia 2025).
  4. Pada akhir 1954, sanggahan ini ditolak oleh pengadilan agama di Salatiga yang memutuskan bahwa Hartini telah menyelesaikan masa idahnya. (De Nieuwsgier 1954d, hlm. 2)
  5. Keputusan ini dilaporkan merupakan bagian dari janji Soekarno kepada putra sulungnya, Guntur. (Legge 1972, hlm. 277) Hal ini didukung oleh gerakan perempuan yang menjadikan Eleanor Roosevelt sebagai panutan sosok ibu negara ideal, dengan pandangan bahwa Indonesia hanya boleh memiliki satu ibu negara. (Sullivan 2020, hlm. 289)
  6. Hubungan Hatta dan Hartini mencair dan menjadi lebih ramah setelah Soekarno wafat. (Tempo 2002)
  7. Dalam perbincangannya dengan Cindy Adams, Soekarno beralasan bahwa kendala protokoler inilah yang membuatnya jarang mengajak istri-istrinya saat melawat ke luar negeri. (Sukarno & Adams 1966, hlm. 284) Sementara itu, dalam catatannya pada tahun 1970, (Hartini 1970a, hlm. 57) menilai kebiasaan Soekarno bepergian sendiri lebih didasari oleh keinginannya untuk bebas menjalin hubungan dengan perempuan lain.
  8. Setelah meninggalkan istana, Fatmawati tetap tinggal di Jakarta bersama Guntur. (Sukarno & Adams 1966, hlm. 285)
  9. Perceraian baru resmi terjadi setelah Soekarno lengser dari kekuasaannya. (The New York Times 1969, hlm. 15)
  10. (Hartini 1970b, hlm. 40, 43) menyatakan bahwa ia mengenal Dewi pada awal 1960. Namun, Soekarno enggan mengakui pernikahan mereka kepada Hartini sampai penangkapaan rumahnya, saat Soekarno berujar kepada Hartini untuk menerimanya sebagai seorang saudari.
  11. Hartini mengajukan permohonan ini bersama Dewi, yang sempat kembali ke Jakarta untuk menjenguk Soekarno menjelang wafatnya. Menurut Legge, Soeharto kemungkinan ingin menghindari terbentuknya tempat ziarah di dekat Jakarta (Legge 1972, hlm. 409).
  12. Dua pertiga lainnya diberikan kepada Fatmawati dan Dewi (Tempo 1978, hlm. 6).

Referensi

  1. De Vrije Pers 1954a, hlm. 1.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Ichram & Kleden 1999, hlm. 32.
  3. De Vrije Pers 1954c, hlm. 1.
  4. Encyclopedia of Jakarta; Kakiailatu 2002, hlm. 104
  5. 1 2 De Nieuwsgier 1954c, hlm. 1.
  6. Encyclopedia of Jakarta; Legge 1972, hlm. 277
  7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Encyclopedia of Jakarta.
  8. 1 2 3 4 5 6 Matanasi 2018.
  9. Friend 2003, hlm. 72; Legge 1972, hlm. 277; Matanasi 2018
  10. 1 2 3 Hartini 1970a, hlm. 48.
  11. De Nieuwsgier 1954a, hlm. 1.
  12. Encyclopedia of Jakarta; Hartini 1970a, hlm. 48
  13. Friend 2003, hlm. 72.
  14. 1 2 3 4 5 Sitompul 2018a.
  15. 1 2 3 Sitompul 2018b.
  16. Hartini 1970a, hlm. 49; Legge 1972, hlm. 277
  17. Legge 1972, hlm. 277.
  18. Sullivan 2020, hlm. 214.
  19. Sullivan 2020, hlm. 285–289.
  20. 1 2 3 4 Kakiailatu 2002, hlm. 104.
  21. Sukarno & Adams 1966, hlm. 284.
  22. The Guardian 1954, hlm. 7.
  23. De Vrije Pers 1954b, hlm. 1.
  24. De Nieuwsgier 1955.
  25. Matanasi 2018; Sitompul 2018a
  26. Friend 2003, hlm. 72; Legge 1972, hlm. 278
  27. 1 2 Sullivan 2020, hlm. 289.
  28. Tempo 2002.
  29. Het Nieuwsblad voor Sumatra 1955, hlm. 1.
  30. Alden 1955, hlm. 3.
  31. 1 2 Hartini 1970a, hlm. 51.
  32. De Nieuwsgier 1954b, hlm. 1.
  33. Erdian 2003; Hartini 1970a, hlm. 49
  34. 1 2 3 4 5 Legge 1972, hlm. 335.
  35. Encyclopedia of Jakarta; Hartini 1970a, hlm. 57
  36. Beech 1962, hlm. 12; Trybuna Ludu 1962, hlm. 2; Tulsa Daily World 1960, hlm. 15
  37. Adams 1967, hlm. 307.
  38. Sukarno & Adams 1966, hlm. 284–285.
  39. Legge 1972, hlm. 335; Sitompul 2018b
  40. Adams 1967, hlm. 197.
  41. Adams 1967, hlm. 94.
  42. Legge 1972, hlm. 13–14.
  43. Adams 1967, hlm. 304.
  44. 1 2 3 Hartini 1970b, hlm. 43.
  45. Forshee 2006, hlm. 18.
  46. Hartini 1970a, hlm. 57.
  47. Tifada 2021.
  48. Ichram & Kleden 1999, hlm. 32; Tifada 2021
  49. Ichram & Kleden 1999, hlm. 32; Sitompul 2018a
  50. Hughes 1968, hlm. 270.
  51. 1 2 The Age 1968, hlm. 10.
  52. The Sydney Morning Herald 1968, hlm. 3.
  53. Stone 1967, hlm. 6.
  54. Legge 1972, hlm. 409.
  55. Tempo 1978, hlm. 6.
  56. The Ann Arbor News 2002, hlm. 15.
  57. Tempo 1980, hlm. 22, Tempo 1993, hlm. 38
  58. Tempo 1986, hlm. 21.
  59. 1 2 Erdian 2003.

Daftar pustaka

Keluarga
Orang tua
Istri
Generasi ke-2
Generasi ke-3
Generasi ke-4
120px-Presiden_Sukarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Almamater
Kekuasaan Soekarno
Budaya populer
Jabatan baru
Digantikan: Soeharto
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan