Minggu, 25 Oktober 2026
07:32 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Anarka-feminisme

Anarka-feminisme

Bagikan:
Bagian dari seri politik tentang
Anarkisme
Simbol anarki "Lingkaran-A"
Bagian dari seri
Feminisme
120px-Venus_symbol_%28heavy_pink%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konsep
250px-Anarcha-feminists_in_Wroc%C5%82aw.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembacaan manifestasi feminis oleh kelompok Anarko-Feminisme di Wroclaw, Polandia, tahun 2020.

Anarka-feminisme, juga dikenal sebagai feminisme anarkis atau anarko-feminisme, adalah sebuah sistem analisis yang menggabungkan prinsip-prinsip dan analisis kekuasaan teori anarkis dengan feminisme. Sistem ini sangat mirip dengan feminisme interseksional. Anarka-feminisme secara umum berpendapat bahwa patriarki dan peran gender tradisional sebagai manifestasi hierarki koersif yang tidak sukarela harus digantikan oleh asosiasi bebas yang terdesentralisasi. Anarka-feminis percaya bahwa perjuangan melawan patriarki merupakan bagian esensial dari konflik kelas dan perjuangan anarkis melawan negara dan kapitalisme. Intinya, filsafat ini memandang perjuangan anarkis sebagai komponen penting dari perjuangan feminis, begitu pula sebaliknya. Penulis anarka-feminis Kanada, L. Susan Brown, menyatakan bahwa "karena anarkisme adalah filsafat politik yang menentang semua hubungan kekuasaan, ia pada dasarnya feminis".[1]

Sejarah

Latar Belakang

Anarkisme pertama kali muncul sebagai sebuah aliran politik di masa ketika ketidaksetaraan gender ditegakkan secara sistematis dan perempuan dikucilkan dari kehidupan publik. Keberadaan mereka terbatas pada peran gender tradisional sebagai ibu dan istri, dalam konstruksi keluarga inti. Khususnya, perempuan kelas pekerja kehilangan hak politik dan ekonomi, yang mendorong mereka lebih dekat ke sosialisme dan militansi politik. Mereka mulai memperjuangkan hak reproduksi dan cinta tak terikat, yang menjadi dasar bagi feminisme anarkis.[2]

Para pendukung awal anarkisme awalnya enggan membahas feminisme: Pierre-Joseph Proudhon secara terbuka menentang tuntutan feminis tentang kesetaraan gender dan menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga tradisional;[3][4] Peter Kropotkin berpendapat bahwa tujuan-tujuan feminis harus disubordinasikan pada perjuangan kelas; dan Benjamin Tucker menentang tuntutan "upah yang sama untuk pekerjaan yang sama". Baru setelah Mikhail Bakunin menjadikan penghapusan ketidaksetaraan gender sebagai salah satu tujuan Aliansi Internasional Demokrasi Sosialis, hak-hak perempuan menjadi perhatian utama gerakan anarkis. Kaum anarko-komunis mengadopsi pemikiran Friedrich Engels dalam kritik terhadap keluarga, yang menganggapnya sebagai asal mula ketidaksetaraan gender dan ketidaksetaraan ekonomi. Kritik anti-otoriter terhadap kekuasaan dalam institusi pernikahan dan keluarga inti ini mulai menarik banyak feminis ke arah anarkisme. Sintesis anarkisme dan feminisme selanjutnya, meskipun tidak secara eksplisit diberi label demikian pada saat itu, kemudian dikenal sebagai anarka-feminisme.

250px-Soledad_Gustavo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Teresa Mañé, salah satu pendukung pertama sintesis anarka-feminis

Gelombang Pertama (1880-an–1940-an)

Selama tahun 1880-an, aliran feminisme anarkis pertama kali dikembangkan oleh aktivis Katalan, Teresa Mañé dan Teresa Claramunt. Pada tahun 1890-an, feminisme anarkis telah menyebar ke seluruh dunia, dibawa oleh para imigran dari dan ke Eropa. Pers anarkis mulai menerbitkan analisis feminis tentang kesetaraan gender dan kritik terhadap pernikahan, keluarga inti, dan prostitusi. Melalui La Questione Sociale karya Errico Malatesta, pamflet Teresa Mañé tentang pendidikan perempuan dan ketidaksetaraan gender dipublikasikan secara luas. Feminisme anarkis selanjutnya diadopsi oleh anarkis Amerika, Voltairine de Cleyre dan Emma Goldman, yang kemudian dianggap sebagai "induk pendiri" anarka-feminisme. Lucy Parsons juga mendirikan Serikat Perempuan Pekerja di Chicago dan memastikan partisipasi perempuan dalam Industrial Workers of the World sebagai salah satu anggota pendirinya. Di Inggris, anarkis Charlotte Wilson menjadi advokat untuk "gaji yang sama untuk pekerjaan yang sama" dan mempromosikan pendidikan perempuan.

Perempuan anarkis menduduki posisi penting dalam dewan redaksi majalah (seperti Mother Earth), dalam penerbitan buku, dan sebagai pembicara publik. Publikasi feminis juga diedarkan secara khusus, termasuk Germinal, El Oprimido, dan La Voz de la Mujer, di mana perempuan anarkis membela bentuk feminisme revolusioner. Sebagai cara untuk melawan Budaya Domestikitas, yang menjunjung tinggi kepemilikan pribadi keluarga inti, perempuan anarkis seperti Charlotte Wilson membuka rumah mereka menjadi "ruang kuasi-publik" untuk pertemuan politik dan makan bersama. Perempuan anarkis bahkan terlibat dalam aksi langsung yang penuh kekerasan, termasuk upaya pembunuhan kepala polisi Rusia Fyodor Trepov oleh Vera Zasulich; pembunuhan politisi sayap kanan Prancis Marius Plateau oleh Germaine Berton; dan rencana Kanno Sugako untuk membunuh Kaisar Jepang Meiji.

Kebangkitan feminisme anarkis memicu reaksi anti-feminis di antara banyak laki-laki dalam gerakan anarkis, yang meremehkan perjuangan hak-hak perempuan sebagai hal sekunder dibandingkan perjuangan kelas. Sebaliknya, La Voz de la Mujer mengecam para laki-laki ini sebagai "anarkis palsu" yang memprioritaskan pembebasan mereka sendiri di atas pembebasan perempuan. Dalam jurnal anarka-feminis Tiongkok, Natural Justice, He Zhen juga mengkritik apa yang ia lihat sebagai "upaya laki-laki untuk membedakan diri atas nama pembebasan perempuan". Para anarka-feminis umumnya menyimpulkan bahwa permusuhan laki-laki terhadap feminisme membuktikan mereka tidak dapat diandalkan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, dan mulai mengorganisasi gerakan mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Para feminis gelombang pertama membentuk kelompok-kelompok perempuan sebagai organisasi datar dan menggunakan pengambilan keputusan konsensus, yang mencerminkan "kesadaran libertarian bawah sadar". Kelompok-kelompok perempuan anarkis didirikan di seluruh Amerika Serikat, sebagian besar oleh perempuan imigran Italia, dengan tujuan memperjuangkan "emansipasi perempuan" melalui gotong royong dan pengorganisasian diri.[5] Di Paterson, New Jersey, Gruppo Emancipazione della Donna membentuk klub teater dan musik perempuan, serta memublikasikan karya-karya feminisme anarkis yang menghubungkan perjuangan melawan patriarki dengan perjuangan melawan patria. Berbeda dengan kaum anarkis Italia, kaum anarkis Yahudi jarang membentuk kelompok perempuan tertentu, dengan para anarkis dari jurnal Fraye Arbeter Shtime menyatakan diri mereka semua sebagai feminis.

Salah satu kelompok perempuan libertarian yang paling terkenal adalah Mujeres Libres, sebuah organisasi feminis anarkis yang bertujuan untuk membebaskan perempuan dari "tiga perbudakan" mereka, yaitu ketidaktahuan, eksploitasi, dan diskriminasi. Didirikan selama Revolusi Spanyol tahun 1936 oleh Lucía Sánchez Saornil, Mercè Comaposada, dan Amparo Poch y Gascón, Mujeres Libres menerapkan program pendidikan perempuan yang mengajarkan keterampilan teknis dan meningkatkan literasi perempuan. Sánchez Saornil sendiri menulis puisi yang menyerukan perempuan untuk bertindak melawan penindasan mereka, yang menarik Emma Goldman untuk mengunjungi Spanyol dan berpartisipasi dalam pekerjaan Mujeres Libres sebagai advokat.

Namun, feminisme anarkis pada masa itu, yang lebih berfokus pada pengembangan kelompok aktivis kecil daripada menciptakan gerakan massa, tidak memiliki strategi yang tepat untuk mencapai hak-hak perempuan, sehingga hanya sedikit tindakan yang diambil. Pada awal abad ke-20, feminisme anarkis secara bertahap digantikan oleh feminisme sosialis, yang mengambil pendekatan reformis dalam mencapai hak pilih perempuan. Pada saat itu, Charlotte Wilson sendiri telah meninggalkan aktivisme anarkis, terlibat dalam advokasi hak pilih perempuan, dan kemudian bergabung dengan Partai Buruh Independen. Kritik feminis anarkis terhadap keluarga dan otoritarianisme mulai mereda, dan kemudian dirumuskan kembali ketika gelombang feminisme baru muncul.

Gelombang Kedua (1960-an–1980-an)

Pada akhir 1960-an, feminisme gelombang kedua muncul dari Kiri Baru, sebagai bagian dari gelombang aktivisme anti-penindasan yang luas, yang mencakup gerakan hak-hak sipil dan berpuncak pada protes tahun 1968. Berlandaskan feminisme sosialis, gelombang kedua ini berupaya mendorong solidaritas antarperempuan, menyatukan mereka ke dalam "persaudaraan" berdasarkan pengalaman bersama. Selama periode ini, para feminis menemukan kembali karya feminis anarkis gelombang pertama seperti Emma Goldman, dan tak lama kemudian gerakan pembebasan perempuan mulai membentuk kembali gerakan anarkis. Banyak feminis gelombang kedua menganggap anarkisme sebagai "ekspresi feminisme yang konsisten secara logis", karena sintesisnya antara perjuangan untuk kebebasan individu dengan perjuangan untuk kesetaraan sosial. Peggy Kornegger mengklaim bahwa kaum feminis telah menjadi "anarkis tak sadar, baik dalam teori maupun praktik" dan merupakan satu-satunya tendensi aktivis yang "mempraktikkan apa yang dikhotbahkan anarkisme".

Lingkungan seksisme yang merajalela di banyak bagian Kiri Baru mendorong pembentukan kelompok-kelompok perempuan sebagai bagian dari strategi separatisme feminis, yang mengarah pada penciptaan dan adopsi istilah "anarka-feminis" oleh perempuan anarkis. Feminis anarkis gelombang kedua mengembangkan kelompok afinitas mereka sendiri berdasarkan prinsip-prinsip kooperatif, desentralisasi, dan federalis, sebagai alternatif bagi organisasi-organisasi yang patriarkal maupun tanpa struktur. Dorongan kaum anarka-feminis untuk memperhitungkan bentuk-bentuk organisasi hierarkis ini khususnya dipengaruhi oleh esai Jo Freeman tahun 1972, The Tyranny of Structurelessness, yang mendorong tendensi egaliter yang terorganisasi dalam gerakan tersebut.

Gelombang kedua feminisme anarkis juga dicirikan oleh militansi yang seringkali disertai kekerasan, sebagaimana tercermin dalam Manifesto SCUM. Anarka-feminis seperti Ann Hansen turut serta dalam serangan bom yang dilakukan oleh kelompok gerilya perkotaan Direct Action, yang menyasar perusahaan-perusahaan yang memproduksi suku cadang senjata perang dan sebuah toko video jaringan yang mendistribusikan film snuff dan pornografi pedofilia.

Pada tahun 1980-an, perang seks feminis telah menyebabkan perpecahan dalam feminisme gelombang kedua, yang terpecah menjadi berbagai kecenderungan, sementara banyak mantan feminis beralih ke karierisme akademis.

Gelombang Ketiga (1990-an–2000-an)

Awal mula gerakan anti-globalisasi memacu perkembangan gelombang baru, dengan refleksi atas gelombang kedua sebelumnya dan pengaruh feminisme pascakolonial yang mengarah pada integrasi politik identitas ke dalam kerangka feminisme anarkis. Munculnya gelombang ketiga anarka-feminisme membawa serta fokus baru pada interseksionalitas, ketika para anarka-feminis bersatu untuk membahas isu-isu yang saling terkait, seperti kemiskinan, rasisme, dan hak reproduksi, di antara banyak isu lainnya. Konsepsi feminis awal tentang "Perempuan Baru" juga menjadi bagian dari fondasi anarka-feminisme gelombang ketiga, yang mendorong perempuan untuk mempraktikkan kesetaraan alih-alih menuntutnya. Di Bolivia, Mujeres Creando melakukan tindakan langsung yang menantang kemiskinan dan peran gender tradisional. Di Amerika Serikat, para anarka-feminis dalam kancah anarko-punk memacu perkembangan subkultur Riot grrrl.

Dengan pergantian abad ke-21, terdapat upaya terpadu untuk memikirkan kembali pendekatan-pendekatan terhadap sejarah anarka-feminis, dengan menempatkan nilai pada metode-metode kolektif, terbuka, dan non-hierarkis dalam mengumpulkan dan bertukar pengetahuan. Proyek-proyek penelitian kolektif dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Dark Star Collective, yang pada tahun 2002 menerbitkan antologi karya-karya anarka-feminis berjudul Quiet Rumours. Pada tahun 2010, sejarawan feminis Judy Greenway menguraikan lima metodologi historiografi anarka-feminis yang berbeda:

  1. "Pendekatan aditif", yang menggabungkan elemen-elemen yang sebelumnya terabaikan dalam historiografi yang ada;
  2. "Emma Goldman Short-Circuit", yang memusatkan kontribusi Emma Goldman di atas semua yang lain;
  3. "Pendekatan isu-isu perempuan", yang terutama berkaitan dengan isu-isu seksualitas dan hak-hak reproduksi;
  4. "Pendekatan inklusif", yang berfokus pada peran perempuan dalam peristiwa-peristiwa sejarah terkenal;
  5. "Pendekatan transformatif", yang mengkaji secara kritis penghapusan perempuan dan posisi istimewa laki-laki dalam sejarah gender.

Greenway menyimpulkan bahwa historiografi anarka-feminis yang utuh perlu secara aktif menantang bias hierarkis dalam historiografi dominan, alih-alih sekadar menggabungkan kembali aspek-aspek sejarah yang telah dihapus atau berfokus secara berlebihan pada satu atau dua individu.

Gelombang Keempat (2012–sekarang)

Gelombang keempat feminisme muncul melalui perkembangan pascafeminisme, yang menyoroti objektifikasi perempuan oleh kekuatan pasar dan ditandai oleh penggunaan jejaring sosial. Gelombang keempat feminisme anarkis khususnya dipengaruhi oleh feminisme postmodern.

Dalam sebuah artikel tahun 2017, Chiara Bottici berpendapat bahwa anarka-feminisme kurang dibahas dalam debat publik dan akademis, sebagian karena permusuhan yang lebih luas terhadap anarkisme tetapi juga karena kesulitan dalam membedakan antara kecenderungan anarka-feminisme dan filsafat anarkisme yang lebih luas. Bottici berpendapat bahwa risiko reduksionisme ekonomi yang muncul dalam feminisme Marxis, yang di dalamnya penindasan perempuan dipahami semata-mata dalam konteks ekonomi, "selalu ... asing bagi anarka-feminisme"; oleh karena itu, menurutnya, anarkisme lebih cocok daripada Marxisme untuk bersekutu dengan feminisme.

Teori

Anarka-feminisme memiliki beragam pemikiran, tetapi umumnya dicirikan oleh prinsip-prinsip otonomi perempuan, cinta tak terikat, dan interseksionalitas. Anarka-feminis berkomitmen pada pemberdayaan perempuan dalam kehidupan sosial dan politik, menentang kapitalisme dan negara sebagai instrumen utama diskriminasi institusional terhadap perempuan.

Anti-otoritarianisme

Anarka-feminisme mengembangkan prinsip-prinsip anarkis tradisional anti-statisme, anti-klerikalisme, dan anti-kapitalisme, yang menunjukkan peran mereka dalam diskriminasi institusional seperti seksisme, rasisme, dan homofobia. Dalam esainya tahun 1895 berjudul Perbudakan Seks, Voltairine de Cleyre mengklaim bahwa seksisme disebabkan oleh otoritarianisme institusional yang ditegakkan oleh para klerus dan negara.

Para anarka-feminis memandang patriarki dan negara sebagai dua ekspresi dari sistem penindasan yang sama, dan menyimpulkan bahwa penghancuran segala bentuk patriarki tentu saja mencakup penghapusan negara. Emma Goldman sendiri mengambil analisis interseksional tentang negara yang memandangnya sebagai instrumen represi seksual, dan dengan demikian menolak strategi reformisme. Oleh karena itu, gelombang pertama feminis anarkis mengkritik seruan untuk hak pilih perempuan, menganggapnya tidak cukup untuk mencapai kesetaraan gender. He Zhen skeptis terhadap kesetaraan gender terbatas yang dicapai dalam demokrasi liberal barat, yang ia gambarkan sebagai "kebebasan palsu dan kesetaraan palsu", bahkan mengkritik gerakan hak pilih perempuan dan feminis laki-laki karena mengusung "retorika emansipasi yang kosong".

250px-Emma_Goldman_seated.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Emma Goldman, seorang advokat anarka-feminis awal dan praktisi cinta tak terikat

Cinta tak Terikat

Feminis anarkis telah mengembangkan pendekatan non-koersif terhadap hubungan interpersonal, yang khususnya menjunjung tinggi nilai persetujuan. Feminis anarkis seperti Voltairine de Cleyre dan Emma Goldman mengkritik keras institusi pernikahan, karena mereka menganggapnya secara inheren menindas perempuan karena kurangnya persetujuan.

Kritik mereka terhadap pernikahan mendorong mereka untuk mengadvokasi dan mempraktikkan cinta tak terikat, yang mereka anggap sebagai solusi atas keterasingan sosial perempuan. Dengan basisnya pada persetujuan yang diberikan secara bebas, cinta tak terikat memberikan ruang bagi perempuan untuk merekonstruksi seksualitas mereka dengan cara yang memusatkan agensi dan otonomi mereka sendiri. Emma Goldman sendiri memandang seksualitas sebagai "kekuatan sosial kritis" dari kebebasan berekspresi. Ia memperluas hal ini ke pembelaan publik terhadap hak-hak gay, yang menyebabkan beberapa akademisi berspekulasi tentang seksualitasnya sendiri.

Di sisi lain, cinta tak terikat ditentang oleh Lucy Parsons, yang mengkritiknya karena tidak konsisten dengan anarkisme dan karena meningkatnya risiko kehamilan dan infeksi menular seksual, dan sebaliknya mendukung suatu bentuk "monogami tanpa pernikahan".[6]

250px-NLN_Roxanne_Dunbar_Ortiz_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Roxanne Dunbar-Ortiz, salah satu pelopor anarka-feminisme interseksional pada tahun 1970-an

Interseksionalitas

Sejak awal anarka-feminisme sebagai sebuah aliran, para feminis anarkis telah terlibat dalam perjuangan-perjuangan lain yang bersinggungan dengan isu-isu perempuan, berpartisipasi dalam sejumlah gerakan anti-rasis dan anti-kolonial. Anarka-feminisme anti-rasis yang spesifik dirintis pada tahun 1970-an oleh Roxanne Dunbar-Ortiz dan organisasinya, Cell 16.

Pada tahun 1976, sebuah pernyataan yang dihasilkan oleh Combahee River Collective meletakkan dasar bagi perkembangan interseksionalitas. Sejak gelombang ketiga, interseksionalitas telah membentuk salah satu konsep inti feminisme anarkis, yang telah menggunakannya sebagai metode untuk mengembangkan etika feminis dalam pengorganisasian diri melawan segala bentuk penindasan. Kelompok-kelompok dalam jaringan aktivis No one is illegal (NOII) sejak itu telah terlibat dalam anarka-feminisme anti-rasis sebagai bagian dari advokasi anti-perbatasan mereka, yang berakar pada kritik anti-negara terhadap seksisme dan rasisme institusional dalam rezim imigrasi negara.

Mengacu pada post-strukturalisme, pascakolonialisme, dan teori kritis, Deric Shannon telah mengusulkan konstruksi anarka-feminisme kontemporer yang melibatkan masing-masing teori ini, menggabungkan anti-kapitalisme dengan sikap interseksional yang komprehensif terhadap segala bentuk penindasan.

250px-Voltairine_de_Cleyre_%28Age_35%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Voltairine de Cleyre, seorang anarka-feminis awal yang mendukung individualisme

Individualisme

Anarka-feminisme berpegang pada prinsip bahwa "yang personal bersifat politis", mengembangkan kritik terhadap kehidupan sehari-hari yang bertujuan mengikis kekuasaan sosial dan politik, dalam upaya mewujudkan masyarakat di mana setiap individu memiliki kendali atas "hidup mereka sendiri, dan bukan atas orang lain". Anarka-feminis menganggap keluarga inti sebagai akar dari semua ketidaksetaraan gender; dengan demikian, kesetaraan hanya dapat dicapai melalui perluasan otonomi pribadi dan kemandirian ekonomi bagi perempuan. Meskipun institusi kepemilikan pribadi dikritik habis-habisan oleh kaum anarko-komunis seperti Emma Goldman, institusi tersebut dijunjung tinggi sebagai sarana emansipasi ekonomi perempuan oleh Voltairine de Cleyre.

Feminis anarkis seperti Itō Noe telah menjunjung tinggi cita-cita "Perempuan Baru", mendorong perempuan untuk menegaskan individualitas mereka sendiri dan mengembangkan pemikiran yang mandiri. Emma Goldman membayangkan sebuah revolusi yang terjadi di dalam pikiran individu, serta di dalam masyarakat. Goldman menganjurkan perempuan untuk menjalankan otonomi mereka dengan mengatasi "tiran internal" mereka sendiri, baik itu pendapat anggota keluarga maupun norma sosial tradisional. Menurut Martha Hewitt, konsepsi anarka-feminis tentang revolusi adalah "sebagai proses, praksis transformatif dari pemikiran, perasaan, dan aktivitas sosial kolektif."

Dalam buku The Politics of Individualism (1993), anarka-feminis L. Susan Brown mengembangkan apa yang disebutnya "individualisme eksistensial", yang menjunjung tinggi otonomi individu dan kerja sama sukarela.

Hak Reproduksi

Pada akhir abad ke-19, perempuan anarkis termasuk yang paling awal menyuarakan hak reproduksi, sebagai bagian dari perlawanan feminis anarkis terhadap keluarga inti. Para feminis anarkis telah mendistribusikan informasi dan sumber daya tentang pengendalian kelahiran, yang karenanya banyak di antara mereka dipenjara. Saat bekerja sebagai bidan pada tahun 1890-an, Emma Goldman menjadi advokat terkemuka hak reproduksi perempuan, menyerukan hak perempuan untuk menjalankan program keluarga berencana dan secara terbuka menggalang dukungan untuk Margaret Sanger. Sebaliknya, feminis anarkis lainnya seperti Itō Noe menentang aborsi dari perspektif humanis, karena ia percaya bahwa kehidupan dimulai saat pembuahan.

Advokasi anarkis untuk pengendalian kelahiran meningkat setelah Perang Dunia I, karena praktik tersebut dilarang di negara-negara seperti Prancis dan Amerika Serikat, yang dikritik oleh para feminis anarkis sebagai cara untuk terus meningkatkan populasi demi berperang. Aksi langsung feminis anarkis untuk pengendalian kelahiran terus berlanjut bahkan setelah aborsi dilegalkan sebagian, karena kelompok "feminis pelanggar hukum" seperti Jane Collective menyediakan makanan dan perawatan medis bagi perempuan yang tidak memiliki akses ke metode pengendalian kelahiran yang aman. Feminis anarkis juga berpartisipasi dalam gerakan keadilan reproduksi, yang memprioritaskan otonomi tubuh dan penentuan nasib sendiri reproduksi perempuan kulit berwarna.

250px-Ito_Noe_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Itō Noe, seorang aktivis anarka-feminis awal yang memperjuangkan hak-hak pekerja seks

Pekerja Seks

Anarka-feminis telah berada di garda terdepan dalam advokasi hak-hak pekerja seks sejak akhir abad ke-19, ketika perempuan anarkis di Jerman dan Prancis berkampanye untuk dekriminalisasi pekerja seks. Louise Michel menyalahkan kapitalisme karena menciptakan kondisi ekonomi yang mendorong perempuan ke arah pekerjaan seks, yang menurutnya hanya dapat diakhiri melalui revolusi sosial. Itō Noe juga berpendapat bahwa akar penyebab perempuan terlibat dalam pekerjaan seks adalah kemiskinan, dan alih-alih berkampanye untuk menghapuskan pekerjaan seks, orang-orang seharusnya mengatasi akar penyebab kemiskinan tersebut. Emma Goldman juga secara terbuka mengkritik para abolisionis pekerja seks karena menggunakan sistem hukum laki-laki untuk mengkriminalisasi perempuan, yang menurutnya merupakan bentuk diskriminasi kelas.

Setelah gelombang kedua feminisme, advokasi pekerja seks diambil alih oleh para feminis anarkis yang juga terlibat dalam pekerjaan seks. Grisélidis Réal mengorganisasi para pekerja seks dan melakukan serangkaian aksi langsung untuk hak-hak pekerja seks, yang kemudian menghasilkan arsip sejarah pekerja seks. Para pekerja seks anarkis Kanada juga terlibat dalam kampanye advokasi, yang berpuncak pada deklarasi "Hari Internasional untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Pekerja Seks".

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Brown, L. Susan (1995). "Beyond Feminism: Anarchism and Human Freedom". Reinventing Anarchy, Again. San Francisco: AK Press. hlm. 149–154. ISBN 978-1-873176-88-7..{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: karakter tidak valid
  2. ↑ Kowal, Donna M (2018). "Anarcha-Feminism". Dalam Adams, Matthew S.; Levy, Carl (ed.). The Palgrave Handbook of Anarchism. London: Palgrave Macmillan. hlm. 266. ISBN 978-3319756196.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Kinna, Ruth (2017). "Anarchism and Feminism". Dalam Jun, Nathan (ed.). Brill's Companion to Anarchism and Philosophy. Leiden: Brill. hlm. 43–45. ISBN 978-90-04-35689-4..{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: karakter tidak validPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Molyneux, Maxine (2001). "'No God, No Boss, No Husband!': Anarchist Feminism in Nineteenth-Century Argentina". Women's movements in international perspective: Latin America and beyond. Palgrave MacMillan. hlm. 22-23. ISBN 978-0-230-28638-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Zimmer, Kenyon (2015). Immigrants against the State: Yiddish and Italian Anarchism in America. University of Illinois Press. hlm. 68. ISBN 9780252097430.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Kowal 2018, hlm. 272.

Bibliografi

Bacaan lebih lanjut

  • Graham, Robert (ed.). Anarchism: A Documentary History of Libertarian Ideas, Volume One: From Anarchy to Anarchism (300CE-1939). Black Rose Books. ISBN 978-1-55164-251-2.
  • Ellenbogen, Helene (Fall 1977). "Feminism: The Anarchist Impulse Comes Alive". Open Road. No. 4. pp. 8, 13.
  • Goldman, Emma. (1969) [1917]. Anarchism and Other Essays (3rd ed.). New York: Dover Publications. ISBN 978-0-486-22484-8.
  • Guglielmo, Jennifer. "Donne Sovversive: The History of Italian-American Women's Radicalism". Order Sons of Italy in America. Archived from the original on 25 June 1998.
  • Marsh, Margaret S. Anarchist Women, 1870–1920, Temple University Press, 1981. ISBN 978-0-87722-202-6.
  • Hane, Mikiso. Reflections on the Way to the Gallows: Rebel Women in Prewar Japan. University of California Press and Pantheon Books, 1988.

Pranala luar

Bagian dari seri tentang Anarkisme
Varian
120px-Anarchy-symbol.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Budaya
Sejarah
Daftar terkait
Subjek terkait
Sejarah
Sosial
Hak pilih
Umum
Varian
Konsep
Teori
Menurut negara
  • Daftar
  • Indeks
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan