Senin, 19 Oktober 2026
08:21 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Wayang gung

Wayang gung

salah satu kesenian di Indonesia

Bagikan:
330px-Katopong_Wayang_Gung.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mahkota yang dipakai pemain Wayang Gung
250px-Wayang-Gung.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertunjukan Wayang Gung

Wayang Gung adalah kesenian wayang orang pada suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pertunjukan ini mementaskan cerita Ramayana versi Banjar dengan menampilkan pengolahan vokal pemain dan gerakan tari dalam iringan musik gamelan dan ketopong.[1]

Sejarah Wayang Gung

Wayang Gung adalah bentuk teater tradisional masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang berkembang dari kesenian Wayang Orang (Wayang Wong) asal Jawa. Kesenian ini diperkirakan muncul pada abad ke-18 (sekitar tahun 1760 M) sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan Banjar. Hubungan erat antara Kerajaan Banjar dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, terkhusus Demak dan Mataram, sejak abad ke-15 menjadi jalur utama masuknya pengaruh kebudayaan Jawa ke Banjar, termasuk kesenian pertunjukan wayang.

Awalnya, pertunjukan wayang hanya dikenal di sekitar lingkungan Keraton Banjar saja, tetapi seiring waktu menyebar ke masyarakat. Masyarakat Banjar menerima wayang karena memandangnya sebagai simbol kehidupan manusia yang mengandung nilai-nilai filosofis dan spiritual. Selain itu, Wayang Purwa yang berkembang di Jawa dikenal memiliki keterkaitan dengan ajaran Sunan Kalijaga, yang sarat nilai-nilai Islam. Faktor ini turut mendukung penerimaan dan perkembangan Wayang Gung di masyarakat Banjar yang mayoritas beragama Islam.

Wayang Gung merupakan hasil kreativitas dalang Banjar yang mengadaptasi bentuk dan struktur Wayang Orang, tetapi mengembangkan ciri khas tersendiri. Kekhasan Wayang Gung tampak pada garapan pertunjukan, musik gamelan, kostum, properti, gerak tari (igal), bahasa pengantar, serta struktur pergelaran, meskipun masih mempertahankan beberapa unsur Wayang Wong dari Jawa.

Fungsi Wayang Gung

Wayang Gung memiliki beberapa fungsi utama dalam kehidupan sosial masyarakat Banjar, antara lain:

  • Hiburan, dipentaskan pada perayaan hari besar, pesta pernikahan, atau panen padi.
  • Didaktis, sebagai media penyampaian pesan-pesan edukatif kepada masyarakat.
  • Filosofis, sebagai sarana refleksi kehidupan yang mengandung nilai-nilai spiritual dan simbolik.
  • Nazar, dipertunjukkan sebagai pemenuhan janji atau nazar seseorang atas tercapainya suatu keinginan.
  • Ritual (magis), digunakan dalam upacara adat untuk menolak bala, mengusir penyakit, atau bencana.

Struktur Pertunjukan

Pertunjukan Wayang Gung umumnya terbagi atas empat babakan (bagian utama), yaitu:

  1. Mamucukani, bagian pembukaan berupa tuturan dan dialog yang dibawakan oleh tiga dalang: Dalang Sejati, Dalang Pangambar, dan Dalang Utusan.
  2. Sidang Jajar, menggambarkan suasana sidang kerajaan untuk membahas persoalan penting.
  3. Konflik, menampilkan pertarungan antara tokoh protagonis dan antagonis.
  4. Bapacah, bagian penutup atau antiklimaks, yang biasanya berakhir dengan kemenangan pihak kebaikan.

Cerita dan Pemeran

Lakon yang diangkat dalam Wayang Gung umumnya bersumber dari epos Ramayana, tetapi kadang diselingi tarian daerah, humor, atau adegan carangan yang menyesuaikan dengan situasi penonton. Setiap tokoh dimainkan oleh pemeran khusus yang mendalami karakter tertentu. Misalnya, tokoh Hanoman atau Rahwana (Dasamuka) hanya dimainkan oleh aktor yang benar-benar menguasai perannya. Karena itu, kelompok Wayang Gung yang memiliki banyak pemain profesional cenderung lebih dikenal dan sering diminta tampil.

Dengan sejarah perkembangan lebih dari dua abad, Wayang Gung menjadi bagian penting dari warisan seni tradisional Banjar di Kalimantan Selatan. Namun, di era modern dan globalisasi, keberadaannya mengalami penurunan popularitas. Sama seperti Wayang Kulit Banjar, Wayang Gung kini menghadapi tantangan pelestarian agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Hingga saat ini, daerah yang masih tekun menyuarakan kesenian ini ada di Barikin, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.[2]

Catatan kaki

  1. ↑ "Wayang Gung".
  2. ↑ Banjar, Sastra (Minggu, 07 Maret 2010). "Sastra Banjar: Wayang Gong Selayang Pandang". Sastra Banjar. Diakses tanggal 2025-10-18.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=

Pranala luar

Menurut
media
Kulit
Kayu
Orang
Bambu
Kain
Rumput
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Papieren_wajangpop_voorstellende_Arjuna_%28kinderspeelgoed%29_TMnr_809-46c.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail


250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pauzeteken_uit_het_wajangspel_van_karbouwenhuid_TMnr_21-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_voorstellende_Arjuna_Sasra_Bahu_TMnr_4283-59.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menurut
asal
Inovasi
Properti dan
kesenian
pendukung
Sumber
cerita
Organisasi
Museum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan