Sabtu, 26 September 2026
12:38 WIB
TERKINI
Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat
Semut semai

Semut semai

kumbang yang sangat beracun jika bersentuhan

Semut semai
Tomcat
250px-Paederus_littoralis01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Paederus littoralis di Eropa
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Coleoptera
Famili: Staphylinidae
Subfamili: Paederinae
Tribus: Paederini
Subtribus: Paederina
Genus: Paederus
(Frabicius, 1775)[1]
Spesies

Paederus alfierii
Paederus australis
Paederus baudii
Paederus brasiliensis
Paederus cruenticollis
Paederus eximius
Paederus crebrepunctatus
Paederus fuscipes
Paederus littoralis
Paederus melampus
Paederus ornaticornis
Paederus irritans
Paederus sabaeus

Artikel takson sembarang
250px-Semut_semai_membuka_sayapnya.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Semut semai membuka elytra dan memamerkan sayapnya

Tomcat atau semut semai,[2][3][4] juga disebut semut kayap[2][3] atau Charlie,[3] adalah sejenis kumbang yang membentuk genus Paederus dari famili Staphylinidae (yaitu famili kumbang rove). Serangga dalam genus Paederus dapat ditemukan di mana-mana di dunia,[5] dan satu spesies yang ada di Indonesia adalah Paederus littoralis yang sangat beracun ketika disentuh.[6]

Pemerian

Tomcat tidak mengigit ataupun menyengat. Tomcat akan mengeluarkan cairan secara otomatis bila bersentuhan dengan kulit manusia secara langsung. Gawatnya, Tomcat juga akan mengeluarkan cairan racunnya ini pada benda-benda seperti baju, handuk, ataupun benda-benda lainnya.

Pada jenis serangga tertentu, terdapat cairan yang diduga 12 kali lebih kuat dari bisa ular kobra.[7] Senyawa kimia beracun yang berasal dari hemolim Tomcat disebut Pederin (rumus kimia C25H45NO9).[8] Jika sudah terkena dermatitis, segera bersihkan seprai, saputangan, handuk, pakaian maupun benda-benda yang disinyalir terkena racun tomcat.[9] Bersentuhan dengan Tomcat saat berbaring atau tidur, menghancurkannya pada badan atau mengosok dengan jari yang kotor akan menyebabkan konjungtivitis dan penyakit kulit yang parah yang dikenali sebagai Paederus dermatitis (atau secara medis "dermatitis linearis").

Kalau melihat Tomcat hinggap di tangan, jangan dipencet atau dibunuh seperti mematikan serangga kecil lainnya. Sebaiknya Tomcat ditiup hingga pergi, atau diambil dengan hati-hati menggunakan alat atau tangan yang ditutupi plastik dan dibuang ke tempat yang aman. Setelah itu cuci tangan dengan sabun dan ulangi lagi. Kalau bisa semprot serangga itu dengan insektisida dan disingkirkan tanpa harus menyentuhnya secara langsung. Sejatinya, serangga ini merupakan sahabat petani karena merupakan pemangsa alami bagi wereng, salah satu hama yang menjadi musuh utama para petani. Tomcat merupakan kelompok serangga pertanian, tetapi dalam 3 sampai 4 tahun terakhir dilaporkan adanya gangguan kesehatan pada manusia yang disebabkan oleh serangga tersebut.[2]

Pencegahan

Menutup pintu dan jendela sebelum menyalakan lampu pada malam hari karena Tomcat menyukai tempat yang terang.[10] Jika ada Tomcat yang ditemukan di sekitar rumah, sebaiknya memakai kelambu saat mau tidur.[10] Yang juga disarankan adalah memasang kasa nyamuk pada jendela agar Tomcat tidak bisa masuk.[10] Hati-hati jika memiliki anak kecil yang suka bermain di dekat tanaman dan singkirkan dari rumah apabila tanaman tersebut dalam kondisi tidak terawat karena dapat berpotensi menjadi sarang Tomcat.[11]

Pengobatan

Jika kulit terkena racun Tomcat, segeralah mencuci bagian kulit yang terkena dengan menggunakan sabun. Jangan diberi odol, minyak kayu putih, balsem, minyak tawon maupun bedak tabur karena hanya akan memperparah keadaan.[12] Kulit yang terkena toksin Tomcat akan merah meradang mirip herpes tetapi tidak sama. Pengobatannya menggunakan salep dan antibiotik. Biasanya hydrocortisone 1% atau salep betametasone dan antibiotik neomycin sulfat 3 kali sehari atau salep Acyclovir 5%.[12] Peradangan juga dapat diredakan dengan mengkompres bagian kulit yang terkena racun dengan air dingin.

Manfaat ekologis

Di alam, semut semai mempunyai peranan sebagai predator yaitu serangga yang memangsa jenis serangga dan artropoda lain. Semut semai merupakan predator yang penting pada pertanaman kedelai, khususnya sebagai predator hama ulat Helicoverpa armigera.[13]

Referensi

  1. ↑ "Paederus Fabricius 1775" (dalam bahasa Inggris). Fauna Europaea. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-04.
  2. 1 2 3 "Tomcat si Kumbang Sahabat Petani". Tribunnews. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-05-27. Diakses tanggal 21 Maret 2012.
  3. 1 2 3 "Serangga Beracun Tomcat Masih Mencemaskan Surabaya". Surat Kabar Kompas. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-08. Diakses tanggal 21 Maret 2012.
  4. ↑ "SERANGGA TOMCAT: 'Dipersenjatai' Racun Paederin". Solopos. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-28. Diakses tanggal 28 Mei 2022.
  5. ↑ Sharp, David (1887). Biologia Centrali-Americana. Insecta. Coleoptera Vol. 1 Part 2 (dalam bahasa Inggris). Vol. 1. hlm. 609.
  6. ↑ "Serangga Paederus Penyebab Dermatitis Venenata". 5 November 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-02-27. Diakses tanggal 1 Juni 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Awas Racun Tomcat Lebih Mematikan dari Kobra". CentroOne.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-20. Diakses tanggal 20 Maret 2012.
  8. ↑ "Pederin". PubChem (dalam bahasa Inggris). 20 Mei 2022. Diakses tanggal 29 Mei 2022.
  9. ↑ "Awas Serangan Serangga Tomcat Mengintai". Viva News.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-01-26. Diakses tanggal 20 Maret 2012.
  10. 1 2 3 Permana, Rizky Wahyu (25 Juni 2019). "Begini Cara Efektif Hadapi Semut Charlie atau Tomcat". Merdeka.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-31. Diakses tanggal 1 Juni 2022.
  11. ↑ Korban Tomcat Capai 48 Orang. Surat Kabar Jawa Pos Metropolis. Dicetak pada 20 Maret 2012
  12. 1 2 "Waspada Serangga Tomcat Mematikan". Surat Kabar Tribun News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-12-19. Diakses tanggal 20 Maret 2012.
  13. ↑ Winasa, Wayan; Hindayana, Dadan; Santoso, Sugeng (Desember 2007). "Pelepasan dan pemangsaan kumbang jelajah Paederus fuscipes (Coleoptera: Staphylinidae) terhadap telur dan larva Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae) pada pertanaman kedelai". Repositori Ilmiah Universitas IPB. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-06-21. Diakses tanggal 29 Mei 2022.

Pranala luar

Filum yang masih hidup dalam kerajaan Animalia
A
n
i
m
a
l
i
a
Diploblast
(Eumetazoa)
ParaHoxozoa
Planulozoa
Bilateria
(Triploblast)
  • (lihat di bawah↓)
Bilateria
Xenacoelomorpha
N
e
p
h
r
o
z
o
a
Deuterostomia
Ambulacraria
P
r
o
t
o
s
t
o
m
i
a
Ecdysozoa
Scalidophora
N+L+P
Nematoida
L+P
Panarthropoda
Tactopoda
S
p
i
r
a
l
i
a
Gnathifera¹
Platytrochozoa
R+M
Mesozoa
Rouphozoa¹
Lophotrochozoa
A+N
Lophophorata
Bryozoa
Brachiozoa
----
Kelompok utama
dalam filum
Filum dengan ≥5000 spesies yang masih hidup dicetak tebal
Lihat pula
Diploblast
Monoblastozoa (nomen dubium)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan