Senin, 21 September 2026
02:10 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Pemangsa

hewan yang menjadikan sesuatu sebagai mangsa

Pemangsa atau predator adalah segala jenis hewan yang memiliki kebiasaan memakan hewan lain. Hewan yang diburu pemangsa disebut mangsa. Pemangsa biasanya berasal dari jenis karnivor. Beberapa jenis pemangsa adalah semut dan burung. Keberadaan pemangsa dapat mengendalikan populasi dari suatu spesies hewan khususnya di lahan pertanian. Pemangsa terancam keberadaannya salah satunya oleh pemakaian pestisida.

Rantai makanan

Dalam suatu ekosistem terdapat kondisi di mana makhluk hidup saling memakan dan dimakan. Kondisi ini pada urutan tertentu membentuk rantai makanan. Terbentuknya rantai makanan disebabkan oleh keberadaan dua jenis makhluk hidup, yaitu mangsa dan pemangsa. Makhluk hidup yang menjadi pemakan disebut pemangsa. Sedangkan makhluk hidup yang jadi sasaran untuk dimakan disebut mangsa.[1]

Dalam rantai makanan, pemangsa umumnya disebut sebagai konsumen. Posisi pemangsa pada rantai makanan berada pada trofik tingkat menengah dan trofik puncak.[2] Dalam rantai makanan, pemangsa karnivor memangsa hewan herbivor.[3]

Mangsa

250px-Lioness_with_buffalo_carcass_-_Bostwana_2001.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seekor singa betina sedang memangsa kerbau. Singa adalah salah satu hewan pemangsa.

Pemangsa membunuh mangsanya untuk memenuhi kebutuhan makannya. Proses pemangsaan oleh pemangsa dapat terjadi pada tahap perkembangan apapun pada mangsa. Pemangsa biasanya melumpuhkan mangsanya terlebih dahulu sebelum memakannya. Setelah mangsanya tidak bergerak, pemangsa memakan mangsanya secara cepat. Pemangsa memerlukan mangsa lebih dari satu jenis. Pertumbuhan pemangsa dapat terjadi jika pemangsa memakan lebih dari satu jenis mangsa selama hidupnya. Hewan pemangsa yang berjenis karnivor memangsa hewan lain untuk memakan daging, tulang dan telur mangsanya.[4]

Pemangsa secara umum merupakan hewan yang memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan hewan lain yang jadi mangsanya. Misalnya ular yang memangsa tikus, atau elang yang memakan kelinci. Namun, beberapa pemangsa memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan mangsanya. Misalnya, harimau dan singa yang memangsa jerapah dan kerbau.[5]

Jenis

Semut

Pada ekosistem tropis, semut merupakan kelompok pemangsa yang penting. Kemampuan semut sebagai pemangsa adalah pengendalian hayati semut. Spesies semut yang memiliki peran besar dalam pengendalian hayati misalnya semut rangrang. Kemampuannya adalah memangsa telur, larva, pupa dan imago serangga yang menjadi hama. Namun, semut dapat mengalami penurunan kemampuan bersamaan dengan perubahan struktur vegetasi di habitat hidupnya. Semut dalam hal ini berperan menjadi pengendali populasi hama. Keuntungan lainnya adalah semut mampu merekayasa ekosistem dengan aerasi tanah dan membuat sirkulasi nutrien menjadi lebih baik. Pada sisi lain, semut berperan merugikan di habitat tropis. Semut memiliki kemampuan menginvasi lalu menyerang dan mendominasi sehingga mengancam fauna dan flora lokal. Spesies merugikan ini misalnya semut dari spesies Wasmania punctata yang mengurangi keanekaragaman spesies semut lain secara drastis hingga menyebabkan kepunahan spesies semut lain.[6]

Burung

Burung adalah jenis pemangsa dengan mangsa utama berupa serangga. Dalam ekosistem, burung berperan dalam pengendalian populasi serangga.[7]

Pemanfaatan oleh manusia

Pengendalian hayati untuk pertanian

Manusia melakukan rekayasa keberadaan pemangsa untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pemangsa dijadikan sebagai salah satu musuh alami bagi organisme pengganggu tumbuhan dan pengendali alami yang utama bagi hama. Manusia menggunakan pengetahuan dasar ekologi tentang pengaturan alami populasi serta keseimbangan ekosistem. Pengendalian hayati yang dilakukan dengan pemangsa sebagai agensia hayatinya adalah pengendalian kepadatan populasi dari hama.[8] Populasi pemangsa sebagai agen pengendali alami dalam pengendali hayati dipengaruhi dan ditentukan oleh perkembangan populasi hama.[9]

Keberadaan pemangsa hama tanaman dipertahankan dengan menyediakan lahan refugia. Lahan ini merupakan lahan pertanaman campuran dengan jenis tumbuhan yang berperan sebagai habitat, sumber pakan dan sumber daya bagi pemangsa hama tanaman. Beberapa jenis tanaman refugia yaitu bunga matahari, bunga pukul empat, kenikir, bunga tapak dara, jengger ayam dan kembang kertas. Jenis tumbuhan lain yang dapat digunakan sebagai refugia adalah gulma yang berbunga.[10]

Keberadaan pemangsa pada sistem pertanian tidak dibudidayakan. Namun, keberadaannya menjadi pendukung produksi pertanian bersama dengan mikroorganisme tanah dan penyerbuk.[11]

Ancaman

Pestisida yang digunakan oleh manusia untuk meningkatkan hasil produksi pertanian dapat membunuh hama sasaran. Namun, penggunaan pestisida dalam skala yang luas dapat membunuh makhluk hidup lain selain hama sasaran, termasuk pemangsa hama.[12]

Lihat juga

Referensi

  1. Rifa’i, M., dan Subchan (2015). "Analisa Kestabilan dan Kendali Optimal pada Model Pemanenan Prey Predator dengan Fungsi Repon Tipe III" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika UMS 2015: 34. ISBN 978-602-719-934-7.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  2. Maas, B., dkk. (2018). Dampak Jasa Ekosistem yang Diberikan oleh Burung dan Kelelawar di Kebun Kakao Rakyat di Sulawesi Tengah (PDF). Göttingen university Press. hlm. 80. ISBN 978-602-6619-39-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. Rahmadina dan Febriana, H. (2017). Manalu, Kartika (ed.). Biologi Sel: Unit Terkecil Penyusun Tubuh Makhluk Hidup (PDF). Surabaya: CV. Selembar Papyrus. hlm. 99. ISBN 978-602-50521-3-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. Subaidi, A., Hartati, S., dan Humaedah, U. (2012). Mengenal Pemangsa Hama (Predator) pada Pertanaman Padi (PDF). Bogor: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. hlm. 2. ISBN 978-979-1415-80-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Jumanta (2020). Buku Pintar Hewan: Segala yang Perlu Kita Tahu tentang Mereka. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 4. ISBN 978-602-049-052-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. Saputra, A., Arifin, Z., dan Riyanto (2020). "Pola Prilaku Keberadaan Semut Famili Formicidae pada Tepian Sungai Musi Gandus Kota Palembang Sumatera Selatan". Jurnal Biologi Tropis. 20 (1). UPT Mataram University Press: 117. doi:10.29303/jbt.v20i1.1735.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  7. Kamal, Samsul (2016). "Keanekaragaman Jenis Burung Predator Serangga di Kawasan Hutan Sekunder Rinon Pulo Aceh". Prosiding Seminar Nasional Biotik 2016: 174. ISBN 978-602-18962-9-7.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  8. Sopialena (2018). Pengendalian Hhayati dengan Memberdayakan Potensi Mikroba (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Herlinda, S., dan Irsan, C. (2015). Pengendalian Hayati Hama Tumbuhan (PDF). Palembang: Unsri Press. hlm. 1. ISBN 979-587-568-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. Sari, D. E., dan Fitrianti (2022). "Perbandingan Jenis-Jenis Arthropoda pada Lahan yang diaplikasikan Pestisida Nabati dan Refugia" (PDF). Bioma: Jurnal Biologi Makassar. 7 (1): 68. ISSN 2528-7168.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  11. Saleh, Shahabuddin. "Manajemen Agrobiodiversitas untuk Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Biodiversity Conservation: 18. ISBN 978-602-6619-69-3.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  12. Yuantari, MG C., Widiarnako, B., dan Sunoko, H. R. (2013). "Tingkat Pengetahuan Petani dalam Menggunakan Pestisida: (Studi Kasus di Desa Curut Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan)" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013: 142–143. ISBN 978-602-17001-1-2.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan