Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
|
| Perang Cumbok | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Revolusi Nasional Indonesia | |||||||
| |||||||
| Pihak yang terlibat | |||||||
| PUSA (pendukung Indonesia) | Ulee balang (pendukung Belanda) | ||||||
| Pemimpin atau tokoh terkemuka | |||||||
|
Teungku Daud Beureueh Teungku Ahmad Hasballah Teungku Hasan Krueng Kale Syamaun Gaharu |
Teuku Keumangan Umar Teuku Daud Cumbok Teuku Nyak Arief | ||||||
Perang Cumbok (dikenal juga sebagai Peristiwa Cumbok atau Revolusi Sosial) adalah serangkaian pertempuran yang terjadi di Kabupaten Pidie, Aceh mulai 2 Desember 1945 hingga 16 Januari 1946. Perang ini pecah antara kalangan ulama (teungku) para pendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh melawan kubu ulee balang (teuku) yang lebih memilih kekuasaan Belanda, sehingga menyebabkan revolusi di tatanan sosial masyarakat Aceh pada saat itu.
Kronologi
1945
- Agustus, Masyarakat Aceh mendengar melalui radio bahwa Kekaisaran Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan Balatentara Sekutu akan mengembalikan "order", yang diartikan bahwa kekuasaan sebelum perang. Mereka juga mengetahui bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan di Jakarta oleh Soekarno dan Hatta.
- 22 Agustus, Para tokoh masyarakat seperti Teuku Nyak Arief, Teuku Ahmad Jeunib, Teuku Nyak Hanafiah, Teuku Abdul Hamid, dan Pak Ahmad Kepala Kantor Pos di Kutaraja di rumah Teuku Abdullah Jeunib tentang seputar kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.
- 23 Agustus, Pertemuan kedua di Kantor Gubernur/Residen Aceh (Shu Chokan). Teuku Nyak Arief dan para hadirin bersumpah dengan Al Qur'an di tangan akan "mepertahankan kemerdekaan sampai titik darah terakhir.".
- 24 Agustus, pengibaran bendera Merah Putih yang pertama kali di Aceh di kediaman Teuku Nyak Arief.
- 27 Agustus: Angkatan Pemuda Indonesia (API) dibentuk, dengan Syammaun Gaharu menjabat sebagai komandan pertamanya.
- Oktober–Desember: Berbagai kelompok, Barisan Penjaga Keamanan (BPK) yang merupakan tentara ulee balang, berupaya merebut senjata dari Tentara Jepang.
- 15 Oktober Para pemimpin keagamaan mengeluarkan “Pernyataan Ulama Seluruh Aceh” yang ditandatangani oleh empat ulama terkenal: Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Ahmad Hasballah, keduanya pemimpin PUSA, Teungku Ja’far Sidik, seorang ulama yang menguasai dayah yang sudah lama berdiri; dan Teungku Hasan Krueng Kale, ulama konservatif yang terkemuka.
- 22 Oktober: Sebuah konferensi ulee balang diadakan di Beureuoneen, di kediaman Teuku Umar Keumangan. Sebagai ulee balang paling senior dan penasihat utama, ia mendesak peserta konferensi untuk mempertahankan kekuasaan mereka dengan menerapkan metode yang pernah digunakan terhadap Kesultanan Aceh serta membentuk pasukan sendiri. Mereka mendirikan markas besar ulee balang di Desa Cumbok, Mukim Lameulo, Pidie.
- 25 November: Setelah mengetahui bahwa TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sedang berupaya bernegosiasi dengan Jepang mengenai penyerahan senjata, pasukan pro-ulee balang menduduki dan menguasai kota Sigli—ibu kota Kabupaten Pidie, sebuah kota strategis yang mengendalikan jalur transportasi di seluruh Aceh—pada tengah malam, dengan tujuan merebut senjata Jepang. Mereka memutus akses Sigli dari dunia luar. Tak lama kemudian, ribuan orang yang dilarang masuk berkumpul di luar kota. Kelompok bersenjata lainnya—terutama pendukung ulama—mengepung Sigli dalam upaya melucuti senjata pasukan uleebalang. Akibatnya, pasukan Jepang di Sigli menghadapi dua kubu yang saling bertentangan, yang masing-masing mendesak untuk menyerahkan senjata kepada mereka.
- Desember 1945: API secara resmi mengubah namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sjammaun Gaharu tetap memegang komando.
- 3 Desember: Perundingan berlangsung antara pasukan Jepang di Sigli dan Teuku Panglima Polim Muhammad Ali, yang mewakili Pemerintah Daerah Aceh, mengenai penyerahan gudang senjata di Sigli. Teuku Muhammad Ali bersikeras agar Jepang hanya menyerahkan senjata kepada TKR, tentara resmi pemerintah Indonesia. Perundingan gagal.
- 4 Desember: Dalam upaya mengendalikan situasi yang semakin menegang, Syammaun Gaharu melepaskan tembakan. Tindakan ini justru memicu pertempuran antara BPK dan milisi pro-ulama.
- 4–6 Desember: Pertempuran Sigli.
- 6 Desember: Kesepakatan gencatan senjata tercapai. TKR (sebelumnya API) mengizinkan BPK untuk mundur ke Lammeulo dengan syarat mereka menyerahkan semua senjata yang disita dari Jepang. BPK meninggalkan Sigli namun hanya menyerahkan sebagian senjata mereka.
- 10 Desember: Markas besar uleebalang mengadakan pertemuan kedua di Lueng Putu, memutuskan untuk menangkap dan membunuh para pemimpin organisasi Pemuda serta organisasi perlawanan lainnya; tindakan ini ditargetkan selesai pada 25 Desember.
- 16 Desember: BPK menembaki desa-desa di sekitar Lueng Putu dan Metareum, yang menjadi titik berkumpul bagi para pemuda dan masyarakat umum—khususnya anggota organisasi PRI.
- 20 Desember: BPK membakar bangunan sekolah agama di Titeue serta kantor-kantor pengadilan di beberapa lokasi.
- 22 Desember: Markas Besar Rakyat Umum (MBRU) dibentuk, dengan basis sementara di Garut. Pesertanya antara lain Tentara Republik, BPI/Pesindo, dan Mujahidin. Beberapa partai politik, seperti PNI, PKI, dan PSI, juga turut serta. MBRU mengeluarkan maklumat yang ditujukan kepada seluruh umat Islam, mengimbau agar tidak membakar rumah atau merampas harta benda orang lain, serta memerintahkan agar tawanan diperlakukan secara manusiawi.
- Akhir Desember: Kekacauan tidak lagi terbatas pada wilayah Lammeulo, Beureunuen, dan Lueng Putu, tetapi meluas ke hampir seluruh kawasan Pidie—membentang dari Meureudu di perbatasan Aceh Utara hingga wilayah uleebalang] XII Mukim Pidie di perbatasan Aceh Besar.
- 30–31 Desember, BPK kembali membombardir Metareuem, Kampong Langga, Ilot, dan Lala, yang mengakibatkan kerusakan parah pada desa-desa tersebut serta permukiman di sekitarnya.
1946
- 8 Januari: Sjamaun Gaharu, atas nama MBRU, dan T.P.P. Muhammad Ali, atas nama Pemerintah Daerah Aceh, mengeluarkan maklumat yang menyatakan: Kelompok-kelompok bersenjata yang berbasis di Cumbok, Lammeulo, dan lokasi lainnya yang melakukan perlawanan terhadap rakyat umum adalah pengkhianat dan musuh Republik Indonesia. Individu yang telah terpengaruh, disesatkan, atau diperdaya oleh kelompok-kelompok pengkhianat ini diperingatkan untuk segera melepaskan diri dari mereka; jika tidak, mereka akan dihukum dan menanggung akibat yang setimpal dengan perbuatan mereka. Maklumat tersebut juga menuntut agar para *uleebalang* (kepala adat/penguasa lokal) di Lammeulo menyerahkan diri sebelum tengah hari pada tanggal 10 Januari.
- 10 Januari: TKR menyerang Lueng Putu. Benteng pertahanan Lueng Putu dibakar habis, dan sasaran berhasil dikuasai.
- 13 Januari: TKR menyerang markas Cumbok di Lammeulo. Markas tersebut berhasil direbut, sementara sisa pasukan beserta para pemimpinnya melarikan diri—sebagian di antaranya lari ke pegunungan.
- 16 Januari 1946: Teuku Daud Cumbok, salah satu pemimpin markas *uleebalang* Cumbok, ditangkap di kaki Gunung Seulawah saat berusaha mencapai Pulau Sabang yang sudah diduduki Tentara Belanda. Beliau kemudian dieksekusi.
- 17 Januari 1946: Markas Umum Rakyat mengeluarkan "Maklumat Penjelasan," yang memuat imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang. Ditegaskan kembali bahwa penjarahan dan penyalahgunaan aset pihak lawan sangat dilarang, serta bahwa setiap senjata yang disita dari mereka harus diserahkan kepada MBRU.
Referensi
- Basral, Akmal Nasery (2013). Napoleon dari Tanah Rencong. Gramedia Pustaka Utama. 978-979-22-620-4.
{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong:|coauthors= - Saleh, Hasan (1992). Mengapa Aceh bergolak. Jakarta: Pustaka Grafiti. 979-444-184-8.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|coauthors=diabaikan (|author=disarankan) - Daud, Anwar (2006). Peristiwa Cumbok di Aceh (PDF). Banda Aceh: Dinas Kebudayaan Aceh.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|coauthors=diabaikan (|author=disarankan)
Sejarah konflik di Indonesia | |
|---|---|
| Konflik politik |
|
| Konflik sosial |
|
| Konflik sumber daya alam | |
| Kejahatan kemanusiaan |
|
| Terorisme | |
Konflik Aceh (1976-2005) | |
|---|---|
| Latar Belakang | |
| Pihak Terlibat | |
| Operasi Militer | |
| Pelanggaran HAM | |
| Tokoh Aceh | Hasan di Tiro ·Muzakir Manaf · Sofyan Ibrahim Tiba · Irwandi Yusuf · Zaini Abdullah · Daud Beureueh · Dayan Dawood · Malik Mahmud · Nasrudin Daud · Zubir Mahmud · Sufrin Sulaiman ·Sukardi · Teuku Djohan · Daud Paneuk · Zakaria Saman · Usman Lampoh Awe · Ishak Daud · Abdullah Syafi'i (GAM) · Said Adnan · Sofyan Dawood |
| Tokoh Non-Aceh | |
| Perdamaian | |