Rabu, 30 September 2026
19:39 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Malari

Malari

Demonstrasi dan kerusuhan di Indonesia

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Malari" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Januari 2022)
Peristiwa Malari
330px-MalariRiotsJakarta1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tanggal15 – 16 Januari 1974
LokasiJakarta, Indonesia
SebabKorupsi
Persaingan dari investasi asing
Perebutan kekuasaan militer
Sinofobia
MetodeDemonstrasi mahasiswa, kerusuhan, pogrom
HasilLihat Akibat
Pihak terlibat
Mahasiswa dan masyarakat miskin perkotaan
Jumlah korban
11 tewas, 137 luka-luka
Tidak ada yang dilaporkan
Toko di Glodok rusak dan hancur
Peristiwa_Malari.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Peristiwa Malari di Senen.

Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) adalah demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan yang terjadi pada tanggal 15–16 Januari 1974.[1] Sebagai reaksi atas kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, para mahasiswa melakukan demonstrasi memprotes korupsi, harga-harga yang tinggi, dan ketidaksetaraan investasi asing.[butuh rujukan]Setelah provokasi oleh agent provocateur yang dicurigai, demonstrasi tersebut menjadi kerusuhan, yang akhirnya berubah menjadi pogrom. Pada akhir kejadian, sebelas pengunjuk rasa terbunuh dan ratusan mobil dan bangunan hancur.

Kerusuhan tersebut menyebabkan banyak perubahan. Pemerintah Orde Baru Soeharto memberlakukan serangkaian reformasi ekonomi yang dimaksudkan untuk meningkatkan representasi penduduk asli Indonesia dalam kemitraan dengan investor asing, Jenderal Soemitro (yang saat itu menjabat sebagai Wakil Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib), dipaksa pensiun, dan berbagai tindakan represif dilakukan oleh pemerintah.

Akibat

Jenderal Soemitro, Wakil Panglima Angkatan Bersenjata, dituduh menghasut para perusuh dan dipaksa mengundurkan diri. Para pendukungnya dicopot dari posisi komando, diangkat menjadi duta besar atau menerima jabatan sebagai staf.[2] Langkah ini didukung oleh "Dokumen Ramadi" yang diserahkan kepada Presiden Soeharto oleh Jenderal Ali Moertopo, saingan Sumitro. Dokumen tersebut mengisyaratkan bahwa seorang jenderal berinisial S akan melakukan kudeta antara bulan April dan Juni 1974.[3]

Setelah peristiwa Malari, Orde Baru menjadi lebih represif dan lebih cepat bertindak ketika warga negara mengekspresikan perbedaan pendapat, termasuk melalui demonstrasi[4] dan media, meninggalkan "kemitraan" rapuh yang pernah mereka miliki. Dua belas surat kabar dan majalah dicabut izin terbitnya, termasuk Indonesia Raya. Wartawan, seperti Mochtar Lubis, ditahan tanpa proses pengadilan. Wartawan yang melanggar mulai dimasukkan ke dalam daftar hitam, kehilangan hampir semua kesempatan kerja.[5]

Dalam waktu seminggu setelah peristiwa Malari, Orde Baru mengajukan paket peraturan yang dimaksudkan untuk mempromosikan kepentingan ekonomi orang Indonesia asli. Rencana tersebut, yang mengamanatkan kemitraan antara investor asing dan penduduk asli Indonesia serta penggunaan Bursa Efek Indonesia yang direncanakan, dan mengharuskan calon investor untuk menyerahkan rencana kepemilikan mayoritas penduduk asli Indonesia di masa depan, diterima dengan baik oleh masyarakat dan membungkam para pengkritik.[6] Namun, pada praktiknya, hal ini tidak dilaksanakan secara ketat.[7]

Aspri secara resmi dibubarkan. Namun, mantan Aspri Ali Moertopo kemudian dipromosikan menjadi Kepala Badan Intelijen Negara[8] dan mereka semua tetap bertahan sebagai penasihat.[4]

Referensi

  1. ↑ "Malari 1974: Protes Mahasiswa yang Ditunggangi Para Jenderal". Tirto.id. 15 Januari 2018. Diakses tanggal 19 Januari 2022.
  2. ↑ Schwarz 2000, hlm. 34–35 harvnb error: tanpa target: CITEREFSchwarz2000 (bantuan)
  3. ↑ Setiono 2008, hlm. 1027 harvnb error: tanpa target: CITEREFSetiono2008 (bantuan)
  4. 1 2 Setiono 2008, hlm. 1028 harvnb error: tanpa target: CITEREFSetiono2008 (bantuan)
  5. ↑ Hill 1994, hlm. 37–38 harvnb error: tanpa target: CITEREFHill1994 (bantuan)
  6. ↑ Winters 1996, hlm. 109–110 harvnb error: tanpa target: CITEREFWinters1996 (bantuan)
  7. ↑ Winters 1996, hlm. 111 harvnb error: tanpa target: CITEREFWinters1996 (bantuan)
  8. ↑ Leifer 1995, hlm. 103 harvnb error: tanpa target: CITEREFLeifer1995 (bantuan)
Keluarga
Orang tua
Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu)
Pasangan dan saudara
Tien Soeharto (istri) • Probosutedjo (adik) • Sudwikatmono (sepupu)
Generasi ke-2
Generasi ke-3
120px-President_Suharto%2C_1998.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemerintahan
Topik terkait
← Didahului: Soekarno
Digantikan: B. J. Habibie →
Sejarah konflik di Indonesia
Konflik politik
Konflik sosial
Konflik sumber daya alam
Kejahatan kemanusiaan
Terorisme


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan