Rabu, 21 Oktober 2026
02:05 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Pemberontakan 8888

Pemberontakan 8888

Bagikan:
Pemberontakan 8888
Info_box_collage_for_8888_Uprising.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
  • baris ke-1: Para pengunjuk rasa berkumpul di Pagoda Sule, pusat Rangoon
  • baris ke-2: Para pengunjuk rasa berkumpul di Mandalay; Aung San Suu Kyi menyapa setengah juta pemrotes di pusat Yangon.
  • baris ke-3: Tentara akan menembaki para demonstran; Dua dokter membawa seorang gadis sekolah yang terluka parah.
Tanggal12 Maret 1988 (1988-03-12) – 21 September 1988 (1988-09-21)
Lokasi Burma (nasional)
Sebab
TujuanDemokrasi di Burma dan pengunduran diri Ne Win
Metode
HasilDitekan dengan kekerasan
Konsesi
yang diberikan
Jumlah
  • Total jumlah pengunjuk rasa: 1 juta-4 juta
Jumlah korban
Korban jiwa
  • 3.000–10.000[3][4][5]
  • Puluhan ribu pengunjuk rasa melarikan diri ke Thailand dan bergabung dengan kelompok pemberontak
CederaTidak diketahui, kemungkinan puluhan ribu
DitangkapTidak diketahui, kemungkinan ribuan

Unjuk rasa Prodemokrasi Populer Nasional 8888 (MLCTS: hrac le: lum:), juga dikenal sebagai Pemberontakan 8-8-88, atau Pemberontakan Kekuatan Rakyat,[6] Gerakan Demokrasi Rakyat dan Pemberontakan 1988, adalah serangkaian unjuk rasa nasional,[7] berpawai, dan kerusuhan sipil[8] di Burma (Myanmar) yang memuncak pada Agustus 1988. Peristiwa-peristiwa penting terjadi pada 8 Agustus 1988 dan karenanya dikenal sebagai Pemberontakan 8888.[9]

Sejak tahun 1962, Partai Program Sosialis Burma telah memerintah negara itu sebagai sebuah negara satu partai totaliter, dipimpin oleh Jenderal Ne Win. Di bawah agenda pemerintah, yang disebut Jalan Burma Menuju Sosialisme, yang melibatkan isolasi ekonomi dan penguatan militer, Burma menjadi salah satu negara paling miskin di dunia.[10][11][12] Banyak perusahaan di sektor formal ekonomi dinasionalisasi, dan pemerintah menggabungkan perencanaan pusat gaya Soviet dengan kepercayaan Buddhis dan tradisional.[12]

Pemberontakan 8888 dimulai oleh siswa di Yangon (Rangoon) pada 8 Agustus 1988. Unjuk rasa mahasiswa menyebar ke seluruh negeri.[3][10] Ratusan ribu biksu, anak-anak, mahasiswa, ibu rumah tangga, dokter, dan orang awam berunjuk rasa menentang pemerintah.[13][14] Pemberontakan berakhir pada 18 September setelah kudeta militer berdarah oleh Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara (SLORC). Ribuan kematian telah dikaitkan dengan militer selama pemberontakan ini,[3][4][5] sementara pihak berwenang di Myanmar menyebutkan jumlah korban tewas sekitar 350 orang.[15][16]

Selama krisis, Aung San Suu Kyi muncul sebagai ikon nasional. Ketika junta militer menyelenggarakan pemilihan umum tahun 1990, partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi, memenangkan 81% kursi di pemerintahan (392 dari 492).[17] Namun, junta militer menolak untuk mengakui hasilnya dan terus memerintah negara itu sebagai Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara. Aung San Suu Kyi juga ditempatkan dalam tahanan rumah. Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara akan merupakan sebuah perubahan kosmetik dari Partai Program Sosialis Burma.[13] Tahanan rumah Suu Kyi dicabut pada tahun 2010, ketika perhatian dunia untuknya memuncak lagi selama pembuatan film biografi The Lady.

Latar belakang

Bagian dari seri artikel mengenai
Gerakan demokrasi di Myanmar
250px-Flag_of_National_League_for_Democracy.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bendera merak siap bertarung
Latar belakang
Pasca kemerdekaan Burma
Konflik internal di Myanmar
Jalan Burma Menuju Sosialisme
Dewan Perdamaian dan Pembangunan Negara
Unjuk rasa massa
Pemberontakan 8888 ·Revolusi Safron
Konsesi dan reformasi
Peta jalan menuju demokrasi
Konstitusi baru
Reformasi 2011
Pemilihan umum
1990 ·2010 ·2012 ·2015
Organisasi
Liga Nasional untuk Demokrasi ·Kelompok Pelajar Generasi 88 ·Burma Campaign UK ·Koalisi Burma Bebas ·U.S. Campaign for Burma ·Gelombang Generasi ·Front Demokratik Pelajar Seluruh Burma ·Kekuatan Ketiga
Tokoh
U Nu ·Aung Gyi ·Tin Oo ·Aung San Suu Kyi ·Min Ko Naing ·Thein Sein
Topik terkait
Hak asasi manusia di Myanmar ·Politik Myanmar ·Hubungan luar negeri Myanmar

Masalah ekonomi

Sebelum krisis, Burma telah diperintah oleh rezim Jenderal Ne Win yang represif dan terisolasi sejak tahun 1962. Negara ini memiliki utang nasional $3,5 miliar dan cadangan devisa antara $20 juta dan $35 juta, dengan rasio jasa utang mencapai setengah dari anggaran nasional.[18] Pada November 1985, para mahasiswa berkumpul dan memboikot keputusan pemerintah untuk menarik uang kertas Burma. Masalah ekonomi ditambah dengan penumpasan pemberontakan membutuhkan keterlibatan berkelanjutan di pasar internasional.[19]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Neeraj Gautam (2009). Buddha, his life & teachings. Mahavir & Sons Publisher. ISBN 81-8377-247-1.[pranala nonaktif permanen]
  2. 1 2 Fong (2008), pp. 149
  3. 1 2 3 Ferrara (2003), pp. 313
  4. 1 2 Fogarty, Phillipa (7 August 2008). Was Burma's 1988 uprising worth it? Diarsipkan 12 Januari 2009 di Wayback Machine. BBC News.
  5. 1 2 Wintle (2007)
  6. ↑ Yawnghwe (1995), pp. 170
  7. ↑ Ferrara 302–3
  8. ↑ "Hunger for food, leadership sparked Burma riots". Houston Chronicle. 11 August 1988.
  9. ↑ Tweedie, Penny. (2008). Junta oppression remembered Diarsipkan 2 Mei 2011 di Wayback Machine. Reuters.
  10. 1 2 Burma Watcher (1989)
  11. ↑
  12. 1 2 Woodsome, Kate. (7 October 2007). 'Burmese Way to Socialism' Drives Country into Poverty. Voice of America.
  13. 1 2 Steinberg (2002)
  14. ↑ Aung-Thwin, Maureen. (1989). Burmese Days Diarsipkan 23 Februari 2006 di Wayback Machine. Foreign Affairs.
  15. ↑ Ottawa Citizen. 24 September 1988. pg. A.16
  16. ↑ Associated Press. Chicago Tribune. 26 September 1988.
  17. ↑ Wintle, p. 338.
  18. ↑ Lintner (1989), pp. 94–95.
  19. ↑ Boudreau (2004), pp. 192

Bibliografi

Buku dan jurnal

  • Boudreau, Vincent. (2004). Resisting Dictatorship: Repression and Protest in Southeast Asia. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-83989-1.
  • Burma Watcher. (1989). Burma in 1988: There Came a Whirlwind. Asian Survey, 29(2). A Survey of Asia in 1988: Part II pp. 174–180.
  • Callahan, Mary. (1999). Civil-military relations in Burma: Soldiers as state-builders in the postcolonial era. Preparation for the State and the Soldier in Asia Conference.
  • Callahan, Mary. (2001). Burma: Soldiers as State Builders. ch. 17. cited in Alagappa, Muthiah. (2001). Coercion and Governance: The Declining Political Role of the Military in Asia. Stanford University Press. ISBN 978-0-8047-4227-6
  • Clements, Ann. (1992). Burma: The Next Killing Fields? Odonian Press. ISBN 978-1-878825-21-6
  • Delang, Claudio. (2000). Suffering in Silence, the Human Rights Nightmare of the Karen People of Burma. Parkland: Universal Press.
  • Europa Publications Staff. (2002). The Far East and Australasia 2003. Routledge. ISBN 978-1-85743-133-9.
  • Ferrara, Federico. (2003). Why Regimes Create Disorder: Hobbes's Dilemma during a Rangoon Summer. The Journal of Conflict Resolution, 47(3), pp. 302–325.
  • Fink, Christina. (2001). Living Silence: Burma Under Military Rule. Zed Books. ISBN 978-1-85649-926-2
  • Fong, Jack. (2008). Revolution as Development: The Karen Self-determination Struggle Against Ethnocracy (1949–2004). Boca Raton, FL:BrownWalker Press. ISBN 978-1-59942-994-6
  • Ghosh, Amitav. (2001). The Kenyon Review, New Series. Cultures of Creativity: The Centennial Celebration of the Nobel Prizes. 23(2), pp. 158–165.
  • Hlaing, Kyaw Yin. (1996). Skirting the regime's rules.
  • Lintner, Bertil. (1989). Outrage: Burma's Struggle for Democracy. Hong Kong: Review Publishing Co.
  • Lintner, Bertil. (1990). The Rise and Fall of the Communist Party of Burma (CPB). SEAP Publications. ISBN 978-0-87727-123-9.
  • Lwin, Nyi Nyi. (1992). Refugee Student Interviews. A Burma-India Situation Report.
  • Maung, Maung. (1999). The 1988 Uprising in Burma. Yale University Southeast Asia Studies. ISBN 978-0-938692-71-3
  • Silverstein, Josef. (1996). The Idea of Freedom in Burma and the Political Thought of Daw Aung San Suu Kyi. Pacific Affairs, 69(2), pp. 211–228.
  • Smith, Martin. (1999). Burma – Insurgency and the Politics of Ethnicity. Zed Books. ISBN 978-1-85649-660-5
  • Steinberg, David. (2002). Burma: State of Myanmar. Georgetown University Press. ISBN 978-0-87840-893-1
  • Tucker, Shelby. (2001). Burma: The Curse of Independence. Pluto Press. ISBN 978-0-7453-1541-6
  • Wintle, Justin. (2007). Perfect Hostage: a life of Aung San Suu Kyi, Burma’s prisoner of conscience. New York: Skyhorse Publishing. ISBN 978-0-09-179681-5
  • Yawnghwe, Chao-Tzang. Burma: Depoliticization of the Political. cited in Alagappa, Muthiah. (1995). Political Legitimacy in Southeast Asia: The Quest for Moral Authority. Stanford University Press. ISBN 978-0-8047-2560-6
  • Yitri, Moksha. (1989). The Crisis in Burma: Back from the Heart of Darkness? University of California Press.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Templat:Topik Myanmar

Latar belakang
dalam
Latar belakang
internasional
Reformasi
Pemimpin
pemerintahan
Metode
perlawanan
Pemimpin
perlawanan
Gerakan
perlawanan
Peristiwa
menurut lokasi
Eropa Tengah dan Timur
Uni Soviet
Tempat lainnya
Peristiwa
individual
Peristiwa selanjutnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan