Rabu, 07 Oktober 2026
12:42 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Rubah telinga kelelawar

Rubah telinga kelelawar

Bagikan:
Rubah telinga kelelawar[1]
250px-Otocyon_megalotis_-_Etosha_2014.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Otocyon megalotis
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
O. megalotis
Nama binomial
Otocyon megalotis
Müller, 1835
Desmarest, 1822
250px-Bat-eared_Fox_area.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bat-eared fox range
Sinonim[3]
  • Canis megalotis Desmarest, 1822
  • Canis lalandii Desmoulins, 1823
  • Otocyon caffer Müller, 1836
  • Agriodus auritus H. Smith, 1840
  • Otocyon virgatus Miller, 1909
  • Otocyon canescens Cabrera, 1910
  • Otocyon steinhardti Zukowsky, 1924
Artikel takson sembarang
250px-Bat_Eared_Fox_Individual_.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rubah telinga kelelawar yang berada di Taman Nasional Masai Mara

Rubah telinga kelelawar (Otocyon megalotis) adalah salah satu spesies hewan rubah yang ditemukan di sabana Afrika, yang diberi nama demikian karena ukuran telinganya yang besar;[4] yang digunakan untuk proses termoregulasi.[3] Catatan fosil menunjukkan canid ini pertama kali muncul pada masa Pleistosen tengah, sekitar 800.000 tahun yang lalu.[4] Ini dianggap sebagai spesies canid basal, atau menyerupai bentuk leluhur famili asalnya.[5]

Rubah telinga kelelawar (disebut juga rubah Delalande,[6] rubah telinga panjang,[6] rubah telinga besar, dan rubah telinga hitam) memiliki bulu kuning kecoklatan dengan telinga, kaki, dan bagian wajah runcing yang hitam. Panjangnya rata-rata 55 sentimeter (22 inci) (kepala dan tubuh), dengan panjang telinga 13 sentimeter (5,1 inci). Ini adalah satu-satunya spesies dalam genus Otocyon.[1] Nama Otocyon berasal dari kata Yunani otus untuk telinga dan cyon untuk anjing, sedangkan nama spesifik megalotis berasal dari kata Yunani, mega untuk besar dan otus untuk telinga.[3]

Wilayah dan persebaran

Dua populasi alopatrik (subspesies) muncul di Afrika. O. m. virgatus muncul dari Ethiopia dan Sudan Selatan ke Tanzania. Populasi lainnya, O. m. megalotis, muncul di bagian selatan Afrika. Ini berkisar dari Zambia selatan dan Angola ke Afrika Selatan, dan membentang ke timur sampai Mozambik dan Zimbabwe, menyebar ke Cape of Good Hope menuju Cape Agulha. Rentang ukuran sarangnya bervariasi dari 0,3 hingga 3,5 km2.[3]

Habitat

Rubah telinga kelelawar biasanya muncul di padang rumput pendek, serta daerah yang lebih kering di sabana. Hewan ini lebih menyukai tanah kosong dan daerah di mana rumput tumbuh lebih pendek dengan merumput menggunakan ujung kuku.[3] Hewan ini cenderung berburu di rerumputan pendek dan habitat semak rendah ini. Namun, kadang ia melakukan perjalanan ke daerah dengan rumput tinggi dan semak yang rimbun untuk bersembunyi ketika terancam.[7]

Selain membesarkan anak-anak mereka di sarang, rubah telinga kelelawar menggunakan sarang yang digali sendiri untuk berlindung dari suhu dan angin yang ekstrem. Mereka juga berbaring di bawah pohon akasia di Afrika Selatan untuk mencari tempat berteduh di siang hari.[3]

Pola makan

Rubah telinga kelelawar sebagian besar adalah insektivora yang menggunakan telinganya yang berukuran besar untuk menemukan mangsanya. Sekitar 80–90% dari makanan mereka adalah rayap pemanen (Hodotermes mossambicus). Ketika spesies rayap khusus ini tidak tersedia, mereka memakan spesies rayap lain dan juga telah diamati mengkonsumsi arthropoda lain seperti semut, kumbang, jangkrik, belalang, belalang sembah, ngengat, kalajengking, laba-laba, dan terkadang burung, mamalia kecil, reptil, dan jamur (truffle gurun Kalaharituber pfeilii[8]). Serangga yang mereka makan memenuhi sebagian besar kebutuhan asupan air mereka. Rubah telinga kelelawar menolak untuk memberi makan rayap pemanen, kemungkinan karena itu tidak disesuaikan untuk mentolerir pertahanan kimia dari rayap.[3]

Pertumbuhan gigi

Gigi rubah telinga kelelawar berukuran jauh lebih kecil dan dapat berkurang dalam pembentukan permukaannya yang berbeda daripada gigi spesies canid lainnya. Ini merupakan adaptasi dari hewan insektivora.[9] Karena giginya yang tidak biasa, rubah telinga kelelawar pernah dianggap sebagai subfamili canid yang berbeda (Otocyoninae). Namun, menurut pemeriksaan yang lebih baru, itu lebih erat terkait dengan rubah sebenarnya dari genus Vulpes. Penelitian lain menempatkan genus ini sebagai hewan di luar genus yang tidak terkait erat dengan rubah.[10] Rubah telinga kelelawar adalah spesies tua yang didistribusikan secara luas di era Pleistosen. Gigi bukan satu-satunya adaptasi morfologis rubah telinga kelelawar untuk makanannya. Rahang bawahnya memiliki tonjolan seperti rongga yang disebut proses subangular, yang melabuhkan otot besar untuk memungkinkan pengunyahan dengan cepat. Otot digastrik juga dimodifikasi untuk membuka dan menutup rahang lima kali per detik.[3]

Cari makan

Rubah telinga kelelawar biasanya berburu berkelompok, sebagian besar berpasangan dan berkelompok tiga. Individu mencari makan sendirian setelah kelompok tersebut beristirahat pada bulan Juni atau Juli dan selama bulan-bulan setelah kelahiran anaknya. Lokasi mangsanya dapat dideteksi terutama dengan cara pendengaran, bukan dengan penciuman atau penglihatan. Pola mencari makan bervariasi antara musim dan bersamaan dengan ketersediaan rayap. Pada pertengahan musim panas, individu mulai mencari makan saat matahari terbenam, berlanjut sepanjang malam, dan berkurang hingga pagi hari. Mencari makan hampir secara eksklusif diurnal selama musim dingin biasanya terjadi di wilayah keci, yang dilihat cocok dengan sumber daya mangsa yang berkelompok, seperti koloni rayap, yang juga terjadi di wilayah kecil tersebut. Kelompok-kelompok dapat mencari makan di rumpun mangsa karena mereka tidak saling bertarung untuk mendapatkan makanan karena tingkat sosialitas dan kurangnya teritorialitas mereka.[7]

Perilaku

Di wilayah lebih utara dari jangkauan habitat umumnya (sekitar Serengeti), mereka aktif di malam hari sekitar 85%. Namun, di sekitar Afrika Selatan, mereka aktif di malam hari di musim panas dan diurnal selama musim dingin.[11]

Rubah telinga kelelawar adalah hewan yang berjiwa sosial tinggi. Mereka sering hidup berpasangan atau berkelompok hingga 15 individu, dan wilayah jelajah kelompok yang luas baik tumpang tindih secara substansial atau sangat sedikit. Individu mencari makan, bermain, dan beristirahat bersama dalam sebuah kelompok, yang juga membantu dalam perlindungan terhadap predator. Perawatan sosial terjadi sepanjang tahun, sebagian besar antara rubah dewasa, tetapi juga antara rubah muda dan rubah dewasa.[3]

250px-Otocyon_megalotis_Dvur_zoo_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seekor rubah telinga kelelawar dalam keadaan terancam

Tampilan visual sangat penting dalam komunikasi di antara rubah telinga kelelawar. Ketika mereka melihat sesuatu dengan saksama, kepala terangkat tinggi, mata terbuka, telinga tegak dan menghadap ke depan, dan mulut tertutup. Ketika seekor rubah dalam ancaman atau dalam posisi tertekan, telinga turun kembali ke bagian kepala dan kepala menunduk. Ekor juga berperan dalam komunikasi. Ketika menyatakan dominasi atau agresi, merasa terancam, bermain, atau terangsang secara seksual, ekornya melengkung dalam bentuk U terbalik. Mereka juga dapat menggunakan piloereksi (merinding), yang terjadi ketika bulu berdiri tegak, untuk membuatnya tampak lebih besar ketika dihadapkan dengan ancaman ekstrem. Saat berlari, mengejar, atau melarikan diri, ekornya menjadi lurus dan horizontal. Rubah telinga kelelawar bisa mengenali satu sama lain hingga 30 m jauhnya. Proses pengenalannya memiliki tiga tahap: Pertama mereka mengabaikan lawannya, kemudian mereka menatap dengan saksama, dan akhirnya mereka mendekati atau menyerang tanpa pikir panjang. Ketika menyapa sesamanya, individu yang mendekat menunjukkan gerakan simbolis yang diterima oleh individu lain dengan meninggikan kepala dan ekor turun ke bawah. Beberapa vokalisasi digunakan untuk komunikasi, tetapi suara memanggil sesama dan peringatan digunakan, sebagian besar selama musim dingin. Sekresi kelenjar dan garukan, selain untuk menggali, tidak termasuk dalam komunikasinya.[3]

Reproduksi

Rubah telinga kelelawar secara sosial dominan merupakan monogami,[12] meskipun telah diamati mereka termasuk dalam kelompok poligini. Berbeda dengan canid lainnya, rubah telinga kelelawar memiliki peran yang terbalik dalam peran orangtua, di mana pejantan mengambil sebagian besar perilaku perawatan orang tua. Betina hamil selama 60-70 hari dan melahirkan anak yang terdiri dari satu sampai enam anakan. Di luar laktasi, yang berlangsung 14 hingga 15 minggu,[3] pejantan mengambil alih perawatan, mempertahankan, meringkuk, mendampingi, dan membawa anak-anaknya di antara situs-situs sarang. Selain itu, tingkat kehadiran anak rubah jantan dan perawatan di ruang yang sesuai terbukti memiliki korelasi langsung dengan tingkat kelangsungan hidup anak.[13] Betina mencari makan untuk mengumpulkan makanan, yang ia gunakan untuk mempertahankan produksi susu, yang sangat diandalkan anak-anaknya. Makanan yang diperoleh betina tidak dibawa kembali kepada anaknya atau dimuntahkan untuk memberi makan anaknya.[3]

Anak rubah di wilayah Kalahari lahir antara September-November dan di wilayah Botswana lahir Oktober-Desember. Rubah telinga kelelawar muda memisahkan diri dan meninggalkan kelompok famili mereka pada usia 5-6 bulan dan mencapai kematangan seksual pada usia 8-9 bulan.[3]

Ancaman konservasi

Rubah telinga kelelawar memiliki beberapa kegunaan komersial bagi manusia. Mereka dianggap penting untuk mengendalikan populasi rayap pemanen, karena rayap dianggap sebagai hama. Mereka juga telah diburu untuk diambil bulu mereka oleh penduduk asli Botswana.[3] Ancaman tambahan terhadap populasinya termasuk penyakit dan kekeringan yang dapat membahayakan populasi mangsa; Namun, tidak ada ancaman besar terhadap populasi rubah telinga kelelawar.[2]

Referensi

Wikispecies logo
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Otocyon megalotis.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Otocyon megalotis.
  1. 1 2 Wozencraft, W. C. (2005-11-16). Wilson, D. E., and Reeder, D. M. (eds) (ed.). Mammal Species of the World (Edisi 3rd edition). Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-8221-4. {{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahan; |editor= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link)
  2. 1 2 Nel, J.A.J.; Maas, B. (2008). "Otocyon megalotis". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal 22 Maret 2009. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |authors=; Parameter tidak dikenal |last-author-amp= diabaikan (|name-list-style= disarankan)
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Clark, H. O. (2005). "Otocyon megalotis". Mammalian Species. 766: 1–5. doi:10.1644/1545-1410(2005)766[0001:OM]2.0.CO;2.
  4. 1 2 Paleobiology Database: Otocyon Basic info[pranala nonaktif permanen]
  5. ↑ Macdonald, David W.; Sillero-Zubir, Claudio (2004-06-24), The Biology and Conservation of Wild Canids, Oxford University Press, ISBN 9780191523359, diakses tanggal Februari 16, 2016{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 The Encyclopedia Britannica: A Dictionary of Arts, Sciences, Literature and General Information. At the University Press. 1910. hlm. 770.
  7. 1 2 Kuntzsch, V.; Nel, J.A.J. (1992). "Diet of bat-eared foxes Otocyon megalotis in the Karoo". Koedoe. 35 (2): 37–48. doi:10.4102/koedoe.v35i2.403.
  8. ↑ Trappe JM, Claridge AW, Arora D, Smit WA (2008). "Desert truffles of the Kalahari: ecology, ethnomycology and taxonomy". Economic Botany. 62 (3): 521–529. doi:10.1007/s12231-008-9027-6.
  9. ↑ Kieser, J.A. (Mei 1995). "Gnathomandibular Morphology and Character Displacement in the Bat-eared Fox". Journal of Mammalogy. 76 (2): 542–550. doi:10.2307/1382362. JSTOR 1382362.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Westbury, Michael; Dalerum, Fredrik; Norén, Karin; Hofreiter, Michael (2017-01-01). "Complete mitochondrial genome of a bat-eared fox (Otocyon megalotis), along with phylogenetic considerations". Mitochondrial DNA Part B. 2 (1): 298–299. doi:10.1080/23802359.2017.1331325.
  11. ↑ Thompson, Paul. "Otocyon megalotis,bat-eared fox". Animal Diversity Web. University of Michigan. Diakses tanggal 7 September 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Wright, Harry WY; et al. (2010). "Mating tactics and paternity in a socially monogamous canid, the bat-eared fox (Otocyon megalotis)". Journal of Mammalogy. 91 (2): 437–446. doi:10.1644/09-mamm-a-046.1.
  13. ↑ Wright, Harry William Yorkstone (2006). "Paternal den attendance is the best predictor of offspring survival in the socially monogamous bat-eared fox". Animal Behaviour. 71 (3): 503–510. doi:10.1016/j.anbehav.2005.03.043.
Spesies Carnivora yang masih hidup
Prionodon (Linsang asiatik)
Felidae (kucing)
Pantherinae
Neofelis
Panthera
Felinae sensu stricto
Garis keturunan
kucing merah
Pardofelis
Catopuma
Garis keturunan
karakal
Caracal
Leopardus
Lynx
Garis keturunan
puma
Acinonyx
Puma
Garis keturunan
kucing kuwuk
Prionailurus
Felis
Viverroidea
    • lihat dibawah↓
Hemigalinae
Paradoxurinae
Paradoxurus

Viverrinae
sensu lato
Viverrinae
sensu stricto
Viverra
Genettinae
Poiana
(African linsangs)
Genetta
(Rabah)
Herpestoidea
    • see below↓
Hyaenidae
(hyena)
Proteles
Hyaeninae
(hyena penghancur tulang)
Crocuta
Herpestidae sensu lato
Eupleridae
(Malagasy
carnivorans)
Euplerinae
(Malagasy civets)
Eupleres (falanoucs)
Galidiinae
(vontsira)
Galidictis
Salanoia
Herpestidae sensu stricto (mongooses)
Suricata
Mungos
Helogale
Crossarchus
(kusimanse)
Urva
(garangan asia)
Bdeogale
Herpestes
(slender mongooses)
Canidae (anjing)
Urocyon
Vulpini
Nyctereutes
Vulpes
(rubah)
Canini
(anjing sejati)
Cerdocyonina
(zorro)
Speothos
Lycalopex
Canina
(canid mirip serigala)
Lupulella
Canis
Ursidae
(beruang)
Ailuropoda
Tremarctos
Ursinae
Ursus
Mustelida
Pinnipedia (anjing laut)
    • lihat dibawah↓
Musteloidea
    • lihat dibawah↓
Odobenidae

Otariidae
(anjing laut bertelinga:
anjing laut bulu,
singa laut)
Callorhinus
Otariinae
Zalophus
Neophoca
Arctocephalus
Phocidae
(Anjing laut nirtelinga
atau anjing laut sejati)
Phocinae
("anjing laut utara")
Phocini
Phoca
Pusa
Monachinae
("southern seals")
Monachini
(anjing laut rahib)
Neomonachus
Mirounga
(anjing laut gajah)
Lobodontini
(anjing laut antarktik)
Ailuridae
Mephitidae
(sigung)
Conepatus
(sigung hidung-babi)
Mephitis
Mydaus
([teledu sigung)
Spilogale
(sigung tutul)
Procyonidae
Bassariscus
Procyon
(rakun)
Bassaricyon
(olingo)
Nasuina
(koati)
Nasua
Nasuella
Mustelidae
    • lihat dibawah↓
Mellivora
Melinae
(Teledu eurasia)
Arctonyx
Meles
Melogale
(biul)
Guloninae
Pekania
Gulo
Martes
(amunin)
Ictonychinae
Lyncodontini
Galictis
(grison)
Ictonychini
(Cerpelai afrika)
Vormela
Ictonyx
Lutrinae
(berang-berang)
Lontra
Enhydra
Lutra
Lutrogale
Aonyx
Mustelinae
Neogale
Mustela
(cerpelai)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan