
Fagosit adalah sel yang melindungi tubuh dengan cara menelan partikel asing yang berbahaya, bakteri, serta sel-sel yang mati atau sekarat. Sel-sel ini mencakup monosit, makrofag, neutrofil, sel dendritik jaringan, dan sel mast. Namanya berasal dari bahasa Yunani phagein, yang berarti "makan" atau "melahap", dan akhiran "-sit" (-cyte), yang dalam biologi menandakan "sel", dari bahasa Yunani kutos, yang berarti "wadah berongga". Fagosit sangat penting untuk melawan infeksi dan untuk kekebalan tubuh selanjutnya. Fagosit memiliki peran penting di seluruh kingdom hewan[1] dan sangat berkembang pada vertebrata.[2] Satu liter darah manusia mengandung sekitar enam miliar fagosit.[3] Sel ini ditemukan pada tahun 1882 oleh Ilya Ilyich Mechnikov ketika ia sedang mempelajari larva bintang laut.[4] Mechnikov dianugerahi Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1908 atas penemuannya tersebut.[5] Fagosit terdapat pada banyak spesies; beberapa amuba berperilaku seperti fagosit makrofag, yang menunjukkan bahwa fagosit telah muncul pada tahap awal evolusi kehidupan.[6] Ditemukan pada tahun 2019, spesies bakteri Candidatus Uabimicrobium amorphum dapat melakukan fagositosis dengan cara memakan bakteri lain.[7]
Fagosit pada manusia dan hewan lainnya disebut "profesional" atau "non-profesional", bergantung pada seberapa efektif sel tersebut dalam melakukan fagositosis.[8] Fagosit profesional mencakup banyak jenis sel darah putih (seperti neutrofil, monosit, makrofag, sel mast, dan sel dendritik).[9] Perbedaan utama antara fagosit profesional dan non-profesional adalah bahwa fagosit profesional memiliki molekul bernama reseptor di permukaannya, yang mampu mendeteksi objek berbahaya yang biasanya tidak terdapat di dalam tubuh, seperti bakteri. Fagosit non-profesional tidak memiliki reseptor fagositik yang efisien, seperti reseptor untuk opsonin.[10] Fagosit sangat penting dalam melawan infeksi serta menjaga kesehatan jaringan dengan menyingkirkan sel-sel yang mati dan sekarat yang telah mencapai akhir masa hidupnya.[11]
Selama infeksi, sinyal kimia menarik fagosit ke tempat patogen menyerang tubuh. Zat kimia ini bisa berasal dari bakteri atau dari fagosit lain yang sudah ada di area tersebut. Fagosit bergerak dengan suatu metode yang disebut kemotaksis. Ketika fagosit bersentuhan dengan bakteri, reseptor di permukaan fagosit akan berikatan dengan bakteri tersebut. Ikatan ini akan memicu fagosit untuk menelan bakteri itu.[12] Beberapa fagosit membunuh patogen yang ditelannya menggunakan oksidan dan oksida nitrat.[13] Setelah fagositosis, makrofag dan sel dendritik juga dapat berpartisipasi dalam presentasi antigen, yaitu sebuah proses di mana fagosit memindahkan bagian-bagian dari materi yang telah ditelan kembali ke permukaannya. Materi ini kemudian ditampilkan kepada sel-sel lain dari sistem imun. Beberapa fagosit kemudian bergerak menuju kelenjar getah bening di dalam tubuh dan menampilkan materi tersebut kepada sel darah putih yang disebut limfosit. Proses ini penting dalam membangun kekebalan tubuh,[14] dan banyak patogen telah berevolusi dengan mengembangkan metode untuk menghindari serangan dari fagosit.[15]
Sejarah

Ahli zoologi Rusia Ilya Ilyich Mechnikov (1845–1916) adalah orang pertama yang menyadari bahwa sel-sel terspesialisasi terlibat dalam pertahanan terhadap infeksi mikroba.[16] Pada tahun 1882, ia mempelajari sel-sel motil (bergerak bebas) pada larva bintang laut dan meyakini bahwa sel-sel tersebut penting bagi pertahanan imun hewan tersebut. Untuk menguji ide tersebut, ia menusukkan duri kecil dari pohon jeruk keprok ke dalam larva. Setelah beberapa jam, ia mengamati bahwa sel-sel motil tersebut telah mengelilingi duri tersebut.[16] Mechnikov bepergian ke Wina dan membagikan gagasan-gagasannya kepada Carl Friedrich Claus, yang kemudian menyarankan nama "fagosit" (dari kata Yunani phagein, yang berarti "makan atau melahap", dan kutos, yang berarti "wadah berongga"[17]) untuk sel-sel yang telah diamati oleh Mechnikov.[18]
Setahun kemudian, Mechnikov mempelajari krustasea air tawar bernama Daphnia, yaitu hewan transparan berukuran kecil yang dapat diamati secara langsung di bawah mikroskop. Ia menemukan bahwa spora jamur yang menyerang hewan tersebut dihancurkan oleh fagosit. Ia kemudian memperluas pengamatannya pada sel darah putih mamalia dan menemukan bahwa bakteri Bacillus anthracis dapat ditelan dan dibunuh oleh fagosit, sebuah proses yang ia sebut fagositosis.[19] Mechnikov mengemukakan bahwa fagosit merupakan pertahanan utama terhadap organisme penginvasi.[16]
Pada tahun 1903, Almroth Wright menemukan bahwa fagositosis diperkuat oleh antibodi spesifik yang ia sebut opsonin, dari bahasa Yunani opson, yang berarti "bumbu atau saus pelengkap".[20] Mechnikov dianugerahi (bersama dengan Paul Ehrlich) Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1908 atas karyanya tentang fagosit dan fagositosis.[5]
Meskipun pentingnya penemuan-penemuan ini perlahan mulai diterima selama awal abad kedua puluh, hubungan rumit antara fagosit dan seluruh komponen sistem imun lainnya baru diketahui pada dekade 1980-an.[21]
Fagositosis

Fagositosis adalah proses penelanan partikel seperti bakteri, jamur invasif, parasit, sel inang yang mati, serta serpihan seluler dan asing oleh suatu sel.[23] Proses ini melibatkan serangkaian tahapan molekuler.[24][25] Fagositosis terjadi setelah benda asing, misalnya sel bakteri, terikat pada molekul yang disebut "reseptor" yang berada di permukaan fagosit. Fagosit kemudian meregangkan dirinya di sekeliling bakteri tersebut dan menelannya. Fagositosis bakteri oleh neutrofil manusia rata-rata membutuhkan waktu sembilan menit.[26] Setelah berada di dalam fagosit, bakteri tersebut terperangkap dalam kompartemen yang disebut fagosom. Dalam waktu satu menit, fagosom menyatu dengan lisosom atau granula untuk membentuk fagolisosom. Bakteri tersebut kemudian dihadapkan pada serangkaian mekanisme pembunuhan yang sangat kuat[27] dan mati beberapa menit kemudian.[26] Sel dendritik dan makrofag tidak secepat itu, dan fagositosis pada sel-sel ini dapat memakan waktu hingga beberapa jam. Makrofag adalah pemakan yang lambat dan tidak rapi; mereka menelan sejumlah besar materi dan sering kali melepaskan kembali sebagian materi yang belum tercerna ke dalam jaringan. Serpihan ini berfungsi sebagai sinyal untuk merekrut lebih banyak fagosit dari darah.[28] Fagosit memiliki nafsu makan yang sangat besar; para ilmuwan bahkan pernah memberi makan makrofag dengan serbuk besi, lalu menggunakan magnet kecil untuk memisahkannya dari sel-sel lain.[28]

Fagosit memiliki banyak jenis reseptor di permukaannya yang digunakan untuk mengikat materi.[15] Reseptor tersebut meliputi reseptor opsonin, reseptor pemulung, dan reseptor serupa Toll. Reseptor opsonin meningkatkan fagositosis bakteri yang telah dilapisi oleh imunoglobulin G (IgG), antibodi, atau komplemen. "Komplemen" adalah nama yang diberikan untuk serangkaian molekul protein kompleks yang ditemukan di dalam darah yang menghancurkan sel atau menandainya untuk dihancurkan.[29] Reseptor pemulung berikatan dengan berbagai jenis molekul di permukaan sel bakteri, sedangkan reseptor serupa Toll (dinamakan demikian karena kemiripannya dengan reseptor pada lalat buah yang disandi oleh gen Toll) berikatan dengan molekul yang lebih spesifik, termasuk DNA dan RNA asing.[30] Pengikatan pada reseptor serupa Toll meningkatkan fagositosis dan menyebabkan fagosit melepaskan sekelompok hormon yang memicu inflamasi.[15]
Metode pembunuhan

Penumpasan mikroba merupakan fungsi krusial fagosit yang dilakukan baik di dalam fagosit (pembunuhan intraseluler) maupun di luar fagosit (pembunuhan ekstraseluler).[31]
Intraseluler dependen oksigen
Ketika fagosit menelan bakteri (atau materi apa pun), konsumsi oksigennya meningkat. Peningkatan konsumsi oksigen ini, yang disebut ledakan respirasi, menghasilkan molekul-molekul reaktif yang mengandung oksigen dan bersifat antimikroba.[32] Senyawa oksigen ini beracun bagi penginvasi maupun sel itu sendiri, sehingga senyawa tersebut disimpan dalam kompartemen di dalam sel. Metode pembunuhan mikroba penginvasi dengan menggunakan molekul reaktif yang mengandung oksigen ini disebut sebagai pembunuhan intraseluler dependen oksigen, yang terbagi menjadi dua jenis.[13]
Jenis pertama adalah produksi superoksida yang bergantung pada oksigen,[15] yaitu zat kaya oksigen yang membunuh bakteri.[33] Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida dan oksigen singlet oleh enzim yang disebut superoksida dismutase. Superoksida juga bereaksi dengan hidrogen peroksida untuk menghasilkan radikal hidroksil, yang membantu membunuh mikroba penginvasi.[15]
Jenis kedua melibatkan penggunaan enzim mieloperoksidase dari granula neutrofil.[34] Ketika granula menyatu dengan fagosom, mieloperoksidase dilepaskan ke dalam fagolisosom, dan enzim ini menggunakan hidrogen peroksida serta klorin untuk menghasilkan hipoklorit, yaitu zat yang digunakan dalam pemutih rumah tangga. Hipoklorit sangat beracun bagi bakteri.[15] Mieloperoksidase mengandung pigmen hem, yang menyebabkan warna hijau pada sekresi yang kaya akan neutrofil, seperti nanah dan dahak yang terinfeksi.[35]
Intraseluler independen oksigen

Fagosit juga dapat membunuh mikroba dengan metode independen oksigen, tetapi metode ini tidak seefektif metode yang bergantung pada oksigen. Terdapat empat jenis utama. Jenis pertama menggunakan protein bermuatan listrik yang merusak membran bakteri. Jenis kedua menggunakan lisozim, yaitu enzim yang menguraikan dinding sel bakteri. Jenis ketiga menggunakan laktoferin, yang terdapat dalam granula neutrofil dan menyingkirkan zat besi esensial dari bakteri.[36] Jenis keempat menggunakan protease dan enzim hidrolitik, yaitu enzim yang digunakan untuk mencerna protein dari bakteri yang telah dihancurkan.[37]
Ekstraseluler
Interferon-gamma (yang dahulu disebut faktor pengaktif makrofag) merangsang makrofag untuk menghasilkan oksida nitrat. Sumber interferon-gamma dapat berasal dari sel T CD4+, sel T CD8+, sel pembunuh alami, sel B, sel T pembunuh alami, monosit, makrofag lain, atau sel dendritik.[38] Oksida nitrat kemudian dilepaskan dari makrofag dan, karena sifat toksiknya, membunuh mikroba yang berada di dekat makrofag.[15] Makrofag yang teraktivasi menghasilkan dan mensekresikan faktor nekrosis tumor. Sitokin ini (sekelompok molekul penyinyal)[39] membunuh sel-sel kanker serta sel-sel yang terinfeksi oleh virus, dan membantu mengaktifkan sel-sel lain dari sistem imun.[40]
Pada beberapa penyakit, seperti penyakit granulomatosa kronis yang langka, efisiensi fagosit mengalami gangguan sehingga infeksi bakteri yang berulang menjadi masalah.[41] Pada penyakit ini, terdapat kelainan yang memengaruhi berbagai elemen pembunuhan dependen oksigen. Kelainan bawaan langka lainnya, seperti sindrom Chédiak–Higashi, juga dikaitkan dengan cacatnya proses pembunuhan mikroba yang telah ditelan.[42]
Virus
Virus hanya dapat bereproduksi di dalam sel, dan mereka dapat masuk dengan memanfaatkan berbagai reseptor yang terlibat dalam imunitas. Setelah berada di dalam sel, virus menggunakan mesin biologis sel untuk keuntungannya sendiri, memaksa sel untuk membuat ratusan salinan yang identik dari virus tersebut. Meskipun fagosit dan komponen sistem imun bawaan lainnya dapat mengendalikan virus dalam tingkat terbatas, begitu virus berada di dalam sel, respons imun adaptif, khususnya limfosit, menjadi lebih penting untuk pertahanan.[43] Di lokasi infeksi virus, jumlah limfosit sering kali jauh melampaui seluruh sel sistem imun lainnya; hal ini umum terjadi pada meningitis virus.[44] Sel yang terinfeksi virus yang telah dibunuh oleh limfosit dibersihkan dari tubuh oleh fagosit.[45]
Peran dalam apoptosis
Pada hewan, sel-sel terus-menerus mati. Keseimbangan antara pembelahan sel dan kematian sel menjaga jumlah sel relatif konstan pada individu dewasa.[11] Terdapat dua cara berbeda suatu sel dapat mati: melalui nekrosis atau melalui apoptosis. Berbeda dengan nekrosis yang sering kali disebabkan oleh penyakit atau trauma, apoptosis, atau kematian sel terprogram, merupakan fungsi normal sel yang sehat. Tubuh harus membersihkan dirinya dari jutaan sel yang mati atau sekarat setiap hari, dan fagosit memainkan peran krusial dalam proses ini.[46]
Sel-sel yang sekarat dan mengalami tahap-tahap akhir apoptosis[47] menampilkan molekul, seperti fosfatidilserina, pada permukaan sel mereka untuk menarik fagosit.[48] Fosfatidilserina biasanya ditemukan di permukaan sitosolik membran plasma, tetapi didistribusikan ulang selama apoptosis ke permukaan ekstraseluler oleh protein yang dikenal sebagai skramblase.[49][50] Molekul-molekul ini menandai sel untuk difagositosis oleh sel-sel yang memiliki reseptor yang sesuai, seperti makrofag.[51] Pembersihan sel-sel sekarat oleh fagosit terjadi secara teratur tanpa memicu respons peradangan dan merupakan fungsi penting dari fagosit.[52]
Interaksi dengan sel lain
Fagosit biasanya tidak terikat pada organ tertentu, melainkan bergerak melintasi tubuh sambil berinteraksi dengan sel-sel fagositik dan non-fagositik lainnya dari sistem imun. Mereka dapat berkomunikasi dengan sel lain dengan menghasilkan zat kimia yang disebut sitokin, yang merekrut fagosit lain ke lokasi infeksi atau merangsang limfosit yang dorman.[53] Fagosit membentuk bagian dari sistem imun bawaan, yang dimiliki oleh hewan, termasuk manusia, sejak lahir. Imunitas bawaan sangat efektif tetapi tidak spesifik karena tidak membedakan berbagai jenis penginvasi. Di sisi lain, sistem imun adaptif pada vertebrata berahang, yang menjadi dasar imunitas didapat, sangat terspesialisasi dan dapat melindungi tubuh dari hampir semua jenis penginvasi.[54] Sistem imun adaptif tidak bergantung pada fagosit melainkan limfosit, yang menghasilkan protein pelindung yang disebut antibodi untuk menandai penginvasi agar dihancurkan serta mencegah virus menginfeksi sel.[55] Fagosit, khususnya sel dendritik dan makrofag, merangsang limfosit untuk menghasilkan antibodi melalui proses penting yang disebut presentasi antigen.[56]
Presentasi antigen

Presentasi antigen adalah proses di mana beberapa fagosit memindahkan bagian-bagian dari materi yang telah ditelan kembali ke permukaan sel mereka dan "mempresentasikannya" kepada sel-sel sistem imun lainnya.[57] Terdapat dua sel penyaji antigen "profesional": makrofag dan sel dendritik.[58] Setelah ditelan, protein asing (antigen) diuraikan menjadi peptida di dalam sel dendritik dan makrofag. Peptida-peptida ini kemudian terikat pada glikoprotein kompleks histokompatibilitas utama (MHC) milik sel, yang membawa peptida tersebut kembali ke permukaan fagosit tempat peptida tersebut dapat "dipresentasikan" kepada limfosit.[14] Makrofag dewasa tidak bepergian jauh dari lokasi infeksi, tetapi sel dendritik dapat mencapai kelenjar getah bening di dalam tubuh tempat jutaan limfosit berada.[59] Hal ini meningkatkan imunitas karena limfosit merespons antigen yang dipresentasikan oleh sel dendritik sebagaimana mereka merespons di lokasi infeksi yang asli.[60] Namun, sel dendritik juga dapat menghancurkan atau menenangkan limfosit jika mereka mengenali komponen tubuh inang; hal ini diperlukan untuk mencegah reaksi autoimun. Proses ini disebut toleransi.[61]
Virus
Virus hanya dapat bereproduksi di dalam sel, dan mereka dapat masuk dengan memanfaatkan berbagai reseptor yang terlibat dalam imunitas. Setelah berada di dalam sel, virus menggunakan mesin biologis sel untuk keuntungannya sendiri, memaksa sel untuk membuat ratusan salinan yang identik dari virus tersebut. Meskipun fagosit dan komponen sistem imun bawaan lainnya dapat mengendalikan virus dalam tingkat terbatas, begitu virus berada di dalam sel, respons imun adaptif, khususnya limfosit, menjadi lebih penting untuk pertahanan.[62] Di lokasi infeksi virus, jumlah limfosit sering kali jauh melampaui seluruh sel sistem imun lainnya; hal ini umum terjadi pada meningitis virus.[44] Sel yang terinfeksi virus yang telah dibunuh oleh limfosit dibersihkan dari tubuh oleh fagosit.[63]
Peran dalam apoptosis
Pada hewan, sel-sel terus-menerus mati. Keseimbangan antara pembelahan sel dan kematian sel menjaga jumlah sel relatif konstan pada individu dewasa.[11] Terdapat dua cara berbeda suatu sel dapat mati: melalui nekrosis atau melalui apoptosis. Berbeda dengan nekrosis yang sering kali disebabkan oleh penyakit atau trauma, apoptosis, atau kematian sel terprogram, merupakan fungsi normal sel yang sehat. Tubuh harus membersihkan dirinya dari jutaan sel yang mati atau sekarat setiap hari, dan fagosit memainkan peran krusial dalam proses ini.[64]
Sel-sel yang sekarat dan mengalami tahap-tahap akhir apoptosis[65] menampilkan molekul, seperti fosfatidilserina, pada permukaan sel mereka untuk menarik fagosit.[48] Fosfatidilserina biasanya ditemukan di permukaan sitosolik membran plasma, tetapi didistribusikan ulang selama apoptosis ke permukaan ekstraseluler oleh protein yang dikenal sebagai skramblase.[49][50] Molekul-molekul ini menandai sel untuk difagositosis oleh sel-sel yang memiliki reseptor yang sesuai, seperti makrofag.[51] Pembersihan sel-sel sekarat oleh fagosit terjadi secara teratur tanpa memicu respons peradangan dan merupakan fungsi penting dari fagosit.[52]
Interaksi dengan sel lain
Fagosit biasanya tidak terikat pada organ tertentu, melainkan bergerak melintasi tubuh sambil berinteraksi dengan sel-sel fagositik dan non-fagositik lainnya dari sistem imun. Mereka dapat berkomunikasi dengan sel lain dengan menghasilkan zat kimia yang disebut sitokin, yang merekrut fagosit lain ke lokasi infeksi atau merangsang limfosit yang dorman.[66] Fagosit membentuk bagian dari sistem imun bawaan, yang dimiliki oleh hewan, termasuk manusia, sejak lahir. Imunitas bawaan sangat efektif tetapi tidak spesifik karena tidak membedakan berbagai jenis penginvasi. Di sisi lain, sistem imun adaptif pada vertebrata berahang, yang menjadi dasar imunitas didapat, sangat terspesialisasi dan dapat melindungi tubuh dari hampir semua jenis penginvasi.[67] Sistem imun adaptif tidak bergantung pada fagosit melainkan limfosit, yang menghasilkan protein pelindung yang disebut antibodi untuk menandai penginvasi agar dihancurkan serta mencegah virus menginfeksi sel.[68] Fagosit, khususnya sel dendritik dan makrofag, merangsang limfosit untuk menghasilkan antibodi melalui proses penting yang disebut presentasi antigen.[69]
Presentasi antigen

Presentasi antigen adalah proses di mana beberapa fagosit memindahkan bagian-bagian dari materi yang telah ditelan kembali ke permukaan sel mereka dan "mempresentasikannya" kepada sel-sel sistem imun lainnya.[70] Terdapat dua sel penyaji antigen "profesional": makrofag dan sel dendritik.[58] Setelah ditelan, protein asing (antigen) diuraikan menjadi peptida di dalam sel dendritik dan makrofag. Peptida-peptida ini kemudian terikat pada glikoprotein kompleks histokompatibilitas utama (MHC) milik sel, yang membawa peptida tersebut kembali ke permukaan fagosit tempat peptida tersebut dapat "dipresentasikan" kepada limfosit.[14] Makrofag dewasa tidak bepergian jauh dari lokasi infeksi, tetapi sel dendritik dapat mencapai kelenjar getah bening di dalam tubuh tempat jutaan limfosit berada.[71] Hal ini meningkatkan imunitas karena limfosit merespons antigen yang dipresentasikan oleh sel dendritik sebagaimana mereka merespons di lokasi infeksi yang asli.[72] Namun, sel dendritik juga dapat menghancurkan atau menenangkan limfosit jika mereka mengenali komponen tubuh inang; hal ini diperlukan untuk mencegah reaksi autoimun. Proses ini disebut toleransi.[73]
Toleransi imunologis
Sel dendritik juga mendorong toleransi imunologis,[74] yang mencegah tubuh menyerang dirinya sendiri. Jenis toleransi yang pertama adalah toleransi sentral, yang terjadi di dalam timus. Sel T yang berikatan (melalui reseptor sel T mereka) secara terlalu kuat dengan antigen diri (yang dipresentasikan oleh sel dendritik pada molekul MHC) dipicu untuk mati. Jenis toleransi imunologis yang kedua adalah toleransi perifer. Beberapa sel T reaktif diri terlepas dari timus karena sejumlah alasan, terutama akibat kurangnya ekspresi beberapa antigen diri di dalam timus. Jenis sel T lainnya, yaitu sel T regulator, dapat menurunkan regulasi sel T reaktif diri di bagian perifer.[75] Ketika toleransi imunologis gagal, penyakit autoimun dapat terjadi.[76]
Fagosit profesional

Fagosit pada manusia dan vertebrata berahang lainnya dibagi menjadi kelompok "profesional" dan "non-profesional" berdasarkan tingkat efisiensi partisipasinya dalam fagositosis.[8] Fagosit profesional merupakan sel mieloid, yang mencakup monosit, makrofag, neutrofil, sel dendritik jaringan, dan sel mast.[9] Satu liter darah manusia mengandung sekitar enam miliar fagosit.[3]
Aktivasi
Semua fagosit, khususnya makrofag, berada dalam tingkat kesiapsiagaan yang bervariasi. Makrofag biasanya relatif dorman di dalam jaringan dan berproliferasi secara lambat. Dalam keadaan setengah istirahat ini, mereka membersihkan sel inang yang mati dan serpihan non-infeksius lainnya serta jarang mengambil bagian dalam presentasi antigen. Namun, selama infeksi berlangsung, mereka menerima sinyal kimia, yang biasanya berupa interferon gamma, yang meningkatkan produksi molekul MHC II mereka serta mempersiapkan mereka untuk mempresentasikan antigen. Dalam keadaan ini, makrofag menjadi penyaji antigen dan pembunuh yang efektif. Jika menerima sinyal secara langsung dari penginvasi, makrofag menjadi "terhiperaktivasi", berhenti berproliferasi, dan berfokus pada pembunuhan. Ukuran dan laju fagositosis mereka meningkat, bahkan beberapa di antaranya menjadi cukup besar untuk menelan protozoa penginvasi.[77]
Di dalam darah, neutrofil berada dalam keadaan tidak aktif tetapi tersapu dengan kecepatan tinggi. Ketika menerima sinyal dari makrofag di lokasi peradangan, neutrofil melambat dan keluar dari pembuluh darah. Di dalam jaringan, mereka diaktifkan oleh sitokin dan tiba di lokasi pertempuran dalam keadaan siap untuk membunuh.[78]
Migrasi

Ketika infeksi terjadi, sinyal kimia "SOS" dilepaskan untuk menarik fagosit ke lokasi tersebut.[79] Sinyal kimia ini dapat mencakup protein dari bakteri penginvasi, peptida sistem pembekuan darah, produk komplemen, serta sitokin yang dilepaskan oleh makrofag yang terletak di dalam jaringan dekat lokasi infeksi.[15] Kelompok penarik kimia lainnya adalah sitokin yang merekrut neutrofil dan monosit dari darah.[12]
Untuk mencapai lokasi infeksi, fagosit meninggalkan aliran darah dan memasuki jaringan yang terdampak. Sinyal dari infeksi menyebabkan sel-sel endotel yang melapisi pembuluh darah menghasilkan protein bernama selektin, yang menjadi tempat melekatnya neutrofil saat melintas. Sinyal lain yang disebut vasodilator melonggarkan ikatan yang menghubungkan sel-sel endotel, memungkinkan fagosit untuk melewati dinding pembuluh darah. Kemotaksis adalah proses yang dilakukan fagosit dengan mengikuti "aroma" sitokin menuju titik infeksi.[15] Neutrofil melintasi organ-organ yang dilapisi sel epitel menuju lokasi infeksi, dan meskipun hal ini merupakan komponen penting dalam melawan infeksi, migrasi itu sendiri dapat menimbulkan gejala mirip penyakit.[80] Selama infeksi, jutaan neutrofil direkrut dari darah, tetapi mereka mati setelah beberapa hari.[81]
Monosit

Monosit berkembang di sumsum tulang dan mencapai kedewasaan di dalam darah. Monosit dewasa memiliki inti sel berlobus yang besar dan halus, serta sitoplasma melimpah yang mengandung granula. Monosit menelan zat asing atau berbahaya dan mempresentasikan antigen kepada sel-sel lain dari sistem imun. Monosit terbagi menjadi dua kelompok: kelompok bersirkulasi dan kelompok marginal yang tetap berada di jaringan lain (sekitar 70% berada pada kelompok marginal). Sebagian besar monosit meninggalkan aliran darah setelah 20–40 jam untuk berpindah ke jaringan dan organ, lalu bertransformasi menjadi makrofag[82] atau sel dendritik bergantung pada sinyal yang diterimanya.[83] Terdapat sekitar 500 juta monosit dalam satu liter darah manusia.[3]
Makrofag

Makrofag dewasa tidak bepergian jauh melainkan berjaga-jaga di area-area tubuh yang terpapar ke dunia luar. Di sana, mereka bertindak sebagai pengumpul sampah, sel penyaji antigen, atau pembunuh yang ganas, bergantung pada sinyal yang diterimanya.[40] Mereka berasal dari monosit, sel punca granulosit, atau pembelahan sel dari makrofag yang sudah ada sebelumnya.[84] Makrofag manusia berdiameter sekitar 21 mikrometer.[85]

Jenis fagosit ini tidak memiliki granula tetapi mengandung banyak lisosom. Makrofag ditemukan di seluruh tubuh pada hampir semua jaringan dan organ (misalnya, sel mikroglia di otak dan makrofag alveolus di paru-paru), tempat mereka menunggu dalam diam. Lokasi makrofag dapat menentukan ukuran dan penampilannya. Makrofag menyebabkan peradangan melalui produksi interleukin-1, interleukin-6, dan TNF-alfa.[86] Makrofag biasanya hanya ditemukan di dalam jaringan dan jarang terlihat di dalam sirkulasi darah. Masa hidup makrofag jaringan diperkirakan berkisar antara empat hingga lima belas hari.[87]
Makrofag dapat diaktifkan untuk menjalankan fungsi yang tidak dapat dilakukan oleh monosit yang sedang beristirahat.[86] Sel T pembantu (juga dikenal sebagai sel T efektor atau sel Th), sebuah subkelompok limfosit, bertanggung jawab atas aktivasi makrofag. Sel Th1 mengaktifkan makrofag melalui persinyalan dengan IFN-gamma dan menampilkan protein ligan CD40.[88] Sinyal lain mencakup TNF-alfa dan lipopolisakarida dari bakteri.[86] Sel Th1 dapat merekrut fagosit lain ke lokasi infeksi melalui beberapa cara. Mereka mensekresikan sitokin yang bekerja pada sumsum tulang untuk merangsang produksi monosit dan neutrofil, serta mensekresikan beberapa sitokin yang bertanggung jawab atas migrasi monosit dan neutrofil keluar dari aliran darah.[89] Sel Th1 berasal dari diferensiasi sel T CD4+ setelah merespons antigen di jaringan limfoid sekunder.[86] Makrofag yang teraktivasi memainkan peran kuat dalam penghancuran tumor dengan menghasilkan TNF-alfa, IFN-gamma, oksida nitrat, senyawa oksigen reaktif, protein kationik, dan enzim hidrolitik.[86]
Neutrofil

Neutrofil biasanya ditemukan di dalam aliran darah dan merupakan jenis fagosit yang paling melimpah, menyusun 50% hingga 60% dari total sel darah putih yang bersirkulasi.[90] Satu liter darah manusia mengandung sekitar lima miliar neutrofil,[3] yang berdiameter sekitar 10 mikrometer[91] dan hanya hidup selama sekitar lima hari.[40] Setelah menerima sinyal yang sesuai, mereka membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk meninggalkan darah dan mencapai lokasi infeksi.[81] Mereka adalah pemakan yang ganas dan dengan cepat menelan penginvasi yang dilapisi oleh antibodi dan komplemen, serta sel-sel yang rusak atau serpihan seluler. Neutrofil tidak kembali ke dalam darah; mereka berubah menjadi sel nanah dan mati.[81] Neutrofil dewasa berukuran lebih kecil daripada monosit dan memiliki inti sel bersegmen dengan beberapa bagian; setiap bagian dihubungkan oleh filamen kromatin, di mana neutrofil dapat memiliki 2–5 segmen. Neutrofil biasanya tidak keluar dari sumsum tulang hingga matang, tetapi selama infeksi, prekursor neutrofil yang disebut metamielosit, mielosit, dan promielosit akan dilepaskan.[92]
Granula intraseluler dari neutrofil manusia telah lama diakui atas kemampuannya dalam menghancurkan protein dan membunuh bakteri.[93] Neutrofil dapat mensekresikan produk yang merangsang monosit dan makrofag. Sekresi neutrofil meningkatkan fagositosis dan pembentukan senyawa oksigen reaktif yang terlibat dalam pembunuhan intraseluler.[94] Sekresi dari granula primer neutrofil merangsang fagositosis bakteri yang dilapisi oleh antibodi IgG.[95] Ketika bertemu dengan bakteri, jamur, atau trombosit teraktivasi, mereka menghasilkan struktur kromatin mirip jaring yang dikenal sebagai perangkap ekstraseluler neutrofil (NET). Sebagian besar terdiri dari DNA, NET menyebabkan kematian melalui proses yang disebut netosis; setelah patogen terperangkap dalam NET, mereka dibunuh oleh mekanisme oksidatif dan non-oksidatif.[96]
Sel dendritik
Sel dendritik adalah sel penyaji antigen terspesialisasi yang memiliki tonjolan panjang yang disebut dendrit,[97] yang membantu menelan mikroba dan penginvasi lainnya.[98][99] Sel dendritik terdapat pada jaringan yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar, terutama kulit, lapisan dalam hidung, paru-paru, lambung, dan usus.[100] Setelah teraktivasi, sel-sel ini akan matang dan bermigrasi ke jaringan limfoid tempat mereka berinteraksi dengan sel T dan sel B untuk memicu serta mengatur respons imun adaptif.[101] Sel dendritik matang mengaktifkan sel T pembantu dan sel T sitotoksik.[102] Sel T pembantu yang teraktivasi berinteraksi dengan makrofag dan sel B untuk mengaktifkannya secara bergantian. Selain itu, sel dendritik dapat memengaruhi jenis respons imun yang dihasilkan; ketika berpindah ke area limfoid tempat sel T berada, mereka dapat mengaktifkan sel T yang kemudian berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik atau sel T pembantu.[98]
Sel mast
Sel mast memiliki reseptor serupa Toll dan berinteraksi dengan sel dendritik, sel B, dan sel T untuk membantu memediasi fungsi imun adaptif.[103] Sel mast mengekspresikan molekul MHC kelas II dan dapat berpartisipasi dalam presentasi antigen; namun, peran sel mast dalam presentasi antigen belum sepenuhnya dipahami.[104] Sel mast dapat mengonsumsi dan membunuh bakteri Gram-negatif (seperti Salmonella), serta memproses antigennya.[105] Sel-sel ini mengkhususkan diri dalam memproses protein fimbria di permukaan bakteri, yang terlibat dalam adhesi ke jaringan.[106][107] Selain fungsi-fungsi ini, sel mast menghasilkan sitokin yang memicu respons peradangan.[108] Ini adalah bagian penting dalam penghancuran mikroba karena sitokin merekrut lebih banyak fagosit ke lokasi infeksi.[105][109]
| Lokasi utama | Variasi fenotipe |
|---|---|
| Darah | neutrofil, monosit |
| Sumsum tulang | makrofag, monosit, sel sinusoidal, sel epitel |
| Jaringan tulang | osteoklas |
| Usus dan Bercak Peyer usus | makrofag |
| Jaringan ikat | histiosit, makrofag, monosit, sel dendritik |
| Hati | sel Kupffer, monosit |
| Paru-paru | makrofag yang mereplikasi diri, monosit, sel mast, sel dendritik |
| Jaringan limfoid | makrofag dan monosit bebas serta menetap, sel dendritik |
| Jaringan saraf | sel mikroglia (CD4+) |
| Limpa | makrofag bebas dan menetap, monosit, sel sinusoidal |
| Timus | makrofag dan monosit bebas serta menetap |
| Kulit | sel Langerhans menetap, sel dendritik lainnya, makrofag konvensional, sel mast |
Fagosit non-profesional
Sel-sel yang mati dan organisme asing dikonsumsi oleh sel-sel selain fagosit "profesional".[111] Sel-sel ini mencakup sel epitel, sel endotel, Fibroblas, melanosit, dan sel mesenkim. Sel-sel ini disebut fagosit non-profesional untuk menekankan bahwa, berbeda dengan fagosit profesional, fagositosis bukanlah fungsi utamanya.[112] Fibroblas, misalnya, yang dapat memfagositosis kolagen dalam proses pembentukan kembali jaringan parut, juga berupaya menelan partikel-partikel asing.[113]
Fagosit non-profesional lebih terbatas dibandingkan fagosit profesional dalam hal jenis partikel yang dapat ditelannya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya reseptor fagositik yang efisien, khususnya opsonin, yaitu antibodi dan komplemen yang dilekatkan pada penginvasi oleh sistem imun.[10] Selain itu, sebagian besar fagosit non-profesional tidak menghasilkan molekul reaktif yang mengandung oksigen sebagai respons terhadap fagositosis.[114]
| Lokasi utama | Variasi fenotipe |
|---|---|
| Darah, limfa, dan kelenjar getah bening | Limfosit |
| Darah, limfa, dan kelenjar getah bening | Sel NK dan sel LGL (limfosit granular besar) |
| Darah | Eosinofil dan Basofil[115] |
| Kulit | Sel epitel |
| Hati | Hepatosit[116] |
| Pembuluh darah | Sel endotel |
| Jaringan ikat | Fibroblas |
Penghindaran dan resistensi patogen

Suatu patogen hanya akan berhasil menginfeksi organisme jika mampu menembus pertahanannya. Bakteri dan protozoa patogenik telah mengembangkan berbagai metode untuk melawan serangan fagosit, dan banyak di antaranya yang bertahan hidup serta bereplikasi di dalam sel fagositik.[117][118]
Menghindari kontak
Terdapat beberapa cara bakteri menghindari kontak dengan fagosit. Pertama, mereka dapat tumbuh di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh fagosit (misalnya permukaan kulit yang utuh). Kedua, bakteri dapat menekan respons peradangan; tanpa adanya respons terhadap infeksi ini, fagosit tidak dapat merespons secara memadai. Ketiga, beberapa spesies bakteri dapat menghambat kemampuan fagosit untuk bergerak ke lokasi infeksi dengan mengganggu kemotaksis.[117] Keempat, beberapa bakteri dapat menghindari kontak dengan fagosit dengan mengelabui sistem imun sehingga menganggap bakteri tersebut sebagai bagian dari "diri sendiri". Treponema pallidum, yaitu bakteri yang menyebabkan sifilis, bersembunyi dari fagosit dengan melapisi permukaannya menggunakan fibronektin,[119] yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan memainkan peran penting dalam penyembuhan luka.[120]
Menghindari penelanan
Bakteri sering kali menghasilkan kapsul yang terbuat dari protein atau gula yang melapisi sel mereka dan mengganggu fagositosis.[117] Beberapa contohnya adalah kapsul K5 dan antigen O75 yang ditemukan pada permukaan Escherichia coli,[121] serta kapsul eksopolisakarida dari Staphylococcus epidermidis.[122] Streptococcus pneumoniae menghasilkan beberapa jenis kapsul yang memberikan tingkat perlindungan berbeda,[123] dan streptokokus grup A menghasilkan protein seperti protein M dan protein fimbria untuk menghalangi penelanan. Beberapa protein menghambat penelanan yang berkaitan dengan opsonin; Staphylococcus aureus menghasilkan Protein A untuk memblokir reseptor antibodi, yang menurunkan efektivitas opsonin.[124] Spesies enteropatogenik dari genus Yersinia berikatan menggunakan faktor virulensi YopH ke reseptor fagosit, lalu memengaruhi kemampuan sel tersebut dalam menjalankan fagositosis.[125]
Kelangsungan hidup di dalam fagosit

Bakteri telah mengembangkan berbagai cara untuk bertahan hidup di dalam fagosit, tempat mereka terus menghindar dari sistem imun.[126] Untuk dapat masuk dengan aman ke dalam fagosit, bakteri mengekspresikan protein yang disebut invasin. Saat berada di dalam sel, mereka tetap berada di dalam sitoplasma dan menghindari zat kimia beracun yang terkandung di dalam fagolisosom.[127] Beberapa bakteri mencegah fusi antara fagosom dan lisosom untuk membentuk fagolisosom.[117] Patogen lain, seperti Leishmania, membuat vakuola yang telah banyak dimodifikasi di dalam fagosit, yang membantu mereka bertahan hidup dan bereplikasi.[128] Beberapa bakteri mampu hidup di dalam fagolisosom. Staphylococcus aureus, misalnya, menghasilkan enzim katalase dan superoksida dismutase, yang menguraikan zat-zat kimia seperti hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh fagosit untuk membunuh bakteri.[129] Bakteri dapat meloloskan diri dari fagosom sebelum pembentukan fagolisosom; Listeria monocytogenes dapat membuat lubang pada dinding fagosom menggunakan enzim yang disebut listeriolisin O dan fosfolipase C.[130] M. tuberculosis menginfeksi neutrofil yang kemudian ditelan oleh makrofag, sehingga turut menginfeksi makrofag tersebut.[131] M. leprae menginfeksi makrofag, sel Schwann, dan neutrofil.[131]
Pembunuhan
Bakteri telah mengembangkan beberapa cara untuk membunuh fagosit.[124] Cara-cara ini meliputi sitolisin, yang membentuk pori-pori pada membran sel fagosit; streptolisin dan leukosidin, yang menyebabkan granula neutrofil pecah dan melepaskan zat-zat beracun;[132][133] serta eksotoksin yang mengurangi pasokan ATP fagosit yang dibutuhkan untuk fagositosis. Setelah ditelan, bakteri dapat membunuh fagosit dengan melepaskan toksin yang menembus membran fagosom atau fagolisosom untuk menyerang bagian sel lainnya.[117]
Gangguan persinyalan sel
Beberapa strategi pertahanan hidup sering kali melibatkan penggangguan sitokin dan metode persinyalan sel lainnya untuk mencegah fagosit merespons invasi.[134] Parasit protozoa Toxoplasma gondii, Trypanosoma cruzi, dan Leishmania menginfeksi makrofag, dan masing-masing memiliki cara unik untuk menaklukkannya.[134] Beberapa spesies Leishmania mengubah persinyalan makrofag yang terinfeksi, menekan produksi sitokin dan molekul mikrobisida, seperti oksida nitrat dan spesies oksigen reaktif, serta mengganggu presentasi antigen.[135]
Kerusakan inang oleh fagosit
Makrofag dan khususnya neutrofil memainkan peran sentral dalam proses peradangan dengan melepaskan protein dan mediator peradangan molekul kecil yang mengendalikan infeksi tetapi dapat merusak jaringan inang. Secara umum, fagosit bertujuan untuk menghancurkan patogen dengan cara menelannya dan mengarahkannya ke serangkaian zat kimia beracun di dalam fagolisosom. Jika fagosit gagal menelan targetnya, agen-agen beracun ini dapat dilepaskan ke lingkungan sekitar (tindakan yang dikenal sebagai "fagositosis frustrasi"). Karena agen-agen ini juga beracun bagi sel inang, mereka dapat menyebabkan kerusakan luas pada sel dan jaringan yang sehat.[136]
Ketika neutrofil melepaskan isi granulanya di ginjal, kandungan granula tersebut (senyawa oksigen reaktif dan protease) menguraikan matriks ekstraseluler sel inang dan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel glomerulus, yang memengaruhi kemampuannya dalam menyaring darah serta menyebabkan perubahan bentuk. Selain itu, produk fosfolipase (misalnya leukotriena) memperparah kerusakan tersebut. Pelepasan zat-zat ini mendorong kemotaksis lebih banyak neutrofil ke lokasi infeksi, dan sel-sel glomerulus dapat mengalami kerusakan lebih lanjut oleh molekul adhesi selama migrasi neutrofil. Kerusakan pada sel-sel glomerulus ini dapat menyebabkan gagal ginjal.[137]
Neutrofil juga memainkan peran kunci dalam perkembangan sebagian besar bentuk cedera paru akut.[138] Di sini, neutrofil yang teraktivasi melepaskan isi granula beracunnya ke dalam lingkungan paru-paru.[139] Eksperimen telah menunjukkan bahwa pengurangan jumlah neutrofil memperkecil dampak cedera paru akut, tetapi pengobatan dengan menghambat neutrofil tidak realistis secara klinis karena akan membuat inang rentan terhadap infeksi.[139] Di dalam hati, kerusakan oleh neutrofil dapat berkontribusi pada disfungsi dan cedera sebagai respons terhadap pelepasan endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri, sepsis, trauma, hepatitis alkoholik, iskemia, dan syok hipovolemik akibat pendarahan akut.[140]
Zat kimia yang dilepaskan oleh makrofag juga dapat merusak jaringan inang. TNF-α adalah zat kimia penting yang dilepaskan oleh makrofag untuk membekukan darah di pembuluh-pembuluh kecil guna mencegah penyebaran infeksi.[141] Jika infeksi bakteri menyebar ke darah, TNF-α dilepaskan ke organ-organ vital, yang dapat menyebabkan vasodilatasi dan penurunan volume plasma darah; hal ini kemudian dapat diikuti oleh syok septik. Selama syok septik, pelepasan TNF-α menyebabkan penyumbatan pembuluh darah kecil yang memasok darah ke organ-organ vital, sehingga organ-organ tersebut dapat mengalami kegagalan fungsi. Syok septik dapat menyebabkan kematian.[12]
Disfungsi fagosit
Fagosit adalah sel imun yang biasanya melindungi tubuh dengan menelan dan menghancurkan patogen. Pada COVID-19, SARS-CoV-2 dapat menginfeksi sel-sel ini, yang pada hakikatnya membalikkan fungsi pelindung tubuh untuk menyerang dirinya sendiri.[142]
SARS-CoV-2 menginfeksi fagosit profesional seperti monosit, makrofag, dan sel dendritik, maupun fagosit non-profesional seperti sel B[142]. Reseptor ACE2, yang merupakan reseptor target utama SARS-CoV-2, biasanya tidak ditemukan pada sel imun sistemik bersirkulasi, tetapi terekspresi tinggi pada makrofag jaringan, terutama makrofag paru-paru dan jaringan vaskular[142]. Begitu infeksi terjadi, fagosit ini bersifat motil dan dapat menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh.
Infeksi menyebabkan disfungsi melalui beberapa cara. Sel yang terinfeksi dapat mengalami piroptosis, yaitu suatu bentuk kematian sel inflamasi yang melepaskan molekul-molekul peradangan, sehingga berkontribusi pada peningkatan kondisi peradangan dan badai sitokin yang terlihat pada kasus COVID-19 yang parah[142]. Infeksi ini juga mengubah perkembangan dan fungsi sel-sel tersebut, memicu munculnya populasi fagosit disfungsional yang tidak dapat melawan infeksi lain secara efektif dan mengakibatkan melemahnya fungsi imun[143].
Dalam kondisi yang lemah dan disfungsional ini, penderita COVID-19 lebih rentan terhadap infeksi sekunder seperti mukormikosis, yaitu infeksi jamur parah dan berkembang cepat yang disebabkan oleh patogen yang dalam keadaan normal dapat dibersihkan oleh fagosit.[144] Infeksi ini biasanya hanya ditemukan pada individu yang mengalami imunokompromais. Tingkat keparahan COVID-19 berkorelasi langsung dengan tingkat disfungsi yang teramati.[143]
Disfungsi fagositik juga berkontribusi pada masalah pembekuan darah yang teramati pada penderita COVID-19. Fagosit yang disfungsional melepaskan zat-zat yang mendorong pembekuan dan berinteraksi langsung dengan trombosit untuk membentuk mikrotrombus, yaitu bekuan darah kecil yang ditemukan pada pembuluh darah yang lebih kecil seperti kapiler dan arteriol.[145] Proses ini disebut imunotrombosis dan dapat menyebabkan kerusakan organ serta dispnea atau kesulitan bernapas yang teramati pada infeksi COVID-19 yang parah.[145]
Disfungsi sel imun kunci ini juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk meredakan peradangan secara tepat. Mediator pro-resolusi terspesialisasi (SPM) biasanya meredakan kondisi peradangan dan memulihkan fungsi jaringan.[146] Pada COVID-19 yang parah, SPM mengalami regulasi penurunan, yang menyebabkan sinyal-sinyal peradangan tetap tinggi dan memicu kerusakan jaringan yang berlanjut.[146]
Disfungsi fagosit menjelaskan sebagian besar alasan mengapa beberapa penderita yang terinfeksi mengalami komplikasi parah sementara yang lain pulih dengan cepat. Pengobatan potensial yang menargetkan pemulihan fungsi imun dapat membantu proses penyembuhan.
Asal-usul evolusi

Fagositosis adalah hal yang umum dan kemungkinan telah muncul pada tahap awal evolusi,[28] yang berkembang pertama kali pada eukariota bersel tunggal.[147] Amuba adalah protista bersel tunggal yang terpisah dari pohon yang mengarah ke metazoa tidak lama setelah divergensi tumbuhan, dan mereka memiliki banyak fungsi spesifik yang sama dengan sel-sel fagositik mamalia.[147] Dictyostelium discoideum, misalnya, adalah amuba yang hidup di tanah dan memakan bakteri. Seperti halnya fagosit hewan, amuba ini menelan bakteri melalui fagositosis terutama melalui reseptor serupa Toll, serta memiliki fungsi biologis lainnya yang serupa dengan makrofag.[148] Dictyostelium discoideum bersifat sosial; amuba ini berkumpul saat kelaparan untuk membentuk pseudoplasmodium atau massa mirip siput yang bermigrasi. Organisme multiseluler ini pada akhirnya akan menghasilkan badan buah dengan spora yang tahan terhadap bahaya lingkungan. Sebelum pembentukan badan buah, sel-sel ini akan bermigrasi sebagai organisme mirip siput selama beberapa hari. Selama masa ini, paparan terhadap toksin atau patogen bakteri berpotensi mengancam kelangsungan hidup spesies dengan membatasi produksi spora. Sebagian amuba menelan bakteri dan menyerap toksin saat bersirkulasi di dalam massa tersebut, dan amuba-amuba ini pada akhirnya mati. Mereka secara genetis identik dengan amuba lainnya di dalam massa tersebut; pengorbanan diri mereka untuk melindungi amuba lain dari bakteri mirip dengan pengorbanan diri fagosit yang terlihat pada sistem imun vertebrata tingkat tinggi. Fungsi imun kuno pada amuba sosial ini menunjukkan mekanisme pencarian makan seluler yang terlestarikan secara evolusioner, yang mungkin telah diadaptasi untuk fungsi pertahanan jauh sebelum diversifikasi amuba menjadi bentuk-bentuk yang lebih tinggi.[149] Fagosit terdapat di seluruh kingdom hewan,[1] mulai dari spons laut hingga serangga serta vertebrata tingkat rendah dan tinggi.[150][151] Kemampuan amuba untuk membedakan antara "diri sendiri" dan "bukan diri sendiri" merupakan hal yang sangat penting, dan menjadi akar dari sistem imun banyak spesies amuba.[6]
Referensi
- 1 2 Delves et al. 2006, hlm. 250
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 251
- 1 2 3 4 Hoffbrand, Pettit & Moss 2005, hlm. 331
- ↑ Ilya Mechnikov, diakses pada 28 November 2008. Dari Nobel Lectures, Physiology or Medicine 1901–1921, Elsevier Publishing Company, Amsterdam, 1967. Diarsipkan Agustus 22, 2008, di Wayback Machine
- 1 2 Schmalstieg, FC; AS Goldman (2008). "Ilya Ilich Metchnikoff (1845–1915) and Paul Ehrlich (1854–1915): the centennial of the 1908 Nobel Prize in Physiology or Medicine". Journal of Medical Biography. 16 (2): 96–103. doi:10.1258/jmb.2008.008006. PMID 18463079. S2CID 25063709.
- 1 2 Janeway, Bab: Evolution of the innate immune system. diakses pada 20 Maret 2009
- ↑ Shiratori, Takashi; Suzuki, Shigekatsu; Kakizawa, Yukako; Ishida, Ken-ichiro (2019-12-11). "Phagocytosis-like cell engulfment by a planctomycete bacterium". Nature Communications (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 5529. Bibcode:2019NatCo..10.5529S. doi:10.1038/s41467-019-13499-2. PMC 6906331. PMID 31827088.
- 1 2 Ernst & Stendahl 2006, hlm. 186
- 1 2 Robinson & Babcock 1998, hlm. 187 dan Ernst & Stendahl 2006, hlm. 7–10
- 1 2 Ernst & Stendahl 2006, hlm. 10
- 1 2 3 Thompson CB (1995). "Apoptosis in the pathogenesis and treatment of disease". Science. 267 (5203): 1456–62. Bibcode:1995Sci...267.1456T. doi:10.1126/science.7878464. PMID 7878464. S2CID 12991980.
- 1 2 3 Janeway, Bab: Induced innate responses to infection.
- 1 2 Fang FC (Oktober 2004). "Antimicrobial reactive oxygen and nitrogen species: concepts and controversies". Nat. Rev. Microbiol. 2 (10): 820–32. doi:10.1038/nrmicro1004. PMID 15378046. S2CID 11063073.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Delves et al. 2006, hlm. 172–84
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Delves et al. 2006, hlm. 2–10
- 1 2 3 Kaufmann SH (2019). "Immunology's Coming of Age". Frontiers in Immunology. 10 684. doi:10.3389/fimmu.2019.00684. PMC 6456699. PMID 31001278.
- ↑ Little C, Fowler HW, Coulson J (1983). The Shorter Oxford English Dictionary. Oxford University Press (Guild Publishing). hlm. 1566–67.
- ↑ Aterman K (April 1, 1998). "Medals, memoirs—and Metchnikoff". J. Leukoc. Biol. 63 (4): 515–17. doi:10.1002/jlb.63.4.515. PMID 9544583. S2CID 44748502.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Ilya Mechnikov". The Nobel Foundation. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delves et al. 2006, hlm. 263
- ↑ Robinson & Babcock 1998, hlm. vii
- Ernst & Stendahl 2006, hlm. 6
- ↑ Ernst & Stendahl 2006, hlm. 4
- ↑ Ernst & Stendahl 2006, hlm. 78
- ↑ Feldman MB, Vyas JM, Mansour MK (Mei 2019). "It takes a village: Phagocytes play a central role in fungal immunity". Seminars in Cell & Developmental Biology. 89: 16–23. doi:10.1016/j.semcdb.2018.04.008. PMC 6235731. PMID 29727727.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Hampton MB, Vissers MC, Winterbourn CC (Februari 1994). s2cid = 44911791 "A single assay for measuring the rates of phagocytosis and bacterial killing by neutrophils". J. Leukoc. Biol. 55 (2): 147–52. doi:10.1002/jlb.55.2.147. PMID 8301210. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite journal}}: Pemisah pipa tidak ada dalam:|url=; Periksa nilai|url=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delves et al. 2006, hlm. 6–7
- 1 2 3 Sompayrac 2019, hlm. 2
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 13–16
- ↑ Freund I, Eigenbrod T, Helm M, Dalpke AH (Januari 2019). "RNA Modifications Modulate Activation of Innate Toll-Like Receptors". Genes. 10 (2): 92. doi:10.3390/genes10020092. PMC 6410116. PMID 30699960.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dale DC, Boxer L, Liles WC (Agustus 2008). "The phagocytes: neutrophils and monocytes". Blood. 112 (4): 935–45. doi:10.1182/blood-2007-12-077917. PMID 18684880. S2CID 746699.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dahlgren, C; A Karlsson (Desember 17, 1999). "Respiratory burst in human neutrophils". Journal of Immunological Methods. 232 (1–2): 3–14. doi:10.1016/S0022-1759(99)00146-5. PMID 10618505.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Shatwell, KP; AW Segal (1996). "NADPH oxidase". The International Journal of Biochemistry & Cell Biology. 28 (11): 1191–95. doi:10.1016/S1357-2725(96)00084-2. PMID 9022278.
- ↑ Klebanoff SJ (1999). "Myeloperoxidase". Proc. Assoc. Am. Physicians. 111 (5): 383–89. doi:10.1111/paa.1999.111.5.383. PMID 10519157.
- ↑ Meyer KC (September 2004). "Neutrophils, myeloperoxidase, and bronchiectasis in cystic fibrosis: green is not good". J. Lab. Clin. Med. 144 (3): 124–26. doi:10.1016/j.lab.2004.05.014. PMID 15478278.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hoffbrand, Pettit & Moss 2005, hlm. 118
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 6–10
- ↑ Schroder K, Hertzog PJ, Ravasi T, Hume DA (Februari 2004). "Interferon-gamma: an overview of signals, mechanisms and functions". J. Leukoc. Biol. 75 (2): 163–89. doi:10.1189/jlb.0603252. PMID 14525967. S2CID 15862242.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delves et al. 2006, hlm. 188
- 1 2 3 Sompayrac 2019, hlm. 136
- ↑ Lipu HN, Ahmed TA, Ali S, Ahmed D, Waqar MA (September 2008). "Chronic granulomatous disease". J Pak Med Assoc. 58 (9): 516–18. PMID 18846805.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kaplan J, De Domenico I, Ward DM (Januari 2008). "Chediak-Higashi syndrome". Curr. Opin. Hematol. 15 (1): 22–29. doi:10.1097/MOH.0b013e3282f2bcce. PMID 18043242. S2CID 43243529.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sompayrac 2019, hlm. 7
- 1 2 de Almeida SM, Nogueira MB, Raboni SM, Vidal LR (Oktober 2007). "Laboratorial diagnosis of lymphocytic meningitis". Braz J Infect Dis. 11 (5): 489–95. doi:10.1590/s1413-86702007000500010. PMID 17962876.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sompayrac 2019, hlm. 22
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 68
- ↑ "Apoptosis". Merriam-Webster Online Dictionary. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Li MO, Sarkisian MR, Mehal WZ, Rakic P, Flavell RA (November 2003). "Phosphatidylserine receptor is required for clearance of apoptotic cells". Science. 302 (5650): 1560–63. doi:10.1126/science.1087621. PMID 14645847. S2CID 36252352.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (Free registration required for online access) - 1 2 Nagata S, Sakuragi T, Segawa K (Desember 2019). "Flippase and scramblase for phosphatidylserine exposure". Current Opinion in Immunology. 62: 31–38. doi:10.1016/j.coi.2019.11.009. PMID 31837595.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Wang X (2003). "Cell corpse engulfment mediated by C. elegans phosphatidylserine receptor through CED-5 and CED-12". Science. 302 (5650): 1563–1566. Bibcode:2003Sci...302.1563W. doi:10.1126/science.1087641. PMID 14645848. S2CID 25672278. Diarsipkan dari asli tanggal April 14, 2021.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (Free registration required for online access) - 1 2 Savill J, Gregory C, Haslett C (2003). "Eat me or die". Science. 302 (5650): 1516–17. doi:10.1126/science.1092533. hdl:1842/448. PMID 14645835. S2CID 13402617.
- 1 2 Zhou Z, Yu X (Oktober 2008). "Phagosome maturation during the removal of apoptotic cells: receptors lead the way". Trends Cell Biol. 18 (10): 474–85. doi:10.1016/j.tcb.2008.08.002. PMC 3125982. PMID 18774293.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sompayrac 2019, hlm. 3
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 4
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 27–35
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 171–184
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 456
- 1 2 Lee T, McGibbon A (2004). "Antigen Presenting Cells (APC)". Dalhousie University. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 12, 2008. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delves et al. 2006, hlm. 161
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 8
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 237–242
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 7
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 22
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 68
- ↑ "Apoptosis". Merriam-Webster Online Dictionary. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sompayrac 2019, hlm. 3
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 4
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 27–35
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 171–184
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 456
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 161
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 8
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 237–242
- ↑ Lange C, Dürr M, Doster H, Melms A, Bischof F (2007). "Dendritic cell-regulatory T-cell interactions control self-directed immunity". Immunol. Cell Biol. 85 (8): 575–81. doi:10.1038/sj.icb.7100088. PMID 17592494. S2CID 36342899.
- ↑ Steinman, Ralph M. (2004). "Dendritic Cells and Immune Tolerance". The Rockefeller University. Diarsipkan dari asli tanggal Maret 11, 2009. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Romagnani, S (2006). "Immunological tolerance and autoimmunity". Internal and Emergency Medicine. 1 (3): 187–96. doi:10.1007/BF02934736. PMID 17120464. S2CID 27585046.
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 16–17
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 18–19
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 6
- ↑ Zen K, Parkos CA (Oktober 2003). "Leukocyte-epithelial interactions". Curr. Opin. Cell Biol. 15 (5): 557–64. doi:10.1016/S0955-0674(03)00103-0. PMID 14519390.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Sompayrac 2019, hlm. 18
- ↑ Hoffbrand, Pettit & Moss 2005, hlm. 117
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 1–6
- ↑ Takahashi K, Naito M, Takeya M (Juli 1996). "Development and heterogeneity of macrophages and their related cells through their differentiation pathways". Pathol. Int. 46 (7): 473–85. doi:10.1111/j.1440-1827.1996.tb03641.x. PMID 8870002. S2CID 6049656.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Krombach F, Münzing S, Allmeling AM, Gerlach JT, Behr J, Dörger M (September 1997). "Cell size of alveolar macrophages: an interspecies comparison". Environ. Health Perspect. 105 (Suppl 5): 1261–63. Bibcode:1997EnvHP.105.1261K. doi:10.2307/3433544. JSTOR 3433544. PMC 1470168. PMID 9400735.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Delves et al. 2006, hlm. 31–36
- ↑ Ernst & Stendahl 2006, hlm. 8
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 156
- ↑ Delves et al. 2006, hlm. 187
- ↑ Stvrtinová, Viera; Ján Jakubovský and Ivan Hulín (1995). "Neutrophils, central cells in acute inflammation". Inflammation and Fever from Pathophysiology: Principles of Disease. Computing Centre, Slovak Academy of Sciences: Academic Electronic Press. ISBN 978-80-967366-1-4. Diarsipkan dari asli tanggal Desember 31, 2010. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delves et al. 2006, hlm. 4
- ↑ Linderkamp O, Ruef P, Brenner B, Gulbins E, Lang F (Desember 1998). "Passive deformability of mature, immature, and active neutrophils in healthy and septicemic neonates". Pediatr. Res. 44 (6): 946–50. doi:10.1203/00006450-199812000-00021. PMID 9853933.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Paoletti, Notario & Ricevuti 1997, hlm. 62
- ↑ Soehnlein O, Kenne E, Rotzius P, Eriksson EE, Lindbom L (Januari 2008). "Neutrophil secretion products regulate anti-bacterial activity in monocytes and macrophages". Clin. Exp. Immunol. 151 (1): 139–45. doi:10.1111/j.1365-2249.2007.03532.x. PMC 2276935. PMID 17991288.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Soehnlein O, Kai-Larsen Y, Frithiof R (Oktober 2008). "Neutrophil primary granule proteins HBP and HNP1-3 boost bacterial phagocytosis by human and murine macrophages". J. Clin. Invest. 118 (10): 3491–502. doi:10.1172/JCI35740. PMC 2532980. PMID 18787642.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Papayannopoulos V (Februari 2018). "Neutrophil extracellular traps in immunity and disease". Nature Reviews. Immunology. 18 (2): 134–147. Bibcode:2018NatRI..18..134P. doi:10.1038/nri.2017.105. PMID 28990587. S2CID 25067858.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Steinman RM, Cohn ZA (1973). "Identification of a novel cell type in peripheral lymphoid organs of mice. I. Morphology, quantitation, tissue distribution". J. Exp. Med. 137 (5): 1142–62. doi:10.1084/jem.137.5.1142. PMC 2139237. PMID 4573839.
- 1 2 Steinman, Ralph. "Dendritic Cells". The Rockefeller University. Diarsipkan dari asli tanggal Juni 27, 2009. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Guermonprez P, Valladeau J, Zitvogel L, Théry C, Amigorena S (2002). "Antigen presentation and T cell stimulation by dendritic cells". Annu. Rev. Immunol. 20: 621–67. doi:10.1146/annurev.immunol.20.100301.064828. PMID 11861614.
- ↑ Hoffbrand, Pettit & Moss 2005, hlm. 134
- ↑ Sallusto F, Lanzavecchia A (2002). "The instructive role of dendritic cells on T-cell responses". Arthritis Res. 4 (Suppl 3): S127–32. doi:10.1186/ar567. PMC 3240143. PMID 12110131.
- ↑ Sompayrac 2019, hlm. 45–46
- ↑ Novak N, Bieber T, Peng WM (2010). "The immunoglobulin E-Toll-like receptor network". International Archives of Allergy and Immunology. 151 (1): 1–7. doi:10.1159/000232565. PMID 19672091. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kalesnikoff J, Galli SJ (November 2008). "New developments in mast cell biology". Nature Immunology. 9 (11): 1215–23. doi:10.1038/ni.f.216. PMC 2856637. PMID 18936782.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Malaviya R, Abraham SN (Februari 2001). "Mast cell modulation of immune responses to bacteria". Immunol. Rev. 179: 16–24. doi:10.1034/j.1600-065X.2001.790102.x. PMID 11292019. S2CID 23115222.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Connell I, Agace W, Klemm P, Schembri M, Mărild S, Svanborg C (September 1996). "Type 1 fimbrial expression enhances Escherichia coli virulence for the urinary tract". Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 93 (18): 9827–32. Bibcode:1996PNAS...93.9827C. doi:10.1073/pnas.93.18.9827. PMC 38514. PMID 8790416.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Malaviya R, Twesten NJ, Ross EA, Abraham SN, Pfeifer JD (Februari 1996). "Mast cells process bacterial Ags through a phagocytic route for class I MHC presentation to T cells". J. Immunol. 156 (4): 1490–96. doi:10.4049/jimmunol.156.4.1490. PMID 8568252. S2CID 7917861. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Taylor ML, Metcalfe DD (2001). "Mast cells in allergy and host defense". Allergy Asthma Proc. 22 (3): 115–19. doi:10.2500/108854101778148764. PMID 11424870.
- ↑ Urb M, Sheppard DC (2012). "The role of mast cells in the defence against pathogens". PLOS Pathogens. 8 (4) e1002619. doi:10.1371/journal.ppat.1002619. PMC 3343118. PMID 22577358.
- 1 2 Paoletti, Notario & Ricevuti 1997, hlm. 427
- ↑ Birge RB, Ucker DS (Juli 2008). "Innate apoptotic immunity: the calming touch of death". Cell Death Differ. 15 (7): 1096–1102. doi:10.1038/cdd.2008.58. PMID 18451871.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Couzinet S, Cejas E, Schittny J, Deplazes P, Weber R, Zimmerli S (Desember 2000). "Phagocytic uptake of Encephalitozoon cuniculi by nonprofessional phagocytes". Infect. Immun. 68 (12): 6939–45. doi:10.1128/IAI.68.12.6939-6945.2000. PMC 97802. PMID 11083817.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Segal G, Lee W, Arora PD, McKee M, Downey G, McCulloch CA (Januari 2001). "Involvement of actin filaments and integrins in the binding step in collagen phagocytosis by human fibroblasts". Journal of Cell Science. 114 (Pt 1): 119–129. doi:10.1242/jcs.114.1.119. PMID 11112696.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rabinovitch M (Maret 1995). "Professional and non-professional phagocytes: an introduction". Trends Cell Biol. 5 (3): 85–87. doi:10.1016/S0962-8924(00)88955-2. PMID 14732160.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lin A, Loré K (2017). "Granulocytes: New Members of the Antigen-Presenting Cell Family". Frontiers in Immunology. 8 1781. doi:10.3389/fimmu.2017.01781. PMC 5732227. PMID 29321780.
- ↑ Davies SP, Terry LV, Wilkinson AL, Stamataki Z (2020). "Cell-in-Cell Structures in the Liver: A Tale of Four E's". Frontiers in Immunology. 11 650. doi:10.3389/fimmu.2020.00650. PMC 7247839. PMID 32528462.
- 1 2 3 4 5 Todar, Kenneth. "Mechanisms of Bacterial Pathogenicity: Bacterial Defense Against Phagocytes". 2008. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Alexander J, Satoskar AR, Russell DG (September 1999). "Leishmania species: models of intracellular parasitism". J. Cell Sci. 112 (18): 2993–3002. doi:10.1242/jcs.112.18.2993. PMID 10462516. Diakses tanggal Desember 19, 2014.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Celli J, Finlay BB (Mei 2002). "Bacterial avoidance of phagocytosis". Trends Microbiol. 10 (5): 232–37. doi:10.1016/S0966-842X(02)02343-0. PMID 11973157.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Valenick LV, Hsia HC, Schwarzbauer JE (September 2005). "Fibronectin fragmentation promotes alpha4beta1 integrin-mediated contraction of a fibrin-fibronectin provisional matrix". Experimental Cell Research. 309 (1): 48–55. doi:10.1016/j.yexcr.2005.05.024. PMID 15992798.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Burns SM, Hull SI (Agustus 1999). "Loss of resistance to ingestion and phagocytic killing by O(-) and K(-) mutants of a uropathogenic Escherichia coli O75:K5 strain". Infect. Immun. 67 (8): 3757–62. doi:10.1128/IAI.67.8.3757-3762.1999. PMC 96650. PMID 10417134.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Vuong C, Kocianova S, Voyich JM (Desember 2004). "A crucial role for exopolysaccharide modification in bacterial biofilm formation, immune evasion, and virulence". J. Biol. Chem. 279 (52): 54881–86. Bibcode:2004JBiCh.27954881V. doi:10.1074/jbc.M411374200. PMID 15501828.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Melin M, Jarva H, Siira L, Meri S, Käyhty H, Väkeväinen M (Februari 2009). "Streptococcus pneumoniae capsular serotype 19F is more resistant to C3 deposition and less sensitive to opsonophagocytosis than serotype 6B". Infect. Immun. 77 (2): 676–84. doi:10.1128/IAI.01186-08. PMC 2632042. PMID 19047408.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Foster TJ (Desember 2005). "Immune evasion by staphylococci". Nat. Rev. Microbiol. 3 (12): 948–58. doi:10.1038/nrmicro1289. PMID 16322743. S2CID 205496221.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Fällman M, Deleuil F, McGee K (Februari 2002). "Resistance to phagocytosis by Yersinia". International Journal of Medical Microbiology. 291 (6–7): 501–9. doi:10.1078/1438-4221-00159. PMID 11890550.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sansonetti P (Desember 2001). "Phagocytosis of bacterial pathogens: implications in the host response". Semin. Immunol. 13 (6): 381–90. doi:10.1006/smim.2001.0335. PMID 11708894.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dersch P, Isberg RR (Maret 1999). "A region of the Yersinia pseudotuberculosis invasin protein enhances integrin-mediated uptake into mammalian cells and promotes self-association". EMBO J. 18 (5): 1199–1213. doi:10.1093/emboj/18.5.1199. PMC 1171211. PMID 10064587.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Antoine JC, Prina E, Lang T, Courret N (Oktober 1998). "The biogenesis and properties of the parasitophorous vacuoles that harbour Leishmania in murine macrophages". Trends Microbiol. 6 (10): 392–401. doi:10.1016/S0966-842X(98)01324-9. PMID 9807783.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Das D, Saha SS, Bishayi B (Juli 2008). "Intracellular survival of Staphylococcus aureus: correlating production of catalase and superoxide dismutase with levels of inflammatory cytokines". Inflamm. Res. 57 (7): 340–49. doi:10.1007/s00011-007-7206-z. PMID 18607538. S2CID 22127111.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hara H, Kawamura I, Nomura T, Tominaga T, Tsuchiya K, Mitsuyama M (Agustus 2007). "Cytolysin-dependent escape of the bacterium from the phagosome is required but not sufficient for induction of the Th1 immune response against Listeria monocytogenes infection: distinct role of Listeriolysin O determined by cytolysin gene replacement". Infect. Immun. 75 (8): 3791–3801. doi:10.1128/IAI.01779-06. PMC 1951982. PMID 17517863.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Parker HA, Forrester L, Kaldor CD, Dickerhof N, Hampton MB (2021). "Antimicrobial Activity of Neutrophils Against Mycobacteria". Frontiers in Immunology. 12 782495. doi:10.3389/fimmu.2021.782495. PMC 8732375. PMID 35003097.
- ↑ Datta V, Myskowski SM, Kwinn LA, Chiem DN, Varki N, Kansal RG, Kotb M, Nizet V (Mei 2005). "Mutational analysis of the group A streptococcal operon encoding streptolysin S and its virulence role in invasive infection". Mol. Microbiol. 56 (3): 681–95. doi:10.1111/j.1365-2958.2005.04583.x. PMID 15819624. S2CID 14748436.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Iwatsuki K, Yamasaki O, Morizane S, Oono T (Juni 2006). "Staphylococcal cutaneous infections: invasion, evasion and aggression". J. Dermatol. Sci. 42 (3): 203–14. doi:10.1016/j.jdermsci.2006.03.011. PMID 16679003.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Denkers EY, Butcher BA (Januari 2005). "Sabotage and exploitation in macrophages parasitized by intracellular protozoans". Trends Parasitol. 21 (1): 35–41. doi:10.1016/j.pt.2004.10.004. PMID 15639739.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gregory DJ, Olivier M (2005). "Subversion of host cell signalling by the protozoan parasite Leishmania". Parasitology. 130 Suppl: S27–35. doi:10.1017/S0031182005008139. PMID 16281989. S2CID 24696519.
- ↑ Paoletti pp. 426–30
- ↑ Heinzelmann M, Mercer-Jones MA, Passmore JC (Agustus 1999). "Neutrophils and renal failure". Am. J. Kidney Dis. 34 (2): 384–99. doi:10.1016/S0272-6386(99)70375-6. PMID 10430993.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lee WL, Downey GP (Februari 2001). "Neutrophil activation and acute lung injury". Curr Opin Crit Care. 7 (1): 1–7. doi:10.1097/00075198-200102000-00001. PMID 11373504. S2CID 24164360.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Moraes TJ, Zurawska JH, Downey GP (Januari 2006). "Neutrophil granule contents in the pathogenesis of lung injury". Curr. Opin. Hematol. 13 (1): 21–27. doi:10.1097/01.moh.0000190113.31027.d5. PMID 16319683. S2CID 29374195.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ricevuti G (Desember 1997). "Host tissue damage by phagocytes". Ann. N. Y. Acad. Sci. 832 (1): 426–48. Bibcode:1997NYASA.832..426R. doi:10.1111/j.1749-6632.1997.tb46269.x. PMID 9704069. S2CID 10318084.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Charley B, Riffault S, Van Reeth K (Oktober 2006). "Porcine innate and adaptative immune responses to influenza and coronavirus infections". Ann. N. Y. Acad. Sci. 1081 (1): 130–36. Bibcode:2006NYASA1081..130C. doi:10.1196/annals.1373.014. hdl:1854/LU-369324. PMC 7168046. PMID 17135502.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Matveeva, Olga; Nechipurenko, Yury; Lagutkin, Denis; Yegorov, Yegor E.; Kzhyshkowska, Julia (2022-12-01). "SARS-CoV-2 infection of phagocytic immune cells and COVID-19 pathology: Antibody-dependent as well as independent cell entry". Frontiers in Immunology. 13 1050478. doi:10.3389/fimmu.2022.1050478. ISSN 1664-3224. PMC 9751203. PMID 36532011.
- 1 2 Kvedaraite, Egle; Hertwig, Laura; Sinha, Indranil; Ponzetta, Andrea; Hed Myrberg, Ida; Lourda, Magda; Dzidic, Majda; Akber, Mira; Klingström, Jonas; Folkesson, Elin; Muvva, Jagadeeswara Rao; Chen, Puran; Gredmark-Russ, Sara; Brighenti, Susanna; Norrby-Teglund, Anna (2021-02-09). "Major alterations in the mononuclear phagocyte landscape associated with COVID-19 severity". Proceedings of the National Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 118 (6) e2018587118. Bibcode:2021PNAS..11818587K. doi:10.1073/pnas.2018587118. ISSN 0027-8424. PMC 8017719. PMID 33479167.
- ↑ Sinha, Bishnu Prasad; Mehta, Priyanka; Hoque, Md Asmaul; Bandopadhyay, Purbita; Nandi, Ayandip; Saha, Ipsita; Nandi Mitra, Anita; Mondal, Asish; Bhattacharjee, Boudhayan; Chamilos, Georgios; Pandey, Rajesh; Basu, Kaushik; Ganguly, Dipyaman (2023-06-27). Martinez, Luis R. (ed.). "Deficient Phagocytosis in Circulating Monocytes from Patients with COVID-19-Associated Mucormycosis". mBio (dalam bahasa Inggris). 14 (3) e00590-23. doi:10.1128/mbio.00590-23. ISSN 2150-7511. PMC 10294693. PMID 37052373.
- 1 2 Bonaventura, Aldo; Vecchié, Alessandra; Dagna, Lorenzo; Martinod, Kimberly; Dixon, Dave L.; Van Tassell, Benjamin W.; Dentali, Francesco; Montecucco, Fabrizio; Massberg, Steffen; Levi, Marcel; Abbate, Antonio (Mei 2021). "Endothelial dysfunction and immunothrombosis as key pathogenic mechanisms in COVID-19". Nature Reviews Immunology (dalam bahasa Inggris). 21 (5): 319–329. doi:10.1038/s41577-021-00536-9. ISSN 1474-1733. PMC 8023349. PMID 33824483.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Koenis, Duco Steven; Beegun, Issa; Jouvene, Charlotte Camille; Aguirre, Gabriel Amador; Souza, Patricia Regina; Gonzalez-Nunez, Maria; Ly, Lucy; Pistorius, Kimberly; Kocher, Hemant M.; Ricketts, William; Thomas, Gavin; Perretti, Mauro; Alusi, Ghassan; Pfeffer, Paul; Dalli, Jesmond (2021-08-06). "Disrupted Resolution Mechanisms Favor Altered Phagocyte Responses in COVID-19". Circulation Research (dalam bahasa Inggris). 129 (4): e54–e71. doi:10.1161/CIRCRESAHA.121.319142. ISSN 0009-7330. PMC 8336787. PMID 34238021.
- 1 2 Cosson P, Soldati T (Juni 2008). "Eat, kill or die: when amoeba meets bacteria". Curr. Opin. Microbiol. 11 (3): 271–76. Bibcode:2008COMb...11..271C. doi:10.1016/j.mib.2008.05.005. PMID 18550419.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bozzaro S, Bucci C, Steinert M (2008). "Phagocytosis and host-pathogen interactions in Dictyostelium with a look at macrophages". International Review of Cell and Molecular Biology. Vol. 271. hlm. 253–300. doi:10.1016/S1937-6448(08)01206-9. ISBN 978-0-12-374728-0. PMID 19081545. S2CID 7326149.
- ↑ Chen G, Zhuchenko O, Kuspa A (Agustus 2007). "Immune-like phagocyte activity in the social amoeba". Science. 317 (5838): 678–81. Bibcode:2007Sci...317..678C. doi:10.1126/science.1143991. PMC 3291017. PMID 17673666.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delves et al. 2006, hlm. 251–252
- ↑ Hanington PC, Tam J, Katzenback BA, Hitchen SJ, Barreda DR, Belosevic M (April 2009). "Development of macrophages of cyprinid fish". Dev. Comp. Immunol. 33 (4): 411–29. doi:10.1016/dci.2008.11.004. PMID 19063916.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bibliografi
- Delves, P. J.; Martin, S. J.; Burton, D. R.; Roit, I. M. (2006). Roitt's Essential Immunology (Edisi 11th). Malden, MA: Blackwell Publishing. ISBN 978-1-4051-3603-7.
- Ernst, J. D.; Stendahl, O., ed. (2006). Phagocytosis of Bacteria and Bacterial Pathogenicity. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84569-4. Website
- Hoffbrand, A. V.; Pettit, J. E.; Moss, P. A. H. (2005). Essential Haematology (Edisi 4th). London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05153-3.
- Paoletti, R.; Notario, A.; Ricevuti, G., ed. (1997). Phagocytes: Biology, Physiology, Pathology, and Pharmacotherapeutics. New York: The New York Academy of Sciences. ISBN 978-1-57331-102-1.
- Robinson, J. P.; Babcock, G. F., ed. (1998). Phagocyte Function — A guide for research and clinical evaluation. New York: Wiley–Liss. ISBN 978-0-471-12364-4.
- Sompayrac, L. (2019). How the Immune System Works (Edisi 6th). Malden, MA: Blackwell Publishing. ISBN 978-1-119-54212-4.
Pranala luar
Phagocyte
Sel darah mieloid dan plasma | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hematopoiesis |
| ||||||||||||||||
| Jaringan mieloid |
| ||||||||||||||||
| Lainnya | |||||||||||||||||
| Limfoid |
| ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Limfosit | |||||||||
| Zat | |||||||||