Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Gagal ginjal" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (May 2024) |
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
| Gagal ginjal | |
|---|---|
| Nama lain | Penyakit ginjal stadium akhir (ESRD), penyakit ginjal kronis stadium 5, kidney failure, renal failure[1] |
| Mesin hemodialisis yang digunakan untuk menggantikan fungsi ginjal | |
| Spesialisasi | Nefrologi |
| Gejala | Pembengkakan kaki, rasa lelah, penurunan produksi urin, urin berbusa, kehilangan nafsu makan, kebingungan[2] |
| Komplikasi | Akut: Uremia, kalium darah tinggi, kelebihan volume[3] Kronis: Penyakit jantung, tekanan darah tinggi, anemia[4][5] |
| Jenis | Gangguan ginjal akut, penyakit ginjal kronis[6] |
| Penyebab | Akut:
Kronis: [6] |
| Metode diagnostik | Akut:
|
| Pengobatan | Akut: Tergantung pada penyebabnya[7] Kronis: Hemodialisis, dialisis peritoneal, transplantasi ginjal[2] |
| Frekuensi | Akut: 3 per 1.000 per tahun[8] Kronis: 3,8 per 1.000 (Indonesia);[9] 1 per 1.000 (AS)[1] |

Gagal ginjal, juga dikenal sebagai penyakit ginjal stadium akhir, adalah sebuah kondisi medis di mana ginjal tidak lagi mampu menyaring zat-zat sisa metabolisme dari darah secara memadai, dengan fungsi ginjal kurang dari 15% dari kapasitas normal.[2] Gagal ginjal diklasifikasikan sebagai gangguan ginjal akut, yang berkembang dengan cepat dan dapat pulih; serta penyakit ginjal kronis, yang berkembang perlahan dan sering kali tidak dapat dipulihkan.[6] Gejala gagal ginjal meliputi pembengkakan kaki, rasa lelah, muntah, kehilangan nafsu makan, dan kebingungan.[2] Komplikasi gangguan ginjal akut dan kronis meliputi uremia, hiperkalemia, serta kelebihan volume.[3] Komplikasi penyakit ginjal kronis juga meliputi penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan anemia.[4][5]
Penyebab gangguan ginjal akut meliputi tekanan darah rendah, penyumbatan saluran kemih, obat-obatan tertentu, kerusakan otot, dan sindrom uremik hemolitik.[6] Penyebab penyakit ginjal kronis meliputi diabetes, tekanan darah tinggi, sindrom nefrotik, dan penyakit ginjal polikistik.[6] Diagnosis gangguan ginjal akut sering kali didasarkan pada kombinasi beberapa faktor, seperti penurunan produksi urin atau peningkatan kreatinin serum.[3] Diagnosis gagal ginjal kronis didasarkan pada laju filtrasi glomerulus (GFR) di bawah 15 atau kebutuhan akan terapi penggantian ginjal.[1] Kondisi ini juga setara dengan penyakit ginjal kronis stadium 5.[1]
Tatalaksana gangguan ginjal akut bergantung pada penyebab yang mendasarinya.[7] Pengobatan penyakit ginjal kronis dapat mencakup hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal.[2] Hemodialisis menggunakan mesin untuk menyaring darah di luar tubuh.[2] Pada dialisis peritoneal, cairan khusus dimasukkan ke dalam rongga perut, kemudian dikeluarkan kembali; proses ini diulang beberapa kali sehari.[2] Transplantasi ginjal melibatkan pencangkokan ginjal donor melalui pembedahan, yang kemudian diikuti dengan pemberian obat imunosupresan untuk mencegah penolakan organ.[2] Langkah lain yang dianjurkan bagi penderita penyakit ginjal kronis meliputi tetap aktif secara fisik serta menjalani perubahan pola makan tertentu.[2] Depresi juga umum terjadi pada pasien dengan gagal ginjal dan dikaitkan dengan luaran klinis yang buruk, termasuk peningkatan risiko penurunan fungsi ginjal, rawat inap, dan kematian. Sebuah studi baru-baru ini terhadap pasien dengan gagal ginjal yang menjalani hemodialisis rawat jalan menemukan efektivitas yang serupa antara pengobatan nonfarmakologis dan farmakologis untuk depresi.[10]
Di Amerika Serikat, gangguan ginjal akut memengaruhi sekitar 3 dari 1.000 orang per tahun.[8] Gagal ginjal kronis memengaruhi sekitar 1 dari 1.000 orang dengan sekitar 3 kasus baru per 10.000 penduduk setiap tahun.[1][11] Di Kanada, risiko seumur hidup seseorang mengalami gagal ginjal atau penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) diperkirakan sebesar 2,66% untuk pria dan 1,76% untuk wanita.[12] Gangguan ginjal akut sering kali dapat pulih, sedangkan penyakit ginjal kronis sering kali tidak dapat dipulihkan.[6] Dengan tatalaksana yang tepat, banyak penderita penyakit ginjal kronis yang dapat terus bekerja.[2]
Klasifikasi
Gagal ginjal dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu gangguan ginjal akut dan penyakit ginjal kronis. Kedua jenis gagal ginjal ini dibedakan berdasarkan pola perubahan kadar kreatinin serum. Faktor-faktor lain yang dapat membedakan gangguan ginjal akut dari penyakit ginjal kronis meliputi adanya anemia serta ukuran ginjal pada pemeriksaan sonografi, karena penyakit ginjal kronis umumnya menyebabkan anemia dan pengecilan ukuran ginjal.[13]
Gangguan ginjal akut
Gangguan ginjal akut (GGA, bahasa Inggris: acute kidney injury [AKI]), sebelumnya disebut sebagai gagal ginjal akut (bahasa Inggris: acute kidney failure [ARF]),[14][15] adalah penurunan fungsi ginjal yang berlangsung secara cepat dan progresif,[16] yang secara umum ditandai dengan oliguria (penurunan produksi urin, didefinisikan sebagai kurang dari 400 mL per hari pada orang dewasa,[17] kurang dari 0,5 mL/kg/jam pada anak-anak atau kurang dari 1 mL/kg/jam pada bayi); dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. GGA dapat disebabkan berbagai hal, yang secara umum diklasifikasikan sebagai penyebab prerenal, intrinsik, dan pascarenal. Banyak orang yang didiagnosis mengalami intoksikasi paraquat mengalami GGA, yang terkadang membutuhkan hemodialisis.[18]
Penyakit ginjal kronis

Penyakit ginjal kronis (PGK, bahasa Inggris: chronic kidney disease [CKD]) dapat berkembang secara lambat dan menunjukkan gejala minimal pada awal perjalanan penyakit.[19] PGK dapat menjadi konsekuensi jangka panjang dari suatu penyakit akut yang tidak dapat dipulihkan atau sebagai bagian dari perkembangan penyakit.[20][21] PGK dibagi ke dalam lima stadium (1–5) menurut laju filtrasi glomerulus yang diperkirakan (eGFR). Pada PGK stadium 1, nilai eGFR masih normal, sedangkan pada PGK stadium 5, nilainya telah menurun hingga kurang dari 15 mL/menit.[22]
Gangguan ginjal akut pada penyakit ginjal kronis
Gangguan ginjal akut dapat terjadi pada pasien dengan penyakit ginjal kronis. Kondisi ini merupakan episode GGA yang terjadi pada PGK yang sudah ada sebelumnya, dan dikenal sebagai acute kidney injury (AKI) superimposed on chronic kidney disease (CKD). Komponen akut dari kondisi ini dapat dipulihkan, dan tujuan tatalaksananya, seperti pada GGA, adalah mengembalikan fungsi ginjal pasien ke tingkat dasar (baseline) sebelum terjadinya episode akut, yang umumnya dinilai berdasarkan kadar kreatinin serum. Seperti halnya GGA, AKI superimposed on CKD dapat sulit dibedakan dari penyakit ginjal kronis jika kondisi penderita tidak dipantau oleh dokter dan tidak tersedia hasil pemeriksaan darah terdahulu sebagai pembanding.[23]
Tanda dan gejala
Gejala gagal ginjal dapat bervariasi antar individu. Seseorang dengan penyakit ginjal stadium awal mungkin tidak merasa sakit ataupun menyadari adanya gejala. Ketika ginjal gagal menyaring zat-zat sisa metabolisme secara memadai, zat-zat tersebut akan berakumulasi dalam darah dan tubuh, suatu kondisi yang disebut sebagai azotemia. Azotemia ringan dapat menimbulkan gejala yang minimal atau bahkan tidak menimbulkan gejala sama sekali. Jika penyakit tersebut berkembang, gejala-gejala penyakit akan semakin terlihat (jika kerusakan ginjal sudah cukup berat untuk menimbulkan gejala). Gagal ginjal yang disertai dengan timbulnya gejala-gejala yang mencolok disebut sebagai uremia.[24]
Gejala-gejala gagal ginjal adalah sebagai berikut:[24][25][26][27]
- Kadar urea yang tinggi dalam darah, yang dapat menyebabkan:
- Muntah atau diare (atau keduanya), yang dapat menyebabkan dehidrasi
- Mual
- Penurunan berat badan
- Sering berkemih di malam hari (nokturia)
- Lebih sering berkemih atau menghasilkan urine dalam jumlah lebih banyak daripada biasanya, dengan warna urine pucat
- Lebih jarang berkemih atau menghasilkan urine dalam jumlah lebih sedikit daripada biasanya, dengan warna urine gelap
- Darah dalam urine
- Rasa tertekan pada kandung kemih atau kesulitan berkemih
- Produksi urine dalam jumlah yang tidak wajar, biasanya sangat banyak
- Penumpukan fosfat dalam darah yang tidak bisa disaring dan dikeluarkan oleh ginjal yang mengalami gangguan dapat menyebabkan:
- Gatal
- Kerusakan tulang
- Gangguan penyembuhan tulang yang patah (nonunion)
- Kram otot (disebabkan oleh kadar kalsium yang rendah yang dapat dikaitkan dengan hiperfosfatemia)
- Penumpukan kalium dalam darah yang tidak bisa disaring dan dikeluarkan oleh ginjal yang mengalami gangguan (disebut sebagai hiperkalemia) dapat menyebabkan:
- Kelainan irama jantung
- Kelumpuhan otot[28]
- Kegagalan ginjal untuk membuang cairan yang berlebih dapat menyebabkan:
- Pembengkakan pada tangan, kaki, pergelangan kaki, atau wajah
- Sesak napas akibat adanya cairan berlebih pada paru-paru (juga dapat disebabkan anemia)
- Penyakit ginjal polikistik, yang menyebabkan adanya kista-kista berukuran besar dan berisi cairan pada ginjal dan terkadang pada hati, dapat menyebabkan:
- Nyeri pada punggung atau pinggang
- Ginjal sehat menghasilkan hormon eritropoietin yang menstimulasi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah yang membawa oksigen. Kerusakan ginjal menyebabkan ginjal menghasilkan eritropoietin dalam jumlah yang lebih sedikit, sehingga menurunkan produksi sel darah merah untuk mengganti sel-sel darah merah tua yang terurai secara alami. Sebagai akibatnya, darah membawa hemoglobin dalam jumlah yang lebih sedikit, suatu kondisi yang dikenal sebagai anemia. Hal ini dapat menyebabkan:
- Perasaan lelah atau lemah
- Gangguan ingatan
- Kesulitan berkonsentrasi
- Pusing
- Tekanan darah rendah
- Pada kondisi normal, molekul protein terlalu besar untuk dapat melewati glomerulus ginjal. Namun, protein dapat melewati glomerulus apabila glomerulus mengalami kerusakan. Kondisi ini tidak menimbulkan gejala hingga kerusakan ginjal telah terjadi secara luas,[29] dengan gejala meliputi:
- Urine berbusa atau bergelembung
- Pembengkakan pada tangan, kaki, perut, dan wajah
- Gejala-gejala lain meliputi:
- Kehilangan nafsu makan, yang dapat meliputi rasa tidak enak pada mulut
- Kesulitan tidur
- Warna kulit menggelap
- Dengan pemberian penisilin dosis tinggi, penderita gagal ginjal dapat mengalami kejang[30]
Penyebab
Gangguan ginjal akut
Gangguan ginjal akut (sebelumnya dikenal sebagai gagal ginjal akut) – atau GGA (bahasa Inggris: acute kidney injury [AKI]) – biasanya terjadi ketika aliran darah ke ginjal tiba-tiba berkurang atau terhenti, atau ketika ginjal terpapar toksin dalam jumlah berlebihan. Penyebab gangguan ginjal akut meliputi kecelakaan, cedera, atau pembedahan yang menyebabkan ginjal kekurangan aliran darah dalam waktu yang lama, seperti pada pembedahan bypass jantung.[31][32]
Overdosis obat-obatan, konsumsi bekelebihan zat-zat kimia yang tidak disengaja dari obat Overdosis obat, baik yang terjadi secara tidak disengaja maupun akibat paparan obat dalam jumlah berlebihan dalam jumlah berlebihan, seperti antibiotik atau obat kemoterapi, serta sengatan lebah,[33] juga dapat menyebabkan timbulnya gangguan ginjal akut. Namun, berbeda dengan penyakit ginjal kronis, fungsi ginjal pada GGA sering kali dapat pulih sehingga penderitanya dapat kembali menjalani kehidupan yang normal. Penderita GGA memerlukan terapi suportif hingga fungsi ginjalnya pulih, dan setelah itu pun mereka tetap memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gagal ginjal di kemudian hari.[34]
Salah satu penyebab gangguan ginjal akut akibat kecelakaan adalah crush syndrome, ketika sejumlah besar zat toksik dilepaskan secara tiba-tiba ke dalam peredaran darah setelah tungkai yang berada dalam kondisi tertimpa dalam waktu cukup lama tiba-tiba dilepaskan dari tekanan yang menhambat aliran darah melewati jaringan-jaringannya, menyebabkan terjadinya iskemia.[35] Beban toksik yang dihasilkan kemudian dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan ginjal. Kondisi ini merupakan suatu cedera reperfusi yang terjadi setelah tekanan penyebab himpitan dilepaskan.[36] Mekanisme terjadinya hal ini diyakini sebagai akibat dari dilepaskannya produk-produk pemecahan otot ke dalam peredaran darah – utamanya mioglobin, kalium, dan fosfat – yang merupakan produk samping dari rabdomiolisis (produk pemecahan otot rangka yang rusak akibat kondisi iskemia).[37] Mekanisme pasti kerusakan ginjal belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga sebagian disebabkan oleh metabolit nefrotoksik dari mioglobin.[38]
Penyakit ginjal kronis
Penyakit ginjal kronis memiliki banyak penyebab. Penyebab paling umum penyakit ginjal kronis adalah diabetes melitus dan hipertensi yang berlangsung lama dan tidak terkontrol.[39] Penyakit ginjal polikistik juga merupakan penyebab penyakit ginjal kronis yang telah dikenal dengan baik. Mayoritas penderita penyakit ginjal polikistik memiliki riwayat keluarga penyakit tersebut. Systemic lupus erythematosus (SLE) juga merupakan salah satu penyebab penyakit ginjal kronis. Beberapa kelainan genetik juga dapat menyebabkan gagal ginjal.[butuh rujukan]
Penggunaan obat-obatan yang umum digunakan secara berlebihan, seperti ibuprofen, juga dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis.[40] Beberapa agen penyebab penyakit infeksi, seperti hantavirus, dapat menyerang ginjal dan menyebabkan gagal ginjal.[41]
Terapi litium jangka panjang diketahui menyebabkan penyakit ginjal kronis setelah 10–20 tahun pengobatan pada sekitar 1–5% pasien.[42][43] Gagal ginjal stadium akhir akibat litium terjadi pada sekitar 0,53% pasien, dibandingkan dengan 0,2% pada populasi umum.[44][45][46] Pemberian litium lebih dari satu kali per hari berkaitan dengan peningkatan kerusakan ginjal.[47] Kerusakan ginjal dapat diminimalkan dengan memberikan litium satu kali sehari pada malam hari dan menjaga agar dosis yang diberikan serendah mungkin.[48] Pemberian litium satu kali sehari memungkinkan ginjal terpapar kadar litium yang rendah selama periode yang lebih panjang, sehingga meminimalkan kerusakan ginjal.[46]
Predisposisi genetik
Gen APOL1 diusulkan sebagai lokus risiko genetik utama untuk berbagai bentuk gagal ginjal nondiabetik pada individu keturunan Afrika. Spektrum tersebut meliputi nefropati terkait HIV (HIVAN), bentuk nonmonogenik primer dari glomerulosklerosis segmental fokal, dan penyakit ginjal kronis yang berkaitan dengan hipertensi dan tidak disebabkan oleh etiologi lain.[49] Dua varian APOL1 yang ditemukan pada populasi Afrika Barat telah terbukti berkaitan dengan penyakit ginjal stadium akhir pada populasi Afrika-Amerika dan Hispanik-Amerika.[50][51]
Pendekatan diagnostik
Penentuan stadium penyakit ginjal kronis
- Stadium penyakit ginjal kronis
Penyakit ginjal kronis dibagi menjadi lima stadium berdasarkan laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate, GFR) pasien.
- PGK stadium 1 ditandai oleh penurunan ringan fungsi ginjal dengan sedikit atau tanpa gejala yang jelas.
- PGK stadium 2 dan 3 memerlukan dukungan medis yang semakin intensif untuk memperlambat progresivitas gangguan fungsi ginjal serta menanganinya.
- PGK stadium 4 dan 5 biasanya memerlukan persiapan menuju terapi aktif agar dapat bertahan hidup.
- PGK stadium 5 dianggap sebagai penyakit berat dan membutuhkan suatu bentuk terapi penggantian ginjal (dialisis) atau transplantasi ginjal jika memungkinkan.[52]
- Laju filtrasi glomerulus
Nilai GFR normal bervariasi bergantung pada berbagai faktor, seperti jenis kelamin, usia, ukuran tubuh, dan latar belakang etnis. Para ahli nefrologi menganggap laju filtrasi glomerulus (GFR) sebagai indeks terbaik untuk menilai fungsi ginjal secara keseluruhan.[53] National Kidney Foundation menyediakan kalkulator GFR daring yang mudah digunakan[54] bagi siapa pun yang tertarik untuk mengetahui laju filtrasi glomerulus mereka. Untuk menggunakan kalkulator tersebut diperlukan nilai kreatinin serum, yang diperoleh melalui pemeriksaan darah sederhana.
Komplikasi
Pasien penyakit ginjal stadium akhir yang menjalani hemodialisis berisiko lebih tinggi untuk mengalami pendarahan spontan intraabdomen (21,2%) dan iskemia mesentrika nonoklusif (18,1%) dibandingkan populasi umum. Sementara itu, pasien yang menjalani dialisis peritoneal berisiko lebih tinggi untuk mengalami peritonitis dan perforasi gastrointestinal. Namun, angka kejadian pankreatitis akut tidak berbeda dari populasi umum.[55]
Tatalaksana
Tatalaksana gagal ginjal berpusat pada terapi penggantian ginjal, tatalaksana konservatif, dan pengendalian komplikasi, karena pilihan terapi kuratif tidak tersedia bagi kasus kronis.[56][57] Tatalaksana gagal ginjal membutuhkan perawatan multidisiplin dan edukasi pada pasien untuk pengambilan keputusan bersama mengenai waktu dimulainya terapi penggantian ginjal.[57]
Terapi penggantian ginjal
Modalitas terapi penggantian ginjal (renal replacement therapy, RRT) meliputi hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal. Modalitas terapi dipilih berdasarkan gaya hidup pasien, kelayakan akses vaskular, dan komorbiditas.[56][58] Hemodialisis menyediakan filtrasi ekstrakorporeal di mana mesin mengambil alih fungsi filtrasi ginjal, membersihkan darah dari kelebihan cairan, zat terlarut, dan toksin.[59] Dialisis peritoneal merupakan terapi berkelanjutan yang dapat dilakukan di rumah dengan memanfaatkan peritoneum.[60] Pedoman merekomendasikan dilakukannya perencanaan perawatan di masa mendatang ketika GFR 20-30 mL/menit, dengan menggarisbawahi angka harapan hidup yang sebanding dari seluruh modalitas ketika penggunaan modalitas dioptimalkan, meskipun hemodialisis memiliki risiko infeksi dan dialisis peritoneal memiliki risiko peritonitis.[57][61]
Diet
Pada pasien gagal ginjal nondiabetik dan dengan diabetes tipe 1, diet rendah protein terbukti memiliki efek preventif terhadap progresi penyakit ginjal kronis. Namun, efek ini tidak berlaku pada pasien gagal ginjal dengan diabetes tipe 2.[62] Pola makan berbasis pangan utuh dan nabati dapat membantu sebagian penderita penyakit ginjal.[63] Diet tinggi protein yang berasal dari hewan atau tumbuhan tampaknya memberikan efek negatif terhadap fungsi ginjal, setidaknya dalam jangka pendek.[64]
Memperlambat progresivitas penyakit
Pasien yang dirujuk sedini mungkin ke ahli nefrologi, yang berarti memiliki waktu yang lebih lama sebelum mereka harus menjalani dialisis, memiliki periode rawat inap awal di rumah sakit yang lebih pendek dan risiko kematian yang lebih rendah setelah dimulainya dialisis.[65] Metode-metode lain untuk memperlambat progresivitas penyakit meliputi meminimalkan paparan terhadap nefrotoksin seperti NSAID dan kontras intravena.[66]
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 Cheung AK (2005). Primer on Kidney Diseases (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 457. ISBN 1-4160-2312-7.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Kidney Failure". National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses tanggal 11 November 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Blakeley S (2010). Renal Failure and Replacement Therapies (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm. 19. ISBN 978-1-84628-937-8.
- 1 2 Liao MT, Sung CC, Hung KC, Wu CC, Lo L, Lu KC (2012). "Insulin resistance in patients with chronic kidney disease". Journal of Biomedicine & Biotechnology. 2012 691369. doi:10.1155/2012/691369. PMC 3420350. PMID 22919275.
- 1 2 "Kidney Failure". MedlinePlus (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 November 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 "What is renal failure?". Johns Hopkins Medicine (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 18 Juni 2017. Diakses tanggal 18 Desember 2017.
- 1 2 Clatworthy M (2010). Nephrology: Clinical Cases Uncovered (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 28. ISBN 978-1-4051-8990-3.
- 1 2 Ferri FF (2017). Ferri's Clinical Advisor 2018 E-Book: 5 Books in 1 (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 37. ISBN 978-0-323-52957-0.
- ↑ Tim Riskesdas 2018 (2019). Laporan Nasional Riskesdas 2018 (PDF). Jakarta: Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) - ↑ Mehrotra R, Cukor D, Unruh M, Rue T, Heagerty P, Cohen SD, et al. (Maret 2019). "Comparative Efficacy of Therapies for Treatment of Depression for Patients Undergoing Maintenance Hemodialysis: A Randomized Clinical Trial". Annals of Internal Medicine. 170 (6): 369–379. doi:10.7326/M18-2229. PMID 30802897. S2CID 67876948.
- ↑ Ferri FF (2017). Ferri's Clinical Advisor 2018 E-Book: 5 Books in 1 (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 294. ISBN 978-0-323-52957-0.
- ↑ Turin TC, Tonelli M, Manns BJ, Ahmed SB, Ravani P, James MT, Hemmelgarn BR (September 2012). "Lifetime risk of ESRD". J Am Soc Nephrol. 23 (9): 1569–1578. doi:10.1681/ASN.2012020164. PMC 3431421. PMID 22904351.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ niddk.nih.gov, [Anemia in Chronic Kidney Disease](https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/anemia)
- ↑ Moore EM, Bellomo R, Nichol AD (November 2012). "The meaning of acute kidney injury and its relevance to intensive care and anaesthesia". Anaesthesia and Intensive Care. 40 (6): 929–48. doi:10.1177/0310057X1204000604. PMID 23194202.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ricci Z, Ronco C (2012). "New insights in acute kidney failure in the critically ill". Swiss Medical Weekly. 142 (3334): w13662. doi:10.4414/smw.2012.13662. PMID 22923149.
- ↑ "Acute kidney failure". A.D.A.M. Medical Encyclopedia. U.S. National Library of Medicine. 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-17. Diakses tanggal 1 Januari 2013.
- ↑ Klahr S, Miller SB (Maret 1998). "Acute oliguria". The New England Journal of Medicine. 338 (10): 671–5. doi:10.1056/NEJM199803053381007. PMID 9486997.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Weng CH, Chen HH, Hu CC, Huang WH, Hsu CW, Fu JF, Lin WR, Wang IK, Yen TH (2017). "Predictors of acute kidney injury after paraquat intoxication". Oncotarget. 8 (31): 51345–51354. doi:10.18632/oncotarget.17975. PMC 5584253. PMID 28881652.
- ↑ "Chronic kidney disease". A.D.A.M. Medical Encyclopedia. Medline Plus, National Institutes of Health. 2011. Diakses tanggal 1 Januari 2013.
- ↑ Bedford, Michael; Farmer, Christopher; Levin, Adeera; Ali, Tariq; Stevens, Paul (1 April 2012). "Acute Kidney Injury and CKD: Chicken or Egg?". American Journal of Kidney Diseases (dalam bahasa English). 59 (4): 485–491. doi:10.1053/j.ajkd.2011.09.010. ISSN 0272-6386. PMID 22444492.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Belayev, Linda Y.; Palevsky, Paul M. (Maret 2014). "The link between acute kidney injury and chronic kidney disease". Current Opinion in Nephrology and Hypertension. 23 (2): 149–154. doi:10.1097/01.mnh.0000441051.36783.f3. ISSN 1473-6543. PMC 4179244. PMID 24384553.
- ↑ "Stages of kidney disease". www.kidneyfund.org (dalam bahasa Inggris). 2021-11-22. Diakses tanggal 2023-03-09.
- ↑ Wong, Esther; Casula, Anna; Hughes, Rachael; Cornish, Rosie; Tilling, Kate; Selby, Nicholas M.; Medcalf, James (27 Januari 2026). "Distinguishing AKI from CKD: outcomes and characteristics of patients with abnormal serum creatinine and no known baseline". BMC Nephrology (dalam bahasa Inggris). 27 (1): 126. doi:10.1186/s12882-026-04758-8. ISSN 1471-2369. PMC 12918265. PMID 41593551.
- 1 2 Grinsted P (2 Maret 2005). "Kidney failure (renal failure with uremia, or azotaemia)". Netdoctor. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-10-15. Diakses tanggal 26 Mei 2009.
- ↑ Stein A (1 Juli 2007). Understanding Treatment Options For Renal Therapy. Deerfield, Illinois: Baxter International Inc. hlm. 6. ISBN 978-1-85959-070-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-01-30. Diakses tanggal 12 Juli 2010.
- ↑ The PD Companion. Deerfield, Illinois: Baxter International Inc. 1 Mei 2008. hlm. 14–15. 08/1046R. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2010-06-25. Diakses tanggal 12 Juli 2010.
- ↑ Amgen Inc. (2009). "10 Symptoms of Kidney Disease". Diakses tanggal 26 Mei 2009.
- ↑ "Hyperkalemia". MedicineNet, Inc. 3 Juli 2008. Diakses tanggal 26 Mei 2009.
- ↑ Hebert LA, Charleston J, Miller E (2009). "Proteinuria". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-05-05. Diakses tanggal 24 Maret 2011.
- ↑ Katzung BG (2007). Basic and Clinical Pharmacology (Edisi ke-10). New York, NY: McGraw Hill Medical. hlm. 733. ISBN 978-0-07-145153-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Scurt, Florian G.; Bose, Katrin; Mertens, Peter R.; Chatzikyrkou, Christos; Herzog, Carolin (1 Juni 2024). "Cardiac Surgery-Associated Acute Kidney Injury". Kidney360. 5 (6): 909–926. doi:10.34067/KID.0000000000000466. ISSN 2641-7650. PMC 11219121. PMID 38689404.
- ↑ Harky, Amer; Joshi, Mihika; Gupta, Shubhi; Teoh, Wan Yi; Gatta, Francesca; Snosi, Mostafa (1 April 2020). "Acute Kidney Injury Associated with Cardiac Surgery: a Comprehensive Literature Review". Brazilian Journal of Cardiovascular Surgery. 35 (2): 211–224. doi:10.21470/1678-9741-2019-0122. ISSN 1678-9741. PMC 7199993. PMID 32369303.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Silva GB, Vasconcelos AG, Rocha AM, Vasconcelos VR, Barros J, Fujishima JS, et al. (Juni 2017). "Acute kidney injury complicating bee stings - a review". Revista do Instituto de Medicina Tropical de Sao Paulo. 59 e25. doi:10.1590/S1678-9946201759025. PMC 5459532. PMID 28591253.
- ↑ National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (2012). "The Kidneys and How They Work". National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-02. Diakses tanggal 1 Januari 2013.
- ↑ Khan, Shahnawaz; Neradi, Deepak; Unnava, Nikhil; Jain, Mantu; Tripathy, Sujit Kumar (18 April 2025). "Pathophysiology and management of crush syndrome: A narrative review". World Journal of Orthopedics. 16 (4) 104489. doi:10.5312/wjo.v16.i4.104489. ISSN 2218-5836. PMC 12019140. PMID 40290606.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Odeh, M. (16 Mei 1991). "The role of reperfusion-induced injury in the pathogenesis of the crush syndrome". The New England Journal of Medicine. 324 (20): 1417–1422. doi:10.1056/NEJM199105163242007. ISSN 0028-4793. PMID 2020298.
- ↑ Gillani, Syed; Cao, Jue; Suzuki, Takashi; Hak, David J. (Juni 2012). "The effect of ischemia reperfusion injury on skeletal muscle". Injury. 43 (6): 670–675. doi:10.1016/j.injury.2011.03.008. ISSN 0020-1383. PMID 21481870.
- ↑ Lovallo, Emily; Koyfman, Alex; Foran, Mark (September 2012). "Crush syndrome". African Journal of Emergency Medicine (dalam bahasa Inggris). 2 (3): 117–123. doi:10.1016/j.afjem.2012.05.005. ISSN 2211-419X. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-08-02.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kes P, Basić-Jukić N, Ljutić D, Brunetta-Gavranić B (Oktober 2011). "[The role of arterial hypertension in development of chronic renal failure]" [The role of arterial hypertension in the development of chronic renal failure] (PDF). Acta Medica Croatica (dalam bahasa Kroasia). 65 (Suppl 3): 78–84. PMID 23120821. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-07-19.
- ↑ Drożdżal S, Lechowicz K, Szostak B, Rosik J, Kotfis K, Machoy-Mokrzyńska A, Białecka M, Ciechanowski K, Gawrońska-Szklarz B (Agustus 2021). "Kidney damage from nonsteroidal anti‐inflammatory drugs—Myth or truth? Review of selected literature". Pharmacol Res Perspect. 9 (4): e00817. doi:10.1002/prp2.817. PMID 34310861.
- ↑ Appel GB, Mustonen J (2012). "Renal involvement with hantavirus infection (hemorrhagic fever with renal syndrome)". UpToDate. Diakses tanggal 1 Januari 2013.
- ↑ Malhi, Gin S; Tanious, Michelle; Das, Pritha; Berk, Michael (1 Maret 2012). "The science and practice of lithium therapy". Australian & New Zealand Journal of Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 46 (3): 192–211. doi:10.1177/0004867412437346. ISSN 0004-8674. PMID 22391277.
- ↑ Tondo, Leonardo; Alda, Martin; Bauer, Michael; Bergink, Veerle; Grof, Paul; Hajek, Tomas; Lewitka, Ute; Licht, Rasmus W.; Manchia, Mirko; Müller-Oerlinghausen, Bruno; Nielsen, René E.; Selo, Marylou; Simhandl, Christian; Baldessarini, Ross J.; untuk International Group for Studies of Lithium (IGSLi) (22 Juli 2019). "Clinical use of lithium salts: guide for users and prescribers". International Journal of Bipolar Disorders (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 16. doi:10.1186/s40345-019-0151-2. ISSN 2194-7511. PMC 6643006. PMID 31328245.
- ↑ Presne, Claire; Fakhouri, Fadi; Noël, Laure-Hélène; Stengel, Bénédicte; Even, Christian; Kreis, Henri; Mignon, Françoise; Grünfeld, Jean-Pierre (Agustus 2003). "Lithium-induced nephropathy: Rate of progression and prognostic factors". Kidney International. 64 (2): 585–592. doi:10.1046/j.1523-1755.2003.00096.x. ISSN 0085-2538. PMID 12846754.
- ↑ Tondo, Leonardo; Abramowicz, Maria; Alda, Martin; Bauer, Michael; Bocchetta, Alberto; Bolzani, Lorenza; Calkin, Cynthia V.; Chillotti, Caterina; Hidalgo-Mazzei, Diego; Manchia, Mirko; Müller-Oerlinghausen, Bruno; Murru, Andrea; Perugi, Giulio; Pinna, Marco; Quaranta, Giuseppe (1 Agustus 2017). "Long-term lithium treatment in bipolar disorder: effects on glomerular filtration rate and other metabolic parameters". International Journal of Bipolar Disorders (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 27. doi:10.1186/s40345-017-0096-2. ISSN 2194-7511. PMC 5537163. PMID 28480485.
- 1 2 Barroilhet, S. A.; Ghaemi, S. N. (2020). "When and how to use lithium". Acta Psychiatrica Scandinavica (dalam bahasa Inggris). 142 (3): 161–172. doi:10.1111/acps.13202. ISSN 1600-0447. PMID 32526812.
- ↑ Carter, Lorie; Zolezzi, Monica; Lewczyk, Andrea (1 Oktober 2013). "An Updated Review of the Optimal Lithium Dosage Regimen for Renal Protection". The Canadian Journal of Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 58 (10): 595–600. doi:10.1177/070674371305801009. ISSN 0706-7437. PMID 24165107.
- ↑ MD, Chris Aiken (19 Januari 2026). "6 Ways to Protect the Kidneys While Prescribing Lithium | Psychiatric Times". www.psychiatrictimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 Januari 2026.
- ↑ Bostrom MA, Freedman BI (Juni 2010). "The spectrum of MYH9-associated nephropathy". Clinical Journal of the American Society of Nephrology. 5 (6): 1107–13. doi:10.2215/CJN.08721209. PMC 4890964. PMID 20299374.
- ↑ Genovese G, Friedman DJ, Ross MD, Lecordier L, Uzureau P, Freedman BI, et al. (Agustus 2010). "Association of trypanolytic ApoL1 variants with kidney disease in African Americans". Science. 329 (5993): 841–5. Bibcode:2010Sci...329..841G. doi:10.1126/science.1193032. PMC 2980843. PMID 20647424.
- ↑ Tzur S, Rosset S, Shemer R, Yudkovsky G, Selig S, Tarekegn A, et al. (September 2010). "Missense mutations in the APOL1 gene are highly associated with end stage kidney disease risk previously attributed to the MYH9 gene". Human Genetics. 128 (3): 345–50. doi:10.1007/s00439-010-0861-0. PMC 2921485. PMID 20635188.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kidney Transplantation as Primary Therapy for End-Stage Renal Disease: A National Kidney Foundation/Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF/KDOQI™) Conference](https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2390948/)
- ↑ Fadem, Stephen Z., M.D., FACP, FASN. Calculators for HealthCare Professionals. National Kidney Foundation. 13 Oktober 2008 Diarsipkan 27 Juli 2014 di Wayback Machine
- ↑ "GFR calculator". Kidney.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-27. Diakses tanggal 25 September 2011.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tonolini M, Ierardi AM, Carrafiello G (Desember 2015). "Letter to the editor: spontaneous renal haemorrhage in end-stage renal disease". Insights into Imaging. 6 (6): 693–695. doi:10.1007/s13244-015-0439-4. PMC 4656237. PMID 26472545.
- 1 2 Rout, Preeti; Aslam, Ahsan (2025), "End-Stage Renal Disease", StatPearls, Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, PMID 29763036, diakses tanggal 10 Desember 2025
- 1 2 3 Stevens, Paul E.; Ahmed, Sofia B.; Carrero, Juan Jesus; Foster, Bethany; Francis, Anna; Hall, Rasheeda K.; Herrington, Will G.; Hill, Guy; Inker, Lesley A.; Kazancıoğlu, Rümeyza; Lamb, Edmund; Lin, Peter; Madero, Magdalena; McIntyre, Natasha; Morrow, Kelly (1 April 2024). "KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease". Kidney International (dalam bahasa Inggris). 105 (4): S117–S314. doi:10.1016/j.kint.2023.10.018. ISSN 0085-2538. PMID 38490803.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Levin, Adeera; Ahmed, Sofia B.; Carrero, Juan Jesus; Foster, Bethany; Francis, Anna; Hall, Rasheeda K.; Herrington, Will G.; Hill, Guy; Inker, Lesley A.; Kazancıoğlu, Rümeyza; Lamb, Edmund; Lin, Peter; Madero, Magdalena; McIntyre, Natasha; Morrow, Kelly (1 April 2024). "Executive summary of the KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease: known knowns and known unknowns". Kidney International (dalam bahasa English). 105 (4): 684–701. doi:10.1016/j.kint.2023.10.016. ISSN 0085-2538. PMID 38519239.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Murdeshwar, Himani N.; Agarwal, Ankit; Anjum, Fatima (2025), "Hemodialysis", StatPearls, Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, PMID 33085443, diakses tanggal 10 Desember 2025
- ↑ "Peritoneal Dialysis - NIDDK". National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 10 Desember 2025.
- ↑ Roumeliotis, Stefanos; Dounousi, Evangelia; Salmas, Marios; Eleftheriadis, Theodoros; Liakopoulos, Vassilios (14 Mei 2020). "Unfavorable Effects of Peritoneal Dialysis Solutions on the Peritoneal Membrane: The Role of Oxidative Stress". Biomolecules (dalam bahasa Inggris). 10 (5): 768. doi:10.3390/biom10050768. ISSN 2218-273X. PMC 7277773. PMID 32423139.
- ↑ Rughooputh MS, Zeng R, Yao Y (28 Desember 2015). "Protein Diet Restriction Slows Chronic Kidney Disease Progression in Non-Diabetic and in Type 1 Diabetic Patients, but Not in Type 2 Diabetic Patients: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials Using Glomerular Filtration Rate as a Surrogate". PLOS ONE. 10 (12) e0145505. Bibcode:2015PLoSO..1045505R. doi:10.1371/journal.pone.0145505. PMC 4692386. PMID 26710078.
- ↑ Chauveau P, Combe C, Fouque D, Aparicio M (November 2013). "Vegetarianism: advantages and drawbacks in patients with chronic kidney diseases". Journal of Renal Nutrition. 23 (6): 399–405. doi:10.1053/j.jrn.2013.08.004. PMID 24070587.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bernstein AM, Treyzon L, Li Z (April 2007). "Are high-protein, vegetable-based diets safe for kidney function? A review of the literature". Journal of the American Dietetic Association. 107 (4): 644–50. doi:10.1016/j.jada.2007.01.002. PMID 17383270. S2CID 39551628.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Smart NA, Dieberg G, Ladhani M, Titus T (Juni 2014). "Early referral to specialist nephrology services for preventing the progression to end-stage kidney disease". The Cochrane Database of Systematic Reviews (6) CD007333. doi:10.1002/14651858.CD007333.pub2. PMID 24938824.
- ↑ Dirkx TC, Woodell T, Watnick S (2017). Papadakis MA, McPhee SJ, Rabow MW (ed.). Current Medical Diagnosis & Treatment 2018. New York, NY: McGraw-Hill Education.
Pranala luar
| Penyakit glomerulus | |
|---|---|
| Tubula | |
| Interstitium | |
| Pembuluh darah | |
| Sindrom umum | |
| Lainnya | |
| General | |
|---|---|
| Banyak sekali | |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |