Rabu, 04 November 2026
03:32 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Laju filtrasi glomerulus

Laju filtrasi glomerulus

laju rata-rata penyaringan darah yang terjadi di glomerulus yaitu sekitar 25% dari total curah jantung per menit,± 1,300 ml

Bagikan:
330px-Physiology_of_Nephron.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diagram yang memperlihatkan skema sebuah nefron beserta suplai darahnya. Mekanisme fisiologis dasar penanganan cairan dan elektrolit oleh nefron, yaitu filtrasi, sekresi, reabsorpsi, dan ekskresi, ditandai pada diagram.

Fungsi ginjal meliputi mempertahankan keseimbangan asam-basa; regulasi keseimbangan cairan; regulasi kadar natrium, kalium, dan elektrolit lainnya; pembuangan zat-zat toksik; absorpsi glukosa, asam amino, dan molekul-molekul kecil lainnya; regulasi tekanan darah; memproduksi berbagai hormon, seperti eritropoietin; serta aktivasi vitamin D.

Ginjal memiliki berbagai fungsi, yang pada ginjal yang berfungsi dengan baik diwujudkan melalui penyaringan darah dalam suatu proses yang dikenal sebagai filtrasi glomerulus. Salah satu indikator utama fungsi ginjal adalah laju filtrasi glomerulus (LFG) (bahasa Inggris:glomerular filtration rate, GFR). Laju filtrasi glomerulus adalah laju aliran cairan yang difiltrasi melalui ginjal. Laju klirens kreatinin (bahasa Inggris:creatinine clearance rate, CCr atau CrCl) adalah volume plasma darah yang dibersihkan dari kreatinin per satuan waktu dan merupakan ukuran yang berguna untuk memperkirakan LFG. Nilai klirens kreatinin lebih tinggi daripada LFG karena adanya sekresi kreatinin,[1] yang dapat dihambat oleh simetidin. Baik LFG maupun CCr dapat dihitung secara akurat melalui pengukuran komparatif zat-zat tertentu dalam darah dan urine, atau diperkirakan menggunakan rumus yang hanya memerlukan hasil pemeriksaan darah (eLFG dan eCCr). Hasil pemeriksaan ini digunakan untuk menilai fungsi ekskresi ginjal. Penentuan stadium penyakit ginjal kronis didasarkan pada kategori LFG, albuminuria, serta penyebab penyakit ginjal.[2]

Estimasi LFG (eLFG) (bahasa Inggris:estimated glomerular filtration rate, eGFR) direkomendasikan oleh pedoman praktik klinis dan badan regulator untuk evaluasi rutin LFG, sedangkan LFG terukur (measured GFR, mGFR) dianjurkan sebagai pemeriksaan konfirmasi apabila diperlukan penilaian yang lebih akurat.[3]

Definisi

Laju filtrasi glomerulus (LFG) (bahasa Inggris:glomerular filtration rate, GFR) adalah volume cairan yang difiltrasi dari kapiler glomerulus ginjal ke dalam kapsula Bowman per satuan waktu.[4]

LFG sama dengan laju klirens ginjal apabila suatu zat terlarut dapat difiltrasi secara bebas serta tidak mengalami reabsorpsi maupun sekresi oleh ginjal. Dengan demikian, laju yang diukur merupakan jumlah zat dalam urine yang berasal dari volume darah yang dapat dihitung. Berdasarkan prinsip ini, untuk zat yang digunakan sebagai penanda, hasil kali konsentrasi zat dalam urine dan laju aliran urine sama dengan massa zat yang diekskresikan selama periode pengumpulan urine. Massa tersebut sama dengan massa zat yang difiltrasi di glomerulus karena tidak ada zat yang ditambahkan ataupun dihilangkan selama zat tersebut melewati nefron. Dengan membagi massa tersebut dengan konsentrasi zat dalam plasma, diperoleh volume plasma yang semula mengandung massa zat tersebut, sehingga dapat ditentukan volume plasma yang telah masuk ke kapsula Bowman selama periode waktu tersebut. LFG umumnya dinyatakan dalam satuan volume per waktu, misalnya mililiter per menit (mL/menit). Bandingkan dengan fraksi filtrasi.

L F G = Konsentrasi dalam urine × Laju aliran urine Konsentrasi dalam plasma {\displaystyle LFG={\frac {{\mbox{Konsentrasi dalam urine}}\times {\mbox{Laju aliran urine}}}{\mbox{Konsentrasi dalam plasma}}}} {\displaystyle LFG={\frac {{\mbox{Konsentrasi dalam urine}}\times {\mbox{Laju aliran urine}}}{\mbox{Konsentrasi dalam plasma}}}}

Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk menghitung atau memperkirakan laju filtrasi glomerulus (LFG atau eLFG). Rumus di atas hanya berlaku untuk menghitung LFG apabila LFG sama dengan laju klirens zat tersebut.

Regulasi

Faktor utama yang mempertahankan LFG secara fisiologis adalah vasokonstriksi diferensial pada arteriola aferen (masuk) dan arteriola eferen (keluar). Vasodilatasi arteriola aferen atau vasokonstriksi arteriola eferen akan meningkatkan LFG. Sebaliknya, vasokonstriksi arteriola aferen atau vasodilatasi arteriola eferen akan menurunkan LFG.[5]

Tubuh memiliki beberapa mekanisme untuk mengatur konstriksi maupun dilatasi kedua arteriola tersebut, yaitu umpan balik lokal di dalam ginjal, regulasi hormonal, dan pengendalian oleh sistem saraf simpatis. Ketiga sistem ini saling berkaitan erat. Berkat mekanisme-mekanisme tersebut, ginjal mampu mempertahankan LFG yang relatif konstan meskipun tekanan arteri rerata mengalami perubahan.[5]

Umpan balik lokal di dalam ginjal (autoregulasi ginjal) meliputi respons miogenik dan umpan balik tubuloglomerulus.[5] Pada respons miogenik, peningkatan peregangan arteriola aferen akibat kenaikan tekanan darah akan memicu vasokonstriksi arteriola aferen, sehingga mencegah peningkatan LFG.[5] Pada mekanisme umpan balik tubuloglomerulus, sel-sel makula densa pada tubulus nefron bagian distal mendeteksi perubahan kadar ion. Apabila kadar natrium klorida dalam filtrat urine terlalu tinggi, makula densa mengirimkan sinyal untuk menyebabkan vasokonstriksi arteriola aferen. Sebaliknya, apabila kadarnya terlalu rendah, makula densa mengirimkan sinyal untuk menyebabkan vasodilatasi arteriola aferen dan merangsang pelepasan renin, yang mengaktifkan sistem renin–angiotensin–aldosteron (RAAS).[5]

Sistem RAAS merupakan mekanisme hormonal utama yang mengendalikan LFG. Tekanan darah yang rendah akan mengaktifkan sistem RAAS sehingga meningkatkan kadar hormon angiotensin II. Angiotensin II kemudian berikatan dengan reseptor pada arteriola eferen. Vasokonstriksi arteriola eferen yang terjadi akan meningkatkan LFG.[5]

Baik arteriola aferen maupun arteriola eferen pada glomerulus menerima persarafan simpatis.[6] Aktivasi sistem saraf simpatis, misalnya pada keadaan stres, menyebabkan vasokonstriksi pada kedua arteriola tersebut. Akibatnya, aliran darah ginjal dan LFG menurun. Aktivasi simpatis juga merangsang pelepasan renin.[6]

Pengukuran

Kreatinin

Dalam praktik klinis, LFG umumnya diukur menggunakan klirens kreatinin atau estimasi klirens kreatinin yang didasarkan pada kadar kreatinin serum. Kreatinin diproduksi secara alami oleh tubuh sebagai hasil pemecahan kreatinin fosfat yang terdapat di dalam otot. Kreatinin difiltrasi secara bebas oleh glomerulus, tetapi juga disekresikan secara aktif dalam jumlah yang sangat kecil oleh kapiler peritubular, sehingga klirens kreatinin cenderung memberikan nilai LFG sekitar 10–20% lebih tinggi daripada LFG yang sebenarnya. Tingkat kesalahan ini masih dapat diterima mengingat kemudahan pengukuran klirens kreatinin. Berbeda dengan pengukuran LFG yang presisi menggunakan infus inulin secara terus-menerus, kreatinin telah berada pada konsentrasi keadaan tunak di dalam darah, sehingga pengukuran klirens kreatinin jauh lebih sederhana. Namun, estimasi LFG berdasarkan kreatinin memiliki keterbatasan. Semua persamaan estimasi bergantung pada estimasi laju ekskresi kreatinin selama 24 jam, yang dipengaruhi oleh massa otot dan dapat sangat bervariasi antarindividu. Salah satu persamaan tersebut, yaitu persamaan Cockcroft–Gault (lihat di bawah), juga tidak memperhitungkan ras. Individu dengan massa otot yang lebih besar akan memiliki kadar kreatinin serum yang lebih tinggi pada tingkat klirens yang sama.

Inulin

LFG dapat ditentukan dengan menyuntikkan inulin atau analog inulin, yaitu sinistrin, ke dalam aliran darah. Karena baik inulin maupun sinistrin tidak direabsorpsi maupun disekresikan oleh ginjal setelah mengalami filtrasi glomerulus, laju ekskresinya berbanding lurus dengan laju filtrasi air dan zat terlarut melalui sawar filtrasi glomerulus. Pengumpulan urine yang tidak lengkap merupakan salah satu sumber utama kesalahan dalam pengukuran klirens inulin.[7] Penggunaan inulin untuk mengukur fungsi ginjal merupakan baku emas untuk membandingkan berbagai metode lain dalam memperkirakan laju filtrasi glomerulus.[8] Pada tahun 2018, badan farmakovigilans Prancis menarik produk berbasis inulin dan sinistrin dari pasaran setelah sejumlah pasien mengalami reaksi hipersensitivitas, termasuk reaksi yang berakibat fatal.[9] Oleh karena itu, zat kontras ioheksol dan iotalamat menjadi alternatif yang semakin banyak digunakan untuk menentukan LFG dan dianggap memiliki akurasi yang memadai untuk menentukan LFG.[10]

Pelacak radioaktif

LFG juga dapat diukur secara akurat menggunakan senyawa radioaktif, khususnya kromium-51 dan teknesium-99m. Kedua senyawa tersebut memiliki sifat yang mendekati inulin (hanya mengalami filtrasi glomerulus), tetapi pemeriksaan dengan keduanya lebih praktis karena hanya memerlukan beberapa sampel urine atau darah.[11] Pengukuran klirens ginjal maupun klirens plasma menggunakan ⁵¹Cr-EDTA banyak digunakan di Eropa, tetapi tidak tersedia di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, ⁹⁹ᵐTc-DTPA dapat digunakan sebagai gantinya.[12] Klirens ginjal dan plasma menggunakan ⁵¹Cr-EDTA telah terbukti akurat apabila dibandingkan dengan baku emas, inulin.[13][10][8] Dalam pedoman di Britania Raya, penggunaan ⁵¹Cr-EDTA dianggap sebagai metode acuan untuk pengukuran LFG.[14]

Sistatin C

Berbagai keterbatasan kreatinin (seperti variasi massa otot, konsumsi daging baru-baru ini [meskipun pengaruhnya terhadap kreatinin jauh lebih kecil dibandingkan terhadap urea], dan faktor lainnya) mendorong pengembangan zat alternatif untuk memperkirakan LFG. Salah satunya adalah sistatin C, yaitu protein yang disekresikan oleh hampir semua sel tubuh dan berfungsi sebagai penghambat protease sistein.[15]

Sistatin C difiltrasi secara bebas oleh glomerulus. Setelah difiltrasi, sistatin C direabsorpsi dan dikatabolisme oleh sel epitel tubulus, sehingga hanya diekskresikan dalam jumlah kecil melalui urine. Oleh karena itu, kadar sistatin C diukur dalam darah, bukan dalam urine.

Berbagai persamaan telah dikembangkan untuk memperkirakan LFG berdasarkan kadar sistatin C dalam serum.[16] Beberapa persamaan yang lebih baru menggabungkan jenis kelamin, usia, serta kadar sistatin C dan kreatinin yang telah disesuaikan dalam persamaan. Pada tahun 2022, Joint Task Force on Reassessing the Inclusion of Race in Diagnosing Kidney Diseases dari National Kidney Foundation (NKF) dan American Society of Nephrology (ASN) merekomendasikan upaya nasional untuk meningkatkan penggunaan sistatin C secara rutin dan tepat waktu. Gugus tugas tersebut menyatakan bahwa sistatin C dapat berguna khususnya guna mengonfirmasi estimasi LFG pada orang dewasa yang berisiko mengalami atau telah menderita penyakit ginjal kronis. Mereka berpendapat bahwa penggunaan gabungan penanda filtrasi (kreatinin dan sistatin C) memberikan hasil yang lebih akurat dan dapat mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih baik dibandingkan penggunaan salah satu penanda tersebut secara tunggal.[17]

Penghitungan

Secara lebih tepat, LFG adalah laju aliran cairan antara kapiler glomerulus dan kapsula Bowman:

Q = d ⁡ V d ⁡ t = K f × ( P G − P B − Π G + Π B ) {\displaystyle Q={\operatorname {d} V \over \operatorname {d} t}=K_{f}\times (P_{G}-P_{B}-\Pi _{G}+\Pi _{B})} {\displaystyle Q={\operatorname {d} V \over \operatorname {d} t}=K_{f}\times (P_{G}-P_{B}-\Pi _{G}+\Pi _{B})}[18][19]

Di mana:

  • Q {\displaystyle Q} {\displaystyle Q} adalah LFG.
  • K f {\displaystyle K_{f}} {\displaystyle K_{f}} adalah konstanta filtrasi dan didefinisikan sebagai hasil kali konduktivitas hidraulik dan luas permukaan kapiler glomerulus.
  • P G {\displaystyle P_{G}} {\displaystyle P_{G}} adalah tekanan hidrostatik di dalam kapiler glomerulus.
  • P B {\displaystyle P_{B}} {\displaystyle P_{B}} adalah tekanan hidrostatik di dalam kapsula Bowman.
  • Π G {\displaystyle \Pi _{G}} {\displaystyle \Pi _{G}} adalah tekanan osmotik koloid di dalam kapiler glomerulus.
  • dan Π B {\displaystyle \Pi _{B}} {\displaystyle \Pi _{B}} adalah tekanan osmotik koloid di dalam kapsula Bowman.

Kf

Karena konstanta ini merupakan hasil kali konduktivitas hidraulik dan luas permukaan kapiler, K f {\displaystyle K_{f}} {\displaystyle K_{f}} hampir tidak mungkin diukur secara langsung. Namun, K f {\displaystyle K_{f}} {\displaystyle K_{f}} dapat ditentukan secara eksperimental. Metode untuk menentukan LFG dijelaskan pada bagian-bagian di atas dan di bawah. Berdasarkan persamaan tersebut, K f {\displaystyle K_{f}} {\displaystyle K_{f}} dapat diperoleh dengan membagi LFG hasil pengukuran eksperimental dengan tekanan filtrasi bersih (net filtration pressure):[18]

K f = LFG Tek. filtrasi bersih = LFG ( P G − P B − Π G + Π B ) {\displaystyle K_{f}={\frac {\textrm {LFG}}{\text{Tek. filtrasi bersih}}}={\frac {\textrm {LFG}}{(P_{G}-P_{B}-\Pi _{G}+\Pi _{B})}}} {\displaystyle K_{f}={\frac {\textrm {LFG}}{\text{Tek. filtrasi bersih}}}={\frac {\textrm {LFG}}{(P_{G}-P_{B}-\Pi _{G}+\Pi _{B})}}}

PG

Tekanan hidrostatik di dalam kapiler glomerulus ditentukan oleh perbedaan tekanan antara cairan yang masuk melalui arteriola aferen dan yang keluar melalui arteriola eferen. Perbedaan tekanan tersebut dapat diperkirakan dari hasil kali resistensi total arteriola yang bersangkutan dan aliran darah yang melaluinya:[19]

P a − P G = R a × Q a {\displaystyle P_{a}-P_{G}=R_{a}\times Q_{a}} {\displaystyle P_{a}-P_{G}=R_{a}\times Q_{a}}
P G − P e = R e × Q e {\displaystyle P_{G}-P_{e}=R_{e}\times Q_{e}} {\displaystyle P_{G}-P_{e}=R_{e}\times Q_{e}}

Di mana:

  • P a {\displaystyle P_{a}} {\displaystyle P_{a}} adalah tekanan arteriola aferen.
  • P G {\displaystyle P_{G}} {\displaystyle P_{G}} adalah tekanan hidrostatik di dalam kapiler glomerulus.
  • P e {\displaystyle P_{e}} {\displaystyle P_{e}} adalah tekanan arteriola eferen.
  • R a {\displaystyle R_{a}} {\displaystyle R_{a}} adalah resistensi arteriola aferen.
  • R e {\displaystyle R_{e}} {\displaystyle R_{e}} adalah resistensi arteriola eferen.
  • Q a {\displaystyle Q_{a}} {\displaystyle Q_{a}} adalah aliran darah yang melalui arteriola aferen.
  • Dan Q e {\displaystyle Q_{e}} {\displaystyle Q_{e}} adalah aliran darah yang melalui arteriola eferen.

PB

Tekanan dalam kapsula Bowman dan tubulus proksimal dapat ditentukan berdasarkan perbedaan antara tekanan dalam kapsula Bowman dan tekanan dalam tubulus desenden:[19]

P B − P d = R d × ( Q a − Q e ) {\displaystyle P_{B}-P_{d}=R_{d}\times (Q_{a}-Q_{e})} {\displaystyle P_{B}-P_{d}=R_{d}\times (Q_{a}-Q_{e})}

Di mana:

  • P d {\displaystyle P_{d}} {\displaystyle P_{d}} adalah tekanan dalam tubulus desenden.
  • Dan R d {\displaystyle R_{d}} {\displaystyle R_{d}} adalah resistensi tubulus desenden.

ΠG

Plasma darah mengandung banyak protein yang menghasilkan gaya ke arah dalam pada air dalam larutan hipotonis yang melintasi suatu membran. Gaya tersebut disebut tekanan osmotik; dalam hal ini, membran tersebut adalah kapsula Bowman. Karena protein plasma pada dasarnya tidak dapat keluar dari kapiler glomerulus, tekanan onkotik ini secara sederhana dapat didefinisikan menggunakan persamaan gas ideal:[18][19]

Π G = R T c {\displaystyle \Pi _{G}=RTc} {\displaystyle \Pi _{G}=RTc}

Di mana:

  • R adalah konstanta gas universal
  • T adalah suhu.
  • Dan c adalah konsentrasi protein plasma dalam mol/L (perlu diingat bahwa zat terlarut dapat berdifusi secara bebas melalui kapsula glomerulus).

ΠB

Nilai ini hampir selalu dianggap sama dengan nol karena pada nefron yang sehat seharusnya tidak terdapat protein di dalam kapsula Bowman.[18]

Fraksi filtrasi dan klirens

Fraksi filtrasi

Fraksi filtrasi adalah proporsi plasma yang benar-benar difiltrasi oleh ginjal. Fraksi filtrasi dapat dinyatakan dengan persamaan:

FF=LFGRPF

  • FF adalah fraksi filtrasi
  • LFG adalah laju filtrasi glomerulus
  • RPF adalah aliran plasma ginjal (renal blood flow)

Nilai normal fraksi filtrasi pada manusia adalah sekitar 20%.

Klirens ginjal

Cx=(Ux)VPx

  • Cx adalah klirens X (biasanya dinyatakan dalam mL/menit).
  • Ux adalah konsentrasi zat X dalam urine.
  • Px adalah konsentrasi zat X dalam plasma.
  • V adalah laju aliran urine.

Estimasi

Berbagai persamaan telah dikembangkan untuk memperkirakan LFG berdasarkan kadar kreatinin serum. Persamaan-persamaan tersebut memanfaatkan kadar kreatinin serum bersama variabel klinis tertentu, seperti usia dan jenis kelamin, untuk memperkirakan LFG. Persamaan Cockcroft–Gault dan CKD-EPI 2021 (lihat di bawah) tidak lagi menggunakan ras sebagai variabel. Meskipun demikian, hasil estimasi berbasis kreatinin tetap dipengaruhi oleh massa otot sehingga harus diinterpretasikan secara hati-hati pada pasien dengan massa otot yang sangat rendah atau sangat tinggi.[20]

Kesalahan yang sering terjadi adalah menafsirkan kadar kreatinin serum tanpa mempertimbangkan mempertimbangkan massa otot. Oleh karena itu, seorang perempuan lanjut usia dengan kadar kreatinin serum 1,4 mg/dL sebenarnya dapat menderita penyakit ginjal kronis dengan derajat sedang hingga berat, sedangkan laki-laki muda dengan massa otot yang besar masih dapat memiliki fungsi ginjal yang normal pada kadar kreatinin serum yang sama. Persamaan estimasi berbasis kreatinin juga harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan kaheksia maupun sirosis. Kedua kelompok pasien tersebut umumnya memiliki massa otot yang sangat rendah sehingga laju ekskresi kreatininnya jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan oleh persamaan estimasi. Akibatnya, pasien sirosis dengan kadar kreatinin serum 0,9 mg/dL dapat sebenarnya menderita penyakit ginjal kronis dengan derajat sedang hingga berat.

Estimasi LFG (eLFG) direkomendasikan oleh pedoman praktik klinis dan badan regulator untuk evaluasi rutin fungsi ginjal. Sebaliknya, LFG terukur (mGFR) dianjurkan sebagai pemeriksaan konfirmasi apabila diperlukan penilaian yang lebih akurat.[3]

Klirens kreatinin (CCr)

Salah satu cara menentukan LFG berdasarkan kreatinin adalah dengan mengumpulkan urine (umumnya selama 24 jam) untuk mengukur jumlah kreatinin yang dikeluarkan dari darah dalam selang waktu tertentu. Sebagai contoh, apabila sebanyak 1.440 mg kreatinin diekskresikan dalam 24 jam, maka laju ekskresinya setara dengan 1 mg/menit. Jika konsentrasi kreatinin dalam darah adalah 0,01 mg/mL (1 mg/dL), maka dapat dikatakan bahwa klirens kreatininnya adalah 100 mL/menit. Artinya, sebanyak 100 mL darah yang mengandung kreatinin dengan konsentrasi 0,01 mg/mL telah dibersihkan dari kreatinin untuk menghasilkan ekskresi sebesar 1 mg per menit.

Klirens kreatinin (CCr) dihitung berdasarkan konsentrasi kreatinin dalam sampel urine (UCr), laju aliran urine (Vdt), dan konsentrasi kreatinin dalam plasma (PCr). Karena hasil kali konsentrasi kreatinin dalam urine dan laju aliran urine menghasilkan laju ekskresi kreatinin, yaitu laju pembuangan kreatinin dari darah, maka klirens kreatinin dihitung dengan membagi laju ekskresi kreatinin (UCr×Vdt) dengan konsentrasi kreatinin plasma. Secara matematis, hubungan tersebut dinyatakan sebagai:

C C r = U C r × V ˙ P C r {\displaystyle C_{Cr}={\frac {U_{Cr}\times {\dot {V}}}{P_{Cr}}}} {\displaystyle C_{Cr}={\frac {U_{Cr}\times {\dot {V}}}{P_{Cr}}}}

Contoh: Seseorang memiliki konsentrasi kreatinin plasma sebesar 0,01 mg/mL. Dalam waktu satu jam, orang tersebut menghasilkan 60 mL urine dengan konsentrasi kreatinin 1,25 mg/mL.

C C r = 1 , 25   m g / m L × 60   m L 60   m e n i t 0 , 01   m g / m L = 1 , 25   m g / m L × 1   m L / m e n i t 0 , 01   m g / m L = 1 , 25   m g / m e n i t 0 , 01   m g / m L = 125   m L / m e n i t {\displaystyle C_{Cr}={\frac {\mathrm {1,25\ mg/mL\times {\frac {60\ mL}{60\ menit}}} }{\mathrm {0,01\ mg/mL} }}={\frac {\mathrm {{1,25\ mg/mL}\times {1\ mL/menit}} }{\mathrm {0,01\ mg/mL} }}={\frac {\mathrm {1,25\ mg/menit} }{\mathrm {0,01\ mg/mL} }}=\mathrm {125\ mL/menit} } {\displaystyle C_{Cr}={\frac {\mathrm {1,25\ mg/mL\times {\frac {60\ mL}{60\ menit}}} }{\mathrm {0,01\ mg/mL} }}={\frac {\mathrm {{1,25\ mg/mL}\times {1\ mL/menit}} }{\mathrm {0,01\ mg/mL} }}={\frac {\mathrm {1,25\ mg/menit} }{\mathrm {0,01\ mg/mL} }}=\mathrm {125\ mL/menit} }

Dalam praktik, prosedur yang paling umum dilakukan adalah pengumpulan urine selama 24 jam, dimulai setelah kandung kemih dikosongkan pada pagi hari dan diakhiri dengan mengumpulkan urine pertama pada pagi hari berikutnya. Sampel darah kemudian diambil untuk pemeriksaan kreatinin serum. Pada metode ini, laju aliran urine tetap dihitung dalam satuan per menit sehingga:

C C r = U C r   ×   volume urine 24 jam P C r   ×   24 × 60   m e n i t {\displaystyle C_{Cr}={\frac {U_{Cr}\ \times \ {\text{volume urine 24 jam}}}{\mathrm {P_{Cr}\ \times \ 24\times 60\ menit} }}} {\displaystyle C_{Cr}={\frac {U_{Cr}\ \times \ {\text{volume urine 24 jam}}}{\mathrm {P_{Cr}\ \times \ 24\times 60\ menit} }}}

Agar hasil dapat dibandingkan antarindividu dengan ukuran tubuh yang berbeda, nilai CCr sering dikoreksi terhadap luas permukaan tubuh (body surface area, BSA) dan dinyatakan dalam satuan mL/menit/1,73 m2. Meskipun sebagian besar orang dewasa memiliki BSA yang mendekati 1,7 m2 (sekitar 1,6–1,9 m2), pada pasien yang sangat obesitas atau sangat kurus, nilai CCr sebaiknya dikoreksi berdasarkan BSA aktual.

C Cr-terkoreksi = C C r   ×   B S A 1 , 73 {\displaystyle C_{\text{Cr-terkoreksi}}={\frac {{C_{Cr}}\ \times \ {BSA}}{\mathrm {1,73} }}} {\displaystyle C_{\text{Cr-terkoreksi}}={\frac {{C_{Cr}}\ \times \ {BSA}}{\mathrm {1,73} }}}
BSA dapat dihitung berdasarkan tinggi dan berat badan.

Pengumpulan urine selama 24 jam untuk mengukur klirens kreatinin kini tidak lagi dilakukan secara luas karena sulit memastikan bahwa seluruh urine telah terkumpul. Untuk menilai kelengkapan pengumpulan urine, biasanya dihitung jumlah kreatinin yang diekskresikan selama 24 jam. Nilai ini dipengaruhi oleh massa otot dan umumnya lebih tinggi pada orang muda dibandingkan orang lanjut usia serta lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Laju ekskresi kreatinin 24 jam yang jauh lebih rendah atau lebih tinggi dari perkiraan menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan tersebut tidak dapat diandalkan. Meskipun demikian, klirens kreatinin tetap bermanfaat pada keadaan ketika estimasi klirens kreatinin berdasarkan kadar kreatinin serum kurang akurat, misalnya untuk memperkirakan LFG pada individu dengan variasi asupan makanan (seperti diet vegetarian atau penggunaan suplemen kreatinin) maupun variasi massa otot (misalnya akibat amputasi, malnutrisi, atau penyusutan massa otot), karena faktor-faktor tersebut tidak diperhitungkan secara khusus dalam persamaan estimasi.[21]

Sejumlah persamaan telah dikembangkan untuk memperkirakan nilai LFG maupun Ccr berdasarkan kadar kreatinin serum. Kecuali jika dinyatakan lain, kadar kreatinin serum diasumsikan dinyatakan dalam satuan mg/dL, bukan μmol/L. Untuk mengonversi satuan μmol/L menjadi mg/dL, nilai kreatinin dibagi dengan 88,4.

Formula Cockcroft–Gault

Rumus Cockcroft–Gault (CG) merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan klirens kreatinin, yang selanjutnya digunakan untuk memperkirakan LFG dalam satuan mL/menit.[22] Rumus ini dinamai berdasarkan dua ilmuwan yang pertama kali memublikasikannya pada tahun 1976, yaitu ahli penyakit asma Donald William Cockcroft [de] (lahir 1946) dan ahli nefrologi Matthew Henry Gault [de] (1925–2003).[2][3] Rumus tersebut menggunakan kadar kreatinin serum serta berat badan pasien untuk memperkirakan klirens kreatinin.[23][24] Bentuk asli rumus tersebut saat dipublikasikan adalah:

e C C r = ( 140 − u s i a )   ×   berat badan (kilogram)   ×   [ 0,85 jika perempuan ] 72   ×   [ kreatinin serum (mg/dL) ] {\displaystyle eC_{Cr}={\frac {\mathrm {(140-usia)} \ \times \ {\text{berat badan (kilogram)}}\ \times \ [{\text{0,85 jika perempuan}}]}{\mathrm {72} \ \times \ [{\text{kreatinin serum (mg/dL)}}]}}} {\displaystyle eC_{Cr}={\frac {\mathrm {(140-usia)} \ \times \ {\text{berat badan (kilogram)}}\ \times \ [{\text{0,85 jika perempuan}}]}{\mathrm {72} \ \times \ [{\text{kreatinin serum (mg/dL)}}]}}}
Rumus ini menggunakan berat badan dalam satuan kilogram dan kadar kreatinin serum dalam satuan mg/dL, sebagaimana lazim digunakan di Amerika Serikat. Apabila pasien adalah perempuan, hasil perhitungan dikalikan dengan konstanta 0,85. Rumus ini banyak digunakan karena perhitungannya sederhana dan sering kali dapat dilakukan tanpa bantuan kalkulator.

Apabila kadar kreatinin serum dinyatakan dalam satuan μmol/L, rumusnya menjadi:

e C C r = ( 140 − u s i a )   ×   berat badan (kg)   ×   konstanta [ kreatinin serum ( μ m o l / L ) ] {\displaystyle eC_{Cr}={\frac {\mathrm {(140-usia)} \ \times \ {\text{berat badan (kg)}}\ \times \ {\text{konstanta}}}{[{\text{kreatinin serum (}}\mu \mathrm {mol/L)} ]}}} {\displaystyle eC_{Cr}={\frac {\mathrm {(140-usia)} \ \times \ {\text{berat badan (kg)}}\ \times \ {\text{konstanta}}}{[{\text{kreatinin serum (}}\mu \mathrm {mol/L)} ]}}}
dengan nilai konstanta 1,23 untuk laki-laki dan 1,04 untuk perempuan.

Salah satu karakteristik menarik dari rumus Cockcroft–Gault adalah besarnya pengaruh usia terhadap estimasi klirens kreatinin. Komponen usia dalam rumus tersebut adalah (140 − usia). Dengan demikian, seseorang yang berusia 20 tahun (140 – 20 = 120) akan memiliki estimasi klirens kreatinin sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan seseorang yang berusia 80 tahun (140 − 80 = 60) apabila keduanya memiliki kadar kreatinin serum yang sama. Selain itu, rumus Cockcroft–Gault mengasumsikan bahwa perempuan memiliki klirens kreatinin sekitar 15% lebih rendah dibandingkan laki-laki pada kadar kreatinin serum yang sama.

Rumus Modification of Diet in Renal Disease (MDRD)

Rumus lain yang digunakan untuk menghitung LFG adalah rumus yang dikembangkan oleh Modification of Diet in Renal Disease Study Group.[25] Sebagian besar laboratorium di Australia[26] dan Britania Raya menghitung serta melaporkan estimasi LFG bersamaan dengan hasil pemeriksaan kreatinin, dan praktik ini menjadi dasar dalam diagnosis penyakit ginjal kronis.[27][14] Meskipun demikian, penerapan pelaporan otomatis MDRD-eLFG telah menuai kritik yang luas.[28][29][30]

Rumus yang paling banyak digunakan adalah "MDRD 4 variabel", yang memperkirakan LFG berdasarkan empat variabel, yaitu kadar kreatinin serum, usia, etnis, dan jenis kelamin.[31] Rumus MDRD yang asli menggunakan enam variabel, dengan tambahan kadar nitrogen urea darah dan albumin serum.[25] Persamaan-persamaan tersebut telah divalidasi pada pasien penyakit ginjal kronis. Akan tetapi, baik rumus empat variabel maupun enam variabel cenderung menghasilkan nilai LFG yang lebih rendah daripada nilai sebenarnya pada individu sehat dengan LFG di atas 60 mL/menit.[32][33] Persamaan ini juga belum divalidasi pada pasien dengan gagal ginjal akut.

Untuk kadar kreatinin dalam μmol/L:

eLFG = 32.788   ×   [ Kreatinin Serum ] − 1.154   ×   Usia − 0 , 203   × [1,212 jika berkulit hitam]   × [0,742 jika perempuan] {\displaystyle {\text{eLFG}}={\text{32.788}}\ \times \ [{\text{Kreatinin Serum}}]^{-1.154}\ \times \ {\text{Usia}}^{-0,203}\ \times {\text{[1,212 jika berkulit hitam]}}\ \times {\text{[0,742 jika perempuan]}}} {\displaystyle {\text{eLFG}}={\text{32.788}}\ \times \ [{\text{Kreatinin Serum}}]^{-1.154}\ \times \ {\text{Usia}}^{-0,203}\ \times {\text{[1,212 jika berkulit hitam]}}\ \times {\text{[0,742 jika perempuan]}}}

Untuk kadar kreatinin dalam mg/dL:

eLFG = 186   ×   [ Kreatinin Serum ] − 1 , 154   ×   Usia − 0 , 203   × [1,212 jika berkulit hitam]   × [0,742 jika perempuan] {\displaystyle {\text{eLFG}}={\text{186}}\ \times \ [{\text{Kreatinin Serum}}]^{-1,154}\ \times \ {\text{Usia}}^{-0,203}\ \times {\text{[1,212 jika berkulit hitam]}}\ \times {\text{[0,742 jika perempuan]}}} {\displaystyle {\text{eLFG}}={\text{186}}\ \times \ [{\text{Kreatinin Serum}}]^{-1,154}\ \times \ {\text{Usia}}^{-0,203}\ \times {\text{[1,212 jika berkulit hitam]}}\ \times {\text{[0,742 jika perempuan]}}}

Kadar kreatinin dalam satuan μmol/L dapat dikonversi menjadi mg/dL dengan membaginya dengan 88,4. Angka 32.788 pada persamaan pertama setara dengan 186 × 88,41,154.

Versi rumus MDRD yang lebih lengkap juga memasukkan kadar albumin serum dan nitrogen urea darah (BUN):

eLFG = 170   ×   [ Kreatinin Serum ] − 0 , 999   ×   Usia − 0 , 176   × [0,762 jika perempuan]   × [1,180 jika berkulit hitam]   ×   BUN − 0 , 170   ×   Albumin + 0 , 318 {\displaystyle {\text{eLFG}}={\text{170}}\ \times \ [{\text{Kreatinin Serum}}]^{-0,999}\ \times \ {\text{Usia}}^{-0,176}\ \times {\text{[0,762 jika perempuan]}}\ \times {\text{[1,180 jika berkulit hitam]}}\ \times \ {\text{BUN}}^{-0,170}\ \times \ {\text{Albumin}}^{+0,318}} {\displaystyle {\text{eLFG}}={\text{170}}\ \times \ [{\text{Kreatinin Serum}}]^{-0,999}\ \times \ {\text{Usia}}^{-0,176}\ \times {\text{[0,762 jika perempuan]}}\ \times {\text{[1,180 jika berkulit hitam]}}\ \times \ {\text{BUN}}^{-0,170}\ \times \ {\text{Albumin}}^{+0,318}}
dengan kadar kreatinin serum dan BUN dinyatakan dalam mg/dL, sedangkan kadar albumin dinyatakan dalam g/dL.

Persamaan MDRD ini hanya digunakan apabila laboratorium belum mengalibrasi pengukuran kreatinin serum menggunakan isotope dilution mass spectrometry (IDMS). Apabila kreatinin serum yang digunakan telah dikalibrasi dengan metode IDMS (yang umumnya menghasilkan nilai sekitar 6% lebih rendah), maka hasil persamaan di atas harus dikalikan dengan 175/186 atau 0,94086.[34]

Karena rumus-rumus tersebut tidak memperhitungkan ukuran tubuh, hasilnya dinyatakan dalam satuan mL/menit/1,73 m2, dengan 1,73 m2 merupakan luas permukaan tubuh rata-rata orang dewasa yang memiliki berat badan 63 kg dan tinggi badan 1,7 m.

Rumus CKD-EPI

Rumus CKD-EPI (Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration) pertama kali dipublikasikan pada Mei 2009. Rumus ini dikembangkan untuk menghasilkan estimasi LFG yang lebih akurat dibandingkan rumus MDRD, terutama pada individu dengan LFG di atas 60 mL/menit/1,73 m2. Sejak tahun 2014, rumus ini direkomendasikan oleh National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris Raya.[14]

Untuk mengembangkan dan memvalidasi persamaan baru tersebut, para peneliti menggabungkan data dari berbagai penelitian. Sebanyak 10 penelitian yang melibatkan 8.254 peserta digunakan sebagai data pengembangan dan validasi internal, dengan dua pertiga data digunakan untuk mengembangkan persamaan dan sepertiga sisanya untuk validasi internal. Selain itu, 16 penelitian lain yang melibatkan 3.896 peserta digunakan untuk validasi eksternal.

Persamaan CKD-EPI menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan persamaan MDRD (Modification of Diet in Renal Disease Study), terutama pada nilai LFG yang lebih tinggi, dengan bias yang lebih kecil dan akurasi yang lebih tinggi. Berdasarkan data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), median estimasi LFG menggunakan persamaan CKD-EPI adalah 94.,5mL/menit/1,73m2, sedangkan dengan persamaan MDRD sebesar 85,0mL/menit /1,73m2. Selain itu, prevalensi penyakit ginjal kronis yang diperoleh masing-masing adalah 11,5% dan 13,1%. Meskipun secara keseluruhan lebih unggul dibandingkan persamaan MDRD, persamaan CKD-EPI menunjukkan kinerja yang kurang baik pada beberapa kelompok, termasuk pada perempuan berkulit hitam, lanjut usia, dan individu obesitas, serta kurang banyak digunakan oleh klinisi dibandingkan estimasi MDRD.[35]

Persamaan CKD-EPI 2009 adalah:

e L F G = 141   ×   min ( S C r / k , 1 ) a   ×   max ( S C r / k , 1 ) − 1 , 209   ×   0 , 993 Usia   × [1,018 jika perempuan]   × [1,159 jika berkulit hitam]   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =141\ \times \ \mathrm {\min(SCr/k,1)} ^{a}\ \times \ \mathrm {\max(SCr/k,1)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{Usia}}\ \times {\text{[1,018 jika perempuan]}}\ \times {\text{[1,159 jika berkulit hitam]}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =141\ \times \ \mathrm {\min(SCr/k,1)} ^{a}\ \times \ \mathrm {\max(SCr/k,1)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{Usia}}\ \times {\text{[1,018 jika perempuan]}}\ \times {\text{[1,159 jika berkulit hitam]}}\ }dengan:
  • SCr = kreatinin serum (mg/dL)
  • k = 0,7 untuk perempuan dan 0,9 untuk laki-laki
  • a = −0,329 untuk perempuan dan −0,411 untuk laki-laki
  • min = nilai terkecil antara SCr/k atau 1
  • max = nilai terbesar antara SCr/k atau 1

Persamaan tersebut juga dapat dituliskan secara terpisah untuk masing-masing kelompok populasi. Untuk kreatinin serum yang telah dikalibrasi dengan IDMS dan dinyatakan dalam satuan mg/dL:

Laki-laki, bukan berkulit hitam
Jika kreatinin serum (Scr) ≤ 0,9
e L F G = 141   ×   ( S C r / 0 , 9 ) − 0 , 411   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =141\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-0,411}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =141\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-0,411}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Jika kreatinin serum (Scr) > 0,9
e L F G = 141   ×   ( S C r / 0 , 9 ) − 1 , 209   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =141\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =141\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Perempuan, bukan berkulit hitam
Jika kreatinin serum (Scr) ≤ 0,7
e L F G = 144   ×   ( S C r / 0 , 7 ) − 0 , 329   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =144\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-0,329}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =144\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-0,329}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Jika kreatinin serum (Scr) > 0,7
e L F G = 144   ×   ( S C r / 0 , 7 ) − 1 , 209   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =144\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =144\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Laki-laki berkulit hitam
Jika kreatinin serum (Scr) ≤ 0,9
e L F G = 163   ×   ( S C r / 0 , 9 ) − 0 , 411   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =163\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-0,411}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =163\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-0,411}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Jika kreatinin serum (Scr) > 0,9
e L F G = 163   ×   ( S C r / 0 , 9 ) − 1 , 209   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =163\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =163\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Perempuan, berkulit hitam
Jika kreatinin serum (Scr) ≤ 0,7
e L F G = 166   ×   ( S C r / 0 , 7 ) − 0 , 329   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =166\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-0,329}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =166\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-0,329}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }
Jika kreatinin serum (Scr) > 0,7
e L F G = 166   ×   ( S C r / 0 , 7 ) − 1 , 209   ×   0 , 993 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =166\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =166\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-1,209}\ \times \ 0,993^{\text{usia}}\ }

Persamaan ini dikembangkan oleh Levey et al.[36]

Rumus CKD-EPI 2009 juga dilaporkan memberikan kemampuan yang lebih baik dalam memprediksi risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan rumus MDRD pada populasi usia paruh baya.[37]

Persamaan CKD-EPI 2021[38] tidak lagi menggunakan koefisien ras (lihat pembahasan di bawah). Persamaan tersebut adalah:

e L F G = 142   ×   min ( S C r / k , 1 ) a   ×   max ( S C r / k , 1 ) − 1 , 209   ×   0 , 9938 usia   × [1,012 jika perempuan]   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =142\ \times \ \mathrm {\min(SCr/k,1)} ^{a}\ \times \ \mathrm {\max(SCr/k,1)} ^{-1,209}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ \times {\text{[1,012 jika perempuan]}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =142\ \times \ \mathrm {\min(SCr/k,1)} ^{a}\ \times \ \mathrm {\max(SCr/k,1)} ^{-1,209}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ \times {\text{[1,012 jika perempuan]}}\ }dengan:
  • SCr = kreatinin serum (mg/dL)
  • k = 0,7 untuk perempuan dan 0,9 untuk laki-laki
  • a = −0,241 untuk perempuan dan −0,302 untuk laki-laki
  • min = nilai terkecil antara SCr/k atau 1
  • max = nilai terbesar antara SCr/k atau 1

Persamaan tersebut juga dapat disajikan dalam bentuk terpisah untuk masing-masing kelompok populasi sebagai berikut. Persamaan ini berlaku apabila kadar kreatinin serum telah dikalibrasi terhadap IDMS dan dinyatakan dalam satuan mg/dL:

Laki-laki
Jika kreatinin serum (Scr) ≤ 0,9
e L F G = 142   ×   ( S C r / 0 , 9 ) − 0 , 302   ×   0 , 9938 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =142\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-0,302}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =142\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-0,302}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ }
Jika kreatinin serum (Scr) > 0,9
e L F G = 142   ×   ( S C r / 0 , 9 ) − 1 , 2   ×   0 , 9938 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =142\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-1,2}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =142\ \times \ \mathrm {(SCr/0,9)} ^{-1,2}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ }
Perempuan
Jika kreatinin serum (Scr) ≤ 0,7
e L F G = 143   ×   ( S C r / 0 , 7 ) − 0 , 241   ×   0 , 9938 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =143\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-0,241}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =143\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-0,241}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ }
Jika kreatinin serum (Scr) > 0,7
e L F G = 143   ×   ( S C r / 0 , 7 ) − 1 , 200   ×   0 , 9938 usia   {\displaystyle \mathrm {eLFG} =143\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-1,200}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ } {\displaystyle \mathrm {eLFG} =143\ \times \ \mathrm {(SCr/0,7)} ^{-1,200}\ \times \ 0,9938^{\text{usia}}\ }

Rumus Kuadratik Mayo

Alat lain yang digunakan untuk memperkirakan LFG adalah rumus Kuadratik Mayo (Mayo Quadratic formula). Rumus ini dikembangkan oleh Rule et al.,[32] sebagai upaya untuk memperoleh estimasi LFG yang lebih akurat pada pasien dengan fungsi ginjal yang masih baik. Telah diketahui bahwa rumus MDRD cenderung menghasilkan estimasi LFG yang lebih rendah daripada nilai sebenarnya pada pasien dengan fungsi ginjal yang masih baik. Penelitian pada tahun 2008 menunjukkan bahwa Persamaan Kuadratik Mayo memiliki kesesuaian yang cukup baik dengan pengukuran LFG menggunakan radionuklida, tetapi dalam praktik klinis menunjukkan bias dan akurasi yang lebih buruk dibandingkan rumus MDRD.[39][40]

Persamaan tersebut adalah:

eGFR = exp ( 1 , 911 + 5 , 249 / [ kreatinin serum ] − 2 , 114 / [ kreatinin serum ] 2 − 0 , 00686   ×   usia − [0,205 jika perempuan] ) {\displaystyle {\text{eGFR}}={\text{exp}}{(1,911+5,249/[{\text{kreatinin serum}}]-2,114/[{\text{kreatinin serum}}]^{2}-0,00686\ \times \ {\text{usia}}-{\text{[0,205 jika perempuan]}})}} {\displaystyle {\text{eGFR}}={\text{exp}}{(1,911+5,249/[{\text{kreatinin serum}}]-2,114/[{\text{kreatinin serum}}]^{2}-0,00686\ \times \ {\text{usia}}-{\text{[0,205 jika perempuan]}})}}[40]

Apabila kadar kreatinin serum kurang dari 0,8 mg/dL, gunakan nilai 0,8 mg/dL sebagai kadar kreatinin serum dalam perhitungan.

Schwartz formula

Pada anak-anak, estimasi LFG menggunakan rumus Schwartz.[41][42] Rumus ini menggunakan kadar kreatinin serum (mg/dL), tinggi badan anak (cm), serta suatu konstanta untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus:

eLFG = k × tinggi badan kreatinin serum {\displaystyle {\text{eLFG}}={\frac {{k}\times {\text{tinggi badan}}}{\text{kreatinin serum}}}} {\displaystyle {\text{eLFG}}={\frac {{k}\times {\text{tinggi badan}}}{\text{kreatinin serum}}}}
dengan k merupakan suatu konstanta yang bergantung pada massa otot, yang juga bervariasi sesuai dengan usia anak:
  • pada tahun pertama kehidupan, k = 0,33 untuk bayi prematur[43] dan k = 0,45 untuk bayi cukup bulan[42]
  • untuk bayi dan anak berusia 1–12 tahun, k = 0,55.[41]

Pemilihan nilai konstanta k dipertanyakan karena bergantung pada metode baku emas yang digunakan untuk mengukur fungsi ginjal, seperti klirens inulin atau klirens kreatinin. Selain itu, nilainya juga dapat dipengaruhi oleh laju aliran urine pada saat pengukuran dilakukan.[44]

Pada tahun 2009, rumus ini diperbarui dengan menggunakan kadar kreatinin serum yang telah distandardisasi (dengan nilai k yang direkomendasikan sebesar 0,413). Selain itu, dikembangkan pula beberapa persamaan tambahan yang memberikan estimasi dengan presisi lebih tinggi apabila kadar sistatin C serum diukur bersama dengan kadar kreatinin serum.[45]

Upaya standardisasi IDMS

Salah satu kendala pada semua persamaan LFG yang berbasis kreatinin adalah bahwa metode pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah sangat bervariasi dalam kerentanannya terhadap pengaruh kromogen nonspesifik, yang dapat menyebabkan kadar kreatinin terukur menjadi lebih tinggi daripada nilai sebenarnya. Masalah ini terutama terdapat pada data yang digunakan untuk mengembangkan persamaan MDRD. Di Amerika Serikat, program NKDEP berupaya mengatasi masalah tersebut dengan mendorong seluruh laboratorium mengalibrasi pengukuran kreatinin terhadap suatu baku emas, yaitu isotope dilution mass spectrometry (IDMS). Hingga akhir tahun 2009, belum semua laboratorium di Amerika Serikat beralih ke sistem kalibrasi yang baru. Oleh karena itu, tersedia dua versi persamaan MDRD, bergantung pada apakah kadar kreatinin diukur menggunakan metode yang telah dikalibrasi terhadap IDMS atau belum. Sebaliknya, persamaan CKD-EPI dirancang untuk digunakan hanya dengan nilai kreatinin serum yang telah dikalibrasi terhadap IDMS.[butuh rujukan]

Rentang nilai normal

Rentang nilai normal LFG yang telah disesuaikan dengan luas permukaan tubuh adalah 100–130 mL/menit/1,73m2 (rata-rata 125 mL/menit/1,73m2) pada laki-laki serta 90–120 mL/menit/1,73m2 pada perempuan berusia kurang dari 40 tahun. Pada anak-anak, LFG yang diukur menggunakan klirens inulin adalah sekitar 110 mL/menit/1,73m2 hingga usia 2 tahun pada kedua jenis kelamin, kemudian menurun secara bertahap. Setelah usia 40 tahun, LFG terus menurun seiring bertambahnya usia dengan laju sekitar 0,4–1,2 mL/menit per tahun.[butuh rujukan]

Penurunan LFG

Penurunan fungsi ginjal dapat disebabkan oleh berbagai jenis penyakit ginjal. Apabila ditemukan penurunan fungsi ginjal, dianjurkan untuk melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan ultrasonografi (USG) ginjal dan urinalisis.[butuh rujukan] Hal-hal yang paling penting digali dalam anamnesis meliputi penggunaan obat-obatan, edema, nokturia, hematuria makroskopis, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, diabetes, dan poliuria. Temuan pemeriksaan fisik yang paling penting meliputi tanda-tanda vaskulitis, lupus eritematosus, diabetes, endokarditis, dan hipertensi.[butuh rujukan]

Urinalisis tetap bermanfaat meskipun tidak menunjukkan kelainan, karena hasil tersebut mengarah pada kemungkinan penyebab ekstrarenal. Sebaliknya, proteinuria dan/atau sedimen urine umumnya menunjukkan adanya penyakit glomerulus. Hematuria dapat disebabkan oleh penyakit glomerulus maupun penyakit pada saluran kemih.[butuh rujukan]

Pada pemeriksaan USG ginjal, temuan yang paling penting untuk dinilai meliputi ukuran ginjal, ekogenisitas, dan adanya tanda-tanda hidronefrosis. Pembesaran ginjal umumnya mengarah pada nefropati diabetik, glomerulosklerosis segmental fokal, atau mieloma. Sebaliknya, atrofi ginjal menunjukkan adanya penyakit ginjal kronis yang telah berlangsung lama.[butuh rujukan]

Stadium penyakit ginjal kronis

Artikel utama: Penyakit ginjal kronis

Faktor risiko penyakit ginjal meliputi diabetes, hipertensi, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, usia lanjut, kelompok etnis tertentu, dan kebiasaan merokok. Pada sebagian besar orang, LFG di atas 60 mL/menit/1,73m2 masih dianggap memadai. Namun, penurunan LFG yang bermakna dibandingkan hasil pemeriksaan sebelumnya dapat menjadi indikator awal penyakit ginjal yang memerlukan penanganan medis. Semakin dini gangguan fungsi ginjal didiagnosis dan ditangani, semakin besar peluang untuk mempertahankan nefron yang masih berfungsi serta mencegah kebutuhan akan dialisis.[butuh rujukan]

Stadium PGK Nilai LFG (mL/menit/1,73 m2)
Stadium 1 ≥ 90
Stadium 2 60–89
Stadium 3 30–59
Stadium 4 15–29
Stadium 5 < 15

Keparahan penyakit ginjal kronis (PGK) dibagi menjadi enam stadium. Tiga stadium terakhir ditentukan berdasarkan nilai MDRD-eLFG, sedangkan tiga stadium pertama juga mempertimbangkan adanya bukti lain kerusakan ginjal, misalnya proteinuria.

  • 0) Fungsi ginjal normal — LFG di atas 90 mL/menit/1,73 m2 tanpa proteinuria.
  • 1) PGK stadium 1 — LFG di atas 90 mL/menit/1,73 m2 disertai bukti kerusakan ginjal.
  • 2) PGK stadium 2 (ringan) — LFG 60–89 mL/menit/1,73 m2 disertai bukti kerusakan ginjal.
  • 3) PGK stadium 3 (sedang) — LFG 30–59 mL/menit/1,73 m2.
  • 4) PGK stadium 4 (berat) — LFG 15–29 mL/menit/1,73 m2.
  • 5) PGK stadium 5 (gagal ginjal) — LFG kurang dari 15 mL/menit/1,73 m2. Sebagian penulis menambahkan kategori PGK5D untuk pasien stadium 5 yang memerlukan dialisis. Namun, banyak pasien dengan PGK stadium 5 belum perlu menjalani dialisis.

Catatan: Sebagian penulis menambahkan huruf "T" pada klasifikasi pasien yang telah menjalani transplantasi ginjal, tanpa memandang stadiumnya.

Tidak semua klinisi menyetujui klasifikasi di atas. Beberapa berpendapat bahwa klasifikasi tersebut dapat menyebabkan pasien dengan penurunan fungsi ginjal ringan, terutama pada kelompok lanjut usia, diklasifikasikan sebagai penderita penyakit ginjal meskipun kondisi tersebut mungkin tidak mencerminkan suatu penyakit.[46][47] Untuk membahas kontroversi tersebut, Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) menyelenggarakan suatu konferensi pada tahun 2009 mengenai definisi, klasifikasi, dan prognosis PGK. Konferensi tersebut menghimpun berbagai data mengenai prognosis penyakit ginjal kronis sebagai dasar untuk menyempurnakan definisi dan sistem penentuan stadium PGK.[48]

Penghapusan ras dari perhitungan eLFG

Pada tahun 2017, Beth Israel Deaconess Medical Center menghapus koefisien ras untuk orang kulit hitam dari laporan estimasi laju filtrasi glomerulus (eLFG) mereka. Perubahan tersebut diikuti oleh peningkatan yang konsisten dalam persentase pasien kulit hitam yang tercantum sebagai kandidat transplantasi ginjal sebelum memulai dialisis. Hoenig et al. menyatakan bahwa, "Ras merupakan konstruksi sosial yang tidak dapat diukur secara objektif, dapat digunakan secara tidak tepat, dan berpotensi memperburuk kesenjangan akses pasien kulit hitam terhadap transplantasi ginjal."[49]

Pada tahun 2020, Vyas et al. menerbitkan sebuah artikel dalam The New England Journal of Medicine yang mengkritik penggunaan ras dalam perhitungan eLFG, karena menghasilkan nilai eLFG yang lebih tinggi pada pasien yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang kulit hitam. Mereka menjelaskan bahwa "para pengembang algoritma [perhitungan eLFG] membenarkan hasil tersebut berdasarkan bukti bahwa rata-rata kadar kreatinin serum pada orang kulit hitam lebih tinggi dibandingkan pada orang kulit putih. Salah satu penjelasan yang diajukan adalah bahwa orang kulit hitam melepaskan lebih banyak kreatinin ke dalam darah sejak awal, antara lain karena mereka dianggap memiliki massa otot yang lebih besar. Namun, sejumlah analisis telah meragukan anggapan tersebut, meskipun eLFG yang 'dikoreksi berdasarkan ras' masih tetap menjadi standar." Mereka kemudian menyimpulkan bahwa, "Selama penyebab perbedaan kadar kreatinin serum berdasarkan ras masih belum pasti, sebaiknya dipilih praktik yang berpotensi mengurangi daripada praktik yang justru dapat memperburuk ketidaksetaraan dalam pelayanan kesehatan."[50]

Pada Februari 2022, Joint Task Force on Reassessing the Inclusion of Race in Diagnosing Kidney Diseases yang dibentuk oleh National Kidney Foundation (NKF) dan American Society of Nephrology (ASN) merekomendasikan penggunaan persamaan CKD-EPI 2021, yang tidak lagi menggunakan faktor koreksi berdasarkan ras.[17]

Pada Juli 2022, OPTN Board menghapus penggunaan perhitungan berbasis ras dalam penetapan daftar calon penerima transplantasi di seluruh rumah sakit transplantasi di Amerika Serikat.[51]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Ganong (2016). "Renal Function & Micturition". Review of Medical Physiology (Edisi ke-25). McGraw-Hill Education. hlm. 677. ISBN 978-0-07-184897-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Stevens, Paul E.; Levin, Adeera (4 Juni 2013). "Evaluation and management of chronic kidney disease: synopsis of the kidney disease: improving global outcomes 2012 clinical practice guideline". Annals of Internal Medicine. 158 (11): 825–830. doi:10.7326/0003-4819-158-11-201306040-00007. ISSN 1539-3704. PMID 23732715.
  3. 1 2 Levey AS; Coresh J; Tighiouart H; Greene T; Inker LA (2020). "Measured and estimated glomerular filtration rate: current status and future directions". Nat Rev Nephrol. 16 (1): 51–64. doi:10.1038/s41581-019-0191-y. PMID 31527790. S2CID 202573933.
  4. ↑ Nosek, Thomas M. "Section 7/7ch04/7ch04p11". Essentials of Human Physiology. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Maret 2016. – "Glomerular Filtration Rate"
  5. 1 2 3 4 5 6 Ogobuiro, Ifeanyichukwu; Tuma, Faiz (2026), "Physiology, Renal", StatPearls, Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, PMID 30855923, diakses tanggal 20 Juni 2026
  6. 1 2 Kopp, Ulla C. (2011), "Neural Control of Renal Hemodynamics", Neural Control of Renal Function (dalam bahasa Inggris), Morgan & Claypool Life Sciences, diakses tanggal 20 Juni 2026
  7. ↑ Rose GA (1969). "Measurement of glomerular filtration rate by inulin clearance without urine collection". BMJ. 2 (5649): 91–3. doi:10.1136/bmj.2.5649.91. PMC 1982852. PMID 5775456.
  8. 1 2 Hsu, CY; Bansal, N (Agustus 2011). "Measured GFR as "gold standard"--all that glitters is not gold?". Clinical Journal of the American Society of Nephrology. 6 (8): 1813–4. doi:10.2215/cjn.06040611. PMID 21784836.
  9. ↑ Bui TV, Prot-Bertoye C, Ayari H, Baron S, Bertocchio JP, Bureau C, Davis P, Blanchard A, Houillier P, Prie D, Lillo-Le Louet A, Courbebaisse M (2021). "Safety of Inulin and Sinistrin: Combining Several Sources for Pharmacovigilance Purposes". Front Pharmacol. 12 725417. doi:10.3389/fphar.2021.725417. PMC 8637630. PMID 34867328.
  10. 1 2 Soveri I, Berg UB, Björk J, Elinder CG, Grubb A, Mejare I, Sterner G, Bäck SE (September 2014). "Measuring GFR: a systematic review". Am J Kidney Dis. 64 (3): 411–24. doi:10.1053/j.ajkd.2014.04.010. PMID 24840668.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Murray, A. W.; Barnfield, M. C.; Waller, M. L.; Telford, T.; Peters, A. M. (8 Mei 2013). "Assessment of Glomerular Filtration Rate Measurement with Plasma Sampling: A Technical Review". Journal of Nuclear Medicine Technology. 41 (2): 67–75. doi:10.2967/jnmt.113.121004. PMID 23658207.
  12. ↑ Speeckaert, Marijn; Delanghe, Joris (2015). "Assessment of renal function". Dalam Giuseppe, Daniel; Winearls, Christopher; Remuzzi, Giuseppe (ed.). Oxford Textbook of Clinical Nephrology (Edisi ke-4). Oxford: Oxford University Press. hlm. 44. ISBN 978-0-19-959254-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Henriksen, Ulrik L.; Henriksen, Jens H. (Januari 2015). "The clearance concept with special reference to determination of glomerular filtration rate in patients with fluid retention". Clinical Physiology and Functional Imaging. 35 (1): 7–16. doi:10.1111/cpf.12149. PMID 24750696. S2CID 44756080.
  14. 1 2 3 "Chronic kidney disease in adults: assessment and management". NICE. 23 Juli 2014. Diakses tanggal 19 Agustus 2016.
  15. ↑ Schück O, Teplan V, Jabor A, Stollova M, Skibova J (2003). "Glomerular filtration rate estimation in patients with advanced chronic renal insufficiency based on serum cystatin C levels". Nephron Clin Pract. 93 (4): c146–51. doi:10.1159/000070234. PMID 12759583.
  16. ↑ Stevens LA; Coresh J; Schmid CH; Feldman, Harold I.; Froissart, Marc; Kusek, John; Rossert, Jerome; Van Lente, Frederick; Bruce, Robert D. (Maret 2008). "Estimating GFR using serum cystatin C alone and in combination with serum creatinine: a pooled analysis of 3,418 individuals with CKD". American Journal of Kidney Diseases. 51 (3): 395–406. doi:10.1053/j.ajkd.2007.11.018. PMC 2390827. PMID 18295055.
  17. 1 2 Delgado C, Baweja M, Crews DC, Eneanya ND, Gadegbeku CA, Inker LA, Mendu ML, Miller WG, Moxey-Mims MM, Roberts GV, St Peter WL, Warfield C, Powe NR (Februari 2022). "A Unifying Approach for GFR Estimation: Recommendations of the NKF-ASN Task Force on Reassessing the Inclusion of Race in Diagnosing Kidney Disease". Am J Kidney Dis. 79 (2): 268–288.e1. doi:10.1053/j.ajkd.2021.08.003. PMID 34563581.
  18. 1 2 3 4 Guyton, Arthur; Hall, John (2006). "26: Urine Formation by the Kidneys: I. Glomerular Filtration, Renal Blood Flow, and Their Control". Dalam Gruliow, Rebecca (ed.). Textbook of Medical Physiology (Edisi ke-11). Elsevier. hlm. 308–325. ISBN 978-0-7216-0240-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. 1 2 3 4 Keener, James; Sneyd, James (2004). "20: Renal Physiology". Dalam Marsden, J.E. (ed.). Mathematical Physiology (Buku). Interdisciplinary Mathematics. Vol. 8 (Mathematical Biology). Sirovich, Wiggins (Edisi ke-1). Springer. hlm. 612–636. doi:10.1007/0-387-22706-7_20. ISBN 978-0-387-98381-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  20. ↑ Stehlé T, Delanaye P (Oktober 2024). "Which is the best glomerular filtration marker: Creatinine, cystatin C or both?". Eur J Clin Invest. 54 (10) e14278. doi:10.1111/eci.14278. PMID 38949475.
  21. ↑ "KDOQI CKD Guidelines". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-03. Diakses tanggal 2010-08-25.
  22. ↑ GFR Calculator at cato.at – Cockcroft-Gault Diarsipkan 5 September 2004 di Wayback Machine – GFR calculation (Cockcroft-Gault formula)
  23. ↑ Cockcroft DW, Gault MH (1976). "Prediction of creatinine clearance from serum creatinine". Nephron. 16 (1): 31–41. doi:10.1159/000180580. PMID 1244564.
  24. ↑ Gault MH, Longerich LL, Harnett JD, Wesolowski C (1992). "Predicting glomerular function from adjusted serum creatinine". Nephron. 62 (3): 249–56. doi:10.1159/000187054. PMID 1436333.
  25. 1 2 Levey AS, Bosch JP, Lewis JB, Greene T, Rogers N, Roth D (Maret 1999). "A more accurate method to estimate glomerular filtration rate from serum creatinine: a new prediction equation. Modification of Diet in Renal Disease Study Group". Annals of Internal Medicine. 130 (6): 461–70. doi:10.7326/0003-4819-130-6-199903160-00002. PMID 10075613. S2CID 1902375.
  26. ↑ Mathew TH, Johnson DW, Jones GR (Oktober 2007). "Chronic kidney disease and automatic reporting of estimated glomerular filtration rate: revised recommendations". The Medical Journal of Australia. 187 (8): 459–63. doi:10.5694/j.1326-5377.2007.tb01357.x. PMID 17937643. S2CID 14920030.
  27. ↑ Joint Specialty Committee on Renal Disease (Juni 2005). "Chronic kidney disease in adults: UK guidelines for identification, management and referral" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 19 Oktober 2007.
  28. ↑ Davey RX (Januari 2006). "Chronic kidney disease and automatic reporting of estimated glomerular filtration rate". The Medical Journal of Australia. 184 (1): 42–3, author reply 43. doi:10.5694/j.1326-5377.2006.tb00098.x. hdl:2440/34660. PMID 16398632. S2CID 9648508.
  29. ↑ Twomey PJ, Reynolds TM (November 2006). "The MDRD formula and validation". QJM. 99 (11): 804–5. doi:10.1093/qjmed/hcl108. PMID 17041249.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  30. ↑ Kallner A, Ayling PA, Khatami Z (2008). "Does eGFR improve the diagnostic capability of S-Creatinine concentration results? A retrospective population based study". International Journal of Medical Sciences. 5 (1): 9–17. doi:10.7150/ijms.5.9. PMC 2204044. PMID 18219370. S2CID 14970724.
  31. ↑ National Kidney Foundation (Februari 2002). "K/DOQI clinical practice guidelines for chronic kidney disease: evaluation, classification, and stratification". American Journal of Kidney Diseases. 39 (2 Suppl 1): S1–266. doi:10.1016/S0272-6386(02)70081-4. PMID 11904577.
  32. 1 2 Rule AD, Larson TS, Bergstralh EJ, Slezak JM, Jacobsen SJ, Cosio FG (Desember 2004). "Using serum creatinine to estimate glomerular filtration rate: accuracy in good health and in chronic kidney disease". Annals of Internal Medicine. 141 (12): 929–37. doi:10.7326/0003-4819-141-12-200412210-00009. PMID 15611490. S2CID 30342139.
  33. ↑ Levey AS; Coresh J; Greene T; Stevens, LA; Zhang, YL; Hendriksen, S; Kusek, JW; Van Lente, F; Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (Agustus 2006). "Using standardized serum creatinine values in the modification of diet in renal disease study equation for estimating glomerular filtration rate". Annals of Internal Medicine. 145 (4): 247–54. doi:10.7326/0003-4819-145-4-200608150-00004. PMID 16908915. S2CID 37149831.
  34. ↑ "GFR MDRD Calculator for Adults". National Kidney Disease Education Program. United States: National Institutes of Health. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2012. Diakses tanggal 16 November 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. ↑ Hougardy, JM; Delanaye, P; Le Moine, A; Nortier, J (2014). "Estimation of the glomerular filtration rate in 2014 by tests and equations: strengths and weaknesses". Rev Med Brux (dalam bahasa Prancis). 35 (4): 250–7. PMID 25675627.
  36. ↑ Levey AS; Stevens LA; Schmid CH; Zhang, YL; Castro, Af; Feldman, HI; Kusek, JW; Eggers, P; Van Lente, F (Mei 2009). "A new equation to estimate glomerular filtration rate". Annals of Internal Medicine. 150 (9): 604–12. doi:10.7326/0003-4819-150-9-200905050-00006. PMC 2763564. PMID 19414839.
  37. ↑ Matsushita K, Selvin E, Bash LD, Astor BC, Coresh J (April 2010). "Risk implications of the new CKD Epidemiology Collaboration (CKD-EPI) equation compared with the MDRD Study equation for estimated GFR: the Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) Study". American Journal of Kidney Diseases. 55 (4): 648–59. doi:10.1053/j.ajkd.2009.12.016. PMC 2858455. PMID 20189275.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. ↑ Inker LA, Eneanya ND, Coresh J, Tighiouart H, Wang D, Sang Y, Crews DC, Doria A, Estrella MM, Froissart M, Grams ME, Greene T, Grubb A, Gudnason V, Gutiérrez OM, Kalil R, Karger AB, Mauer M, Navis G, Nelson RG, Poggio ED, Rodby R, Rossing P, Rule AD, Selvin E, Seegmiller JC, Shlipak MG, Torres VE, Yang W, Ballew SH, Couture SJ, Powe NR, Levey AS (November 2021). "New Creatinine- and Cystatin C-Based Equations to Estimate GFR without Race". N Engl J Med. 385 (19): 1737–49. doi:10.1056/NEJMoa2102953. PMC 8822996. PMID 34554658.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. ↑ Saleem, Mohamed; Florkowski, Christopher M; George, Peter M (2008). "Comparison of the Mayo Clinic Quadratic Equation with the Modification of Diet in Renal Disease equation and radionuclide glomerular filtration rate in a clinical setting". Nephrology. 13 (8): 684–8. doi:10.1111/j.1440-1797.2008.01045.x. ISSN 1320-5358. PMID 19154321. S2CID 45943783.
  40. 1 2 Fontsere, N.; Bonal, J.; Salinas, I.; de Arellano, M. R.; Rios, J.; Torres, F.; Sanmarti, A.; Romero, R. (2008). "Is the New Mayo Clinic Quadratic Equation Useful for the Estimation of Glomerular Filtration Rate in Type 2 Diabetic Patients?". Diabetes Care. 31 (12): 2265–7. doi:10.2337/dc08-0958. PMC 2584175. PMID 18835955. S2CID 24211196.
  41. 1 2 Schwartz GJ, Haycock GB, Edelmann CM, Spitzer A (Agustus 1976). "A simple estimate of glomerular filtration rate in children derived from body length and plasma creatinine". Pediatrics. 58 (2): 259–63. doi:10.1542/peds.58.2.259. PMID 951142. S2CID 38437700.
  42. 1 2 Schwartz GJ, Feld LG, Langford DJ (Juni 1984). "A simple estimate of glomerular filtration rate in full-term infants during the first year of life". The Journal of Pediatrics. 104 (6): 849–54. doi:10.1016/S0022-3476(84)80479-5. PMID 6726515.
  43. ↑ Brion LP, Fleischman AR, McCarton C, Schwartz GJ (Oktober 1986). "A simple estimate of glomerular filtration rate in low birth weight infants during the first year of life: noninvasive assessment of body composition and growth". The Journal of Pediatrics. 109 (4): 698–707. doi:10.1016/S0022-3476(86)80245-1. PMID 3761090.
  44. ↑ Haenggi MH, Pelet J, Guignard JP (Februari 1999). "Estimation of glomerular filtration rate by the formula GFR = K x T/Pc". Archives de Pédiatrie (dalam bahasa Prancis). 6 (2): 165–72. doi:10.1016/S0929-693X(99)80204-8. PMID 10079885.
  45. ↑ Schwartz GJ; Muñoz A; Schneider MF; Mak, R. H.; Kaskel, F.; Warady, B. A.; Furth, S. L. (Maret 2009). "New equations to estimate GFR in children with CKD". Journal of the American Society of Nephrology. 20 (3): 629–37. doi:10.1681/ASN.2008030287. PMC 2653687. PMID 19158356.
  46. ↑ Bauer C, Melamed ML, Hostetter TH (2008). "Staging of Chronic Kidney Disease: Time for a Course Correction". Journal of the American Society of Nephrology. 19 (5): 844–46. doi:10.1681/ASN.2008010110. PMID 18385419.
  47. ↑ Eckardt KU, Berns JS, Rocco MV, Kasiske BL (Juni 2009). "Definition and Classification of CKD: The Debate Should Be About Patient Prognosis—A Position Statement From KDOQI and KDIGO" (PDF). American Journal of Kidney Diseases. 53 (6): 915–920. doi:10.1053/j.ajkd.2009.04.001. PMID 19406541. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Juli 2011.
  48. ↑ "KDIGO Controversies Conference: Definition, Classification and Prognosis in CKD, London, October 2009". Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 24 November 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  49. ↑ Hoenig, MP; Mann, A; Pavlakis, M (Februari 2022). "Removal of the Black race coefficient from the estimated glomerular filtration equation improves transplant eligibility for Black patients at a single center". Clinical Transplantation. 36 (2) e14467. doi:10.1111/ctr.14467. PMID 34605076. S2CID 238256526.
  50. ↑ Vyas, Darshali A.; Eisenstein, Leo G.; Jones, David S. (27 Agustus 2020). "Hidden in Plain Sight — Reconsidering the Use of Race Correction in Clinical Algorithms". New England Journal of Medicine. 383 (9): 874–882. doi:10.1056/NEJMms2004740. PMID 32853499.
  51. ↑ "OPTN Board approves elimination of race-based calculation for transplant candidate listing - OPTN". optn.transplant.hrsa.gov. UNOS News Bureau. Diakses tanggal 12 Desember 2023.

Pranala luar

Pranala referensi

Templat:Fisiologi ginjal

Ikon rintisan

Artikel bertopik anatomi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan