| Nama sebelumnya | Bank Internasional Indonesia (1959–2015) |
|---|---|
| BEI: BNII | |
| Industri | Jasa keuangan |
| Entitas pendahulu | Bank Tabungan Untuk Umum 1859 |
| Kantor pusat | |
Wilayah yang dilayani | |
Tokoh kunci | Steffano Ridwan (Direktur Utama) Khairussaleh Ramli (Komisaris Utama)[1] |
| Layanan | |
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Pemilik | Sinar Mas Group (1982–1999) BPPN (1999–2003) Temasek Holdings dan KB Kookmin Bank (2003–2008) Maybank (2008–sekarang) |
Jumlah karyawan | 6.246 (2025)[1] |
| Induk | Sorak Financial Holdings Pte. Ltd. (45,02%) Maybank Offshore Corporate Services (Labuan) Sdn. Bhd. (33,95%) |
| Situs web | www.maybank.co.id |
PT Bank Maybank Indonesia Tbk (sebelumnya bernama Bank Internasional Indonesia, disingkat BII) adalah sebuah bank swasta devisa terkemuka di Indonesia. Maybank Indonesia merupakan bagian dari grup Malayan Banking Berhad (Maybank), salah satu grup penyedia layanan keuangan terbesar di ASEAN. Hingga akhir 2025, bank ini memiliki 10 kantor wilayah, 79 kantor cabang, 175 kantor cabang pembantu, dan 661 ATM yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia, ditambah 1 kantor cabang internasional di Mumbai, India.[1]
Sejarah
Perkembangan hingga 1999
Bank ini awalnya didirikan dengan nama Bank Internasional Indonesia pada tanggal 15 Mei 1959[2] oleh sekelompok pengusaha seperti Aridi Penjamin dan Jap Ing Hoat,[3] dan tercatat sempat berganti tiga kali pemilik dan merger di tanggal 31 Maret 1980 dengan PT Bank Tabungan untuk Umum 1859, Surabaya. Terakhir, pada awal 1980-an, BII dikuasai oleh Iskandar Widyadi,[4] seorang pengusaha tekstil (yang juga sempat memiliki Bank Jasa Jakarta). Pada Agustus 1982, 70% saham BII diambilalih[2] oleh konglomerat Eka Tjipta Widjaja,[5] dengan harga Rp 13 miliar.[6] Aset bank itu saat diakuisisi hanya sebesar Rp 13 miliar dan modalnya Rp 3 miliar ditambah 2 cabang (kantor pusat di Jakarta dan cabang di Surabaya).[2]
Setelah menjadi bagian Grup Sinar Mas, BII selanjutnya berhasil meningkatkan kinerjanya dengan pada 1984 menjadi bank terbesar kedua dari kelompok non-devisa,[7] memiliki 11 cabang (akhir 1980-an), dan modalnya meningkat menjadi Rp 38,5 miliar.[2][8] Sejak 10 November 1988, BII telah menyandang status sebagai bank devisa.[9] Setelah Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 (Pakto), pertumbuhan BII jauh lebih mengesankan dengan tercatat sebagai bank swasta terbesar ketiga, meningkatkan cabangnya menjadi 25 buah[2] dan di tanggal 27 September 1989, modal dasar BII ditingkatkan dari Rp 60 miliar menjadi Rp 300 miliar.[10] Keluarga Widjaja sebagai pemilik bank ini juga memprofesionalisasi operasionalnya dari bank keluarga menjadi bank modern.[11]
BII memiliki lebih dari 100 cabang pada awal 1990-an, dan memfokuskan bisnisnya pada sektor korporat, ditambah sektor yang belum tersentuh bank-bank lain saat itu, seperti pembiayaan kendaraan dan kartu kredit.[8] Meskipun demikian, BII kemudian mulai agresif menyentuh sektor konsumer dengan aneka promosi bernilai ratusan juta rupiah.[11] Pada 21 November 1989, BII mencatatkan sahamnya (12 juta lembar, atau 9,6%) sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya (sekarang telah merger menjadi Bursa Efek Indonesia) dengan harga penawaran Rp 11.000/lembar.[12][13] BII kemudian juga mendirikan bank asing patungan dengan nama PT Fuji Bank International Indonesia (kini Bank Mizuho Indonesia), PT Bank Credit Lyonnais Indonesia (kini bernama Bank Capital Indonesia) dan PT Bank BII Commonwealth (kemudian menjadi Bank Commonwealth, kini merger dengan OCBC) serta mendirikan beberapa kantor di luar negeri, seperti di Singapura dan Kepulauan Cayman.[8] BII juga mendirikan anak usaha BII Finance Center dan akuisisi perusahaan di Hong Kong bernama Alied Asia Finance Co. Ltd. (kemudian menjadi BII Finance Co. Ltd.),[14] dan sebuah bank di Tiongkok bernama Bank International Ningbo.[15]
Asetnya kemudian naik menjadi mendekati Rp 10 triliun di periode 1990-an.[6] BII berkembang sebagai bank swasta papan atas (urutan ketiga dan yang paling menguntungkan pada tahun 1995),[16] dengan 165 cabang[15] dan menjadi salah satu pilar bisnis utama dan paling menguntungkan dari Sinar Mas Group.[10] Tercatat, dengan kinerjanya yang cukup bagus, BII sempat meraih penghargaan dari sejumlah publikasi dan lembaga internasional.[17] BII kemudian sejak 1998 juga mengembangkan internet banking terawal di Indonesia.[18] Sebelum 1998, 51% saham BII dikuasai oleh lengan usaha Sinar Mas Group di bidang keuangan, PT Sinar Mas Multiartha Tbk,[19] dan sebelumnya, dimiliki sahamnya oleh PT Sinar Mas Tunggal dan PT Supra Veritas yang juga dimiliki grup tersebut.[20]
Berganti-ganti kepemilikan
Kepemilikan Eka Tjipta Widjaja harus hilang pada akhir 1990-an dengan masuknya BII dalam program rekapitalisasi, yang diadakan pada Maret 1999 seiring krisis ekonomi di akhir 1990-an.[21] Rekapitalisasi dilakukan setelah BII terjerat utang US$ 4,6 miliar sejak April 1998,[17] dan rasio kecukupan modalnya turun hingga -15%.[14] Lewat rekapitalisasi berbiaya Rp 6,6 triliun,[22] pada 31 Desember 2000, pemerintah (via Badan Penyehatan Perbankan Nasional/BPPN) memegang 56,78% saham di bank ini.[23] Meskipun demikian, saat itu, manajemen BII masih dikelola oleh orang-orang lama (Sinar Mas),[22] dan grup tersebut masih memegang sekitar 18% saham,[24] yang direncanakan akan ditambah dengan buyback dari pemerintah.[14] Bahkan, dikabarkan awalnya Sinar Mas sudah mengembalikan dana rekapitalisasi BII dari pemerintah sebesar Rp 2 triliun.[25]
Belakangan, pemerintah terpaksa menyuntikkan modal kembali di BII kembali lewat mekanisme rights issue senilai Rp 4,8 triliun, yang membuat keluarga Widjaja menyerahkan seluruh sisa sahamnya (efektif sejak 17 April 2002).[26][27] Tindakan ini diambil ketika terkuak pada tahun 2001 BII tidak kunjung sehat akibat kredit macet yang disalurkan kepada perusahaan milik Sinar Mas Group sebanyak US$ 1,43 miliar,[28] belum lagi kredit macet raksasa yang diderita perusahaan kertas Asia Pulp & Paper senilai US$ 14 miliar. Rasio kecukupan modalnya pada tahun itu anjlok hingga -47,5%, kredit macetnya menjadi 61,88% dari total kredit,[29][30] ditambah kerugian Rp 4,1 triliun, belum lagi harga sahamnya yang anjlok hingga Rp 20/lembar.[31] Sebagai bayaran dari pengambilalihan itu dan penyelesaian utangnya, Eka Tjipta Widjaja kemudian menyerahkan sebagian asetnya ke BPPN dengan total US$ 1,2 miliar.[30] Direksi BII pasca pengendalian penuh pemerintah dirombak, dan berada di bawah kendali BPPN sejak 13 Juli 2001 sebagai bank dalam penyehatan.[32] Melalui sejumlah proses, pada tahun 2002 rasio kecukupan modal bank ini sudah menjadi 38%.[26] Untuk menyegarkan citranya setelah sehat, sejak 15 Januari 2003 BII juga sudah memiliki logo baru.[33] BII juga membuka cabang bank syariahnya (UUS) di periode ini.[24]
Pada saat bank ini kembali tertimpa masalah pada tahun 2001, sempat ada isu rencana BII akan dimerger dengan Bank Mandiri dengan alasan BII cukup potensial (aset Rp 37,4 triliun dan nasabah 2 juta orang).[34] Belakangan, rencana itu batal dan pemerintah berencana untuk mendivestasi 71% sahamnya di BII (dari 93,6%) pada Juli 2003.[35] Melalui tender, muncul peminat seperti Sorak Financial Holdings Pte. Ltd. (konsorsium yang dipimpin Kookmin Bank bersama Temasek Holdings, Barclays, dll), UOB Bank dan Panin Bank-ANZ.[36] Kemudian, pada November 2003, BPPN dan pemerintah resmi menetapkan konsorsium Sorak sebagai pemenang divestasi 51% saham BII[37][38] dengan harga Rp 2,1 triliun.[39] Sisa saham pemerintah kemudian dilepas pada tahun 2005 sebesar 15,25% dengan total penjualan Rp 1,35 triliun,[40] dan 5,5% lainnya pada 16 November 2006.[41][42] Meskipun demikian, sempat ada rumor tidak sedap mengenai pelepasan saham ke konsorsium Sorak tersebut, karena pemerintah dianggap merugi dari transaksi itu.[43] Sejak 22 April 2004, BPPN melepaskan pengawasannya atas BII kembali ke tangan Bank Indonesia.[44] Sementara itu, pada tahun 2005, Sinar Mas kembali membeli bank kecil lain bernama Bank Shinta, yang saat ini bernama Bank Sinarmas untuk kembali ke bisnis perbankan.[45]
Akuisisi Maybank dan pergantian nama
Kepemilikan konsorsium tersebut kemudian saling "diperebutkan" anggotanya. Sempat ada berbagai isu, seperti rencana Temasek menjual sahamnya ke Kookmin,[46] rencana merger BII-Bank Danamon yang keduanya memang dimiliki Temasek,[47][48][49] rencana penjualan ke bank BUMN, dll.[50] Belakangan, setelah sempat terkatung-katung,[51] pada 2008 BII diakuisisi oleh Maybank melalui anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, yaitu Maybank Offshore Corporate Services (Labuan) Sdn. Bhd. dan Sorak Financial Holdings Pte. Ltd. yang dibeli dari anak usaha Temasek, Fullerton Financial Holdings Pte. Ltd. Pelepasan ini ditujukan dalam rangka memenuhi kewajiban pemerintah tentang Single Presence Policy di dunia perbankan.[52][53] Akuisisi oleh Maybank ini selesai dilakukan pada 30 September 2008 dengan total saham 55,51% dan harga US$ 2 miliar.[54] Saham Maybank kemudian naik menjadi 97,52%[55] dengan tender offer pada bulan Desember 2008; saham ini kemudian dilepas sebagian pada tahun 2013 untuk memenuhi kewajiban saham publik.[56] Tidak lama setelah itu juga, logo BII berubah dengan penambahan logo Maybank di bawahnya.
Melalui persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 23 September 2015, Bank Internasional Indonesia (BII) berubah nama menjadi Bank Maybank Indonesia,[57] mengukuhkan identitasnya sebagai entitas utuh yang tidak terpisahkan dari Grup Maybank serta senantiasa berusaha untuk menghadirkan Humanising Financial Services kepada semua pemangku kepentingan. Maybank Indonesia merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia yang terkoneksi dengan jaringan regional maupun internasional Grup Maybank. Per 31 Desember 2018 Maybank Indonesia memiliki 385 cabang[58] termasuk kantor cabang syariah dan kantor fungsional mikro yang tersebar di Indonesia serta satu cabang luar negeri (Mumbai, India), 2 mobil kas keliling dan 1.606 ATM[59] termasuk CDM[60] (Cash Deposit Machine) yang terkoneksi dengan lebih dari 20.000 ATM tergabung dalam jaringan ATM Prima, ATM Bersama, ALTO, Cirrus dan terhubung dengan 3.500 ATM Maybank di Singapura, Malaysia dan Brunei melalui jaringan MEPS.
Maybank Indonesia menyediakan serangkaian produk dan jasa komprehensif bagi nasabah individu maupun korporasi melalui layanan Community Financial Services (Perbankan Ritel dan Perbankan Non-Ritel) dan Perbankan Global, serta pembiayaan otomotif melalui entitas anak yaitu WOM Finance untuk kendaraan roda dua dan Maybank Finance untuk kendaraan roda empat. Maybank Indonesia juga terus mengembangkan layanan dan kapasitas digital melalui Mobile Banking, Internet Banking, Maybank M2U (mobile banking berbasis internet banking) dan berbagai saluran lainnya. Per 30 Juni 2019, Maybank Indonesia mengelola simpanan nasabah sebesar Rp 125,2 triliun dan memiliki aset senilai Rp 183,6 triliun.
Manajemen
Dewan Komisaris
- Presiden Komisaris: Dato’ Khairussaleh Ramli
- Komisaris: Datuk Lim Hong Tat
- Komisaris: Dato' Zulkiflee Abbas Abdul Hamid
- Komisaris Independen: Putut Eko Bayuseno
- Komisaris Independen: Marina R. Tusin
- Komisaris Independen: Edwin Gerungan
- Komisaris Independen: Hendar
- Komisaris Independen: Daniel James Rompas
Dewan Direksi
- Presiden Direktur: Steffano Ridwan
- Direktur Keuangan: Shaiful Adhli Yazid
- Direktur Operasional : Widya Permana
- Direktur Community Financial Services: Bianto Surodjo
- Direktur Legal, Kepatuhan, Sekretaris Perusahaan, Anti-Fraud: Yessika Effendi
- Direktur Manajemen Risiko: Effendi
- Direktur Perbankan Global: Ricky Antariksa
- Direktur Human Capital: Irvandi Ferizal
- Direktur Teknologi Informasi: Bambang Andri Irawan
- Direktur Unit Usaha Syariah: Romy Hardiansyah
Dewan Pengawas Syariah
- Ketua: M. Saad
- Anggota: Sodikun
- Anggota: Ahmad Satori Ismail
Identitas
Logo
- Logo BII (2001-2003)
- Logo BII (2003-2015)
Slogan
Sebagai BII
- Kami Senang Menjadi Bank Anda (hingga 2001)
- Melayani Lebih Baik dan Peduli (2001-2003)
- Bank Lokal Sejati Berstandar Internasional (2003-2005)
- True Local Bank. World Class Standard. (2003-2005)
- Anda Inspirasi Kami (2005-2009)
- Selalu Ada Mendampingi (2009-2012)
- Humanising Financial Services Across Asia. (2012-2015)
Sebagai Bank Maybank Indonesia
- Humanising Financial Services. (2015-sekarang)
Unit Usaha Syariah
Adalah Unit Usaha Syariah dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk, yang menjalankan kegiatan usaha perbankan secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip Syariah. UUS Maybank Syariah mulai beroperasi pada Mei 2003 dengan nama BII Syariah.[1] Akses Layanan Syariah dapat diberikan oleh seluruh kantor cabang Maybank Indonesia. Produk yang ditawarkan meliputi:
- Produk Simpanan Syariah
- Produk Pembiayaan Syariah
- Produk Wealth Management Syariah
- Zakat, Infaq, Shodaqoh: Maybank Indonesia Unit Usaha Syariah bekerjasama dengan lembaga resmi pengelola Zakat, Infaq, Sedekah, menerima dan menyalurkan zakat, infaq sedekah dari seluruh nasabah dan masyarakat Indonesia.
Hingga 31 Desember 2025, jumlah jaringan UUS Maybank Indonesia tercatat sebanyak 17 Kantor Cabang Syariah, 3 Kantor Cabang Pembantu Syariah dan 275 Layanan Syariah.[1]
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "AR Bank Maybank Indonesia Tbk PT 2025" (PDF). Maybank Indonesia. Diakses tanggal 18 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Eka Cipta Wijaya Raja Mal dan Perumahan
- ↑ Chia, Robert Kay Guan (1992). Globalization of the Jakarta Stock Exchange (dalam bahasa Inggris). Prentice Hall.
- ↑ Puger, Peggy (2006). CEO'S Mother. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-03-2424-1.
- ↑ Pirard, Rimain (2006). Asia Pulp & Paper Indonesia: The Business Rationale that Led to Forest Degradation and Financial Collapse (dalam bahasa Inggris). Center for International Forestry Research.
- 1 2 Mindset Orang Kaya: Akhirnya Terbongkar Sesuatu yang Dilupakan Oleh Mereka ...
- ↑ Indonesian Financial Profile: A Profile of Indonesian Financial Services Featuring Banks, Insurance, and Financial Institutions in Indonesia
- 1 2 3 Indonesia in the 1990's
- ↑ Informasi, Volume 9,Masalah 101-106
- 1 2 Pasar modal Indonesia: retrospeksi lima tahun swastanisasi BEJ
- 1 2 Emiten pasar modal Indonesia
- ↑ Ensiklopedi ekonomi, bisnis & manajemen: A-O
- ↑ Winarto & Wang's Indonesia Stock Market Handbook
- 1 2 3 Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 10,Masalah 46-52
- 1 2 HISTORY OF THE COMPANY
- ↑ BII in Brieh
- 1 2 The Rise of the Corporate Economy in Southeast Asia
- ↑ Anxieties/desires
- ↑ Corporate Handbook, Indonesia: The Definitive Guide to Listed Companies, Volume 2
- ↑ The Bankers' Almanac and Year Book, Volume 1
- ↑ Sejarah Penggabungan Bank Negara setelah krisis 98 Jilid II
- 1 2 Governing Finance: East Asia's Adoption of International Standards
- ↑ Perbankan Indonesia pasca krisis: analisis, prospek, dan profil
- 1 2 Country Finance: Indonesia
- ↑ Tempo, Volume 34,Masalah 7-12
- 1 2 About Us
- ↑ Right Issue BII Bukan Rekap Jilid II
- ↑ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 12,Masalah 1-8
- ↑ Gamma, Volume 4,Masalah 10-15
- 1 2 Profil Bisnis Grup Salim
- ↑ Pengamat: Right Issue BII Sama dengan Rekap Kedua
- ↑ BPPN Merombak Direksi dan Komisaris BII
- ↑ Sigit Pramono dengan logo BII
- ↑ Akuisisi BII oleh Bank Mandiri Disambut Positif
- ↑ Pelepasan Saham Pemerintah di Tiga Bank Disetujui
- ↑ Dunia EKUIN dan PERBANKAN, Volume 16,Masalah 19-20
- ↑ Konsorsium Sorak Pemilik BII
- ↑ Perjanjian Jual Beli Divestasi BII Ditandatangani
- ↑ Perusahaan Asing Membidik Eks Aset Konglomerat Indonesia
- ↑ BII: Temasek Ikut Proses Divestasi
- ↑ Menkeu Keluarkan Izin Divestasi Lanjutan BII dan Lippo
- ↑ Pemerintah Kantongi Rp514,27 Miliar Divestasi Saham BII dan Bank Lippo
- ↑ Di Balik Transaksi Temasek Penuh Kontroversi (2)
- ↑ BPPN Kembalikan Bank Danamon, BII dan Bank Permata ke BI
- ↑ Tempo, Volume 34,Masalah 13-18
- ↑ Kookmin Bank Turunkan Harga Akuisisi BII
- ↑ Kemungkinan BII Merger dengan Danamon
- ↑ BII Belum Tahu Tamasek Jual Saham ke Kookmin
- ↑ Pemegang Saham BII Utamakan Opsi Merger dengan Danamon
- ↑ Pemerintah Buka Peluang Bank BUMN Membeli BII
- ↑ Maybank Resmi Umumkan Pembatalan Akuisisi Saham BII
- ↑ Fullerton Pertahankan Danamon dan Lepas BII
- ↑ BII Dilepas, Temasek Pertahankan Danamon
- ↑ Akuisisi BII Selesai Besok
- ↑ Maybank Bakal Suntik BII
- ↑ Maybank Rampungkan "Refloat" Saham BII
- ↑ Ringkasan Risalah RUPSLB PT Bank Internasional Indonesia, Tbk per 26 Agustus 2015 http://www.maybank.co.id/investor/Rapat-Umum-Pemegang-Saham/Documents/Ringkasan%20Risalah%20RUPS%2024-08-2015.pdf
- ↑ "Maybank Kantor Cabang". www.maybank.co.id. Diakses tanggal 2019-02-17.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "ATM". www.maybank.co.id. Diakses tanggal 2019-02-17.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Cash Deposit Machine". www.maybank.co.id. Diakses tanggal 2019-02-17.[pranala nonaktif permanen]
Pranala luar
- (Indonesia) Situs web resmi
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |