Senin, 21 September 2026
04:52 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Atapers

Atapers

sebutan penumpang kereta api yang menaiki atap

250px-Indonesian_train_surf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kereta api Lokal Rangkas dengan atapers di keretanya, sekitar tahun 2012-an. Panjang kereta yang hanya tujuh kereta dalam satu rangkaian pada saat itu membuat penumpang yang tidak dapat tempat didalam untuk naik ke atap kereta.
250px-KRL_train_surfing_5.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
KRL dengan atapers.

Atapers[1] (bentuk tunggal: ataper) adalah penumpang atau kelompok penumpang yang naik kereta api atau kereta rel listrik tetapi berada di atap keretanya. Istilah ini merupakan istilah populer yang muncul pada dekade 1990-an hingga 2000-an, khususnya di Jabodetabek ketika KRL Commuter Line masih berstatus sebagai KRL Ekonomi yang dikelola oleh Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek (Divisi Jabotabek).

Umumnya, KRL yang diasosiasikan terhadap para atapers adalah KRL Rheostatik. Oleh karena bentuk atapnya yang melengkung dan tidak dipasangi penyejuk udara (AC), sehingga mengakibatkan penumpang leluasa untuk naik di atapnya.[2] Meskipun demikian, semua KRL Ekonomi tak luput dari atapers, termasuk KRL AC, ketika Atapers banyak ada di KRL Ekonomi AC, khususnya lintas Bogor. Banyak KRL yang pintunya diganjal, khususnya KRL Tokyu 8000 dan 8500, bahkan Tokyo Metro seri 7000 dan 6000 pun tak luput.

Meskipun atapers biasanya naik di KRL Ekonomi, atapers juga sempat ada di KRL Ekonomi AC, khususnya di lintas Bogor. Namun kebijakan e-ticketing, peningkatan keamanan stasiun dan kereta serta kebijakan tidak memberangkatkan kereta jika masih ada penumpang di atap membuat tidak ada lagi atapers di Indonesia.

Kereta api di India dan Bangladesh juga terkenal karena atapers-nya. Tetapi bedanya, atapers di India dan Bangladesh juga bergelayutan di samping badan kereta, sedangkan di Indonesia sendiri, atapers hanya duduk di atas atap kereta.

Etimologi

Kata atapers berasal dari bahasa Indonesia atap dan diberi sufiks -er (dalam bahasa Inggris berarti 'pelaku suatu perbuatan'). Atapers merupakan bentuk "train surfing" (berselancar di kereta api) yang populer di Indonesia.

Latar belakang

Indonesia, khususnya Jabodetabek sempat memiliki masalah besar dengan atapers atau penumpang yang naik di atap kereta api. Meskipun demikian, sejak zaman Belanda hingga awal kemerdekaan dan berlanjut hingga sebelum krisis ekonomi tahun 1997-1998, penumpang yang naik di atap kereta sudah ada pada saat itu, baik di wilayah Jabodetabek maupun wilayah lainnya. Mulai awal dekade 90-an, atapers belum terlalu banyak tetapi penumpang yang bergelantungan di pintu kereta dan mengganjal pintu sudah sering terlihat. Sejak akhir dekade 1990-an, khususnya setelah krisis ekonomi tahun 1997-1998, atapers semakin banyak terlihat terutama pada KRL Jabodetabek.

Hal tersebut terjadi karena kota metropolis dengan penduduk 30 juta jiwa ini tidak memiliki sistem metro tunggal. Lalu lintas Jakarta adalah yang paling parah se-Asia Tenggara, dan mungkin juga salah satu yang terburuk di dunia.

Pemerintah provinsi DKI pun membuat aturan tiga dalam satu, tetapi, malah muncul solusi yang "unik" untuk mengakali peraturan tersebut seperti joki mobil.

Pemerintah provinsi DKI menyadari bahwa aturan tiga dalam satu merupakan kegagalan. Mereka pun membangun jaringan bus rapid transit. Bus rapid transit memang sedikit membuahkan hasil, tetapi karena tidak ada pemisahan dari lalu lintas dan setiap inci jalan raya, jalur bus pun dirampas kembali oleh pengendara sepeda motor maupun mobil pribadi. Sebagai akibatnya, bus pun sering kali ikut terjebak di dalam kemacetan. Panas tropis yang intens dan efek pulau panas perkotaan juga membuat bagian atas kereta menjadi satu-satunya tempat dengan banyak sirkulasi udara segar.

Alasan

Meskipun pemerintah maupun operator memandang bahwa atapers merupakan fenomena yang memalukan dalam sejarah transportasi publik, tetapi masyarakat yang rutin naik kereta api merasa tenang-tenang saja. Alasan yang mendasar dari munculnya atapers adalah:[3][4]

  • Ingin naik kereta api tanpa tiket alias gratis
  • Tidak ada pilihan moda transportasi lain, sementara KRL penuh pada jam-jam berangkat dan pulang kerja, sekolah, ataupun kuliah[5]
  • Ingin merasakan kegembiraan akan pemandangan di luar KRL
  • Kereta penuh sesak oleh penumpang atau mengalami kelebihan muatan
  • Kereta panas karena belum dilengkapi penyejuk udara (AC)
  • Armada yang dimiliki oleh operator tidak seimbang dengan jumlah penumpang harian.

Bahaya

Rupanya, praktik ini menuai kecaman. Ada berbagai macam bahaya yang akan menghantui, antara lain atapers akan jatuh dari atap kereta apabila berada di pinggir atap yang miring. Selain itu, peluang untuk tersetrum oleh kabel listrik aliran atas (LAA) dapat terjadi karena interaksi antara pantograf dengan LAA.[6]

Salah satu insiden terakhir yang disebabkan oleh atapers antara lain, pada 8 April 2013, terjadi pelemparan kaca Stasiun Citayam, Stasiun Depok, dan Stasiun Universitas Indonesia akibat dari amukan para atapers, meskipun sudah ditertibkan.[7]

  • Kabel listrik di atas KRL.
    Kabel listrik di atas KRL.
  • Terowongan kereta yang sempit.
    Terowongan kereta yang sempit.

Tindakan

PT Kereta Api Indonesia telah melaksanakan langkah preventif guna mencegah kejadian yang tidak diinginkan dari atapers selama dekade 2000-an hingga 2010-an. Di antaranya, penambahan anjing pelacak, ceramah ustaz, dan pemasangan alat penyemprot cat ketika kereta lewat di dekatnya. Selain itu juga dengan memasang bola pejal dari beton seberat 3 kg dan alat sapu-sapu atap yang berbentuk seperti sapu lidi. Namun usaha itu sia-sia; banyak dari atapers melempari "senjata" yang disiapkan KAI itu dengan batu, yang mengakibatkan alat tersebut tidak berfungsi.[8]

Ketika KAI membentuk KCJ, anak perusahaannya yang ditugasi untuk mengoperasikan KRL, telah terjadi perubahan yang signifikan. Pemberlakuan tiket elektronik dan penambahan armada baru dari KRL bekas Jepang telah "menyulap" sistem perkeretaapian Jabodetabek yang semrawut menjadi nyaman dipandang. Selain itu, KCJ juga melakukan rekrutmen petugas pengamanan kereta api.[9]

Pada tanggal 28 Februari 2013, sempat terjadi bentrokan oleh para atapers terhadap polisi dan petugas hingga ada petugas yang terluka. Alasan yang mendasari bentrok tersebut disebabkan dari salah satu usaha PT KAI yang kemudian sukses yaitu, membuat peraturan yang menegaskan, jika masih ada penumpang di atas atap kereta (termasuk bergelantungan di pintu, mengganjal pintu otomatis di KRL, bergelantungan di lokomotif maupun naik di kabin masinis), maka kereta tidak akan dijalankan. Akhirnya, setelah kejadian bentrok tersebut, atapers tidak ada lagi saat ini, baik di KRL Commuter Jabodetabek maupun pada KRD, kereta jarak jauh dan lokal.[10]

Buntut kejadian

Seiring waktu, karena meningkatnya jumlah korban jiwa dari nge-atap di atas KRL, jumlah atapers pun telah menurun secara signifikan. Akhirnya, sejak Juli 2013 dan seterusnya, tidak ada penumpang yang naik di atap kereta di Indonesia, karena sistem pengamanan yang lebih baik untuk menghindari pengendara bebas naik kereta seenaknya. Itu karena sebagian besar para atapers adalah penumpang gratisan, alias tidak memiliki tiket untuk naik kereta.

Lihat pula

Referensi

  1. Suryakusuma, Julia (Januari 25, 2012). "'Surfing', 'Bowling' and other deadly games". The Jakarta Post.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (perlu berlangganan)
  2. Majalah KA Edisi Juni 2014
  3. "The commissioners of riding". NaNevskom.ru (in Russian language). 11 Juni 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Januari 2014. Diakses tanggal 17 Agustus 2012.
  4. "A new kind of sports appeared in Moscow — "train surfing"". MetroNews.ru (in Russian language). 14 Februari 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Januari 2014. Diakses tanggal 17 Agustus 2012.
  5. Kotarumalos, Ali (Januari 17, 2012). "Indonesia cracks down on train 'surfers' - again". The Jakarta Post. Diarsipkan dari asli tanggal Desember 3, 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. "South Africa's train-surfing problem". BBC News. 27 Juni 2006. Diakses tanggal 15 Agustus 2012.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Kompas: Diturunkan, Atapers Lempari Kaca Stasiun
  8. Ketika Atapers Tak Lagi Eksis di Commuter Line
  9. KAI Sukses Halau Atapers Berkat E-Ticket
  10. DetikForum: Bentrok Dengan Atapers, Polisi Terluka Kena Lempar Batu

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Train surfing.
Layanan Bus umum
Tipe Bus umum
Kereta api dan
transportasi rel
Kendaraan umum tidak dalam trayek
Kapal laut
Lainnya
Tempat
Tiket
dan tarif
Rute
Fasilitas
Jadwal
Politik dan keamanan
Teknologi
dan papan informasi
Topik lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan