Minggu, 01 November 2026
17:55 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Sejarah Syiah

Bagikan:
Bagian dari seri tentang
Islam Syiah

Islam Syiah, juga dikenal sebagai Islam Syi'ah atau Syiah, adalah cabang terbesar kedua dalam Islam setelah Islam Sunni. Kaum Syiah berpegang pada ajaran Muhammad dan bimbingan keagamaan keluarganya (yang disebut Ahlul Bait) atau keturunannya yang dikenal sebagai Imam Syiah. Garis keturunan Muhammad berlanjut hanya melalui putrinya, Fatimah az-Zahra, dan sepupunya, Ali bin Abi Thalib, yang bersama cucu-cucu Muhammad merupakan Ahlul Bait. Oleh karena itu, kaum Syiah menganggap keturunan Muhammad sebagai sumber petunjuk yang benar, bersama dengan ajaran Muhammad. Islam Syiah, seperti Islam Sunni, pada masa tertentu terbagi menjadi banyak cabang; namun, saat ini hanya tiga cabang yang memiliki jumlah pengikut yang signifikan, dan masing-masing memiliki perkembangan tersendiri.

Dari sudut pandang politik, sejarah Syiah dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama adalah kemunculan Syiah, yang dimulai setelah wafatnya Muhammad pada tahun 632 dan berlangsung hingga Pertempuran Karbala pada tahun 680. Tahap ini bertepatan dengan masa Imamah Ali, Hasan bin Ali, dan Husain bin Ali. Tahap kedua adalah diferensiasi dan pemisahan Syiah sebagai mazhab tersendiri dalam komunitas Muslim, serta pertentangannya dengan para khalifah Sunni. Tahap ini dimulai setelah Pertempuran Karbala dan berlangsung hingga terbentuknya negara-negara Syiah sekitar tahun 900. Dalam tahap ini, Syiah terbagi menjadi beberapa cabang. Tahap ketiga adalah periode negara-negara Syiah. Negara Syiah pertama adalah Dinasti Idrisiyah (780–974) di Maghreb. Selanjutnya adalah dinasti Alawiyah (864–928) yang didirikan di Mazandaran (Tabaristan), sebelah utara Iran. Dinasti-dinasti tersebut bersifat lokal, tetapi kemudian diikuti oleh dua dinasti besar dan kuat. Dinasti Fatimiyah berdiri di Ifriqiya pada tahun 909 dan menguasai berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam hingga tahun 1171. Dinasti Buwaihi muncul di Daylaman, di bagian utara Iran modern, sekitar tahun 930 M dan kemudian menguasai bagian tengah dan barat Iran serta Irak hingga tahun 1048. Akibatnya, periode dari pertengahan abad ke-10 hingga pertengahan abad ke-11 sering dikenal sebagai "Abad Syiah" dalam sejarah Islam. Di Yaman, para imam dari berbagai dinasti, yang umumnya berasal dari mazhab Zaidiyah, membentuk struktur politik teokratis yang bertahan dari tahun 897 hingga 1962. Iran, yang sebelumnya merupakan wilayah dengan mayoritas Sunni, mengalami proses konversi paksa ke Islam Syiah di bawah Safawiyah antara abad ke-16 dan ke-18. Proses tersebut juga memastikan dominasi mazhab Dua Belas Imam dalam Syiah atas Zaidiyah dan mazhab-mazhab Ismailiyah hingga masa modern.[1][2][3][4]

Dari Saqifah hingga Karbala

Artikel utama: Suksesi Muhammad

Muhammad mulai menyampaikan dakwah Islam di Makkah sebelum berhijrah ke Madinah, tempat ia menyatukan suku-suku Arab menjadi suatu pemerintahan keagamaan Muslim Arab. Setelah Muhammad wafat pada tahun 632, muncul perselisihan mengenai siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin komunitas Muslim. Ketika Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Muhammad, dan anggota keluarga dekat Muhammad lainnya sedang memandikan jenazahnya untuk dimakamkan, para pemimpin suku dari Makkah dan Madinah mengadakan pertemuan rahasia di Saqifah untuk menentukan siapa yang akan menggantikan Muhammad sebagai kepala negara Muslim, dengan mengabaikan apa yang dianggap oleh kaum Muslim awal dari kalangan Muhajirin sebagai penunjukan Muhammad terhadap Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khumm. Umar bin Khattab, seorang sahabat Muhammad dan orang pertama yang mengucapkan selamat kepada Ali pada peristiwa Ghadir, mengusulkan Abu Bakar. Setelah penolakan dan perdebatan awal, pihak-pihak yang hadir akhirnya menyepakati Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Pilihan ini diperselisihkan oleh sebagian sahabat awal Muhammad, yang berpendapat bahwa Ali telah ditunjuk sebagai penggantinya. Menurut catatan Sunni, Muhammad wafat tanpa menunjuk seorang penerus, dan karena membutuhkan kepemimpinan, mereka berkumpul dan memilih jabatan khalifah. Catatan Syiah berbeda dengan menyatakan bahwa Muhammad telah menunjuk Ali sebagai penggantinya dalam beberapa kesempatan, termasuk di ranjang kematiannya. Ali didukung oleh keluarga Muhammad dan mayoritas Muhajirin, kaum Muslim awal, sedangkan ia ditentang oleh para pemimpin suku Arab yang mencakup musuh-musuh awal Muhammad, termasuk, secara alamiah, Bani Umayyah.[5] Bahkan pada masa Muhammad masih hidup, terdapat tanda-tanda perpecahan di antara para sahabat, dengan Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad, dan Ammar bin Yasir termasuk di antara pendukung Ali yang paling gigih dan setia.[6][7] Pemilihan Abu Bakar diikuti oleh penyerbuan ke rumah Ali yang dipimpin oleh Umar dan Khalid bin Walid (lihat Umar di rumah Fatimah).[8]

Suksesi Muhammad merupakan persoalan yang sangat kontroversial. Kaum Muslim akhirnya terbagi menjadi dua cabang berdasarkan sikap politik mereka terhadap persoalan ini, yang kemudian menjadi penghalang teologis utama antara dua pembagian besar umat Islam: Sunni dan Syiah, dengan yang terakhir mengikuti Ali sebagai penerus Muhammad. Kedua kelompok juga berbeda pendapat mengenai sikap Ali terhadap Abu Bakar dan dua khalifah yang menggantikannya: Umar (atau `Umar bin Khattab) dan Utsman (atau `Utsman bin Affan). Kaum Sunni cenderung menekankan penerimaan dan dukungan Ali terhadap pemerintahan mereka, sedangkan kaum Syiah menyatakan bahwa ia menjauhkan diri dari mereka dan bahwa ia dicegah menjalankan kewajiban keagamaan yang telah ditetapkan Muhammad baginya. Kaum Muslim Sunni mengatakan bahwa jika Ali merupakan penerus yang sah sebagaimana ditetapkan oleh Tuhan sendiri, maka sebagai pemimpin umat Muslim ia berkewajiban berperang melawan orang-orang tersebut (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) hingga Ali menegakkan ketetapan tersebut. Namun, kaum Syiah menyatakan bahwa Ali tidak memerangi Abu Bakar, Umar, atau Utsman karena, pertama, ia tidak memiliki kekuatan militer yang cukup dan, jika ia mengambil keputusan tersebut, hal itu akan menyebabkan perang saudara di antara umat Muslim, yang saat itu masih merupakan komunitas yang baru berkembang di seluruh dunia Arab.[9]

Peristiwa Dhul Asyirah

Artikel utama: Hadis Peringatan

Ketika Asy-Syu'ara, surah ke-26 dalam Al-Qur'an, diturunkan sekitar tahun 617 M,[10] Muhammad dikatakan menerima perintah untuk memperingatkan anggota keluarganya agar tidak berpegang pada praktik keagamaan mereka sebelum Islam. Terdapat berbagai riwayat mengenai upaya Muhammad untuk melakukannya, dengan salah satu versi menyatakan bahwa ia mengundang kerabatnya untuk makan bersama (yang kemudian dikenal sebagai Jamuan Dhul Asyirah), dan pada kesempatan tersebut ia menyampaikan pernyataan tersebut.[11] Menurut Ibn Ishaq, pidato tersebut berbunyi:

Allah telah memerintahkanku untuk mengajak kalian kepada agama-Nya dengan berfirman: Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat. Oleh karena itu, aku memperingatkan kalian dan mengajak kalian untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya. Wahai putra-putra Abdul Muthalib, tidak seorang pun sebelumku pernah datang kepada kalian dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang aku bawa kepada kalian. Dengan menerimanya, kesejahteraan kalian akan terjamin di dunia dan akhirat. Siapakah di antara kalian yang akan mendukungku dalam menjalankan tugas besar ini? Siapakah yang akan berbagi beban pekerjaan ini denganku? Siapakah yang akan menjawab seruanku? Siapakah yang akan menjadi khalifah, wakil, dan wazir-ku?[12]

Di antara mereka yang hadir, hanya Ali yang menyatakan kesediaannya. Beberapa sumber, seperti Musnad Ahmad bin Hanbal, tidak mencatat reaksi Muhammad terhadap hal tersebut, sementara Ibn Ishaq melanjutkan bahwa kemudian ia menyatakan Ali sebagai saudara, pewaris, dan penerusnya.[13] Dalam riwayat lain, ketika Muhammad menerima tawaran Ali, ia "merangkul pemuda yang mulia itu" dan mendekapnya sambil berkata, "Lihatlah saudaraku, wazirku, wakilku ... hendaklah semua mendengarkan perkataannya dan menaatinya".[14] Penunjukan langsung Ali sebagai pewaris dalam versi ini penting karena mengklaim bahwa haknya atas suksesi telah ditetapkan sejak awal aktivitas kenabian Muhammad. Hubungan peristiwa tersebut dengan turunnya ayat Al-Qur'an juga berfungsi untuk memberikan keabsahan dan legitimasi ilahi terhadap penunjukan tersebut.[15]

Peristiwa Ghadir Khumm

Artikel utama: Peristiwa Ghadir Khumm

Riwayat hadis mengenai Ghadir Khumm memiliki banyak variasi dan diriwayatkan baik oleh sumber Sunni maupun Syiah. Riwayat-riwayat tersebut umumnya menyatakan bahwa pada bulan Maret 632, Muhammad, ketika kembali dari Haji Wada bersama sejumlah besar pengikut dan sahabat, berhenti di oasis Ghadir Khumm. Di sana, ia memegang tangan Ali dan berbicara kepada orang-orang yang berkumpul. Perbedaan pendapat antara berbagai mazhab muncul ketika Muhammad, dalam pidatonya, menyatakan, "Barang siapa menjadikan aku sebagai mawla-nya, maka Ali adalah mawla-nya".[16][17][18][19] Beberapa versi menambahkan kalimat, "Ya Allah, jadilah sahabat bagi orang yang menjadi sahabat Ali dan jadilah musuh bagi musuhnya".[20]

Mawla memiliki sejumlah makna dalam bahasa Arab, dengan penafsiran penggunaan kata tersebut oleh Muhammad terbagi menurut garis sektarian antara Muslim Sunni dan Syiah. Di kalangan Sunni, kata tersebut diterjemahkan sebagai "sahabat" atau "orang yang setia/dekat", dan Muhammad dianggap menganjurkan bahwa Ali layak mendapatkan persahabatan dan penghormatan. Sebaliknya, Muslim Syiah cenderung memahaminya sebagai "tuan" atau "penguasa",[butuh rujukan] dan bahwa pernyataan tersebut merupakan penunjukan yang jelas terhadap Ali sebagai penerus Muhammad.[16][21][22][23] Sumber-sumber Syiah juga mencatat rincian tambahan mengenai peristiwa tersebut, misalnya menyatakan bahwa mereka yang hadir mengucapkan selamat kepada Ali dan mengakuinya sebagai Amirul Mukminin ("pemimpin orang-orang beriman").[20]

Kekhalifahan Ali

250px-Chronology_of_Ancient_Nations%2C_f.162r_miniature.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pelantikan Ali bin Abi Talib di Ghadir Khumm (MS Arab 161, fol. 162r, 1308–1309 M, ilustrasi manuskrip Ilkhaniyah)

Ketika Muhammad wafat pada tahun 632 M, Ali bin Abi Talib dan kerabat dekat Muhammad mengurus pemakaman. Ketika mereka sedang mempersiapkan jenazahnya, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertemu dengan para pemimpin Madinah dan memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Ali tidak menerima kekhalifahan Abu Bakar dan menolak berbaiat kepadanya. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah riwayat hadis yang dianggap sahih (autentik) oleh Muslim Sunni maupun Syiah.

Ibn Qutaibah, seorang ulama Islam Sunni abad ke-9, meriwayatkan perkataan Ali:

Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah. Oleh karena itu, aku lebih berhak atas jabatan ini daripada kalian. Aku tidak akan berbaiat kepada kalian [Abu Bakar dan Umar] ketika kalianlah yang seharusnya berbaiat kepadaku. Kalian telah mengambil jabatan ini dari kaum Ansar dengan menggunakan hubungan kesukuan kalian dengan Nabi sebagai argumen terhadap mereka. Apakah kalian kemudian akan mengambil jabatan ini dari kami, Ahlul Bait, dengan paksa? Bukankah kalian mengaku di hadapan kaum Ansar bahwa kalian lebih berhak atas kekhalifahan daripada mereka karena Muhammad berasal dari kalangan kalian (tetapi Muhammad tidak pernah berasal dari keluarga Abu Bakar)—dan karena itu mereka memberikan kepemimpinan dan kekuasaan kepada kalian? Kini aku menentang kalian dengan argumen yang sama... Kami lebih berhak atas Rasulullah, baik ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Berikan kepada kami hak kami jika kalian benar-benar beriman kepada Allah, atau tanggunglah tuduhan melakukan kezaliman dengan sengaja... Umar, aku tidak akan tunduk pada perintahmu: aku tidak akan berbaiat kepadanya." Pada akhirnya Abu Bakar berkata, "Wahai Ali! Jika engkau tidak ingin memberikan baiatmu, aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya.[24]

Istri Ali dan putri Muhammad, Fatimah az-Zahra, menolak berbaiat kepada Abu Bakar dan tetap marah kepadanya hingga wafat karena persoalan Fadak, warisan dari ayahnya, serta peristiwa Umar di rumah Fatimah; hal ini disebutkan dalam berbagai koleksi hadis Sunni, termasuk Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Fatimah tidak pernah berbaiat kepada Abu Bakar; ia juga tidak mengakui ataupun menerima klaimnya atas kekhalifahan.[25] Hampir seluruh anggota Bani Hasyim, suku Quraisy tempat Muhammad berasal, serta banyak sahabat terdekatnya mendukung perjuangan Ali setelah wafatnya Muhammad, sementara yang lain mendukung Abu Bakar.[26][27][28][29][30][31][32][33][34]

250px-Kufa_Mosque_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Agung Kufah, tempat Ali dibunuh (661 M)[35][36]
250px-InsideImamAliMosqueNajafIraq.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Zarih di atas qabr (makam) Ali, Makam Imam Ali, Najaf (sekarang Irak)

Baru setelah terbunuhnya khalifah Utsman (657 M), umat Muslim Madinah, dalam keadaan putus asa, mengundang Ali untuk menjadi khalifah keempat sebagai pilihan terakhir,[35] dan ia menetapkan ibu kotanya di Kufah (sekarang Irak).[37] Pemerintahan Ali atas komunitas Muslim awal sering diperdebatkan, dan berbagai peperangan terjadi melawannya. Akibatnya, ia harus berjuang mempertahankan kekuasaannya melawan kelompok-kelompok yang mengkhianatinya setelah berbaiat kepadanya, atau mereka yang ingin merebut kedudukannya. Perselisihan ini akhirnya menyebabkan Fitnah Pertama, perang saudara besar pertama antara umat Muslim dalam kekaisaran Islam awal. Fitnah Pertama bermula sebagai serangkaian pemberontakan terhadap Ali yang disebabkan oleh pembunuhan pendahulu politiknya, Utsman. Meskipun para pemberontak sebelumnya mengakui legitimasi khilafah Ali, mereka kemudian berbalik melawannya dan memeranginya.[35] Ali memerintah dari tahun 656 hingga 661 M,[35] ketika ia dibunuh[36] saat sedang bersujud dalam salat (sujud). Saingan utama Ali, Muawiyah, kemudian mengklaim kekhalifahan.[38]

Hubungan antara Lembah Indus dan Islam Syiah terbentuk melalui penaklukan Muslim awal. Menurut Derryl N. Maclean, hubungan antara wilayah Sindh dan Syiah atau proto-Syiah dapat ditelusuri kepada Hakim bin Jabalah al-Abdi, seorang sahabat Muhammad, yang melakukan perjalanan melintasi Sindh menuju Makran pada tahun 649 M dan menyampaikan laporan mengenai wilayah tersebut kepada khalifah. Ia mendukung Ali dan gugur dalam Pertempuran Jamal bersama kaum Jat Sindhi.[39] Ia juga seorang penyair dan beberapa bait puisinya yang memuji Ali tetap bertahan, sebagaimana dilaporkan dalam Chachnama:[40]

"Wahai Ali, karena hubunganmu dengan Nabi, engkau sungguh memiliki keturunan yang mulia, teladanmu agung, dan engkau bijaksana serta unggul; kedatanganmu telah menjadikan zamanmu sebagai zaman kemurahan hati, kebaikan, dan kasih persaudaraan".[41]

Pada masa kekhalifahan Ali, banyak orang Jat berada di bawah pengaruh Islam Syiah.[42] Harits bin Murrah Al-Abdi dan Sayfi bin Fil' al-Syaibani, keduanya perwira dalam pasukan Ali, menyerang para perampok Sindhi dan mengejar mereka hingga Al-Qiqan (sekarang Quetta) pada tahun 658 M.[43] Sayfi adalah salah satu dari tujuh Muslim Syiah yang dipenggal bersama Hujr bin Adi al-Kindi[44] pada tahun 660 M, dekat Damaskus.

Ḥasan bin ʿAlī

Artikel utama: Hasan bin Ali

Setelah wafatnya Ali, putra sulungnya, Hasan, menjadi pemimpin kaum Muslim Kufah. Setelah serangkaian pertempuran kecil antara kaum Muslim Kufah dan pasukan Muawiyah, Hasan setuju menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah dan menjaga perdamaian di antara umat Muslim dengan sejumlah syarat:[45][46]

  1. Pencelaan Ali secara terbuka yang diberlakukan, misalnya dalam salat, harus dihentikan.
  2. Muawiyah tidak boleh menggunakan uang pajak untuk kepentingan pribadinya.
  3. Harus ada perdamaian, dan para pengikut Hasan harus mendapatkan keamanan serta hak-hak mereka.
  4. Muawiyah tidak akan menggunakan gelar Amirul Mukminin ("pemimpin orang-orang beriman").
  5. Muawiyah tidak akan menunjuk seorang penerus.

Hasan kemudian mengundurkan diri ke Madinah. Pada tahun 670 M, ia diracun oleh istrinya, Ja'da binti al-Asy'ats bin Qais, setelah diam-diam dihubungi oleh Muawiyah yang ingin menyerahkan kekhalifahan kepada putranya sendiri, Yazid, dan memandang Hasan sebagai penghalang.[47]

Ḥusain bin ʿAlī

Artikel utama: Husain bin Ali
250px-Brooklyn_Museum_-_Battle_of_Karbala_-_Abbas_Al-Musavi_-_overall.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertempuran Karbala, lukisan karya seniman Persia Abbas al-Musavi yang berbasis di Isfahan, Brooklyn Museum (antara 1868 dan 1933)

Husain bin Ali, putra bungsu Ali dan saudara Hasan, pada awalnya menolak seruan untuk memimpin umat Muslim melawan Muawiyah dan merebut kembali kekhalifahan. Pada tahun 680 M, Muawiyah wafat dan menyerahkan kekhalifahan kepada putranya, Yazid, sehingga melanggar perjanjian dengan Hasan bin Ali. Yazid meminta Husain untuk berbaiat kepadanya (baiat). Faksi Ali, yang mengharapkan kekhalifahan kembali kepada garis keturunan Ali setelah kematian Muawiyah, melihat hal tersebut sebagai pengkhianatan terhadap perjanjian damai sehingga Husain menolak permintaan baiat tersebut. Dukungan terhadap Husain di Kufah berkembang dan memunculkan seruan agar ia kembali ke sana dan mengambil kedudukannya sebagai khalifah dan imam. Karena itu, Husain mengumpulkan keluarga dan para pengikutnya di Madinah dan berangkat menuju Kufah. Dalam perjalanan menuju Kufah, ia dihadang oleh pasukan Yazid, yang termasuk orang-orang dari Kufah, di dekat Karbala (sekarang Irak); Husain dan sekitar 72 anggota keluarga serta pengikutnya terbunuh dalam Pertempuran Karbala.

250px-ImamHusaynMosqueKarbalaIraqPre2006.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Kerbela_Hussein_Moschee.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kiri: Makam Imam Husain; kanan: kompleks Masjid Imam Husain selama Arba'in

Muslim Syiah memandang Husain bin Ali sebagai seorang martir (syahid), dan menganggapnya sebagai salah satu Imam dari Ahlul Bait. Mereka memandang Husain bin Ali sebagai pembela Islam dari kehancuran di tangan Yazid I. Husain merupakan Imam terakhir setelah Ali yang diakui bersama oleh seluruh cabang Islam Syiah.[48] Pertempuran Karbala dan kesyahidan Husain bin Ali sering disebut sebagai pemisahan definitif antara mazhab Syiah dan Sunni dalam Islam, dan diperingati setiap tahun oleh Muslim Syiah pada Asyura.

Diferensiasi dan pembedaan

250px-Muslim_World_Introduction.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diagram yang menunjukkan tiga cabang Syiah dan cabang-cabang lainnya.

Islam Syiah dan Sunni terpisah setelah wafatnya Muhammad berdasarkan politik para khalifah awal. Karena keyakinan Syiah bahwa Ali seharusnya menjadi khalifah pertama, tiga khalifah yang mendahuluinya, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dianggap sebagai perebut kekuasaan yang tidak sah. Oleh karena itu, setiap hadis yang diriwayatkan oleh ketiga khalifah tersebut (atau pendukung mereka) tidak diterima oleh para penghimpun hadis Syiah.

Karena hal ini, jumlah hadis yang diterima oleh Syiah jauh lebih sedikit daripada hadis yang diterima oleh Sunni, dengan banyak hadis yang tidak diterima tersebut berkaitan dengan aspek-aspek penting dalam Islam, seperti salat dan pernikahan. Jika tidak terdapat hadis yang jelas mengenai suatu keadaan, kaum Syiah lebih memilih perkataan dan tindakan para Imam (anggota keluarga Muhammad) pada tingkat yang serupa dengan hadis Muhammad sendiri daripada metode lainnya. Hal ini kemudian menyebabkan peningkatan kedudukan teologis para Imam sebagai sosok yang maksum.[49][50]

Pembagian menjadi cabang-cabang

Para leluhur dan silsilah keluarga

Suku Quraisy
Abd Manaf bin QushayAtikah binti Murrah
Abd SyamsBarrahHalahMuthalibHasyim
Umayyah bin Abd SyamsAbdul Muthalib
HarbAbu al-AshAminahAbdullahAbu ThalibHamzahAbbas
Abu Sufyan bin HarbAl-HakamAffanMUHAMMAD
(silsilah keluarga)
Khadijah binti KhuwailidAli al-MurtadhaKhaulah binti Ja'farAbdullah
MuawiyahMarwan IUtsman bin AffanRuqayyahFatimah az-ZahraMuhammad bin al-HanafiyahAli bin Abdullah
Kekhalifahan UmayyahUtsman bin Abi al-AshHasan al-MujtabaHusain bin Ali
(silsilah keluarga)
al-Mukhtar bin Abi Ubaid Allah ats-Tsaqafi
(Abu Amrah Kaisaniyah)
Muhammad "al-Imam" (Abbasiyah)

Sejarah Dua Belas Imam

Artikel utama: Dua Belas Imam

Era para Imam

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Era Kegaiban

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Sejarah Ismailiyah

960px-Branches_of_Shia_Islam.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
( Catatan: Imam Kaisaniyah, Hanafiyah, adalah keturunan Ali dari istrinya yang lain, bukan dari Fatimah) Cabang-cabang Ismailiyah Syiah Islam dan subdivisinya: Hampir 1% dari keseluruhan populasi dalam agama Islam saat ini adalah Islam Syiah Ismailiyah (14–18 juta).[51] Sekitar 10% dari seluruh populasi Islam Syiah terdiri atas mazhab Ismailiyah. Cabang Ismailiyah-Musta'liyah kurang dari 0,1% dari keseluruhan agama Islam dan mencakup sekitar 5% dari seluruh populasi Ismailiyah. (Cabang Musta'liyah-Taiyabiyah meliputi Dawoodi Bohra, Bohra Ja'fari, Makrami, Alavi Bohra, Hebtiahs Bohra, Atba-i-Malak Bohra (Atba-e-Malak Badar – Atba-i-Malak Vakil), Dawoodi progresif). Populasi Ismailiyah Nizari di sisi lain secara keseluruhan mencakup lebih dari 90% populasi Ismailiyah. Persentase Druz hanya 0,1% dalam keseluruhan agama Islam. Fathiyah, Hafiziyah, Qarmati, dan Tujuh Imam telah dihitung sebagai sekte Ismailiyah yang telah punah.[52][53]
Lihat pula: Dawoodi Bohra
[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Dakwah Lama

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Dakwah Baru

Lihat pula: Hashshashin
[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Sejarah Zaidiyah

Artikel utama: Zaidiyah
Lihat pula: Alawiyah dan Buwaihi
[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Sekte lainnya

Alawi

Artikel utama: Alevi
[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Alawiyah

Artikel utama: Alawisme
[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Januari 2025)

Kekaisaran Syiah

Gambar-gambar berikut merupakan contoh beberapa kekaisaran Islam Syiah sepanjang sejarah:

Pemerintahan Syiah

Catatan

  1. ↑ Arshin Adib-Moghaddam (2017), Psycho-nationalism, Cambridge University Press, p. 40, ISBN9781108423076, Shah Ismail pursued a relentless campaign of forced conversion of the majority Sunni population in Iran to (Twelver) Shia Islam...
  2. ↑ Conversion and Islam in the Early Modern Mediterranean: The Lure of the Other, Routledge, 2017, p. 92, ISBN9781317159780
  3. ↑ Islam: Art and Architecture, Könemann, 2004, p. 501, Shah persecuted the philosophers, mystics, and Sufis who had been promoted by his grandfather, and unleashed fanatical campaigns of forcible conversion on Sunnis, Jews, Christians and other religious minorities
  4. ↑ Melissa L. Rossi (2008), What Every American Should Know about the Middle East, Penguin, ISBN9780452289598, Forced conversion in the Safavid Empire made Persia for the first time dominantly Shia and left a lasting mark: Persia, now Iran, has been dominantly Shia ever since, and for centuries the only country to have a ruling Shia majority.
  5. ↑ Chirri, Mohammad (1982). The Brother of the Prophet Mohammad. Islamic Center of America, Detroit, MI. Alibris ID 8126171834.
  6. ↑ Ali, Abbas, ed. (12 November 2013). "Respecting the Righteous Companions". A Shi'ite Encyclopedia. Ahlul Bayt Digital Islamic Library Project. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Juni 2020 – via al-islam.org.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Ja'fariyan, Rasul (2014). "Umars Caliphate". History of the Caliphs. Lulu.com. hlm. 290. ISBN 978-1-312-54108-5. Abu Hatin al-Razi says, "It is the appellation of those who were attached to Ali during the lifetime of the Messenger of Allah, such as Salman, Abu Dharr Ghifari, Miqdad ibn al-Aswad and Ammar ibn Yasir and others. Concerning these four, the Messenger of Allah had declared, 'The paradise is eager for four men: Salman, Abu Dharr, Miqdad, and Ammar.'"[pranala nonaktif permanen]
  8. ↑ See:
    • Holt (1977a), p.57
    • Lapidus (2002), p.32
    • Madelung (1996), p.43
    • Tabatabaei (1979), p.30–50
  9. ↑ Sahih Bukhari
  10. ↑ Zwettler, Michael (1990). "A Mantic Manifesto: The Sura of "The Poets" and the Qur'anic Foundations of Prophetic Authority". Poetry and Prophecy: The Beginnings of a Literary Tradition. Cornell University Press. hlm. 84. ISBN 0-8014-9568-7.
  11. ↑ Rubin, Uri (1995). The Eye of the Beholder: The life of Muhammad as viewed by the early Muslims. Princeton, New Jersey: The Darwin Press Inc. hlm. 135–138. ISBN 978-0-87850-110-6.
  12. ↑ Razwy, Sayed Ali Asgher. A Restatement of the History of Islam & Muslims. hlm. 54–55.
  13. ↑ Rubin (1995, hlm. 137)
  14. ↑ Irving, Washington (1868), Mahomet and His Successors, vol. I, New York: G. P. Putnam and Son, hlm. 71
  15. ↑ Rubin (1995, hlm. 136–137)
  16. 1 2 Foody, Kathleen (September 2015). Jain, Andrea R. (ed.). "Interiorizing Islam: Religious Experience and State Oversight in the Islamic Republic of Iran". Journal of the American Academy of Religion. 83 (3). Oxford: Oxford University Press on behalf of American Academy of Religion: 599–623. doi:10.1093/jaarel/lfv029. eISSN 1477-4585. ISSN 0002-7189. JSTOR 24488178. LCCN sc76000837. OCLC 1479270. For Shiʿi Muslims, Muhammad not only designated ʿAlī as his friend, but appointed him as his successor—as the "lord" or "master" of the new Muslim community. ʿAlī and his descendants would become known as the Imams, divinely guided leaders of the Shiʿi communities, sinless, and granted special insight into the Qurʾanic text. The theology of the Imams that developed over the next several centuries made little distinction between the authority of the Imams to politically lead the Muslim community and their spiritual prowess; quite to the contrary, their right to political leadership was grounded in their special spiritual insight. While in theory, the only just ruler of the Muslim community was the Imam, the Imams were politically marginal after the first generation. In practice, Shiʿi Muslims negotiated varied approaches to both interpretative authority over Islamic texts and governance of the community, both during the lifetimes of the Imams themselves and even more so following the disappearance of the twelfth and final Imam in the ninth century.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Newman, Andrew J. Shiʿi. Encyclopedia Britannica. Diakses tanggal 28 Desember 2021.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ Esposito, John. "What Everyone Needs to Know about Islam". Oxford University Press, 2002 | ISBN978-0-19-515713-0. p. 40
  19. ↑ "From the article on Shii Islam in Oxford Islamic Studies Online". Oxfordislamicstudies.com. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Mei 2012. Diakses tanggal 4 Mei 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. 1 2 Amir-Moezzi, Mohammad Ali (2014). "Ghadīr Khumm". Dalam Kate Fleet; Gundrun Krämer; Denis Matringe; John Nawas; Everett Rowson (ed.). Ghadīr Khumm. Encyclopaedia of Islam Three. doi:10.1163/1573-3912_ei3_COM_27419.
  21. ↑ Olawuyi, Toyib (2014). On the Khilafah of Ali over Abu Bakr. CreateSpace Independent Publishing Platform. hlm. 3. ISBN 978-1-4928-5884-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 April 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ "The Shura Principle in Islam – by Sadek Sulaiman". www.alhewar.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Juli 2016. Diakses tanggal 18 Juni 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ "Sunnis and Shia: Islam's ancient schism". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2016-01-04. Diakses tanggal 2021-08-14.
  24. ↑ [butuh rujukan]
  25. ↑ "After the death of Allah 's Apostle Fatima the daughter of Allah's Apostle asked Abu Bakr As-Siddiq to give her, her share of inheritance from what Allah's Apostle had (p. 1) – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ "Lesson 8: The Shiʻah among the Companions {sahabah}". Al-Islam.org. Februari 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juli 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ "Chapter 3: State of Affairs in Saqifah after the Death of the Prophet". Al-Islam.org. 21 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juli 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ "Did Imam Ali Give Allegiance to Abu Bakr?". Islamic Insights. 8 Desember 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. ↑ Riz̤vī, Sayyid Sa'eed Ak̲h̲tar Riz̤vī. Slavery: From Islamic & Christian Perspectives. Richmond, British Columbia: Vancouver Islamic Educational Foundation, 1988. Print. ISBN0-920675-07-7 pp. 35–36
  30. ↑ "The Succession to Muhammad" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 30 Juli 2017. Diakses tanggal 14 Juni 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  31. ↑ Shaikh, Asif. Sahaba: The Companion. n.p., n.d. Print. pp. 42–45
  32. ↑ Peshawar Nights
  33. ↑ A list composed of sources such as Ibn Hajar Asqalani and Baladhuri, each in his Ta'rikh, Muhammad Bin Khawind Shah in his Rauzatu's-Safa, Ibn Abdu'l-Birr in his Isti'ab
  34. ↑ Muhammad ibn Jarir al-Tabari, vol. 3, p. 208; Ayoub, 2003, 21
  35. 1 2 3 4 Merriam-Webster's Encyclopedia of World Religions, Wendy Doniger, Consulting Editor, Merriam-Webster, Inc., Springfield, MA 1999, ISBN0-87779-044-2, LoC: BL31.M47 1999, p. 525
  36. 1 2 Esposito, John. "What Everyone Needs to Know about Islam" Oxford University Press, 2002. ISBN978-0-19-515713-0. p. 46
  37. ↑ The New Encyclopædia Britannica, 15th ed., Encyclopædia Britannica, Inc., 1998, ISBN0-85229-663-0, Vol. 10, p. 738
  38. ↑ The New Encyclopædia Britannica, 15th ed., Encyclopædia Britannica, Inc., 1998, ISBN0-85229-663-0, Vol. 10, p. tid738
  39. ↑ M. Ishaq, "Hakim Bin Jabala – An Heroic Personality of Early Islam", Journal of the Pakistan Historical Society, pp. 145–150, (April 1955).
  40. ↑ Derryl N. Maclean," Religion and Society in Arab Sind", p. 126, Brill, (1989) ISBN90-04-08551-3.
  41. ↑ Mirza Kalichbeg Fredunbeg, "The Chachnama", p. 43, The Commissioner's Press, Karachi (1900).
  42. ↑ Ibn Athir, Vol. 3, pp. 45–46, 381, as cited in: S. A. N. Rezavi, "The Shia Muslims", in History of Science, Philosophy and Culture in Indian Civilization, Vol. 2, Part. 2: "Religious Movements and Institutions in Medieval India", Chapter 13, Oxford University Press (2006).
  43. ↑ Ibn Sa'd, 8:346. The raid is noted by Baâdhurî, "fatooh al-Baldan" p. 432, and Ibn Khayyât, Ta'rîkh, 1:173, 183–184, as cited in: Derryl N. Maclean," Religion and Society in Arab Sind", p. 126, BRILL, (1989) ISBN90-04-08551-3.
  44. ↑ Tabarî, 2:129, 143, 147, as cited in: Derryl N. Maclean," Religion and Society in Arab Sind", p. 126, Brill, (1989) ISBN90-04-08551-3.
  45. ↑ ""Solhe Emam Hassan"-Imam Hassan Sets Peace". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Maret 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  46. ↑ تهذیب التهذیب. hlm. 271.
  47. ↑ Madelung, Wilferd (2003). "Ḥasan b. ʿAli b. Abi Ṭāleb". Encyclopædia Iranica. Retrieved 7 November 2018.
  48. ↑ Discovering Islam: making sense of Muslim history and society (2002) Akbar S. Ahmed
  49. ↑ Alkhateeb, Firas (2014). Lost Islamic History. London: Hurst Publishers. hlm. 85. ISBN 9781849043977.
  50. ↑ Ochsenwald, William (2004). The Middle East: A History. Boston: McGraw Hill. hlm. 90. ISBN 0072442336.
  51. ↑ "Mapping the Global Muslim Population: A Report on the Size and Distribution of the World's Muslim Population". Pew Research Center. Oktober 7, 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-04-01. Diakses tanggal 2010-08-24. Of the total Muslim population, 11-12% are Shia Muslims and 87-88% are Sunni Muslims.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  52. ↑ "Religions". CIA World Factbook. Diarsipkan dari asli tanggal Juni 13, 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  53. ↑ "Mapping the Global Muslim Population". Pew Research Center. 7 Oktober 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Lihat pula

Referensi

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan