Rabu, 07 Oktober 2026
16:42 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara
Muhammad bin al-Hanafiyah

Muhammad bin al-Hanafiyah

Bagikan:
Muhammad
bin al-Hanafiyah
محمد بن الحنفية
250px-%D9%85%D8%AD%D9%85%D8%AF_%D8%A8%D9%86_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%86%D9%81%D9%8A%D8%A9.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kaligrafi nama Muhammad bin al-Hanafiyah dalam Kaligrafi Arab.
Lahir
Muhammad

21 H (642 M)
Madinah
Meninggal81 H (700 M)
Nama lainMuhammad al-Akbar
KewarganegaraanKhulafaur Rasyidin, Umayyah
Dikenal karenaPutra Ali bin Abi Thalib, Tabi'in
AnakAbu Hasyim
Hasan
Ali
Husayn
Ibrahim
Awn
Qasim
Ja'far
Orang tuaAli bin Abi Thalib (ayah)
Khaulah binti Ja'far al-Hanafiyah (ibu)
Kerabat

Abul Qasim Muhammad bin al-Hanafiyah (bahasa Arab:أبو القاسم محمد بن الحنفية), atau nama aslinya Muhammad bin Ali bin Abi Thalib,[1] adalah salah seorang putra Ali bin Abi Thalib.[2] Ibunya adalah Khaulah binti Ja'far dari Bani Hanifah, wanita berkulit hitam, sebagai tawanan dari Pertempuran Yamamah,[3] yang dinikahi Ali setelah wafatnya Fatimah az-Zahra putri Nabi Muhammad pada masa khalifah Abu Bakar.[2]

Biografi

Muhammad bin Ali lahir sekitar tahun 642 di Madinah, yaitu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.[1] Muhammad juga dikenal dengan nama Muhammad al-Akbar dan dipanggil dengan kunyah Abul Qasim.[4][1]

Abu Ashim An-Nabil berkata, "Muhammad bin Ali menyerang Marwan bin Hakam pada waktu perang Jamal dan dia duduk di atas dadanya."[3] Abu Al-Yaqdhan menyebutkan bahwa panji Ali ketika berangkat dari Dzi Qar menjelang perang Jamal, dibawa oleh putranya, Muhammad.

Ketika sampai berita kematian Mu'awiyah ke Madinah saat itu Al Husain, Ibnu Al Hanafiyah dan Ibnu Az-Zubair berada di Madinah, sedangkan Ibnu Abbas saat itu berada di Makkah. Maka Al Husain dan Ibnu Az-Zubair pergi ke Makkah, sedangkan Ibnu Al Hanafiyah tetap tinggal di Madinah. Ketika dia mendengar bala tentara sudah dekat -saat perang Al Harrah-, dia segera pergi ke Mekah dan tinggal di sana bersama Ibnu Abbas. Pada saat Yazid meninggal, Ibnu Az-Zubair dibai'at dan dia mengajak keduanya (Ibnu Abbas dan Ibnu al-Hanafiyyah) untuk membaiatya, sehingga keduanya berkata, 'Tidak, sampai kamu dapat menyatukan negaramu'. Oleh karena itu, Ibnu Az-Zubair kadang keras dan kadang lunak kepada mereka berdua.[3]

Ibnu Al-Hanafiyah meriwayatkan dari Umar, Ali, Abu Hurairah, Utsman, Ammar bin Yassir, Muawiyah dan lainnya. Yang meriwayatkan darinya antara lain: anak-anaknya sendiri, yaitu Abdullah, Al-Hasan, Ibrahim, dan Aun; juga Salim bin Abi Al-Ja'd, Al-Mundzir Al-Tsauri, Abu Ja'far Al-Baqir, Abdullah bin Muhammad bin Aqil, Amr bin Dinar, Muhammad bin Qais bin Makhramah, Abdul A'la bin Amir Al-Tsa'labi, dan lain-lain. Ia memakai serban hitam, berkulit hitam mewarnai rambutnya, memakai celak dan mewarnai jenggotnya agak kemerahan.[3]

Kepemimpinannya dalam Bani Hasyim

Setelah terbunuhnya Husain bin Ali dalam Peristiwa Karbala, Muhammad bin al-Hanafiyah muncul sebagai tokoh utama kelompok keluarga Ali dalam memperjuangkan Klaim Kepemimpinan atas Umat Islam. Ia dan bani Hasyim sempat dikurung dan diancam oleh Ibnu Zubair pada 65 H, lalu datang bantuan Mukhtar dari Kufah mengutus Abu Abdullah al-Jadali ke Mekah membawa 4.000 pasukan untuk membebaskan Ibnu al-Hanafiyah dan Ibnu Abbas dari tahanan rumah pada 66 H.[3] Al-Jadali lalu mengutus Athiyyah dengan 800 pasukan masuk ke Mekah untuk mengeluarkan Ibnu al-Hanafiyah dan Ibnu Abbas lalu membawanya ke Thaif.

Ia didukung oleh Al-Mukhtar ats-Tsaqafi dan para pengikutnya, yang terutama berada di Kufah, Irak, dalam menghadapi kelompok-kelompok Khawarij (di Yaman), Bani Umayyah (di Syam dan Mesir), serta Abdullah bin Zubair (di Hijaz dan Irak).

Ketika musim haji tiba, saat Mekah dikuasai Ibnu Zubair, Muhammad datang bersama para sahabatnya dan berwukuf. Najdah bin Amir Al-Hanafi juga datang bersama kelompok Khawarij di satu sisi. Sementara Bani Umayyah berhaji dengan satu panji dan berwukuf di Arafah.[3]

Ia pernah datang menemui Muawiyah dan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 78 H. Pada masanya, kaum Syiah sangat berlebih-lebihan dalam mengagungkannya, mengklaim bahwa ia adalah imam mereka, dan menjulukinya sebagai "Al-Mahdi", bahkan mereka beranggapan bahwa ia tidak meninggal namun Al-Hanafiyah selalu menasihati pengikutnya bahwa ia hanya manusia biasa dan tetap kembali kepada al-Quran.[3]

Ketika Bani Umayyah akhirnya dapat mengatasi perlawanan kelompok-kelompok lainnya, termasuk Al-Mukhtar ats-Tsaqafi yang terbunuh pada tahun 67 H / 687 M kelompok Kaisaniyah secara teknis melemah. Lalu Ibnu Zubair mengutus saudaranya Urwah bin Zubair untuk mengajak Muhammad mendukungnya lagi, tetapi kembali di tolak. Akhirnya Ibnu al-Hanafiyah mengakui kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah pada tahun 692. Ketika Muhammad bin Ali menghadap Khalifah Abdul Malik bin Mawran di Damaskus pada 78 H, dia berkata kepadanya, "lngatkah hari ketika kamu duduk di atas dada Marwan?' Dia menjawab, 'Maaf wahai Amirul Mukminin'. Abdul Malik berkata, 'Demi Allah, aku mengingatkannya kepadamu bukan berarti aku ingin menuntutnya kepadamu, tetapi aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku mengetahuinya'."[3] Abdul Malik lalu melunasi hutang Muhammad. Abdul Malik meminta pedang Nabi Muhammad dan Al-Hanafiyah menyerahkannya. Al-Hanafiyah juga mengadukan berkaitan sikap buruk al-Hajjaj padanya sehingga Abdul Malik meminta Hajjaj untuk meminta maaf padanya.

Kematian

250px-Muhammad_ibn_al-Hanafiyya.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kaligrafi Ibnu Hanafiyah.

Setelah Abdullah bin Zubair terbunuh oleh Hajjaj, lalu Muhammad bin al-Hanafiyah melakukan perjalanan ke Kufah dan ke Madinah lalu menunaikan haji, melempar jumrah dengan mengendarai kuda abu-abu. Setelah semua bersepakat membaiat Abdul Malik, barulah Muhammad membaiatnya sebagai Khalifah. Selanjutnya ia menjauhi politik hingga jatuh sakit dan wafat pada 80/81 H atau 700 M di Baqi Madinah pada usia 65 tahun. Turut mensolatkannya gubernur Madinah, Aban bin Utsman.[3]

Setelah wafatnya ia dianggap sebagai Imam Mahdi oleh kelompok Kaisaniyyah (Khasyabiyyah)[5][6] salah suatu aliran Syiah awal yang kemudian menghilang pada akhir abad ke-8 M seiring bangkitnya kekuasaan Bani Abbasiyah.[6] Semasa hidup beberapa pendukunya menyebutnya sebagai al-Mahdi, tetapi dengan rendah hati Muhammad menolaknya. Muhammad bin Ali al-Abbasi telah mengklaim mengambil alih hak kepemimpinan kelompok ini melalui pemberian hak itu dari putra sulung Ibnu al-Hanafiyah padanya di Hamimah dan mengembangkannya menjadi gerakan revolusi yang menjatuhkan Marwan al-Himar.

Keluarga

Muhammad bin al-Hanafiyah mempunyai dua putra, yaitu Abu Hasyim dan al-Hasan.[7] Abu Hasyim diangkat sebagai penerus kepemimpinan ayahnya oleh kelompok Syi'ah Kaisaniyah, sedangkan Al-Hasan bersikap sebagaimana aliran Murji'ah yang tidak berpihak pada kelompok manapun.[8]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 Khairuddin Az-Zirikli. Al-A'lam Az-Zirikli – Ibnu al-Hanafiyah (dalam bahasa Arab). Vol. 6. hlm. 270. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-08-11. Diakses tanggal 2025-05-16.{{cite book}}: |website= diabaikan
  2. 1 2 Nadwi, Sayyid Sulaiman (2015). Ali bin Abi Thalib. Puspa Swara. hlm. 163. ISBN 9791479879, 9789791479875. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
  4. ↑ Ibnu Katsir (2021). Agus (ed.). Ali Bin Abi Thalib; Biografi dan Pengangkatan Beliau Sebagai Khalifah: Seri Sejarah Khulafaur Rasyidin. Diterjemahkan oleh Muhammad Ahsan bin Usman. Hikam Pustaka. hlm. 30. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-08. Diakses tanggal 2022-03-08.
  5. ↑ Madelung, Wilferd; Walker, Paul Ernest (1998). The "Bāb Al-shayṭān" from Abū Tammām's Kitāb Al-shajara. Vol. 23 of Islamic history and civilization. BRILL. hlm. 94-97. ISBN 9004110720, 9789004110724. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08.
  6. 1 2 Yücesoy, Hayrettin (2009). Messianic Beliefs and Imperial Politics in Medieval Islam: The ʻAbbāsid Caliphate in the Early Ninth Century. Univ of South Carolina Press. hlm. 23-24. ISBN 1570038198, 9781570038198. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08.
  7. ↑ Subani, Hamad (2013). The Secret History of Iran. Cabal Times. hlm. 58-59. ISBN 130408289X, 9781304082893. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08.
  8. ↑ Rahman, Fazlur (2008). Kebangkitan Semula dan Pembaharuan dalam Islam: Satu Kajian tentang Fundamentalisme Islam. ITBM. hlm. 52-54. ISBN 9830682668, 9789830682662. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-09. Diakses tanggal 2017-03-08.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan