Ruterfordium adalah sebuah unsur kimia sintetis dengan lambang Rf dan nomor atom 104. Unsur ini dinamai dari nama fisikawan Ernest Rutherford. Sebagai unsur sintetis, ruterfordium tidak ditemukan di alam dan hanya dapat dibuat di dalam akselerator partikel. Ruterfordium bersifat radioaktif; isotopnya yang diketahui paling stabil, 267Rf, memiliki waktu paruh sekitar 48 menit.
Dalam tabel periodik, ruterfordium merupakan unsur blok-d dan unsur kedua dalam deret unsur transisi baris keempat. Unsur ini berada pada periode 7 dan termasuk golongan 4. Eksperimen kimia telah memastikan bahwa ruterfordium berperilaku sebagai homolog yang lebih berat dari hafnium dalam golongan 4. Sifat kimia ruterfordium baru diketahui sebagian. Sifat-sifat tersebut cukup sesuai dengan unsur-unsur lain dalam golongan 4, meskipun beberapa perhitungan menunjukkan bahwa unsur ini mungkin memiliki sifat yang cukup berbeda akibat efek relativistik.
Pada tahun 1960-an, sejumlah kecil ruterfordium berhasil diproduksi di Institut Bersama untuk Riset Nuklir (JINR) di Uni Soviet dan di Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley (LBNL) di California.[10] Prioritas penemuan dan penamaan unsur ini menjadi sengketa antara ilmuwan Soviet dan Amerika. Baru pada tahun 1997, Persatuan Kimia Murni dan Terapan Internasional (IUPAC) menetapkan ruterfordium sebagai nama resmi unsur tersebut.
Pengantar
Sintesis inti superberat

Inti atom superberat[a] terbentuk dalam suatu reaksi nuklir yang menggabungkan dua inti atom dengan ukuran berbeda[b] menjadi satu inti; secara umum, semakin besar perbedaan massa kedua inti tersebut, semakin besar kemungkinan keduanya bereaksi.[17] Material yang terdiri dari inti-inti yang lebih berat dibuat menjadi target, yang kemudian ditembaki oleh berkas inti-inti yang lebih ringan. Dua inti hanya dapat berfusi menjadi satu jika keduanya berada cukup dekat satu sama lain. Biasanya, inti atom (yang semuanya bermuatan positif) saling tolak-menolak akibat tolakan elektrostatik. Interaksi kuat dapat mengatasi tolakan ini, tetapi hanya dalam jarak yang sangat pendek dari inti. Oleh karena itu, inti-inti dalam berkas dipercepat dengan sangat kuat agar tolakan tersebut menjadi tidak signifikan dibandingkan dengan kecepatan inti dalam berkas.[18] Energi yang diberikan untuk mempercepat inti-inti dalam berkas dapat membuatnya mencapai kecepatan hingga sepersepuluh kecepatan cahaya. Namun, jika energi yang diberikan terlalu besar, inti dalam berkas dapat terurai.[18]
Berada cukup dekat saja belum cukup bagi dua inti untuk berfusi. Ketika dua inti saling mendekat, biasanya keduanya hanya tetap bersama selama sekitar 10−20 detik, kemudian berpisah kembali (tidak selalu dengan komposisi yang sama seperti sebelum reaksi), alih-alih membentuk satu inti.[18][19] Hal ini terjadi karena selama upaya pembentukan satu inti, tolakan elektrostatik dapat memisahkan inti yang sedang terbentuk.[18] Setiap pasangan target dan berkas dicirikan oleh penampang lintangnya, yaitu probabilitas terjadinya fusi apabila dua inti saling mendekat, yang dinyatakan dalam bentuk luas penampang melintang yang harus terkena oleh partikel datang agar fusi terjadi.[c] Fusi ini dapat terjadi sebagai akibat efek kuantum yang memungkinkan inti-inti menembus tolakan elektrostatik melalui proses yang disebut penerowongan kuantum. Jika kedua inti dapat tetap berdekatan setelah melewati tahap tersebut, berbagai interaksi nuklir akan terjadi dan menyebabkan redistribusi energi hingga tercapai keseimbangan energi.[18]
Hasil penggabungan tersebut berada dalam keadaan tereksitasi[22]—yang disebut inti gabungan—dan karena itu sangat tidak stabil.[18] Untuk mencapai keadaan yang lebih stabil, penggabungan sementara ini dapat mengalami fisi tanpa membentuk inti yang lebih stabil.[23] Sebagai alternatif, inti gabungan dapat memancarkan beberapa neutron yang membawa pergi energi eksitasi. Jika energi tersebut tidak cukup untuk menyebabkan pelepasan neutron, inti gabungan akan memancarkan sinar gama. Proses ini terjadi sekitar 10−16 detik setelah tumbukan nuklir awal dan menghasilkan inti yang lebih stabil.[23] Definisi yang ditetapkan oleh Pihak Kerja Bersama IUPAC/IUPAP (JWP) menyatakan bahwa suatu unsur kimia hanya dapat diakui sebagai unsur yang telah ditemukan jika inti atomnya tidak meluruh dalam waktu 10−14 detik. Nilai ini dipilih sebagai perkiraan waktu yang diperlukan sebuah inti untuk memperoleh elektron dan dengan demikian menunjukkan sifat-sifat kimianya.[24][d]
Peluruhan dan deteksi
Berkas melewati target dan mencapai ruang berikutnya, yaitu pemisah; jika inti baru terbentuk, inti tersebut akan terbawa bersama berkas ini.[26] Di dalam pemisah, inti yang baru terbentuk dipisahkan dari nuklida lainnya (baik nuklida dari berkas awal maupun produk reaksi lainnya),[e] kemudian dipindahkan ke detektor perintang permukaan yang menghentikan inti tersebut. Lokasi pasti dari tumbukan yang akan terjadi pada detektor ditandai; demikian pula energi dan waktu kedatangannya.[26] Proses pemindahan berlangsung sekitar 10−6 detik; agar dapat dideteksi, inti tersebut harus bertahan hidup selama waktu tersebut.[29] Inti tersebut kemudian dicatat kembali ketika peluruhannya terdeteksi, dan lokasi, energi, serta waktu peluruhan diukur.[26]
Kestabilan suatu inti diberikan oleh interaksi kuat. Namun, jangkauan interaksi ini sangat pendek; ketika ukuran inti semakin besar, pengaruhnya terhadap nukleon terluar (proton dan neutron) semakin melemah. Pada saat yang sama, inti ditarik untuk terpecah oleh tolakan elektrostatik antarproton, dan jangkauan gaya ini tidak terbatas.[30] Energi ikat total yang diberikan oleh interaksi kuat meningkat secara linear terhadap jumlah nukleon, sedangkan tolakan elektrostatik meningkat sebanding dengan kuadrat nomor atom. Dengan kata lain, tolakan elektrostatik meningkat lebih cepat dan menjadi semakin penting pada inti berat dan superberat.[31][32] Oleh karena itu, secara teoretis inti superberat diprediksi[33] dan sejauh ini telah diamati[34] meluruh terutama melalui mode peluruhan yang disebabkan oleh tolakan tersebut, yaitu peluruhan alfa dan fisi spontan.[f] Hampir semua pemancar alfa memiliki lebih dari 210 nukleon,[36] dan nuklida paling ringan yang umumnya mengalami fisi spontan memiliki 238 nukleon.[37] Pada kedua mode peluruhan tersebut, inti dihambat untuk meluruh oleh perintang energi yang sesuai untuk masing-masing mode, tetapi inti tetap dapat melewati perintang tersebut melalui penerowongan kuantum.[31][32]

Partikel alfa umumnya dihasilkan dalam peluruhan radioaktif karena massa partikel alfa per nukleon cukup kecil sehingga masih terdapat sejumlah energi yang dapat digunakan sebagai energi kinetik partikel alfa untuk meninggalkan inti.[39] Fisi spontan disebabkan oleh tolakan elektrostatik yang merobek inti dan menghasilkan berbagai inti yang berbeda pada setiap peristiwa fisi dari inti-inti yang identik.[32] Seiring meningkatnya nomor atom, fisi spontan menjadi semakin penting dengan cepat: waktu paruh parsial fisi spontan berkurang sebesar 23 orde besaran dari uranium (unsur 92) hingga nobelium (unsur 102),[40] dan sebesar 30 orde besaran dari torium (unsur 90) hingga fermium (unsur 100).[41] Model tetesan cair yang lebih awal kemudian menyatakan bahwa fisi spontan akan terjadi hampir seketika karena hilangnya perintang fisi pada inti yang memiliki sekitar 280 nukleon.[32][42] Model kulit inti yang muncul kemudian menyatakan bahwa inti dengan sekitar 300 nukleon akan membentuk pulau kestabilan, tempat inti-inti akan lebih tahan terhadap fisi spontan dan umumnya mengalami peluruhan alfa dengan waktu paruh yang lebih panjang.[32][42] Penemuan-penemuan berikutnya menunjukkan bahwa pulau kestabilan yang diprediksi mungkin berada lebih jauh daripada perkiraan awal. Penemuan tersebut juga menunjukkan bahwa inti yang berada di antara aktinida berumur panjang dan pulau kestabilan yang diprediksi memiliki bentuk terdeformasi serta memperoleh kestabilan tambahan dari efek kulit.[43] Eksperimen terhadap inti superberat yang lebih ringan,[44] serta inti yang lebih dekat dengan pulau kestabilan yang diperkirakan,[40] menunjukkan kestabilan terhadap fisi spontan yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan pentingnya efek kulit pada inti.[g]
Peluruhan alfa dideteksi melalui partikel alfa yang dipancarkan, dan produk peluruhan dapat dengan mudah ditentukan sebelum peluruhan yang sebenarnya terjadi. Jika peluruhan tersebut, atau serangkaian peluruhan berturut-turut, menghasilkan inti yang telah diketahui, maka produk awal dari suatu reaksi dapat dengan mudah ditentukan.[h] Hubungan antara semua peluruhan dalam suatu rantai peluruhan dapat dipastikan berdasarkan lokasi peluruhan tersebut, yang harus terjadi di inti yang telah diketahui dapat dikenali berdasarkan karakteristik spesifik peluruhan yang dialaminya, seperti energi peluruhan atau, lebih khusus lagi, energi kinetik partikel yang dipancarkan.[i] Namun, fisi spontan menghasilkan berbagai inti sebagai produk, sehingga nuklida awal tidak dapat ditentukan berdasarkan inti-inti hasil peluruhannya.[j]
Dengan demikian, informasi yang tersedia bagi para fisikawan yang bertujuan mensintesis unsur superberat adalah informasi yang dikumpulkan oleh detektor: lokasi, energi, dan waktu kedatangan suatu partikel ke detektor, serta lokasi, energi, dan waktu peluruhannya. Para fisikawan menganalisis data tersebut dan berusaha menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut memang disebabkan oleh unsur baru dan tidak mungkin disebabkan oleh nuklida lain selain yang diklaim. Sering kali, data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan dengan pasti bahwa unsur baru telah berhasil diciptakan, meskipun tidak terdapat penjelasan lain untuk efek yang diamati. Kesalahan dalam menafsirkan data juga pernah terjadi.[k]
Sejarah
Penemuan
Ruterfordium pertama kali dilaporkan terdeteksi pada tahun 1964 di Institut Bersama untuk Riset Nuklir di Dubna (yang pada saat itu merupakan bagian dari Uni Soviet). Para peneliti di sana menembaki target 242Pu dengan ion 22Ne. Aktivitas fisi spontan dengan waktu paruh 0,3±0,1 detik terdeteksi dan dikaitkan dengan isotop 260Rf. Namun, penelitian selanjutnya tidak menemukan isotop unsur 104 yang memiliki waktu paruh tersebut, sehingga identifikasi ini dianggap tidak tepat.[55]
Pada tahun 1966–1969, percobaan tersebut diulangi. Kali ini, produk-produk reaksi dipisahkan menggunakan termokromatografi gradien setelah diubah menjadi senyawa klorida melalui interaksi dengan ZrCl4. Tim peneliti mengidentifikasi aktivitas fisi spontan yang terdapat dalam klorida volatil dan menunjukkan sifat seperti eka-hafnium.[55]
- 242
94Pu + 22
10Ne → 264−x
104Rf → 264−x
104RfCl4
Para peneliti menganggap hasil tersebut mendukung waktu paruh 0,3 detik. Meskipun sekarang diketahui bahwa tidak ada isotop unsur 104 yang memiliki waktu paruh seperti itu, hasil kimianya sesuai dengan sifat unsur 104, karena volatilitas klorida jauh lebih tinggi pada unsur golongan 4 dibandingkan dengan golongan 3 atau aktinida.[55]
Pada tahun 1969, para peneliti di Universitas California, Berkeley berhasil mensintesis unsur tersebut secara meyakinkan dengan menembaki target 249Cf menggunakan ion 12C. Mereka kemudian mengukur peluruhan alfa dari 257Rf, yang dikaitkan dengan produk peluruhan dari 253No:[56]
- 249
98Cf + 12
6C → 261
104Rf* → 257
104Rf + 4 1
0n
Mereka tidak dapat mengonfirmasi waktu paruh 0,3 detik untuk 260Rf. Sebaliknya, mereka menemukan bahwa isotop tersebut memiliki waktu paruh 10–30 milidetik, yang sesuai dengan nilai modern sebesar 21 milidetik. Pada tahun 1970, tim Amerika berhasil mengidentifikasi unsur 104 secara kimia menggunakan metode pemisahan pertukaran ion. Hal ini membuktikan bahwa unsur tersebut termasuk golongan 4 dan merupakan homolog yang lebih berat dari hafnium.[57]
Sintesis yang dilakukan oleh tim Amerika dikonfirmasi secara independen pada tahun 1973. Identifikasi ruterfordium sebagai unsur induk semakin dipastikan melalui pengamatan sinar-X K-alfa pada tanda khas unsur dari produk peluruhan 257Rf, yaitu 253No.[58]
Kontroversi penamaan


Sebagai akibat dari klaim penemuan yang saling bersaing pada awalnya, muncul kontroversi mengenai penamaan unsur ini. Karena pihak Soviet mengklaim telah menjadi pihak yang pertama mendeteksi unsur baru tersebut, mereka mengusulkan nama kurchatovium (Ku) untuk menghormati Igor V. Kurchatov (1903–1960), mantan kepala penelitian nuklir Soviet. Nama ini kemudian digunakan dalam buku-buku di negara-negara Blok Soviet sebagai nama resmi unsur tersebut. Sementara itu, pihak Amerika mengusulkan nama rutherfordium (Rf) untuk menghormati fisikawan Selandia Baru, Ernest Rutherford, yang dikenal sebagai "bapak fisika nuklir".[59] Pada tahun 1992, IUPAC/IUPAP Transfermium Working Group (TWG) menilai klaim-klaim penemuan tersebut dan menyimpulkan bahwa kedua tim memiliki bukti yang dibuat pada waktu yang bersamaan mengenai sintesis unsur 104 pada tahun 1969. Oleh karena itu, penghargaan atas penemuan tersebut seharusnya diberikan kepada kedua kelompok. Penilaian ini antara lain melibatkan analisis ulang secara retrospektif terhadap penelitian Rusia berdasarkan fakta yang kemudian ditemukan bahwa tidak ada isotop unsur 104 dengan waktu paruh 0,3 detik. Hasil penelitian Dubna kemudian ditafsirkan ulang sebagai akibat dari cabang fisi spontan dari 259Rf.[55]
Kelompok ilmuwan Amerika memberikan tanggapan keras terhadap temuan TWG tersebut. Mereka menyatakan bahwa TWG memberikan terlalu banyak penekanan pada hasil penelitian kelompok Dubna. Mereka secara khusus menunjukkan bahwa kelompok Rusia telah beberapa kali mengubah rincian klaim mereka selama periode 20 tahun, meskipun tim Rusia tidak menyangkal hal tersebut. Mereka juga menekankan bahwa TWG terlalu mempercayai eksperimen kimia yang dilakukan oleh pihak Rusia. Selain itu, mereka menganggap penilaian retrospektif terhadap penelitian Rusia yang didasarkan pada dokumen yang belum dipublikasikan sebagai tindakan yang "sangat tidak lazim". Mereka juga mencatat bahwa tidak ada bukti bahwa 259Rf sama sekali memiliki cabang fisi spontan.[57] Bahkan hingga tahun 2021, bukti tersebut masih belum ada.[60] Kelompok Amerika juga menuduh bahwa TWG tidak memiliki personel yang memiliki kualifikasi yang sesuai dalam komitenya. TWG menanggapi dengan menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar. Setelah menilai setiap poin yang diajukan oleh kelompok Amerika, TWG menyatakan bahwa mereka tidak menemukan alasan untuk mengubah kesimpulan mereka mengenai prioritas penemuan unsur tersebut.[57]
IUPAC kemudian menggunakan unnilquadium (Unq) sebagai nama sementara dan sistematis untuk unsur 104. Nama tersebut berasal dari nama-nama Latin untuk angka 1, 0, dan 4. Pada tahun 1994, IUPAC mengusulkan sejumlah nama untuk unsur 104 hingga 109. Dalam usulan tersebut, dubnium (Db) menjadi nama unsur 104, sedangkan rutherfordium diberikan kepada unsur 106.[61] Rekomendasi ini mendapat kritik dari para ilmuwan Amerika karena beberapa alasan. Pertama, usulan tersebut dianggap membingungkan: nama rutherfordium dan hahnium, yang awalnya diusulkan oleh Berkeley untuk unsur 104 dan 105, masing-masing dipindahkan menjadi nama untuk unsur 106 dan 108. Kedua, unsur 104 dan 105 diberi nama yang lebih disukai oleh JINR, meskipun sebelumnya LBNL telah diakui sebagai pihak yang turut menemukan kedua unsur tersebut. Ketiga, dan yang paling penting, IUPAC menolak nama seaborgium untuk unsur 106, meskipun sebelumnya telah menetapkan aturan bahwa suatu unsur tidak boleh dinamai berdasarkan nama orang yang masih hidup. Hal ini dianggap tidak konsisten karena IUPAC sebelumnya memberikan pengakuan penuh kepada tim LBNL atas penemuan unsur tersebut.[62] Pada tahun 1997, IUPAC mengganti nama unsur 104 hingga 109. Unsur 104 diberi nama rutherfordium sedangkan unsur 106 diberi nama seaborgium, sesuai dengan usulan dari Berkeley. Pada saat yang sama, nama dubnium diberikan kepada unsur 105. Nama-nama yang ditetapkan pada tahun 1997 tersebut kemudian diterima oleh para peneliti dan menjadi nama standar yang digunakan hingga sekarang.[63]
Isotop
Ruterfordium tidak memiliki isotop stabil maupun isotop yang terdapat secara alami. Beberapa isotop radioaktif telah disintesis di laboratorium, baik melalui penggabungan dua atom maupun dengan mengamati peluruhan unsur-unsur yang lebih berat. Tujuh belas isotop berbeda telah dilaporkan dengan massa atom dari 252 hingga 270 (kecuali 264 dan 269). Sebagian besar isotop tersebut umumnya meluruh melalui fisi spontan, khususnya isotop dengan jumlah neutron genap, sementara beberapa isotop yang lebih ringan dengan jumlah neutron ganjil juga memiliki cabang peluruhan alfa yang signifikan.[8][64]
Kestabilan dan waktu paruh
Di antara isotop-isotop yang waktu paruhnya telah diketahui, isotop yang lebih ringan biasanya memiliki waktu paruh yang lebih pendek. Tiga isotop paling ringan yang diketahui memiliki waktu paruh kurang dari 50 μs, dengan isotop paling ringan yang dilaporkan, 252Rf, memiliki waktu paruh kurang dari 1 μs.[65][66] Isotop 256Rf, 258Rf, dan 260Rf lebih stabil, dengan waktu paruh sekitar 10 ms; 255Rf, 257Rf, 259Rf, dan 262Rf memiliki waktu hidup antara 1 hingga 5 detik; sedangkan 261Rf, 265Rf, dan 263Rf lebih stabil, dengan waktu paruh masing-masing sekitar 1,1 menit, 1,5 menit, dan 10 menit. Isotop yang paling stabil yang diketahui, 267Rf, merupakan salah satu isotop terberat dan memiliki waktu paruh sekitar 48 menit.[67] Isotop ruterfordium dengan jumlah neutron ganjil cenderung memiliki waktu paruh lebih panjang dibandingkan tetangganya yang bersifat genap–genap, karena neutron ganjil memberikan hambatan tambahan terhadap fisi spontan.
Isotop-isotop yang paling ringan disintesis melalui fusi langsung antara dua inti yang lebih ringan dan juga ditemukan sebagai produk peluruhan. Isotop terberat yang dihasilkan melalui fusi langsung adalah 262Rf; isotop yang lebih berat hanya diamati sebagai produk peluruhan dari unsur-unsur dengan nomor atom yang lebih besar. Isotop berat 266Rf dan 268Rf juga telah dilaporkan sebagai hasil tangkapan elektron dari isotop dubnium 266Db dan 268Db, tetapi keduanya memiliki waktu paruh yang sangat singkat akibat fisi spontan. Kemungkinan hal yang sama juga berlaku untuk 270Rf, yang mungkin merupakan produk peluruhan dari 270Db.[68] Ketiga isotop ini masih belum terkonfirmasi.
Pada tahun 1999, para ilmuwan Amerika di Universitas California, Berkeley, mengumumkan bahwa mereka telah berhasil menyintesis tiga atom 293Og.[69] Inti induk tersebut dilaporkan berturut-turut memancarkan tujuh partikel alfa untuk membentuk inti 265Rf, tetapi klaim tersebut ditarik kembali pada tahun 2001.[70] Isotop ini kemudian ditemukan pada tahun 2010 sebagai produk akhir dalam rantai peluruhan 285Fl.[71]
Sifat yang diprediksi
Sangat sedikit sifat ruterfordium atau senyawanya yang telah diukur. Hal ini disebabkan oleh produksinya yang sangat terbatas dan mahal,[17] serta karena ruterfordium (dan unsur induknya) meluruh dengan sangat cepat. Beberapa sifat kimia tertentu telah berhasil diukur, tetapi sifat logam ruterfordium masih belum diketahui dan hanya tersedia berdasarkan prediksi.
Sifat kimia
Ruterfordium merupakan unsur transaktinida pertama dan anggota kedua dari deret logam transisi 6d. Perhitungan mengenai potensial ionisasi, jari-jari atom, serta jari-jari, energi orbital, dan tingkat dasar dari keadaan terionisasinya menunjukkan hasil yang serupa dengan hafnium dan sangat berbeda dengan timbal. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa sifat dasar ruterfordium akan menyerupai unsur-unsur lain dalam golongan 4, yaitu di bawah titanium, zirkonium, dan hafnium.[72][73] Beberapa sifatnya telah ditentukan melalui eksperimen fase gas dan kimia dalam larutan. Keadaan oksidasi +4 merupakan satu-satunya keadaan stabil bagi zirkonium dan hafnium, sehingga ruterfordium juga diperkirakan memiliki keadaan +4 yang stabil.[73] Selain itu, ruterfordium juga diperkirakan dapat membentuk keadaan +3 yang kurang stabil.[3] Potensial reduksi standar dari pasangan Rf4+/Rf diperkirakan lebih tinggi daripada −1,7 V.[6]
Prediksi awal mengenai sifat kimia ruterfordium didasarkan pada perhitungan yang menunjukkan bahwa efek relativistik pada kulit elektron mungkin cukup kuat sehingga orbital 7p memiliki tingkat energi yang lebih rendah daripada orbital 6d. Hal ini akan memberikan konfigurasi elektron valensi 6d1 7s2 7p1 atau bahkan 7s2 7p2, sehingga unsur tersebut akan berperilaku lebih mirip timbal daripada hafnium. Namun, dengan metode perhitungan yang lebih baik dan penelitian eksperimental terhadap sifat kimia senyawa ruterfordium, dapat ditunjukkan bahwa hal tersebut tidak terjadi dan ruterfordium justru berperilaku seperti unsur-unsur lain dalam golongan 4.[3][73] Kemudian, melalui perhitungan ab initio dengan tingkat ketelitian yang tinggi,[74][75][76] diketahui bahwa atom Rf memiliki keadaan dasar dengan konfigurasi valensi 6d2 7s2 dan keadaan tereksitasi berenergi rendah 6d1 7s2 7p1, dengan energi eksitasi hanya sebesar 0,3–0,5 eV.
Serupa dengan zirkonium dan hafnium, ruterfordium diperkirakan membentuk oksida yang sangat stabil dan tahan panas, yaitu RfO2. Ruterfordium bereaksi dengan halogen untuk membentuk tetrahalida, RfX4, yang mengalami hidrolisis ketika bersentuhan dengan air dan membentuk oksihalida RfOX2. Tetrahalida tersebut merupakan padatan volatil yang berada sebagai molekul tetrahedral monomerik dalam fase uap.[73]
Dalam fase berair, ion Rf4+ mengalami hidrolisis lebih sedikit daripada titanium(IV) dan dalam tingkat yang serupa dengan zirkonium dan hafnium, sehingga menghasilkan ion RfO2+. Perlakuan terhadap halida dengan ion halida mendorong pembentukan ion kompleks. Penggunaan ion klorida dan bromida menghasilkan kompleks heksahalida RfCl2−6 dan RfBr2−6. Untuk kompleks fluorida, zirkonium dan hafnium cenderung membentuk kompleks hepta- dan okta-. Oleh karena itu, untuk ion ruterfordium yang lebih besar, kompleks RfF2−6, RfF3−7, dan RfF4−8 dimungkinkan untuk terbentuk.[73]
Sifat fisik dan atom
Ruterfordium diperkirakan berbentuk padat dalam kondisi normal dan memiliki struktur kristal susunan padat heksagon (c/a = 1,61), serupa dengan kongenernya yang lebih ringan, yaitu hafnium.[7] Ruterfordium diperkirakan merupakan logam dengan massa jenis sekitar 17 g/cm3.[77][5] Jari-jari atom ruterfordium diperkirakan sekitar 150 pm. Akibat stabilisasi relativistik pada orbital 7s dan destabilisasi pada orbital 6d, ion Rf+ dan Rf2+ diprediksi akan melepaskan elektron dari orbital 6d, bukan dari orbital 7s. Hal ini berlawanan dengan perilaku homolognya yang lebih ringan.[3] Pada tekanan tinggi, yang menurut berbagai perhitungan diperkirakan sebesar 72 GPa atau sekitar 50 GPa, ruterfordium diperkirakan akan mengalami perubahan struktur kristal menjadi struktur kubus berpusat-badan. Hafnium berubah menjadi struktur ini pada tekanan 71±1 GPa, tetapi hafnium memiliki struktur antara yang disebut struktur ω, yang terbentuk pada tekanan 38±8 GPa. Struktur antara tersebut diperkirakan tidak terbentuk pada ruterfordium.[78]
Kimia eksperimental
Fase gas

Penelitian awal mengenai kimia ruterfordium berfokus pada termokromatografi gas dan pengukuran kurva adsorpsi suhu deposisi relatif. Penelitian awal tersebut dilakukan di Dubna sebagai upaya untuk menegaskan kembali penemuan unsur tersebut. Penelitian yang lebih baru lebih dapat diandalkan dalam mengidentifikasi radioisotop induk ruterfordium. Isotop 261mRf telah digunakan dalam penelitian ini,[73] meskipun isotop berumur panjang 267Rf (yang dihasilkan dalam rantai peluruhan 291Lv, 287Fl, dan 283Cn) mungkin lebih menguntungkan untuk eksperimen di masa mendatang.[79] Eksperimen tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa ruterfordium merupakan unsur 6d dalam golongan 4 dan oleh karena itu seharusnya membentuk molekul tetraklorida yang volatil dan memiliki bentuk tetrahedral.[73][80][81] Ruterfordium(IV) klorida (RfCl4) lebih volatil daripada homolognya yang lebih ringan, yaitu hafnium(IV) klorida (HfCl4), karena ikatan pada RfCl4 lebih bersifat kovalen.[3]
Serangkaian eksperimen mengonfirmasi bahwa ruterfordium berperilaku sebagai anggota khas golongan 4, dengan membentuk klorida (RfCl4) dan bromida (RfBr4), serta oksiklorida (RfOCl2) tetravalen. Penurunan volatilitas diamati pada RfCl4 ketika kalium klorida digunakan sebagai fase padat, bukan sebagai gas. Hal ini sangat menunjukkan terbentuknya garam campuran K2RfCl6 yang tidak volatil.[72][73][82]
Fase berair
Ruterfordium diperkirakan memiliki konfigurasi elektron [Rn]5f14 6d2 7s2 dan oleh karena itu berperilaku sebagai homolog yang lebih berat dari hafnium dalam golongan 4 pada tabel periodik. Oleh sebab itu, ruterfordium seharusnya dengan mudah membentuk ion Rf4+ terhidrasi dalam larutan asam kuat dan juga mudah membentuk kompleks dalam larutan asam klorida, asam bromida, atau asam fluorida.[73]
Penelitian kimia dalam fase berair yang paling meyakinkan mengenai ruterfordium telah dilakukan oleh tim Jepang di Institut Penelitian Tenaga Atom Jepang menggunakan isotop 261mRf. Eksperimen ekstraksi dari larutan asam klorida menggunakan isotop ruterfordium, hafnium, zirkonium, serta torium sebagai unsur semu golongan 4 telah membuktikan bahwa ruterfordium menunjukkan perilaku non-aktinida. Perbandingan dengan homolognya yang lebih ringan menempatkan ruterfordium secara jelas dalam golongan 4 dan menunjukkan pembentukan kompleks heksaklororuterfordat dalam larutan klorida, dengan cara yang serupa dengan hafnium dan zirkonium.[73][83]
- 261mRf4+ + 6 Cl− → [261mRfCl6]2−
Hasil yang sangat mirip juga diamati dalam larutan asam fluorida. Perbedaan pada kurva ekstraksi ditafsirkan sebagai afinitas yang lebih lemah terhadap ion fluorida dan pembentukan ion heksafluororuterfordat, sedangkan ion hafnium dan zirkonium membentuk kompleks dengan tujuh atau delapan ion fluorida pada konsentrasi yang digunakan:[73]
- 261mRf4+ + 6 F− → [261mRfF6]2−
Eksperimen yang dilakukan dalam larutan campuran asam sulfat dan asam nitrat menunjukkan bahwa ruterfordium memiliki afinitas yang jauh lebih lemah untuk membentuk kompleks sulfat dibandingkan hafnium. Hasil ini sesuai dengan prediksi yang memperkirakan bahwa kompleks ruterfordium akan kurang stabil dibandingkan kompleks zirkonium dan hafnium karena kontribusi ionik yang lebih kecil terhadap ikatan. Hal ini disebabkan oleh ruterfordium yang memiliki jari-jari ionik lebih besar (76 pm) daripada zirkonium (71 pm) dan hafnium (72 pm), serta karena stabilisasi relativistik orbital 7s dan destabilisasi serta pemisahan spin–orbit pada orbital 6d.[84]
Eksperimen kopresipitasi yang dilakukan pada tahun 2021 mempelajari perilaku ruterfordium dalam larutan basa yang mengandung amonia atau natrium hidroksida, dengan menggunakan zirkonium, hafnium, dan torium sebagai pembanding. Ditemukan bahwa ruterfordium tidak berkoordinasi secara kuat dengan amonia dan justru mengalami kopresipitasi sebagai hidroksida, yang kemungkinan merupakan Rf(OH)4.[85]
Catatan
- ↑ Dalam fisika nuklir, suatu unsur disebut berat jika nomor atomnya tinggi; timbal (unsur 82) adalah salah satu contoh unsur berat tersebut. Istilah "unsur superberat" biasanya mengacu pada unsur dengan nomor atom lebih besar dari 103 (meskipun ada definisi lain, seperti nomor atom lebih besar dari 100[12] atau 112;[13] terkadang istilah ini dianggap setara dengan istilah "transaktinida", yang menetapkan batas atas sebelum dimulainya deret superaktinida yang masih bersifat hipotetis).[14] Istilah "isotop berat" (dari suatu unsur tertentu) dan "inti berat" memiliki makna yang pada dasarnya dapat dipahami dalam penggunaan bahasa umum, yaitu masing-masing merujuk pada isotop dengan massa tinggi (untuk unsur tersebut) dan inti atom dengan massa tinggi.
- ↑ Pada tahun 2009, sebuah tim di JINR yang dipimpin oleh Oganessian mempublikasikan hasil percobaan mereka untuk menciptakan hasium melalui reaksi simetris 136Xe + 136Xe. Mereka tidak berhasil mengamati satu atom pun dalam reaksi tersebut, sehingga batas atas penampang lintang—yang merupakan ukuran probabilitas terjadinya suatu reaksi nuklir—ditetapkan sebesar 2,5 pb.[15] Sebagai perbandingan, reaksi yang menghasilkan penemuan hasium, yaitu 208Pb + 58Fe, memiliki penampang lintang sekitar 20 pb (lebih tepatnya 19+19-11 pb), berdasarkan perkiraan para penemunya.[16]
- ↑ Besarnya energi yang diberikan pada partikel berkas untuk mempercepatnya juga dapat memengaruhi nilai penampang lintang. Sebagai contoh, dalam reaksi 28
14Si + 1
0n → 28
13Al + 1
1p, penampang lintang berubah secara bertahap dari 370 mb pada 12,3 MeV menjadi 160 mb pada 18,3 MeV, dengan puncak yang lebar pada 13,5 MeV dan nilai maksimum sebesar 380 mb.[20] - ↑ Gambar ini juga menunjukkan batas atas masa hidup inti gabungan yang secara umum diterima.[25]
- ↑ Pemisahan ini didasarkan pada kenyataan bahwa inti yang dihasilkan bergerak melewati target dengan kecepatan lebih lambat dibandingkan dengan inti berkas yang tidak bereaksi. Pemisah tersebut memiliki medan listrik dan medan magnet yang pengaruhnya terhadap partikel yang bergerak saling meniadakan pada kecepatan tertentu dari partikel tersebut.[27] Pemisahan ini juga dapat dibantu dengan pengukuran waktu terbang dan pengukuran energi rekoil; kombinasi keduanya dapat digunakan untuk memperkirakan massa suatu inti.[28]
- ↑ Tidak semua mode peluruhan disebabkan oleh tolakan elektrostatik. Sebagai contoh, peluruhan beta disebabkan oleh interaksi lemah.[35]
- ↑ Pada tahun 1960-an, telah diketahui bahwa keadaan dasar inti berbeda dalam hal energi dan bentuk, serta bahwa bilangan ajaib tertentu dari nukleon berkaitan dengan kestabilan inti yang lebih tinggi. Namun, pada saat itu diasumsikan bahwa tidak terdapat struktur inti pada inti superberat, karena inti-inti tersebut dianggap terlalu terdeformasi untuk membentuk suatu struktur.[40]
- ↑ Karena massa inti tidak diukur secara langsung, melainkan dihitung berdasarkan massa inti lain, pengukuran semacam ini disebut pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung juga memungkinkan dilakukan, tetapi sebagian besar masih belum tersedia untuk inti superberat.[45] Pengukuran langsung pertama terhadap massa inti superberat dilaporkan pada tahun 2018 di LBNL.[46] Massa ditentukan berdasarkan posisi inti setelah mengalami perpindahan; posisi tersebut membantu menentukan lintasannya, yang berkaitan dengan rasio massa terhadap muatan inti, karena proses perpindahan berlangsung dalam medan magnet.[47]
- ↑ Jika peluruhan terjadi dalam ruang hampa, maka karena momentum total suatu sistem terisolasi harus tetap terjaga sebelum dan sesudah peluruhan, inti anak (produk peluruhan) juga akan memperoleh kecepatan kecil. Perbandingan kedua kecepatan tersebut, dan dengan demikian perbandingan energi kinetiknya, akan berbanding terbalik dengan perbandingan kedua massanya. Energi peluruhan sama dengan jumlah energi kinetik partikel alfa yang telah diketahui dan energi kinetik inti anak (yang merupakan pecahan tertentu secara tepat dari energi kinetik partikel alfa).[36] Perhitungan ini juga berlaku dalam suatu eksperimen, tetapi perbedaannya adalah inti tidak bergerak setelah peluruhan karena terikat pada detektor.
- ↑ Fisi spontan ditemukan oleh fisikawan Soviet Georgy N. Flerov,[48] seorang ilmuwan terkemuka di JINR, sehingga fisi spontan menjadi semacam "hobi utama" (hobbyhorse) bagi fasilitas tersebut.[49] Sebaliknya, para ilmuwan LBNL berpendapat bahwa informasi mengenai fisi tidak cukup untuk menjadi dasar klaim atas sintesis suatu unsur. Mereka menganggap fisi spontan belum cukup dipelajari untuk digunakan dalam mengidentifikasi unsur baru, karena terdapat kesulitan dalam memastikan bahwa inti gabungan hanya melepaskan neutron dan tidak melepaskan partikel bermuatan seperti proton atau partikel alfa.[25] Oleh karena itu, mereka lebih memilih menghubungkan isotop-isotop baru dengan isotop yang sudah diketahui melalui peluruhan alfa secara berturut-turut.[48]
- ↑ Sebagai contoh, unsur 102 secara keliru diidentifikasi pada tahun 1957 di Nobel Institute of Physics di Stockholm, Daerah Stockholm, Swedia.[50] Sebelumnya tidak ada klaim definitif mengenai penciptaan unsur ini, dan unsur tersebut diberi nama oleh para penemunya yang berasal dari Swedia, Amerika, dan Inggris, yaitu nobelium. Namun, kemudian terbukti bahwa identifikasi tersebut tidak benar.[51] Pada tahun berikutnya, RL tidak berhasil mereproduksi hasil penelitian Swedia tersebut dan sebagai gantinya mengumumkan sintesis unsur tersebut; klaim itu juga kemudian terbukti tidak benar.[51] JINR bersikeras bahwa merekalah yang pertama kali menciptakan unsur tersebut dan mengusulkan nama mereka sendiri untuk unsur baru itu, yaitu joliotium.[52] Nama yang diusulkan oleh pihak Soviet tersebut juga tidak diterima. JINR kemudian menyebut pemberian nama unsur 102 tersebut sebagai tindakan yang "terburu-buru").[53] Nama tersebut diusulkan kepada IUPAC dalam tanggapan tertulis terhadap keputusan mereka mengenai prioritas klaim penemuan unsur-unsur, yang ditandatangani pada 29 September 1992.[53] Nama "nobelium" tetap dipertahankan karena sudah digunakan secara luas.[54]
Referensi
- ↑ (Indonesia) "Ruterfordium". KBBI Daring. Diakses tanggal 17 Juli 2022.
- 1 2 3 4 5 "Rutherfordium". Royal Chemical Society. Diakses tanggal 16 Juli 2022.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Hoffman, Darleane C.; Lee, Diana M.; Pershina, Valeria (2006). "Transactinides and the future elements". Dalam Morss; Edelstein, Norman M.; Fuger, Jean (ed.). The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements (Edisi 3). Dordrecht, The Netherlands: Springer Science+Business Media. ISBN 978-1-4020-3555-5.
- ↑ Gyanchandani, Jyoti; Sikka, S. K. (10 Mei 2011). "Physical properties of the 6 d -series elements from density functional theory: Close similarity to lighter transition metals". Physical Review B. 83 (17): 172101. Bibcode:2011PhRvB..83q2101G. doi:10.1103/PhysRevB.83.172101.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link) - 1 2 Kratz; Lieser (2013). Nuclear and Radiochemistry: Fundamentals and Applications (Edisi 3). hlm. 631.
- 1 2 Fricke, Burkhard (1975). "Superheavy elements: a prediction of their chemical and physical properties". Recent Impact of Physics on Inorganic Chemistry. Structure and Bonding. 21: 89–144. doi:10.1007/BFb0116498. ISBN 978-3-540-07109-9. Diakses tanggal 16 Juli 2022.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link) - 1 2 Östlin, A.; Vitos, L. (2011). "First-principles calculation of the structural stability of 6d transition metals". Physical Review B. 84 (11): 113104. Bibcode:2011PhRvB..84k3104O. doi:10.1103/PhysRevB.84.113104.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link) - 1 2 3 4 Sonzogni, Alejandro. "Interactive Chart of Nuclides". National Nuclear Data Center: Laboratorium Nasional Brookhaven. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ Utyonkov, V. K.; Brewer, N. T.; Oganessian, Yu. Ts.; Rykaczewski, K. P.; Abdullin, F. Sh.; Dimitriev, S. N.; Grzywacz, R. K.; Itkis, M. G.; Miernik, K.; Polyakov, A. N.; Roberto, J. B.; Sagaidak, R. N.; Shirokovsky, I. V.; Shumeiko, M. V.; Tsyganov, Yu. S.; Voinov, A. A.; Subbotin, V. G.; Sukhov, A. M.; Karpov, A. V.; Popeko, A. G.; Sabel'nikov, A. V.; Svirikhin, A. I.; Vostokin, G. K.; Hamilton, J. H.; Kovrinzhykh, N. D.; Schlattauer, L.; Stoyer, M. A.; Gan, Z.; Huang, W. X.; Ma, L. (30 Januari 2018). "Neutron-deficient superheavy nuclei obtained in the 240Pu+48Ca reaction". Physical Review C. 97 (14320): 014320. Bibcode:2018PhRvC..97a4320U. doi:10.1103/PhysRevC.97.014320.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link) - ↑ "Rutherfordium - Element information, properties and uses | Periodic Table". www.rsc.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Mei 2020. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ Ibadullayev, Dastan (2024). "Synthesis and study of the decay properties of isotopes of superheavy element Lv in Reactions 238U + 54Cr and 242Pu + 50Ti". jinr.ru. Institut Bersama untuk Riset Nuklir. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Krämer, K. (2016). "Explainer: superheavy elements". Chemistry World (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Discovery of Elements 113 and 115". Laboratorium Nasional Lawrence Livermore. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2015. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Eliav, E.; Kaldor, U.; Borschevsky, A. (2018). "Electronic Structure of the Transactinide Atoms". Dalam Scott, R. A. (ed.). Encyclopedia of Inorganic and Bioinorganic Chemistry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 1–16. doi:10.1002/9781119951438.eibc2632. ISBN 978-1-119-95143-8. S2CID 127060181.
- ↑ Oganessian, Yu. Ts.; Dmitriev, S. N.; Yeremin, A. V.; et al. (2009). "Attempt to produce the isotopes of element 108 in the fusion reaction 136Xe + 136Xe". Physical Review C (dalam bahasa Inggris). 79 (2) 024608. doi:10.1103/PhysRevC.79.024608. ISSN 0556-2813.
- ↑ Münzenberg, G.; Armbruster, P.; Folger, H.; et al. (1984). "The identification of element 108" (PDF). Zeitschrift für Physik A. 317 (2): 235–236. Bibcode:1984ZPhyA.317..235M. doi:10.1007/BF01421260. S2CID 123288075. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Juni 2015. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Subramanian, S. (28 Agustus 2019). "Making New Elements Doesn't Pay. Just Ask This Berkeley Scientist". Bloomberg Businessweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2024. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 Ivanov, D. (2019). "Сверхтяжелые шаги в неизвестное" [Langkah unsur superberat menuju wilayah yang belum diketahui]. nplus1.ru (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hinde, D. (2017). "Something new and superheavy at the periodic table". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kern, B. D.; Thompson, W. E.; Ferguson, J. M. (1959). "Cross sections for some (n, p) and (n, α) reactions". Nuclear Physics (dalam bahasa Inggris). 10: 226–234. Bibcode:1959NucPh..10..226K. doi:10.1016/0029-5582(59)90211-1.
- ↑ Wakhle, A.; Simenel, C.; Hinde, D. J.; et al. (2015). Simenel, C.; Gomes, P. R. S.; Hinde, D. J.; et al. (ed.). "Comparing Experimental and Theoretical Quasifission Mass Angle Distributions". European Physical Journal Web of Conferences. 86: 00061. Bibcode:2015EPJWC..8600061W. doi:10.1051/epjconf/20158600061. hdl:1885/148847. ISSN 2100-014X.
- ↑ "Nuclear Reactions" (PDF). hlm. 7–8. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Published as Loveland, W. D.; Morrissey, D. J.; Seaborg, G. T. (2005). "Nuclear Reactions". Modern Nuclear Chemistry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons, Inc. hlm. 249–297. doi:10.1002/0471768626.ch10. ISBN 978-0-471-76862-3. - 1 2 Krása, A. (2010). "Neutron Sources for ADS" (PDF). Faculty of Nuclear Sciences and Physical Engineering. Universitas Teknik Praha: 4–8. S2CID 28796927. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 September 2017 – via Wayback Machine.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wapstra, A. H. (1991). "Criteria that must be satisfied for the discovery of a new chemical element to be recognized" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 63 (6): 883. doi:10.1351/pac199163060879. ISSN 1365-3075. S2CID 95737691.
- 1 2 Hyde, E. K.; Hoffman, D. C.; Keller, O. L. (1987). "A History and Analysis of the Discovery of Elements 104 and 105". Radiochimica Acta. 42 (2): 67–68. doi:10.1524/ract.1987.42.2.57. ISSN 2193-3405. S2CID 99193729.
- 1 2 3 Chemistry World (2016). "How to Make Superheavy Elements and Finish the Periodic Table [Video]". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 334.
- ↑ Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 335.
- ↑ Zagrebaev, Karpov & Greiner 2013, hlm. 3.
- ↑ Beiser 2003, hlm. 432.
- 1 2 Pauli, N. (2019). "Alpha decay" (PDF). Introductory Nuclear, Atomic and Molecular Physics (Nuclear Physics Part). Université libre de Bruxelles. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Pauli, N. (2019). "Nuclear fission" (PDF). Introductory Nuclear, Atomic and Molecular Physics (Nuclear Physics Part). Université libre de Bruxelles. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Staszczak, A.; Baran, A.; Nazarewicz, W. (2013). "Spontaneous fission modes and lifetimes of superheavy elements in the nuclear density functional theory". Physical Review C. 87 (2): 024320–1. arXiv:1208.1215. Bibcode:2013PhRvC..87b4320S. doi:10.1103/physrevc.87.024320. ISSN 0556-2813.
- ↑ Audi et al. 2017, hlm. 030001-129–030001-138.
- ↑ Beiser 2003, hlm. 439.
- 1 2 Beiser 2003, hlm. 433.
- ↑ Audi et al. 2017, hlm. 030001-125.
- ↑ Aksenov, N. V.; Steinegger, P.; Abdullin, F. Sh.; et al. (2017). "On the volatility of nihonium (Nh, Z = 113)". The European Physical Journal A (dalam bahasa Inggris). 53 (7): 158. Bibcode:2017EPJA...53..158A. doi:10.1140/epja/i2017-12348-8. ISSN 1434-6001. S2CID 125849923.
- ↑ Beiser 2003, hlm. 432–433.
- 1 2 3 Oganessian, Yu. (2012). "Nuclei in the "Island of Stability" of Superheavy Elements". Journal of Physics: Conference Series. 337 (1): 012005-1 – 012005-6. Bibcode:2012JPhCS.337a2005O. doi:10.1088/1742-6596/337/1/012005. ISSN 1742-6596.
- ↑ Moller, P.; Nix, J. R. (1994). Fission properties of the heaviest elements (PDF). Dai 2 Kai Hadoron Tataikei no Simulation Symposium, Tokai-mura, Ibaraki, Jepang. University of North Texas. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Oganessian, Yu. Ts. (2004). "Superheavy elements". Physics World. 17 (7): 25–29. doi:10.1088/2058-7058/17/7/31. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Schädel, M. (2015). "Chemistry of the superheavy elements". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences (dalam bahasa Inggris). 373 (2037) 20140191. Bibcode:2015RSPTA.37340191S. doi:10.1098/rsta.2014.0191. ISSN 1364-503X. PMID 25666065.
- ↑ Hulet, E. K. (1989). Biomodal spontaneous fission. 50th Anniversary of Nuclear Fission, Leningrad, USSR. Bibcode:1989nufi.rept...16H.
- ↑ Oganessian, Yu. Ts.; Rykaczewski, K. P. (2015). "A beachhead on the island of stability". Physics Today. 68 (8): 32–38. Bibcode:2015PhT....68h..32O. doi:10.1063/PT.3.2880. ISSN 0031-9228. OSTI 1337838. S2CID 119531411.
- ↑ Grant, A. (2018). "Weighing the heaviest elements". Physics Today (dalam bahasa Inggris) (11) 4650. Bibcode:2018PhT..2018k4650G. doi:10.1063/PT.6.1.20181113a. S2CID 239775403.
- ↑ Howes, L. (2019). "Exploring the superheavy elements at the end of the periodic table". Chemical & Engineering News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Robinson, A. E. (2019). "The Transfermium Wars: Scientific Brawling and Name-Calling during the Cold War". Distillations (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Популярная библиотека химических элементов. Сиборгий (экавольфрам)" [Tabel populer unsur-unsur kimia. Seaborgium (eka-wolfram)]. n-t.ru (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Dicetak ulang dari "Экавольфрам" [Eka-wolfram]. Популярная библиотека химических элементов. Серебро – Нильсборий и далее [Tabel populer unsur-unsur kimia. Dari perak hingga nielsbohrium dan seterusnya] (dalam bahasa Rusia). Nauka. 1977. - ↑ "Nobelium - Element information, properties and uses | Periodic Table". Royal Society of Chemistry. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Kragh 2018, hlm. 38–39.
- ↑ Kragh 2018, hlm. 40.
- 1 2 Ghiorso, A.; Seaborg, G. T.; Oganessian, Yu. Ts.; et al. (1993). "Responses on the report 'Discovery of the Transfermium elements' followed by reply to the responses by Transfermium Working Group" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1815–1824. doi:10.1351/pac199365081815. S2CID 95069384. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2013. Diakses tanggal 1 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Commission on Nomenclature of Inorganic Chemistry (1997). "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1997)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 69 (12): 2471–2474. doi:10.1351/pac199769122471.
- 1 2 3 4 Barber, R. C.; Greenwood, N. N.; Hrynkiewicz, A. Z.; Jeannin, Y. P.; Lefort, M.; Sakai, M.; Ulehla, I.; Wapstra, A. P.; Wilkinson, D. H. (1993). "Discovery of the transfermium elements. Part II: Introduction to discovery profiles. Part III: Discovery profiles of the transfermium elements". Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1757–1814. doi:10.1351/pac199365081757. S2CID 195819585.
- ↑ Ghiorso, A.; Nurmia, M.; Harris, J.; Eskola, K.; Eskola, P. (1969). "Positive Identification of Two Alpha-Particle-Emitting Isotopes of Element 104" (PDF). Physical Review Letters. 22 (24): 1317–1320. Bibcode:1969PhRvL..22.1317G. doi:10.1103/PhysRevLett.22.1317. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 Juli 2018. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- 1 2 3 Ghiorso, A.; Seaborg, G. T.; Organessian, Yu. Ts.; Zvara, I.; Armbruster, P.; Hessberger, F. P.; Hofmann, S.; Leino, M.; Munzenberg, G.; Reisdorf, W.; Schmidt, K.-H. (1993). "Responses on 'Discovery of the transfermium elements' by Lawrence Berkeley Laboratory, California; Joint Institute for Nuclear Research, Dubna; and Gesellschaft fur Schwerionenforschung, Darmstadt followed by reply to responses by the Transfermium Working Group". Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1815–1824. doi:10.1351/pac199365081815.
- ↑ Bemis, C. E.; Silva, R.; Hensley, D.; Keller, O.; Tarrant, J.; Hunt, L.; Dittner, P.; Hahn, R.; Goodman, C. (1973). "X-Ray Identification of Element 104". Physical Review Letters. 31 (10): 647–650. Bibcode:1973PhRvL..31..647B. doi:10.1103/PhysRevLett.31.647.
- ↑ "Rutherfordium". Rsc.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2011. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kondev, F.G.; Wang, M.; Huang, W.J.; Naimi, S.; Audi, G. (2021). "The NUBASE2020 evaluation of nuclear properties" (PDF). Chinese Physics C. 45 (3): 030001. doi:10.1088/1674-1137/abddae.
- ↑ "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1994)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 66 (12): 2419–2421. 1994. doi:10.1351/pac199466122419. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 September 2017. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Yarris, L. (1994). "Naming of element 106 disputed by international committee". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juli 2016. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1997)". Pure and Applied Chemistry. 69 (12): 2471–2474. 1997. doi:10.1351/pac199769122471.
- ↑ "Six New Isotopes of the Superheavy Elements Discovered". Berkeley Lab News Center. 26 Oktober 2010. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ Khuyagbaatar, J.; Mosat, P.; Ballof, J.; et al. (2025). "Stepping into the sea of instability: The new sub-𝜇s superheavy nucleus 252Rf". Physical Review Letters. 134 (22501) 022501. arXiv:2501.08955. doi:10.1103/PhysRevLett.134.022501. PMID 39913845.
- ↑ Lopez-Martens, A.; Hauschild, K.; Svirikhin, A. I.; et al. (22 Februari 2022). "Fission properties of Rf 253 and the stability of neutron-deficient Rf isotopes". Physical Review C (dalam bahasa Inggris). 105 (2) L021306. arXiv:2202.11802. doi:10.1103/PhysRevC.105.L021306. ISSN 2469-9985. S2CID 247072308. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ Oganessian, Yu. Ts.; Utyonkov, V. K.; Ibadullayev, D.; et al. (2022). "Investigation of 48Ca-induced reactions with 242Pu and 238U targets at the JINR Superheavy Element Factory". Physical Review C. 106 (24612) 024612. Bibcode:2022PhRvC.106b4612O. doi:10.1103/PhysRevC.106.024612. OSTI 1883808. S2CID 251759318.
- ↑ Stock, Reinhard (13 September 2013). Encyclopedia of Nuclear Physics and its Applications. John Wiley & Sons. hlm. 305. ISBN 978-3-527-64926-6. OCLC 867630862.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ninov, Viktor; et al. (1999). "Observation of Superheavy Nuclei Produced in the Reaction of 86Kr with 208Pb". Physical Review Letters. 83 (6): 1104–1107. Bibcode:1999PhRvL..83.1104N. doi:10.1103/PhysRevLett.83.1104. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juli 2023. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ "Results of Element 118 Experiment Retracted". Berkeley Lab Research News. 21 Juli 2001. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Januari 2008. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- ↑ Ellison, P.; Gregorich, K.; Berryman, J.; Bleuel, D.; Clark, R.; Dragojević, I.; Dvorak, J.; Fallon, P.; Fineman-Sotomayor, C.; et al. (2010). "New Superheavy Element Isotopes: 242Pu(48Ca,5n)285114". Physical Review Letters. 105 (18) 182701. Bibcode:2010PhRvL.105r2701E. doi:10.1103/PhysRevLett.105.182701. OSTI 1000353. PMID 21231101. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Juli 2019. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
- 1 2 Kratz, J. V.; Nähler, A.; Rieth, U.; Kronenberg, A.; Kuczewski, B.; Strub, E.; Brüchle, W.; Schädel, M.; et al. (2003). "An EC-branch in the decay of 27-s263Db: Evidence for the new isotope 263Rf" (PDF). Radiochim. Acta. 91 (1–2003): 59–62. doi:10.1524/ract.91.1.59.19010. S2CID 96560109. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Februari 2009.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kratz, J. V. (2003). "Critical evaluation of the chemical properties of the transactinide elements (IUPAC Technical Report)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 75 (1): 103. doi:10.1351/pac200375010103. S2CID 5172663. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 Juli 2011.
- ↑ Eliav, E.; Kaldor, U.; Ishikawa, Y. (1995). "Ground State Electron Configuration of Rutherfordium: Role of Dynamic Correlation". Physical Review Letters. 74 (7): 1079–1082. Bibcode:1995PhRvL..74.1079E. doi:10.1103/PhysRevLett.74.1079. PMID 10058929.
- ↑ Mosyagin, N. S.; Tupitsyn, I. I.; Titov, A. V. (2010). "Precision Calculation of the Low-Lying Excited States of the Rf Atom". Radiochemistry. 52 (4): 394–398. Bibcode:2010Radch..52..394M. doi:10.1134/S1066362210040120. S2CID 120721050.
- ↑ Dzuba, V. A.; Safronova, M. S.; Safronova, U. I. (2014). "Atomic properties of superheavy elements No, Lr, and Rf". Physical Review A. 90 (1) 012504. arXiv:1406.0262. Bibcode:2014PhRvA..90a2504D. doi:10.1103/PhysRevA.90.012504. S2CID 74871880.
- ↑ Gyanchandani, Jyoti; Sikka, S. K. (10 Mei 2011). "Physical properties of the 6 d -series elements from density functional theory: Close similarity to lighter transition metals". Physical Review B. 83 (17) 172101. Bibcode:2011PhRvB..83q2101G. doi:10.1103/PhysRevB.83.172101.
- ↑ Gyanchandani, Jyoti; Sikka, S.K. (2012). "Structural properties of rutherfordium: An ab-initio study". Physics Letters A. 376 (4): 620–625. arXiv:1106.3146. Bibcode:2012PhLA..376..620G. doi:10.1016/j.physleta.2011.11.053.
- ↑ Moody, Ken (30 November 2013). "Synthesis of Superheavy Elements". Dalam Schädel, Matthias; Shaughnessy, Dawn (ed.). The Chemistry of Superheavy Elements (Edisi 2). Springer Science & Business Media. hlm. 24–8. ISBN 978-3-642-37466-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Oganessian, Yury Ts; Dmitriev, Sergey N. (2009). "Superheavy elements in D I Mendeleev's Periodic Table". Russian Chemical Reviews. 78 (12): 1077. Bibcode:2009RuCRv..78.1077O. doi:10.1070/RC2009v078n12ABEH004096. S2CID 250848732.
- ↑ Türler, A.; Buklanov, G. V.; Eichler, B.; Gäggeler, H. W.; Grantz, M.; Hübener, S.; Jost, D. T.; Lebedev, V. Ya.; et al. (1998). "Evidence for relativistic effects in the chemistry of element 104". Journal of Alloys and Compounds. 271–273: 287. doi:10.1016/S0925-8388(98)00072-3.
- ↑ Gäggeler, Heinz W. (5 November 2007). "Lecture Course Texas A&M: Gas Phase Chemistry of Superheavy Elements" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 Februari 2012. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Nagame, Y.; et al. (2005). "Chemical studies on rutherfordium (Rf) at JAERI" (PDF). Radiochimica Acta. 93 (9–10_2005): 519. doi:10.1524/ract.2005.93.9-10.519. S2CID 96299943. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 Mei 2008.
- ↑ Li, Z. J.; Toyoshima, A.; Asai, M.; et al. (2012). "Sulfate complexation of element 104, Rf, in H2SO4/HNO3 mixed solution". Radiochimica Acta. 100 (3): 157–164. doi:10.1524/ract.2012.1898. S2CID 100852185.
- ↑ Kasamatsu, Yoshitaka; Toyomura, Keigo; Haba, Hiromitsu; et al. (2021). "Co-precipitation behaviour of single atoms of rutherfordium in basic solutions". Nature Chemistry. 13 (3): 226–230. Bibcode:2021NatCh..13..226K. doi:10.1038/s41557-020-00634-6. PMID 33589784. S2CID 231931604.
Bibliografi
- Audi, G.; Kondev, F. G.; Wang, M.; et al. (2017). "The NUBASE2016 evaluation of nuclear properties". Chinese Physics C. 41 (3) 030001. Bibcode:2017ChPhC..41c0001A. doi:10.1088/1674-1137/41/3/030001.
- Beiser, A. (2003). Concepts of modern physics (Edisi 6). McGraw-Hill. ISBN 978-0-07-244848-1. OCLC 48965418.
- Hoffman, D. C.; Ghiorso, A.; Seaborg, G. T. (2000). The Transuranium People: The Inside Story. World Scientific. ISBN 978-1-78-326244-1.
- Kragh, H. (2018). From Transuranic to Superheavy Elements: A Story of Dispute and Creation. Springer. ISBN 978-3-319-75813-8.
- Zagrebaev, V.; Karpov, A.; Greiner, W. (2013). "Future of superheavy element research: Which nuclei could be synthesized within the next few years?". Journal of Physics: Conference Series. 420 (1) 012001. arXiv:1207.5700. Bibcode:2013JPhCS.420a2001Z. doi:10.1088/1742-6596/420/1/012001. ISSN 1742-6588. S2CID 55434734.
Pranala luar
- (Inggris) Rutherfordium di The Periodic Table of Videos (Universitas Nottingham)
- (Inggris) WebElements.com – Rutherfordium
| (besar) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | |||||||||||||||||||||||||||
| 1 | H | He | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2 | Li | Be | B | C | N | O | F | Ne | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 3 | Na | Mg | Al | Si | P | S | Cl | Ar | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 4 | K | Ca | Sc | Ti | V | Cr | Mn | Fe | Co | Ni | Cu | Zn | Ga | Ge | As | Se | Br | Kr | ||||||||||||||||||||||||||
| 5 | Rb | Sr | Y | Zr | Nb | Mo | Tc | Ru | Rh | Pd | Ag | Cd | In | Sn | Sb | Te | I | Xe | ||||||||||||||||||||||||||
| 6 | Cs | Ba | La | Ce | Pr | Nd | Pm | Sm | Eu | Gd | Tb | Dy | Ho | Er | Tm | Yb | Lu | Hf | Ta | W | Re | Os | Ir | Pt | Au | Hg | Tl | Pb | Bi | Po | At | Rn | ||||||||||||
| 7 | Fr | Ra | Ac | Th | Pa | U | Np | Pu | Am | Cm | Bk | Cf | Es | Fm | Md | No | Lr | Rf | Db | Sg | Bh | Hs | Mt | Ds | Rg | Cn | Nh | Fl | Mc | Lv | Ts | Og | ||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
