Kamis, 29 Oktober 2026
16:37 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Perang Punik II

Perang Punik II

Pertempuran antara Republik Romawi dengan Kartago pada 218-201 SM

Bagikan:
Perang Punik Kedua
Bagian dari Perang Punik
Peta Mediterania Barat yang menampilkan wilayah yang dikuasai oleh Kartago dan Roma pada tahun 218 SM
Mediterania Barat pada tahun 218 SM
TanggalMusim semi 218 – 201 SM (17 tahun)
Lokasi
Mediterania Barat
Hasil Kemenangan Romawi
Perubahan
wilayah
  • Penaklukan Romawi atas Iberia Kartago
  • Pengurangan wilayah Kartago di Afrika
Pihak yang terlibat
Kartago
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Pendahuluan
Italia
Iberia
Sisilia dan Sardinia
Afrika Utara

Perang Punik Kedua (218 hingga 201 SM) merupakan perang kedua dari serangkaian tiga perang yang berkecamuk antara Kartago dan Republik Romawi—dua kekuatan utama di kawasan Mediterania Barat pada masa itu. Perang yang berkepanjangan ini berlangsung di seluruh kawasan tersebut hingga menimbulkan kerugian materiil dan jiwa yang sangat besar di kedua belah pihak. Jenderal Kartago, Hannibal Baraq, pada awalnya memimpin pasukannya dalam penyeberangan Pegunungan Alpen lalu menginvasi Italia, tempat ia memimpin kampanye militer berjangka panjang. Di Iberia, pasukan Romawi menginvasi hingga akhirnya menaklukkan wilayah-wilayah Kartago di sana. Konfrontasi terakhir dari perang ini terjadi melalui invasi Romawi ke Afrika Utara. Jenderal Romawi Scipio Africanus dan Hannibal berhadapan dalam Pertempuran Zama yang dimenangkan oleh pihak Romawi, sehingga berujung pada menyerahnya Kartago. Perang ini juga menyeret kekuatan-kekuatan lain. Makedonia bersekutu dengan Kartago dan memicu Perang Makedonia Pertama, yang menyebabkan Roma mencari sekutunya sendiri di Mediterania Timur. Negara-kota Sisilia Sirakusa pada awalnya bersekutu dengan Kartago, tetapi kemudian berpindah pihak untuk mendukung Roma. Baik pihak Kartago maupun Romawi turut memanfaatkan sekutu-sekutu dari bangsa Numidia, Galia, dan Iberia.

Perang Punik Pertama berakhir dengan kemenangan Romawi pada tahun 241 SM setelah berlangsung selama 23 tahun dan memakan kerugian yang sangat besar di kedua belah pihak. Seusai perang tersebut, Kartago memperluas wilayah kekuasaannya di Iberia, tempat tentara Kartago di bawah pimpinan Hannibal mengepung, merebut, dan menjarah kota Saguntum yang pro-Romawi pada tahun 219 SM. Pada musim semi tahun 218 SM, Roma menyatakan perang terhadap Kartago, yang menandai dimulainya Perang Punik Kedua. Pada akhir tahun tersebut, Hannibal mengejutkan pihak Romawi dengan memimpin pasukannya bergerak lewat jalur darat dari Iberia, melintasi Galia dan Pegunungan Alpen menuju Galia Cisalpina (Italia utara modern). Dengan memperoleh bala bantuan dari sekutu-sekutu Galia, ia meraih kemenangan telak atas pasukan Romawi dalam pertempuran Trebia (218) dan Danau Trasimene (217). Berpindah ke Italia Selatan pada tahun 216, Hannibal kembali mengalahkan pasukan Romawi dalam Pertempuran Cannae, tempat ia memusnahkan angkatan darat terbesar yang pernah dihimpun oleh bangsa Romawi. Seusai tewas atau tertangkapnya lebih dari 120.000 prajurit Romawi dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, banyak sekutu Italia Roma—terutamanya Capua—membelot ke pihak Kartago, sehingga memberi Hannibal kendali atas sebagian besar Italia selatan. Seiring bergabungnya Sirakusa dan Makedonia ke pihak Kartago seusai Pertempuran Cannae, konflik tersebut kian meluas. Antara tahun 215 dan 210 SM, pihak Kartago berupaya merebut Sisilia dan Sardinia yang dikuasai Romawi, tetapi tidak berhasil. Pihak Romawi mengambil langkah-langkah drastis untuk membentuk legiun-legiun baru: merekrut budak, penjahat, dan orang-orang yang tidak memenuhi syarat kepemilikan harta biasa, yang secara signifikan meningkatkan jumlah pasukan yang mereka miliki. Selama dekade berikutnya, perang di Italia selatan terus berlanjut, dengan pasukan Romawi yang secara perlahan merebut kembali sebagian besar kota di Italia yang telah bergabung dengan Kartago.

Pihak Romawi mendirikan pangkalan di Iberia timur laut pada tahun 218 SM; pihak Kartago berulang kali berupaya menghancurkannya tetapi selalu gagal. Pada tahun 211, pihak Romawi melancarkan serangan di Iberia dan menderita kekalahan hebat, tetapi tetap mempertahankan kekuasaan mereka di wilayah timur laut. Pada tahun 209 SM, komandan baru Romawi Publius Scipio merebut Carthago Nova, markas utama Kartago di semenanjung tersebut. Pada tahun 208, Scipio mengalahkan Hasdrubal, meskipun Hasdrubal berhasil menarik mundur sebagian besar pasukannya ke Galia lalu ke Galia Cisalpina pada awal tahun 207 SM. Invasi baru Kartago ini berhasil dikalahkan dalam Pertempuran Metaurus. Dalam Pertempuran Ilipa pada tahun 206, Scipio mengakhiri keberadaan Kartago di Iberia secara permanen.

Scipio menginvasi wilayah Kartago di Afrika pada tahun 204 SM, yang memaksa Senat Kartago untuk memanggil kembali pasukan Hannibal dari Italia. Pertempuran terakhir dari perang ini berlangsung antara pasukan di bawah pimpinan Scipio dan Hannibal dalam Pertempuran Zama pada tahun 202, yang berujung pada kekalahan Hannibal dan pengajuan permohonan damai oleh Kartago. Perjanjian damai yang didiktekan oleh Roma melucuti seluruh wilayah seberang laut Kartago serta sebagian wilayah Afrika miliknya. Ganti rugi perang sebesar 10.000 talenta perak harus dibayarkan dalam jangka waktu 50 tahun. Kartago dilarang melancarkan perang di luar Afrika, dan di Afrika hanya boleh dilakukan atas izin eksplisit dari Roma. Sejak saat itu, jelas bahwa Kartago tunduk secara politik kepada Roma. Roma menggunakan aktivitas militer Kartago melawan bangsa Numidia sebagai dalih untuk kembali menyatakan perang pada tahun 149 SM, yang menandai dimulainya Perang Punik Ketiga. Pada tahun 146 SM, pihak Romawi menerobos kota Kartago, menjarahnya, membantai sebagian besar penduduknya, serta meratakannya sama sekali dengan tanah.

Sumber primer

Prasasti relief monokrom yang menggambarkan seorang pria mengenakan pakaian Yunani klasik sambil mengangkat satu lengan
Polibios

Sumber paling tepercaya bagi Perang Punik Kedua[a] adalah sejarawan Polibios (ca 200–ca 118 SM), seorang Yunani yang dikirim ke Roma pada tahun 167 SM sebagai sandera.[2] Ia paling dikenal atas karyanya, Historiai, yang ditulis sesudah tahun 146 SM.[2][3] Karya Polibios secara umum dianggap objektif dan sebagian besar bersikap netral, baik terhadap sudut pandang Kartago maupun Romawi.[4][5] Polibios merupakan seorang sejarawan analitis dan sebisa mungkin mewawancarai para pelaku dari kedua belah pihak dalam peristiwa-peristiwa yang ia tulis.[2][6][7] Para sejarawan modern menganggap Polibios terlalu memihak kerabat Scipio Aemilianus—pelindung sekaligus sahabatnya—tetapi konsensus umum tetap menerima catatannya sebagian besar sebagaimana adanya.[2][8] Sejarawan modern Andrew Curry memandang Polibios "cukup tepercaya";[9] Craige Champion menggambarkannya sebagai "seorang sejarawan yang sangat berwawasan luas, tekun, dan tajam pemikirannya".[10]

Sebagian besar catatan Polibios mengenai Perang Punik Kedua seusai tahun 216 SM telah hilang atau hanya ada dalam bentuk fragmen. Akibatnya, sumber utama bagi sebagian besar perjalanan perang ini adalah catatan yang ditulis oleh sejarawan Romawi Livius. Catatan ini umumnya digunakan oleh para sejarawan modern ketika catatan Polibios tidak lagi bertahan. Livius sangat bergantung pada karya Polibios, tetapi menulis dengan cara yang lebih terstruktur beserta detail yang lebih banyak mengenai politik Romawi; ia juga secara terbuka memihak Romawi.[11][12][13] Catatannya mengenai bentrokan militer sering kali terbukti tidak akurat; pakar studi klasik Adrian Goldsworthy menyatakan bahwa "keterpercayaan Livius kerap diragukan",[14] dan sejarawan Phillip Sabin merujuk pada "ketidaktahuannya di bidang militer".[15]

Karya-karya sejarah kuno lainnya dari masa yang lebih belakangan mengenai perang ini turut ada, meskipun sering kali dalam bentuk fragmen atau ringkasan.[16][b] Para sejarawan modern biasanya memperhitungkan tulisan-tulisan dari Diodorus Siculus dan Cassius Dio, dua penulis Yunani yang menulis pada era Romawi; mereka digambarkan oleh John Lazenby sebagai karya yang "jelas jauh lebih inferior" dibandingkan Livius, tetapi beberapa fragmen karya Polibios dapat dipulihkan dari teks-teks mereka.[11][2] Moralis Yunani Plutarkhos menulis beberapa biografi komandan Romawi dalam karyanya, Bioi Paraleloi.[17] Sumber-sumber lain meliputi koin, prasasti, bukti arkeologis, dan bukti empiris dari rekonstruksi.[18]

Pasukan yang berhadapan

Sebagian besar warga negara pria Romawi wajib mengikuti wajib militer dan bertugas sebagai pasukan infanteri, sedangkan golongan equite yang lebih kaya menyediakan komponen pasukan kavaleri. Secara tradisional, ketika berperang, bangsa Romawi mengerahkan empat legiun, yang masing-masing terdiri atas 4.200 prajurit infanteri[c] dan 300 prajurit kavaleri. Sekitar 1.200 prajurit infanteri di antaranya—pria yang lebih miskin atau lebih muda yang tidak mampu membeli baju zirah dan perlengkapan prajurit legiun standar—bertugas sebagai pasukan pelempar bersenjatakan lembing, yang dikenal sebagai velite. Mereka membawa beberapa lembing yang dilemparkan dari jarak jauh, pedang pendek, serta perisai berukuran 90-sentimeter (3 ft).[21] Sisanya dilengkapi sebagai infanteri berat, dengan baju zirah badan, perisai besar, dan pedang penusuk pendek. Mereka dibagi ke dalam tiga barisan: barisan depan juga membawa dua lembing, sedangkan barisan kedua dan ketiga dilengkapi dengan tombak penusuk. Baik sub-unit legiun maupun prajurit legiun secara individual bertarung dalam formasi yang relatif terbuka. Menurut prosedur Romawi yang telah lama berlaku, dua orang dipilih setiap tahun sebagai magistrat senior yang dikenal sebagai konsul, yang pada masa perang masing-masing akan memimpin sepasukan tentara. Sepasukan tentara biasanya dibentuk dengan menggabungkan dua legiun Romawi dengan sepasang legiun berukuran dan berperlengkapan serupa yang disediakan oleh sekutu Latin mereka. Legiun-legiun ini biasanya memiliki jumlah kavaleri tambahan yang lebih besar dibandingkan legiun Romawi.[22][23][24]

Warga negara Kartago hanya bertugas dalam angkatan darat mereka jika terdapat ancaman langsung terhadap kota tersebut.[25][26] Ketika bertugas, mereka bertempur sebagai infanteri berat berbaju zirah lengkap yang bersenjatakan tombak penusuk panjang, meskipun mereka terkenal kurang terlatih dan kurang disiplin. Dalam sebagian besar keadaan, Kartago merekrut orang asing untuk membentuk angkatan daratnya.[d] Banyak dari mereka berasal dari Afrika Utara dan sering kali dirujuk sebagai orang Libya. Wilayah tersebut menyediakan beberapa jenis pejuang, meliputi: infanteri formasi rapat yang dilengkapi dengan perisai besar, helm, pedang pendek, dan tombak penusuk panjang; pasukan infanteri ringan bersenjata lembing; kavaleri pendobrak formasi rapat[e] yang juga dikenal sebagai kavaleri berat pembawa tombak; serta pasukan pelempar kavaleri ringan yang melemparkan lembing dari jarak jauh dan menghindari pertempuran jarak dekat. Jenis kavaleri yang disebutkan terakhir biasanya merupakan orang Numidia.[29][30]

Pasukan infanteri Libya formasi rapat dan milisi warga negara bertempur dalam formasi padat yang dikenal sebagai phalanx.[31] Terkadang beberapa prajurit infanteri mengenakan baju zirah Romawi hasil rampasan, terutamanya di kalangan pasukan Hannibal.[32] Baik Iberia maupun Galia menyediakan prajurit infanteri dan kavaleri berpengalaman dalam jumlah besar. Pasukan infanteri ini merupakan pasukan tanpa baju zirah yang menerjang dengan ganas, tetapi terkenal kerap mundur jika pertempuran berlangsung berkepanjangan.[29][33] Kavaleri Galia—dan kemungkinan beberapa dari kavaleri Iberia—mengenakan baju zirah dan bertempur sebagai pasukan formasi rapat; sedangkan sebagian besar atau seluruh kavaleri Iberia merupakan kavaleri ringan.[34] Pasukan pengumban kerap direkrut dari Kepulauan Balearik.[35][36] Pihak Kartago juga memanfaatkan gajah perang; Afrika Utara memiliki gajah hutan Afrika asli pada masa itu.[f][33][38]

Tugas garnisun dan blokade darat merupakan operasi yang paling umum.[39][40] Ketika pasukan sedang melancarkan kampanye militer, serangan kejutan, penyergapan, dan siasat perang kerap terjadi.[41][42] Pertempuran yang lebih formal biasanya didahului oleh kedua pasukan yang mendirikan perkemahan berjarak 2–12 kilometer (1–7 mi) selama berhari-hari atau berminggu-minggu; terkadang membentuk barisan tempur setiap harinya. Jika salah satu komandan merasa tidak diuntungkan, mereka dapat memilih untuk bergerak pergi tanpa bertempur. Dalam keadaan semacam itu, sulit untuk memaksakan pertempuran jika komandan lain tidak bersedia bertempur.[43][44] Membentuk barisan tempur merupakan urusan rumit dan terencana yang memakan waktu beberapa jam. Pasukan infanteri biasanya ditempatkan di tengah barisan tempur, dengan pasukan infanteri ringan di bagian depan mereka dan kavaleri di setiap sayap.[45] Banyak pertempuran ditentukan ketika pasukan infanteri salah satu pihak diserang di bagian sayap atau belakang hingga dikepung sebagian atau seluruhnya.[41][46]

Kedua negara memiliki armada laut yang besar di sepanjang perang. Armada Kartago jarang melaut, dan ketika melaut biasanya hanya untuk mengawal kapal-kapal pengangkut; armada tersebut jarang bertindak secara agresif. Hal ini memberi pihak Romawi keunggulan laut selama berlangsungnya perang.[47]

Latar belakang

Peta berwarna kawasan Mediterania Barat yang menampilkan wilayah di bawah kendali Romawi dan Kartago pada tahun 264 SM
Perkiraan luas wilayah yang dikuasai oleh Roma dan Kartago sesaat sebelum dimulainya Perang Punik Pertama

Republik Romawi telah melakukan ekspansi secara agresif di daratan utama Italia bagian selatan selama satu abad[48] dan menaklukkan Semenanjung Italia di sebelah selatan Sungai Arno pada tahun 270 SM, menyusul Perang Piros ketika kota-kota Yunani di Italia selatan (Magna Graecia) menyerahkan diri.[49] Selama periode ekspansi Romawi ini, Kartago—beribu kota di wilayah yang kini menjadi Tunisia—telah menguasai Iberia bagian selatan, sebagian besar kawasan pesisir Afrika Utara, Kepulauan Balearik, Korsika, Sardinia, dan paruh barat Sisilia.[50]

Pada tahun 264 SM, Kartago merupakan kekuatan luar yang dominan di Sisilia, dan Kartago beserta Roma merupakan dua kekuatan utama di Mediterania Barat.[51] Hubungan kedua negara terjalin baik; keduanya telah beberapa kali memproklamasikan persahabatan bersama dan memiliki hubungan perdagangan yang kuat.[52][53] Menurut pakar studi klasik Richard Miles, sikap ekspansif Roma seusai Italia selatan jatuh ke bawah kendalinya, berpadu dengan pendekatan kepemilikan Kartago atas Sisilia, menyebabkan kedua kekuatan tersebut terjerumus ke dalam perang lebih karena ketidaksengajaan daripada perencanaan.[54] Penyebab langsung dari Perang Punik Pertama adalah permasalahan kendali atas negara-kota independen Messana (Messina modern) di Sisilia.[55] Pada tahun 264 SM, Kartago dan Roma terlibat dalam perang.[56]

Perang ini terutama berkecamuk di Sisilia beserta perairan di sekitarnya; pihak Romawi juga melancarkan invasi ke Afrika Utara pada tahun 256 SM, tetapi tidak membuahkan hasil.[57] Perang ini merupakan konflik berkelanjutan terpanjang sekaligus perang laut terbesar pada Zaman Kuno, dengan kerugian materiil dan jiwa yang sangat besar di kedua belah pihak. Pada tahun 241 SM, setelah 23 tahun berperang, pihak Kartago berhasil dikalahkan.[58][59] Di bawah Perjanjian Lutatius yang didiktekan oleh Roma, Kartago menyerahkan wilayah kekuasaannya di Sisilia kepada Roma.[60] Roma memanfaatkan teralihkannya perhatian Kartago selama Perang Tanpa Gencatan Senjata melawan para tentara bayaran dan rakyat Libya yang memberontak untuk melanggar perjanjian damai serta menganeksasi Sardinia dan Korsika milik Kartago pada tahun 238 SM.[61][62] Di bawah kepemimpinan Hamilcar Barca, Kartago berhasil mengalahkan para pemberontak pada tahun 237 SM.[63][64]

Gambar kedua sisi koin: satu menampilkan kepala seorang pria; sisi lainnya menampilkan seekor gajah
Sebuah koin seperempat syikal Kartago, tertanggal 237–209 SM, menggambarkan dewa Punik Milqart yang dikaitkan dengan Herkules/Herakles. Pada sisi sebaliknya terdapat gambar gajah, kemungkinan Gajah perang; hewan ini dikaitkan dengan Baraq.[65]

Seusai pemadaman pemberontakan tersebut, Hamilkar memahami bahwa Kartago perlu memperkuat basis ekonomi dan militernya jika ingin kembali berhadapan dengan Roma;[66] wilayah kekuasaan Kartago di Iberia (Spanyol dan Portugal modern) saat itu terbatas pada segelintir kota pesisir yang makmur di selatan,[67] hingga Hamilkar membawa pasukan yang ia pimpin dalam Perang Tanpa Gencatan Senjata ke Iberia pada tahun 237 SM dan membentuk sebuah negara otonom kuasi-monarki di Iberia bagian selatan dan timur.[68] Hal ini memberi Kartago tambang perak, kekayaan pertanian, tenaga kerja, fasilitas militer seperti galangan kapal, serta kedalaman wilayah untuk menghadapi tuntutan Roma pada masa depan dengan percaya diri.[69][70] Hamilkar memerintah sebagai wizurai dan digantikan oleh menantunya, Hasdrubal, pada tahun 229 SM[71] yang kemudian digantikan oleh putranya, Hannibal, pada tahun 221 SM.[72]

Pada tahun 226 SM, Perjanjian Ebro disepakati bersama Roma, yang menetapkan Sungai Ebro sebagai batas utara dari wilayah pengaruh Kartago.[73] Kurun waktu enam tahun berikutnya, Roma membuat kesepakatan terpisah dengan kota Saguntum yang terletak jauh di sebelah selatan Sungai Ebro.[73] Pada tahun 219 SM, pasukan Kartago di bawah pimpinan Hannibal mengepung Saguntum, lalu merebut dan menjarahnya setelah delapan bulan.[74][75] Roma mengajukan protes kepada pemerintah Kartago dengan mengirimkan utusan diplomatik yang dipimpin oleh Quintus Fabius Maximus ke senat Kartago membawa tuntutan keras. Ketika tuntutan tersebut ditolak, Roma menyatakan perang pada musim semi tahun 218 SM.[75]

Sejak berakhirnya Perang Punik Pertama, Roma juga terus melancarkan ekspansi, terutamanya di kawasan Italia utara di kedua sisi Sungai Po yang dikenal sebagai Galia Cisalpina. Upaya-upaya Romawi untuk mendirikan kota dan lahan pertanian di kawasan tersebut sejak tahun 232 SM memicu serangkaian perang melawan suku-suku Galia setempat, yang pada akhirnya berhasil dikalahkan pada tahun 222. Pada tahun 218, pihak Romawi merangsek makin jauh ke utara, mendirikan dua kota baru atau "koloni" di sepanjang Sungai Po serta mengambil alih kawasan-kawasan tanah terbaik dalam jumlah besar. Sebagian besar orang Galia membenci hal ini.[76]

Italia

Hannibal menyeberangi Pegunungan Alpen, 218 SM

Peta Mediterania Barat yang menampilkan rute yang dilalui oleh pasukan Kartago dari Iberia ke Italia
Rute perjalanan Hannibal dari Iberia ke Italia

Sepanjang tahun 218 SM, terjadi beberapa bentrokan laut di perairan sekitar Sisilia; pihak Romawi menghalau serangan Kartago[77][78] dan merebut Pulau Malta.[79] Di Galia Cisalpina (Italia utara modern), suku-suku utama Galia menyerang koloni-koloni Romawi di sana, yang menyebabkan para pemukim melarikan diri ke Mutina (Modena modern)—koloni yang telah didirikan sebelumnya—tempat mereka kemudian dikepung. Pasukan bantuan Romawi berhasil menerobos pengepungan tersebut, tetapi kemudian disergap dan berujung dikepung. Sepasukan tentara sebelumnya telah dihimpun oleh pihak Romawi untuk melancarkan kampanye militer di Iberia, tetapi Senat Romawi memisahkan satu legiun Romawi dan satu legiun sekutu dari pasukan tersebut untuk dikirim ke Italia utara. Perekrutan pasukan baru untuk menggantikan legiun-legiun ini menunda keberangkatan pasukan ke Iberia hingga bulan September.[80] Pada saat yang sama, sepasukan tentara Romawi di Sisilia pimpinan konsul Sempronius Longus sedang bersiap untuk menginvasi Afrika.[81]

Sementara itu, Hannibal menghimpun pasukan Kartago di Kartago Baru (Cartagena modern) lalu memimpinnya bergerak ke utara di sepanjang pesisir Iberia pada bulan Mei atau Juni. Pasukan tersebut memasuki Galia dan mengambil jalur pedalaman guna menghindari sekutu-sekutu Romawi di selatan.[82] Dalam Pertempuran Penyeberangan Rhône, Hannibal mengalahkan pasukan suku Galia setempat yang berupaya menghalangi jalurnya.[83] Armada Romawi yang mengangkut pasukan tujuan Iberia mendarat di kota sekutu Roma, Massalia (Marseille modern), di muara Sungai Rhône,[84] tetapi Hannibal berhasil menghindari pasukan Romawi dan melanjutkan perjalanannya menuju Italia.[85]

Pasukan Kartago mencapai kaki Pegunungan Alpen pada akhir musim gugur dan menyeberanginya dalam waktu 15 hari, mengatasi rintangan iklim, medan,[82] serta taktik perang gerilya dari suku Liguria setempat. Hannibal tiba di Galia Cisalpina membawa 20.000 prajurit infanteri, 6.000 prajurit kavaleri, dan sejumlah gajah yang tidak diketahui pasti jumlahnya—para penyintas dari 37 ekor gajah yang dibawanya saat meninggalkan Iberia[86][87]—pada suatu waktu di bulan November; pihak Romawi saat itu telah memasuki markas musim dingin mereka. Kedatangan mengejutkan Hannibal di Semenanjung Italia berujung pada pembatalan kampanye militer yang telah direncanakan Roma untuk tahun tersebut, yaitu invasi ke Afrika.[88]

Kemenangan Kartago, 218–216 SM

Foto hitam putih dari patung perunggu yang menggambarkan Hannibal
Hannibal, yang dilukiskan dalam patung dada Capua

Sesaat setelah tiba di Italia, pasukan Kartago merebut kota utama dari suku Taurini yang memusuhi mereka (di kawasan Turin modern) serta menyita persediaan makanannya.[89][90] Pada akhir November 218 SM, kavaleri Kartago mencerai-beraikan kavaleri dan infanteri ringan Romawi dalam Pertempuran Ticinus.[91] Akibatnya, sebagian besar suku Galia menyatakan dukungan kepada kubu Kartago dan jumlah pasukan Hannibal membengkak hingga lebih dari 40.000 prajurit.[81][92] Senat memerintahkan pasukan di Sisilia untuk bergerak ke utara demi bergabung dengan kekuatan yang telah menghadapi Hannibal, sehingga membatalkan rencana menginvasi Afrika.[81] Pasukan gabungan Romawi di bawah komando Sempronius dipancing untuk bertempur oleh Hannibal di medan pilihannya dalam Pertempuran Trebia. Pasukan Kartago mengepung pasukan Romawi[93][94] dan hanya 10.000 dari 40.000 prajurit yang mampu menerobos keluar menuju tempat aman. Setelah mengamankan posisinya di Galia Cisalpina melalui kemenangan ini, Hannibal menempatkan pasukannya di markas musim dingin yang terletak di antara suku-suku Galia. Suku-suku Galia tersebut bergabung ke dalam pasukannya dalam jumlah besar, hingga meningkatkan jumlah pasukannya menjadi 60.000 prajurit.[81][95][96]

Kepanikan melanda saat kabar kekalahan tersebut mencapai Roma, tetapi situasi mereda begitu Sempronius tiba untuk memimpin pemilihan konsul sebagaimana mestinya.[97] Konsul-konsul terpilih merekrut legiun-legiun tambahan, baik legiun Romawi maupun dari sekutu Latin Roma; memperkuat Sardinia dan Sisilia dari kemungkinan penjarahan atau invasi Kartago; menempatkan garnisun di Tarentum serta tempat-tempat lain untuk alasan serupa; membangun armada beranggotakan 60 quinquereme; dan mendirikan depo perbekalan di Ariminum dan Arretium sebagai persiapan untuk bergerak ke utara pada akhir tahun.[98] Dua angkatan darat yang masing-masing terdiri atas empat legiun—dua legiun Romawi dan dua legiun sekutu, tetapi dengan kontingen kavaleri yang lebih kuat dari biasanya[97]—dibentuk. Satu angkatan darat ditempatkan di Arretium dan satu lagi di pesisir Adriatik; mereka akan mampu menghadang kemungkinan pergerakan Hannibal ke Italia tengah serta ditempatkan untuk bergerak ke utara guna beroperasi di Galia Cisalpina.[99][100]

Pada awal musim semi 217 SM, pasukan Kartago menyeberangi Pegunungan Apennini tanpa perlawanan melalui rute yang sulit tetapi tanpa penjagaan.[101] Hannibal berupaya memancing pasukan utama Romawi di bawah pimpinan Gaius Flaminius ke dalam pertempuran terbuka dengan memporak-porandakan wilayah yang diutus untuk mereka lindungi,[102] sehingga memprovokasi Flaminius untuk melakukan pengejaran secara tergesa-gesa. Hannibal memasang penyergapan[103] dan dalam Pertempuran Danau Trasimene mengalahkan pasukan Romawi secara telak, membunuh 15.000 prajurit Romawi,[104] termasuk Flaminius,[103] serta menawan 10.000 tawanan. Pasukan kavaleri beranggotakan 4.000 prajurit dari angkatan darat Romawi lainnya juga berhasil dikalahkan dalam Pertempuran Danau Umbria dan dimusnahkan.[104] Para tawanan diperlakukan dengan buruk jika mereka merupakan orang Romawi; sebaliknya, sekutu Latin yang tertangkap diperlakukan dengan baik oleh pihak Kartago dan banyak di antara mereka dibebaskan serta dikembalikan ke kota-kota mereka, dengan harapan mereka akan menceritakan hal-hal baik, baik mengenai keperkasaan militer Kartago maupun perlakuan yang mereka terima.[96][105] Hannibal berharap beberapa dari sekutu ini dapat dibujuk untuk membelot.[106]

Foto berwarna dari patung putih seorang pria yang mengenakan baju zirah Romawi Kuno
Patung Fabius yang dibuat pada tahun 1777

Pasukan Kartago melanjutkan pergerakan mereka melintasi Etruria, kemudian Umbria, menuju pesisir Adriatik, lalu berbelok ke selatan menuju Apulia,[107] dengan harapan dapat memikat beberapa kota etnis Yunani dan Italia di Italia selatan.[99][108] Kabar mengenai kekalahan tersebut kembali memicu kepanikan di Roma. Pemimpin utusan diplomatik yang dikirim ke Kartago tepat sebelum perang pecah pada tahun 218 SM, Quintus Fabius Maximus, dipilih sebagai diktator oleh Majelis Romawi dan menerapkan "Strategi Fabius", yaitu menghindari pertempuran terbuka dan alih-alih mengandalkan gangguan skala kecil untuk menguras kekuatan penyerang hingga Roma mampu membangun kembali kekuatan militernya. Hannibal secara umum leluasa memporak-porandakan Apulia selama satu tahun berikutnya.[109][110]

Pada periode ini, Fabius tidak populer di kalangan sebagian angkatan darat, masyarakat, dan senat Romawi karena menghindari pertempuran sewaktu Italia sedang diporak-porandakan oleh musuh; terdapat kesadaran bahwa taktiknya tidak akan membawa perang pada akhir yang cepat.[99][111] Hannibal bergerak melintasi provinsi-provinsi terkaya dan tersubur di Italia dengan harapan kebinasaan tersebut akan memancing Fabius ke dalam pertempuran, tetapi Fabius menolaknya.[112] Rakyat Romawi mencemooh Fabius sebagai "Sang Penunda" (dalam bahasa Latin, Cunctator), dan pada tahun 216 SM memilih konsul-konsul baru: Gaius Terentius Varro, yang mendesak penerapan strategi perang yang lebih agresif, serta Lucius Aemilius Paullus, yang mendukung strategi di antara strategi Fabius dan strategi yang diusulkan oleh Varro.[113]

Pada musim semi tahun 216 SM, Hannibal merebut depo perbekalan besar di Cannae yang berada di Dataran Apulia. Senat Romawi mengizinkan penghimpunan angkatan darat berukuran dua kali lipat oleh Varro dan Paullus, yakni kekuatan beranggotakan 86.000 prajurit—yang terbesar dalam sejarah Romawi hingga saat itu.[114][115] Paullus dan Varro bergerak ke selatan untuk menghadapi Hannibal lalu mendirikan perkemahan sejauh 10 km (6 mi). Hannibal menerima pertempuran di dataran terbuka antara kedua pasukan dalam Pertempuran Cannae. Legiun-legiun Romawi menerobos bagian tengah barisan Hannibal yang sengaja dibuat lemah, tetapi infanteri berat Libya di kedua sayap berbelok mengitari pergerakan mereka, yang mengancam bagian sayap pasukan Romawi.[116] Hasdrubal Gisco[g] memimpin kavaleri Kartago di sayap kiri dan mencerai-beraikan kavaleri Romawi di hadapannya, kemudian menyapu bagian belakang pasukan Romawi untuk menyerang kavaleri mereka di sayap lainnya. Pasukan infanteri Kartago yang kalah jauh dalam jumlah bertahan hingga Hasdrubal menerjang legiun-legiun tersebut dari belakang. Akibatnya, infanteri Romawi terkepung tanpa jalan untuk meloloskan diri. Setidaknya 67.500 prajurit Romawi tewas atau ditawan.[116][118][117]

Miles menggambarkan Cannae sebagai "bencana militer terbesar Roma".[109] Toni Ñaco del Hoyo menggambarkan Trebia, Danau Trasimene, dan Cannae sebagai tiga "malapetaka militer besar" yang dialami oleh bangsa Romawi dalam tiga tahun pertama perang.[119] Brian Carey menulis bahwa ketiga kekalahan ini membawa Roma ke ambang keruntuhan.[120] Dalam kurun waktu beberapa minggu seusai Pertempuran Cannae, sepasukan tentara Romawi beranggotakan 25.000 prajurit disergap oleh suku Galia Boii di Galia Cisalpina dalam Pertempuran Silva Litana dan dimusnahkan.[121] Fabius menjadi konsul pada tahun 215 SM dan terpilih kembali pada tahun 214 SM.[122][123]

Sekutu Romawi membelot, 216–214 SM

Hanya sedikit dari catatan Polibios mengenai pasukan Hannibal di Italia seusai Pertempuran Cannae yang bertahan. Livius memberikan rekam data yang lebih lengkap, tetapi menurut Goldsworthy "keterpercayaannya kerap diragukan", terutamanya mengenai deskripsinya tentang pertempuran-pertempuran; banyak sejarawan modern menyetujuinya, tetapi bagaimanapun juga karyanya merupakan sumber terbaik yang bertahan untuk bagian perang ini.[11][14][15]

Beberapa negara-kota di Italia selatan bersekutu dengan Hannibal, atau direbut ketika faksi-faksi pro-Kartago mengkhianati pertahanan mereka. Kota-kota ini mencakup kota besar Capua dan kota pelabuhan utama Tarentum (Taranto modern). Dua dari suku-suku utama Samnit juga bergabung dengan kubu Kartago. Pada tahun 214 SM, sebagian besar kawasan Italia selatan telah berbalik menentang Roma, meskipun terdapat banyak pengecualian dan mayoritas sekutu Roma di Italia bagian tengah tetap setia. Semua kota—terkecuali kota-kota terkecil—terlalu terbentengi dengan baik untuk direbut oleh Hannibal melalui serangan langsung, sedangkan pemblokadean dapat menjadi urusan yang berlarut-larut, atau jika sasarannya adalah pelabuhan, menjadi hal yang tidak mungkin. Sekutu-sekutu baru Kartago ini memiliki sedikit rasa kebersamaan, baik dengan Kartago maupun dengan satu sama lain. Mereka menambah jumlah tempat yang harus dipertahankan oleh pasukan Hannibal dari pembalasan Romawi, tetapi memberikan relatif sedikit pasukan baru untuk membantunya melakukan hal tersebut. Pasukan-pasukan Italia yang dihimpun tersebut enggan beroperasi jauh dari kota asal mereka dan berkinerja buruk ketika mereka melakukannya.[124]

Peta Semenanjung Italia bagian selatan yang menampilkan jangkauan maksimum kendali Kartago
Sekutu-sekutu Hannibal di Italia selatan ca 213 SM, ditampilkan dalam warna biru

Bagian penting dari kampanye militer Hannibal di Italia adalah berupaya melawan bangsa Romawi dengan memanfaatkan sumber daya lokal, yakni menghimpun rekrutan dari kalangan penduduk setempat. Bawahannya, Hanno, berhasil menghimpun pasukan di Samnium pada tahun 214 SM, tetapi pihak Romawi mencegat rekrutan-rekrutan baru ini dalam Pertempuran Beneventum dan memusnahkan mereka sebelum sempat bertemu dengan Hannibal. Hannibal dapat mendapatkan sekutu, tetapi mempertahankan mereka dari pihak Romawi merupakan masalah baru yang sulit, dikarenakan pihak Romawi masih mampu mengerahkan banyak angkatan darat yang secara keseluruhan jauh mengungguli jumlah pasukannya sendiri.[125]

Keuntungan terbesar adalah kota terbesar kedua di Italia, Capua, ketika pasukan Hannibal bergerak memasuki Campania pada tahun 216 SM. Penduduk Capua memegang kewarganegaraan Romawi yang terbatas dan kaum bangsawan terhubung dengan bangsa Romawi melalui pernikahan dan persahabatan, tetapi kemungkinan untuk menjadi kota terunggul di Italia seusai bencana-bencana Romawi yang nyata terbukti menjadi godaan yang terlalu kuat. Perjanjian antara mereka dan Hannibal dapat digambarkan sebagai kesepakatan persahabatan, dikarenakan penduduk Capua tidak memiliki kewajiban apa pun.[126] Ketika kota pelabuhan Locri membelot ke pihak Kartago pada musim panas tahun 215 SM, pelabuhan tersebut langsung digunakan untuk memperkuat pasukan Kartago di Italia dengan prajurit, perbekalan, dan gajah perang.[127] Peristiwa ini merupakan satu-satunya momen sepanjang perang saat Kartago mengirimkan bala bantuan kepada Hannibal.[128] Pasukan kedua di bawah pimpinan adik bungsu Hannibal, Mago Baraq, yang semula dimaksudkan untuk mendarat di Italia pada tahun 215 SM dialihkan ke Iberia seusai kekalahan besar Kartago di sana.[127][129]

Sementara itu, pihak Romawi mengambil langkah-langkah drastis untuk membentuk legiun-legiun baru: merekrut budak, penjahat, dan orang-orang yang tidak memenuhi syarat kepemilikan harta biasa. Pada awal tahun 215 SM, mereka telah mengerahkan setidaknya 12 legiun; pada tahun 214 SM sebanyak 18 legiun; dan pada tahun 213 SM sebanyak 22 legiun. Pada tahun 212 SM, jumlah penuh legiun yang dikerahkan diperkirakan melampaui 100.000 prajurit, ditambah, seperti biasa, jumlah pasukan sekutu yang setara. Mayoritas pasukan dikerahkan di Italia selatan dalam bentuk tentara lapangan yang masing-masing beranggotakan sekitar 20.000 prajurit. Jumlah ini tidak cukup untuk menantang pasukan Hannibal dalam pertempuran terbuka, tetapi cukup untuk memaksanya memusatkan pasukannya serta menghambat pergerakannya.[130]

Makedonia, Sardinia, dan Sisilia

Sepanjang tahun 215 SM, raja Makedonia, Filipus V, menyatakan dukungannya kepada Hannibal,[131] yang memicu dimulainya Perang Makedonia Pertama melawan Roma pada tahun 215 SM. Pihak Romawi khawatir bahwa orang-orang Makedonia akan berupaya menyeberangi Selat Otranto dan mendarat di Italia. Mereka memperkuat angkatan laut mereka secara signifikan di kawasan tersebut serta mengutus satu legiun untuk berjaga-jaga, hingga ancaman tersebut akhirnya mereda. Pada tahun 211 SM, Roma membendung kekuatan Makedonia dengan bersekutu dengan Liga Aitolia—sebuah koalisi negara-kota Yunani yang telah terlibat perang melawan Makedonia. Pada tahun 205 SM, perang ini berakhir melalui perjanjian damai.[132]

Pemberontakan untuk mendukung pihak Kartago pecah di Sardinia pada tahun 213 SM, tetapi berhasil dipadamkan dengan cepat oleh pihak Romawi.[133]

Mosaik berwarna yang menampilkan seorang prajurit bersenjatakan pedang bergerak ke arah pria berjubah gaya kuno yang sedang duduk
Archimedes sebelum dibunuh oleh prajurit Romawi – salinan mosaik Romawi dari abad ke-2

Sebelum tahun 215 SM, Sisilia tetap sepenuhnya berada di kendali Romawi, yang menghalangi pengiriman bala bantuan dan perbekalan siap pakai melalui jalur laut untuk Hannibal dari Kartago. Hiero II, penguasa tua Sirakusa yang telah bertakhta selama empat puluh lima tahun sekaligus sekutu setia Roma, meninggal dunia pada tahun 215 SM dan penerusnya, Hieronymus, merasa tidak puas dengan posisinya. Hannibal merundingkan kesepakatan yang mana Sirakusa berpindah pihak ke Kartago, dengan imbalan menjadikan seluruh Sisilia sebagai wilayah kekuasaan Sirakusa. Pasukan Sirakusa terbukti bukan tandingan bagi pasukan Romawi di bawah pimpinan Claudius Marcellus, dan pada musim semi tahun 213 SM Sirakusa dikepung.[134][135] Baik catatan Polibios maupun Livius mengenai pengepungan tersebut berfokus pada rekayasa mesin-mesin perang buatan Archimedes guna menandingi taktik pengepungan Romawi, di mana sebelumnya telah dipersulit oleh pertahanan kota yang kuat.[136]

Sepasukan besar tentara Kartago di bawah pimpinan Himilko dikirim untuk membebaskan kota tersebut pada tahun 213 SM[133][137] dan beberapa kota Sisilia lainnya meninggalkan pihak Romawi.[133] Pada musim semi tahun 212 SM, pihak Romawi menerobos Sirakusa dalam serangan malam mendadak lalu merebut beberapa distrik kota tersebut. Sementara itu, pasukan Kartago dilumpuhkan oleh wabah penyakit. Setelah pihak Kartago gagal memasok perbekalan ke kota tersebut, bagian Sirakusa selebihnya jatuh pada musim gugur tahun 212 SM; Arkimedes dibunuh oleh seorang prajurit Romawi.[138]

Kartago mengirimkan lebih banyak bala bantuan ke Sisilia pada tahun 211 SM lalu melancarkan serangan. Pada tahun 211 SM, Hannibal mengirimkan sepasukan kavaleri Numidia ke Sisilia di bawah pimpinan seorang perwira Libyo-Fenisia yang terampil, Mottones, yang menimbulkan kerugian besar pada pasukan Romawi melalui serangan tabrak-lari. Sepasukan tentara Romawi yang baru menyerang benteng utama Kartago di pulau tersebut, Agrigentum, pada tahun 210 SM, dan kota tersebut diserahkan kepada pihak Romawi akibat pengkhianatan seorang perwira Kartago yang tidak puas. Kota-kota tersisa yang berada di bawah kendali Kartago kemudian menyerahkan diri atau direbut, baik melalui kekuatan militer maupun pengkhianatan,[139][140] dan pasokan gandum Sisilia kepada Roma beserta angkatan daratnya kembali berjalan.[141]

Italia, 213–208 SM

Selama 11 tahun seusai Pertempuran Cannae, perang bergejolak di sekitar Italia selatan seiring kota-kota berpindah pihak ke Kartago atau direbut melalui tipu muslihat, dan pihak Romawi merebutnya kembali melalui pengepungan atau dengan memengaruhi faksi-faksi di dalam kota agar membukakan jalan bagi mereka. Hannibal berulang kali mengalahkan pasukan Romawi, tetapi di mana pun pasukan utamanya tidak aktif, pihak Romawi mengancam kota-kota pendukung Kartago atau berupaya bertempur melawan baik detasemen Kartago maupun sekutu Kartago; kerap kali membuahkan hasil. Pada tahun 208 SM, banyak kota dan wilayah yang tadinya bergabung dengan kubu Kartago telah kembali ke bawah naungan Romawi.[142]

Fabius merebut kota sekutu Kartago, Arpi, pada tahun 213 SM.[24] Pada tahun 212 SM, Hannibal memusnahkan pasukan Romawi di bawah pimpinan Centenius Penula dalam Pertempuran Silarus di Lucania barat laut.[143] Kemudian pada tahun yang sama, Hannibal mengalahkan pasukan Romawi lainnya dalam Pertempuran Herdonia, yang mana 16.000 prajurit tewas dari kekuatan beranggotakan 18.000 prajurit.[144][145] Terlepas dari kerugian-kerugian ini, pihak Romawi mengepung Capua, sekutu kunci Kartago di Italia.[146] Hannibal menawarkan pertempuran kepada pihak Romawi; catatan Livius mengenai pertempuran berikutnya tidak jelas, tetapi pihak Romawi tampaknya menderita korban jiwa yang berat sewaktu pihak Kartago tidak mampu mengangkat pengepungan tersebut. Hannibal kemudian menyerang benteng-benteng pengepungan Romawi, tetapi kembali gagal membebaskan kota tersebut. Pada tahun 211 SM, Hannibal kembali menawarkan pertempuran kepada pasukan Romawi yang melakukan pengepungan, tetapi kali ini mereka menolak meninggalkan kubu pertahanan mereka. Dalam keputusasaan, Hannibal kembali menyerang mereka dan sekali lagi gagal menerobos. Ia selanjutnya memimpin pasukannya bergerak menuju Roma, dengan harapan dapat memaksa pihak Romawi meninggalkan pengepungan demi mempertahankan kota mereka. Namun, pasukan yang melakukan pengepungan tetap bertahan di tempatnya hingga Capua jatuh tidak lama kemudian. Kota tersebut dicabut otonomi politiknya dan ditempatkan di bawah pejabat-pejabat tunjukan Romawi.[147]

Pada tahun 210, pihak Kartago mendapati pasukan Romawi dalam keadaan lengah di luar Herdonia, lalu mengalahkannya secara telak setelah komandannya menerima pertempuran.[148][149] Livius kemudian mencatat Hannibal bertempur dalam Pertempuran Numistro yang tidak membuahkan hasil pasti, meskipun para sejarawan modern meragukan catatannya.[149][150] Pihak Romawi terus membuntutinya, bertempur dalam pertempuran terbuka lainnya di Canusium pada tahun 209 SM dan kembali menderita kerugian besar.[151][152] Pertempuran ini memungkinkan pasukan Romawi lainnya mendekati Tarentum dan merebutnya melalui pengkhianatan.[148][152]

Italia, 207–203 SM

Pada musim semi tahun 207 SM, Hasdrubal Baraq mengulangi pencapaian kakak laki-lakinya dengan memimpin sepasukan tentara menyeberangi Pegunungan Alpen. Ia menginvasi Galia Cisalpina membawa pasukan beranggotakan 35.000 prajurit dengan maksud untuk bergabung dengan kekuatan Hannibal, tetapi Hannibal tidak menyadari keberadaannya. Pihak Romawi yang menghadapi Hannibal di Italia selatan memperdayanya hingga ia percaya bahwa seluruh angkatan darat Romawi masih berada di perkemahan, sementara sebagian besar pasukan bergerak ke utara di bawah pimpinan konsul Claudius Nero. Mereka memperkuat pasukan Romawi di bawah komando konsul kedua, Marcus Salinator, yang telah bersiap menghadapi Hasdrubal. Pasukan gabungan Romawi ini menyerang dalam Pertempuran Metaurus dan memusnahkan pasukan Kartago serta membunuh Hasdrubal. Pertempuran ini mengukuhkan dominasi Romawi di Italia dan menandai berakhirnya strategi Fabius mereka. Tanpa bala bantuan yang diharapkan, pasukan Hannibal terpaksa mengosongkan kota-kota sekutu lalu menarik diri ke Bruttium.[153][154]

Pada tahun 205 SM, Mago Baraq—satu lagi adik laki-laki Hannibal—mendarat di Genua (Genoa modern) di Italia barat laut bersama sisa-sisa pasukannya dari Spanyol. Pasukan tersebut segera memperoleh bala bantuan dari suku Galia dan Liguria. Kedatangan Mago di bagian utara Semenanjung Italia disusul oleh Pertempuran Crotona yang tidak membuahkan hasil pasti bagi Hannibal pada tahun 204 SM di ujung selatan semenanjung. Mago memimpin pasukannya yang telah diperkuat bergerak menuju wilayah-wilayah sekutu utama Galia milik Kartago di Galia Cisalpina, tetapi berhasil ditahan oleh sepasukan besar tentara Romawi hingga dikalahkan dalam Pertempuran Insubria pada tahun 203 SM.[155]

Setelah sepasukan tentara Romawi menginvasi tanah air Kartago pada tahun 204 SM—mengalahkan pihak Kartago dalam dua pertempuran besar serta memenangi kesetiaan kerajaan-kerajaan Numidia di Afrika Utara—Hannibal beserta sisa-sisa pasukannya dipanggil kembali.[156] Mereka berlayar dari Kroton[157] dan mendarat di Kartago membawa 15.000–20.000 veteran berpengalaman. Mago juga dipanggil kembali; ia meninggal dunia akibat luka-lukanya dalam pelayaran dan beberapa kapalnya dicegat oleh pihak Romawi,[158] tetapi 12.000 prajuritnya berhasil mencapai Kartago.[159]

Iberia

Iberia 218–211 SM

Foto hitam putih dari ukiran timbul kuno yang menggambarkan seorang prajurit
Prajurit Iberia dari ukiran timbul ca 200 SM. Ia bersenjatakan Falcata dan perisai berbentuk oval.

Armada Romawi melanjutkan perjalanan dari Massalia pada musim gugur tahun 218 SM, mendaratkan pasukan yang diangkutnya di Iberia timur laut, tempat pasukan tersebut meraih dukungan di antara suku-suku setempat.[85] Pangkalan pihak Romawi di antara Sungai Ebro dan Pegunungan Pirenia menghalangi rute dari Iberia ke Italia, yang mempersulit pengiriman bala bantuan dari Iberia kepada Hannibal.[160] Serangan Kartago pada akhir tahun 218 SM berhasil dipukul mundur[160] dalam Pertempuran Cissa.[85] Pada tahun 217 SM, 40 kapal perang Kartago dan Iberia dikalahkan oleh 35 kapal Romawi dan Massalia dalam Pertempuran Sungai Ebro, dengan kerugian 29 kapal Kartago.[161]

Pada tahun 216, Hasdrubal menerima perintah dari Kartago untuk bergerak ke Italia dan bergabung dengan Hannibal guna menekan pihak Romawi di tanah air mereka. Hasdrubal keberatan dengan berargumen bahwa otoritas Kartago atas suku-suku Iberia terlalu rapuh dan pasukan Romawi di kawasan tersebut terlalu kuat baginya untuk menjalankan pergerakan yang direncanakan. Pada tahun 215, Hasdrubal pada akhirnya mengambil tindakan dengan mengepung sebuah kota pro-Romawi dan menawarkan pertempuran di Dertosa,[162][160] tempat ia berupaya menggunakan keunggulan kavalerinya untuk membersihkan bagian sayap pasukan Romawi sewaktu mengepung bagian tengah mereka dari kedua sisi dengan pasukan infanterinya. Namun, pihak Romawi menerobos bagian tengah barisan Kartago lalu mengalahkan masing-masing sayap secara terpisah, yang menimbulkan kerugian besar.[163][164] Hasdrubal tidak lagi mungkin untuk mengirimkan bala bantuan kepada Hannibal di Italia.[85][163]

Pihak Kartago mengalami gelombang pembelotan suku-suku Keltiberia setempat ke pihak Roma.[85] Para komandan Romawi merebut Saguntum pada tahun 212 SM dan pada tahun 211 SM menyewa 20.000 tentara bayaran Keltiberia untuk memperkuat pasukan mereka. Setelah mengamati bahwa pasukan Kartago di Iberia terbagi menjadi tiga angkatan darat yang dikerahkan secara terpisah satu sama lain, pihak Romawi membagi pasukan mereka.[163] Strategi ini berujung pada dua pertempuran terpisah pada tahun 211, yang biasanya secara bersama-sama dirujuk sebagai Pertempuran Baetis Hulu. Kedua pertempuran berakhir dengan kekalahan total bagi pihak Romawi, dikarenakan Hasdrubal telah menyuap para tentara bayaran Romawi untuk membelot. Para penyintas Romawi mundur ke benteng pesisir mereka di sebelah utara Sungai Ebro, yang dari sana pihak Kartago kembali gagal mengusir mereka.[85][163] Claudius Nero membawa bala bantuan pada tahun 210 SM dan menstabilkan situasi.[163]

Iberia, 211–205 SM

Foto hitam putih dari patung dada marmer seorang pria dengan hidung yang patah
Patung dada marmer dari abad ke-2 SM yang menggambarkan Scipio Muda, Glyptoteket[165][166]

Pada tahun 210 SM, Publius Cornelius Scipio[h] tiba di Iberia membawa bala bantuan Romawi tambahan.[168] Dalam sebuah serangan yang direncanakan dengan cermat pada tahun 209 SM, ia merebut pusat kekuasaan Kartago di Iberia yang dipertahankan secara longgar, Kartago Baru,[168][169] serta menyita barang rampasan perang dalam jumlah besar berupa emas, perak, dan artileri pengepungan. Ia membebaskan penduduk yang ditawan serta memerdekakan sandera-sandera Iberia yang ditahan oleh pihak Kartago di sana, dalam upaya untuk memastikan kesetiaan suku-suku mereka.[168][170]

Pada musim semi 208 SM, Hasdrubal bergerak untuk menghadapi Scipio dalam Pertempuran Baecula.[168] Pihak Kartago berhasil dikalahkan, tetapi Hasdrubal mampu menarik mundur sebagian besar pasukannya dan mencegah pengejaran oleh pihak Romawi; sebagian besar kerugian pasukannya terjadi di kalangan sekutu Iberianya. Scipio tidak mampu mencegah Hasdrubal memimpin pasukannya yang telah berkurang melintasi celah-celah barat Pirenia menuju Galia. Pada tahun 207 SM, setelah gencar melakukan perekrutan di Galia, Hasdrubal menyeberangi Pegunungan Alpen menuju Italia dalam upaya untuk bergabung dengan saudaranya, Hannibal, tetapi berhasil dikalahkan sebelum sempat mewujudkannya.[168][171][172]

Pada tahun 206 SM, dalam Pertempuran Ilipa, Scipio yang membawa 48.000 prajurit—separuh berbangsa Italia dan separuh berbangsa Iberia—mengalahkan pasukan Kartago beranggotakan 54.500 prajurit dan 32 gajah. Peristiwa ini menyegel nasib pihak Kartago di Iberia.[168][173] Kota terakhir yang dikuasai Kartago di Iberia, Gades, membelot ke pihak Romawi.[174] Kemudian pada tahun yang sama, pemberontakan prajurit pecah di kalangan pasukan Romawi, yang menarik dukungan dari para pemimpin Iberia yang kecewa karena pasukan Romawi tetap bertahan di semenanjung tersebut seusai pengusiran pihak Kartago, tetapi gerakan tersebut berhasil dipadamkan oleh Scipio. Pada tahun 205 SM, Mago berupaya merebut kembali Kartago Baru sewaktu pihak pendudukan Romawi diguncang oleh pemberontakan prajurit lainnya serta pemberontakan rakyat Iberia, tetapi upayanya berhasil dipukul mundur.[175][176] Mago meninggalkan Iberia menuju Italia utara bersama sisa-sisa pasukannya.[170][177] Pada tahun 203 SM, Kartago berhasil merekrut setidaknya 4.000 tentara bayaran dari Iberia, terlepas dari kendali nominal Roma atas wilayah tersebut.[178]

Afrika

Afrika, 213–206 SM

Peta Tunisia bagian utara dan Aljazair bagian timur laut yang menampilkan rute pasukan Scipio
Kampanye militer Scipio di Afrika (204–203 SM)

Pada tahun 213 SM, Syphax, seorang raja Numidia yang berpengaruh di Afrika Utara, menyatakan dukungan kepada Roma. Sebagai tanggapan, pasukan Kartago dikirim ke Afrika Utara dari Spanyol.[163][179] Pada tahun 206 SM, pihak Kartago mengakhiri pengurasan sumber daya ini dengan membagi beberapa kerajaan Numidia bersama Syphax. Salah satu pihak yang kehilangan hak warisnya adalah pangeran Numidia, Masinissa, yang dengan demikian terdorong untuk memihak Roma.[180]

Invasi Romawi ke Afrika, 204–201 SM

Pada tahun 205 SM, Publius Scipio diberi komando atas legiun-legiun di Sisilia dan diizinkan merekrut relawan untuk rencananya mengakhiri perang melalui invasi ke Afrika. Setelah mendarat di Afrika pada tahun 204 SM, ia bergabung dengan Masinissa beserta sepasukan kavaleri Numidia.[181] Scipio dua kali melancarkan pertempuran dan memusnahkan dua angkatan darat besar Kartago.[156] Seusai bentrokan kedua, Syphax dikejar lalu ditawan oleh Masinissa dalam Pertempuran Cirta; Masinissa kemudian merebut sebagian besar kerajaan milik Syphax dengan bantuan Romawi.[182]

Roma dan Kartago memulai perundingan damai, dan Kartago memanggil kembali Hannibal beserta Mago dari Italia.[177] Senat Romawi meratifikasi draf perjanjian, tetapi akibat rasa saling tidak percaya dan lonjakan rasa percaya diri saat Hannibal tiba dari Italia, Kartago menolaknya.[183] Hannibal diserahi komando atas pasukan lain yang dibentuk dari para veteran asal Italia dan pasukan yang baru dihimpun dari Afrika, tetapi dengan sedikit kavaleri.[184] Pertempuran Zama yang menjadi penentu menyusul pada bulan Oktober 202 SM.[185] Berbeda dengan sebagian besar pertempuran dalam Perang Punik Kedua, pihak Romawi memiliki keunggulan kavaleri, sedangkan pihak Kartago unggul dalam infanteri.[184] Hannibal berupaya menggunakan 80 ekor gajah untuk menerobos formasi infanteri Romawi, tetapi pihak Romawi menangkis mereka dengan efektif hingga gajah-gajah tersebut lari kocar-kacir menembus jajaran pasukan Kartago sendiri. Kavaleri Romawi dan sekutu Numidia mereka kemudian menekan serangan dan mengusir kavaleri Kartago dari medan pertempuran. Pasukan infanteri kedua belah pihak bertempur tanpa hasil pasti hingga kavaleri Romawi kembali dan menyerang bagian belakang pasukan Kartago. Formasi Kartago runtuh; Hannibal menjadi salah satu dari sedikit orang yang berhasil meloloskan diri dari medan pertempuran.[185][186]

Kemenangan Romawi

Informasi lebih lanjut: Perang Punik Ketiga

Perjanjian damai baru yang didiktekan oleh Roma melucuti seluruh wilayah seberang laut Kartago serta sebagian wilayah Afrika miliknya. Ganti rugi perang sebesar 10.000 talenta perak harus dibayarkan dalam jangka waktu 50 tahun dan sandera diambil.[i] Kartago dilarang memiliki gajah perang dan armadanya dibatasi hanya sepuluh kapal perang. Kartago dilarang melancarkan perang di luar Afrika, dan di Afrika hanya boleh dilakukan atas izin Roma. Banyak pejabat senior Kartago yang ingin menolak perjanjian tersebut, tetapi Hannibal berbicara dengan tegas untuk menyetujuinya, hingga perjanjian tersebut diterima pada musim semi 201 SM. Sejak saat itu, jelas bahwa Kartago tunduk secara politik kepada Roma.[188] Scipio dianugerahi pawai kemenangan dan menerima agnomen "Africanus".[189]

Sekutu Afrika Roma, Raja Masinissa dari Numidia, memanfaatkan larangan melancarkan perang yang dikenakan pada Kartago untuk berulang kali menjarah dan merebut wilayah Kartago tanpa mendapat hukuman.[190] Pada tahun 149 SM, lima puluh tahun seusai berakhirnya Perang Punik Kedua, Kartago mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Hasdrubal untuk melawan Masinissa, terlepas dari isi perjanjian tersebut. Kampanye militer tersebut berakhir dengan bencana dalam Pertempuran Oroscopa, dan faksi-faksi anti-Kartago di Roma menggunakan tindakan militer ilegal tersebut sebagai dalih untuk menyiapkan ekspedisi penghukuman.[191] Perang Punik Ketiga dimulai pada akhir tahun 149 SM ketika sepasukan besar tentara Romawi mendarat di Afrika Utara dan mengepung Kartago.[192][193] Pada musim semi tahun 146 SM, pihak Romawi melancarkan serangan terakhir mereka, menghancurkan kota tersebut secara sistematis dan membantai penduduknya; 50.000 penyintas dijual sebagai budak.[194][195] Wilayah bekas Kartago tersebut menjadi provinsi Afrika Romawi.[196][197] Satu abad berlalu sebelum situs Kartago dibangun kembali sebagai kota Romawi.[198][199]

Catatan

  1. ↑ Istilah Punik atau Punic berasal dari kata Latin Punicus (atau Poenicus), yang berarti "orang Kartago" dan merujuk pada leluhur Fenisia dari bangsa Kartago.[1]
  2. ↑ Sumber-sumber selain Polibios dibahas oleh Bernard Mineo dalam "Principal Literary Sources for the Punic Wars (apart from Polybius)".[17]
  3. ↑ Jumlah ini dapat ditingkatkan menjadi 5.000 dalam keadaan tertentu,[19] atau, meskipun jarang, bahkan lebih dari itu.[20]
  4. ↑ Sumber-sumber Romawi dan Yunani merujuk pada para pejuang asing ini secara merendahkan sebagai tentara bayaran, tetapi sejarawan modern Adrian Goldsworthy menggambarkannya sebagai penyederhanaan yang sangat berlebihan. Mereka bertugas di bawah berbagai kesepakatan; sebagai contoh, beberapa di antaranya merupakan pasukan reguler dari kota atau kerajaan sekutu yang diperbantukan kepada Kartago sebagai bagian dari perjanjian resmi, beberapa berasal dari negara sekutu yang bertempur di bawah pimpinan mereka sendiri, dan banyak yang merupakan sukarelawan dari wilayah di bawah kendali Kartago yang bukan merupakan warga negara Kartago (status warga negara sebagian besar dikhususkan bagi penduduk kota Kartago).[27]
  5. ↑ Pasukan pendobrak adalah pasukan yang dilatih untuk mendekat secara cepat dan agresif ke arah lawan, dengan maksud memecah formasi lawan sebelum atau segera setelah terjadi kontak.[28]
  6. ↑ Gajah-gajah ini biasanya berketinggian sekitar 25 m (82 ft 0 in) pada bagian bahu dan tidak boleh disamakan dengan gajah semak Afrika yang berukuran lebih besar.[37]
  7. ↑ Bukan sosok yang sama dengan Hasdrubal Baraq, salah satu adik laki-laki Hannibal.[117]
  8. ↑ Publius Scipio merupakan putra dari mantan komandan bersama Romawi di Iberia yang juga bernama Publius Scipio, sekaligus keponakan dari komandan bersama lainnya, Gnaeus Scipio.[167]
  9. ↑ 10.000 talenta setara dengan sekitar 269.000 kilogram (265 ton panjang).[187]

Referensi

  1. ↑ Sidwell & Jones 1998, hlm. 16.
  2. 1 2 3 4 5 Goldsworthy 2006, hlm. 20–21.
  3. ↑ Walbank 1990, hlm. 11–12.
  4. ↑ Lazenby 1996, hlm. x–xi.
  5. ↑ Hau 2016, hlm. 23–24.
  6. ↑ Shutt 1938, hlm. 55.
  7. ↑ Champion 2015, hlm. 98, 101.
  8. ↑ Lazenby 1996, hlm. x–xi, 82–84.
  9. ↑ Curry 2012, hlm. 34.
  10. ↑ Champion 2015, hlm. 102.
  11. 1 2 3 Lazenby 1998, hlm. 87.
  12. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 22.
  13. ↑ Champion 2015, hlm. 95.
  14. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 222.
  15. 1 2 Sabin 1996, hlm. 62.
  16. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 21–23.
  17. 1 2 Mineo 2015, hlm. 111–127.
  18. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 23, 98.
  19. ↑ Bagnall 1999, hlm. 23.
  20. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 287.
  21. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 48.
  22. ↑ Bagnall 1999, hlm. 22–25.
  23. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 44–50.
  24. 1 2 Rawlings 2015, hlm. 312.
  25. ↑ Lazenby 1998, hlm. 9.
  26. ↑ Scullard 2006, hlm. 494.
  27. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 33.
  28. ↑ Jones 1987, hlm. 1.
  29. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 32–34.
  30. ↑ Koon 2015, hlm. 79–87.
  31. ↑ Koon 2015, hlm. 80.
  32. ↑ Rawlings 2015, hlm. 305.
  33. 1 2 Bagnall 1999, hlm. 9.
  34. ↑ Carey 2007, hlm. 13.
  35. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 32.
  36. ↑ Bagnall 1999, hlm. 8.
  37. ↑ Miles 2011, hlm. 240.
  38. ↑ Lazenby 1996, hlm. 27.
  39. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 82, 311, 313–314.
  40. ↑ Bagnall 1999, hlm. 237.
  41. 1 2 Koon 2015, hlm. 93.
  42. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 55.
  43. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 56.
  44. ↑ Sabin 1996, hlm. 64.
  45. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 57.
  46. ↑ Sabin 1996, hlm. 66.
  47. ↑ Bagnall 1999, hlm. 328.
  48. ↑ Miles 2011, hlm. 157–158.
  49. ↑ Bagnall 1999, hlm. 21–22.
  50. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 29–30.
  51. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 25–26.
  52. ↑ Miles 2011, hlm. 94, 160, 163, 164–165.
  53. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 69–70.
  54. ↑ Miles 2011, hlm. 175–176.
  55. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 74–75.
  56. ↑ Warmington 1993, hlm. 168.
  57. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 82.
  58. ↑ Lazenby 1996, hlm. 157.
  59. ↑ Bagnall 1999, hlm. 97.
  60. ↑ Beck 2015, hlm. 235.
  61. ↑ Scullard 2006, hlm. 569.
  62. ↑ Miles 2011, hlm. 209, 212–213.
  63. ↑ Hoyos 2000, hlm. 378.
  64. ↑ Hoyos 2007, hlm. 248.
  65. ↑ Miles 2011, hlm. 226–227.
  66. ↑ Hoyos 2015, hlm. 77.
  67. ↑ Hoyos 2015, hlm. 80.
  68. ↑ Miles 2011, hlm. 220.
  69. ↑ Miles 2011, hlm. 219–220, 225.
  70. ↑ Eckstein 2006, hlm. 173–174.
  71. ↑ Bagnall 1999, hlm. 146–147.
  72. ↑ Miles 2011, hlm. 225.
  73. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 143–144.
  74. ↑ Collins 1998, hlm. 13.
  75. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 144–145.
  76. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 139–140.
  77. ↑ Briscoe 2006, hlm. 61.
  78. ↑ Edwell 2015, hlm. 327.
  79. ↑ Castillo 2006, hlm. 25.
  80. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 151–152.
  81. 1 2 3 4 Zimmermann 2015, hlm. 284.
  82. 1 2 Mahaney 2008, hlm. 221.
  83. ↑ Bagnall 1999, hlm. 161–162.
  84. ↑ Fronda 2015, hlm. 252.
  85. 1 2 3 4 5 6 Zimmermann 2015, hlm. 291.
  86. ↑ Erdkamp 2015, hlm. 71.
  87. ↑ Hoyos 2015b, hlm. 107.
  88. ↑ Zimmermann 2015, hlm. 283–284.
  89. ↑ Bagnall 1999, hlm. 171.
  90. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 168.
  91. ↑ Fronda 2015, hlm. 243.
  92. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 177–178.
  93. ↑ Fronda 2015, hlm. 243–244.
  94. ↑ Bagnall 1999, hlm. 175–176.
  95. ↑ Bagnall 1999, hlm. 175–176, 193.
  96. 1 2 Miles 2011, hlm. 270.
  97. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 181.
  98. ↑ Lazenby 1998, hlm. 58.
  99. 1 2 3 Zimmermann 2015, hlm. 285.
  100. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 182.
  101. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 184.
  102. ↑ Liddell Hart 1967, hlm. 45.
  103. 1 2 Fronda 2015, hlm. 244.
  104. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 190.
  105. ↑ Lomas 2015, hlm. 243.
  106. ↑ Fronda 2015, hlm. 246.
  107. ↑ Fronda 2015, hlm. 247.
  108. ↑ Lazenby 1998, hlm. 86.
  109. 1 2 Miles 2011, hlm. 279.
  110. ↑ Briscoe 2006, hlm. 50.
  111. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 195–196.
  112. ↑ Bagnall 1999, hlm. 184–188.
  113. ↑ Zimmermann 2015, hlm. 286.
  114. ↑ Bagnall 1999, hlm. 191, 194.
  115. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 198–199.
  116. 1 2 Fronda 2015, hlm. 245.
  117. 1 2 Carey 2007, hlm. 64.
  118. ↑ Bagnall 1999, hlm. 192–194.
  119. ↑ Ñaco del Hoyo 2015, hlm. 377.
  120. ↑ Carey 2007, hlm. 2.
  121. ↑ Roberts 2017, hlm. vi–1x.
  122. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 227.
  123. ↑ Lazenby 1998, hlm. 94.
  124. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 222–226.
  125. ↑ Rawlings 2015, hlm. 312–316.
  126. ↑ Hoyos 2015b, hlm. 128–129.
  127. 1 2 Lazenby 1998, hlm. 98.
  128. ↑ Erdkamp 2015, hlm. 75.
  129. ↑ Barceló 2015, hlm. 370.
  130. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 226–227.
  131. ↑ Miles 2011, hlm. 243.
  132. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 253–260.
  133. 1 2 3 Miles 2011, hlm. 288.
  134. ↑ Edwell 2015, hlm. 327–328.
  135. ↑ Bagnall 1999, hlm. 200.
  136. ↑ Edwell 2015, hlm. 328.
  137. ↑ Edwell 2015, hlm. 329.
  138. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 264–266.
  139. ↑ Edwell 2015, hlm. 330.
  140. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 266–267.
  141. ↑ Rawlings 2015, hlm. 311.
  142. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 222–238.
  143. ↑ Dupuy and Dupuy 1993, hlm. 75.
  144. ↑ Hoyos 2015b, hlm. 85.
  145. ↑ Fronda 2015, hlm. 253.
  146. ↑ Rawlings 2015, hlm. 299–300.
  147. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 221, 233–235.
  148. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 235–236.
  149. 1 2 Bagnall 1999, hlm. 256.
  150. ↑ Lazenby 1998, hlm. 171.
  151. ↑ Rawlings 2015, hlm. 302.
  152. 1 2 Bagnall 1999, hlm. 258.
  153. ↑ Zimmermann 2015, hlm. 289–290.
  154. ↑ Miles 2011, hlm. 304–305.
  155. ↑ Bagnall 1999, hlm. 286–287.
  156. 1 2 Miles 2011, hlm. 310.
  157. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 244.
  158. ↑ Miles 2011, hlm. 312.
  159. ↑ Bagnall 1999, hlm. 289.
  160. 1 2 3 Edwell 2015, hlm. 321.
  161. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 248–249.
  162. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 249–250.
  163. 1 2 3 4 5 6 Edwell 2015, hlm. 322.
  164. ↑ Bagnall 1999, hlm. 204.
  165. ↑ Coarelli 2002, hlm. 73–74.
  166. ↑ Etcheto 2012, hlm. 274–278.
  167. ↑ Miles 2011, hlm. 268, 298–299.
  168. 1 2 3 4 5 6 Edwell 2015, hlm. 323.
  169. ↑ Zimmermann 2015, hlm. 292.
  170. 1 2 Barceló 2015, hlm. 362.
  171. ↑ Carey 2007, hlm. 86–90.
  172. ↑ Bagnall 1999, hlm. 211.
  173. ↑ Zimmermann 2015, hlm. 293.
  174. ↑ Miles 2011, hlm. 303.
  175. ↑ Bagnall 1999, hlm. 216.
  176. ↑ Carey 2007, hlm. 96, 99.
  177. 1 2 Carey 2007, hlm. 111.
  178. ↑ Edwell 2015, hlm. 334.
  179. ↑ Miles 2011, hlm. 308.
  180. ↑ Barceló 2015, hlm. 372.
  181. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 286–288, 291–292.
  182. ↑ Bagnall 1999, hlm. 282–283.
  183. ↑ Bagnall 1999, hlm. 287–291.
  184. 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 302.
  185. 1 2 Miles 2011, hlm. 315.
  186. ↑ Carey 2007, hlm. 118.
  187. ↑ Lazenby 1996, hlm. 158.
  188. ↑ Carey 2007, hlm. 132.
  189. ↑ Miles 2011, hlm. 318.
  190. ↑ Kunze 2015, hlm. 398, 407.
  191. ↑ Kunze 2015, hlm. 399, 407.
  192. ↑ Purcell 1995, hlm. 134.
  193. ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 341.
  194. ↑ Le Bohec 2015, hlm. 441.
  195. ↑ Scullard 2002, hlm. 316.
  196. ↑ Scullard 1955, hlm. 103.
  197. ↑ Scullard 2002, hlm. 310, 316.
  198. ↑ Richardson 2015, hlm. 480–481.
  199. ↑ Miles 2011, hlm. 363–364.

Sumber

  • Bagnall, Nigel (1999). The Punic Wars: Rome, Carthage and the Struggle for the Mediterranean. London: Pimlico. ISBN 978-0-7126-6608-4.
  • Beck, Hans (2015) [2011]. "The Reasons for War". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 225–241. ISBN 978-1-119-02550-4.
  • Barceló, Pedro (2015) [2011]. "Punic Politics, Economy, and Alliances, 218–201". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 357–375. ISBN 978-1-119-02550-4.
  • Brizzi, Giovanni (2007). Scipione e Annibale, la guerra per salvare Roma. Bari-Roma: Laterza. ISBN 978-88-420-8332-0.
  • Le Bohec, Yann (2015) [2011]. "The "Third Punic War": The Siege of Carthage (148–146 BC)". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 430–446. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Briscoe, John (2006) [1989]. "The Second Punic War". Dalam Astin, A. E.; Walbank, F. W.; Frederiksen, M. W.; Ogilvie, R. M. (ed.). The Cambridge Ancient History: Rome and the Mediterranean to 133 B.C. Vol. VIII. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 44–80. ISBN 978-0-521-23448-1.
  • Carey, Brian Todd (2007). Hannibal's Last Battle: Zama & the Fall of Carthage. Barnslet, South Yorkshire: Pen & Sword. ISBN 978-1-84415-635-1.
  • Castillo, Dennis Angelo (2006). The Maltese Cross: A Strategic History of Malta. Westport, Connecticut: Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-313-32329-4.
  • Champion, Craige B. (2015) [2011]. "Polybius and the Punic Wars". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 95–110. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Coarelli, Filippo (2002). "I ritratti di 'Mario' e 'Silla' a Monaco e il sepolcro degli Scipioni". Eutopia Nuova Serie (dalam bahasa Italia). II (1): 47–75. ISSN 1121-1628.
  • Collins, Roger (1998). Spain: An Oxford Archaeological Guide. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-285300-4.
  • Curry, Andrew (2012). "The Weapon that Changed History". Archaeology. 65 (1): 32–37. JSTOR 41780760.
  • Dupuy, R. Ernest; Dupuy, Trevor N. (1993). The Harper Encyclopedia of Military History. New York City: HarperCollins. ISBN 978-0-06-270056-8.
  • Eckstein, Arthur (2006). Mediterranean Anarchy, Interstate War, and the Rise of Rome. Berkeley: University of California Press. ISBN 978-0-520-24618-8.
  • Edwell, Peter (2015) [2011]. "War Abroad: Spain, Sicily, Macedon, Africa". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 320–338. ISBN 978-1-119-02550-4.
  • Erdkamp, Paul (2015) [2011]. "Manpower and Food Supply in the First and Second Punic Wars". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 58–76. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Etcheto, Henri (2012). Les Scipions. Famille et pouvoir à Rome à l'époque républicaine (dalam bahasa Prancis). Bordeaux: Ausonius Éditions. ISBN 978-2-35613-073-0.
  • Fronda, Michael P. (2015) [2011]. "Hannibal: Tactics, Strategy, and Geostrategy". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Oxford: Wiley-Blackwell. hlm. 242–259. ISBN 978-1-405-17600-2.
  • Goldsworthy, Adrian (2006) [2000]. The Fall of Carthage: The Punic Wars 265–146 BC. London: Phoenix. ISBN 978-0-304-36642-2.
  • Hau, Lisa (2016). Moral History from Herodotus to Diodorus Siculus. Edinburgh: Edinburgh University Press. ISBN 978-1-4744-1107-3.
  • Hoyos, Dexter (2000). "Towards a Chronology of the 'Truceless War', 241–237 B.C.". Rheinisches Museum für Philologie. 143 (3/4): 369–380. JSTOR 41234468.
  • Hoyos, Dexter (2007). Truceless War: Carthage's Fight for Survival, 241 to 237 BC. Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-474-2192-4.
  • Hoyos, Dexter (2015) [2011]. A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Hoyos, Dexter (2015b). Mastering the West: Rome and Carthage at War. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-986010-4.
  • Jones, Archer (1987). The Art of War in the Western World. Urbana: University of Illinois Press. ISBN 978-0-252-01380-5.
  • Koon, Sam (2015) [2011]. "Phalanx and Legion: the "Face" of Punic War Battle". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 77–94. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Kunze, Claudia (2015) [2011]. "Carthage and Numidia, 201–149". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 395–411. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Lazenby, John (1996). The First Punic War: A Military History. Stanford, California: Stanford University Press. ISBN 978-0-8047-2673-3.
  • Lazenby, John (1998). Hannibal's War: A Military History of the Second Punic War. Warminster: Aris & Phillips. ISBN 978-0-85668-080-9.
  • Liddell Hart, Basil (1967). Strategy: The Indirect Approach. London: Penguin. OCLC 470715409.
  • Lomas, Kathryn (2015) [2011]. "Rome, Latins, and Italians in the Second Punic War". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 339–356. ISBN 978-1-119-02550-4.
  • Mahaney, W.C. (2008). Hannibal's Odyssey: Environmental Background to the Alpine Invasion of Italia. Piscataway, New Jersey: Gorgias Press. ISBN 978-1-59333-951-7.
  • Miles, Richard (2011). Carthage Must be Destroyed. London: Penguin. ISBN 978-0-14-101809-6.
  • Mineo, Bernard (2015) [2011]. "Principal Literary Sources for the Punic Wars (apart from Polybius)". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 111–128. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Ñaco del Hoyo, Toni (2015) [2011]. "Roman Economy, Finance, and Politics in the Second Punic War". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 376–392. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Purcell, Nicholas (1995). "On the Sacking of Carthage and Corinth". Dalam Innes, Doreen; Hine, Harry & Pelling, Christopher (ed.). Ethics and Rhetoric: Classical Essays for Donald Russell on his Seventy Fifth Birthday. Oxford: Clarendon. hlm. 133–148. ISBN 978-0-19-814962-0.
  • Rawlings, Louis (2015) [2011]. "The War in Italy, 218–203". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 58–76. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Richardson, John (2015) [2011]. "Spain, Africa, and Rome after Carthage". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 467–482. ISBN 978-1-1190-2550-4.
  • Roberts, Mike (2017). Hannibal's Road: The Second Punic War in Italy 213–203 BC. Pen & Sword: Barnsley, South Yorkshire. ISBN 978-1-47385-595-3.
  • Sabin, Philip (1996). "The Mechanics of Battle in the Second Punic War". Bulletin of the Institute of Classical Studies. Supplement. 67 (67): 59–79. JSTOR 43767903.
  • Scullard, Howard (1955). "Carthage". Greece & Rome. 2 (3): 98–107. doi:10.1017/S0017383500022166. JSTOR 641578. S2CID 248519024.
  • Scullard, Howard H. (2002). A History of the Roman World, 753 to 146 BC. London: Routledge. ISBN 978-0-415-30504-4.
  • Scullard, Howard H. (2006) [1989]. "Carthage and Rome". Dalam Walbank, F. W.; Astin, A. E.; Frederiksen, M. W. & Ogilvie, R. M. (ed.). Cambridge Ancient History: Volume 7, Part 2, 2nd Edition. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 486–569. ISBN 978-0-521-23446-7.
  • Shutt, Rowland (1938). "Polybius: A Sketch". Greece & Rome. 8 (22): 50–57. doi:10.1017/S001738350000588X. JSTOR 642112. S2CID 162905667.
  • Sidwell, Keith C.; Jones, Peter V. (1998). The World of Rome: an Introduction to Roman Culture. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-38600-5.
  • Walbank, F.W. (1990). Polybius. Vol. 1. Berkeley: University of California Press. ISBN 978-0-520-06981-7.
  • Warmington, Brian (1993) [1960]. Carthage. New York: Barnes & Noble, Inc. ISBN 978-1-56619-210-1.
  • Zimmermann, Klaus (2015) [2011]. "Roman Strategy and Aims in the Second Punic War". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Oxford: Wiley-Blackwell. hlm. 280–298. ISBN 978-1-405-17600-2.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media yang terkait dengan:
Second Punic War (kategori)
Perang Punik I
120px-Hannibal_Slodtz_Louvre_MR2093.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perang Laskar Sewaan
Perang Punik II
Perang Punik III
Perang-Perang
Republik Romawi
Perang-Perang
Kekaisaran Romawi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan