| Perang Tentara Bayaran | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Punik | |||||||||
Syikal yang ditempa oleh orang Libya selama perang, menggambarkan Herakles dan seekor singa, dengan legenda ΛIBYΩN ("orang Libya").[1] Di atas gambar singa, terdapat huruf Fenisia M yang mungkin merujuk kepada Mathos, salah seorang pemimpin pemberontakan.[2] | |||||||||
| |||||||||
| Pihak yang terlibat | |||||||||
| Kartago |
| ||||||||
| Pemimpin atau tokoh terkemuka | |||||||||
| •Naravas | |||||||||
| Kekuatan | |||||||||
| Tidak diketahui | 90.000 | ||||||||
| Korban jiwa dan kerugian | |||||||||
| Tidak diketahui | Tinggi | ||||||||
Perang Tentara Bayaran, yang juga dikenal sebagai Perang Tanpa Gencatan Senjata, merupakan pembangkangan militer prajurit sewaan Kartago pada penghujung Perang Punik I (264–241 SM), dengan dukungan pergolakan permukiman-permukiman Afrika yang menentang kekuasaan Kartago. Perang ini berkecamuk dari tahun 241 hingga akhir 238 atau awal 237 SM, lalu berakhir setelah Kartago berhasil menumpas pembangkangan militer sekaligus pemberontakan wilayah tersebut.
Perang ini bermula pada tahun 241 SM akibat perselisihan mengenai pembayaran tunggakan gaji 20.000 prajurit asing yang pernah bertempur membela Kartago di Sisilia selama Perang Punik I. Ketika kompromi tampaknya telah tercapai, aksi pembangkangan berskala penuh justru pecah di tubuh pasukan tersebut di bawah kepemimpinan Spendius dan Mathos. Sebanyak 70.000 warga Afrika dari wilayah-wilayah bawahan Kartago yang tertekan berbondong-bondong bergabung dengan mereka, sembari membawa perbekalan dan dukungan finansial. Kartago, yang telah lelah akibat perang berkepanjangan, meraih hasil buruk pada pertempuran-pertempuran awal, khususnya di bawah kepemimpinan jenderal Hanno. Homilqart Baraq, seorang veteran kampanye militer di Sisilia (sekaligus ayah dari Hannibal), diberi komando bersama atas angkatan perang pada tahun 240 SM, sebelum akhirnya memegang komando tertinggi pada tahun 239 SM. Ia memimpin kampanye militer dengan berhasil; pada awalnya, ia memperlihatkan kemurahan hati guna memikat para pemberontak agar kembali berpihak. Untuk mencegah hal tersebut, pada tahun 240 SM Spendius dan Autaritus menyiksa 700 tawanan Kartago hingga tewas (termasuk Gisco), yang mengakibatkan perang setelahnya dilanjutkan dengan kekejaman luar biasa dari kedua belah pihak.
Pada awal tahun 237 SM, setelah mengalami serangkaian kekalahan, para pemberontak berhasil ditaklukkan dan kota-kota mereka dikembalikan ke bawah kekuasaan Kartago. Sebuah ekspedisi militer disiapkan untuk menduduki kembali Sardinia, tempat para prajurit pembangkang sebelumnya telah membantai seluruh warga Kartago. Namun, Romawi menyatakan tindakan tersebut sebagai pelanggaran perdamaian dan justru menduduki baik Sardinia maupun Korsika, yang bertentangan dengan perjanjian damai yang baru disepakati. Peristiwa ini dianggap sebagai faktor pemicu utama pecahnya kembali perang melawan Kartago pada tahun 218 SM dalam Perang Punik II.
Sumber primer

Sumber utama untuk hampir setiap aspek Perang Punik[a] adalah sejarawan Polibios (ca 200–ca 118 SM), seorang warga Yunani yang dikirim ke Roma pada tahun 167 SM sebagai sandera.[4][5] Karya-karyanya mencakup sebuah panduan taktik militer yang kini telah hilang,[6] tetapi ia dikenal saat ini berkat karyanya, Historiai, yang ditulis beberapa waktu setelah tahun 146 SM, atau sekitar satu abad setelah perang ini.[4][7] Karya Polibios secara umum dianggap objektif dan terhitung netral di antara sudut pandang Kartago dan Romawi.[8][9]
Catatan tertulis Kartago musnah dihancurkan bersama ibu kota mereka, Kartago, pada tahun 146 SM; oleh karena itu, catatan Polibios mengenai Perang Tentara Bayaran didasarkan pada beberapa sumber baik bahasa Yunani maupun Latin yang kini telah hilang.[10] Polibios merupakan sejarawan analitis yang sebisa mungkin mewawancarai secara langsung para pelaku peristiwa yang ia tulis.[11][12] Ia menjadi bagian dari staf Scipio Aemilianus ketika sang jenderal memimpin pasukan Romawi melintasi berbagai lokasi kancah Perang Tentara Bayaran selama Perang Punik III.[13] Hanya sebagian jilid pertama dari 40 jilid Historiai yang membahas perang ini.[14] Keakuratan catatan Polibios telah banyak diperdebatkan selama 150 tahun terakhir, tetapi konsensus modern secara umum menerimanya secara lugas apa adanya, dan rincian perang dalam sumber-sumber modern hampir seluruhnya didasarkan pada penafsiran atas catatan Polibios.[14][15][16] Sejarawan modern Andrew Curry menilai bahwa "Polibios terbukti cukup tepercaya";[17] sedangkan Craige Champion menggambarkannya sebagai "sejarawan yang luar biasa berwawasan luas, tekun, dan jeli".[18] Catatan-catatan sejarah lain yang ditulis belakangan mengenai perang ini memang ada, tetapi hanya dalam bentuk fragmen atau ringkasan.[5][19] Sejarawan modern juga memperhitungkan catatan sejarah buatan Diodoros Sikolos dan Cassius Dio yang ditulis di kemudian hari, meskipun pakar sejarah klasik Adrian Goldsworthy menyatakan bahwa "catatan Polibios biasanya lebih diutamakan apabila terdapat perbedaan dengan catatan-catatan kita yang lain".[12][b] Sumber-sumber lainnya mencakup prasasti, koin, dan bukti arkeologis.[21]
Latar belakang

Perang Punik I berkecamuk antara Kartago dan Romawi, dua kekuatan utama di Mediterania barat pada abad ke-3 SM, serta berlangsung selama 23 tahun, dari tahun 264 hingga 241 SM. Roma masih berdiri kokoh sebagai ibu kota Italia, sedangkan Kartago diratakan dengan tanah oleh Romawi dalam perang di kemudian hari; reruntuhannya terletak 16 kilometer (10 mi) di sebelah timur kota Tunis modern, di pesisir Afrika Utara. Kedua kekuatan tersebut berebut supremasi terutama di pulau Sisilia di Laut Tengah beserta perairan di sekitarnya, serta di Afrika Utara.[23] Perang ini merupakan konflik berkesinambungan terlama dan perang laut terbesar pada zaman kuno. Setelah kerugian materiil dan jiwa yang sangat besar di kedua belah pihak, pihak Kartago mengalami kekalahan.[24][25] Senat Kartago memerintahkan komandan pasukannya di Sisilia, Homilqart Baraq, untuk berunding mengenai perjanjian damai; ia memandatkan tugas ini kepada wakilnya, Gisco.[24][25][26] Perjanjian Lutatius pun ditandatangani dan mengakhiri Perang Punik I. Berdasarkan syarat-syarat perjanjian tersebut, Kartago mengosongkan Sisilia, menyerahkan seluruh tawanan perang, serta membayar ganti rugi sebesar 3.200 talenta[c] –1.000 talenta di antaranya wajib dibayar seketika, sedangkan sisanya dicicil selama sepuluh tahun.[28]
Sewaktu perang melawan Romawi berkecamuk, jenderal Kartago Hanno, yang merupakan salah satu dari beberapa tokoh Kartago bernama Hanno yang dijuluki "sang agung", memimpin serangkaian kampanye militer yang secara signifikan memperluas wilayah Afrika yang dikuasai Kartago. Ia memperluas kekuasaannya hingga ke Theveste (Tébessa modern, Aljazair), 300 km (190 mi) di sebelah barat daya ibu kota mereka.[29][30] Hanno bersikap tegas dalam memeras pajak dari wilayah taklukan baru demi mendanai perang melawan Romawi sekaligus kampanye militernya sendiri.[30] Separuh dari seluruh hasil pertanian disita sebagai pajak perang, dan upeti yang sebelumnya ditagih dari kota-kota dilipatgandakan. Pungutan-pungutan ini dipaksakan secara keras, sehingga menimbulkan kesengsaraan yang amat sangat di berbagai wilayah.[31][32]
Angkatan perang Kartago hampir selalu terdiri atas orang asing; warga kota hanya bertugas dalam angkatan perang apabila terdapat ancaman langsung terhadap kota Kartago.[33] Sebagian besar warga asing ini berasal dari Afrika Utara.[33] Orang Libya menyediakan infanteri barisan rapat yang dilengkapi perisai besar, ketopong, pedang pendek, dan tombak penusuk panjang; serta kavaleri gempur barisan rapat yang membawa tombak –kedua jenis pasukan tersebut terkenal akan kedisiplinan dan daya tahannya. Orang Numidia menyediakan kavaleri ringan yang melempar lembing dari jarak jauh serta menghindari pertarungan jarak dekat, beserta infanteri ringan pelempar lembing.[34][35] Baik Hispania maupun Galia menyediakan infanteri berpengalaman; pasukan tanpa baju zirah yang menerjang dengan sengit, tetapi memiliki reputasi mudah mundur apabila pertempuran berlangsung berlarut-larut.[34][36][d] Infanteri Libya barisan rapat, beserta milisi warga kota jika dikerahkan, bertempur dalam formasi padat yang dikenal sebagai falangs.[35] Dua ribu pengumban direkrut dari Kepulauan Balearik.[34][37] Bangsa Sisilia dan Italia juga bergabung selama perang untuk mengisi jajaran pasukan.[38] Pihak Kartago kerap mengerahkan gajah perang; Afrika Utara pada masa itu memiliki gajah hutan Afrika asli.[36] Sumber-sumber Romawi menyebut para pejuang asing ini secara merendahkan sebagai "tentara bayaran", tetapi Goldsworthy menggambarkan sebutan tersebut sebagai "penyederhanaan yang terlalu berlebihan".[39] Mereka mengabdi di bawah beragam skema kesepakatan; sebagai contoh, sebagian merupakan pasukan reguler kota atau kerajaan sekutu yang diperbantukan kepada Kartago sebagai bagian dari perjanjian resmi.[39]
Pembangkangan militer
Setelah menerima perintah untuk mengupayakan perdamaian dengan syarat apa pun yang dapat dinegosiasikan, Homilqart meninggalkan Sisilia dengan murka karena yakin bahwa penyerahan diri tersebut tidak diperlukan. Evakuasi 20.000 prajurit Kartago dari Sisilia diserahkan ke tangan Gisco. Enggan membiarkan para prajurit yang baru saja menganggur itu bersatu demi kepentingan mereka sendiri, Gisko membagi angkatan perang tersebut menjadi detasemen-detasemen kecil berdasarkan wilayah asal mereka. Ia memulangkan rombongan-rombongan ini ke Kartago secara bertahap. Ia memperkirakan mereka akan segera menerima pembayaran atas tunggakan gaji beberapa tahun dan bergegas pulang ke daerah asal masing-masing.[40] Pemerintah Kartago justru memutuskan untuk menunggu sampai seluruh pasukan tiba, lalu mencoba mengupayakan kesepakatan pembayaran dengan nominal yang lebih rendah. Sementara itu, setiap kelompok yang tiba ditempatkan di dalam kota Kartago, tempat kenyamanan peradaban dinikmati sepenuhnya setelah delapan tahun berada di bawah pengepungan. "Keliaran yang riuh" ini begitu mengkhawatirkan pemerintah kota hingga sebelum seluruh 20.000 prajurit tiba, mereka dipindahkan ke Sikka Veneria (El Kef modern), sejauh 180 km (110 mi), meskipun sebagian besar tunggakan gaji mereka harus dibayarkan terlebih dahulu sebelum mereka bersedia pergi.[41]
Setelah terbebas dari penataan disiplin militer yang panjang dan tanpa memiliki kegiatan, para prajurit tersebut bersungut-sungut di antara sesama mereka serta menolak semua upaya Kartago untuk membayarkan gaji yang lebih rendah dari jumlah penuh yang menjadi hak mereka. Kecewa atas upaya tawar-menawar para perunding Kartago, seluruh 20.000 prajurit berbaris menuju Tunis, yang berjarak 16 km (10 mi) dari Kartago. Didorong rasa panik, Senat akhirnya menyetujui pembayaran secara penuh. Pasukan yang melancarkan dahagi tersebut justru menanggapi dengan mengajukan tuntutan yang lebih besar. Gisco, yang memiliki reputasi baik di mata angkatan perang, didatangkan dari Sisilia pada akhir tahun 241 SM lalu diutus ke perkemahan dengan membawa dana yang cukup untuk membayar sebagian besar tunggakan gaji. Ia mulai mencairkan dana tersebut, disertai janji bahwa sisanya akan dilunasi segera setelah dananya berhasil dihimpun. Kegusaran tersebut tampaknya mulai mereda ketika, tanpa alasan yang jelas, kedisiplinan mendadak runtuh. Sejumlah prajurit bersikeras bahwa tidak ada kesepakatan apa pun dengan Kartago yang dapat diterima, kerusuhan pun pecah, pihak yang menentang dilempari batu hingga tewas, sementara Gisco beserta stafnya ditawan dan kas yang dibawanya disita. Spendius, seorang budak Romawi pelarian yang terancam hukuman mati lewat penyiksaan jika tertangkap kembali, serta Mathos, seorang warga Berber yang tidak puas atas kebijakan Hanno dalam memungut pajak dari wilayah-wilayah kekuasaan Kartago di Afrika, diangkat sebagai jenderal. Kabar mengenai terbentuknya pasukan anti-Kartago yang berpengalaman di jantung wilayahnya meluas dengan cepat, menyulut pemberontakan di banyak kota dan permukiman. Pasokan perbekalan, uang, dan pasukan bantuan mengalir deras; menurut Polibios, terdapat tambahan hingga 70.000 prajurit.[42][43][44] Koin-koin peninggalan pemberontak dari periode ini memuat legenda 'dari orang Libya', yang mengindikasikan bahwa pasukan pembangkang tersebut diupah oleh kota-kota Libya. Sebaliknya, warga Libya yang memberontak kemungkinan dipimpin oleh Zarzas.[45][46][47] Koin-koin lain yang ditempa oleh kelompok pemberontak diukiri huruf Punik "A, M, atau Z"; sejarawan Louis Rawlings menduga bahwa huruf-huruf tersebut merupakan singkatan dari nama-nama pemimpin utama pemberontakan: Autaritus, Mathos, dan Zarzas.[47] Perselisihan pembayaran gaji tersebut telah berkembang menjadi pemberontakan berskala penuh yang mengancam keberlanjutan Kartago sebagai sebuah negara.[33][48]
Perang
Hanno
Sebagai komandan angkatan perang Kartago di Afrika, Hanno turun ke medan tempur.[38] Sebagian besar prajurit Afrika dalam pasukannya tetap setia, sebab mereka sudah terbiasa bertindak menghadapi sesama warga Afrika. Kontingen non-Afrika miliknya tetap ditempatkan di Kartago ketika angkatan perang dari Sisilia dikeluarkan dari kota, dan mereka pun tetap setia. Sisa sedikit prajurit yang masih berada di Sisilia dilunasi gajinya hingga tuntas lalu dikerahkan kembali bersama Hanno, sementara dana dihimpun guna merekrut pasukan baru. Sejumlah warga kota Kartago, dengan jumlah yang tidak diketahui, juga dimasukkan ke dalam angkatan perang Hanno.[49] Pada saat Hanno menghimpun pasukan ini, para pemberontak telah memblokade Utica dan Hippo (Bizerte modern).[50]
Pada awal tahun 240 SM, Hanno berangkat bersama pasukannya untuk membebaskan Utica;[51] ia membawa 100 gajah perang dan peralatan pengepungan.[52][e] Hanno menggempur perkemahan pemberontak dalam Pertempuran Utica dan gajah-gajah pasukannya mencerai-beraikan para pengepung. Pasukan Hanno menguasai perkemahan tersebut dan Hanno sendiri memasuki kota dengan megah. Akan tetapi, para veteran perang dari angkatan perang Sisilia menghimpun kembali kekuatan mereka di bukit-bukit terdekat, dan karena tidak dikejar, mereka bergerak kembali menuju Utica. Prajurit Kartago, yang terbiasa bertempur melawan milisi kota-kota Numidia, masih merayakan kemenangan mereka ketika para pemberontak melancarkan serangan balik. Prajurit Kartago melarikan diri dengan menanggung korban jiwa yang besar, serta kehilangan barang bawaan dan peralatan pengepungan mereka. Sepanjang sisa tahun itu, Hanno hanya terlibat dalam pertempuran-pertempuran kecil melawan pasukan pemberontak, serta berulang kali melewatkan kesempatan untuk memancing lawan ke dalam pertempuran terbuka atau menempatkan mereka pada posisi yang merugikan; sejarawan militer Nigel Bagnall menulis tentang "ketidakmampuan Hanno sebagai komandan lapangan".[32][53]
Romawi secara tegas menolak memanfaatkan kesulitan yang dihadapi Kartago. Warga Italia dilarang berdagang dengan para pemberontak, tetapi didorong untuk berdagang dengan Kartago; 2.743 tawanan Kartago yang masih ditahan dibebaskan tanpa uang tebusan dan segera dimasukkan ke dalam angkatan perang Kartago.[54][55] Hiero, raja kerajaan satelit Romawi di Sirakusa, diizinkan memasok Kartago dengan bahan pangan dalam jumlah besar yang dibutuhkannya dan tidak lagi dapat diperoleh dari wilayah pedalamannya.[55][56] Pada akhir tahun 240 atau awal 239 SM, garnisun-garnisun Kartago di Sardinia ikut melancarkan dahagi, membunuh perwira-perwira mereka beserta gubernur pulau tersebut. Pihak Kartago mengirimkan pasukan untuk merebut kembali pulau itu. Ketika pasukan tersebut tiba, para anggotanya justru ikut membangkang, bergabung dengan para pembangkang sebelumnya, dan membantai seluruh warga Kartago di pulau tersebut. Para pembangkang itu kemudian memohon perlindungan kepada Romawi, tetapi permohonan tersebut ditolak.[54][57][58] Pakar sejarah klasik Richard Miles menulis bahwa "Romawi tidak dalam kondisi untuk memulai perang lain" serta ingin menghindari reputasi sebagai penyokong pemberontakan.[59]
Homilqart
Pada suatu waktu sepanjang tahun 240 SM, pihak Kartago menghimpun pasukan lain berukuran lebih kecil, sekitar 10.000 prajurit. Pasukan ini mencakup para pembelot dari kubu pemberontak, 2.000 kavaleri, dan 70 gajah perang. Pasukan tersebut ditempatkan di bawah komando Homilqart, yang telah memimpin pasukan Kartago di Sisilia selama enam tahun terakhir Perang Punik I.[53] Para pemberontak mempertahankan garis Sungai Bagradas dengan 10.000 prajurit di bawah komando Spendius. Homilqart perlu memaksakan penyeberangan jika ingin mendapatkan akses ke dataran terbuka tempat ia dapat bermanuver. Ia melakukannya melalui sebuah siasat, lalu Spendius mendapat bantuan tambahan 15.000 prajurit yang ditarik dari pasukan yang mengepung Utica—pengepungan yang telah dilanjutkan kembali oleh para pemberontak. Pasukan pemberontak berkekuatan 25.000 prajurit itu bergerak menyerang Homilqart dalam Pertempuran Sungai Bagradas. Peristiwa yang terjadi berikutnya tidak begitu jelas: tampaknya Homilqart berpura-pura mundur, barisan pemberontak terpecah karena mengejar, lalu pasukan Kartago berbalik dengan teratur dan melancarkan serangan balik yang mencerai-beraikan lawan, menyebabkan pihak pemberontak menderita kerugian 8.000 prajurit.[33][60][61]
Homilqart diangkat menjadi komandan bersama angkatan perang Kartago mendampingi Hanno, tetapi tidak ada kerja sama di antara keduanya.[62] Sewaktu Hanno bermanuver menghadapi Mathos di sebelah utara dekat Hippo, Homilqart menghadapi berbagai kota yang telah memihak pemberontak, mengembalikan kesetiaan mereka kepada Kartago melalui kombinasi diplomasi dan kekerasan. Ia dibayangi oleh pasukan pemberontak berukuran lebih besar, yang bertahan di medan bergelombang karena takut akan kavaleri dan gajah-gajah Homilqart, serta terus mengganggu pencari jerami dan pengintai pasukannya.[63][64] Di sebelah barat daya Utica, Homilqart memindahkan pasukannya ke pegunungan demi memancing para pemberontak ke dalam pertempuran,[32] tetapi ia justru dikepung. Pasukan Kartago terhindar dari kehancuran hanya setelah seorang pemimpin Numidia, Naravas, yang pernah mengabdi bersama serta mengagumi Homilqart di Sisilia, berpindah pihak dengan membawa 2.000 kavaleri.[65][66] Hal ini terbukti berakibat fatal bagi para pemberontak, dan dalam pertempuran yang pecah setelahnya, 10.000 prajurit pemberontak tewas serta 4.000 lainnya ditawan.[67]
Perang Tanpa Gencatan Senjata

Sejak meninggalkan Kartago, Homilqart memperlakukan tawanan pemberontak dengan baik dan memberi mereka pilihan untuk bergabung dengan pasukannya atau pulang tanpa halangan. Ia menawarkan hal yang sama kepada 4.000 tawanan dari pertempuran baru-baru itu.[67] Para pemimpin pemberontak memandang perlakuan murah hati ini sebagai alasan di balik pembelotan Naravas serta mengkhawatirkan perpecahan di dalam pasukan mereka; mereka menyadari bahwa kelonggaran semacam itu tidak akan diberikan kepada mereka secara pribadi. Untuk menutup segala kemungkinan terciptanya niat baik di antara kedua belah pihak, Spendius—atas dorongan sesama pemimpin pemberontak asal Gallia, Autaritus[68]—menyiksa 700 tawanan Kartago hingga tewas, termasuk Gisco: tangan mereka dipotong, dikebiri, kaki mereka dipatahkan, lalu dilemparkan ke dalam lubang dan dikubur hidup-hidup.[65][69] Pemimpin tentara bayaran sekaligus orator poliglot yang mahir, Autaritus, disebut oleh Polibios sebagai penghasut utama pembantaian ini. Homilqart, sebagai balasannya, membunuh seluruh tawanannya. Sejak saat itu, kedua belah pihak tidak lagi menunjukkan kemurahan hati, dan kekejaman pertempuran yang tak biasa ini membuat Polibios menjulukinya sebagai "Perang Tanpa Gencatan Senjata".[65][69] Setiap tawanan berikutnya yang ditangkap oleh pihak Kartago diinjak-injak sampai tewas oleh gajah-gajah perang.[70][71]
Pada kurun waktu antara Maret dan September 239 SM, kota Utica dan Hippo yang sebelumnya setia membantai garnisun Kartago di kota mereka lalu bergabung dengan kubu pemberontak.[72] Warga Utica menawarkan kota mereka kepada bangsa Romawi, yang—selaras dengan tanggapan mereka terhadap para pembangkang di Sardinia—menolaknya.[59][73] Para pemberontak yang sebelumnya beroperasi di kawasan tersebut bergerak ke selatan dan mengepung Kartago.[72]
Berbekal keunggulan mutlak dalam hal kavaleri, Homilqart menggempur jalur pasokan para pemberontak di sekeliling Kartago.[69] Pada pertengahan tahun 239 SM, Hanno beserta pasukannya bergabung dengannya, tetapi kedua jenderal tersebut berselisih paham mengenai strategi terbaik hingga melumpuhkan jalannya operasi militer. Secara tak lazim, penentuan komandan tertinggi diserahkan kepada pemungutan suara seluruh anggota angkatan perang –kemungkinan hanya para perwira[74] –dan Homilqart terpilih; Hanno pun meninggalkan angkatan perang tersebut.[72][75] Pada awal tahun 238 SM, krisis pasokan memaksa para pemberontak mengangkat pengepungan atas Kartago. Mereka mundur ke Tunis, lalu dari sana mempertahankan blokade dari jarak yang lebih jauh.[57][69] Sewaktu Mathos mempertahankan blokade tersebut, Spendius memimpin 40.000 prajurit untuk menghadapi Homilqart. Seperti pada tahun sebelumnya, mereka bertahan di medan yang lebih tinggi dan bergelombang serta terus mengganggu pasukan Kartago. Setelah serangkaian kampanye militer yang rinciannya kurang jelas dalam sumber-sumber sejarah, Homilqart berhasil menjebak para pemberontak di sebuah celah atau pegunungan yang dikenal sebagai Gergaji (The Saw). Terjepit di lereng pegunungan dengan perbekalan makanan yang telah habis, para pemberontak memakan kuda, para tawanan, dan akhirnya para budak mereka, sembari berharap Mathos akan melancarkan penyerbuan keluar dari Tunis untuk menyelamatkan mereka. Pada akhirnya, pasukan yang terkepung tersebut memaksa para pemimpin mereka untuk berunding dengan Homilqart, tetapi dengan dalih yang dibuat-buat, Homilqart justru menawan Spendius beserta para letnannya. Para pemberontak kemudian berupaya menerobos keluar dalam Pertempuran Gergaji, tetapi dibantai tanpa tersisa seorang pun.[76][77]

Homilqart kemudian berbaris menuju Tunis dan mengepung kota tersebut pada akhir tahun 238 SM. Kota itu sulit diakses baik dari timur maupun barat, sehingga Homilqart menduduki posisi di sebelah selatan bersama separuh angkatan perang, sementara wakilnya, Hannibal[f], berada di sebelah utara membawa sisanya. Para pemimpin pemberontak yang ditawan sebelum Pertempuran Gergaji disalibkan di tempat yang terlihat jelas dari dalam kota. Mathos memerintahkan serangan malam berskala besar yang mengejutkan prajurit Kartago, hingga menelan banyak korban jiwa di pihak mereka. Salah satu perkemahan mereka diserbu dan sebagian besar barang bawaan mereka hilang. Selain itu, Hannibal beserta delegasi yang terdiri dari 30 tokoh terkemuka Kartago yang sedang mengunjungi angkatan perang berhasil ditawan. Mereka disiksa lalu dipaku pada salib-salib yang sebelumnya ditempati oleh Spendius dan kawan-kawannya. Homilqart menghentikan pengepungan tersebut lalu mundur ke utara.[78][79]
Senat mendorong rekonsiliasi antara Hanno dan Homilqart, dan keduanya sepakat untuk bertugas bersama. Sementara itu, Mathos dan pasukannya telah meninggalkan Tunis dan berbaris sejauh 160 km (100 mi) ke selatan menuju kota kaya Leptis Parva, yang telah bangkit menentang Kartago pada tahap awal perang.[78] Hanno dan Homilqart bergerak mengejar mereka membawa angkatan perang yang diperkirakan berjumlah 40.000 prajurit, termasuk setiap warga kota Kartago yang berada pada usia wajib militer.[56] Alih-alih menunggu untuk dikepung, para pemberontak memilih menghadapi pasukan Kartago dalam pertempuran terbuka pada pertengahan hingga akhir tahun 238 SM.[80] Tidak ada rincian mengenai Pertempuran Leptis Parva yang tersisa,[81] tetapi 30.000 prajurit pemberontak sisanya berhasil ditumpas habis dan Mathos ditawan dengan kerugian yang sangat minim di pihak Kartago.[56] Setiap tawanan lainnya disalibkan, sedangkan Mathos diseret melintasi jalan-jalan kota Kartago lalu disiksa hingga tewas oleh warga kota.[82] Sebagian besar kota dan permukiman yang sebelumnya belum berdamai dengan Kartago kini melakukannya, terkecuali Utica dan Hippo, yang warganya mengkhawatirkan aksi balas dendam atas pembantaian warga Kartago yang mereka lakukan sebelumnya. Mereka berupaya bertahan, tetapi Polibios mencatat bahwa mereka pun "dengan cepat" menyerahkan diri, kemungkinan pada akhir tahun 238 SM atau awal tahun 237 SM.[83] Kota-kota yang menyerahkan diri tersebut diperlakukan secara lunak, meskipun gubernur-gubernur Kartago ditempatkan untuk mengawasi mereka.[84]
Sardinia
Kemungkinan pada tahun 237 SM, penduduk asli Sardinia bangkit memberontak lalu mengusir garnisun pembangkang, yang kemudian berlindung di Italia.[73] Sewaktu perang di Afrika mendekati akhir, mereka kembali memohon bantuan kepada Romawi. Kali ini bangsa Romawi menyetujuinya lalu menyiapkan sebuah ekspedisi untuk menduduki baik Sardinia maupun Korsika.[24] Tidak begitu jelas dari sumber-sumber sejarah mengapa bangsa Romawi bertindak berbeda dari tiga tahun sebelumnya.[54][84] Polibios berpandangan bahwa tindakan ini tidak dapat dibenarkan.[85] Kartago mengutus utusan ke Roma, yang mengutip Perjanjian Lutatius dan menyatakan bahwa mereka sedang menyiapkan ekspedisi sendiri untuk merebut kembali pulau tersebut, yang telah mereka kuasai selama 300 tahun. Senat Romawi secara sinis menyatakan bahwa mereka menganggap persiapan pasukan tersebut sebagai bentuk tindakan perang. Syarat-syarat perdamaian yang diajukan Romawi mencakup penyerahan Sardinia dan Korsika serta pembayaran ganti rugi tambahan sebesar 1.200 talenta.[85][86][g] Akibat terpuruk setelah 30 tahun dilanda perang, Kartago memilih untuk menyetujuinya alih-alih kembali terseret dalam konflik melawan Romawi.[87]
Dampak
Bangsa Romawi membutuhkan kehadiran militer yang kuat di Sardinia dan Korsika setidaknya selama tujuh tahun berikutnya, sewaktu mereka berjuang menumpas perlawanan penduduk lokal. Penyitaan Sardinia dan Korsika oleh Romawi beserta tuntutan ganti rugi tambahan memicu kemarahan mendalam di Kartago.[88][89] Polibios menganggap iktikad buruk Romawi ini sebagai pemicu utama tunggal pecahnya kembali perang melawan Kartago sembilan belas tahun kemudian.[87] Peran Homilqart Baraq dalam kemenangan tersebut secara signifikan meningkatkan prestise dan kekuasaan Wangsa Baraq. Segera setelah perang berakhir, Homilqart memimpin banyak veteran pasukannya dalam ekspedisi untuk memperluas wilayah kekuasaan Kartago di Iberia selatan; wilayah ini kelak menjadi daerah kekuasaan semi-otonom Wangsa Baraq. Pada tahun 218 SM, angkatan perang Kartago di bawah komando Hannibal Baraq mengepung kota Saguntum di Iberia timur yang berada di bawah perlindungan Romawi, memicu percikan yang menyulut Perang Punik II.[90][91]
Sejarawan Dexter Hoyos menulis bahwa "perang tanpa gencatan senjata... memicu pembalikan total dan langgeng atas nasib domestik serta orientasi militer Kartago".[26] Miles sepakat bahwa terjadi "periode transformasi politik yang mendalam".[92] Kartago tidak pernah lagi mendapatkan kembali kendali atas angkatan perangnya: para jenderal terus dipilih oleh pasukan mereka sendiri, sebagaimana Homilqart; pasukan di Hispania secara efektif menjadi tentara pribadi Wangsa Baraq. Secara internal, pandangan Wangsa Baraq maupun Majelis Rakyat kian mendikte lembaga-lembaga lama seperti Senat dan Tribunal.[93]
Catatan
- ↑ Istilah Punik atau Punic berasal dari kata bahasa Latin Punicus (atau Poenicus), yang berarti "orang Kartago", serta merujuk kepada asal-usul Fenisia bangsa Kartago.[3]
- ↑ Sumber-sumber selain Polibios dibahas oleh Bernard Mineo dalam "Principal Literary Sources for the Punic Wars (apart from Polybius)".[20]
- ↑ 3.200 talenta setara dengan sekitar 82.000 kg (81 ton panjang) perak.[27]
- ↑ Masyarakat Hispania menggunakan tombak lempar berat yang belakangan diadopsi oleh bangsa Romawi sebagai pilum.[34]
- ↑ Sejarawan militer Nigel Bagnall mempertanyakan kegunaan peralatan pengepungan tersebut, mengingat para pemberontak tidak menguasai kota mana pun yang dapat dikepung.[53]
- ↑ Tidak untuk dikacaukan dengan Hannibal Baraq, tokoh terkenal dalam Perang Punik II.
- ↑ 1.200 talenta setara dengan sekitar 30.000 kg (30 ton panjang) perak.[27]
Referensi
- ↑ Carradice 1988, hlm. 37.
- ↑ Robinson 1956, hlm. 12.
- ↑ Jones & Sidwell 2003, hlm. 16.
- 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 20.
- 1 2 Tipps 1985, hlm. 432.
- ↑ Shutt 1938, hlm. 53.
- ↑ Walbank 1990, hlm. 11–12.
- ↑ Lazenby 1996, hlm. x–xi.
- ↑ Hau 2016, hlm. 23–24.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 23.
- ↑ Shutt 1938, hlm. 55.
- 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 21.
- ↑ Champion 2015, hlm. 108–109.
- 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 20–21.
- ↑ Lazenby 1996, hlm. x–xi, 82–84.
- ↑ Tipps 1985, hlm. 432–433.
- ↑ Curry 2012, hlm. 34.
- ↑ Champion 2015, hlm. 102.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 22.
- ↑ Mineo 2015, hlm. 111–127.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 23, 98.
- ↑ Carradice 1988, hlm. 49.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 82.
- 1 2 3 Lazenby 1996, hlm. 157.
- 1 2 Bagnall 1999, hlm. 97.
- 1 2 Hoyos 2015, hlm. 206.
- 1 2 Lazenby 1996, hlm. 158.
- ↑ Miles 2011, hlm. 196.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 99.
- 1 2 Hoyos 2015, hlm. 205.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 114.
- 1 2 3 Eckstein 2017, hlm. 6.
- 1 2 3 4 Scullard 2006, hlm. 567.
- 1 2 3 4 Goldsworthy 2006, hlm. 32.
- 1 2 Koon 2015, hlm. 80.
- 1 2 Bagnall 1999, hlm. 9.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 8.
- 1 2 Hoyos 2015, hlm. 207.
- 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 33.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 133.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 112.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 112–114.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 133–134.
- ↑ Hoyos 2000, hlm. 371.
- ↑ Lendering 2022, hlm. 124.
- ↑ Hoyos 2007, hlm. 198.
- 1 2 Rawlings 2017, hlm. 169.
- ↑ Miles 2011, hlm. 204.
- ↑ Hoyos 2007, hlm. 88.
- ↑ Warmington 1993, hlm. 188.
- ↑ Hoyos 2000, hlm. 373.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 114–115.
- 1 2 3 Bagnall 1999, hlm. 115.
- 1 2 3 Goldsworthy 2006, hlm. 135–136.
- 1 2 Lazenby 1996, hlm. 173.
- 1 2 3 Scullard 2006, hlm. 568.
- 1 2 Hoyos 2000, hlm. 376.
- ↑ Miles 2011, hlm. 212.
- 1 2 Miles 2011, hlm. 209–210.
- ↑ Miles 2011, hlm. 207.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 115–117.
- ↑ Miles 2011, hlm. 209.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 117.
- ↑ Miles 2011, hlm. 207–208.
- 1 2 3 Miles 2011, hlm. 208.
- ↑ Hoyos 2007, hlm. 150–152.
- 1 2 Bagnall 1999, hlm. 118.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 118.
- 1 2 3 4 Eckstein 2017, hlm. 7.
- ↑ Miles 2011, hlm. 210.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 135.
- 1 2 3 Hoyos 2000, hlm. 374.
- 1 2 Goldsworthy 2006, hlm. 136.
- ↑ Hoyos 2015, hlm. 208.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 119.
- ↑ Bagnall 1999, hlm. 121–122.
- ↑ Hoyos 2007, hlm. 146–150.
- 1 2 Bagnall 1999, hlm. 122.
- ↑ Hoyos 2007, hlm. 220–223.
- ↑ Hoyos 2000, hlm. 380.
- ↑ Eckstein 2017, hlm. 8.
- ↑ Miles 2011, hlm. 211.
- ↑ Hoyos 2000, hlm. 377.
- 1 2 Hoyos 2015, hlm. 210.
- 1 2 Scullard 2006, hlm. 569.
- ↑ Miles 2011, hlm. 209, 212–213.
- 1 2 Lazenby 1996, hlm. 175.
- ↑ Hoyos 2015, hlm. 211.
- ↑ Miles 2011, hlm. 213.
- ↑ Collins 1998, hlm. 13.
- ↑ Goldsworthy 2006, hlm. 152–155.
- ↑ Miles 2011, hlm. 214.
- ↑ Miles 2011, hlm. 214–216.
Sumber
- Bagnall, Nigel (1999). The Punic Wars: Rome, Carthage and the Struggle for the Mediterranean. London: Pimlico. ISBN 978-0-7126-6608-4.
- Carradice, Ian A. (1988). "The Libyan War and Coinage: a New Hoard and the Evidence of Metal Analysis". The Numismatic Chronicle. 148: 33–52. JSTOR 42668126.
- Champion, Craige B. (2015) [2011]. "Polybius and the Punic Wars". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 95–110. ISBN 978-1-1190-2550-4.
- Collins, Roger (1998). Spain: An Oxford Archaeological Guide. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-285300-4.
- Curry, Andrew (2012). "The Weapon That Changed History". Archaeology. 65 (1): 32–37. JSTOR 41780760.
- Eckstein, Arthur (2017). "The First Punic War and After, 264-237 BC". The Encyclopedia of Ancient Battles. Wiley Online Library. hlm. 1–14. doi:10.1002/9781119099000.wbabat0270. ISBN 978-1405186452.
- Goldsworthy, Adrian (2006). The Fall of Carthage: The Punic Wars 265–146 BC. London: Phoenix. ISBN 978-0-304-36642-2.
- Hau, Lisa (2016). Moral History from Herodotus to Diodorus Siculus. Edinburgh: Edinburgh University Press. ISBN 978-1-4744-1107-3.
- Hoyos, Dexter (2000). "Towards a Chronology of the 'Truceless War', 241–237 B.C.". Rheinisches Museum für Philologie. 143 (3/4): 369–380. JSTOR 41234468.
- Hoyos, Dexter (2007). Truceless War: Carthage's Fight for Survival, 241 to 237 BC. Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-474-2192-4.
- Hoyos, Dexter (2015) [2011]. "Carthage in Africa and Spain, 241–218". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 204–222. ISBN 978-1-1190-2550-4.
- Rawlings, Louis (2017). "Warlords, Carthage and the Limits of Hegemony". Dalam Naco del Hoyo, Toni; Lopez Sanchez, Fernando (ed.). War, Warlords, and Interstate Relations in the Ancient Mediterranean. Leiden: Brill Publishers. hlm. 151–180. ISBN 978-9004354043.
- Jones, Peter V.; Sidwell, Keith C. (2003) [1998]. The World of Rome: An Introduction to Roman Culture. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-38600-5.
- Koon, Sam (2015) [2011]. "Phalanx and Legion: the "Face" of Punic War Battle". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 77–94. ISBN 978-1-1190-2550-4.
- Lazenby, John (1996). The First Punic War: A Military History. Stanford, California: Stanford University Press. ISBN 978-0-8047-2673-3.
- Miles, Richard (2011). Carthage Must be Destroyed. London: Penguin. ISBN 978-0-141-01809-6.
- Mineo, Bernard (2015) [2011]. "Principal Literary Sources for the Punic Wars (apart from Polybius)". Dalam Hoyos, Dexter (ed.). A Companion to the Punic Wars. Chichester, West Sussex: John Wiley. hlm. 111–128. ISBN 978-1-1190-2550-4.
- Robinson, E. S. G. (1956). "The Libyan Hoard (1952): Addenda, and the Libyan Coinage in General". The Numismatic Chronicle and Journal of the Royal Numismatic Society. 16: 9–14. JSTOR 42678379.
- Scullard, H.H. (2006) [1989]. "Carthage and Rome". Dalam Walbank, F. W.; Astin, A. E.; Frederiksen, M. W. & Ogilvie, R. M. (ed.). Cambridge Ancient History: Volume 7, Part 2, 2nd Edition. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 486–569. ISBN 0-521-23446-8.
- Shutt, Rowland (1938). "Polybius: A Sketch". Greece & Rome. 8 (22): 50–57. doi:10.1017/S001738350000588X. JSTOR 642112. S2CID 162905667.
- Tipps, G.K. (1985). "The Battle of Ecnomus". Historia: Zeitschrift für Alte Geschichte. 34 (4): 432–465. JSTOR 4435938.
- Walbank, F. W. (1990). Polybius. Vol. 1. Berkeley: University of California Press. ISBN 978-0-520-06981-7.
- Warmington, Brian (1993) [1960]. Carthage. New York: Barnes & Noble, Inc. ISBN 978-1-56619-210-1.
- Lendering, Jona (2022). De Vergeten Oorlog. Utrecht: Omniboek. ISBN 9789401918640.