Senin, 21 September 2026
05:42 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Nazi chic

40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022)

Nazi chic adalah penggunaan gaya, pencitraan, dan parafernalia era Nazi dalam budaya populer dan busana, khususnya saat digunakan untuk mematahkan ketabuan atau nilai mengejutkan ketimbang menjadi simpatisan sebenarnya dari Nazisme.

Penggunaannya dimulai pada pertengahan tujuh puluhan dengan munculnya gerakan punk di London, penampilan televisi pertama Sex Pistols ditampilkan dengan seseorang dari mereka mengenakan sebuah swastika.[1] Nazi chic kemudian digunakan dalam industri mode dalam beberapa kali.

Nazi chic di Asia

250px-Nichigeki_dancing_team_musical_revue_Heil_Hitler_for_Hitlerjugend_1938.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tim tari Nichigeki sedang menampilkan salam Heil Hitler untuk Hitlerjugend 1938
250px-Japanese_young_ladies_stage_show_for_Hitlerjugend_1938.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para gadis muda Jepang di sebuah acara panggung untuk kunjungan Hitlerjugend pada 1938

Seragam dan pencitraan lainnya yang berkaitan dengan Jerman Nazi dijual di Asia Timur dan Asia Tenggara, di mana beberapa orang menganggapnya bermode. Hong Kong dan Jepang menyaiksikan pertumbuhan pemakaian seragam SS, serta peningkatan pemahaman dalam musik White power. Terkadang di Asia Timur, seragam Nazi dipakai sebagai bagian dari permainan kostum/cosplay.[2] Di Korea Selatan, sebuah kawasan yang umumnya terisolasi dari pengaruh budaya Nazi pada era Nazi, majalah Time mengamati pada 2000 "sebuah faksinasi tak terpikirkan dengan ikon dan pencitraan Reich Ketiga."[3] Pencitraan yang terinspirasi dari Nazi muncul dalam berbagai perilisan awal dari band Jepang The 5.6.7.8's.[4] Di Indonesia, Soldatenkaffe, sebuah kafé yang menampilkan memorabilia dan dekorasi Nazi ditutup pada 2013 karena kontroversi dan kritikan dari media internasional. Namun, SoldatenKaffe dibuka kembali pada 2014, pemiliknya mengklaim bahwa ia tak pernah berniat mempromosikan ideologi Nazi dan menyatakan bahwa Nazisme hanya dipandang dari sebuah sudut pandang sejarah di Indonesia.[5]

Di beberapa bagian dunia, Perang Dunia tak diajarkan di sekolah-sekolah sebagai pertempuran ideologi politik, namun sebagai sebuah perang konvensional. Jenis pendidikan tersebut mengancam Hitler dan Partai Nazi sebagai pemimpin berkuasa dan karismatik dari negara-negara pada masa perang, dan sebagai gantinya dianggap sebagai penjahat perang. George Burdi, mantan kepala label rekaman neo-Nazi Resistance Records, mengklaim telah menjual beberapa CD ke Jepang, karena beberapa orang Jepang meyakini diri mereka sendiri sebagai ras unggul di dunia timur.[6] Di Turki, buku Hitler Mein Kampf menjadi buku dengan penjualan terbaik pada awal 2005 setelah potongan harga dan kebangkitan nasionalisme Turki.[7][8]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. "Today Show - Bill Grundy" ITV. December 1976. Retrieved 3 April 2011.
  2. Le Nazi chic, la nouvelle mode qui fascine de jeunes Chinois (french)
  3. MacIntyre, Donald (2000-06-05). ""They Dressed Well" A troubling fascination with Third Reich regalia elevates the Nazi look to what's chic in South Korea". Time Asia. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-04-26. Diakses tanggal 2007-04-15.
  4. Bomb the Rocks: Early Days Singles liner notes
  5. Nazi-themed café in Indonesia reopens — keeping the swastikas and images of Hitler it pledged to remove The Independent 22 June 2014
  6. Interview with George Burdi
  7. Helena Smith (29 Maret 2005). "Mein Kampf sales soar in Turkey". The Guardian. Diakses tanggal Februari 20, 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. "Hitler's 'Mein Kampf' sells 50,000 copies in Turkey in three months". The Daily Star via Agence France Presse. Maret 18, 2005. Diakses tanggal Februari 20, 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Organisasi
Insignia of the Nazi Party
Sejarah
Ideologi
Ras
Kekejaman
Di luar Jerman
Daftar
Tokoh
Topik terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan