Kamis, 01 Oktober 2026
00:51 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Masjid Mantingan

Masjid Mantingan

masjid di Indonesia

Bagikan:
Masjid Mantingan
ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦩꦤ꧀ꦠꦶꦔꦤ꧀ (Hanacaraka)
مَسْجِد مَانْتِيْڠَان (Pegon)
330px-Masjid_Mantingan_Jepara.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bagian depan Masjid Mantingan, dengan struktur terasnya yang berundak
Agama
AfiliasiIslam
Lokasi
osm-intl,13,-5.7478733,110.2445002,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Masjid_Mantingan&revid=29851864&groups=_f89eb9848fba0b95617599fa10e4f3372b7c5590&parser=parsoid
Peta interaktif Masjid Mantingan
LokasiMantingan, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia
Koordinat5°44′52″S 110°14′40″E / 5.7478733°S 110.2445002°E / -5.7478733; 110.2445002
Arsitektur
ArsitekChi Hui Gwan (Patih Sungging Badarduwung)
TipeMasjid
GayaTajug campuran
Peletakan batu pertama1559

Masjid Mantingan (bahasa Jawa:مَسْجِد ْْمَانْتِيْڠَان, ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦩꦤ꧀ꦠꦶꦔꦤ꧀), juga dikenal dengan nama Masjid Astana Sultan Hadlirin,[1][2] adalah salah satu masjid kuno di Indonesia yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 5 km arah selatan dari Kecamatan Jepara. Secara keseluruhan, Masjid Mantingan merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari masjid itu sendiri, permakaman, dan sebuah museum sederhana.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur campuran dari kebudayaan Hindu-Buddha, Jawa, dan Tionghoa. Contohnya adalah bentuk atap tumpang dan mustaka yang merupakan akulturasi dari arsitektur masa Majapahit dan Tionghoa. Kebudayaan Jawa dapat terlihat dari gapura masuk masjid dan sebuah petilasan candi di dekat masjid, meskipun sudah tidak utuh lagi.

Sejarah

Masjid Mantingan diperkirakan berdiri pada tahun 1559 berdasarkan prasasti yang ditemukan di mihrab. Prasasti ini berisi sebuah candrasengkala yang berbunyi rupa brahmana warna sari, menunjukkan arti angka tahun 1481 Saka (1559 Masehi). Riwayat masjid ini juga berkaitan dengan Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadlirin, yang dimakamkan di sana. Menurut tradisi Jawa, Ratu Kalinyamat adalah putri dari Sultan Demak ketiga Pangeran Trenggana.[3] Konon, kompleks masjid tersebut dibangun oleh Ratu untuk mengatasi kesedihannya ketika suaminya dibunuh oleh Arya Panangsang terkait penerusan takhta Demak.[4]

Gambar luar
Foto-foto Kompleks Masjid Mantingan dalam laporan Oudheidkundig Verslag 1930 dari Internet Archive

Menurut cerita tradisional setempat, arsitek masjid ini adalah Chi Hui Gwan (Tjie Wie Gwan) atau yang lebih dikenal dengan julukannya, Patih Sungging Badarduwung. Patih ini merupakan ayah angkat Sultan Hadlirin yang membantu Ratu Kalinyamat dan masyarakat setempat dalam mendirikan masjid dan makam tersebut.[5] Masyarakat setempat memperkirakan bahwa ukiran-ukiran kayu yang terdapat di makam adalah karya Chi Hui Gwan.[6]

Antara tahun 1977 dan 1978, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah melakukan pemugaran terhadap Masjid Mantingan melalui proyek yang bernama "Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah". Dalam pemugaran tersebut, ditemukan enam panel relief, sejumlah balok batu putih, dan fondasi bangunan kuno.[3][7][5]

Arsitektur

Akulturasi kebudayaan Hindu-Buddha, Jawa, dan Tionghoa tampak melekat pada arsitektur Masjid Mantingan. Keseluruhan bangunannya memiliki tipologi masjid kuno Jawa pada umumnya seperti konstruksi atap yang disangga dengan soko guru (empat tiang penyangga), atap yang bersusun tiga, adanya serambi depan, dan gapura masuk berbentuk lengkungan. Lalu, terdapat petilasan candi di dekat bangunan utama masjid, meskipun sudah tidak tampak utuh. Bentuk atap tumpang dan mustakanya merupakan akulturasi dari arsitektur masa Majapahit dan Tionghoa.[4][8]

Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik, masjid ini didirikan dengan lantai tinggi yang ditutup dengan ubin dan undak-undakannya yang berasal dari Makau. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru.[8]

Relief

Masjid Mantingan memiliki hiasan-hiasan berupa panel relief yang terdapat di dinding depan bangunan induknya. Panel-panel ini terbuat dari batu padas dengan motif relief bercorak Tionghoa.[8] Selain di bangunan induk, panel relief ini juga terdapat di dinding belakang dan dinding pembatas antara ruangan tengah dengan samping kiri dan kanan, sehingga jumlah panel relief yang terpasang masjid berjumlah 51.[7] Aslinya, masjid ini memiliki 114 relief, tetapi sisanya disimpan dalam sebuah museum sederhana.[4][5]

Penelitian-penelitian selanjutnya mengungkapkan penemuan enam panel lainnya dengan relief di kedua sisinya, membuktikan adanya perubahan dari kesenian Hindu-Buddha ke Islam di masjid ini.[9]

Bentuk panel-panel ini beragam antara persegi, lingkaran, heksagon, hingga berbentuk kelelawar. Dalam panel ini terdapat relief sulur, untaian tali, bunga, daun, dan binatang yang distilir (disamarkan).

Foto koleksi Tropenmuseum tahun 1930

  • Relief yang menampilkan pola tanaman yang bersejajar
    Relief yang menampilkan pola tanaman yang bersejajar
  • Relief yang menampilkan bunga-bunga
    Relief yang menampilkan bunga-bunga
  • Relief yang menampilkan pola sulur dan bunga
    Relief yang menampilkan pola sulur dan bunga
  • Relief yang menampilkan monyet yang telah distilir dengan daun-daun yang mengelilinginya
    Relief yang menampilkan monyet yang telah distilir dengan daun-daun yang mengelilinginya
  • Relief yang menampilkan pola tanaman yang membentuk rupa seekor gajah
    Relief yang menampilkan pola tanaman yang membentuk rupa seekor gajah
  • 250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Reli%C3%ABf_op_de_moskee_van_Mantingan_TMnr_60054175.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Reli%C3%ABf_op_de_moskee_van_Mantingan_TMnr_60054167.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • Relief dengan bentuk persegi
    Relief dengan bentuk persegi

Foto kontemporer

  • Relief Mantingan yang menggambarkan sebuah bangunan, dikelilingi oleh candi bentar
    Relief Mantingan yang menggambarkan sebuah bangunan, dikelilingi oleh candi bentar
  • Dinding depan yang menampilkan segala bentuk panel
    Dinding depan yang menampilkan segala bentuk panel
  • Kelompok relief Mantingan di dinding depan paling kanan
    Kelompok relief Mantingan di dinding depan paling kanan

Permakaman

250px-Poort_te_Djapara%2C_Midden-Java.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gerbang paduraksa makam Ratu Kalinyamat sebelum dipugar. Foto tahun 1930

Di halaman belakang masjid, terdapat kompleks makam yang terdiri dari tiga halaman. Seperti dengan makam-makam kuno, halaman ini memiliki tingkatan yang menunjukkan kedudukan sosial yang dimakamkan. Halaman pertama merupakan makam-makam umum. Halaman kedua merupakan makam-makam orang yang statusnya menengah. Sedangkan halaman ketiga adalah makam orang-orang yang statusnya tinggi, terutama yang di dalam cangkup. Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin dimakamkan di sini beserta kerabatnya. Halaman dua dan halaman tiga dibatasi oleh candi paduraksa, sementara halaman pertama dibatasi oleh candi bentar.[10][11]

Tradisi dan kepercayaan

Makam ini selalu ramai dikunjungi pada saat Haul untuk memperingati wafatnya Sultan Hadlirin dengan upacara mengganti kelambu penutup makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Upacara ini diselenggarakan setiap tahunnya pada tanggal 17 Rabiulawal.[11]

Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Konon pohon mengkudu yang tumbuh di sekitar makam ini dapat menjadi obat bagi Ibu-ibu yang sudah sekian tahun menikah belum dikarunia putra. Tetapi, makannya harus dengan cara mengambil buah mengkudu yang jatuh kemudian dimakan bersama suami. Kepercayaan lainnya adalah adanya tuah air mantingan yang menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan yang salah. Biasanya air keramat ini digunakan masyarakat Jepara dan sekitarnya bila sedang menghadapi suatu sengketa. Air ini diberi mantra dan doa lalu diminum.[11]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Perdana, Aditya Putra (2021-05-17). "Masjid Mantingan, Potret Akultrasi dan Cikal Bakal Seni Ukir Jepara". Kompas.id. Diakses tanggal 2021-06-06.
  2. ↑ Shani, Rhobi (2016-06-10). "Masjid Mantingan, Bangunan Bersejarah Peninggalan Ratu Kalinyamat". Medcom.id. Diakses tanggal 2021-06-06.
  3. 1 2 Sugiyanti 1999, hlm. 160. sfn error: tanpa target: CITEREFSugiyanti1999 (bantuan)
  4. 1 2 3 Rizqa, Hasanul (2020-04-18). "Masjid Mantingan Jepara, Akulturasi Tiga Budaya". Republika Online. Diakses tanggal 2021-02-10.
  5. 1 2 3 Efendi, Ivan (2018-10-05). "Masjid Mantingan, Persembahan Sang Ratu untuk Sang Suami". Direktorat Pelindungan Kebudayaan. Diakses tanggal 2021-02-12.
  6. ↑ Handinoto & Hartono 2007, hlm. 38.
  7. 1 2 Anom dkk. 1996, hlm. 119.
  8. 1 2 3 Handinoto & Hartono 2007, hlm. 35.
  9. ↑ "Kompleks Mantingan". spkt.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2021-02-12.[pranala nonaktif permanen]
  10. ↑ Sugiyanti 1999, hlm. 159-160. sfn error: tanpa target: CITEREFSugiyanti1999 (bantuan)
  11. 1 2 3 "Makam dan Masjid Mantingan". tic.jepara.go.id (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2021-02-11.

Daftar pustaka

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Mantingan Mosque.
Masjid utama di Indonesia menurut provinsi
Aceh
Bengkulu
Jambi
Kepulauan Riau
Lampung
Riau
Kep. Bangka Belitung
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Sumatera Utara
Banten
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DIY
Jawa Timur
Bali
NTB
NTT
Kalimantan Barat
Kalimantan Selatan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat
Papua Barat Daya
Papua Pegunungan
Papua Selatan
Papua Tengah
Anjungan
60px-Coat_of_arms_of_Central_Java.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sejarah
Air terjun
Cagar Alam
Pantai
Pesona Alam
Taman dan hutan
Gua
Religi
Wisata Alam (Pantai)
Wisata Alam (Pulau)
Wisata Alam (Danau)
Wisata Alam (Gunung)
Wisata Alam (Air Terjun)
Air Terjun Songgo Langit • Air Terjun Jurang Manten • Air Terjun Jurang Nganten • Air Terjun Kalen Wates • Air Terjun Suroloyo • Air Terjun Sumenep • Air Terjun Undak Manuk • Air Terjun Nglumprit • Air Terjun Grinjingan Dowo • Air Terjun Nglamer • Air Terjun Kedung Pancur Telu • Air Terjun Kedung Ombo • Air Terjun Nggembong • Air Terjun Nyamplungan • Air Terjun Pancuran • Air Terjun Nongko Pace • Air Terjun Banyu Anjlok • Air Terjun Dung Paso • Air Terjun Segorolebu • Air Terjun Curug Kemiri • Air Terjun Curug Kyai Buku • Air Terjun Karang Nongko • Air Terjun Grenjengan • Air Terjun Statah • Air Terjun Cabe • Air Terjun Seberuk • Air Terjun Jenggureng • Air Terjun Mloso Indah • Air Terjun Ngipik Indah • Air Terjun Grojokan Wergol
Wisata Alam (Goa)
Wisata Alam (Kemah)
Wisata Sejarah
Wisata Keluarga
Wisata Desa
Wisata Budaya (Event)
Wisata Kuliner
Wisata Belanja
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan