Minggu, 20 September 2026
13:54 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Masjid Jami Banjarmasin

Masjid Jami Banjarmasin

masjid di Indonesia

Masjid Jami Banjarmasin
مسجد جامع بنجرماسين
330px-Masjid_Jami_Banjarmasin_%2815-08-2024%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Agama
AfiliasiIslam
Provinsi Kalimantan Selatan
Lokasi
osm-intl,13,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Masjid_Jami_Banjarmasin&revid=28950500&groups=_292fc0fe044c832f85ead726f5a9037304a6ddb9&parser=parsoid
Peta interaktif Masjid Jami Banjarmasin
مسجد جامع بنجرماسين
LokasiJalan Mesjid Jami №1, Banjarmasin, Indonesia
Koordinat3°19′S 114°36′E / 3.31°S 114.6°E / -3.31; 114.6
Arsitektur
TipeMasjid
GayaTimur Tengah dengan sedikit sentuhan arsitektur Banjar dan Hindia Belanda
Didirikan1777 (saat masjid berada di pinggir sungai Martapura)
1934 (saat masjid berpindah ke lokasi yang sekarang)
Spesifikasi
Kubah5
Menara1

Masjid Jami Banjarmasin[1] (aksara Jawi: مسجد جامع بنجرماسين) atau yang lebih dikenal dengan Masjid Jami Sungai Jingah (aksara Jawi: مسجد جامع ﺳﻮ ڠاﻱ‬ جيڠاه) adalah sebuah masjid bersejarah yang berada di Jalan Masjid Jami, Kelurahan Antasan Kecil Timur, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.[2]

Masjid ini berdekatan dengan Kompleks Makam Pangeran Antasari, di mana kompleks makam ini berada di daerah timur masjid, tepatnya di Jalan Malkon Temon.[3] Selain itu, masjid ini juga berdekatan dengan makam salah satu ulama karismatik, yaitu K.H. Ahmad Zuhdiannor atau sering disapa Guru Zuhdi yang semasa hidupnya mengisi kegiatan keagaamaan di masjid ini, di mana makamnya berada di daerah barat masjid atau dikenal dengan daerah "Jalan Belakang Masjid Jami". Hal ini membuat halaman masjid sering dipenuhi oleh peziarah yang sering memarkir di sana.[4]

Sejarah

Pembangunan awal

250px-Moskee_te_Bandjermasin.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Jami Banjarmasin sekitar tahun 1870, yang masih berada di tepi Sungai Martapura.
250px-Langgar_Sinar_Masjid_Banjarmasin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Langgar Sinar Masjid, lokasi awal dari Masjid Jami Banjarmasin.

Masjid yang ada sekarang ini sebenarnya dibangun pada tahun 1352 Hijriah/1934 Masehi. Namun menurut sejarah, masjid ini merupakan pemindahan dari masjid sebelumnya yang berada di tepi sungai Martapura dan dibangun pada hari Sabtu tanggal 17 Syawal 1195 atau kira-kira bertepatan dengan tahun 1777 - 1780 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Pangeran Tamjidillah. Hal ini dibuktikan dengan sebuah prasasti disamping mimbar masjid yang ditulis dalam huruf Arab Melayu.[5][6][7] Kini, lokasi mesjid tersebut menjadi sebuah musala yang bernama "Langgar Sinar Masjid."

Pemindahan masjid

Karena masjid tersebut berada di tepi sungai, maka daerah tersebut rawan terjadi longsor. Terlebih lagi, masjid yang ada saat itu tidak bisa menampung jamaah yang semakin banyak. Maka pada tahun 1932 Masehi, masjid ini dipindah ke lokasi yang sekarang, yaitu berjarak kurang lebih 200 meter dari Sungai Martapura.[5][6][8][9]

250px-Kalimantan_%28page_427_crop%29_02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Jami Banjarmasin pada tahun 1953

Pemindahan ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Bahkan, pemerintah Belanda pada saat itu tertarik untuk mendonasikan pendapatan hasil pajaknya untuk mendirikan masjid tersebut. Hal ini dikarenakan hasil pemungutan pajak dari masyarakat Banjarmasin pada saat itu sangat melimpah ruah. Namun, inisiasi Belanda tersebut ditolak mentah mentah-mentah oleh masyarakat Banjarmasin, karena masyarakat setempat sangat tidak menyukai pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Terlebih lagi, masyarakat Banjarmasin yang memeluk agama Islam sangat mengharamkan niat pemberian dari kolonial Belanda tersebut, apalagi sampai membangunnya. Oleh karena itu, masyarakat Banjar bergotong royong membangun Masjid Jami Banjarmasin dengan cara menyumbangkan sebagian harta (seperti perhiasan emas, hasil pertanian, dan tanah), waktu, dan tenaga, termasuk menggunakan tanah/ pasir yang diambil dari Pulau Kembang untuk menimbun dan meninggikan pondasi masjid. Bahkan, pembangunan masjid ini juga melibatkan Ir. Pangeran Muhammad Noor sebagai perancang konstruksi.Hingga pada tahun 1934 Masehi, masjid ini selesai dibangun sesuai dengan nama tahun yang terpampang di masjid.[1][5][6][8][9][10]

Renovasi

Masjid ini mengalami beberapa kali renovasi besar. Akibatnya menara pagoda, jidar matahari (bencet dalam bahasa Jawa) yang ada di halaman selatan masjid, tangga melingkar pada tiang utama yang ada ditengah-tengah ruang utama untuk naik ke tempat azan, dan pagar serambi dihancurkan. Selain itu dilakukan juga pelapisan lantai, dinding, dan tiang dengan keramik. Meskipun begitu, bentuk dasar dan arsitektur aslinya tidak berubah, sehingga nilai-nilai historisnya masih tetap terjaga.[6]

Renovasi besar pertama dilakukan pada masa Gubernur Drs H. Gusti Hasan Aman (periode 1995 - 2000), di mana dinding masjid mulai dilapisi dengan lapisan kayui jati. Renovasi kedua dilakukan pada masa Gubernur Sjahriel Darham (periode 2000 - 2005), di mana lantai dan penopang dinding dicor dan dipasang keramik.[11]

Pada masa Gubernur H. Rudy Ariffin, selain perbaikan inetrior masjid, menara masjid mulai dibangun. Selain itu, beberapa lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan masjid, seperti TK Islam Bhakti 1, Taman Pendidikan Al-Qur'an, dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Jami pindah ke area belakang masjid. Selain itu pula, halaman masjid diperluas dengan membongkar gedung sekretariat masjid, sehingga halaman masjid dapat menampung hingga kira-kira 15 ribu jamaah saat pelaksanaan salat Id dan pengajian Guru Zuhdi kala itu.[11]

Arsitektur

Masjid yang mengambil gaya arsitektur Timur Tengah, Banjar dan kolonial (indies) ini memiliki tiang utama penyangga (tiang guru) sebanyak 17 buah, yang melambangkan 17 rakaat dalam shalat fardhu sehari semalam. Selain itu, masjid ini juga memiliki 41 buah pintu masuk supaya memudahkan jamaah memasuki ruang induk yang berkapasitas 5.000 orang. Masjid ini juga memiliki atap sirap bertumpang lima dengan kubah di puncaknya. Di antara atap-atap tumpang tersebut, terdapat dinding pembatas dengan jendela yang mengelilinginya.[6][11]

Masjid ini memiliki mihrab yang terletak di bagian barat ruang utama masjid dan dilengkapi 4 buah pintu dan 10 buah jendela. Mihrab tersebut dilengkapi dengan mimbar kayu ulin berbentuk panggung dengan 7 anak tangga undakan berukuran 3,5 x 1,3 m yang dicat dengan warna dasar hitam, di mana mimbar ini merupakan mimbar bersejarah yang menjadi saksi pembangunan masjid ini.[6][11]

Fasilitas

Di masjid ini terdapat Taman Kanak-Kanak, kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) "Al-Jami" (berdiri pada tahun 1989), Pondok Pesantren Hunafa (berdiri pada tahun 1985) dan sederet fasilitas lain seperti tempat wudhu, pemandian jenazah, dan lain-lain.[12] Bahkan, masjid ini memiliki tanah pemakaman di Gambut, Kabupaten Banjar, yang memiliki 375 lubang pemakaman. Masjid ini juga memiliki Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang dikelola oleh Angkatan Muda Masjid Jami.[11]

Aktivitas

Masjid ini pernah dibina oleh K.H. Muhammad Hanafie Gobit, di mana semasa hidupnya, dia mengisi pelaksanaan ibadah rutin dan pengajian setiap Jumat malam dan Senin malam. Tradisi ini terus-menerus dilanjutkan oleh beberapa ulama, termasuk K.H. Husin Naparin (Ketua MUI Kalsel yang merupakan menantu dari K.H. Muhammad Hanafie Gobit). Selain itu, Guru Zuhdi semasa hidupnya pernah mengisi pengajian setiap Sabtu malam,di mana pengajiannya dihadiri oleh ribuan orang, termasuk habaib dan ulama dari dalam dan luar negeri.[11]

Selain itu, masjid ini juga mengadakan pengajian Selasa malam, pengajian Kamis siang, malam peribadatan setiap malam Jumat, pengajian subuh Jumat, dan pengajian khusus ibu-ibu pagi Jumat.[11]

Galeri

  • Masjid Jami Banjarmasin saat siang hari.
    Masjid Jami Banjarmasin saat siang hari.
  • Masjid Jami Banjarmasin menjelang hari kemerdekaan indonesia
    Masjid Jami Banjarmasin menjelang hari kemerdekaan indonesia
  • Masjid Jami Banjarmasin di Malam Hari dari Samping
    Masjid Jami Banjarmasin di Malam Hari dari Samping
  • Masjid Jami Banjarmasin di sore hari.
    Masjid Jami Banjarmasin di sore hari.
  • Masjid Jami Banjarmasin di Malam Hari
    Masjid Jami Banjarmasin di Malam Hari
  • Menara Masjid Jami Banjarmasin
    Menara Masjid Jami Banjarmasin
  • Interior Masjid Jami Banjarmasin
    Interior Masjid Jami Banjarmasin
  • Mihrab dan mimbar Masjid Jami Banjarmasin
    Mihrab dan mimbar Masjid Jami Banjarmasin

Referensi

  1. 1 2 "Hasil dan Pembahasan Masjid Jami' Sungai Jingah Banjarmasin" (PDF). idr.uin-antasari.ac.id.
  2. Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin. Radar Banjarmasin. Diakses 11 Agustus 2010
  3. "Ingin Tahu Dimana Makam Pangeran Antasari? Di Sinilah Tempatnya". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2022-11-30.
  4. "Wisata Religi Kalsel, Peziarah di Makam Guru Zuhdi Dipisah Antara Laki-Laki dan Perempuan". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2022-11-30.
  5. 1 2 3 Syarifuddin, M (5 April 2022). "Sejarah Masjid Jami Sungai Jingah". Radar Banjarmasin. Diakses tanggal 26 Oktober 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 4 5 6 Ilhami, Hamidi (2018). "Karakteristik Masjid Jami' Banjarmasin". THAQÃFIYYÃT. 19 (2): 164–185.
  7. Wisata Sejarah - Masjid Jami' Kota Banjarmasin
  8. 1 2 Selatan, ANTARA News Kalimantan. "Mimbar dan beduk sisa sejarah di Masjid Jami Banjarmasin". ANTARA News Kalimantan Selatan. Diakses tanggal 2022-12-23.
  9. 1 2 "Sedikit Sejarah Masjid Jami Banjarmasin, Salah Satu Masjid Tua di Kota Banjarmasin". Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin. Diakses tanggal 2022-12-23.
  10. "Masjid Jami Banjarmasin, Bangunan Masjid yang Memiliki Sejarah Unik - Borneo ID" (dalam bahasa American English). 2022-10-17. Diakses tanggal 2022-12-23.
  11. 1 2 3 4 5 6 7 Firman (2019-05-18). Astro, Masuki M. (ed.). "Mimbar dan beduk jadi sisa sejarah di Masjid Jami Banjarmasin". Antara News. Diakses tanggal 2024-10-27.
  12. baitcode.com. "STAI Al Jami Banjarmasin". STAI Al Jami Banjarmasin (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-30.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Masjid Jami Banjarmasin.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan