Selasa, 03 November 2026
06:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Masjid Gedhe Mataram

Masjid Gedhe Mataram

masjid di Indonesia

Bagikan:
Masjid Gedhe Mataram
ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦒꦼꦝꦺꦩꦠꦫꦩ꧀
330px-Masjid_Mataram_Kotagede.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Gedhe Mataram
Agama
AfiliasiIslam
DistrikJagalan, Banguntapan, Bantul
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
Lokasi
osm-intl,13,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Masjid_Gedhe_Mataram&revid=29137719&groups=_c37246a6c084b7d8e7da627d34ded5f146a6ac12&parser=parsoid
Peta interaktif Masjid Gedhe Mataram
LokasiBantul
NegaraIndonesia
Koordinat7°49′46″S 110°23′53″E / 7.82936509°S 110.39817988°E / -7.82936509; 110.39817988
Arsitektur
TipeLimasan
GayaTradisional Jawa
Peletakan batu pertama1586
Rampung-
Kubah1 (mustaka)

Masjid Gedhe Mataram (bahasa Jawa:ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦒꦼꦝꦺꦩꦠꦫꦩ꧀, translit. Masjid Gedhé Mataram) adalah masjid di Yogyakarta, Indonesia. Masjid ini terletak di selatan kawasan Pasar Kotagede sekarang, tepatnya di Jagalan, Banguntapan, Bantul.

Sejarah

Masjid ini mempunyai prasasti yang menyebutkan bahwa masjid dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung hanya berupa bangunan inti masjid yang berukuran kecil sehingga saat itu disebut langgar. Tahap kedua masjid dibangun Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Perbedaan bagian masjid yang dibangun oleh sultan Agung dan Paku Buwono X ada pada tiangnya. Bagian yang dibangun Sultan Agung tiangnya berbahan kayu sedangkan yang dibangun Paku Buwono tiangnya berbahan besi. Masjid ini sampai sekarang masih terlihat hidup. Warga masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bangunan masjid ini merupakan bentuk toleransi Sultan Agung pada waktu warga yang ikut membangun masjid yang memeluk agama Hindu dan Buddha. Ciri khas Hindu dan Buddha masih tampak jelas memengaruhi banguan masjid ini seperti gapura yang berbentuk paduraksa. Bangunan inti masjid merupakan bangunan Jawa berbentuk limasan, cirinya dapat dilihat pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi. Keistimewaan lain yang dipunyai masjid ini adalah pada bagian luar, yang terdapat sebuah bedug lama. Bedug dulunya hadiah dari Nyai Pringgit yang sampai sekarang masih terdengar sebagai penanda waktu salat. Mimbar di dalam dari bahan kayu yang diukir indah dapat dijumpai di bagian dalam masjid. Mimbar ini adalah hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung, tetapi mimbar asli tidak dipakai lagi.

Bangunan

Gapura depan masjid berbeda dengan masjid pada umumnya. Karena gapura tersebut menyerupai tempat peribadatan umat Hindu atau Buddha. Bentuk gapura tersebut ada yang menyebutnya sebagai rana/kelir, di mana jika ada orang yang hendak memasuki halaman masjid harus belok ke kanan. Halaman masjid masih cukup luas. Di teras depan masjid terdapat kolam ikan kecil. Jika sudah masuk ruang utama masjid, akan terasa betul bagaimana kunonya dan nilai sejarah masjid ini. Bangunan menyerupai joglo dan tiang penyangga dari kayu jati adalah salah satunya. Kemudian mimbar imam juga terkesan klasik. Terdapat pula sebuah kotak amal yang berbentuk lucu seperti maket atau replika masjid. Di sebelah kiri bangunan masjid, terdapat jalan masuk menuju ke makam. Pintu jalan masuk juga berupa rana/kelir. Dengan tembok-tembok yang juga mempunyai desain arsitektur zaman dulu. Masjid Kotagede ini dibangun pada zaman Kerajaan Mataram pada tahun 1586 oleh Panembahan Senapati bersama-sama dengan masyarakat setempat yang umumnya Hindu dan Buddha. Memasuki halaman masjid ada sebuah pohoh beringin tua yang usianya mencapai ratusan tahun. Di sekitar pohon beringin terdapat parit yang mengelilingi masjid. Pada masa lalu, parit yang digunakan sebagai tempat wudhu, tetapi sekarang digunakan sebagai tambak.

Hiasan pada dinding Masjid Agung Kotagede.

Sementara di halaman masjid akan dijumpai perbedaan pada tembok di sekelling bangunan masjid. Tembok bagian kiri terdiri batu bata yang ukurannya lebih besar dengan warna merah tua, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa. Sementara tembok yang lain mempuyai batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. Tembok yang di kiri masjid yang dibangun Sultan Agung, tembok lain hasil renovasi Paku Buwono X. Tembok yang dibangun pada masa Sultan Agung berperekat air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat.

Masjid Gedhe Mataram Kotagede memiliki nilai simbolik yang mencerminkan akulturasi budaya Jawa, Islam, dan Hindu-Buddha. Hal ini terlihat pada ornamen arsitekturnya, seperti mustaka berbentuk gada yang dihiasi daun kluwih, melambangkan keesaan Allah SWT. Atap tumpang yang menyerupai joglo mencerminkan tingkatan spiritual dalam Islam, sementara gapura paduraksa menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha dan menjadi simbol transisi menuju area ibadah yang suci.[1]

Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kegiatan sosial. Sejak dahulu, masjid ini menjadi pusat pembelajaran agama, baik melalui pesantren maupun pengajian rutin. Keberadaan bangunan yang tetap terjaga keasliannya menunjukkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah Islam di Yogyakarta. Kegiatan sosial, seperti gotong-royong dan perayaan hari besar Islam, semakin memperkuat peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Toleransi dan keberagaman telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar Masjid Gedhe Mataram Kotagede. Sejak awal pembangunannya, masjid ini melibatkan komunitas Hindu dan Buddha, mencerminkan semangat kebersamaan yang terus dijaga hingga saat ini. Hubungan antarumat beragama di Kotagede tetap harmonis, ditandai dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang kepercayaan. Hal ini menjadikan Masjid Gedhe Mataram Kotagede sebagai simbol persatuan dan keberagaman yang lestari.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami beberapa renovasi untuk mempertahankan struktur dan keasliannya. Bagian-bagian seperti serambi dan mustaka diperkuat agar tetap kokoh tanpa menghilangkan ciri khas arsitekturnya. Upaya pelestarian ini didukung oleh masyarakat dan pemerintah daerah sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga warisan budaya dan sejarah Islam di Indonesia.

Referensi

  1. ↑ Silviana, Nanda (2017). MAKNA DAN FUNGSI ARSITEKTUR MASJID GEDHE MATARAM KOTAGEDE YOGYAKARTA (PDF). Yogyakarta.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Masjid utama di Indonesia menurut provinsi
Aceh
Bengkulu
Jambi
Kepulauan Riau
Lampung
Riau
Kep. Bangka Belitung
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Sumatera Utara
Banten
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DIY
Jawa Timur
Bali
NTB
NTT
Kalimantan Barat
Kalimantan Selatan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat
Papua Barat Daya
Papua Pegunungan
Papua Selatan
Papua Tengah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan