Jumat, 16 Oktober 2026
06:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Kaisar Hongwu

Kaisar Dinasti Ming

Bagikan:
"Hongwu" beralih ke halaman ini. Untuk masa pemerintahannya, lihat Era Hongwu.
Kaisar Hongwu
洪武帝
Lukisan potret resmi Kaisar Hongwu yang sedang duduk di atas takhta. Ia mengenakan jubah kekaisaran berwarna kuning muda yang dihiasi sulaman naga emas dan topi resmi hitam sederhana, dengan latar belakang lantai atau penyekat berpola warna-warni di bagian depan.
Potret Duduk Kaisar Ming Taizu, ca 1377[1]
Kaisar Dinasti Ming
Berkuasa23 Januari 1368 – 24 Juni 1398
Naik takhta23 Januari 1368
PenerusKaisar Jianwen
Kaisar Tiongkok
Berkuasa1368–1398
PendahuluToghon Temür (Dinasti Yuan)
PenerusKaisar Jianwen
LahirZhu Chongba[i]
21 Oktober 1328[ii]
Prefektur Hao, Henan Jiangbei[5][6][7]
Meninggal24 Juni 1398(1398-06-24) (umur 69)
Istana Ming, Zhili
Pemakaman30 Juni 1398
Makam Xiao, Nanjing
AyahZhu Shizhen
IbuNyonya Chen
Pasangan
​
​
(m. 1352;wafat 1382)​
Keturunan
Detail
Nama lengkap
  • Wu:[v] 31 Januari 1367 – 23 Januari 1368[9]
  • Hongwu:[vi] 23 Januari 1368 – 5 Februari 1399[9]
Nama anumerta
  • Kaisar Qinming Qiyun Junde Chenggong Tongtian Daxiao Gao[vii]
  • Kaisar Shengshen Wenwu Qinming Qiyun Junde Chenggong Tongtian Daxiao Gao[viii]
  • Kaisar Kaitian Xingdao Zhaoji Liji Dasheng Zhishen Renwen Yiwu Junde Chenggong Gao[ix]
Nama kuil
Taizu[x]
WangsaZhu
DinastiMing
AgamaBuddha
Tanda tangan60px-Hongwu_Emperor_signature_%28Kao%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kaisar Hongwu
Hanzi: 洪武帝
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Hóngwǔ Dì
- Wade-Giles: Hung2-wu3 Ti4
Yue (Kantonis)
- Romanisasi Yale: Hùhng-móuh dai
- Jyutping: Hung4-mou5 dai3

Kaisar Hongwu (21 Oktober 1328[ii] – 24 Juni 1398), nama pribadi Zhu Yuanzhang,[xi] merupakan kaisar pertama Dinasti Ming di Tiongkok, yang bertakhta dari tahun 1368 hingga 1398.

Lahir pada tahun 1328 dari keluarga petani di Anhui, Zhu Yuanzhang tumbuh pada era maraknya wabah penyakit, bencana kelaparan, serta pemberontakan yang melanda Tiongkok pada masa kekuasaan Dinasti Yuan pimpinan bangsa Mongol. Ketika ia berusia 16 tahun, orang tua dan saudaranya meninggal akibat wabah penyakit. Sebagai seorang anak yatim piatu, Zhu sempat hidup sebagai biksu muda, meminta-minta sedekah dan memahami secara langsung penderitaan rakyat jelata. Ia juga mengembangkan rasa tidak suka terhadap para cendekiawan yang terlalu bergantung pada buku. Pada tahun 1352, ia bergabung dengan Pemberontak Serban Merah, sebuah gerakan yang bertujuan menggulingkan kekuasaan Yuan, dan dengan cepat naik pangkat hingga memimpin pasukannya sendiri. Ia merebut Nanjing pada tahun 1356 dan membangun rezim regional yang kuat di Tiongkok selatan. Ia mengadopsi praktik-praktik administratif Yuan dan menerapkannya pada wilayah kekuasaannya yang terus meluas. Meskipun secara nominal mengakui otoritas pemimpin formal Serban Merah, Han Lin'er, Zhu semakin bertindak secara independen dan, setelah mengalahkan pemberontak pesaingnya, mengumumkan dirinya sebagai Raja Wu pada tahun 1364.

Setelah berhasil menguasai Tiongkok selatan dan tengah pada awal tahun 1368, Zhu memutuskan untuk mengubah nama Kerajaan Wu menjadi Da Ming, yang diterjemahkan sebagai 'Kecemerlangan Agung'. Ia mengadopsi Hongwu, yang berarti 'Militer yang Agung', sebagai nama eranya. Dalam perang selama empat tahun berikutnya, ia mengusir pasukan Mongol yang setia kepada Dinasti Yuan dan menyatukan negeri tersebut, tetapi gagal menaklukkan Mongolia. Selama 30 tahun masa pemerintahan Kaisar Hongwu, Tiongkok di bawah Dinasti Ming mengalami pertumbuhan yang signifikan dan pulih dari dampak perang berkepanjangan. Kaisar memiliki pemahaman yang kuat mengenai struktur masyarakat dan percaya pada penerapan reformasi untuk memperbaiki lembaga-lembaga pemerintahan. Pendekatan ini berbeda dari keyakinan Konfusius bahwa teladan moral penguasa merupakan faktor yang paling penting. Kaisar Hongwu juga memprioritaskan keselamatan rakyatnya dan kesetiaan bawahannya, yang menunjukkan pragmatisme serta kehati-hatian dalam urusan militer. Ia mempertahankan pasukan yang disiplin dan berusaha meminimalkan dampak perang terhadap warga sipil. Ia meninggal dunia pada tahun 1398 dan digantikan oleh cucunya, Kaisar Jianwen. Pada tahun 1402, putra keempat Kaisar Hongwu, Zhu Di, menggulingkan Kaisar Jianwen setelah terjadinya perang saudara dan naik takhta sebagai Kaisar Yongle.

Kehidupan awal

Zhu Yuanzhang, calon Kaisar Hongwu, lahir pada tahun 1328 di Desa Zhongli (鍾離), Haozhou (sekarang Fengyang, Anhui), Tiongkok, yang saat itu dikuasai oleh Dinasti Yuan pimpinan bangsa Mongol. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga petani[10][11] Zhu Wusi dan istrinya, Nyonya Chen.[12] Ia diberi nama Zhu Chongba (朱重八) saat lahir,[13] tetapi menggunakan nama Zhu Xingzong (朱興宗) ketika dewasa.[2] Kelak, sebagai pejuang pemberontak melawan Dinasti Yuan, ia menggunakan nama Zhu Yuanzhang dengan nama kehormatan Guorui,[14] serta secara anumerta menamai ulang ayahnya sebagai Zhu Shizhen.[15] Kakek dan ayah Zhu melarikan diri melintasi lembah Sungai Huai untuk menghindari penagih pajak.[11] Kakek dari pihak ibunya merupakan seorang peramal dan pelihat yang pada masa mudanya pernah bertugas di pasukan Dinasti Song selama perlawanan terakhir melawan bangsa Mongol sebelum dinasti tersebut runtuh pada tahun 1279. Ibunya sering menceritakan kisah-kisah yang sarat dengan semangat loyalitas terhadap Dinasti Song, yang meninggalkan kesan mendalam padanya.[11][16]

Pada tahun 1344, orang tua Zhu dan salah seorang saudaranya meninggal akibat wabah penyakit.[11] Zhu kemudian memasuki biara Buddha lokal. Selama tiga tahun berikutnya, ia mengembara sebagai biksu muda, meminta-minta sedekah serta mengenali bentang alam dan masyarakat di Provinsi Henan timur dan Anhui barat.[17][18] Ia kembali ke biara pada tahun 1348 dan tinggal selama empat tahun; pada kurun waktu tersebut, ia belajar membaca dan menulis serta mempelajari dasar-dasar agama Buddha.[19]

Menuju kekuasaan

Bergabung dengan pemberontak

Kebijakan perpajakan yang berat dan bencana kelaparan, ditambah dengan banjir dahsyat di daerah aliran sungai Sungai Kuning yang disebabkan oleh kurangnya penanggulangan banjir, memicu penentangan meluas terhadap kekuasaan Dinasti Yuan.[20] Keberadaan perhimpunan rahasia dan sekte-sekte Taois serta Buddha semakin menyulut ketidakpuasan ini, dengan yang paling menonjol adalah Perhimpunan Teratai Putih.[21] Pada tahun 1351, Pemberontakan Serban Merah pecah dan menyebar dengan cepat ke seluruh Tiongkok utara.[20]

Pasukan Mongol yang awalnya kocar-kacir berhasil melancarkan serangan balasan dan bergerak maju di sepanjang Terusan Besar, jalur air utama yang menghubungkan Tiongkok utara dan selatan.[22] Pada Oktober 1352, bangsa Mongol merebut Xuzhou, yang menyebabkan komandan pemberontak Peng Da dan Zhao Yunyong melarikan diri ke selatan menuju Haozhou,[22] tempat kekuasaan Dinasti Yuan sedang meredup. Di Haozhou, Guo Zixing, Sun Deya (孫德崖), dan tiga pemimpin lainnya, dengan dukungan elite lokal, mengorganisasi pasukan dan menegakkan ketertiban di wilayah sekitarnya.[22] Guo bergabung dengan Peng, sementara empat rekannya bergabung dengan Zhao.[22]

Lukisan potret resmi setengah badan dari Permaisuri Ma. Ia mengenakan jubah kekaisaran berwarna kuning berhias sulaman lambang naga emas di atas pakaian dalam merah, dimahkotai mahkota feniks (Fengguan) berhias permata emas, biru, dan putih serta rumbai mutiara panjang.
Potret Nyonya Ma, istri Zhu Yuanzhang, sebagai permaisuri

Zhu bergabung dengan para pemberontak pada tahun 1352, setelah pasukan Yuan membakar biaranya karena mencurigai para biksu memiliki hubungan dengan Perhimpunan Teratai Putih.[23] Pada tanggal 15 April, ia tiba di Haozhou.[22] Ia mengawali kiprahnya sebagai prajurit biasa. Meskipun secara fisik dianggap kurang menarik, kepemimpinan, ketegasan, keterampilan bela diri, dan kecerdasan Zhu yang luar biasa dengan cepat memberinya wewenang yang signifikan.[24][25] Ia menjadi pemimpin di antara 24 rekannya yang telah lebih dahulu bergabung dengan pemberontak. Rekan-rekannya ini kelak menjadi jenderal-jenderal dalam tentara Ming.[26] Pada musim semi tahun 1353, Zhu memimpin pasukan berkekuatan 700 orang, dan ia menjadi bawahan Guo yang paling dipercaya.[22] Mahir dalam taktik militer maupun manuver politik, ia menikahi anak angkat Guo yang bermarga Ma.[27] Berbeda dari para pemimpin lain pada masanya, yang sering menunjuk banyak kerabat untuk menduduki posisi-posisi penting demi mengamankan kesetiaan, Zhu hanya menunjuk sedikit kerabatnya.[22]

Persaingan antara Peng dan Zhao meningkat menjadi konflik lanjutan. Zhao menangkap Guo, tetapi Zhu membebaskannya, sehingga meningkatkan ketergantungan Guo pada Zhu.[28] Setelah kematian Peng pada tahun 1353, Zhao muncul sebagai pemimpin dominan di wilayah tersebut.[29] Ia mengirim Guo ke timur dan Zhu bersama sepasukan kecil ke selatan dengan harapan dapat memecah dan menghancurkan mereka. Namun, Zhu berhasil menduduki beberapa kabupaten dan memperkuat pasukannya hingga mencapai 20.000 prajurit, dan Guo bergerak bersama 10.000 prajurit Zhao untuk bergabung dengannya.[29]

Perebutan Nanjing dan kebangkitan sebagai kekuatan regional (1355–1360)

Peta rezim-rezim pemberontak Serban Merah utama di Tiongkok pada akhir masa Dinasti Yuan
Kekuatan-kekuatan utama di Tiongkok pada akhir masa Dinasti Yuan, ca 1350–1360

Pada awal tahun 1355, Zhu, Guo, dan pemberontak timur Zhang Shicheng memutuskan untuk meninggalkan wilayah utara yang hancur dan menyeberangi Sungai Yangtze menuju wilayah selatan yang masih makmur.[30] Guo dan Zhu terlibat perselisihan mengenai Hezhou, sebuah kota di tepi Sungai Yangtze, yang menyebabkan Zhu bersekutu dengan musuh lama Guo, Sun Deya; Guo meninggal sebelum konflik tersebut membesar.[31] Han Lin'er, pemimpin Serban Merah yang mengklaim gelar kaisar Song, kemudian menunjuk putra tertua Guo, Guo Tianxu (郭天敍),[32] sebagai penggantinya, dengan Zhang Tianyu (張天祐), ipar Guo, sebagai wakil pertama dan Zhu sebagai wakil kedua.[11] Pada Juli 1355, para pemberontak Hezhou memperoleh armada kapal dari pemberontak yang datang dari Danau Chao, sehingga memungkinkan mereka menyeberangi Sungai Yangtze pada bulan yang sama dan merebut Taiping (sekarang Kabupaten Dangtu, Anhui), sebuah benteng pertahanan Yuan di tepi selatan sungai tersebut.[31] Komandan lokal Yuan Chen Yexian (陳野先) berusaha merebut kembali Taiping, tetapi berhasil dikalahkan dan menyerah kepada Zhu. Dua bulan kemudian, Guo Tianxu dan Zhang Tianyu melancarkan serangan ke Jiqing (sekarang Nanjing) menggunakan pasukan Chen, tetapi Chen mengkhianati mereka pada saat kritis dan ketiganya tewas dalam pertempuran yang terjadi.[33]

Pada Maret 1356, Zhu sekali lagi bergerak menuju Jiqing. Chen Zhaoxian (陳兆先), keponakan Chen Yexian, telah menggantikan pamannya sebagai komandan. Ia dan 36.000 prajurit menyerahkan diri kepada Zhu. Pada bulan April 1356, Zhu berhasil memasuki Jiqing,[33] yang kemudian ia namai ulang menjadi Yingtian ('Sebagai tanggapan terhadap Kehendak Langit').[34] Pada Mei 1356, Han Lin'er menunjuk Zhu sebagai kepala Provinsi Jiangnan (江南行中書省), salah satu dari lima provinsi dalam negara Song.[35] Tak lama kemudian, Zhu mengeksekusi putra bungsu Guo dengan alasan pelanggaran disiplin militer. Hal ini memungkinkan Zhu untuk menegakkan kepemimpinan yang jelas dan ia pun segera mulai membangun pemerintahannya, meskipun ia sempat menghadapi beberapa kasus pengkhianatan dan pembelotan ke pihak musuh hingga kemenangan di Danau Poyang pada tahun 1363.[33][36]

Zhu kini memimpin pasukan berkekuatan 100.000 prajurit, yang dibagi menjadi divisi-divisi atau sayap (翼; yi). Di Nanjing sendiri terdapat delapan divisi dan satu divisi per prefektur.[37] Dari tahun 1355 hingga 1357, ia melancarkan serangan terhadap Zhang Shicheng ke arah Suzhou dan berhasil menduduki wilayah selatan Jiangxi;[xii] setelah ini, perbatasan dengan negara Zhang diperkuat di kedua belah pihak dan tetap stabil hingga tahun 1366.[37] Di Zhejiang, dari tahun 1358 hingga 1359, Zhu menguasai empat prefektur pedalaman yang miskin,[37] sementara Zhang menguasai empat prefektur pesisir utara yang makmur, dan Fang Guozhen menduduki pesisir timur provinsi tersebut.[38]

Pada musim panas tahun 1359, panglima perang Mongol Chaghan Temur mengusir Han Lin'er dari Kaifeng. Dengan hanya tersisa beberapa ratus prajurit, Han bertahan hidup di Anfeng, sebuah kota prefektur di sebelah barat Anhui, sementara Chaghan Temur beralih ke Shandong.[29] Setelah kemunduran ini, otoritas Song runtuh dengan cepat; selain wilayah Jiangnan milik Zhu yang pada praktiknya otonom, tidak ada lagi provinsi Song yang tersisa setelah tahun 1362.[39] Pada tahun 1361, Han menunjuk Zhu sebagai Adipati Wu (Wu Guogong)[35][xiii] dan mengakui kendalinya atas wilayah-wilayah yang ditaklukkan.[40] Karena mengkhawatirkan pergerakan maju pasukan Yuan menuju Nanjing, Zhu awalnya mengupayakan kerja sama dengan Chaghan Temur, tetapi setelah Chaghan Temur dibunuh pada tahun 1362, Dinasti Yuan tidak lagi menjadi ancaman dan Zhu menolak tawaran mereka untuk menjadikannya gubernur Jiangxi.[41]

Zhu tidak menganut ideologi Serban Merah; alih-alih membangun elite baru yang berlandaskan pada kepercayaan Manikheisme-Buddha ala Teratai Putih, ia justru menyelaraskan diri dengan para cendekiawan Konfusian.[42] Pergeseran ini mengubah dirinya dari seorang pemberontak sektarian menjadi pemimpin politik yang mengupayakan legitimasi tradisional, meskipun ia masih mengandalkan perwira-perwira yang setia pada ajaran Teratai Putih.[43] Basis politiknya semakin kuat melalui kerja sama dengan Li Shanchang, seorang tuan tanah dari Dingyuan yang mengelola administrasi sipil seiring dengan perluasan wilayah Zhu.[44] Pada tahun 1360, setelah permintaan yang berulang kali, para cendekiawan terkemuka seperti Song Lian dan Liu Ji bergabung dengannya.[45] Dikenal sebagai mazhab Jinhua,[xiv] mereka membayangkan sebuah negara bersatu dengan birokrasi yang kecil tetapi efisien, menentang korupsi pada akhir masa kekuasaan Yuan,[46][47] serta percaya bahwa lembaga-lembaga negara dapat memperbaiki moral masyarakat. Meskipun motif mereka berbeda dari Zhu, mereka berbagi komitmen yang sama dengannya untuk melakukan reformasi melalui negara yang kuat dan monarki yang aktif.[48]

Sebagai penguasa independen, Zhu mempromosikan perpajakan yang moderat, berbeda dari para pemimpin pemberontak dan jenderal lain yang sering menyita hasil panen petani untuk kebutuhan militer.[49] Ia menekankan tata kelola yang teratur dan kehidupan yang damai bagi rakyat, bekerja sama dengan elite lokal, serta memahami kebutuhan warga desa berkat latar belakangnya sendiri sebagai petani.[50] Prinsip-prinsip Zhu memperkuat perekonomian di wilayah kekuasaannya: ia mulai mencetak koin pada tahun 1361, menciptakan monopoli garam dan teh, serta melanjutkan pemungutan bea cukai pada tahun 1362. Kebijakan-kebijakan ini meningkatkan pendapatan pajak dan membantu mendanai kampanye-kampanye militernya.[45]

Penaklukan Han (1360–1365)

Ilustrasi cetak kayu hitam-putih dari meriam yang miring ke atas di atas dudukan kayu, menembakkan semburan api dan proyektil bulat kecil, dengan label teks Tionghoa di sebelah kanan dan pada senjata.
Sebuah meriam dari Huolongjing, yang disusun oleh Jiao Yu dan Liu Ji sebelum tahun 1375

Pada awal tahun 1360, Zhu menguasai bagian barat daya Jiangsu, seluruh Anhui di sebelah selatan Sungai Yangtze, dan wilayah pedalaman Zhejiang. Pada tahun 1393, wilayah-wilayah ini memiliki populasi sebesar 7,8 juta jiwa,[38] sekitar 12,9% dari total populasi negara sebesar 60,5 juta jiwa.[51] Domain Zhang Shicheng[xv] memiliki kekuatan yang sebanding dengan populasi yang lebih besar namun dengan organisasi yang lebih buruk. Negara Han menghadapi situasi serupa.[38] Didirikan oleh pemberontak Chen Youliang pada tahun 1360, negara ini terletak di sebelah barat wilayah Zhu dan mencakup provinsi Jiangxi serta Hubei. Zhang, yang berpusat di Suzhou, menguasai bagian hilir Sungai Yangtze, dari perbatasan timur wilayah kekuasaan Zhu hingga ke laut. Sementara Zhu, Zhang, dan Chen membagi-bagi Daerah Aliran Sungai Yangtze, rezim-rezim "satu provinsi" menguasai sisa wilayah Tiongkok selatan dan tengah.[xvi] Rezim-rezim tingkat provinsi ini tidak mampu mengancam negara-negara milik Zhu, Zhang, dan Chen, tetapi mereka kuat dalam pertahanan.[38]

Perang antara Zhu dan Chen dari tahun 1360 hingga 1363 berdampak sangat merusak pada keseimbangan kekuatan di Daerah Aliran Sungai Yangtze. Konflik ini meningkatkan prestise Zhu dan memberinya keunggulan signifikan atas para pesaingnya.[38] Pertempuran dimulai ketika pasukan Chen menyerang Nanjing pada tahun 1360, tetapi Zhu dengan cepat mengalahkan mereka.[55] Pada tahun 1361, perang meluas ke provinsi Jiangxi milik Chen, yang berpindah tangan berkali-kali.[56] Pada tahun 1362, Zhu telah berhasil menguasai Jiangxi.[57]

Pada Januari 1363, pasukan Zhang Shicheng melancarkan serangan mendadak ke Anfeng, tempat kediaman Han Lin'er dan istananya. Zhu menawarkan dukungan militer kepada Han Lin'er, yang masih sangat dihormati di kalangan pasukan.[58] Han, yang tidak lagi memiliki kekuasaan nyata, dipindahkan ke Chuzhou, sebelah barat Nanjing di seberang Sungai Yangtze.[59] Pasukan Zhu tetap ditempatkan di utara hingga Agustus 1363.[60]

Keberangkatan pasukan utama Zhu ke utara memberi Chen Youliang kesempatan untuk membalikkan keadaan perang. Ia dengan cepat mengumpulkan pasukan berkekuatan 300.000 prajurit, melampaui jumlah sisa pasukan Zhu.[60] Chen berencana untuk merebut Nanchang dan menggalang para pemimpin lokal di Jiangxi agar bergabung dengan gerakannya untuk menyerang Nanjing,[60] tetapi garnisun Nanchang yang dipimpin oleh Deng Yu bertahan hingga awal Juni 1363. Pada pertengahan Agustus, pasukan dan armada laut Zhu akhirnya bertolak dari Nanjing dengan membawa sekitar 100.000 prajurit.[61] Armada laut Zhu mengalahkan armada Chen dalam Pertempuran Danau Poyang pada bulan September 1363, dan Chen tewas dalam pertempuran tersebut.[62] Jenderal Chen, Zhang Dingbian, melarikan diri ke Wuchang, ibu kota Han, bersama putra muda Chen, Chen Li, dan melanjutkan perang atas namanya.[63] Meskipun Zhang mampu bertahan dari pengepungan Wuchang selama dua bulan pada akhir tahun 1363, ia tidak mampu menahan pergerakan maju pasukan Zhu secara efektif. Ketika pasukan Zhu kembali mendekati Wuchang pada bulan Maret 1364, ia pun menyerah.[64]

Selama tahun 1364 dan 1365, Zhu berfokus menaklukkan dan menyerap wilayah-wilayah Chen Han, yang para komandannya sebagian besar menyerah tanpa perlawanan. Pada awal tahun 1365, Chang Yuchun dan Deng Yu telah menguasai Jiangxi tengah dan selatan, sementara Xu Da berhasil menenangkan wilayah Huguang.[65] Aneksasi wilayah ini memberi Zhu keunggulan populasi yang signifikan atas para pesaingnya. Ancaman utama bagi Zhu pada saat ini adalah panglima perang Mongol Köke Temür di Tiongkok utara dan Zhang Shicheng yang berpusat di Suzhou.[64]

Ekspansi angkatan perang dengan memanfaatkan bekas prajurit Han memerlukan reorganisasi militer.[66] Oleh karena itu, pada tahun 1364, Zhu menerapkan sistem Weisuo, yang melibatkan pembentukan pengawal (wei) beranggotakan 5.600 prajurit. Pengawal ini dibagi lagi menjadi 5 batalyon (qianhusuo) yang masing-masing beranggotakan 1.120 prajurit, dengan 10 kompi (baihusuo) di setiap batalyon.[67] Setelah tahun 1364, angkatan perang terdiri dari 17 pengawal yang beranggotakan para veteran yang telah bertugas di bawah Zhu sebelum tahun 1363. Para veteran yang lebih tua didemobilisasi, sementara sisanya ditugaskan ke garnisun di Nanjing untuk bekerja sebagai petani. Hasil produksi mereka digunakan untuk memasok kebutuhan tentara.[68] Prajurit lain dengan masa tugas yang lebih singkat, seperti mereka yang berasal dari penaklukan Anhui selatan dan Zhejiang tengah, ditempatkan di bekas wilayah Chen Han. Sebagian bertugas di pasukan medan di Nanchang dan Wuchang, sedangkan yang lainnya berada di garnisun-garnisun yang tersebar di seluruh Jiangxi dan Huguang.[69] Para prajurit di wilayah Chen Han, bersama beberapa veteran, dikirim untuk bertempur melawan Zhang di bawah kepemimpinan Xu Da dan Chang Yuchun.[69]

Kekalahan Zhang Shicheng dan pendirian Dinasti Ming (1364–1368)

Jembatan penyeberangan batu yang membentang di atas kanal di depan tembok kota kuno dan menara gerbang tradisional Tiongkok di bawah langit cerah.
Gerbang Pan, salah satu gerbang dari Tembok Kota Suzhou. Penaklukan Suzhou selama sepuluh bulan, pusat kedudukan Zhang Shicheng, merupakan salah satu pertempuran paling sengit yang dihadapi oleh pasukan Zhu.

Setelah kekalahan Chen, Zhu memproklamasikan dirinya sebagai Raja Wu (Wu wang) pada tanggal 4 Februari 1364. Zhang Shicheng telah terlebih dahulu mengadopsi gelar yang sama pada bulan Oktober 1363.[54] Zhu tetap mengakui status bawahannya terhadap Han Lin'er dan menggunakan era Longfeng dari negara Song selama Han masih hidup, tetapi ia menjalankan pemerintahannya sendiri dengan mengikuti model Dinasti Yuan.[54]

Zhang berusaha menyerang Zhu pada akhir tahun 1364, sebelum Zhu dapat mengoptimalkan potensi wilayah Chen Han, tetapi Zhu berhasil memukul mundur serangan Zhang pada musim semi tahun 1365.[70] Sebelum melancarkan serangan akhir ke pusat wilayah Zhang, yaitu kawasan Suzhou, Zhu dan para jenderalnya memutuskan untuk terlebih dahulu "memotong sayap-sayap" negara Zhang dengan menduduki wilayah di sebelah utara Sungai Yangtze serta bagian Zhejiang yang dikuasai Zhang. Zhu menunjuk Xu Da sebagai panglima tertinggi pasukan invasi, dan kampanye militer tersebut berkembang pesat berkat keunggulan mutlak mereka. Pengepungan Suzhou selama sepuluh bulan dimulai pada bulan Desember 1366.[71] Pada tanggal 1 Oktober 1367, pasukan Zhu berhasil menembus tembok-tembok Suzhou dan menangkap Zhang, yang kelak bunuh diri saat dikawal menuju Nanjing.[72]

Pada bulan Januari 1367, Han Lin'er tenggelam di Sungai Yangtze.[59] Negara Wu milik Zhu mendeklarasikan kemerdekaan resminya dan menetapkan tahun 1367 sebagai tahun pertama era Wu. Pada tanggal 23 Januari 1368, Zhu memproklamasikan dirinya sebagai kaisar dan mengubah nama negaranya. Mengikuti tradisi Mongol dalam mengagungkan gelar,[73] ia menamai dinasti baru tersebut Ming Agung (Da Ming; 大明). Ia juga menetapkan tahun 1368 sebagai tahun pertama era Hongwu (洪武).[74]

Kampanye selatan dan ekspedisi utara (1367–1382)

Pada musim gugur tahun 1367, pasukan Zhu melancarkan serangan terhadap Fang Guozhen. Pada bulan Desember tahun tersebut, mereka telah berhasil menguasai seluruh wilayah pesisir.[75] Pada November 1367, pasukan Hu Mei, bersama armada Tang He dan Liao Yongzhong (廖永忠), memulai pergerakan mereka ke selatan. Mereka menaklukkan Fujian dengan mudah pada bulan Februari 1368 dan menguasai Guangdong pada bulan April. Dengan bala bantuan dari pasukan Yang Jing di Huguang, Guangxi berhasil dibawa ke bawah kendali Ming pada bulan Juli 1368.[76]

Peta yang menunjukkan rute ekspedisi utara Ming (1367–1369) dari Nanjing melalui Henan, Shandong, dan Shaanxi menuju Dadu
Peta yang menunjukkan ekspedisi utara Ming tahun 1367–1369, yang mengakhiri kekuasaan Yuan di Tiongkok Inti

Bersamaan dengan kampanye selatan, Zhu mengirimkan 250.000 prajurit yang dipimpin oleh Xu Da dan Chang Yuchun untuk menaklukkan Dataran Tiongkok Utara.[77] Pada bulan Maret 1368, pasukan darat dan laut Ming telah merebut Shandong,[76] dan Henan diduduki pada bulan Mei.[78] Penghentian sementara dilakukan untuk memberi kesempatan pada kegiatan pertanian; selama masa ini, Kaisar Hongwu bertemu dengan para jenderalnya di kota Kaifeng yang telah dikuasai untuk mengonfirmasi rencana-rencana kampanye tersebut.[79] Pasukan Ming melanjutkan pergerakannya pada pertengahan Agustus dan mencapai Dadu (sekarang Beijing) pada awal September. Mereka mengalahkan pasukan Mongol di luar Dadu dan kemudian menduduki kota tersebut. Kaisar Yuan Toghon Temür melarikan diri ke utara menuju Shangdu. Bangsa Tionghoa mengubah nama Dadu menjadi Beiping (Utara yang Didamaikan).[80] Kampanye tersebut kemudian berlanjut dengan serangan ke Shanxi.[81] Pasukan utama yang dipimpin oleh Xu Da merebut Taiyuan pada bulan Januari 1369, yang memaksa Köke Temür mundur ke Gansu. Pasukan Ming juga memulai operasi di Shaanxi pada musim semi tahun 1369.[82] Mereka berhasil menguasai provinsi tersebut secara penuh pada bulan September 1369, tetapi bentrokan perbatasan dengan pasukan Köke Temür terus berlanjut hingga tahun 1370.[83]

Pada tahun 1370, pemerintah Ming melancarkan serangan dua arah ke Mongolia. Sang Kaisar mengutus keponakannya, Li Wenzhong, serta jenderal Feng Sheng untuk menyerang dari utara, sementara Xu Da menyerang Köke Temür dari Xi'an.[84][85] Köke Temür berhasil dikalahkan pada awal bulan Mei dan melarikan diri ke Karakorum. Pasukan Ming menawan lebih dari 84.000 prajuritnya dan terus bergerak maju ke arah barat di sepanjang Sungai Kuning.[86] Pada saat yang sama, pasukan Li bergerak maju ke Shangdu, yang memaksa Toghon Temür mundur lebih jauh ke utara menuju Yingchang, tempat ia meninggal pada akhir bulan tersebut. Putranya, Ayushiridara, kemudian menyandang gelar kekaisaran. Pada bulan Juni, Li menaklukkan Yingchang. Ayushiridara berhasil meloloskan diri, tetapi pasukan Ming menangkap istri dan putranya, Maidilibala, bersama dengan lebih dari 50.000 prajurit.[87] Ayushiridara terus melarikan diri hingga mencapai Karakorum, tempat sisa-sisa pasukan Köke Temür bergabung dengannya.[87]

Pihak Ming kemudian mengalihkan fokusnya ke Negara Xia di Sichuan,[88] yang menjaga hubungan baik dengan Ming tetapi menolak untuk tunduk. Sang Kaisar memerintahkan Fu Youde untuk memimpin serangan dari utara pada tahun 1371. Secara bersamaan, Tang He dan Liao Yongzhong bergerak maju membawa armada kapal menyusuri Sungai Yangtze.[88] Meskipun awalnya menghadapi perlawanan, mereka mampu menerobos maju berkat bantuan artileri serta keputusan musuh untuk mengirim sebagian pasukan pertahanan mereka ke utara guna menahan pergerakan maju pasukan Ming yang berhasil menembus benteng. Pada bulan September 1371, Sichuan berhasil ditaklukkan.[89] Kemenangan ini menjamin stabilitas di perbatasan barat daya selama sepuluh tahun berikutnya, hingga Ming menaklukkan Yunnan yang pro-Mongol pada tahun 1381–1382.[90]

Pada tahun 1372, Sang Kaisar melancarkan serangan besar-besaran ke Mongolia. Xu Da memimpin pasukan berkekuatan 150.000 prajurit dari Shanxi melintasi Gurun Gobi menuju Karakorum. Di sebelah barat, Feng Sheng ditugaskan untuk menaklukkan bagian barat Koridor Gansu dengan 50.000 kavaleri, sementara Li Wenzhong ditugasi menyerang Mongolia timur dan Manchuria bersama 50.000 prajurit lainnya.[89] Meskipun pasukan Feng berhasil menyelesaikan misinya dengan sukses, bangsa Mongol mengalahkan pasukan Xu dan Li.[91]

Kegagalan-kegagalan pada tahun 1372 ini menghancurkan impian Kaisar Hongwu untuk menguasai seluruh wilayah Kekaisaran Yuan, baik di Tiongkok maupun di padang stepa.[92] Selain itu, aksi bajak laut Jepang semakin meningkat dan pemberontakan pecah di provinsi-provinsi Guangxi, Huguang, Sichuan, dan Shaanxi.[91] Pasukan Tiongkok di utara akibatnya mengalihkan fokus mereka ke pertahanan, dan dua tahun kemudian mengembalikan pangeran yang tertangkap, Maidilibala, ke Mongolia.[93]

Dekade 1370-an: reformasi, konsolidasi, dan stabilitas

Informasi lebih lanjut: Reformasi Kaisar Hongwu

Hukum

Kaisar Hongwu sangat teliti dalam upayanya membangun kembali tatanan sosial setelah runtuhnya Dinasti Yuan. Ia merupakan seorang pembuat undang-undang yang dinamis dan inovatif, serta secara terus-menerus menerbitkan, merevisi, dan memodifikasi hukum di sepanjang masa pemerintahannya,[94] tetapi perubahan yang sering terjadi ini terkadang memicu protes dari para pejabat.[95] Perundang-undangan Sang Kaisar berfokus pada empat tema utama: pemulihan ketertiban dan moralitas dalam masyarakat, pengaturan birokrasi, pembersihan pejabat yang korup dan tidak dapat dipercaya, serta pencegahan kemunduran alami. Sebagai kepala keluarga, ia bertujuan untuk mencegah kemerosotan masyarakat dan dinasti, sekaligus berupaya mencegah para penerusnya mengubah hukum-hukum yang telah ia buat.[96]

Penyusunan kitab undang-undang baru, yang dikenal sebagai Kitab Undang-Undang Ming Agung, dimulai pada tahun 1364. Sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Konfusianisme, kitab ini sebagian besar didasarkan pada Kitab Undang-Undang Tang tahun 653. Rumusan awalnya disepakati pada tahun 1367, dan versi akhirnya diadopsi pada tahun 1397. Kitab undang-undang ini tetap tidak berubah hingga runtuhnya dinasti, meskipun ketentuan-ketentuan tambahan terus dimasukkan seiring berjalannya waktu.[97]

Ibu kota

Tembok kota bata abu-abu yang lebar dengan dua pintu gerbang melengkung besar untuk lalu lintas. Sebuah paviliun (menara gerbang) bertingkat yang berwarna-warni dengan fasad merah dan atap genting gelap terpasang di atas tembok dengan latar belakang langit biru cerah berawan.
Gerbang Yifeng, bagian dari Tembok Kota Nanjing yang dibangun pada era Hongwu

Ibu kota kekaisaran adalah Nanjing ('Ibu Kota Selatan'), yang dikenal sebagai Yingtian hingga tahun 1368. Pada dekade 1360-an dan 1370-an, Nanjing menjalani pembangunan secara masif. Angkatan kerja sebanyak 200.000 orang mengelilingi kota ini dengan tembok-tembok yang panjangnya hampir 26 km (16 mi), menjadikannya tembok terpanjang di dunia pada masa itu. Sebuah istana kekaisaran dan kawasan pemerintahan pun dibangun.[98] Pada tahun 1368, Sang Kaisar bertempat tinggal di Kaifeng selama bulan Juni–Agustus dan Oktober–November, yang menyebabkan kota tersebut dikenal sebagai Beijing[xvii] ('Ibu Kota Utara').[99]

Pada tahun 1369, Kaisar Hongwu mengusulkan perdebatan mengenai pemindahan ibu kota. Pada bulan Agustus tahun tersebut, diputuskan bahwa ibu kota akan dipindahkan ke Fengyang (saat itu dikenal sebagai Linhuai), kampung halamannya di Anhui utara.[100] Pembangunan calon ibu kota tersebut, yang diberi nama Zhongdu (中都; 'Ibu Kota Tengah'), dimulai dengan rencana-rencana besar. Wilayah itu sebagian besar telah ditinggalkan sejak bencana kelaparan pada dekade 1340-an, sehingga keluarga-keluarga yang tidak memiliki tanah dari selatan dipindahkan ke Fengyang.[101] Sang Kaisar pada akhirnya membatalkan gagasan untuk memindahkan ibu kota pada tahun 1375 dan pembangunannya pun dihentikan.[100]

Pemerintahan pusat

Setelah naik takhta, Kaisar Hongwu mengangkat istrinya, Nyonya Ma, sebagai permaisuri dan putra sulungnya, Zhu Biao, sebagai ahli warisnya.[74] Ia mengelilingi dirinya dengan sekelompok tokoh militer dan sipil, tetapi para pejabat sipil tidak pernah mencapai tingkat prestise dan pengaruh yang setara dengan pihak militer.[102] Pada tahun 1367, ia menganugerahkan gelar gong kepada tiga rekan terdekatnya—jenderal Xu Da dan Chang Yuchun serta pejabat Li Shanchang.[102] Setelah mendirikan Dinasti Ming, ia juga menganugerahkan pangkat dan gelar kepada lingkaran jenderal setia yang lebih luas.[xviii] Para pemimpin militer ini dipilih berdasarkan kemampuan mereka, tetapi jabatan mereka sering kali diwariskan kepada putra-putra mereka.[104] Dengan demikian, para jenderal menjadi kelas penguasa yang dominan, melampaui birokrasi dalam hal kekuasaan dan pengaruh. Para pejabat memiliki sedikit otonomi politik dan hanya menjalankan perintah serta permintaan kaisar.[105] Sistem ini mencerminkan sistem yang dibentuk pada masa Dinasti Yuan, dengan kelas penguasa bangsa Mongol dan Semu digantikan oleh keluarga-keluarga komandan militer terkemuka.[106] Keluarga-keluarga ini sering kali terhubung melalui ikatan kekerabatan satu sama lain dan dengan keluarga kekaisaran.[107] Sang Kaisar awalnya membatasi jumlah kasim istana hingga 100 orang, tetapi belakangan ia mengizinkan jumlah mereka bertambah hingga 400 orang, dengan syarat mereka tidak diperbolehkan belajar membaca, menulis, atau campur tangan dalam urusan politik.[108]

Struktur administratif Dinasti Ming didasarkan pada model Yuan. Sekretariat Pusat memimpin administrasi sipil dan dikepalai oleh dua kanselir agung yang secara tidak resmi dikenal sebagai perdana menteri.[109][xix] Sekretariat bertanggung jawab atas enam kementerian: Personalia, Pendapatan, Ritus, Perang, Kehakiman, dan Pekerjaan Umum.[111] Sensorat mengawasi jalannya administrasi,[112] sementara Komisi Militer Utama bertanggung jawab atas angkatan perang.[113] Pada awalnya, provinsi-provinsi berada di bawah kendali para jenderal, dengan otoritas sipil melapor kepada mereka.[103] Pada dekade 1370-an, pengaruh militer berkurang seiring dengan diangkatnya para menteri untuk menduduki posisi kepemimpinan di provinsi-provinsi.[103] Komandan militer regional kemudian bertanggung jawab mengelola urusan prajurit turun-temurun dalam sistem Weisuo.[103]

Sistem Weisuo diperkenalkan pada tahun 1364 dan mengalami penyempurnaan pada dekade 1370-an. Para prajurit di bawah sistem ini diwajibkan untuk bertugas secara turun-temurun; setiap keluarga diharuskan menyediakan satu anggotanya untuk wajib militer pada setiap generasi.[104] Angkatan perang menjadi mandiri berkat hasil produksi dari para prajurit turun-temurun ini.[104] Pada tahun 1393, angkatan bersenjata kekaisaran terdiri dari 326 pengawal dan 65 batalyon,[104] tetapi setelah tahun 1368, jumlah tentara mungkin lebih besar daripada yang dibutuhkan, karena pemerintah mengkhawatirkan konsekuensi dari demobilisasi secara meluas.[104]

Administrasi negara direformasi berdasarkan prinsip-prinsip Konfusianisme. Pada bulan Februari 1371, Sang Kaisar mengambil keputusan untuk menyelenggarakan ujian tingkat provinsi dan kabupaten setiap tiga tahun sekali, menambah ujian tingkat provinsi yang telah berlangsung pada bulan Maret.[114] Pada tahun 1377, ia membatalkan ujian dinas sipil karena dinilai kurang berkorelasi dengan kualitas para lulusannya.[115][116] Terlepas dari dukungannya terhadap Konfusianisme, Sang Kaisar memiliki rasa tidak percaya yang mendalam terhadap kelas pejabat dan tidak ragu menghukum mereka secara berat atas pelanggaran apa pun.[117] Menyusul dipulihkannya kembali sistem ujian pada tahun 1384,[116] ia memerintahkan eksekusi terhadap kepala penguji ketika terungkap bahwa hanya kandidat dari wilayah selatan yang berhasil memperoleh gelar jinshi, yaitu gelar tertinggi dalam sistem ujian tersebut.[115]

Pemerintahan lokal dan perpajakan

Koin tembaga yang tertulis huruf 洪武通寶 (Hongwu Tongbao), yang berarti "koin edar Hongwu"
Hongwu Tongbao, koin yang digunakan pada era Hongwu

Desa-desa merupakan komunitas swakelola yang menyelesaikan perselisihan internal tanpa campur tangan para pejabat, karena Kaisar Hongwu tidak menyarankan kehadiran mereka di kawasan pedesaan. Komunitas-komunitas ini beroperasi berdasarkan moralitas Konfusian ketimbang hukum tertulis.[105] Register Kuning mencatat rumah tangga dan jumlah penduduk, sementara Register Sisik Ikan mencatat bidang-bidang tanah, kualitasnya, kuota pajak, dan kepemilikannya. Otoritas kabupaten menunjuk individu-individu kaya sebagai kapten pajak regional (liangzhang; 糧長) yang bertanggung jawab mengumpulkan pajak.[118] Sistem swakelola lokal lijia diperkenalkan di daerah aliran Sungai Yangtze pada tahun 1371.[119][xx] Pengeluaran rutin negara, selain pajak tanah, ditutupi melalui wajib kerja dan pasokan barang dari rakyat. Dalam sistem lijia, satu jia selalu menyediakan layanan wajib kerja, dan setelah satu tahun, jia lainnya menggantikannya. Bentuk perpajakan ini bersifat progresif, tidak seperti pajak tanah. Proyek-proyek infrastruktur besar, seperti pembangunan jalan, bendungan, atau saluran air, didanai melalui pengadaan tambahan yang bersifat ad hoc.[121]

Pajak ditetapkan secara rendah dengan jumlah tetap untuk setiap wilayah, yang dimaksudkan agar para petani membayar sebesar 3% dari hasil panen mereka. Pajak-pajak ini sering kali dikumpulkan dalam bentuk barang (in natura), dengan rakyat bertanggung jawab mengantarkan barang-barang tersebut ke gudang-gudang negara,[122] tetapi pengangkutan barang-barang ini, yang sering kali menempuh jarak jauh hingga ratusan kilometer, memberikan beban berat bagi para pembayar pajak. Biaya pengangkutan biji-bijian ke Nanjing adalah tiga hingga empat kali lebih tinggi daripada harganya sendiri, dan bahkan enam hingga tujuh kali lebih tinggi untuk pasokan bagi pasukan di perbatasan utara.[123] Kementerian Pendapatan bertanggung jawab mengumpulkan pajak dan hasil kerja dari para petani, sementara Kementerian Pekerjaan Umum mengawasi para pengrajin.[124] Para pengrajin diwajibkan bekerja di pabrik-pabrik milik negara selama tiga bulan setiap 2 hingga 5 tahun sekali, bergantung pada profesi mereka.[125] Kementerian Perang menyimpan catatan mengenai para prajurit turun-temurun serta mengumpulkan pajak dan hasil kerja dari mereka.[124] Karena pendapatan dan pengeluaran negara dikelola melalui perintah kepada rakyat untuk mengantarkan barang-barang tertentu ke lokasi yang ditunjuk, gudang-gudang besar tidak terlalu diperlukan. Akan tetapi, para pejabat tidak selalu mampu mengarahkan pasokan secara efektif ke tempat-tempat yang membutuhkan, sehingga memicu krisis pasokan di tingkat lokal.[122]

Masyarakat

Tampilan jarak dekat kaligrafi Tionghoa yang ditulis dengan tinta hitam tebal di atas kertas cokelat tua yang sudah melapuk. Aksara tersusun dalam kolom-kolom vertikal, kemungkinan dalam gaya semi-kursif, dengan catatan tambahan beraksara lebih kecil di tepi kiri.
Kaligrafi karya Kaisar Hongwu

Kaisar Hongwu mempromosikan pola hidup hemat dan kesederhanaan, dengan tujuan memulihkan ekonomi pertanian dasar serta menempatkan industri-industri lain sebagai penunjang.[122] Untuk menjaga kohesi sosial dan fondasi ekonomi negara, ia membatasi konsumsi kaum kaya karena mengkhawatirkan pamer kemewahan akan merusak masyarakat. Berakar pada moralitas Konfusian, kelompok yang memiliki keistimewaan diharapkan untuk mempraktikkan penahanan diri, dan Sang Kaisar sendiri hidup dengan makanan dan perabot yang sederhana.[126] Ia menganggap kenyamanan, kemewahan, dan kepemilikan harta sebagai tanda-tanda korupsi yang egois. Perintah-perintahnya mencakup penggantian kebun bunga di istana putra-putranya menjadi kebun sayur, pelarangan hewan peliharaan eksotis demi mengutamakan hewan-hewan yang berguna seperti sapi, serta pelarangan varietas beras yang digunakan untuk membuat arak beras. Pemerintah juga mengatur standar konsumsi untuk makanan, pakaian, perumahan, dan transportasi.[127] Pengendalian ini meluas hingga ke kehidupan sehari-hari, seperti standar penyapaan dan gaya penulisan,[128] pembatasan pada nama pribadi,[129] serta pelarangan simbol-simbol yang berkaitan dengan masa lalu Sang Kaisar di kebiaraan.[130]

Sang Kaisar percaya bahwa dengan memberi setiap pria sebidang ladang dan setiap wanita sebuah alat tenun akan meringankan penderitaan rakyat. Selama tahun-tahun terakhir Dinasti Yuan, pendapatan pajak tanah secara praktis telah lenyap, karena para tuan tanah kaya menguasai bagian tanah yang tidak proporsional dan sering kali menemukan cara untuk menghindari pembayaran pajak.[131] Oleh karena itu, Kaisar Hongwu menyita tanah milik para tuan tanah kaya dan mendistribusikannya kembali kepada rakyat yang tidak memiliki tanah. Mereka yang telah meninggalkan propertinya selama perang tidak berhak mendapatkannya kembali, melainkan diberi petak-petak tanah pengganti dengan syarat mereka menggarapnya sendiri secara langsung.[132] Pemerintah menghukum para tuan tanah besar dan menyita tanah mereka. Sementara Kaisar Taizu dari Song (m. 960–976) menganggap kaum kaya sebagai pintu gerbang menuju kemakmuran bagi seluruh negeri, Kaisar Hongwu justru berupaya menyingkirkan mereka. Pada akhir masa pemerintahannya, hanya ada sangat sedikit tuan tanah besar yang tersisa.[133]

Kaisar Hongwu memindahkan 14.300 keluarga kaya dari tanah kediaman mereka di Zhejiang dan wilayah Yingtian ke Nanjing.[133] Ia juga menyita properti milik biara-biara Buddha yang sangat luas, di mana pada masa Dinasti Yuan menguasai 3/5 tanah di Provinsi Shandong. Pemerintah membubarkan sekitar 3.000 biara Buddha dan Taois, serta membatasi setiap kabupaten hanya boleh memiliki satu biara dengan maksimum dua biksu. Sebanyak 214.000 biksu dan biksuni Buddha serta 300.000 biksu dan biksuni Taois dikembalikan ke kehidupan sekuler.[134] Untuk mengatasi masalah ketiadaan tanah, pemerintah memberikan tanah gratis kepada para petani; petani di wilayah utara menerima 15 mu[xxi] per ladang dan 2 mu per kebun, sementara petani di wilayah selatan menerima 16 mu. Para prajurit turun-temurun diberi 50 mu.[134]

Berbeda dengan sikapnya terhadap kaum kaya, kepedulian terhadap kaum miskin ditingkatkan secara signifikan (dan pada abad ke-16, hal ini dianggap sebagai standar umum). Pemerintah memerintahkan pembentukan tempat penampungan bagi para pengemis di setiap kabupaten, serta menjamin jatah beras, kayu bakar, dan kain bagi orang-orang miskin lainnya; lansia berusia 80 tahun ke atas dijamin mendapatkan daging dan arak. Sistem lijia, yang mewajibkan keluarga-keluarga kaya untuk berkontribusi, menutupi biaya-biaya ini.[135]

Pertanian

Pemandangan panoramik dari sudut tinggi yang memperlihatkan lanskap pegunungan yang sepenuhnya tertutup oleh ribuan terasering sawah berkelok-kelok yang rumit. Petak-petak sawah sebagian besar terisi air, menciptakan pola rumit yang penuh warna dari pantulan biru-perak, lajur-lajur vegetasi hijau, dan tanah cokelat kemerahan.
Terasering Padi Honghe Hani di Yunnan. Kaisar Hongwu memandang pertanian sebagai sumber utama kekayaan negara.

Petani yang membuka dan menggarap lahan tidur dibebaskan dari pajak selama tiga tahun. Pemerintah juga mendorong para pengungsi dan penduduk dari wilayah yang padat untuk bermukim kembali di lahan-lahan kosong di utara.[136] Untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja, perbudakan dihapuskan dan perdagangan budak dilarang, jumlah biksu dikurangi, serta praktik jual beli orang merdeka dilarang.[137]

Selain membuka kembali lahan yang terabaikan, pemerintah mengambil langkah-langkah untuk memulihkan sistem irigasi. Kaisar Hongwu memerintahkan otoritas lokal untuk melaporkan setiap permohonan atau masukan dari masyarakat mengenai perbaikan atau pembangunan struktur irigasi kepada istana. Pada tahun 1394, ia menerbitkan dekret khusus bagi Kementerian Pekerjaan Umum untuk merawat saluran air dan bendungan sebagai antisipasi terhadap kekeringan atau hujan lebat. Ia juga mengutus para lulusan dari sekolah-sekolah negeri dan ahli teknis untuk mengawasi struktur perlindungan banjir di seluruh negeri. Pada musim dingin tahun 1395, sebanyak 40.987 bendungan dan saluran drainase telah berhasil dibangun di seluruh negeri.[138]

Perdagangan

Sang Kaisar memiliki sikap memandang rendah terhadap para pedagang. Ia menganggap upaya melemahkan pengaruh kelas pedagang dan tuan tanah besar sebagai prioritas utama pemerintahannya. Sebagai bagian dari upaya ini, ia menerapkan pajak yang tinggi di dalam dan sekitar Suzhou, yang saat itu menjadi pusat komersial dan ekonomi Tiongkok.[115] Pemerintah juga memindahkan secara paksa ribuan keluarga kaya ke Nanjing dan tepi selatan Sungai Yangtze.[115][139] Untuk mencegah kegiatan usaha tanpa izin, para pedagang yang bepergian diwajibkan melaporkan nama dan barang bawaan mereka kepada agen lokal serta menjalani pemeriksaan bulanan oleh pihak berwenang.[140] Mereka juga diwajibkan menyimpan barang-barang mereka di gudang-gudang milik pemerintah.[141]

Piring porselen besar yang dangkal bertumpu di atas dudukan kayu gelap, dilihat dari sudut miring. Piring ini memiliki badan berwarna terang yang dihiasi pola bunga dan sulur yang rumit dalam pigmen cokelat atau sepia bawah-glasir monokromatik yang padat.
Sebuah piring porselen dari era Hongwu. Museum Nanjing

Pembatasan mobilitas penduduk sangat memengaruhi para pedagang. Perjalanan apa pun yang melebihi 100 li (58 km; 36 mil) dilarang keras tanpa izin resmi.[142] Untuk memperoleh izin ini, para pedagang diwajibkan membawa dokumen perjalanan yang memuat informasi pribadi mereka seperti nama, tempat tinggal, nama ketua desa (lizhang; 里長), usia, tinggi badan, pekerjaan, dan nama anggota keluarga. Ketidaksesuaian atau ketidakberesan apa pun dalam dokumen ini dapat mengakibatkan pedagang tersebut dikembalikan ke rumah dan menghadapi hukuman.[141][xxii]

Para prajurit memeriksa para pedagang di sepanjang rute perjalanan, di terminal penyeberangan, di jalan, dan di toko-toko mereka. Pihak berwenang mewajibkan rumah penginapan untuk memberikan rincian mengenai tamu-tamu mereka, seperti tujuan perjalanan dan barang-barang yang diangkut, sementara para pedagang juga diwajibkan menyimpan barang-barang mereka di gudang negara dan tidak diperbolehkan melakukan perdagangan tanpa lisensi. Bahkan ketika memberikan lisensi kepada pedagang, pihak berwenang akan memeriksa barang, tujuan, dan harga. Perantara, atau pialang, dilarang keras. Pemerintah juga menetapkan harga tetap untuk sebagian besar barang, dan ketidakpatuhan terhadap harga-harga ini berujung pada hukuman.[141] Para pedagang berisiko mendapati barang-barang mereka disita dan dikenai hukuman cambuk karena menjual barang berkualitas buruk.[126]

Dinasti Ming merupakan salah satu dari sedikit dinasti yang menerapkan sistem empat profesi (dalam urutan menurun: pejabat, petani, pengrajin, dan pedagang). Berbeda dengan petani, para pedagang dikecualikan dari ujian dinas sipil.[xxiii][143] Pengecualian ini juga berlaku untuk pegawai tingkat bawah di lembaga pemerintahan yang menangani urusan keuangan, karena mereka dipandang sebagai sumber potensi korupsi. Oleh karena itu, mereka dilarang mengikuti ujian yang dapat menaikkan derajat mereka ke kelas pejabat.[144] Terlepas dari upaya pemerintah, minat masyarakat terhadap perdagangan tetap kuat. Penulis-penulis sezaman mengaitkan hal ini dengan kenyataan bahwa perjalanan dagang yang berhasil dapat menghasilkan keuntungan lebih besar daripada hasil kerja selama setahun di ladang.[143]

Hubungan luar negeri

Pengendalian yang ketat dari Sang Kaisar terhadap perekonomian dan masyarakat menimbulkan kesulitan besar dalam hubungan luar negeri.[145] Menganggap perdagangan sebagai hal yang merusak moral, pemerintah melarang perdagangan luar negeri swasta[126] dan menerapkan larangan maritim yang ketat selama era Hongwu. Pemerintah Ming melarang warganya meninggalkan kekaisaran, serta menerapkan hukuman berat seperti hukuman mati atau pembuangan bagi warga asing dan siapa pun yang berdagang dengan mereka.[146] Pembuatan kapal dengan dua tiang atau lebih dilarang, kapal-kapal dan pelabuhan-pelabuhan dihancurkan atau diblokir, serta wilayah pesisir dijaga dengan ketat. Tujuannya adalah untuk menghentikan seluruh perdagangan luar negeri, yang dirangkum dalam ungkapan "bahkan sepotong kayu pun tidak boleh berlayar melintasi lautan".[147] Larangan tersebut tidak memberikan alternatif lain dan justru memicu lebih banyak penyelundupan, sementara penindakan oleh pemerintah tidak efektif. Kaisar Yongle di kemudian hari mendorong perdagangan melalui sistem upeti.[145]

Hubungan luar negeri memainkan peranan krusial dalam menegakkan legitimasi kekuasaan Ming. Negara-negara di sekitarnya menyatakan pengakuan mereka atas otoritas dan keunggulan Ming dengan membayar upeti. Sebagai bagian dari sistem upeti ini, delegasi asing menerima barang-barang Tiongkok dengan nilai yang setara dari negara Ming. Hal ini merupakan cara bagi pemerintah Ming untuk mengatur dan membatasi perdagangan luar negeri.[145]

Pada tahun 1368, Sang Kaisar mengumumkan kenaikan takhtanya kepada Korea, Đại Việt (sekarang Tiongkok utara), Champa (sekarang Tiongkok tengah dan selatan), dan Jepang.[148] Pada tahun berikutnya, Korea, Đại Việt, dan Champa mengirimkan misi upeti, dan pada tahun 1370 kerajaan Majapahit di Jawa melakukan hal yang sama. Pada tahun 1371, Jepang, Siam, Kamboja, dan Kerajaan Melayu di Sumatra juga mengirimkan misi upeti, diikuti oleh Ryukyu pada tahun 1372.[148] Dari tahun 1369 hingga 1397, misi yang paling sering datang berasal dari Korea dan Ryukyu (masing-masing 20 kali), diikuti oleh Champa (19 kali), Siam (18 kali), dan Đại Việt (14 kali).[149] Mulai tahun 1370, pemerintah mendirikan kantor-kantor khusus untuk menerima misi-misi ini, yang berlokasi di Ningbo, Quanzhou (di Fujian), dan Guangzhou.[148] Empat tahun kemudian, kantor-kantor ini dibubarkan,[150] yang mengakibatkan penurunan signifikan dalam perdagangan upeti. Meskipun demikian, volumenya tetap substansial; misi Siam membawa 38 ton zat aromatik pada tahun 1392 dan misi Jawa membawa hampir 17 ton lada pada tahun 1382.[148]

Sebelum melakukan penaklukan ke luar negeri, Kaisar Hongwu memprioritaskan pemantapan pemerintahan di Tiongkok. Oleh karena itu, ia menolak membantu Champa dalam perang mereka melawan Đại Việt dan sebaliknya menegur orang-orang Viet atas agresi mereka.[148] Pada tahun 1372, setelah menghadapi kekalahan di Mongolia, ia memperingatkan kaisar-kaisar masa depan agar tidak mengejar kejayaan penaklukan dan menasihati mereka untuk berfokus mempertahankan Tiongkok dari "orang-orang barbar utara".[151] Pemerintah Ming mengakui Istana Selatan di Jepang sebagai pihak yang sah, sementara memandang pemerintah Kyoto sebagai pembangkang,[150][114] tetapi mereka hanya menggunakan korespondensi keras dan tidak pernah menggunakan kekuatan militer.[150]

Perubahan pada dekade 1380-an

Putra-putra Sang Kaisar

Sang Kaisar memberi putra-putranya gelar pangeran (wang) dan memberi mereka komando militer di perbatasan untuk melindungi kekaisaran.[100] Putra-putra Sang Kaisar menerima pendidikan moral Konfusian dan juga mempelajari ilmu peperangan. Sang Kaisar sangat mementingkan pendidikan putra-putranya dan mengamanatkannya kepada para cendekiawan yang dipimpin oleh Song Lian dan Kong Keren (孔克仁).[152]

Sang Kaisar mengambil keputusan untuk menempatkan para pangeran memimpin angkatan perang guna mengurangi pengaruh kaum bangsawan militer terhadap negara. Sang Kaisar sangat mengkhawatirkan konspirasi di antara para jenderalnya dan mengeksekusi beberapa di antaranya, terutama yang berkaitan dengan kasus Kanselir Hu Weiyong.[93] Kekhawatirannya bukan tanpa alasan, sebab ancaman konspirasi di antara para jenderal selalu ada. Ia sendiri naik takhta melalui pengkhianatan terhadap para ahli waris Guo Zixing dan di kemudian hari menghadapi konspirasi dari para bawahannya.[xxiv][24]

Pemimpin militer yang paling cakap di antara para pangeran adalah Zhu Di dan Zhu Gang, yang kemudian disusul oleh Zhu Fu, Zhu Zhen, Zhu Zhi, dan Zhu Bai. Di antara para pangeran kekaisaran yang berkecenderungan sastra, Zhu Su menonjol karena karya-karyanya tentang puisi istana Yuan dan tanaman obat, sementara Zhu Quan dikenal karena drama liris dan ensiklopedianya tentang alkimia dan farmasi. Pangeran-pangeran lainnya, seperti Zhu Zi, Zhu Tan, Zhu Chun, dan Zhu Bai, juga merasa nyaman berada di tengah para cendekiawan dan terampil dalam seni berperang.[153] Tidak semua pangeran berperilaku baik, dan Sang Kaisar sering kali menegur enam putranya–Zhu Shuang, Zhu Su, Zhu Fu, Zhu Zi, Zhu Tan, dan Zhu Gui–serta cucu keponakannya Zhu Shouqian.[154]

Pada tahun 1370, Sang Kaisar mengangkat sembilan putra tertuanya (setelah ahli waris takhta) sebagai pangeran.[xxv] Lima pangeran lagi diangkat pada tahun 1378, dan sepuluh sisanya pada tahun 1391. Begitu mereka mencapai usia sekitar 20 tahun, mereka dikirim ke wilayah yang ditunjuk untuk mereka, dengan rombongan pertama dikirim pada tahun 1378. Seiring menetapnya mereka di wilayah masing-masing, peran penting mereka pun semakin meningkat.[156] Pangeran yang paling berpengaruh di antara mereka adalah putra kedua, ketiga, dan keempat—Zhu Shuang, Zhu Gang, dan Zhu Di—yang masing-masing berpusat di Xi'an, Taiyuan, dan Beijing. Mereka bertanggung jawab memimpin pasukan di perbatasan utara.[87] Selain para pangeran, anggota keluarga kekaisaran lainnya dikecualikan dari pengelolaan administrasi negara.[156]

Reformasi administrasi

Lencana oval berwarna terang (kemungkinan terbuat dari tulang atau gading) yang menampilkan huruf-huruf Tionghoa yang diukir dalam dua kolom vertikal: "Komandan Pengawal Seragam Sulam Ma Shun". Inskripsi ini dibingkai oleh ukiran bergaya awan atau naga di bagian atas dan samping.
Lencana perwira Jinyiwei (Pasukan Seragam Bordir), resimen pengawal elite Kota Terlarang yang bertindak sebagai polisi rahasia. Museum Ibu Kota, Beijing

Struktur administrasi sipil yang diorganisasikan menurut model Yuan sebagian menjauhkan Sang Kaisar dari pelaksanaan kekuasaan secara langsung dan tidak memuaskannya. Pada awal dekade 1380-an, ia melakukan reorganisasi radikal terhadap aparatur administrasi, dengan tujuan utama pemusatan kekuasaan dan peningkatan kekuasaan pribadi penguasa.[157] Setelah Kanselir Agung Hu Weiyong dipenjara dan dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan pada tahun 1380, Sang Kaisar menghapuskan jabatan kanselir agung dan Sekretariat Pusat,[158][159] serta melarang pemulihan kembali lembaga kanselir secara permanen.[160] Sang Kaisar kemudian menempatkan enam kementerian secara langsung di bawah kendalinya.[161] Ia juga mereorganisasi Sensorat dan membagi Komisi Militer Utama yang tadinya bersifat tunggal dan mengawasi angkatan bersenjata menjadi lima Komisi Militer Utama.[112][113] Dua belas satuan Pengawal Kekaisaran di ibu kota berada langsung di bawah kendali Sang Kaisar. Salah satu dari pengawal ini, yang dikenal sebagai Pasukan Seragam Bordir, bertindak sebagai polisi rahasia. Hal ini mengakibatkan terfragmentasinya otoritas negara, yang dengan segera mengeliminasi kemungkinan terjadinya kudeta tetapi memperlemah kemampuan bertindak pemerintah dalam jangka panjang.[161]

Setelah pembersihan besar-besaran pada tahun 1380, pembersihan-pembersihan berskala lebih kecil menyusul dengan menyasar beberapa menteri, keponakan Sang Kaisar Li Wenzhong, dan ratusan individu yang kurang menonjol.[162] Eksekusi-eksekusi tersebut memicu gelombang protes dari para pejabat, yang menyoroti kemerosotan moral aparatur negara dan pemborosan sumber daya manusia. Sang Kaisar tidak menghukum para pengkritik tersebut, tetapi ia juga tidak mengubah kebijakan-kebijakannya.[163]

Kebijakan dalam dan luar negeri

Pada tahun 1381, pemerintah menerapkan sistem lijia di seluruh negeri dan memperkenalkan Register Kuning untuk merevisi catatan kependudukan.[164] Sebuah sensus penduduk pun dilaksanakan.[xxvi] Sebagai bagian dari sistem ini, pengumpulan pajak dialihkan ke tingkat li, yang mengakibatkan penghapusan kapten pajak regional pada tahun 1382, meskipun jabatan tersebut dipulihkan kembali tiga tahun kemudian. Kapten pajak regional mengumpulkan pajak dari para kepala li[166] dan mengantarkannya ke lumbung-lumbung negara. Pihak li bertanggung jawab menutup biaya-biaya yang berkaitan dengan pengangkutan, pembukuan, dan pengawasan.[167]

Kampanye melawan para tuan tanah besar juga menyasar para pejabat baru Ming. Pemerintah meninjau ulang kepemilikan tanah para menteri dan pejabat pada tahun 1380, serta kepemilikan tanah kaum bangsawan[133] dan para pangeran kekaisaran pada tahun 1381. Individu-individu ini diwajibkan mengembalikan tanah-tanah yang telah mereka peroleh kepada negara dan diberi kompensasi berupa beras dan sutra.[134] Hal ini mengakibatkan terfragmentasinya kepemilikan tanah dalam jangka panjang. Bahkan dua abad kemudian, He Liangjun (何良俊; 1506–1573) mengamati bahwa tidak ada tuan tanah besar di Suzhou, dan tidak ada seorang pun yang memiliki tanah lebih dari sepuluh kali lipat dari jumlah tanah yang dimiliki seorang petani kecil.[168]

Pada tahun 1382, Sang Kaisar mengalami duka mendalam ketika Permaisuri Ma meninggal dunia. Pada tahun yang sama, kepala Mahkamah Kehakiman dan Peninjauan yang baru diangkat mengkritik dukungan Kaisar terhadap para biksu Buddha, hak-hak istimewa mereka di istana, dan kedudukan mereka dalam pemerintahan. Sang Kaisar kemudian membatasi pengaruh mereka. Pada saat yang sama, dukungan terhadap Konfusianisme kian tumbuh, yang mengarah pada pembukaan kembali kuil-kuil Konfusius di seluruh kekaisaran. Pemerintah telah menutup semua kuil tersebut kecuali satu pada tahun 1369.[169] Pergeseran ke arah Konfusianisme ini juga memicu dipulihkannya kembali ujian dinas sipil pada tahun 1384,[170] yang hanya mensyaratkan pengetahuan tentang Empat Kitab dan Lima Klasik. Promosi Konfusianisme ini memperkuat penekanan pada pertimbangan moral, ketimbang sekadar faktor ekonomi, dalam pengelolaan negara.[171]

Dekade 1380-an menyaksikan peningkatan signifikan dalam aktivitas kebijakan luar negeri.[170] Pada tahun 1380 dan 1381, pasukan perbatasan utara melancarkan ekspedisi berskala besar melampaui Tembok Besar.[170][172] Pada tahun 1381, pasukan Ming yang dipimpin oleh Fu Youde dengan cepat menaklukkan Yunnan, tetapi menghabiskan beberapa tahun berikutnya untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan lokal. Sejumlah besar pasukan juga diperlukan untuk menjaga pesisir dari para penyelundup dan bajak laut, yang menunda serangan ke utara hingga tahun 1387.[173] Kampanye militer ke Manchuria pada tahun 1387 pada akhirnya berhasil, tetapi komandan jenderal Feng Sheng digantikan oleh Lan Yu. Dalam kampanye tahun 1388, pasukan Lan Yu yang berkekuatan 200.000 prajurit mengalahkan bangsa Mongol secara telak di Sungai Songhua dan Danau Buir.[172] Pihak Tiongkok menawan 73.000 prajurit Mongol, termasuk dua putra khan Tögüs Temür. Tögüs Temür melarikan diri, tetapi dibunuh pada tahun berikutnya, yang memicu perselisihan suksesi di antara rakyatnya. Sebagai hadiah, Sang Kaisar menganugerahkan gelar gong kepada Lan dan gelar hou kepada enam jenderal lainnya.[174] Kampanye tersebut juga berujung pada aneksasi Semenanjung Liaodong.[175]

Dekade 1390-an: krisis suksesi dan kematian

Kaisar Hongwu memiliki janggut putih dan mengenakan jubah kuning serta topi hitam.
Kaisar Hongwu pada masa tuanya, ca 1397[1]

Sejak tahun 1390 dan seterusnya, putra-putra Sang Kaisar memimpin pasukan yang dikirim ke utara Tembok Besar.[176] Gelombang penangkapan baru juga dimulai pada awal dekade 1390-an. Pada musim gugur tahun 1391, ahli waris Sang Kaisar, Zhu Biao, menginspeksi Shaanxi untuk menilai kemungkinan pemindahan ibu kota ke Xi'an.[177] Ia jatuh sakit sekembalinya dari perjalanan tersebut dan meninggal pada tahun 1392, memicu ketidakpastian mengenai suksesi kekaisaran.[156] Sang Kaisar menunjuk putra Zhu Biao, Zhu Yunwen, sebagai ahli waris yang baru. Untuk memastikan kelancaran transisi kekuasaan kepada ahli waris yang masih muda tersebut, Sang Kaisar memrakarsai gelombang pembersihan baru secara masif pada tahun 1393, yang dimulai dengan tuduhan dan eksekusi terhadap Lan Yu. Ia berharap pembersihan-pembersihan ini akan membubarkan kekuatan kaum bangsawan militer.[178]

Selama 30 tahun masa pemerintahan Kaisar Hongwu, sekitar 100.000 orang tewas dalam pembersihan politik.[158][159] Pembersihan paling menonjol terjadi pada tahun 1390, ketika penangkapan dan eksekusi meluas ke seluruh kelas penguasa.[178] Tampaknya Sang Kaisar menyadari bahwa elite militer turun-temurun bukanlah sumber dukungan yang dapat diandalkan bagi takhta, sehingga ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan mereka.[178] Sebagai upaya untuk mengatasi masalah ketimpangan kekayaan yang ekstrem, banyak tuan tanah dan pedagang dieksekusi secara tidak adil atas tuduhan palsu mengenai keterkaitan mereka dengan politisi-politisi pengkhianat.[133]

Alih-alih pejabat sipil, putra-putra Sang Kaisar-lah yang mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh pembersihan tersebut.[178] Seperti halnya para jenderal sebelumnya, mereka bergantian antara bertugas di perbatasan dan menghadiri audiensi di ibu kota.[176] Hal ini membantu menstabilkan kekaisaran selama masa hidup Kaisar Hongwu,[176] tetapi setelah kematiannya, krisis timbul akibat loyalitas para jenderal dan pejabat yang ditujukan kepada kaisar sebagai seorang individu, ketimbang kepada jabatan kekaisaran itu sendiri.[170]

Kaisar Hongwu jatuh sakit parah pada bulan Desember 1397 dan kembali menderita sakit pada tanggal 24 Mei 1398. Pada tanggal 22 Juni, kondisinya memburuk, dan ia meninggal dunia pada tanggal 24 Juni 1398.[179] Ia dimakamkan di Mausoleum Xiao, yang terletak di sisi selatan Gunung Ungu, di sebelah timur Nanjing.[180]

Zhu Yunwen naik takhta sebagai Kaisar Jianwen pada tanggal 30 Juni 1398.[181] Ia kemudian menerapkan kebijakan "memangkas wilayah feodal" (削藩; xuefan) untuk membatasi wewenang paman-pamannya. Kebijakan ini memicu pemberontakan pamannya, Zhu Di, pada musim gugur tahun 1399. Perang saudara yang berkecamuk setelahnya, yang dikenal sebagai Kampanye Jingnan, berakhir pada tahun 1402 dengan kekalahan Kaisar Jianwen dan naiknya Zhu Di ke takhta sebagai Kaisar Yongle.[182]

Penilaian

Sebuah jalan setapak dari batu yang lebar mengarah ke tembok bata abu-abu yang tinggi dengan pintu masuk melengkung di bagian tengah, di atasnya terdapat bangunan merah dengan atap kuning dua tingkat, dibingkai oleh pepohonan di kedua sisinya.
Mausoleum Xiao yang telah direstorasi, 2010

Dalam historiografi tradisional Tionghoa, Kaisar Hongwu dihormati sebagai pendiri dinasti yang tipikal. Ia diakui atas jasanya membawa Tiongkok keluar dari perang saudara dan membebaskannya dari kekuasaan asing. Penyatuan kembali negara olehnya serta pemulihan ketertiban dalam masyarakat meletakkan dasar bagi era kemakmuran di bawah dinasti baru tersebut. Sejalan dengan penilaian ini, para menterinya memberinya nama kuil Taizu, yang berarti 'Leluhur Agung'. Perspektif ini tercermin dalam sejarah resmi Dinasti Ming, yang dikenal sebagai Sejarah Ming, yang ditulis pada masa Dinasti Qing.[183]

Para sejarawan modern, yang dipengaruhi oleh rasa enggan yang kuat terhadap para diktator abad ke-20, pola pikir antimonarki, serta kecenderungan untuk menganalisis kepribadian secara psikologis, sering kali memberikan penekanan berat pada sifat despotik dari rezim Kaisar Hongwu[183] dan mengaitkannya dengan paranoia,[50] atau secara lebih umum, dengan beberapa bentuk gangguan mental.[184] Mereka utamanya memandangnya sebagai seorang diktator yang tindakan tidak rasional dan paranoia-nya mengakibatkan hilangnya nyawa yang tak terhitung jumlahnya.[183] Pendekatan-pendekatan lain mengkajinya dalam konteks zaman dan pengalaman pribadinya. Perspektif ini menyoroti dampak dari pengalaman hidupnya terhadap tujuan-tujuan serta metode-metode yang ia gunakan untuk mencapainya. Masa kecil dan mudanya yang miskin serta tidak stabil dianggap sebagai periode krusial saat ia mengembangkan filosofi pribadinya.[183]

Kaisar Hongwu secara luas dianggap sebagai salah satu penguasa paling berpengaruh dan luar biasa dalam sejarah Tiongkok, terlepas dari aspek kehidupan mana yang ditekankan. Reformasi-reformasinya memberikan dampak yang bertahan lama bagi negara dan masyarakat Tiongkok selama berabad-abad setelahnya.[48][185] Untuk membangun masyarakat yang teratur dan berbudi luhur, ia mengadopsi ajaran Neo-Konfusianisme versi Zhu Xi sebagai ideologi negara, yang berkontribusi besar pada penerapannya secara meluas.[186]

Penghapusan Sekretariat Pusat dan reformasi badan-badan administrasi pusat mengakibatkan hilangnya keterwakilan yang kuat bagi para pejabat. Hal ini menyebabkan peningkatan signifikan pada kekuasaan penguasa dan menandai pergeseran dari masa Kekaisaran Song dan Yuan, ketika kewenangan kaisar cenderung dibatasi. Sebagai gantinya, sistem ini membentuk pemerintahan yang lebih despotik yang terus berlanjut hingga masa Dinasti Qing.[187] Dinasti Ming menjadi puncak dari tren panjang menuju penyatuan politik di bawah kekuasaan kekaisaran yang kuat, suatu bentuk pemerintahan yang pertama kali diwujudkan pada masa Qin dan Han.[186]

Meskipun suprastruktur politik yang diciptakan oleh Kaisar Hongwu runtuh dalam perang saudara tidak lama setelah kemangkatannya, lembaga-lembaga administrasi yang dibentuk selama masa pemerintahannya—termasuk pemerintah pusat dan lokal, administrasi provinsi, serta sistem fiskal dan ujian—terbukti sangat tangguh, bertahan dengan hanya sedikit modifikasi hingga akhir masa Tiongkok kekaisaran.[106] Sensus penduduk, pendaftaran tanah dan sistem perpajakan, serta sistem militer Weisuo semuanya bertahan hingga akhir dinasti tersebut.[106]

Keluarga

Selir dan keturunan

  • Permaisuri Xiaocigao dari klan Ma[188]
  • Selir Agung Chengmu dari klan Sun (1342–1374)[196]
    • Putri Lin'an (w. 1421), nama pribadi Jingjing (鏡靜), putri pertama. Menikah pada tahun 1376 dengan Li Qi (李祺; w. 1403), putra sulung Li Shanchang, Gong Han.[197]
    • Putri Huaiqing, putri keenam. Menikah pada tahun 1382 dengan Wang Ning (王寧), Hou Yongchun (永春侯).[198]
    • Putri kesepuluh[199]
    • Putri ketigabelas[200]
  • Selir Agung (貴妃) dari klan Yong (永氏)[201]
  • Selir Agung (貴妃) dari klan Wang (汪氏)[201]
  • Selir Agung (貴妃) dari klan Zhao (趙氏)[201]
    • Zhu Mo, Pangeran Jian dari Shen (1380–1431), putra ke-21[202]
  • Selir Shu (淑妃) dari klan Li (李氏)[203]
  • Selir Ning (寧妃) dari klan Guo (郭氏)[204]
    • Putri Runing (汝寧公主), putri kelima. Menikah pada tahun 1382 dengan Lu Xian (陸賢), putra Lu Zhongheng, Hou Ji'an.[198]
    • Putri Daming (大名公主; w. 1426), putri ketujuh. Menikah pada tahun 1382 dengan Li Jian (李堅; w. 1401).[198]
    • Zhu Tan (朱檀), Pangeran Huang dari Lu (魯荒王; 1370–1390), putra kesepuluh[205]
  • Selir Zhaojingchong (昭敬充妃) dari klan Hu (胡氏)[201]
  • Selir Ding (定妃) dari klan Da (達氏; w. 1390)[207]
  • Selir An (安妃) dari klan Zheng (鄭氏)[210]
    • Putri Fuqing (福清公主; w. 1417), putri kedelapan. Menikah pada tahun 1385 dengan Zhang Lin (張麟), putra Zhang Long, Hou Fengxiang.[211]
  • Selir Hui (惠妃) dari klan Guo (郭氏)[212]
    • Zhu Chun (朱椿), Pangeran Xian dari Shu (蜀獻王; 1371–1423), putra ke-11[213]
    • Zhu Gui, Pangeran Jian dari Dai (1374–1446), putra ke-13[214]
    • Putri Zhenyi dari Yongjia (永嘉貞懿公主; 1376–1455), putri ke-12. Menikah pada tahun 1389 dengan Guo Zhen (郭鎮), putra Guo Ying, Hou Wuding.[215][212]
    • Zhu Hui (朱橞), Pangeran Gu (谷王; 1379–1428), putra ke-19[216]
    • Putri Ruyang (汝陽公主), putri ke-15. Menikah pada tahun 1394 dengan Xie Da (謝達).[200]
  • Selir Shun (順妃) dari klan Hu (胡氏)[212]
    • Zhu Bai (朱柏), Pangeran Xian dari Xiang (湘獻王; 1371–1399), putra ke-12[217]
  • Selir Xian (賢妃) dari klan Li (李氏)[218]
    • Zhu Jing, Pangeran Ding dari Tang (唐定王 朱桱; 1386–1415), putra ke-23[219]
  • Selir Hui dari klan Liu (惠妃 劉氏)[220]
    • Zhu Dong (朱棟), Pangeran Jing dari Ying (郢靖王; 1388–1414), putra ke-24[221]
  • Selir Li (麗妃) dari klan Ge (葛氏)[220]
    • Zhu Yi (朱㰘), Pangeran Li dari Yi (伊厲王; 1388–1414), putra ke-25[221]
    • Pangeran Zhu Nan (朱楠; 1394–1394), putra ke-26[222]
  • Selir Zhuangjinganronghui (莊靖安榮惠妃) dari klan Cui (崔氏)[223]
  • Selir (妃) dari klan Han (韓氏)[210]
    • Zhu Zhi, Pangeran Jian dari Liao (1377–1424), putra ke-15[224]
    • Putri Hanshan (含山公主; 1381–1462), putri ke-14. Menikah pada tahun 1394 dengan Yin Qing (尹清).[200]
  • Selir (妃) dari klan Yu (余氏)[225]
    • Zhu Zhan (朱㮵), Pangeran Jing dari Qing (慶靖王; 1378–1438), putra ke-16[226]
  • Selir (妃) dari klan Yang (楊氏)[227]
    • Zhu Quan, Pangeran Xian dari Ning (1378–1448), putra ke-17[228]
  • Selir (妃) dari klan Zhou (周氏)[227]
    • Zhu Pian (朱楩), Pangeran Zhuang dari Min (岷莊王; 1379–1450), putra ke-18[229]
    • Zhu Song (朱松), Pangeran Xian dari Han (韓憲王; 1380–1407), putra ke-20[230]
  • Selir (妃; w. 1398) dari klan Weng (翁氏)[231]
  • Selir (美人) dari klan Zhang (張氏), nama pribadi Xuanmiao (玄妙)[232]
    • Putri Baoqing (寶慶公主; 1395–1433), putri ke-16. Menikah pada tahun 1413 dengan Zhao Hui (趙輝).[200]
  • Selir (美人) dari klan Qu (屈氏)[232]
  • Nyonya Gao (郜氏)[227]
    • Zhu Yang (朱楧), Pangeran Zhuang dari Su (肅莊王; 1376–1420), putra ke-14[233]
  • Tidak diketahui
    • Putri Chongning, putri ketiga. Menikah pada tahun 1384 dengan Niu Cheng (牛城).[234]
    • Zhu Qi (朱杞), Pangeran Zhao (趙王; 1369–1371), putra kesembilan[205]
    • Putri Shouchun (壽春公主; w. 1388), putri kesembilan. Menikah pada tahun 1386 dengan Fu Zhong (傅忠), putra Fu Youde, Gong Ying.[199]
    • Putri Nankang (南康公主; w. 1438), nama pribadi Yuhua (玉華), putri ke-11. Menikah pada tahun 1388 dengan Hu Guan (胡觀), putra Hu Hai, Hou Dongchuan.[199]
    • Zhu Ying (朱楹), Pangeran Hui dari An (安惠王; 1383–1417), putra ke-22[219]

Silsilah

Silsilah dari Kaisar Hongwu[235]
16. Zhu Bailiu
8. Zhu Sijiu
17. Nyonya Hu
4. Zhu Chuyi
9. Nyonya Hou
2. Zhu Shizhen
5. Nyonya Wang
1. Kaisar Hongwu
6. Tuan Chen
3. Nyonya Chen

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Hanzi: 朱重八; Pinyin: Zhū Chóngbā[2]
  2. 1 2 21 Oktober 1328 adalah padanan Kalender Julian dari hari ke-18 bulan ke-9 tahun ke-1 era pemerintahan Tianli (天曆) dari Dinasti Yuan. Jika dihitung menggunakan Kalender Gregorian proleptik, tanggalnya adalah 29 Oktober.[3][4]
  3. ↑ Hanzi sederhana: 朱兴宗; Hanzi tradisional: 朱興宗; Pinyin: Zhū Xìngzōng[2]
  4. ↑ Hanzi: 朱元璋; Pinyin: Zhū Yuánzhāng[8]
  5. ↑ Hanzi sederhana: 吴; Hanzi tradisional: 吳; Pinyin: Wú[8]
  6. ↑ Hanzi: 洪武; Pinyin: Hóngwǔ[8]
  7. ↑ Hanzi sederhana: 钦明启运俊德成功统天大孝高皇帝; Hanzi tradisional: 欽明啟運俊德成功統天大孝高皇帝 (dianugerahkan oleh Kaisar Jianwen pada tahun 1398)[8]
  8. ↑ Hanzi sederhana: 圣神文武钦明启运俊德成功统天大孝高皇帝; Hanzi tradisional: 聖神文武欽明啟運俊德成功統天大孝高皇帝 (dianugerahkan oleh Kaisar Yongle pada tahun 1403)[8]
  9. ↑ Hanzi sederhana: 开天行道肇纪立极大圣至神仁文义武俊德成功高皇帝; Hanzi tradisional: 開天行道肇紀立極大聖至神仁文義武俊德成功高皇帝 (diubah oleh Kaisar Jiajing pada tahun 1538)[8]
  10. ↑ Hanzi: 太祖; Pinyin: Tàizǔ[8]
  11. ↑ Nama kehormatan: Guorui (Hanzi sederhana: 国瑞; Hanzi tradisional: 國瑞; Pinyin: Guóruì)[8]
  12. ↑ Ia menaklukkan Zhenjiang, Changzhou, Changxing, Jiangyin, Changshu, dan Yangzhou.[37]
  13. ↑ Wu merupakan istilah geografis yang berasal dari negara kuno Wu, yang merujuk pada bagian hilir Sungai Yangtze.
  14. ↑ Dinamai berdasarkan Prefektur Jinhua di Zhejiang, tempat mereka berkumpul.[46]
  15. ↑ Zhang Shicheng memproklamasikan dirinya sebagai Raja Zhou pada tahun 1354.[52] Pada tahun 1357, ia melepaskan gelar kerajaannya dan secara nominal tunduk pada pemerintah Yuan, meskipun ia terus memerintah wilayahnya secara independen.[53] Pada tahun 1363, ia memproklamasikan dirinya sebagai Raja Wu dan melepaskan kesetiaannya kepada Dinasti Yuan.[54]
  16. ↑ Fang Guozhen menguasai pesisir timur Tiongkok, Ming Yuzhen memerintah di Sichuan, dan tiga loyalis Yuan (Chen Youding, He Zhen, dan Basalawarmi) menguasai Fujian, Guangdong, dan Yunnan.[38]
  17. ↑ Beijing merujuk pada Kaifeng, yang secara sementara ditetapkan sebagai "Ibu Kota Utara", bukan kota Beijing masa kini.
  18. ↑ Pada tahun 1370, 34 jenderal terkemuka dianugerahi gelar gong dan hou. Dari jumlah tersebut, 6 orang bergelar gong dan 14 orang bergelar hou merupakan bagian dari 24 rekan awal Kaisar Hongwu, 5 orang bergelar hou bergabung pada tahun 1355 saat penyeberangan Sungai Yangtze (mereka termasuk pemberontak dari Danau Chao yang meletakkan dasar bagi armada kapal Zhu), dan 9 orang bergelar hou merupakan mantan komandan musuh yang menyerahkan diri. Pada tahun 1380, Sang Kaisar telah menunjuk 14 orang bergelar hou lagi dari kelompok-kelompok tersebut. Mereka semua diberi tanah dan penghasilan dari kas negara, tetapi bukan sebagai fief (tanah pertuanan).[103]
  19. ↑ Li Shanchang menjabat sebagai kanselir agung kiri dan Xu Da sebagai kanselir agung kanan dari tahun 1368 hingga 1371. Xu sempat menggantikan Li sebagai kanselir agung kiri pada tahun 1371, setelah itu jabatan tersebut tetap kosong hingga penunjukan Hu Weiyong pada tahun 1377. Wang Guangyang menjabat sebagai kanselir agung kanan dari tahun 1371 hingga 1373 dan sekali lagi dari tahun 1377 hingga 1380, sementara Hu Weiyong menjabat dalam posisi tersebut antara tahun 1373 dan 1377 sebelum menjadi kanselir agung kiri. Hu dan Wang merupakan pemegang terakhir dari kedua jabatan tersebut sebelum penghapusan jabatan kanselir pada tahun 1380.[110]
  20. ↑ Sebuah li terdiri dari 110 rumah tangga, yang mencakup sepuluh jia yang masing-masing terdiri dari sepuluh rumah tangga, serta sepuluh keluarga terkemuka yang biasanya merupakan keluarga terkaya. Keluarga-keluarga ini bertanggung jawab menunjuk ketua untuk mengumpulkan pajak dan mengawasi kerja bakti wajib, serta menyediakan layanan seperti pendidikan.[120]
  21. ↑ Sebuah satuan pengukuran tradisional Tionghoa untuk luas tanah
  22. ↑ Satu abad kemudian, cendekiawan terkemuka Zhu Yunming (1461–1527) mengenang bagaimana kakeknya dijatuhi hukuman mati setelah kehilangan dokumen perjalanannya, tetapi memperoleh pengampunan dari Sang Kaisar hanya beberapa menit sebelum eksekusinya.[141]
  23. ↑ Sebagai contoh, di antara 110 jinshi pada tahun 1400, 83 berasal dari keluarga petani, 16 dari keluarga militer, 6 dari keluarga terpelajar; tidak ada satu pun yang berasal dari keluarga pedagang. Diskriminasi terhadap pedagang berlangsung selama berabad-abad. Pada tahun 1544, tidak ada satu pun dari 312 jinshi baru yang berasal dari keluarga pedagang.[143]
  24. ↑ Sebagai contoh, pemberontakan Shao Rong (邵榮) pada tahun 1362.[24]
  25. ↑ Pada saat yang sama, Sang Kaisar menamai cucu keponakannya Zhu Shouqian (1364–1392) sebagai Pangeran Jingjiang.[155]
  26. ↑ Selama sensus tahun 1381, sebanyak 59.873.305 jiwa terhitung, tetapi karena sensus tersebut utamanya digunakan untuk menentukan kewajiban pajak, banyak warga yang sengaja menghindari penghitungan. Hanya 56.774.561 jiwa yang tercatat secara resmi pada tahun 1391. Pemerintah, yang percaya bahwa jumlah penduduk pasti telah meningkat selama sepuluh tahun perdamaian dan kemakmuran, memerintahkan penghitungan ulang pada tahun 1393. Kali ini, hasilnya adalah 60.545.812 jiwa, meskipun populasi sebenarnya kemungkinan lebih mendekati 75 juta jiwa.[165]

Referensi

Cari tahu mengenai Kaisar Hongwu pada proyek-proyek Wikimedia lainnya:
Gambar dan media dari Commons
Kutipan dari Wikiquote
Entri basisdata #Q9957 di Wikidata

Sitasi

  1. 1 2 Goodrich & Fang (1976), hlm. 258–259.
  2. 1 2 3 Hu (2001), hlm. 16.
  3. ↑ Teng (1976), hlm. 381.
  4. ↑ Mote (1988), hlm. 11.
  5. ↑ Tsai (2001), hlm. 28.
  6. ↑ Becker (1998), hlm. 131.
  7. ↑ Becker (2007), hlm. 167.
  8. 1 2 3 4 5 6 7 8 Moule (1957), hlm. 106.
  9. 1 2 Goodrich & Fang (1976), hlm. xxi.
  10. ↑ Dreyer (1982), hlm. 22–23.
  11. 1 2 3 4 5 Mote (1988), hlm. 44.
  12. ↑ Goodrich & Fang (1976), hlm. 381.
  13. ↑ Chan, David B. "Hongwu". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Mei 2020. Diakses tanggal 19 Juni 2011.
  14. ↑ Zhou (2017), hlm. 37.
  15. ↑ Hu (2001), hlm. 1.
  16. ↑ Mote (2003), hlm. 544.
  17. ↑ Mote (1988), hlm. 44–45.
  18. ↑ Mote (2003), hlm. 546.
  19. ↑ Farmer (1995), hlm. 18.
  20. 1 2 Gascoigne (2003), hlm. 150.
  21. ↑ Farmer (1995), hlm. 23–24.
  22. 1 2 3 4 5 6 7 Dreyer (1988), hlm. 62.
  23. ↑ Mote (2003), hlm. 548.
  24. 1 2 3 Dreyer (1982), hlm. 67.
  25. ↑ Ebrey (1999), hlm. 190–191.
  26. ↑ Mote (2003), hlm. 549.
  27. ↑ Mote (2003), hlm. 550.
  28. ↑ Dreyer (1988), hlm. 63.
  29. 1 2 3 Dreyer (1988), hlm. 68.
  30. ↑ Dreyer (1988), hlm. 68–69.
  31. 1 2 Dreyer (1988), hlm. 69.
  32. ↑ Wu (1980), hlm. 61.
  33. 1 2 3 Dreyer (1988), hlm. 70.
  34. ↑ Mote (2003), hlm. 552.
  35. 1 2 Mote (1988), hlm. 52.
  36. ↑ Farmer (1995), hlm. 23.
  37. 1 2 3 4 Dreyer (1988), hlm. 71.
  38. 1 2 3 4 5 6 Dreyer (1988), hlm. 72.
  39. ↑ Mote (1988), hlm. 53.
  40. ↑ Mote (1988), hlm. 52–53.
  41. ↑ Wu (1980), hlm. 79.
  42. ↑ Farmer (1995), hlm. 5–6.
  43. ↑ Wu (1980), hlm. 72.
  44. ↑ Mote (1988), hlm. 48.
  45. 1 2 Mote (1988), hlm. 54.
  46. 1 2 Dardess (1983), hlm. 582.
  47. ↑ Theobald, Ulrich. "Chinese History - Yuan Dynasty 元朝 (1206/79-1368) event history. The End of Mongol Rule". Chinaknowledge - a universal guide for China studies. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Desember 2010. Diakses tanggal 16 Januari 2011.
  48. 1 2 Farmer (1995), hlm. 7.
  49. ↑ Dreyer (1982), hlm. 123.
  50. 1 2 Fairbank & Goldman (2006), hlm. 128–129.
  51. ↑ Hucker (1998), hlm. 14.
  52. ↑ Mote (1988), hlm. 31.
  53. ↑ Mote (1988), hlm. 33.
  54. 1 2 3 Mote (1988), hlm. 55.
  55. ↑ Dreyer (1988), hlm. 77.
  56. ↑ Dreyer (1988), hlm. 78.
  57. ↑ Dreyer (1988), hlm. 79.
  58. ↑ Dreyer (1988), hlm. 82.
  59. 1 2 Mote (1988), hlm. 51.
  60. 1 2 3 Dreyer (1988), hlm. 83.
  61. ↑ Dreyer (1988), hlm. 84.
  62. ↑ Dreyer (1988), hlm. 85–86.
  63. ↑ Dreyer (1988), hlm. 87.
  64. 1 2 Dreyer (1988), hlm. 89.
  65. ↑ Dreyer (1988), hlm. 89–90.
  66. ↑ Dreyer (1988), hlm. 90–91.
  67. ↑ Wakeman (1985), hlm. 25.
  68. ↑ Dreyer (1988), hlm. 91.
  69. 1 2 Dreyer (1988), hlm. 91–92.
  70. ↑ Dreyer (1988), hlm. 92.
  71. ↑ Dreyer (1988), hlm. 92–93.
  72. ↑ Dreyer (1988), hlm. 93–94.
  73. ↑ Dreyer (1982), hlm. 69–70.
  74. 1 2 Langlois (1988), hlm. 111.
  75. ↑ Dreyer (1988), hlm. 96–97.
  76. 1 2 Dreyer (1988), hlm. 97.
  77. ↑ Dreyer (1988), hlm. 96.
  78. ↑ Langlois (1988), hlm. 112.
  79. ↑ Langlois (1988), hlm. 112–113.
  80. ↑ Langlois (1988), hlm. 113.
  81. ↑ Dreyer (1988), hlm. 98.
  82. ↑ Dreyer (1982), hlm. 71.
  83. ↑ Langlois (1988), hlm. 117.
  84. ↑ Dreyer (1988), hlm. 99–100.
  85. ↑ Dreyer (1982), hlm. 72.
  86. ↑ Langlois (1988), hlm. 119.
  87. 1 2 3 Langlois (1988), hlm. 120.
  88. 1 2 Dreyer (1982), hlm. 73.
  89. 1 2 Dreyer (1982), hlm. 74.
  90. ↑ Langlois (1988), hlm. 144–146.
  91. 1 2 Dreyer (1982), hlm. 75.
  92. ↑ Dreyer (1988), hlm. 103.
  93. 1 2 Dreyer (1982), hlm. 103.
  94. ↑ Farmer (1995), hlm. 10.
  95. ↑ Langlois (1988), hlm. 156.
  96. ↑ Farmer (1995), hlm. 15.
  97. ↑ Andrew & Rapp (2000), hlm. 25.
  98. ↑ Brook (1998), hlm. 22.
  99. ↑ Langlois (1988), hlm. 114.
  100. 1 2 3 Langlois (1988), hlm. 118.
  101. ↑ Langlois (1988), hlm. 124.
  102. 1 2 Langlois (1988), hlm. 107.
  103. 1 2 3 4 Dreyer (1988), hlm. 105.
  104. 1 2 3 4 5 Dreyer (1988), hlm. 104.
  105. 1 2 Huang (1998), hlm. 106.
  106. 1 2 3 Dreyer (1982), hlm. 68.
  107. ↑ Chan (2007), hlm. 53.
  108. ↑ Tsai (1996), hlm. 13.
  109. ↑ Hucker (1958), hlm. 27.
  110. ↑ History of Ming, jilid 109, hlm. 3306–3309.
  111. ↑ Dreyer (1982), hlm. 96.
  112. 1 2 Hucker (1958), hlm. 49.
  113. 1 2 Ch'ien (1982), hlm. 93.
  114. 1 2 Langlois (1988), hlm. 127.
  115. 1 2 3 4 Ebrey (1999), hlm. 192.
  116. 1 2 Hucker (1958), hlm. 13.
  117. ↑ Ebrey (1999), hlm. 191–192.
  118. ↑ Dreyer (1988), hlm. 123.
  119. ↑ Brook (1998), hlm. 23.
  120. ↑ Littrup (1977), hlm. 40–41.
  121. ↑ Huang (1998), hlm. 134.
  122. 1 2 3 Huang (1998), hlm. 107.
  123. ↑ Li (2007), hlm. 121.
  124. 1 2 Theobald, Ulrich. "Chinese History - Ming Dynasty 明朝 (1368-1644). Economy". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Desember 2010. Diakses tanggal 15 Februari 2011.
  125. ↑ Li (2010), hlm. 47.
  126. 1 2 3 Li (2010), hlm. 38.
  127. ↑ Li (2010), hlm. 39.
  128. ↑ Brook (1998), hlm. 31–32.
  129. ↑ Wu (1980), hlm. 222.
  130. ↑ Wu (1980), hlm. 217.
  131. ↑ Li (2010), hlm. 28–29.
  132. ↑ Li (2010), hlm. 28.
  133. 1 2 3 4 Li (2010), hlm. 29.
  134. 1 2 3 Li (2010), hlm. 30.
  135. ↑ Li (2010), hlm. 32–33.
  136. ↑ Shang (1959), hlm. 404.
  137. ↑ Shang (1959), hlm. 403.
  138. ↑ Shang (1959), hlm. 406–407.
  139. ↑ Brook (1998), hlm. 29.
  140. ↑ Brook (1998), hlm. 67.
  141. 1 2 3 4 Li (2010), hlm. 37.
  142. ↑ Brook (1998), hlm. 19.
  143. 1 2 3 Li (2010), hlm. 35.
  144. ↑ Li (2010), hlm. 37l6.
  145. 1 2 3 Dreyer (1982), hlm. 115.
  146. ↑ Li (2010), hlm. 3.
  147. ↑ Li (2010), hlm. 4.
  148. 1 2 3 4 5 Dreyer (1982), hlm. 117.
  149. ↑ Dreyer (1982), hlm. 116.
  150. 1 2 3 Dreyer (1982), hlm. 120.
  151. ↑ Chase (2003), hlm. 42.
  152. ↑ Chan (2007), hlm. 51–52.
  153. ↑ Chan (2007), hlm. 54.
  154. ↑ Chan (2007), hlm. 54–55.
  155. ↑ Chan (2007), hlm. 48.
  156. 1 2 3 Dreyer (1982), hlm. 148.
  157. ↑ Rybakov (1999), hlm. 528.
  158. 1 2 Ebrey (1999), hlm. 192–193.
  159. 1 2 Fairbank & Goldman (2006), hlm. 130.
  160. ↑ Chan (1988), hlm. 187.
  161. 1 2 Dreyer (1982), hlm. 105.
  162. ↑ Langlois (1988), hlm. 149–151.
  163. ↑ Langlois (1988), hlm. 150, 155–156.
  164. ↑ Dreyer (1982), hlm. 125.
  165. ↑ Brook (1998), hlm. 28.
  166. ↑ Dreyer (1982), hlm. 126.
  167. ↑ Huang (1998), hlm. 135.
  168. ↑ Li (2010), hlm. 30–31.
  169. ↑ Langlois (1988), hlm. 146.
  170. 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 107.
  171. ↑ Li (2010), hlm. 24.
  172. 1 2 Wakeman (1985), hlm. 31.
  173. ↑ Dreyer (1982), hlm. 140.
  174. ↑ Dreyer (1982), hlm. 143.
  175. ↑ Kavalski (2009), hlm. 23.
  176. 1 2 3 Dreyer (1982), hlm. 149.
  177. ↑ Goodrich & Fang (1976), hlm. 346–347.
  178. 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 147.
  179. ↑ Langlois (1988), hlm. 181.
  180. ↑ Teng (1976), hlm. 391.
  181. ↑ Chan (1988), hlm. 185.
  182. ↑ Mote (2003), hlm. 586.
  183. 1 2 3 4 Dreyer (1982), hlm. 152.
  184. ↑ Ebrey (2009), hlm. 223.
  185. ↑ Britannica Educational Publishing (2010), hlm. 193.
  186. 1 2 Farmer (1995), hlm. 17.
  187. ↑ Dreyer (1982), hlm. 106.
  188. ↑ History of Ming, jilid 113, hlm. 3505.
  189. ↑ History of Ming, jilid 115, hlm. 3549.
  190. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559–3560.
  191. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559, 3562.
  192. ↑ History of Ming, jilid 5, hlm. 69.
  193. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559, 3565–3566.
  194. ↑ History of Ming, jilid 121, hlm. 3663–3664.
  195. ↑ History of Ming, jilid 121, hlm. 3664–3665.
  196. ↑ Wong (1997), hlm. 4.
  197. ↑ History of Ming, jilid 121, hlm. 3662–3663.
  198. 1 2 3 History of Ming, jilid 121, hlm. 3665.
  199. 1 2 3 History of Ming, jilid 121, hlm. 3666.
  200. 1 2 3 4 History of Ming, jilid 121, hlm. 3667.
  201. 1 2 3 4 Wong (1997), hlm. 7.
  202. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3606.
  203. ↑ Wong (1997), hlm. 13.
  204. ↑ Wong (1997), hlm. 8.
  205. 1 2 History of Ming, jilid 116, hlm. 3559, 3575.
  206. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559, 3570.
  207. ↑ Wong (1997), hlm. 11.
  208. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559, 3573–3574.
  209. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559, 3574.
  210. 1 2 Wong (1997), hlm. 18.
  211. ↑ History of Ming, jilid 121, hlm. 3665–3666.
  212. 1 2 3 Wong (1997), hlm. 10.
  213. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3579–3580.
  214. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3581–3582.
  215. ↑ History of Ming, jilid 121, hlm. 3666–3667.
  216. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3603–3604.
  217. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3581.
  218. ↑ Wong (1997), hlm. 16.
  219. 1 2 History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3607.
  220. 1 2 Wong (1997), hlm. 17.
  221. 1 2 History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3610.
  222. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3612.
  223. ↑ Wong (1997), hlm. 22.
  224. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3586–3587.
  225. ↑ Wong (1997), hlm. 19.
  226. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3588–3589.
  227. 1 2 3 Wong (1997), hlm. 20.
  228. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3591–3593.
  229. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3602.
  230. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 118, hlm. 3604.
  231. ↑ Wong (1997), hlm. 23.
  232. 1 2 Wong (1997), hlm. 21.
  233. ↑ History of Ming, jilid 116, hlm. 3559; jilid 117, hlm. 3585.
  234. ↑ History of Ming, jilid 121, hlm. 3664.
  235. ↑ Xia, 2003 & hlm. 65–66. sfnp error: tanpa target: CITEREFXia2003hlm._65–66 (bantuan)

Karya yang dikutip

Bacaan lanjutan

Kaisar Hongwu
Lahir: 21 Oktober 1328 Meninggal: 24 Juni 1398
Gelar kebangsawanan
Jabatan baru
Dinasti Ming didirikan
Kaisar Dinasti Ming
23 Januari 1368 – 24 Juni 1398
Diteruskan oleh:
Kaisar Jianwen
Didahului oleh:
Ukhaghatu Khan Toghon Temür (Dinasti Yuan)
Kaisar Tiongkok
23 Januari 1368 – 24 Juni 1398
Keluarga Aisin Gioro
Lowong Raja Wu
1364–1368
Disatukan dengan Takhta
Ming
Ming Selatan
Xia → Shang → Zhou → Qin → Han → 3 Negara → Jìn / 16 Negara → Dinasti Selatan / Dinasti Utara → Sui → Tang → 5 Dinasti & 10 Negara - Liao / Song / Xia Barat / Jīn → Yuan → Ming → Qing → RT / RRT
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan