Jumat, 23 Oktober 2026
15:59 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Kaisar Taichang

Kaisar Taichang

kaisar ke-15 Dinasti Ming

Bagikan:
Kaisar Taichang
泰昌帝
Potret Kaisar Taichang sedang duduk di atas takhtanya
Potret istana pada lukisan gulung
Kaisar Dinasti Ming
Berkuasa28 Agustus 1620 – 26 September 1620
Naik takhta28 Agustus 1620
PendahuluKaisar Wanli
PenerusKaisar Tianqi
Lahir(1582-08-28)28 Agustus 1582
Meninggal26 September 1620(1620-09-26) (umur 38)
Pemakaman
AyahKaisar Wanli
IbuNyonya Wang
Selir
​
​
(m. 1601;meninggal 1613)​
​
(meninggal 1619)​
​
(meninggal 1614)​
Keturunan
Detail
Taichang:[a] 28 Agustus 1620 – 21 Januari 1621[2][b]
Nama anumerta
Kaisar Chongtian Qidao Yingrui Gongchun Xianwen Jingwu Yuanren Yixiao Zhen[c]
Nama kuil
Guangzong[d]
WangsaZhu
DinastiMing
Kaisar Taichang
Hanzi: 泰昌帝
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Tàichāng Dì
- Wade-Giles: Tʻai4-chʻang1 Ti4

Kaisar Taichang (28 Agustus 1582 – 26 September 1620), nama pribadi Zhu Changluo,[e] adalah kaisar ke-15 Dinasti Ming di Tiongkok. Ia merupakan putra sulung Kaisar Wanli dan menggantikan ayahnya sebagai kaisar pada tahun 1620. Masa pemerintahannya berakhir secara mendadak kurang dari satu bulan setelah penobatannya ketika ia ditemukan meninggal pada suatu pagi di istana setelah mengalami serangan diare. Masa pemerintahannya merupakan yang tersingkat dalam sejarah Ming.

Zhu Changluo lahir pada tahun kesepuluh masa pemerintahan Kaisar Wanli. Ibunya, Nyonya Wang, adalah seorang pelayan dari ibu Kaisar. Nyonya Wang dipromosikan, tetapi tidak mendapatkan kasih sayang dari Kaisar Wanli, dan Kaisar mengabaikan putra mereka. Sebaliknya, ia lebih menyukai selir lainnya, Nyonya Zheng, dan putranya, Zhu Changxun. Kaisar bermaksud mengangkat Zhu Changxun sebagai putra mahkota, tetapi pilihan ini menghadapi penolakan keras dari para menteri. Akibat keteguhan sikap dari kedua belah pihak, persoalan ini mengalami kebuntuan selama bertahun-tahun. Di bawah tekanan dari ibu dan para pejabatnya, Kaisar secara resmi mengangkat Zhu Changluo yang berusia sembilan belas tahun sebagai putra mahkota pada tahun 1601, tetapi intrik-intrik yang menentang sang putra mahkota terus berlanjut di istana. Ketegangan ini memuncak dalam sebuah insiden serius pada tahun 1615 yang mengancam keselamatan putra mahkota dan menimbulkan kecurigaan atas keterlibatan tokoh-tokoh yang dekat dengan Nyonya Zheng.

Kaisar Wanli meninggal pada 18 Agustus 1620, dan Zhu Changluo secara resmi naik takhta sebagai Kaisar Taichang pada 28 Agustus. Namun, hanya beberapa hari setelah penobatannya, ia jatuh sakit dan meninggal pada 26 September, meskipun telah dilakukan berbagai upaya pengobatan. Putra sulung Kaisar Taichang, Zhu Youjiao, kemudian naik takhta sebagai Kaisar Tianqi. Kematian kaisar yang berusia relatif muda ini memicu kecurigaan, spekulasi, dan tuduhan balasan di antara berbagai faksi istana.

Kehidupan awal

Kaisar Wanli mengenakan jubah naga kekaisaran berhiaskan sulaman kaya naga berwarna-warni dan motif awan, serta topi istana hitam yang dihiasi dekorasi emas
Kaisar Wanli, ayah sekaligus pendahulu Kaisar Taichang

Zhu Changluo, calon Kaisar Taichang, lahir pada 28 Agustus 1582[5] di istana kekaisaran, Beijing, sebagai putra pertama Kaisar Wanli, kaisar ke-14 Dinasti Ming Tiongkok. Ibunya, Nyonya Wang, adalah seorang pelayan dari Ibu Suri Xiaoding, ibu Kaisar. Meskipun Kaisar Wanli awalnya tidak ingin berurusan dengan anak tersebut, Ibu Suri meyakinkannya untuk mengakui statusnya sebagai ayah dengan menunjukkan catatan kunjungannya.[6] Ia juga mendesak promosi Nyonya Wang menjadi selir kekaisaran dengan gelar "Selir Gong" (恭妃). Ketertarikan Kaisar terhadap Nyonya Wang dengan cepat memudar karena ia terpikat oleh selir lain, Nyonya Zheng, yang melahirkan putra lain untuknya, Zhu Changxun (1586–1641).[6]

Pada tahun 1586, masalah suksesi muncul ketika Kaisar mempromosikan Nyonya Zheng ke tingkat "Selir Mulia Agung" (Huang Guifei),[7][8] menempatkannya tepat di bawah Permaisuri dan di atas selir-selir lainnya, termasuk Nyonya Wang. Ia lebih memilih Zhu Changxun, putra ketiganya, untuk menggantikannya daripada Zhu Changluo. Hal ini menyebabkan perpecahan di antara para pejabat, dengan sebagian membela hak putra pertama berdasarkan hukum primogenitur, sementara yang lain mendukung Nyonya Zheng dan putranya.[7] Dukungan luas terhadap putra sulung membuat Kaisar menunda pengambilan keputusan,[7] seraya menyatakan bahwa ia sedang menunggu kelahiran seorang putra dari Permaisuri.[9][f] Permohonan diajukan untuk mengangkat Zhu Changluo sebagai putra mahkota pada usia delapan tahun agar pendidikannya dapat dimulai secara resmi. Akan tetapi, Kaisar berargumen bahwa para pangeran secara tradisional diajar oleh kasim istana.[11]

Pada tahun 1589, Kaisar menyetujui untuk menetapkan Zhu Changluo sebagai penerusnya. Nyonya Zheng menentang keputusan ini, sehingga memicu kontroversi yang cukup besar. Dua tahun kemudian, peredaran sebuah pamflet di Beijing yang menuduhnya bersekongkol dengan para pejabat senior untuk melawan putra sulung Kaisar menyebabkan terjadinya penangkapan. Terlepas dari hal tersebut, Kaisar berusaha menampilkan Nyonya Zheng dalam citra yang positif kepada publik.[8]

Kegagalan dalam menetapkan penerus memicu protes tidak hanya dari pejabat-pejabat yang beroposisi, tetapi juga dari para pejabat tinggi seperti sekretaris agung Shen Shixing (menjabat 1578–1591) dan Wang Xijue (menjabat 1584–1591 dan 1593–1594).[7] Permaisuri[12] dan Ibu Suri Li juga mendukung hak-hak Zhu Changluo,[9] tetapi Kaisar Wanli tidak menetapkannya sebagai putra mahkota hingga tahun 1601, setelah adanya protes dan permohonan lebih lanjut.[9][13] Pada saat yang sama, Kaisar memberi Zhu Changxun gelar Pangeran Fu,[14] tetapi menahannya di Beijing ketimbang mengutusnya ke provinsi yang jauh sebagaimana rencana awal saat ia genap berusia delapan belas tahun pada tahun 1604. Hal ini memicu rumor bahwa masalah suksesi masih terbuka.[15] Baru pada tahun 1614, setelah serangkaian panjang permohonan dan protes, Ibu Suri Li campur tangan dan mendesak agar Zhu Changxun dikirim ke daerah.[9][13][16]

Kasus serangan dengan tongkat

Pada akhir Mei 1615, "kasus serangan dengan tongkat" (梃擊案) terjadi ketika seorang pria bernama Zhang Chai ditangkap di dekat istana Zhu Changluo karena membawa sebatang tongkat. Belakangan disimpulkan bahwa Zhang, yang mengalami gangguan jiwa,[17] berniat menggunakan tongkat tersebut untuk menyelesaikan konflik pribadi dengan dua kasim istana yang ia temui di luar kota. Pada awalnya, kasus tersebut ditutup dan Zhang dieksekusi,[18] tetapi pejabat penjara Wang Zhicai campur tangan dan mendesak dilakukannya penyelidikan terbuka yang melibatkan perwakilan dari Kementerian Kehakiman. Versi baru dari kasus ini mengindikasikan bahwa Zhang Chai berakal sehat dan telah dimanipulasi oleh dua kasim yang dekat dengan Nyonya Zheng dan saudaranya. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa tujuan mereka adalah membunuh sang putra mahkota dan mendudukkan putra Nyonya Zheng untuk menggantikannya.[19] Kasus ini menimbulkan kegemparan di istana dan Kaisar Wanli mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan memanggil para pejabat sipil dan militer untuk menghadiri sebuah pertemuan. Ini adalah pertama kalinya Kaisar bertemu dengan para pejabat dari "istana luar" sejak tahun 1602.[20] Ia muncul di hadapan mereka bersama keluarganya, termasuk Zhu Changluo serta putra-putra dan putrinya, lalu mengungkapkan kekecewaan dan ketidakpercayaannya bahwa mereka meragukan hubungannya dengan sang putra mahkota yang ia percayai dan andalkan. Zhu Changluo juga mengonfirmasi hubungan dekatnya dengan sang ayah dan meminta agar peristiwa tersebut diakhiri. Meskipun demikian, Kaisar memerintahkan eksekusi terhadap Zhang dan kedua kasim yang terlibat dalam kasus tersebut,[21] tetapi para perwakilan dari Kementerian Kehakiman menuntut penyelidikan lebih lanjut dan para sekretaris agung menengahi sebuah kompromi. Zhang Chai dieksekusi keesokan harinya, tetapi kasim-kasim yang dicurigai harus diinterogasi. Interogasi memang terlaksana, tetapi kedua kasim tersebut tetap berada di bawah pengawasan para kasim Kaisar. Pada hari kelima setelah pidato Kaisar, para pejabat diberitahu bahwa kedua kasim tersebut telah meninggal dunia selama penahanan istana.[19]

Masa pemerintahan

Kaisar Taichang mengenakan jubah naga kekaisaran berhiaskan sulaman kaya naga berwarna-warni dan motif awan, serta topi istana hitam yang dihiasi dekorasi emas
Potret Kaisar Taichang

Pada 18 Agustus 1620, Kaisar Wanli meninggal dunia.[22] Zhu Changluo secara resmi naik takhta pada 28 Agustus 1620. Ia memilih nama Taichang untuk eranya, yang melambangkan kedamaian dan kemakmuran sebagai kontras dari pergolakan pada masa pemerintahan sebelumnya.[3] Banyak orang di Beijing memandang penguasa baru ini sebagai kesempatan untuk memulai lembaran baru. Karena ia bukan pilihan utama ayahnya dan keduanya tidak pernah dekat, timbul harapan bahwa ia akan meninggalkan kebijakan-kebijakan Kaisar Wanli serta menerapkan reformasi yang diperlukan. Pada 19 Agustus, 1 juta liang (37,3 ton) perak dikirim dari perbendaharaan istana untuk mempertahankan perbatasan timur laut. Situasi di Liaodong telah menjadi kritis seiring serangan-serangan yang dilancarkan oleh bangsa Jurchen pimpinan Nurhaci. Selain itu, pajak pertambangan dan perdagangan yang telah diperkenalkan pada dekade 1590-an dihapuskan, dan para komisaris pajak dari kalangan kasim, yang bertanggung jawab memungut pajak-pajak tersebut, ditarik kembali dari daerah-daerah. Seluruh tindakan ini dijalankan sesuai dengan wasiat terakhir mendiang kaisar. Pada 21 Agustus, Kaisar Taichang mengirimkan 1 juta liang perak lagi ke Liaodong.[22]

Untuk mengatasi kekosongan jabatan yang telah lama terjadi dalam administrasi pemerintahan, Kaisar Taichang mengangkat pejabat-pejabat baru. Banyak di antara mereka merupakan pengkritik pemerintahan sebelumnya yang sempat diberhentikan karena menentang Kaisar Wanli. Di antara pejabat pertama yang dipanggil adalah Zou Yuanbiao (鄒元標; 1551–1624) dan Feng Congwu (馮從吾; 1556–1627), yang keduanya terhubung dengan Gerakan Donglin.[3][g] Banyak pejabat yang belakangan menjadi tokoh-tokoh kunci Donglin telah mendukung Zhu Changluo selama perselisihan mengenai suksesi pada dekade 1580-an dan 1590-an.[23]

Penyakit dan kematian

Tiga hari setelah penobatannya, Kaisar Taichang jatuh sakit. Pada 5 September, kondisinya memburuk, dan ia memanggil tabib Chen Xi. Selama audiensi pada 8 dan 9 September, ia terlihat kurang sehat dan tidak lama kemudian hanya bisa berbaring di tempat tidur. Pada 13 September, Chen Xi mengunjunginya kembali bersama sekelompok pejabat. Kaisar mengeluhkan insomnia dan kehilangan nafsu makan.[24] Para pejabat merasa cemas. Setelah mengetahui bahwa Cui Wensheng (崔文升), kasim yang bertanggung jawab atas klinik kekaisaran, telah memberikan obat pencahar kepada Kaisar, mereka menuduhnya tidak kompeten. Para pejabat percaya bahwa Kaisar sebenarnya membutuhkan obat penguat. Kaisar menolak untuk menerima tuduhan tersebut, tetapi juga berhenti meminum obat pencahar itu.[24]

Beberapa hari berlalu dengan Kaisar menjalankan tugas pemerintahan dari tempat tidurnya, tetapi pada 17 September, ia merasa sangat kepayahan dan mulai berbicara tentang kematiannya yang sudah dekat.[23] Dalam sebuah kunjungan dari para pejabat yang cemas —dipimpin oleh Sekretaris Agung Fang Congzhe pada 25 September —Kaisar meminta pil merah, yang didengarnya diproduksi oleh Li Keshao, seorang asisten direktur di Dewan Upacara Negara. Li belakangan bersaksi bahwa ia percaya pil buatannya membantu memperkuat tubuh Kaisar yang sedang sakit. Pada hari yang sama, para pengawal kekaisaran dan kasim membawa Li menghadap Kaisar, yang kemudian memerintahkannya untuk membuat pil tersebut.[24] Di hadapan tiga belas pejabat, Li membuat pil tersebut menggunakan timbal, mineral musim gugur, susu manusia, dan sinabar. Keempatnya merupakan obat tonik yang diakui dalam pengobatan tradisional Tionghoa, dan para kasim Kaisar menyediakannya untuk Li. Ia kemudian memberikan satu pil kepada Kaisar, yang merasa lega dan mulai merasa lapar, lalu meminta pil kedua. Namun, Li menolak seraya menyatakan bahwa satu pil saja sudah cukup dan dua pil akan berlebihan. Kaisar kemudian menyuruh Li dan para pejabat pulang setelah tengah malam. Keesokan harinya pada fajar menyingsing, para kasim mengumumkan bahwa Kaisar telah meninggal dunia.[25] Beberapa anggota gerakan Donglin menuduh Li Keshao dan Fang Congzhe telah meracuni Kaisar, sementara pejabat lain di antara tiga belas pejabat yang hadir mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati, berupaya membersihkan diri mereka dari tuduhan kelalaian.[25] Kontroversi di seputar pil merah tersebut—apakah pil itu menyebabkan kematian Kaisar secara sengaja atau tidak sengaja, yang kemudian dikenal sebagai Kasus Pil Merah (紅丸案)—memicu perdebatan sengit dan tuduhan-tuduhan selama beberapa tahun berikutnya.[23][25]

Setelah kematian Kaisar Taichang, perebutan kekuasaan muncul terkait suksesi putranya yang berusia empat belas tahun, Zhu Youjiao. Nyonya Li, selir kesayangan Kaisar, berselisih dengan para menteri dan sekretaris agung untuk memperebutkan kendali. Terlepas dari perlawanan Nyonya Li dan para kasimnya, seorang kasim yang setia kepada para pejabat akhirnya menyerahkan anak itu kepada mereka, dan Nyonya Li belakangan diasingkan ke kediaman lain di dalam istana.[26][h] Zhu Youjiao secara resmi naik takhta sebagai Kaisar Tianqi pada 1 Oktober 1620.[4] Putra kelima Kaisar Taichang, Zhu Youjian, belakangan naik takhta dan memerintah sebagai Kaisar Chongzhen dari tahun 1627 hingga 1644.[27]

Keluarga

Selir-selir Kaisar Taichang
Nyonya Guo mengenakan mahkota feniks yang rumit dan jubah bertatahkan dekorasi kaya dengan motif burung
Nyonya Guo, istri pertama Kaisar Taichang
  • Permaisuri Xiaoyuanzhen (孝元貞皇后) dari klan Guo (郭氏; wafat 1613)[28]
    • Putri Huaishu (懷淑公主), nama pribadi Huijian (徽娟), putri kedua[29]
  • Ibu Suri Xiaohe (孝和皇太后) dari klan Wang (王氏; 1582–1619)[30]
    • Zhu Youjiao (朱由校), Kaisar Tianqi (天啓帝; 1605–1627), putra pertama[31]
    • Zhu Youxue (朱由㰒), Pangeran Huai dari Jian (簡懷王), putra kedua[32]
  • Ibu Suri Xiaochun (孝純皇太后) dari klan Liu (劉氏; 1592–1614)[33]
  • Selir Gongyihuishunzhuang (恭懿惠順莊妃) dari klan Li (李氏; 1588–1624)[35]
  • Selir Yi (懿妃) dari klan Fu (傅氏)[36]
    • Putri Ningde (寧德公主), nama pribadi Huiyan (徽妍), putri keenam. Menikah dengan Liu Youfu (劉有福).[29]
    • Putri Suiping (遂平公主), nama pribadi Huijing (徽婧), putri ketujuh. Menikah pada tahun 1627 dengan Qi Zanyuan (齊贊元).[29]
    • Zhu Youxu (朱由栩), Pangeran Huai dari Xiang (湘懷王), putra keenam[37]
  • Selir Kang (康妃) dari klan Li (李氏)[38]
    • Zhu Youmo (朱由模), Pangeran Hui dari Huai (懷惠王), putra keempat[39]
    • Putri Le'an (樂安公主; wafat 1643), nama pribadi Huiti (徽媞), putri kesembilan. Menikah dengan Gong Yonggu (鞏永固; wafat 1644).[40]
  • Selir Jing (敬妃) dari klan Feng (馮氏)[41]
    • Zhu Youshan (朱由橏), Pangeran Zhao dari Hui (慧昭王), putra ketujuh[37]
  • Selir Shen (慎嬪) dari klan Shao (邵氏)[42]
    • Putri Daowen (悼溫公主), nama pribadi Huizheng (徽姃), putri ke-11[43]
  • Selir Xiang (襄嬪) dari klan Zhang (張氏)[44]
  • Selir Ke (恪嬪) dari klan Li (李氏)[45]
  • Selir Ding (定嬪) dari klan Guo (郭氏; lahir 1591)[45]
  • Xuanshi (選侍) dari klan Wang (王氏)[46]
    • Zhu Youji (朱由楫), Pangeran Si dari Qi (齊思王), putra ketiga[39]
  • Xuanshi (選侍) dari klan Zhao (趙氏; wafat 1620)[47]
  • Tidak diketahui
    • Putri Daoyi (悼懿公主), putri pertama[48]
    • Zhu Huiheng (朱徽姮), putri ketiga[49]
    • Putri Daoshun (悼順公主), nama pribadi Huixian (徽嫙), putri keempat[49]
    • Zhu Huiweng (朱徽㜲), putri kelima[49]
    • Zhu Huiwan (朱徽婉), putri kedelapan[49]
    • Zhu Huizhao (朱徽妱), putri kesepuluh[50]

Lihat pula

Silsilah Kaisar Tiongkok (akhir)

Catatan

  1. ↑ Hanzi: 泰昌; Pinyin: Tàichāng[1]
  2. ↑ Era Taichang secara resmi diumumkan dimulai pada hari pertama tahun baru imlek berikutnya (22 Januari 1621),[3] tetapi Kaisar meninggal sebelum tanggal tersebut. Atas saran dari seorang pemimpin faksi Donglin, istana memutuskan untuk menetapkan era Taichang mencakup periode dari naik takhtanya Kaisar pada 28 Agustus 1620 hingga akhir tahun imlek berjalan pada 21 Januari 1621.[4]
  3. ↑ Hanzi sederhana: 崇天契道英睿恭纯宪文景武渊仁懿孝贞皇帝; Hanzi tradisional: 崇天契道英睿恭純憲文景武淵仁懿孝貞皇帝 (dianugerahkan oleh Kaisar Tianqi pada tahun 1620)[1]
  4. ↑ Hanzi: 光宗; Pinyin: Guāngzōng[1]
  5. ↑ Hanzi: 朱常洛; Pinyin: Zhū Chángluò[1]
  6. ↑ Pada masa Dinasti Ming, suksesi kekaisaran mengikuti prinsip primogenitur. Menurut Petunjuk Leluhur dari Kaisar Hongwu, pendiri dinasti tersebut, takhta harus diwarisi oleh putra sulung yang lahir dari kaisar dan permaisuri, atau oleh ahli waris langsungnya, diikuti oleh putra-putra permaisuri yang lebih muda. Putra-putra yang lahir dari selir tidak termasuk dalam garis suksesi.[10]
  7. ↑ Gerakan ini terdiri dari dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama beranggotakan para cendekiawan dan pejabat yang berafiliasi dengan Akademi Donglin. Tujuan mereka adalah mewujudkan perbaikan masyarakat dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui reformasi moral. Kelompok kedua terdiri dari para pejabat yang terlibat dalam perselisihan politik dan berfokus pada pemulihan integritas dinas sipil negara. Meskipun mereka sering dikaitkan dengan akademi tersebut, peran utama mereka adalah sebagai aktivis politik.[3]
  8. ↑ Perebutan kekuasaan ini dikenal sebagai "Kasus Pemindahan Istana" (移宮案).[4]

Referensi

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Taichang Emperor.

Sitasi

  1. 1 2 3 4 Moule (1957), hlm. 109.
  2. ↑ Goodrich & Fang (1976), hlm. xxi.
  3. 1 2 3 4 Atwell (1988), hlm. 592.
  4. 1 2 3 Atwell (1988), hlm. 595.
  5. ↑ Veritable Records of Shenzong, jilid 127, hlm. 2363.
  6. 1 2 Lin (2014), hlm. 409–410.
  7. 1 2 3 4 Huang (1988), hlm. 516.
  8. 1 2 Brook (2010), hlm. 101.
  9. 1 2 3 4 McMahon (2016), hlm. 130.
  10. ↑ Huang (1997), hlm. 189.
  11. ↑ Duindam (2016), hlm. 63–64.
  12. ↑ McMahon (2016), hlm. 131–132.
  13. 1 2 Dardess (2002), hlm. 9.
  14. ↑ Huang (1988), hlm. 517.
  15. ↑ Huang (1988), hlm. 550.
  16. ↑ Huang (1988), hlm. 517, 550.
  17. ↑ Dardess (2002), hlm. 10.
  18. ↑ Huang (1988), hlm. 554.
  19. 1 2 Huang (1988), hlm. 555.
  20. ↑ Dardess (2002), hlm. 14.
  21. ↑ Dardess (2002), hlm. 15.
  22. 1 2 Atwell (1988), hlm. 591.
  23. 1 2 3 Atwell (1988), hlm. 593.
  24. 1 2 3 Dardess (2002), hlm. 16–17.
  25. 1 2 3 Dardess (2002), hlm. 18–19.
  26. ↑ Atwell (1988), hlm. 594–595.
  27. ↑ Atwell (1988), hlm. 611–614.
  28. ↑ Wong (1997), hlm. 347.
  29. 1 2 3 Guoque, prakata 1, hlm. 18; History of Ming, jilid 121, hlm. 3676.
  30. ↑ Wong (1997), hlm. 350.
  31. ↑ History of Ming, jilid 22, hlm. 297.
  32. ↑ Veritable Records of Guangzong, jilid 1, hlm. 15; Veritable Records of Xizong, jilid 29, hlm. 1456.
  33. ↑ Wong (1997), hlm. 351.
  34. ↑ History of Ming, jilid 23, hlm. 309.
  35. ↑ Wong (1997), hlm. 355.
  36. ↑ Wong (1997), hlm. 359.
  37. 1 2 Chunmingmeng yulu, jilid 29.
  38. ↑ Wong (1997), hlm. 362.
  39. 1 2 Veritable Records of Guangzong, jilid 1, hlm. 15; History of Ming, jilid 120, hlm. 3656–3657.
  40. ↑ Guoque, prakata 1, hlm. 19; History of Ming, jilid 121, hlm. 3677.
  41. ↑ Wong (1997), hlm. 364.
  42. ↑ Wong (1997), hlm. 365.
  43. ↑ Guoque, prakata 1, hlm. 19.
  44. ↑ Wong (1997), hlm. 366.
  45. 1 2 Wong (1997), hlm. 368.
  46. ↑ Wong (1997), hlm. 370.
  47. ↑ Wong (1997), hlm. 369.
  48. ↑ Veritable Records of Xizong, jilid 29, hlm. 1456; Mingshu, jilid 21.
  49. 1 2 3 4 Guoque, prakata 1, hlm. 18.
  50. ↑ Siling dianli ji, jilid 2.

Karya yang dikutip

Bacaan lanjutan

Kaisar Taichang
Lahir: 28 Agustus 1582 Meninggal: 26 September 1620
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Kaisar Wanli
Kaisar Dinasti Ming
28 Agustus – 26 September 1620
Diteruskan oleh:
Kaisar Tianqi
Keluarga Aisin Gioro
Lowong
Terakhir dijabat oleh
Zhu Yijun
Putra Mahkota Dinasti Ming
1601–1620
Lowong
Selanjutnya dijabat oleh
Zhu Cilang
Ming
Ming Selatan
Xia → Shang → Zhou → Qin → Han → 3 Negara → Jìn / 16 Negara → Dinasti Selatan / Dinasti Utara → Sui → Tang → 5 Dinasti & 10 Negara - Liao / Song / Xia Barat / Jīn → Yuan → Ming → Qing → RT / RRT
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan