Minggu, 20 September 2026
21:55 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Dubnium

Dubnium

unsur kimia dengan lambang Db dan nomor atom 105

"Hahnium" beralih ke halaman ini, yang bukan mengenai hafnium.
Untuk rilis node.js yang diberi label "Dubnium", lihat node.js § Rilis.
105Db
Dubnium
250px-Electron_shell_105_Dubnium.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konfigurasi elektron dubnium
Sifat umum
Pengucapan/dubnium/
Dubnium dalam tabel periodik
Perbesar gambar

105Db
Hidrogen Helium
Litium Berilium Boron Karbon Nitrogen Oksigen Fluorin Neon
Natrium Magnesium Aluminium Silikon Fosforus Belerang Klorin Argon
Kalium Kalsium Skandium Titanium Vanadium Kromium Mangan Besi Kobalt Nikel Tembaga Seng Galium Germanium Arsen Selenium Bromin Kripton
Rubidium Stronsium Itrium Zirkonium Niobium Molibdenum Teknesium Rutenium Rodium Paladium Perak Kadmium Indium Timah Antimon Telurium Iodin Xenon
Sesium Barium Lantanum Serium Praseodimium Neodimium Prometium Samarium Europium Gadolinium Terbium Disprosium Holmium Erbium Tulium Iterbium Lutesium Hafnium Tantalum Wolfram Renium Osmium Iridium Platina Emas Raksa Talium Timbal Bismut Polonium Astatin Radon
Fransium Radium Aktinium Torium Protaktinium Uranium Neptunium Plutonium Amerisium Kurium Berkelium Kalifornium Einsteinium Fermium Mendelevium Nobelium Lawrensium Ruterfordium Dubnium Seaborgium Bohrium Hasium Meitnerium Darmstadtium Roentgenium Kopernisium Nihonium Flerovium Moskovium Livermorium Tenesin Oganeson
Ta

Db

(Upe)
ruterfordiumdubniumseaborgium
Lihat bagan navigasi yang diperbesar
Nomor atom (Z)105
Golongangolongan 5
Periodeperiode 7
Blokblok-d
Kategori unsur  logam transisi
Nomor massa[268]
Konfigurasi elektron[Rn] 5f14 6d3 7s2[1]
Elektron per kelopak2, 8, 18, 32, 32, 11, 2
Sifat fisik
Fase pada STS (0 °C dan 101,325 kPa)padat (diprediksi)[2]
Kepadatanmendekati s.k.21,6 g/cm3(diprediksi)[3][4]
Sifat atom
Bilangan oksidasi(+3), (+4), +5[1][5] (tanda kurung: prediksi)
Energi ionisasike-1: 665 kJ/mol
ke-2: 1547 kJ/mol
ke-3: 2378 kJ/mol
(artikel)(semuanya kecuali yang pertama merupakan perkiraan)[1]
Jari-jari atomempiris:139 pm(diperkirakan)[1]
Jari-jari kovalen149 pm(diperkirakan)[6]
Lain-lain
Kelimpahan alamisintetis
Struktur kristalkubus berpusat badan (bcc)(diprediksi)[2]
Struktur kristal Body-centered cubic untuk dubnium
Nomor CAS53850-35-4
Sejarah
Penamaandari Dubna, Oblast Moskwa, Rusia, lokasi dari Joint Institute for Nuclear Research
Penemuansecara independen oleh Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley dan Joint Institute for Nuclear Research(1970)
Isotop dubnium yang utama
Iso­top Kelim­pahan Waktu paruh (t1/2) Mode peluruhan Pro­duk
262Db sintetis 34 dtk[7][8] 67% α 258Lr
33% SF
263Db sintetis 27 dtk[8] 56% SF
41% α 259Lr
3% ε 263mRf
266Db sintetis 20 mnt[8] SF
ε? 266Rf
267Db sintetis 1,2 jam[8] SF
ε? 267Rf
268Db sintetis 28 jam[8] SF
ε? 268Rf
α[9] 264Lr
270Db sintetis 15 jam[10] 17% SF
83% α 266Lr
ε? 270Rf
|referensi|di Wikidata

Dubnium adalah sebuah unsur kimia sintetis dengan lambang Db dan nomor atom 105. Unsur ini sangat radioaktif; isotop dubnium yang paling stabil yang diketahui, yaitu 268Db, memiliki waktu paruh sekitar 16 jam. Hal ini sangat membatasi penelitian lebih lanjut terhadap unsur tersebut.

Dubnium tidak terdapat secara alami di Bumi dan diproduksi secara buatan. Institut Bersama untuk Riset Nuklir (JINR) milik Uni Soviet mengklaim sebagai pihak yang pertama kali menemukan unsur ini pada tahun 1968, kemudian Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley (LBNL) di Amerika Serikat pada tahun 1970. Kedua tim mengusulkan nama mereka sendiri untuk unsur baru tersebut dan menggunakannya tanpa persetujuan resmi. Perselisihan yang telah berlangsung lama tersebut diselesaikan pada tahun 1993 melalui penyelidikan resmi terhadap klaim penemuan oleh Transfermium Working Group, yang dibentuk oleh Persatuan Kimia Murni dan Terapan Internasional (IUPAC) dan Persatuan Fisika Murni dan Terapan Internasional (IUPAP). Hasil penyelidikan tersebut menetapkan bahwa penemuan unsur ini secara resmi diberikan kepada kedua tim. Unsur tersebut kemudian secara resmi diberi nama dubnium pada tahun 1997, diambil dari nama kota Dubna, tempat JINR berada.

Penelitian teoretis menetapkan bahwa dubnium merupakan anggota golongan 5 dalam deret logam transisi 6d, sehingga posisinya berada di bawah vanadium, niobium, dan tantalum. Dubnium diperkirakan memiliki sebagian besar sifat yang sama dengan unsur-unsur lain dalam golongan 5, seperti konfigurasi elektron valensi dan keadaan oksidasi +5 yang dominan, dengan beberapa penyimpangan akibat efek relativistik. Penelitian terbatas mengenai kimia dubnium telah mengonfirmasi hal tersebut.

Pengantar

Sintesis inti superberat

A graphic depiction of a nuclear fusion reaction
Gambaran grafis mengenai reaksi fusi nuklir. Dua inti atom bergabung menjadi satu dan memancarkan sebuah neutron. Reaksi-reaksi yang menghasilkan unsur-unsur baru hingga saat ini memiliki proses yang serupa, meskipun jumlah neutron yang dipancarkan dapat berbeda-beda—atau sebagai alternatif, partikel bermuatan dapat dipancarkan.[11]

Inti atom superberat[a] terbentuk dalam suatu reaksi nuklir yang menggabungkan dua inti atom dengan ukuran berbeda[b] menjadi satu inti; secara umum, semakin besar perbedaan massa kedua inti tersebut, semakin besar kemungkinan keduanya bereaksi.[17] Material yang terdiri dari inti-inti yang lebih berat dibuat menjadi target, yang kemudian ditembaki oleh berkas inti-inti yang lebih ringan. Dua inti hanya dapat berfusi menjadi satu jika keduanya berada cukup dekat satu sama lain. Biasanya, inti atom (yang semuanya bermuatan positif) saling tolak-menolak akibat tolakan elektrostatik. Interaksi kuat dapat mengatasi tolakan ini, tetapi hanya dalam jarak yang sangat pendek dari inti. Oleh karena itu, inti-inti dalam berkas dipercepat dengan sangat kuat agar tolakan tersebut menjadi tidak signifikan dibandingkan dengan kecepatan inti dalam berkas.[18] Energi yang diberikan untuk mempercepat inti-inti dalam berkas dapat membuatnya mencapai kecepatan hingga sepersepuluh kecepatan cahaya. Namun, jika energi yang diberikan terlalu besar, inti dalam berkas dapat terurai.[18]

Berada cukup dekat saja belum cukup bagi dua inti untuk berfusi. Ketika dua inti saling mendekat, biasanya keduanya hanya tetap bersama selama sekitar 10−20 detik, kemudian berpisah kembali (tidak selalu dengan komposisi yang sama seperti sebelum reaksi), alih-alih membentuk satu inti.[18][19] Hal ini terjadi karena selama upaya pembentukan satu inti, tolakan elektrostatik dapat memisahkan inti yang sedang terbentuk.[18] Setiap pasangan target dan berkas dicirikan oleh penampang lintangnya, yaitu probabilitas terjadinya fusi apabila dua inti saling mendekat, yang dinyatakan dalam bentuk luas penampang melintang yang harus terkena oleh partikel datang agar fusi terjadi.[c] Fusi ini dapat terjadi sebagai akibat efek kuantum yang memungkinkan inti-inti menembus tolakan elektrostatik melalui proses yang disebut penerowongan kuantum. Jika kedua inti dapat tetap berdekatan setelah melewati tahap tersebut, berbagai interaksi nuklir akan terjadi dan menyebabkan redistribusi energi hingga tercapai keseimbangan energi.[18]

Video luar
Visualisasi fusi nuklir yang tidak berhasil, berdasarkan perhitungan dari Universitas Nasional Australia[21]

Hasil penggabungan tersebut berada dalam keadaan tereksitasi[22]—yang disebut inti gabungan—dan karena itu sangat tidak stabil.[18] Untuk mencapai keadaan yang lebih stabil, penggabungan sementara ini dapat mengalami fisi tanpa membentuk inti yang lebih stabil.[23] Sebagai alternatif, inti gabungan dapat memancarkan beberapa neutron yang membawa pergi energi eksitasi. Jika energi tersebut tidak cukup untuk menyebabkan pelepasan neutron, inti gabungan akan memancarkan sinar gama. Proses ini terjadi sekitar 10−16 detik setelah tumbukan nuklir awal dan menghasilkan inti yang lebih stabil.[23] Definisi yang ditetapkan oleh Pihak Kerja Bersama IUPAC/IUPAP (JWP) menyatakan bahwa suatu unsur kimia hanya dapat diakui sebagai unsur yang telah ditemukan jika inti atomnya tidak meluruh dalam waktu 10−14 detik. Nilai ini dipilih sebagai perkiraan waktu yang diperlukan sebuah inti untuk memperoleh elektron dan dengan demikian menunjukkan sifat-sifat kimianya.[24][d]

Peluruhan dan deteksi

Berkas melewati target dan mencapai ruang berikutnya, yaitu pemisah; jika inti baru terbentuk, inti tersebut akan terbawa bersama berkas ini.[26] Di dalam pemisah, inti yang baru terbentuk dipisahkan dari nuklida lainnya (baik nuklida dari berkas awal maupun produk reaksi lainnya),[e] kemudian dipindahkan ke detektor perintang permukaan yang menghentikan inti tersebut. Lokasi pasti dari tumbukan yang akan terjadi pada detektor ditandai; demikian pula energi dan waktu kedatangannya.[26] Proses pemindahan berlangsung sekitar 10−6 detik; agar dapat dideteksi, inti tersebut harus bertahan hidup selama waktu tersebut.[29] Inti tersebut kemudian dicatat kembali ketika peluruhannya terdeteksi, dan lokasi, energi, serta waktu peluruhan diukur.[26]

Kestabilan suatu inti diberikan oleh interaksi kuat. Namun, jangkauan interaksi ini sangat pendek; ketika ukuran inti semakin besar, pengaruhnya terhadap nukleon terluar (proton dan neutron) semakin melemah. Pada saat yang sama, inti ditarik untuk terpecah oleh tolakan elektrostatik antarproton, dan jangkauan gaya ini tidak terbatas.[30] Energi ikat total yang diberikan oleh interaksi kuat meningkat secara linear terhadap jumlah nukleon, sedangkan tolakan elektrostatik meningkat sebanding dengan kuadrat nomor atom. Dengan kata lain, tolakan elektrostatik meningkat lebih cepat dan menjadi semakin penting pada inti berat dan superberat.[31][32] Oleh karena itu, secara teoretis inti superberat diprediksi[33] dan sejauh ini telah diamati[34] meluruh terutama melalui mode peluruhan yang disebabkan oleh tolakan tersebut, yaitu peluruhan alfa dan fisi spontan.[f] Hampir semua pemancar alfa memiliki lebih dari 210 nukleon,[36] dan nuklida paling ringan yang umumnya mengalami fisi spontan memiliki 238 nukleon.[37] Pada kedua mode peluruhan tersebut, inti dihambat untuk meluruh oleh perintang energi yang sesuai untuk masing-masing mode, tetapi inti tetap dapat melewati perintang tersebut melalui penerowongan kuantum.[31][32]

Apparatus for creation of superheavy elements
Skema peralatan untuk menghasilkan unsur superberat, yang didasarkan pada Dubna Gas-Filled Recoil Separator (DGFRS) yang dipasang di Laboratorium Reaksi Nuklir Flerov (FLNR) di JINR. Lintasan partikel di dalam detektor dan pada perangkat pemfokusan berkas berubah akibat adanya magnet dipol pada detektor dan magnet kuadrupol pada perangkat pemfokusan berkas.[38]

Partikel alfa umumnya dihasilkan dalam peluruhan radioaktif karena massa partikel alfa per nukleon cukup kecil sehingga masih terdapat sejumlah energi yang dapat digunakan sebagai energi kinetik partikel alfa untuk meninggalkan inti.[39] Fisi spontan disebabkan oleh tolakan elektrostatik yang merobek inti dan menghasilkan berbagai inti yang berbeda pada setiap peristiwa fisi dari inti-inti yang identik.[32] Seiring meningkatnya nomor atom, fisi spontan menjadi semakin penting dengan cepat: waktu paruh parsial fisi spontan berkurang sebesar 23 orde besaran dari uranium (unsur 92) hingga nobelium (unsur 102),[40] dan sebesar 30 orde besaran dari torium (unsur 90) hingga fermium (unsur 100).[41] Model tetesan cair yang lebih awal kemudian menyatakan bahwa fisi spontan akan terjadi hampir seketika karena hilangnya perintang fisi pada inti yang memiliki sekitar 280 nukleon.[32][42] Model kulit inti yang muncul kemudian menyatakan bahwa inti dengan sekitar 300 nukleon akan membentuk pulau kestabilan, tempat inti-inti akan lebih tahan terhadap fisi spontan dan umumnya mengalami peluruhan alfa dengan waktu paruh yang lebih panjang.[32][42] Penemuan-penemuan berikutnya menunjukkan bahwa pulau kestabilan yang diprediksi mungkin berada lebih jauh daripada perkiraan awal. Penemuan tersebut juga menunjukkan bahwa inti yang berada di antara aktinida berumur panjang dan pulau kestabilan yang diprediksi memiliki bentuk terdeformasi serta memperoleh kestabilan tambahan dari efek kulit.[43] Eksperimen terhadap inti superberat yang lebih ringan,[44] serta inti yang lebih dekat dengan pulau kestabilan yang diperkirakan,[40] menunjukkan kestabilan terhadap fisi spontan yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan pentingnya efek kulit pada inti.[g]

Peluruhan alfa dideteksi melalui partikel alfa yang dipancarkan, dan produk peluruhan dapat dengan mudah ditentukan sebelum peluruhan yang sebenarnya terjadi. Jika peluruhan tersebut, atau serangkaian peluruhan berturut-turut, menghasilkan inti yang telah diketahui, maka produk awal dari suatu reaksi dapat dengan mudah ditentukan.[h] Hubungan antara semua peluruhan dalam suatu rantai peluruhan dapat dipastikan berdasarkan lokasi peluruhan tersebut, yang harus terjadi di inti yang telah diketahui dapat dikenali berdasarkan karakteristik spesifik peluruhan yang dialaminya, seperti energi peluruhan atau, lebih khusus lagi, energi kinetik partikel yang dipancarkan.[i] Namun, fisi spontan menghasilkan berbagai inti sebagai produk, sehingga nuklida awal tidak dapat ditentukan berdasarkan inti-inti hasil peluruhannya.[j]

Dengan demikian, informasi yang tersedia bagi para fisikawan yang bertujuan mensintesis unsur superberat adalah informasi yang dikumpulkan oleh detektor: lokasi, energi, dan waktu kedatangan suatu partikel ke detektor, serta lokasi, energi, dan waktu peluruhannya. Para fisikawan menganalisis data tersebut dan berusaha menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut memang disebabkan oleh unsur baru dan tidak mungkin disebabkan oleh nuklida lain selain yang diklaim. Sering kali, data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan dengan pasti bahwa unsur baru telah berhasil diciptakan, meskipun tidak terdapat penjelasan lain untuk efek yang diamati. Kesalahan dalam menafsirkan data juga pernah terjadi.[k]

Penemuan

Latar belakang

Uranium, unsur dengan nomor atom 92, merupakan unsur terberat yang terdapat dalam jumlah signifikan di alam. Unsur-unsur yang lebih berat hanya dapat diproduksi secara praktis melalui sintesis. Sintesis pertama suatu unsur baru, yaitu neptunium dengan nomor atom 93, berhasil dilakukan pada tahun 1940 oleh tim peneliti di Amerika Serikat.[55] Pada tahun-tahun berikutnya, para ilmuwan Amerika berhasil menyintesis unsur-unsur hingga mencapai mendelevium, unsur dengan nomor atom 101, yang berhasil disintesis pada tahun 1955. Mulai dari unsur dengan nomor atom 102, prioritas penemuan dipersengketakan antara fisikawan Amerika dan Soviet.[56] Persaingan tersebut menghasilkan perlombaan untuk menemukan unsur-unsur baru sekaligus mendapatkan pengakuan atas penemuan mereka, yang kemudian dikenal sebagai Perang Transfermium.[57]

Laporan

Laporan pertama mengenai penemuan unsur 105 berasal dari JINR di Dubna, Oblast Moskow, Uni Soviet, pada April 1968. Para ilmuwan membombardir 243Am dengan berkas ion 22Ne dan melaporkan aktivitas alfa sebesar 9,4 MeV (dengan waktu paruh 0,1–3 detik) dan 9,7 MeV (waktu paruh >0,05 detik), yang kemudian diikuti oleh aktivitas alfa yang serupa dengan aktivitas 256103 atau 257103. Berdasarkan prediksi teoretis sebelumnya, kedua garis aktivitas tersebut masing-masing diidentifikasi sebagai 261105 dan 260105.[58]

243
95
Am
+ 22
10
Ne
265−x105 + x n (x = 4, 5)

Setelah mengamati peluruhan alfa unsur 105, para peneliti berupaya mengamati fisi spontan (SF) unsur tersebut dan mempelajari fragmen fisi yang dihasilkan. Mereka menerbitkan sebuah makalah pada Februari 1970 yang melaporkan beberapa contoh dari dua aktivitas tersebut, dengan waktu paruh masing-masing 14 ms dan 2,2±0,5 detik. Mereka mengidentifikasi aktivitas pertama sebagai 242mfAm[l] dan mengaitkan aktivitas kedua dengan suatu isotop unsur 105. Mereka menyatakan bahwa kecil kemungkinan aktivitas tersebut berasal dari reaksi transfer, bukan dari unsur 105, karena rasio hasil reaksi ini jauh lebih rendah daripada reaksi transfer yang menghasilkan 242mfAm, sesuai dengan prediksi teoretis. Untuk memastikan bahwa aktivitas tersebut bukan berasal dari reaksi (22Ne,xn), para peneliti membombardir target 243Am dengan ion 18O. Reaksi yang menghasilkan 256103 dan 257103 menunjukkan aktivitas SF yang sangat kecil (sesuai dengan data yang telah ditetapkan), sedangkan reaksi yang menghasilkan 258103 dan 259103 yang lebih berat sama sekali tidak menghasilkan aktivitas SF, sesuai dengan data teoretis. Para peneliti menyimpulkan bahwa aktivitas yang diamati berasal dari SF unsur 105.[58]

Pada April 1970, sebuah tim di LBNL di Berkeley, California, Amerika Serikat, mengklaim telah berhasil mensintesis unsur 105 dengan membombardir 249Cf menggunakan ion 15N, yang menghasilkan aktivitas alfa sebesar 9,1 MeV. Untuk memastikan bahwa aktivitas tersebut tidak berasal dari reaksi lain, tim tersebut mencoba beberapa reaksi lain: membombardir 249Cf dengan 14N, Pb dengan 15N, dan Hg dengan 15N. Mereka menyatakan bahwa tidak ditemukan aktivitas serupa dalam reaksi-reaksi tersebut. Karakteristik inti anak sesuai dengan karakteristik 256103, yang menunjukkan bahwa inti induknya adalah 260105.[58]

249
98
Cf
+ 15
7
N
260105 + 4 n

Hasil-hasil tersebut tidak mengonfirmasi temuan JINR mengenai peluruhan alfa 9,4 MeV atau 9,7 MeV dari 260105, sehingga hanya 261105 yang mungkin telah berhasil diproduksi.[58]

JINR kemudian melakukan eksperimen lain untuk menciptakan unsur 105, yang dilaporkan pada Mei 1970. Mereka mengklaim telah menyintesis lebih banyak inti unsur 105 dan bahwa eksperimen tersebut mengonfirmasi penelitian mereka sebelumnya. Menurut makalah tersebut, isotop yang dihasilkan oleh JINR kemungkinan besar adalah 261105, atau mungkin 260105.[58] Laporan ini juga mencakup pemeriksaan kimia awal: metode kromatografi gas dengan gradien termal diterapkan untuk menunjukkan bahwa klorida dari unsur yang terbentuk dari aktivitas SF memiliki sifat yang hampir sama dengan niobium pentaklorida, bukan hafnium tetraklorida. Tim tersebut mengidentifikasi aktivitas SF dengan waktu paruh 2,2 detik dalam suatu klorida volatil yang menunjukkan sifat eka-tantalum, dan menyimpulkan bahwa sumber aktivitas SF tersebut pasti merupakan unsur 105.[58]

Pada Juni 1970, JINR melakukan perbaikan terhadap eksperimen pertama mereka dengan menggunakan target yang lebih murni dan mengurangi intensitas reaksi transfer dengan memasang kolimator sebelum penangkap. Kali ini, mereka berhasil menemukan aktivitas alfa sebesar 9,1 MeV dengan isotop anak yang dapat diidentifikasi sebagai 256103 atau 257103, yang menunjukkan bahwa isotop awalnya adalah 260105 atau 261105.[58]

Kontroversi penamaan

Photo of Niels Bohr
Photo of Otto Hahn
Fisikawan nuklir Denmark Niels H. D. Bohr dan kimiawan nuklir Jerman Otto Hahn, keduanya diusulkan sebagai tokoh yang mungkin menjadi nama unsur 105

JINR tidak mengusulkan nama setelah laporan pertama mereka yang mengklaim sintesis unsur 105, padahal hal tersebut biasanya merupakan praktik yang dilakukan. Hal ini membuat LBNL menganggap bahwa JINR belum memiliki cukup data eksperimen untuk mendukung klaim mereka.[59] Setelah mengumpulkan lebih banyak data, JINR mengusulkan nama bohrium (Bo) untuk menghormati fisikawan nuklir Denmark, Niels H. D. Bohr, salah satu tokoh yang mengembangkan teori struktur atom dan teori kuantum.[60] Mereka kemudian mengubah usulan tersebut menjadi nielsbohrium (Ns) untuk menghindari kebingungan dengan boron.[61] Nama lain yang juga diusulkan adalah dubnium.[62][63] Ketika LBNL pertama kali mengumumkan sintesis unsur 105, mereka mengusulkan agar unsur baru tersebut diberi nama hahnium (Ha), untuk menghormati kimiawan Jerman Otto Hahn, yang dikenal sebagai "bapak kimia nuklir". Hal ini kemudian memicu kontroversi mengenai penamaan unsur tersebut.[64]

Pada awal 1970-an, kedua tim melaporkan sintesis unsur berikutnya, yaitu unsur 106, tetapi tidak mengusulkan nama.[65] JINR mengusulkan pembentukan komite internasional untuk memperjelas kriteria penemuan. Usulan tersebut diterima pada tahun 1974 dan sebuah kelompok gabungan yang netral dibentuk.[66] Namun, tidak ada tim yang tertarik menyelesaikan konflik melalui pihak ketiga. Oleh karena itu, para ilmuwan terkemuka dari LBNL—Albert Ghiorso dan Glenn T. Seaborg—melakukan perjalanan ke Dubna pada tahun 1975 dan bertemu dengan para ilmuwan terkemuka JINR—Georgy N. Flerov, Yuri T. Oganessian, dan lainnya—untuk mencoba menyelesaikan konflik secara internal dan membuat kelompok gabungan yang netral tidak diperlukan. Setelah dua jam berdiskusi, upaya tersebut gagal.[67] Kelompok gabungan netral tersebut tidak pernah berkumpul untuk menilai klaim-klaim yang ada, sehingga konflik tetap tidak terselesaikan.[66] Pada tahun 1979, IUPAC mengusulkan nama unsur sistematis untuk digunakan sebagai nama sementara sampai nama permanen ditetapkan. Berdasarkan sistem tersebut, unsur 105 akan diberi nama unnilpentium, yang berasal dari akar bahasa Latin un- dan nil- serta akar bahasa Yunani pent- (masing-masing berarti "satu", "nol", dan "lima", yang merupakan angka-angka dalam nomor atomnya). Kedua tim mengabaikan nama tersebut karena mereka tidak ingin melemahkan klaim penemuan mereka.[68]

Pada tahun 1981, Gesellschaft für Schwerionenforschung (GSI; Perhimpunan Penelitian Ion Berat) di Darmstadt, Hessen, Jerman Barat, mengklaim telah menyintesis unsur 107. Laporan mereka diterbitkan lima tahun setelah laporan pertama JINR, tetapi memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi sehingga memberikan klaim penemuan yang lebih kuat.[58] GSI mengakui upaya JINR dengan mengusulkan nama nielsbohrium untuk unsur baru tersebut.[66] JINR tidak mengusulkan nama baru untuk unsur 105 dan menyatakan bahwa menentukan siapa penemunya lebih penting terlebih dahulu.[66]

Lokasi Dubna di wilayah Rusia Eropa

Pada tahun 1985, IUPAC dan IUPAP membentuk Transfermium Working Group (TWG) untuk menilai klaim penemuan dan menetapkan nama akhir bagi unsur-unsur yang kontroversial.[58] Kelompok tersebut mengadakan pertemuan dengan perwakilan dari tiga lembaga yang bersaing. Pada tahun 1990, mereka menetapkan kriteria untuk mengakui suatu penemuan unsur, dan pada tahun 1991 mereka menyelesaikan penilaian terhadap klaim penemuan dan membubarkan kelompok tersebut. These results were published in 1993. Hasilnya diterbitkan pada tahun 1993. Menurut laporan tersebut, eksperimen pertama yang benar-benar berhasil adalah eksperimen LBNL pada April 1970, yang kemudian diikuti oleh eksperimen JINR pada Juni 1970. Oleh karena itu, penghargaan atas penemuan unsur tersebut seharusnya diberikan kepada kedua tim.[58]

LBNL menyatakan bahwa kontribusi JINR dinilai terlalu tinggi dalam peninjauan tersebut. Mereka mengklaim bahwa JINR baru dapat membuktikan secara tidak ambigu sintesis unsur 105 setahun setelah mereka melakukannya. JINR dan GSI mendukung laporan tersebut.[66]

Pada tahun 1994, IUPAC menerbitkan rekomendasi mengenai penamaan unsur-unsur yang diperselisihkan. Untuk unsur 105, mereka mengusulkan nama joliotium (Jl), diambil dari nama fisikawan Prancis Jean F. Joliot-Curie, yang berkontribusi pada perkembangan fisika dan kimia nuklir. Nama ini sebelumnya telah diusulkan oleh tim Soviet untuk unsur 102, yang pada saat itu sudah lama dikenal sebagai nobelium.[69] Rekomendasi tersebut dikritik oleh para ilmuwan Amerika karena beberapa alasan. Pertama, usulan nama mereka dianggap tertukar: nama rutherfordium dan hahnium, yang awalnya diusulkan Berkeley untuk unsur 104 dan 105, masing-masing dipindahkan ke unsur 106 dan 108. Kedua, unsur 104 dan 105 diberi nama yang lebih disukai JINR, meskipun sebelumnya LBNL telah diakui sebagai salah satu penemu bersama untuk kedua unsur tersebut. Ketiga dan yang paling penting, IUPAC menolak nama seaborgium untuk unsur 106, setelah baru saja menyetujui aturan bahwa suatu unsur tidak dapat dinamai berdasarkan orang yang masih hidup, meskipun laporan tahun 1993 memberikan penghargaan tunggal kepada tim LBNL atas penemuan unsur tersebut.[70]

Pada tahun 1995, IUPAC membatalkan aturan kontroversial tersebut dan membentuk sebuah komite yang terdiri atas perwakilan nasional dengan tujuan mencari kompromi. Mereka mengusulkan nama seaborgium untuk unsur 106 dengan imbalan penghapusan semua usulan nama Amerika lainnya, kecuali nama lawrencium yang telah ditetapkan untuk unsur 103. Nama nobelium yang telah lama digunakan untuk unsur 102 diganti menjadi flerovium untuk menghormati Georgy N. Flerov, setelah laporan tahun 1993 mengakui bahwa unsur tersebut pertama kali disintesis di Dubna. Usulan ini ditolak oleh para ilmuwan Amerika dan keputusan tersebut kemudian ditarik kembali.[71][1] Nama flerovium kemudian digunakan untuk unsur 114.[72]

Pada tahun 1996, IUPAC mengadakan pertemuan lain, mempertimbangkan kembali seluruh nama yang telah diusulkan, dan menerima serangkaian rekomendasi baru. Rekomendasi tersebut disetujui dan diterbitkan pada tahun 1997.[73] Unsur 105 diberi nama dubnium (Db), diambil dari nama Dubna di Rusia, lokasi JINR. Usulan nama dari Amerika digunakan untuk unsur 102, 103, 104, dan 106. Nama dubnium sebelumnya telah digunakan untuk unsur 104 dalam rekomendasi IUPAC sebelumnya. Para ilmuwan Amerika "dengan enggan" menyetujui keputusan tersebut.[74] IUPAC menunjukkan bahwa LBNL telah beberapa kali mendapat pengakuan melalui penamaan unsur amerisium, berkelium, dan kalifornium, dan bahwa penerimaan nama rutherfordium dan seaborgium untuk unsur 104 dan 106 seharusnya diimbangi dengan pengakuan terhadap kontribusi JINR dalam penemuan unsur 104, 105, dan 106.[75]

Bahkan setelah tahun 1997, LBNL masih terkadang menggunakan nama hahnium untuk unsur 105 dalam materi mereka sendiri, termasuk hingga tahun 2014.[76][77][78][79] Namun, masalah tersebut akhirnya terselesaikan dalam literatur ilmiah ketika Jens V. Kratz, penyunting Radiochimica Acta, menolak menerima makalah yang tidak menggunakan tata nama IUPAC tahun 1997.[80]

Isotop

Artikel utama: Isotop dubnium
Grafik 2D dengan sel-sel berbentuk persegi panjang berwarna hitam dan putih, membentang dari sudut kiri bawah hingga sudut kanan atas. Sel-sel umumnya semakin terang saat mendekati sudut kanan atas
Grafik stabilitas nuklida yang digunakan oleh JINR pada tahun 2012. Isotop-isotop yang telah dikarakterisasi ditampilkan dengan garis tepi.[81]

Dubnium, yang memiliki nomor atom 105, merupakan unsur superberat; seperti semua unsur dengan nomor atom setinggi itu, dubnium sangat tidak stabil. Isotop dubnium yang diketahui memiliki umur paling panjang, 268Db, mempunyai waktu paruh sekitar satu hari.[82] Belum ada isotop stabil yang ditemukan, dan perhitungan JINR pada tahun 2012 menunjukkan bahwa waktu paruh semua isotop dubnium kemungkinan tidak akan jauh melebihi satu hari.[81][m] Dubnium hanya dapat diperoleh melalui produksi buatan.[n]

Waktu paruh dubnium yang singkat membatasi eksperimen yang dapat dilakukan. Hal ini semakin diperburuk oleh fakta bahwa isotop-isotop yang paling stabil justru merupakan yang paling sulit disintesis.[85] Unsur dengan nomor atom lebih rendah memiliki isotop stabil dengan rasio neutron–proton yang lebih rendah dibandingkan unsur dengan nomor atom lebih tinggi. Artinya, inti target dan inti berkas yang dapat digunakan untuk menghasilkan unsur superberat memiliki jumlah neutron yang lebih sedikit daripada yang dibutuhkan untuk membentuk isotop-isotop yang paling stabil tersebut. (Berbagai teknik yang didasarkan pada penangkapan neutron cepat dan reaksi transfer sedang dipertimbangkan pada dekade 2010-an, tetapi teknik yang didasarkan pada tumbukan antara inti berukuran besar dan kecil masih mendominasi penelitian di bidang ini.)[86][87]

Hanya beberapa atom 268Db yang dapat dihasilkan dalam setiap eksperimen, sehingga waktu hidup yang terukur dapat sangat bervariasi selama proses penelitian. Hingga tahun 2022, setelah eksperimen tambahan yang dilakukan di Superheavy Element Factory milik JINR (yang mulai beroperasi pada tahun 2019), waktu paruh 268Db telah diukur sekitar 16+6
−4
jam.[88] Isotop paling stabil kedua, 270Db, telah diproduksi dalam jumlah yang bahkan lebih sedikit: total hanya tiga atom, dengan waktu hidup masing-masing 33,4 jam,[89] 1,3 jam, dan 1,6 jam.[90] Kedua isotop tersebut merupakan isotop dubnium terberat yang diketahui hingga saat ini. Keduanya dihasilkan melalui peluruhan inti yang lebih berat, yaitu 288Mc dan 294Ts, bukan secara langsung, karena eksperimen yang menghasilkan isotop-isotop tersebut pada awalnya dirancang di Dubna menggunakan berkas 48Ca.[91] Berdasarkan massanya, 48Ca memiliki neutron berlebih yang jauh lebih besar daripada semua inti yang secara praktis stabil, baik secara absolut maupun relatif.[82] Hal ini membantu sintesis inti superberat yang memiliki lebih banyak neutron. Namun, keuntungan tersebut diimbangi oleh semakin kecilnya kemungkinan terjadinya fusi pada unsur dengan nomor atom tinggi.[92]

Sifat yang diprediksi

Menurut hukum periodik, dubnium seharusnya termasuk dalam golongan 5, bersama vanadium, niobium, dan tantalum. Beberapa penelitian telah mengkaji sifat-sifat unsur 105 dan menemukan bahwa secara umum hasilnya sesuai dengan prediksi hukum periodik. Meskipun demikian, penyimpangan yang signifikan dapat terjadi akibat efek relativistik,[o] yang secara drastis mengubah sifat fisik baik pada skala atom maupun makroskopis. Sifat-sifat ini masih sulit diukur karena beberapa alasan: sulitnya memproduksi atom superberat, laju produksinya yang sangat rendah sehingga penelitian hanya dapat dilakukan pada skala mikroskopis, kebutuhan akan laboratorium radiokimia untuk menguji atom-atom tersebut, waktu paruh atom yang sangat singkat, serta adanya banyak aktivitas yang tidak diinginkan selain aktivitas yang berasal dari sintesis atom superberat. Sejauh ini, penelitian hanya dapat dilakukan pada atom tunggal.[1]

Sifat atom dan fisik

250px-7s_electrons_dubnium_relativistic_vs_nonrelativistic.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Distribusi radial elektron valensi 7s pada dubnium secara relativistik (garis utuh) dan nonrelativistik (garis putus-putus).

Efek relativistik secara langsung adalah bahwa ketika nomor atom suatu unsur meningkat, elektron-elektron yang berada paling dekat dengan inti mulai bergerak mengelilingi inti dengan lebih cepat akibat meningkatnya gaya tarik elektromagnetik antara elektron dan inti. Efek serupa ditemukan pada orbital s terluar (dan orbital p1/2, meskipun orbital tersebut tidak terisi pada dubnium). Sebagai contoh, orbital 7s mengalami kontraksi ukuran sebesar 25% dan menjadi lebih stabil pada 2,6 eV.[1]

Efek yang lebih tidak langsung adalah bahwa orbital s dan p1/2 yang mengalami kontraksi menjadi lebih efektif dalam menyekat muatan inti, sehingga gaya tarik yang dirasakan oleh elektron d dan f terluar menjadi lebih kecil. Akibatnya, elektron-elektron tersebut bergerak dalam orbital yang lebih besar. Dubnium sangat dipengaruhi oleh efek ini: berbeda dengan anggota golongan 5 sebelumnya, elektron 7s pada dubnium sedikit lebih sulit dilepaskan dibandingkan elektron 6d.[1]

250px-Atomic_orbitals_dubnium.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Stabilisasi relativistik orbital ns, destabilisasi orbital (n-1)d, serta pemisahan spin–orbitnya pada unsur-unsur golongan 5.

Efek lainnya adalah interaksi spin–orbit, khususnya pemisahan spin–orbit, yang membagi subkulit 6d—bilangan kuantum azimut ℓ untuk kulit d adalah 2—menjadi dua subkulit. Empat dari sepuluh orbital tersebut mengalami penurunan nilai ℓ menjadi 3/2, sedangkan enam lainnya meningkat menjadi 5/2. Semua sepuluh tingkat energi mengalami kenaikan; empat di antaranya berada pada energi yang lebih rendah dibandingkan enam lainnya. (Tiga elektron 6d biasanya menempati tingkat energi terendah, yaitu 6d3/2.)[1]

Atom dubnium yang terionisasi satu kali (Db+) diperkirakan kehilangan satu elektron 6d dibandingkan dengan atom netral. Atom dubnium yang terionisasi dua kali (Db2+) atau tiga kali (Db3+) diperkirakan akan melepaskan elektron 7s, berbeda dengan homolognya yang lebih ringan. Meskipun mengalami perubahan tersebut, dubnium tetap diperkirakan memiliki lima elektron valensi. Karena orbital 6d pada dubnium lebih terdestabilisasi dibandingkan orbital 5d pada tantalum, dan Db3+ diperkirakan masih memiliki dua elektron 6d, bukan elektron 7s, maka keadaan oksidasi +3 yang dihasilkan diperkirakan tidak stabil dan bahkan lebih jarang ditemukan dibandingkan keadaan +3 pada tantalum. Potensial ionisasi dubnium dalam keadaan oksidasi maksimum +5-nya diperkirakan sedikit lebih rendah daripada tantalum, sedangkan jari-jari ionik dubnium diperkirakan meningkat dibandingkan tantalum. Hal ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kimia dubnium.[1]

Atom-atom dubnium dalam keadaan padat diperkirakan akan tersusun dalam struktur kubus berpusat-badan, seperti unsur-unsur golongan 5 sebelumnya.[2] Massa jenis dubnium diperkirakan sebesar 21,6 g/cm3.[3]

Sifat kimia

250px-Radiochem_104%2B_Transactinide.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nilai muatan efektif (QM) dan populasi tumpang tindih (OP) secara relativistik (rel) dan nonrelativistik (nr) dalam MCl5, dengan M = V, Nb, Ta, dan Db

Kimia komputasi paling sederhana dilakukan pada kimia fase gas, karena interaksi antarmolekul dapat diabaikan karena dianggap tidak signifikan. Beberapa peneliti[1] telah mempelajari dubnium pentaklorida. Perhitungan menunjukkan bahwa senyawa ini konsisten dengan hukum periodik karena memiliki sifat-sifat senyawa dari unsur golongan 5. Sebagai contoh, tingkat orbital molekul menunjukkan bahwa dubnium menggunakan tiga tingkat elektron 6d, sebagaimana yang diperkirakan. Dibandingkan dengan analog tantalumnya, dubnium pentaklorida diperkirakan menunjukkan karakter kovalen yang lebih kuat: terjadi penurunan muatan efektif pada atom dan peningkatan populasi tumpang tindih (antara orbital dubnium dan klorin).[1]

Perhitungan kimia dalam larutan menunjukkan bahwa keadaan oksidasi maksimum dubnium, yaitu +5, akan lebih stabil dibandingkan keadaan oksidasi +5 pada niobium dan tantalum, sedangkan keadaan +3 dan +4 akan kurang stabil. Kecenderungan kation dengan keadaan oksidasi tertinggi untuk mengalami hidrolisis diperkirakan terus menurun dalam golongan 5, tetapi proses tersebut masih diperkirakan berlangsung cukup cepat. Pembentukan kompleks dubnium diperkirakan mengikuti pola golongan 5 dalam hal keragamannya. Perhitungan terhadap kompleks hidroksoklorida menunjukkan adanya pembalikan tren dalam pembentukan dan ekstraksi kompleks unsur-unsur golongan 5, dengan dubnium yang diperkirakan lebih mudah mengalami proses tersebut dibandingkan tantalum.[1]

Kimia eksperimental

Hasil eksperimen mengenai kimia dubnium sudah ada sejak tahun 1974 dan 1976. Para peneliti JINR menggunakan sistem termokromatografi dan menyimpulkan bahwa volatilitas dubnium bromida lebih rendah daripada niobium bromida dan kira-kira sama dengan hafnium bromida. Namun, belum dapat dipastikan bahwa produk fisi yang terdeteksi benar-benar mengonfirmasi bahwa inti induknya adalah unsur 105. Hasil ini dapat mengindikasikan bahwa dubnium berperilaku lebih mirip hafnium daripada niobium.[1]

Penelitian berikutnya mengenai kimia dubnium dilakukan pada tahun 1988 di Berkeley. Penelitian tersebut menguji apakah keadaan oksidasi dubnium yang paling stabil dalam larutan berair adalah +5. Dubnium diuapkan dua kali dan dicuci dengan asam nitrat pekat. Selanjutnya, sorpsi dubnium pada kaca penutup dibandingkan dengan unsur golongan 5, yaitu niobium dan tantalum, serta unsur golongan 4, yaitu zirkonium dan hafnium, yang dihasilkan dalam kondisi serupa. Unsur-unsur golongan 5 diketahui dapat tersorpsi pada permukaan kaca, sedangkan unsur golongan 4 tidak. Dubnium kemudian dikonfirmasi sebagai anggota golongan 5. Menariknya, perilaku dubnium saat diekstraksi dari larutan campuran asam nitrat dan asam fluorida ke dalam metil isobutil keton berbeda dari tantalum dan niobium. Dubnium tidak terekstraksi dan perilakunya lebih menyerupai niobium daripada tantalum. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku pembentukan kompleks tidak dapat diprediksi hanya dengan melakukan ekstrapolasi sederhana terhadap tren dalam suatu golongan pada tabel periodik.[1]

Hal tersebut mendorong penelitian lebih lanjut mengenai perilaku kimia kompleks dubnium. Berbagai laboratorium secara bersama-sama melakukan ribuan eksperimen kromatografi berulang antara tahun 1988 dan 1993. Semua unsur golongan 5 dan protaktinium diekstraksi dari asam klorida pekat. Setelah dicampur dengan konsentrasi hidrogen klorida yang lebih rendah, sejumlah kecil hidrogen fluorida ditambahkan untuk memulai ekstraksi balik secara selektif. Dubnium menunjukkan perilaku yang berbeda dari tantalum, tetapi mirip dengan niobium dan pseudohomolognya, protaktinium, pada konsentrasi hidrogen klorida di bawah 12 mol/L. Kemiripan dengan kedua unsur tersebut menunjukkan bahwa kompleks yang terbentuk kemungkinan berupa DbOX4 atau [Db(OH)2X4]. Setelah dilakukan eksperimen ekstraksi dubnium dari hidrogen bromida ke dalam diisobutil karbinol (2,6-dimetilheptan-4-ol), yaitu zat pengekstrak khusus untuk protaktinium, yang kemudian dilanjutkan dengan elusi menggunakan campuran hidrogen klorida/hidrogen fluorida serta hidrogen klorida, ditemukan bahwa dubnium lebih sulit diekstraksi dibandingkan protaktinium maupun niobium. Hal ini dijelaskan sebagai akibat meningkatnya kecenderungan dubnium membentuk kompleks dengan beberapa muatan negatif yang tidak dapat diekstraksi. Eksperimen lebih lanjut pada tahun 1992 mengonfirmasi kestabilan keadaan +5. Db(V) terbukti dapat diekstraksi dari kolom pertukaran kation menggunakan α‐hidroksiisobutirat, seperti halnya unsur golongan 5 dan protaktinium; sedangkan Db(III) dan Db(IV) tidak dapat diekstraksi. Pada tahun 1998 dan 1999, prediksi baru menunjukkan bahwa dubnium akan dapat diekstraksi dari larutan halida hampir sama baiknya dengan niobium dan lebih baik daripada tantalum. Prediksi ini kemudian dikonfirmasi.[1]

Eksperimen pertama kromatografi gas isotermal dilakukan pada tahun 1992 menggunakan 262Db, yang memiliki waktu paruh 35 detik. Volatilitas niobium dan tantalum berada dalam kisaran yang sama berdasarkan batas kesalahan pengukuran, tetapi dubnium tampak jauh lebih kurang volatil. Diduga bahwa jejak oksigen dalam sistem mungkin menyebabkan terbentuknya DbOBr3, yang diperkirakan kurang volatil dibandingkan DbBr5. Eksperimen berikutnya pada tahun 1996 menunjukkan bahwa klorida unsur-unsur golongan 5 lebih volatil daripada bromida yang bersesuaian, kecuali tantalum, kemungkinan karena terbentuknya TaOCl3. Penelitian volatilitas berikutnya terhadap klorida dubnium dan niobium, dengan tekanan parsial oksigen yang dikendalikan, menunjukkan bahwa pembentukan oksiklorida dan volatilitas secara umum bergantung pada konsentrasi oksigen. Oksiklorida terbukti kurang volatil dibandingkan klorida.[1]

Pada tahun 2004–2005, para peneliti dari Dubna dan Livermore mengidentifikasi isotop dubnium baru, 268Db, sebagai produk peluruhan alfa kelima dari unsur 115 yang baru dibuat. Isotop baru ini terbukti memiliki umur cukup panjang untuk memungkinkan eksperimen kimia lebih lanjut, dengan waktu paruh lebih dari satu hari. Dalam eksperimen tahun 2004, lapisan tipis yang mengandung dubnium diambil dari permukaan target dan dilarutkan dalam air raja bersama pelacak dan pembawa lantanum. Berbagai spesi dengan keadaan oksidasi +3, +4, dan +5 kemudian diendapkan dengan menambahkan amonium hidroksida. Endapan dicuci dan dilarutkan dalam asam klorida, kemudian diubah menjadi bentuk nitrat, dikeringkan pada sebuah film, dan dihitung. Sebagian besar spesi yang ditemukan berada dalam keadaan +5 dan langsung ditetapkan sebagai dubnium. Namun, ditemukan pula spesi +4. Berdasarkan hasil tersebut, tim peneliti memutuskan bahwa diperlukan pemisahan kimia tambahan. Pada tahun 2005, eksperimen tersebut diulangi dengan produk akhir berupa endapan hidroksida, bukan endapan nitrat. Produk tersebut kemudian diproses lebih lanjut di Livermore menggunakan kromatografi fase balik dan di Dubna menggunakan kromatografi pertukaran anion. Spesi +5 berhasil diisolasi secara efektif. Dubnium muncul tiga kali dalam fraksi yang hanya mengandung tantalum dan tidak pernah muncul dalam fraksi yang hanya mengandung niobium. Namun, para peneliti mencatat bahwa eksperimen tersebut belum cukup untuk menarik kesimpulan mengenai profil kimia dubnium secara umum.[93]

Pada tahun 2009, di akselerator tandem JAEA di Jepang, dubnium diproses dalam larutan asam nitrat dan asam fluorida pada konsentrasi ketika niobium membentuk NbOF4 dan tantalum membentuk TaF6. Perilaku dubnium lebih mendekati niobium daripada tantalum. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa dubnium membentuk DbOF4. Berdasarkan informasi yang tersedia, disimpulkan bahwa dubnium sering berperilaku seperti niobium, terkadang seperti protaktinium, tetapi jarang seperti tantalum.[94]

Pada tahun 2021, oksiklorida volatil berat dari unsur golongan 5, yaitu MOCl3 (M = Nb, Ta, Db), dipelajari secara eksperimental di akselerator tandem JAEA. Urutan volatilitas yang ditemukan adalah NbOCl3 > TaOCl3 ≥ DbOCl3, sehingga dubnium menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tren periodik.[95]

Catatan

  1. Dalam fisika nuklir, suatu unsur disebut berat jika nomor atomnya tinggi; timbal (unsur 82) adalah salah satu contoh unsur berat tersebut. Istilah "unsur superberat" biasanya mengacu pada unsur dengan nomor atom lebih besar dari 103 (meskipun ada definisi lain, seperti nomor atom lebih besar dari 100[12] atau 112;[13] terkadang istilah ini dianggap setara dengan istilah "transaktinida", yang menetapkan batas atas sebelum dimulainya deret superaktinida yang masih bersifat hipotetis).[14] Istilah "isotop berat" (dari suatu unsur tertentu) dan "inti berat" memiliki makna yang pada dasarnya dapat dipahami dalam penggunaan bahasa umum, yaitu masing-masing merujuk pada isotop dengan massa tinggi (untuk unsur tersebut) dan inti atom dengan massa tinggi.
  2. Pada tahun 2009, sebuah tim di JINR yang dipimpin oleh Oganessian mempublikasikan hasil percobaan mereka untuk menciptakan hasium melalui reaksi simetris 136Xe + 136Xe. Mereka tidak berhasil mengamati satu atom pun dalam reaksi tersebut, sehingga batas atas penampang lintang—yang merupakan ukuran probabilitas terjadinya suatu reaksi nuklir—ditetapkan sebesar 2,5 pb.[15] Sebagai perbandingan, reaksi yang menghasilkan penemuan hasium, yaitu 208Pb + 58Fe, memiliki penampang lintang sekitar 20 pb (lebih tepatnya 19+19-11 pb), berdasarkan perkiraan para penemunya.[16]
  3. Besarnya energi yang diberikan pada partikel berkas untuk mempercepatnya juga dapat memengaruhi nilai penampang lintang. Sebagai contoh, dalam reaksi 28
    14
    Si
    + 1
    0
    n
    28
    13
    Al
    + 1
    1
    p
    , penampang lintang berubah secara bertahap dari 370 mb pada 12,3 MeV menjadi 160 mb pada 18,3 MeV, dengan puncak yang lebar pada 13,5 MeV dan nilai maksimum sebesar 380 mb.[20]
  4. Gambar ini juga menunjukkan batas atas masa hidup inti gabungan yang secara umum diterima.[25]
  5. Pemisahan ini didasarkan pada kenyataan bahwa inti yang dihasilkan bergerak melewati target dengan kecepatan lebih lambat dibandingkan dengan inti berkas yang tidak bereaksi. Pemisah tersebut memiliki medan listrik dan medan magnet yang pengaruhnya terhadap partikel yang bergerak saling meniadakan pada kecepatan tertentu dari partikel tersebut.[27] Pemisahan ini juga dapat dibantu dengan pengukuran waktu terbang dan pengukuran energi rekoil; kombinasi keduanya dapat digunakan untuk memperkirakan massa suatu inti.[28]
  6. Tidak semua mode peluruhan disebabkan oleh tolakan elektrostatik. Sebagai contoh, peluruhan beta disebabkan oleh interaksi lemah.[35]
  7. Pada tahun 1960-an, telah diketahui bahwa keadaan dasar inti berbeda dalam hal energi dan bentuk, serta bahwa bilangan ajaib tertentu dari nukleon berkaitan dengan kestabilan inti yang lebih tinggi. Namun, pada saat itu diasumsikan bahwa tidak terdapat struktur inti pada inti superberat, karena inti-inti tersebut dianggap terlalu terdeformasi untuk membentuk suatu struktur.[40]
  8. Karena massa inti tidak diukur secara langsung, melainkan dihitung berdasarkan massa inti lain, pengukuran semacam ini disebut pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung juga memungkinkan dilakukan, tetapi sebagian besar masih belum tersedia untuk inti superberat.[45] Pengukuran langsung pertama terhadap massa inti superberat dilaporkan pada tahun 2018 di LBNL.[46] Massa ditentukan berdasarkan posisi inti setelah mengalami perpindahan; posisi tersebut membantu menentukan lintasannya, yang berkaitan dengan rasio massa terhadap muatan inti, karena proses perpindahan berlangsung dalam medan magnet.[47]
  9. Jika peluruhan terjadi dalam ruang hampa, maka karena momentum total suatu sistem terisolasi harus tetap terjaga sebelum dan sesudah peluruhan, inti anak (produk peluruhan) juga akan memperoleh kecepatan kecil. Perbandingan kedua kecepatan tersebut, dan dengan demikian perbandingan energi kinetiknya, akan berbanding terbalik dengan perbandingan kedua massanya. Energi peluruhan sama dengan jumlah energi kinetik partikel alfa yang telah diketahui dan energi kinetik inti anak (yang merupakan pecahan tertentu secara tepat dari energi kinetik partikel alfa).[36] Perhitungan ini juga berlaku dalam suatu eksperimen, tetapi perbedaannya adalah inti tidak bergerak setelah peluruhan karena terikat pada detektor.
  10. Fisi spontan ditemukan oleh fisikawan Soviet Georgy N. Flerov,[48] seorang ilmuwan terkemuka di JINR, sehingga fisi spontan menjadi semacam "hobi utama" (hobbyhorse) bagi fasilitas tersebut.[49] Sebaliknya, para ilmuwan LBNL berpendapat bahwa informasi mengenai fisi tidak cukup untuk menjadi dasar klaim atas sintesis suatu unsur. Mereka menganggap fisi spontan belum cukup dipelajari untuk digunakan dalam mengidentifikasi unsur baru, karena terdapat kesulitan dalam memastikan bahwa inti gabungan hanya melepaskan neutron dan tidak melepaskan partikel bermuatan seperti proton atau partikel alfa.[25] Oleh karena itu, mereka lebih memilih menghubungkan isotop-isotop baru dengan isotop yang sudah diketahui melalui peluruhan alfa secara berturut-turut.[48]
  11. Sebagai contoh, unsur 102 secara keliru diidentifikasi pada tahun 1957 di Nobel Institute of Physics di Stockholm, Daerah Stockholm, Swedia.[50] Sebelumnya tidak ada klaim definitif mengenai penciptaan unsur ini, dan unsur tersebut diberi nama oleh para penemunya yang berasal dari Swedia, Amerika, dan Inggris, yaitu nobelium. Namun, kemudian terbukti bahwa identifikasi tersebut tidak benar.[51] Pada tahun berikutnya, RL tidak berhasil mereproduksi hasil penelitian Swedia tersebut dan sebagai gantinya mengumumkan sintesis unsur tersebut; klaim itu juga kemudian terbukti tidak benar.[51] JINR bersikeras bahwa merekalah yang pertama kali menciptakan unsur tersebut dan mengusulkan nama mereka sendiri untuk unsur baru itu, yaitu joliotium.[52] Nama yang diusulkan oleh pihak Soviet tersebut juga tidak diterima. JINR kemudian menyebut pemberian nama unsur 102 tersebut sebagai tindakan yang "terburu-buru").[53] Nama tersebut diusulkan kepada IUPAC dalam tanggapan tertulis terhadap keputusan mereka mengenai prioritas klaim penemuan unsur-unsur, yang ditandatangani pada 29 September 1992.[53] Nama "nobelium" tetap dipertahankan karena sudah digunakan secara luas.[54]
  12. Notasi ini menunjukkan bahwa inti tersebut merupakan isomer nuklir yang meluruh melalui fisi spontan.
  13. Nilai eksperimen saat ini adalah 16+6−4 jam untuk 268Db, tetapi hukum statistik bilangan besar, yang menjadi dasar dalam penentuan waktu paruh, tidak dapat diterapkan secara langsung karena jumlah eksperimen (peluruhan) yang dilakukan sangat terbatas. Rentang ketidakpastian menunjukkan bahwa periode waktu paruh berada dalam rentang tersebut dengan probabilitas 95%.
  14. Teori modern tentang inti atom tidak menunjukkan adanya isotop dubnium yang berumur panjang. Namun, di masa lalu pernah ada klaim bahwa isotop-isotop tak dikenal dari unsur superberat telah ada secara primordial di Bumi. Sebagai contoh, pada tahun 1963 pernah diklaim bahwa 267108 memiliki waktu paruh sekitar 400 hingga 500 juta tahun.[83] Kemudian, pada tahun 2009, muncul klaim mengenai 292122 yang memiliki waktu paruh lebih dari 100 juta tahun.[84] Kedua klaim tersebut tidak diterima oleh komunitas ilmiah.
  15. Efek relativistik muncul ketika suatu benda bergerak dengan kecepatan yang sebanding dengan kecepatan cahaya; dalam atom-atom berat, benda yang bergerak cepat tersebut adalah elektron.

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Hoffman, D. C.; Lee, D. M.; Pershina, V. (2006). "Transactinides and the future elements". Dalam Morss, L.R.; Edelstein, N. M.; Fuger, Jean (ed.). The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements (Edisi 3rd). Springer Science+Business Media. hlm. 1652–1752. ISBN 978-1-4020-3555-5.
  2. 1 2 3 Östlin, A.; Vitos, L. (2011). "First-principles calculation of the structural stability of 6d transition metals". Physical Review B. 84 (11). Bibcode:2011PhRvB..84k3104O. doi:10.1103/PhysRevB.84.113104.
  3. 1 2 Gyanchandani, Jyoti; Sikka, S. K. (10 Mei 2011). "Physical properties of the 6 d -series elements from density functional theory: Close similarity to lighter transition metals". Physical Review B. 83 (17): 172101. doi:10.1103/PhysRevB.83.172101.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  4. Kratz; Lieser (2013). Nuclear and Radiochemistry: Fundamentals and Applications (Edisi 3rd). hlm. 631.
  5. Fricke, Burkhard (1975). "Superheavy elements: a prediction of their chemical and physical properties". Recent Impact of Physics on Inorganic Chemistry. Structure and Bonding. 21: 89–144. doi:10.1007/BFb0116498. ISBN 978-3-540-07109-9. Diakses tanggal 16 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  6. "Dubnium". Royal Chemical Society. Diakses tanggal 7 Agustus 2022.
  7. Münzenberg, G.; Gupta, M. (2011). "Production and Identification of Transactinide Elements". Handbook of Nuclear Chemistry. Springer. hlm. 877. doi:10.1007/978-1-4419-0720-2_19.
  8. 1 2 3 4 5 "Six New Isotopes of the Superheavy Elements Discovered". Berkeley Lab. 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Mei 2014. Diakses tanggal 7 Agustus 2022.
  9. http://flerovlab.jinr.ru/index.php/2020/12/25/she-factory-first-experiment/
  10. Oganessian, Yu. Ts.; Abdullin, F. Sh.; Bailey, P. D.; et al. (2010). "Synthesis of a New Element with Atomic Number Z=117". Physical Review Letters. 104 (142502). American Physical Society. Bibcode:2010PhRvL.104n2502O. doi:10.1103/PhysRevLett.104.142502. PMID 20481935. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Oktober 2016.
  11. Ibadullayev, Dastan (2024). "Synthesis and study of the decay properties of isotopes of superheavy element Lv in Reactions 238U + 54Cr and 242Pu + 50Ti". jinr.ru. Institut Bersama untuk Riset Nuklir. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. Krämer, K. (2016). "Explainer: superheavy elements". Chemistry World (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. "Discovery of Elements 113 and 115". Laboratorium Nasional Lawrence Livermore. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2015. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. Eliav, E.; Kaldor, U.; Borschevsky, A. (2018). "Electronic Structure of the Transactinide Atoms". Dalam Scott, R. A. (ed.). Encyclopedia of Inorganic and Bioinorganic Chemistry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 1–16. doi:10.1002/9781119951438.eibc2632. ISBN 978-1-119-95143-8. S2CID 127060181.
  15. Oganessian, Yu. Ts.; Dmitriev, S. N.; Yeremin, A. V.; et al. (2009). "Attempt to produce the isotopes of element 108 in the fusion reaction 136Xe + 136Xe". Physical Review C (dalam bahasa Inggris). 79 (2) 024608. doi:10.1103/PhysRevC.79.024608. ISSN 0556-2813.
  16. Münzenberg, G.; Armbruster, P.; Folger, H.; et al. (1984). "The identification of element 108" (PDF). Zeitschrift für Physik A. 317 (2): 235–236. Bibcode:1984ZPhyA.317..235M. doi:10.1007/BF01421260. S2CID 123288075. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Juni 2015. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. Subramanian, S. (28 Agustus 2019). "Making New Elements Doesn't Pay. Just Ask This Berkeley Scientist". Bloomberg Businessweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2024. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. 1 2 3 4 5 6 Ivanov, D. (2019). "Сверхтяжелые шаги в неизвестное" [Langkah unsur superberat menuju wilayah yang belum diketahui]. nplus1.ru (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. Hinde, D. (2017). "Something new and superheavy at the periodic table". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. Kern, B. D.; Thompson, W. E.; Ferguson, J. M. (1959). "Cross sections for some (n, p) and (n, α) reactions". Nuclear Physics (dalam bahasa Inggris). 10: 226–234. Bibcode:1959NucPh..10..226K. doi:10.1016/0029-5582(59)90211-1.
  21. Wakhle, A.; Simenel, C.; Hinde, D. J.; et al. (2015). Simenel, C.; Gomes, P. R. S.; Hinde, D. J.; et al. (ed.). "Comparing Experimental and Theoretical Quasifission Mass Angle Distributions". European Physical Journal Web of Conferences. 86: 00061. Bibcode:2015EPJWC..8600061W. doi:10.1051/epjconf/20158600061. hdl:1885/148847. ISSN 2100-014X.
  22. "Nuclear Reactions" (PDF). hlm. 7–8. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Published as Loveland, W. D.; Morrissey, D. J.; Seaborg, G. T. (2005). "Nuclear Reactions". Modern Nuclear Chemistry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons, Inc. hlm. 249–297. doi:10.1002/0471768626.ch10. ISBN 978-0-471-76862-3.
  23. 1 2 Krása, A. (2010). "Neutron Sources for ADS" (PDF). Faculty of Nuclear Sciences and Physical Engineering. Universitas Teknik Praha: 4–8. S2CID 28796927. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 September 2017 via Wayback Machine.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. Wapstra, A. H. (1991). "Criteria that must be satisfied for the discovery of a new chemical element to be recognized" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 63 (6): 883. doi:10.1351/pac199163060879. ISSN 1365-3075. S2CID 95737691.
  25. 1 2 Hyde, E. K.; Hoffman, D. C.; Keller, O. L. (1987). "A History and Analysis of the Discovery of Elements 104 and 105". Radiochimica Acta. 42 (2): 67–68. doi:10.1524/ract.1987.42.2.57. ISSN 2193-3405. S2CID 99193729.
  26. 1 2 3 Chemistry World (2016). "How to Make Superheavy Elements and Finish the Periodic Table [Video]". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 334.
  28. Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 335.
  29. Zagrebaev, Karpov & Greiner 2013, hlm. 3.
  30. Beiser 2003, hlm. 432.
  31. 1 2 Pauli, N. (2019). "Alpha decay" (PDF). Introductory Nuclear, Atomic and Molecular Physics (Nuclear Physics Part). Université libre de Bruxelles. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  32. 1 2 3 4 5 Pauli, N. (2019). "Nuclear fission" (PDF). Introductory Nuclear, Atomic and Molecular Physics (Nuclear Physics Part). Université libre de Bruxelles. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. Staszczak, A.; Baran, A.; Nazarewicz, W. (2013). "Spontaneous fission modes and lifetimes of superheavy elements in the nuclear density functional theory". Physical Review C. 87 (2): 024320–1. arXiv:1208.1215. Bibcode:2013PhRvC..87b4320S. doi:10.1103/physrevc.87.024320. ISSN 0556-2813.
  34. Audi et al. 2017, hlm. 030001-129–030001-138.
  35. Beiser 2003, hlm. 439.
  36. 1 2 Beiser 2003, hlm. 433.
  37. Audi et al. 2017, hlm. 030001-125.
  38. Aksenov, N. V.; Steinegger, P.; Abdullin, F. Sh.; et al. (2017). "On the volatility of nihonium (Nh, Z = 113)". The European Physical Journal A (dalam bahasa Inggris). 53 (7): 158. Bibcode:2017EPJA...53..158A. doi:10.1140/epja/i2017-12348-8. ISSN 1434-6001. S2CID 125849923.
  39. Beiser 2003, hlm. 432–433.
  40. 1 2 3 Oganessian, Yu. (2012). "Nuclei in the "Island of Stability" of Superheavy Elements". Journal of Physics: Conference Series. 337 (1): 012005-1 – 012005-6. Bibcode:2012JPhCS.337a2005O. doi:10.1088/1742-6596/337/1/012005. ISSN 1742-6596.
  41. Moller, P.; Nix, J. R. (1994). Fission properties of the heaviest elements (PDF). Dai 2 Kai Hadoron Tataikei no Simulation Symposium, Tokai-mura, Ibaraki, Jepang. University of North Texas. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  42. 1 2 Oganessian, Yu. Ts. (2004). "Superheavy elements". Physics World. 17 (7): 25–29. doi:10.1088/2058-7058/17/7/31. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. Schädel, M. (2015). "Chemistry of the superheavy elements". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences (dalam bahasa Inggris). 373 (2037) 20140191. Bibcode:2015RSPTA.37340191S. doi:10.1098/rsta.2014.0191. ISSN 1364-503X. PMID 25666065.
  44. Hulet, E. K. (1989). Biomodal spontaneous fission. 50th Anniversary of Nuclear Fission, Leningrad, USSR. Bibcode:1989nufi.rept...16H.
  45. Oganessian, Yu. Ts.; Rykaczewski, K. P. (2015). "A beachhead on the island of stability". Physics Today. 68 (8): 32–38. Bibcode:2015PhT....68h..32O. doi:10.1063/PT.3.2880. ISSN 0031-9228. OSTI 1337838. S2CID 119531411.
  46. Grant, A. (2018). "Weighing the heaviest elements". Physics Today (dalam bahasa Inggris) (11) 4650. Bibcode:2018PhT..2018k4650G. doi:10.1063/PT.6.1.20181113a. S2CID 239775403.
  47. Howes, L. (2019). "Exploring the superheavy elements at the end of the periodic table". Chemical & Engineering News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  48. 1 2 Robinson, A. E. (2019). "The Transfermium Wars: Scientific Brawling and Name-Calling during the Cold War". Distillations (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  49. "Популярная библиотека химических элементов. Сиборгий (экавольфрам)" [Tabel populer unsur-unsur kimia. Seaborgium (eka-wolfram)]. n-t.ru (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Dicetak ulang dari "Экавольфрам" [Eka-wolfram]. Популярная библиотека химических элементов. Серебро – Нильсборий и далее [Tabel populer unsur-unsur kimia. Dari perak hingga nielsbohrium dan seterusnya] (dalam bahasa Rusia). Nauka. 1977.
  50. "Nobelium - Element information, properties and uses | Periodic Table". Royal Society of Chemistry. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  51. 1 2 Kragh 2018, hlm. 38–39.
  52. Kragh 2018, hlm. 40.
  53. 1 2 Ghiorso, A.; Seaborg, G. T.; Oganessian, Yu. Ts.; et al. (1993). "Responses on the report 'Discovery of the Transfermium elements' followed by reply to the responses by Transfermium Working Group" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1815–1824. doi:10.1351/pac199365081815. S2CID 95069384. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2013. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  54. Commission on Nomenclature of Inorganic Chemistry (1997). "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1997)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 69 (12): 2471–2474. doi:10.1351/pac199769122471.
  55. Choppin, G. R.; Liljenzin, J.-O.; Rydberg, J. (2002). Radiochemistry and Nuclear Chemistry. Elsevier. hlm. 416. ISBN 978-0-7506-7463-8.
  56. Hoffman, D. C. (1996). The Transuranium Elements: From Neptunium and Plutonium to Element 112 (PDF) (Laporan). Laboratorium Nasional Lawrence Livermore. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2017. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  57. Karol, P. (1994). "The Transfermium Wars". Chemical & Engineering News. 74 (22): 2–3. doi:10.1021/cen-v072n044.p002.
  58. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Barber, R. C.; Greenwood, N. N.; Hrynkiewicz, A. Z.; et al. (1993). "Discovery of the Transfermium elements" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1757. doi:10.1351/pac199365081757. S2CID 195819585. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 September 2016. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  59. "Dubnium | chemical element". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2018. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  60. Soviet Science Review (dalam bahasa Inggris). IPC Science and Technology Press. 1972.
  61. Industries atomiques et spatiales, Volume 16 (dalam bahasa Prancis). Switzerland. 1972. hlm. 30–31. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Desember 2022. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  62. Radiochemistry. Royal Society of Chemistry. 1972. ISBN 978-0-85186-254-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2024. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  63. Suomen kemistilehti. Suomalaisten Kemistien Seura. 1971. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2024. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  64. Fontani, M.; Costa, M.; Orna, M. V. (2014). The Lost Elements: The Periodic Table's Shadow Side. Oxford University Press. hlm. 386. ISBN 978-0-19-938335-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Februari 2018.
  65. Hoffmann, K. (1987). Можно ли сделать золото? Мошенники, обманщики и ученые в истории химических элементов [Bisakah emas dibuat? Penipu, pesulap, dan cendekiawan. Dari sejarah unsur-unsur kimia] (dalam bahasa Rusia). Nauka. hlm. 180–181. Translation from Hoffmann, K. (1979). Kann man Gold machen? Gauner, Gaukler und Gelehrte. Aus der Geschichte der chemischen Elemente [Bisakah emas dibuat? Penipu, pesulap, dan cendekiawan. Dari sejarah unsur-unsur kimia] (dalam bahasa Jerman). Urania.
  66. 1 2 3 4 5 Ghiorso, A.; Seaborg, G. T.; Oganessian, Yu. Ts.; et al. (1993). "Responses on the report 'Discovery of the Transfermium elements' followed by reply to the responses by Transfermium Working Group" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1815–1824. doi:10.1351/pac199365081815. S2CID 95069384. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2013. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  67. Robinson, A. (2017). "An Attempt to Solve the Controversies Over Elements 104 and 105: A Meeting in Russia, 23 September 1975". Bulletin of the American Physical Society. 62 (1): B10.003. Bibcode:2017APS..APRB10003R. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2017. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  68. Öhrström, L.; Holden, N. E. (2016). "The Three-letter Element Symbols". Chemistry International. 38 (2): 4–8. doi:10.1515/ci-2016-0204.
  69. "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1994)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 66 (12): 2419–2421. 1994. doi:10.1351/pac199466122419. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 September 2017. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  70. Yarris, L. (1994). "Naming of element 106 disputed by international committee". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juli 2016. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  71. Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 389–394
  72. Loss, R. D.; Corish, J. (2012). "Names and symbols of the elements with atomic numbers 114 and 116 (IUPAC Recommendations 2012)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 84 (7): 1669–1672. doi:10.1351/PAC-REC-11-12-03. S2CID 96830750. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 Agustus 2017. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  73. Bera, J. K. (1999). "Names of the Heavier Elements". Resonance. 4 (3): 53–61. doi:10.1007/BF02838724. S2CID 121862853.
  74. Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 369–399
  75. "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1997)". Pure and Applied Chemistry. 69 (12): 2471–2474. 1997. doi:10.1351/pac199769122471.
  76. "Periodic Table of the Elements". lbl.gov. Lawrence Berkeley National Laboratory. 1999. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 April 2021. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  77. Wilk, P. A. (2001). Properties of Group Five and Group Seven transactinium elements (PhD). University of California, Berkeley. doi:10.2172/785268. OSTI 785268. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Oktober 2022. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  78. Buhler, Brendan (2014). "Branding the Elements: Berkeley Stakes its Claims on the Periodic Table". alumni.berkeley.edu. Cal Alumni Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Oktober 2022. Diakses tanggal 31 Agustus 2026. Unsur 105 yang malang telah memiliki lima nama yang berbeda—para pendukung Berkeley masih menyebutnya hahnium.
  79. @BerkeleyLab (8 Januari 2014). "#16elements from Berkeley Lab: mendelevium, nobelium, lawrencium, rutherfordium, hahnium, seaborgium" (Kicauan) via Twitter.
  80. Armbruster, Peter; Münzenberg, Gottfried (2012). "An experimental paradigm opening the world of superheavy elements". The European Physical Journal H. 37 (2): 237–309. Bibcode:2012EPJH...37..237A. doi:10.1140/epjh/e2012-20046-7. S2CID 123446987. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Desember 2022. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  81. 1 2 Karpov, A. V.; Zagrebaev, V. I.; Palenzuela, Y. M.; Greiner, W. (2013). "Superheavy Nuclei: Decay and Stability". Dalam Greiner, W. (ed.). Exciting Interdisciplinary Physics. FIAS Interdisciplinary Science Series (dalam bahasa Inggris). Springer International Publishing. hlm. 69–79. doi:10.1007/978-3-319-00047-3_6. ISBN 978-3-319-00046-6.
  82. 1 2 Audi, G.; Kondev, F. G.; Wang, M.; et al. (2012). "The NUBASE2012 evaluation of nuclear properties" (PDF). Chinese Physics C. 36 (12): 1157–1286. Bibcode:2012ChPhC..36....1A. doi:10.1088/1674-1137/36/12/001. S2CID 123457161. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 Juli 2016.
  83. Emsley, J. (2011). Nature's Building Blocks: An A-Z Guide to the Elements (Edisi Terbaru). New York: Oxford University Press. hlm. 215–217. ISBN 978-0-19-960563-7.
  84. Marinov, A.; Rodushkin, I.; Kolb, D.; et al. (2010). "Evidence for a long-lived superheavy nucleus with atomic mass number A=292 and atomic number Z=~122 in natural Th". International Journal of Modern Physics E. 19 (1): 131–140. arXiv:0804.3869. Bibcode:2010IJMPE..19..131M. doi:10.1142/S0218301310014662. S2CID 117956340.
  85. Karpov, A. V.; Zagrebaev, V. I.; Palenzuela, Y. M.; et al. (2013). "Superheavy Nuclei: Decay and Stability". Exciting Interdisciplinary Physics. FIAS Interdisciplinary Science Series. hlm. 69. doi:10.1007/978-3-319-00047-3_6. ISBN 978-3-319-00046-6.
  86. Botvina, Al.; Mishustin, I.; Zagrebaev, V.; et al. (2010). "Possibility of synthesizing superheavy elements in nuclear explosions". International Journal of Modern Physics E. 19 (10): 2063–2075. arXiv:1006.4738. Bibcode:2010IJMPE..19.2063B. doi:10.1142/S0218301310016521. S2CID 55807186.
  87. Wuenschel, S.; Hagel, K.; Barbui, M.; et al. (2018). "An experimental survey of the production of alpha decaying heavy elements in the reactions of 238U +232Th at 7.5-6.1 MeV/nucleon". Physical Review C. 97 (6) 064602. arXiv:1802.03091. Bibcode:2018PhRvC..97f4602W. doi:10.1103/PhysRevC.97.064602. S2CID 67767157.
  88. Oganessian, Yu. Ts.; Utyonkov, V. K.; Kovrizhnykh, N. D.; et al. (29 September 2022). "First experiment at the Super Heavy Element Factory: High cross section of 288Mc in the 243Am+48Ca reaction and identification of the new isotope 264Lr". Physical Review C. 106 (3) L031301. doi:10.1103/PhysRevC.106.L031301. S2CID 252628992.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  89. Oganessian, Yu. Ts.; Abdullin, F. Sh.; Bailey, P. D.; et al. (2010). "Synthesis of a New Element with Atomic Number Z=117". Physical Review Letters. 104 (14) 142502. Bibcode:2010PhRvL.104n2502O. doi:10.1103/PhysRevLett.104.142502. PMID 20481935. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Desember 2016.
  90. Khuyagbaatar, J.; Yakushev, A.; Düllmann, Ch. E.; et al. (2014). "48Ca + 249Bk Fusion Reaction Leading to Element Z = 117: Long-Lived α-Decaying 270Db and Discovery of 266Lr" (PDF). Physical Review Letters. 112 (17) 172501. Bibcode:2014PhRvL.112q2501K. doi:10.1103/PhysRevLett.112.172501. hdl:1885/148814. PMID 24836239. S2CID 5949620. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 Agustus 2017.
  91. Wills, S.; Berger, L. (2011). "Science Magazine Podcast. Transcript, 9 September 2011" (PDF). Science. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 Oktober 2016. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  92. Oganessian, Yu. Ts.; Sobiczewski, A.; Ter-Akopian, G. M. (2017). "Superheavy nuclei: from prediction to discovery". Physica Scripta. 92 (2): 023003. Bibcode:2017PhyS...92b3003O. doi:10.1088/1402-4896/aa53c1. S2CID 125713877.
  93. Stoyer, N. J.; Landrum, J. H.; Wilk, P. A.; et al. (2006). Chemical Identification of a Long-Lived Isotope of Dubnium, a Descendant of Element 115 (PDF) (Laporan). IX International Conference on Nucleus Nucleus Collisions. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2017. Diakses tanggal 31 Agustus 2026.
  94. Nagame, Y.; Kratz, J. V.; Schädel, M. (2016). "Chemical properties of rutherfordium (Rf) and dubnium (Db) in the aqueous phase" (PDF). EPJ Web of Conferences (dalam bahasa Inggris). 131: 07007. Bibcode:2016EPJWC.13107007N. doi:10.1051/epjconf/201613107007. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 April 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  95. Chiera, Nadine M.; Sato, Tetsuya K.; Eichler, Robert; et al. (2021). "Chemical Characterization of a Volatile Dubnium Compound, DbOCl3". Angewandte Chemie International Edition. 60 (33): 17871–17874. Bibcode:2021ACIE...6017871C. doi:10.1002/anie.202102808. PMC 8456785. PMID 33978998.

Bibliografi

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Dubnium.
Lihat entri dubnium di kamus bebas Wikikamus.
(besar)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 H He
2 Li Be B C N O F Ne
3 Na Mg Al Si P S Cl Ar
4 K Ca Sc Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn Ga Ge As Se Br Kr
5 Rb Sr Y Zr Nb Mo Tc Ru Rh Pd Ag Cd In Sn Sb Te I Xe
6 Cs Ba La Ce Pr Nd Pm Sm Eu Gd Tb Dy Ho Er Tm Yb Lu Hf Ta W Re Os Ir Pt Au Hg Tl Pb Bi Po At Rn
7 Fr Ra Ac Th Pa U Np Pu Am Cm Bk Cf Es Fm Md No Lr Rf Db Sg Bh Hs Mt Ds Rg Cn Nh Fl Mc Lv Ts Og
Logam alkali Logam alkali tanah Lan­tanida Aktinida Logam transisi Logam miskin Metaloid Nonlogam poliatomik Nonlogam diatomik Gas mulia Sifat kimia
belum diketahui
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan