Senin, 21 September 2026
05:00 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Herman Willem Daendels

Herman Willem Daendels

politikus Belanda

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Herman Willem Daendels"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Herman Willem Daendels
250px-Posthuum_portret_van_Herman_Willem_Daendels_%281762-1818%29._Gouverneur-generaal_%281808-10%29_Rijksmuseum_SK-A-3790.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret anumerta oleh Raden Saleh, 1838
Gubernur Jenderal Pantai Emas Belanda
Masa jabatan
11 Maret 1816 –2 Mei 1818
Penguasa monarkiWillem I
PendahuluAbraham de Veer (sebagai Komandan Jenderal)
PenggantiFrans Christiaan Eberhard Oldenburg (sebagai Komandan)
Gubernur Jenderal Hindia Belanda
Masa jabatan
14 Januari 1808 –15 Mei 1811
Penguasa monarki
PendahuluAlbertus Wiese
PenggantiJan Willem Janssens
Informasi pribadi
Lahir(1762-10-21)21 Oktober 1762
Meninggal2 Mei 1818(1818-05-02) (umur 55)
MakamPemakaman Belanda, Elmina
Partai politikPatriottentijd
Karier militer
Pihak
Dinas/cabangGrande Armée
PangkatMayor Jenderal
KomandoLegiun Batavia
Pertempuran/perang
PenghargaanLégion d'honneur

Herman Willem Daendels (21 Oktober 1762  2 Mei 1818) adalah seorang perwira militer Belanda dan administrator kolonial yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari tahun 1808 hingga 1811.[1][2]

Kehidupan awal

Herman Willem Daendels lahir pada 21 Oktober 1762 di Hattem, Belanda. Ayahnya, Burchard Johan Daendels, menjabat sebagai sekretaris wali kota; ibunya adalah Josina Christina Tulleken. Daendels menempuh pendidikan hukum di Universitas Harderwijk dan memperoleh gelar doktor pada 10 April 1783.

Karier

Pada tahun 1806, ia dipanggil oleh Raja Belanda, Raja Louis (Koning Lodewijk) untuk berbakti kembali di tentara Belanda. Ia ditugasi untuk mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Lalu setelah sukses, pada tanggal 28 Januari 1807 atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte, ia dikirim ke Hindia Belanda sebagai Gubernur-Jenderal.

Gubernur-Jenderal

Daendels tiba di Batavia pada 5 Januari 1808 menggantikan Albertus Wiese sebagai Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Daendels mengemban tugas yang diberikan oleh Raja Louis untuk melakukan reformasi pemerintahan Hindia Belanda yang korup sepeninggal VOC, selain juga untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Sebelum dikirim ke Jawa, Daendels diberi gelar kehormatan Marsekal Belanda pada 28 Januari 1807.[3] Pemberian gelar ini memunculkan rasa tidak senang dari Napoleon, dan ia sempat menegur adiknya, Louis Bonaparte, yang pada saat itu menjadi Raja Belanda. Napoleon melihat bahwa bangsa Belanda tidak pandai berperang sehingga tidak layak memiliki perwira dengan pangkat setinggi itu.[4]

Gaya pemerintahan

Pemerintahan Daendels di Jawa sangat berbau militeristik. Hal ini dapat dilihat dari caranya berpakaian. Tidak seperti gubernur jenderal sebelumnya pada masa VOC yang menggenakan pakaian elite kerajaan, seragam yang ia pakai adalah seragam marsekal. Selain itu, pemerintahan yang ia dirikan memiliki penjenjangan terstruktur yang terpusat mirip dengan struktur komando pasukan Napoleon. Ia juga membagi Jawa menjadi sembilan daerah administrasi yang masing-masing terdiri dari distrik yang berada di bawah kekuasaan seorang bupati.[4]

Ong Hok Ham berpendapat mengenai gaya pemerintahan militeristik Daendels:

"Memuliakan militerisasi pemerintahan penjajahan dengan memberikan semua pejabat, baik yang keturunan Eropa maupun Jawa, sebuah pangkat militer. Mungkin ia berharap bahwa ini akan membuahkan disiplin yang lebih tinggi!"

Sejak saat itu dimulailah tradisi di antara para pejabat administratif penjajahan Belanda, yang pasca 1816 disebut sebagai Pangreh Praja (Binnenlands Bestuur) dan para priyayi pasca Perang Jawa mengenakan seragam bergaya militer sebagai tanda status pegawai negeri sipil. Sebuah praktik yang masih dilakukan hingga sekarang.[4]

Reformasi administrasi pemerintahan dan peradilan

Salah satu tindakan yang diambil oleh Daendels adalah reformasi total administrasi. Daendels mengangkat semua bupati Jawa menjadi pejabat pemerintah Belanda dengan alasan agar terhindar dari beban pemerasan dan perlakuan menghina dari pejabat Eropa. Perubahan status ini menimbulkan konsekuensi yaitu kehilangan prestise dan kebebasan bertindak terhadap rakyat mereka.[5]

Daendels mengkritik sistem peradilan Batavia yang ia anggap tidak bisa menangani banyak kasus yang masuk dan penyalahgunaan kekuasaan peradilan yang makin lama makin tak tertahankan. Akibatnya ia melakukan perombakan terhadap sistem peradilan. Ia melakukan pemisahan pengadilan menjadi dua kelompok, pengadilan untuk orang Jawa dan pengadilan untuk orang Eropa, Cina, dan Arab. Untuk pengadilan pertama akan menggunakan peradilan menurut hukum dan adat istiadat Jawa. Sedangkan untuk kelompok kedua menurut peraturan perundang-undangan Hindia Belanda. Perubahan ini menimbulkan kekacauan yurisdiksi di antara pengadilan-pengadilan yang berbeda. Hukum dan adat istiadat penduduk asli mungkin masih bisa diterima atau ditolak oleh pengadilan.[5]

Pemindahan pusat Kota Batavia

Daendels tahu bahwa Batavia tidak akan pernah bisa dipakai sebagai pusat utama pertahanan Pulau Jawa. Istana tuanya, dengan tembok-tembok yang rapuh dapat dihancurkan dari laut. Iklimnya bisa membunuh serdadu garnisun bahkan sebelum musuh menyentuh pantai. Instruksi kepada Daendels memberinya hak untuk memindahkan pusat kota ke daerah yang lebih sehat dan Gubernur Jenderal pendahulunya, Van Overstraten, telah membuat rencana untuk memindahkan kedudukan pemerintahan ke pedalaman Jawa Tengah, tempat kekuatan gabungan Belanda dan raja-raja Jawa dapat melawan kekuatan yang berjumlah lebih besar dalam jangka waktu yang lebih lama. Daendels berpikir untuk memindahkan kota ke Surabaya tetapi ia urung melakukan rencana tersebut karena kesulitan memindahkan seluruh permukiman Batavia, gudang-gudangnya, dan kapal-kapal dengan barang dagangan yang berharga.[5]

Ia memutuskan untuk memindahkan perumahan tersebut ke pedalaman yang kala itu disebut dengan Weltevreden, yang sebelumnya merupakan salah satu lahan milik Chastelein. Bahan bangunan disediakan dengan menghancurkan sejumlah rumah dan kastil kuno Coen. Di selatan Weltevreden, satu perkampungan berbenteng dibangun dengan tujuan sebagai pusat pertahanan utama jika Britania menyerbu.[5]

Membangun Jalan Raya Pos

Lihat pula: Jalan Raya Pos

Selain melakukan reformasi pemerintahan dengan gaya pemerintahan yang militeristik, Daendels juga menjadi pencetus pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari barat hingga timur Pulau Jawa. Pembangunan jalan ini dilakukan dengan melihat kondisi Pulau Jawa pada saat itu yang sedang diblokade oleh Inggris di bawah pimpinan Laksamana Muda Sir Edward Pellew. Blokade yang dilakukan sepanjang pesisir utara Jawa ini mengakibatkan tidak satu pun kapal yang berlayar di pesisir utara Jawa bebas dari pengawasan armada kapal Inggris. Daendels tak kehabisan akal, ia menggunakan bubuk mesiu untuk membuka jalur yang melintasi Pegunungan Priangan melalui Puncak (Megamendung), Bandung, dan Cianjur.[4]

Kembali ke Eropa

Sekembali Daendels di Eropa, Daendels kembali bertugas di tentara Prancis. Dia juga ikut tentara Napoleon berperang ke Rusia. Setelah Napoleon dikalahkan di Waterloo dan Belanda merdeka kembali, Daendels menawarkan dirinya kepada Raja Willem I, tetapi Raja Belanda ini tidak terlalu suka terhadap mantan patriot dan tokoh revolusioner ini. Akan tetapi, pada tahun 1815 ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Pantai Emas Belanda, Ghana dan meninggal di sana pada tanggal 2 Mei 1818[6] Ia meninggal dunia akibat penyakit malaria.[7]

Pengabdian di Grand Armee

Saat Kerajaan Belanda dianeksasi oleh Prancis pada tahun 1810, Daendels kembali ke Belanda dan tinggal di Paris pada bulan November 1811. Ia diangkat sebagai jenderal divisi (mayor jenderal) dan memimpin Divisi ke-26 Grande Armée. Divisi ini terdiri dari pasukan yang berasal dari Baden, Hesse-Darmstadt, dan Berg. Pada pertengahan Maret 1812, Daendels ditunjuk sebagai komandan Divisi ke-26 di bawah komando Marsekal Victor dalam Korps IX, yang bertugas sebagai pasukan cadangan.

Pada bulan Agustus, Victor menerima perintah untuk bergerak ke arah timur dan bergabung dengan pasukan Baden dalam kampanye Rusia tahun 1812. Daendels tiba di Vilnius pada tanggal 8 dan 15 September, kemudian mencapai Minsk. Pada tanggal 11 Oktober, divisinya bergerak menuju Babinovichi, dan pada tanggal 20 Oktober, mereka menerima perintah untuk melanjutkan perjalanan ke Vitebsk. Menjelang tanggal 27 Oktober, mereka telah menduduki kota Beshenkovichi yang terletak di dekatnya. Keesokan harinya, suhu udara turun hingga di bawah titik beku. Persediaan logistik di Vitebsk hilang ketika tentara Rusia merebut kota tersebut,[8] dan salju mulai turun pada tanggal 29 Oktober.

Pada tanggal 11 November, Daendels dan pasukan barisan belakang tiba di Chashniki, sekitar 90 km di sebelah barat daya lokasi mereka sebelumnya. Pada tanggal 14 November, dalam Pertempuran Smoliani, pasukan Prancis kehilangan 3.000 prajurit saat menghadapi pasukan Jenderal Peter Wittgenstein, dan hujan salju lebat setinggi sekitar 1,5 meter terjadi pada hari itu. Empat hari kemudian, persediaan logistik di Minsk juga hilang ketika Pavel Chichagov merebut kota tersebut.

Pada tanggal 24 November, Daendels terlibat pertempuran kecil dengan pasukan Rusia namun berhasil bergabung kembali dengan sisa pasukan Prancis di dekat Bobr. Selanjutnya, seluruh prajurit Prancis bergerak menuju Borisov, tempat tentara Rusia menghancurkan jembatan penting yang melintasi Sungai Berezina. Divisi Daendels, yang berkekuatan 4.000 prajurit, memainkan peran krusial dalam Pertempuran Berezina.

Referensi

  1. Herald van der Linde (September 24, 2020). Jakarta: History of a Misunderstood City. Marshall Cavendish International (Asia) Private Limited. hlm. Chapter 6. ISBN 9789814928014. Diakses tanggal 25 Agustus 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. The only complete biography of Daendels is the now rather dated publication by Paul van 't Veer, Daendels, maarschalk van Holland (Zeist/Antwerpen: De Haan-Standaard Boekhandel 1963).
  3. "De Veldmaarschalken van het Nederlandsche Leger", Militaire Spectator, nr 485, 9 May 1849 (Dutch)
  4. 1 2 3 4 Carey, P. B. R.; A. Noor, Farish (2022). Ras, kuasa, dan kekerasan kolonial di Hindia Belanda, 1808-1830. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 33–39. ISBN 978-602-481-656-8. OCLC 1348391104.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 3 4 H. M., Bernard (2022). Nusantara, Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 230–236. ISBN 978-602-6208-06-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. "Herman Willem Daendels". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Mei 2021.
  7. "Herman Willem Daendels - Historical figures - Rijksstudio". Rijksmuseum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Mei 2021.
  8. Chapter IX - The Napoleon Series: Intervention of the IX Corps. October 30th to November 26th.

Lihat pula

Pranala luar

Bacaan lanjutan

  • Tim Historia (2019). Isnaeni, H. F. (ed.). Daendels: Napoleon Kecil di Tanah Jawa. Jakarta: Kompas Media Nusantara. ISBN 978-602-412-458-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Albertus Wiese
Gubernur-Jenderal Hindia Belanda
1808-1811
Diteruskan oleh:
Jan Willem Janssens
Masa Kekuasaan
Perusahaan Hindia Timur Belanda
(1610–1800)
Flag of the Dutch East India Company
Flag of the Dutch East India Company
Masa Kekuasaan
Hindia Belanda Pertama
(1800–1811)
Masa Kekuasaan
Kerajaan Inggris
(1800–1811)
Masa Kekuasaan
Hindia Belanda Kedua
(1811–1949)
Komisaris Tinggi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan