Kamis, 15 Oktober 2026
20:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Invasi Maluku

Invasi Maluku

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Invasi Maluku
Bagian dari Perang Napoleon
330px-Banda1810Cole.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemandangan Pulau Banda Neira – direbut oleh pasukan yang mendarat dari skuadron di bawah Komando Kapten Cole pada pagi hari tanggal 9 Agustus 1810
Tanggal15 Februari – 31 Agustus 1810
Lokasi3°9′S 129°23′E / 3.150°S 129.383°E / -3.150; 129.383
Hasil Kemenangan Britania
Perubahan
wilayah
Kepulauan Maluku yang diduduki Britania hingga tahun 1814
Pihak yang terlibat

Britania Raya Britania Raya

Prancis Prancis
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Christopher Cole
Edward Tucker
Herman Willem Daendels
R. Coop à Groen
Kekuatan
7 kapal
1.000 tentara dan marinir
Berbagai benteng dan pertahanan pantai
Korban jiwa dan kerugian
Ringan Semua pulau, benteng dan gudang militer direbut[1]
abad ke-17
Abad ke-18
Abad ke-19
Abad ke-20

Invasi Kepulauan Rempah adalah invasi militer yang dilakukan oleh pasukan Britania Raya antara Februari dan Agustus 1810 di dan sekitar Kepulauan Maluku yang dimiliki oleh Belanda, yang juga dikenal sebagai Kepulauan Rempah di Hindia Timur Belanda selama Perang Napoleon.

Pada tahun 1810, Kerajaan Belanda menjadi vasal Prancis Napoleon, dan Britania Raya, bersama Perusahaan Hindia Timur, berusaha menguasai kepulauan rempah Belanda yang kaya di Hindia Timur. Dua pasukan Inggris ditugaskan; satu ke Pulau Ambon dan Ternate, kemudian pasukan lain akan merebut pulau-pulau yang lebih kuat pertahanannya seperti Banda Neira, diikuti oleh pulau-pulau lain yang dipertahankan.

Dalam kampanye yang berlangsung tujuh bulan, pasukan Inggris merebut semua pulau di wilayah tersebut; Ambon direbut pada Februari, Banda Neira pada Agustus, dan Ternate serta pulau-pulau lain di wilayah tersebut pada bulan yang sama.[2]

Pasukan Inggris mempertahankan pulau-pulau tersebut hingga akhir perang. Setelah Perjanjian Britania Raya-Belanda 1814, pulau-pulau tersebut dikembalikan kepada Belanda, tetapi selama itu Perusahaan Hindia Timur telah mencabut banyak pohon rempah untuk ditanam di seluruh Imperium Britania Raya.[3]

Lihat pula

Referensi

Catatan
Kutipan
  1. ↑ Woodman pp. 104–06
  2. ↑ "Sir Christopher Cole, K.C.B.". The Annual biography and obituary. Vol. 21. London: Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown. 1837. hlm. 114–123. Diakses tanggal 22 Des 2011.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Milne, Peter (16 Jan 2011). "Banda, the nutmeg treasure islands". Jakarta Post. Jakarta. hlm. 10–11. Diakses tanggal 22 Des 2011. But the economic importance of the Bandas was only fleeting. With the Napoleonic wars raging across Europe, the British returned to the Bandas in the early 19th century, temporarily taking over control from the Dutch. The English uprooted hundreds of valuable nutmeg seedlings and transport them to their own colonies in Ceylon and Singapore, breaking forever the Dutch monopoly and consigning the Bandas to economic decline and irrelevance.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Daftar pustaka

Topik Maluku 
Sejarah
120px-Coat_of_arms_of_Maluku.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Geografi
Pemerintahan
Pembagian administratif
Kabupaten dan kota
Ekonomi
Masyarakat
Kependudukan
Budaya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan