Sabtu, 26 September 2026
16:52 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Perang Esopus

dua konflik lokal antara kolonis Belanda dan suku Esopus dari Bangsa Indian Lenape selama paruh kedua abad ke-17

Perang Esopus
Bagian dari Perang Indian
TanggalSeptember 1659 – September 1663
Lokasi
Hasil Kemenangan Belanda
Pihak terlibat
40px-Prinsenvlag.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kolonis Belanda
Konfederasi Iroquois
Suku Esopus dari Penduduk Pribumi Lenape
Tokoh dan pemimpin
Kapten Martin Cregier Kepala Papequanaehen

Perang Esopus adalah dua konflik antara suku Esopus dari Penduduk Pribumi Lenape (Delaware) dan kolonis Belanda Baru selama paruh kedua abad ke-17 di Ulster County, New York. Pertempuran pertama diprakarsai oleh kolonis; perang kedua adalah kelanjutan dengan motif dendam dari suku Esopus.[1]

Latar belakang

Sebelum kolonisasi oleh Eropa, area Kingston ditinggali oleh suku Esopus, sebuah suku Lenape yang diperkirakan berjumlah 10.000 dan hidup di desa-desa kecil per tahun 1600.[2]

Pada tahun 1609, Henry Hudson menjelajahi sungai yang dinamai berdasarkan dirinya, mengarah pada kontak pertama antara suku Esopus dan orang Eropa. Kolonis Belanda membangin sebuah factorij (pos perdagangan) di Kingston, New York pada tahun 1614. Suku Esopus menggunakan lahan tersebut untuk pertanian, dan mereka menghancurkan dan mengusir para kolonis kembali ke selatan. Kolonis mendirikan permukiman baru pada tahun 1652 di Kingston, tetapi suku Esopus mengusir mereka lagi.[3] Kolonis kembali lagi pada tahun 1658, karena mereka yakin lahan ini bagus untuk pertanian. Mereka membangun sebuah benteng pertahanan (di 41°56′02″N 74°01′11″W / 41.9338°N 74.0197°W / 41.9338; -74.0197) untuk melindungi desa dan menamai koloni tersebut Wiltwijck. Perselisihan berlanjut, tetapi suku Esopus tidak mampu mengusir kolonis, dan akhirnya mereka memberikan lahannya kepada kolonis.[3]

Perang Esopus Pertama

Perang Esopus Pertama adalah konflik berdurasi pendek antara kolonis Belanda dan Orang Pribumi Esopus dari 20 September 1659 hingga 15 Juli 1660. Sebuah insiden terjadi di mana sekelompok kolonis Belanda melepaskan tembakan kepada sekelompok suku Esopus di sekitar api unggun, mereka sedang mengadakan perayaan dengan brendi yang diberikan sebagai pembayaran atas pekerjaan di pertanian. Bala bantuan Esopus menyerbu permukiman Belanda di luar benteng pertahanan, menghancurkan tanaman, membunuh ternak, dan membakar bangunan. Kelompok perang kemudian mengepung permukiman bertembok bernama Wiltwijck.[4]

Kolonis kalah jumlah dan memiliki kecil kemungkinan menang melalui kekuatan, tetapi mereka berhasil bertahan dan melakukan beberapa serangan kecil, salah satunya membakar ladang Pribumi agar mereka kelaparan. Mereka menerima bala bantuan dari New Amsterdam. Perang selesai pada 15 Juli 1660, ketika Pribumi setuju untuk menukar lahan dengan makanan. Namun, ketegangan terus berlanjut antara suku Esopus dan kolonis, sehingga terjadilah perang kedua.[5]

Referensi

  1. ↑ Smith, Jesse J. (2005-05-29). "Esopus Indian wars were 'the clash of cultures'". Daily Freeman. Kingston, NY. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-09-08. Diakses tanggal 2011-09-05.
  2. ↑ David Levine (2021-07-28). "Discover the Hudson Valley's Native American History". Hvmag.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-05-24. Diakses tanggal 2022-05-17.
  3. 1 2 Sylvester, Nathaniel Bartlett (1880). History of Ulster County, New York, with Illustrations and Biographical Sketches of its Prominent Men and Pioneers. Philadelphia, PA: Everts & Peck. OCLC 2385957.
  4. ↑ "Esopus Indian wars were 'the clash of cultures' – Daily Freeman". Dailyfreeman.com. 29 Mei 2005. Diakses tanggal 2022-05-17.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Smith, Philip H. (1887). "The First Esopus War". Legends of the Shawangunk. Pawling, NY: Smith & Company. OCLC 447759526.

Sejarah yang definitif dan paling rinci mengenai Perang Indian Esopus (Perang Esopus Pertama dan Perang Esopus Kedua, seperti yang mereka ketahui) dapat ditemukan dalam bab 3-6 dari The Early History of Kingston & Ulster County, N.Y. oleh Marc B. Fried (diterbitkan 1975). Buku ini masih dicetak.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan