Cut Nyak Dhien | |
|---|---|
Cut Nyak Dhien setelah ditangkap pasukan Belanda pada 1905 | |
| Lahir | 1848[a] Lampadang, VI Mukim, Aceh Besar, Kesultanan Aceh |
| Meninggal | 6 November 1908 |
Tempat pemakaman | Gunung Puyuh, Sukajaya, Sumedang, Jawa Barat 6°51′47.7″S 107°54′59.1″E / 6.863250°S 107.916417°E / -6.863250; 107.916417 |
| Nama lain | Tjoet Nja' Dhien Cut Nyak Din Ibu Perbu |
| Pekerjaan | Pemimpin perlawanan, bangsawan |
| Masa aktif | 1870-an–1905 |
| Dikenal karena | Pemimpin gerilya dalam Perang Aceh |
| Gerakan | Perang Aceh |
| Lawan | Hindia Belanda |
| Pasangan menikah | |
| Anak | termasuk Cut Gambang |
| Ayah |
|
| Kerabat | Teuku Umar (sepupu dan suami) Cut Gambang (putri) Teungku Chik Mahyeddin di Tiro (menantu) |
Cut Nyak Dhien (juga dieja Cut Nyak Din; ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien; lahir sekitar 1848–1850 – meninggal 6 November 1908) adalah bangsawan dan pemimpin perlawanan Aceh yang memainkan peranan penting dalam Perang Aceh melawan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga uleebalang VI Mukim di Aceh Besar dan sejak perang meletus pada 1873 menjalani sebagian besar kehidupannya dalam lingkungan perlawanan. Setelah suami pertamanya, Teuku Ibrahim Lamnga, gugur pada 1878, ia menikah dengan Teuku Umar, salah satu panglima Aceh yang paling terkemuka. Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Cut Nyak Dhien melanjutkan perlawanan dengan memimpin kelompok gerilyanya sendiri sampai akhirnya ditangkap pasukan Belanda pada 1905.[1]
Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien mula-mula ditempatkan di Kutaraja sebelum pemerintah kolonial memutuskan membuangnya dari Aceh karena pengaruhnya terhadap masyarakat dan hubungannya dengan jaringan perlawanan yang masih aktif. Keputusan pengasingan dikeluarkan pada 1906 dan ia tiba di Sumedang pada 1907. Di sana identitasnya disembunyikan dari masyarakat setempat dan ia dikenal sebagai Ibu Perbu atau Ibu Ratu. Meskipun kesehatannya telah menurun dan penglihatannya terganggu, ia mengajarkan Al-Qur'an dan pengetahuan agama kepada penduduk hingga meninggal pada 6 November 1908.[2]
Atas peranannya dalam perlawanan terhadap kolonialisme, pemerintah Indonesia menetapkan Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.[3]
Tahun dan tanggal kelahiran
Tahun kelahiran Cut Nyak Dhien tidak sepenuhnya seragam dalam historiografi.
Banyak sumber Indonesia, termasuk Aceh Tanah Rencong, publikasi mengenai Pahlawan Nasional, dan berbagai publikasi pemerintah, menyebut 1848 sebagai tahun kelahirannya.[4]
Sebaliknya, Muchtaruddin Ibrahim dalam biografi resmi yang pertama kali diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menulis bahwa Cut Nyak Dhien dilahirkan "kira-kira dalam tahun 1850" di Kampung Lampadang.[1]
Perbedaan ini berkaitan pula dengan usia saat perkawinan pertamanya. Tradisi biografis menyebut bahwa Cut Nyak Dhien berusia sekitar dua belas tahun ketika menikah pada 1862. Jika angka usia tersebut tepat, tahun kelahiran sekitar 1850 lebih sesuai; sebaliknya, apabila tahun 1848 yang digunakan, usianya ketika menikah sekitar empat belas tahun.
Tanggal 12 Mei 1848 banyak dicantumkan dalam biografi internet dan kemudian masuk ke berbagai basis data, tetapi tanggal tersebut tidak muncul secara konsisten dalam karya-karya sejarah utama mengenai dirinya. Oleh sebab itu, 1848 atau sekitar 1850 lebih aman digunakan dalam penulisan sejarah dibanding menetapkan 12 Mei 1848 sebagai tanggal pasti.
Asal-usul dan keluarga
Keluarga VI Mukim
Cut Nyak Dhien dilahirkan di Lampadang, wilayah VI Mukim, Aceh Besar. Ayahnya adalah Teuku Nanta Muda Seutia atau Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim. Ibunya berasal dari keluarga bangsawan dan merupakan putri seorang uleebalang di daerah Lampagar.[1]
VI Mukim merupakan salah satu daerah penting di sekitar Aceh Besar. Sebelum keluarga Nanta tampil sebagai penguasa setempat, pusat kekuasaan VI Mukim antara lain berkaitan dengan Meuraksa. Dalam uraian Muchtaruddin Ibrahim, keluarga Nanta memperoleh kedudukan penting melalui hubungannya dengan istana Aceh dan jasa para leluhurnya kepada sultan.[1]
Ayah Cut Nyak Dhien dikenal bukan hanya sebagai uleebalang, tetapi juga sebagai anggota keluarga yang aktif dalam urusan politik Kesultanan Aceh. Lingkungan tersebut membuat Cut Nyak Dhien tumbuh di tengah tradisi bangsawan, agama, dan tanggung jawab politik lokal.
Makhdum Sati dan garis keluarga Nanta
Garis ayah Cut Nyak Dhien ditelusurkan kepada tokoh bernama Makhdum Sati atau Machoedoem Sati. Dalam sejumlah tulisan populer, Makhdum Sati sering disebut secara sederhana sebagai "orang Minangkabau yang merantau ke Aceh". Penyebutan demikian tidak sepenuhnya menggambarkan riwayat garis keluarga tersebut.
Muchtaruddin Ibrahim menjelaskan bahwa pada abad ke-17 kekuasaan Aceh menjangkau sebagian pantai barat Sumatra. Kawasan tersebut penting bagi Aceh karena menghasilkan lada dan menjadi bagian dari jaringan perdagangan Kesultanan Aceh. Dalam konteks tersebut, Sultanah Tajul Alam mengangkat seorang Uleebalang Panglima Nanta untuk mengatur dan mengawasi daerah vasal Aceh di Sumatra Barat. Makhdum Sati disebut sebagai salah seorang keturunannya.[1]
Ibrahim secara eksplisit menyatakan bahwa dalam diri Makhdum Sati mengalir darah Aceh dan darah Minangkabau.[1] Dengan demikian, hubungan keluarga Cut Nyak Dhien dengan Minangkabau berasal dari proses beberapa generasi keluarga Aceh yang menetap dan berbaur di daerah rantau, bukan semata-mata dari sebuah keluarga Minangkabau yang tidak mempunyai hubungan sebelumnya dengan Aceh.
Sumber lain menggunakan nama Laksamana Muda Nanta dan menyebutnya sebagai pejabat atau wakil Kesultanan Aceh yang ditempatkan di Pariaman pada masa Sultan Iskandar Muda.[5] Dalam versi ini pula Makhdum Sati disebut sebagai keturunan Laksamana Muda Nanta.
Kedua tradisi tersebut berbeda dalam penamaan jabatan dan kronologi: satu menghubungkan Laksamana Muda Nanta dengan masa Sultan Iskandar Muda dan Pariaman, sedangkan Muchtaruddin Ibrahim menghubungkan Panglima Nanta dengan kebijakan pemerintahan Sultanah Tajul Alam. Namun keduanya sama-sama menempatkan leluhur keluarga Nanta dalam lingkungan kekuasaan Kesultanan Aceh di pantai barat Sumatra.
Kembalinya Makhdum Sati ke Aceh
Pada masa pemerintahan Sultan Jamalul Alam pada awal abad ke-18, Makhdum Sati bersama rombongannya yang terdiri atas sekitar dua belas perahu berlayar ke arah utara menyusuri pantai barat Sumatra. Mereka sampai di Pasir Karam, dekat Meulaboh, kemudian menetap dan membentuk perkampungan baru.[1]
Dalam perkembangan selanjutnya kelompok Makhdum Sati berpindah dan berhubungan kembali dengan pusat kekuasaan Aceh. Makhdum Sati membantu pihak kerajaan dalam konflik politik dan militer. Sebagai imbalan atas jasanya, keluarganya memperoleh kedudukan serta wilayah kekuasaan di VI Mukim.
Menurut Muchtaruddin Ibrahim, setelah membantu Sultan Alaiddin Muhammad Syah, Makhdum Sati memperoleh gelar dan kedudukan sebagai Panglima Sagi. Nama leluhur Nanta kemudian kembali digunakan dalam gelar keluarga. Kedudukan tersebut diwariskan kepada keturunannya dan akhirnya sampai kepada Teuku Nanta Muda Seutia, ayah Cut Nyak Dhien.[1]
Hubungan keluarga dengan Teuku Umar
Keluarga Cut Nyak Dhien juga mempunyai hubungan darah dengan Teuku Umar.
Salah satu keturunan Makhdum Sati mempunyai dua cabang utama keluarga. Dari salah satu cabang lahir Teuku Nanta Muda Seutia, ayah Cut Nyak Dhien. Cabang lainnya melalui Teuku Cut Muhammad berhubungan dengan keluarga Meulaboh dan kemudian melahirkan Teuku Umar.[1]
Dengan demikian, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien bukan dua orang dari keluarga yang sama sekali tidak berhubungan. Keduanya masih mempunyai pertalian darah melalui keluarga Nanta. Hubungan genealogis ini kemudian diperkuat dengan perkawinan mereka pada 1880.
Masa kecil dan pendidikan
Cut Nyak Dhien tumbuh sebagai anak perempuan dalam keluarga bangsawan Aceh yang taat beragama. Tidak terdapat bukti bahwa ia mengikuti lembaga pendidikan formal dalam pengertian modern.
Muchtaruddin Ibrahim menggambarkan bahwa ia memperoleh pendidikan agama, termasuk membaca Al-Qur'an, dasar-dasar ajaran Islam, dan tulisan Arab.[1]
Cut Nyak Dhien juga memperoleh pendidikan mengenai tata kehidupan rumah tangga, adat, etika, serta tanggung jawab sosial seorang perempuan dalam keluarga uleebalang.
Sumber biografis menggambarkan Cut Nyak Dhien sebagai anak yang cerdas dan menarik perhatian banyak keluarga bangsawan.[1]
Perkawinan pertama
Teuku Cik Ibrahim Lamnga
Pada 1862 Cut Nyak Dhien dinikahkan dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga, putra Teuku Abbas dari Ujung Aron dan keluarga uleebalang Lamnga XIII.[1]
Ibrahim Lamnga dikenal mempunyai latar belakang pendidikan agama dan disebut pernah belajar di Dayah Bitay. Dalam biografi Muchtaruddin Ibrahim, perkawinan pada awalnya merupakan kawin gantung karena Cut Nyak Dhien masih sangat muda.[1]
Sejumlah sumber menyatakan bahwa perkawinan tersebut menghasilkan seorang anak laki-laki. Nama anak tersebut tidak dicatat secara seragam dalam historiografi populer dan jarang muncul dalam riwayat Cut Nyak Dhien selanjutnya.
Pecahnya Perang Aceh
Pada 26 Maret 1873, pemerintah kolonial Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh. Armada Belanda berada di perairan Aceh dan dalam sejumlah penulisan disebut melakukan penembakan dari kapal perang, termasuk Citadel van Antwerpen.
Pasukan ekspedisi pertama Belanda di bawah Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler mendarat pada April 1873. Pada 8 April pasukan Belanda bergerak dari kawasan pantai menuju pusat Aceh dan kemudian menyerang kompleks Masjid Raya Baiturrahman.
Masjid sempat diduduki dan terbakar dalam pertempuran. Namun ekspedisi pertama gagal mencapai tujuan politiknya. Köhler ditembak dan tewas di dekat Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.
Peristiwa tersebut menjadi permulaan perang berkepanjangan antara Kesultanan Aceh dan Belanda.
Ibrahim Lamnga, suami Cut Nyak Dhien, ikut dalam pertempuran. Keluarga Cut Nyak Dhien sendiri berada dalam salah satu kawasan yang kemudian langsung terkena dampak perluasan operasi militer Belanda.
Jatuhnya Kutaraja dan pengungsian
Ekspedisi Belanda kedua di bawah Jan van Swieten dimulai pada akhir 1873. Pada Januari 1874 pasukan kolonial berhasil menduduki Dalam atau pusat kerajaan di Kutaraja. Pendudukan pusat kesultanan tidak mengakhiri peperangan; Sultan Mahmud Syah dan para pemimpin Aceh memindahkan pusat perlawanan ke luar daerah yang telah dikuasai Belanda.
Operasi militer kemudian meluas ke Aceh Besar, termasuk daerah VI Mukim. Kampung-kampung yang dianggap mendukung perlawanan menjadi sasaran operasi.
Pada akhir 1875 keluarga Cut Nyak Dhien meninggalkan Lampadang. Muchtaruddin Ibrahim menempatkan keberangkatan rombongan tersebut pada 28 Desember 1875, sedangkan sejumlah tulisan kemudian mencantumkan 24 Desember.[1]
Cut Nyak Dhien berangkat bersama anaknya, ibunya, anggota keluarga lainnya, dan sekitar tujuh puluh pengawal. Perjalanan pengungsian melewati daerah seperti Lamtengah, Lampagar, Leumpeng, Bukit Perang, dan Beleng Kala.[1]
Kehidupan dalam pengungsian kemudian menjadi pengalaman yang berlangsung bertahun-tahun dan membentuk keterlibatan Cut Nyak Dhien secara langsung dalam perang.
Gugurnya Ibrahim Lamnga
Ibrahim Lamnga tetap aktif dalam perlawanan untuk merebut kembali wilayah VI Mukim.
Pada 29 Juni 1878 ia gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Gle Tarum. Kematian suaminya mempunyai pengaruh besar terhadap Cut Nyak Dhien.
Dalam historiografi Indonesia, peristiwa tersebut sering digambarkan sebagai titik yang mempertegas tekad Cut Nyak Dhien untuk terus melawan Belanda. Ia menolak mengakhiri keterlibatannya dalam perang setelah menjadi janda.
Ayahnya, Teuku Nanta, berusaha menghibur dan menguatkannya setelah kematian Ibrahim Lamnga. Dalam biografi-biografi kemudian, Cut Nyak Dhien digambarkan menyatakan tekad untuk meneruskan perjuangan suaminya.[1]
Perkawinan dengan Teuku Umar
Tidak lama setelah kematian Ibrahim Lamnga, Teuku Umar mulai mendekati keluarga Cut Nyak Dhien.
Menurut tradisi biografis, Cut Nyak Dhien pada awalnya tidak segera menerima lamaran tersebut. Ia kemudian bersedia setelah Teuku Umar menyatakan bahwa perkawinan tidak akan menghalanginya berperan dalam perjuangan.
Keduanya menikah sekitar 1880.[1]
Perkawinan tersebut bukan hanya mempunyai arti keluarga, tetapi juga memperkuat hubungan politik dan militer antara kelompok Teuku Umar dan keluarga uleebalang VI Mukim.
Dari perkawinan ini lahir seorang putri bernama Cut Gambang. Muchtaruddin Ibrahim secara eksplisit menyebut Cut Gambang sebagai anak Cut Nyak Dhien dari Teuku Umar yang lahir ketika keluarga tersebut masih berada dalam pengungsian.[1]
Kembali ke VI Mukim
Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar kemudian berusaha membangun kembali kekuatan di VI Mukim.
Dalam suatu perjalanan menuju daerah tersebut, Cut Nyak Dhien bersama putrinya Cut Gambang dibawa dengan usungan dan melewati Ngalau Ngarai Beradin. Dalam perjalanan itu, menurut Muchtaruddin Ibrahim, Cut Nyak Dhien menceritakan kepada putrinya pengalaman masa lalunya ketika hidup bersama Ibrahim Lamnga.[1]
Setelah kembali ke daerah Lampisang, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien menjadikan rumah mereka sebagai salah satu pusat pertemuan pemimpin dan pejuang Aceh. Rumah tersebut juga menjadi tempat pertemuan dengan ulama dan tokoh perlawanan.
Hubungan keluarga ini dengan kalangan ulama semakin dekat, termasuk dengan kelompok Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Peranan dalam jaringan perlawanan
Peranan Cut Nyak Dhien tidak terbatas pada mengikuti suaminya. Dalam sumber-sumber Indonesia ia digambarkan aktif memelihara komunikasi antara kelompok perjuangan, memberikan dorongan kepada pasukan, dan terlibat dalam pembahasan strategi.
Pada masa Teuku Umar mengambil jalan politik mendekati Belanda, Cut Nyak Dhien tetap mempertahankan hubungan dengan tokoh-tokoh anti-Belanda.
Salah seorang yang mempunyai hubungan dekat dengannya adalah Teungku Fakinah, pemimpin perempuan dan ulama yang memimpin pertahanan di wilayah Lamkrak.[1]
Teuku Umar dan Belanda
Penyerahan 1893
Pada 30 September 1893, Teuku Umar bersama para pengikutnya menyatakan kesediaan bekerja sama dengan pemerintah kolonial.
Belanda menerima Teuku Umar dan memberinya gelar Teuku Johan Pahlawan. Ia kemudian memperoleh komando atas pasukan bersenjata yang sebagian besar terdiri atas orang Aceh. Sumber pemerintah mencatat bahwa kepadanya diberikan sekitar 250 pasukan serta dukungan keuangan dari pemerintah kolonial.[6]
Di kalangan pihak Aceh langkah tersebut menimbulkan kecurigaan dan kecaman. Banyak pejuang menilai Teuku Umar telah berpihak kepada musuh.
Sikap Cut Nyak Dhien
Muchtaruddin Ibrahim menggambarkan Cut Nyak Dhien sebagai salah seorang yang paling keras mengkritik keputusan suaminya.
Ia memperingatkan bahwa jika Teuku Umar sungguh-sungguh menjadi kaki tangan Belanda, namanya akan dikenang sebagai pengkhianat oleh masyarakat Aceh.[1]
Pada saat yang sama, Cut Nyak Dhien tetap memelihara hubungan dengan kelompok perlawanan. Hubungannya dengan Teungku Fakinah memainkan peranan penting dalam tekanan moral dan politik terhadap Teuku Umar.
Ketika pemerintah kolonial mendesak Teuku Umar menyerang benteng perlawanan di Lamkrak yang dipimpin Teungku Fakinah, muncul komunikasi antara Fakinah dan Cut Nyak Dhien. Pesan Fakinah kepada Cut Nyak Dhien bernada keras dan menyindir kedudukan Teuku Umar sebagai sekutu Belanda.[1]
Cut Nyak Dhien kemudian menjawab bahwa ia akan terus berusaha membawa suaminya kembali ke pihak Aceh.
Strategi Teuku Umar
Dalam historiografi Indonesia, hubungan Teuku Umar dengan Belanda umumnya kemudian ditafsirkan sebagai strategi untuk memperoleh senjata, dana, pengalaman, dan informasi dari pihak kolonial.
Teuku Umar sendiri, menurut biografi Muchtaruddin Ibrahim, menjelaskan kepada Cut Nyak Dhien bahwa waktu untuk bertindak belum tiba dan apa yang telah diperolehnya dari Belanda belum cukup untuk meneruskan perjuangan.[1]
Namun tidak semua sejarawan memahami setiap tahap hubungan tersebut dengan cara yang sama. Dalam sumber kolonial, pembelotan Teuku Umar kemudian dikenal sebagai Het verraad van Teukoe Oemar ("pengkhianatan Teuku Umar").
Kembali melawan Belanda, 1896
Pada 29 Maret 1896, setelah sekitar tiga tahun berada di pihak Belanda, Teuku Umar meninggalkan pemerintahan kolonial dan kembali bergabung dengan kelompok perlawanan Aceh.[1]
Ia membawa pasukan beserta persenjataan dan perlengkapan yang sebelumnya diperoleh dari Belanda. Muchtaruddin Ibrahim mencatat sekitar 800 pucuk senjata, amunisi, timah, dan sejumlah uang dibawa ketika kelompok Teuku Umar meninggalkan pihak kolonial.[1]
Kembalinya Teuku Umar menjadi pukulan besar bagi pemerintah kolonial dan menghidupkan kembali perlawanan di sejumlah daerah.
Teuku Umar kemudian membangun jaringan pertahanan dari kawasan Lampisang, Peukan Bada, Lam Asam, dan daerah sekitarnya. Cut Nyak Dhien tetap berada bersamanya dan ikut mendukung kegiatan perlawanan.
Pemerintah Belanda mencabut gelar dan kedudukan yang sebelumnya diberikan kepada Teuku Umar dan meningkatkan operasi untuk mengejar kelompoknya.
Perang gerilya dan perubahan strategi Belanda
Pada akhir abad ke-19 strategi kolonial Belanda di Aceh mengalami perubahan. Selain menguasai kota dan pusat administratif, pasukan kolonial mulai meningkatkan operasi terhadap kelompok-kelompok gerilya di pedalaman.
Salah satu instrumen penting adalah Korps Marechaussee te voet atau Marsose, yang dibentuk pada 1890 dan kemudian dikembangkan sebagai pasukan bergerak cepat untuk menghadapi pola perang gerilya Aceh.[7]
Marechaussee banyak menggunakan pasukan pribumi dari berbagai daerah Hindia Belanda dan dipimpin oleh perwira Eropa. Dalam berbagai operasi, unit ini dikenal bergerak dengan perlengkapan ringan dan menggunakan karaben serta klewang.
Keberadaan pasukan bergerak tersebut, perkembangan jaringan intelijen, serta kebijakan yang dikaitkan dengan J. B. van Heutsz dan Christiaan Snouck Hurgronje semakin mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok perlawanan.
Gugurnya Teuku Umar
Pada awal 1899 Teuku Umar berusaha melakukan operasi di sekitar Meulaboh.
Informasi mengenai rencananya diketahui pihak Belanda. Pada malam 10 menuju 11 Februari 1899, pasukan Teuku Umar berhadapan dengan pasukan kolonial di sekitar Ujong Kalak, Meulaboh.
Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899.[1]
Pang Laot dan pengikutnya membawa jenazah Teuku Umar dari medan pertempuran dan memakamkannya secara rahasia agar lokasi makam tidak diketahui oleh Belanda.
Kematian Teuku Umar menjadikan Cut Nyak Dhien untuk kedua kalinya kehilangan suami akibat Perang Aceh.
Kisah Cut Gambang setelah kematian Teuku Umar
Salah satu kisah yang paling sering diulang mengenai Cut Nyak Dhien berkaitan dengan reaksi putrinya, Cut Gambang, setelah Teuku Umar gugur.
Dalam versi populer, Cut Gambang menangis dan kemudian ditegur oleh ibunya. Cut Nyak Dhien disebut mengatakan bahwa sebagai perempuan Aceh mereka tidak seharusnya menangisi seorang laki-laki yang telah gugur sebagai syahid.
Kalimat tersebut kemudian beredar dalam beberapa versi, salah satunya:
Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata kepada orang yang sudah syahid.
Kisah tersebut mempunyai kedudukan penting dalam citra populer Cut Nyak Dhien. Namun bentuk dialog persisnya sulit dibuktikan sebagai transkripsi ucapan yang dicatat secara sezaman. Karena itu, kutipan tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai tradisi biografis daripada ucapan verbatim yang dapat dipastikan kata demi kata.
Memimpin perlawanan setelah 1899
Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien tidak menyerah.
Ia mengambil alih kepemimpinan kelompok yang tersisa dan melanjutkan perang gerilya. Pang Laot menjadi salah seorang pembantu terdekatnya.[1]
Dengan terus berpindah tempat, kelompok tersebut berusaha menghindari operasi Belanda. Mereka bergerak melalui hutan dan pegunungan di Aceh Barat dan daerah pedalaman.
Dalam tahap ini Cut Nyak Dhien bukan lagi terutama dikenal sebagai istri seorang panglima, tetapi tampil sebagai pemimpin kelompok perlawanan atas namanya sendiri.
Periode kepemimpinan independennya berlangsung kira-kira enam tahun, dari kematian Teuku Umar pada 1899 sampai penangkapannya pada 1905. Karena itu, pernyataan yang kadang muncul bahwa ia "memimpin gerilya selama 25 tahun setelah kematian Teuku Umar" tidak sesuai dengan kronologi. Angka yang lebih panjang hanya mungkin merujuk secara umum pada keseluruhan keterlibatannya dalam Perang Aceh sejak dasawarsa 1870-an.
Beutong dan Gayo
Tekanan militer kolonial menyebabkan kelompok Cut Nyak Dhien semakin jauh bergerak ke pedalaman.
Sekitar 1901 kelompoknya berpindah melalui daerah Beutong menuju wilayah Gayo. Muchtaruddin Ibrahim mencatat bahwa mereka pernah menetap di sekitar Celala, kurang lebih 30 kilometer di barat daya Takengon.[1]
Masyarakat setempat membantu menyediakan makanan dan keamanan. Namun keberadaan rombongan gerilya semakin sulit karena jaringan operasi Belanda terus meluas.
Cut Nyak Dhien sendiri semakin tua dan kesehatannya memburuk. Ia mengalami gangguan penglihatan, encok atau rematik, serta kesulitan berjalan. Pada fase terakhir gerilyanya ia kadang harus dibawa dengan tandu atau dipapah oleh pengikutnya.[1]
Persediaan makanan dan obat-obatan juga semakin sedikit.
Walaupun demikian, ia terus menolak menyerah.
Pang Laot dan keputusan menghubungi Belanda
Melihat kondisi Cut Nyak Dhien yang semakin buruk, Pang Laot Ali akhirnya memutuskan menghubungi pihak Belanda.
Dalam historiografi populer tindakan tersebut sering digambarkan sebagai "pengkhianatan". Akan tetapi, sumber-sumber sejarah juga mencatat bahwa Pang Laot menyatakan tindakannya didorong oleh kondisi fisik Cut Nyak Dhien yang semakin menderita.
Pang Laot menghubungi pihak Belanda dan bersedia menunjukkan lokasi pemimpinnya dengan beberapa syarat. Menurut sumber Indonesia, ia meminta agar Cut Nyak Dhien diperlakukan secara hormat, tidak disakiti, dan keterlibatannya dalam penangkapan dirahasiakan.[4]
Pihak Belanda menerima syarat tersebut.
Penangkapan
Pasukan Belanda di bawah Letnan Van Vuuren kemudian bergerak menuju persembunyian Cut Nyak Dhien.
Ketika pasukan kolonial mendekat, pengikut-pengikut Cut Nyak Dhien memberikan perlawanan. Jumlah mereka pada saat itu sudah sangat kecil dibanding kekuatan pada tahun-tahun sebelumnya.
Cut Nyak Dhien akhirnya ditemukan dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan penglihatannya hampir hilang.
Meskipun demikian, beberapa sumber menyebut bahwa ia masih berusaha mengambil rencong dan melawan orang yang mendekatinya. Letnan Van Vuuren kemudian berhasil menguasai senjata tersebut.[4]
Dalam versi Muchtaruddin Ibrahim, ketika Van Vuuren mendekatinya ia masih menunjukkan penolakan dan mengucapkan kata-kata yang kurang lebih berarti:
Jangan sentuh badan saya, kaphé.
Ia juga memaki Pang Laot setelah menyadari keterlibatan bawahannya dalam penangkapan tersebut.
Perbedaan tanggal penangkapan
Tanggal penangkapan Cut Nyak Dhien tidak seragam dalam sumber.
Rusdi Sufi dalam Aceh Tanah Rencong mencantumkan 4 November 1905 dan bahkan memberikan keterangan pada foto bahwa ia ditangkap pada tanggal tersebut.[4]
Sejumlah karya lain menyebut 7 November 1905. Dalam versi tersebut, seorang kurir kecil dari kelompok Cut Nyak Dhien terlebih dahulu tertangkap, kemudian pasukan Belanda memperoleh petunjuk mengenai lokasi persembunyiannya.
Perbedaan tersebut kemungkinan berasal dari urutan operasi yang berlangsung selama beberapa hari atau dari perbedaan pencatatan antara gerakan pasukan dan penangkapan akhirnya. Oleh sebab itu, tahun 1905 dapat dianggap pasti, sedangkan tanggal 4 dan 7 November sebaiknya diperlakukan sebagai dua penanggalan yang berbeda dalam sumber.
Lolosnya Cut Gambang
Cut Gambang berada di lingkungan kelompok ibunya ketika serangan terakhir berlangsung.
Sumber sejarah Aceh menyebut bahwa ketika ibunya ditangkap, Cut Gambang berhasil melepaskan diri dari kepungan Belanda meskipun mengalami luka tembak di bagian dada.[4]
Ia kemudian meneruskan perlawanan dan kelak bergabung dengan suaminya, Teungku Chik Mahyeddin atau Teungku Mayet di Tiro, salah seorang putra Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Cut Gambang terus bergerilya sampai akhirnya mengalami luka fatal dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di daerah Tangse pada 1910.
Penahanan di Kutaraja
Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Kutaraja.
Pemerintah kolonial memberi perawatan sehingga sebagian kondisi kesehatannya membaik. Namun penahanan tersebut menimbulkan masalah lain bagi Belanda.
Masyarakat Aceh masih menghormatinya. Orang-orang datang menjenguk dan ia masih memiliki hubungan dengan pejuang yang belum menyerah.
Pihak kolonial khawatir keberadaannya di Aceh dapat kembali menjadi pusat simbolik perlawanan.
Letnan Van Vuuren pada awalnya disebut tidak menyukai gagasan pembuangan Cut Nyak Dhien, terutama karena pihak Belanda sebelumnya telah berjanji kepada Pang Laot untuk memperlakukannya dengan baik. Namun pejabat yang lebih tinggi, termasuk Gubernur Sipil dan Militer Aceh Gotfried Coenraad Ernst van Daalen, akhirnya memutuskan bahwa Cut Nyak Dhien harus dikeluarkan dari Aceh.[1]
Keputusan pengasingan
Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan keputusan mengenai pengasingannya pada 11 Desember 1906, yang dalam beberapa sumber dikaitkan dengan Surat Keputusan Nomor 23.
Pelaksanaan pengasingan tidak terjadi seketika. Pemilihan tempat pengasingan, pengaturan perjalanan, dan pertimbangan politik membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Penelitian Ghina Alawiyyah Nurkholish mengenai masa pengasingannya menyimpulkan bahwa Cut Nyak Dhien baru sampai di Sumedang pada akhir Juli 1907, setelah sebelumnya dibawa melalui Batavia.[2]
Karena keputusan telah dikeluarkan pada 1906 sedangkan kedatangannya terjadi pada 1907, muncul dua tahun berbeda dalam biografi populer. Sumber yang mengatakan ia "dibuang pada 1906" biasanya merujuk pada keputusan administrasi pengasingan, sedangkan sumber yang menyebut 1907 merujuk pada pelaksanaannya dan kedatangannya di Sumedang.
Perjalanan ke Jawa
Cut Nyak Dhien dibawa keluar dari Aceh melalui jalur laut dan kemudian menuju Batavia sebelum diteruskan ke Sumedang.[1]
Mengenai siapa yang mendampinginya terdapat beberapa versi.
Penelitian mengenai pengasingannya menyebut seorang anak laki-laki bernama Teuku Nana yang ketika itu berusia sekitar lima belas tahun serta seorang panglima berusia sekitar lima puluh tahun.[2]
Identitas Teuku Nana juga diperdebatkan. Sebagian tradisi Sumedang menyebutnya sebagai anak Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar, sedangkan Ibrahim Alfian menyebutnya sebagai kemenakan Cut Nyak Dhien.[8]
Sumber lain bahkan menyatakan bahwa Cut Nyak Dhien hanya didampingi seorang pengiring perempuan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa komposisi rombongan pembuangan belum sepenuhnya dapat dipastikan.
Kehidupan di Sumedang
Setibanya di Sumedang, Cut Nyak Dhien diterima oleh Bupati Sumedang Pangeran Aria Suria Atmadja.[2]
Pemerintah kolonial tidak memberi tahu masyarakat mengenai identitas tahanan tersebut. Penduduk hanya mengetahui bahwa ia seorang perempuan bangsawan dari luar Jawa yang menguasai pengetahuan agama Islam.
Ia kemudian dikenal sebagai Ibu Perbu. Sebagian sumber menjelaskan nama tersebut sebagai bentuk penghormatan yang berdekatan dengan pengertian "Ibu Ratu". Julukan lain yang muncul dalam tradisi lokal antara lain Ibu Ratu dan Ibu Suci.
Tempat tinggal
Mengenai rumah pertama yang ditempatinya terdapat rincian yang berbeda.
Tradisi Sumedang menyebut Cut Nyak Dhien semula tinggal bersama Haji Ilyas, salah seorang imam setempat. Menurut versi lain ia hanya berada di rumah Haji Ilyas sekitar dua atau tiga minggu karena rumah K.H. Sanusi sedang diperbaiki, kemudian pindah ke kediaman K.H. Sanusi.
Setelah K.H. Sanusi meninggal, ia disebut tinggal bersama keluarga Haji Husna.
Rincian tersebut terutama berasal dari ingatan keluarga dan penelitian lokal mengenai masa pembuangannya sehingga perlu dibedakan dari dokumen administrasi kolonial.
Mengajar agama
Walaupun mengalami gangguan penglihatan dan tidak fasih berbahasa Sunda, Cut Nyak Dhien dapat berkomunikasi melalui kegiatan keagamaan.
Pengetahuannya mengenai Al-Qur'an dan agama membuat masyarakat setempat menghormatinya. Ia mengajarkan mengaji, terutama kepada perempuan dan anak-anak di lingkungan sekitarnya.[2]
Kegiatan tersebut menyebabkan Ibu Perbu dikenal sebagai seorang perempuan yang berilmu agama, meskipun penduduk tidak mengetahui bahwa ia adalah salah seorang pemimpin Perang Aceh.
Identitasnya memang sengaja tidak disebarkan oleh aparat Belanda.
Kematian
Cut Nyak Dhien meninggal di Sumedang pada 6 November 1908.
Karena tahun kelahirannya tidak pasti, usia saat meninggal juga tidak dapat ditentukan secara presisi. Jika menggunakan tahun 1848, ia berusia sekitar 60 tahun; jika menggunakan perkiraan Muchtaruddin Ibrahim sekitar 1850, ia berusia sekitar 58 tahun.
Ia dimakamkan di kawasan Gunung Puyuh, Sumedang.
Pada saat kematiannya, kebanyakan masyarakat Sumedang masih mengenalnya sebagai Ibu Perbu dan belum mengetahui sepenuhnya identitas politiknya sebagai Cut Nyak Dhien.
Identifikasi kembali di Sumedang
Identitas Ibu Perbu sebagai Cut Nyak Dhien baru diketahui secara luas beberapa dasawarsa setelah kematiannya.
Menurut penelitian mengenai pengasingannya, pada sekitar 1958 muncul pencarian oleh mahasiswa dan peneliti sejarah terhadap jejak pembuangan Cut Nyak Dhien di Sumedang.[2]
Tradisi lain menyebut bahwa pada 1959 pencarian dilakukan berdasarkan permintaan Gubernur Aceh ketika itu, Ali Hasan, dengan menggunakan informasi dan arsip yang diperoleh dari Belanda.
Kedua keterangan tersebut tidak harus saling meniadakan: penelitian identifikasi dapat telah berlangsung sejak 1957–1958, sedangkan pengesahan atau penemuan kembali lokasi makam secara lebih resmi berlangsung sekitar 1959.
Makam

Makam Cut Nyak Dhien berada di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.
Kompleks makam kemudian berkembang menjadi tempat ziarah dan situs peringatan sejarah.
Makam tersebut dipugar pada 1987. Sebuah monumen di dekat pintu masuk mencatat peresmian yang dilakukan oleh Gubernur Daerah Istimewa Aceh Ibrahim Hasan pada 7 Desember 1987.
Kompleks makam dikelilingi pagar dan mempunyai luas sekitar 1.500 meter persegi. Di sekitar lokasi terdapat musala dan beberapa makam lain yang berkaitan dengan keluarga ulama setempat.
Pada batu nisan Cut Nyak Dhien terdapat keterangan mengenai riwayat hidupnya serta tulisan Arab. Beberapa bagian memuat ayat-ayat Al-Qur'an, termasuk bagian dari Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta tulisan yang berkaitan dengan tradisi Aceh.
Hubungan Aceh–Sumedang
Makam Cut Nyak Dhien kemudian menjadi salah satu penghubung simbolik antara masyarakat Aceh dan Sumedang.
Masyarakat Aceh yang tinggal di Jawa Barat dan daerah lain secara berkala melakukan ziarah ke makam tersebut. Kegiatan haul juga pernah dilakukan setiap November.
Pernah muncul wacana untuk memindahkan jenazah Cut Nyak Dhien kembali ke Aceh. Namun sebagian masyarakat Sumedang menolak gagasan tersebut karena Cut Nyak Dhien telah menjadi bagian dari sejarah lokal dan mempunyai hubungan emosional dengan masyarakat yang mengenalnya sebagai Ibu Perbu.
Pada masa konflik Aceh antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, kunjungan peziarah Aceh ke Sumedang dilaporkan sempat menurun. Pada masa tertentu kawasan makam juga mendapatkan pengawasan aparat keamanan.
Keturunan
Dari perkawinannya dengan Ibrahim Lamnga, beberapa sumber menyatakan Cut Nyak Dhien mempunyai seorang anak laki-laki. Informasi mengenai identitas serta kehidupan anak tersebut sangat sedikit.
Dari perkawinannya dengan Teuku Umar lahir Cut Gambang atau Pocut Mirah Gambang.[1]
Cut Gambang kemudian menikah dengan Teungku Chik Mahyeddin di Tiro, juga dikenal sebagai Teungku Chik Mayet, salah seorang putra Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Melalui hubungan perkawinan tersebut, keluarga Teuku Umar–Cut Nyak Dhien terhubung dengan keluarga ulama Tiro yang masih melanjutkan perlawanan setelah banyak pemimpin Aceh lainnya gugur atau menyerah.
Mengenai keturunan Cut Gambang sendiri terdapat variasi genealogis. Beberapa silsilah menghubungkan keluarga tersebut secara langsung dengan Hasan di Tiro, sedangkan tradisi keluarga lain menyatakan Pocut Fatimah, ibu Hasan di Tiro, berasal dari istri Mahyeddin yang berbeda. Karena itu, hubungan Cut Nyak Dhien dengan Hasan di Tiro sebagai cicit melalui Cut Gambang tidak sepenuhnya seragam dalam semua sumber keluarga.
Kedudukan Cut Nyak Dhien dalam Perang Aceh
Cut Nyak Dhien menempati posisi yang tidak lazim dalam historiografi kolonial maupun Indonesia karena ia menjalani beberapa tahap Perang Aceh sekaligus.
Ia mengalami serangan pertama Belanda ketika masih menjadi istri Ibrahim Lamnga; kemudian menjadi pengungsi setelah wilayah VI Mukim diduduki; kehilangan suami pertama dalam peperangan; membangun kembali perlawanan bersama Teuku Umar; melewati periode kerja sama taktis Teuku Umar dengan Belanda; kembali terlibat dalam gerilya setelah pembelotan Teuku Umar pada 1896; dan akhirnya menjadi pemimpin kelompoknya sendiri setelah 1899.
Keterlibatannya juga merupakan contoh penting mengenai peranan perempuan Aceh dalam konflik tersebut. Ia bukan satu-satunya. Tokoh seperti Teungku Fakinah, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cut Nyak Meutia juga terlibat dalam berbagai bentuk perlawanan.
Dalam sumber kolonial
Tulisan-tulisan kolonial mengenai Cut Nyak Dhien umumnya menggunakan sudut pandang militer Belanda.
Sejumlah penulis Belanda menggambarkan kegigihannya dengan istilah yang pada masa kolonial sering dikaitkan dengan "fanatisme" agama atau permusuhan orang Aceh terhadap Belanda. Istilah semacam itu perlu dibaca dalam konteks wacana kolonial pada zamannya.
Pada saat yang sama, beberapa perwira Belanda juga memperlihatkan penghormatan terhadap keberanian dan keteguhannya. Catatan mengenai usaha Cut Nyak Dhien mengambil rencong ketika ditangkap serta penolakannya terhadap Van Vuuren memperlihatkan bahwa bahkan dalam keadaan fisik yang sangat lemah ia tetap dipandang sebagai lawan politik yang tidak menyerah secara sukarela.
Dalam historiografi Indonesia
Setelah kemerdekaan Indonesia, citra Cut Nyak Dhien berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan simbol keberanian perempuan.
Muchtaruddin Ibrahim menempatkannya sebagai contoh perempuan Aceh yang tidak hanya mendukung perjuangan laki-laki, melainkan secara langsung memberikan komando dan mempertahankan jaringan perlawanan.[1]
Rusdi Sufi dan sejumlah sejarawan Aceh kemudian mengembangkan pembahasan mengenai Cut Nyak Dhien dalam konteks yang lebih luas mengenai perempuan-perempuan Aceh dalam perang.[4]
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1964 semakin mengukuhkan kedudukannya dalam narasi sejarah nasional Indonesia.
Masalah historiografis dan misinformasi
Klaim bahwa Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau
Salah satu penyederhanaan yang sering beredar menyatakan bahwa Cut Nyak Dhien adalah keturunan Minangkabau karena ayahnya merupakan keturunan Datuk Makhdum Sati yang disebut "perantau dari Sumatra Barat" atau "perantau Minangkabau".
Keterangan tersebut menjadi menyesatkan apabila dipahami bahwa garis keluarga ayah Cut Nyak Dhien berasal sepenuhnya dari kelompok yang baru datang dari Minangkabau ke Aceh.
Sumber yang sama justru menelusurkan Makhdum Sati kepada Panglima atau Laksamana Nanta, seorang pejabat Kesultanan Aceh yang ditempatkan di daerah kekuasaan Aceh di pantai barat Sumatra.
Dalam salah satu tradisi, tokoh tersebut disebut Laksamana Muda Nanta, wakil Aceh di Pariaman pada masa Sultan Iskandar Muda. Tradisi lain, sebagaimana dicatat Muchtaruddin Ibrahim, menyatakan Sultanah Tajul Alam mengangkat Uleebalang Panglima Nanta untuk mengatur daerah vasal Aceh di Sumatra Barat.[1]
Keturunan Laksamana Nanta, Makhdum Sati kemudian meninggalkan daerah tersebut, berlayar kembali ke utara, dan menetap di wilayah Aceh. Keturunannya kemudian memperoleh kekuasaan di VI Mukim dan menjadi keluarga uleebalang.
Dengan demikian, pernyataan yang lebih tepat bukan bahwa Cut Nyak Dhien "berasal dari keluarga Minangkabau yang merantau ke Aceh", melainkan bahwa garis Nanta mempunyai asal politik dan genealogis dari lingkungan Aceh, pernah menetap beberapa generasi di rantau Sumatra Barat dan berbaur dengan masyarakat Minangkabau, kemudian salah satu keturunannya, Makhdum Sati, kembali ke Aceh. Dengan pengertian tersebut, identitas historis keluarga Nanta tidak dapat direduksi menjadi keluarga pendatang Minangkabau semata.
Laksamana Muda Nanta dan Panglima Nanta
Terdapat pula perbedaan antara sumber mengenai identitas leluhur tersebut.
Sumber yang mengaitkannya dengan Sultan Iskandar Muda menggunakan nama Laksamana Muda Nanta dan menempatkannya sebagai wakil Aceh di Pariaman.
Muchtaruddin Ibrahim menggunakan nama Uleebalang Panglima Nanta dan menempatkan pengangkatannya pada masa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin. Tetapi pendapat Muchtaruddin cenderung lemah, karena Kesultanan Aceh sendiri telah kehilangan wilayah Rantau pesisir di Sumatra Barat sejak Perjanjian Painan ditandatangani pada era Ratu Safiatuddin.
Tanggal lahir 12 Mei 1848
Tanggal 12 Mei 1848 sangat populer di internet, tetapi karya-karya utama tidak seragam mendukungnya.
Rusdi Sufi dan sejumlah publikasi pemerintah menyebut tahun 1848, tanpa selalu mencantumkan tanggal dan bulan.[4]
Muchtaruddin Ibrahim justru menyebut kelahiran "kira-kira dalam tahun 1850".[1]
Karena itu, penggunaan tanggal 12 Mei 1848 sebagai fakta pasti perlu disertai sumber yang benar-benar dapat mempertanggungjawabkan tanggal tersebut.
Foto Cut Nyak Dhien memakai hijab
Di media sosial pernah beredar sebuah foto perempuan Aceh dengan penutup kepala yang diklaim sebagai foto asli Cut Nyak Dhien.
Foto tersebut sering digunakan untuk mendukung klaim bahwa foto Cut Nyak Dhien yang umum dikenal telah dimanipulasi atau bahwa pemerintah kolonial sengaja menampilkan dirinya tanpa hijab.
Penelusuran arsip menunjukkan bahwa perempuan dalam foto tersebut bukan Cut Nyak Dhien, melainkan Teungku Ratna Keumala, istri Panglima Polim.[9]
Foto sejarah Cut Nyak Dhien yang dapat diidentifikasi berasal dari masa setelah penangkapannya pada 1905 dan tersimpan dalam koleksi museum Belanda.
Kekeliruan identifikasi foto tersebut tidak dengan sendirinya dapat digunakan untuk menyimpulkan secara absolut bagaimana pakaian Cut Nyak Dhien sepanjang hidupnya. Pakaian perempuan Aceh pada abad ke-19 mempunyai variasi berdasarkan keadaan, lingkungan sosial, dan masa. Yang dapat dipastikan adalah bahwa foto perempuan berjilbab yang sering beredar tersebut bukan foto Cut Nyak Dhien.
Tanggal penangkapan
Terdapat dua tanggal utama yang sering muncul: 4 November dan 7 November 1905.
Aceh Tanah Rencong menggunakan 4 November 1905.[4] Beberapa biografi dan penulisan lain menggunakan 7 November.
Perbedaan ini perlu disebutkan sebagai variasi sumber dan tidak seharusnya diselesaikan dengan memilih salah satu tanggal tanpa atribusi.
Tahun pengasingan: 1906 atau 1907
Pernyataan bahwa Cut Nyak Dhien "diasingkan ke Sumedang pada 1906" hanya menjelaskan sebagian proses.
Keputusan administratif mengenai pengasingannya memang dikeluarkan pada Desember 1906. Namun penelitian arsip menunjukkan bahwa pelaksanaannya memerlukan waktu beberapa bulan dan Cut Nyak Dhien baru tiba di Sumedang pada akhir Juli 1907.[2]
Karena itu, kedua tahun dapat muncul dalam sumber tetapi merujuk pada tahapan yang berbeda.
Klaim Marsose dibubarkan Van der Heijden
Beberapa versi lama artikel internet tentang Cut Nyak Dhien menyatakan bahwa pasukan Marsose kemudian "dibubarkan oleh Van der Heijden".
Keterangan tersebut bermasalah secara kronologis. Korps Marechaussee di Aceh baru dibentuk pada 1890, sedangkan periode kepemimpinan militer Karel van der Heijden di Aceh berlangsung lebih awal.
Karena itu, klaim bahwa Van der Heijden membubarkan satuan Marsose yang baru dibentuk kemudian tidak sebaiknya dipertahankan dalam artikel tanpa bukti sumber sejarah yang kuat.
Demikian pula, deskripsi yang menyebut Marsose hanya sebagai pasukan "Tionghoa-Ambon" tidak akurat. Komposisinya berubah dari waktu ke waktu dan melibatkan prajurit pribumi dari beberapa kelompok, termasuk Ambon dan Jawa, di bawah perwira Eropa.
Dialog-dialog populer
Banyak biografi Cut Nyak Dhien memuat dialog dramatis, antara lain ucapan setelah Masjid Raya Baiturrahman terbakar, teguran kepada Cut Gambang setelah kematian Teuku Umar, atau percakapan panjang antara Cut Nyak Dhien dan suaminya.
Beberapa dialog tersebut mungkin didasarkan pada tradisi lisan atau karya biografi kemudian, tetapi tidak semuanya mempunyai catatan sezaman yang memungkinkan susunan katanya diverifikasi.
Penetapan sebagai Pahlawan Nasional
Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106/TK/1964.[3]
Keputusan yang sama juga berkaitan dengan penetapan Cut Nyak Meutia sebagai Pahlawan Nasional.
Penetapan tersebut mengukuhkan kedudukan Cut Nyak Dhien dalam historiografi nasional sebagai salah satu tokoh utama perjuangan melawan kolonialisme Belanda.
Pengabadian
Nama dan gambarnya kemudian digunakan untuk berbagai sarana publik dan bentuk peringatan.
Mata uang
Potret Cut Nyak Dhien digunakan pada uang kertas rupiah pecahan Rp10.000 emisi 1998. Namanya dicetak dengan ejaan Tjoet Njak Dhien.
Perangko
Pemerintah Indonesia menerbitkan perangko yang memperingati Cut Nyak Dhien, termasuk seri peringatan seratus tahun tokoh tersebut.
Kapal perang
TNI Angkatan Laut menggunakan namanya pada kapal perang KRI Cut Nyak Dien (375).
Bandar udara
Bandar udara di Kabupaten Nagan Raya diberi nama Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya.
Lembaga pendidikan dan kesehatan
Namanya digunakan antara lain pada:
- Universitas Tjut Nyak Dhien di Medan;
- Universitas Sains Cut Nyak Dhien di Langsa;
- RSUD Cut Nyak Dhien di Meulaboh.
Jalan dan tempat ibadah
Jalan bernama Cut Nyak Dhien terdapat di berbagai kota Indonesia.
Di Jakarta terdapat Masjid Cut Nyak Dien. Sebuah masjid bergaya Aceh juga didirikan di dekat kawasan makamnya di Sumedang.
Rumah Cut Nyak Dhien
Rumah Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar di Lampisang, Aceh Besar, kini dikenal sebagai Museum Cut Nyak Dhien.
Bangunan tersebut merupakan rekonstruksi rumah yang dahulu berkaitan dengan kehidupan keluarga Teuku Umar. Rumah asli mengalami kerusakan pada masa perang kolonial.
Museum tersebut menyimpan dan menampilkan informasi mengenai Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, keluarga mereka, serta Perang Aceh.
Dalam seni dan budaya populer
Film Tjoet Nja' Dhien
Kehidupan Cut Nyak Dhien diangkat ke dalam film epos sejarah Tjoet Nja' Dhien pada 1988.
Film tersebut disutradarai Eros Djarot dan dibintangi Christine Hakim sebagai Cut Nyak Dhien, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar, Piet Burnama sebagai Pang Laot, serta Rudy Wowor.
Film itu memenangkan Piala Citra untuk Film Terbaik dan menjadi film Indonesia pertama yang diputar dalam program di Festival Film Cannes pada 1989.
Film terutama menggambarkan fase akhir kehidupan Cut Nyak Dhien, khususnya periode setelah kematian Teuku Umar sampai penangkapannya.
Sebagai karya film, sejumlah adegan dan dialog merupakan dramatisasi dan tidak boleh digunakan sebagai sumber primer untuk biografi sejarah.
Teater monolog
Pada 13 April 2014, kisah Cut Nyak Dhien dipentaskan dalam bentuk monolog yang dimainkan dan disutradarai oleh Ine Febriyanti di Auditorium Indonesia Kaya, Jakarta.
Naskah sekitar 40 menit tersebut ditulis oleh Prajna Paramita. Produksi kemudian dipentaskan kembali pada 2015 di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Pekalongan, Magelang, Semarang, dan Banda Aceh.
Cerita bergambar
Kisah Cut Nyak Dhien juga pernah diterbitkan dalam bentuk cerita bergambar berseri dalam majalah anak-anak Ananda.
Citra dan warisan
Cut Nyak Dhien menjadi salah satu figur perempuan paling menonjol dalam ingatan kolektif Indonesia mengenai perlawanan terhadap kolonialisme.
Di Aceh ia dikenang tidak semata-mata sebagai istri Teuku Umar, melainkan sebagai pemimpin yang meneruskan perang setelah dua suaminya gugur.
Riwayat hidupnya juga menunjukkan hubungan antara struktur uleebalang, jaringan ulama, perang sabil, keluarga politik, dan partisipasi perempuan dalam masyarakat Aceh akhir abad ke-19.
Sementara itu, periode pengasingannya di Sumedang menciptakan lapisan ingatan lain. Masyarakat setempat mengenangnya sebagai Ibu Perbu, seorang perempuan lanjut usia yang mengajarkan agama, jauh sebelum diketahui bahwa perempuan tersebut merupakan salah seorang pemimpin utama Perang Aceh.
Dua ingatan—Cut Nyak Dhien sebagai pemimpin perang di Aceh dan Ibu Perbu sebagai guru agama di Sumedang—kemudian menyatu setelah identitas makamnya diketahui pada pertengahan abad ke-20.
Catatan
- ↑ Tahun kelahiran Cut Nyak Dhien berbeda dalam sumber. Sejumlah publikasi pemerintah dan historiografi Aceh menggunakan 1848, sedangkan Muchtaruddin Ibrahim dalam Cut Nyak Din (1996) menulis bahwa ia dilahirkan "kira-kira dalam tahun 1850". Tanggal 12 Mei 1848 yang sering beredar dalam sumber populer belum didukung secara seragam oleh sumber sejarah utama.
Lihat pula
- Perang Aceh
- Teuku Umar
- Teuku Cek Ibrahim Lamnga
- Pocut Mirah Gambang
- Teungku Fakinah
- Pocut Baren
- Pocut Meurah Intan
- Cut Nyak Meutia
- Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman
- Panglima Polim
- Korps Marechaussee te voet
- Tjoet Nja' Dhien (film)
- Museum Cut Nyak Dhien
- KRI Cut Nyak Dien (375)
- Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Ibrahim, Muchtaruddin (1996). Cut Nyak Din (Edisi 3). Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 12 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 Nurkholish, Ghina Alawiyyah (2019). Pengasingan Cut Nyak Dhien di Sumedang Tahun 1906–1908 M (Skripsi). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diakses tanggal 12 September 2026.
{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Irini Dewi Wanti dkk. (1996). Enam Pahlawan Nasional Asal Aceh. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Diakses tanggal 12 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 Rusdi Sufi dkk. (2008). Aceh Tanah Rencong. Yogyakarta: Multi Solusindo Press. ISBN 979-992418-9.
- ↑ Riwajat Hidup (Singkat) Beberapa Orang Pahlawan Atjeh, Zaman Pra-Kemerdekaan.
- ↑ "Teuku Umar". Ensiklopedia Sejarah Indonesia. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 12 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Korps Marechaussee te voet in Atjeh" (dalam bahasa Belanda). Nederlands Instituut voor Militaire Historie.
{{cite web}}:|url=tidak ada atau kosong - ↑ Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- ↑ Isnaeni, Hendri F. (21 Desember 2014). "Cut Nyak Dhien Berhijab?". Historia. Diakses tanggal 12 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Daftar pustaka
- Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- Ibrahim, Muchtaruddin (1996). Cut Nyak Din (Edisi 3). Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan.
- Rusdi Sufi dkk. (2008). Aceh Tanah Rencong. Yogyakarta: Multi Solusindo Press. ISBN 979-992418-9.
- van 't Veer, Paul (1985). Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Jakarta: Grafiti Pers.
- Zentgraaff, H. C. Aceh. Diterjemahkan oleh Firdaus Burhan.
- Zainuddin, H. M. (1966). Srikandi Atjeh. Medan: Pustaka Iskandar Muda.
- Nurkholish, Ghina Alawiyyah (2019). Pengasingan Cut Nyak Dhien di Sumedang Tahun 1906–1908 M (Skripsi). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pranala luar
- (Indonesia) Cut Nyak Din karya Muchtaruddin Ibrahim, Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- (Indonesia) Pengasingan Cut Nyak Dhien di Sumedang Tahun 1906–1908 M, UIN Sunan Kalijaga.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Lain-lain | |